Buku 10

Ketika Tohpati memandang wajah Sanakeling yang samar-samar diterangi oleh cahaya obor yang kemerah-merahan, dilihatnya wajah yang keras kasar itu hampir tidak sabar lagi menunggu perintahnya. Karena itu maka sambil menganggukkan kepalanya, Tohpati melambaikan tongkat baja putihnya yang mengerikan itu.
Sanakeling tersenyum melihat lambaian tongkat Macan Kepatihan. Dengan serta-merta ia menarik pedangnya. Diangkatnya pedangnya itu tinggi-tinggi seolah-olah hendak menusuk langit. Dan kemudian dari sela-sela bibirnya yang tebal, terdengarlaj ia meneriakkan aba-aba.
Dalam waktu sekejap, hampir setiap pemimpin kelompok telah mengulangi aba-aba itu. Terdengarlah kemudian seseorang membunyikan sebuah bende. Suaranya menggema melingkar-lingkar didalam hutan itu.
Ketika Sanakeling mengangkat tangannya untuk kedua kalinya, maka sekali lagi bende itu bergema, suaranya memukul-mukul batang-batang kayu dan dedaunan. Hampir setiap tubuh didalam pasukan itu bergerak. Tangan-tangan mereka sekali lagi meraba-raba pakaian mereka, senjata mereka dan perlengkapan-perlengkapan mereka yang lain. Mereka tidak boleh menjadi korban karena kealpaan mereka atas persiapan mereka sendiri.
Sesaat kemudian Sanakeling mengangkat pedangnya untuk yang ketiga kalinya. Pedang itu melingkar satu kali, disambut oleh bunyi bende untuk yang ketiga kalinya. Bunyi itu terasa seakan-akan menyentuh sudut hati mereka yang berdiri didalam barisan itu. Sudah lama mereka tidak mendengar bunyi aba-aba dengan cara yang demikian. Sudah lama mereka hanya mendengar aba-aba dari pemimpin-pemimpin mereka yang berteriak-teriak tidak menentu. Kadang-kadang bahkan bunyi aba-aba itu terasa sesuka hati yang mengucapkannya. Namun kali ini mereka mendengar aba-aba seperti yang selalu didengarnya pada saat Jipang masih tegak. Pada saat mereka masih bernama seorang prajurit Wiratamtama Jipang, dibawah pimpinan adipati yang mereka segani, Arya Penangsang. Seorang adipati muda yang perkasa, dengan seekor kuda bernama Gagak Rimang dan sebilah keris ditangannya. Keris yang sakti tiada taranya, yang dinamainya Setan Kober. Sedemikian saktinya keris itu, sehingga orang menganggapnya, bahwa karena sentuhan keris itu gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering.
Meskipun kali ini mereka tidak bersama dengan adipati itu lagi, namun Macan Kepatihan masih tetap memberi mereka kebanggaan. Macan Kepatihan yang kali ini tidak berada diatas punggung kudanya, kuda segagah Gagak Rimang yang dinamainya Maruta. Kuda yang dapat berlari sekencang angin. Namun meskipun demikian, ketika setiap orang dalam pasukan itu melihat tongkat putihnya yang berkilat-kilat, maka hati mereka menjadi bangga. Seolah-olah merekalah yang menggenggam senjata yang mengerikan itu.
Beberapa orang dari mereka tidak dapat melupakan kenyataan, bahwa Tohpati itu beberapa waktu yang lampau dapat dilukai oleh senapati Pajang yang ditempatkan di Sangkal Putung, dan bernama Untara. Tetapi mereka menganggap peristiwa itu sebagai sebuah kecelakaan. Tohpati pasti tidak dapat dikalahkan oleh siapapun. Mungkin Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, atau Ki Juru Mertani. Tetapi tidak oleh orang lain. Apalagi Untara. Tohpati pada waktu itu pasti baru melindungi seseorang atau lebih, sehingga dirinya sendiri dikorbankannya.
Apalagi kini, dibawah umbul-umbul, rontek dan tunggul-tunggul kebesaran Jipang, dibelakang senapati mereka, Macan Kepatihan, maka laskar Jipang itu merasa, bahwa mereka adalah pasukan yang paling kuat yang pernah terbentuk sejak Jipang runtuh.
Demikianlah, maka setelah bende yang ketiga kalinya itu, pasukan Jipang mulai bergerak dengan sigapnya. Setiap orang didalam pasukan itu tampak berwajah cerah, seakan-akan mereka telah menggengam kemenangan ditangannya.
Dibawah cahaya obor-obor yang menyala hampir disetiap ujung dan pangkal kelompok, pasukan itu bergerak. Mereka tidak takut lagi apabila lawan-lawan mereka dapat melihat cahaya obor-obor itu dari kejauhan. Kini mereka datang dengan dada tengadah, tanpa berusaha mencari kelengahan lawan. Kini mereka datang beradu muka. Mereka datang dalam gelar yang sempurna. Dari Sanakeling mereka telah mendengar perintah, apabila mereka telah sampai didaerah yang luas, maka mereka segera akan membuat gelar yang cukup tanggon, Dirada Meta.
Laskar Jipang itu kemudian menjalar bagaikan seekor ular raksasa yang merayap diantara pohon-pohon liar. Seekor ular naga yang bersisik api. Obor-obor diantara mereka benar-benar seperti sisik yang gemerlapan.
Semua orang didalam pasukan itu tiba-tiba menengadahkan wajahnya ketika mereka melihat kilat menyambar diudara. Sekali-sekali mereka mendengar guntur menggelegar dilangit. Ketika mereka memandang kearah timur, tampaklah langit gelap pekat.
Seorang didalam barisan itu bergumam lirih “Diarah timur aku kira hujan turun dengan lebatnya”
Kawannya yang berjalan disampingnya mengangguk. Sebelum ia menjawab, ditengadahkannya tangannya, katanya “Disinipun hujan sebentar lagi akan turun. Lihat, titik-titik air telah satu-satu berjatuhan”
”Tetapi angin bertiup kearah timur. Awan yang basah itu akan dihalau pergi”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
Perlahan-lahan ular raksasa itu maju terus. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan tepi hutan. Dan sesaat kemudian ujung dari barisan itu telah muncul dari sela-sela belukar dan batang-batang pohon liar. Kini mereka berjalan diatas padang perdu yang tidak terlalu luas, diselingi oleh gerumbul-gerumbul dan pepohonan yang semakin jarang.
Macan Kepatihan yang berjalan diujung pasukan itu berdesir. Didekat tempat inilah ia bersama Sumangkar bertemu dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Bahkan kemudian datang pula Kiai Gringsing dan kedua orang yang mungkin sekali adalah murid-muridnya.
Macan Kepatihan itu tiba-tiba menundukkan wajahnya. seolah-olah ia ingin melihat setiap langkah yang dilampaui oleh kaki-kakinya itu. Dijinjingnya tongkatnya dengan tangan kanannya, terbuai oleh ayunan lenggangnya. Sekali-sekali tongkat itu tampak gemerlapan karena cahaya obor yang dipantulkannya.
Agak jauh dihadapan mereka, dua orang bersembunyi dengan rapatnya dibalik dedaunan. Ketika mereka melihat iring-iringan itu, hati mereka menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat umbul-umbul, rontek dan tunggul-tunggul lengkap dibagian depan pasukan Jipang.
“Gila” desis salah seorang dari mereka “Mereka benar-benar datang dalam kelengkapan yang sempurna”
Yang lain tidak menjawab. Ketika mulutnya hampir terbuka, tiba-tiba didengarnya lamat-lamat suara aba-aba dari laskar Jipang itu. Dengan sigapnya setiap orang didalam barisan itu bergerak. Dan terbentuklah gelar Dirada Meta yang sempurna. Macan Kepatihan, senapati yang disegani itu, berdiri diujung gelar itu. Agak jauh disisinya, kedua senapati pengapitnya, siap membayangi setiap perkembangan keadaan. Mereka adalah Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda. Tepatlah tebakan Untara atas gelar yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan itu. Namun sebaliknya. Macan Kepatihanpun dapat memperhitungkan dengan tepat, bahwa Pajang akan mempergunakan gelar yang lebih luas. Sesuai dengan keadaan laskarnya yang bercampur baur dengan laskar Sangkal Putung, maka mereka memerlukan medan yang lebih lebar, supaya tidak terjadi desak-mendesak diatara mereka. Laskar Sangkal Putung itu pasti belum mampu untuk menghadapi keadaan yang serba tiba-tiba seperti lasakar Pajang sendiri. Namun keberanian dan tekad dari orang-orang Sangkal Putung benar-benar memusingkan kepala Tohpati. Mereka mengamuk seperti orang mabuk, apalagi disampingnya selalu dibayangi oleh kemahiran bertempur orang-orang Pajang, sehingga gabungan diantara mereka, keberanian, tekad yang meluap-luap dan pengalaman serta kemahiran merupakan kekuatan yang benar-benar ngedab-edabi.
Kedua orang yang bersembunyi itu adalah orang-orang Pajang yang dipasang oleh Untara. Karena itu maka segera mereka menyelinap dan berlari terbongkok-bongkok kearah kuda-kuda mereka didalam semak-semak. Sesaat kemudian mereka itupun telah meloncat keatas punggung kuda masing-masing dan dengan hati-hati mereka berusaha untuk mencari tempat-tempat yang terlindung. Baru setelah agak jauh mereka memacu kuda-kuda mereka dengan cepatnya menuju ke Sangkal Putung
Tohpati dan beberapa pemimpin pasukan Jipang melihat kedua orang berkuda itu. Namun mereka sama sekali tidak berkeberatan seandainya kedatangan mereka kali ini disongsong oleh laskar Sangkal Putung dan pasukan Pajang. Pasukan Jipang yang terhimpun dari orang-orang mereka yang betebaran itu merupakan kekuatan yang cukup besar untuk menggulung kademangan Sangkal Putung.
Kedua pengawas dari Sangkal Putung itu memacu kudanya seperti angin. Mereka harus segera sampai Sangkal Putung dan melaporkan apa yang mereka lihat.
Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan Sangkal Putung, terasa titik-titik hujan semakin deras berjatuhan diatas tubuh-tubuh mereka. Namun ketika kemudian mereka melihat air yang tergenang disana-sini, maka gumam salah seorang adri mereka “Agaknya hujan lebat didaerah ini”
Yang lain menganggukkan kepalanya sambil berkata “Ya, lebat sekali. Bahkan anginpun agaknya terlalu kencang”
Keduanya tidak berbicara lagi. Kuda mereka berlari semakin kencang. Sekali-sekali menyeberangi genangan-genangan air dijalan yang mereka lalui. Dan ternyata hujanpun belum teduh sama sekali, sehingga sebelum mereka memasuki Sangkal Putung mereka telah menjadi basah kuyup pula. Tetapi hujan sudah jauh berkurang. Air tidak lagi seakan-akan tertumpah dari langit yang retak.
Kedua ekor kuda itu berpacu langsung kekademangan. Tetapi mereka menjadi kecewa ketika para penjaga regol kademangan berkata bahwa Untara telah berangkat kebanjar desa.
“Hem” desah salah seorang dari mereka “Marilah kita lekas kebanjar desa itu”
Dan kembali keduanya berpacu. Derap langkah kuda-kuda mereka itu terdengar memecah kesepian jalan-jalan di Sangkal Putung. Sekali-sekali genangan air memercik membasahi kaki penunggang-penunggang kuda itu. Mereka harus segera menemui Untara atau Widura.
Dibanjar desa derap kuda itu disambut dengan hati yang berdebar-debar. Kedua orang itu segera dibawa menghadap Untara dan Widura untuk menyampaikan laporannya tentang laskar Tohpati itu.
Dengan tergesa-gesa kedua orang itu menceritakan apa yang telah dilihatnya tentang laskar Jipang yang datang benar-benar dengan gelar dan kelengkapan gelar yang sempurna.
“Hem” Untara menarik nafas dalam-dalam. “Mereka mempergunakan tanda-tanda kebesaran kadipaten Jipang?”
“Ya tuan” jawab kedua orang itu.
Untara terdiam sejenak. Meskipun yang dikatakan oleh kedua pengawasnya itu adalah barang-barang mati, umbul-umbul, rontek dan sebagainya, namun benda-benda itu langsung atau tidak langsung akan mempunyai pengaruh pada jiwa setiap orang didalam pasukan itu. Tanda-tanda itu akan memberi semangat dan nafsu berjuang. Tanda-tanda itu dapat memperbesar hati setiap prajuritnya. Tanda-tanda itu dapat menjadi lambang tekad dari segenap prajurit didalam barisan itu.
Widurapun agaknya mempunyai pendapat yang sama. Karena itu ketika ia melihat Untara termenung, maka gumamnya “Apa kita juga memerlukannya, Untara?”
“Ya paman. Alangkah baiknya kalau kita memiliki benda-benda semacam itu. Kalau tidak, maka sesaat pasukan kita bertemu dengan pasukan Jipang itu, maka akan terasa seolah-olah pasukan Jipang itu mempunyai kebesaran melampaui pasukan kita, sehingga mau tidak mau, perasaan yang demikian akan mempengaruhi setiap prajurit didalam pasukan kita. Sedang sebaliknya, pasukan Jipang akan lebih berbesar hati dengan kebesarannya”
“Lalu apakah kita akan memasang umbul-umbul?” bertanya Widura.
“Berapa banyak umbul-umbul yang ada disini?”
“Terlalu sedikit. Dan tidak lebih dari tanda-tanda pasukanku. Sama sekali bukan umbul-umbul kebesaran Pajang, apalagi Demak” sahut Widura “Dan itupun terlalu kecil hampir tidak akan berarti”
Untara kembali termenung. Dan tiba-tiba ia berkata “Tidak apa-apa, yang kecil itu akan merupakan panji-panji kebanggaan pasukan paman Widura. Tetapi adalah paman mempunyai panji-panji Gula Kelapa?”
“GulaKelapa? Mengapa?”
“Panji-panji itu adalah lambang kebesaran Demak. Dan tentu akan merupakan lambang kebesaran Pajang pula”
“Tentu. Didalam pasukanku ada panji-panji itu”
Untara mengangguk-angguk. Kepada Ki Demang Sangkal Putung iapun bertanya “Ada berapa panji-panji Gula Kelapa diseluruh kademangan Sangkal Putung?”
Ki Demang ragu-ragu sejenak. Dengan ragu-ragu pula ia menjawab “Aku tidak tahu ngger. Apakah di Sangkal Putung ada panji-panji semacam itu”
“Tentu paman” jawab Untara “Bukankah Sangkal Putung dahulu mengakui kebesaran Demak, kemudian mengakui Pajang dan bukan Jipang?”
Ki Demang itu kembali termangu-mangu. Tiba-tiba ia tersentak, seakan-akan sebuah ingatan telah menyentak kepalanya. Katanya “Ya, ya. Aku ingat sekarang. Di kademangan ini ada sebuah pepunden. Panji-panji Gula Kelapa yang besar. Panji-panji yang kita namai Kiai Unggul. Tetapi panji-panji itu adalah pepunden kademangan ini, yang kami keluarkan dari penyimpanan setahun sekali, setiap bulan pertama untuk dibersihkan”
Untara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Itulah. Saat ini adalah waktunya untuk mengeluarkan Kiai Unggul dari simpanannya”
“Ya, bahkan ada pula panji-panji yang lain. Milik seorang bekas prajurit Demak. Lengkap dengan tunggulnya. Panji-panji itu didapatnya pada saat ia ikut berperang melawan orang-orang Portugis diujung Melayu bersama pangeran Sebrang Lor”
“Orang itu sudah tua sekali?”
“Ya, panji-panji itu dinamainya Kiai Jetayu”
“Nama seekor burung Garuda” desis Agung Sedayu
“Ya, panji-panji itupun cukup besar. Hampir sebesar Kiai Unggul” berkata Ki Demang.
Wajah Untara menjadi cerah. Tiba-tiba ia berkata lantang “Waktu sudah mendesak. Siapkan pasukan dan siapkan Kiai Tunggul dan Kiai Jetayu”, kemudian kepada Ki Demang ia berkata “Suruhlah seseorang menjemput kedua panji-panji itu. Berkuda sekarang juga, dan bersama dengan itu ambillah semua tanda-tanda kebesaran pasukan Pajang dikademangan”
Untara tidak perlu mengulangi perintahnya. Widura segera berdiri dan berjalan kehalaman. Kepada bawahannya segera ia memerintahkan untuk menyiapkan pasukan. Sedan kepada beberapa orang lain diperintahkannya mengambil beberapa tanda kebesaran di kademangan. Didalam gelodog, dipringgitan. Sedang beberapa orang yang lain mendapat perintah dari Ki Demang untuk mengambil panji-panji Kiai Unggul dan Kiai Jetayu beserta tunggulnya masing-masing.
Sesaat kemudian dilapangan dimuka banjar desa itu, pasukan Pajang dan laskar Sangkal Putung telah mempersiapkan dirinya. Mereka menunggu beberapa orang menyiapkan tanda-tanda kebesaran mereka. Beberapa buah tunggul dengan ujung berbentuk garuda dan bunga berdaun lima. Itu adalah tanda kebesaran dari pasukan Widura di Sangkal Putung. Panji-panji yang besar berwarna emas dengan gambar seekor Garuda yang sedang mengembangkan sayap-sayapnya. Kemudian beberapa umbul-umbul kecil dan rontek-rontek yang tidak semegah umbul-umbul pasukan Jipang. Namun ketika kemudian dujung pasukan itu berkibar tiga buah panji-panji yang besar berwarna Gula Kelapa, maka kebesaran pasukan Pajang bersama dengan laskar Sangkal Putung itu menjadi bercahaya.
Ketiga panji-panji itu adl Kiai Unggul, Kiai Jetayu dan panji-panji pasukan Widura sendiri. Panji-panji Gula Kelapa dari pasukan Wiratamtama dibawah kekuasaan Pajang, disamping panji-panji pasukannya.
Ketika pasukan Pajang beserta laskar Sangkal Putung itu melihat ketiga panji-panji Gula Kelapa diujung pasukannya maka hati mereka serentak bersorak. Kiai Unggul bagi rakyat Sangkal Putung mempunyai arti tersendiri. Kiai Jetayu itupun telah mereka kenal pula sebagai selembar panji-panji pusaka yang bertuah.
Dari kedua orang pengawasnya, Untara mengetahui bahwa pasukan Jipang sudah berangkat menuju ke Sangkal Putung. Karena itu maka ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dipersiapkannya seluruh pasukannya untuk segera berangkat menyongsong pasukan Jipang.
Sesaat kemudian terdengar dipendapa banjar desa itu, kentongan dalam nada Dara-muluk. Nada yang tidak biasa diperdengarkan dalam keadaan bahaya seperti saat itu. Namun setiap orang di Sangkal Putung kali ini mengetahui, bahwa bunyi kentong itu adalah pertanda bahwa pasukan Pajang beserta laskar Sangkal Putung telah siap untuk berangkat.
Beberapa orang yang karena suatu sebab, belum berada dilapangan itu, segera berlari-lari sambil menjinjing senjatanya, menuju ke banjar desa. Ketika mereka melihat laskar Sangkal Putung telah bersiap segera mereka memasuki kelompok masing-masing.
Setelah para pemimpin kelompok menghitung anak buah masing-masing serta segala persiapan telah lengkap, maka terdengarlah suara Widura memecah gelap malam. Mengumandang memenuhi lapangan.
Aba-aba itu adalah aba-aba yang pertama. Aba-aba yang disambut dengan debar disetiap dada. Sehingga lapangan itu kemudian terhenyak kedalam kesepian. Seakan-akan tak seorangpun yang berada disanan.
Aba-aba itu adalah aba-aba yang pertama. Aba-aba yang disambut sesaat kemudian, setelah Widura yakin bahwa segala sesuatunya telah siap, maka terdengarlah aba-abanya yang terakhir. Aba-aba itu disambut oleh pemimpin-pemimpin kelompok, yang mengulanginya dengan cepat seperti apa yang diucapkan oleh Widura.
Maka mulailah pasukan itu bergerak. Seperti pasukan Jipang, maka pasukan Widura inipun dilengkapi dengan obor-obor, sehingga lapangan dimuka banjar desa itu menjadi terang benderang.
Hujan kini sudah tidak lebat lagi. Titik-titik air satu-satu masih berjatuhan. Namun sudah tidak mampu lagi memadamkan nyala-nyala obor yang seolah-olah melonjak-lonjak kegirangan.
Untara dan Widura berjalan diujung pasukan itu. Kemudian Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung. Hudaya dan Sonya masih berada didalam kelompoknya masing-masing sebelum mereka kemudian harus mempersiapkan diri bersama-sama dengan Agung Sedayu dan Swandaru menghadapi kemungkinan yang paling berat. Melawan seorang yang bernama Sumangkar.
Dibelakang induk pasukan berjalanlah sebagian dari laskar Sangkal Putung. Mereka berjalan dengan penuh semangat. Mereka merasa bahwa dipundak mereka terletak tanggung-jawab atas Sangkal Putung. Pasukan Pajang yang berada dikademangan itu adalah sekedar tenaga yang memberi bantuan kepada mereka. Merekalah yang harus melindungi kademangan itu. Dan merekalah yang harus bertempur mati-matian melawan orang-orang Jipang.
Dibelakang laskar Sangkal Putung itu Citra Gati berjalan sambil menundukkan wajahnya. Ia merasa badannya aneh kali ini. Kepada seseorang yang berjalan dibelakangnya, Citra Gati itu bertanya “Kau lihat Hudaya?”
Orang yang mendapat pertanyaan itu menjawab “Kakang Hudaya masih berada didalam kelompoknya”
“Panggil ia sebentar kemari” katanya.
Orang itupun segera keluar dari barisannya. Sesaat ia berhenti menunggu Hudaya yang berada agak jauh dibelakang mereka.
Hudaya heran mendengar bahwa Citra Gati memanggilnya. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berjalan mendahului berisannya kekelompok Citra Gati. Kelompok yang nanti akan memimpin pasukan Pajang disayap kanan.
Ketika Hudaya telah berjalan didekat Citra Gati, maka dengan serta-merta ia bertanya “Apakah ada sesuatu yang penting ?”
Citra Gati berpaling. Dilihatnya Hudaya memandanginya dengan tegang.
Citra Gati itu tersenyum. Ia hanya ingin melepaskan perasaannya yang aneh. Maka katanya “Apakah kumis dan janggutmu sempat kau bersihkan?”
Hudaya mengerutkan keningnya. “Belum. Kau juga belum” jawabnya “Biarkan saja kumis dan janggut itu. Tetapi apakah yang penting?”
Citra Gati menggeleng “Tidak ada” jawabnya “Aku hanya merasa sepi. Seakan-akan aku berjalan seorang diri disayap ini”
“Uh, bukan main” keluh Hudaya sambil mengerutkan keningnya “Aku sangka ada hal-hal yang sangat penting”
Citra Gati tersenyum. Tetapi senyumnya tampak hambar. Katanya “Jangan marah. Rambut diwajahmu benar-benar menarik perhatianku. Aku cemas kalau kau tidak sempat membersihkannya lagi”
Hudayalah yang kini tersenyum, katanya “Aku belum pernah melihat seseorang yang bernama Sumangkar. Mungkin ia ganas, seganas Macan Kepatihan. Tetapi mungkin ia lunak, selunak jenang alot”
“Jangan mengigau” potong Citra Gati “Sekarang kembalilah kekelompokmu”
Hudaya menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya “Aku sangka kau sempat membawa jenang alot itu kakang. Dan kau ingin memberi aku sepotong. Kalau tahu demikian, aku tidak akan datang”
Citra Gati tidak menjawab. Sekali lagi ia tersenyum, senyum yang hambar.
Hudaya kembali kekelompoknya. Namun ia merasa aneh. Citra Gati tidak pernah merasakan hal-hal yang aneh didalam setiap pertempuran. Ia tidak pernah merasa keganjilan dalam setiap tugas yang diserahkan kepadanya. Tetapi Hudaya tidak mau dipengaruhi oleh keadaan itu. Dipusatkannya perhatiannya kepada saat-saat yang akan datang.
Sesaat kemudian mereka telah meninggalkan induk padesan Sangkal Putung. Dihadapan mereka terbentang beberapa desa kecil. Lepas padesan itu nanti, segera mereka akan sampai ketempat terbuka. Tanah persawahan yang menghadap langsung kepadang rumput dan perdu dipinggir hutan.
Untara segera memerintahkan untuk mempercepat perjalanan, supaya mereka tidak terlambat. Apabila laskar Tohpati sudah memasuki padesan Sangkal Putung, maka pertempuran akan menjadi bertambah sulit. Apabila mungkin maka mereka harus sudah melampaui tanah-tanah persawahan dan bertempur dipadang rumput. Supaya tanaman mereka tidak terinjak-injak.
Disepanjang perjalanan itu meskipun Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru seakan-akan telah membulatkan hatinya untuk bertempur tanpa Kiai Gringsing, namun disudut hati mereka masih juga menyimpan harapan, mudah-mudahan Kiai Gringsing tiba-tiba saja muncul diantara mereka.
Tetapi semakin jauh mereka berjalan, harapan itu semakin tipis. Semula mereka masih juga mengharap, bahwa Kiai Gringsing hanya sedang berteduh karena hujan yang lebat. Namun setelah hujan menjadi jauh berkurang, dan Kiai Gringsing tidak juga muncul, maka harapan merekapun menjadi semakin tipis pula.
Dengan langkah yang tetap setiap orang didalam pasukan itu berjalan menuju keujung kademangan. Satu dua desa kecil telah mereka lampaui. Dan akhirnya mereka menembus jalan ditengah-tengah desa terakhir. Semakin dekat mereka dengan ujung jalan itu, hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.
Demikian mereka keluar dari mulut lorong itu, demikian dada mereka bergetar. Ternyata agak jauh dihadapan mereka, mereka melihat sea untaian obor-obor beriringan. Terdengarlah hampir setiap mulut bergumam “Itulah mereka“
Tanpa disengaja setiap tangan segera meraba senjata masing-masing. Beberapa bagian dari mereka, yang bersenjata pasangan pedang dan perisai, segera memasang perisai-perisai mereka ditangan kiri. Sedang mereka yang bersenjata tombak, maka tombak-tombak itu sudah tidak mereka panggul diatas pundak mereka. Namun tombak-tombak itu telah merunduk, seolah-olah mereka tidak sabar lagi untuk meloncat menerkam dada lawan-lawan mereka.
Untara semakin mempercepat perjalanan itu. Ternyata laskar Jipang telah lebih dahulu sampai dipadang rumpur. Namun apabila mereka berjalan cepat, maka mereka masih belum terlambat. Mereka masih akan mencapai sisi padang itu, sebelum laskar Jipang lepas meninggalkannya.
Kening Untara berkerut ketika ia melihat iring-iringan laskar Jipang itu. Meskipun Untara belum dapat melihat dengan jelas, namun sebagai seorang prajurit yang berpengalaman ia segera dapat menebak, bahwa laskar Jipang telah berjalan dalam gelar.
 (bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 September 2008 at 06:38  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. akhirnya…
    sempet juga mindahin 60 halaman adbm dari tempat mas rizal..
    siapa yg masih punya kovernya (buku 1-10) ya?

    D2: Minta tlg Nyai Demang kover Jilid 2, 4, 6, dan 18.

  2. 6 halaman terakhir buku jilid 10 ini yang lanjutannya site mas rizal belum diupload ya Mas Dede?

    D2: Bahkan kami gak tahu kalau kurangnya 6 halaman. Pokoknya kami tahu kurang karena akhir buku 10 belum nyambung dengan awal buku 11. Emang Mas Riko ada? Boleh tuh yang 6 halaman dishout di koment boks.

  3. wah maap…. saya punya yang seri IV aja mas… mau coba ngescan belum sempet-sempet hehehe… ntar aku kabarin kalo udah di scan

    • kalo ngga sempat ya ngga papa kok 🙂

  4. ki gede,
    angger kurang cakap untuk masalah tehnologi
    maklum baru turun gunung
    kalo mau nyedot semua ke hard disk caranye piye
    suwun ya..
    ki gede ilmunya ngedap-ngedapi

    $$ Sugeng rawuh Kisanak. Saya Senopati. Disini silakan membaca.. gratis.. jadi kalau mau mengambil ya musti “copy paste” tiap halaman. Kecuali untuk kitab 96 ke atas masih mentah berbentuk file DJVU.

  5. ternyata padepokan ini luas juga…

    • bahkan ternyata sekarang padepokan ini ….tambah lebih luas lagi…

      • semaKEN luas……luaass…….dan luuaaasss laGI,

        • luas dan luwes
          kenes lagi 😆

          • ha ha ha ….
            Ki AS kok maju-mundur seperti gergaji saja

            • seperti…waktu tidur 😀

              • ha ha ha …
                sugeng sonten panembahan satpam
                (p. lak singkatan panembahan to)

                • lak ban ?????????

  6. kelanjutan dari ini mana ???
    terus terang aku agak bingung bac buku ini….
    dari seri pertama tiba2 cerita langsung ke masalah Un tara harus pergi ke sangkal putung menyelamatkan laskar Widura…
    adakah yang mengawali cerita itu seperti apa ???

    • waduh iya kelanjutannya gimana dong ki mbleh ?

  7. alhamdulillah akhirnya ketemu juga lanjutannya ke 61 …. bingung nyarinya ternyata ada dibuku ke 10 dst …. mtr nuwun sanget

  8. sugeng DALU,

    mandek sik, se-sore mblayu2 nguber keberadaan ki Karto
    sama ki AS yang lagi singidan ning gandok ADBM.

    • ora singidan kok yo, iki baru menyelesaikan rontal 9 ki gund, pagi ini mempelajari rontal 10

    • Ki Gun…ayoo balapan mlayu, sing menang sing iso mabuk..eh..masuk gandok 11..hayoo !!!…

      • hurrah ki kartu isuk-isuk ngajak playon

        • ki kartujodo 😉

          • Hayooo Ki Bukan melu pisan ayoo…iso ora mlebu gandok 11..! 😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: