Buku 16

DALAM kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.”

Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar dinding desa itu. Dari tempatnya berdiri Ki Tambak Wedi dapat melihat jalan yang membujur di tengah-tenga bulak memasuki desa kecil itu. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mau masuk desa lewat jalan yang dilihatnya. Lebih baik baginya untuk meloncati dinding batu desa itu.

Ketika Ki Tambak Wedi menjejakkan kakinya di dalam lingkungan dinding batu, orang tua itu menggeram. Api yang dilihatnya sudah menjadi semakin besar. Dengan hati-hati ia berjalan ke arah api itu. Tetapi, di sekitar api itu tampaknya terlampau sepi. la tidak melihat Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda. “Hem,” geramnya berulang kali. “Anak-anak gila itu pergi ke mana saja. Mereka sama sekali tidak mau memperhitungkan keadaan. Mereka menuruti saja perasaannya.”

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi teringat, bahwa di desa itu pasti ada prajurit Pajang yang sedang mengawasi keadaan menjeIang saat penyerahan orang-orang Jipang. Gumamnya, “Hem, mungkin Sidanti sedang melihat-lihat, apakah di desa ini ada orang-orang Pajang. kalau benar diketemukannya beberapa orang prajurit, maka anak itu pasti sedang melepaskan kemarahannya.”

Sejenak Ki Tambak Wedi menjadi berbimbang hati. Tetapi kemudian kembali ia bergumam, “Biarlah aku melihatnya pula. Orang-orang Pajang pasti berada di ujung jalan itu.”

Akhirnya Ki Tambak Wedi pun segera dengan tergesa-gesa menyusup rimbunnya dedaunan, meloncati dinding-dinding halaman, pergi ke ujung jalan.

Dalam pada itu Wira Lele masih berpacu dengan kudanya. Beruntunglah ia bahwa ketika Ki Tambak Wedi berjalan mendekati jalan yang dilaluinya, ia telah lampau. Kalau hantu lereng Merapi itu melihatnya, maka sudah pasti bahwa tubuh Wira Lele akan terbanting dari punggung kudanya, karena Ki Tambak Wedi akan melempar dengan gelang-gelang besinya.

Kuda Swandaru adalah kuda yang cukup baik, sehingga lajunya benar-benar seperti anak panah meluncur dari busurnya. la harus segera menemui Untara, mengabarkan apa yang telah terjadi, sehingga rencana yang telah disusun rapi oleh pimpinannya itu tidak pecah berserakan.

Akhirnya Wira Lele melihat juga sebuah barisan yang berhenti di tengah-tengah bulak. Barisan itu adalah barisan Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung.

Ketika Untara melihat api yang menjilat ke udara, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Dengan ragu-ragu ia berkata kepada Ki Gede Pemanahan, “Ki Gede, aku melihat ketidak-wajaran dari desa Benda itu.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling, memandangi wajah Untara, dilihatnya pada wajah itu beberap titik keringat.

Kali ini Ki Gede benar-benar menjadi kecewa. Ternyata persiapan Untara masih belum terlampau masak, sehingga di saat-saat yang ditentukan masih juga terjadi peristiwa-peristiwa yang menegangkan dan bahkan mungkin dapat membahayakan.

Tetapi Ki Gede puas dengan persiapan pasukan Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung yang berbaris di belakangnya. Bahwa seandainya orang-orang Jipang itu berkhianat atas persetujuan yang telah dibuatnya, atau sengaja menjebak para prajurit Pajang, maka pasukan itu sudah benar-benar dalam kesiagaan tempur.

“Bagaimana pertimbanganmu Untara?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Beberapa orang harus menyaksikan keadaan desa itu dari dekat.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Di desa itu tak akan kau jumpai bahaya yang besar. Kalau orang-orang Jipang ingin menjebakmu di sana, maka tidak akan terjadi pembakaran itu.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagaimanapun juga api itu telah mencemaskannya. Maka katanya, “Ya Ki Gede, demikianlah kiranya. Tetapi api itu sendiri dapat menimbulkan berbagai pertanyaan. Mungkin tanpa disengaja para penjaga telah membakar sebuah timbunan jerami atau alang-alang. Tetapi mungkin juga karena sebab-sebab lain.”

“Kita tidak mendengar tanda bahaya,” sela Widura yang berdiri di belakang Untara.

Ki Gede Pemanahan masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak panglima itu berdiam diri dan berpikir. Kemudian katanya, “Baik juga kau mengirimkan beberapa penghubung untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.”

Untara mengangguk. Di belakang barisan itu ada tiga orang penghubung dengan kuda-kuda mereka yang siap untuk melakukan tugas itu.

Tetapi Untara itu kemudian tertegun diam. Dari kejauhan, mereka melihat seekor kuda muncul di tikungan, dari balik tanaman-tanaman jagung dan gerumbul jarak liar yang berserakan di pinggir-pinggir jalan. Kuda itu berpacu semakin dekat. Debu yang dilemparkan oleh kaki-kakinya mengepul tinggi ke udara.

“Siapa?” desis Ki Gede Pemanahan.

Untara tidak segera menyahut. Tetapi kemudian setelah orang berkuda itu menjadi semakin dekat ia menjawab, “Wira Lele, Ki Gede, pemimpin pengawas yang aku tempatkan di Benda.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya sama sekali tidak membayangkan kegelisahan dan kecemasan. Wajah Panglima Wira Tamtama itu selalu membayangkan ketenangan hatinya, sehingga orang-orang lainpun menjadi tenang pula karenanya.

Semakin lama Wira Lele itupun menjadi semakin dekat, sementara itu wajah Untara dan Widura menjadi semakin tegang. Mereka merasa tidak sabar lagi menunggu kuda yang berlari kencang seperti angin itu.

Demikian Wira Lele sampai di hadapan mereka, maka segera Untara dan Widura menyongsongnya sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”

Untara dan Widura menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat wajah Wira Lele yang pucat dan keringatnya yang membasahi seluruh tubuhnya.

“Apa yang terjadi?” Untara mengulangi pertanyaannya.

Dengan serta-merta Wira Lele itu turun dari kudanya, menganggukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian menjawab, “Di Benda telah terjadi kebakaran.”

“Kenapa?” bertanya Widura singkat.

Sejenak Wira Lele menjadi ragu-ragu kembali. Apakah ia harus mengatakan seperti pesan Sutawijaya, atau ia harus mengatakan sebenarnya.

“Kenapa?” desak Widura.

“Oh,” Wira Lele tergagap. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Dengan terbata-bata dan seolah-olah tidak berurutan, kata-katanya berebut dahulu meloncat dari mulutnya. “Beberapa gubug telah dibakar Sidanti.”

Mendengar kalimat yang pendek itu dada Untara dan Widura bergetar. Hampir bersamaan mereka mengulangi nama itu, “Sidanti?”

“Ya.”

Ki Gede Pemanahan pun melangkah maju sambil bertanya, “Apakah Sidanti memasuki desa kecil itu?”

Wira Lele menganggukkan kepalanya dalam-dalam ketika ia melihat Panglima itu bertanya kepadanya, “Ya tuan, Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda.”

“Bertiga?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ya Ki Gede, mereka bertiga.”

Sejenak Untara dan Widura saling berpandangan. Sekilas teringat olehnya Agung Sedayu, Swandaru dan Sutawijaya yang mendahului mereka. Apakah mereka tidak terjebak oleh Sidanti dan kedua kawan-kawannya. Bahkan tiada disengaja terloncat pertanyaan dari mulut Untara, “Bagaimana dengan anak-anak muda yang datang berkuda. Apakah kau bertemu dengan mereka?”

“Ya,” sahut Wira Lele. “Kini mereka saling berhadapan. Kuda yang aku pakai adalah kuda Angger Swandaru.”

Untara dan Widura memandangi kuda itu. Kuda itu memang kuda Swandaru.

“Kini mereka pasti sedang bertempur,” sambung Wira Lele.

“Tetapi kau lihat Sidanti hanya bertiga?” sela Widura.

“Ya.”

Widura menarik nafas. Sementara itu Untara berkata, “Mudah-mudahan anak-anak itu tidak mengalami kesulitan.”

“Kalau mereka benar-benar hanya bertiga,” tiba-tiba terdengar Ki Gede Pemanahan berkata. “Maka aku mengharap anak-anak itu akan dapat mengatasinya.” Ki Gede itu diam sesaat. Kemudian ia berpaling kepada Untara. “Apakah adikmu dapat melawan Sanakeling?”

Untara itu mengangguk. “Aku harap demikian Ki Gede. Mereka berdua pernah bertemu di garis perang, pada saat terakhir.”

“Kalau begitu, mereka tidak akan menemui kesulitan.” Ki Gede itu terdiam sesaat. Tetapi sejenak kemudian tampak wajahnya yang tenang itu berkerut. Tiba-tiba kata-katanya mengejutkan Untara, “Wira Lele, bukankah namamu Wira Lele?”

“Ya Ki Gede,” sahut Wira Lele sambil menganggukkan kepalanya.

“Kau benar-benar hanya melihat tiga orang dari mereka?”

“Ya Ki Gede. Hanya tiga orang. Di perjalanan kemaripun aku tidak melihat orang-orang lain.”

“Tetapi di antara mereka bertiga itu ada Sidanti,” gumam Ki Gede Pemanahan. “Kalau begitu,” katanya, “berikan kudamu kepadaku.”

“Ki Gede,” potong Untara, “apakah yang akan Ki Gede lakukan sekarang?”

“Sidanti adalah murid Tambak Wedi. Hantu itu mungkin berada di sana pula.”

“Ki Gede, aku dan paman Widura yang bertanggung jawab atas semua peristiwa ini. Karena itu, biarlah aku pergj mendahului.”

“Apakah kau dapat berbuat sesuatu kalau tiba-tiba muncul di arena perkelahian itu Ki Tambak Wedi?”

Untara terbungkam. Tetapi ia melangkah maju ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan merenggut kendali kuda Wira Lele.

“Jangan Ki Gede,” minta Untara. “Ki Gede adalah Pamglima Wira Tamtama. Keselamalan Ki Gede jauh lebih berharga dari keselamatan kita semuanya.”

“Ah,” desah Ki Gede yang tiba-tiba telah meloncat ke atas punggung kuda itu. “Aku sedang mencemaskan keselamatan anakku. Aku akan mendahului kalian, cepat susul aku. Kalau terjadi sesuatu bukanlah salahmu, tetapi salah anakku yang nakal itu.”

“Ki Gede,” Untara masih ingin mencegah, tetapi ia tidak tahu kata-kata apakah yang akan diucapkan.

“Aku menyadari maksudmu Untara,” sahut Ki Gede Pemanahan, “tetapi pada masa-masa mudaku, aku senakal anakku itu pula. Karena itu jangan cemaskan aku.”

Untara tidak dapat berbuat sesuatu lagi. Ia hanya dapat melihat Ki Gede memutar kudanya. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata salah seorang perwira pengawalnya, “Ki Gede, apakah Ki Gede tidak menunggu kami?”

Ki Gede tersenyum, katanya, “Lindungilah panji-panji itu. Biarlah panji-panji itu tetap berkibar.”

Tak seorangpun sempat mencegahnya. Kuda itu segera meloncat dan berlari sekencang badai. Gemeretak di atas tanah berbatu-batu. Semakin lama semakin jauh.

Untara itupun kemudian tersentak. Tiba-tiba mulutnya berteriak, “He, berikan kuda penghubung itu. Kenapa kalian diam saja sejak tadi?”

Para penghubung yang memegang kendali kuda di bagian belakang dari barisan itu terkejut mendengar teriakan Untara. Karena itu, maka dengan segera mereka meloncat naik ke punggung-pungung kuda dan membawa kuda-kuda mereka maju mendekati Untara.

“Berikan satu kepadaku,” teriak Untara itu pula.

Para penghubung itu sama sekali tidak tahu maksud Untara. Tetapi merekapun segera berloncatan turun dan salah seorang dari pada mereka menyerahkan kendali kudanya kepada Untara.

“Kau akan pergi juga?” bertanya Widura.

“Ya.”

“Sendiri?”
Untara ragu-ragu sejenak. Sehingga Widura berkata pula, “Apakah aku akan menyertaimu?”

Untara menggeleng, “Tidak. Paman memimpin pasukan ini.” Untara berhenti sejenak kemudian dipandanginya beberapa orang perwira dan pengawal Ki Gede Pemanahan yang lain. Rupa-rupanya orang-orang itupun tahu maksudnya, sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan pergi bersamamu Adi Untara.”

“Marilah,” sahut Untara.

“Aku juga, bukankah ada tiga ekor kuda,” berkata seorang yang lain.

Maka sejenak kemudian mereka bertiga telah berada di punggung kuda. Dengan sentuhan pada lambung-lambung kuda itu, maka ketiganya meloncat dan berlari seperti dikejar hantu.

Tiga ekor kuda itu berpacu dengan cepatnya, berderak-derak di atas jalan yang menuju ke desa kecil di hadapan mereka, Benda.

Di desa Benda, pada saat itu sedang berlangsung suatu perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Sidanti yang melawan Sutawijaya benar-benar telah berusaha memeras segenap kemampuannya. Namun ia harus melihat kenyataan pula, bahwa Sutawijaya benar-benar memiliki kelincahan dan ketangguhan yang suIit ditandinginya.

Dengan senyum yang selalu membayang di bibirnya, Sutawijaya pun berusaha untuk menebus kekalahannya. Bahkan tiba-tiba lukanya itu seolah-olah menjadi terasa pedih kembali.

“Hem,” geramnya, “sedikitnya sebuah goresan di tubuhmu, Sidanti.”

Sidanti tidak menyahut. Tetapi bekerja lebih keras lagi. la sama sekali tidak dapat mengharapkan bantuan siapapun juga dalam perkelahian ini, sebab kedua kawannya telah terlibat pula dalam perkelahian yang seru. Meskipun Alap-alap Jalatunda tidak mengalami tekanan yang berat, bahkan sekali-sekali ia berhasil mendesak Swandaru yang gemuk, namun belum menunjukkan suatu kepastian bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya. Kekuatan Swandaru ternyata benar-benar merupakan kekuatan raksasa.
Sedang Sanakeling, hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk menarik nafas. Ternyata Agung Sedayu cukup cepat menghadapinya. Keduanya adalah orang-orang pilihan dari pihak yang berlawanan, yang pernah bertemu di garis perang, sehingga dengan demikian, maka kini mereka telah berusaha sekuat-kuat tenaga masing-masing untuk segera menguasai lawannya.

Tiba-tiba Sanakeling, Agung Sedayu, Alap-alap Jalatunda dan Swandaru terkejut ketika mereka mendengar suara Sidanti mengumpat keras-keras, “Setan. Jangan berbangga dengan sentuhan senjatamu itu.”

Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Sutawijaya. Katanya, “Jangan mengumpat-umpat. Aku hanya menagih hutangmu, tidak lebih. Dan aku masih belum menuntut bunganya.”

“Mampus kau!” teriak Sidanti pula sambil menyerang Sutawijaya sejadi-jadinya. Wajahnya menjadi merah padam dan matanya seakan-akan menyala. Dari lengan kirinya menetes darah yang merah segar.

Agung Sedayu pun tersenyum pula melihat luka Sidanti, bahkan Swandaru dengan serta-merta berteriak pula, “He, apakah murid Ki Tambak Wedi itu dapat dilukai?”

“Tunggu, aku akan menjobek mulutmu Swandaru,” sahut Sidanti lantang.

Tetapi Swandaru menjawab pula, “Lenganmu sudah terluka. Apakah kau masih dapat menyombongkn dirimu lagi?”

Kata-kata Swandaru terputus. la masih akan berkata lagi, tetapi ketika ia baru saja membuka mulutnya, ujung pedang Alap-alap Jalatunda hampir saja masuk ke dalam mulutnya itu.

“Gila kau,” anak yang gemuk itu mengumpat. Dengan cepatnya ia meloncat mundur. Tetapi Alap-alap Jalatunda mengejarnya dan dengan pedangnya ia menyerang lambung.

Swandaru memutar tubuhnya setengah lingkaran. la tidak mau menghindar lagi. Dengan sekuat tenaganya, pedang Alap-alap Jalatunda itu ditangkisnya dengan pedangnya pula. Terdengar suara berdentang. Dari sentuhan kedua tajam pedang itu memercik bunga api. Namun sekali lagi terasa oleh Alap-alap Jalatunda, betapa kuatnya tangan Swandaru, meskipun Swandaru terpaksa mengakui pula kecepatan bergerak Alap-alap Jalatunda. Hampir saja lambungnya tersobek oleh pedangnya.

Sementara itu, Ki Tambak Wedi berjalan dengan tergesa-gesa menyusup rimbunnya dedaunan di kebun-kebun dan meloncati pagar-pagar halaman, menuju ke ujung desa itu. Ia menyangka bahwa di sana pasti ada gardu pengawas. “Mungkin Sidanti dan kawan-kawannya sedang berpesta,” gumamnya. “Tetapi itu adalah perbuatan yang bodoh. Meskipun seandainya mereka berhasil membunuh lima atau enam orang, tetapi mereka hampir-hampir tidak lagi dapat berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan lain. Mungkin Sidanti demikian bernafsu dan mencincang korbannya. Mungkin Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda berbuat serupa.Tetapi kalau mareka tertangkap oleh orang-orang Pajang, maka mereka pasti akan mengalami perlakuan yang sama.

Sambil bersungut-sungut Ki Tambak Wedi itu berjalan semakin cepat mendekati gardu perondan di ujung jalan.

Ketika Ki Tambak Wedi sudah menjadi semakin dekat, maka mulailah ia mendengar gemerincing senjata beradu, namun karena rimbunnya pepohonan dan dinding-dinding halaman, maka orang tua itu masih belum dapat melihat apa yang terjadi di gardu peronda itu.

Hem,” gumamnya sambil melangkah lebih cepat, “siapakah yang berada di gardu itu sehingga Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda memerlukan waktu yang cukup lama untuk membinasakannya?”

Demikian ketika ia sampai di halaman terakhir, di tepi jalan di muka gardu itu, maka lewat di atas dinding halaman ia melihat beberapa buah kepala tersembul. Kepala yang bergerak-gerak bergeser dan kadang-kadang berputaran.

ltulah mereka,” desisnya.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu menjadi semakin tergesa-gesa. Langkahnya menjadi semakin panjang, dan kemudian dengan serta merta ia menjengukkan kepalanya dari atas dinding itu.

Demikian kepalanya tersembul di atas dinding halaman, demikian darahnya serasa membeku. la melihat muridnya bertempur melawan Sutawijaya. Bukan itu saja, tetapi dari tubuh muridnya telah menetes darah. Di lingkaran yang lain, ia melihat Sanakeling bertempur melawan Agung Sedayu, dan Alap-alap Jalatunda melawan Swandaru Geni. Sedang di muka gardu ia masih melihat beberapa prajurit Pajang berdiri dengan mulut ternganga, seperti sedang menonton adu jago.

Tanpa disengaja Ki Tambak Wedi itupun menggeram. Ketika ia sekali mengayunkan kakinya, maka kini ia telah duduk bertengger di atas dinding batu itu.
Anak-anak muda yang sedang bertempur itu terkejut. Seakan-akan tiba-tiba saja tanpa sangkan-paran mereka melihat seseorang duduk di atas dinding. Apalagi ketika mereka melihat wajah yang keras, hidung yang melengkung seperti paruh burung betet, dan kumis yang tebal, maka terasa dada mereka berdesir. Lebih-lebih Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru. Dengan segera mereka me-ngenal, bahwa orang itu adalah Ki Tambak Wedi.

“Hem,” kembali terdengar Ki Tambak Wedi menggeram, “ternyata kalian sedang bermain-main.”

“Ya, guru,” sahut Sidanti. Hatinya yang sudah mulai berkeriput tiba-tiba kini mekar kembali ketika ia melihat gurunya, “Aku ingin membawa mereka, setidak-tidaknya kepala mereka ke lereng Gunung Merapi.”

Meskipun debar jantung Sutawijaya belum mereda oleh kehadiran Ki Tambak Wedi, namun mendengar bualan Sidanti sempat juga ia tertawa. Katanya, “He, apakah kau ingin memenggal leherku?”

“Tentu,” sahut Sidanti lantang.

“Baik,” jawab Sutawijaya, “mari perkelahian ini kita lanjutkan. Gurumu menjadi saksi. Sutawijaya atau Sidanti yang hanya pandai membual tetapi tidak mampu mempermainkan senjatanya?”

Terdengar gigi Sidanti gemeretak. Tantangan itu benar-benar menyakitkan hatinya, tetapi ia menyadari keadaan yang dihadapi. Dengan demikian Sidanti itu terbungkam. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya.

Bukan saja Sidanti yang menjadi sakit hati mendengar tantangan itu, tetapi Ki Tambak Wedi pun menjadi marah pula. Dengan suara parau ia berkata, “Sutawijaya, bagaimanapun juga kau menyombongkan dirimu, tetapi ketahuilah, bahwa hari ini adalah hari akhir hidupmu.”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Sutawijaya. Tetapi ia bukan seorang pengecut. Sekilas ia memandang kawan-kawannya yang masih saja bertempur. Namun wajah-wajah itupun sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Agung Sedayu dan Swandaru menyadari keadaan yang di hadapinya pula. Kehadiran Ki Tambak Wedi berarti bahaya yang tak akan dapat mereka hindari. Tetapi mereka tidak akan bersimpuh dan menyembah mohon ampun di bawah kaki hantu lereng Merapi itu. Bahkan hati mereka bergetar ketika mereka mendengar Sutawijaya menjawab sambil tertawa, “Bagus Ki Tambak Wedi. Kau pasti akan mampu membunuh aku. Dan akupun akan melawanmu dengan sikap jantan. Aku dan kawan-kawanku tidak akan lari meninggalkan gelanggang. Tetapi sebelum mati, aku minta kepadamu, untuk sedikit mendorong muridmu supaya iapun dapat bersikap jantan. Nah Ki Tambak Wedi, apabila demikian, maka aku akan menyelesaikan perkelahian ini sebagai perkelahian di antara dua orang laki-laki. Bukan perkelahian anak-anak yang masih harus merengek-rengek minta pertolongan kepada ayah atau gurunya.”

Sekali lagi terdengar gigi Sidanti gemeretak. Ia benar-benar dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit. Sebagai seorang laki-laki, maka ia tidak mungkin menghindari tantangan itu. Namun kenyataan mengatakan kepadanya, bahwa ia benar tidak mampu melawan Sutawijaya. Apalagi ketika Swandaru menyahut lantang, “Nah, sekarang baru akan tampak, siapakah yang jantan dan siapakah yang hanya berani menampar mulut orang yang pasti tak akan mampu melawan.”

“Tutup mulutmu!” bentak Sidanti. Kemarahannya seakan-akan hampir meledakkan dadanya.

Tetapi Swandaru tertawa. Meskipun suara tertawanya agak sumbang. Suara tertawa sebagai pelepas perasaannya. Sebab ia tahu benar, bahwa sebentar lagi apabila Ki Tambak Wedi itu meloncat turun dari atas dinding batu itu, maka nyawanya akan melayang.

Ki Tambak Wedi pun merasa dihadapkan pada suatu persoalan yang rumit. Tetapi ia pasti akan lebih menghargai nyawa muridnya dari pada sekedar harga diri. Karena itu, maka segera ia berkata, “Jangan mencoba menipu aku anak cengeng. Kau pasti mencoba menunggu orang-orang Pajang datang kemari. Tetapi aku tidak sebodoh itu. Apapun yang akan kau katakan tentang muridku, tentang perguruanku, aku tidak peduli. Sebab umurmu tidak akan lebih dari sesilir bawang.”

Dada Sutawijaya berdesir mendengar jawaban Tambak Wedi itu. Bukan karena ia takut terbunuh, tetapi ia menghadapi keadaan yang menurut penilaiannya tidak adil. Demikian juga agaknya perasaan Agung Sedayu dan Swandaru Geni.

Tetapi sudah pasti mereka tidak dapat ingkar. Betapapun hatinya memberontak. Mereka ingin diberi kesempatan menyelesaikan perkelahian itu lebih dahulu. Tetapi apa boleh buat, Tambak Wedi bukanlah seorang yang sekedar akan menjadi saksi dari perkelahian itu, tetapi ia adalah salah satu dari musuh-musuhnya.

Ketika kemudian mereka melihat Ki Tambak Wedi itu meloncat turun, maka hampir bersamaan Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru Geni menggeram. Pada saat terakhir itu mereka mencoba berbuat sebaik-baiknya, mencoba menekan lawan dengan segenap kekuatan terakhir.

Swandaru dengan sepenuh tenaga menghantam lawannya dengan pedangnya yang berhulu gading. la tidak perduli, apakah musuhnya akan melawan serangannya itu dengan sebuah tangkisan atau akan menghindar. Tetapi ia seolah-olah menjadi bermata gelap. Seperti badai pedangnya melanda Alap-alap Jalatunda.

Alap-alap itu terkejut, justru pada saat yang sama sekali tak disangka-sangkanya. la menyangka Swandaru akan mencoba menyelamatkan dirinya dari Ki Tambak Wedi atau setidak-tidaknya perkelahiannya itu akan menjadi lemah karena putus asa. Namun ternyata bentuk keputus-asaan yang terungkap dalam diri Swandaru adalah berbeda dari yang dibayangkan oleh Alap-alap Jalatunda. Dalam keputus-asaan, Swandaru masih mencoba membinasakan lawannya, sama sekali bukan ingin melarikan diri sementara Ki Tambak Wedi akan membunuh Sutawijaya.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Telah Terbit on 26 September 2008 at 07:09  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya jagain jakarta mas..
    siap aja disuruh ngapain 😀

    D2: Gimana kalau handel BENDE MATARAM. Ini juga cersil berlatar Jawa. Bahannya komplit ada yang mau share tuh. Itu tuh orangnya di bawah. Kalau OK, kontak langsung aja ke dianya.

  2. Mas Dhe dhe aku juga ga pulkam, jadi siap bantu retype

    D2: Serius neh. Soalnya ada tuh dokumen kami yang memang harus diretype karena kualitas scannya kurang bagus. Kalau OK, bahan kukirim segera.

  3. Met Lebaran,
    Daku sih ikutan mudik neh…
    btw tararengkyu ke semua yang ikut andil di ADBM ini n sori belum bisa nyumbang apa2, baru ikutan baca aja.
    Minal ‘aidin wal faidin – mohon maaf lahir batin.
    Nuhun ka sadayana utamina ka kang DD.

    • dawah sami-sami ki

      • minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, sedoyo lepat nyuwun pangapuro kalih nyuwun arto

  4. Bende Mataram ya mas… ??
    Kalo boleh milih.. aku pengen Dewi Sri Tanjung, dengan ajian Netra Luyup nya. Tau cerita ini mas ?

    Japri aja ato YM-an ya.. suwun.
    Sukra mo ke pakiwan lagi. 😉

    • hihaaaaa
      ki nin pengen dewi sri tanjung

  5. meski mudik..
    insyaAllah masih tetep bisa bantu

    tapi jangan kejar tayang ya… 🙂

    met lebaran DD & adbm-ers semua.
    mohon maaf atas segala khilaf & salah

    bensroben@gmail.com

  6. Siap Mas Dhe dhe, kirim aja bahan dan petunjuknya

    D2: Bahan udah dikirim. Petunjuk: Retype

  7. Mas Dhe dhe,

    Saya juga cuma jagain jakarta, siap nih tuk retype or anything…….

    Tuk yang merayakan Idul Fitri, saya pribadi ucapkan Selamat Idul Fitri, semoga ibadahnya di bulan puasa diterima oleh Tuhan YME. Bagi yang mudik, hati-2 dalam perjalanan.

  8. Komandan (DD) dan ADBMer, kali ini saya gak mudik, jaga jakarta biar gak sepi2 amat..Maka berilah daku tugas2 terus!

    Bende Mataram (Herman Patikto) memang Cersil Jawa, menurutku nggak sedahsyat ADBM or NSSI (SHM), meskipun diakui mempunyai segmen penggemar tersendiri.

    Tapi, menarik juga kan ada misi “lain” yg lebih mulia..Nguri-uri sastra jawa sekaligus mendokumentasikan dalam bentuk “maya”, ini suatu usaha berbasis pengorbanan yang tentunya berazaskan nirlaba
    Bravo DD!

    • karya-karya ki herman memang berusaha ‘jawa’, tapi karena selalu mengacu kepada ching yung maka banyak bagian yang kedodoran

  9. mana tugas untuk saya?
    mumpung belum lebaran..
    ditunggu..

    D2: Tugas dah dikirim

  10. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H untuk seluruh pemrakarsa upload & penikmat Cerita ADBM. Semoga semua sehat selalu… Amin.. Btw, kalau cerita Sawer Wulung, karangan S. Djati Laksana, bagaimana, saya ada bukunya?

    D2: Kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar yaitu cersil Indonesia. Jadi, sepanjang cersil dan Indonesia akan ditampung.

  11. Mas Dhe dhe, tugas dah aku kembaliin.
    siap tugas selanjutnya
    And untuk semua penikmat blog ini
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri”
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    D2: Siiip. Bahan selanjutnya dah dikirim

  12. Tugas dah aku kembalikan……., siap tuk tugas selanjutnya……

    D2: Thanks

  13. makasih banget ya adbm nya, mengingatkan aku waktu masih kanak-kanak, jilid pertamanya sekitar ketika aku sd kelas 3 s/d 6, ya tahun 1968-1971, sudah lama banget, jadi lupa-lupa ingat, tamat nya juga kapan aku lupa, pokoknya jilid nya seratusan lah, dan terbitnya klo nggak salah sebulan sekali, jadi nunggunya luamaaaaa buanget, kadang klo aku pulang ke jateng (aku di surabaya) waktu lewat sekitar menoreh, kadang mencari cari dimana ya alas mentaok itu, dimana ya sangkal putung itu, dimana ya jati anom dst dst, gimana klo diadakan napak tilas jalur nya adbm, sapa tahu nemu cambuknya kyai gringsing.
    sekali lagi makasih,

    D2: Sangkal Putung, Jati Anom (Jatinom), dan Prambanan masuk wilayah Klaten sekarang. Alas Mentaok kini menjadi Kota Gede, Yk (mohon koreksi kalau salah).
    salam,
    ariyanto surabaya

  14. Tugas yang Mas Dhe dhe berikan sudah selesai dan aku kirimkan.
    Tugas selanjutnya ………

    D2: Thanks

  15. Seneng sekali bergabung dgn ADMers. Saya penggemar setia cersil jawa, & yg lagi intens saya ikuti salah satunya cerita ini (ADBM).

    MOhon kalo ada yg punya Alap-Alap Laut Kidul bisa dishare juga. Tks

    D2: Mas Aryo sendiri punya apa?

  16. SMS tetangga:
    “Hidup ini bentar. “Bentar happy”, “bentar sedih”. “Bentar marah”, “bentar baikan”. “Bentar senyum”, “bentar cemberut”… Eh “bentar lagi lebaran”….

    Buat semua-muanya aza: Selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

    DD

  17. BUAT TIM SCANNER: CATATAN DAN USUL
    1. Mas Julius, tadi Mas Herry mengirim contoh hasil scan dalam bentuk JPG ke saya. Hasilnya bagus, cuma ukuran filenya ngudubilah besarnya (1 halaman 1800 KB). Kalau 1 buku bisa 70-an MB dong. Lalu ingat mungkin bisa diresize dan saya iseng coba-coba. Eh hasilnya hampir sama dengan aslinya, sedangkan ukuran file bisa dikurangi menjadi hanya 200 kb atau bahkan 80 kb. Saya kira prosedur ini bisa diterapkan.
    2. Dalam proses penayangan kami memerlukan baik file teks maupun JPG. File teks untuk memudahkan proses editing, file JPG untuk proofing. Melalui scan kita bisa memperoleh dua jenis file tsb. Jadi alangkah baiknya jika setiap buku discan 2 kali: sekali untuk mendapatkan file JPG, sekali untuk teks file. Agar tidak mengubah2 seting scanner, mungkin bisa dibagi, siapa saja yang menyecen untuk file JPG saja dan siapa saja yg untuk teks saja. Dengan cara seperti ini, proses konversi bisa ditiadakan.

    Demikian semoga bermanfaat.

    DD

  18. Tugas dah diterima, siap dikerjakan……..

  19. Sedulur,
    ngaturake Sugeng Riyadi
    Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  20. Mas DD dan kawan-kawan semua,
    Saya dan keluarga mengucapakan “Minal Alidin wal Faidzin” – mohon maaf lahir dan batin.
    Bagi kawan2 yang mudik, agar tetap berhati2 dalam perjalanan sampai ke rumah dan kembali ke tempat kerja.
    Semoga blog ini makin seru dan akan selalu diringukan para fans.
    Salam,
    Ubaid dan keluarga

    D2: Sama2. Aku kira Mas Ubaid ikut menghilang bersama Mas Rizal. Selamat bergabung deh.

  21. Hehe .. kok salah ketik ya.
    Bukan Minal Alidin.. tapi Minal Aidin…
    Mohon dimaafkan.. soalnya saya ngetik sambil ndlosor, sekali2 tolah toleh nungguin baby..

  22. Met Lebaran 1429 H Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin.

  23. Dalam rangka mempercepat penayangan ADBM, kami berencana meningkatkan kecepatan menjadi 2 JPM (jilid per minggu). Gelar SAPIT URANG akan kita pakai. Sapit kanan bertugas menayangkan ADBM Jilid Genap dan kiri Jilid Ganjil. Untuk itu kami memerlukan satu orang lagi untuk diserahi tugas menjadi senopati pengapit kiri. Persyaratan:
    1. memahami EYD dengan baik
    2. pernah terlibat dalam proses editing-proof reading.
    3. memiliki kesanggupan untuk mengkoordinir pasukan dan penayangan ADBM 1 JPM.
    Bagi yang bersedia dipersilakan ngacung. Admin kami akan menghubungi Anda.

    DD

  24. Tugasnya selanjutnya ……….

  25. Bukan menghilang mas… cuman pas kemarin2 lebih banyak di laut kebagian piket. Kawan yang seharusnya gantian kerja lagi kena masalah medis.
    Eeh ga tahunya blog ini jadi hebat. Tapi istri di rumah yang selalu ngecek dan kirim email lanjutannya ADBM. Seneeng banget ketemu obatnya.
    Penginnya ikut bantu biar lebih banyak tayang, tapi sementara nunggu 1-2 bulan ke depan dulu deh. Sementara ini jadi penikmat dulu disela2 momong anak. Maklum kurang tidur.
    Tetapi jika ada jilid yg agak jauh, barangkali bisa dikirim dulu, yang penting ga masuk target jarak dekat.

  26. Minal Aidin Walfaidzin
    sedaya kalepatan nyuwun pangapunten

  27. lanjutannya mana ???

  28. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadoken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinten kemawon cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  29. sugegng tetepangan lan pinanggihan kaliyan pun ki Ageng Penataran , dalem milai maoss pun buku meniko wiwt thn 1968 ngantos dumugi 2003 mila ndadosaken bingah manah kulo dene wonten poro piantun ingkang kagungan kerso nyerat carios meniko dados buku elektronik lan saged kawaos sok sinteno kemawon b, cekap semanten atur kulo lintu dinten kambalan malih
    pun ki Ageng Penataran

  30. Mas …. mas …… saya pengin baca tapi nggak bisa caranya gimana sih. tks

  31. sip banget .. dulu baca ADBM pas SD.. nggak urut cos bongkar2 gudang mbacanya… pernah baca cerita lumayan seru.. judulnya lupa tapi ada tokoh misteriusnya” LUKIR LUDIRO” kalo nggak salah…. ada yang tau ndak ya…

  32. perkenalkan,
    saya juga fans adbm, sejak 1974 sudh baca adbm seri 1 dari buku alm bapak saya (selain pelangi).
    dan sangat bersyukur ternyata adbm ada web sitenya (walaupun tidak semua jilid di upload).
    hanya ada kekecewaan saya, setelah baca adbm mulai seri 2, dimana tidak ada lagi kalimat, pernyataan untuk beribadah/bersuci seperti di seri 1 (terutama nomor-2 awal).
    kedua, memang perlunya napak tilas nih, dari jati anom, dukuh pakuwon, sangkal putung, alas mentaok dan perdikan menoreh, kali aja kitab rontal empu windujati dan empu pahari ditemukan , apalagi goa ki sadewa mengukir ilmunya di dinding goa … hehehehehe
    sekali lagi terima kasih sehingga adbm tetap eksis.

  33. Asiiiikkkkkkk,
    Mentaok, lewat Prambanan, Kalasan,
    isa mampir tuku ayam goreng si mBok.

    • ki gembleh ra mampir bu tjitro ta ?

      • mBoten Ki,
        mampire wonten pinggir selokan Mataram,
        Yu Djum.

        • yu djum ?
          gudeg kendile muanteb iku ….
          nek sing besek meriah 😉

          • kalo sempat ki Gembleh, ki AS mampir sebentar ning Boe Jah,
            ana menu spesial KI…..maknyus,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: