Buku 12

Tetapi ia tidak dapat kembali. Ia telah berangkat membawa tugas Karena itu tugas itu harus dilakukannya sebaik-baiknya. Apapun yang akan terjadi.

Sekali-sekali timbul di dalam hatinya perasaan-perasaan aneh seperti yang pernah dimilikinya dahulu. Gendruwo bermata satu, macan putih dari Lemah Tengkar, hantu berwajah tampan dari gunung Gowok. Satu-satu kenangan itu timbul tenggelam di dalam benaknya. Namun Agung Sedayu kini bukanlah Agung Sedayu yang dahulu. Meskipun perasaannya tentang hal-hal serupa masih saja sering membuat lehernya meremang.

Agung Sedayu itu pun kemudian berjalan setapak demi setapak maju. Tangan kirinya meraba-raba batang-batang pohon yang dilampauinya, sedang lengan kanannya kadang-kadang meraba hulu pedangnya, di lambung kiri. Setiap saat ia memerlukan pedang itu, sebab setiap saat ia akan bertemu dengan bahaya.

Setelah agak lama Agung Sedayu berada di dalam gelapnya hutan, maka perlahan-lahan matanya dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Perlahan-lahan ia dapat melihat beberapa bagian hutan itu di sekitarnya. Bahkan ketika ia menengadahkan wajahnya, ia masih dapat melihat bayangan langit yang gelap karena mendung yang mengalir dari Selatan di celah-celah dedaunan. Namun di antara awan yang kelabu itu, Agung Sedayu kadang-kadang melihat seleret bintang seolah-olah berkeredip kepadanya.

“Hem,” Agung Sedayu menarik nafas. Ia masih belum tahu sama sekali, ke mana ia akan pergi. Ia menjadi cemas; jangan-jangan akan tersesat dan tidak dapat menemukan jalan keluar.

Tetapi bagaimanapun perasaannya bergolak, namun Agung Sedayu itu berjalan terus. Ia tidak tahu, apakah ia akan dapat bertemu dengan jejak Sumangkar atau tidak. Tetapi ia begitu saja memilih jurusan tanpa diketahui arahnya.

Dengan hati-hati Agung Sedayu berjalan terus. Setiap kali ia berhenti memperhatikannya kalau-kalau ia mendengar sesuatu. Mungkin langkah seseorang atau mungkin tarikan nafasnya. Tetapi yang didengarnya hanyalah desir angin yang menggerakkan dedaunan. Gemerisik lambat-lambat.

Agung sedayu berjalan terus. Perlahan-lahan di antara semak-semak tang tumbuh di bawah pepohonan yang besar. Agung sedayu tidak saja harus hati-hati menghadapi lawan-lawannya, tetapi ia harus hati-hati pula menghadapi segala macam binatang. Lebih-lebih lagi ular. Binatang yang sangat berbahaya dan hampir-hampir tak dapat dilihatnya bagaimana binatang itu menyerang.

Dalam keremangan malam yang gelap itu, tiba-tiba Agung Sedayu melihat sesuatu. Ia melihat gerumbul-gerumbul tumbuh tidak wajar. Namun kemudian ia mengambil kesimpulan, bahwa gerumbul itu baru saja diterobos oleh seseorang. Tidak hanya seseorang menilik dahan-dahan yang patah dan daun yang terinjak-injak.

Dengan saksama Agung sedayu mencoba memperhatikan gerumbul-gerumbul itu. Lama sekali, sebab malamnya pun gelap sekali. Hampir ia mengamat-amati setiap daun dan ranting. Diraba-raba dengan tangannya. Akhirnya Agung Sedayu berkesimpulan, bahwa bukan Sumangkar yang ditemukannya jejaknya, tetapi prajurit Jipang yang mengundurkan diri.

“Bukankah sama saja,” pikir Agung Sedayu, “kedua-duanya membawa aku ke sarang mereka.”

Tetapi dengan demikian Agung Sedayu menjadi semakin menyadari, betapa sulitnya pekerjaannya. Betapa bahaya yang dihadapinya. Mungkin ia akan bertemu dengan beberapa orang dari prajurit Jipang yang mengundurkan diri itu. Dan ia harus bertempur di dalam hutan. Meskipun ia sering berlatih bertempur malam hari dengan pamannya dan kakaknya Untara, namun bertempur di dalam hutan yang gelap, memerlukan kecakapan yang khusus.

“Jangan-jangan anak buah Macan Kepatihan sudah terlalu biasa bertempur dalam gelap,” katanya di dalam hati. Namun ditepiskannya untuk menghibur dirinya sendiri. “Ah, tidak. Mereka masih memerlukan obor waktu mereka menyerang sangkal Putung di malam hari. Kalau demikian, maka kita akan mendapat kemungkinan yang sama apabila kita harus bertempur di malam gelap.”

Kembali Agung Sedayu maju perlahan-lahan. Ia tidak mau kehilangan jejak. Setiap kali ia berhenti mengamat-amati setiap dahan-dahan perdu yang patah dan daun-daun yang tersibak. Ditelusurinya bekas-bekas itu selangkah demi selangkah. Dan ia tidak mau jejak itu terputus.

“Mereka berjalan tergesa-gesa,” pikir Agung Sedayu seterusnya “sehingga jejak mereka menjadi sangat jelas. Mudah-mudahan aku dapat menemukan sarang mereka.”

Semakin lama Agung Sedayu tenggelam semakin dalam ke dalam hutan itu. Sedang malam pun semakin lama menjadi semakin dalam tenggelam ke pusatnya.

Dalam pada itu Agung sedayu pun menjadi semakin mengenal jejak-jejak yang harus diikutinya.

Namun kemudian terasa tubuhnya semakin lama menjadi semakin penat. Sehari ia bertempur. Sehari ia tidak makan dan minum kecuali makan pagi. Karena itu, kini terasa, betapa ia lapar dan haus. Dengan demikian langkahnya pun menjadi semakin lambat, bahkan kemudian ia berpikir, “Apakah tidak lebih baik aku beristirahat? Besuk apabila hari menjadi terang, aku pasti akan dapat menemukan sarang mereka.” Namun kemudian timbullah pikirannya yang lain, “Tetapi di siang hari kedatanganku pasti segera diketahui oleh mereka. Padahal besok sebelum malam aku harus sudah melaporkannya kepada Kakang Untara.”

Agung Sedayu menjadi bimbang. Akhirnya, betapapun letihnya, betapapun haus dan lapar, ia berjalan terus. Ia mengharap dapat menemukan tempat itu, kemudian ia mengharap hujan turun supaya ia mendapatkan air untuk minum.

“Tetapi apabila hujan turun, aku akan kehilangan jejak. Dan mungkin aku tidak akan dapat kembali menemukan jalan ini,” pikirnya.

“Ah, aku harus membuat tanda-tanda sendiri,” desisnya tiba-tiba .

Agung sedayu itu pun segera menarik pedangnya. Ia ingin membuat tanda-tanda yang lebih jelas dengan pedang itu, supaya besok ia tidak tersesat pulang apabila hujan menghapuskan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh orang-orang Jipang. Apabila daun-daun yang tersibak itu akan menjadi kabur karena hujan, dan karena daun-daun itu ditundukkan oleh air hujan yang lebat.

Dengan pedangnya, Agung Sedayu membuat goresan-goresan yang dalam pada batang-batang pepohonan, dan memotong dahan-dahan yang agak besar. Membuat tanda-tanda dengan menancapkan beberapa potong kayu di tanah dan berbagai macam yang lain dengan sangat teliti, supaya suaranya tidak mengganggu ketenangan malam di dalam hutan itu.

Ketika kemudian terdengar burung hantu di kejauhan, kembali leher Agung Sedayu meremang. Burung hantu mempunyai kesan yang khusus bagi yang mendengarnya. “Ah,” katanya di dalam hati, “suara itu adalah suara burung hantu. Ia tidak dapat bersiul dengan cara yang lain, seperti burung kepodang misalnya.” Namun meskipun demikian, setiap bunyi burung itu; terasa sebuah ketukan di jantungnya.

Tetapi Agung Sedayu itu tiba-tiba tertegun. la mendengar sebuah suara yang lain. Bukan suara burung hantu. Perlahan-lahan, namun terus menerus.

Agung Sedayu itu pun berhenti. Diperhatikannya suara itu dengan saksama. Suara itu bukan suara binatang. Tetapi suara itu adalah suara seseorang.

Agung sedayu menarik nafas. Pedangnya masih di dalam genggamannya, dan dengan ujung pedang mendatar setinggi perutnya ia berjalan dengan sangat hati-hati.

Dengan penuh kewaspadaan ia mengamat-amati keadaan. Mencoba menangkap setiap suara dan melihat setiap gerak. Namun keadaan di hutan itu terlampau sepi. Dan suara itu masih saja, didengarnya.

Agung Sedayu itu pun kemudian berhenti. Semakin lama, semakin jelas, bahwa suara itu adalah suara rintihan seseorang.

“Siapa?” desis Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi Agung Sedayu tidak segera mendekatinya. Ia tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Apakah suara itu suara rintihan seseorang yang terluka dalam suatu perkelahian? Kalau demikian maka lawan orang itu pasti masih ada di sekitarnya dalam keadaan yang baik. Tetapi bagaimana kalau karena sebab lain?

Agung Sedayu itu pun kemudian malahan mencoba mencari perlindungan di belakang dedaunan. Mungkin sesuatu terjadi. Namun beberapa saat kemudian rintihan itu masih saja didengarnya. Selain itu, sepi sehingga Agung Sedayu itu menjadi tidak sabar.

Meskipun ia tidak kehilangan kewaspadaan, namun ia berusaha mendekatinya. Perlahan-lahan, menyusur gerumbul-gerumbul yang cukup pekat. Agung Sedayu masih cukup sadar, bahwa bahaya mungkin akan menerkamnya dengan tiba-tiba. Karena itu, maka setiap gerak selalu disertai dengan kesiagaan tertinggi.

Tetapi suara itu masih saja didengarnya. Terus menerus dan dari arah yang sama. Maka dengan tidak banyak kesukaran Agung Sedayu kemudian berhasil mendekatinya.

Ketika Agung Sedayu telah berada beberapa langkah saja dari suara itu. Agung sedayu berhenti. Ia kini berada di dalam sebuah gerumbul kecil. Sekali-sekali terasa tubuhnya tersentuh beberapa macam tumbuh-tumbuhan berduri. Namun ia berdiri saja tidak bergerak. Bahkan ia mencoba menguasai suara pernafasannya.

Dan suara itu masih saja didengarnya. Sebuah rintihan yang panjang. Terus menerus tidak henti-hentinya. Ketika Agung Sedayu mencoba mengamati keadaan di sekelilingnya, maka tiba-tiba dilihatnya orang itu. Orang yang merintih-rintih dengan pedihnya.

Dalam keremangan. malam, Agung sedayu melihat tubuh orang itu tergolek di tanah; di antara pohon-pohon perdu.

Sesaat Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Ia masih ragu-ragu, apakah orang itu benar merintih karena sesuatu penderitaan jasmaniah, atau karena sebab-sebab lain. Bahkan dalam keadaan serupa itu, Agung Sedayu dapat berprasangka bahwa orang itu sebenarnya sama sekali tidak menderita apapun; namun dengan sengaja telah memancingnya untuk mendekat. Adalah berbahaya sekali apabila tiba-tiba orang itu menyerangnya selagi ia kehilangan kewaspadaan.

Namun suara orang itu selalu menyentuh-nyentuh perasaannya. Rintihan itu terdengar sedemikian pedihnya. Bahkan beberapa kali ia mencoba untuk memanggil beberapa nama. Tetapi Agung Sedayu tidak begitu jelas mendengarnya.

Akhirnya Agung Sedayu, yang perasaannya mudah tergetar karena bermacam-macam hal dan keadaan; menjadi tidak sabar lagi.

Seakan-akan ia melihat seseorang yang sedang bergulat melawan maut. Itulah sebabnya, maka dengan sangat hati-hati ia melangkah maju lagi. Pedangnya terjulur lurus-lurus ke arah tubuh yang terbaring itu. Setiap gerakan akan cukup menjadi alasan untuk sekali loncat dan pedangnya akan membenam di tubuh itu.

Tetapi tubuh itu terbaring diam. Hanya suara rintihannya sajalah yang terdengar menggamit hati.

Ketika jarak orang itu tinggal beberapa langkah lagi, Agung sedayu berhenti. Ditatapnya tubuh yang tergeletak itu dengan saksama. Namun dalam keremangan malam, ia sama sekali tidak dapat mengetahui, apakah ada sesuatu cedera jasmaniah pada orang itu.

Dalam keadaan yang penuh dengan keragu-raguan dan ketegangan terdengar Agung Sedayu berdesis, “Siapa kau, dan kenapa kau terbaring di situ?”

Orang yang merintih itu agaknya mendengar suaranya. Dengan suara yang parau dan tertahan-tahan ia menyapa lirih, “Siapakah kau?”

“Aku bertanya siapa kau?” sahut Agung Sedayu curiga.

Agung Sedayu melihat orang itu bergerak. Selangkah ia meloncat surut, dan pedangnya terjulur lurus ke depan. Namun orang itu tidak bangkit dan suara rintihannya kembali terdengar.

(bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: