Buku 13

Sanakeling pun menjadi tidak sabar pula. Beberapa langkah ia maju mendekati Sumangkar sambil berkata, “Berkatalah, jangan melingkar-lingkar. Apakah pesan terakhir itu. Kami akan melakukannya. Aku adalah pemimpin laskar Jipang sepeninggal Macan Kepatihan. Dan aku sanggup untuk memimpin pasukan ini berbuat apa saja. Meskipun aku harus membakar istana Pajang sekalipun dan merampas permaisurinya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sahutnya, “Baik. Baik. Akan segera aku katakan.” Namun di dalam hati Sumangkar bergumam, “Kalau kau mampu Sanakeling, kau tidak akan berkeliaran di dalam hutan seperti sekarang. Apalagi kau, sedang Arya Penangsang dan Patih Mantahun pun tidak mampu melawan Ki Gede Pemanahan, Penjawi, dan anak muda Ngabehi Loring Pasar, di samping Adiwijaja sendiri.”

Tetapi kemudian yang dikatakan adalah pesan terakhir Macan Kepatihan. Sambil melangkah maju, Sumangkar menengadahkan wajahnya. Gubug itu kemudian menjadi sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah deru nafas orang-orang Jipang itu memburu lewat lubang-lubang hidung mereka yang mengembang. Mereka ingin mendengar kata demi kata, pesan dari pemimpin mereka yang mereka segani.

“Dengarlah,” berkata Sumangkar, “sudah aku katakan bahwa pesan itu terlampau berat bagi kami, sebab pesan itu berbunyi,” Sumangkar berhenti sesaat. Ditatapnya setiap wajah yang seolah-olah menyalakan tekad di dalam dada mereka. Sesaat kemudian Sumangkar meneruskan, dan kata-katanya terdengar seperti suara guntur dan guruh bersama-sama, beruntun susul-menyusul.

“Pada saat nafas Angger Tohpati telah satu-satu meluncur, ia berkata ’Kematianku adalah akhir daripada bencana yang menimpa rakjat Demak. Aku adalah sisa terakhir dari Senapati yang mendapat kepercayaan para prajurit Jipang. Sepeninggalku aku meng-harap bahwa mereka akan membuat perhitungan-perhitungan. Bukankah begitu paman Sumangkar?’ Kemudian diteruskannya pada kesempatan lain di mana nafasnya menjadi semakin lemah, berkata Macam Kepatihan itu, ’Mudah-mudahn kematianku menjadi pertanda bahwa tak ada gunanya perselisihan ini akah berlangsung terus.’ Dan Sumangkar itupun berhenti sesaat. Dengan tajamnya ia memandangi orang-orang yang berdiri di sekitarnya.

Setiap orang yang mendengar kata-kata Sumangkar itu, darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Pesan itu sama sekali bukan pesan untuk membunuh Untara, Widura atau Adiwijaya sekali. Bukan perintah untuk membakar istana Pajang dan melakukan serangkaian pembunuhan sebagai pembalasan. Tetapi pesan itu seolah-olah pesan yang sama sekali bertentangan dengan dugaan mereka.

Suasana yang sepi bertambah sepi. Mulut-mulut yang meskipun ternganga namun serasa terbungkam. Hati-hati yang membara seolah-olah meledak justru karena tersiram air dengan tiba-tiba. Tetapi mereka semua benar-benar tenggelam dalam perasaan yang aneh. Bingung dan kehilangan dasar tanggapan seterusnya.

Sumangkar membiarkan suasana itu berlangsung beberapa lama. Dibiarkannya setiap orang berada dalam pergolakan perasaan. Dibiarkannya mereka sampai pada kesimpulan masing-masing apabila mereka telah menemukan keseimbangan dan sempat mempertimbangkan.

Namun suasana yang sepi itu tiba-tiba dipecahkan oleh teriakan Sanakeling melengking menghentak setiap jantung. “Paman Sumangkar. Apakah arti daripada pesan itu. Apakah dengan demikian Kakang Macan Kepatihan mengharap kita semua bertekuk lutut di bawah kaki Untara? He?”

Sumangkar tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia sudah menduga sebelumnya, bahkan hampir pasti, bahwa Sanakeling adalah orang yang pertama menolak pesan itu. Karena itu dengan tenang ia menjawab, “Ya Ngger. Demikianlah kira-kira pesan itu. Namun agaknya pertimbangan Angger Macan Kepatihan telah cukup masak untuk mengucapkan pesan-pesan itu.”

“Jadi haruskah kami merangkak-rangkak di bawah kaki Untara seperti anjing kudisan?” teriak Sanakeling.

“Kata-kata itu terlampau tajam.”

“Tidak. Kata-kata itu tepat seperti yang akan terjadi apabila kita menuruti pesan itu. Dan kita akan dijerat leher kita, diseret di sepanjang jalan antara Sangkal Putung dan Pajang. Dipertontonkan kepada setiap orang sebelum kita digantung di alun-alun Pajang. Berderet-deret seperti jemuran yang tidak kering-keringnya.”

Sumangkar mendengar kata-kata itu diucapkan dengan penuh nafsu. Bahkan Sumangkar pun kemudian melihat wajah-wajah yang seakan-akan membeku di hadapannya, mulai menegang. Kata-kata Sanakeling agaknya telah menggugah hati mereka. Menggugah hati keprajuritan mereka.

Karena itu segera Sumangkar berkata, “Angger Sanakeling benar. Tetapi tidak tepat sebab aku belum mengatakan rangkaian dari pesan itu. Pesan itu diucapkan oleh Angger Tohpati di hadapan Untara yang menungguinya pula pada saat-saat terakhir. Menungguinya tidak seperti dua orang yang sedang bermusuhan. Agaknya mereka di saat-saat terakhir itu telah mengenangkan masa-masa lampau. Masa-masa Demak masih diikat oleh tali persatuan yang erat. Keduanya adalah sahabat yang baik dari dua daerah Kadipaten. Angger Macan Kepatihan dari Kadipaten Jipang dan Angger Untara dari Kadipaten Pajang. Pertentangan antara Jipang dan Pajang telah mempertentangkan mereka pula. Namun kebesaran jiwa dari keduanya telah menemukan kembali persahabatan itu di saat-saat Angger Macan Kepatihan menghadapi maut. Meskipun maut itu beralatkan tangan Untara sendiri.”

Kembali mereka diterkam oleh kesenyapan. Terasa setiap kata, baik yang diucapkan oleh Sumangkar maupun yang diucapkan Sanakeling benar belaka. Meskipun makna dari keduanya berlainan bahkan bertentangan. Karena itu, setiap jantung yang berdegup di dalam dada menjadi bingung siapakah yang akan dianut? Sumangkar melihat hari depan yang tenang, hari depan yang damai. Mereka tidak akan lagi berlari-larian sepanjang hutan. Mereka tidak perlu lagi selalu dikejar-kejar oleh kegelisahan. Mereka akan dapat hidup seperti manusia biasa. Meskipun mungkin sebulan dua bulan mereka tidak dapat bebas berbuat karena hukuman yang akan diterimamja. Namun setelah itu, tidak ada lagi persoalan yang selalu menghantuinya siang dan malam. Seluruh negeri akan menjadi aman. Pasar-pasar akan kembali mengumandang, dan di malam hari kembali akan terdengar tembang. Seruling gembala di padang-padang dan anak-anak bermain di halaman. Orang-orang tua akan menikmati bunyi burung perkutut dengan tenang.

Tetapi gambaran-gambaran yang damai dan tenteram itu tiba-tiba telah digoyahkan oleh pendirian Sanakeling. Pendirian seorang prajurit yang tidak dapat ditundukkan oleh peristiwa-peristiwa yang bagaimanapun dahsyatnya. Mereka akan menjadi orang tangkapan dan diarak sebagai tawanan apabila mereka menyerah. Hilanglah kejantanan mereka, dan harga diri mereka akan terkorbankan. Lebih baik mengorbankan nyawa daripada harga diri bagi seorang prajurit sejati. Apabila mereka harus berlari-lari ke hutan, bersembunyi di antara semak-semak dan gerumbul, di antara padang-padang dan lereng-lereng gunung, adalah akibat dari perjuangan mereka. Akibat dari keteguhan hati seorang prajurit yang tidak miyur.

Demikianlah setiap wajah kemudian memancarkan kebimbangan hati yang tiada ujung pangkal. Keduanya benar bagi mereka. Keduanya mapan, dan keduanya wajib diturut. Pesan terakhir pemimpin mereka yang mereka segani lewat paman gurunya yang perkasa, dan yang lain adalah pendapat senapati yang seharusnya langsung memimpin mereka sepeninggal Macan Kepatihan.

Dalam kebimbangan itu terdengar kemudian suara Sanakeling seperti membelah langit, “Paman Sumangkar. Aku adalah seorang prajurit. Prajurit hanya mengenal dua arti dalam perjuangannya. Menang atau mati. Selain itu, adalah nista sekali untuk dijalani. Apalagi menyerahkan dan di bawah injakan kaki lawan. Apakah paman Sumangkar ini telah bukan lagi seorang pradajurit yang baik?”

Sumangkar memandangi wajah Sanakeling sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Aku hanya menyampaikan pesan terakhir Angger Macan Kepatihan.” Kemudian kepada para prajurit Jipang Sumangkar berkata, “Pesan itu adalah pesan Macan Kepatihan yang sampai saat terakhir telah mengorbankan jiwa raganya sebagai seorang prajurit jantan. Sebagai seorang pemimpin sejati ia telah berusaha melindungi kalian. Nah, katakanlah, apakah ia seorang prajurit yang baik atau bukan, Hai, orang-orang Jipang. Sebutlah pemimpinmu itu, apakah ia seorang prajurit yang baik atau bukan? Ayo, katakanlah, apakah Macan Kepatihan seorang prajurit yang baik atau se-orang pengecut?”

Terdengarlah jawaban menggemuruh, “Ia adalah seorang prajurit yang baik. Seorang laki-laki jantan. Seorang senapati yang tiada taranya.”

“Bagus,” sahut Sumangkar. “Pesan itu keluar dari mulutnya. Keluar dari mulut seorang senapati jantan, keluar dari mulut seorang prajurit yang baik.”

“Bohong!” potong sanakeling dengan nada yang tinggi. “Senapati yang baik, prajurit jantan tidak akan mengeluarkan perintah serupa itu. Itu pasti akal-akalmu sendiri, Paman Sumangkar. Itu pasti caramu untuk melepaskan kejemuanmu sendiri.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Sanakeling berbicara terus, “Aku tidak percaya kalau Kakang Tohpati telah mengeluarkan pesan itu.”

Sumangkar tidak mau kahilangan kesempatan. Karena itu segera ia menyahut, “Itulah bedanya. Seorang yang berjiwa besar dan orang lain yang tidak dapat mengikuti kebesaran jiwanya. Kalian dapat berpikir untuk terlalu mementingkan diri sendiri. Kalian dapat berpijak pada harga diri yang berlebih-lebihan. Harga diri seorang prajurit yang pantang menyerah. Tetapi itu adalah pikiran yang sempit. Prajurit tidak akan menyerah apabila ia berjuang untuk suatu cita-cita yang tegas, suatu cita-cita yang diyakini kebenarannya. Tetapi apakah kalian berbuat demikian? Apakah kalian yakin, bahwa kalian telah berjuang dalam suatu pengabdian sebagai seorang prajurit. Coba katakan, apakah yang kalian capai dengan peperangan yang tiada ujung dan pangkal ini?”

“Kau telah berputus asa, paman Sumangkar,” teriak Sanakeling. “Kau telah kehilangan akal. Perjuangan Arya Penangsang adalah perjuangan atas hak dan waris atas tahta. Ini adalah perjuangan jantan. Perjuangan yang luhur.”

“Bukankah perjuangan itu telah berpijak atas kepentingan diri? Warisan atas tahta-tahta. Bukan perjuangan atas dasar yang luas bagi seluruh rakyat Demak untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka? Perjuangan itu adalah perjuangan yang sempit. Warisan memang dapat membuat sanak dan kadang sendiri saling bertengkar. Tetapi jangan rakyat dikorbankan dalam pertengkaran itu. Bagi rakyat yang penting bukan siapa ahli waris yang paling berhak atas tahta. Tetapi bagi rakyat, siapakah yang paling baik bagi mereka, yang paling banyak berpikir dan berbuat untuk mereka. Tidak untuk sendiri. Tidak untuk seorang atau beberapa orang pemimpin. Tidak untuk Arya Penangsang atau Adiwijaya. Tidak. Tetapi bagi rakyat, siapakah paling langsung berbuat banyak untuk kepentingan mereka, ialah yang paling berhak atas pimpinan negara. Orang itulah ahli waris yang sah atas tahta.”

Kata-kata Sumangkar itu mencengkam setiap hati. Namun kata-kata Sanakeling telah membakar setiap jantung dan mendidihkan darah yang mengalir di dalam jaringan-jaringan urat darah. Keduanya beralasan dan keduanya dapat mereka mengerti. Karena itulah maka setiap orang menjadi semakin bimbang, siapakah di antara mereka yang harus mereka turuti.

Mendengar penjelasan Sumangkar, Sanakeling menggeram marah. Kemudian kepada prajurit-prajurit Jipang ia berteriak, “Akulah pemimpin kalian sepeninggal Macan Kepatihan. Semua perintahku sama nilainya dengan perintah Kakang Tohpati.”

Semua mata kemudian berpaling ke arahnya. Sanakeling itupun kini telah berdiri di ambang pintu di samping Sumangkar. Wajahnya yang keras dan penuh ditandai oleh dendam dan kebencian telah menyala seperti nyala api neraka. Tetapi Sumangkar masih tetap tenang. Ia tidak menyahut dan memotong kata-kata Sanakeling. Dibiarkannya Sanakeling berbicara pula, “Kita telah kehilangan pemimpin kita. Sekarang orang tua ini menganjurkan kita merangkak di bawah kaki Untara. Tidak! Dengar perintahku, Kobarkan dendam di segala penjuru. Setiap orang Jipang harus mendengar bahwa Macan Kepatihan mati dengan luka arang kranjang karena kebiadaban orang-orang Pajang seperti pada saat Plasa Ireng terbunuh dengan dada dan punggung terbelah. Macan Kepatihan itu sama nilainya dengan seribu orang Pajang dan setiap nyawa di antara kita bernilai seratus orang Pajang. Timbulkan kengerian di mana-mana. Setiap orang Pajang bertanggung jawab atas kematian Macan Kepatihan, sehingga kepada mereka dendam kita dapat kita tumpahkan.”

Bulu-bulu kuduk Sumangkar meremang mendengar perintah itu. Perintah itu telah diduganya akan terjadi seandainya orang-orang Jipang itu tidak mendapat keseimbangan. Perintah itu berarti pembunuhan yang semena-mena atas semua orang yang akan ditemui oleh Sanakeling. Semua orang Pajang diperlakukan sama. Karena itu maka segera ia berkata, “Bagus. Apabila Angger Sanakeling bertekad demikian. Aku tidak akan menghalang-halangi, sebab aku tidak mempunyai pendirian tersendiri.”

Sanakeling yang segera akan memotong kata-kata Sumangkar tertegun mendengarnya. Karena itu niatnya diurungkan. Terasa bahwa Sumangkar telah mundur setapak dari pendiriannya.

Dan terdengar kata-kata Sumangkar itu, “Apa yang aku katakan hanyalah sekedar pesan. Pesan Angger Tohpati yang telah terbunuh karena melindungi nyawa kita. Seandainya Macan Kepatihan itu tidak mengorbankan nyawanya, maka kitalah yang akan mati terlebih dahulu. Dan kitalah yang akan mengucapkan pesan-pesan itu kepada orang terakhir yang kita temui. Dan dalam pesan-pesan yang terakhir itulah sebenarnya kita akan menunjukkan nilai dan kebesaran jiwa kita. Namun apabila kini dikehendaki lain oleh seseorang yang berwenang, aku akan menundukkan kepala. Memenuhi perintah yang akan dijatuhkan. Tetapi kitapun akan segera mendengar perintah yang serupa keluar dari mulut Untara. Bahkan mungkin dari mulut Ki Gede Pemanahan atau Adiwijaya sendiri. Perintah itu akan berbunyi serupa, ’Bunuhlah setiap orang Jipang siapapun sebab mereka semuanya turut bertanggung jawab atas kerusuhan-kerusuhan yang terjadi’. Dan orang-orang Pajang akan melakukan perintah itu sebaik-baiknya. Apalagi mereka, yang sanak kadangnya akan menjadi korban perintah Angger Sanakeling. Malah mereka akan dapat mengamuk seperti orang mabuk. Anak-anak kita, isteri, ayah bunda dan saudara-saudara kita yang sekarang selalu berada di dalam kegelisahan karena mereka menunggu kita pulang ke rumah. Namun yang sampai sekarang mereka masih dibiarkan hidup dan menetap di rumah-rumah mereka sendiri. Tetapi apabila kita melakukan perintah Angger Sanakeling itu, akan dapat berarti menekan mereka ke dalam lembah kehancuran. Bukan orang-orang Pajang saja, tetapi orang-orang Jipang. Semua akan musnah. Dan rakyat Demak akan menjadi punah. Hancur lebur. Bunuh membunuh tiada habis-habisnya. Demak akan lenyap dibakar oleh dendam yang tiada akan dapat dipadamkan lagi.”

Terdengar gigi Sanakeling menggeretak mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak segera dapat menyahut. Kata-kata itu meresap ke dalam dadanya seperti meresapnya berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus ujung jarum ke dalam jantungnya. Tetapi ia dapat mengerti dan mengakui bahwa hal yang sedemikian itu mungkin terjadi.

Kembali gubuk dan sekitarnya itu ditelan oleh kesenyapan. Dalam keheningan itu maka orang-orang Jipang sempat berpikir. Menimbang yang baik dan yang buruk. Menilai makna dari setiap kata kedua orang pemimpin yang telah membingungkan hati mereka.

Kembali mereka berdiri di persimpangan jalan. Mereka dapat mengerti sepenuhnya kata-kata Sumangkar, namun mereka sependapat pula dengan Sanakeling bahwa mereka harus mempertahankan harga diri mereka sebagai seorang prajurit. Tetapi merekapun menjadi ngeri ketika mereka mendengar uraian Sumangkar yang terakhir setelah darah mereka dibakar oleh perintah Sanakeling. Semula perintah itu telah menggelegak di dalam dada mereka. Semua orang Pajang harus dimusnahkan. Tetapi bagaimana kalau berlaku pula perintah yang serupa yang dikatakan Sumangkar. Bagaimana dengan anak-anak, isteri, dan sanak kadang mereka yang tidak tahu-menahu tentang perbuatan mereka?

Perlahan-lahan maka setiap orang telah terdorong dalam satu pilihan di antara keduanya. Tetapi sayang, bahwa tidak semua dada berisi jantung dan hati yang serupa. Tanpa diketahui, maka pendirian orang-orang Jipang itu terbelah seperti pendirian pemimpinnya. Sebagian dari mereka terdorong ke dalam pendirian Sumangkar, dan sebagian lagi terseret oleh api kemarahan Sanakeling.

Namun dalam pada itu, ketika mereka sedang dilanda oleh arus kebimbangan, terdengarlah suara tertawa di belakang mereka, di belakang orang-orang Jipang itu. Suara tertawa yang tinggi melengking menyakitkan telinga mereka yang mendengarnya.

Seperti digerakkan oleh tenaga ajaib, serentak mereka semuanya yang berada di tempat itu berpaling. Mereka serentak mencari sumber suara itu. Namun mereka tidak segera dapat melihat. Tabir yang hitam pekat seakan-akan telah menyekat pandangan mata mereka.

Sementara itu, suara tertawa itu masih terdengar. Bahkan semakin lama semakin keras.

Sanakeling yang mendengar pula suara tertawa itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menjadi muak, dan tiba-tiba pula ia berteriak keras-keras, “Cukup! Jangan membuat jantungku pecah. Siapakah yang tertawa itu?”

Suara tertawa itu masih terdengar. Namun kini menjadi semakin perlahan-lahan. Di antara derai tertawa itu terdengar jawaban, “Aku angger Sanakeling.”

“Aku siapa?” teriak Sanakeling. “Setiap orang menyebut dirinya dengan sebutan serupa. Aku.”

Suara tertawa itu kemudian berhenti. Tetapi mereka tidak segera mendengar jawaban. Sejenak mereka menunggu, dan terasa malam yang sepi menjadi semakin sepi.

“Siapa kau, he?” sapa Sanakeling semakin keras. “Siapa yang telah berani memasuki perkemahan prajurit Jipang? Apakah sudah jemu melihat matahari besok pagi?”

“Jangan lekas marah,” jawaban itu semakin mengejutkn. Terdengar Suara itu kini sudah menjadi semakin dekat. Namun gelap malam masih melindunginya, sehingga belum seorangpun yang dapat melihatnya. Tetapi orang-orang Jipang itu merasa, Sanakeling dan Sumangkar merasa, bahwa orang itu pasti dapat melihat mereka dengan jelas karena cahaya-cahaya obor di dekat mereka.

Tetapi orang itu tidak, berusaha bersembunyi terlalu lama.

Sesaat kemudian orang-orang Jipang itu menjadi tegang ketika mereka melihat bayangan yang bergerak-gerak di bawah pepohonan. Bayangan yang semakin lama menjadi semakin jelas. Ketika kemudian cahaya obor yang lemah dapat mencapainya, maka terbersitlah hati setiap orang yang melihatnya. Orang itu adalah seorang tua, bermata tajam dan berhidung lengkung seperti paruh burung hantu.

Beberapa orang yang telah mengenalnya mendjadi berdebar-debar karenanya. Sementara itu terdengar Sumangkar berdesis, “Ki Tambak Wedi.”

Orang yang datang itu adalah Ki Tambak Wedi. Ketika ia telah bendiri beberapa langkah dari para prajurit Jipang yang berkerumun itu, kembali orang tua itu tertawa. Tetapi suara tertawanya kini tidak lagi terlalu keras.

Sanakeling yang mendengar Sumangkar menyebut namanya mengerutkan keningnya. Inikah orang yang bernama Ki Tambak Wedi, guru Sidanti? Tiba-tiba dada Sanakeling itu bergolak. Tanpa dikehendakinya sendiri terdengar Sanakeling itu berteriak, “He, adakah kau yang disebut orang Ki Tambak Wedi dari lereng Gunung Merapi?”

Orang itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya. Mereka yang sudi menyebut namaku, demikianlah.”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi semakin tegang dan kembali tanpa dikehendakinya sendiri tangannya meraba hulu pedangnya.

“Apakah maksudmu datang kemari?” bertanya Sanakeling itu pula.

Ki Tambak Wedi tersenyum. Wajahnya yang keras itu menjadi kemerah-merahan oleh sinar obor yang mengusapnya. Jawabnya, “Aku tidak akan berbuat apa-apa Ngger. Jangan berprasangka. Aku hanya ingin sekedar mendengarkan, apakah yang akan dikatakan oleh pepunden para prajurit Jipang.”

Sanakeling mengerutkan keningnya. “Pepunden?” ulangnya.

“Ya. Bukankah Adi Sumangkar itu seorang pepunden bagi para prajurit Jipang?”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Adi Sumangkar sendiri.”

“Bohong!” teriak Sanakeling.

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tidak saja berhadapan dengan Sanakeling yang ternyata berbeda pendirian dengan dirinya. Namun tiba-tiba datang Ki Tambak Wedi yang licik itu. Dengan sebutannya yang pertama-tama diucapkan, segera Sumangkar tahu maksud kedatangan hantu lereng Merapi itu. Dan lebih celaka lagi tanggapan yang pertama-tama diucapkan oleh Sanakeling adalah sangat menguntungkan hantu itu. Meskipun demikian Sumangkar tidak segera menyahut. Dicobanya untuk menilai keadaan dengan seksama. Namun ia belum menemukan pertimbangan yang tepat, sebab ia belum tahu tanggapan para prajurit Jipang itu, atas pendiriannya dan pendirian Sanakeling.

Mendengar teriakan Sanakeling yang serta merta itu, Ki Tambak Wedi tersenyum. Kemudian katanya lebih lanjut, “Ah. Jangan menyia-nyiakan orang tua itu Angger. Bukankah Ki Sumangkar itu adik seperguruan Patih Mantahun. Bukankah Adi Sumangkar itu paman guru dari pemimpinmu yang kau segani, Macan Kepatihan?”

“Aku hormati Patih Mantahun yang sakti itu. Aku hormati Kakang Raden Tohpati yang perkasa. Tetapi Paman Sumangkar dalam kedudukannya adalah seorang juru masak. Tidak lebih dan tidak kurang.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 6 September 2008 at 19:03  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. he eh, terusane ndi mas DD

  2. Pro : mas Anggoro Hoediyanto Yth,
    di blognya mas rizal anda pernah komunikasi dgn mas doellah
    yang katanya udah scan jilid 1 -100 (seri I).
    apa anda dah jadi minta bahan ke beliau?
    kalaw dah ada scan an jilid 1-100, kan tinggal bagi ke qta2.
    biar cepet postingannya.
    gmn mas? mau bagi2 bahan mentah ke saya?
    atau bisa merekomendasikan sy ke mas Doellah?

  3. Just curious Bung DD,
    Memangnya selama ini sampai akhir jilid 13 bahannya diperoleh dari mana?
    Saya kira selama ini bahan disuplai oleh bung Doellah.
    Menurut saya ini penting untuk meluruskan ‘sejarah’ ADBM online ini. Kalau bahan diperoleh dari jasa scan relawan yang lain, sangatlah perlu untuk disebutkan nama2nya sekedar sbg penghargaan atas usahanya, karena pekerjaan menyecan sama pentingnya dengan pekerjaan menyunting.
    Kalau penyuplai hasil scan bung Doellah, patutlah namanya disejajarkan dengan nama bung Rizal (dicantumkan di halaman pengantar). Saya yakin dengan demikian beliau akan dengan lapang hati menyumbangkan hasil scannya, bukan hanya halaman per halaman, atau jilid per jilid akan tetapi keseluruhan 100 jilid. Sayapun sejak awal telah menyanggupi untuk membantu mentransfer jpg-doc (bukan mengedit) berapapun besarnya file.
    Saya menunggu respons bung Doellah melalui media ini. Kalau tidak, mudah2an saya dpt menghubunginya melalui japri.
    Salam, GI.

    DD: Saya akan minta ijin ybs kalau boleh saya publish namanya. Buat saya yang penting lancar, meskipun sehalaman demi sehalaman, sejilid demi sejilid.

  4. Pro: OREL Yth,

    Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah komunikasi dengan mas Doelah soal bantu retype or ngeproof, tapi karena 1 & lain hal, bahan yang dikirim ke saya belum sempat saya kirim balik & melihat perkembangan yang ada saat ini, bagian saya itu sudah jadi jauh tertinggal.

  5. sorry baru gabung
    dimana saya bisa dapat pdf adbm ya ?
    jilid berapa aja ?
    lalu ada yg bisa saya bantu untuk mem pdf kan jilid yang belum ?

  6. Pro para cantrik ADBM…
    tolong dong kasih tau caranya donlot step by stepnya…
    saya udah coba kok gagal terus?…

    Salam ADBM

  7. Muantap,
    dialog Kiai Gringsing vs Ki Tambak Wedi
    dan Ki Sumangkar vs Sanakeling.

    • lebih Muantap lagi,
      dialog Ki Senopati vs Nyi Senopati ADBM
      dan pedang2an Ki GunduL vs Ni Pandan Wangi

      • carane donlot pripun to ki gund ?
        (arep donlot nyaine aaaah …)

        • gampang kemawon kok ki….yang terlihat merah panjenengan
          SEdot kemawon…!!??

          mugi2 mboten kleru leh nyedot Ki…..mangga-mangga !!??

          • SEKAR MIRAH

            Se = sak
            Kar = lapangan/alun2
            Mirah = abang

            pada karo :
            sak lapangan abang kabeh.
            (weh.kok.kaya kampanye partai)

            • gring=lara
              sing=?

              • Sing=pusing
                Gringsing berarti…lara mumet 😀

              • bisa juga :

                Sing=***sing
                Gringsing berarti…lara weteng 😀 😀 😀

              • swandaru,

                swan : kaos dalam
                daru : bengi

                pada karo :
                copot kaos wektu bengi ato OTE-OTE…..hikss

  8. Iki kok pada mbalik lagi di gandok-gandok awal to?

    • ..mengenang masa lalu…..

      • ..semasa P Satpam belum jadi……maptas ! 😀

    • Lha dho seneng plorotan , njur dho sami kungkum asyiikkkk

      • rancak bana huhuuu

        • rancak = podho seneng

          bana = mbak Ana

          dadi , dho seneng nginthil mbak Ana

          • wah ki mangku ki jan lantip saestu

            • Cantrik adbm he..he..he…

              • adbm gituh

                • Lha maha guru alias dhosenne ajejuluk ki Ajar Gembleh .mesthi kemawon poro cantrike sami lantip lan prigel ing samubarangkawis .

                  • terang terwoco ki mangku, kyai dosen ajar resi pandita panembahan tumenggung gembleh pol

  9. Kirang setunggal gelaripun njih meniko Kanjeng Gusti Adipati …………….ingkang jumeneng wonten Kadhipaten Karang Talun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: