Buku 13

Maka dalam kegelapan pikiran, tawaran Ki Tambak Wedi itu bagi Sanakeling bagaikan sepercik sinar yang langsung menyorot hatinya. Apalagi pada saat itu Sanakeling tidak sempat untuk banyak membuat pertimbangan. Yang menyumbat otaknya adalah pengkhianatan Sumangkar dan beberapa orang prajurit kepadanya. Karena itu maka teriaknya, “Bagus! Tawaran itu bagus sekali Kiai. Mungkin kita dapat menemukan titik-titik persamaan yang dapat kita pakai sebagai dasar perjuangan bersama untuk membinasakan Untara. Nah, sekarang orang tua inilah yang harus kita binasakan lebih dahulu.”

Ki Tambak Wedi tertawa. Katanya, “Namun dalam beberapa hal aku sependapat dengan Adi Sumangkar. Para prajurit Jipang ini tidak perlu saling membunuh. Mereka kini hanya diwajibkan untuk menonton pertunjukan yang pasti akan mengasyikkan kalian.”

Para prajurit Jipang itu masih tegak dengan senjata di tangan masing-masing. Wajah-wajah mereka masih dicengkam oleh ketegangan dan ujung senjata-senjata mereka masih bergetaran.

“Nah, Adi Sumangkar. Apakah kau sudah bersedia untuk mati?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Betapa umurnya yang telah melampaui pertengahan abad itu, telah membantunya untuk melihat jauh ke dalam hati orang-orang yang berada di sekitarnya. Sanakeling, Tambak Wedi, dan para prajurit yang kebingungan itu. Juga kata-kata Tambak Wedi itu baginya sama sekali tidak diucapkan dengan jujur. Karena itu maka jawabnya, “Kakang Tambak Wedi, Sumangkar sudah siap sejak semula. Namun sekali lagi aku ingin berpesan. Bagi mereka yang ingin memenuhi pesan Angger Tohpati lewat mulutku. Janganlah nonton seperti nonton adu ayam. Kalian berada dalam bahaya. Selama aku masih hidup, mungkin Ki Tambak Wedi dan beberapa orang terpenting dari pasukan ini masih memerlukan menangkap dan membunuhku. Tetapi sepeninggalku, maka akan datang giliran buat kalian. Apa yang akan dapat kalian lakukan apabila Sanakeling dan Tambak Wedi ikut serta dalam barisan yang ingin membinasakan kalian? Nah, karena itu, sebelum aku binasa, aku masih akan dapat mengikat perhatian Tambak Wedi dan Sanakeling. Karena itu, berusahalah meninggalkan tempat ini. Pergilah langsung ke Sangkal Putung. Katakan apa yang kalian lihat di sini. Katakan bahwa kalian mendengar pesan Tohpati dari mulut Sumangkar, yang barangkali pada saat-saat itu telah terbunuh di sini. Jangan ragu-ragu. Pesan itu telah didengar pula oleh Untara dan Untara telah mengucapkan jaminan untuk kalian. Sebagai seorang senapati yang berhati jantan, pasti ia tidak akan ingkar. Aku mengharap orang yang bernama Kiai Gringsing akan membantu kalian apabila Angger Untara melupakan janjinya. Aku percaya kepada orang itu. Aku percaya kepada muridnya yang bernama Agung Sedayu, adik Untara. Mereka adalah manusia-manusia yang baik bagi kemanusiaan. Jangan mencoba bertempur di sini. Tak akan ada gunanya. Nah, apakah kalian dengar?”

“Sebuah jebakan yang manis,” teriak Ki Tambak Wedi. “Kalian benar-benar akan menjadi seperti ikan masuk ke dalam wuwu. Kalian, akan masuk Sangkal Putung dengan mudahnya. Tetapi demikian senjata-senjata kalian dikumpulkan, maka tangan kalian akan segera terikat. Kalian, akan menjadi bandan seumur hidup kalian atau bahkan akan diseret sepanjang jalan dalam hukuman picis. Betapa nyamannya kulit kalian akan disobek segores demi segores, dan dipercikan air asam pada luka-luka itu.”

Namun Sumangkar sempat menyahut, “Adalah suatu khayalan yang mengerikan. Kalau aku hanya sekedar ingin membunuh kalian, para prajurit Jipang, aku tidak akan bersusah payah mempertahankan pendirian ini dengan berperisai nyawa. Aku akan dapat berbuat dengan mudahnya, meneteskan beberapa tetes getah racun ke dalam masakanku, maka kalian akan binasa bersama-sama. Tetapi aku tidak berbuat demikian. Kalian bukan anak-anak yang bodoh. Kalian kini sudah cukup dewasa untuk berpikir dan berbuat. Nah, silahkanlah. Jangan terlalu lama.” Kemudian kepada Ki Tambak Wedi, Sumangkar berkata, “Ayo. Kau sudah mulai menjemukan bagiku. Berbuatlah sesuatu. Jangan selalu berbicara saja dengan mulutmu yang berbisa. Memang mungkin mulutmu itu lebih tajam dari senjatamu. Tetapi tongkat baja putih, ciri perguruan Kedung Jati ini akan dapat menutup mulutmu itu untuk selama-lamanya.”

Tambak Wedi menggeram, Kemarahannya telah benar-benar membakar dadanya. Tiba-tiba di atas kepala orang-orang Jipang itu terdengar suara berdesing. Seperti desing anak panah raksasa yang meluncur dengan cepatnya. Orang-orang Jipang itu terkejut. Serentak mereka menengadahkan wajah-wajah mereka. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

Namun Sumangkar adalah lain dari mereka. Sumangkar mempunyai beberapa kelebihan dari para prajurit itu. Betapa lemahnya cahaya obor di sekitarnya, namun matanya yang tajam masih dapat menangkap seleret benda yang berlari kencang, sekencang tatit, menyambarnya. Tetapi Sumangkar adalah murid kedua dari perguruan Kedung Jati. Itulah sebabnya, maka ia mampu bergerak menyamai kecepatan benda yang meluncur itu. Dengan lincahnya ia bergeser surut setapak, dan dalam pada itu tongkatnya menyambar sebuah benda yang meluncur ke arah kepalanya. Sesaat kemudian terdengarlah sebuah benturan yang dahsyat. Kedua benda itu beradu. Demikian dahsyatnya sehingga suaranya berdentang memekakkan telinga, sedang dari benturan itu memercik bunga-bunga api yang gemerlapan.

Tetapi Sumangkar tidak sekedar memukul benda itu. Demikian tangkas gerak tongkatnya, sehingga benda itu terpukul ke samping. Untunglah Sanakeling bukan sekedar patung batu. Orang itu mampu menangkap keadaan. Ketika ia melihat Sumangkar memukul benda itu ke arahnya, ia telah menyiapkan pedangnya. Tetapi demikian pedangnya berhasil menangkis benda yang terpantul ke arahnya itu, maka tergetarlah tangannya dan pedangnyapun terlontar jatuh.

Sanakeling itu sesaat terpaku diam di tempatnya. Terasa tangannya menjadi pedih, tetapi terasa dadanya seakan-akan menyala dibakar oleh kemarahannya yang meluap-luap.

Ketegangan dan kesenyapan memuncak di sekitar gubug itu. Semua orang seperti terbungkam mulutnya oleh tangan-tangan iblis yang mengerikan. Darah mereka bahkan terasa seolah-olah berhenti mengalir.

Namun, selain Sanakeling yang dadanya seolah-olah menyala maka Ki Tambak Wedi yang ternyata kini telah berdiri di atas sebongkah batu padas itupun mengumpat sejadi-jadinya. Sumangkar, juru masak yang malas itu telah berhasil menghindarkan serangan pertamanya. Dengan serangan yang dilontarkannya dari dalam gelap, ia ingin sekaligus membunuh Sumangkar dengan gelang-gelang besinya. Tetapi ternyata murid kedua dari perguruan Kedung Jati itu benar-benar tangkas. Dan ternyata pula tongkat baja putih itu-pun bukan sekedar senjata biasa. Tongkat itu mampu menahan arus yang dahsyat dan kekuatan Ki Tambak Wedi lewat gelang-gelang besinya. Bahkan serangan itu hampir saja mengenai Sanakeling pula. Meskipun kemudian Sanakeling berhasil pula menangkis pantulan besi itu, namun senjatanya terlepas dari tangannya. Dengan demikian dapat diduga, betapa dahsyatnya kekuatan Ki Tambak Wedi, dan betapa dahsyatnya kekuatan Sumangkar serta tongkat baja putihnya.

Semua yang terjadi itu hampir tak masuk di akal para prajurit Jipang yang melihat peristiwa itu dengan mata yang terbelalak. Mereka selama ini sepeninggal Adipati Jipang dan Patih Mantahun, tidak mengenal orang sakti selain Macan Kepatihan. Bahkan mereka menyangka bahwa tak ada seorangpun yang akan mengalahkan pemimpinnya itu.Tetapi ternyata Raden Tohpati itu terbunuh. Selama ini mereka menyangka, bahwa apabila tidak dikirim Ki Gede Pemanahan, atau Mas Ngabehi Loring Pasar, maka Tohpati tidak akan dapat dibinasakan. Tetapi mereka terpaksa melihat kenyataan, bahwa Untara telah berhasil membunuhnya. Dan kini di antara mereka sendiri, mereka dapat melihat kemampuan dan kesaktian yang melampaui kemampuan dan kesaktian Macan Kepatihan. Juru masak yang malas itu ternyata adalah seorang yang telah memukau jantung mereka.

Peristiwa ini sekaligus telah mengetok hati para prajurit Jipang itu, bahwa kesaktian itu tersimpan di mana-mana. Kadang-kadang di tempat-tempat yang sama sekali tak terduga-duga. Yang dikagumi masih ada yang melampauinya, dan yang melampaui itupun bukanlah seorang yang tak terkalahkan.

Beberapa orang yang berotak cair segera dapat mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Tak seorangpun yang dapat menyebut dirinya tak terkalahkan. Tak seorangpun yang akan dapat dianggap sebagai seorang yang maha sakti. Seperti apa yang telah terjadi atas Jipang yang merasa diri mereka tak terkalahkan, setidak-tidaknya mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin mereka adalah orang-orang yang tak terkalahkan, maka akhirnya Jipang terpaksa jatuh tersungkur, terbenam dalam kehancuran yang dahsyat, sehingga sulitlah untuk dapat bangkit kembali. Arya Jipang yang disangka tak akan dapat terbunuh kalau tidak oleh senjata pusakanya sendiri itupun akhirnya terbunuh juga, hanya oleh seorang anak muda yang sama sekali tak pernah disebut namanya. Apalagi dalam deretan nama para sakti.

Anak muda yang bernama Mas Ngabehi Loring Pasar yang juga disebut Sutawijaya itu ternyata mendapat cara untuk menggoreskan keris Arya Penangsang sendiri, yang disebutnya Setan Kober, pada ususnya yang telah mencuat keluar dari luka di lambungnya. Luka karena tusukan tombak Kiai Plered di dalam genggaman anak muda yang bernama Sutawijaya itu.

Bagi mereka yang berotak cair, melihat semua peristiwa itu dengan debar di dalam dadanya. Mereka seolah-olah melihat semuanya itu terjadi kembali. Juga tidak masuk di akalnya. Namun semua peristiwa itu telah menuntun mereka untuk mengenangkan, bahwa ada kekuasaan di luar kekuasaan manusia. Kalau kekuasaan itu akan berlaku, berlakulah. Di mana dan kapan saja. Semua yang tidak mungkin, akan terjadi pula. Bahkan yang tak masuk akal sekalipun. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang akan menggilas semua ketamakan, kesombongan, dan kebanggaan manusia atas dirinya sendiri.

Tetapi tidak semua orang melihat sinar yang betapapun terangnya. Seseorang yang berdiri di dalam gelap sekalipun. Kadang-kadang mereka lebih senang tenggelam dalam dunianya yang gelap, yang akan dapat melindunginya untuk berbuat apa saja sekehendak hatinya.

Prajurit-prajurit Jipang itupun tetap terbagi dalam pendirian yang barbeda. Mereka masih tetap berpijak pada sikap masing-masing. Sebagian dari mereka berkata di dalam hatinya, “Alangkah dahsyatnya Ki Sumangkar. Ia mampu melawan serangan yang datang dengan tiba-tiba, serangan yang licik itu.” Namun orang-orang yang lain berkata di dalam hatinya, “Alangkah dahsyatnya lontaran tangan Ki Tambak Wedi. Dengan bermain-main gelang itu, hampir-hampir Sumangkar dapat dibunuhnya. Apalagi kalau ia nanti bersungguh-sungguh menyerang Sumangkar untuk membunuhnya.”

Di antara mereka, yang tak beringsut dari pendiriannya, dan bahkan menjadi semakin berkobar di dalam dadanya adalah Sanakeling. Bahwa pedangnya lepas dari tangannya, adalah suatu peristiwa yang sangat memalukan. Sumangkar dapat menahan gelang-gelang yang langsung meluncur dari tangan Ki Tambak Wedi, sedang pedangnya terloncat dari genggamannya hanya karena pantulan benda itu.

Sejenak kemudian kesenyapan itu dipecahkan oleh suara Ki Tambak Wedi, “Gila kau Sumangkar. Tetapi jangan kau sangka bahwa kau akan dapat melepaskan diri dari tangan Ki Tambak Wedi.” Kemudian kepada Sanakeling ia berkata, “Biarkan para prajurit Jipang membuat keputusan sendiri di antara mereka. Namun marilah, sumber dari pengkhianatan itu kita lenyapkan.”

Sumangkar sama sekali tidak menyahut. Perlahan-lahan tangannya membelai senjatanya, seolah-olah ia berkata, “Marilah kita berbuat sesuatu untuk yang terakhir kalinya.”

Tetapi ternyata Sumangkar tidak berdiri sendiri. Ketika Para prajurit yang berpihak kepadanya melihat, bahwa Sumangkar telah bersiap untuk menyongsong segala kemungkinan, maka orang-orang Jipang yang berpihak kepadanyapun bersiap pula.

Ki Tambak Wedi yang seakan-akan dadanya meledak karena goncangan kemarahannya, kemudian berteriak nyaring untuk menekan keberanian orang-orang Jipang yang berpihak kepada Sumangkar. “He Sumangkar, di tanganmu tergenggam ciri perguruan Kedung Jati. Sebuah tongkat baja putih yang terkenal. Tetapi perguruan di kaki Gunung Merapi mempunyai cirinya sendiri. Bukan sekedar gelang-gelang permainan kanak-kanak, tetapi kau sudah cukup mengenal ciri itu. Marilah kita Iihat, manakah yang lebih sempurna, ciri Kedung Jati dan ciri Lereng Merapi.”

Semua orang berpaling ke arah Ki Tambak Wedi berdiri. Dan semua orang melihat orang tua itu berdiri di atas segumpal batu padas dengan sebuah senjata yang dahsyat di tangan. Sebuah Nenggala yang runcing pada ujung dan pangkalnya. Sebuah Nenggala yang berbentuk dua ekor ular yang saling mem belit berlawanan arah. Lidah-lidah ular itu terjulur dalam bentuk tempaan ujung tombak. Mengerikan. Itu adalah tanda dan senjata yang terpercaya dari perguruan Tambak Wedi. Dan senjata itu kini telah ditarik dari selubung dan wrangkanya.

Sumangkar pun melihat senjata itu pula dalam keremangan cahaya obor yang kemerah-merahan. Terasa debar jantungnya bertambah cepat. Tambak Wedi memang terkenal sebagai seorang yang sangat sakti seakan-akan mampu menangkap angin. Namun perguruan Kedung Jati pernah pula terkenal, seolah-olah mampu menyimpan nyawa rangkap di dalam tubuhnya. Kini mereka berha-dapan dengan ciri kebesaran perguruan masing-masing. Ciri yang tersimpan rapat-rapat dan jarang-jarang dipergunakan apabila keadaan tidak sangat gawat bagi mereka masing-masing.

Namun Sumangkar benar-benar sudah pasrah diri. Ia tidak melihat kemungkinan lain daripada mati. Melawan Ki Tambak Wedi seorang diri, ia pasti tidak akan dapat mengalahkannya. Apalagi Ki Tambak Wedi masih juga bergabung dengan orang-orang seperti Sanakeling dan mungkin para pemimpin Jipang yang lain. Meskipun mereka agaknya ragu-ragu, namun apabila Sanakeling telah bertindak bersama-sama Tambak Wedi, maka sebagian dari merekapun akan berbuat pula serupa.

Sumangkar menggeram perlahan-lahan. Ia pernah bertempur melawan Tambak Wedi. Tetapi waktu itu ia tidak mempergunakan senjatanya, dan Tambak Wedi pun hanya sekedar mempergunakan gelang-gelang untuk melindungi tangannya. Tetapi kini, keduanya telah bersiap dengan senjata masing-masing.

Sanakeling yang masih berdiri di hadapan Sumangkar hampir-hampir tak dapat lagi menahan dirinya. Kemarahannya telah membakar darahnya sampai ke ubun-ubun. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Ia tidak dapat melangkah mengambil senjatanya sebab dengan demikian Sumangkar dapat menyerangnya dengan tiba-tiba dan memukul tengkuknya dengan tongkat baja itu. Karena itu maka satu-satunya kemungkinan baginya adalah menunggu Tambak Wedi bertindak lebih dabulu.

Sumangkar pun tidak mau memulai perkelahian itu. Apabila setapak ia maju mendekati Sanakeling dan mengabaikan Tambak Wedi, maka pasti akan terbang lagi gelang-gelang serupa menyambarnya. Karena itu maka perhatiannya justru sebagian besar tertuju ke arah Ki Tambak Wedi daripada Sanakeling yang berdiri beberapa langkah saja daripadanya.

Beberapa orang lain, menurut pertimbangan Sumangkar tidak akan memulai pula. Mereka masih berdiri dalam keragu-raguan. Sebagian dari mereka pasti hanya akan menunggu perkembangan keadaan. Siapa yang menang itulah yang akan menentukan, kepada siapa ia akan berpihak.

Tetapi agaknya Tambak Wedi-lah yang akan memulai memecahkan sikap-sikap itu. Ternyata dengan tangannya ia meloncat turun dan berjalan menyibak orang-orang Jipang ke arah Sumangkar berdiri. Ternyata Tambak Wedi itupun memperhitungkan semua kemungkinan yang dihadapinya. Ia menjinjing senjatanya di tangan kiri, dan menggenggam gelang-gelang di tangan kanan siap dilontarkan apabila pada saat ia berjalan mendekat itu Sumangkar mulai menyerang Sanakeling yang tidak bersenjata.

Setiap langkah Ki Tambak Wedi terasa seakan-akan derap seorang raksasa yang berjalan di dalam dada setiap orang yang menyaksikannya. Setiap langkah telah meningkatkan ketegangan menjadi semakin memuncak, seakan-akan sebuah tanggul yang telah penuh dengan air. Setiap saat akan pecah. Setiap saat banjir akan dapat melanda dengan dahsyatnya.

Sumangkar memandang langkah Tambak Wedi itu tanpa berkedip. Semakin dekat hantu Lereng Gunung Merapi itu, semakin erat ia menggenggam tongkat baja putihnya. Sekali-sekali dipandanginya beberapa orang Jipang yang berdiri saling berhadapan seperti dua gelar perang yang siap berbenturan. Sesaat hatinya menjadi sedih. Ia dapat membayangkan bahwa apabila perkelahian itu terjadi, maka akan tumpaslah segenap pasukan itu. Sumangkar dapat menduga bahwa para prajurit itu seakan-akan benar-benar terbelah di tengah. Masing-masing pihak yang semula tercampur-baur itu, kini benar-benar telah bersibak menurut pilihan masing-masing. Dan Tambak Wedi, yang garang itu berjalan di tengah-tengah, di garis pemisah antara kedua pihak yang berselisih pendapat itu.

Namun dada setiap orang yang berdiri di tempat itu benar-benar akan pecah oleh peristiwa yang menyongsong kemudian. Peristiwa yang benar-benar telah meledak tanpa dapat mereka mengerti. Ketika semua orang sedang dipukau oleh ketegangan langkah Ki Tambak Wedi, tiba-tiba mereka mendengar suara tertawa pula. Tidak sekeras suara Ki Tambak Wedi. Namun suara itu telah menarik segenap perhatian dari semua orang yang berada di tempat itu. Termasuk Ki Tambak Wedi sendiri. Dan yang lebih menggemparkan dada mereka adalah pada saat semua orang melihat sebuah bayangan berdiri di atas sebongkah batu padas, tempat Ki Tambak Wedi tadi berdiri, dengan sebuah Nenggala di tangannya. Nenggala ciri kebesaran perguruan Tambak Wedi yang telah ditarik dari selubung dan wrangkanya.

Betapa terkejut orang-orang yang melihat bayangan itu, tidak seorangpun yang menyamai Ki Tambak Wedi sendiri. Dalam kegelapan ia melihat seolah-olah seseorang dari perguruan Tambak Wedi berdiri di atas sebongkah batu padas dengan gagahnya. Bahkan seperti ia melihat sendiri berdiri di situ, seperti pada saat ia melemparkan gelang-gelang besinya ke arah Sumangkar.

Selain Tambak Wedi, Sumangkar pun terkejut bukan buatan. Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapakah yang berdiri agak jauh di belakang orang-orang Jipang yang sudah siap saling membunuh sesama mereka. Ia tidak dapat mengatakan, bahwa Ki Tambak Wedi yang baru saja melontarkan gelang besinya meloncat kembali ke atas batu padas itu, sebab Ki Tambak Wedi kini masih tegak berdiri di antara kedua belah pihak orang-orang Jipang yang berbeda pendapat. Namun menilik senjata yang dibawanya, berujung runcing di pangkal dan ujungnya, ternyata pula dari cara orang itu memegang tangkainya, tepat di tengah-tengah, maka orang itu mirip benar dengan Ki Tambak Wedi sendiri.

Terdengar kemudian Ki Tambak Wedi menggeram. Dengan lantang ia berkata, “He, setan manakah kau ini? Dari mana mendapat senjata yang mirip dengan senjata Tambak Wedi?”

Ketika orang itu menjawab, maka dada Sumangkar dan Ki Tambak Wedi berdesir seperti tersentuh ujung senjata itu sendiri. Berkata orang itu, “Kenapa kau heran Ki Tambak Wedi. Apakah hanya Tambak Wedi yang memiliki jenis senjata macam ini?”

Dalam keremangan cahaya obor yang lemah, tampaklah wajah Sumangkar sekan-akan menjadi terang. Perlahan-lahan ketegangan di wajahnya terurai, dan perlahan-lahan pula tampak bibirnya tersenyum. Katanya, “Selamat malam Kiai Gringsing. Aku tidak menyangka bahwa Kiai akan datang secepat ini. Tetapi senjata di tanganmu benar-benar mengejutkan kami. Dalam gelap kami tidak segera mengenal Kiai, tetapi suara Kiai tidak dapat mengelabui kami lagi.”

Kiai Gringsing tertawa. Orang itu sebenarnya adalah Kiai Gringsing. Namun Ki Tambak Wedi-lah yang mengumpat, “Setan tua. Kenapa kau coba menandingi jenis senjata Tambak Wedi. Betapa saktinya Kiai Gringsing, namun senjata ciri perguruan Tambak Wedi jauh lebih berpengalaman mempergunakannya dan jenis senjatanyapun akan jauh lebih bernilai dari senjata-senjata serupa di seluruh kulit bumi.”

Kiai Gringsing masih tertawa, dijawabnya, “Apakah kau sudah tidak dapat mengenali jenis-jenis senjata perguruanmu sendiri Kiai? Senjata inipun adalah senjata ciri kebesaran perguruan Tambak Wedi. Bukan sekedar senjata buatan pandai besi, apalagi buatan almarhum pande besi Sendang Gabus. Sama sekali bukan. Apakah kau tidak segera mengenal pamor ujung senjata ini? Sungguh dahsyat menurut penilaianku sebab senjata Lereng Merapi memang dahsyat, sedahsyat orangnya.”

“Gila!” seru Ki Tambak Wedi sekeras petir. “Jangan membual. Ayo katakan, kenapa kau di sini?”

“Jangan marah Kiai” sahut Kiai Gringsing. “Apakah kau tidak ingin tahu dari mana aku mendapatkan senjata ini?”

“Tidak,” jawab Ki Tambak Wedi. “Aku sudah tahu, itu pasti senjata Sidanti yang tertinggal di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing tertawa semakin keras. Kemudian katanya, “Nah tepat. Kau belum melupakan senjata ini. Tetapi adalah aneh sekali bahwa senjata ciri kebesaran suatu perguruan sampai tertinggal di suatu tampat, kenapa Kiai?”

“Jangan banyak bicara, ayo katakan, apa maumu?”

“Kenapa yang bertanya kepadaku bukan Adi Sumangkar, atau Angger Sanakeling? Kenapa yang bertanya justru Ki Tambak Wedi dari perguruan Lereng Merapi? Menurut hematku, tempat ini adalah perkemahan prajurit Jipang, bukan perkemahan laskar Tambak Wedi dan Sidanti yang telah memberontak terhadap pimpinannya itu?”

“Tutup mulutmu!”

“Sulit Kiai. Aku memang senang berkicau seperti burung yang bebas di dahan-dahan. Tak seorangpun mampu melarang. Kau juga tidak.”

Tambak Wedi yang sedang marah itupun menjadi bertambah marah. Wajahnya yang membara itupun bertambah merah.

Tetapi Kiai Gringsing berkata terus, “Ki Tambak Wedi, bukankah kau sedang sibuk mencari kawan untuk melawan Untara? Di sini kau menemukan beberapa orang yang dapat kau peralat untuk keperluan itu. Itulah sebabnya aku datang. Aku adalah utusan Angger Untara, langsung untuk menyaksikan sendiri siapakah di antara orang-orang Jipang yang menyadari keadaannya, menyadari masa depannya dan masa depan Demak. Aku adalah utusan senopati yang mendapat kekuasaan langsung dari Panglima Wira Tamtama di Pajang. Karena itu maka kata-kata yang aku ucapkan adalah kata-kata Panglima Wira Tamtama itu sendiri Ki Gede Pemanahan, bahwa Pajang yang akan membuat penilaian yang seadil-adilnya bagi mereka yang menyadari keadaannya sesuai dengan pesan terakhir Angger Macan Kepatihan, senopati besar yang selama ini kau banggakan.”

Ki Tambak Wedi tidak dapat menahan dirinya lagi. Tiba-tiba tangan kanannya bergetar, dan dari tangan itu meluncurlah sebuah benda langsung mengarah ke dada Kiai Gringsing. Sepotong besi yang dibentuk seperti sebuah gelang yang besar.

Tetapi Kiai Gringsing itupun tidak sedang berbicara sambil bermimpi. Ia sudah menduga bahwa Ki Tambak Wedi akan langsung menyerangnya dengan jenis senjatanya itu. Karena itu, dengan lincahnya ia merendahkan dirinya menghindari sambaran gelang-gelang besi itu.

Betapa bulu-bulu kuduk orang-orang Jipang itu kemudian menjadi tegak ketika mereka mendengar bunyi gemerasak dari gelang-gelang besi yang tidak mengenai sasarannya, tetapi langsung memukul dahan-dahan dan ranting-ranting kayu. Suaranya seperti arus prahara yang mematahkan cabang-cabang pepohonan hutan.

Tetapi suara gemeresak yang dahsyat sedahsyat suara prahara itu bagi Ki Tambak Wedi, seolah-olah mengamuk di dalam dadanya sendiri. Kemarahannya yang meluap-luap serasa telah menghanguskan jantungnya. Namun ia tidak segera dapat berbuat apa-apa. Bahkan dilihatnya Kiai Gringsing tertawa sambil berkata, “Huh, hampi-hampir dadaku pecah karenanya. Kalau aku memegang senjata ciri perguruan Kiai Gringsing, maka aku akan menggenggam senjata perguruan Ki Tambak Wedi sendiri. Aku tidak yakin apakah senjata ini cukup kuat untuk menangkis. Adi Sumangkar berani melakukannya karena ia yakin akan kekuatan senjatanya. Sebab senjata itu adalah senjatanya sendiri.”

“Jangan banyak cakap,” potong Ki Tambak Wedi. “Aku kira kita sudah sampai waktunya untuk menyelesaikan persoalan kita yang selama ini terperam di dalam hati.”

“Aku tidak berkeberatan,” sahut Kiai Gringsing dengan tenang. “Adalah menjadi kewajibanku untuk melayanimu. Memang sebaiknya kau mengurus persoalanmu sendiri, persoalanmu dengan Kiai Gringsing misalnya, daripada kamu mengurus soal orang lain. Biarkan Adi Sumangkar dan Angger Sanakeling menyelesaikan persoalan mereka, sementara itu, marilah kita tinggalkan tempat ini, kita selesaikan persoalan kita sendiri.”

Keringat dingin telah mengalir membasahi seluruh tubuh Ki Tambak Wedi yang garang itu. Betapa ia mengumpat di dalam hatinya. Ternyata sekali lagi Kiai Gringsing telah menghalang-halanginya. Dengan suara parau penuh kemarahan ia berkata, “Kiai Gringsing. Kalau kau ingin membuat perhitungan dengan Ki Tambak Wedi, tunggulah aku di sisi hutan ini. Setelah aku menyelesaikan urusanku di sini, maka aku akan segera datang.”

“Apakah kepentinganmu di sini itu? Kau adalah orang asing di sini, seperti aku. Kalau kau berhak turut campur di sini, maka aku akan turut campur pula.”

“Setan!” geram Ki Tambak Wedi, “Kau selalu menggangguku.”

“Kau juga selalu mengganggu orang lain.”

“Sekarang menjadi jelas bagiku,” berkata Tambak Wedi itu keras-keras, “Ternyata Sumangkar dan Kiai Gringsing telah sependapat untuk bersama-sama menjerumuskan Jipang ke dalam bencana.”

“Jangan mengigau. Kalau kami, Pajang, benar-benar ingin menghancurkan laskar Jipang, sekarang adalah saatnya. Aku bisa membawa seluruh kekuatan Pajang itu kemari. Mengepung kalian dan menumpas kalian habis-habisan.”

Darah Sanakeling tersirap mendengar kata-kata itu. Benar-benar suatu penghinaan bagi pasukan Jipang. Bukan saja Sanakeling, tetapi terasa sesuatu berdesir pula di dalam dada Sumangkar. Namun Kiai Gringsing itu berkata terus, “Tetapi penjelasan yang demikian adalah penjelasan yang kurang bijaksana. Korban dari pihak Pajang pun pasti tidak akan terhitung lagi, bahkan mungkin separo dari kami tidak akan pernah dapat meninggalkan hutan ini. Dalam penjelasan yang demikian itu, maka dendam akan tertanam dalam-dalam di hati kita masing-masing, sehingga setiap saat akan terungkapkan kembali. Tetapi Ki Gede Pemanahan akan mencoba mencari jalan yang lebih baik. Kecuali bagi mereka yang membangkang. Mereka akan benar-benar dihancurkan, hancur dalam arti lahir dan batinnya.”

Tiba-tiba kata-kata terpotong oleh ledakan hati Sanakeling yang sudah tak tertahankan lagi. Katanya berteriak, “Jangan berkicau seperti orang gila. Jangan kau sangka, kami orang-orang Jipang adalah kelinci-kelinci yang tidak berdaya. Ayo, kerahkan seluruh prajurit Wira Tamtama Pajang. Datangkan orang yang bernama Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Juru Martani, Ngabehi Loring Pasar, bahkan Karebet itu sendiri.”

“Tidak Ngger,” sahut Kiai Gringsing. Nada suaranya masih setenang semula. “Itu hanyalah sekedar gambaran yang dahsyat dan mengerikan. Sebaiknya semuanya itu tidak usah terjadi. Aku hormati pendirian Angger Raden Tohpati dan Adi Sumangkar.”

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Sanakeling dan geram Ki Tambak Wedi. Namun mereka berdua masih tegak di tempatnya. Dalam keadaan yang demikian itulah maka ketegangan menjadi semakin memuncak.

Perdebatan itu seolah-olah justru memperkuat pendirian setiap orang di dalam pasukan yang terbagi itu. Karena itu maka mereka menjadi semakin kukuh atas pilihan masing-masing.

Dalam pada itu Sumangkar sempat membuat penilaian atas keadaan itu. Seandainya saat ini ia mulai, maka keadaan Sanakeling sudah sedemikian lemahnya. Ki Tambak Wedi pasti sudah tidak akan membantu Sanakeling lagi, karena kehadiran Kiai Gringsing. Namun ketika orang tua itu berpaling, melihat orang-orang Jipang di halaman gubug itu berdiri dengan tegangnya, maka hatinya berdesir. Ia tidak akan sampai hati melihat mereka saling berkelahi, saling membunuh setelah mereka sehari penuh berperang bersama-sama di bawah kibaran satu panji-panji. Karena itu Sumangkar kini masih saja berdiri dalam keragu-raguan.

Tak seorangpun yang segera dapat mengambil keputusan, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sanakeling pun tidak. Ia adalah seorang prajurit yang biasa membuat penilaian atas kawan dan lawan. Kali inipun demikian pula. Ia menyadari bahwa dengan kehadiran Kiai Gringsing, maka ia tidak akan segera berhasil menangkap apalagi membinasakan Sumangkar.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 6 September 2008 at 19:03  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. he eh, terusane ndi mas DD

  2. Pro : mas Anggoro Hoediyanto Yth,
    di blognya mas rizal anda pernah komunikasi dgn mas doellah
    yang katanya udah scan jilid 1 -100 (seri I).
    apa anda dah jadi minta bahan ke beliau?
    kalaw dah ada scan an jilid 1-100, kan tinggal bagi ke qta2.
    biar cepet postingannya.
    gmn mas? mau bagi2 bahan mentah ke saya?
    atau bisa merekomendasikan sy ke mas Doellah?

  3. Just curious Bung DD,
    Memangnya selama ini sampai akhir jilid 13 bahannya diperoleh dari mana?
    Saya kira selama ini bahan disuplai oleh bung Doellah.
    Menurut saya ini penting untuk meluruskan ‘sejarah’ ADBM online ini. Kalau bahan diperoleh dari jasa scan relawan yang lain, sangatlah perlu untuk disebutkan nama2nya sekedar sbg penghargaan atas usahanya, karena pekerjaan menyecan sama pentingnya dengan pekerjaan menyunting.
    Kalau penyuplai hasil scan bung Doellah, patutlah namanya disejajarkan dengan nama bung Rizal (dicantumkan di halaman pengantar). Saya yakin dengan demikian beliau akan dengan lapang hati menyumbangkan hasil scannya, bukan hanya halaman per halaman, atau jilid per jilid akan tetapi keseluruhan 100 jilid. Sayapun sejak awal telah menyanggupi untuk membantu mentransfer jpg-doc (bukan mengedit) berapapun besarnya file.
    Saya menunggu respons bung Doellah melalui media ini. Kalau tidak, mudah2an saya dpt menghubunginya melalui japri.
    Salam, GI.

    DD: Saya akan minta ijin ybs kalau boleh saya publish namanya. Buat saya yang penting lancar, meskipun sehalaman demi sehalaman, sejilid demi sejilid.

  4. Pro: OREL Yth,

    Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah komunikasi dengan mas Doelah soal bantu retype or ngeproof, tapi karena 1 & lain hal, bahan yang dikirim ke saya belum sempat saya kirim balik & melihat perkembangan yang ada saat ini, bagian saya itu sudah jadi jauh tertinggal.

  5. sorry baru gabung
    dimana saya bisa dapat pdf adbm ya ?
    jilid berapa aja ?
    lalu ada yg bisa saya bantu untuk mem pdf kan jilid yang belum ?

  6. Pro para cantrik ADBM…
    tolong dong kasih tau caranya donlot step by stepnya…
    saya udah coba kok gagal terus?…

    Salam ADBM

  7. Muantap,
    dialog Kiai Gringsing vs Ki Tambak Wedi
    dan Ki Sumangkar vs Sanakeling.

    • lebih Muantap lagi,
      dialog Ki Senopati vs Nyi Senopati ADBM
      dan pedang2an Ki GunduL vs Ni Pandan Wangi

      • carane donlot pripun to ki gund ?
        (arep donlot nyaine aaaah …)

        • gampang kemawon kok ki….yang terlihat merah panjenengan
          SEdot kemawon…!!??

          mugi2 mboten kleru leh nyedot Ki…..mangga-mangga !!??

          • SEKAR MIRAH

            Se = sak
            Kar = lapangan/alun2
            Mirah = abang

            pada karo :
            sak lapangan abang kabeh.
            (weh.kok.kaya kampanye partai)

            • gring=lara
              sing=?

              • Sing=pusing
                Gringsing berarti…lara mumet 😀

              • bisa juga :

                Sing=***sing
                Gringsing berarti…lara weteng 😀 😀 😀

              • swandaru,

                swan : kaos dalam
                daru : bengi

                pada karo :
                copot kaos wektu bengi ato OTE-OTE…..hikss

  8. Iki kok pada mbalik lagi di gandok-gandok awal to?

    • ..mengenang masa lalu…..

      • ..semasa P Satpam belum jadi……maptas ! 😀

    • Lha dho seneng plorotan , njur dho sami kungkum asyiikkkk

      • rancak bana huhuuu

        • rancak = podho seneng

          bana = mbak Ana

          dadi , dho seneng nginthil mbak Ana

          • wah ki mangku ki jan lantip saestu

            • Cantrik adbm he..he..he…

              • adbm gituh

                • Lha maha guru alias dhosenne ajejuluk ki Ajar Gembleh .mesthi kemawon poro cantrike sami lantip lan prigel ing samubarangkawis .

                  • terang terwoco ki mangku, kyai dosen ajar resi pandita panembahan tumenggung gembleh pol

  9. Kirang setunggal gelaripun njih meniko Kanjeng Gusti Adipati …………….ingkang jumeneng wonten Kadhipaten Karang Talun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: