Buku 12

“Kiai datang tepat pada waktunya,” berkata Untara itu kemudian.

Kiai Gringsing sama sekali tidak tahu maksud kata-kata itu. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia berjalan langsung manerobos beberapa orang yang menyibak, memberinya jalan. Namun beberapa orang itu bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah orang yang berjalan bersama ki Tanu Metir itu?

Demikian Agung Sedayu dan Swandaru melihat kedatangan Kiai Gringsing beserta Sumangkar, segera mereka berdiri. Diamatinya orang itu, dan terasa bahwa mereka pernah melihatnya.

Namun yang pertama-tama menyebut namanya adalah Agung Sedayu. Dengan nada yang penuh kebimbangan ia berkata, “Apakah paman ini paman Sumangkar?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling memandang wajah anak muda itu dan kemudian jawabnya, “Ya Ngger. Aku adalah Sumangkar.”

Dalam pada itu tanpa sesadarnya Untara pun segera meloncat berdiri. Selangkah ia surut. Ditatapnya wajah itu dengan tajamnya. la pernah mengenalinya dahulu, sebeum terjadi persoalan antara Jipang dan Pajang, meskipun hanya sepintas. Tetapi bersamaan dengan pecahnya Jipang orang itupun kemudan menghilang. Baru kemudian didengarnya, babwa orang itu datang pada saat Macan Kepatihan hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kenapa ia tidak datang bersama pasukannya seperti yang mereka perhitungkan sejak semula?

Tetapi ketika Untara melihat kehadiran ki Tanu Metir bersama Sumangkar, maka hatinya menjadi agak tenang. Meskipun demikin ia masih tetap berdiri kaku di tempatnya.

Melihat kecurigaan Uptara, Sumangkar menarik nafas panjang-panjang. Timbullah kembali kecemasannya, seandainya tiba-tiba Untara itu mengusirnya, atau bahkan mencobanya untuk menangkap? la sama sekali sudah tidak berhasrat untuk bertempur, apalagi membunuh seseorang. Namun apabila hatinya tersinggung, maka hal itu akan dapat terjadi. Tetapi kemudian disadarinya bahwa Kiai Gringsing berdiri di sampingnya. Maka apabila terjadi demikian, ia mengharap Kiai Gringsing akan membunuhnya saja.

Sesaat mereka dicengkam oleh kebekuan yang tegang. Masing-masing saling berpandangan dengan penuh kecurigaan.

Kebekuan itupun kemudian dipecahkan oleh sebuah gumam perlahan sekali. “Siapakah yang datang?” suara itu adalah suara Tohpati.

Semua berpaling kepada yang terbaring diam. Hanya dadanya saja yang masih tampak bergelombang, menghembuskan nafas yang tidak teratur lagi.

Yang menjawab pertanyaan itu adalah Sumangkar. “Aku Raden, pamanmu Sumangkar.”

“O,” desah Tohpati, “apakah paman dapat mendekati aku?”

Sumangkar menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Untara, seolah-olah ia meminta ijin kepadanya.

Untarapun tidak segera mengatakan sesuatu. Seperti Sumangkar ia menjadi ragu-ragu. Bahkan kemudian ia berpaling kepada Ki Tanu Metir. Dalam keremangan malam ia melihat Ki Tanu Metir menganggukkan kepalanya, sehingga Untara itupun kemudian berkata, “Silahkan, Paman.”

“Terima kasih Ngger,” gumam Sumangkar, yang kemudian berjongkok di samping Macan Kepatihan.

Untara, Widura, Agung Sedayu, Swandaru dan beberapa orang lain masih berdiri di tempatnya. Mereka sadar bahwa Sumangkar adalah seorang yang tidak dapat diduga-duga kesaktiannya. Kalau tiba-tiba saja ia menggerakkan tongkat baja putihnya, maka akibatnya tidak dapat dibayangkan. Meskipun ada di antara mereka itu seorang yang bernama Kiai Gringsing, namun Kiai Gringsing pun pasti memerlukan waktu untuk mengatasi keadaan. Sedang dalam waktu yang tiba-tiba itu, pasti sudah jatuh korban di antara mereka.

Di samping Sumangkar itu, kemudian mereka melihat Kiai Gringsing berjongkok pula. Dengan saksama diamat-amatinya tubuh Tohpati yang arang kranjang itu.

“Paman Sumangkar,” terdengar suara Macan Kepatihan perlahan-lahan sekali.

Sumangkar itu menggeram. Tiba-tiba terasa tenggorokannya menjadi kering, ketika dilihatnya luka-luka yang tiada terhitung di tubuh murid kakak seperguruahnya itu. “Angger,” desisnya, “lukamu tiada terhitung jumlahnya. Kau telah berjuang untuk melindungi seluruh anak buahmu dengan mengorbankan dirimu sendiri.”

Macan Kepatihan mencoba untuk memperbaiki pernafasannya. Tetapi terasa bahwa nafas itu semakin lemah.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara Untara di belakang Kiai Gringsing, “Kiai, apakah Kiai masih melihat kemungkinan untuk mengobati kakang Tohpati?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namuh sebelum menjawab terdengar suara lemah Macan Kepatihan, “Tak ada gunanya. Tak akan ada gunanya, karena aku sudah terlalu lemah. Bahkan seandainya mungkinpun, maka kesembuhanku akan berakibat tidak baik bagi keadaan.”

“Kenapa?” bertanya Untara.

“Kematianku adalah akhir daripada bencana yang menimpa rakyat Demak. Aku adalah sisa terakhir dari senapati yang mendapat kepercayaan para prajurit Jipang. Sepeninggalku aku mengharap bahwa mereka akan membuat pertimbangan-pertimbangan. Bukankah begitu paman Sumangkar?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Jawabnya singkat, namun meluncur dari dasar hatinya. “Ya Ngger.”

“Baik. Baik,” Macan Kepatihan meneruskan. Suaranya menjadi semakin lambat, sedang nafasnya menjadi semakin tak teratur. Kepada Untara kemudian ia berkata, “Adi Untara. Di manakah kau?”

Untara itu melangkah maju. la sudah lupa akan setiap bahaya yang mengancamnya, apabila Sumangkar itu berbuat hal-hal di luar dugaan. Kini ia berjongkok dekat di samping kepala Macan kepatihan.

“Adi Untara, kau benar-benar seorang kesatria. Kau mampu melupakan dendam atas seseorang yang menghadapi saat-saat kematiannya. Jarang orang dapat berbuat seperti kau ini.”

Untara tidak menjawab. Dan didengarnya suara Macan kepatihan terputus-putus, “Paman Sumangkar tidak bersalah. Orang itu tidak pernah turut bertanggung jawab dalam segala gerak dan perbuatan pasukan Jipang. Karena itu aku minta maaf untuknya.”

Untara menganggukkan kepalanya pula. Dari mulutnya demikian saja meluncur jawabnya, “Ya. Paman Sumangkar tidak turut bertanggung jawab.”

“Seluruh tanggung jawab ada padaku Adi.”

“Ya,” sahut Untara.

“Angger,” tiba-tiba Sumangkar memotong, “biarlah kita berbagai tanggung jawab. Kenapa aku tidak ikut bertanggung jawab pula atas segalanya yang telah terjadi?”

“Jangan membantah paman,” sahut Macan Kepatihan. “Ini adalah kata-kataku terakhir.”

Sumangkar tertegun. Tetapi ia tidak berkata apapun. Dan didengarnya kemudian suara Macan kepatihan terputus-putus, “Paman. Adakah paman dapat membantu aku?”

“Tentu Ngger, tentu,” sahut Sumangkar cepat-cepat.

“Terima kasih, Paman. Paman akan sudi menguburkan mayatku, apabila Adi Untara tidak berkeberatan. Mudah-mudahan kematianku menjadi pertanda bahwa tidak ada gunanya perselisihan ini akan berlangsung terus.”

Tohpati mencoba menarik nafas dalam-dalam, namun ia menjadi semakin lemah, semakin lemah. Getar darahnyapun semakin lama semakin menjadi lemah pula. Ketika ia mencoba memandangi orang-orang yang berdiri di sekelilingnya, maka yang dilihatnya hanyalah bayangan-bayangan hitam yang tidak dapat dikenalnya lagi.

“Paman,” desisnya.

Sumangkar beringsut maju semakin dekat. Dirabanya tangan Macan Kepatihan yang menjadi bertambah dingin.

“Adi Untara,” panggilnya lambat.

Untara pun berkisar pula ke samping Sumangkar.

Agaknia Tohpati ingin minta kepada mereka. Tetapi nafasnya menjadi semakin lamban.

“Angger,” panggil sumangkar.

Terasa tangan Tohpati bergetar, dan mulutnya berdesis. Sumangkar segera meletakkn telinganya ke bibir murid kakak seperguruannya itu, dan didengarnya kata-kata terakhir. “Mudah-mudahan Tu¬han mengampuni aku.”

“Mohonlah Ngger. Mohonlah ampun.”

Tetapi Tohpati sudah tidak mampu menjawab. Kini matanya sudah berpejam dan nafasnya menjadi kian lemah. Sesaat kemudian tangannya tergerak sedikit dan nafasnyapun berhentilah untuk selama-lamanya.

“Angger,” desis Sumangkar.

Tetapi Tohpati tidak lagi dapat menyahut. Ketika Sumangkar itu kemudian yakin bahwa Macan Kepatihan yang garang itu sudah tidak dapat mendengar panggilannya, tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa sesuatu bergelora di dalam dadanya. Nafasnya sendiri serasa akan putus pula seperti nafas Macan Kepatihah itu.

Sumangkar yang tua itu terkejut sendiri ketika terasa setetes air jatuh ke tangannya. “Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam. “Anak, ini telah pergi mendahului aku.”

Suasana di pinggir hutan itu kemudian menjadi hening. Daun-daun pepohonan seolah-olah menundukkan tangkai mereka, dan angin berhenti berhembus. Di kejauhan terdengar suara burung hantu menyentuh ulu hati. Ngelangut.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: