Buku 09

Namun Swandaru masih belum dapat disejajarkan dengan salah seorang dari mereka. Apalagi kalau kekuatan mereka digabung, maka Sumangkar dan Ki Tambak Wedi akan menjadi lawan yang amat berat meskipun kekuatan mereka telah menunjukkan tanda-tanda menurun karena perjuangan yang berat diantara mereka.
Tetapi Swandaru yang sedang berkembang itu tidak dapat menimbang berat ringan orang-orang yang dihadapinya. Ia masih dalam tingkatan ingin mencoba segala kemampuan yangada dididalam dirinya. Apalagi kini dihadapannya berdiri Sidanti dan Tohpati. Ia ingin menakar diri. Apakah kekuatannya sudah seimbang dengan Tohpati atau Sidanti?
Dalam kesibukan berpikir itu, Kiai Gringsing mendengar Sumangkar menjawab tawaran Ki Tambak Wedi sebelum Tohpati mengambil keputusan “Ki Tambak Wedi, dihadapan kami berdiri Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kini datang Kiai Gringsing dengan kedua muridnya, anak-anak Sangkal Putung. Adakah itu suatu kebetulan? Apakah Ki Tambak Wedi sudah menyediakan perangkap untuk menjebak kami berdua?”
Ingatan Tohpati benar-benar seperti tersengat lebah mendengar kata-kata itu. Alangkah mengejutkan meskipun seharusnya kemungkinan itu telah dipertimbangkannya. Ya, seandainya mereka telah merencanakan itu, alangkah bodohnya. Kalau ia menerima tawaran Ki Tambak Wedi, kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti mengkhianatinya dalam perkelahian itu, maka membunuh Tohpati akan sama mudahnya dengan memijat bji ranti. Karena itu tiba-tiba Tohpati menggeram dengan marahnya. Katanya “Hem. Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat licik. Kalian berpura-pura saling bertentangan antara kedua pihak guru dan murid sekali. Tetapi ternyata kalian telah menjebak kami. Tetapi jangan kalian sangka Tohpati akan menyerah. Tohpati hanya menyerah apabila Tohpati telah menjadi mayat”
Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Sumangkar benar-benar gila. Beberapa kali ia merusak usahanya. Kini orang itu telah menempatkannya pada kesulitan pula. Karena itu ia berteriak “Sumangkar, kau adalah biang keladi dari kehancuran Macan Kepatihan. Kini kau menolak tawaranku. Baiklah marilah kita teruskan perkelahian ini. Siapa yang menang, biarlah ia menjadi korban berikutnya dari kebodohanmu. Dan kita berempat akan mati dilapangan rumput ini. Apa katamu?”
“Lebih baik demikian Ki Tambak Wedi” sehut Sumangkar “Lebih baik kita mati berempat disini daripada hanya kami saja berdua. Setuju”
Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Rupanya kesempatan untuk bersama-sama menghancurkan Kiai Gringsing telah benar-benar tertutup baginya, sehingga tidak ada pilihan lain daripada meneruskan perkelahian itu mati-matian.
Tetapi sejak saat itu Tohpati selalu dihantui oleh kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing bersama-sama. Karena itu maka otaknya bekerja dengan sibuknya, disamping tenaganya yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Kiai Gringsing dan kedua anak muda Sangkal Putung itu mulai menyerangnya pula dengan cara apapun.
Karena itulah maka Tohpati harus menemukan suatu cara untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati meringkuk dalam perangkap lawannya.
Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Tohpati memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah sepi malam.
Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking berkali-kali.
Ki Tambak Wedi terkejut mendengar suara itu. Bahkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Sumangkar. Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka, terdengar kembali suitan Tohpati untuk kedua kalinya dan sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.
“Gila!” teriak Sidanti “Apakah yang kau lakukan pengecut?”
“Mari, mari Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, majulah bersama-sama. Cobalah tangkap Tohpati dan Sumangkar malam ini”
“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Sidanti
“Itu adalah hakku”
“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang laki-laki”
“Aku adalah pemimpin pasukan Jipang. Aku tdiak mau masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami berdua kedalam perangkap? Sedang aku, Macan Kepatihan sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil pasukannya?”
“Gila” desis Ki Tambak Wedi.
Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali terdengar Tohpati bersuit. Kali ini berkepanjangan.
“Apa arinya?” gumam Ki Tambak Wedi.
Macan Kepatihan tertawa, katanya “Orang-orangku harus menangkap kalian hidup-hidup”
“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Ki Tambak Wedi.
Tohpati tidak menjawab, namun tongkatnya berputar semakin cepat menyambar lawan-lawannya.
Dalam pada itu timbullah pikiran baru didalam benak Ki Tambak Wedi. Kalau pasukan Tohpati segera datang dan membantu, maka keseimbangan akan segera berubah. Betapapun lemahna orang seorang dalam pasukan Tohpati, namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan Sidanti. Karena itu, maka tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu menggeram “Bagus Tohpati, karena kau tidak menepati kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali ini memenggal lehermu, memenggal leher adik gurumu. Tetapi ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”
“Pengecut” terdengar suara Tohpati “Kau akan lari?”
“Bukan aku yang licik”
“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha untuk lari dapat digagalkan”
“Persetan, laskarmu akan aku tumpas kalau berani menghalangi aku”
Macan Kepatihan itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur bintang pagi yang baru terbit itu”
Ki Tambak Wedi menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia berkata kepada muridnya “Musuh kita kali ini licik seperti demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri, menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”
“Tunggulah sebentar” cegah Sumangkar “Aku belum selesai”
“Persetan” sahut Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa Sumangkar ingin memperlambatnya, sehingga laskar Jipang cukup waktu untuk mengepung mereka.
Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka terjebak dalam kepungan laskar Macan Kepatihan.
Kegelisahan itu sebenarnya tidak saja melanda Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kiai Gringsingpun ternyata terpaksa berpikir menghadapi keadaan itu. Seandainya laskar Jipang yang sarangnya mungkin tidak jauh dari tempat ini benar-benar datang, maka mereka benar-benar berada dalam kesulitan. Sebab Kiai Gringsing seperti juga Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa didalam laskar Tohpati itu ada orang-orang seperti Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang tidak jauh tingkatnya dari mereka itu. Disamping Sumangkar dan Tohpati, maka mereka pasti akan menjadi orang-orang yang sangat berbahaya.
Sekali dua kali Kiai Gringsing menimbang-nimbang. Diamat-amatinya muridnya. Ia menjadi cemas apabila ia menatap Swandaru yang gemuk itu. Anak itu kurang perhitungan. Ia merasa tenaganya terlampau kuat, sehingga ia tidak pernah mempertimbangkan kekuatan lawan-lawannya.
Karena itu maka ketika dilihatnya Ki Tambak Wedi melarikan dirinya, tiba-tiba Kiai Gringsing berteriak “angger Macan Kepatihan dan Sumangkar yang perkasa. Aku kali ini lebih berkepentingan dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Karena itu biarlah aku mengejar mereka. Mudah-mudahan lain kali aku dan murid-muridku dapat menjumpai kalian berdia dalam kesempatan seperti ini”
“Kau juga mau lari?” teriak Macan Kepatihan.
Kiai Gringsing tertawa, tetapi ia sudah meloncat sambil berkata kepada murid-muridnya “Jangan lepaskan Sidanti”
Swandaru dan Agung Sedayu tidak sempat bertanya lebih banyak. Segera mpun berloncatan mengikuti Ki Tanu Metir mengejar Ki Tambak Wedi dan Sidanti.
Tohpati dan Sumangkar melihat mereka berlari-larian meninggalkan lapangan rumput sambil tertawa “Hem” geramnya “Aku sudah hampir kehabisan akal”
Sumangkar tidak segera menyahut. Ia masih memandang kedalam malam yang semakin gelap, karena bulan yang terbelah telah lenyap dibalik pepohonan.
Baru setelah mereka lenyap dari pandangan mata Sumangkar, maka berkatalah orang tua itu kepada Tohpati “Semula aku tidak tahu, apakah maksud angger sebenarnya”
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya “Kita tidak akan dapat melawan mereka semuanya apabila mereka benar-benar ingin menjebak kita”
“Ya, dan angger telah membuat permainan yang baik sekali. Ternyata mereka semuanya pergi meninggalkan kita. Mereka menyangka bahwa angger benar-benar memanggil anak buah angger”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata bersungguh-sungguh “Tetapi ada sesuatu yang tidak wajar paman. Aku sangka, Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing benar-benar tidak akan bekerja bersama-sama, meskipun kita harus berhati-hati terhadap dugaan itu”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya “Aku juga menyangka demikian. Bahkan aku menyangka diantara mereka benar-benar ada persoalan yang telah membawa mereka dalam suatu keadaan permusuhan”
“Nah, bukankah kalau demikian kita akan dapat mempergunakan salah satu pihak untuk keuntungan kita? Sidanti misalnya?”
“Belum pasti ngger. Belum pasti kalau Sidanti dan Ki Tambak Wedi akan dapat memberi keuntungan kepada angger. Kalau sekali ia telah meninggalkan kesetiannya kepada kesatuannya dan berpihak kepada lawannya, maka orang yang demikian adalah orang yang benar-benar tidak dapat dipercaya. Mungkin ia akan memperalat kita untuk kepentingannya, kemudian menhancurkan kita sendiri. Gurunya, Ki Tambak Wedi, bukankah contoh yang sangat baik bagi sifat Sidanti itu?”
“Aku akan dapat mempergunakannya dimana perlu paman, jangan sebaliknya”
Sumangkar mengerutkan keningnya. Kembali dadanya dirayapi oleh kecemasan. Mungkin Tohpati akan dapat mempergunakan Sidanti tanpa mencelakakan dirinya. Mungkin kemudian Sidanti akan dapat dibinasakan oleh Tohpati apabila ada tanda-tanda ia akan mengkhianatinya. Namun dengan demikian, maka keadaan akan menjadi semakin parah. Peperangan akan menjadi semakin berlarut-larut. Karena itu, maka diberanikan dirinya berkata “Raden, apakah Raden dapat bekerja sama dengan anak muda itu? Setiap kali angger malahan akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Angger setiap kali hanya akan mengawasinya saja. Pekerjaan itu pasti akan menjemukan sekali. Dan bukankah dengan demikian angger akan memperluas kesulitan rakyat Jipang dan Pajang sendiri?”
Tohpati menundukkan wajahnya. Tiba-tiba hatinya bergetar cepat sekali. Teringatlah ia kini, akan apa yang mengganggunya akhir-akhir ini. Kesadaran diri atas segala yang telah berlaku dan akan dilakukan benar-benar mengganggunya siang dan malam. Perang, kebencian, kekerasan dan permusuhan merajalela.
Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Dilangit bintang-bintang masih bercanda dengan awan yang mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Sementara itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti berlari kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka benar-benar menyangka bahwa Tohpati sedang memanggil anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar mengecewakan.
Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang didalamnya.
Kiai Gringsing yang berlari sambil menunggu murid-muridnya ternyata kehilangan jejak. Karena itu, maka segera mereka berhenti diantara gerumbul-gerumbul perdu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Gringsing bergumam “Hilang, mereka hilang disini”
“Marilah kita cari Kiai” ajak Swandaru.
Swandaru benar-benar tidak melihat bahaya yang dapat menyergapnya apabila mereka mencari. Ki Tambak Wedi akan dapat menerkam muridnya satu persatu. Bagi Kiai Gringsing sendiri, maka bahaya itu tidak akan sampai membinasakannya. Namun bagaimana dengan Swandaru dan Agung Sedayu? Ki Tambak Wedi dan Sidanti dapat berada disetiap kegelapan dibalik gerumbul-gerumbul itu. Dengan ujung-ujung pedangnya Sidanti dapat mendahuluinya. Apalagi Ki Tambak Wedi.
Karena itu, maka Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya sambil bergumam “Sangat berbahaya Swandaru, terutama bagimu dan bagi Agung Sedayu”
“Kalau demikian, lalu apa yang harus kita lakukan Kiai?”
Kiai Gringsing berdiam diri untuk sejenak. Ia tahu pasti bahwa Swandaru menjadi kecewa. Jauh lebih kecewa dari Agung Sedayu, sebab ia kehilangan kesempatan untuk mencoba ilmunya. Sehingga Ki Tanu Metir dengan sangat hati-hati mencoba melunakkan hatinya “Kita kehilangan lawan Swandaru”
“Tetapi kita tidak mencarinya”
“Disetiap ujung daun-daun perdu itu mungkin sekali kau temukan ujung pedang Sidanti atau ujung-ujung jari Ki Tambak Wedi”
“Tetapi dengan demikian mereka tidak berlaku jantan”
“Mungkin demikian, namun apakah yang dapat kita katakan dengan kejantanan itu apabila lambung kita telah tembus oleh pedangnya. Dan bukankah sangat sulit untuk mencari dua orang saja diantara gerumbul-gerumbul liar itu?. Mungkin mereka tidak menunggu kita dengan ujung pedang, tetapi mereka kini telah hilang menyusur gerumbul-gerulbul itu masuk kedalam hutan. Nah, apakah dengan demikian kita tidak hanya akan membuang waktu?”
“Apakah kita akan kembali ketempat Tohpati?”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Setiap kemungkinan untuk dapat bertemu semua pihak telah hilang. Seandainya Tohpati benar-benar memanggil anak buahnya, maka kita akan masuk kedalam perangkapnya. Seandainya Macan Kepatihan hanya menakut-nakuti Ki Tambak Wedi dan muridnya, maka kini ia pasti sudah pergi”
“Ternyata bukan Ki Tambak Wedi dan Sidanti saja yang menjadi ketakutan Kiai, kita juga menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia tahu benar perasaan muridnya yang seorang itu. Swandaru menjadi sangat kecewa, bahwa ia tidak berhasil mendapat tempat untuk mencoba segala macam ilmu yang selama ini dipelajarinya.
Maka berkatalah dukun tua itu “Swandaru, kita harus mempertimbangkan segala ekmungkinan yang dapat terjadi atas perbuatan kita. Kita bukan orang-orang yang memiliki kekhususan yang berlebih-lebihan. Bukan orang yang tak pernah melihat kelemahan diri. Apabila demikian ngger, maka kita telah mulai dengan langkah yang sangat berbahaya”
“Tetapi kita bukan pengecut-pengecut Kiai. Bukankah kita anak-anak jantan yang pantang menghindari kesulitan?”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya “Ya, apabila kesulitan itu berada dijalan kita, maka kita tidak boleh menghindar. Kita harus mencoba mengatasinya. Tetapi bukan kita mencari kesulitan apabila kesulitan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kita”
“Kiai, baik Sidanti maupun Tohpati adalah orang-orang yang sangat berbahaya bagi Sangkal Putung. Kenapa mereka kita lepaskan setelah mereka berada diujung hidung kita? Apakah dengan demikian kita tidak hanya malas mengatasi kesulitan yang bakal datang?”
Ki Tanu Metir tersenyum. Muridnya yang seorang ini memang keras hati. Dalam kekerasan itu maka apabila mendapat menyaluran yang tepat, maka Swandaru akan dapat menjadi seorang prajurit yang nggegirisi. Tetapi ternyata bahwa akalnya masih belum mampu mempertimbangkan setiap kemungkinan dari tindakannya.
“Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Sebaiknya mulai saat ini belajarlah menilai diri sendiri secara wajar. Jangan erlalu menghargai kekuatan sendiri berlebih-lebihan. Dengan demikian kita akan mudah terjerumus kedalam tindak yang kurang bijaksana. Coba hitunglah, apa yang dapat kita lakukan bertiga dan apa yang dilakukan oleh Tohpati berdua ditambah dengan laskarnya yang bakal datang. Kita tidak tahu berapa orang, tiga, enam, sepuluh atau lebih. Diantaranya akan datang Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang cukup berbahaya bagi kita. Nah, kita harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau kita bertempur melawan mereka”
“Jadi kita tidak berani menghadapi mereka itu?”
“Ada bedanya Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Ada perbedaan antara seorang pengecut dan seorang yang memperhitungkan kekuatan diri. Seseorang dapat saja meninggalkan perkelahian dan pertempuran dalam keadaan tertentu. Kalau kita meninggalkan Tohpati yang memanggil laskarnya, maka kita sama sekali bukan pengecut. Tohpatilah yang mulai. Sebab ia memanggil orang banyak untuk menghadapi kita bertiga. Dan kita tidak mau membunuh diri kita. Seorang pemberani bukanlah seorang yang membabi buta dan membunuh diri sendiri”
Swandaru terdiam sesaat. Ia dapat mengerti keterangan gurunya itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berguman “Ya, aku mengerti Kiai”
“Bagus, ingatlah untuk seterusnya” sahut Kiai Gringsing.
Swandaru tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan gurunya, namun dihati kecilnya tumbuhlah perasaan yang aneh. Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suatu tugas yang harus diselelsaikan.
Ketika malam yang hening merambat makin jauh, maka bergumamlah ktim “Kita kembali ke kademangan. Ada sesuatu yang harus kita sampaikan kepada angger Widura dan angger Untara. Perjalanan kita kali ini menangkap suatu peristiwa yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Sidanti dan Tohpati berdiri berhadapan langsung sebagai lawan”
“Apakah yang penting dari peristiwa ini Kiai?” bertanya Agung Sedayu.
“Mereka tidak bekerja bersama” sahut Kiai Gringsing. “Mungkin hal ini baik bagi Sangkal Putung. Tetapi mungkin buruk pula. Sidanti dapat membentuk suatu gerombolan baru yang akan mempersulit keadaan. Ki Tambak Wedi mempunyai pengaruh yang kuat dilereng Merapi ini”
Kedua murid Ki Tanu Metir itu terdiam. Berbagai persoalan hilir mudik didalam kepala mereka. Swandaru masih merasa aneh tentang dirinya, sedang Agung Sedayu dapat berpikir lebih tenang dan memandang lebih jauh. Sifat-sifatnya dimasa anak-anaknya ternyata ikut membantu mengekangnya menghindari bentrokan-bentrokan yang sama sekali tidak perlu. Untunglah bahwa setelah ia berhasil memecahkan dinding yang mengungkungnya dalam dunia ketakutan, ia tidak kehilangan keseimbangan. Untunglah bahwa ia berada didekat kakaknya yang dapat memberinya petunjuk-petunjuk, untunglah bahwa gurunya adalah seorang dukun yang banyak sekali berusaha menyembuhkan orang-orang sakit, bukan sebaliknya membuat orang menjadi sakit.
Sejenak kemudian maka merekapun meninggalkan padang rumput itu, dan kembali ke kademangan Sangkal Putung.
Pada saat itu Tohpati dan Sumangkar telah pula melangkah pergi. Mereka tidak meneruskan perjalanan mereka ke Sangkal Putung. Tetapi mereka bermaksud kembali kesarang mereka. Tohpati berjalan dengan wajah tertunduk, sedang disampingnya Sumangkar berjalan sambil mengamat-amati goloknya. Perlahan-lahan ia bergumam “Besok aku akan mengalami kesulitan”
“Apa?” Tohpati terkejut mendengar keluhan itu.
Sambil menunjukkan goloknya Sumangkar berkata “Mata golokku menjadi pecah-pecah. Aku tidak dapat lagi mempergunakannya untuk membelah kayu”
“Oh” Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kalau bukan Sumangkar yang berkata demikian, maka orang itu pasti sudah ditamparnya. Namun tiba-tiba untuk melepaskan kejengkelannya Tohpati itu berkata lantang “Besok aku akan pergi ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya”
Sumangkarlah kini yang terkejut “Besok? Apakah angger sudah cukup siap?”
Tohpati tidak segera menjawab. Ia melangkah semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin panjang, sehingga Sumangkar terpaksa berkali-kali mempercepat langkahnya pula.
Ketika Tohpati tidak segera menjawab pertanyaannya maka sekali lagi Sumangkar bertanya “Angger, apakah angger besok dapat menyiapkan laskar Jipang untuk menyerang Sangkal Putung?”
“Aku telah siap sejak pecah perang Jipang dan Pajang” geram Tohpati tanpa berpaling.
Sumangkar mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terasa sesuatu pada dinding Tohpati itu. Meskipun demikian Sumangkar mencemaskan nasib Macan Kepatihan itu pula sehingga ia berkata “Mungkin angger Tohpati sendiri telah siap sejak lama. Tetapi apakah laskar angger, dan pimpinan-pimpinan yang lain telah siap pula?”
“Aku tidak peduli apakah mereka sudah siap atau belum. Besok aku akan menyerbu Sangkal Putung. Untuk yang terakhir kalinya”
“Kenapa yang terakhir kalinya ngger?”
“Aku sudah jemu pada peperangan ini. Aku sudah jemu melihat pepati. Aku sudah jemu melihat darah dan penderitaan”
Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Ia sendiri adalah orang yang jemu menghadapi persoalan yang seakan-akan tidak berpangkal dan tidak berujung. Tetapi ia melihat pada dada Tohpati itu membayang keputus-asaan dan kekecewaan yang meluap-luap. Disamping Widura dan Untara, kini ia mengenal lawan yang baru, yang cukup berbahaya pula laginya. Bukan Sidanti, tetapi Ki Tambak Wedi. Ia tidak akan dapat menggantungkan nasibnya terus menerus kepada Sumangkar, paman gurunya itu. Bahkan kemudian diketahuinya pula bahwa di Sangkal Putung ada orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang memiliki ilmu sejajar dengan Ki Tambak Wedi, sehingga orang itu berani menonton perkelahian yang sedang berlangsung diantara mereka. Diantara ilmu yang bersumber dari Kedung Jati melawan ilmu yang bersumber dari lereng Merapi.
Persoalan-persoalan yang tumbuh didalam perkemahannya, persoalan-persoalan yang tumbuh disekitarnya telah mendorong Tohpati dalam keadaan yang sulit. Tetapi semuanyaitu tidak akan menggoncangkan tekadnya, seandainya tidak ada persoalan-persoalan yang tumbuh didalam dadanya sendiri. Beberapa hari ia telah diganggu oleh pertimbangan-pertimbangan yang membingungkannya. Pertimbangan-pertimbangan yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Tak pernah sehelai bulunyapun yang meremang, apabila ia melihat darah, mayat, mendengar pekik rintih dan tangis. Dadanya sama sekali tidak tergetar melihat pedang yang berlumur darah dan bahkan tubuh yang terpisah-pisah. Namun tiba-tiba kini ia merasa ngeri hanya mengenangkan itu semua.Mengenangkan kembali dan tidak sedang menghayatinya.
“Setan” geramnya.
Sumangkar berjalan terloncat-loncat disampingnya. Ketika ia mendengar Tohpati menggeram, maka sekali lagi ia bertanya “Kenapa angger menjadi jemu?”
Sekali lagi Tohpati menggeram, katanya “Kenapa paman bertanya? Paman adalah salah satu sebab dari kejemuan itu. Paman telah membujuk aku. Paman telah memperlemah tekadku. Dan paman pasti akan menyetujui pendapatku. Peperangan ini harus segera berakhir. Pajang atau Jipang yang akan hancur”
Dada Sumangkar benar-benar bergetar mendengar jawaban itu. Sehingga cepat-cepat ia menjawab “Angger telah memilih jalan yang sama sekali tidak tepat”
Langkah Tohpati terhenti mendengar perkataan Sumangkar itu. Dengan tajamnya ia memandang wajah orang tua itu dengan sinar kemarahan yang menyala-nyala “Apakah yang kau katakan paman?”
“Angger mencoba menempuh jalan yang salah”
“Kenapa?”
“Angger telah meninggalkan segenap perhitungan seorang senapati”
“Apa gunanya perhitungan-perhitungan itu lagi? Bukankah paman juga menghendaki supaya kami cepat hancur dan peperangan berhenti?”
“Tidak”
“Paman” geram Tohpati “Paman sudah tua. Dan perkataan paman sama sekali tidak dapat didengar dengan pasti. Apa yang paman kehendaki sebetulnya? Jangan mencla-mencle”
“Tidak, aku tetap pada pendirianku. Aku menghendaki peperangan segera berakhir. Tetapi aku tidak menghendaki laskar Jipang membunuh dirinya”
“Apa pedulimu paman. Hidupku adalah wewenangku. Kalau besok aku menyerbu Sangkal Putung sebagai sulung menjelang api, dan kemudian aku akan binasa karenanya, namun peperangan akan berhenti, bukankah paman akan tertawa pula karenana. Paman akan tertawa melihat mayat Tohpati dipenggal kepalanya dan diseret sepanjang jalan raya Pajang untuk dipertontonkan kepada rakyat. Dan paman akan tertawa melihat Untara mendapat hadiah serupa dengan yang diterima oleh Pemanahan dan Penjawi?”
“Angger salah terka. Aku tidak ingin melihat angger membunuh diri bersama seluruh laskar”
“Apa pedulimu? Apa pedulimu. He? Nyawa ini adalah nyawaku. Hidup ini adalah hidupku sendiri”
“Aku tidak keberatan kalau Raden membunuh diri dengan cara itu. Tetapi jangan membinasakan laskar angger itu. Jangan membawa mereka terjun kedalam lembah kengerian itu”
“Diam, diam kau tua bangka” teriak Tohpati dengan marahnya sehingga tongkatnya terayun-ayun menunjuk keakrah kepala Sumangkar. Tetapi kini Sumangkar tidak meletakkan goloknya, tidak menyerahkan kepalanya sambil ngapurancang. Tetapi orang tua itu tiba-tiba meloncat surut sambil mempersiapkan dirinya. Benar-benar bukan Sumangkar juru masak yang malas, tetapi Sumangkar yang telah berhasil mengimbangi kekuatan hantu lereng Merapi.
Mata Tohpati terbelalak karenanya, seakan-akan ingin meloncat dari pelupuknya. Betapa dadanya menjadi bergelora seolah-olah akan meledak melihat sikap Sumangkar itu. Melihat Sumangkar menyilangkan goloknya dimuka dadanya dan siap menghadapi setiap kemungkinan.
Sejenak kemudian tubuhnya menjadi gemetar karena marahnya. Tongkatnya yang putih berkilauan itupun bergetar dalam genggaman tangannya. Sambil menunjuk si dengan tongkatnya itu Macan Kepatihan menbentak “He, Sumangkar, apakah kau akan berani melawan Macan Kepatihan?”

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 September 2008 at 06:27  Comments (21)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

21 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pertama 😀 semoga aja kitab II-09 ini juga udah bisa segera di unduh, Matur Nuwun ki GeDe

  2. Absen Ki GeDe, sekalian antri…Number two…

  3. para cantrik yg mo buka lapak n ngantri II-9, jangan disini..,salah kapling.,
    hayoo buruan lapaknya di beresin.., mumpung belum di gusur Satpol PP..,;D

  4. wis thoo… ojo di seneni
    neng kene ben ono sing nunggu…

  5. kitab 108 hanya 1/2 M, dengan speedy hanya 1/2 menit, matur nuwun ki GD

  6. sepertinya beberapa penunggu yang telah lama malang melintang di padepokan adbm telah menjadikan pondok 09 sebagai pondok sementara, selagi alas II-9 masih dibabat oleh ki gd.

    abseeen

  7. ʞɐuɐs ıʞ ʇıʞıp ɹıƃƃuıɯ ɐƃɐ
    😀 ɐƃnɾ ıuıs ıp ɯǝpɐƃu ƃuɐdɯnu oɯ

    • Kepada para kadang semua,
      Ki Gede mohon diperbanyak maaf. Terutama sekali bagi para kadang yang menunggu versi teks. Ki Gede ada keperluan keluarga. Pindahan. Jadi mesti ada acara angkut2 dan bebenah. Itu sebabnya versi teks terlantar. Karena praktis sejak 31 Desember Ki Gede tidak menyentuh komputer, apalagi buka internet.
      Mudah2an dalam 2-3 hari ke depan Ki Gede sudah bisa setle dengan situasi baru dan bisa bersama2 menyemarakkan padepokan kita tercinta.
      Sekali lagi mohon maaf, beribu maaf.

      GD

  8. ˙˙˙oɥl ʞǝpuǝd ɥɐqɯɐʇ ɐʎuɹǝɥǝl ıʇuɐu ¿ıɐʎʞ ɐʎuʇıʞɐs ɥɐʞɥnqɯǝs ɯnlǝq ɥısɐɯ

  9. .ɐʎuɐdnɹ ɐƃnɾ ƃuɐsƃuns uıƃuıɹɐʍ ıɾɐ uɐʞdɐɹǝuǝɯ ʞɐuɐs ıʞ
    ˙˙˙˙ɹıɥʞɐ ıɐdɯɐs uɐʞunɹnʇıp ɯqpɐ qɐʇıʞ ɯnlǝqǝs
    😛 ˙˙ʞɐuɐsıʞ lɐɯɹou ʞnʇun ɥɐsns ɥısɐɯ’

  10. Cerita ADBM dan karya Pak Singgih yang lainnya sebenarnya sudah tak boco semua walaupun untuk ADBM blom Tamat karena Pak Singgih keburu dipanggil Yang Maha Kuasa, tapi ternyata mengulang dari awal yo tetep asyik..
    Matur nuun buat yang telah membuat blog ini, ….

  11. mas,
    fantastis
    komik ini sangat mempengaruhi kehidupan
    waktu ditinggal ortu masih kecil
    sesorahnya para tetua di tokoh itu menggurat batin
    piye carane buat ngunduh to ?

    GD: Copy paste saja kok Ngger.

  12. ternyata di sini pernah jadi persinggahan…

    • ….yang singgah ternyata…Ki Banuaji…aja deh ! 😀

      • di suSUR ki Karto juga……deh !! 🙂

  13. alhamdulillah,dngan membaca adbm saya mndapat pencerahan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: