Buku 13

Dalam pada itu, Sumangkar ternyata jauh lebih mengendap dari Sanakeling. Mencoba membuat pemecahan sementara atas persoalan yang dihadapinya. Karena ia tidak sampai hati melihat benturan di antara mereka yang selama ini telah bersama-sama hidup dalam satu lingkungan, maka katanya, “Angger Sanakeling. Kalau pendirian kita sudah tidak dapat bertemu, maka baiklah kita memilih jalan kita masing-masing. Dengan demikian, kita akan menghindari pertumpahan darah di antara kita. Seterusnya, biarlah kita serahkan pada perkembangan keadaan.

Sanakeling menggeram mendengar kata-kata Sumangkar itu. Ia mengerti benar maksudnya. Meskipun dengan demikian ia tidak harus bertempur melawan orang tua itu; namun hatinya sakit bukan kepalang. Sebenarnya ia ingin menangkap Sumangkar; menyumbat mulutnya dengan tangkai pedang; dan memukul kepalanya dengan tongkatnya itu sendiri. Tetapi ia menyadarinya; bahwa hal itu tak akan dapat dilakukannya. Apalagi setelah setan tua yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang menurut pengamatan Sanakeling, sikap dan tanggapan Ki Tambak Wedi dan Sumangkar telah meyakinkannya tentang orang itu, hadir pula di tempat itu.

Karena itu, sesaat Sanakeling menjadi ragu-ragu. Ki Tambak Wedi pun tidak berkata sesuatu. Hantu Lereng Merapi itupun sedang sibuk mempertimbangkan keadaan. Namun kehadiran Kiai Gringsing benar-benar telah merusak rencananya.

Maka satu-satunya kemungkinan yang saat itu paling baik adalah menerima tawaran Sumangkar. Meskipun hal itu berarti kekuatan orang-orang Jipang itu kira-kira tinggal separo, namun yang separo itu masih tetap utuh. Kalau mereka bertempur pada saat itu, maka yang separo itupun telah jauh berkurang lagi.

Sanakeling yang saat itu merasa memegang pimpinan atas orang-orang Jipang itu segera berkata lantang memecah kesenyapan. “He orang-orang Jipang yang setia. Kali ini aku terpaksa tidak dapat menangkap dan mernbunuh pengkhianat ini. Aku akan memberinya waktu beberapa minggu. Kalau ia beserta beberapa pengikutnya tidak segera menyadari keadaannya, maka dosanya akan kami persamakam dengan orang-orang Pajang. Setiap kali kita bertemu, di mana dan kapan saja, maka mereka pasti akan kami penggal kepala mereka itu.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa di samping dendam yang telah ada, maka Sanakeling pasti akan menyebarkan bibit-bibit dendam yang baru. Dan bibit-bibit yang demikian itu pasti akan cepat tumbuh dan berkembang. Jauh lebih cepat dari setiap bibit kebaikan dan kebajikan. Seperta bibit alang-alang, maka bibit dendam itu segera menjadi rimbun, sedang bibit kebajikan akan tumbuh dan berkembang sangat lambat seperti pohon anggrek. Namun apabila keduanya kelak berbunga, maka alangkah indahnya bunga anggrek itu dan alangkah tidak berharga bunga rumput alang-alang. Setiap orang akan menghindarinya dan apabila tak ada jalan lain, maka bunga rumput alang-alang akan terinjak-injak kaki.

Tetapi ia tidak mencegah saat itu. Kalau ia mempergunakan kekerasan maka korbannya akan terlampau banyak. Ia mengharap bahwa orang-orang yang berpihak kepada Sanakeling pun kelak akan menyadari dirinya, dan datang kepadanya dengan penyesalan dan kesadaran.

Demikianlah Sumangkar kemudian melihat Sanakeling melangkah dan membungkuk mengambil pedangnya. Sesaat kemudian dipandanginya para pemimpin Jipang yang lain. Sesaat mereka menjadi ragu-ragu, namun kemudian terdengar Sanakeling berkata kepada mereka, “Akulah kini pemimpinmu. Siapa yang setia pada sumpahnya sebagai seorang prajurit, ikutlah aku. Aku perintahkan kepadamu sekalian, ikuti aku dan para prajurit yang sadar akan harga dirinya.”

Sumangkar sama sekali tidak memotong kata-kata Sanakeling. Dibiarkannya para pemimpin itu memilih pihak. Namun sesaat mereka masih tetap berdiri di tempat mereka masing-masing.

Sanakeling menggeretakkan giginya melihat keragu-raguan itu. Dengan kerasnya ia berteriak, “Ikuti aku!”

Tiba-tiba dari antara para pemimpin itu terdengar Alap-alap Jalatunda bertanya, “Ke mana?”

Sanakeling terdiam sesaat. Ia menjadi bingung ke mana? Ya, kemana ia akan pergi? Tetapi menurut perhitungannya, memang seharusnya mereka meninggalkan tempat itu. Tempat itu telah diketahui oleh Kiai Gringsing yang nyata-nyata memihak kepada Pajang bahkan utusan senapati muda yang bernama Untara. Tampat itu telah dikenal baik-baik segala sudut-sudutnya oleh Sumangkar yang menurut penilaian Sanakeling telah berkhianat. Tetapi ke mana?

Dalam kebimbangan itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata dengan suara parau penuh kebencian. “Mari Ngger. Kita pergi bersama-sama. Padepokan Tambak Wedi akan cukup luas menampung kalian. Jangan cemas, bahwa kekuatan kalian benkurang. Kekuatan kalian segera akan pulih kembali setelah Tambak Wedi dan Sidanti berbuat sesuatu.”

Kata-kata Tambak Wedi yang diucapkan pada saat Sanakeling sedang diliputi oleh kebimbangan itu, merupakan satu-satunya kemungkinan baginya. Karena itu tanpa berpikir panjang segera ia menyahut, “Baik. Aku akan pergi bersama Kiai.” kemudian kepada para pemimpin Jipang ia berkata, “Tinggallah bersama pengkhianat ini siapa yang akan berkhianat.”

Sanakeling itu kemudian tidak berkata sepatah katapun lagi. Segera ia melampui tlundak pintu dan berjalan ke arah Ki Tambak Wedi di antara kedua laskarnya yang terbelah. Dengan langkah yang tetap ia berjalan seperti seorang senapati yang berangkat ke medan perang.

Ki Tambak Wedi pun kemudian berjalan pula di samping Sanakeling itu. Sekali-sekali ia berpaling melihat orang-orang yang akan pergi mengikutinya.

Sesaat para prajurit itu tidak ada yang bergerak dari tempatnya. Masing-masing dicengkam oleh perasaan yang sangat aneh. Tiba-tiba terasa betapa beratnya berpisah di antara mereka setelah bertahun-tahun mereka berada dalam satu lingkungan, dan setelah sekian lama mereka mengalami nasib yang bersama pula. Ketika mereka meninggalkan Jipang, masuk ke dalam hutan belukar dan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, bertempur, merampok, dan bahkan berbuat seribu macam kejahatan, mereka seolah-olah merasa bahwa tak akan ada kekuatan satupun yang memisahkan mereka kecuali maut. Namun perpisahan itu kini terjadi. Pendirian mereka ternyata pecah di jalan.

Yang pertama-tama bergerak adalah Alap-alap Jalatunda. Betapa keragu-raguan mencengkam dadanya, namun ia tidak dapat datang ke Sangkal Putung dan menyerahkan dirinya kepada Agung Sedayu.

Meskipun secara pribadi ia belum pernah mengenal anak muda itu, tetapi pertemuannya yang pertama di Macanan di sekitar tikungan Randu Alas dan kemudian dalam pertempuran di sebelah barat Sangkal Putung, telah membentuk dendam yang dalam di dalam hati Alap-alap yang masih muda, semuda Agung Sedayu itu sendiri. Kekeliruannya menilai Agung Sedayu telah rmembakar dadanya, sehingga seakan-akan ia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa pada suatu ketika ia harus menemukan kekuatan yang akan dapat melampaui kekuatan Agung Sedayu.

Tetapi kepada sidanti, Alap-alap Jalatunda pun sama sekali tidak menaruh hormat. Bahkan betapa kebencian menyala di dalam dadanya, sejak ia mendengar cara Sidanti membunuh Plasa Ireng. Bagaimanapun juga, terasa kebuasan Sidanti atas Plasa Ireng saat itu seolah-olah telah menggores kulitnya sendiri. Kini ia harus datang kepada anak muda yang telah dengan kejamnya membunuh salah seorang kepercayaan prajurit Jipang.

Tetapi ia tidak punya pilihan lain. Kedua-duanya tidak menyenangkan. Kedua-duanya bagi Alap-alap Jalatunda mempunyai keberatannya masing-masing. Tetapi Sidanti masih lebih asing lagi baginya. Karena itu, maka dipilihnya berpihak kepada Sanakeling yang akan membawanya ke padepokan Tambak Wedi. Menurut tangkapan perasaannya, di sana para prajurit Jipang ini akan bergabung dengan orang-orang Ki Tambak Wedi, atau semacam laskar yang akan dibentuknya. Tetapi apabila kedua pasukan itu kemudian digabungkan, siapakah pemimpin tertinggi dari pasukan itu? Sanakeling atau Sidanti?

Menurut penilaian Alap-alap Jalatunda, Sidanti dan Sanakeling memiliki kekuatan yang seimbang. Keduanya setingkat di bawah Macan Kepatihan dan hanya sedikit sekali di atas Plasa Ireng. Namun di dalam lingkungan yang baru itu kemudian ada Ki Tambak Wedi yang langsung turut campur ke dalam lingkungan kelaskaran. Bukan sekedar seorang juru masak seperti Sumangkar.

Demikianlah, dalam keragu-raguan itu Alap-alap Jalatunda berjalan terus. Namun langkahnya tidak setetap Sanakeling. Sekali-sekali Alap-alap Jalatunda itu menundukkan wajahnya, dan sekali-sekali terbayang masa-masa yang pernah dialaminya, selama ia menjadi prajurit Jipang. Belum lama ia diterima sebagai wira tamtama khusus dari Jipang. Tiba-tiba Jipang pecah, dan ia harus ikut serta bersama pasukannya menghilang dari kota, masuk-keluar hutan dan desa-desa, turun-naik jurang dan lereng-lereng pegunungan. Kini ia akan terdampar ke lereng Gunung Merapi, ke padepokan Ki Tambak Wedi yang masih asing baginya. Bekerja bersama dengan seorang anak muda yang bernama Sidanti.

”Hem,” Alap-alap Jalatunda menarik nafas.

Namun ketika orang-orang yang masih berdiri termangu-mangu melihat Alap-alap itu berjalan mengikuti Sanakeling maka mereka yang sejak semula berketetapan hati untuk tetap dalam petualangan sambil berbangga diri sekedar karena mereka mempertahankan harga diri menurut penilaian yang sempit, segera mengikutinya. Beberapa orang pemimpin segera berloncatan sambil berpaling, memandang dengan penuh kebencian kepada kawan-kawan mereka yang masih tegak di tempatnya. Para prajurit pun segera melangkah pula di belakang pemimpin-pemimpin mereka. Beberapa orang prajurit yang mempunyai simpanan-simpanan berharga di dalam kemah-kemah mereka, segera berloncatan singgah kedalam kemah, mengambil yang mereka rasa perlu untuk dibawa. Tetapi sebagian dari mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan beberapa lembar kain yang tertinggal di dalam kemah-kemah mereka, asal senjata-senjata mereka telah di tangan.

Lembaran-lembaran kain dan baju akan mereka dapatkan di sepanjang jalan yang akan mereka Ialui. Setiap rumah pasti akan membuka pintu lebar-lebar bagi mereka. Setiap rumah akan menyediakan apa yang mereka perlukan. Makan, minum bahkan pakaian.

Tetapi apa yang mereka sediakan itu sama sekali bukan karena mereka pendukung-pendukung yang setia dari orang-orang Jipang itu, bukan mereka serahkan dengan ikhlas. namun karena di hadapan hidung mereka berkilat-kilat ujung-ujung pedang dan tombak.

Tetapi bagi orang-orang yang sedang berpetualang itu, sama sekali tak ada bedanya. Apakah semunya itu diserahkan dengan ikhlas, atau tidak, namun apa yang mereka terima akan dapat mereka pergunakan sebaik-baiknya.

Maka sesaat kemudian, orang-orang Jipang itu seolah-olah mengalir meninggalkan halaman yang kotor dari gubug pimpinan perkemahan itu. Semakin lama semakin panjang. Di ujung barisan berjalan Sanakeling dan Ki Tambak Wedi seperti sepasang pahlawan yang sedang diarak menuju ke medan perang. Kemudian di belakangnya berjalan Alap-alap Jalatunda yang dikejar-kejar oleh kebimbangan. Kemudian beberapa pemimpin yang lain dan para prajurit yang merasa dirinya seolah-olah pejuang-pejuang yang segan berkhianat atas perjuangannya. Tetapi mereka sama sekali tidak berpijak pada dunia kenyataan yang sedang mereka hadapi serta perkembangan keadaan di sekitar tempat mereka bersembunyi.

Akhirnya orang-orang Jipang itu semakin lama menjadi semakin sedikit. Separo dari mereka telah meninggalkan mereka di tengah-tengah hutan yang gelap pekat. Yang tampak kemudian hanyalah sinar-sinar obor di kejauhan di antara kepadatan pohon-pohon raksasa dan gerumbul-gerumbul perdu.

Ketika obor-obor itu telah hilang di balik dedaunan, serta debar jantung setiap orang yang tinggal di tempat itu telah merada, maka berkatalah Sumangkar kepada orang-orang Jipang yang masih tinggal, “Tenangkan hati kalian. Aku dapat merasakan, peristiwa merupakan suatu goncangan yang dahsyat di dalam setiap dada kalian masing-masing. Baik yang pergi maupun yang ditinggalkan. Tetapi penalaian kita jelas telah bersimpangan. Karen itu adalah baik kita berpisah jalan daripada kemudian kita akan menemui kesulitan-kesulitan yang terus-menerus.”

Sumangkar terdiam sesaat. Ketika diawasinya setiap wajah para pemimpin yang masih tinggal, Sumangkar masih melihat keragu-raguan membayang di wajah-wajah mereka.

Tetapi keragu-raguan di dalam setiap dada para pemimpin Jipang itu adalah wajar. Baru saja mereka terlibat dalam perang gelar yang dahsyat, dengan korban yang cukup banyak di kedua belah pihak. Apakah mereka akan segera dapat menghilangkan segala kesan dari permusuhan mereka itu? Apakah benar orang-orang Pajang tidak mendedamnya dan kemudian mengikat mereka di belakang kereta yang dipacu secepat angin? Benarkah mereka akan dihadapkan pada suatu penilaian yang tidak dipengaruhi oleh demdam dan benci?

Dalam pada itu terdengar Sumangkar berkata, “Marilah kita mencoba menenteramkan hati kita. Marilah kita tidak berprasangka. Aku mendengar berita pengampunan itu dari Angger Untara sendiri pada saat Angger Macan Kepatihan menghembuskan nafas terakhir. Aku harap Kiai Gringsing menjadi saksi atas kata-kata yang keluar dari mulut senapati Pajang yang dipercaya oleh Ki Gede Pemanahan, yang justru pesan itu datang dari ki Gede Pemanahan sendiri.”

Namun Sumangkar masih melihat wajah-wajah yang penuh kebimbangan. Bagaimanapun juga mereka adalah prajurit-prajurit yang senjata-senjata mereka telah pernah dibasahi oleh darah orang-orang Pajang. Bagaimanapun juga hati mereka sendiri selalu berkata kepada mereka, bahwa permusuhan itu pernah terjadi dengan dahsyatnya.

Sumangkar yang merasa tidak segera dapat memberi keyakinan yang pasti kepada para pemimpin Jipang itu kemudian berkata, “Malam ini aku akan pergi ke Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing untuk mendapatkan jaminan, bahwa segala sesuatu akan berlangsung dengan baik.”

Para pemimpin Jipang dan pada prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka sependapat dengan Sumangkar bahwa salah seorang dari mereka harus menemukan jalan yang datar sebelum semuanya berlangsung, supaya mereka tidak menyesal kelak apabila ada persoalan-persoalan yang tumbuh tanpa mereka kehendaki.

“Apakah kalian sependapat?” bertanya Sumangkar.

“Baik Kiai,” sahut salah seorang dari mereka. “Kami sependapat, bahwa Kiai akan mencari jalan yang sebaik-baiknya bagi kami semuanya. Kami percaya kepada Kiai.”

“Terima kasih,” berkata Sumangkar dengan dada berdebar-debar. la terharu bahwa dalam saat yang pendek ia berhasil mendapatkan kepercayaan dari orang-orang Jipang itu. Selama ini sebagian besar dari mereka mengenal Sumangkar tidak lebih dari seorang juru masak yang tua yang hampir-hampir tidak mampu lagi melakukan tugasnya, bahkan ada yang menyangkanya sebagai seorang juru masak yang malas.

Namun sebelum Sumangkar itu berangkat meninggalkan perkemahan itu, maka ia berpesan, “Tetapi meskipun kalian mengharap bahwa kalian akan meninggalkan petualangan yang dipenuhi dengan noda-noda darah dan air mata di antara rakyat yang tidak berdosa, namun kalian masih berhak untuk mempertahankan diri kalian dalam saat-saat yang pendek ini. Kalian masih akan menghadapi kemungkinan yang tidak kalian duga-duga. Sepeninggalku jangan lengah. Isilah setiap gardu-gardu peronda. Kalian harus mampu menyelamatkan diri menghadapi setiap bahaya. Apabila bahaya itu sangat besar dan jauh dari kemampuan daya tahan kalian, maka kalian dapat menyelamatkan diri kalian di antara gelapnya malam. Aku pasti sudah kembali sebelum fajar.”

Para pemimpin Jipang yang tinggal itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka merasa bahwa malam ini justru bahaya dapat datang dari setiap penjuru. Apabila Untara ingkar janji, apalagi bahwa pernyataannya itu hanya sekedar pancingan saja, maka malam itu juga, selambat-lambatnya besok pagi-pagi, mereka pasti akan dilanda oleh arus yang dahsyat dari laskar Pajang. Untara pasti tidak akan menunggu mereka datang menyerahkan diri, supaya ia mendapat alasan untuk berbuat menurut seleranya. Tak ada seorangpun yang akan mencoba mencari jawab, atas sebab-sebab dari kematian seseorang yang sedang berperang. Orang-orang Pajang dapat membunuh lawannya seperti menebas hutan alang-alang. Tetapi apabila orang-orang Jipang itu datang menyerah, maka persoalannya akan berbeda. Tanpa janji pengampunanpun, maka perlakuan atas orang-orang yang sudah menyerah akan berbeda dari mereka yang ditemukan dalam medan, selagi pedang masih terhunus dan tali busur masih merentang.

Sedang dari sisi lain, mereka masih harus memperhatikan kemarahan Sanakeling atas mereka. Sanakeling adalah seorang prajurit yang seakan-akan tidak bekerja dengan otaknya. Ia kurang mampu berpikir dan memperhitungkan masalah-masalah di luar masalah-masalah keprajuritan. Itulah sebabnya ia tidak dapat diajak untuk berbicara dalam masalah-masalah yang lain. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuh. Penyelesaian yang tidak usah mempergunakan tajam senjata. Persoalan manusia dan kemanusiaan. Ia tidak dapat mendengar tangis seorang isteri yang kehilangan suaminya di medan peperangan. Baginya adalah hina bagi seorang prajurit yang tertegun hanya karena tangis seorang bayi yang terlepas dari pelukan ibunya yang ketakutan mendengar dentang senjata beradu.

Tetapi para prajurit Jipang yang tinggal itu percaya kepada Sumangkar. Percaya kepada harapan yang dijanjikan. Karena itu, maka mereka akan melakukan segala perintahnya.

Sebelum Sumangkar itu meninggalkan mereka, maka ia masih memerlukan berpesan kepada orang-orang Jipang itu, “Peliharalah jenazah Angger Tohpati sebaik-baiknya. Besok apabila aku telah kembali di antara kalian, maka akan kita selenggarakan pemakamannya.”

“Baik Kiai,” jawab salah seorang dari mereka.

“Terima kasih,” sekali lagi Sumangkar menjadi terharu.

Apabila kemudian malam bertambah malam, maka Sumangkar dan Kiai Gringsing berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan perkemahan itu menuju ke Sangkal Putung. Mereka mengharap bahwa mereka akan segera menemukn cara yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah orang-orang Jipang yang ingin meninggalkan cara bidup yang selama ini ditempuhnya.

Pada saat-saat orang-orang Jipang disibukkan oleh pertentangan pendirian, maka pada saat itu orang-orang Pajang disibukkan oleh mereka yang terluka di medan pertempuran. Orang yang terluka itu baik kawan maupun lawan, telah diangkut ke Banjar Desa Sangkal Putung. Pengawasan atas orang-orang yang luka itu dilakukan oleh Untara dan Widura sendiri. Mereka melihat wajah-wajah yang dendam pada anak buah mereka sendiri. Mereka yang kehilangan saudaranya, yang berada bersama-sama dalam lingkungan keprajuritan Pajang, dan mereka yang merasa, betapa korban berjatuhan di -kalangan sendiri.

Orang-orang yang demikian kadang-kadang serimg kehilangan kesabaran dan pengamatan diri, sehingga terhadap lawan yang terluka, maka mereka akan dapat melakukan hal-hal di luar dugaan para pemimpin laskar Pajang.

Bahkan Hudaya, orang yang sudah cukup mengendap itupun seakan-akan telah kehilangan kesadaran diri, menghadapi orang-orang Jipang. Karena itu, dengan bijaksana Untara telah membawa orang-orang yang demikin itu dahulu ke Sangkal Putung untuk beristirahat. Tewasnya Citra Gati telah membuat suatu goncangan yang dahsyat di dalam hati sahabatnya itu, sehingga dendam di dalam hatinya seakan-akan menyala membakar seluruh nadinya. Bagi Hudaja yang terluka dan kehilangan sahabat yang paling dekat itu, tidak ada angan-angan lain di dalam benaknya kecuali membinasakan semua orang Jipang.

karena itulah maka kali ini Untara dan Widura menjadi sangat prihatin melihat suasana di dalam pasukannya. Pada pertempuran-pertempuran yang lalu, korbn di pihaknya tidak terlampau berat seperti apa yang baru saja terjadi, sehingga hati anak buahnya tidak sepanas pada saat itu. Pertempuran gelar yang sempurna dan tata peperangan yang masing-masing dikendalikan oleh senapati-senapati yang matang, telah menjadikan pertempuran kali ini menjadi suatu pertempuran yang tak akan pernah mereka lupakan. Baik oleh orang-orang Jipang, maupun orang-orang Pajang.

Untara dan Widura sendirilah yang kemudian menunggui orang-orang yang terluka di banjar desa. Di satu gandok tampak orang-orang Pajang terbaring dengan darah yang memerahi tubuh dan pakaian mereka, sedang di gandok yang lain terbaring orang-orang Jipang yang masin mungkin ditolong hidupnya, merintih menahan pedih yang membakar dirinya.

Namun terhadap para juru penolong, Untara dan Widura tidak dapat berbuat banyak. Betapa mereka bekerja demi perikemanusiaan. Namun menghadapi pihak-pihak yang terluka itu, mereka lebih dahulu memerlukan menolong kawan mereka sendiri, orang-orang Pajang. Baru kemudian mereka menjamah tubuh-tubuh yang terbaring sambil menahan pedih dari pihak lawan. Orang-orang Jipang.

Beberapa prajurit yang bertugas berjaga-jaga di halaman pendapa memandangi orang-orang Jipang itu dengan benci. Bahkan ada di antara mereka yang tidak dapat mengerti, buat apa mereka mencoba mengobati luka-luka orang-orang Jipang itu? Mungkin salah seorang dari mereka, atau bahkan mungkin semuanya dari mereka itu, telah membunuh atau melukai orang-orang Pajang. Mungkin mereka itu pulalah yang telah menembus tubuh-tubuh orang Pajang yang kini terbaring di sisi yang lain itu, dengan senjata-senjata mereka.

Tetapi pemimpin mereka, beserta beberapa orang yang masih dapat menguasai perasaan mereka, di antara orang-orang Pajang dan orang-orang Sangkal Putung, masih mencoba berbuat dalam batas-batas perikemanusiaan. Perang itu sendiri, sebagai suatu cara terakhir untuk menyelesaikan perbedaan pendirian, tidak boleh terperosok dalam perbuatan-perbuatan yang menodai perikemanusiaan dalam kemungkinan yang sejauh-jauhnya dapat dilakukan. Bahkan apabila mungkin perang itu sendiri harus dihindarkan. Sebab betapa orang yang berhati bening mencoba berbuat sebaik-baiknya di dalam perang, namun perang sendiri hampir sama artinya dengan maut, kekerasan dan kebencian serta menaburkan benih dendam di mana-mana.

Ketika mereka, orang-orang Pajang itu sedang sibuk di pendapa banjar desa, maka para penjaga dikejutkan oleh sebuah bayangan yang berjalan tertatih-tatih mendekati halaman. Para penjaga diregol halaman yang melihat bayangan itu segera menyapanya, “He, siapa?”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 6 September 2008 at 19:03  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. he eh, terusane ndi mas DD

  2. Pro : mas Anggoro Hoediyanto Yth,
    di blognya mas rizal anda pernah komunikasi dgn mas doellah
    yang katanya udah scan jilid 1 -100 (seri I).
    apa anda dah jadi minta bahan ke beliau?
    kalaw dah ada scan an jilid 1-100, kan tinggal bagi ke qta2.
    biar cepet postingannya.
    gmn mas? mau bagi2 bahan mentah ke saya?
    atau bisa merekomendasikan sy ke mas Doellah?

  3. Just curious Bung DD,
    Memangnya selama ini sampai akhir jilid 13 bahannya diperoleh dari mana?
    Saya kira selama ini bahan disuplai oleh bung Doellah.
    Menurut saya ini penting untuk meluruskan ‘sejarah’ ADBM online ini. Kalau bahan diperoleh dari jasa scan relawan yang lain, sangatlah perlu untuk disebutkan nama2nya sekedar sbg penghargaan atas usahanya, karena pekerjaan menyecan sama pentingnya dengan pekerjaan menyunting.
    Kalau penyuplai hasil scan bung Doellah, patutlah namanya disejajarkan dengan nama bung Rizal (dicantumkan di halaman pengantar). Saya yakin dengan demikian beliau akan dengan lapang hati menyumbangkan hasil scannya, bukan hanya halaman per halaman, atau jilid per jilid akan tetapi keseluruhan 100 jilid. Sayapun sejak awal telah menyanggupi untuk membantu mentransfer jpg-doc (bukan mengedit) berapapun besarnya file.
    Saya menunggu respons bung Doellah melalui media ini. Kalau tidak, mudah2an saya dpt menghubunginya melalui japri.
    Salam, GI.

    DD: Saya akan minta ijin ybs kalau boleh saya publish namanya. Buat saya yang penting lancar, meskipun sehalaman demi sehalaman, sejilid demi sejilid.

  4. Pro: OREL Yth,

    Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah komunikasi dengan mas Doelah soal bantu retype or ngeproof, tapi karena 1 & lain hal, bahan yang dikirim ke saya belum sempat saya kirim balik & melihat perkembangan yang ada saat ini, bagian saya itu sudah jadi jauh tertinggal.

  5. sorry baru gabung
    dimana saya bisa dapat pdf adbm ya ?
    jilid berapa aja ?
    lalu ada yg bisa saya bantu untuk mem pdf kan jilid yang belum ?

  6. Pro para cantrik ADBM…
    tolong dong kasih tau caranya donlot step by stepnya…
    saya udah coba kok gagal terus?…

    Salam ADBM

  7. Muantap,
    dialog Kiai Gringsing vs Ki Tambak Wedi
    dan Ki Sumangkar vs Sanakeling.

    • lebih Muantap lagi,
      dialog Ki Senopati vs Nyi Senopati ADBM
      dan pedang2an Ki GunduL vs Ni Pandan Wangi

      • carane donlot pripun to ki gund ?
        (arep donlot nyaine aaaah …)

        • gampang kemawon kok ki….yang terlihat merah panjenengan
          SEdot kemawon…!!??

          mugi2 mboten kleru leh nyedot Ki…..mangga-mangga !!??

          • SEKAR MIRAH

            Se = sak
            Kar = lapangan/alun2
            Mirah = abang

            pada karo :
            sak lapangan abang kabeh.
            (weh.kok.kaya kampanye partai)

            • gring=lara
              sing=?

              • Sing=pusing
                Gringsing berarti…lara mumet 😀

              • bisa juga :

                Sing=***sing
                Gringsing berarti…lara weteng 😀 😀 😀

              • swandaru,

                swan : kaos dalam
                daru : bengi

                pada karo :
                copot kaos wektu bengi ato OTE-OTE…..hikss

  8. Iki kok pada mbalik lagi di gandok-gandok awal to?

    • ..mengenang masa lalu…..

      • ..semasa P Satpam belum jadi……maptas ! 😀

    • Lha dho seneng plorotan , njur dho sami kungkum asyiikkkk

      • rancak bana huhuuu

        • rancak = podho seneng

          bana = mbak Ana

          dadi , dho seneng nginthil mbak Ana

          • wah ki mangku ki jan lantip saestu

            • Cantrik adbm he..he..he…

              • adbm gituh

                • Lha maha guru alias dhosenne ajejuluk ki Ajar Gembleh .mesthi kemawon poro cantrike sami lantip lan prigel ing samubarangkawis .

                  • terang terwoco ki mangku, kyai dosen ajar resi pandita panembahan tumenggung gembleh pol

  9. Kirang setunggal gelaripun njih meniko Kanjeng Gusti Adipati …………….ingkang jumeneng wonten Kadhipaten Karang Talun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: