Buku 12

Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia merendahkan dirinya dan berusaha memukul tongkat itu dengan pedangnya. Tetapi demikian cepatnya sehingga ia tidak dapat melakukannya dengan sempurna. Pedangnya berhasil menyentuh kepala tongkat itu, tetapi dengan demikian ujung yang lain menyadi oleng dan dengan kerasnya memukul kening Untara.

Untara yang sedang merendahkan diri itu terdorong mundur, dan sesaat ia kehilangan keseimbangan. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh. Beberapa kali ia berguling. Matanya terasa menjadi gelap dan kepalanya menyadi sangat pening. Seakan-akan sebuah bintang di langit telah jatuh menimpanya. Namun ia masih cukup sadar. Ia sadar bahwa lawannya, Macan Kepatihan masih tegak berdiri di hadapannya. Karena itu cepat ia memusatkan kekuatannya dan meskipun dengan tertatih-tatih ia mencoba berdiri, bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Tetapi kini ia sudah tidak menggenggam pedang lagi. Pedangnya terpelanting dari tangannya, pada saat ia jatuh berguling di tanah.

Meskipun demikian terasa kening Untara masih sedemikian sakitnya. Bintik-bintik putih seolah-olah berterbangan di dalam rongga matanya. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu. Karena itu maka dengan sekuat tenaganya, ia mencoba untuk menembus keremangan ujung malam dengan pandangan matanya yang kabur.

Untara itu melihat Tohpati maju selangkah mendekatinya. Namun tiba-tiba ia terhuyung-huyung. Sesaat kemudian Macan yang garang itu terjatuh pada lututnya dan mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.

Untara masih tetap berdiri di tempatnya. Sekilas matanya menyambar orang-orang yang berdiri mengitarinya. Widura, Agung Sedaju, Swandaru Geni dan kini beberapa orang lain telah hadir pula. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang pemimpin kelompok. Ketika ia kembali memandangi Tohpati, maka dilihatnya orang itu menjadi semakin lemah.

Sesaat tepi hutan itu dicengkam oleh kesepian. Kesepian yang tegang. Desir angin di dedaunan terdengar seperti tembang megatruh yang menawan hati. Sayup-sayup di kejauhan suara burung hantu terputus-putus seperti sedu sedan yang pedih, sepedih hati biyung kehilangan anaknya di medan peperangan.

Dalam kesenyapan itu, tiba-tiba terdengar suara Tohpati bergetar di antara desah angin malam yang lirih, “Adi Untara, aku mengakui kemenanganmu.”

Dada Untara berdesir mendengar suara itu. Bukan saja Untara, tetapi juga Widura, Agung Sedaju, Swandaru, Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang yang lain. Namun di antara mereka yang paling dalam merasakan sentuhan suara itu adalah Untara sendiri, sehingga justru sesaat ia diam mematung. la tersadar ketika sekali lagi Tohpati berkata dengan suaranya yang parau dalam, “Aku mengucapkan selamat atas kemenangan ini Adi Untara.”

Untara tidak dapat menahan hatinya lagi mendengar pengakuan yang jujur itu. Pengakuan dari seorang Senapati jantan dari Jipang. Karena itu, maka beberapa langkah ia maju mendekati Macan Kepatihan yang sudah menjadi sangat lemas.

“Kakang Tohpati …,” terdengar suara Untara patah-patah, “maafkan aku.”

Tohpati menggeleng, “Jangan berkata demikian Untara. Berkatalah dengan nada seorang Senapati yang menang dalam peperangan. Supaya aku puas mengalami kekalahan ini.”

Untara terdiam. la tidak tahu apa yang akan diucapkannya. Karena itu kembali ia mematung. Matanya tajam-tajam menembus malam yang semakin gelap, hinggap pada tubuh yang sudah menjadi kian lemah dan lemah.

Perlahan-lahan Tohpati terduduk di tanah. Bahkan kemudian terdengar ia menggeram, “Aku akan mati.”

Untara maju selangkah lagi. Ia melihat dengan wajah yang tegang Tohpati menjatuhkan dirinya, terlentang sambil menahan desah yang kadang-kadang terlontar dari mulutnya.

Sumangkar melihat Tohpati itu terbujur di tanah, diam hatinya terasa menyadi sangat pedih. Anak itu bukan anaknya, bukan muridnya, tetapi ia telah berada dalam satu lingkungan yang sama-sama dialami. Pahit, manis dan lebih-lebih lagi ia adalah murid saudara seperguruannya. Harapan sebagai penerus ilmu perguruan Kedung Jati. Tetapi anak itu kini terbujur dengan darah yang mengalir dan luka-lukanya yang arang kranjang. Darah Sumangkar itupun tiba-tiba bergelora. Dengan tangkasnya la meloncat turun dari bongkahan batu padas sambil menggeram, “Belakna aku, Kiai…”

Kiai Gringsing terkejut melihat sikap itu, sehingga untuk sesaat ia masih berdiam diri. Namun lamat-lamat ia melihat wajah Sumangkar yang kosong memancarkan perasaan putus asa.

“Kiai,” berkata Sumangkar pula, “tak ada yang menahan aku untuk hidup terus. Karena itu, marilah kita membuat perhitungan terakhir. Perhitungan orang-orang tua.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia belum beranjak dari tempatnya. Bahkan ia masih sempat berpaling dan melihat Untara, Widura, Agung Sedaju dan Swandaru beserta beberapa orang lain berlutut di samping Macan Kepatihan yang nafasnya seakan-akan tinggal tersangkut di ujung kerongkongannya.

“He Kiai,” panggil Sumangkar, “turunlah. Kita bertempur seorang lawan seorang. Antarkan aku menemani Angger Macan Kepatihan”

Sekali lagi Kiai Gringsing memandangi orang-orang yang berdiri mengerumuni Macan Kepatihan dan orang yang berlutut di sekitarnya. Ternyata tak seorangpun di antara mereka yang mendengar kata-kata Sumangkar, sehingga mereka berdua masih tetap belum dilihat oleh mereka. Namun Kiai Gringsing masih belum bergerak. Tetapi ia menjadi kian berhati-hati. Ketika dilihatnya Sumangkar menggenggam tongkatnya semakin erat pada pangkalnya siap untuk digunakannya.

Dan apa yang disangkanya itu terjadi. Ketika Kiai Gringsing tidak juga mau turun dari bongkahan batu padas, tiba-tiba Sumangkar berkata, “Baiklah kalau Kiai tidak mau mulai. Aku yang akan mulai. Terserahlah kepadamu apakah kau bersedia untuk melawan dan membunuhku, atau aku yang akan membunuhmu.”

Sumangkar tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat dan mengayunkan tongkatnya menyambar lutut Kiai Gringsing. Tetapi Kiai Gringsing telah bersiaga. Segera ia meloncat menghindar dan sekaligus melontar turun dari atas batu padas itu.

Namun Sumangkar tidak melepaskannya. Dengan sebuah loncatan yang panjang dan cepat ia mengejarnya. Seperti orang kerasukan, tongkatnya terayun-ayun deras sekali menyambar-nyambar. Seolah-olah ia telah kehilangan segenap perhitungan dan pikirannya yang bening seperti Macan Kepatihan sendiri.

Kiai Gringsing pun segera berloncatan menghindari. Dengan lincahnya ia melontar-lontarkan dirinya, menyusup disela-sela putaran tongkat baja putih berkepala tengkorak yang bergerak secepat tatit. Tetapi Kiai Gringsing mampu bergerak melampaui kecepatan tongkat itu, sehingga berkali-kali ia masih saja dapat menghindari setiap serangan yang datang

Sumangkar benar-benar telah waringuten. Tongkatnya bergerak semakin lama semakin cepat, sehingga kemudian seolah-olah telah berubah menyadi gumpalan awan putih yang mengejar Kiai Gringsing kemana ia pergi. Gumpalan awan yang siap untuk menelannya dan menghancur-lumatkan.

Demikianlah maka serangan Sumangkar itu menyadi semakin lama semakin dahsyat seperti prahara yang mengamuk di padang-padang yang dengan dahsyatnya pula menghantam bukit-bukit dan lereng-lereng gunung. Namun Kiai Gringsing adalah lawan yang tangguh baginya. Dengan kecepatan yang melampaui kecepatan prahara, ia selalu mampu menghindari setiap serangan yang datang.

Betapapun kalutnya otak Sumangkar, namun ia bukanlah seorang yang mudah kehilangan harga diri dan kejantanan. Usianya yang telah lanjut itupun telah menuntunnya menjadi seorang yang dapat melikat sikap-sikap yang tidak wajar. Demikian pula kali ini. Beberapa kali ia mencoba meyakinkan dugaannya dengan memperketat serangan-serangannya atas Kiai Gringsing itu. Namun akhirnya ia yakin, bahwa Kiai Gringsing menghadapinya dalam sikap yang tidak wajar. Orang itu sama sekali tidak pernah membalasnya dengan serangan-serangan, tetapi orang itu hanya sekedar menghindari serangan-serangannya yang bahkan dapat berakibat maut. Karena itu, maka betapapun gelap pikirannya, namun ia masih mampu untuk manilai sikap itu. Sehingga tiba-tiba ia menghentikan serangannya sambil berkata, “Kiai, kenapa Kiai tidak melawan? Kenapa Kiai hanya sekedar menghindar dan meloncat surut? Apakah menurut anggapan Kiai, Sumangkar tidak cukup bernilai untuk berdiri sebagai lawan Kiai?”

Kiai Gringsing menarik nafas. Dengan dahi yang berkerut-kerut ia menjawab, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku menghargai Adi Sumangkar sebagai murid kedua dari perguruan Kedung Jati yang tak kalah nilainya dari Ki Patih Mantahun sendiri. Tetapi kini kau tidak sedang bertempur melawan Kiai Gringsing, sehingga karena itu aku tidak dapat melayanimu.”

“He,” Sumangkar terkejut. “Kenapa aku kau anggap tidak sedang bertempur melawan Kiai Gringsing?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dijawabnya, “Adi Sumangkar. Ternyata kau tidak sedang bertempur, tetapi kini kau sedang membunuh dirimu karena itu aku tidak dapat menjadi alat untuk itu.”

Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Terasa sesuatu menyentuh langsung ke pusat jantungnya. Sekali terdengar ia menggeram, namun kemudian tangannya menjadi lemah. Tongkatnya kini tergantung lunglai pada tangan kanannya yang kendor. Perlahan-lahan terdengar ia bergumam, “Hem, Kiai menebak tepat. Aku memang sedang membunuh diri, dan aku mengharap Kiai dapat membantuku.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Adi Sumangkar. Aku tidak dapat melakukannya.”

“Aku tidak peduli. Kalau Kiai tidak mau membunuhku, maka jangan menyesal kalau aku yang membunuhmu. Namun kata-kata Sumangkar itu sama sekali tidak meyakinkan. Tangannya masih tergantung lemah dan genggamannya atas senjatanyapun tidak bertambah erat.

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing. “Apakah keputusanmu itu sudah kau pertimbangkan baik-baik.”

“Tentu,” Sahut Sumangkar. “Keputusanku tidak akan dapat berubah.”

Kiai Gringsing memandangi wajah Sumangkar tajam-tajam. Meskipun malam telah menjadi semakin kelam namun terasa oleh Kiai Gringsing, bahwa pada wajah Sumangkar benar-benar terbayang keputusasaan yang dalam.

“Adi,” berkata Kiai Gringsing, “kenapa kau akan membunuh dirimu?”

“Aku telah jemu melihat kehidupan Kiai, hidupku, hidup orang-orang Jipang dan hidup kita semua.”

“Apakah Adi sudah berpikir jauh? Mungkin Adi ingin menghindari kepahitan yang mencengkeram jantung Adi, namun dengan jalan yang sama sekali salah. Macan Kepatihan telah mati terbunuh dalam peperangan sebagai seorang jantan. Tetapi bagaimana kata orang dengan Sumangkar? Murid kedua dari perguruan Kedung Jati?”

“Aku mati dalam peperangan melawan seorang sakti bernama Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing menggeleng. “Tidak. Kesannya akan menjadi lain sekali. Sumangkar mati membunuh diri, itupun terserah kepadamu Adi. Tetapi aku tidak dapat mendengar orang lain mengatakan, Kiai Gringsing-lah yang telah melakukan itu. Tidak. Aku bukan alat untuk membunuh diri.”

“Tak ada orang yang mengetahui, bahwa kau membunuh aku pada saat hatiku gelap.”

“Ada.”

“Siapa?”

“Hatiku sendiri”

“Persetan!” geram Sumangkar. “Terserah kepadamu. Kalau kau tidak mau, maka aku akan membunuhmu.”

“Aku akan lari meninggalkan tempat ini sejauh-jauhnya. Kau pasti tidak akan dapat mengejar aku. Dan aku akan bersembunyi sampai terdengar kabar, bahwa Sumangkar telah mati. Entah ia membunuh diri, entah ia mati dikeroyok orang.”

Kembali dada Sumangkar menjadi bergelora. Terasa bahwa kata-kata Kiai Gringsing itu menyentuh langsung ke pusat jantungnya, sehingga karena itu ia diam sesaat mencoba memandangi wajah Kiai Gringsing yang seolah-olah ditabiri oleh sebuah selaput yang kelam.

Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing kembali, “Adi Sumangkar. Daripada Adi sibuk membunuh apakah tidak lebih baik Adi mencoba melihat, apakah Raden Tohpati itu masih hidup ataukah benar-benar sudah mati?”

“Tak ada gunanya,” geram sumangkar.

“Mungkin ada. Kalau ia masih hidup ia akan dapat memberi pesan kepada Adi.”

“Kalau ia sudah mati?”

“Adi akan dapat mengurusnya. Menguburkannya dengan baik sebagai murid dari kakak seperguruanmu.”

Kembali Sumangkar terdiam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Apakah Untara akan mengijinkan aku mendekatinya?”

“Aku sangka ia tidak akan berkeberatan.”

“Apakah Kiai yakin?”

“Ya.”

“Kalau ia menolak kehadiranku, maka aku akan tersinggung sekali karenanya. Padahal aku sama sekali tidak ingin membunuh lagi. Bahkan aku ingin terbunuh oleh siapapun.”

“Marilah kita pergi bersama.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun Kiai Gringsing seakan-akan tidak mempedulikannya lagi. Ia berjalan ke arah orang-orang yang berkerumun itu sambil bergumam, “Marilah Adi.”

Sumangkar menjadi ragu-ragu sesaat. Tetapi kemudian iapun melangkah di samping Kiai Gringsing, berjalan ke arah Macan Kepatihan terbaring.

Ketika kemudian beberapa orang mendengar langkahnya, mereka menjadi terkejut. Mereka segera bersiaga. Tetapi dalam pada itu terdengar Kiai Gringsing berkata “Aku, Tanu Metir.”

“Oh,” desah beberapa orang.

Untara, Agung Sedayu dan orang-orang lainpun mendengar suara itu. Serentak mereka mengangkat kepala mereka dan mencoba mengetahui arah suara yang melontar dari luar lingkaran orang-orang yang sedang berkerumun.

“Apakah itu Kiai Tanu Metir?” bertanya Untara.

“Ya,” sahut suara itu.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: