Buku 13

TETAPI yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka.

“Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.”

Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar la berdesis, “Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. la berjalan terus ke arah orang yang terbaring itu. Dengan cekatan ia memijit-mijit beberapa bagian dari sisi luka itu, kemudian mengambil sebungkus ramu-ramuan obat-obatan dari dalam bajunya.

Terdengar orang itu berdesis, kemudian mengerang semakin keras.

“Memang agak pedih,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan akan dapat menolongmu,” berkata Kiai Gringsing sambil mengusap luka itu dengan ramuan obatnya.

Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Bawalah orang ini ke tepi hutan. Carilah air untuknya, dan bawalah ke banjar desa bersama orang-orang lain yang terluka.”

“Kiai,” potong Sumangkar, “apakah artinya ini?”

Kiai Gringsing berpaling. Dipandanginya wajah Sumangkar dalam kesamaran gelap malam.

“Biarlah aku mencoba menolong jiwanya. Aku adalah seorang dukun. Aku tidak dapat melihat seseorang yang berjuang melawan maut tanpa berbuat apa-apa. Sedang kalian masih saja bertengkar tanpa ujung pangkal. Sehingga aku tidak tahan lagi bersembunyi sambil mendengar keluhan ini.”

“Lalu, maksud Kiai seterusnya.”

“Biarlah Agung Sedayu kembali ke Sangkal Putung. Akulah yang akan mengambil alih tugasnya,” sahut Kiai Gringsing.

Mendengar jawaban Kiai Gringsing itu wajah Sumangkar menjadi merah padam. la tahu benar arti kata-kata itu. Dan ia tahu, akibat dari kata-kata itu pula. Karena itu sesaat ia terbungkam. Bukan saja Sumangkar yang terkejut, tetapi juga Agung Sedayu terkejut. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kiai, apakah Kakang Untara akan membenarkan?”

“Kakangmu tidak akan berbuat apa-apa. Baginya, siapa saja yang melakukan perintahnya tidak ada bedanya.”

Sedayu masih ragu-ragu. la masih saja berdiri di tempatnya. Sehingga Kiai Gringsing berkata pula, “Selagi masih ada kesempatan, maka setiap jiwa yang terancam maut harus mendapat pertolongan. Adalah wajib kita berusaha, namun apabila ditentukan lain, kita manusia tidak dapat melawan kehendak-Nya.”

Tetapi Agung Sedayu masih ragu-ragu. Dan karena Agung Sedayu ragu-ragu Kiai Gringsing berkata, “Agung Sedayu, pergilah. Bukankah kau masih dapat mengenal jalan kembali. Tempat ini masih belum terlampau dalam-dalam. Kau dapat mengikuti jejak prajurit Jipang dalam-dalam arah yang berlawanan.”

“Tetapi perintah itu.”

Serahkan kepadaku. Kakakmu adalah seorang Senapati yang cerdik. Aku tahu benar, kenapa yang diperihtahkannya adalah kau. Bukan orang lain. Padahal Untara tahu, siapakah Adi Sumangkar itu. Kakakmu pasti mempunyai perhitungan sendiri. la pasti, bahwa aku tidak akan melepaskan kau sendiri dalam tingkat sekarang. Sebab kakakmu segan untuk langsung meminta aku melakukan pekerjaan ini.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Agung Sedayu. Ternyata bukan dirinya sendirilah sasaran dari perintah kakaknya. “Hem,” Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

Terdengarlah pula Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Bahkan seakan-akan orang tua itu mengeluh.

“Sekarang pergilah,” perintah Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak dapat menghindar lagi. Perintah kakaknya baginya sama beratnya dengan perintah gurunya. Namun bahwa gurunya akan mengambil alih tugasnya, telah membesarkan hatinya.

Perlahan-lahan Agung Sedayu menyarungkan pedangnya. Dan perIahan-lahan pula ia berjongkok di samping gurunya. Dengan hati-hati, orang yang terluka itu dipapahnya pada kedua tangannya.

“Berat?” bertanya Kiai Gringsing.

“Cukup berat,” sahut Agung Sedayu.

“Hati-hatilah. Kalau kau telah memberinya minum maka orang itu akan dapat kau papah pada lambungnya. Mungkin ia dapat menggantungkan dirinya pada pundakmu. Kalau tidak, kau masih harus mengangkatnya sampai kebanjar desa.”

Agung Sedayu mengangguk, jawabnya, “Baik Kiai.”

Ketika Agung Sedayu kemudian berputar dan melangkah, terdengar Sumangkar menggeram. “Kiai, ternyata senapati Pajang itu tidak berkata sejujur hatinya.”

“Kenapa?” sahut Kiai Gringsing.

Agung Sedayu yang mendengar perkataan Sumangkar itu berhenti sambil berpaling. Tetapi Kiai Gringsing berkata, “Berjalan terus Sedayu. Jangan menunggu orang itu mati.”

Sedayu mengangguk. Ia melangkah kembali meninggalkan gurunya dan Sumangkar masuk ke dalam gelapnya malam yang semakin kejam.

Orang di tangannya itu masih mengerang. Bahkan terdengar ia berbisik, “Akan kau bawa kemana aku, Kisanak.”

“Mencari air,” sahut Agung Sedayu.

Orang itu terdiam. Namun perasaannya bergolak tidak menentu. la tidak tahu, apakah yang telah mendorong prajurit Pajang itu menyelamatkannya. Karena itu, maka rasa heran dan haru berkecamuk di dalam dadanya.

“Kisanak,” desisnya lirih, “bukankah bagimu lebih mudah menusukkan pedangmu ke ulu hatiku dari pada membawa aku mecari air?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dalam keadaan demikian Agung Sedayu sama sekali tidak teringat lagi batas antara prajurit Pajang dan prajurit Jipang. Namun perasaan kemanusiaannyalah yang telah mendesak semua persoalan yang pernah ada antara dirinya, sebagai seorang yang berada dalam barisan Pajang dan orang itu prajurit Jipang.

Sepeninggal Agung Sedayu, Kiai Gringsing berdiri berhadapan dengan Sumangkar yang masih membawa tubuh Macan Kepatihan di pundaknya. Keduanya berdiri tegak dalam jarak beberapa langkah saja.

“Kiai,” berkata Sumangkar, “kalau benar Angger Untara akan mengusahakan pengampunan kenapa Untara masih dikungkung oleh perasaan curiga.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ternyata Untara masih mengirim seseorang untuk mengikuti aku. Bukankah dengan demikian, pengampunan yang dikatakan itu tidak lebih dari satu jebakan saja bagi Jipang.”

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “kita yang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap. Sudah tentu bukan hanya Angger Untara yang bercuriga, bukankah kau bercuriga pula? Bukankah kau bercuriga bahwa perkataan Untara itu hanya sekedar sebuah pancingan.

“Kalau tidak,” sahut Sumangkar, “ia tidak akan mengirim seseorang untuk mengikuti aku.”

“Tetapi sebelum kau temukan Agung Sedayu di sini, kecurigaan telah ada di hatimu. Bukankah kau katakan bahwa kau sudah menyangka bahwa seseorang akan mengikuti jejakmu? Bukankah itu juga semacam perasaan curiga? Nah, kita sama-sama curiga. Lebih baik tidak usah aku ingkari. Tetapi kecurigaan kami didasari atas kemauan yang baik. Siapa yang menyerah, akan mendapat pergampunan meskipun tidak mutlak seperti kata-kata Angger Untara. Yang tidak mau menyerah itulah yang akan dimusnakan. Karena itu Angger Agung Sedayu harus tahu, jalan yang dapat ditempuh untuk menghancurkan mereka yang membangkang perintah.”

Sumangkar masih saja berdiri seperti patung. Namun hatinya berkata seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu pula, “kita iang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap.”

Tetapi Sumangkar masih ingin menghindarkan diri dari jebakan yang mungkin dibuat oleh Untara, katanya, “Kiai, apakah tidak mungkin bahwa setelah Angger Untara mengetahui perkemahan orang-orang Jipang, maka dengan serta merta dihancurkannya, tanpa menunggu pernyataan mereka yang berhasrat untuk benar-benar mencari jalan kembali?”

“Kecurigaan itu beralasan,” sahut Kiai Gringsing. “Seperti juga Angger Untara bercuriga. Jangan-jangan Sumangkar hanya ingin mempengaruhi perasaan orang-orang Pajang untuk mendapat kesempatan melepaskan bersama anak buah Tohpati. Apakah kami dapat mengetahui dengan pasti, bahwa apa yang dikatakan oleh Sumangkar untuk kembali setelah menguburkan mayat Tohpati dan bersedia menerima segala macam hukuman sebagai janji yang pasti ditepati?”

“Apakah kalian orang-orang Pajang tidak percaya kepadaku, Kiai?”

“Perasaan kami serupa. Seperti kau tidak percaya bahwa kami yang benar-benar bertekad untuk menyelesaikan persoalan ini sebaik-baiknya. Bahkan kau berprasangka, seolah-olah kami akan menjebakmu dan orang-orang Jipang yang lain.”

Sumangkar terdiam sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berpikir. Kemudian terdengar ia berkata, “Lalu, apakah yang akan kau lakukan kini, Kiai?”

“Meneruskan pekerjaan Agung Sedayu.”

“Memata-matai aku?”

“Ya.”

“Bagaimana kalau aku menolak.”

“Adi Sumangkar. Kalau aku orang yang taat pada kewajibanku, maka aku harus menjawab seperti Agung Sedayu. Apapun yang akan terjadi. Tetapi untuk menghindari hal-hal yang saling tidak kita inginkan, maka aku dapat menjawab lain. Sebenarnya bagi Kiai Gringsing, sama sekali tidak perlu, apakah Sumangkar sedang lewat, apakah ada bekas-bekas anak buah Angger Tohpati, atau petunjuk-petunjuk yang lain. Bagi Kiai Gringsingi mencari perkemahanmu tidaklah sesulit mencari kutu di kepala.”

“Hem,” Sumangkar menggeram, disadarinya kini dengan siapa ia berhadapan. Kiai Gringsing ternyata telah mengucapkan tekadnya. Dalam pada itu kadang-kadang tumbuh lagi niatnya untuk membunuh dengan meminjam tangan Kiai Gringsing, barangkali saat-saat yang sedemikian ini dapat dimanfaatkannya. Kalau ia mencoba mengusir Kiai Gringsing, maka ada kemungkinan mereka terlibat dalam perkelahian. Tetapi Sumangkar hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia telah menyanggupi, melakukan pesan terakhir Macan Kepatihan. Mengubur mayatnya baik-baik.

Kata-kata Kiai Gringsing itupun cukup tegas baginya, dan ia percaya bahwa Kiai Gringsing mampu melakukannya, mencari perkemahannya tanpa petunjuk-petunjuk apapun. Karena itu maka akhirnya Sumangkar berkata, “Baiklah Kiai. Silahkan Kiai melakukan pekerjaan Kiai Gringsing. Aku percaya, bahwa Kiai akan berhasil.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing. “Tetapi aku harap kau tidak berprasangka. Angger Untara benar-benar berkemauan baik untuk menyelesaikan persoalan sisa-sisa anak buah Tohpati dengan menghindarkan pertumpahan darah sejauh mungkin. Seperti yang dikatakannya, bahwa Panglima Wira Tamtama sendiri memberinya saran itu.”

“Ya. Ya. Kiai. Aku akan berjalan terus membawa mayat Angger Macan Kepatihan di antara anak buahnya. Mungkin mayat ini dan pesan-pesannya di saat terakhir akan bermanfaat bagi penyelesaian itu. Aku akan mengakui kekuranganku, bahwa aku tidak dapat menghalang-halangi Kiai.”

“Marilah kita menganggap bahwa kita saat ini tidak bertemu. Aku akan mencari jalan sendiri, sehingga apabila aku menemukan perkemahammu, bukanlah karena kesalahan Sumangkar, yang seakan-akan telah menuntun musuhnya menemukan perkemahan sendiri.”

“Baik Kiai. Kini aku akan pergi.”

Kiai Gringsing mengangguk. “Silahkan,” jawabnya.

Sumangkar pun kemudian berputar, meneruskan langkahnya, menyusup ke dalam gerumbul dan menghilang di dalam kelamnya malam. Sambil membawa mayat Raden Tohpati, Sumangkar berjalan cepat-cepat untuk segera sampai ke perkemahannya. Betapa hatinya menolak maksud Kiai Gringsing untuk melihat perkemahannya dan mengetahui segala seluk-beluknya, namun ia tidak mampu menghalang-halanginya. Sebenarnya Sumangkar ingin sampai saat-saat terakhir, meskipun dirinya sendiri kemudian akan menyerahkan dirinya bersama dengan orang-orang yang sependirian, namun ia tidak akan membiarkan orang-orang yang selama ini bersama-sama berdiri pada suatu pihak mengalami bencana yang mengerikan. Yang seolah-olah karena kesalahannya. Bahkan akan dapat dituduh, karena pengkhianatannya, maka mereka akan dimusnahkan.

“Tetapi Kiai Gringsing memiliki beberapa kelebihan,” desisnya.

Karena itu dicobanya untuk menenangkan perasaannya. Ia mencoba untuk berlaku seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing, seolah-olah mereka tidak pernah bertemu di dalam hutan, seolah-olah Kiai Gringsing mencari jalan sendiri. Dan apabila Kiai Gringsing itu sampai di perkemahan juga, itu adalah karena kecakapannya sendiri.

Dalam kesibukan angan-angan, akhirnya Sumangkar menjadi semakin dekat dengan perkemahannya. Beberapa langkah lagi ia menyibak gerumbul terakhir dan beberapa langkah lagi, orang tua itu telah sampai di halaman yang kotor dari perkemahan yang sangat sederhana.

Seorang penjaga dengan tangkasnya meloncat, dan pedangnya langsung diangkatnya setinggi dada sambil membentak, “Berhenti! Siapa kau?”

Sumangkar berhenti. Dengan sareh ia menjawab, “Sumangkar.”

“O,” gumam orang itu. Namun tiba-tiba terdengar suaranya menghentak, “Dari mana kau?”

Sumangkar tidak segera menjawab. la berjalan semakin dekat. Dan tiba-tiba penjaga itu berkata, “He. apakah kau baru saja berburu? Apakah yang kau dapatkan itu?”

Sumangkar tidak menjawab. la berjalan terus semakin dekat.

“Apa he? Apakah orang yang lain berhasil mendapatkat buruan itu, dan kau harus memasaknya?”

“Tutup mulutmu!” bentak Sumangkar. Tiba-tiba saja dadanya dirayapi oleh kemuakan yang sangat mendengar pertanyaan yang manyakitkan hatinya. Yang dipundaknya itu adalah mayat murid kakak seperguruannya, pamimpin tertinggi prajurit Jipang sepeninggal patih Mantahun.

Penjaga itu terkejut mendengar bentakan itu. Sesaat ia diam mematung, namun kemudian tumbuhlah marahnya. Juru masak itu berani membentak-bentaknya. Baru saja ia kembali dari peperangan yang hampir menghancur lumatkan pasukannya. Baru saja ia menegang nyawanya. Belum lagi ia sempat beristirahat, ia sudah mendapat tugas untuk berada disudut-sudut penjagaan yang diperkuat bersama-sama beberapa orang lain yang sama sekali tidak mengalami cidera. Tiba-tiba juru masak itu membentak-bentaknya. Karena itu, maka dengan kasar ia menjawab, “He, Sumangkar. Apakah kau tidak dapat menjaga mulutmu he?”

Sumangkar tidak menjawab. Ia berjalan menyusur sisi halaman perkemahan itu, tidak melewati tempat prajurit itu berjaga-jaga. Tetapi pradiurit yang marah itu mengejarnya dan sekali lagi membentaknya, “He, tikus tua. Mintalah maaf supaya mulutmu tidak aku remas.”

Tetapi orang tua itu berpalingpun tidak. Ia berjalam terus. la ingin segera sampai ke pusat perkemahan dan menyerahkan tubuh Macan Kapatihan kepada pimpinan yang masih ada. Namun prajurit yang marah itu mengejarnya terus.

“Berhenti!” teriaknya. “Kalau tidak aku sobek punggungmu dengan pedangku.”

Sumangkar berhenti. Sambil memutar tubuhnya ia berkata, “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki? Buruanku ini?”

“Keduanya. Buruanmu dan mulutmu.”

Sumangkar yang hatinya sedang gelap itu tiba-tiba menjadi bertambah gelap. Dalam keadaan yang serupa itu, tiba-tiba tanpa disangka-sangka, tanpa ancang-ancang, terasa sesuatu menyengat mulut prajurit itu. Demikian kerasnya sehingga prajurit itu terlempar beberapa langkah ke samping. Terdengar tubuhnya terbanting di tanah dan terdengar ia mengeluh pendek.

Dalam pada itu terdengar suara Sumangkar parau, “Mulutmulah yang harus kau jaga.”

Prajurit yang terbanting itu merangkak-rangkak bangun. Mulutnya yang berdarah, menghamburkan kata-kata kotor. Setelah ia memungut pedangnya yang terlepas dari tangannya, ia berdiri tegak sambil berkata, “Sumangkar. Apakah kau sudah menjadi gila. Sekararg aku benar-benar akan membunuhmu.”

Sebelum Sumangkar menjawab, prajurit yang marah itu telah meloncat beberapa langkah maju sambil langsung menusukkan pedangnya menghunjam ke arah jantung Sumangkar. Namun sekali lagi prajurit itu terkejut. Sumangkar itu seakan-akan lenyap dari tempatnya. Dan tiba-tiba sekali lagi kepalanya terasa pening. Sekali lagi ia terdorong beberapa langkah dan jatuh terbanting di tarah.

Kini terasa matanya berkunang-kunang. Hampir-hampir ia kehilangan kesadaran. Kepalanya terasa hampir pecah dan nafasnya hampir terputus di kerongkongan.

Prajurit itu mengerang. Dicobanya untuk mengatasi segala macam perasaan sakitnya. Ketika ia dengan susah payah berhasil bangkit dan duduk di atas tanah, maka yang dilihatnya bayangan Sumangkar menghilang di dalam gelap.

“Gila,” umpatnya, “orang itu telah menjadi gila.”

Tertatih-tatih prajurit itu berdiri Sekali lagi ia memungut pedangnya yang terlepas. Kepalanya yang pening dan sakit itu masih mampu melontarkan berbagai pertanyaan tentang juru masak yang dianggapnya sudah menjadi gila. Juru masak yang malas itu tiba-tiba menjadi garang. Segarang babi hutan jantan.

Prajurit itu tak habis heran. Kenapa Sumangkar yang malas itu dapat berubah menjadi seorang yang mampu melakukan perbuatan di luar dugaannya, bahkan melampaui segala kacepatan gerak yang pernah dilihatnya, pada pemimpinnya yang disegani, Macan Kepatihan sekalipun.

Meskipun demikian, prajurit yang masih dibakar oleh kemarahan itu sama sekali tidak puas mengalami perlakuan itu. Mungkin adalah kebetulan saja Sumangkar mampu berbuat demikian. la benar-benar ingin membuktikannya. Karena itu kemudian dengan langkah yang gontai ia berjalan kembali ke sudut penjagaannya minta ijin kepada kawan-kawannya untuk mencari Sumangkar ke dapur.

“Kenapa kau?” bertanya seorang kawannya ketika in melihat prajurit itu berjalan tertatih-tatih.

“Tidak apa-apa,” jawabnya.

“Di mana orang tua itu. Bukankah yang kau kejar tadi Sumangkar? Apakah ia mencoba menyembunyikan sesuatu?”

“Aku ingin melihatnya ke dapur.”

Kawan-kawannya tertawa. Mereka menyangka bahwa prajurit ingin mendapat sebagian dari hasil buruan orang tua itu.

Dalam pada itu Sumangkar berjalan terus. Sekali ia membelok dan menyusur jalan sempit menuju ke kemah Macan Kepatihan. la mengharap bahwa para pemimpin yang masih ada, berada di tempat itu.

Semakin dekat Sumangkar dengan pintu kemah hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Sekali-sekali terbayang di wajahnya, senapati Jipang yang dipanggulnya itu bertempur sampai tltik darahnya yang terakhir untuk melindungi anak buahnya, kemudian terbajang pula senapati muda dari Pajang yang berkata kepadanya bahwa ia akan mengusahakan pengampunan untuk mereka yang dengan kemauan sendiri karena kesadaran, menyerah kepada pasukan-pasukan Pajang di Sangkal Putung.

“Kedua-duanya adalah anak-anak muda yang perkasa,” katanya di dalam hati. “Keduanya memiliki sifat-sifat yang mengagumkan. Tetapi ternyata dalam olah kaprajuritan senapati muda dari Pajang itu dapat melampaui Angger Tohpati. Bukan saja ketrampilan bermain pedang, namun ternyata senapati muda Pajang itu cukup cerdas dan bijaksana. Seandainya apa yang dikatakannya benar, pengampunan meskipun tidak mutlak, maka anak muda itu adalah anak muda yang terpuji.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Umtara telah mengijinkannya membawa mayat Macan Kepatihan untuk dikuburkannya. Tetapi kemudian terdengar ia bergumam. “Mudah-mudahan ini bukan sekedar suatu jebakan saja. Ternyata angger Untara benar-benar mengirim orang untuk mengikuti aku.” Namun terdengar kembali jawaban dari dasar hatinya. “Bukankah Kiai Gringsing dapat melakukannya meskipun tidak mengikuti bekas kaki atau jejak siapapun?”

Dalam pada itu langkah Sumangkar menjadi semakin dekat dengan pintu perkemahan Macan kepatihan. Sekali lagi ia bertemu dengan seorang penjaga. Ketika penjaga itu melihatnya segera ia menyapanya, “Siapa?”

“Aku, Sumangkar.”

“O, kau mau kemana?”

“Di mana Angger Sanakeling?”

“Kau dapat rusa untuknya?”

“Ya,” sahut Sumangkar pendek.

“Di dalam kemah itu. Mereka menunggu Raden Tohpati.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 6 September 2008 at 19:03  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. he eh, terusane ndi mas DD

  2. Pro : mas Anggoro Hoediyanto Yth,
    di blognya mas rizal anda pernah komunikasi dgn mas doellah
    yang katanya udah scan jilid 1 -100 (seri I).
    apa anda dah jadi minta bahan ke beliau?
    kalaw dah ada scan an jilid 1-100, kan tinggal bagi ke qta2.
    biar cepet postingannya.
    gmn mas? mau bagi2 bahan mentah ke saya?
    atau bisa merekomendasikan sy ke mas Doellah?

  3. Just curious Bung DD,
    Memangnya selama ini sampai akhir jilid 13 bahannya diperoleh dari mana?
    Saya kira selama ini bahan disuplai oleh bung Doellah.
    Menurut saya ini penting untuk meluruskan ‘sejarah’ ADBM online ini. Kalau bahan diperoleh dari jasa scan relawan yang lain, sangatlah perlu untuk disebutkan nama2nya sekedar sbg penghargaan atas usahanya, karena pekerjaan menyecan sama pentingnya dengan pekerjaan menyunting.
    Kalau penyuplai hasil scan bung Doellah, patutlah namanya disejajarkan dengan nama bung Rizal (dicantumkan di halaman pengantar). Saya yakin dengan demikian beliau akan dengan lapang hati menyumbangkan hasil scannya, bukan hanya halaman per halaman, atau jilid per jilid akan tetapi keseluruhan 100 jilid. Sayapun sejak awal telah menyanggupi untuk membantu mentransfer jpg-doc (bukan mengedit) berapapun besarnya file.
    Saya menunggu respons bung Doellah melalui media ini. Kalau tidak, mudah2an saya dpt menghubunginya melalui japri.
    Salam, GI.

    DD: Saya akan minta ijin ybs kalau boleh saya publish namanya. Buat saya yang penting lancar, meskipun sehalaman demi sehalaman, sejilid demi sejilid.

  4. Pro: OREL Yth,

    Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah komunikasi dengan mas Doelah soal bantu retype or ngeproof, tapi karena 1 & lain hal, bahan yang dikirim ke saya belum sempat saya kirim balik & melihat perkembangan yang ada saat ini, bagian saya itu sudah jadi jauh tertinggal.

  5. sorry baru gabung
    dimana saya bisa dapat pdf adbm ya ?
    jilid berapa aja ?
    lalu ada yg bisa saya bantu untuk mem pdf kan jilid yang belum ?

  6. Pro para cantrik ADBM…
    tolong dong kasih tau caranya donlot step by stepnya…
    saya udah coba kok gagal terus?…

    Salam ADBM

  7. Muantap,
    dialog Kiai Gringsing vs Ki Tambak Wedi
    dan Ki Sumangkar vs Sanakeling.

    • lebih Muantap lagi,
      dialog Ki Senopati vs Nyi Senopati ADBM
      dan pedang2an Ki GunduL vs Ni Pandan Wangi

      • carane donlot pripun to ki gund ?
        (arep donlot nyaine aaaah …)

        • gampang kemawon kok ki….yang terlihat merah panjenengan
          SEdot kemawon…!!??

          mugi2 mboten kleru leh nyedot Ki…..mangga-mangga !!??

          • SEKAR MIRAH

            Se = sak
            Kar = lapangan/alun2
            Mirah = abang

            pada karo :
            sak lapangan abang kabeh.
            (weh.kok.kaya kampanye partai)

            • gring=lara
              sing=?

              • Sing=pusing
                Gringsing berarti…lara mumet 😀

              • bisa juga :

                Sing=***sing
                Gringsing berarti…lara weteng 😀 😀 😀

              • swandaru,

                swan : kaos dalam
                daru : bengi

                pada karo :
                copot kaos wektu bengi ato OTE-OTE…..hikss

  8. Iki kok pada mbalik lagi di gandok-gandok awal to?

    • ..mengenang masa lalu…..

      • ..semasa P Satpam belum jadi……maptas ! 😀

    • Lha dho seneng plorotan , njur dho sami kungkum asyiikkkk

      • rancak bana huhuuu

        • rancak = podho seneng

          bana = mbak Ana

          dadi , dho seneng nginthil mbak Ana

          • wah ki mangku ki jan lantip saestu

            • Cantrik adbm he..he..he…

              • adbm gituh

                • Lha maha guru alias dhosenne ajejuluk ki Ajar Gembleh .mesthi kemawon poro cantrike sami lantip lan prigel ing samubarangkawis .

                  • terang terwoco ki mangku, kyai dosen ajar resi pandita panembahan tumenggung gembleh pol

  9. Kirang setunggal gelaripun njih meniko Kanjeng Gusti Adipati …………….ingkang jumeneng wonten Kadhipaten Karang Talun .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: