Buku 12

Sementara itu peperangan menjadi semakin riuh. Hati Macan Kepatihan menjadi semakin cemas, matahari baginya berjalan terlampau lambat. Bahkan seakan-akan telah berhenti di langit. Sedang korban di pihaknya, satu-satu berjatuhan tak henti-hentinya. Di sayap kirinya, betapapun Sanakeling berusaha, namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya.

Kini yang ditempuh oleh Macan Kepatihan adalah cara yang kedua. Perlahan-lahan pasukannya bergeser surut terus-menerus. Mereka mencoba mendekati hutan yang sudah menjadi semakin dekat. Pasukan itu harus mundur dalam gelar yang teratur apabila mereka masih ingin sebagian besar dapat menyelamatkan diri. Meskipun dengan demikian, korban akan tetap berjatuhan.

Tetapi Untara tidak dapat membiarkannya. Segera ia memberi pertanda kepada beberapa orang penghubungnya. Dan naiklah panji-panji pimpinan di belakangnya dengan gerak-gerak yang khusus diulang-ulang. Gerak dari panji-panji itu adalah perintah, gelar dari pasukan Pajang dan Sangkal Putung harus segera berubah. Gelar Sapit Urang.

Tampaklah beberapa perubahan di dalam gelar Pajang. Macan Kepatihan yang melihat perubahan itu, mencoba mempergunakan kesempatan. Dengan kemarahan yang menyala-nyala ia menyerang langsung ke induk pasukan berserta beberapa orang pengiringnya. Namun induk pasukan itu telah siap menerimanya, sehingga usahanya itu sama sekali tidak berarti.

Dengan kemarahan yang seakan-akan meledakkan dadanya ia melihat Widura merubah sikap sayapnya menjadi sebuah sapit raksasa, yang siap memotong usaha Dirada Meta itu mengundurkan dirinya. Meskipun Agung Sedayu tidak cepat mengatur sayapnya, namun Hudaya telah membantunya. Meskipun dalam saat perubahan itu terjadi, sayap kanan terpaksa surut beberapa langkah. Sehingga gelar Untara menjadi agak condong. Namun sesaat kemudian sapit kanan itupun segera dapat mengimbangi sapit yang lain, melingkar dalam usaha pencegahan pasukan Jipang tenggelam ke dalam hutan.

Darah Macan Kepatihan seakan telah mendidih melihat sikap gelar pasukan Untara. Terdengar ia menggeram keras sekali. Tetapi ia tidak dapat hanya sekedar marah-marah saja. Ia harus cepat mengambil tindakan untuk menyelamatkan orang-orangnja.

Macan Kepatihan sesaat menjadi bimbang. Namun tiba-tiba melonjaklah di dalam benaknya, beberapa persoalan yang beberapa saat yang lampau mempengaruhi perasaannya. Pertemuannya dengan orang tua di pinggir sungai. Beberapa persoalan tentang orang-orangnya sendiri, kejemuan, dan berpuluh-puluh macam persoalan lagi. Apakah ia masih harus melihat pertentangan yang terjadi itu berkepanjangan tanpa ujung dan pangkal? Apakah ia masih harus melihat bencana menimpa rakyat Demak yang sedang dilanda oleh perpecahan yang semakin dahsyat? Pembunuhan-pembunuhan liar, perampokan, pemerasan, perkosaan terhadap peradaban.

Dan yang terakhir terngiang kembali adalah kata-katanya sendiri, “ Kali ini adalah kali yang terakhir.”

Gigi Macan Kepatihan gemeretak. Tetapi ia telah menemukan keputusan di dalam dirinya. Pertempuran ini harus merupakan pertempuran yang terakhir bagi pasukannya. Kalau umbul-umbul, rontek, dan panji-panji Jipang itu akan roboh di arena ini, biarlah umbul-umbul, rontek, dan pandji-panji itu tidak akan bangkit kembali. Yang tidak akan muncul lagi dalam percaturan sejarah kerajaan Demak. Kalau pasukannya mau hancur, hancurlah sekarang. Persoalan akan segera selesai. Kejemuan dan ketidak-pastian bagi sisa anak buahnya akan hilang.

Tatapi apakah ia harus mengorbankan orang-orangnya? Orang-orang yang di antaranya sama sekali tidak ikut bertanggung jawab atas pertentangan antara Jipang dan Pajang? Orang-orang yang hanya terseret oleh arus permusuhan tanpa tahu sebab-sebabnya? Bahkan orang-orang yang sama sekali tidak mengenal siapakah Arya Penangsang, dan siapakah Adipati Adiwijaya yang juga bernama Jaka Tingkir di masa kecilnya?

Semua itu bergolak di dalam kepala Tohpati justru pada saat-saat yang sangat berbahaya. Pada saat-saat sapit-sapit raksasa dari gelar Sapit Urang itu bergerak melingkar untuk mencoba mengurungnya dalam lingkaran maut.

Dalam keadaan yang cukup baik, Macan Kepatihan dapat segera merubah gelarnya dalam bentuk yang lain, yang sanggup menghadapi lawan dari setiap arah, dan sanggup mematahkan kepungan di setiap sisi. Gelar Cakra Byuha. Gelar sebuah lingkaran bergerigi. Namun dalam keadaan yang telah payah benar itu, Macan Kepatihan tidak melihat manfaatnya. Bahaya setiap usaha merubah gelar akan memberi peluang bagi lawannya di saat-saat perubahan itu terjadi. Tetapi Macan Kepatihan, seorang Senopati Jipang yang terpercaya itupun tidak akan dapat mengorbankan orang-orangnya.

Sumangkar melihat pertempuran itu dengan dada yang berdebar-debar. Setiap kali ia melihat sebuah umbul-umbul roboh, setiap kali terasa segores luka membekas di dalam hatinya.

Ialah yang pernah menyelamatkan umbul-umbul, rontek dan panji-panji Jipang dari kepatihan ketika Jipang dipukul hancur oleh pasukan Pajang dibawah pimpinan Ki Gade Pemanahan. Kini ia menyaksikan satu demi satu umbul-umbul, rontek dan panji-panji itu roboh. Karena itulah maka jantungnya serasa dibelah dengan sembilu. Namun ia kini tidak dapat menghindari kenyataan. Di sampingnya berdiri seorang yang tidak dikenal sebelumnya, namun orang itu pasti akan dapat mencegahnya, apa saja yang akan dilakukan.

Ketika sekali lagi ia melibat sebuah umbul-umbul roboh maka tanpa sesadarnya ia berdesis, “Harapan itu kini telah tenggelam sama sekali seperti tenggelamnya umbul-umbul dan rontek itu di dalam arus peperangan.”

Kiai Gringsing yang mendengar desis itu maju selangkah. Kesan permusuhan pada wajah kedua orang itu kini sama sekali tidak berbekas. Bahkan dengan nada yang serupa Kiai Gringsing berkata, “Ya. Pasukan Jipang itu tidak akan dapat ditolong lagi.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Angger Macan Kepatihan kali ini mengambil tindakan yang akibatnya dapat berbahaya sekali, seperti apa yang ternyata sedang terjadi kini.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing.

Sesaat keduanya terdiam. Namun wajah-wajah mereka kini menjadi tegang. Mereka sedang menyaksikan saat-aat terakhir dari peperangan itu. Sumangkar hatinya dicengkam oleh kecemasan, kepedihan dan kepahitan yang tiada taranya. Sedang Kiai Gringsing sedang mencemaskan sikap para prajurit Padjang. Apakah mereka cukup berjiwa besar menghadapi kehancuran lawannya? Apakah mereka tidak akan kehilangan diri mereka sebagai manusia yang mengagungkan kemanusiaan sebagai ungkapan bakti mereka kepada Sumber Hidup mereka ?

Sebenarnyalah saat itu Macan Kepatihan telah melakukan tindakan terakhir untuk menyelamatkan orang-orangnya. Dengan lantang ia berteriak, memerintahkan segenap pasukannya menarik diri ke dalam hutan yang sudah tidak terlampau jauh. Mereka diberi kesempatan selagi sapit raksasa lawan itu belum selesai dalam usaha mereka mengepung pasukan yang sedang payah.

Sanakeling menggeram melihat isyarat itu. Tetapi ia tidak mampu berbuat apapun juga. Iapun harus meyakini, bahwa kali ini mereka tidak akan berhasil mengalahkan laskar Sangkal Putung yang bertempur bersama-sama dengan para prajurit Pajang. Karena itu maka perlahan-lahan ia membuat gerakan-gerakan untuk mempersiapkan pengunduran pasukannya dengan hati-hati dan penuh bahaya. Sebab apabila gerakan mundur ini gagal pula, maka akan tumpaslah segenap anak buahnya.

Tetapi Sanakeling itu terkejut ketika ia melihat Tohpati dengan tongkat baja putihnya ia mengamuk sejadi-jadinya. Seperti orang yang kehilangan kesadaran, Macan Kepatihan bertempur dengan gigihnya. Bahkan ia sama sekali tidak berkisar dari tempatnya meskipun laskarnya telah surut beberapa langkah.

“Raden Tohpati,” teriak Sanakeling yang mencemaskan.

“Cepat mundur!” teriak Tohpati tidak kalah kerasnya.

Sanakeling tidak tahu maksud Macan Kepatihan yang sama sekali tidak ada tanda-tanda untuk menarik dirinya mengikuti laskarnya.

“Cepat!” teriak Macan Kepatihan itu kemudian. “Kalau kau terlambat, maka kaulah yang akan aku penggal lehermu.”

Sanakeling menggigit bibirnya. Kedua senjatanya masih bergerak dengan cepatnya, melindungi dirinya. Berkali-kali ia meloncat menyelamatkan diri dari terkaman Agung Sedayu yang menjadi semakin garang, sehingga sekali-sekali Sanakeling mengeluh di dalam hati, “Gila adik Untara ini.”

Namun perintah Macan Kepatihan yang terakhir benar-benar mengejutkannya. Bahkan Untara pun terkejut pula mendengar perintah Macan Kepatihan yang keras bagi anak buahnya.

Tetapi Sanakeling tidak berani melawan perintah itu. Perlahan-lahan ia menarik dirinya di antara pasukannya mengundurkan diri ke tepi padang yang berbatasan dengan hutan.

“Licik,” geram Untara. Namun ia tidak yakin akan perkataannya sendiri. Apa yang dilakukan oleh Macan Kepatihan adalah suatu sikap wajar yang mencerminkan kematangannya dalam olah peperangan. Apabila terasa bahwa pasukannya tidak mungkin bertahan lebih lama lagi, maka pasti dicari jalan untuk menyelamatkan diri.

Untara segera mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Macan Kepatihan itu. Karena itu maka segera jatuhlah printahnya, untuk memecah pasukan lawan sebelum berhasil menyembunyikan diri di balik pepohonan dan lenyap ke dalam hutan.

Pasukan Pajang pun serentak mendesak maju. Mereka mencoba untuk mengurungkan usaha Macan Kepatihan dengan menggagalkan gerak mundur yang teratur itu.

Betapa beratnya usaha yang dilakukan oleh Macan Kepatihan dan senapati-senapati bawahannya. Tekanan prajurit Pajang semakin terasa menekan hampir tak tertahankan. Hanya kesadaran mereka, bahwa apabila gelar mereka terpecah sebelum mereka mencapai hutan, berarti kehancuran mutlak, itulah yang masih tetap mengikat mereka dalam satu kesatuan.

Macan Kepatihan melihat, tekanan yang semakin lama semakin menjadi pepat. Itulah sebabnya, maka tiba-tiba ia melontar jauh ke samping dan segera melepaskan Untara dari lingkaran perkelahian. Dengan garangnya ia berloncatan melindungi pasukannya yang masih mencoba mencapai jarak yang semakin dekat.

“Gila,” geram Untara. Dengan satu ayunan tongkat, ia melihat dua prajuritnya jatuh terkapar di tanah. Karena itu alangkah marahnya Senapati Pajang itu, dengan serta merta ia meloncat mengejar Macan Kepatihan. Tetapi Macan Kepatihan selalu berusaha menjauhinya. Di antara prajurit Pajang ia berloncatan sambil memutar senjatanya untuk menahan arus pasukan Pajang yang menjadi semakin deras. Setiap kali ia meluncur seperti tatit mencari tempat baru untuk melepaskan kemarahannya dan menahan arus lawan.

Sekali lagi Untara menggeram. Dengan marahnya ia mendesak terus mengejar Macan Kepatihan. Namun Macan Kepatihan selalu berloncatan kian kemari.

Sanakeling yang melihat Macan Kepatihan segera menyadari, bahwa Macan Kepatihan dengan caranya berusaha mencoba menghambat gerak maju pasukan Pajang. Perkelahian di dalam lingkungan prajurit-prajurit Pajang melawan Tohpati yang berkeliaran itu berpengaruh juga atas gerak maju pasukan Pajang. Sebab mereka selalu saja memperhatikan, jangan-jangan tongkat Tohpati itu tiba-tiba hinggap di punggung mereka, atau kepala mereka terpecahkan oleh tongkat baja putih yang mengerikan itu.

Tetapi Sanakeling tidak dapat berbuat lain daripada membawa pasukannya mengundurkan diri. Meskipun demikian, ia melihat beberapa orang yang terlalu setia kepada Macan Kepatihan, membatalkan niatnya untuk beringsut mundur. Bahkan seperti Macan Kapatihan mereka menceburkan diri mereka ke tengah-tengah pasukan lawan, seperti serangga yang menyeburkan diri mereka ke dalam api. Namun usaha Macan Kepatihan dan beberapa orang yang setia kepadanya itu berguna pula. Meskipun satu demi satu orang-orang itu tergilas oleh arus kemarahan para prajurit Pajang dan Sangkal Putung, namun gerak itu mendapat kesempatan lebih banyak dari semula.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: