Buku 16

Karena itu, maka Alap-alap Jalatunda terpaksa melayani saat-saat terakhir dari perkelahian itu. Ketika ia mencoba menangkis serangan Swandaru, maka terasa tangannya menjadi nyeri. Hampir-hampir senjatanya itu terlepas. Untunglah bahwa dengan sisa kekuatan tangannya ia mampu mempertahankan senjatanya. Meskipun demikian, sementara nyeri tangannya masih menyengat-nyengat, Alap-alap itu terpaksa berloncatan surut menghindari serangan-serangan Swadaru berikutnya.

Demikian pula agaknya Agung Sedayu. Dengan sepenuh tenaga ia berjuang. Dipergunakannya saat-saat terakhir yang pendek untuk mencoba mendahului tangan Ki Tambak Wedi atas dirinya. Tetapi Sanakeling pun mampu menghindari setiap serangannya meskipun ia harus berloncatan surut dan mengumpat-umpat tak habis-habisnya.

Ki Tambak Wedi melihat kedua anak muda itu sambil menggeram. Tiba-tiba ia berkata dengan nada parau, “Hem, kalian telah mulai sekarat.” Kemudian kepada Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda, hantu lereng Merapi itu berkata, “Tahanlah musuh-musuhmu itu sesaat. Jangan sampai mereka melarikan diri. Yang pertama-tama akan aku bunuh adalah Sutawijaya, kemudian Agung Sedayu dan yang terakhir, anak yang gemuk itu, biarlah Sidanti yang menyelesaikan.” Tetapi kata-kata Ki Tambak Wedi itu terputus. Bahkan yang lainpun terkejut pula ketika tiba-tiba mereka mendengar Sidanti memekik kecil, sehingga semua perhatian telah terpukau karenanya.

Ki Tambak Wedi itupun menjadi terkejut pula. la melihat darah yang merah mengalir dari dada Sidanti.

“Setan!” Sidanti itu mengumpat sambil meloncat jauh-jauh ke belakang. Tetapi Sutawijaya benar-benar seperti orang kesurupan. la tidak mempedulikannya lagi. Dengan cepatnya ia mengejar lawannya. Sekali lagi tombaknya terjulur, kali ini mengarah leher Sidanti yang sudah kehilangan keseimbangan. Saat-saat itu adalah saat yang sangat berbahaya bagi Sidanti. Seolah-olah ia telah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan dirinya. Meskipun demikian anak muda itu masih juga mampu menghindar dengan jalan satu-satunya. Dengan serta-merta ia menjatuhkan dirinya dan berguling ke samping.

Usaha itu hanya berguna sementara bagi Sidanti. Sebab Sutawijaya pun segera meloncat pula menerkam Sidanti yang masih berguling di tanah dengan tombaknya.

Darah Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda serasa berhenti melihat peristiwa itu. Mereka melihat tombak itu terangkat dan apabila kemudian tombak itu mematuk ke bawah, maka nyawa Sidanti pun pasti akan melayang.

Tetapi beruntunglah bagi Sidanti, bahwa saat itu gurunya berada di tempat itu pula. Sudah tentu Ki Tambak Wedi tidak akan membiarkan muridnya dibunuh di hadapan hidungnya. Karena itu segera ia meloncat seperti tatit menyambar di langit. Dengan sebuah sentuhan yang tergesa-gesa pada lambung Sutawijaya, maka anak muda itulah yang kemudian terlempar beberapa langkah. Yang terdengar kemudian adalah suara tubuh Sutawijaya itu terbanting jatuh.

Kini nafas Agung Sedayu dan Swandaru Geni-lah yang tertahan di kerongkongan. Mereka melihat Sutawijaya itu terbanting dan berguling beberapa kali. Namun alangkah kuatnya tubuh anak muda itu. Demikian ia berguling beberapa kali, maka segera ia meloncat bangkit. Tombaknya, Kiai Pasir Sewukir, masih dalam genggamannya.

Tetapi demikian ia berhasil berdiri, maka anak muda itupun menyeringai menahan sakit pada lambung dan punggungnya.

“Tambak Wedi,” anak muda itu menggeram. Tampaklah kini matanya seakan-akan menyala karena kemarahannya. “Ternyata kau pengecut seperti muridmu. Aku sangka perguruan lereng Merapi adalah perguruan yang menempa kejantanan dan kejujuran. Tetapi ternyata kau telah mengajari muridmu dengan perbuatan yang licik.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Tambak Wedi lebih, “baik kau mengucapkan pesan-pesanmu. Aku benar-benar akan membunuhmu kini.”

Gigi Sutawijaya gemeretak. Sejenak ia terpaku diam karena kemarahannya yang memuncak. Terasa detak jantungnya menjadi semakin keras memuku-mukul rongga dadanya. Tetapi Sutawijaya itu kemudian mengangkat wajahnya. Yang berderap itu bukanlah suara jantungnya saja, tetapi suara itu adalah derap kaki-kaki kuda, namun kuda itu masih terlampau jauh.

Bukan saja Sutawijaya yang mendengar derap suara kaki-kaki kuda di kejauhan, tetapi Ki Tambak Wedi dan semuanya yang ada di tempat itupun mendengarnya pula.

“Gila,” Ki Tambak Wedi itupun mengumpat. Sejenak ia menjadi bimbang.

Suara kaki-kaki kuda itu sekilas terasa memberi harapan bagi Sutawijaya dan kawan-kawannya, tetapi kening Sutawijaya itupun kemudian berkerut. Katanya di dalam hati, “Hem, kenapa mereka datang berkuda? Derap kaki kuda itu hanya akan mempercepat kematianku. Seandainya mereka datang sambil berjalan kaki dapat mendekati tempat ini sebelum aku dicekiknya, maka aku masih dapat mengharap pertolongannya seperti Sidanti mendapat pertolongan gurunya.”

Tetapi yang terjadi adalah, mereka datang berkuda. Derap kaki-kaki kuda itu telah memberitahukan kehadiran mereka selagi mereka masih jauh. “Bukan saja mempercepat kematianku,” desis Sutawijaya pula di dalam hatinya, “tetapi itupun akan sangat berhahaya bagi mereka sendiri. Seandainya Ki Tambak Wedi tidak sendiri dan orang-orang yang lain inipun tidak sedang terikat oleh lawan masing-masing, maka mereka akan dengan mudahnya disergap dari balik-balik dinding halaman.”

Namun kata-kata di hati Sutawijaya itupun terputus, geram ki Tambak Wedi, “Alangkah bodohnya orang-orang Pajang. Kehadiran mereka hanya mempercepat kematianmu. Sayang aku tidak mendapat kesempatan bermain-main dengan penunggang-penungang kuda yang bodoh itu.”

Sutawijaya tidak menjawab. Pikiran itu dapat dimengertinya. Ketika kemudian ia berpaling ke arah kedua kawannya, mereka pun telah berhenti berkelahi.

“Sidanti,” berkata Ki Tambak Wedi, “sebentar lagi beberapa orang dari Pajang akan datang. Aku kira bukan seluruh pasukan, mereka hanyalah orang-orang yang mendahului pasukan itu.”

“Wira Lele telah lepas dari tangan kami guru. la sempat memberitahukan peristiwa ini kepada orang-orang Pajang itu,” sahut Sidanti.

“Tidak apa,” berkata gurunya, “sekarang tinggalkan tempat ini cepat-cepat. Pilihlah arah yang tepat seperti yang kita rencanakan supaya kau tidak dilihat oleh orang-orang berkuda itu.”

Sidanti tidak segera menyahut. Terasa harga dirinya tersentuh. Tetapi terdengar gurunya membentak, “Cepat! Tinggalkan tempat ini, bersama Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda. Biarlah aku menyelesaikan ketiga-tiganya.”

Ketiganya tidak lagi menunggu Ki Tambak Wedi mengulangi. Derap kaki kuda itu sudah semakin dekat. Namun tiba-tiba derap itu berhenti.

Ki Tambak Wedi mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak lagi mendapat banyak kesempatan. la tidak iagi mempedulikan suara-suara kaki yang hilang itu. Sidanti dan kedua kawan-kawannya pun tidak. Ketiganya segera meloncat berlari meninggalkan tempat itu. Agung Sedayu dan Swandaru masih mencoba untuk mencegah mereka, tetapi ketika mereka melihat Ki Tambak Wedi menimang gelang-gelang besinya maka maksud itupun diurungkannya. Usahanya pasti akan sia-sia dan mereka pasti hanya akan mati tanpa arti. Lebih baik bagi mereka untuk mempersiapkan diri melawan hantu lereng Merapi itu bersama-sama.

Derap kuda itu masih juga belum terdengar Iagi. Mereka sudah tidak begitu jauh. Tetapi mereka pasti berhenti. Kalau tidak, maka mereka pasti sudah tampak di tikungan sebelah.

“Aku tidak peduli Iagi, apa yang akan kalian katakan,” geram Tambak Wedi. “Sekarang kalian akan aku bunuh dengan caraku. Kalau kuda-kuda itu tampak di tikungan, maka kalian akan menggelepar di tanah. Kalian tidak akan segera mati, tetapi kalian tidak akan dapat disembuhkan. Aku akan meremas tulang-tulang iga kalian.”

Ki Tambak Wedi itupun maju selangkah mendekati Sutawijaya. Anak itulah yang paling dibencinya. Sesudah itu Agung Sedayu.

“Setidak-tidaknya kau,” desisnya.

Sutawidjaja itupun melangkah surut. Ia melihat Agung Sedayu dan Swandaru justru neloncat mendekatinya. Senjata-senjata mereka telah siap terjulur lurus ke dada Tambak Wadi.

“Jangan terlampau banyak sekarat,” geramnya pula. “Aku menunggu kuda itu muncul di tikungan, supaya penunggangnya melihat bagaimana kalian bertiga mati.”

Tetapi kuda-kuda itu belum juga muncul. Bahkan suara derapnyapun belum terdengar. Agung Sedayu dan Swandaru agaknya tidak dapat bersabar Iagi. Merekalah yang tiba-tiba mendahului menyerang Ki Tambak Wedi.

Namun bagi Ki Tambak Wedi, serangan-serangan itu tidak banyak berarti. Meskipun kemudian Sutawijaya ikut pula bertempur.

Dengan loncatan-loncatan pendek serta mempergunakan gelang-gelang besinya,Ki Tambak Wedi selalu berhasil menghindari dan menangkis serangan-serangan anak-anak muda itu.

“Gila, kenapa kuda-kuda itu tidak juga muncul. Kalau mereka meloncat turun, dan mencoba mendatangi tempat ini sambil bersembunyi, maka aku akan sangat kecewa. Sebab aku pasti akan membunuh kalian dengan tergesa-gesa. Tetapi apa boleh buat. Lebih baik aku berbuat cepat dari pada terlambat. Aku tidak akan menunggu kuda-kuda itu.”

Tetapi tiba-tiba kembali terdengar kuda berderap. Ki Tambak Wedi itupun kemudian tersenyum. Katanya, “Ha, aku mempunyai kesempatan yang baik. Tunggu sampai kuda itu muncul di tikungan supaya mereka melihat kalian menggelepar kesakitan seperti ayam disembelih. Aku mengharap ayahmulah yang datang, Sutawijaya.”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak menjawab. Mereka memperketat serangan-serangan mereka. Meskipun mereka tahu, bahwa mereka sama sekali tidak berarti bagi Ki Tambak Wedi, namun mereka ingin mati sebagaimana seorang laki-laki mati di dalam peperangan. Bukan seperti seekor cucurut yang mati ketakutan melihat seekor kucing candramawa.

Tetapi Ki Tambak Wedi menjadi semakin bergembira meIayani anak-anak muda itu, meskipun sebenarnya ia telah hampir sampai pada puncak permainannya. Ia hanya menunggu kuda-kuda itu muncut di tikungan. Kemudian dengan gerakan yang pasti tak akan dapat dihindari oleh ketiga anak-anak muda itu, Ki Tambak Wedi akan menyelesaikan pertempuran. Ia mengharap bahwa orang-orang berkuda itu masih sempat melihat ketiga anak-anak muda itu menjelang saat matinya dengan penuh penderitaan.

“Ha,” teriak Ki Tambak Wedi kemudian, “itulah mereka.”

Dada Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru berdesir. Kini mereka tinggal menunggu saat yang sama sekali tidak menyenangkan itu. Ki Tambak Wedi pasti akan melakukan seperti yang dikatakannya. Meremas tulang-tulang iga mereka.
Namun tiba-tiba sekali lagi mereka terkejut. Yang mereka dengar lebih jelas bukanlah langkah kuda-kuda itu, tetapi derap langkah orang berlari.

Sesaat gerak Ki Tambak Wedi terganggu. Tetapi segera ia mengetahui bahwa di antara mereka yang berkuda, pasti ada seseorang yang dengan bersembunyi-sembunyi mendekati perkelahian itu. Karena itu wajahnya menjadi tegang.

Tetapi apa yang akan dilakukan Ki Tambak Wedi, masih belum dapat mendahului langkah itu. Sebelum Ki Tambak Wedi berbuat sesuatu, maka tiba-tiba mereka melihat sebuah bayangan melayang hinggap di atas dinding halaman di sebelah yang lain dari arah kedatangan Ki Tambak Wedi.

Darah hantu lereng Merapi itu terasa seolah-olah berhenti mengalir dengan tiba-tiba. Ia tidak menyangka, bahwa salah seorang dari mereka mampu datang secepat itu. Dan ternyata yang bertengger di atas dinding halaman itu adalah Ki Gede Pemanahan.

Ki Tambak Wedi melihat, bahwa sekali lagi ia mengalami kegagalan. Otaknya yang telah dipenuhi oleh berbagai pengalaman segera mengatakan, bahwa tak akan ada gunanya lagi baginya berbuat sesuatu atas ketiga anak-anak muda itu. Ia menyesal bukan kepalang, bahwa ia menunggu kuda-kuda itu muncul di tikungan, sehingga ia terlambat karenanya. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa seseorang mampu bergerak secepat Ki Gede Pemanahan. Seandainya salah seorang yang berkuda itu tadi meloncat turun pada saat kuda-kuda itu berhenti, maka betapapun tinggi kemampuannya berlari, tetapi orang itu pasti belum sampai di tempat ini. Namun ternyata Ki Gede Pemanahan mampu melakukannya.

Karena itu, maka segera Ki Tambak Wedi merubah rencananya. Setapak la meloncat mundur, dan tiba-tiba ketika tangannya bergerak sebuah gelang telah lepas seperti anak panah meloncat dari busurnya.

Untunglah bahwa yang dibidiknya adalah Ki Gede Pemanahan, secepat gelang-gelang itu pula, Ki Gede Pemanahan menjatuhkan dirinya dari alas dinding itu. Seperti seekor kucing ia meloncat turun, dan secepatnya tegak di atas kedua kakinya yang kokoh kuat bagaikan sepasang tonggak baja. Sedang di tangan Ki Gede itu telah tergenggam pusakanya, Kiai Naga Kemala.

Terdengar Ki Tambak Wedi itu menggeram. Tiba-tiba di tangannya telah tergenggam pula sebuah gelang-gelang yang lain. Tetapi apa yang dilakukannya adalah di luar dugaan mereka yang melihatnya. Cepat seperti kilat, Ki Tambak Wedi meloncat surut, kemudian dengan kecepatan yang sama, ia meloncat lebih jauh lagi, melampaui dinding halaman dari arah ia datang.

Ki Gede Pernanahan segera berlari ke dinding itu pula. Tetapi ketika ia sudah bersiap untuk meloncat, tiba-tiba ia tertegun. Sekali dilayangkan pandangan matanya, tetapi regol halaman ternyata berada agak jauh daripadanya.

“Tidak ada gunanya,” desisnya.

“Ayah tidak mengejarnya?” dengan serta merta Sutawijaya bertanya.

“Sudah terlampau jauh,” sahut Ki Gede Pemanahan.

“Ayah tidak meloncati dinding itu?” berkata anaknya, “kalau ayah meloncat pula, maka setan itu pasti belum terlampau jauh.”

Ki Gede Pemanahan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Aku masih sayang akan dahiku. Kalau kepalaku muncul dari batik dinding maka sebuah gelang-gelang pasti akan menyambarnya. Aku tidak tahu, apakah aku dapat menghindarinya, karena arahnya belum aku ketahui dengan pasti.”

“O,” Sutawijaya menarik nafas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, itu akan dapat terjadi,” gumamnya. Kemudian katanya, “Untunglah bahwa lingkaran yang pertama tidak dilemparkan kepalaku. Kalau ia berbuat demikian, maka aku tidak lagi dapat melihat orang-orang Jipang yang menyerah itu.”

Ki Gede Pemanahan menggeleng, “la tidak akan berbuat demikiam selagi ia masih ingin melepaskan diri. Kalau ia membunuhmu dengan lingkaran itu, maka keris ini akan menancap di dadanya. Ia tidak akan sempat menghindar selagi ia berusaha melihat hasil gelang-gelangnya atasmu. Ki Tambak Wedi pun tahu pasti, bahwa aku dapat juga melemparkan kerisku ini ke arahnya. Karena itu ia mendahului aku sebelum aku sempat mengayunkan tanganku.”

Dalam pada itu, maka ketiga ekor kuda beserta para penunggangnya kini sudah menjadi semakin dekat. Demikian mereka menghentikan kuda-kuda mereka, demikian para penunggang itu berloncatan turun.

“Ternyata Ki Gede telah berada di tempat ini?” bertanya Untara sambil mengangguk dalam-dalam.

“Kenapa?” bertanya Ki Gede, “bukankah memang aku pergi lebih dahulu dari padamu?”

“Aku menjadi cemas ketika aku melihat seekor kuda di halaman di sebelah tikungan, di mulut lorong ini.”
“Itu memang kudaku.”

“Lalu, apakah kuda itu Ki Gede tinggalkan?”

“Ya. Aku mencoba untuk berhati-hati. Sebelum aku mendekati desa ini, kudaku telah aku perlambat dan kemudian aku turun dan menuntun kuda itu memasuki desa ini. Bahkan kuda itu kemudian aku tinggalkan di sana.”

Untara dan kedua perwira pengawal Ki Gede Pemanahan itu saling berpandangan. Mereka ternyata demikian tergesa-gesa sehingga mereka tidak sempat untuk memikirkan bahaya yang dapat bersembunyi di balik setiap helai daun di desa ini. Seandainya Sidanti membawa beberapa kawan yang Iain, maka mereka pasti sudah terjebak di atas punggung kuda mereka masing-masing.

Untara yang masih belum menghapus keringat di keningnya itu kemudian berkata, “Kami ternyata terlampau tergesa-gesa. Untunglah bahwa kami tidak mendapat serangan dari tempat-tempat berhenti sesaat, karena ketergesa-gesaan kami itu.” Untara berhenti sesaat, dipandanginya anak muda yang masih tegak di tempatnya masing-masing dengan senjata di tangan-tangan mereka. Kemudian katanya pula, “Untunglah bahwa Ki Gede telah sampai di tempat ini. Sekali lagi aku terlambat beberapa saat. Kami berhenti sejenak di ujung desa karena kami melihat kuda Swandaru yang Ki Gede pakai. Kami bertanya-tanya di dalam hati kami, namun kami tidak menemukan jawabnya. Akhirnya kami meneruskan perjalanan. Sampai di tikungan kami melihat apa jang terjadi di sini.”

“Kalau aku tidak mendahului kalian dan kalian tidak melihat kudaku sehingga kalian tidak berhenti, apakah yang kira-kira akan kalian lakukan?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

Pertanyaan itu telah memukul dada Untara sehingga anak muda itu menundukkan kepalanya. “Ya, apakah yang akan aku lakukan seandainya aku justru datang lebih dahulu dari Ki Gede Pemanahan? Apakah aku akan melawan Ki Tambak Wedi?” Karena itulah maka Untara mendjawab lirih, “Tak ada yang dapat kami lakukan Ki Gede. Mungkin kami adalah korban yang berikutnya.”

Ki Gede tersenyum. Sambil menyarungkan kerisnya ia berkata, “Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi Tambak Wedi itu. Semuanya sudah lalu.” Kemudian ki Gede itu berpaling kepada puteranya, “Sutawijaya, jadikanlah peristiwa ini peringatan bagimu. Jangan terlampau menuruti keinginan. Akupun hampir terlambat. Untung aku mendengar Ki Tambak Wedi mengancam dengan marahnya, sehingga suaranya terdengar dari balik dinding-dinding halaman ini. Mula-mula aku memang tidak segera menemukan tempat ini. Dan aku datang tepat pada waktunya.”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ia tidak menjawab sepatah katapun. Apalagi ketika kemudian terasa lambungnya menjadi sakit. Lambung yang terkena sentuhan Ki Tambak Wedi, sehingga ia terbanting jatuh pada saat ia hampir berhasiI membunuh Sidanti.

Ketika ia menyeringai menahan nyeri sambil meraba-raba lambungnya itu, Ki Gede Pemanahan memandanginya dengan cemas. “Kenapa lambungmu?” bertanya orang tua.

“Sakit,” sahut Sutawijaya.

“Ya kenapa?”

Sutawijaya ragu-ragu. Tetapi kemudian ia berkata, “Tak apa-apa. Mungkin sedikit terkilir.”

Tetapi jawaban itu tidak meyakinkan Ki Gede Pemanahan sehingga sekali lagi ia bertanya, “Kenapa lambung itu?”

Namun Sutawijaya yang nakal itu memandangi wajah Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti sambil tersenyum kecut.

“Kenapa?” desak ayahnya.

Yang menjawab kemudian adalah Swandaru, “Putera Ki Gede telah terkena sentuhan Ki Tambak Wedi dan terbanting jatuh.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mendekati anaknya sambil bertanya, “Benarkah begitu?”

Sutawijaya mengangguk.

“Hem,” desis Ki Gede Pemanahan, “untunglah bahwa tulang-tulangmu tidak patah.”

“Ki Tambak Wedi terlampau tergesa-gesa,” sahut Sutawjaya. “Ia berada dalam jarak yang cukup jauh. Hampir tak masuk di akal, bahwa kemudian dengan satu kali loncatan, aku terpelanting.”

“Kenapa ia berbuat demikian. Bukankah ia akan membunuh kalian bertiga? Kenapa tidak langsung saja kau dicekiknya?”
“Ya. Tetapi saat itu ia sedang berusaha menyelamatkan Sidanti yang kehilangan kesempatan untuk mengelak, sedang Ki Tambak Wedi ingin membunuhku dengan cara yang dianggap sangat menyenangkan hatinya.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang di dalam angan-angannya, bagaimana anaknya dan kedua kawannya bertempur. Namun ia mengucap syukur di dalam hatinya, bahwa ia datang tidak terlambat seperti Untara dan kedua kawan-kawannya, sehingga ia sempat menyelamatkan anaknya. Bukan saja suatu hal yang sangat memggembirakan dirinya sendiri, tetapi juga menghindarkannya dari murka Adipati Pajang. Sebab Sutawijaya itu telah diangkat sebagai putera Adipati Pajang, dan keselamatannya telah dititipkan kepadanya. Seandainya saat itu Sutawijaya mengalami cidera atau bahkan terbunuh oleh Ki Tambak Wedi, maka ia akan mengalami bencana dua kali lipat. la akan kehilangan anak laki-lakinya dan mungkin ia akan kehilangan jabatannya pula karena murka Adipati Pajang yang merasa kehilangan anaknya pula.

Dalam pada itu, maka sekali lagi terasa betapa kecewa hati Panglima Wira Tamtama itu atas hasil kerja Untara. Sangkal Putung yang disangkanya sudah tidak akan diganggu lagi oleh orang-orang Jipang seperti laporan yang disampaikan oleh Untara, ternyata masih menyimpan bahaya yang hampir saja menelan keselamatannya dan keselamatan anaknya.

Namun Ki Gede Pemanahan berusaha untuk menyimpan penyesalan itu di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, ia masih mencoba mengerti bahwa Untara di hadapkan pada suatu keadaaa yang tidak dapat diperhitungkannya lebih dahulu. Unsur Ki Tambak Wedi agaknya adalah sumber dari kekacauan persiapan dan perhitungannya. Kalau tidak ada hantu lereng Merapi itu, maka Sangkal Putung benar-benar tidak akan terganggu lagi.

Kini yang mereka tunggu adalah parkembangan keadaan yang tumbuh pada orang-orang Jipang yang akan menyerah itu. Mereka pasti melihat api itu pula dan bagaimanakah tanggapan mereka atas api itu sama sekali tidak diketahui oleh Untara dan para prajurit Pajang yang lain.

Sementara itu Widura membawa pasukannya dengan tergesa-gesa ke desa kecil itu. Kalau terjadi sesuatu, maka iapun ikut bertanggung jawab pula bersama dengan Untara. Karena itu maka ia ingin segera sampai dan melihat apa yang telah terjadi.

Dengan hati-hati pasukan itupun kemudian memasuki desa Benda. Namun desa itu masih saja sepi seperti tidak terjadi apa-apa, kecuali api yang kini semakin lama menjadi semakin surut. Untunglah bahwa jarak dari rumah yang satu ke rumah yang lain cukup jauh sehingga api itu tidak menjalar ke rumah-rumah yang lain.

Widura menjadi berlega hati ketika kemudian dilihatnya di ujung lorong itu ki Gede Pemanahan, Untara, Sutawijaya dan yang lain-lain masih berdiri di muka gardu. Bahkan para penjaga pun masih juga tegak seperti patung.

Hati Widura menjadi semakin tenteram ketika dilihatnya orang-orang yang berdiri di ujung jalan itu memandangi pasukannya sambil tersenyum. Namun ketika ia menjadi semakin dekat, hatinya menjadi sedikit berdebar-debar kembali, karena dilihatnya ujung tombak Sutawijaya menjadi semburat merah oleh warna darah.

Widura itupun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil bertanya, “Apakah yang sudah terjadi ki Gede? Bukankah angger Sutawijaya, putera Ki Gede tidak mengalami cidera?”

“Itulah orangnya,” sahut Ki Gede sambil menunjuk puteranya. “Hampir saja ia mati dicekik hantu lereng Merapi.”

“Oh,” Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ia mampu membayangkan bahwa agaknya kedatangan Ki Gede Pemanahan telah menyelamatkannya.

Kini Widura telah berada di Benda bersama seluruh pasukannya. Prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Karena itu, maka kewajibannya adalah menunggu perintah, apa yang harus dilakukannya menjelang kehadiran orang-orang Jipang yang akan menyerah. Kalau mereka mengingkari janji, maka yang akan terjadi adalah pertempuran. Bahkan mungkin mereka harus berlari-lari kembali ke induk kademangan apabila para pengawas melihat orang-orang Jipang mengambil jalan melingkar dan bermaksud langsung menusuk ke jantung kademangan. Tetapi meskipun demikian, maka pasukan cadangan yang ditinggalkan akan mampu menahan orang-orang Jipang itu sampai sebagian dari pasukan ini datang kembali. Tetapi apabila terjadi demikian, maka pasti tak akan ada ampun lagi bagi orang-orang Jipang itu.

Matahari yang merambat semakin tinggi kini telah hampir mencapai puncak langit. Beberapa saat lagi, maka saat yang dijanjikan akan tiba. Karena itu, maka seluruh pasukan itupun berjaga-jaga. Beberapa orang pemimpin kelompok telah mengatur anak buah masing-masing dan menempatkan mereka terpisah-pisah. Di sawah-sawah yang tidak ditanami di hadapan desa Benda itulah nanti orang-orang Jipang berkumpuI. Mereka akan mengumpulkan senjata-senjata mereka dan membiarkan orang-orang Pajang mengambilnya. Itu adalah suatu upacara penyerahan yang telah disepakati.

Ki Gede Pemanahan, Untara dan para pemimpin prajurin Pajang dan Sangkal Putung kini berdiri berjajar di muka gardu di ujung lorong. Pandangan mereka seolah-olah melekat pada gerumbul-gerumbul di hadapan mereka.

Di hadapan mereka kini terbentang sebidang tanah persawahan yang seakan-akan hampir tidak pernah mendapat perawatan. Para petani menjadi agak ketakutan sejak orang-orang Jipang saling berkeliaran di sekitar desa itu. Apalagi tanah yang terbentang agak jauh dari padesan. Gerumbul-gerumbul liar dan ilalang telah tumbuh semakin tinggi. Tanah itu sama sekali telah tidak lagi digarap oleh pemiliknya. Dari balik-balik gerumbul-gerumbul itulah nanti akan datang orang-orang Jipang yang telah menyatakan diri menjerah bersama senjata-senjata mereka. Mereka akan menyeberangi padang rumput yang tidak terlampau luas dan berjalan lewat tanah persawahan yang kini telah menjadi liar itu.

Para pemimpin prajurit Pajang itu sekali-sekali menengadahkan wajah-wajah mereka memandangi matahari yang sudah semakin tegak di atas kepala. Matahari itu kini telah mencapai titik terlinggi tepat di puncak langit.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Telah Terbit on 26 September 2008 at 07:09  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya jagain jakarta mas..
    siap aja disuruh ngapain 😀

    D2: Gimana kalau handel BENDE MATARAM. Ini juga cersil berlatar Jawa. Bahannya komplit ada yang mau share tuh. Itu tuh orangnya di bawah. Kalau OK, kontak langsung aja ke dianya.

  2. Mas Dhe dhe aku juga ga pulkam, jadi siap bantu retype

    D2: Serius neh. Soalnya ada tuh dokumen kami yang memang harus diretype karena kualitas scannya kurang bagus. Kalau OK, bahan kukirim segera.

  3. Met Lebaran,
    Daku sih ikutan mudik neh…
    btw tararengkyu ke semua yang ikut andil di ADBM ini n sori belum bisa nyumbang apa2, baru ikutan baca aja.
    Minal ‘aidin wal faidin – mohon maaf lahir batin.
    Nuhun ka sadayana utamina ka kang DD.

    • dawah sami-sami ki

      • minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sedoyo lepat nyuwun pangapuro kalih nyuwun arto

  4. Bende Mataram ya mas… ??
    Kalo boleh milih.. aku pengen Dewi Sri Tanjung, dengan ajian Netra Luyup nya. Tau cerita ini mas ?

    Japri aja ato YM-an ya.. suwun.
    Sukra mo ke pakiwan lagi. 😉

    • hihaaaaa
      ki nin pengen dewi sri tanjung

  5. meski mudik..
    insyaAllah masih tetep bisa bantu

    tapi jangan kejar tayang ya… 🙂

    met lebaran DD & adbm-ers semua.
    mohon maaf atas segala khilaf & salah

    bensroben@gmail.com

  6. Siap Mas Dhe dhe, kirim aja bahan dan petunjuknya

    D2: Bahan udah dikirim. Petunjuk: Retype

  7. Mas Dhe dhe,

    Saya juga cuma jagain jakarta, siap nih tuk retype or anything…….

    Tuk yang merayakan Idul Fitri, saya pribadi ucapkan Selamat Idul Fitri, semoga ibadahnya di bulan puasa diterima oleh Tuhan YME. Bagi yang mudik, hati-2 dalam perjalanan.

  8. Komandan (DD) dan ADBMer, kali ini saya gak mudik, jaga jakarta biar gak sepi2 amat..Maka berilah daku tugas2 terus!

    Bende Mataram (Herman Patikto) memang Cersil Jawa, menurutku nggak sedahsyat ADBM or NSSI (SHM), meskipun diakui mempunyai segmen penggemar tersendiri.

    Tapi, menarik juga kan ada misi “lain” yg lebih mulia..Nguri-uri sastra jawa sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk “maya”, ini suatu usaha berbasis pengorbanan yang tentunya berazaskan nirlaba
    Bravo DD!

    • karya-karya ki herman memang berusaha ‘jawa’, tapi karena selalu mengacu kepada ching yung maka banyak bagian yang kedodoran

  9. mana tugas untuk saya?
    mumpung belum lebaran..
    ditunggu..

    D2: Tugas dah dikirim

  10. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H untuk seluruh pemrakarsa upload & penikmat Cerita ADBM. Semoga semua sehat selalu… Amin.. Btw, kalau cerita Sawer Wulung, karangan S. Djati Laksana, bagaimana, saya ada bukunya?

    D2: Kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar yaitu cersil Indonesia. Jadi, sepanjang cersil dan Indonesia akan ditampung.

  11. Mas Dhe dhe, tugas dah aku kembaliin.
    siap tugas selanjutnya
    And untuk semua penikmat blog ini
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri”
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    D2: Siiip. Bahan selanjutnya dah dikirim

  12. Tugas dah aku kembalikan……., siap tuk tugas selanjutnya……

    D2: Thanks

  13. makasih banget ya adbm nya, mengingatkan aku waktu masih kanak-kanak, jilid pertamanya sekitar ketika aku sd kelas 3 s/d 6, ya tahun 1968-1971, sudah lama banget, jadi lupa-lupa ingat, tamat nya juga kapan aku lupa, pokoknya jilid nya seratusan lah, dan terbitnya klo nggak salah sebulan sekali, jadi nunggunya luamaaaaa buanget, kadang klo aku pulang ke jateng (aku di surabaya) waktu lewat sekitar menoreh, kadang mencari cari dimana ya alas mentaok itu, dimana ya sangkal putung itu, dimana ya jati anom dst dst, gimana klo diadakan napak tilas jalur nya adbm, sapa tahu nemu cambuknya kyai gringsing.
    sekali lagi makasih,

    D2: Sangkal Putung, Jati Anom (Jatinom), dan Prambanan masuk wilayah Klaten sekarang. Alas Mentaok kini menjadi Kota Gede, Yk (mohon koreksi kalau salah).
    salam,
    ariyanto surabaya

  14. Tugas yang Mas Dhe dhe berikan sudah selesai dan aku kirimkan.
    Tugas selanjutnya ………

    D2: Thanks

  15. Seneng sekali bergabung dgn ADMers. Saya penggemar setia cersil jawa, & yg lagi intens saya ikuti salah satunya cerita ini (ADBM).

    MOhon kalo ada yg punya Alap-Alap Laut Kidul bisa dishare juga. Tks

    D2: Mas Aryo sendiri punya apa?

  16. SMS tetangga:
    “Hidup ini bentar. “Bentar happy”, “bentar sedih”. “Bentar marah”, “bentar baikan”. “Bentar senyum”, “bentar cemberut”… Eh “bentar lagi lebaran”….

    Buat semua-muanya aza: Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

    DD

  17. BUAT TIM SCANNER: CATATAN DAN USUL
    1. Mas Julius, tadi Mas Herry mengirim contoh hasil scan dalam bentuk JPG ke saya. Hasilnya bagus, cuma ukuran filenya ngudubilah besarnya (1 halaman 1800 KB). Kalau 1 buku bisa 70-an MB dong. Lalu ingat mungkin bisa diresize dan saya iseng coba-coba. Eh hasilnya hampir sama dengan aslinya, sedangkan ukuran file bisa dikurangi menjadi hanya 200 kb atau bahkan 80 kb. Saya kira prosedur ini bisa diterapkan.
    2. Dalam proses penayangan kami memerlukan baik file teks maupun JPG. File teks untuk memudahkan proses editing, file JPG untuk proofing. Melalui scan kita bisa memperoleh dua jenis file tsb. Jadi alangkah baiknya jika setiap buku discan 2 kali: sekali untuk mendapatkan file JPG, sekali untuk teks file. Agar tidak mengubah2 seting scanner, mungkin bisa dibagi, siapa saja yang menyecen untuk file JPG saja dan siapa saja yg untuk teks saja. Dengan cara seperti ini, proses konversi bisa ditiadakan.

    Demikian semoga bermanfaat.

    DD

  18. Tugas dah diterima, siap dikerjakan……..

  19. Sedulur,
    ngaturake Sugeng Riyadi
    Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  20. Mas DD dan kawan-kawan semua,
    Saya dan keluarga mengucapakan “Minal Alidin wal Faidzin” – mohon maaf lahir dan batin.
    Bagi kawan2 yang mudik, agar tetap berhati2 dalam perjalanan sampai ke rumah dan kembali ke tempat kerja.
    Semoga blog ini makin seru dan akan selalu diringukan para fans.
    Salam,
    Ubaid dan keluarga

    D2: Sama2. Aku kira Mas Ubaid ikut menghilang bersama Mas Rizal. Selamat bergabung deh.

  21. Hehe .. kok salah ketik ya.
    Bukan Minal Alidin.. tapi Minal Aidin…
    Mohon dimaafkan.. soalnya saya ngetik sambil ndlosor, sekali2 tolah toleh nungguin baby..

  22. Met Lebaran 1429 H Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin.

  23. Dalam rangka mempercepat penayangan ADBM, kami berencana meningkatkan kecepatan menjadi 2 JPM (jilid per minggu). Gelar SAPIT URANG akan kita pakai. Sapit kanan bertugas menayangkan ADBM Jilid Genap dan kiri Jilid Ganjil. Untuk itu kami memerlukan satu orang lagi untuk diserahi tugas menjadi senopati pengapit kiri. Persyaratan:
    1. memahami EYD dengan baik
    2. pernah terlibat dalam proses editing-proof reading.
    3. memiliki kesanggupan untuk mengkoordinir pasukan dan penayangan ADBM 1 JPM.
    Bagi yang bersedia dipersilakan ngacung. Admin kami akan menghubungi Anda.

    DD

  24. Tugasnya selanjutnya ……….

  25. Bukan menghilang mas… cuman pas kemarin2 lebih banyak di laut kebagian piket. Kawan yang seharusnya gantian kerja lagi kena masalah medis.
    Eeh ga tahunya blog ini jadi hebat. Tapi istri di rumah yang selalu ngecek dan kirim email lanjutannya ADBM. Seneeng banget ketemu obatnya.
    Penginnya ikut bantu biar lebih banyak tayang, tapi sementara nunggu 1-2 bulan ke depan dulu deh. Sementara ini jadi penikmat dulu disela2 momong anak. Maklum kurang tidur.
    Tetapi jika ada jilid yg agak jauh, barangkali bisa dikirim dulu, yang penting ga masuk target jarak dekat.

  26. Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  27. lanjutannya mana ???

  28. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadoken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinten kemawon cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  29. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadosaken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinteno kemawon b, cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  30. Mas …. mas …… saya pengin baca tapi nggak bisa caranya gimana sih. tks

  31. sip banget .. dulu baca ADBM pas SD.. nggak urut cos bongkar2 gudang mbacanya… pernah baca cerita lumayan seru.. judulnya lupa tapi ada tokoh misteriusnya” LUKIR LUDIRO” kalo nggak salah…. ada yang tau ndak ya…

  32. perkenalkan,
    saya juga fans adbm, sejak 1974 sudh baca adbm seri 1 dari buku alm bapak saya (selain pelangi).
    dan sangat bersyukur ternyata adbm ada web sitenya (walaupun tidak semua jilid di upload).
    hanya ada kekecewaan saya, setelah baca adbm mulai seri 2, dimana tidak ada lagi kalimat, pernyataan untuk beribadah/bersuci seperti di seri 1 (terutama nomor-2 awal).
    kedua, memang perlunya napak tilas nih, dari jati anom, dukuh pakuwon, sangkal putung, alas mentaok dan perdikan menoreh, kali aja kitab rontal empu windujati dan empu pahari ditemukan , apalagi goa ki sadewa mengukir ilmunya di dinding goa … hehehehehe
    sekali lagi terima kasih sehingga adbm tetap eksis.

  33. Asiiiikkkkkkk,
    Mentaok, lewat Prambanan, Kalasan,
    isa mampir tuku ayam goreng si mBok.

    • ki gembleh ra mampir bu tjitro ta ?

      • mBoten Ki,
        mampire wonten pinggir selokan Mataram,
        Yu Djum.

        • yu djum ?
          gudeg kendile muanteb iku ….
          nek sing besek meriah 😉

          • kalo sempat ki Gembleh, ki AS mampir sebentar ning Boe Jah,
            ana menu spesial KI…..maknyus,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: