Buku 12

Mereka semuanya tersentak ketika mereka mendengar guruh meledak di udara, didahului oleh cahaya kilat yang memercik sekilas. Seperti berjanji mereka menengadahkan wajah-wajah mereka menatap langit. Dan kembali mereka terkejut ketika mereka melihat awan yang kelam menggantung di langit. Mendung yang seakan-akan siap untuk meluncur turun ke permukaan bumi.

“Adi Sumangkar,” terdengar suara Kiai Gringsing, “bagaimana dengan Angger Macan Kepatihan?”

“Aku akan mencoba memenuhi pesannya, Kiai, apabila Angger Untara mengijinkannya.”

“Silahkan Paman,” sahut Untara.

“Aku akan segera kembali. Dan aku menunggu keputusan Angger atas diriku.”

Untara menggigit bibirnya. Kemudian katanya, “Paman telah menunjukkan kesediaan Paman untuk tidak lagi berbuat hal-hal yang bakal merugikan Pajang. Karena itu, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bahwa Paman tidak turut serta bertanggung jawab atas segala tingkah laku pasukan Jipang, maka aku akan mencoba memohonkan ampun untuk Paman Sumangkar.”

Tiba-tiba Sumangkar menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku tidak ingin belas kasian. Aku tidak ingin mengingkari tanggung jawab yang betapapun beratnya, yang akan turut menentukan hukuman atasku.”

Untara mengerutkan keningnya. Katanya, “Lalu apakah arti kata-kata Macan kepatihan pada saat terakhir ini?”

“Ia ingin membebankan kesalahan pada dirinya sendiri.”

“Kalau begitu Paman tidak ingin mengakui kebenaran kata­katanya. Sehingga Paman menolak setiap pemaafan?”

“Aku tidak ingin mendapatkan belas kasihan itu.”

“Kalau begitu apa maksud Paman sebenarnya? Apakah Paman akan mengambil alih pimpinan dari tangan Macan Kepatihan?” desak Untara.

Tiba-tiba Sumangkar berdiri. Dipandanginya wajah Untara yang telah berdiri pula di hadapamnya.

“Angger,” berkata Sumangkar yang hatinya sedang kelam seperti kelamnya langit. “Aku telah berkata bahwa aku akan kembali dan akan menerima semua hukuman yang akan ditimpakan kepadaku. Kau tidak percaya? Apakah kau akan mencoba menangkap Sumngkar sekarang?”

“Paman,” terdengar suara Untara menjadi semakin berat. Sebagai seorang senapati muda maka ia tidak segera dapat mengatasi gelora di dalam dadanya sendiri. Hatinya benar-benar tersinggung ketika ia mendengar penolakan Sumaugkar atas tawarannya uutuk mendapatkan keringanan hukuman dan pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Karena itu sebagai seorang pengemban tugas ia berkata, “Aku adalah Senapati Pajang yang mendapat kepercayaan di daerah ini. Aku telah mencoba melihat kebenaran dan kealpaan pada tempatnya sendiri-sendiri. Tetapi penolakan Paman sangat menyakitkan hati. Karena itu apakah aku harus meneruskan tindakan pengamanan dengan cara yang telah aku tempuh sampai saat ini terharap Macan Kepatihan?”

Sumangkar itu mundur selangkah. Tiba-tiba digenggamnya tongkat baja putihnya erat-erat. Dengan tajamnya dipandanginya wajah Untara. Dari sela-sela bibirnya yang gemetar ia berkata, “Baik. Kalau itu yang kau inginkan Ngger. Silahkan. Aku bersedia menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi atasku. Umurku sudah lanjut, dan aku sudah jemu untuk melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk di muka bumi ini. Karena itu, marilah. Apa yang akan kau lakukan atasku.”

Untara pun tiba-tiba menggeram. Dari matanya seolah-olah memancar api kemarahan. Ia adalah senapati Pajang yang berwenang untuk melakukan kebijaksanaan di daerah ini. Karena itu, maka tanpa sesadarnya, ia memandang berkeliling. Kepada Widura, Agung Sedayu, Swandaru, dan kepada para pemimpin-pemimpin kelompok pasukannya.

Sambaran mata Untara itu, seakan-akan merupakan perintah bagi mereka, bagi Widura, Agung Sedayu, Swandaru dan semua orang yang berdiri mengitari mereka serentak mereka bersiaga dan serentak pedang-pedang mereka siap untuk menerkam Sumangkar yang berdiri di tengah-tengah lingkaran manusia itu.

Tiba-tiba dalam ketegangan yang memuncak itu, terdengarlah suara tertawa. Perlahan-lahan, namun nadanya seakan-akan menghantam dinding jantung.

Suara itu adalah suara Ki Tanu Metir, yang masih saja berada di tempatnya. Namun kini iapun telah berdiri, menghadap ke arah Sumangkar. Diantara suara tertawanya yang perlahan-lahan itu terdengar ia berkata, “Adi Sumangkar yang bijaksana. Apakah sebenarnya yang akan kau lakukan? Apakah kau masih ingin membunuh dirimu? Barangkali cara inipun akan dapat kau tempuh. Mati dikeroyok orang. Apakah cara ini juga dapat memberi kepuasan kepadamu?”

“Tidak. Aku hanya bersedia mati oleh tangan Kiai Gringsing yang cukup bernilai bagiku. Bukan karena tangan anak-anak ataupun siapa saja. Sumangkar akan bertahan sampai kesempatan yang terakhir. Kecuali kalau kau ikut serta dengan mereka. “

Kembali suara tertawa Kiai Gringsing mengumandang di pinggiran hutan itu, seolah-olah menelusur sampai ke kaki bukit. Katanya, “Untara. Naluri keprajuritan Adi Sumangkar masih terlalu tebal. la melihat murid kakak seperguruannya mati karena tusukan pedang. Ia melihat Macan Kepatihan bukan saja sebagai senapati yang dibanggakannya, tetapi Raden Tohpati adalah penerus dari perguruan Kedung Jati. Itulah sebabnya ia merasa kehilangan. Perasaan itu sedemikian menusuk hatinya, sehingga betapapun mengendapnya hati Adi Sumangkar, namun kadang-kadang ia kehilangan keseimbangan dalam kejutan yang tiba-tiba semacam ini. Harga dirinya sama sekali tidak tersentuh seandainya Macan Kepatihan itu tidak lebih dan tidak kurang dari panglima perangnya saja. Tetapi karena Macan kepatihan itu bersangkut-paut dengan perguruannya, maka ternyata sentuhan itu agak terlalu tajam baginya.”

Untara mendengar penjelasan itu, kata demi kata. Baginya apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu cukup jelas. Tidak lain adalah permintaan yang serupa seperti yang telah diucapkan. Pengampunan. Namun ternyata Kiai Gringsing mengucapkan dalam nada yang berbeda. Meskipun demikian, ia masih tetap berdiri tegak dengan pedang di dalam genggamannya siap untuk bertindak apabila keadaan memaksa.

Namun bagi Sumangkar, kata-kata Kiai Gringsing itu benar-benar telah melemahkan segala sendi tulangnya. Ia merasa seolah-olah dihadapkan pada sebuah cermin yang besar untuk melihat dirinya sendiri. Kegugupan, kegelisahan, kecemasan, harga diri, putus-asa dan segala perasaan bercampur baur sehingga ia tidak menemukan keserasian nalar dan perasaan. Tiba-tiba orang tua itu menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa Kiai Gringsing pun telah mencoba meredakan kemarahan Untara dan mencoba mencegah ia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menyulitkan keadaan.

Sesaat suasana kembali menjadi sepi-senyap. Kembali di kejauhan terdengar suara burung hantu seperti mengetuk-ngetuk dada. Dan malampun serasa bertambah dalam.

“Adi sumangkar,” kembali terdengar suara Kiai Gringsing. “Bagaimana kalau aku ulangi kata-kata Macan Kepatihan? Bahwa sepeninggalnya perselisihan akan tidak berlangsung terus?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Jawabnya lirih, “Ya, Kakang.”

“Nah, sekarang marilah kita singkirkan perasaan harga diri kita masing-masing yang terlalu berlebih-lebihan. Sekarang lakukan yang kau kehendaki. Menguburkan Tohpati dengan baik menurut cara yang kau inginkan. Sesudah itu, kau akan kembali dan persoalan akan selesai. Begitu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata Kiai Gringsing itu sama sekali tidak berbeda dengan kata-kata Untara. Tetapi kini ia telah menjadi semakin menyadari keadaannya. Bahkan kemudian ia berkata sambil membungkukkan kepalanya. “Baik Kakang. Aku akan menerima segala persoalan dengan senang hati. Kalau aku harus menerima pengampunan, biarlah aku mengucapkan terima kasih kalau aku akan menerima hukuman, biarlah hukuman itu akan aku jalani.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia melihat Untara akan mengucapkan sesuatu, cepat-cepat ia mendahului, “Sekarang, bukankah Adi Sumangkar akan kau persilahkan membawa Raden Tohpati. Ngger?”

Untara tertegun sejenak. Namun ia menganggukkan kepalanya. “Ya Kiai.”

“Dan kau akan menerimanya kembali kelak?”

Kembali Untara mengangguk, “Ya Kiai.”

“Bagus. Aku bukan Panglima prajurit Pajang, bahkan seorang prajuritpun bukan. Tetapi, aku yakin bahwa Angger Untara memang akan berbuat demikian.”

Hati Untara itupun menjadi luluh pula melihat sikap Sumangkar yang kini seakan-akan melepaskan segala macam kepentingan sendiri. Bahkan harga dirinya sekalipun. Karena itu, maka terdengar Untara itupun kemudian berkata, “Silahkan Paman Sumangkar. Kesempatan itu akan Paman dapat seperti yang Paman kehendaki.”

Sekali lagi Sumangkar menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih. Aku akan membawa angger Tohpati di antara anak buahnya. Aku akan mengucapkan kembali kata-kata terakhirnya, bahwa kematiannya akan menjadi pertanda bahwa perselisihan tidak akan berlangsung terus.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat dadanya terasa bergetar. Ada yang akan dikatakannya, namun ia menjadi bimbang. Namun setelah melalui beberapa pertimbangan ia berkata, “Demi kakuasaan yang ada padaku Paman Sumangkar, aku akan memberikan pengampunan kepada anak buah Macan Kepatihan yang dengan suka rela dan tulus menyerahkan dirinya. Namun seterusnya aku akan melakukan tugasku sabaik-baiknya, apabila ada di antara mereka yang menolak uluran tangan ini.”

Sekali lagi dada Sumangkar berdesir. Namun betapapun juga ia harus melihat kenyataan, memang sebenarnyalah bahwa perkataan Untara itu benar. Apa yang terjadi bukannya satu persetujuan antara seorang senapati Jipang dan seorang senapati Pajang. Tetapi yang terjadi adalah penyerahan. Manyerah karena tak ada lagi kekuatan untuk melawan.

Betapapun rasa sakit menghentak-hentak dada, namun Sumangkar tidak lagi membantah kata-kata senapati muda dari Pajang itu. Betapapun pahitnya kata-kata yang dipergunakan, menyerahkan diri, namun tidak ada lain yang dapat dilakukan untuk menghentikan kerusuhan-kerusuhan yang masih akan berkembang berlarut-larut. Meskipun bagi dirinya sendiri masih akan banyak dicari kemungkinan-kemungkinan lain, bahkan kemungkinan yang terakhir, yang baginya lebih baik daripada menyerah itu, yaitu mati, tetapi kematiannya tidak akan berarti apa-apa bagi ketenteraman yang akan dicarinya. Ketenteraman bagi rakyat Demak. Ketenteraman seperti yang dipesankan oleh Tohpati. Bahkan kematian Tohpati pun akan tidak berarti apa-apa.

Bila tanpa penyerahan dari anak buahnya. Malahan kerusuhan akan menjadi semakin memuncak, sebab sisa-sisa prajurit Jipang itu akan menjadi semakin tak terkekang. Namun mudah-mudahan hilangnya pemimpin mereka, akan memperlunak hati mereka. Mudah-mudahan mereka menjadi seakan-akan kehilangan pegangan. Dan dalam keadaan yang demikian, mereka akan mendengar kabar pengampunan yang diberikan oleh Untara, bagi mereka yang bersedia menyerahkan diri.

Tetapi bukan saja bagi Sumangkar kata-kata itu mengetuk hati. Widura yang mendengar kata-kata Untara itu mengangkat kepalanya. Sesaat hatinya bergelora. Namun kemudian ia berhasil mengendapkannya. Dalam saat yang pendek ia dapat mangerti maksud dari kemanakannya itu. Dan iapun kemudian tidak berkata apa-apa. Hatinya dikendalikannya. Sebagai seorang prajurit yang telah cukup berpengalaman, maka nalarnya mampu menguasai perasaannya yang melonjak-lonjak menghadapi keputusan itu.

Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa orang hampir bersamaan mendesak maju. Yang paling depan dari mereka adalah Swandaru. Dengan kalimat yang patah-patah karena desakan perasaannya yang bergejolak ia berkata, “Kakang Untara. Apakah artinya pengampunan itu?”

(Bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Telah Terbit on 1 September 2008 at 16:10  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. maaf… saya baru saja nemu blog ini 3 hari lalu
    koq buku 8 s/d 10 nya gak ada ya

    D2: Silakan baca halaman pembuka. Halaman 8-10 sedang dalam proses

  2. Ayo dong bagi yang bisa melengkapi syogianya dilengkapi
    sayangkan karya yang bagus tak dapat di baca/dinikmati
    oleh orang banyak hanya karena harga yang mahal

    thank’s

  3. Pak Dhe2 yth,

    Ini buku bagus, dahulu terbitnya sebulan sekali. Saya ingin membaca ulang, tapi koq jilid 1-11 gak ada?
    Matur nuwun …..

    # lho ???

  4. wow, akhirnya, kumenemukan lagi nama2 Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru Geni, Widura, Glagah Putih, Untara, Sabungsari dll. Dah lama gak ngebaca lagi setelah seluruh buku APIku dihajar banjir.

  5. Panembahan sedoyo,

    kawulo aturaken “matur thank Q”

  6. buku 12 api di bukit menoreh

  7. sugeng dalu,

    nuwun sewu cantrik masuk gandok SINI tanpo pemberitahuan
    lebih doeloe.

    • rontal-12 API di BUKIT MENOREH……ciamiK,

      • Sugeng ndalu KiGun…neng nduwur wonten mbah Man..

        • Tapi koq ngagem asmo bedes njih…mungkin 4 th kepungkur durung dadi simbah… 😀

          • ki gundul ciamis eh ciamik ding …
            ki kartu gede kok malah ngagem niku to ….

            • Ki Truno juga ada ….

              • adakah ki kompor ?
                tolong liatin ki …

                • Ada digandok sebelah, mungkin nunggu…Ki Jurukasi kale… 😀

  8. absen sik. sakdurunge sengenge sumurup …

    • absen sik sakdurunge sengengene mlethek…

      • kalo mau nyalon camtrik ndaftarnya di mana ki kartu ?

        • Sakdurunge nyalon..kudu mbalon..eh..bakal calon rumiyin Ki.. 😀

          • ki AS, ki KJ memang benul2 calon CANTRIK TELADAN ADBM,
            selalu HADIR dan HADIR LAGI walaupun…….Nyi SENO….. !!??

            titik2 yang dimaksud pada kalimat diatas, hayooo diTimBAK 🙂

            • titik2 sing pundi to ki gund

              • titik2 (.)(.)…hayooo benerkan ? 😀

                • wow titik2nya ki kartujodo keren bener ….

                • padaMU tiTIK-tiTIK…..heheee, genk DALU ki AS, ki KJ
                  kadang padepokan ADBM sedaya,

                  • s
                    a
                    m
                    p
                    e

                    k
                    a
                    p
                    a
                    n

                    s
                    i
                    t
                    i
                    t
                    i
                    k

                    k
                    u
                    a
                    t

                    b
                    e
                    r
                    t
                    a
                    h
                    a
                    n

                    d
                    i

                    g
                    a
                    n
                    d
                    o
                    k

                    s
                    i
                    n
                    i

                    • jebul pada seneng gojegan neng kene to /

                    • j
                      e
                      b
                      u
                      l
                      n
                      y
                      a

                      p
                      a
                      d
                      a

                      g
                      e
                      g
                      o
                      j
                      e
                      g
                      a
                      n

                      n
                      e
                      n
                      g

                      k
                      e
                      n
                      e
                      .
                      t
                      a
                      k
                      m
                      e
                      l
                      u

                      a
                      h
                      h
                      h
                      h

  9. waduh nggak isok melbu

    • diBUKA slarak-e dhisik Ki…….he-he-heeeee, hikSS

      sugeng rawuh pinisepuh-sesepuh cantrik ADBM
      eyang GEMBLEH.

      • ngga bisa ki gun, selaraknya diikat sama ki kartu sama ki gemb 😦

  10. SUMANGKAR,

    Su = linuwih
    Mangkar = mangkir

    dadi pada karo TUKANG ABSEN.

    Hadirrrrrrrrr……..!!!!!!!!

  11. sumang=loro panas
    kar=arena
    sumangkar=demam panggung

    (rung iso melbuuuu)

  12. SUMANGKAR,

    SUM : gadis cantrik
    ANGKAR : jangkar kapal
    SUMANGKAR : gadis cantrik narik jangkar kapal

    • SUMA = MBAH SUMA

      NGKAR = JENGKAR

      SUMANGKAR = Mbah Suma mulih numpak dhokar

      • suma: pendekar pulau es
        ngkar: ngusir dokar
        sumangkar: yo sumangkar hahahaa

        • sing bener niku dosene ni sindhen Sekar Mirah

          • sekar mirah
            —————-
            sekar: kembang
            mirah: abrit
            sekar mirah : permen jahe

            • leres ki AS ni sindhene sithik-sithik njahe nganti dhalange grisinen

              • dalange nopo nggih kyai ajar pandita resi panembahan gembleh pol ?

                • Kirang ngertos , wekdal niku ki dhalang lagi anyel atine nggedhog kothak dibanterke ndilalah dilah blencong ceblok nibani jarite , kidhalang ginjal-ginjal mlayu sipat kuping . njur wayange bubar

                  Penonton kecewa .

                  • informasine sangat jelas ki mangku, berdasarkan cara ki mangku mbabar cerita bisa dipastikan bahwa dalangnya tidak lain adalah …..

                    • ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: