Buku 13

Terasa dada Sumangkar berdesir. Apalagi ketika ia mendengar jawaban Ki Tambak Wedi, “Tetapi ia mendapat pesan langsung dari Angger Tohpati. Angger Tohpati yang perkasa itu berpesan kepada Adi Sumangkar agar membawa segenap anak buahnya untuk menyerahkan dirinya, tanpa syarat.”

“Bohong! Bohong!” teriak Sanakeling. “Aku didak percaya.”

“Kenapa kau tidak percaya? Bukankah Adi Sumangkar adalah satu-satunya orang dari antara kalian yang menunggui saat-saat terakhir dari Raden Tohpati, selain Untara, Widura, dan orang-orang Pajang. Sudah tentu Adi Sumangkar berkata dengan jujur. Pasti bukan karena bujukan Untara atau janji-janji daripadanya untuk Adi Sumangkar pribadi.”

Sekali lagi dada Sumangkar berdesir. Kali ini lebih keras. Kata-kata Ki Tambak Wedi yang seakan-akan memihaknya itu adalah suatu pancingan yang berbahaya. Berbahaya baginya dan berbahaya bagi pesan Tohpati itu sendiri.

Ternyata kecemasannya itu beralasan. Dengan serta merta Sanakeling menegakkan lehernya. Ia mencoba memandangi Ki Tambak Wedi dengan saksama. Namun kemudian Sanakeling itu pun berpaling kepada Sumangkar. Matanya kini seakan-akan menyala memancarkan kemarahan hatinya. Dengan suara yang keras parau ia berkata, “He, Paman Sumangkar, kenapa kau sempat menunggui saat-sat terakhir Kakang Macan Kepatihan?”

Sumangkar tidak segera menjawab. Ditatapnya mata Sanakeling yang menyala itu, langsung ke pusatnya. Seakan-akan Sumangkar ingin menjajagi betapa panasnya nyala yang memancar dari padanya.

Tiba-tiba Sanakeling itu melemparkan pandangan matanya. Terasa betapa dalam perbawa orang itu. Juru masak yang malas. Namun ketika disadarinya, bahwa matanya yang menghujam ke wajah Sumangkar itu tergeser, timbullah kegelisahan yang sangat di dalam dadanya. Sehingga untuk menutupinya maka Sanakeling itu berteriak keras-keras, kepada orang-orang Jipang, “He, orang-orang Jipang, apakah kau percaya bahwa Paman Sumangkar mendapat pesan itu dari Kakang Tohpati? Apakah bukan karena Paman Sumangkar sebenarnya berpihak kepada Pajang dan ditanam dalam perkemahan kita?”

Kembali suana menjadi sepi. Sepi sesepi kuburan. Namun di dalam setiap dada bergolak berbagai macam tanggapan.

Untuk memuaskan hatinya maka Sanakeling berkata terus, “Itulah, sebabnya, maka setiap serangan yang kita lancarkan pasti sudah diketahui oleh orang-orang Sangkal Putung. Bahkan tidak mustahil bahwa orang tua inilah yang telah, memperlemah tekad perjuangan yang menyala di dalam setiap dada anak-anak Jipang.” Kemudian kepada Sumangkar ia berkata, “Nah Paman Sumangkar, katakanlah kepadaku kenapa kau dapat mendekati Kakang Macan Kepatihan pada saat-saat terakhirnya? Kenapa kau tidak dikeroyok seperti rampogan macan di alun-alun, sehingga betapa saktinya kau, maka kaupun pasti akan terbunuh pula dengan luka arang kranjang. Tetapi kau malahan dapat membawa mayat Kakang Tohpati itu kemari dan mempergunakannya untuk mempengaruhi tekad anak-anak Jipang yang telah membaja di dalam dada mereka? He?”

Pertanyaan itu memang sulit untuk dijawab. Pertanyaan itu memang memerlukan pembuktian. Tetapi tak ada seorang saksi pun yang melihat, bahwa apa yang dikatakan itu bukanlah suatu ceritera yang telah dikarangnya sendiri. Bukan suatu mimpi yang didapatnya pada saat-saat ia tertidur di siang hari. Tetapi semuanya adalah sebenarnya demikian.

Karena Sumangkar tidak segera dapat mendjawab, maka terdengar Ki Tambak Wedi berkata, “Bagaimana Adi Sumangkar? Angger Sanakeling telah mengajukan beberapa pertanyaan. Kenapa tidak segera dapat kau jawab? Apakah pertanyaan itu tepat seperti yang terjadi sebenarnya?”

Sumangkar menggeretakkan giginya. Pertanyaan Ki Tambak Wedi itu lebih mendorongnya ke sudut yang sangat sulit. Namun Sumangkar masih berdiri tegak dengan tenangnya. Betapa hatinya bergelora namun ia sama sekali tidak goreh di tempatnya, seolah-olah sepasang kakinya telah jauh menghunjam seperti akar yang kukuh berpegangan pada batu karang yang teguh. Dan sikapnya itulah yang telah menyelamatkan wibawanya atas orang-orang Jipang.

Namun yang terdengar kemudian adalah suara Sanakeling yang gelisah, “He, bagaimana Paman Sumangkar? Apakah kau masih akan ingkar lagi?”

Tiba-tiba Sanakeling itu menggeram ketika ia melihat Sumangkar tersenyum. Orang tua itu seakan-akan sama sekali tidak menjadi cemas dan takut. Bahkan ia masih sempat tersenyum.

Di antara senyumnya terdengar Sumangkar berkata, “Baiklah aku mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi.” Sumangkar berhenti sesaat. Dicarinya kata-kata yang sebaik-baiknya. Karena ia tidak segera menemukan, maka yang pertama-tama dikatakan adalah, “Namun sebelumnya, biarlah aku mengucapkan selamat datang kepada Kakang Tambak Wedi yang bijaksana.”

Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya mengumpat melihat ketenangan Sumangkar.

Kemudian berkata Sumangkar, “Aku akan menolak segala tuduhan bahwa seolah-olah aku adalah orang yang diselipkan di antara kalian orang-orang Jipang oleh Pajang. Sayang, bahwa tidak banyak yang mengenal siapakah Sumangkar? Sebenarnya Angger Sanakeling pun tidak. Sebab kami, aku dan Angger Sanakeling selalu berada di medan yang berbeda. Tetapi kalau ada yang telah mengenal Sumangkar baik-baik, bertanyalah kepada mereka siapakah yang telah menyelamatkan tanda-tanda kebesaran Jipang? Rontek, tunggul, dan umbul-umbul bahkan panji-panji kebesaran? Semuanya itu telah kalian bawa hari ini ke medan peperangan. Kalian telah menjadi berbesar hati dan bertambah berani, karena di atas gelar perang berkibar segala macam tanda-tanda kebesaran itu. Nah, katakanlah siapakah yang paling banyak berbuat untuk Jipang pada saat Jipang runtuh. Pada saat Arya Jipang terbunuh dan kemudian Patih Mantahun? Semuanya pada saat itu hannya dapat bercerai berai, semuanya hanya dapat mengungsikan diri sendiri. Nah, Angger Sanakeling, apakah yang dapat kau lakukan saat itu? Timbanglah apa yang dilakukan oleh Sumangkar yang tua ini.”

Kembali mereka terlempar ke dalam cengkaman kesenyapan. Kembali orang-orang Jipang terseret ke dalam pertentangan tanggapan atas pemimpin mereka.

Kini Sanakeling-lah yang terbungkam. Semuanya itu memang benar telah terjadi. Namun di antara kesepian, itu menyelusuplah suara tertawa Ki Tambak Wedi. Katanya, “Ini adalah suatu ceritera yang telah terjadi atas seorang Sumangkar. Betapa besar jasa-jasanya atas Jipang, namun akhirnya dikhianatinya para prajurit yang telah mengorbankan hampir segala miliknya itu.”

Dada Sumangkar seolah-olah tertimpa Gunung Merapi yang runtuh saat itu. Terasa betapa licik dan licin lidah iblis yang bernama Tambak Wedi. Namun betapa jantungnya menjadi gemetar, tetapi Sumangkar tidak mau kehilangan kejernihan pikiran. Ia berhadapan tidak saja dengan seorang yang sakti; tetapi juga seorang yang lidahnya mengandung bisa.

Kata-kata Tambak Wedi itu ternyata telah menolong Sanakeling untuk menjawab pertanyaan Sumangkar. Katanya, “Nah, Paman Sumangkar. Apa yang terjadi terdahulu bukanlah ukuran dari apa yang terjadi sekarang. Suatu saat Sumangkar adalah seorang pahlawan, namun di saat ini Sumangkar adalah seorang pengkhianat.”

Alangkah panas hati Sanakeling ketika ia masih melihat Sumangkar tersenyum. “Benar Ngger,” sahut Sumangkar. Namun jantungnya serasa akan meledak. Hanya karena hatinya yang mengendap, maka ia masih dapat bertahan dalam ketenangan.

“Kau Benar. Apa yang terjadi terdahulu bukanlah ukuran dari apa yang terjadi sekarang. Kalau dahulu setiap hidung dari para prajurit Jipang menghormati Macan Kepatihan, sekarang Macan Kepatihan tidak lebih dari sesosok mayat. Kalau dahulu Sanakeling berjuang untuk suatu tujuan, kini Sanakeling tidak lebih dari seorang prajurit yang dalam keputus-asaannya berbuat di luar batas perikemanusiaan. Betapapun kabur dan sempitnya tujuan perjuangan itu dahulu, namun masih juga ada kemungkinan untuk mencapainya. Tetapi sekarang yang terjadi, tidak lebih dari menjajakan dendam di mana-mana.”

“Cukup!” teriak Sanakeling penuh kemarahan. Wajahnya yang merah menjadi semakin marah. Matanya yang liar menjadi semakin liar. Hampir saja ia meloncat dan menerkam wajah Sumangkar. Tetapi ketika kemudian terpandang olehnya sebatang tongkat baja putih berkepala tengkorak kekuning-kuningan, maka ia tertegun diam. Hanya giginya sajalah yang terdengar gemeretak.

Dalam pada itu Sumangkar masih saja tersenyum dan berkata, kali ini kepada orang-orang Jipang, “Nah, timbanglah di hatimu. Kalian telah mendengar apa yang aku katakan dan apa yang dikatakan oleh Sanakeling. Aku tidak menyalahkannya, pendiriannya adalah pendirian seorang prajurit yang tertempa dalam perjuangan yang berat. Tetapi pendirian itu bukanlah satu-satunya pendirian yang terbentang di hadapan kita. Taraf perjuangan kalian kini telah sampai pada suatu titik yang berbeda dengan pada saat kalian baru mulai.”

Tetapi kata-kata Sumangkar terputus oleh kata-kata Ki Tambak Wedi di antara derai tertawanya. “Bagus. Kau memang benar-benar licik Adi. Kau mampu, memutar balikkan keadaan dan, memutar balikkan penilaian atas sesuatu persoalan. Aku bukan orang Jipang. Aku sejak semula adalah penghuni lereng Merapi. Sejak Demak berkuasa, aku seakan-akan terlepas dari kekuasaan itu. Apalagi sekarang. Namun aku menaruh hormat pada perjuangan Angger Sanakeling. Aku kecewa melihat seorang Sumangkar dengan mudahnya mengingkari dan mengkhianati perjuangan yang telah dirintis, bahkan dikorbani dengan nyawa dari orang-orang sebesar Adipati Jipang sendiri, Patih Mantahun, dan yang terakhir adalah Angger Macan Kepatihan.”

Ki Tambak Wedi belum selesai dengan kata-katanya. Namun Sumangkar kini yang memotongnya. “Ki Tambak Wedi adalah penghuni lereng Merapi sejak semula. Karena itu Ki Tambak Wedi tidak banyak mengetahui apa yang terjadi di Jipang, di Pajang dan di perkemahan ini. Karena itu, apa yang dikatakan adalah semata-mata suatu cara untuk melumpuhkan kita. Dengar, apakah kata-katanya bukan sekedar usaha untuk memecah pendirian kita? Antara aku dan Angger Sanakeling. Ternyata usahanya hampir terjadi seperti pada saat ia membakar hati Tundun dan kawan-kawannya di perkemahan ini siang tadi. Usaha itupun hampir berhasil. Untunglah Sumangkar masih mampu mengusirnya. Sekarang kau kembali lagi dengan bisa di mulutmu. Sayang Ki Tambak Wedi.”

Kata-kata Sumagkar benar-benar menikam jantung Tambak Wedi. Kini ialah yang dibakar oleh kata-kata itu sehingga darahnya tersirap sampai ke kepala. Dengan serta merta ia menyawab lantang, “Kau bena-benar licik. Tetapi kau di sini berdiri seorang diri. Kalau Angger Sanakeling bersedia aku ingin berdiri di pihaknya. Mungkin tak seorangpun dari kalian yang mampu melawan Sumangkar. Tetapi bagi Tambak Wedi, Sumangkar bukan seorang yang menyilaukan.”

Sanakeling yang hatinya telah terbakar lebih dahulu tidak dapat menimbang lagi mana yang buruk, mana yang baik. Hatinya telah dibutakan oleh ketamakannya atas pimpinan sepeninggal Macan Kepatihan, atas harga dirinya sebagai seorang prajurit pilihan, atas dendam yang membara di dadanya. Itulah sebabnya tiba-tiba ia berteriak, “Jangan banyak bicara setan tua. Ayo, selama darah prajurit masih mengalir di dalam dada kalian, kalian akan tetap dalam pendirian kalian yang telah kalian letakkan sejak semula. Kini apabila kalian masih tetap dalam sumpah kalian sebagai prajurit Jipang, dengar perintahku. Tangkap orangg tua ini!”

Teriakan Sanakeling itu menggelegar menembus gelap pekatnya hutan, memukul pepohonan dan bergema berulang-ulang. Susul menyusul seperti gelombang yang menghentak-hentak pantai.

Sumangkar yang mendengar perintah itu tiba-tiba mundur selangkah. Tanpa sesadarnya ia membelai tongkat baja putihnya. Bahkan tiba-tiba pula ia berkata lantang, “Ayo! Inilah Sumangkar. Siapa yang ingin mcnangkap Sumangkar, tangkaplah! Aku sudah tua. Sudah banyak yang aku alami dan sudah banyak yang aku lakukan. Tetapi kalau masih ada sepercik sinar di dalam hatimu, hati seorang manusia yang berdiri di atas kemanusiaannya, dengarlah kata-kataku. Mungkin kata-kataku terakhir. Kalau aku tidak sempat melakukan, kuburkanlah mayat Angger Macan Kepatihan baik-baik. Ia adalah seorang yang berhati jantan, tetapi ia adalah seorang yang berhati lembut, selembut hati seorang ibu. Pada saat terakhirnya, ia berkorban untuk kalian, namun ia juga memikirkan hari-hari depan kalian. Hari-hari yang masih panjang, buat anak cucu kalian dan hari yang masih panjang buat Demak. Ayo! Sekarang aku sudah bersiap. Siapa yang pertama-tama? Sanakeling atau Tambak Wedi?”

Suara Sumangkar yang tua itupun terasa seakan-akan menusuk langsung ke setiap dada. Orang-orang Jipang yang mendengar suaranya seakan-akan darahnya menyadi beku. Mereka melihat orang tua itu menggenggam tongkatnya erat-erat, siap untuk terayun dengan derasnya.

Tetapi bukan hanya suara Sumangkar itu yang mempengaruhi hati setiap orang Jipang, makna dari kata-kata itupun telah menyentuh hati sebagian mereka pula.

Namun Sanakeling telah bena-benar bermata gelap. Dengan serta merta ia menarik pedangnya. Dan sekali lagi suaranya menggelegar memenuhi hutan. “Ayo, tangkap orang tua ini. Orang tua yang telah mengkhianati perjuangan kalian. Bahkan sampai hati untuk merendahkan diri mencium kaki orang-orang Pajang.”

Tiba-tiba orang-orang Jipang yang berdiri di muka gubug itupun seakan-akan bergetar. Beberapa orang menjadi saling berdesakan. Dan beberapa di antara merekapun tiba-tiba menarik pedangnya pula sambil berteriak menyambut perintah Sanakeling. “Kita telah siap Ki Lurah. Kita siap menangkap orang tua itu.”

Sumangkar memandang orang-orang Jipang itu dengan sudut matanya. Ia melihat beberapa orang bena-benar telah mengacungkan pedang-pedang mereka. Dan karena itulah maka hatinya bena-benar menyadi gelisah. Bukan karena ia takut mati. Tetapi apakah ia sampai hati urtuk menebaskan tongkatnya kepada orang-orang yang tidak menyadari apa yang akan dilakukannya itu? Karena itu ketika ia melihat beberapa orang di antara mereka berdesakan maju, maka kegelisahannya menyadi semakin menyekat hati.

Apalagi ketika di kejauhan terdengar suara Tambak Wedi, “Bagus. Kalian telah bertindak tepat. Kalau tidak ada di antara kalian yang dapat melakukannya, maka aku bersedia menolong kalian menangkap orang tua itu.”

Sumangkar berdesis. Kemarahannya kini telah memuncak pula. Tetapi kepada Ki Tambak Wedi. Bukan kepada orang-orang Jipang itu. Sehingga ketika ia melihat Sanakeling maju selangkah maka Sumangkar itu mundur setapak.

“Jangan mencoba lagi!” bentak Sanakeling.

Sumangkar menggeram. Namun tiba-tiba, sekali lagi ia terkejut. Kini ia melihat orang-orang Jipang itu seakan-akan terbagi. Beberapa orang yang telah menarik senjata mereka, seakan telah berkumpul di bagian depan dari orang-orang Jipang yang berkerumun itu. Tetapi sebagian yang lain masih tetap berdiri tegak di tempat mereka. Bahkan kemudian terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Tiba-tiba di antara mereka yang masih berdiri di tempatnya itu terdengar sebuah teriakan nyaring. “Jangan sentuh orang tua itu. Kami berdiri di pihaknya.”

Setiap orang berpaling ke arah suara itu. Sanakeling dan Sumangkar pun berpaling pula. Sebelum mereka melihat siapa yang berteriak itu, terdengar orang lain menyambut, “Kami berada di pihak Ki Sumangkar.”
Tanpa disangka-sangka pula, suara itu segera menjalar kesegala arah. Dengan suara yang melengking-lengking terdengar orang-orang Jipang itu berteriak-teriak, “Kami berada di pihak Ki Sumangkar.”

Setiap darah akan tersirap ketika mereka kemudian melihat senjata berkilauan. Kini bukan saja orang-orang yang berdiri di pihak Sanakeling menarik senjata-senjata mereka. Namun orang-orang yang berdiri di pihak Sumangkar pun telah menggenggam senjata-senjata mereka yang telanjang.

Yang paling nyaring dari antara mereka adalah suara Tundun, yang pada siang harinya hampir berusaha membunuh Sumangkar. Kini dengan sepenuh hati ia berteriak meskipun tangannya masih agak sakit. “Ki Sumangkar telah menyelamatkan kami siang tadi dari keganasan Ki Tambak Wedi. Aku telah dihidupinya meskipun aku berusaha untuk membunuhnya. Ternyata Ki Sumangkar adalah orang yang sebaik-baiknya dan sesakti-saktinya dalam perkemahan ini.”

“Tutup mulutmu!” bentak seorang yang lain, yang berdiri di pihak Sanakeling. “Kalau kau ingin mati bersamanya, ayo, matilah kau lebih dahulu.”

“Bagus,” teriak Tundun. “Siapa kau?”

Tundun melihat seseorang meloncat dari antara orang-orang Jipang yang memihak Sanakeling. Tetapi Tundun pun segera meloncat menyongsongnya. Bahkan bukan saja Tundun. Tetapi seorang yang bertubuh kecil dan bernama Bajang datang pula mendekatinya. Meskipun lukanya belum sembuh benar.

“Hem,” Bajang itu menggeram, “serahkan orang ini kepadaku. Aku setiap hari hanya mendapat pekerjaan memotong leher binatang-binatang. Kini aku akan mencoba memotong leher orang.”

Namun kawan-kawan orang itupun segera berloncatan pula. Mereka tidak akan melepaskan orang itu bertempur seorang diri. Dengan demikian maka kedua belah pihak telah berhadapan dalam kelompok dan pihak masing-masing.

Melihat peristiwa itu, alangkah sakitnya hati Sumangkar. Alangkah pedihnya. Karena itu ketika kedua belah pihak telah siap untuk bertempur, terdengarlah Sumangkar itu berteriak, “Berhenti! Berhenti! Apakah kalian, sudah menjadi gila? Bukankah kalian sedang berhadapan dengan kawan sendiri, yang selama ini telah bersama-sama menanggung segala macam derita dan kesulitan? Bukankah kalian selama ini telah terumbang-ambing dalam biduk yang sama. Tenggelam bersama dan mengambang bersama. Bila badai menempuh biduk itu, kalian bersama-sama dibuai dengan dahsyatnya, namun bila angin silir, kalian bersama-sama dibelai oleh kesegaran. Kini kalian telah siap berhadapan dengan senjata telanjang. Apakah kalian benar-benar telah menjadi gila?”

Orang-orang Jipang itupun tertegun diam. Masing-masing seakan-akan telah dipukau oleh suatu pesona mendengar kata-kata itu. Bahkan Sanakeling pun hanya berdiri saja mematung untuk sesaat. Tetapi ketika kemudian Sanakeling menyadari, bahwa sebagian dari orang-orang Jipang itu tidak mematuhi perintahnya, maka kembali darahnya bergelora dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap.

Sanakeling merasa bahwa sebagian dari laskar Jipang itu telah terpengaruh oleh Sumangkar untuk berkhianat kepadanya. Ya. Kepadanya. Kepada Sanakeling. Sehingga dengan nyaringnya ia berkata, “He. Siapa yang berpihak kepada Sumangkar adalah pengkhianat. Orang-orang itu harus dibinasakan pula bersama Sumangkar.”

Tetapi Sumangkar menyahut, “Dengarlah olehmu sekalian. Apapun yang kau dengar, baik dari mulutku, maupun dari mulut Angger Sanakeling adalah demi keselamatan kalian. Pesan Angger Tohpati berisi petunjuk supaya kalian dapat menemukan kedamaian hati dan kemungkinan yang terang di hari depan. Sedang perintah Angger Sanakeling mengandung makna, supaya kalian tetap dalam kejantanan jiwa seorang prajurit. Kalau kalian kemudian bertempur satu sama lain, maka kedua pesan itu sama sekali tak berarti. Kalian akan musnah, bukan sebagai prajurit-prajurit yang sedang mempertahankan harga diri seperti yang dimaksud oleh Angger Sanakeling. Bukan dalam kebesaran jiwa Jipang yang berjuang sampai tetes darah terakhir. Tetapi sebagai prajurit yang saling bunuh-membunuh berebut kebenaran, yang tidak berpangkal dan berujung. Juga kalian tidak akan dapat memenuhi pesan Angger Tohpati yang kalian segani, sebab kalian tidak akan sempat menemukan kedamaian hati dan hari depan yang baik. Kalian akan mati karena pedang kawan sendiri, dan kalian akan mati tertimbun bangkai sesama.”

Kembali orang-orang Jipang itu mematung. Sanakeling yang sudah meluap itupun kembali mematung pula.

Namun sayang, bahwa di antara mereka, berdiri seorang Tambak Wedi yang selalu meniup-niupkan bisa dari mulutnya. Ketika ia melihat keragu-raguan di antara mereka, kembali ia tertawa dan berkata, “Alangkah liciknya cara Sumangkar yang perkasa itu menyelamatkan diri. Bagi seorang prajurit, kebenaran adalah mutlak. Tidak pandang siapakah yang berdiri di hadapannya. Jangankan kawan seperjuangan. Bahkan sanak kadang, ayah kandung sendiri, kalau ia berkhianat, maka pedang kita akan menusuk ulu hatinya. Lebih baik berkawan sepuluh duapuluh orang yang setia daripada seratus dua ratus pengkhianat. Itulah pilihan Angger Sanakeling.”

“Tepat,” teriak Sanakeling, “tepat seperti kata-kata Ki Tambak Wedi. Ayo jangan ragu-ragu. Pedang kalian telah tertarik dari sarungnya.”

“Yang kalian anggap pengkhianat adalah Sumangkar,” teriak Sumangkar. “Kalau ada yang berpihak kepadaku adalah karena mereka terpengaruh kata-kataku. Nah, ayo. Kalau kalian ingin bertindak, bertindaklah terhadap Sumangkar. Kepada para prajurit Jipang yang mendengarkan pesan-pesan Tohpati lewat mulutku, aku minta kalian tidak perlu membela Sumangkar. Biarlah Sumangkar mati memeluk kewajiban yang dibebankan oleh pemimpinnya pada saat-saat terakhir, menyampaikan pesan itu kepada kalian. Lepaskan Sumangkar dan kalian dapat meninggalkan tempat ini menempuh jalan yang kalian kehendaki itu. Sekarang ayo, siapa yang akan membunuh Sumangkar?”

Sanakeling menggeram. Namun ia masih belum beranjak dari tempatnya. Ia tahu benar siapakah Sumangkar itu. Ia mengharap semua prajurit Jipang bersama-sama menangkapnya. Betapapun saktinya Sumangkar, namun ia pasti tidak akan dapat melawan semua orang yang berada di tempat itu. Tetapi tiba-tiba orang-orang Jipang itu terbelah. Hampir terbelah dua, yang masing-masing akan dapat bertempur dengan pemimpin saja mampu menangkap Sumangkar. Ketika ia berpaling dilihatnya Alap-alap Jalatunda. Anak muda itu berdiri dengan tegangnya. Namun wajahnya tidak meyakinkan Sanakeling, kepada siapa ia akan berpihak. Sedang beberapa orang yang lainpun sangat meragukannya.

Demikianlah maka setiap wajah kini dicengkam oleh keragu-raguan. Meskipun pedang Sanakeling telah bergetar namun kakinya sama sekali belum bergerak.

Dalam keragu-raguan itu terdengar kembali suara Ki Tambak Wedi, “Kenapa kau ragu-ragu Angger Sanakeling? Setidak-tidaknya yang sependapat dengan pendirianmu adalah separo. Serahkan mereka menyelesaikan pendirian masng-masing. Jangan hiraukan alasan-alasan cengeng yang keluar dan mulut Sumangkar. Sekarang Angger Sanakeling dapat menangkap dan sekaligus menghukum mati Sumangkar itu. Kalau Angger tidak sanggup karena kesaktian Sumangkar, biarlah Tambak Wedi membantumu.”

Mata Sanakeling yang liar menjadi bertambah liar. Tawaran itu menggembirakannya, sehingga ia menjawab, “Terima kasih Ki Tambak Wedi. Orang ini memang perlu mendapat sedikit peringatan. Peringatan atas kelicikannya membawa sebagian dari kita untuk berkhianat.”

“Tambak Wedi,” potong Sumangkar. “Kau bukanlah seorang dari antara kita. Tetapi mulutmu yang berbisa itu seakan-akan menentukan apa yang harus kita lakukan. Kau telah berhasil menghancurkan pasukan Jipang tanpa membawa seorang prajuritpun. Sehingga dengan demikian kau berhak mengenakan tanda jasa yang setingi-tingginya dari Pajang.”

Sekali lagi Tambak Wedi menggeram. Sumangkar masih mampu menangkis usahanya yang terakhir. Sesaat ia kehilangan kesempatan untuk mendororong Sanakeling bertindak lebih jauh. Apalagi ketika kemudian ia melihat Sanakeling menjadi ragu-ragu. Karena itu maka ia langsung sampai pada tujuannnya, katanya, “Hem. Sekali lagi kau menunjukkan kelicikanmu Sumangkar. Baiklah aku berterus terang. Muridku telah disisihkan oleh Untara setelah ia gagal berusaha membunuh senapati Pajang yang sombong itu. Ia hanya berhasil melukainya dengan parah. Tetapi Untara itu dapat sembuh dari sakitnya. Kini muridku datang untuk menawarkan diri kepada Angger Sanakeling. Bekerja bersama. Mungkin kita belum menemukan titik persamaan pendirian. Namun hal itu dapat dibicarakan kemudian.”

Darah Sanakeling tersirap mendengar tawaran itu. Alangkah baiknya. Selagi ia kehilangan seorang pemimpin yang kuat, tiba-tiba ia akan mendapat kawan dalam meneruskan perjuangan, meskipun perjuangan itu tidak lebih dari menyebarkan dendam di mana-mana.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 6 September 2008 at 19:03  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. he eh, terusane ndi mas DD

  2. Pro : mas Anggoro Hoediyanto Yth,
    di blognya mas rizal anda pernah komunikasi dgn mas doellah
    yang katanya udah scan jilid 1 -100 (seri I).
    apa anda dah jadi minta bahan ke beliau?
    kalaw dah ada scan an jilid 1-100, kan tinggal bagi ke qta2.
    biar cepet postingannya.
    gmn mas? mau bagi2 bahan mentah ke saya?
    atau bisa merekomendasikan sy ke mas Doellah?

  3. Just curious Bung DD,
    Memangnya selama ini sampai akhir jilid 13 bahannya diperoleh dari mana?
    Saya kira selama ini bahan disuplai oleh bung Doellah.
    Menurut saya ini penting untuk meluruskan ‘sejarah’ ADBM online ini. Kalau bahan diperoleh dari jasa scan relawan yang lain, sangatlah perlu untuk disebutkan nama2nya sekedar sbg penghargaan atas usahanya, karena pekerjaan menyecan sama pentingnya dengan pekerjaan menyunting.
    Kalau penyuplai hasil scan bung Doellah, patutlah namanya disejajarkan dengan nama bung Rizal (dicantumkan di halaman pengantar). Saya yakin dengan demikian beliau akan dengan lapang hati menyumbangkan hasil scannya, bukan hanya halaman per halaman, atau jilid per jilid akan tetapi keseluruhan 100 jilid. Sayapun sejak awal telah menyanggupi untuk membantu mentransfer jpg-doc (bukan mengedit) berapapun besarnya file.
    Saya menunggu respons bung Doellah melalui media ini. Kalau tidak, mudah2an saya dpt menghubunginya melalui japri.
    Salam, GI.

    DD: Saya akan minta ijin ybs kalau boleh saya publish namanya. Buat saya yang penting lancar, meskipun sehalaman demi sehalaman, sejilid demi sejilid.

  4. Pro: OREL Yth,

    Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah komunikasi dengan mas Doelah soal bantu retype or ngeproof, tapi karena 1 & lain hal, bahan yang dikirim ke saya belum sempat saya kirim balik & melihat perkembangan yang ada saat ini, bagian saya itu sudah jadi jauh tertinggal.

  5. sorry baru gabung
    dimana saya bisa dapat pdf adbm ya ?
    jilid berapa aja ?
    lalu ada yg bisa saya bantu untuk mem pdf kan jilid yang belum ?

  6. Pro para cantrik ADBM…
    tolong dong kasih tau caranya donlot step by stepnya…
    saya udah coba kok gagal terus?…

    Salam ADBM

  7. Muantap,
    dialog Kiai Gringsing vs Ki Tambak Wedi
    dan Ki Sumangkar vs Sanakeling.

    • lebih Muantap lagi,
      dialog Ki Senopati vs Nyi Senopati ADBM
      dan pedang2an Ki GunduL vs Ni Pandan Wangi

      • carane donlot pripun to ki gund ?
        (arep donlot nyaine aaaah …)

        • gampang kemawon kok ki….yang terlihat merah panjenengan
          SEdot kemawon…!!??

          mugi2 mboten kleru leh nyedot Ki…..mangga-mangga !!??

          • SEKAR MIRAH

            Se = sak
            Kar = lapangan/alun2
            Mirah = abang

            pada karo :
            sak lapangan abang kabeh.
            (weh.kok.kaya kampanye partai)

            • gring=lara
              sing=?

              • Sing=pusing
                Gringsing berarti…lara mumet 😀

              • bisa juga :

                Sing=***sing
                Gringsing berarti…lara weteng 😀 😀 😀

              • swandaru,

                swan : kaos dalam
                daru : bengi

                pada karo :
                copot kaos wektu bengi ato OTE-OTE…..hikss

  8. Iki kok pada mbalik lagi di gandok-gandok awal to?

    • ..mengenang masa lalu…..

      • ..semasa P Satpam belum jadi……maptas ! 😀

    • Lha dho seneng plorotan , njur dho sami kungkum asyiikkkk

      • rancak bana huhuuu

        • rancak = podho seneng

          bana = mbak Ana

          dadi , dho seneng nginthil mbak Ana

          • wah ki mangku ki jan lantip saestu

            • Cantrik adbm he..he..he…

              • adbm gituh

                • Lha maha guru alias dhosenne ajejuluk ki Ajar Gembleh .mesthi kemawon poro cantrike sami lantip lan prigel ing samubarangkawis .

                  • terang terwoco ki mangku, kyai dosen ajar resi pandita panembahan tumenggung gembleh pol

  9. Kirang setunggal gelaripun njih meniko Kanjeng Gusti Adipati …………….ingkang jumeneng wonten Kadhipaten Karang Talun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: