Buku 12

Dalam pada itu Macan Kepatihan masih juga berjuang sekuat-kuat tenaganya. Dalam hiruk-pikuk yang semakin riuh, dalam ketegangan yang semakin memuncak sejalan dengan jarak hutan yang semakin pendek dan matahari yang semakin rendah, betapa Macan Kepatihan harus berjuang melawan prajurit-prajurit Pajang yang berkerumun di sekitarnya seperti semut mengerumuni gula. Namun sekali-kali lingkaran prajurit Pajang itu menebar apabila tongkat Tohpati terayun berputaran. Tetapi Widura, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru tidak turut berpencaran mundur. Mereka siap menunggu setiap kemungkinan dengan pedang di tangan mereka. Setiap kali Macan Kepatihan meloncat ke salah seorang dari mereka, maka pedang di dalam genggaman menyambutnya dengan penuh gairah. Dan setiap kali pula tubuh Tohpati menjadi bertambah rapat dihiasi dengan luka-luka yang mengalirkan darahnya yang merah. Seakan-akan warna merah bara yang menyala.

Tetapi tubuh Tohpati itu adalah tubuh yang terdiri dari kulit daging dan tulang. Betapa besar tekad yang menyala di dalam dadanya, namun kekuatan tubuhnya ternyata sangat terbatas sebagai tubuh manusia biasa. Sehingga semakin lama, Macan yang garang itu pun menjadi semakin lemah, meskipun tekadnya sama sekali tidak surut.

Sumangkar menyaksikan semuanya itu dari jarak yang semakin dekat. Sumangkar sendiri kini berdiri di batas hutan, di atas sebongkah batu padas. Sekali-sekali wajahnya menjadi tegang, dan sekali-sekali ia memalingkan wajahnya. Meskipun warna-warna senja telah menjadi suram, namun Sumangkar yang tua itu masih dapat menyaksikan betapa Macan Kepatihan mengamuk seperti harimau lapar. Tetapi di sekitarnya berdiri senapati-senapati Pajang, Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru. Meskipun keempat orang itu ternyata telah dikekang oleh kejantanan mereka sehingga mereka tidak bertempur berpasangan bersama-sama. Dan bahkan seakan-akan mereka menunggu dengan tekunnya, siapakah di antara mereka yang dipilih oleh Macan Kepatihan itu melawannya. Namun Tohpati tidak segera berbuat demikian. Ia masih saja berusaha untuk melepaskan dirinya dan berjuang di antara hiruk-pikuk pasukan-pasukan Pajang, meskipun ternyata usahanya sia-sia.

Tetapi tiba-tiba gerak Tohpati itu terhenti. Ditegakkannya lehernya tinggi-tinggi. Ia masih melihat pasukan yang bertempur itu susut seperti air yang tergenang dan tiba-tiba mendapatkan saluran untuk mengalir. Bahkan seolah-olah seluruh pasukan yang bertempur itu terhisap masuk ke dalam hutan. Hati Tohpati itu berdesir. Tiba-tiba terdengar ia berteriak, “Hei, apakah kalian berhasil?”

Tak ada jawaban. Tetapi dengan demikian Tohpati itu yakin bahwa pasukannya telah berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan itu. Apalagi matahari telah sedemikian rendahnya sehingga di dalam hutan itu pasti sudah menjadi semakin gelap.

Terdengarlah kemudian suara tertawa Tohpati itu meledak. Berkepanjangan seperti gelombang laut menempa pantai, beruntun bergulung-gulung berkepanjangan. Di antara derai tertawanya terdengar kata-katanya, “Bagus. Bagus. Kalian telah berhasil.”

Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru melihat pula pasukan Jipang yang berhasil melepaskan diri itu. Terdengar gigi mereka gemeretak. Hampir-hampir mereka berloncatan mengejar pasukan yang berlari itu. Tetapi kesadaran mereka, bahwa hal itu tidak akan berarti sama sekali, telah mencegah mereka. Dan bahkan kemudian mereka menyadari, bahwa di antara mereka masih berdiri senapati Jipang yang terpercaya, Macan Kepatihan.

Keempat senapati Pajang itu berdiri mematung. Ujung-ujung pedang mereka lurus-lurus terarah kepada Macan Kepatihan yang masih saja tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan sama sekali tidak dilihatnya keempat Senapati yang berdiri mengitarinya. Untara. Widura, Agung Sedayu dan Swandaru itupun belum juga mengganggunya. Dibiarkannya Macan Kepatihan itu tertawa sepuas-puasnya. Baru ketika suara tertawa itu mereda, mereka berempat seperti berjanji maju beberapa langkah mendekati.

Tohpati itupun kemudian tersadar bahwa ia masih berada dalam kepungan. Apalagi terasa olehnya bahwa darahnya telah terlampau banyak mengalir. Namun ia adalah seorang Senapati. Karena itu dengan lantang ia berkata, “Ayo, inilah Macan Kepatihan. Majulah bersama-sama hai orang-orang Pajang.”

Untara mengerutkan alisnya. Ketika ia memandangi keadaan di sekelilingnya, dilihatnya beberapa orang prajurit masih berdiri mengerumuninya, selain mereka yang berusaha mengejar prajurit Jipang ke dalam hutan, yang pasti tidak akan banyak hasilnya. Tetapi dalam keadaan yang demikian, terasa seakan-akan ia tidak sedang berada dalam peperangan yang masing-masing telah memasang gelar yang sempurna. Kini, ia merasa seakan-akan ia berhadapan seorang dengan seorang. Untara dan Macan Kepatihan. Karena itu, maka Untara itupun melangkah maju sambil berkata, “Kakang Tohpati. Kalau Kakang bertempur seorang diri, maka salah seorang dari kamipun akan melayani seorang diri pula.”

Tohpati mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia menggeram. Namun di dalam hatinya terbersitlah perasaan hormatnya kepada senapati muda ini. Dalam peperangan sebenarnya Untara dapat menempuh jalan lain untuk membunuhnya. Ia dapat memerintahkan setiap orang dan senapati bawahannya untuk membunuhnya beramai-ramai. Tetapi Untara tidak berbuat demikian. la masih menghargai nilai-nilai keperwiraan orang-seorang, sehingga betapa berat akibatnya, ia menyediakan djri untuk melakukan perang tanding.

Macan Kepatihan itu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia memandang seorang demi seorang. Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru. Ketika mata Tohpati hinggap pada anak muda yang bertubuh bulat itu hati Untara menjadi berdebar-debar. Barulah disadari kesalahannya. la tidak dengan tegas menawarkan dirinya sendiri untuk menghadapi Tohpati, tetapi ia memberi kesempatan kepada Macan Kepatihan untuk memilih lawan. Apabila kemudian Macan Kepatihan itu memilih Swandaru atau Agung Sedayu sekalipun maka keadaan anak-anak muda itu pasti akan sangat mengkhawatirkan. Meskipun Tohpati sudah bermandikan darah karena luka-luka pada seluruh tubuhnya, namun tandangnya masih saja segarang Macan Kepatihan pada saat ia terjun di dalam arena peperangan itu.

Tetapi agaknya Swandaru sama sekali tidak menginsyafi bahaya itu. Ketika Tohpati memandangnya dengan tajamnya, anak muda itu tersenyum. Senyum yang hampir-hampir tak pernah hilang dari bibirnya. la kini sama sekali tidak takut menghadapi harimau yang garang itu. Bahkan ia ingin tahu, mencoba, sampai di mana kemampuannya setelah ia berguru kepada Kiai Gringsing.

Tetapi Tohpati bukan seorang yang licik. Ia tidak dapat merendahkan harga dirinya, sebagaimana Untara telah bersikap jantan pula kepadanya. Ia tahu benar, bahwa yang paling lemah dari mereka berempat adalah anak yang gemuk bulat itu. Tetapi dengan lantang ia menjawab, “Baik Adi Untara. Kalau kau menawarkan lawan, baiklah aku memilih. Orang yang aku pilih adalah Adi sendiri. Untara, senapati Pajang yang mendapat kepercayaan untuk menyelesaikan sisa-sisa pasukan Jipang di Lereng Gunung Merapi.”

Hati Untara berdesir mendengar jawaban itu. Sebagaimana Tohpati merasa hormat akan keputusannya untuk melakukan perang tanding, maka Untara pun menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan perasaan hormatnya. “Terima kasih,” sambutnya. “Aku telah bersedia.”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju menghadap kepada Untara. Sementara Untara maju pula, mendekatinya. Dalam pada itu Untara masih sempat berbisik kepada Widura, “Paman, tariklah seluruh pasukan. Sangat berbahaya untuk bekejar-kejaran di dalam hutan yang kurang kita kenal.”

Widura mengangguk. Tetapi ia tidak mau meninggalkan perang tanding itu. Karena itu, diperintahkannya seorang penghubung untuk memukul tanda, dan memerintahkannya supaya Hudaya menghimpun kembali segenap pasukan.

Sementara itu, Untara kini telah siap menghadapi setiap kemungkinan. Tohpati pun telah berdiri dengan kaki renggang menghadapi senapati muda itu. Tongkatnya erat tergenggam di tangannya yang telah basah oleh darah. Seleret-seleret warna merah tergores pula pada tongkat baja putihnya. Pada saat-saat tongkat itu menyambar kening lawan, maka darah yang terpercik daripadanya pasti membasahi tongkatnya pula.

“Ayo, mulailah Untara. Senja telah hampir menjelang kelam. Kita selesaikan, persoalan di antara kita sebelum malam,” geram Tohpati.

Untara tidak menjawab. Ia melangkah selangkah lagi maju. Pedangnya segera menunduk tepat mengarah kedada lawannya. Dalam pada itu, Tohpati tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat menyerang dengan sebuah ayunan tongkat baja putihnya. Meskipun lukanya arang kranjang, namun kecepatannya bergerak masih belum susut barang serambutpun.

Untara yang telah bersiap menghadapi kemungkinan itu, dengan cepatnya menghindarkan diri. Bahkan pedangnyapun segera terjulur mematuk lambung. Namun Tohpati masih sempat pula mengelakkan dirinya.

Demikianlah kini mereka terlihat dalam perang tanding yang dahsyat. Tohpati memeras ilmunya dalam kemungkinan yang terakhir. Disadarinya bahwa Untara adalah seorang senapati yang pilih tanding. Dalam keadaan yang sempurnapun ia tidak akan dapat mengalahkannya, apalagi kini. Darahnya telah menetes dari luka, dan keringatnyapun seolah-olah telah kering terperas. Tetapi ia adalah seorang senapati besar yang sadar akan kebesaran dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki jantan.

Meskipun senja telah menjadi semakin suram namun Sumangkar masih dapat melihat apa yang terjadi di tengah-tengah arena itu. Ia melihat dari daerah yang lebih kelam karena dedaunan. Bahkan kemudian ia tidak puas melihat peristiwa itu dari tempatnya.

Tiba-tiba ia melompat turun dari bongkahan batu padas itu dan menyusur tepi hutan yang kegelapan maju semakin dekat. Di belakangnya Kiai Gringsing selalu mengikutinya. la tidak ingin melepaskan Sumangkar. Kalau-kalau orang itu berbuat sesuatu dengan tiba-tiba. Tetapi ternyata Sumangkar itu tidak langsung menuju ke arena. Beberapa langkah ia berhenti, dan kembali ia mencari tempat yang agak tinggi untuk menyaksikan perkelahian antara Macan Kepatihan dan Tohpati. Sedang Kiai Gringsing pun tidak kalah nafsunya untuk melihat pertempuran itu, sehingga kemudian ia berdiri tepat di belakang Sumangkar.

Dengan tegangnya Sumangkar mengikuti perkelahian itu. Selangkah demi selangkah dinilainya dengan seksama. Ia sama sekali tidak memperdulikan hiruk-pikuk para prajurit Pajang yang sedang berhimpun kembali, tidak jauh di hadapannya, namun para prajurit Pajang itupun sama sekali tidak memperhatikannya, karena ujung malam yang turun perlahan-lahan, seperti kabut yang hitam merayap dari langit merata keseluruh permukaan bumi.

Tetapi pertempuran antara Macan Kepatihan dan Untara masih berlangsung terus. Semakin lama semakin dahsyat. Sedang Sumangkar yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi semakin tegang.
Tiba-tiba ketegangan Sumangkar itupun memuncak. Kini ia berdiri di atas ujung kakinya dan dijulurkannya lehernya, supaya ia dapat melihat semakin jelas.

“Oh,” desahnya kemudian. Suaranya seolah-olah tersekat di kerongkongan, dan darahnya serasa berhenti mengalir. Diangkatnya kedua belah tangannya menutup wajahnya. Perlahan-lahan ia berpaling. Gumamnya perlahan-lahan dengan suara parau, “Raden.”

Kiai Gringsing pun melihat apa yang terjadi. Ia melihat Tohpati menyerang dengan kekuatannya yang terakhir. Namun tubuh Untara yang masih segar sempat menghindarinya, tetapi ujung pedangnya dijulurkannya lurus-lurus tepat mengarah ke lambung lawannya. Tohpati yang sudah menjadi semakin lemah, kurang tepat memperhitungkan waktu. Ia terdorong oleh kekuatannya sendiri, dan langsung lambungnya tersobek oleh pedang Untara. Terdengar Tohpati menggeram pendek. Selangkah ia surut. sebuah luka yang dalam menganga pada lambungnya.

Betapa kemarahannya membakar jantungnya, namun tiba-tiba tarasa tulang-tulangnya seolah-olah terlepas dari tubuhnya. Meskipun demikian tanpa disadari oleh Untara, Macan Kepatihan melontarkan tongkatnya secepat petir menyambar di udara. Betapa Untara terkejut melihat sambaran tongkat baja putih berkepala tengkorak itu.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: