Buku 09

Golok yang kehitam-hitaman ditangannya itu, berputaran, sekali mematuk, sekali menebas menyambar seperti hendak menebang roboh tubuh Ki Tambak Wedi itu. Namun hampir disetiap kesempatan Ki Tambak Wedi dengan beraninya memukul golok lawannya dengan tangannya yang terlindung oleh sepasang gelang baja. Dalam benturan-benturan yang terjadi itu, maka menyalalah bunga api memercik keudara. Setiap kali terjadi benturan, senjata Sumangkar, golok pembelah kayunya mengalami luka dibagian tajamnya, sehingga kemudian mata golok yang memang bukan senjata buatan khusus itu, menjadi semacam mata gergaji. Namun dengan demikian, maka setiap goresan akan mampu menyobek kulit dengan bekas yang tersayat-sayat.
Ki Tambak Wedipun kemudian terpaksa berjuang dengan sengitnya untuk segera mengalahkan Sumangkar. Namun Sumangkar tidak mau menerima keadaan dengan kedua tangan ngapurancang, Tetapi sepasang tangannya berjuang sekuat-kuat tenaganya, tenaga murid kedua perguruan Kedung Jati. Goloknya kadang-kadang menyambar dalam genggaman tangan kanannya, namun kemudian mematuk dalam kelincahan tangan kirinya.
“Demit, tetekan” Ki Tambak Wedi tak habis-habisnya mengumpat. Tetapi lawannya sama sekali tidak takut mendengar umpatan itu, bahkan dengan serunya Sumangkar melawannya tanpa mengenal lelah.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Keduanya adalah orang-orang tua yang telah hampir merasa dirinya harus beristirahat dan menyerahkan segala persoalan kepada mereka yang masih muda. Namun pada saat-saat terkhir, mereka masih harus melindungi anak-anak muda yang mereka anggap akan dapat meneruskan umur mereka. Ki Tambak Wedi, seorang guru yang terlalu bangga akan muridnya dan terlalu jangkaunya, sedang Sumangkar melihat Tohpati adalah penerus perguruannya, lewat kakak seperguruan. Karena itu maka seandainya anak muda itu lenyap, lenyap pulalah ajaran-ajaran perguruan Kedung Jati yang pernah terkenal karena orang menyangka bahwa murid-murid perguruan Kedung Jati tidak dapat mati, karena memiliki nyawa rangkap. Sedang perguruan lereng Merapi yang terkenal seakan-akan setiap muridnya mampu menangkap angin.
Dipihak lain, Sidanti bertempur dengan sepenuh tekad melawan Macan Kepatihan. Kali ini ia akan menebus kekalahannya pada saat ia berhadapan dengan Macan Kepatihan itu. Seperti juga gurunya, ia benar-benar ingin membunuh Tohpati. Membawa kepalanya ke Pajang dan mengharap hadiah daripadanya, seperti hadiah yang akan diterima oleh mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang, tanah mentaok dan Pati. Kalau ia membunuh Macan Kepatihan, maka setidak-tidaknya ia akan menerima hadiah separo dari mereka yang membunuh Arya Penangsang.
Dengan harapan itu, serta pangkat yang akan melampaui pangkat Untara, maka Sidanti berjuang sekuat-kuat tenaganya.
Namun ternyata Macan Kepatihan tidak menyerahkan lehernya begitu saja. Bahkan semakin lama Tohpati seakan-akan menjadi semakin segar. Tongkatnya menjadi semakin cepat bergerak menyambar-nyambar seperti burung garuda yang bertempur diudara.
Mula-mula Sidanti berbangga dengan kemenangan-kemenangan kecilnya. Ketika sekali dua kali ujung pedangnya mampu meneteskan darah dari tubuh Tohpati. Namun kemudian terasa, bahwa kulitnya pasti menjadi merah biru pula. Setiap sentuhan ujung tongkat Macan Kepatihan yang berbentuk tengkorak itu, seakan-akan benar-benar memecahkan tulangnya. Meskipun ia selalu dapat menghindarkan dirinya dari benturan langsung, atau dengan sepasang senjatanya menghentikan ayunan tongkat lawannya, namun terasa tongkat itu menyengat-nyengat tubuhnya semakin lama semakin sering. Sehingga dengan demikian, maka Sidanti kemudian tidak lagi dapat membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Betapa ia menjadi semakin lincah disaat-saat terkhir, namun lawannyapun ternyata cukup tangguh untuk mengimbanginya.
Karena itulah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Ketika bulan menjadi semakin merendah kegaris cakrawala diujung barat, maka mereka yang bertempur itu semakin ngetok kekuatan. Mereka tidak mau masing-masing menjadi korban dari perkelahian itu, dan mereka masing-masing berusaha untuk mengalahkan lawannya sebelum pasangannya dapat dikalahkan.
Tetapi kemudian, perkelahian itu menjadi terganggu karenanya. Dikejauhan mereka melihat tiga bayangan yang bergerak-gerak dalam keremangan cahaya bulan. Tiga bayangan manusia yang datang mendekat daerah perkelahian itu.
Baik Ki Tambak Wedi maupun Sumangkar bertanya-tanya didalam hati mereka, siapakah mereka, orang-orang yang mendatangi itu. Tohpati dan Sidantipun kemudian melihat mereka pula. Karena itu, maka mereka menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat menghentikan perkelahian itu. Perkelahian itu adalah perkelahian antara hidup dan mati. Namun kalau yang datang itu kawan dari salah satu pihak, maka keseimbangan perkelahian itu akan terganggu.
Sesaat Tohpati menggeram keras sekali. Tiba-tiba ia memperketat tekanannya. Ia melihat satu tenaga cadangan yang akan mampu mempercepat penyelesaiannya. Kalau ia mengerahkan tenaganya dan berhasil, maka perkelahian itu akan menjadi semakin cepat selesai. Tetapi kalau tidak, maka akibatnya ia akan menjadi lebih dahulu kelelahan dan mungkin ia akan menjadi korban. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Ketiga bayangan yang menjadi semakin dekat itu benar-benar mengganggunya.
Akibatnya terasa pula oleh Sidanti. Serangan Macan Kepatihan menjadi bertambah dahsyat. Sedahsyat angin prahara yang melanda tebing pegunungan, menggetarkan pepohonan dan menggugurkan daun-daunnya. Sekali Sidanti terpaksa meloncat surut, namun Tohpati mengejarnya terus.
Serangan Sidanti itu serasa benar-benar menyusup dari segenap arah, mematuk seluruh bagian tubuhnya. Dengan demikian maka Sidantipun terseret kedalam pencurahan segenap tenaga, segenap kekuatan dan segenap kemampuannya. Namun, meskipun demikian, maka amat sulitlah baginya untuk segera dapat membebaskan diri dari belitan serangan Tohpati yang seperti lesus itu.
Pada saat-saat terakhir, Ki Tambak Wedi sebenarnya telah menemukan segi-segi lawannya. Betapapun saktinya Sumangkar, namun pada orang tua itu masih terdapat beberapa kelemahan. Apalagi ketika pada saat-saat terakhir ia lebih senang tinggal didapur saja, maka nafsunya untuk bertempur tidak sehangat Ki Tambak Wedi lagi. Meskipun Sumangkar mampu mengimmbangi hampir setiap usaha Ki Tambak Wedi untuk menembus pertahanannya, namun lambat laun, terasa bahwa Ki Tambak Wedi masih selapis berada diatas Sumangkar.
Tetapi pada sat yang demikian, pada saat Ki Tambak Wedi memperkuat tekanannya untuk segera mengakhiri perkelahian itu, supaya ia sempat memenggal leher Tohpati, maka pada saat yang demikian itu pula, Sidanti terpaksa beberapa kali beringsut surut.
“Gila” desis Ki Tambak Wedi itu “Macan Kepatihan benar-benar berkelahi seperti seekor harimau jantan yang garang”
Dengan menggeram keras sekali ia mencoba mengakhiri perkelahiannya dengan Sumangkar, ketika dengan tangan kirinya ia memukul golok Sumangkar kesamping, dan dengan tangannya yang lain, Ki Tambak Wedi berusaha memecahkan kepala lawannya itu. Namun usahanya masih belum berhasil, Sumangkar masih mampu menggenggam golok itu ditangannya, dan masih mampu melontar kesamping sambil merendahkan dirinya, sehingga tangan Ki Tambak Wedi yang berlapis baja itu terbang beberapa jari dari kepalanya. Sesaat kemudian ketika Ki Tambak Wedi berusaha menerkamnya, maka Sumangkar sudah mampu mempersiapkan dirinya, dan menjulurkan goloknya dimuka dadanya. Bahkan kemudian ketika Ki Tambak Wedi mengurungkan serangannya, Sumangkarlah yang meloncat maju dengan sebuah ayunan pendek.
Namun kembali Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Kini ia benar-benar melihat muridnya dalam kesulitan. Karena itu maka mau tidak mau ia harus membagi perhatiannya. Namun karena orang tua itu memiliki pengalaman yang bertimbun-timbun didalam perbendaharaan ilmunya, maka segera ia menemukan jalan untuk menyelamatkan muridnya tanpa mengorbankan kehormatannya. Dengan lantang kemudian ia berkata “Ayo, meskipun Macan Kepatihan bukan muridmu Sumangkar, namun ia adalah murid saudara seperguruanmu, sehingga ilmumu berdua bersumber dari perguruan yang sama. Kalau ternyata kau tidak mampu melawan aku seorang diri, marilah, aku beri kesempatan kalian bertempur berpasangan. Muridku pasti akan senang juga melayanimu dengan cara itu”
“Kau licik” sahut Sumangkar “Agaknya kau telah melihat bahwa muridmu telah hampir sampai pada titik ajalnya”
“Persetan, aku sobek mulutmu itu”
“Silakanlah kakang” jawab Sumangkar.
Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Namun ia tidak merubah rencana. Langsung ia melepaskan Sumangkar dan berlari kearah Sidanti yang semakin terdesak. Dengan demikian maka Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada berlari pula mengejar Ki Tambak Wedi itu.
Sesaat kemudian maka mereka terlibat dalam pertempuran berpasangan. Mula-mula Sumangkar dan Tohpati agak canggung juga menyesuaikan diri masing-masing, namun karena mereka bersumber pada ilmu yang sama, maka segera mereka menemukan titik-titik yang dapat membuka kemungkinan-kemungkinan seterusnya.
Dalam pada itu, ketika mereka telah luluh dalam satu lingkaran perkelahian, maka bayangan yang datang mendekati mereka menjadi semakin dekat. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan penuh kebimbangan. Setapak mereka maju, dan sesaat mereka berhenti. Sejenak mereka maju lagi, namun dua tiga langkah mereka kembali tegak mengawasi perkelahian yang semakin seru.
“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang dari mereka.
“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan” jawab yang lain.
“Siapakah mereka?”
Tak seorangpun yang dapat menjawab. Namun salah seorang dari mereka berkata “Marilah kita mendekat”
Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satu-satu diantara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhentu pada jarak yang tidak terlalu dekat.
“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.
“Ya” sahut yang lain.
Dan yang lain lagi berkata “Aku sangak, mereka adalah guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu dipadang rumput ini”
Namun sesaat kemudian mereka bertiga mengerutkan kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi.
Perlahan-lahan disela deru angin malam terdengar salah seorang berdesis “Macan Kepatihan”
Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tongkat baja putihnya, yang berkilat-kilat dikeremangan cahaya bulan yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka, siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur itu.
Namun kemudian timbullah kebimbangan dihati mereka bertiga. Salah seorang berkata “Macan Kepatihan bertempur berpasangan. Siapakah yang seorang itu? Bukankah guru Macan Kepatihan itu Patih Mantahun? Dan Patih Mantahun itu telah mati terbunuh?”
Salah seorang bergumam lirih “Perguruan Kedung Jati terkenal, bahwa murid-muridnya mampu menyimpan nyawa rangkap didalam tubuhnya”
“Aku juga mendengar itu” sahut yang lain.
Tetapi yang seorang lagi tertawa perlahan-lahan. Gumamnya “Sebuah dongeng untuk menidurkan anak-anak disenja hari”
Kedua orang yang lain saling berpandangan sesaat, seolah-olah mereka tidak mengerti, kenapa yang seorang itu sama sekali tidak menaruh perhatian atas berita tentang nyawa yang rangkap itu.
“Apakah kalian percaya bahwa ada seorang yang mampu menyimpan nyawa rangkap didalam dirinya? Aji Pancasonea barangkali? Nah, kalau kalian percaya, atau setidak-tidaknya bimbang akan hal itu, mulailah sejak ini menganggap bahwa itu hanya sebuah dongengan semata-mata. Dan hal itupun terbukti pula, bahwa Patih Mantahun tidak lagi bangkit dari kuburnya”
Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya bulam, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayangan-bayangan hitam yang berputaran dan berbenturan, disela-sela cahaya keputih-putihan yang memantul dari tongkat putih Macan Kepatihan dan sekali-sekali gemerlapnya pedang Sidanti. Golok Sumangkar yang kehitam-hitaman bahkan disana sini tampak berkarat, sama sekali tidak mampu memantulkan cahaya bulan yang semakin rendah.
“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah seorang bertanya.
“Marilah Kiai” jawab yang lain.
Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kainnya yang bercorak gringsing menutupi sebagian tubuhnya sedang kedua orang yang lain, berjalan dibelakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah dua orang anak muda yang sebaya. Yang seorang bertubuh sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Dilambung mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun dilambung orang yang berjalan dipaling depan dan bahkan kedua anak-anak muda itu, melingkar sebuah cambuk yang bertangkai pendek dan berujung janget.
Ternyata orang yang pertama, yang berkain gringsing itu, telah menuntun mereka untuk mempergunakan senjata, ciri perguruannya, disamping senjata yang disukainya. Cambuk yang bertangkai tidak lebih dari sejengkal dan ujungnya berjuntai agak panjang, terbuat dari tambang kulit yang sangat kuat beranyam rangkap tiga ganda. Lemas namun kuatnya bukan main.
Tiba-tiba orang yang berkain gringsing itu berkata “Kemarilah ngger”
Kedua anak muda yang berjalan dibelakangnya segera berdiri disampingnya sebelah menyebelah.
“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”
Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis “Sidanti”
“Ya, Sidanti” berkata orang yang berkain gringsing “Yang seorang pasti Ki Tambak Wedi”
Dua orang anak muda, Agung Sedayu dan Swandaru, mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan mereka berdesis “Kiai, lalu siapakah yang seorang lagi, pasangan Macan Kepatihan itu?”
Kiai Gringsing, yang oleh murid-muridnya lebih dikenal dengan nama Ki Tanu Metir menjawab “Aku belum tahu, siapakah orang itu. Aku masih belum dapat mengenalnya. Seandainya ia adalah seorang yang telah pernah terkenal didaerah ini, atau daerah Pajang, mungkin aku dapat menyebut namanya”
Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kini mereka menjadi semakin berani. Apabila salah satu pihak dari mereka adalah Sidanti dan Ki Tambak Wedi, sedang dipihak lain dalam keadaan yang seimbang melayaninya, maka bersama guru mereka, mereka tidak akan menjadi cemas lagi siapapun yang sedang bertempur itu. Karena itu maka Agung Sedayu kemudian berkata “Marilah kita dekati Kiai. Aku ingin melihat dengan pasti siapakah yang tengah bertempur itu”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Siapa tahu bahwa mereka akan memilih lawan. Dan pilihan itu jatuh kepada kita”
Swandaru tersenyum. Selangkah ia maju. Tetapi ia segera berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari tempatnya.
“Kenapa?” desisnya. “Apakah ada perubahan dari keseimbangan mereka?”
Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali dengan sengitnya.
Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara mereka.
Namun waktu yang sesaat itu telah menggoncangkan hati Kiai Gringsing. Pada saat yang demikian itu, ia mengenal, siapakah seorang lagi, yang selama ini menjadi teka-teki diantara murid-muridnya. Namun untuk meyakinkannya, ia dengan serta-merta melangkah maju lagi beberapa langkah, sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu dekat.
Yang sedang bertempur itupun kemudian terkejut melihat kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang yang datang mendekat. Yang pertama-tama berteriak diantara mereka adalah justru Ki Tambak Wedi “He, orang yang menamakan diri Kiai Gringsing , apakah kerjamu disini?”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Matanya sedang menekuni gerak seorang lagi diantara mereka yang selama ini tak pernah disangkanya akan bertemu kembali. Tiba-tiba terdengar ia bergumam “Sumangkar, murid kedua dari perguruan Kedung Jati”
“He, siapakah kau?” sahut Sumangkar yang mendengar namanya disebut-sebut.
“Bertanyalah kepada Ki Tambak Wedi” sahut Kiai Gringsing
“Aku mendengar ia menyebutmu Kiai Gringsing. Siapakah sebenarnya kau ini?”
“Itulah aku sebenarnya”
Sumangkar masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba terdengar Tohpati berteriak “He, bukankah kalian orang-orang yang aku temukan ditengah kali itu? Yang gemuk itu, yang satunya dan apakah kau orang tua itu pula?”
“Ya, akulah itu” jawab Kiai Gringsing.
Ternyata dada Tohpati berdesir mendengar pengakuan itu, meskipun hal itu telah diketahuinya atau setidak-tidaknya telah digambarkannya. Sehingga karena itu ia berkata “Aku sudah menyangka. Kalau aku tahu bahwa kalian orang-orang aneh dari Sangkal Putung, maka pada saat itu kalian pasti telah aku bunuh”
“Apa salah kami?” teriak Kiai Gringsing “Dan karena itu pula agaknya waktu itu kami tidak mengaku orang-orang aneh”
“Gila!” teriak Tohpati “Jangan mengigau, nanti akan datang giliran kalian untuk aku bunuh setelah musuh-musuhku ini mati”
Yang terdengar adalah suara tertawa Ki Tambak Wedi. Sementara itu mereka basih bertempur dengan serunya. Dan diantara derai tertawa itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata “Jangan sombong Macan Kepatihan yang gagah perkasa. Mungkin kalian berdua mampu membunuh kami, tetapi orang-orang itu?”
Macan Kepatihan benar-benar terkejut mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi yang biasanya terlalu menyombongkan diri. Tetapi ia tidak segera bertanya lagi. Tekanan Ki Tambak Wedi bahkan menjadi semakin mendesak.
Dalam kesibukan perkelahian itu yang terdengar kemudian adalah geram Sidanti penuh kemarahan “Agung Sedayu, musuh bebuyutan, apakah kau sudah jemu hidup sehingga kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku sedang berpesta? Kedatanganmu akan merupakan hadiah terbesar bagiku sesudah kepala Tohpati malam ini”
Ketika Agung Sedayu hampir membuka mulutnya untuk menjawab maka terasa lengannya digamit oleh gurunya. Dengan serta-merta ia mengurungkan niatnya sambil berpaling kepada gurunya, untuk mendapat penjelasan. Namun Kiai Gringsing itu hanya mengangkat dagunya kearah perkelahian itu. Dalam kebimbangan Agung Sedayu menuruti arah itu. Barulah kemudian ia tahu maksud gurunya, bahwa kata-kata Sidanti itu pasti akan menyinggung perasaan Tohpati pula. Dan Kiai Gringsing mengharap biarlah Macan Kepatihan itulah yang menjawab.
Sebenarnyalah kemudian Macan Kepatihan menggeram “Gila kau Sidanti, kau sangka bahwa Macan Kepatihan sama murahnya dengan kepalamu?”
“Jangan marah ngger” sahut Ki Tambak Wedi “Sidanti hanya berkata sebenarnya”
Betapa marahnya Macan Kepatihan mendengar penghinaan itu. Namun kemudian terdengar Sumangkar berkata tenang “He orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing, kau lihat, bahwa ditempat ini terjadi dua macam perkelahian? Yang pertama perkelahian jasmaniah. Kami masing-masing telah bertempur dengan sekuat-kuat tenaga kami, namun belum ada diantara kami yang dapat dikalahkan oleh pihak yang lain, Sedang perkelahian yang kedua adalah perkelahian mulut. Kami masing-masing mencoba saling menyombongkan diri kami. Kami masing-masing berkata bahwa kami akan membunuh lawan-lawan kami. Kalau itu mampu lakukan, maka sudah pasti kami lakukan. Tetapi ternyata seperti yang kau lihat. Kami masih bertempur mati-matian sehingga kami harus tertawa mendengar suara kami sendiri. Karena itu Kiai, kalau Kiai masih ingin menonton, menontonlah dengan tenang. Waktu masih panjang. Kalau ada diantara kami yang akan memusuhi Kiai, maka itu masih harus melalui waktu yang cukup banyak untuk mengalahkan lawan-lawan kami”
Ki Tambak Wedi dan Sidanti menggeram mendengar kata-kata itu, bahkan Tohpati sendiri menggertakkan giginya. Namun dengan demikian mereka tidak lagi berteriak-teriak dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran Kiai Gringsing dengan murid-muridnya. Mereka mempunyai persoalan sendiri-sendiri terhadap mereka. Tohpati menyadari bahwa diantara orang-orang itu terdapat orang-orang Sangkal Putung. Namun justru karena itu ia mulai menimbang-nimbang. Kalau tidak ada persoalan diantara mereka dengan Sidanti, maka mereka pasti akan membantu Sidanti. Karena itu maka kehadiran mereka benar-benar mempengaruhi perasaannya. Dalam pada itu, Ki Tambak Wedipun menjadi gelisah. Disadarinya bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak dapat dikalahkan. Ternyata Kiai Gringsing telah mengambil lawan Sidanti menjadi muridnya. Dengan demikian maka apabila terpaksa mereka harus berhadapan saat itu, maka tidak akan dapat memberinya kesempatan apa-apa.
Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing. Kiai Gringsing senang mendengar kejujuran sikap Sumangkar, sehingga menyahut “Kau benar-benar murid kedua perguruan Kedung Jati yang perkasa. Aku terpaksa tertawa mendengar pengakuanmu. Dan aku akan mencoba memenuhinya. Duduk disini sambil melihat kalian berkelahi”
“Gila!” teriak Ki Tambak Wedi, namun suaranya segera tenggelam dalam kata-kata Sumangkar “Silakan Kiai, silakan. Kiai akan dapat menilai, sampai sejauh mana ekmungkinan yang ada dikedua belah pihak. Dan kira-kira Kiai akan lebih senang melawan pihak yang mana? Bukankah dengan demikian Kiai dapat berbuat sesuatu?”
Kembali Kiai Gringsing tertawa, jawabnya “Tidak, aku tidak berpihak. Aku tidak akan berpihak pada yang lemah untuk nanti mendapatkan lawan yang lemah itu”
Sumangkar tertawa pendek. Sekali ia harus meloncat kesamping untuk menghindari sambaran tangan Ki Tambak Wedi. Namun ia harus segera menggeliat pula, ketika dilihatnya pedang Sidanti menjulur mematuk lambungnya. Namun ketika Ki Tambak Wedi akan menyerangnya kembali, segera Sumangkar meloncat dan memutar golok ditangannya. Ia tidak perlu memperhatikan Sidanti lagi, karena dengan serta-merta, tongkat Macan Kepatihan menyambar lengan anak muda itu, sehingga ia terpaksa meloncat surut.
Namun dalam pada itu, timbullah banyak pertimbangan dikepala Tohpati. Seandainya perkelahian itu dibiarkannya berjalan dalam keseimbangan, maka semalam suntuk mereka pasti tidak akan menemukan penyelesaian. Bahkan mungkin pada saat-saat mereka hampir mati kekelahan, pada saat itulah Kiai Gringsing baru tampil ke gelanggang.
Karena itu, maka segera timbul banyak pertimbangan dikepala Macan Kepatihan. Ia sendiri tidak yakin, apakah yang dapat dilakukan oleh Kiai Gringsing. Apakah ia akan berpihak ataukah ia akan melawan segala pihak. Namun keadaannya pasti akan menjadi paling baik. Seperti tantangan Sumangkar, Kiai Gringsing dapat berpihak yang dianggapnya paling lemah untuk membinasakan yang kuat, supaya apabila kemudian terpaksa bagi Kiai Gringsing untuk bertempur, maka musuhnya adalah pihak yang lemah. Namun agaknya permusuhan telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Ki Tambak Wedi seperti halnya murid-muridnya dikedua belah pihak. Apakah permusuhan itulah yang menyebabkan Sidanti meninggalkan Sangkal Putung? Sekali-sekali terlintas juga didalam benaknya untuk melawan saja Kiai Gringsing bersama muridnya itu bersama-sama dengan Sidanti dan gurunya dalam satu gabungan kekuatan, maka pasti Kiai Gringsing dapat dikalahkan. Namun kemudian Tohpati itu menjadi ragu-ragu pula. Meskipun hatinya cenderung berbuat demikian. Sebab apabila yang tinggal adalah mereka berempat, maka kekuatan mereka pasti akan tetap seimbang.
Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba Tohpati mendengar tawaran Ki Tambak Wedi yang agaknya mempunyai pikiran yang sama, sehingga tawaran itu benar-benar mengejutkan Macan Kepatihan “He, angger Tohpati yang perwira. Orang baru itu adalah musuhku bebuyutan. Sedangkan apa yang kita lakukan adalah suatu permainan yang tidak berarti apa-apa. karena itu, apakah tidak sebaiknya kita hentikan permainan ini, dan kita binasakan saja lawan kita yang berbahaya itu bersama-sama. Kemudian baiklah permainan ini kita lanjutkan kembali?”
Tohpati mengerutkan keningnya. Semula ia tidak yakin akan tawaran Ki Tambak Wedi, namun kemudian tampaklah serangan-serangan Ki Tambak Wedi mengendor, sehingga Tohpati menjadi ragu-ragu dan bertanya “Apakah pertimbanganmu?”
Ki Tambak Wedi tertawa, jawabnya “Sebenarnyalah kita sudah dapat mengetahui keadaan kita masing-masing. Juga Kiai Gringsing itu pasti tahu, kenapa kita akan menyatukan kekuatan kita. Bukankah dengan demikian kita akan dapat meneruskan permainan ini tanpa terganggu dan tanpa menunggu kemungkinan yang paling buruk? Membiarkan Kiai Gringsing menunggu kita masing-masing mati kelelahan?”
Sekali lagi Tohpati dilanda oleh keragu-raguan. Sementara itu, Swandaru dan Agung Sedayu yang mendengar tawaran Ki Tambak Wedi itu segera meraba hulu pedang masing-masing. Tanpa berpikir akibat yang akan terjadi maka tiba-tiba Swandaru tertawa sambil berkata “Kiai, kita akan mendapat latihan yang baik”Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Swandaru dan Agung Sedayu berganti-ganti. Tiba-tiba ia menjadi cemas. Mungkin Agung Sedayu dapat mempertahankan dirinya melawan Sidanti atau Tohpati sekalipun dalam taraf kekuatannya kini setelah ia maju dengan pesatnya.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 September 2008 at 06:27  Comments (21)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

21 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pertama 😀 semoga aja kitab II-09 ini juga udah bisa segera di unduh, Matur Nuwun ki GeDe

  2. Absen Ki GeDe, sekalian antri…Number two…

  3. para cantrik yg mo buka lapak n ngantri II-9, jangan disini..,salah kapling.,
    hayoo buruan lapaknya di beresin.., mumpung belum di gusur Satpol PP..,;D

  4. wis thoo… ojo di seneni
    neng kene ben ono sing nunggu…

  5. kitab 108 hanya 1/2 M, dengan speedy hanya 1/2 menit, matur nuwun ki GD

  6. sepertinya beberapa penunggu yang telah lama malang melintang di padepokan adbm telah menjadikan pondok 09 sebagai pondok sementara, selagi alas II-9 masih dibabat oleh ki gd.

    abseeen

  7. ʞɐuɐs ıʞ ʇıʞıp ɹıƃƃuıɯ ɐƃɐ
    😀 ɐƃnɾ ıuıs ıp ɯǝpɐƃu ƃuɐdɯnu oɯ

    • Kepada para kadang semua,
      Ki Gede mohon diperbanyak maaf. Terutama sekali bagi para kadang yang menunggu versi teks. Ki Gede ada keperluan keluarga. Pindahan. Jadi mesti ada acara angkut2 dan bebenah. Itu sebabnya versi teks terlantar. Karena praktis sejak 31 Desember Ki Gede tidak menyentuh komputer, apalagi buka internet.
      Mudah2an dalam 2-3 hari ke depan Ki Gede sudah bisa setle dengan situasi baru dan bisa bersama2 menyemarakkan padepokan kita tercinta.
      Sekali lagi mohon maaf, beribu maaf.

      GD

  8. ˙˙˙oɥl ʞǝpuǝd ɥɐqɯɐʇ ɐʎuɹǝɥǝl ıʇuɐu ¿ıɐʎʞ ɐʎuʇıʞɐs ɥɐʞɥnqɯǝs ɯnlǝq ɥısɐɯ

  9. .ɐʎuɐdnɹ ɐƃnɾ ƃuɐsƃuns uıƃuıɹɐʍ ıɾɐ uɐʞdɐɹǝuǝɯ ʞɐuɐs ıʞ
    ˙˙˙˙ɹıɥʞɐ ıɐdɯɐs uɐʞunɹnʇıp ɯqpɐ qɐʇıʞ ɯnlǝqǝs
    😛 ˙˙ʞɐuɐsıʞ lɐɯɹou ʞnʇun ɥɐsns ɥısɐɯ’

  10. Cerita ADBM dan karya Pak Singgih yang lainnya sebenarnya sudah tak boco semua walaupun untuk ADBM blom Tamat karena Pak Singgih keburu dipanggil Yang Maha Kuasa, tapi ternyata mengulang dari awal yo tetep asyik..
    Matur nuun buat yang telah membuat blog ini, ….

  11. mas,
    fantastis
    komik ini sangat mempengaruhi kehidupan
    waktu ditinggal ortu masih kecil
    sesorahnya para tetua di tokoh itu menggurat batin
    piye carane buat ngunduh to ?

    GD: Copy paste saja kok Ngger.

  12. ternyata di sini pernah jadi persinggahan…

    • ….yang singgah ternyata…Ki Banuaji…aja deh ! 😀

      • di suSUR ki Karto juga……deh !! 🙂

  13. alhamdulillah,dngan membaca adbm saya mndapat pencerahan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: