Buku 10

“Ya, aku melihat sendiri kau memenangkan perlombaan memanah pada waktu itu”
“Bukan ukuran dalam peperangan yang campuh” jawab Agung Sedayu.
“Tetapi unsur perseorangan sangat berarti dalam peperangan yang betapapun juga”
“Mungkin kau benar. Tetapi aku mengharap bahwa ada orang lain yang akan dapat mengganti kedudukannya. Bukankah di Sangkal Putung masih ada kakang Untara dan paman Widura?”
“Ya, dan kau kakang?”
“Aku tidak terhitung dalam tingkatan itu. Aku hanya seorang untuk menambah hitungan saja”
Sekar Mirah memandang Agung Sedayu dengan sudut matanya. Alangkah jauh berbeda. Kalau yang berdiri dihadapannya itu Sidanti maka jawabannya pasti akan bertentangan sama sekali. Sidanti pasti akan menjawab “Tak ada orang lain di Sangkal Putung yang dapat menyamai aku”. Tetapi Agung Sedayu berkata lain “Aku hanya seorang untuk menambah hitungan saja”
“Hem” Sekar Mirah menarik nafas.
“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.
Sekar Mirah menggeleng “Tidak apa-apa”
Kembali Agung Sedayu tersenyum. Ia menyangka bahwa Sekar Mirah masih jengkel kepadanya karena lebah gula itu. Tetapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya bergolak didalam gadis itu. Diam-diam ia selalu membandingkan Agung Sedayu dengan Sidanti.
Sidanti baginya adalah seorang laki-laki yang dahsyat. Ia selalu berkata tentang dirinya, tentang kepercayaan pada diri sendiri, tentang kemampuan dan tentang cita-citanya yang melambung setinggi langit. Ia kagum kepada anak muda itu. Ia kagum akan kedahsyatannya, akan kepercayaan kepada diri sendiri, akan kemampuan dan cita-citanya. Tetapi ia hanya mengaguminya. Lebih dari itu, ternyata tidak. Ia kecewa bahwa Sidanti pergi. Kecewa karena di Sangkal Putung tidak ada seorang yang dapat dibanggakan kesaktiannya. Tidak ada orang yang berkata kepadanya, bahwa dadanya adalah perisai dari kademangan ini. Tidak ada orang yang berkata kepadanya seperti Sidanti pernah berkata “Mirah, berkatalah. Apakah aku harus membawa sepotong kepala untuk kakimu? Tunggulah, pada saatnya, aku akan membawa kepala Tohpati. Rambutnya dapat kau pakai untuk membersihkan alas kakimu”
Meskipun Sekar Mirah tahu benar justru Untara ternyata melampaui kedahsyatan Sidanti menghadapi Tohpati, namun ia hampir tidak mengenal Untara. Orang itu terlalu angker baginya. Seakan-akan hampir-hampir belum pernah ia bercakap-cakap dengan orang itu. Karena itu maka tidak sentuhan apa-apa yang dapat memberinya kebanggaan. Widura yang menurut pendengaran Sekar Mirah tidak kalah saktinya dari Sidanti, itupun bagi Sekar Mirah tidak berarti apa-apa. Dahulu ia pernah mengharap didalam hatinya, semoga Sidanti dapat menunjukkan kelebihannya dari Widura, sehingga Sidanti mendapat tempat yang lebih baik daripadanya. Dengan demikian ia akan dapat turut merasakan kedudukan anak muda itu. Sebab Sekar Mirah lebih mengenal Sidanti dari Widura yang sama sekali hampir tidak pernah mempedulikannya.
Diantara mereka yang dapat dibanggakan di Sangkal Putung yang dikenalnya dengan baik adalah Agung Sedayu. Menurut penilaiannya Agung Sedayu ternyata melampaui Sidanti. Ia melihat sendiri Agung Sedayu memenangkan perlombaan memanah beberapa saat yang lalu. Bahkan ketika mereka berkelahi disamping kandang kuda itupun ternyata Sidanti terpaksa mengambil sepotong kayu sebagai senjatanya. Sedang Agung Sedayu sama sekali tidak mempergunakan senjata apapun. Tetapi kenapa Agung Sedayu tidak pernah berkata kepadanya “Mirah, apakah aku harus membawa kepala Tohpati untuk alas kakimu?”
Tidak, Agung Sedayu tidak berkata demikian kepadanya. Anak muda itu hanya akan membuat gelodok lebah gula untuk mendapat madu.
Sebenarnya Sekar Mirah menjadi kecewa atas sikap Agung Sedayu itu. Sikap yang baginya kurang jantan. Kurang dahsyat dan kurang perkasa. Sangat berbeda dengan Sidanti. Tetapi meskipun Sekar Mirah mengagumi Sidanti, namun ia mempunyai perasaan yang aneh terhadap Agung Sedayu yang mengecewakannya itu. Perasaan yang tak dimilikinya terhadap Sidanti.
“Alangkah mengagumkan seorang anak muda, seandainya berwadag Agung Sedayu namun memiliki sifat-sifat kejantanan Sidanti” gumamnya didalam hati “Sayang Sidanti tidak terlalu menarik, dan lebih-lebih sayang lagi, Sidanti telah mengkhianati kawan sendiri”
Ketika Sekar Mirah masih saja termeung, maka berkatalah Agung Sedayu “Kenapa kau termenung Mirah?”
“Oh” Sekar Mirah tergagap seperti baru terbangun dari tidurnya “Tidak apa-apa”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ternyata Sekar Mirah tidak saja masih jengkel kepadanya hanya karena lebah itu. Maka itu ia bertanya “Kenapa kau termenung? Apakah kau masih marah kepadaku tentang lebah itu, atau tentang hal yang lain?”
“Tidak kakang” jawab Sekar Mirah sekenanya, bahkan kemudian diteruskannya “Aku masih cemas tentang laskar Tohpati itu”
Tiba-tiba Agung Sedayu tertawa “Jangan cemas. Tohpati tidak berbahaya bagi Sangkal Putung. Laskarnya tidak melampaui laskar Pajang di Sangkal Putung, ditambah dengan anak-anak muda yang berani dan bertanggung jawab”
“Tetapi Tohpati sendiri?” bertanya Sekar Mirah.
“Bukankah disini ada kakang Untara atau paman Widura?”
Sekar Mirah menggigit bibirnya “Kalau kakang Untara atau paman Widura tidak ada?”
“Mereka akan tetap disini Mirah”
“Ya. Seandainya tidak ada. Atau ada halangan apapun”
Agung Sedayu menarik nafas panjang, namun ia tersenyum “Salah seorang dari mereka pasti berada disini. Kalau ada keperluan yang sangat penting sekalipun, pasti mereka tidak akan pergi berdua”
“Seandainya mereka berdua sakit? Sakit panas, sakit perut atau sakit apapun yang berat dan bersamaan?”
“Itu adalah suatu halangan diluar kemampuan manusia. Namun disini ada seorang dukun yang pandai yang akan dapat mengobatinya”
“Oh” Sekar Mirah menjadi tidak sabar. Katanya hampir berteriak “Keduanya tidak dapat maju berperang. Apapun alasannya. Lalu bagaimana, apakah Sangkal Putung akan menyerah?”
Meskipun Agung Sedayu tidak tahu maksud Sekar Mirah namun ia menjawab “Tentu tidak Mirah. Disini ada paman Citra Gati dan paman Hudaya. Ada juga paman Sonya dan kakang Sendawa. Mereka dapat menggabungkan kekuatan mereka dalam satu lingkaran untuk melawan Tohpati”
Mendengar jawaban Agung Sedayu itu Sekar Mirah terhenyak duduk diatas setumpuk kayu bakar. Ditekankan tangannya pada dadanya yang seakan-akan menjadi sesak. Jawaban Agung Sedayu benar-benar tidak diharapkannya. Meskipun ia terduduk diatas seonggok kayu bakar namun hatinya berteriak “Oh, Agung Sedayu yang bodoh, kenapa jawabanmu demikian mengecewakan aku? Kenapa kau tidak menjawab sambil mengangkat kepalamu “Seandainya mereka sakit, atau berhalangan apapun Sekar Mirah, ak, Agung Sedayulah yang akan melawan Tohpati. Aku akan bunuh orang itu, aku penggal kepalanya, dan aku berikan sebagai alas kakimu”
“Oh” tiba-tiba Sekar Mirah mengeluh.
Agung Sedayu benar-benar tidak mengerti maksud Sekar Mirah. Ia melihat gadis itu menjadi kecewa. Tetapi ia tidak tahu kenapa ia menjadi kecewa.
Terdorong oleh kegelisahannya karena ia tidak tahu apa yang dikehendaki oleh Sekar Mirah, maka dengan jujur Agung Sedayu itu bertanya “Mirah, apakah sebenarnya yang kau kehendaki dengan segala macam pertanyaanmu?”
“Kakang Agung Sedayu” berkata Sekar Mirah menahan jengkel “Apakah kau tidak akan ikut bertempur?”
“Tentu Mirah”
“Kenapa kakang hanya menyebut nama-nama orang lain? Kakang tidak pernah menyebut nama kakang sendiri. Apakah dengan demikian berarti bahwa kakang tidak banyak mempunyai kepentingan dengan laskar Tohpati itu? Atau barangkali kakang tidak mempedulikan mereka. Atau tidak memperdulikan Sangkal Putung?”
“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu semakin tidak mengerti.
“Baiklah aku bertanya terus kakang, tetapi aku ingin segera mendengar jawabanmu yang terakhir. Aku ingin kau menyebut namamu sendiri. Kakang, bagaimanakah seandainya tidak ada orang lain yang dapat lagi maju melawan Tohpati? Apakah yang akan kakang lakukan?”
Agung Sedayu tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini tahulah arah pertanyaan Sekar Mirah. Karena itu, tiba-tiba Agung Sedayu tersenyum sambil menjawab “Oh, itukah yang ingin kau ketahui Mirah”
“Ya, aku ingin mendengar jawabmu. Aku ingin mendengar apakah yang dapat kau berikan kepada Sangkal Putung. Apakah yang dapat kau sumbangkan kepada tanah kelahiranku ini? Bukan kakang Untara, bukan paman Widura, bukan paman Hudaya, paman Citra Gati, paman Sonya. Bukan kakang Swandaru, bukan ayah, bukan orang lain. Tetapi kakang Agung Sedayu”
“Hem” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku sendiri? Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu Sekar Mirah. Kalau tidak ada orang lain yang akan melawan Tohpati, maka sudah tentu aku akan melawannya”
“Hanya itu?” Sekar Mirah masih kecewa.
“Lalu apa laig?”
“Apakah kau biarkan Tohpati mengalahkanmu? Membunuhmu?”
“Kau aneh Mirah”
“Apa yang aneh padaku? Kaulah yang aneh”
“Kenapa kau bertanya demikian?”
“Habis. Kau tidak berkata, apa yang akan kau lakukan atas Tohpati itu”
Perlahan-lahan Agung Sedayu kemudian dapat meraba pertanyaan-pertanyaan Sekar Mirah yang membanjiri dirinya itu. Sekar Mirah ingin mendengar jawaban yang dapat memberinya kepuasan. Yang dapat menentramkan dirinya dan mungkin dapat memberinya kebanggaan. Namun tidak terpikir oleh Agung Sedayu bahwa keinginan Sekar Mirah bukan saja jawaban-jawaban yang dapat menentramkan hatinya, dan memberinya kebanggaan, tetapi Sekar Mirah ingin mendapat seorang pahlawan yang dapat mengimbangi Sidanti.
Karena itu bagaimanapun juga Agung Sedayu masih juga tidak memberinya kepuasan seperti yang dikehendakinya, ketika ia mendengar Agung Sedayu itu menjawab “Sekar Mirah, sudah tentu aku akan melawan Tohpati dengan segenap tenaga dan kemampuan yang ada padaku. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi, Mirah. Karena itu maka aku tidak akan membiarkan Tohpati berbuat sekehendak hatinya. Aku akan melawannya. Tetapi takdir berada ditangan Tuhan. Itulah sebabnya maka aku tidak dapat berkata lebih jauh daripada itu tentang diriku. Aku berwenang berusaha, namun akhir daripada semua peristiwa berada ditanganNya”
Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia sama sekali tidak puas dengan sifat-sifat Agung Sedayu itu, namun ia tidak akan mendesaknya lagi.
Sekar Mirah semakin melihat perbedaan-perbedaan yang ada pada Agung Sedayu dan Sidanti. Ia pernah juga dahulu mendengar Agung Sedayu itu berkata tentang dirinya. Bahkan dahulu Agung Sedayu lebih banyak menyebut-nyebut dirinya dan membanggakan tugas-tugas yang telah diselesaikannya. Tetapi sekarang, sungguh mengherankan, Agung Sedayu seakan-akan telah kehilangan gairah atas kemenangan-kemenangan yang pernah dicapainya.
Tetapi bagaimanapun juga, Agung Sedayu itu selalu membayanginya. Wajahnya hampir tidak pernah lenyap dari matanya. Bahkan didalam tidur sekalipun. Namun justru karena itulah maka Sekar Mirah menjadi semakin kecewa. Ia ingin melibatkan dirinya dalam hubungan yang semakin dalam. Namun Agung Sedayu tidak bersikap seperti yang diinginkannya.
Sekar Mirah yang duduk diatas seonggok kayu bakar itu mengangkat wajahnya. Ia mendengar langkah orang disudut rumahnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya seorang prajurit berjalan keperigi. Dilambungnya tergantung pedang yang panjang.
“Kenapa senjata itu disandangnya?” tiba-tiba ia bertanya.
Agung Sedayu berpaling. Ia melihat prajurit itu. Karena itu ia menjawab “Sangkal Putung berada dalam kesiap-siagaan penuh. Prajurit itu aku kira baru saja nganglang kademangan”
“Apakah Tohpati akan segera menyerang?”
“Aku tidak tahu. Tetapi kemungkinan itu setiap saat memang dapat terjadi”
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Ia memang melihat pada saat-saat terakhir kesibukan yang meningkat. Ia melihat ayahnya semakin jarang-jarang berada dirumah, dan kakaknya tidak pernah berpisah dengan pedangnya.
“Apakah sudah ada berita tentang penyerbuan yang bakal datang?”
Agung Sedayu ragu-ragu sejenak. Ia tidak dapat berkata berterus terang. Agaknya Ki Demang dan Swandarupun belum berkata kepada gadis itu. Karena itu jawabnya “Meskipun tidak ada berita apapun dan dari siapapun Mirah, memang kita wajib selalu berwaspada. Ketegangan memang meningkat akhir-akhir ini. Tohpati mempercepat gelombang kegiatannya pula”
Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Kadang-kadang ia menjadi cemas membayangkan apa yang bakal terjadi seandainya Macan Kepatihan itu benar-benar akan menggulung Sangkal Putung. Tetapi kadang-kadang ia mengharap serbuan itu datang. Ia mengharap kakaknya, Swandaru berhasil membunuh orang-orang penting dari laskar Tohpati itu. Dan ian mengharap Agung Sedayu berhasil lebih banyak lagi. Bahkan ia mengharap bahwa Agung Sedayulah yang akan membunuh Tohpati, bukan Untara dan bukan Widura.
Tetapi apabila ia melihat sikap Agung Sedayu, kembali ia menjadi kecewa “Hem” desahnya didalam hati “Orang ini lebih pantas menjadi seorang penulis kitab-kitab tembang daripada seorang prajurit. Seorang yang hampir setiap hari duduk diatas tikar pandan, menggurat-gurat rontal dengan pensilnya. Kemudian membaca kisah-kisah yang menawan hati. Kisah kasih antara Pandu dan Kirana, atau kisah petikan-petikan dari Mahabharata.
Ketika Sekar Mirah sejenak berdiam diri sambil memandangi noktah-noktah dikejauhan, maka berkatalah Agung Sedayu “Betapapun kuatnya laskar Macan Kepatihan, Mirah, tetapi kau jangan cemas. Sangkal Putungpun semakin lama menjadi semakin kuat. Anak-anak muda yang kini menjadi semakin kaya akan pengalaman dan semakin kaya akan tekad mempertahankan tanahnya, menjadi perlambang kemenangan-kemenangan yang akan dicapai oleh daerah ini”
“Mudah-mudahan” gumam Sekar Mirah “Mudah-mudahan kademangan ini dapat diselamatkan. Tohpati dapat terpenggal lehernya dan orang-orang Jipang itu dapat dimusnahkan”
“Kemungkinan yang kita harapkan akan terjadi Mirah. Jangan takut”
Sekar Mirah itu kemudian bangkit dan berjalan perlahan-lahan keperigi. Katanya “Mudah-mudahan itu akan segera terjadi dan kakang akan datang kepadaku sambil bercerita, bahwa pedang kakang telah menghisap darah lebih dari seratus orang”
Agung Sedayu tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya Sekar Mirah untuk beberapa saat, kemudian ia bertanya “Apakah kau akan mengambil air?”
“Tidak”
“Lalu mengapa?”
“Tidak apa-apa”
Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia melihat Sekar Mirah mengambil sebuah belanga dan menjiningnya kedapur.
Agung Sedayu tidak mengikutinya terus. Ia melihat Sekar Mirah berpaling dan tersenyum kepadanya. Senyum seorang gadis yang lincah dan manis. Namun bagaimanapun juga, Agung Sedayu melihat sesuatu dibelakang senyum yang manis itu. Sekar Mirah adalah seorang gadis yang keras hati. Seperti kakaknya, gadis itupun ingin melihat dan mendengar peristiwa-peristiwa yang dahsyat. Seandainya sama sekali itupun seorang pemuda seperti Swandaru, maka keduanya akan menjadi pasangan kakak-beradik yang dahsyat pula.
Ketika Agung Sedayu kemudian kembali kepringgitan, dilihatnya seseorang yang datang memasuki pringgitan itu pula besama-sama dengan kakaknya. Sesaat kemudian orang itu bersama dengan Untara telah duduk berhadapan sambil berbicara perlahan-lahan.
“Baiklah” berkata Untara kemudian “Aku akan mempersilakan paman Widura dan bapak Demang kemari”
Untara itupun kemudian menyuruh seseorang memanggil Widura dan Ki Demang Sangkal Putung. Agung Sedayupun diperkenankan pula ikut hadir didalam pertemuan kecil itu besama dengan Swandaru Geni.
Ketika orang-orang yang penting itu telah berkumpul, maka mulailah orang itu berkata “Kakang Untara, hampir pasti bahwa Tohpati akan menyerbu besok pagi-pagi. Agaknya mereka tidak akan mengulangi serangan malamnya yang gagal. Mereka akan mencoba memecahkan pertahanan Sangkal Putung pada siang hari. Mereka akan menempuh arah yang lurus dari barat. Mereka kali ini akan datang dalam gelar perang yang sempurna”
“Apakah laskar mereka bertambah kuat sehingga Tohpati mengambil keputusan datang dengan gelar perang?”
“Sanakeling berhasil menghimpun tenaga cukup banyak. Meskipun ia tidak berhasil menghubungi laskar yang tersebar dipantai utara, namun yang ada benar-benar telah cukup untuk mengimbangi kekuatan laskar Pajang di Sangkal Putung ini”
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang dipelupuk matanya sepasukan yang kuat datang dari arah barat dipagi-pagi buat dalam gelar yang sempurna. Sembil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Tohpati telah kehabisan kesabaran”
“Ya” jawab orang itu. “Mereka menganggap bahwa serangan kali ini haruslah serangan yang terakhir. Mereka sudah jemu menunggu kesempatan untuk memasuki Sangkal Putung. Beberapa bagian laskar dari utara telah terlalu lama berada didaerah ini. Bahkan Tohpati sendiri, sudah ingin melepaskan beberapa kepentingan diselatan. Namun sesudah Sangkal Putung jatuh. Sesudah mereka mendapat bekal yang cukup untuk perjalanan mereka kembali kedaerah yang bertebaran”
Yang mendengarkan keterangan orang itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari apa yang sedang mereka hadapi sekarang. Agaknya bahaya kali ini benar-benar telah menggoncangkan dada mereka.
Keadaan ini benar-benar menegangkan “Desis Ki Demang Sangkal Putung.
Untara berpaling. Sambil tersenyum senapati yang masih muda itu berkata “Tidak banyak bedanya dengan serangan-serangannya yang lampau Ki Demang”
Ki Demang mengerutkan keningnya. Sahutnya “Ah, angger hanya ingin membesarkan hatiku. Tetapi aku mempunyai gambaran yang lain. Macan Kepatihan benar-benar telah mengerahkan kekuatan yang luar biasa”
“Tetapi kekuatannya sangat terbatas. Laskar Pajang dimana-mana telah berusaha memotong perhubungan mereka, sehingga yang dapat mereka kumpulkan itupun pasti belum merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Sangkal Putung” jawab Untara
Ki Demang tidak segera menjawab. Sekali disambarnya wajah Widura yang tegang. Kemudian wajah Agung Sedayu dan akhirnya wajah anaknya sendiri. Dilihatnya Swandaru Geni tersenyum. Wajahnya menjadi amat cerah, dan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Bagus, lebih besar kekuatan Tohpati, akan lebih baik bagi kita. Kita akan dapat menimbang, bsenerapa sebenarnya kekuatan kita di Sangkal Putung. Ayah sebenarnya tidak perlu cemas. Anak-anak Sangkal Putung semakin banyak yang bersedia ikut memegang senjata. Sedang merekapun menjadi semakin banyak memiliki pengalaman. Nah, aku mengharap Tohpati mengerahkan seluruh sisa laskar Jipang”
”Huh” sahut Ki Demang Sangkal Putung “Kau hanya pandai membual Swandaru. Kau tidak memperhitungkan kecakapan laskar Jipang dibandingkan dengan anak-anak muda Sangkal Putung”
“Ayah memperkecil arti anak-anak kita sendiri” jawab Swandaru sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar keluhan itu, sebab ia sendirilah yang memimpin anak-anak muda Sangkal Putung.
“Swandaru benar kakang Demang” potong Widura “Kakang harus mencoba membuat hati mereka menjadi besar. Anak-anak Sangkal Putung hampir setingkat dengan laskar Pajang sendiri dan sudah tentu laskar Jipang pula. Beberapa orang bekas prajurit yang ada di Sangkal Putung telah menguntungkan keadaan meskipun pada umumnya usia mereka telah cukup tinggi. Namun pengalaman mereka menggerakkan senjata dan olah peperangan masih cukup baik”
Ki Demang Sangkal Putung tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Tetapi sebagai seorang yang bertanggung-jawab atas Sangkal Putung, atas semua isi dan penghuninya, maka mau tidak mau Demang Sangkal Putung itu menjadi prihatin. Bagaimana nasib orang-orangnya apabila laskar Tohpati benar-benar dapat menmbus pertahanan Untara. Bagaimana akan jadinya dengan kademangan ini? Tetapi apabila dipandanginya wajah Widura, wajah Untara, Agung Sedayu dan apalagi anaknya sendiri, terasa ketenangan merayapi dadanya. Wajah-wajah itu tampak teguh dan meyakinkan bahwa mereka akan mencoba sekuat-kuat tenaga mereka melindungi kademangan yang subur dan kaya ini.
“Kakang Untara” terdengar prajurit sandi itu berkata “Aku akan segera kembali ketempat tugasku. Mudah-mudahan aku akan mendapat keterangan-keterangan yang lebih jelas. Malam ini kami akan mencoba untuk membuat hubungan terus-menerus dengan kakang disini”
Untara mengangguk “Baik, lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya. Keadaan kami disini sebagian tergantung kepada keterangan-keterangan yang akan kau berikan kemudian”
“Baik kakang” sahut orang itu.
Dan sesaat kemudian orang itupun minta diri untuk kembali ketempatnya.
Sepeninggal orang itu, maka Widura dan Untara segera menentukan keadaan. Apa yang harus mereka lakukan untuk melawan kedatangan laskar Macan Kepatihan itu.
“Jangan dilupakan, bahwa kita akan minta Kiai Gringsing untuk ikut serta” desis Widura.
Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sahutnya “Baik paman, aku akan minta kepadanya. Tetapi dimana Ki Tanu Metir itu sekarang?”
“Berjalan-jalan” sahut Agung Sedayu “Namun aku sangka bahwa guru tidak akan berkeberatan”
Untara dan Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun yakin akan kesediaan itu “Nanti kalau Ki Tanu Metir kembali, sampaikan sekali lagi permohonan kami itu Sedayu” minta Untara kepada adiknya.
“Baik kakang” jawab Agung Sedayu.
Widurapun kemudian memanggil beberapa orang pemimpin kelompok untuk datang keringgitan. Kini mereka tidak lagi harus merahasiakan kedatangan Tohpati besok. Perlahan-lahan namun jelas, Widura menguraikan apa yang kira-kira akan mereka hadapi.
Hudaya yang duduk disamping Sonya tersenyum mendengar penjelasan itu. Ketika kemudian pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Citra Gati, yang duduk dibelakang Untara, merekapun mengangguk-angguk sambil tersenyum pula.
“Kakang Hudaya” bisik Sonya “Cepat-cepatlah mencukur janggut dan kumismu malam ini”
“Sst” desis Hudaya “Jangan ribut. Lihat kakang Citra Gati sedang menghitung, berapa sisa hutangnya yang tidak perlu dibayarnya”
Sonya menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika ia hampir tidak dapat menahan tawanya. Namun ia tidak tertawa lagi ketika kemudian ia melihat beberapa orang kawan-kawannya menjadi tegang. Hanya Sendawa agaknya tidak banyak menaruh perhatian. Sekali-sekali ia memandang lampu yang menggapai-gapai tiang. Dan haripun segera memasuki ujung malam.
Malam yang pasti akan sangat menegangkan seluruh Sangkal Putung. Sebab besok pagi-pagi mereka akan dihadapkan pada suatu bahaya yang benar-benar tidak dapat diabaikan.
Dengan cermatnya Widura dan Untara mulai mengatur laskar mereka. Mereka mempertimbangkan ketiap kemungkinan dan setiap keadaan dengan pemimpin-pemimpin kelompok didalam laskar Pajang itu. Dengan penuh kesungguhan mereka mengurai kekuatan yang ada pada mereka dan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada lawan mereka.
Setapak demi setapak malampun memasuki daerah kelamnya semakin dalam. Pembicaraan diantara para pemimpin Pajang itupun menjadi semakin meningkat. Gelar-gelar yang harus mereka persiapkan untuk menghadapi kemungkinan dari setiap gelar yang akan dipergunakan oleh Macan Kepatihan.
“Tohpati pasti akan berada dipusat pimpinan gelarnya” berkata Untara “Ia adalah seorang senapati yang bertanggung-jawab atas tugas-tugasnya”
“Ya” Widura menjawab. “Itu dapat kita pastikan. Seandainya mereka mempergunakan gelar Dirada Meta, maka Tohpati akan menjadi ujung belalainya”
“Kemungkinan yang paling banyak terjadi. Gelar Dirada Meta pasti akan sesuai dengan sifat-sifat Macan Kepatihan itu.
“Lalu bagaimanakah gelar kita, dan siapakah yang akan berada dipusat pimpinan?” bertanya Swandaru.
Semua orang berpaling kepadanya. Pertanyaan itu sebenarnya sudah mereka ketahui jawabnya. Pastilah Untara yang akan berada dipusat pimpinan. Seandainya mereka harus melawan dalam gelar yang lebih luas karena jumlah mereka lebih banyak, meskipun nilainya belum pasti melampaui laskar Jipang, karena diantara mereka terdapat anak-anak muda Sangkal Putung, misalnya gelar Garuda Nglayang, maka Untara pasti akan menjadi ujung paruhnya.
Untara sendiri tersenyum mendengar pertanyaan itu. Jawabnya “Siapakah menurut penilaianmu yang paling tepat untuk melawan Tohpati itu Swandaru?”
Swandaru kemudian tersenyum pula. Ia ingin berkata “Swandarulah yang paling mungkin untuk melawan Macan Kepatihan yang garang itu, seandainya diberi kesempatan”. Tetapi Swandaru kemudian bahkan menundukkan wajahnya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Untara “Biarlah aku mencoba sekali lagi melawan Macan Kepatihan itu. Mudah-mudahan kali ini aku dapat pula mengimbanginya”
“Siapakah senapati-senapati pengapitnya kakang?” bertanya Swandaru pula.
Untara mengerutkan keningnya. Ia melihat Swandaru mempunyai keinginan yang besar untuk mendapat tanggung-jawab yang cukup dalam pertempuran itu. Tetapi pertempuran kali ini bukanlah semacam sebuah permainan yang menggembirakan. Laskar Jipang pasti akan menempatkan orang-orangna yang paling terpilih diantara mereka. Sedang Swandaru masih terlalu muda dalam pengalaman dan dalam kematangan berpikir. Untara lebih condong untuk memilih Agung Sedayu meskipun anak itu ternyata dalam bertindak terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan. Namun bekal yang dimiliki Agung Sedayu ternyata lebih banyak dari Swandaru.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 September 2008 at 06:38  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. akhirnya…
    sempet juga mindahin 60 halaman adbm dari tempat mas rizal..
    siapa yg masih punya kovernya (buku 1-10) ya?

    D2: Minta tlg Nyai Demang kover Jilid 2, 4, 6, dan 18.

  2. 6 halaman terakhir buku jilid 10 ini yang lanjutannya site mas rizal belum diupload ya Mas Dede?

    D2: Bahkan kami gak tahu kalau kurangnya 6 halaman. Pokoknya kami tahu kurang karena akhir buku 10 belum nyambung dengan awal buku 11. Emang Mas Riko ada? Boleh tuh yang 6 halaman dishout di koment boks.

  3. wah maap…. saya punya yang seri IV aja mas… mau coba ngescan belum sempet-sempet hehehe… ntar aku kabarin kalo udah di scan

    • kalo ngga sempat ya ngga papa kok 🙂

  4. ki gede,
    angger kurang cakap untuk masalah tehnologi
    maklum baru turun gunung
    kalo mau nyedot semua ke hard disk caranye piye
    suwun ya..
    ki gede ilmunya ngedap-ngedapi

    $$ Sugeng rawuh Kisanak. Saya Senopati. Disini silakan membaca.. gratis.. jadi kalau mau mengambil ya musti “copy paste” tiap halaman. Kecuali untuk kitab 96 ke atas masih mentah berbentuk file DJVU.

  5. ternyata padepokan ini luas juga…

    • bahkan ternyata sekarang padepokan ini ….tambah lebih luas lagi…

      • semaKEN luas……luaass…….dan luuaaasss laGI,

        • luas dan luwes
          kenes lagi 😆

          • ha ha ha ….
            Ki AS kok maju-mundur seperti gergaji saja

            • seperti…waktu tidur 😀

              • ha ha ha …
                sugeng sonten panembahan satpam
                (p. lak singkatan panembahan to)

                • lak ban ?????????

  6. kelanjutan dari ini mana ???
    terus terang aku agak bingung bac buku ini….
    dari seri pertama tiba2 cerita langsung ke masalah Un tara harus pergi ke sangkal putung menyelamatkan laskar Widura…
    adakah yang mengawali cerita itu seperti apa ???

    • waduh iya kelanjutannya gimana dong ki mbleh ?

  7. alhamdulillah akhirnya ketemu juga lanjutannya ke 61 …. bingung nyarinya ternyata ada dibuku ke 10 dst …. mtr nuwun sanget

  8. sugeng DALU,

    mandek sik, se-sore mblayu2 nguber keberadaan ki Karto
    sama ki AS yang lagi singidan ning gandok ADBM.

    • ora singidan kok yo, iki baru menyelesaikan rontal 9 ki gund, pagi ini mempelajari rontal 10

    • Ki Gun…ayoo balapan mlayu, sing menang sing iso mabuk..eh..masuk gandok 11..hayoo !!!…

      • hurrah ki kartu isuk-isuk ngajak playon

        • ki kartujodo 😉

          • Hayooo Ki Bukan melu pisan ayoo…iso ora mlebu gandok 11..! 😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: