Buku 12

“Hem,” katanya dalam hati, ”orang semacam Kiai Grinsing itu pasti seorang yang berbahaya sekali. Meskipun aku belum melihat geraknya, tetapi agaknya ia lebih berbahaya dari Ki Tambak Wedi.”

Dalam pada itu Kiai Gringsing pun berkata di hatinya, “Alangkah tinggi tekad Sumangkar. Dan alangkah tabah hatinya menghadapi persoalan yang semakin gawat ini. Agaknya ia masih mencoba untuk mengatasi persoalan ini. Persoalan antara dirinya sendiri dan persoalan anak-anak Jipang itu.”

Dan ketika tiba-tiba Sumangkar sorak di medan perang, ia berpaling sekali lagi. Dilihatnya pasukan Jipang terdesak dalam jarak yang cukup panjang. Meskipun kemudian mereka berhenti dan mencoba bertahan lagi, namun Sumangkar semakin menjadi cemas bahwa pasukan itu segera akan pecah sebelum senja.

Tanpa disengajanya, tiba-tiba ia melangkah maju mendekati Kiai Gringsing. “Tak ada pilihan lain,” desisnya.

Kiai Gringsing mengangguk, “Ya tak ada pilihan lain.”

“Apakah Kiai siap?” bertanya Sumangkar sambil menggerakkan ujung tongkatnya yang kuning dan berbentuk tengkorak.

Kiai Gringsing mengangguk. “Aneh” desisnya, “aku bersembunyi karena aku takut Angger Untara membawa aku serta dalam peperangan itu. Tetapi tiba-tiba aku terpaksa menghadapi seorang lawan.”

“Jangan terlalu merendahkan diri Kiai,” sahut Sumangkar, ”marilah, sebelum anak-anak itu selesai bermain-main.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia mempersiapkan dirinya menyambut segala kemungkinan.
Sumangkar pun kemudian maju selangkah. Kini tongkatnya telah bergerak-gerak. Dan ketika ia mendengar sekali lagi sorak yang gemuruh maka tiba-tiba ia meloncat menyerang Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing telah bersiap menyambut serangan itu. Selangkah meloncat ke samping dan tiba-tiba ia mengerakkan tangannya. Ujung cambuknya bergetar cepat sekali menyambar lawannya yang melontar di sampingnya.

Sumangkar benar-benar terkejut melihat ujung cambuk yang seakan-akan mengejar untuk mematuk tengkuknya. Cepat ia menghindar sambil merendahkan dirinya. Tetapi sekali lagi ia terkejut, ujung cambuk yang tidak menyentuhnya itu meledak di atas kepalanya seperti ledakan petir di langit.

Sumangkar menggeram. Sekali lagi ia meloncat ke samping untuk mengambil jarak yang cukup. Namun Sumangkar adalah orang yang cukup cekatan mengimbangi gerak Kiai Gringsing. Demikian ia berjejak di atas tanah, demikian ia melontar menyusup ke dalam batas pertahanan lawannya. Tongkatnya terayun deras sekali ke arah kaki Kiai Gringsing.

Kini Kiai Gringsing-lah yang terkejut. Tetapi ia adalah orang yang cukup berpengalaman menghadapi setiap kemungkinan. Dengan lincahnya ia meloncat ke samping dan dengan lincahnya pula ia menggerakkan senjatanya.

Sumangkar yang gagal mengenai lutut Kiai Gringsing cepat-cepat melontar surut menghadapi kejaran ujung cambuk lawannya yang seakan-akan mempunyai biji mata. Hanya karena ketrampilannya maka ia berhasil melepaskan diri dari sengatan-sengatan ujung cambuk itu.

Demikian mereka terbenam dalam pertempuran yang semakin lama semakin sengit. Orang-orang tua itu bertempur dalam jarak yang tidak demikian jauhnya dari garis pertempuran. Sekali-sekali mereka mendengar sirak yang gemuruh dari kedua belah pihak. Pasukan Jipang yang walaupun selalu terdesak mundur namun sekali-sekali mereka masih juga menjumpai kemenangan-kemenangan kecil. Bahkan sekali-sekali mereka juga berhasil maju selangkah dua langkah. Tetapi sesaat kemudian mereka terdesak kembali.

Sorak-sorai yang gemuruh itu seakan-akan adalah sorak-sorai para penonton yang menyoraki kedua orang-orang trua itu. Bagaimanapun juga maka suara-suara itu telah mempengaruhi perasaaan mereka. Seolah-olah para prajurit itu melihat bahwa sekali-sekali Kiai Gringsing terpaksa berloncatan surut namun disaat yang lain Sumangkar terpaksa berguling-guling menghindari ujung cambuk Kiai Gringsing.

Pertempuran di kedua arena itu berlangsung terus meskipun sifatnya sangat berbeda. Di satu lingkaran, mereka bertempur dalam garis perang yang panjang. Benturan antara dua kekuatan yang besar dalam gelar yang sempurna. Masing-masing dipimpin oleh Senapati yang cukup tangguh dan beberapa senapati pengapit.

Sedangkan di arena kecil, tidak begiitu jauh dari garis perang itu, dua orang yang sudah menjelang hari-hari tuanya, bertempur dengan serunya pula. Keduanya mampu bergerak melampaui kecepatan gerak orang kebanyakan. Di antara bayangan yang berloncatan mengeletarlah suara letupan-letupan cambuk Kiai Gringsing dan kilatan cahaya keputih-putihan dari tongkat baja kuning Sumangkar. Sekali-sekali cahaya kekuningan seleret-seleret menyambar seperti pijar bara api.

Kedua arena pertempuran yang berbeda bentuk dan sifat itu semakin lama menjadi semakin seru. Dan matahari pun semakin lama semakin menurun disisi langit sebelah Barat.

Untara yang mempimpin seluruh kekuatan Pajang dan Sangkal Putung melihat bahwa ia akan dapat mengatasi keadaan. Karena itu, semakin besarlah usahanya untuk segera mengakhiri peperangan sebelum korban menjadi semakin lama semakin banyak di kedua belah pihak.

Dengan penuh tanggung jawab ia bertempur melawan Macan Kepatihan sambil sekali-sekali mengawasi setiap sudut pertempuran. Ketika ia yakin bahwa kedudukan sayap-sayapnya pun menjadi bertambah baik, maka seperti angin taufan ia memperkuat serangan-serangannya atas Macan Kepatihan.

Sekali-sekali Macan Kepatihan itu menggeram dan menggertakkan giginya. Semakin lama disadarinya, bahwa pasukannya menjadi semakin kalut. Satu-satu korban berjatuhan dan sekali-kali ia mendengar pekik dan keluh kesah, bahkan sekali sebuah jeritan melengking menyayat hatinya yang parah.

Widura pun melihat keadaan itu. Kesempatan ini tidak boleh lampau. Ia tidak boleh menunggu anak-anak muda Sangkal Putung yang dating kemudian menjadi kelelahan dan dengan demikian kekuatan seluruh pasukannya menjadi surut kembali. Karena itu, maka ia pun segera memperketat tekanan atas sayap lawan. Pedangnya yang berat terayun-ayun seperti baling-baling. Lawannya, Alap-alap Jalatunda yang bertempur bertiga melawannya dengan gigih. Tetapi Widura adalah seorang Senapati yang berpengalaman menghadapi setiap keadaan medan, sehingga dengan mudahnya ia berhasil mempersempit kesempatan lawannya.

Di sayap yang lain, Agung Sedayu gigih melawan Sanakeling. Dalam pertempuran itu Sanakeling terpaksa mengakui, anak yang masih sangat muda, adik Untara itu tidak dapat diabaikannya. Bahkan beberapa kali ia mengalami kesulitan dengan unsur-unsur gerak yang aneh dan hampir tak dapat dimengertinya. Untunglah bahwa Sanakeling adalah prajurit sejak mudanya. Karena itu, maka dengan bekal kemampuan dan pengalamannya ia masih tetap bertahan mengimbangi kecepatan bergerak Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu benar-benar telah lupa akan kewajibannya yang lain. Ia merasa bahwa ia berada dalam keadaan sendiri, lepas dari kewajiban-kewajiban lainnya. Untunglah Hudaya masih tetap berada disampingnya meskipun kian lama ia menjadi semakin pucat dan lemah. Darah masih saja mengalir dari lukanya meskipun tidak begitu deras. Meskipun demikian ia tidak dapat meninggalkan arena, karena ia pun menyadari sepenuhnya, bahwa Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang mampu bertempur dengan baik, tetapi ia belum seorang Senapati yang baik, yang melihat pertempuran dalam keseluruhan.

Demikian tegalan kering itu telah menjadi kancah pertempuran yang dasyat.Tanah yang telah menjadi merah berlumuran darah, menghamburkan debunya menjulang tinggi ke langit. Matahari menjadi suram karenanya, sesuram wajah anak gadis yang ditinggalkan kekasihnya ke medan pertempuran.

Kilatan cahaya yang terpantul di ujung-ujung senjata masih gemerlapan. Panji-panji, rontek dan umbul-umbul masih tegak di kedua pihak meskipun tidak lagi semegah semula. Namun angin yang semakin kencang telah menyentuh-nyentuhnya dan melambaikan daun-daun rontek dan umbul-umbul. Panji-panji yang megah berkibaran seperti tangan yang menggelepar menyentak-nyentak, seolah-olah tangan seorang senapati sedang memberi aba-aba.

Agak jauh dari mereka, Sumangkar masih bertempur melawan Kiai Gringsing dengan gigihnya. Kedua orang tua yang telah kenyang makan pahit manis perkelahian itu, bertempur dengan cara mereka sendiri.

Tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh peperangan yang berlangsung di sebelah. Sorak-sorai yang gemuruh dan gerakan-gerakan surut dari salah satu pihak dari antara mereka.

Sejenak kemudian, tiba-tiba Sumangkar melontar mundur beberapa langkah sambil berdesis, ”Tunggu Kiai. Aku ingin melepaskan diri sebentar.”

Kiai Gringsing mendengar desis itu. Ia adalah seorang yang dapat menghadapi lawan dengan hati lapang. Ia tidak mau berbuat curang selagi lawan dalam keadaan yang tidak wajar, karena itu demikian ia mendengar desis Sumangkar itu, ia pun segera menghentikan serangannya. Dan bahkan terdengar ia bertanya, “Apa yang mengganggumu Adi?”

Sumangkar tidak menjawab. Namun ia tahu pasti bahwa Kiai Gringsing akan menghargai nilai-nilai kejantanannya, sehingga ia tidak akan menyerangnya selagi ia tidak bersiaga.

Kini ia berdiri tegak bagaikan patung batu. Nafasnya yang tersengal-sengal satu-satu, meluncur lewat lubang-lubang hidungnya. Ia mengakui kini bahwa Kiai Gringsing adalah seorang yang luar biasa. Seorang yang tidak kalah nilainya dari Ki Tambak Wedi yang merasa dirinya tidak terlawan. Namun ternyata orang yang tidak dikenal ini sama sekali tidak berada di bawah tingkat ilmu Ki Tambak Wedi. Bahkan diam-diam ia mengakui, bahwa ia pasti tidak akan dapat mengalahkannya.

Tetapi bukan itulah yang mendebarkan jantungnya. Bahkan di luar sadarnya ia berkata, “Lihatlah Kiai, pasukan Jipang terdorong jauh ke belakang.”

“Ia,” jawab Kiai Gringsing singkat.

Namun dengan serta merta terloncatlah dari mulut Sumangkar yang gelisah, “Umbul-umbul itu kini sudah tidak tegak lagi.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia melihat apa yang dikatakan oleh Sumangkar. Pasukan Jipang terdorong jauh. Namun tiba-tiba garis perang itu terhenti bergeser. Kiai Gringsing dan Sumangkar melihat apa yang terjadi. Macan Kepatihan sedang berusaha mempersempit gelarnya.

“Bukan main,” guman Kiai Gringsing.

Sumangkar berpaling, “Apa yang bukan main Kiai”

“Murid kakak seperguruanmu,” jawab Kiai Gringsing, “Ia berhasil menemukan cara untuk mengurangi tekanan lawannya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tohpati telah berusaha memperpendek garis perangnya.

Dengan kekuatan yang lebih baik, seorang-seorang, ia mengharap dapat mengurangi kekalahan-kekalahan yang selama ini dideritanya. Macan Kepatihan mengharap, bahwa dalam keadaan yang demikian, anak-anak muda Sangkal Putung tidak akan mendapat kesempatan yang baik. Bahkan ketika pertempuran itu baru mulai, mereka menjadi kebingungan untuk mengambil tempat.

Tetapi Widura di sayap kiri bukan orang yang mudah dikelabuhi. Ketika ia melihat gelar lawannya menyempit, segera ia menebarkan ujung sayapnya, mencoba melingkar dan mencapai garis serangan dari belakang gelar lawannya. Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak membiarkannya, sehingga terpaksa ujung pasukannyapun menebar pula mencegah pasukan Widura yang ingin memotong garis di belakang gelar.

Tohpati menggeram melihat cara Widura melawan gelarnya. Tetapi ia tidak dapat mencegahnya. Bahkan ia pun akan mengambil sikap serupa seperti apa yang dilakukan oleh Alap-alap Jalatunda apabila ia menghadapi keadaan yang serupa.

Tetapi Tohpati tidak juga dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika matahari menjadi semakin rendah, pasukannya telah benar-benar terdesak jauh ke belakang. Ketengah-tengah padang rumput yang terbentang di sisi hutan tempat persembunyian Macan Kepatihan.

Sekali-sekali Macan Kepatihan masih mencoba meneriakkan aba-aba. Namun gunanya hampir tidak ada sama sekali. Pasukannya telah benar-benar menjadi payah dan kehilangan kesempatan. Betapa Sanakeling mencoba menekan lawannya, namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya dengan baik. Bahkan sekali-sekali terdengar Sanakeling mengumpat dengan kata-kata yang kotor.

Kini Macan Kepatihan sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Hatinya menyala seperti nyala matahari di langit. Tetapi banyak hal yang telah mengganggunya selama ini. Ketika ia berkesempatan menebarkan pandangan matanya sesaat kepada pasukannya maka hatinya berdesir. Pasukannya benar-benar telah menjadi payah. Kalau Untara berhasil memecah pasukannya itu segera sebelum gelap dan masih jauh dari hutan itu maka pasukannya kali ini akan benar-benar hancur. Kesempatan untuk mengundurkan diri dengan selamat, sangat kecil. Pasukannya pasti akan diremuk lumatkan saat mereka mencoba mengundurkan dirinya. Korban pasti akan bertimbun-timbun dan untuk seterusnya akan sulit baginya untuk menyusun kekuatan kembali.

Karena itu, maka ia harus berjuang sekuat-kuat tenaga untuk bertahan sampai matahari terbenam atau mundur dalam gelar yang teratur sampai ke tepi hutan itu.

Tetapi Untara bukan tidak dapat menebak maksud itu. Ia tahu benar bahwa Macan Kepatihan sedang berusaha mencari kesempatan yang sebaik-baiknya untuk menyelamatkan pasukannya. Karena itulah justru beberapa kali terdengar ia meneriakkan aba-aba, aba-aba yang sebenarnya hanya merupakan cara-cara yang dapat mempengaruhi daya dan gairah bagi prajurit-prajuritnya.

Sumangkar yang melihat peperangan itu menjadi semakin tegang. Ia melihat umbul-umbul dan rontek, bahkan panji-panji Jipang kadang-kadang telah tidak tegak lagi. Sekali-sekali ia melihat umbul-umbul itu condong bahkan hampir roboh didorong oleh geseran garis perang. Sekali-sekali ia melihat sebuah rontek dari antara sekian banyak rontek, terseret jauh di belakang pasukan Jipang yang sedang bertahan mati-matian. Bahkan semakin lama, Sumangkar tidak dapat melihat umbul-umbul dan rontek, serta panji-panji Jipang masih berada di tempat yang seharusnya bagi sebuah gelar Dirada Meta.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: