Buku 06


Serangan orang-orang lain yang berusaha untuk mencegahnya, terpaksa berhadapan dengan laskar Pajang yang lain pula.
Demikianlah maka laskar Jipang disayap itu menjadi semakin lemah. Kini orang yang tinggi kurus itulah yang mengambil alih kebijaksanaan, mendekati induk pasukannya.
Didalam induk pasukan itu Tohpati bertempur dengan dahsyatnya melawan Untara. Murid kepatihan Jipang yang mendapat julukan Macan Kepatihan itu menggeram tidak habis-habisnya. Untara ternyata mampu menandingi dalam segala hal. Ketrampilannya, kecepatannya, bahkan kekuatannya. karena itu, maka Tohpati itu semakin lama menjadi semakin marah. Namun Untara tetap tak dapat diatasinya.
Sedang Untarapun terpaksa mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Tetapi bekal yang didapatnya dari ayahnya Ki Saewa, ternyata cukup banyak untuk menghadapi murid Mantahun ini.
Ketika mereka itu masih dicengkam oleh ketegangan, karena pertempuran yang dahsyat diantara mereka, datanglah seoran enghubung yang dengan hati-hati memberitahukan kekalahan yang terjadi disayap kiri laskar Jipang itu. Dengan tanda sandi, penghubung itu mengabarkan bahwa Plasa Ireng terbunuh dipeperangan.
Alangkah terkejutnya Tohpati itu. Sekali ia meloncat jauh kebelakang sambil berteriak nyaring “Siapa disayap laskar Pajang itu?”
Orang itu berhenti sejenak untuk berpikir. Iam endengar pimimpin laskar Pajang itu sesumbar menyebut namanya sendiri. ketika kemudian teringat olehnya nama itu, maka jawabnya “Namanya Sidanti”
“Sidanti?” ulang Tohpati
Yang menjawab adalah Untara “Orang itu berkata benar”
Tohpati menggertakkan giginya. Ingin pada saat itu ia meremas tulang murid Tambak Wedi itu. “Hem, kenapa aku tidak berusaha membunuhnya beberapa waktu dahulu? Aku terlambat sesaat sehingga paman Widura mampu membebaskannya” katanya dalam hati.
Kini Sidanti itu telah sempat membunuh seorang kepercayaannya, Plasa Ireng. karena itu, maka kemarahan Tohpati itupun telah meluap sampai keubun-ubunnya. Namun ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menumpahkan kemarahannya kepada Sidanti, sebab dihadapannya masih berdiri Untara. Dan Untara ini masih belum dapat dikalahkannya. karena itu, maka segera ia menggeram “Pertahankan diri pada keadaan kalian kini. Usahakan untuk menahan Sidanti dengan dua tiga kekuatan. Sebentar lagi aku akan datang membunuhnya”.Orang itu kemudian menghilang didalam hiruk-pikuk perkelahian, kembali kesayap kiri. Disampaikannya pesan tu kepada orang yang tinggi kurus, yang mengambil aluh pimpinan dari tangan Plasa Ireng. Mendengar pesan itu maka orang itupun berteriak “Pertahankan keadaan kalian. Macan Kepatihan sendiri segera akan datang, membalaskan dendam kakang Plasa Ireng“
“Plasa Ireng” desis Sidanti. Jadi orang yang dibunuhnya itu adalah orang yang namanya ditakuti pula hampir seperti Macan Kepatihan sendiri. dan karena itulah maka Sidanti itu menjadi semakin membanggakan dirinya.
Berita itu telah membangkitkan kembali semangat bertempur prajurit-prajurit Jipang itu. Sebagian dari mereka segera menyerbu dengan dahsyatnya, sedang sebaigan yang lain berusaha untuk tetap mengurung Sidanti dalam satu lingkaran yang pepat.
Tetapi Hudaya tidak membiarkannya terpisah dari laskarnya. karena itu, maka iapun segera berusaha memecahkan kepungan itu, dan bertempur bersama-sama dengan Sidanti. Namun meskipun Sidanti melihat usaha-usaha yang dilakukan oleh Hudaya itu, tetapi ia tetap merasa, bahwa dirinya sumber kemenangan dari laskar Pajang. Ia yakin bahwa kekalahan sayap ini akan memperngaruhi pertempuran keseluruhannya.
Tohpati yang marah itupun kini benar-benar memeras tenaganya. Untara harus segera dibinasakan. Namun membinasakan Untara adalah pekerjaan yang sulit. Tohpati itu terpakasa melihat kenyataan yang dihadapinya, bahwa Untara adalah seorang anak muda yang perkasa.
karena itu, maka perkelahian antara Macan Kepatihan dan Untara itupun menjadi semakin sengit. Masing-masing telah sampai kepuncak kemampuan mereka. Namun kini Untara dapat memusatkan segenap perhatiannya pada lawannya yang menakutkan ini, sebab dari pertanda yang ditangkapnya, maka agaknya keadaan sayap kiri lawannya menjadi parah. Dan Untara itu dapat memperhitungkan pula, bahwa Sidanti berhasil membinasakan pimpinan sayap itu.
Namun Tohpati yang marah itu sedang membuat perhitungan pula atas keadaannya. karena itu, maka kini ia membiarkan Untara menyerangnya dan Tohpati menempatkan dirinya dalam suatu pertahanan yang rapat. Ia mencoba menilai sayap-sayap lainnya dan laskar yang dibawa oleh Sanakeling.
“Disamping Untara dan Sidanti masih ada paman Widura” katanya dalam hati. Namun Tohpati itu masih memiliki satu kelebihan menurut dugaannya. Alap-alap Jalatunda. “Meskipun demikian anak itu mampu mempengaruhi keseimbangan keadaan”
Menurut perhitungan Macan Kepatihan yang berotak cair itu, maka Widuralah yang telah mundur kembali ketika didengarnya tanda bahaya, dan menyerahkan pimpinan kepada Untara. karena itu, maka Tohpati mengharap bahwa Widura itu akan menemukan lawannya yang seimbang, Sanakeling. Sedang Alap-alap Jalatunda akan merupakan seorang yang akan dapat menggilas laskar Pajang diarenanya. Kalau orang-orang disayap kiri mampu bertahan terhadap Sidanti, mak orang-orangya disayap kanan pasti akan dapat menguasai lawannya dibawah pimpinan Alap-alap Jalatunda.
Perhitungan Macan Kepatihan itu hanya sebagian saja yang tepat. Namun ia tidak tahu, bahwa disayap kiri lawannya, terdapat seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu. Yang meskipun masih sangat hijaunya, namun ia memiliki persiapan yang jauh dari cukup. Persiapan-persiapan yang selama ini tersimpan saja didalam dirinya. Kini sedikit demi sedikit kekuatan yang membeku itu mulai dicairkannya.
Demikianlah maka akhirnya Tohpati mengambil kesimpulan, bahwa keadaan laskarnya tidak terlalu parah. Tetapi kemenangan-kemenangan kecil yang semula mulai tampak dipihaknya, kini telah runtuh satu demi satu. Dengan penuh tanggung-jawab Tohpati telah mengirim beberapa orang untuk membantu sayap yang lemah disebelah kiri. Orang-orang itu diharap dapat membantu menutup kebebasan gerak Sidanti. Beru kemudian ia memusatkan perhatiannya atas lawannya. Untara.
Untara yang bertempur dengan dahsyatnya itupun menyadari, bahwa ia harus memeras segenap kemampuannya. Dan kini hal itu telah dilakukannya. Sehingga betapapun Tohpati berusaha untuk menguasainya, namun usaha itu akan sia-sia saja.
Bahkan ketika Untara telah sampai kepuncak segala macam ilmu yang tersimpan didalam dirinya, terasa bahwa Macan Kepatihan bukanlah seorang yang tak dapat dikalahkan. Dalam remang-remang cahaya obor, Untara yang menerima turunan ilmu ayahnya itu, ternyata sempat membingungkan Macan Kepatihan. Tongkat putih yang menakutkan berujung kuning itu, sama sekali tidak lebih mengerikan dari gerak pedang Untara. Pedang itu mampu berputar dan mematuk dari segenap arah, menembus gumpalan cahaya putih dan garis-garis kuning yang membentengi Tohpati. Sekali-sekali terdengar kedua macam senjata itu beradu, dan meloncatlah bunga-bunga api keudara.
Senjata Tohpati itu memang sebenarnya merupakan senjata yang luar biasa. Hampir dalam setiap benturan dengan pedang Untara, pasti meninggalkan bekas luka pada pedang itu. Beberapa bagian tajamnya telah terpecah-pecah sehingga pedang itu benar-benar mirip sebuah gergaji. Untunglah pedang yang dipinjamnya dari Widura itu bukan pula sembarang pedang. Sehingga betapapun kerasnya benturan yang terjadi diantara kedua senjata yang digerakkan oleh tenaga-tenaga raksasa itu, namun pedang itu tidak juga dapat dipatahkan. Meskipun demikian, menyadari perbedaan sifat kedua senjata itu, Untara kemudian tidak mau membenturkan senjatanya langsung dalam arah yang bertentangan. Untara selalu berusaha untuk memukul senjata lawannya agak kesamping. Namun Untara itupun terpaksa memperhitungkan apabila perkelahian itu berlangsung terlalu lama, maka senjatanya akan menjadi semakin lemah.
Tetapi kelincahan, ketangkasan dan ketrampilan Untara yang telah memeras segala macam ilmu yang dimilikinya itu, ternyata benar-benar membingungkan Tohpati. Tohpati yang ditakuti disetiap pertempuran dan bahkan setiap prajurit musuhnya tidak berani menyebut namanya, namun ternyata kini ia menemukan lawan yang tanggon. Nama Untarapun merupakan nama yang mengerikan bagi laskar Jipang hampir disetiap garis peperangan. Disamping kecerdasannya mengatur laskarnya, Untarapun memiliki beberapa kelebihan dari beberapa senapati yang lain. Dan ternyata Untarapun mempunyai beberapa kelebihan dari Tohpati.
Keadaan Tohpati semakin lama menjadi semakin sulit. Apalagi ketika disadarinya, bahwa laskarnya disayap kiri benar-benar hampir pecah bercerai berai. karena itu, maka Macan Kepatihan yang garang itu menjadi cemas. Cemas akan nasib laskarnya yang sudah tidak begitu besar lagi jumlahnya, yang dengan susah payah dikumpulkan dari segala medan khusus untuk merebut daerah perbekalan ini. Namun sekali lagi Macan Kepatihan itu terpaksa mengumpat tak habis-habisnya. Ia merasa kini, bahwa gerakannya pasti sudah tercium oleh hidung Untara itu sebelumnya, sehingga Sangkal Putung benar-benar sudah siap menghadapi kedatangannya.
Dua kali ia dikecewakan oleh laskar Pajang di Sangkal Putung “Namun akan datang saatnya aku menebus setiap kekalahan” geramnya.
Tetapi Untara itu seakan-akan menjadi semakin lama menjadi semakin lincah. Pedangnya berputaran mengitari segenap tubuhnya dari segala arah. Bahkan kemudian, sekali-sekali terasa ujung pedang itu menyentuhnya.
“Setan” geramnya. Dan diputarnya tongkatnya semakin cepat. Tetapi Untarapun bergerak semakin cepat pula. anak muda, yang mendapat kepercayaan langsung dari panglima Wiratamtama itu benar-benar tidak mengecewakan. Dan ia benar-benar dapat menanggulangi kedahsyatan Tohpati.
Alangkah terkejutnya Macan Kepatihan itu, ketika dalam sebuah benturan yang dahsyat, tongkatnya tergetar kesamping. Hanya sesaat yang sangat pendek, ia melihat pedang Untara terjulur lurus kedadanya. Tohpati berusaha untuk memukul pedang itu kembali dengan tongkatnya, namun pedang itu berputar, dan dengan cepatnya pedang itu menyentuh lengannya. Ketika Untara menarik pedang itu, maka tajamnya yang menyerupai gergaji itu meninggalkan bekas luka ditangan Tohpati. Luka yang menganga seperti luka bekas gergaji. Terdengar Tohpati menggeram pendek. Dengan cepatnya ia meloncat kesamping, dan sesaat ia berusaha menjauhi Untara. Ketika ia memandang lengannya, dilihatnya darah mengalir dari lukanya yang menganga, seolah-olah dagingnya telah disayat dengan sebuah gergaji yang tumpul.
“Gila kau Untara” desis Tohpati. Matanya yang meyala menjadi semakin merah karena kemarahannya yang memuncak. Mulutnya itu meskipun terkatub rapat, namun terdengar giginya gemeretak. Dengan sebuah teriakan tinggi Macan Kepatihan itu meloncat dengan garangnya, langsung menyerang Untara dengan tongkatnya. Sebuah ayunan yang deras sekali menyambar kepala Untara. Namun Untara tidak tertidur karena kemenangan kecil itu. Dengan demikian segera ia merendahkan dirinya dan tongkat Tohpati itu terbang lewat diatas kepalanya.
Pertempuran yang sangat seru segera berkobar kembali. Tohpati yang membara karena kemarahannya, melawan Untara yang dengan sekuat tenaga ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah mulai tampak akan berhasil. Sehingga dengan demikian kembali mereka bertempur dalam puncak ilmu masing-masing.
Namun kali inipun segera terasam bahwa Untara memang luar biasa. Meskipun ia masih lebih muda dari Tohpati, namun Tohpati itu tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Untara mampu menandinginya dari selaga segi.
Kini Tohpati terpaksa membuat pertimbangan-pertinbangan baru. Ia tidak boleh tenggelam dalam arus perasaan melulu. Ia harus mampu meninjau pertempuran itu dalam segala segi, segala kemungkinan dan segala akibat yang dapat timbul karenanya.
Keringkihan disayap kiri benar-benar sangat mengganggunya. Sedang Alap-alap Jalatunda yang diharap akan dapat menimbulkan pengaruh yang baru bagi perimbangan kedua pihak, ternyata masih belum mampu berbuat apa-apa. Karena itu maka Tohpati terpaksa sampai pada suatu keputusan untuk menghindarkan laskarnya dari kehancuran.
Dalam kekalutan itu, sekali lagi Tohpati mencoba melihat pertempuran itu. Namun malam sangat pekatnya. Ia hanya melihat titik pertempuran disayap kirinya telah bergeser jauh kebelakang, dan sayap kanannya masih saja belum mencapai kemajuan. Sedang diinduk pasukannya, meskipun laskarnya mendapat beberapa kesempatan yang baik, namun ia sendiri telah terluka.
Untara yang telah masak itu melihat setiap kemungkinan yang akan dilakukan oleh Tohpati. Ketika ia melihat sikapnya, serta usahanya untuk melihat seluruh laskarnya, maka Untara dapat meraba maksudnya. karena itu, maka tekanannya diperketa, sehingga hampir-hampir Tohpati itu tidak sempat berbuat lain daripada mempertahankan dri dari ujung pedang Untara yang seakan-akan terbang memgelilingi kepalanya.
Sementara itu, laskar Tohpati disayap kiri telah benar-benar hampir lumpuh, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk bertahan sendiri. mereka itu kemudian segera menggabungkan diri dengan induk pasukan mereka.
Keadaan kedua pasukan diinduk pasukan itu kini menjadi semakin ribut. Pertempuran diantara mereka menjadi seakan-akan tidak teratur lagi. Tetapi meskipun demikian, kedua laskar itu masih tetap bertempur dengan gigihnya. Hanya anak-anak muda Sangkal Putung kini benar-benar telah menjadi pening. Meskipun beberapa orang laskar Widura terus menerus berusaha untuk menuntun mereka dan bahkan selalu mendampingi mereka, namun keadaan mereka itu agak berbeda dengan laskar Pajang maupun laskar Jipang. Sehingga dengan demikian maka keseimbangan kedua laskar itu semakin lama menjadi semakin berat sebelah pula. Tetapi dipihak Pajang mempunyai kelebihan yang ikut serta menemtukan keseimbangan itu. Sidanti yang lepas tidak mempunyai lawan yang seimbang itu, mengamuk seperti serigala lapar. Namun beberapa orang Jipang yang berani telah mengepungnya. Mereka berusaha untuk selalu membatasi gerak Sidanti itu. Tetapi setiap saat Hudaya selalu berhasil memecahkan kurungan itu, dan melepaskan Sidanti untuk bertempur seperti elang yang merajai udara.
Tohpati adalah seorang pemimpin yang bertanggung-jawab. Ia tidak mau membiarkan korban berjatuhan tanpa arti. Setelah memperhitungkan keadaan masak-masak, maka yakinlah ia, bahwa ia tidak akan dapat menembus benteng yang dipertahankan oleh Untara itu. Bahkan tangannya yang telah terluka itu, semakin lama menjadi semakin lemah. Dan darah yang mengalir menjadi semakin banyak pula.
Betapa Macan Kepatihan itu menjadi marah, dan betapa ia menjadi sangat buas, namun ia tidak dapat menuruti perasaannya tanpa menghiraukan kenyataan.
Sesaat kemudian terdengarlah Macan Kepatihan itu bersuit panjang. Suitannya itu segera disambut oleh beberapa pemimpin kelompok didalam pasukannya. Dan sesaat kemudian menyalalah berpuluh-puluh anak panah berapi.
Untara terkejut melihat hal itu. Tetapi sebelum ia sepat berbuat apa-apa, maka panah-panah api itu seperti hujan berjatuhan didaerah laskarnya.
“Gila” Untara mengumpat. Ia tidak menyangka bahwa hal itu akan dilakukan oleh laskar Tohpati. Meskipun ia tahu betul bahwa Macan Kepatihan membuat anak panah api, tetapi disangkanya anak panah itu hanya untuk dipergunakan untuk membakar rumah atau apapun di Sangkal Putung sehingga menimbulkan kekacauan dan mempengaruhi ketahanan orang-orang Sangkal Putung.
Usaha Tohpati itu sebagian berhasil. Beberapa anak-anak muda Sangkal Putung menjadi kacau dan hampir kehilangan akal. Namun tiba-tiba terdengar Untara berteriak “Berlindung didaerah lawan”
Anak-anak muda Sangkal Putung mula-mula tak mengerti maksud aba-aba itu. Namun orang-orang Widura mendahului mereka, menyerang dan langsung menyusup kedaerah perlawanan musuh. Tetapi suitan itu ternyata mempunyai arti yang lain pula. demikian laskar Pajang berusaha masuk dalam garis pertahanan itu, maka laskar Jipangpun surut kebelakang. Bahkan semakin lama menjadi semakin cepat. Dan kemudian ternyatalah bahwa laskar Jipang sedang menarik diri.
Untara melihat kenyataan itu. Ia berusaha untuk tidak melepaskan lawannya. Mereka harus dapat melumpuhkan pasukan Macan Kepatihan, sehingga untuk seterusnya tidak mendapat kesempatan berbuat serupa. Menyerang Sangkal Putung dengan kekuatan yang berbahaya.
Demikian pula terjadi disayap kanan laskat Tohpati itu. Agung Sedayu yang menunggu kekuatan terakhir yang akan diungkapkan oleh Alap-alap Jalatunda menjadi bertanya-tanya didalam hati. Apakah Alap-alap Jalatunda itu sudah sampai pada puncak kekuatannya? Kalau demikian, apakah yang didengar tentang Alap-alap Jalatunda hanya sekedar dongengan untuk menakutkan orang-orang yang mendengarnya. Atau kemampuan dirinya telah cukup mengatasi alap-alap itu dengan mudah?
Dalam kebingungan itulah Agung Sedayu melihat laskar lawannya surut dengan cepat. Betapa ia berusaha mengejar lawannya, namun Alap-alap Jalatunda itu kemudian menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk laskarnya. Mereka mundur sambil melawan serta melepaskan anak panah.
“Bukan main” desah Agung Sedayu. “Mereka mempergunakan anak panah” Agung Sedayu itu menyesal bahwa ia tidak membawa anak panah dan busur. Tetapi tiba-tiba ia terngat, bahwa dalam sakunya ada beberapa butir batu. Timbullah keinginannya untuk bermain-main dengan batu itu. Sekali ia melepaskan sebuah batu, maka terdengarlah seorang lawannya yang sedang membidikkan anak panah memekik tinggi, dan dalam remang-remang Agung Sedayu melihat orang itu jatuh terjerebab. Sesaat ia melihat orang itu menggeliat dan menahan sakit.
Agung Sedayu terkejut melihat akibat perbuatannya. Orang itu tampaknya menjadi sangat menderita. karena itu, maka tiba-tiba ia berlari-lari mendekatinya.
“Kenapa kau?” terndengar Agung Sedayu bertanya.
Orang itu masih menggeliat dan menyeringai kesakitan. Dipegangnya perutnya sambil mengaduh tak habis-habisnya. Sementara itu kawan-kawannya telah semakin jauh, mundur dari pertempuran.
Agung Sedayu mencoba menangkap lawannya yang kesakitan itu dan dicobanya untuk menenangkannya “Jangan berguling-guling”
Tetapi alangkah terkejutnya Agung Sedayu itu, karena sesaat kemudian orang itupun menjadi diam membeku.
“Oh” desah Sedayu “Apakah kau mati he?”
Dan sebenarnya orang itupun telah mati. karena itu, maka Agung Sedayu menyesal bukan main. Tetapi ia tidak akan dapat menghidupkannya lagi.
Swandaru juga melihat Agung Sedayu sibuk dengan orang itu mendekatinya sambil bertanya “Kenapa dengan orang itu?”
“Aku tidak sengaja membunuhnya. Tetapi orang ini mati”
“Kenapa kalau mati? Bukankah orang itu orang Jipang?”
Agung Sedayu kini telah tegak berdiri. Digigitnya bibirnya. Dan terasa sesuatu berdesir didadanya. “Ya” katanya dalam hati. “Apakah kita sudah sampai sedemikian jauh menyimpang dari peradaban manusia? Meskipun orang itu orang Jipang, Pajang atau orang yang ditemuinya dipinggir jalan sekalipun namun selama ia masih bernama manusia, apakah kita biarkan saja mereka mati selagi masih ada kesempatan untuk menolongnya?”
Tetapi ketika Agung Sedayu melayangkan pandangan matanya, maka dilihatnya diberbagai tempat, tubuh-tubuh yang terbaring membeku. Tetapi ada juga diantaranya terdengar merintih menahan sakit. Agung Sedayu belum pernah melihat medan pertempuran. Kali ini adalah kali yang pertama. Karena itu ia menjadi ngeri. Meskipun kini ia tidak tahut lagi untuk bertempur, tetapi apa yang dilihatnya benar-benar mendirikan bulu romanya.
Namun sesaat kemudian Agung Sedayu itu mendengar Swandaru berkata “Marilah. Musuh kita masih berada dipelupuk mata kita”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian dilihatnya Swandaru meloncat dan berlari kearah laskar Jipang mengundurkan dirinya. Agung Sedayupun kemudian mengikutinya pula, namun hatinya benar-benar digelisahkan oleh pengalamannya yang pertama itu.
Meskipun demikian, ada sesuatu yang didapatkannya dimedan peperangan itu. Disadarinya kemudian bahwa Alap-alap Jalatunda pada saat-saat bertempur, sama sekali bukan sekedar menunggunya lelah sambil menyimpan kekuatan terakhirnya. Tetapi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuannya. Maka hatinya menjadi semakin besar. Agung Sedayu itu semakin melihat kemampuan yang tersimpan didalam dirinya. Ternyata Alap-alap Jalatunda yang pernah menghantuinya itu tidak lebih daripada yang disaksikannya itu, yang ternyata masih berada dibawah kepandaiannya bermain pedang.
“Aneh” desahnya didalam hati. “Apakah yang selama ini memagari keberanianku untuk berbuat seperti ini?”
Agung Sedayu itu menjadi semakin percaya kepada diri sendiri. Tetapi ia masih belum dapat melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan dibekas medan pertempuran itu.
Laskar Jipang itupun kemudian mengundurkan dirinya dengan cepat sambil melawan terus, sehingga dengan demikian maka laskar Pajangpun tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat mendesak laskar musuhnya itu. Dalam keadaan yang demikian, maka laskar dikedua belah pihak hampir bercampur baur dalam satu lingkaran pertempuran. Namun kemudian laskar Jipang itu menyebar dan dengan cepat berusaha menyusup kedalam sebuah desa yang pertama-tama mereka temui.
Diujung selatan induk desa Sangkal Putung, Sanakeling melihat diarah barat, panah api menari-nari diudara. karena itu, maka ia menjadi terkejut. Ia tidak menyangka bahwa laskar induknya terpaksa mengundurkan diri. “Kalau demikian” katanya dalam hati “Maka laskar yang aku hadapi dan dipimpin oleh Widura sendiri ini bukan laskar induk. Jadi siapakah yang memimpin laskar induk lawan ini?”
Tetapi Sanakeling tidak mendapat jawabannya. Dan ia tidak sempat untuk menanyakannya. Kini ia harus mematuhi perintah itu meskipun sebenarnya keadaan laskarnya sendiri sama sekali tidak mengkhawatirkan. Tetapi kalau laskar induk lawannya yang telah ditinggalkan oleh laskar Jipang itu mengepungnya, maka laskarnya pasti akan tumpas. karena itu, maka tidak ada pilihan lain daripada mengundurkan diri pula.
Demikianlah maka seluruh pasukan Tohpati itu kini telah ditarik mundur. Widurapun tidak berusaha mengejar lawannya terlampau jauh. Sanakeling berhasil juga mengundurkan dirinya dengan teratur, sehingga dari pihaknya tidak terlalu banyak korban yang jatuh.
Induk pasukan yang dipimpin oleh Untara itu mengejar lawannya sampai kedesa pertama yang dapat dicapai oleh laskar lawannya. Demikian mereka memasuki desa itu, maka seakan-akan mereka telah lenyap ditelan kegelapan. Obor-obor mereka segera menjadi padam, dan orang-orang merekapun segera menyelinap dan hilang dibalik daun-daunan yang rimbun serta rumpun-rumpun bambu yang lebat.
Laskar Pajang sejenak menjadi ragu-ragu. Mereka sama sekali tidak mendengar seorangpun memberikan aba-aba kepada mereka. Apakah mereka harus mengejar lawan itu terus atau mereka harus berhenti dibatas desa itu. Sebab alangkah berbahayanya melakukan pengejaran didalam gelap yang pekat itu.
Yang terdengar kemudian adalah suara Sidanti “He, apakah yang harus kami lakukan?”
Tak ada suara yang menyahut. Karena itu sekali lagi Sidanti berteriak “Apakah laskar Pajang ini laskar yang liar, yang dapat berbuat sekehendak diri kita masing-masing? Ayo, bagi yang memegang pimpinan, berikan perintah”
Kembali suara itu bergulung-gulung dan hilang ditelan kabut malam.
Semua yang mendengar suara Sidanti itu menjadi tegang. Mereka menunggu jawaban dari pimpinan mereka. Namun jawaban yang ditunggunya itu tidak juga kunjung datang.
Hudaya, Sidanti dan beberapa orang lagi menjadi gelisah. Citra Gati dan Agung Sedayu dari sayap yang lainpun telah bergabung dalam induk pasukan itu pula.
Dalam ketegangan itu terdengar suara Agung Sedayu gelisah “Kakang Untara, kakang Untara”
Tetapi Untara tidak menyahut. Karena itu seluruh laskar Pajangpun menjadi gelisah. Dalam hiruk pikuk pengejaran mereka tidak melihat kemana Untara pergi. Beberapa orang dari mereka masih melihat Untara berhasil melukai Tohpati. Dan kemudian berusaha mengejarnya. Tetapi tiba-tiba Untara itu seakan-akan menjadi hilang lenyap ditelan oleh malam yang kelam.
Suasana segera meningkat menjadi semakin tegang. Ternyata Untara telah hilang. Dengan demikian, maka laskar Pajang iu benar-benar menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.
Dalam ketegangan itu terdengar suara Citra Gati “Siapakah yang melihat ki Untara untuk yang terakhir kalinya?”
“Aku” jawab salah seorang “Pemimpin kita itu telah melukai Macan Kepatihan. Tetapi dalam hiruk pikuk pengejaran aku tidak melihatnya”
“Dimana?” bertanya Citra Gati pula.
“Digaris pertempuran tadi”
“Mari kita cari”
Beberapa orang segera bergerak kembali kegaris pertempuran beberapa langkah dibelakang mereka. Tetapi terdengar Sidanti berkata “Kenapa kita cari ia disana. Bukankah ia telah berhasil melukai Macan Kepatihan dan mengejarnya. Marilah kita cari kedepan, kedalam desa ini”
Citra Gati berpikir sejenak. Untara pasti tidak akan berbuat demikian. Berbuat sendiri dan meninggalkan laskarnya dalam keragu-raguan. Pemimpin yang bodohpun akan tahu, bahwa keragu-raguan dalam barisannya adalah sangat berbahaya. Maka sesaat kemudian ia menyahut “Kita cari digaris pertempuran”“Tidak” sahut Sidanti “Jangan membuang waktu”
(bersambung)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 September 2008 at 07:50  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-06/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. ijinkan saya bermesu diri di tempat ini ki GD,
    bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

    # silakahkan kisanak

    • ikut dong

      • Kemana ?..Kemana ?…Kemana ?.. 😀

        • bukan alamat palsuuuu

          • ijinkan saya berHADIR lagi di tempat ini ki GD,
            bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

  2. wuiiii, kabuuurrr…..

    • Kemana ?..Kemana ?

      • tinggalnya sekarang di mana tuing …

  3. Antri nomer 3 oleh medali perak

  4. ijinkan saya berHADIR lagi di gandok ini nyi SENO,
    melacak jeJAK keberadaan ki Abdus S, ki Kartojudo
    yang menghilangkan diri dari gandok sebelah.

    tanpo woro-woro….tanpo di nyono-nyono makBlass
    “wes-wes….weeess”,

    • welah dalah aku ke sini nyari alamat ayu tuing tuing jeh 🙂

  5. yang kuterima ….
    alamat palsu ….

  6. ndherek nyerot ki, nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: