Buku 13

“Aku,” terdengar sebuah jawaban.

Bayangan itu semakin lama semakin dekat menyusur pinggiran alun-alun di muka banjar desa. Dan semakin dekat, semakin jelas pulalah bagi para penjaga itu, bahwa bayangan itu bukanlah bayangan seorang saja, tetapi bayangan itu adalah bayangan seorang yang sedang memapah orang lain di sisinya.

Sekali lagi terdengar sapa dari para penjaga, “Siapa?”

“Agung Sedayu,” jawab bayangan itu.

“O,” guman penjaga itu. Namun tiba-tiba ia bertanya pula, “Siapa yang terluka?”

Agung Sedayu, yang datang dengan seorang yang ditemuinya di dalam hutan, tidak dapat menjawab. Orang yang dipapahnya itu setelah mendapat seteguk air, meskipun air dari sebuah parit, menjadi agak segar dan mampu berjalan sambil bergantung pundak Agung Sedayu. Dan orang itu belum dikenal siapa namanya. Karena itu maka Agung Sedayu menjawab, “Aku belum mengenal namanya.”

“He?” penjaga itu terkejut, “Kenapa belum kau kenal namanya?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia berjalan terus sambil membantu orang yang terluka itu.

“Panggil aku Supa,” desis orang itu, perlahan-lahan.

“O,” gumam Agung Sedayu.

Namun kemudian ia berkata, “Nama apapun yang akan aku sebutkan, kesannya bagi mereka akan sama saja. Mereka pasti belum mengenal nama itu.”

Orang yang terluka menjadi berdebar-debar. Apakah orang-orang Pajang akan menerima kehadirannya di antara mereka?

Tetapi orang Jipang itu tidak menyatakan kecemasannnya. Bahkan kemudian ia menjadi pasrah. Kalau ia mati, maka kematian itu adalah wajar. Seandainya salah seorang prajurit Pajang kemudian menyambutnya dengan tusukan tombak di lambungnya, maka ia tidak akan merasa kehilangan lagi. Nyawanya yang sekarang seakan-akan bukan miliknya, tetapi milik Agung Sedayu. Seandainya Agung Sedayu tidak membawanya, maka iapun akan mati oleh anjing-anjing liar sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Bulu kuduk orang Jipang itu terasa berdiri. Alangkah mengerikan. Selagi ia masih hidup, beberapa ekor anjing hutan berpesta dengan dagingnya. Tetapi kalau ia mati dengan tombak menghujam di dadanya, maka ia akan mati sebagai seorang prajurit.

Agung Sedayu yang kini berdiri beberapa langkah saja dari para penjaga itu berhenti. Salah seorang dari penjaga itu bertanya, “Benarkah kau Adi Sedayu?”

“Lihatlah dengan seksama,” sahut Agung Sedayu.

“Yang terluka itu?”

Agung Sedayu tidak mau menjawab dengan berbelit-belit. Maka katanya, “Namanya Supa, orang Jipang.”

Orang di regol halaman itu serentak mengulangi kata-kata Agung Sedayu, “Orang Jipang?”

“Ya, aku temukan orang ini terluka di dalam hutan. Untunglah aku masih sempat menolongnya dan memberinya air, sehingga kemungkinan untuk hidup baginya menjadi semakin besar.”

Para prajurit Pajang dan beberapa anak muda Sangkal Putung justru terdiam. Mereka dicekam oleh perasaan heran tiada taranya. Mereka melihat, betapa Agung Sedayu masih sempat memapah orang Jipang dari hutan sampai ke halaman ini. Bukankah itu suatu pekerjaan sulit?

Tiba-tiba dari antara beberapa orang yang berjaga-jaga di regol halaman itu terdengar salah seorang berkata, “Hem, Kakang Sedayu, buat apa kau bawa monyet itu ke mari?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Suara itu dikenalnya benar. Apalagi ketika ia melihat seorang yang bertubuh gemuk bulat melangkah maju dari antara orang-orang yang kemudian berkerumun di depan regol. Namun betapa kecewa hati Agung Sedayu mendengar pertanyaannya. Ia tidak akan menyesal, bahkan sama sekali tidak mempengaruhi perasaannya apanbila pertanyaan itu meluncur dari orang lain. Bukan anak muda yang gemuk bulat dan bernama Swandaru Geni itu.

“Kakang,” berkata Swandaru seterusnya, “buat apa kau bawa orang sakit-sakitan itu. Lihat, di sini telah terkapar berpuluh-puluh orang semacam itu. Seandainya bukan Paman Widura dan Kakang Untara yang menunggui mereka langsung, maka mereka itu sama sekali tak akan berguna bagi kami. Apalagi bagi rakyat Sangkal Putung. Coba, siapakah yang memberi mereka makan? Beras siapakah? Sedang mereka telah mencoba menghancurkan Sangkal Putung ini?”

Agung Sedayu menarik napas. Swandaru adalah pemimpin dari segenap anak-anak muda Sangkal Putung. Kalau ia tetap pada pendiriannya, bahwa tidak pantas untuk membawa orang Jipang yang terluka itu, maka akan sulitlah baginya untuk menghadapinya. Semua anak-anak muda pasti akan sependirian dengan Swandaru, dan menolak orang Jipang itu. Bahkan mungkin mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan di luar kehendak mereka sendiri.

Karena itu, Agung Sedayu harus segera menemukan jalan, sehingga Swandaru dapat diatasinya. Maka dengan serta merta Agung Sedayu menjawab, “Adi Swandaru, apa yang aku lakukan ini adalah atas perintah guru kita, Kiai Gringsing.”

Kini Swandaru-lah yang mengerutkan keningnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Cahaya obor di kejauhan membuat wajah itu menjadi merah, semerah bara.

Tapi Swandaru tidak dapat berbuat lain kecuali menghempaskan nafasnya. Betapa hatinya menggelegak, namun jawaban Agung Sedayu telah menutup setiap kemungkinan baginya untuk berbuat sesuatu. Sebab apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu adalah karena perintah gurunya.

“Hem,” desah anak muda yang gemuk bulat itu. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Bahkan kemudian ia segera menyelinap kembali ke dalam kerumunan orang-orang di regol, seakan-akan ingin membenamkan kemarahannya ke dalam linkungan orang banyak.

Tetapi demikian Swandaru menghilang, maka tampaklah seseorang dengan tergesa-gesa menyibak orang-orang yang berdiri di regol itu sambil berkata, “Mana orang Jipang itu?”

Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata itu. Dari antara orang yang berdiri itu sekali lagi ia melihat seseorang melangkah maju.

“Hem,” katanya, “rupa-rupanya kau membawa oleh-oleh buat kami.”

Agung Sedayu sekali lagi mengerutkan keningnya. Sebelum ia sempat menjawab orang itu berkata pula, “Di dalam banjar desa banyak juga orang-orang Jipang yang bergelimpangan menunggu maut mencekik mereka. Tetapi orang-orang itu ditunggui langsung oleh Untara dan Widura. Nah, sekarang ada orang lain yang kau bawa kemari. Jangan kau bawa masuk ke pendapa. Serahkan orang itu kedaku. Aku ingin mendapat ganti Kakang Citra Gati yang gugur di pertempuran.”

“Akan kau apakan orang ini Paman Hudaya?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku ingin mencincangnya,” sahut Hudaya.

Agung Sedayu merasa orang yang menggantung di pundaknya itu menggeliat perlahan-lahan, tetapi ia segera menggamitnya.

“Paman,” berkata Agung Sedayu, “aku membawa orang ini atas perintah Kiai Gringsing.”

“Persetan dengan Kiai Gringsing! Aku tidak berkepentingan dengan Kiai Gringsing,” berkata Hudaya tegas. “Aku inginkan orang itu.”

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab kata-kata Hudaya itu. Terasa bahwa keadaan Hudaya yang terluka itu tidak wajar. Ia sedang diliputi oleh suasana tegang, hilangnya sahabatnya Citra Gati serta dirinya sendiri yang terluka. Karena itu maka hati Hudaya itupun sedang dibalut oleh dendam yang pekat.

Tetapi sama sekali tidak terlintas di dalam otak Sgung Sedayu untuk menyerahkan orang yang dibawanya itu. Ia membawanya dengan harapan untuk menolong jiwanya, apalagi kemudian telah diperkuat oleh perintah gurunya. Sedangkan apabila orang itu sampai ke tangan kakaknya atau pamannya, maka masih mungkin orang itu diselamatkan dari kemarahan para prajurit Pajang.

Ketika Agung Sedayu sedang berpikir terdengar kembali suara Hudaya, “Ayo, serahkan kepada kami.”

“Paman,” berkata Agung Sedayu hati-hati. “Aku memang akan menyerahkan orang ini, tetapi setelah Paman Widura mengetahuinya. Bukankah pimpinan pasukan Pajang di sini adalah paman Widura.”

Hudaya menggeram. Namun kemudian ia menjawab, “Kakang Widura adalah pimpinan prajurit Pajang dalam hubungan resmi. Tetapi aku kehendaki orang itu justru sebelum diketahui oleh Kakang Widura, sehingga orang itu belum menjadi seorang tawanan.”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Apakah yang harus dilakukannya supaya orang itu dapat dilihat oleh pamannya? Apakah ia akan memaksa berjalan terus memasuki halaman banjar desa? Apakah ia harus berteriak-teriak memanggil?

Belum lagi ia menemukan jawabnya, Hudaya telah melangkah maju. Terdengar suara tertawanya yang mengerikan. Suara itu seolah-olah bukan suara Hudaya yang selama ini dikenalnya. Ya, tiba-tiba Agung Sedayu ingat, apa yang telah pernah dilakukan oleh Sidanti. Ia mendengar dari beberapa orang yang menyaksikan, bahkan Hudaya pun pernah berkata kepadanya, bagaimana Sidanti membunuh Plasa Ireng. Menikamnya bertubi-tubi, membelah punggungnya dengan goresan-goresan yang dalam, berdiri di atas mayat itu sambil menepuk dada.

Bulu-bulu Agung Sedayu serentak berdiri. Mengerikan. Kini ia melihat seolah-olah Sidanti itu datang kembali sambil tertawa.

“Serahkan kepadaku supaya aku tidak mendendammu pula,” berkata Hudaya. Tetapi nada suaranya benar-benar mengerikan seperti suara hantu dari dalam kubur.

Namun tiba-tiba bersama dengan itu, merayap pulalah perasaan benci Agung Sedayu kepada Sidanti, kepada sikapnya, kepada perbuatannya. Kini ia melihat Hudaya itu bersikap dan berbuat seperti apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti. Karena itu tiba-tiba Agung Sedayu melangkah surut selangkah. Terdengar ia berkata tegas, “Paman Hudaya, Aku tidak akan menyerahkan orang ini kepada siapapun juga. Tidak kepada paman Hudaya dan tidak kepada orang lain. Aku hanya akan menyerahkan kepada Paman Widura. Kalau Paman Widura akan membunuhnya itu adalah haknya, apabila ternyata menurut Paman Widura, tidakan itu adalah tindakan yang seadil-adilnya. Tetapi pasti tidak dalam keadaan yang serupa ini. Tidak dalam keadaan tidak berdaya.”

Hudaya pun nkemudian tertawa pula. Jawabnya, “Kau bukan seorang prajurit. Kau tidak tau apakah yang sebaik-baiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Sebelum orang ini sampai pada orang yang berwenang menentukan hukuman atasnya, maka yang berlaku asalah hukuman perang. Setiap prajurit berhak melakukannya. Akupun berhak. Orang ini dapat aku perlakukan menurut kehendakku. Tempat ini dapat dianggap sebagai medan. Prajurit yang terbunuh di medan perang, nasibnya tidak dipersoalkan lagi.”

“Tidak paman,” sahut Agung Sedayu. “Kita tidak berada di dalam medan lagi. Kita sudah di belakang garis perang.”

“Jangan membantah,” bentak Hudaya yang sudah bermata gelap. Selangkah ia maju lagi sambil berkata, “Kau tahu tentang peperangan. Aku adalah orang tertua sepeninggal Citra Gati. Kalau tidak ada Widura, maka akulah yang berhak memegang atas prajurit Pajang di sini.”

“Tetapi Paman Widura sekarang ada di sini.”

“Ia berada di dalam halaman, sedang kita berada di luar halaman banjar desa. Jangan menjawab lagi, supaya kau tidak aku cincang pula seperti orang Jipang itu.”

“Terdengar Agung Sedayu menggeram. Namun hatinya menjadi semakin keras ketika ia mendengar orang Jipang itu berbisik, “Serahkan saja. Biarlah aku dibunuhnya, supaya kau selamat.”

“Tidak,” geram Agung Sedayu. Kemudian kepada Hudaya ia berkata, “Paman Hudaya, ternyata Paman Hudaya sekarang tidak seperti Paman Hudaya yang aku kenal pertama-tama aku datang. Bahkan tidak seperti Paman Hudaya lusa. Paman Hudaya sekarang ini adalah seorang yang sama sekali berbeda.”

“Tutut mulutmu,” potong Hudaya. “Lepaskan orang itu. Biarkan ia terbaring di tanah. Aku ingin mencincangnya. Kau dengar?”

“Aku dengar,” sahut Agung Sedayu, “Tetapi aku tidak akan melakukannya.”

“He,” mata Hudaya terbelalak. Sinar obor yang lemah seakan-akan telah membakar mata, sehingga memancar kemerah-merahan. “Kau berani membantah perintahku?”

“Kau tidak berhak memberikan perintah itu.”

“Kalau tidak ada Widura, Hudaya adalah orang tertua kau dengar.”

“Aku bukan prajurit Pajang. Aku tidak terkena keharusan untuk mematuhi perintah siapapun di sini. Kalau aku patuh terhadap Paman Widura, ia adalah pamanku. Dan kalau aku menurut perintah Kakang Untara, karena ia adalah kakakku. Kau bukan pamanku dan bukan ayahku. Kau tidak berhak memberikan perintah itu. Sedangkan orang lain yang berhak memberikan perintah kepadaku adalah Kiai Gringsing, guruku. Dan perintah itu berbunyi, “Selamatkan orang ini.”

Mata Hudaya menyala mendengar jawaban Agung Sedayu. Apalagi ketika Agung Sedayu menegaskan, “Bukankah begitu Paman. Bukankah Paman sendiri tadi mengatakan bahwa aku bukan seorang prajurit.”

Terdengar gigi Hudaya gemeretak. Tiba-tiba Hudaya yang telah menjadi sangat marah itu berkata pula, “Di medan perang kekuasaan berada di tangan prajurit. Setiap orang harus tunduk pada perintah. Kaupun harus tunduk meskipun kau bukan seorang prajurit.”

Agung Sedayu benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak akan menyerahkan orang ini, tetapi ia juga tidak ingin berbenturan di antara kawan sendiri. Karena itu Agung Sedayu mencoba untuk mencari cara yang sebaik-baiknya untuk ia yakin, bahwa apabila terpaksa ia harus menarik pedangnya, ia akan dapat membiarkan Hudaya terjatuh sendiri karena kepayahan. Ia dapat membiarkan dirinya diserang tanpa membalas dengan serangan. Kemampuannya akan memungkinkan berbuat demikian sampai Hudaya berhenti sendiri karena kehabisan nafas. Apalagi orang ini telah terluka. Namun dengan demikian akan tertanam bibit kebencian dan dendam di antara sesama mereka.Tetapi terasa juga betapa hatinya meronta. Perbuatan itu adalah perbuatan anak-anak. Tetapi ia harus menemukan cara.

Ketika sekali lagi ia memandangi wajah Hudaya, terasa hatinya berdesir. Wajahnya memang wajah yang gelap dan keras sejak ia melihatnya yang pertama. Tetapi wajah itu tidak pernah tampak seliar kali ini.

Tiba-tiba kembali Agung Sedayu teringat kepada Sindati. Kekerasan dan keliaran yang menyala di wajahnya, bahkan setiap saat. Anak muda itu benar-benar anak muda yang kasar dan liar. Hudaya bukanlah orang yang demikian. Kali ini ia menjadi kasar dan liar karena sebuah kejutan perasaan yang telah menggoncangkan hatinya.

Namun dengan kenangannya atas Sidanti, Agung Sedayu menemukan suatu cara untuk menahan arus kemarahan Hudaya. Ketika ia melihat Hudaya maju selangkah, Agung Sedayu kemudian berkata, “Paman Hudaya, apakah Paman benar-benar tidak dapat mencegah diri?”

“Diam!” bentaknya. “Serahkan orang itu!”

“Apakah Paman akan mencincangnya?”

“Ya, aku akan mencincangnya.”

“Baiklah,” sahut Sedayu.

Terasa orang yang menggantung di pundaknya berdesis, perlahan-lahan ia berbisik ke telinga Agung Sedayu. “Tolong, bunuh aku dahulu. Kau dapat menusuk lambungku dengan pedangmu, supaya aku segera terbunuh sebelum aku merasakan siksaan yang mengerikan.”

“Mudah-mudahan itu tidak terjadi,” sahut Agung Sedayu.

“Apa yang kau katakan?” bertanya Hudaya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menyahut, “Orang yang bernama Supa ini bertanya, apakah orang inikah yang bernama Sidanti?”

“Setan. Apakah aku akan kau samakan dengan iblis kecil itu? Aku bernama Hudaya. Sama sekali bukan Sidanti. Apakah persamaannya antara Hudaya dan Sidanti, he? Jangan membuat aku bertambah marah.”

“Maaf Paman, ia hanya bertanya.”

“Kenapa kau yang memintakan maaf untuk orang Jipang itu?”

“Maaf Paman, maksudku, pertanyaan itu tidak terlampau salah.”

Sekali lagi mata Hudaya terbelalak. Sekali lagi ia membentak, “Kenapa? Aku bukan Sidanti, tahu!”

“Maksudku,” sahut Agung Sedayu, “Pertanyaan orang ini masuk akal. Sidanti pernah mencincang Plasa Ireng di medan perang setelah ia berhasil membunuh dengan pedangnya. Sekarang orang ini mendengar keinginan yang sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti itu. Mencincang lawannya. Namun Sidanti mencincang lawan yang telah dibunuhnya sendiri dengan pedangnya di medan perang dan orang itu pada saat hidupnya adalah senopati pengapit di sayap kiri lawan, sedang orang ini adalah seorang prajurit kecil yang tak berarti. Juga tidak terbunuh di medan perang oleh tangan Paman Hudaya sendiri.”

“Cukup!” terdengar suara Hudaya melengking memecah sepi malam, menggeletar memenuhi lapangan dan halaman banjar desa. Betapa suara itu telah mengejutkan hampir setiap orang yang berdiri di regol halaman, maupun di dalam halaman.

Namun Agung Sedayu tidak terkejut. Ia memang mengharap Hudaya marah dan berteriak. Ia mengharap orang-orang yang berada di dalam banjar akan mendengar teriakan itu. Kecuali itu Agung Sedayu masih mempunyai harapan lain. Mudah-mudahan Hudaya menyadari keadaannya.

Ternyata harapan Agung Sedayu kedua-duanya berhasil. Teriakan Hudaya itu telah didengar oleh Untara dan Widura, sehingga dengan tergesa-gesa keduanya turun ke halaman. Tetapi yang lebih penting bagi Agung Sedayu adalah ketika kemudian ia melihat Hudaya itu menundukkan wajahnya. Setelah ia melepaskan tekanan yang menghimpit dadanya dengan sebuah teriakan yang menggelegar, tiba-tiba seakan-akan dadanya menjadi jernih. Tiba-tiba ia teringat pula apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti. Alangkah mengerikan. Ia pernah mengutuk habis-habisan di dalam hatinya ketika ia melihat Sidanti membelah punggung Plasa Ireng, kemudian berdiri di atas mayatnya sambil sesumbar. Ia merasa ngeri sendiri. Alangkah buasnya anak itu. Seakan-akan ia telah kehilangan segenap kemanusiaannya. Tiba-tiba dalam kegelapan pikiran hampir-hampir saja ia melakukannya pula. Hampir-hampir saja ia mencincang orang seperti apa yang dilakukan oleh Sidanti itu.

Terasa suatu desir yang tajam menggores jantung Hudaya. Hatinyapun menjadi pedih karenanya, melampaui pedihnya lukanya yang ditimbulkan oleh senjata Sanakeling.

Supa, orang Jipang yang menggantung di pundak Agung Sedayu melihat pula perubahan sikap Hudaya. Bahkan ia melihat Hudaya itu kemudian melangkah mundur. Tetapi Supa itu sama sekali tidak tahu apakah yang bergolak di dalam hati Hudaya.

Ketika Untara dan Widura hadir di tempat itu, Hudaya telah mundur beberapa langkah lagi. Bahkan ia kini telah berdiri di antara para penjaga yang merubungnya.

“Siapakah yang berteriak?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Apabila ia menyebut nama Hudaya, apakah hati orang itu tidak tersinggung kerenanya? Namun ternyata Hudaya tidak mengingkari keadaannya. Maka katanya, “Aku yang berteriak.”

“Kenapa?” bertanya Widura.

Hudaya menarik nafas. Kemudian jawabnya, “Hampir aku khilaf. Aku akan membunuh orang Jipang yang datang bersama Angger Agung Sedayu. Untunglah Angger Agung Sedayu tidak memberikannya.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu sendiri ternyata segera dapat diatasi. Tetapi bagaimana dengan janji Untara yang pernah diucapkan pada saat Tohpati meninggal. Untara, atas nama Panglima Wira Tamtama menjanjikan pengampunan bagi mereka yang menyerah. Tanggapan itu sama sekali kurang menyenangkan bagi prajurit. Seperti sikap Hudaya itu adalah suatu gambaran perasaan para prajurit Pajang. Amatlah sulit untuk melenyapkan permusuhan dalam waktu yang pendek. Apalagi pada saat-saat terakhir, korban telah berjatuhan dari kedua belah pihak, sehingga peristiwa itu seakan-akan telah membakar dendam di hati mereka.

Ternyata bukan saja Widura yang menjadi berdebar-debar karenanya. Jawaban Hudaya langsung menyentuh hati Untara pula. Hudaya adalah seorang yang telah cukup mengendap. Seorang yang memiliki pandangan yang cukup luas dan jauh. Tetapi menghadapi orang-orang Jipang dadanya seakan-akan meluap. Apalagi orang-orang lain.

Meskipun demikian Untara masih tetap dalam pendiriannya. Pendirian itu adalah pendirian Panglima Wira Tamtama. Karena itu ia mengharap bahwa ia akan dapat memenuhinya. Namun haruslah diketemukan cara yang sebaik-baiknya, sehingga tidak terjadi peristiwa yang tidak dikehendaki. Orang-orang yang sesat itu datang kembali, namun kawan-kawan sendiri menjadi sakit hati karenanya. Apalagi ada di antara mereka yang hatinya menjadi patah dan kehilangan gairah perjuangan.

Selagi Widura dan Untara masih berdiam diri karena angan-angan mereka, terdengar Hudaya berkata, “Maafkan aku Kakang Widura. Mudah-mudahan aku untuk seterusnya dapat mengekang diri sendiri.”

Widura mengangguk. Jawabnya, “Kau ternyata sedang mengalami goncangan perasaan Hudaya. Beristirahatlah. Mudah-mudahan kau akan mendapat ketentraman hati. Juga agar lukamu tidak menjadi semakin parah karenanya.”

Hudaya mengangguk dalam-dalam. Kemudian sambil melangkah surut ia menjawab, “Baiklah. Mudah-mudahan lukaku segera dapat sembuh. Tetapi sejak tadi aku belum melihat Ki Tanu Metir yang biasanya dapat mengobati luka-luka dengan baik.”

“Ia akan segera kembali, Paman.” sahut Untara.

Hudaya tidak menjawab. Sejenak kemudian ia telah menghilang di antara beberapa penjaga yang berdiri berjejalan dengan beberapa orang prajurit dan anak-anak Sangkal Putung yang ingin melihat peristiwa itu.

Hudaya yang kemudian masuk ke dalam halaman banjar desa langsung pergi ke gandok kanan. Di antara beberapa orang yang terluka ia membaringkan dirinya. Namun angan-angannya terbang jauh menelusuri awan di langit yang tinggi. Beberapa perasaan hilir mudik di kepalanya. Sekali ia bersyukur bahwa ia telah dibebaskan dari suatu perbuatan yang buas dan liar. Namun sekali-sekali timbulah sesalnya. Kenapa orang Jipang tadi tidak saja ditikamnya sampai mati tanpa minta ijin lebih dahulu dari Agung Sedayu. Kenapa ia tidak berusaha melepaskan dendamnya atas kematian orang-orang Pajang, bahkan sahabatnya terdekat Citra Gati? Apakah orang-orang Jipang itu juga mengenal cara yang serupa atas orang-orang Pajang yang terluka? Tidak. Orang-orang Pajang yang terluka tidak pernah mengalami perawatan apapun. Apalagi perawatan, bahkan mereka sama sekali tidak dipedulikannya. Apalagi ada kesempatan, orang Jipang pasti akan berebut tidak untuk menolongnya, tetapi untuk mencincangnya.

Namun setiap kali, ia sadar atas kekhilafannya. Setiap kali ia teringat kepada Sidanti, setiap kali ia berterima kasih kepada Agung Sedayu.

Sepeninggal Hudaya, sejenak di luar regol halaman banjar desa itu menjadi senyap. Masing-masing mencoba melihat keadaan menurut pengamatan masing-masing. Beberapa orang prajurit benar-benar menyesal, kenapa mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta mencincang orang Jipang itu. Namun beberapa orang lain menyadari keadaan mereka yang sesaat tumbuh di dalam dada Hudaya.

Sejenak kemudian terdengarlah Untara bertanya, “Siapa orang yang kau bawa itu Sedayu?”

“Supa, orang Jipang,” sahut Agung Sedayu.

“Kenapa orang itu kau bawa kemari?” bertanya Untara pula.

Agung Sedayu heran mendengar pertanyaan kakaknya. Tetapi ia menjawab pula, “Aku menemukannya terluka di dalam hutan ketika aku sedang mencoba mencari jejak Paman Sumangkar.”

Untara mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “Kau tidak menjalankan perintahku. Kau harus mengikuti jejak Paman Sumangkar sampai kau menemukan tempat orang-orang Jipang berkemah. Sekarang kau kembali membawa orang yang terluka itu. Bukankah dengan demikian berarti kau melanggar perintahku?”

***

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 6 September 2008 at 19:03  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. he eh, terusane ndi mas DD

  2. Pro : mas Anggoro Hoediyanto Yth,
    di blognya mas rizal anda pernah komunikasi dgn mas doellah
    yang katanya udah scan jilid 1 -100 (seri I).
    apa anda dah jadi minta bahan ke beliau?
    kalaw dah ada scan an jilid 1-100, kan tinggal bagi ke qta2.
    biar cepet postingannya.
    gmn mas? mau bagi2 bahan mentah ke saya?
    atau bisa merekomendasikan sy ke mas Doellah?

  3. Just curious Bung DD,
    Memangnya selama ini sampai akhir jilid 13 bahannya diperoleh dari mana?
    Saya kira selama ini bahan disuplai oleh bung Doellah.
    Menurut saya ini penting untuk meluruskan ‘sejarah’ ADBM online ini. Kalau bahan diperoleh dari jasa scan relawan yang lain, sangatlah perlu untuk disebutkan nama2nya sekedar sbg penghargaan atas usahanya, karena pekerjaan menyecan sama pentingnya dengan pekerjaan menyunting.
    Kalau penyuplai hasil scan bung Doellah, patutlah namanya disejajarkan dengan nama bung Rizal (dicantumkan di halaman pengantar). Saya yakin dengan demikian beliau akan dengan lapang hati menyumbangkan hasil scannya, bukan hanya halaman per halaman, atau jilid per jilid akan tetapi keseluruhan 100 jilid. Sayapun sejak awal telah menyanggupi untuk membantu mentransfer jpg-doc (bukan mengedit) berapapun besarnya file.
    Saya menunggu respons bung Doellah melalui media ini. Kalau tidak, mudah2an saya dpt menghubunginya melalui japri.
    Salam, GI.

    DD: Saya akan minta ijin ybs kalau boleh saya publish namanya. Buat saya yang penting lancar, meskipun sehalaman demi sehalaman, sejilid demi sejilid.

  4. Pro: OREL Yth,

    Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah komunikasi dengan mas Doelah soal bantu retype or ngeproof, tapi karena 1 & lain hal, bahan yang dikirim ke saya belum sempat saya kirim balik & melihat perkembangan yang ada saat ini, bagian saya itu sudah jadi jauh tertinggal.

  5. sorry baru gabung
    dimana saya bisa dapat pdf adbm ya ?
    jilid berapa aja ?
    lalu ada yg bisa saya bantu untuk mem pdf kan jilid yang belum ?

  6. Pro para cantrik ADBM…
    tolong dong kasih tau caranya donlot step by stepnya…
    saya udah coba kok gagal terus?…

    Salam ADBM

  7. Muantap,
    dialog Kiai Gringsing vs Ki Tambak Wedi
    dan Ki Sumangkar vs Sanakeling.

    • lebih Muantap lagi,
      dialog Ki Senopati vs Nyi Senopati ADBM
      dan pedang2an Ki GunduL vs Ni Pandan Wangi

      • carane donlot pripun to ki gund ?
        (arep donlot nyaine aaaah …)

        • gampang kemawon kok ki….yang terlihat merah panjenengan
          SEdot kemawon…!!??

          mugi2 mboten kleru leh nyedot Ki…..mangga-mangga !!??

          • SEKAR MIRAH

            Se = sak
            Kar = lapangan/alun2
            Mirah = abang

            pada karo :
            sak lapangan abang kabeh.
            (weh.kok.kaya kampanye partai)

            • gring=lara
              sing=?

              • Sing=pusing
                Gringsing berarti…lara mumet 😀

              • bisa juga :

                Sing=***sing
                Gringsing berarti…lara weteng 😀 😀 😀

              • swandaru,

                swan : kaos dalam
                daru : bengi

                pada karo :
                copot kaos wektu bengi ato OTE-OTE…..hikss

  8. Iki kok pada mbalik lagi di gandok-gandok awal to?

    • ..mengenang masa lalu…..

      • ..semasa P Satpam belum jadi……maptas ! 😀

    • Lha dho seneng plorotan , njur dho sami kungkum asyiikkkk

      • rancak bana huhuuu

        • rancak = podho seneng

          bana = mbak Ana

          dadi , dho seneng nginthil mbak Ana

          • wah ki mangku ki jan lantip saestu

            • Cantrik adbm he..he..he…

              • adbm gituh

                • Lha maha guru alias dhosenne ajejuluk ki Ajar Gembleh .mesthi kemawon poro cantrike sami lantip lan prigel ing samubarangkawis .

                  • terang terwoco ki mangku, kyai dosen ajar resi pandita panembahan tumenggung gembleh pol

  9. Kirang setunggal gelaripun njih meniko Kanjeng Gusti Adipati …………….ingkang jumeneng wonten Kadhipaten Karang Talun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: