Buku 12

Tetapi Agung Sedayu masih saja dicengkam kebimbangan, karena ia belum memliki pengalaman yang cukup menghadapi berbagai keadaan yang belum dikenalnya.

Yang terdengar kemudian adalah desis yang sayu, “Aku hampir mati karena lukaku. Apakah kau dapat memberi aku air?”

“Air?” ulang Agung Sedayu.

“Ya, kerongkonganku serasa kering.”

Agung Sedayu menyadi bingung, Darimana ia mendapatkan air, sedang ia sendiri haus bukan main. Karena itu maka jawabnya,”Sayang. Aku tidak tahu kemana aku harus mencari air.”

“Oh,” orang itu mengeluh, lalu katanya, “siapakah kau?”

“Kau siapa? Dan kenapa kau terluka?

“Prajurit Pajang lah yang telah melukai aku.”

Dada Agung Sedayu berdesir. Cepat ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa orang itu adalah orang Jipang. Tetapi kenapa ia terbaring sendiri di tengah-tengah hutan ini? Apakah ini bukan sekedar pancingan untuk menjebaknya.

Tetapi Agung Sedayu telah terlanjur berdiri didekat orang itu, karena itu maka ia bertanya pula, “Hem. Kenapa kau dilukainya?”

Orang yang terbaring itu menjawab sayup-sayup, “Kami sedang berperang. He, siapakah kau? Apakah kau bukan kawan kami ?”

Agung Sedayu berbimbang sesaat. Kemudian jawabnya,”Bukan.”

“Oh, apakah kau orang Pajang? Kalau begitu selesaikan pekerjaanmu. Bunuhlah aku dari pada aku tersiksa disini?”

“Kemana kawan2mu?”

Aku tidak tahu. Aku berjalan di ujung belakang karena lukaku, sehingga tubuhku menjadi sangat lemah. Ketika aku terjatuh disini; tak seorangpun yang melihatnya.”

Agung Sedayu terdiam sesaat. Dicobanya untuk mengurai persoalan yang dihadapinya itu. Namun kata-kata orang yang terbaring itu masuk diakalnya. Meskipun demikian ia tidak dapat segera mempercayainya. Maka kembali ia bertanya,”Orang manakah kau? Dan kenapa kau berperang dengan orang Pajang?”

Orang itu tidak segera menyawab. Dicobanya untuk bergerak, tetapi kemudian terdengar ia mengeluh panjang,”Aku sudah tidak dapat menggerakkan tubuhku sama sekali. Darahku sudah terlampau banyak mengalir. Karena itu aku tidak perlu merahasiakan diriku lagi. Aku adalah prajurit Jipang. Apakah kau bukan orang Pajang?”

Kembali Agung Sedayu terdiam sesaat. Bagaimana ia harus menyawab pertanyaan itu. Namun sehelum ia menyawab, terdengar suara lemah dan parau dari orang yang terbaring itu,”Kalau kau orang Pajang kau pasti tahu, kenapa kami berperang melawan prajurit Pajang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Baru kemudian menjawab,”Ya. Aku memang orang Pajang.”

Orang yang terbaring itu menggeram. Kemudian katanya,”Bagus. Kenapa kau bertanya segala macam sebab peperangan ini? Kau hanya berpura-pura untuk memancing pendirianku. Sekarang bunahlah aku daripada aku menderita.”

“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kenapa kawan-kawan mu tidak menolongmu?”

“Apa kepentinganmu menanyakan itu? Bukankah kau telah membunuh kawan-kawanku pula. Sekarang apa yang kau tunggu lagi? Hadiahmu akan bertambah sehelai kampuh karena kau berhasil membunuh seorang lagi dari antara kami.

“Jangan berkata begitu.”

“Kenapa?”

“Didalam peperangan kita saling membunuh. Itu bukan kemauan kita orang seorang. Tetapi kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tak dapat kita hindari. Bukankah kau merasakannya juga.”

Terdengar nafas orangyang terbaring itu terengah-engah. Rupa­rupanya didalam dadanya yang semakin lemah itu telah menyala api kemarahan yang membakar segenap darah dagingnya. “Persetan,” geramnya. Namun terdengar suaranya menjadi semakin dalam,”Sekarang bunuhlah aku supaya aku tidak membunuhmu. Bukankah didalam peperangan hanya ada satu pilihan dari dua kemungkinan, membunuh atau dibunuh?”

“Kita sekarang tidak berada dalam peperangan. Kita dapat menemukan kemungkinan yang lain,” sahut Agung Sedayu.

“Kenapa kau mengingkari tugasmu sebagai seorang prajurit? Bunuhlah musuhmu. Habis perkara.”

“Seorang prajurit bukanlah seorang manusia yang biadab. Prajurit harus memiliki sifat kejantanan, namun harus memiliki pula sifat-sifat ksatria.”

Agung Sedayu berhenti sesaat. Ketika orang yang terbaring itu tidak menyahut, maka diteruskannya,”Seorang kesatria harus memiliki pengabdian yang lengkap. Bukan saja pengabdian lahiriah. Pengabdian kepada tanah tumpah darah, kepada kampung halaman, tetapi harus juga memiliki pengabdian rohaniah. Pengabdiannya kepada tanah tumpah darah, kepada kampung halaman harus dilambari atas pengabdian dan kebaktiannya kepada Sumber hidupnya dan kepada kemanusiaan.”

“Jangan sesorah. Aku tidak dapat mendengar lagi,” sahut orang itu terbata-bata,”kalau benar kau memiliki sifat-sifat yang tajam dalam pengabdianmu atas kemanusiaan, kenapa kau tidak membunuh aku? Supaya aku tidak menderita?”

“Kau belum mati. Setiap nyawa yang masih melekat ditubuhnya masih ada kemungkinan untuk hidup terus. Kalau aku membunuhmu dengan dalih kemanusian, maka kemanusiaan yang demikian adalah kemanusiaan yang tidak berpijak pada Sumber Hidupnya, kepada Tuhannya.”

“Dalam peperangan kau juga membunuh”

“Bukankah kita membunuh karena kita ingin menghindarkan pembunuhan yang lebih besar? Kita membunuh dalam batas-batas peri kemanusiaan. Sebab kita mempunyai keyakinan bahwa kita sedang mempertahankan unsur kemanusiaan yang lebih besar. Kita menghindarkan pembunuhan yang bakal terjadi karena perbuatan lawan kita atas kami dan keluarga kami. Meskipun cara yang dipergunakan berbeda-beda. Bahkan pembunuhan dengan cara perlahan-lahan adalah lebih mengerikan. Kalau musuh kita merampas segala milik kita, menindas kita dan memperlakukan kita diluar batas peri-kemanusiaan, itu adalah sama kejamnya dengan pembunuhan itu sendiri. Penghisapan, pemerasan, dan pengingkaran atas keadilan dan kebenaran sejati.”

Orang yang terbaring itu tidak menyahut.

“Ki Sanak. Lukamu agak parah. Kau tidak akan dapat barbuat sesuatu lagi bagi kami. Karena itu aku tidak dapat membunuhmu. Tetapi aku tidak mempunyai alat dan cara untuk menolongmu.”

Orang tu masih terdiam.

“Bagaimana?”

Terdengar keluhan yang panjang dari mulut orang yang terbaring ku. Kemudian katanya, “Terserah kepadamu. Kalau kau tidak mau membunuhku, aku tidak dapat memaksamu.”

“Kenapa kawan-kawanmu meninggalkan kau sendiri?”

“Mereka tidak mengetahuinya. Aku terjatuh jauh dibelakang mereka. Dan suaraku tidak cukup keras untuk memanggil mereka.”

“Apakah mereka belum lama lewat disini?”

“Belum.”

“Apakah paman Sumngkar juga baru saja lewat disini?”

“Sumangkar? la adalah juru masak kami, ia tinggal di perkemahan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Meskipun tidak diketahuinya, apakan benar kata orang itu bahwa Sumangkar seorang juru masak, namun menurut orang itu ternyata ia belum lewat tempat ini.

Karena itu, maka kembali Agung Sedayu berdebar-debar. Kalau saja Sumangkar itu lewat dan melihatnya; apakah katanya? Tetapi kembali timbul keragu-raguannya. Sumangkar sudah berjalan lebih dahalu, apalagi ia seorang sakti yang telah mengenal daerah dengan baik. Mustahil kalau Sumangkar dapat dilampauinya.

Maka kemudian ia bertanya,”Apakah ada jalan lain keperkemahanmu selain jalan ini?”

“Ada seribu jalan.”

“Kenapa seribu?”

“Seribu jalan atau tak ada jalan sama sekali. Semua arah dapat dilalui. Semua arah merupakan hutan yang pepat.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Semua kata-katanya masuk akal baginya. Terasa orang yang telah terluka itu berkata seadanya. Seakan-akan tak adayang disembunyikannya lagi. Meskipun demikian Agung Sedayu tetap tidak kehilangan kewaspadaan. Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dan sekali lagi ia mendengar orang itu mengerang,,”Aku sangat haus.”

Timbullah iba yang dalam dihati Agung Sedayu. Tetapi apayang akan dilakukannya?

Ketika ia melangkah semakin dekat. Ujung pedangnya sama sekali tidak bergeser dari arah tubuh orang yang terbaring itu. Agung Sedayu kemudian melihat sesuatu terletak disamping­nya. Sebatang tombak. Agaknya tombak itu adalah senjatanya.

“Kau tak perlu bersiaga,” desah orang itu, “aku tidak kuat lagi mengangkat tombakku. Ambillah dan tusukan kedadaku. Aku sudah tidak mampu melawan.”

“Tidak,” sahut Sedayu. Namun pedangnya tidak juga menunduk.

Orang itu mengeluh. Dan keluhan itu telah membuat hati Agung Sedayu semakin berdebar-debar karena ibanya.

Dalam pada itu kebimbangan didadanya menjadi kian melonjak-lonjak.

Tetapi semakin dekat, Agung Sedayu dapat merasakan, betapa nafas orang itu terengah-engah. Perlahan-lahan erangnya menyentuh hatinya.

“Apakah lukamu parah?”

“Hampir mencabut nyawaku. Aku ingin itu lekas terjadi.”

“Jangan,” potong Agung Sedayu.

Orang itu tidak menyawab. Dalam keadaan yang tegang Agung Sedayu mencoba mencari jalan untuk dapat menolong orang itu. la kini telah menemukan jejak yang dapat membawanya keperkemahan orang-orang Jipang. Kalau ia dapat menolong orang ini, membawanya menepi dan keluar dari hutan ini: mungkin orang ini akan tertolong. Seterusnya ia dapat meninggalkannya di tepi hutan setelah diberinya minum, atau menyerahkannya kepada kawan-kawannya apabila masih ada yang dapat dijumpai di bekas-bekas pertempuran. Mereka yang bertugas merawat orang yang terluka.

Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. Bagaimana kalau dengan demikian tugasnya terlambat. Bagaimana kalau kemudian hujan yang lebat menghapus bekas-bekas jejak orang-orang Jipang, sehingga ia tidak dapat menemukannya lagi? Bagaimanakah kalau perintah yang harus dilakukannya itu gagal?

Agung Sedayu menjadi bimbang. Disatu pihak ia merasa wajib melakukan tugasnya, namun dilain pihak ia merasa wajib menolong jiwa yang sedang berjuang melawan maut.

Dalam keragu-raguan itu Agung Sedayu bahkan berdiri saja ditempatnya seperti patuhg. Sekali-sekali ia ingin meneruskan perjalannya, namun sesaat kemudian rintih orang yang terluka itu seakan-akan menggores dalam di jantungnya.

Dalam kegelapan malam Agung Sedayu mencoba memperhatikan tubuh itu sebaik-baiknya. Bahkan kemudian ia melangkah semakin dekat lagi.

“kau ingin melihat luka itu ?” desah orang yang terbaring itu.

Tanpa sesadarnya Agung Sedayu berkata,”Iya.”

“Mendekatlah. Lambungku sobek karena tusukan tombak orang Pajang.”

Agung Sedayu mendekatkan wajahnya. Pedangnya kini bahkan telah melekat didada orang itu. Sehingga akhirnya ia dapat melihat luka itu. Benar-benar sebuah luka yang parah. Darahnya masih saja mengalir tak henti-hentinya. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeser pedangnya, dan meraba luka itu dengan sebelah tangannya.

Orang itu’ mengeluh. Dan keluhan itu telah membuat hati Agung Sedayu semakin berdebar-debar karena ibanya.

Dalam pada itu kebimbangan didadanya menyadi kian melonjak-lonjak.

Ketika ia sibuk mempertimbangkan keputusan yang akan di ambilnya, maka hutan itu menjadi sepi. Betapapun orang yang terbaring itu mencoba menahan diri, namun masih juga terdengar ia mengeluh.

“Aku sangat haus,” katanya.

“Disini tidak ada air,” sahut Sedayu.
Orang itu terdiam. Agung Sedayupun terdiam pula.

Namun tiba-tiba Agung terkejut. Ia mendengar gemerisik daun disampingnya. Cepat ia menegakkan pedangnya. Dengan satu loncatan ia telah tegak diatas kedua kakinya yang kokoh. Pedangnya telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.

Gemerisik dedaunan itu masih didengarnya. Bahkan semakin jelas. Dan tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh muncul dari dalam rimbunnya dahan perdu. Bukan sesosok tubuh saja, tetapi sesosok orang lain tergantung dipundaknya.

“Paman Sumangkar,” desis Agung Sedayu.

Sumangkar memandangi Agung Sedayu dengan tajamnya. Seakan-akan mata itu dapat menyala didalam gelap. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia menggeram,”Angger Agung Sedayu, kenapa angger berada ditempat ini?”

Agung Sedayu menjadi bimbang. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu ? Karena itu untuk sesaat ia berdiam diri. Namun keringat dinginnya telah membasahi seluruh tububnya.

Dalam pada itu terdengar Sumangkar berkata perlahan-lahan,”Aku sudah menyangka, bahwa seseorang pasti akan mengikuti jalanku.”

Agung Sedayu masih berdiri kaku tegang ditempatnya, seakan-akan anak muda itu membeku. Namun tanpa dikehendakinya sendiri pedangnya perlahan-lahan terangkat dalam genggamannya yang semakin kuat.

Yang terdengar adalah suara Sumangkar,”Ternyata dugaanku tepat. Malahan angger Agung Sedayu sendiri yang telah mendapat kehormatan mengikuti jejakku. Namun agaknya angger terlalu tergesa-gesa. Angger tidak mencari jejakku, tetapi angger telah terjerumus kedalam bekas-bekas jejak orang-orang Jipang yang mengundurkan diri.”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: