Buku 13

Sumangkar mengangguk. Kemudian ia meneruskan langkahnya. Namun baru beberapa langkah ia mendengar prajurit itu bertanya dengan nada yang aneh, “He, Sumangkar. Siapakah itu?”

Sumangkar berhenti sejenak. Kemudian jawabnya, “Inilah yang sedang mereka tunggu.”

“He?” tiba-tiba prajurit itu gematar. Mulutnya serasa terbungkam dan dengan lemahnya ia tersandar pada sebatang pohon di samping kemah Macan Kepatihan itu.

Sumangkar melihat betapa besar pengaruh hilangnya Macan Kepatihan atas para prajurit Jipang. Mereka seakan-akan kehilangan kekuatannya. Meskipun Macan Kepatihan seorang saja tidak akan mampu berbuat apa-apa tanpa prajuritnya dan para pejuang lain, namun pengaruh dan wibawanya seakan-akan telah mencengkam segenap hati anak buahnya.

Sumangkar tidak berkata apa-apa lagi kepada prajurit itu. Sambil menundukkan kepalanya ia berjalan terus ketika ia sampai di muka pintu, ia tertegun sejenak. Dilihatnya cahaya obor memancar lewat pintu yang masih terbuka sedikit jatuh di atas tanah yang kotor lembab.

Dengan ragu-ragu Sumangkar mendekat. Disentuhnya pintu itu dengan tongkatnya. Dan tiba-tiba ia mendengar suara dari dalam pintu itu menyentak, “Kakang tohpati.”

Sanakeling terlonjak ketika dilihatnya sebatang tongkat baja putih menyentuh pintu. Dengan sebuah loncatan ia telah mencapai pintu diikuti oleh beberapa orang lain. Tetapi ketika ia melihat, siapa yang berdiri di muka pintu dan apa yang dibawanya, maka serasa darahnya membeku. Dengan suara yang serak parau ia berkata, “Paman Sumangkar, apakah itu Kakang Tohpati?”

Sumangkar mengangguk. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata. Ketika ia melangkahi tlundak pintu semua orang yang berdiri di dalamnya, menyibak. Merekapun terdiam seperti Sumangkar. Dengan mata terbelalak dan hati melonjak-lonjak mereka melihat Sumangkar meletakkan tubuh itu di atas sebuah amben bambu. Terdengar suaranya berderit seolah-olah sebuah goresan yang tajam berderit di jantung mereka.

Sesaat mereka berdiri tegak seperti patung. Semua mata tertancap kepada tubuh yang terbujur diam. Pakaiannya masih berwarna darah karena lukanya yang arang kranjang. Sedang di tubuh Sumangkar pun darah itu meleleh membasahi pakaian orang tua itu pula.

Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Tak seorangpun yang bergerak. Hanya hati merekalah yang bergelora, melonjak-lonjak menggapai langit seperti sebuah nyala api yang membakar gunung.

Yang terdengar kemudian adalah desir angin yang menggerakkan dedaunan. Sekali-kali kilat memancar di langit, disusul oleh suara guruh bersahut-sahutan. Perlahan-lahan, namun semakin lama semakin keras.

Tetapi ruangan itu masih tetap sepi.

Hati mereka seakan-akan pecah ketika mereka mendengar Sumangkar berkata sambil menunjuk tubuh Tohpati itu dengan tongkatnya, “Inilah orang yang kalian tunggu.”

Yang pertama-tama bergerak adalah Sanakeling. Selangkah ia maju mendekati tubuh yang terbujur itu. Sambil menggigit bibirnya ia menunduk mengamat-amati mayat yang sudah membeku dingin. Sanakeling menarik nafas dalam-dalam. Luka itu luka arang kranjang.

Tiba-tiba orang kedua sesudah Macan Kepatihan itu menggeram seakan-akan ingin melontarkan tekanan yang menghimpit dadanya.

“Raden Tohpati terbunuh dengan luka arang kranjang karena ingin menyelamatkan kita.” desah Sanakeling. Wajahnya yang ditimpa oleh sinar obor yang nyalanya bergerak-gerak disentuh angin tampak menjadi tegang dan buas. Seperti seekor serigala yang kehilangan anaknya, Sanakeling itu menggeretakkan giginya sambil menghentakkan kakinya di tanah.

Kembali ruangan itu tenggelam dalam kesenyapan. Hanya nafas-nafas mereka yang bekejaran terdengar seperti desah angin di luar, yang menggetarkan dedaunan dan ranting-ranting.

Sekali-kali kilat memancar di langit dan kembali suara guruh terdengar bersahut-sahutan. Namun kemudian sunyi kembali.

Tetapi tanpa sepengetahuan mereka, di luar gubug yang satu itu, semakin lama semakin banyak orang-orang Jipang berkumpul. Mereka mendengar dari prajurit yang melihat Sumangkar membawa mayat Tohpati memasuki gubug itu. Berjejal-jejal mereka ingin menyaksikan apakah yang dikatakan oleh kawannya itu benar.

Sumangkar, Sanakeling dan orang-orang yang berada di dalam gubug itu terkejut ketika mereka mendengar pintu berderak karena desakan orang-orang di luar. Ketika mereka berpaling, mereka melihat wajah-wajah yang kaku tegang.

Sanakeling yang dibakar oleh luapan kemarahannya itu memandang mereka dengan mata yang menyala. Seakan-akan dari matanya memancar dendam tiada taranya. Seakan-akan dari matanya itu memancar tuntutan atas kesetiaan orang-orang Jipang kepada pemimpinya itu.

Sumangkar melihat mata yang menyala itu. Sumangkar menangkap apa yang terbersit dari pancaran itu. Karena itu ia menjadi berdebar-debar. Ia belum sempat menyampaikan pesan terakhir Macan Kepatihan kepada Sanakeling, kepada Alap-alap Jalatunda, kepada pemimipin-pemimpin Jipang yang lain. Kini tiba-tiba pemimpin-pemimpin Jipang yang marah itu akan langsung berhadapan dengan para prajurit yang pasti akan mudah sekali terbakar hatinya. Dalam keadaan yang sedemikian, maka mereka dapat melakukan kebuasan dan kebiadaban yang mengerikan. Apalagi kini Macan kepatihan sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi yang dapat mencegah mereka melakukah apa saja yang mereka kehendaki. Apa saja yang mereka lakukan, apalagi untuk mengungkapkan kemarahan kebencian, dendam, bahkan untuk mengucapkan kegembiraan hati mereka, mereka dapat melakukan hal-hal yang tidak wajar. Sepeninggal Arya Jipang, sepeninggal Patih Mantahun, maka sebagian besar para prajurit Jipang telah kehilangan pegangan. Seandainya pada saat-saat yang demikian itu tidak ada Macan Kepatihan, maka mereka akan dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat liar, sebab mereka sudah kehilangan tujuan. Namun kemungkinan yang lain, bahwa sebagian besar dari mereka justru akan meletakkan senjata mereka, apabila mereka mendapat kesempatan dan jaminan bahwa kepada mereka tidak akan diperlakukan di luar batas-batas ketentuan yang ada.

Dan kini Macan Kepatihan itu sudah tidak ada. Kemungkinan yang demikian itu pasti akan berlaku lagi. Sebagian dari mereka pasti akan melepaskan dendam mereka, kebencian mereka dan perbuatan-perbuatan lain yang tanpa terkendali. Namun sebagian dari mereka justru akan meletakkan senjata, apabila mereka mendengar jaminan yang telah diucapkan oleh Untara, senapati Pajang yang langsung mendapat kekuasaan dari Panglima Wira Tamtama.

Kini tinggal bagaimana cara menyampaikan kepada sebagian besar para prajurit Jipang itu. Kalau Sanakeling yang berbicara kepada mereka, maka pasti yang akan dikobarkannya adalah dendam dan benci. Akan dibakarnya hati para prajurit itu. Dan hati merekapun segera akan terbakar. Mereka akan bertebaran ke segala penjuru dengan bara di dada mereka. Dan mereka dapat berbuat apa saja di sepanjang perjalanan mereka. Mereka dapat menakut-nakuti rakyat padesan. Bahkan mereka akan dapat melakukan berbagai perkosaan atas sendi-sendi kemanusian.

Karena itu Sumangkar harus bertindak cepat. Mendahului Sanakeling yang menjadi buas, karena melihat Macan Kepatihan yang terbunuh dengan luka arang kranjang.

Tatapi selagi Sumangkar sedang menimbang-nimbang, maka yang terdengar dahulu adalah suara Sanakeling, “He, para prajurit Jipang yang berani. Kini kalian dapat melihat, betapa biadabnya orang-orang. Pajang Pemimpinmu terbunuh dengan luka arang kranjang.”

Dada Sumangkar berdesir mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu adalah permulaan dari cara Sanakeling membakar hati mereka. Dada Sumangkar itu semakin bergelora ketika sekilas ia melihat mata yang menyala pada setiap wajah para prajurit Jipang. Dalam sinar obor yang kemerah-merahan, maka dilihatnya mata mereka seakan-akan melampaui panas api obor itu.

Kali ini Sumangkar tidak mau terlambat lagi. Karena itu maka segera ia menyahut, “Ya. Lihatlah. Angger Macan Kepatihan telah meninggalkan kita. Macan Kepatihan yang garang ini telah bertempur untuk melindungi kalian, sehingga nyawanya sendiri telah dikorbankan.”

Semua orang yang berdiri di samping mayat yang terbujur itu diam. Dan mereka mendengar kata-kata Sumangkar itu dengan hati yang penuh haru.

Namun Sumangkar masih melihat bara di wajah-wajah mereka. Bara yang justru menjadi semakin panas.

Tetapi Sumangkar berkata terus, “Nah. Apakah yang akan kalian lakukan sebagai balas budi yang tiada taranya itu?”

Sanakeling sendiri menatap wajah Sumangkar dengan gelora yang hampir menghimpit jalan pernafasannya. Yang pertama-tama berteriak adalah Sanakeling sendiri, “Pembalasan !”

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh di luar gubug itu. “Ya. Pembalasan. Pembalasan. Nyawa dengan nyawa. Darah dengan darah.”

Sumangkar meredupkan matanya. Ia melihat tekad yang menggelora. Namun di antara suara yang bergemuruh itu, terdengar jantungnya sendiri berdentangan melampaui gemuruh suara orang-orang di luar gubug itu.

“Bagus!” teriak Sumangkar. “Bagus. kalian harus melakukan pembalasan.” Sumangkar berhenti sesaat. Lalu diteruskannya, “Apakah kalian masih memiliki kesetiaan kepada pemimpin-pemimpinmu ini?”

Para prajurit Jipang itu serentak menjawab, “Tentu. Kami masih memiliki kesetiaan yang utuh.”

Sumangkar memandang berkeliling. Sanakeling, A1ap-alap Jalatunda, orang-orang yang berdiri di dalam dan di luar gubug itu. Dengan hati-hati ia berbicara terus, “He, orang-orang Jipang. Aku menunggu saat Angger Tohpati menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Aku menunggu saat-saat Raden Tohpati mengucapkan pesan-pesannya yang terakhir. Nah, apakah kalian ingin mendengar pesan yang terakhir itu?”

“Ya. Kami ingin mendengar,” sahut mereka serentak.

Sumangkar terdiam sesaat. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah sudah tiba saatnya menyampaikan pesan terakhir itu? Apakah dengan demikian, maka tidak akan menimbulkan salah paham pada para pemimpin Jipang yang masih ada?

Namun Sumangkar berjalan terus meskipun ia harus berhati-hati sekali. Katanya, “Pesan itu amat sulit kita lakukan.”

“Biar apapun yang harus kami lakukan, kami tidak akan gentar,” sahut mereka serentak.

“Terlalu berat,” seakan-akan Sumangkar bergumam kapada sendiri.

“Jangan memperkecil arti kami yang ada disini, Paman,” berkata Sanakeling dengan mata menyala. “Apakah kau sangka kami tidak mempunyai cukup keberanian untuk melakukannya?”

“Memang,” sahut Sumangkar, “kesetiaan hanya dapat diwujudkan dengan perbuatan. Bukan sekedar kata-kata dan janji. Namun apa yang harus kita lakukan seakan-akan berada di luar jangkauan kita semua. Bahkan selama ini belum pernah terpikirkan, bahwa kita akan melakukannya.”

“Ya, apakah menyerang jantung kota Pajang? Apakah kami harus berusaha membunuh Adiwijaya? Atau kami harus membalas dendam atas kematian Arya Penangsang dengan berusaha membunuh Ngabehi Loring Pasar meskipun secara diam-diam. Atau Untara, Widura? Apa? Apa yang harus kami lakukan?” teriak Alap-alap Jalatunda.

Sumangkar menggeleng. Selangkah ia maju dengan tongkat baja putihnya terayun-ayun. Cahaya yang berkilat-kilat memantul dari tongkatnya itu berwarna kemerah-merahan, seperti sinar obor yang dengan lincahnya menari di ujung-ujung bumbung dan jlupak.

“Kalian lihat tongkat ini?” berkata Sumangkar kepada orang-orang Jipang.

“Ya. Kami lihat. Itu adalah ciri kebesaran Macan Kepatihan.”

“Kalian salah,” sahut Sumangkar, “ini bukan tongkat Angger Tohpati.”

Semuanya terdiam mendengar kata-kata itu. Serentak mereka memandangi tongkat itu tajam-tajam. Akhirnya mereka menemukan perbedaan itu. Mereka mengenal tongkat Macan Kepatihan baik-baik seperti ia mengenal orangnya, tongkat ini agak lebih kecil dari tongkat Raden Tohpati. Karena itu timbullah keheranan di dalam hati mereka. Apakah Sumangkar juga mempunyai tongkat baja putih berkepala tengkorak yang kekuning-kuningan seperti Macan Kepatihan? Apakah ia memilikinya juga?

Tiba-tiba mereka tersadar, bahwa mereka berhadapan dengan juru masak yang malas. Mereka sama sekali bukan berhadapan dengan seorang pemimpin mereka. Namun meskipun demikian, mereka menunggu dengan tidak sabar. Apakah yang akan dikatakannya tentang pasan terakhir itu.

Tetapi merekapun menjadi heran, kenapa Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, tiba-tiba saja memberi kesempatan kepada orang tua itu untuk seakan-akan memimpin pertemuan yang tidak sengaja mereka adakan itu?

Dalam kebimbangan dan keheranan itulah maka Sumangkar akan sampai pada tingkat terakhir dari permainannya. Sebelum ia mengatakan pesan Tohpati, ia harus cukup mempunyai wibawa atas orang Jipang itu. Setidak-tidaknya setingkat dengan wibawa yang dimiliki oleh Sanakeling.

Karena itu, Sumangkar itu maju beberapa langkah. Kini ia berdiri di muka pintu keluar. Ia melihat orang-orang Jipang yang berdiri berdesak-desakan, bahkan ada di antara mereka yang membawa obor-obor di tangan; sedang ke dalam ia melihat Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan beberapa pemimpin yang lain berdiri tegang kaku seperti patung. Namun, baik wajah-wajah orang-orang Jipang maupun para pemimpinnya membayangkan ketidak-sabaran, mereka menunggu kata-kata Sumangkar tentang pesan terakhir Macan Kepatihan.

Terdengar Sumangkar kemudian berkata, “Nah, jadi adakah kalian lihat bahwa tongkat ini bukan tongkat Angger Tohpati? “

“Ya kami lihat,” sahut mereka. Namun Sanakeling, Alap­alap Jalatunda dan para pemimpin yang lain tampak seolah-olah berdiri saja membeku. Meskipun sebagian dari mereka mengerti bahwa sebenarnya Sumangkar bukanlah sekedar juru masak namun tongkat baja putih itu benar-benar mengejutkan mereka. Mereka sama sekali belum pernah melihat, bahwa Sumangkar pun memiliki tongkat semacam itu. Apalagi Sanakeling yang jarang sekali berada di pusat pemerintahan Jipang, dan jarang sekali bertemu dengan Sumangkar, meskipun ia tahu bahwa Sumangkar adalah seorang sakti yang berada di dalam lingkungan istana kepatihan. Tetapi sampai pecahnya Jipang, Sanakeling dan Sumangkar berada di medan yang berbeda.

“Itulah yang menyedihkan aku,” berkata Sumangkar. “Aku tidak berhasil membawa tongkat Angger Macan Kepatihan kembali. Aku tidak dapat mengambilnya dari medan setelah Angger Macan Kepatihan terbunuh.” Sumangkar berhenti sesaat. Kemudian katanya melanjutkan, “Tongkat ini adalah tongkatku.”

Sumangkar melihat berpasang-pasang mata terbelalak karenanya. Apalagi ketika mereka mendengar kata-kata Sumangkar seterusnya, “Aku adalah paman guru dari Angger Macan Kepatihan. Nah, itulah aku. Dan itulah sebabnya maka Angger Macan Kepatihan mempercayakan pesannya kepadaku, sebab aku adalah saudara seperguruan Patih Mantahun.”

Gubug itu menjadi sunyi senyap di dalam dan di luarnya. Sesepi tanah pekuburan, orang-orang yang berdiri tegak di halaman dan di dalam gubug itu seperti tonggak-tonggak batang kamboja yang membeku.

Pengakuan Sumangkar terdengar oleh sebagian besar dari mereka seperti suara guruh yang meledak di langit. Orang-orang Jipang itu benar-benar terkejut. Sumangkar, yang mereka kenal sebagal seorang juru masak yang malas, ternyata adalah seorang yang sakti. Saudara seperguruan Patih Mantahun.

Tetapi beberapa orang sudah tidak terkejut lagi. Sanakeling juga tidak terkejut. Siapapun Sumangkar itu, bagi Sanakeling tidak ada bedanya. Sebab ia sudah tahu sebelumnya, bahwa Sumangkar adalah seorang yang sakti.

Kecuali Sanakeling dan beberapa pemimpin yang lain, di antara para prajurit Jipang yang berkumpul di luar pintu itu, terdapat Bajang, juru masak kawan sepekerjaan Sumangkar. Sambil senyum ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada orang yang berdiri di sampingnya ia berkata, “Aku sudah tahu lebih dahulu dari kalian semuanya.”

Kawannya mengerinyitkan alisnya sambil bertanya, “Darimana kau tahu ?”

“Apakah kau sudah bertemu dengan Tundun?”

“Belum.”

“Anak itu belum berceritera kepadamu tentang Ki Tambak Wedi dan Sidanti yang datang ke perkemahan ini ketika kalian sedang pergi berperang?”

“Aku belum bertemu dengan Tundun. Bagaimana ia bisa berceritera kepadaku?”
“Mungkin Ki Lurah Sanakeling pun belum sempat mendengar laporan Tundun,” berkata Bajang. “Tambak Wedi yang mengerikan itu datang bersama muridnya Sidanti. Kalau tidak ada juru masak yang malas itu, entahlah apa yang terjadi. Kami bertempur bersama-sama dengan semua orang yang ada di sini. Tetapi melawan muridnya, Sidanti pun kami tidak mampu. Apalagi Ki Tambak Wedi.”

“Dan Sumangkar mengalahkannya?”

“Ya, Sumangkar telah mengusirnya.”

Orang yang mendengar ceritera itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pantas. Pantas,” gumamnya.

Ketika mereka kemudian memandangi pintu gubug itu, kembali mereka melihat Sumangkar berdiri tegak seperti batu karang pinggir pantai. Tiba-tiba mereka melihat seolah-olah orang yang berdiri itu bukan lagi seorang juru masak yang mereka kenal sehari-hari.

Wajah Sumangkar kini seolah-olah memancarkan kewibawaan yang mengejutkan hati mereka. Tongkat baja putih itu benar-benar mirip tongkat Tohpati. Dan tongkat itu adalah milik Sumangkar.

Dalam pada itu terdengar Sumangkar meneruskan, “Meskipun aku tidak berhasil membawa tongkat Angger Tohpati, namun aku telah memiliki tongkat yang serupa. Tongkat yang akan mampu melakukan apa saja seperti yang dapat dilakukan oleh tongkat Angger Macan Kepatihan.

Semua orang masih terdiam. Namun mereka mulai dirayapi oleh kepercayaan bahwa sebenarnya Sumangkar mampu berbuat seperti Macan Kepatihan.

Namun Sanakeling yang mendengar kata-kata itu mengerutkan dahinya. Ia belum tahu pasti arah kata-kata Sumangkar seterusnya. Tetapi sebagai orang kedua sesudah Tohpati, Sanakeling merasa berhak untuk memimpin prajurit-prajurit Jipang itu sepeninggal Macan kepatihan, sehingga dadanya mulai berdebar-debar melihat Sumangkar mengangkat tongkat baja putihnya.

“Apakah Sumangkar akan langsung mengambil alih pimpinan dari Raden Tohpati,” berkata Sanakeling di dalam hatinya.

Dan terdengarlah Sumangkar berkata terus, “Nah, sekarang apakah kalian dapat mempercayai kata-kataku?”

Kembali mereka terlempar dalam kesepian. Sesaat tak seorangpun yang menyahut, sehingga Sumangkar menjadi ragu-ragu. Kalau mereka tidak percaya, maka untuk menekankan pesan-pesan Tohpati, apakah ia perlu menunjukkan beberapa macam permainan sehingga ia tidak lagi dianggap hanya sekedar omong kosong?

Tetapi tiba-tiba terdengar di belakang seseorang berteriak, “Aku telah melihat sendiri Ki Sumangkar mengalahkan Ki Tambak Wedi.”

Semua orang berpaling ke arah suara itu. Tetapi mereka tidak segera melihat siapakah yang telah berteriak-teriak itu. Namun kemudian terdengar kembali orang itu berkata, “Kami yang tinggal di perkemahan pada saat kalian berperang telah melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Ki Sumangkar.”

Beberapa orang segera mengenal bahwa suara itu adalah suara Bajang, seorang juru masak yang masih muda, kawan Sumangkar. Beberapa orang menjadi justru bercuriga, apakah Bajang tidak sekedar mengangkat nama kawan sepekerjaannya. Namun tiba-tiba dari beberapa sudut terdengar orang-orang lain menyambut. “Ya kamipun menyaksikan. Kami telah menyaksikan sendiri.”

Sumangkar kemudian memandang berkeliling. Dan sekali lagi ia berkata, “Siapakah yang dapat mempercayai kata-kataku?”

Tiba-tiba menggeloralah jawaban, “Kami percaya, kami percaya.”

Sanakeling masih berdiri di tempatnya dengan wajah yang tegang. Seharusnya dirinyalah yang wajib berdiri di hadapan para prajurit Jipang itu sebagai penggganti Macan Kepatihan. Tiba-tiba tanpa disadarinya, orang lain telah mendahului. Meskipun demikian, ia masih mampu menahan dirinya. Mungkin Sumangkar akan menguntungkannya. Mampu membakar hati para prajurit itu, untuk dibawanya membalas sakit hatinya atas hilangnya pemimpin yang mereka segani.

“Terima kasih,” berkata Sumangkar kemudian. “Kalau demikian kalau kalian percaya akan kata-kataku, maka biarlah aku menyampaikan pesan terakhir Angger Tohpati. Namun seperti kataku tadi, pesan itu terlampau berat bagi kita sekalian. Sebab pesan itu sama sekali berada di luar angan-angan kita selama ini.”

Sekali lagi terdengar para prajurit Jipang itu berteriak, “Kami akan melakukan apa saja yang dipesankan oleh Raden Tohpati. Biar masuk ke dalam api sekalipun, kami akan mematuhinya.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Katanya seperti kepada diri sendiri, namun karena diucapkannya keras-keras, maka semua orang mendengarnya, “Aku kurang yakin, apakah kami mampu melakukannya.”

Orang-orang Jipang menjadi hampir tidak sabar lagi. Karena itu mereka berteriak-teriak, “Kami bersumpah, kami bersumpah.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 6 September 2008 at 19:03  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. he eh, terusane ndi mas DD

  2. Pro : mas Anggoro Hoediyanto Yth,
    di blognya mas rizal anda pernah komunikasi dgn mas doellah
    yang katanya udah scan jilid 1 -100 (seri I).
    apa anda dah jadi minta bahan ke beliau?
    kalaw dah ada scan an jilid 1-100, kan tinggal bagi ke qta2.
    biar cepet postingannya.
    gmn mas? mau bagi2 bahan mentah ke saya?
    atau bisa merekomendasikan sy ke mas Doellah?

  3. Just curious Bung DD,
    Memangnya selama ini sampai akhir jilid 13 bahannya diperoleh dari mana?
    Saya kira selama ini bahan disuplai oleh bung Doellah.
    Menurut saya ini penting untuk meluruskan ‘sejarah’ ADBM online ini. Kalau bahan diperoleh dari jasa scan relawan yang lain, sangatlah perlu untuk disebutkan nama2nya sekedar sbg penghargaan atas usahanya, karena pekerjaan menyecan sama pentingnya dengan pekerjaan menyunting.
    Kalau penyuplai hasil scan bung Doellah, patutlah namanya disejajarkan dengan nama bung Rizal (dicantumkan di halaman pengantar). Saya yakin dengan demikian beliau akan dengan lapang hati menyumbangkan hasil scannya, bukan hanya halaman per halaman, atau jilid per jilid akan tetapi keseluruhan 100 jilid. Sayapun sejak awal telah menyanggupi untuk membantu mentransfer jpg-doc (bukan mengedit) berapapun besarnya file.
    Saya menunggu respons bung Doellah melalui media ini. Kalau tidak, mudah2an saya dpt menghubunginya melalui japri.
    Salam, GI.

    DD: Saya akan minta ijin ybs kalau boleh saya publish namanya. Buat saya yang penting lancar, meskipun sehalaman demi sehalaman, sejilid demi sejilid.

  4. Pro: OREL Yth,

    Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah komunikasi dengan mas Doelah soal bantu retype or ngeproof, tapi karena 1 & lain hal, bahan yang dikirim ke saya belum sempat saya kirim balik & melihat perkembangan yang ada saat ini, bagian saya itu sudah jadi jauh tertinggal.

  5. sorry baru gabung
    dimana saya bisa dapat pdf adbm ya ?
    jilid berapa aja ?
    lalu ada yg bisa saya bantu untuk mem pdf kan jilid yang belum ?

  6. Pro para cantrik ADBM…
    tolong dong kasih tau caranya donlot step by stepnya…
    saya udah coba kok gagal terus?…

    Salam ADBM

  7. Muantap,
    dialog Kiai Gringsing vs Ki Tambak Wedi
    dan Ki Sumangkar vs Sanakeling.

    • lebih Muantap lagi,
      dialog Ki Senopati vs Nyi Senopati ADBM
      dan pedang2an Ki GunduL vs Ni Pandan Wangi

      • carane donlot pripun to ki gund ?
        (arep donlot nyaine aaaah …)

        • gampang kemawon kok ki….yang terlihat merah panjenengan
          SEdot kemawon…!!??

          mugi2 mboten kleru leh nyedot Ki…..mangga-mangga !!??

          • SEKAR MIRAH

            Se = sak
            Kar = lapangan/alun2
            Mirah = abang

            pada karo :
            sak lapangan abang kabeh.
            (weh.kok.kaya kampanye partai)

            • gring=lara
              sing=?

              • Sing=pusing
                Gringsing berarti…lara mumet 😀

              • bisa juga :

                Sing=***sing
                Gringsing berarti…lara weteng 😀 😀 😀

              • swandaru,

                swan : kaos dalam
                daru : bengi

                pada karo :
                copot kaos wektu bengi ato OTE-OTE…..hikss

  8. Iki kok pada mbalik lagi di gandok-gandok awal to?

    • ..mengenang masa lalu…..

      • ..semasa P Satpam belum jadi……maptas ! 😀

    • Lha dho seneng plorotan , njur dho sami kungkum asyiikkkk

      • rancak bana huhuuu

        • rancak = podho seneng

          bana = mbak Ana

          dadi , dho seneng nginthil mbak Ana

          • wah ki mangku ki jan lantip saestu

            • Cantrik adbm he..he..he…

              • adbm gituh

                • Lha maha guru alias dhosenne ajejuluk ki Ajar Gembleh .mesthi kemawon poro cantrike sami lantip lan prigel ing samubarangkawis .

                  • terang terwoco ki mangku, kyai dosen ajar resi pandita panembahan tumenggung gembleh pol

  9. Kirang setunggal gelaripun njih meniko Kanjeng Gusti Adipati …………….ingkang jumeneng wonten Kadhipaten Karang Talun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: