Buku 12

Untara mengerutkan keningnya. Terasa bahwa keputusannya mengejutkan beberapa anak buahnya sendiri. Dan barulah kini terasa bahwa seharusnya ia tidak tergesa-gesa mengucapkannya sebelum ia berbicara dengan beberapa orang pemimpin pasukan Pajang dan Sangkal Putung, serta memberi penjelasan kepada mereka. Namun kata-kata itu sudah diucapkannya, karena ita maka jawabnya , “Adi Swandaru. Kata-kataku cukup jelas. Aku akan memberikan pengampunan bagi mereka yang dengan suka rela menyerah, meskipun bukan pengampunan yang mutlak. Tetapi bagi mereka yang tidak mematuhi perintah itu, akan aku hancurkan sampai lumat.”

“Keputusan itu terlalu lunak. Kakang tidak memperhitungkan kesalahan dan bencana yang telah mereka timbulkan.”

Untara manggigit bibirnya. Ia dapat mengerti pertanyaan yang dilontarkan oleh Swandaru itu. Maka jawabnya, “Kau benar Swandaru. Tetapi kita tidak akan membiarkan diri kita terus menerus berada dalam suasana perang. Perkelahian demi perkelahian. Pertempuran demi pertempuran. Korban yang akan terus menerus berjatuhan. Dan kegelisahan yang semakin meningkat di antara rakyat.”

“Tidak!” tiba-tiba terdengar suara lain, “Mereka akan kita musnahkan dalam waktu yang singkat. Lihat, Kakang Citra Gati telah menjadi korban. Aku telah terluka dan beberapa anak buah telah terbunuh hanya dalam satu kali pertempuran, kali ini. Belum lagi terhitung dalam peperangan-peperangan yang lain. Apakah kita akan dapat melupakam korban-korban yang telah berjatuhan itu? Apakah kita dapat melihat kehadiran orang-orang yang tangannya bergelimang darah kawan-kawan kita itu hidup di antara kita sendiri dengan tenteram? Tidak. Hati kita akan selalu dikejar oleh perasaan tanggung jawab dan kesetia-kawanan.”

Untara berpaling ke arah suara itu. Dilihatnya Hudaya berdiri dengan teguhnya sebagai menara baja. Di tangannya masih tergenggam pedangnya yang berjalur-jalur merah karena darah.

“Kau benar Hudaya,” sahut Untara, “kau benar. Swandaru pun benar. Tak ada lagi kini yang dapat menghalangi kita untuk menghancurkan sisa-sisa pasukan Jipang yang sudah kehilangan pemimpinnya itu. Mereka telah menjadi demikian lemahnya sehingga kita akan dapat menumpasnya.”

“Nah, kenapa kita akan memberikan pengampunan ?” teriak Hudaya yang disusul oleh Sendawa, “Kita musnahkan saja mereka.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sedang Sumangkar yang berdiri di hadapannya bergeser setapak menghadap suara itu. Terasa dadanya yang pedih bertambah pedih. Lebih pedih dari tusukan pedang di dada itu. Tetapi ketika ia akan memotong kata-kata itu terasa Kiai Gringsing menggamitnya, sehingga Sumangkar itu hanya mendekap kepedihan itu di dalam hatinya.

“Kalian benar,” terdengar kembali suara Untara. “Kami akan dapat melakukannya. Dan hal itu pasti akan kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan orang-orang Jipang yang kemudian menyesal atas segala perbuatannya? Bagaimanakah kemudian dengan musuh-musuh kita yang merasa dirinya bersalah dan ingin menghentikan perlawanannya? Tidak semua dari mereka tahu benar apa yang telah dilakukan. Nah, bagi mereka yang dengan jujur merasa bersalah dan menyerah, kita tunjukkan kebesaran jiwa kita. Sebagai mana Tuhan akan mengampunkan dosa-dosa kita, kitapun harus bersedia memaafkan kesalahan sesama. Tentu bagi mereka yang jujur. Tuhan melihat kejujuran dan kecurangan di hati kita. Tetapi kita tidak dapat melihat hati sesama. Namun kita mempunyai cara-cara untuk itu. Melalui penelitian dan percobaan. Nah, serahkanlah hal itu kepada pimpinan Pajang. Namun dengan demikian kita mengharap bahwa ketenteraman akan segera dapat dipulihkan. Sedang kita akan segera melihat, siapakah yang dapat kita maafkan, dan siapakah yang harus kita hancurkan. Meskipun aku harus mengatakan sekali lagi, bahwa pengampunan yang aku maksudkan, bukanlah pengampunan yang mutlak membebaskan mereka dari tanggung jawab atas segala perbuatan mereka.”

Untara itu berhenti sejenak. Dicobanya untuk melihat penilaian orang-orang yang berdiri di sekitarnya atas kata-katanya. Tetapi malam menjadi semakin gelap di pinggiran hutan itu, sehingga Untara menjadi sulit untuk dapat melihat setiap wajah dari anak buahnya.

Namun sesaat tak ada seorangpun yang menyahut. Batas hutan itu kembali diliputi oleh suasana yang sepi. Kembali terdengar semakin jelas suara burung hantu dikejauhan.

Dalam kesunyian itu terdengar kemudian suara Untara kembali.

“Nah. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?”

Jawaban Swandaru mengejutkan. Katanya, “Tidak.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia masih juga mendengar beberapa orang bergumam di antara mereka.

“Jadi bagaimana kenginanmu Swandaru?” bertanya Untara langsung kepada Swandaru.

Swandaru terkejut mendengar namanja disebut. Namun ia menjawab. “Dihancurkan sampai tujuh turunan.”

“Hem,” sekali lagi Untara menarik nafas. Kemudian katanya, “Jadi kita menutup pintu bagi mereka yang ingin menyerah tanpa kecuali? Jadi kita mengingkari penglihatan kita, bahwa ada di antara mereka yang berada di pihak Adipati Jipang hanya karena terpaksa dan kemudian tidak dapat melepaskan dirinya karena berbagai persoalan. Persoalan yang sangkut-menyangkut. Ketakutan mereka terhadap ancaman kawan sendiri, ketakutan mereka terhadap sikap para prajurit Pajang yang tidak dapat dimengertinya, ketakutan mereka terhadap bayangan mereka sendiri. Lebih-lebih bagi mereka yang pada saat belum ada persoalan antara Jipang dan Pajang tidak lebih dari seorang hamba dan prajurit Kadipaten. Mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi atas mereka. Dan bahkan mereka telah mengutuk Arya Penangsang sedalam lautan. Namun mereka tidak melihat jalan kembali, sehingga mereka harus, mau tidak mau, turut serta dalam peperangan melawan kita. Kepada mereka itulah kita akan mencoba membuka pintu.”

“Bagaimana kita dapat membedakan satu dengan yang lain di antara mereka? Bagaimana kalau kemudian orang-orang semacam Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda datang memenuhi seruan itu?” bertanya Hudaya dengan suara parau bergetar.

“Mereka harus menghadapi pertanggungan jawab. Mereka yang benar-benar sadar akan perlawanannya, kepada mereka itu akan berlaku hukuman yang akan diberikan oleh pimpinan Pajang melalui ketentuan-ketentuan yang berlaku.”

“Sesudah mereka membunuh banyak orang di antara kita?” desak Sendawa.

“Ya. Kita akan memperhitungkan setiap perbuatan mereka. Sebab mereka telah melakukannya dengan sengaja dan sepenuh kesadaran mereka.”

Kembali mereka terlempar dalam kesepian. Swandaru, Hudaya, Sendawa dan banyak lagi di antara mereka yang menjadi pening. Mereka tidak mengerti arti dari pengampunan yang diberikan oleh Untara. Tetapi mereka mencoba untuk melihat, apakah yang kelak akan terjadi. Betapa perasaan mereka melonjak-lonjak, tetapi mereka tidak dapat berdebat dengan senapati mereka. Sebagai seorang prajurit mereka masih cukup menyadari kedudukan mereka. Karena itu merekapun berdiam diri. Meskipun bukan berarti bahwa mereka sependapat dengan senapatinya.

Untarapun kemudian tidak ingin berbantah terlampau lama ia akan memberi penjelasan nanti kepada anak buahnya di kademangan, atau kepada beberapa orang yang penting, untuk di teruskan kepada setiap prajurit dan orang Sangkal Putung. Ia sendiri dapat merasakan betapa beratnya keputusan yang diambilnya itu. Namun salah satu saran yang pernah di dengar langsung dari Panglima Wira Tamtama, Ki Gede Pemanahan, adalah pengampunan semacam itu atas mereka yang sama sekali tidak turut bertanggung jawab terhadap persoalan antara Jipang dan Pajang sepeninggal Sultan Trenggana.

Karena itu, maka kemudian ia berpaling kepada Sumangkar yang masih berdiri dengan tegangnya. “Paman Sumangkar ambillah tubuh Macan Kepatihan. Terserah kepada paman, apakah yang akan paman lakukan.”

Sumangkar tersadar dari ketegangan yang mencengkamnya. Sekali lagi ia membungkuk hormat. Lalu berlahan-lahan ia melangkah mendekati tubuh Tohpati yang terbaring membeku.

“Terima kasih Ngger,” katanya, “biarlah anak buahnya melihatnya. Dan biarlah peristiwa ini menimbulkan kesan-kesan baru terhadap sikap mereka selama ini.”

“Bagus,” sahut Untara.

Sumangkar kemudian mengangkat tubuh itu dan disangkutkannya di atas pundaknya. Sekali ia memandang berkeliling, atas orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Kemudian ia melangkah surut sambil berkata, “Aku akan meninggalkan tempat ini atas ijin Angger Untara.”

“Silahkanlah Paman,” berkata Untara.

Sejenak kemudian Sumangkar itu melangkah di antara beberapa orang yang menyibak memberinya jalan. Sesaat kemudian bayangan itupun masuk ke dalam gelap malam di antara dedaunan yang rimbun.

Sepeninggal Sumangkar tiba-tiba Untara berkata, “Sedayu, ada perintah untukmu.”

Sedayu terkejut, selangkah ia maju. Dengan wajah yang tertanya-tanya ia menunggu perintah yang dikatakan oleh kakaknya.

“Ikuti Paman Sumangkar dengan diam-diam, kau harus dapat melaporkan kepadaku. Di mana letak perkemahan mereka dengan tepat. Sudut-sudut yang lemah dan penjagaan-penjagaan yang ada di antara mereka.”

Agung Sedayu terkejut mendengar perintah itu. Namun tidak ada kesempatan untuk mempersoalkannya. Kakaknya menyebutnya dengan perintah. Perintah seorang senapati harus dilakukannya betapapun beratnya. Mengikuti Sumangkar bukanlah pekerjaan yang mudah. Orang itu adalah seorang yang sakti, yang pendengarannya jauh lebih tajam dari pendengarannya sendiri.

Meskipun demikian, dada Agung Sedayu dijalari pula oleh suatu perasaan yang tidak dapat diingkarinya. Bangga, namun juga cemas. Bangga atas tugas yang dipercayakan kepadanya, tidak kepada orang lain. Namun ia cemas bahwa ia akan gagal melakukannya. Bukan karena ia tidak berani, tetapi disadarinya sepenuhnya, siapa yang dihadapinya kali ini.

Dalam pada itu terdengar kakaknya berkata, “Agung Sedayu kau harus kembali sebelum malam besok.”

Tanpa berpikir Agung Sedayu menjawab, ”Baik Kakang.”

“Nah, cepat berangkat. Kalau kau terlambat kau akan kehilangan jejak Paman Sumangkar.”

“Baik Kakang,” sahut Sedayu pula.

Namun sebelum Sedayu berangkat, terdengar Kiai Gringsing berkata, “Apakah kau sungguh-sungguh, Untara.”

Untara berpaling. Ditatapnya wajah Kiai Gringsing. Kemudian jawabnya, “Tentu, Kiai. Aku memerlukan laporan tentang daerah lawan, keadaannya, kekuatannya dan segala macam persoalan yang mungkin dapat kita perhitungkan dalam setiap saat dan keadaan yang perlu.”

“Bukankah kau mempunyai beberapa orang pembantu dan bahkan ada yang dekat dengan lingkungan mereka?”

“Aku kurang mempercayainya seperti aku mempecayai Agung Sedayu. Mungkin aku berhadapan dengan ular berkepala dua, karena itu aku harus mencocokkan keadaan, sebelum aku melakukan tindakan terakhir. Bukankah Sumangkar akan menunjukkan jalan itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya, “Kenapa Agung Sedayu, bukan orang lain, Angger Widura misalnya?”

Untara menggigit bibirnya. Sesaat ia terdiam, namun kemudian ia menjawab, “Paman Widura adalah pimpinan prajurit Sangkal Putung. Ia tidak dapat meninggalkam tugasnya.”

“Bagus, bagus,” desah Kiai Gringsing, “kau cerdik Untara.”

“Kenapa?” bertanya Untara.

“Tidak apa-apa,” sahut Kiai Gringsing. “Pergilah Agung Sedayu.”

“Baik Kiai,” sahut Agung Sedayu, kemudian dengan ringkas ia mohon diri kepada kakak dan pamannya. “Aku berangkat Kakang, dan aku minta doa Paman Widura, semoga berhasil.”

Widura berdiri tegak seperti patung. Ia menyadari bahaya yang dapat terjadi atas kemanakannya. Sumangkar bukan orang yang setingkat dengan anak muda itu, karena itu ia ragu-ragu melepaskannya. Meskipun demikian, perintah itu datang dari senapati yang mendapat kekuasaan langsung dari Panglima Wira Tamtama Pajang, karena itu dengan hati berat ia menjawab, “Hati-hatilah Agung Sedayu. Tugasmu terlampau berat.”

Agung Sedayu tidak berkata apa-apa lagi. Ia takut kehilangan jejak. Karena itu, segera ia melangkah, meninggalkan kakaknya, pamannya dan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung.

Swandaru yang tertegun keheranan atas perintah itu, tiba-tiba seperti orang tersadar dari mimpi. Terbata-bata ia berkata, “Aku ikut serta Kakang Sedayu.”

Sebelum Sedayu menjawab, terdengar Untara menyahut. “Jangan Swandaru. Biarlah ia berjalan sendiri.”

Yang mendengar jawaban Untara itupun menjadi heran pula. Apakah sebenarnya maksud Untara dengan perintahnya kepada adiknya itu. Perintah yang sangat berbahaya dan hampir-hampir tak masuk akal mereka. Agung Sedayu harus mengikuti jejak orang sesakti Sumangkar.

Namun kemudian mereka benar-benar harus melepaskan Agung Sedayu. Mereka hanya dapat memandang anak muda itu berjalan dan menghilang di dalam gelap searah dengan menghilangnya Sumangkar.

Demikian Agung Sedayu masuk ke dalam hutan, demikian ia merasa terlempar ke dalam suatu daerah kelam yang sama sekali tak dikenalnya, yang dapat dilihatnya hanyalah tabir hitam pekat menyelubunginya. Satu-satu ia dapat melihat remang-remang pepohonan yang sudah sedemikian dekat dengan hidungnya. Namun yang lain tak dapat dilihatnya.

Barulah ia kini menyadari, betapa sulit tugas yang dibebankan kepadanya. Ia tidak tahu, ke mana ia harus berjalan dan bagaimana mungkin ia dapat mengikuti jejak orang yang bernama Sumangkar. Ia sama sekali tidak mendengar langkah kaki, desah nafas dan apalagi melihatnya.

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: