Buku 06


Sasaat ia masih berdiri tegak dibelakang garis pertempuran. Namun kemudian ia tidak akan berdiri saja seperti patung. Keitka ia melihat bahwa jumlah laskar lawannya agak lebih banyak maka ia mengerutkan keningnya “Tidak akan berpengaruh apa-apa” desah Tohpati itu. Namun ia heran juga, kenapa mereka tidak terpancing oleh tanda bahaya yang bergema diseluruh Sangkal Putung itu sehingga jumlah mereka masih cukup banyak. Apakah jumlah laskar Widura itu telah ditambah?
Namun mata Macan Kepatihan itu benar-benar tajam. Sekali-sekali ia melihat satu duda orang diantara laskar Widura yang mempunyai cara dan sikap yang agak berbeda dari kawan-kawan mereka. Karena itu maka segera Tohpati dapat mengambil kesimpulan bahwa laskar Widura ini telah bergabung dengan anak-anak Sangkal Putung sendiri.
“Biarlah aku memberikan tekanan kepada laskar lawan itu. Mungkin dengan demikian Widura akan menghampiri aku” berkata Tohpati itu didalam hatinya.
Karena itu maka segera ia meloncat menyusup diantara anak buahnya, sehingga sesaat kemudian senjatanya telah berputaran diarena itu. Tongkatnya yang putih mengkilap dengan ujung yang kekuning-kuningan segera memberitahukan kepada lawan-lawannya bahwa Tohpati sendiri telah hadir digaris peperangan. Karena itu, sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, maka seorang dua orang telah terpelanting jatuh. Setiap ia bergerak, maka tak ada seorangpun yang berani menyongsongnya seorang diri. Kalau terpaksa mereka harus melawan Macan Kepatihan itu, maka mereka berusaha untuk melawan berpasangan, tiga empat orang sekaligus. Tetapi lawan-lawan mereka yang lainpun segera menyerang mereka juga, sehingga setiap titik yang dihampiri oleh Tohpati itu, maka seseorang dari laskar lawannya pasti akan jatuh.
Tetapi Tohpati itu tidak terlalu lama dapat berbuat demikian. Tiba-tiba dari laskar Pajang, muncullah seseorang dengan sebuah pedang ditangan. Ketika tongkat Tohpati itu terayun dengan derasnya kearah salah seorang prajurit Pajang yang telah menjadi berputus asa karenanya, maka tiba-tiba pedang itu telah menyentuhnya. Tidak terlalu keras, namun dari arah yang tepat sehingga tongkat Tohpati itu tergeser dari arahnya.
Tohpati menggeram keras sekali. Ketika ia melihat orang yang menyentuh senjatanya itu didalam remang-remang cahaya obor ia terkejut. Hampir berteriak ia berkata “He, adakah kau adi Untara?”
Orang yang memegang pedang itu menyahut “Ya”
Sekali lagi Tohpati menggeram. Kini ia menemukan lawan yang sebenarnya. Karena itu maka ia tidak mau membuang waktu. Betempur melawan Widura, Sidanti atau siapapun, Tohpati tidak akan memerlukan waktu yang terlalu banyak. Namun kini Untara berdiri dihadapannya, maka dengan demikian ada kemungkinan ia harus bertempur lebih lama lagi, mungkin setengah malam, mungkin lebih.
Untara kini telah benar-benar siap untuk melawannya. Pedangnya terjulur setinggi dada. “Kakang Tohpati” katanya “Aku mendapat tugas untuk menyambut kedatanganmu”
Tohpati menggertakkan giginya. Dengan sekali loncat, tongkatnya telah mulai menyerang Untara. Namun Untara telah benar-benar siap. Meskipun Untara tidak mempunyai senjata khusus seperti Tohpati itu, namun Untara mampu mempergunakan setiap senjata untuk melawan Tohpati. Karena itu ketika tongkat Tohpati itu terayun kearah kepalanya, dengan tangkasnya ia merendahkan dirinya, sedang tangannya segeramenggerakkan pedangnya, mematuk lambung lawannya. Namun Tohpatipun mampu bergerak secepat kilat, sehingga dengan memiringkan tubuhnya, serangan pedang Untara telah dapat dihindari.
Kin Tohpati itu kembali mempersiapkan sebuah serangan. Tongkatnya telah mulai berputaran seperti baling-baling. Bahkan kemudian seakan-akan menjadi sebuah gumpalan cahaya yang putih. Sedang kepala tongkatnya itu menjadi seakan-akan seleret cahaya kuning yang beterbangan diantara gumpalan yang berkilat-kilat itu.
Dalam pada itu terdengar Tohpati itu menggeram “Kenapa kau berada disini adi?”
Untara tersenyum. pada saat itu tongkat Tohpati menyambarnya kembali. karena itu, ia terpaksa bergeser surut, namun kemudian ia meloncat maju dengan tangkasnya. Kini ia menyerang dengan sebuha sabetan menyilang. Tohpati terkejut. Cepat ia menarik diri setengah langkah, dan mencondongkan badannya kebelakang. Ketika pedang Untara itu lewat, maka tongkatnyalah kini langsung menyambar tangan Untara itu. Namun Untarapun cukup cekatan. Dengan lincahnya ia memutar dirinya dan menarik tangannya, sehingga tongkat lawannya terayun tanpa menyentuhnya.
Meksipun mereka telah bertempur semakin cepat, namun Untara masih sempat berkata “Huh. Hampir aku tidak sempat menjawab untuk selama-lamanya. Nah kakang, aku datang kemari khusus untuk menerima kedatangan kakang”
“Gila” Tohpati mengumpat “Apakah paman Widura sudah ditarik ke Pajang?”
“Kakang mencari paman Widura?”
“Aku hampir membunuhnya” sahut Tohpati. Dalam oada itu serangannya telah meluncur kembali.
Tetapi Untara sama sekali tidak lengah. Setiap saat ia selalu siap menghadapi serangan lawannya. Bahkan dengan garangnya Untara itupun segera menyerang kembali.
Untara dan Macan Kepatihan itupun kemudian terlibat dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Mereka masing-masing adalah pemimpin yang mendapat kepercayaan. Pada masa Jipang masih tegak, maka disamping Mantahun sendiri, pepatih Jipang, maka Tohpatilah prajurit yang paling dipercaya. Sedang Untara walaupun masih agak lebih muda dari Tohpati, namun ia telah menunjukkan kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain, sehingga panglima Wiratamtama memberinya kepercayaan didaerah-daerah yang gawat, disekitar lereng gunung Merapi.
Tohpati itu bertempur semakin lama menjadi semakin garang. Tongkatnya menyambar-nyambar seperti elang, sedang kakinya meloncat-loncat dengan cepatnya, seperti seorang yang sedang menari diatas bara api. Tetapi Untara mampu melawannya dengan gigih. Seperti seekor banteng ia siap menghadapi kemungkinan apapun juga. Tenang tetapi yakin.
Anak buah masing-masingpun terpengaruh pula oleh pertempuran kedua pemimpin itu. Merekapun kemudian melepaskan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Karena itu, maka diarena pertempura itu semakin lama menjadi semakin riuh. Suara senjata beradu, diselingi pekik mereka yang lengah sehingga ujung senjata lawannya hinggap ditubuhnya.
Malam yang gelap itu menjadi semakin gelap. Perlahan-lahan bintang-bintang dilangit merabat melewati garis edarnya. Angin malam yang dingin berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang sedang basah oleh keringat.
Dipinggir selatan induk desa Sangkal Putung, Widura sedang berjuang dengan gigihnya. Sanakeling yang melawannya telah memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Ternyata apa yang pernah didengarnya tentang Widura, adalah bukan sekedar cerita belaka. Kini ia berhadapan langsung dengan orang yang bernama Widura itu. Tidak saja ia mempunyai kecepatan dan ketrampilan bertempur, namun caranya mengatur anak buahnya benar-benar mengagumkan. karena itu, maka Sanakeling harus bertempur mati-matian sehingga dengan demikian ia akan dapat mempengaruhi keadaan keseimbangan laskar mereka. “Kalau aku mampu membunuh Widura, maka laskar mereka akan dapat aku cerai-beraikan” pikir Sanakeling itu. Namun ternyata Widura tidak mudah didesaknya. Bahkan semakin lama menjadi semakin terasa bahwa Widura menjadi semakin mapan.
karena itu, maka timbullah berbagai persoalan didalam dirinya. Sudah cukup lama Sanakeling berusaha mempertahankan kedudukannya. Namun laskar yang lain, masih belum dilihatnya memasuki Sangkal Putung. Apalagi kemudian terasa bahwa laskar Sangkal Putung itu benar-benar sulit untuk dikuasai. Anak-anak muda Sangkal Putung sendiri bertempur dengan gigihnya, disamping laskar Widura yang telah masak menghadapi segala macam keadaan pertempuran. karena itu, maka Sanakeling itu sama sekali tidak dapat memberikan tekanan-tekanan seperti yang diharapkan, apalagi merambas jalan kekademangan,
Tetapi Sanakeling bukannya prajurit yang berpikiran pendek. Ia bukan seorang yang lekas menjadi berputus asa. Ia masih tetap dalam pendiriannya, kalau ia dapat membunuh Widura maka pekerjaannya akan dapat dilakukan dengan baik.
Dalam keadaan yang demikian itulah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Laskar Widura dan laskar Sangkal Putung ternyata melebihi jumlah laskar lawan. Namun ternyata bahwa laskar Sanakeling memiliki pengalaman dan kelincahan lebih baik dari laskar Sangkal Putung sendiri. Untunglah bahwa laskar Widura mampu mengimbanginya, meskipun jumlahnya tidak dapat memadai.
Dibagian lain, Agung Sedayu masih juga bertempur melawan Alap-alap Jalatunda. Laskar Citra Gati disayap itupun ternyata mampu mengimbangi lawannya. Beberapa orang laskar Sangkal Putung ang tidak saja terdiri dari anak-anak muda, tetapi beberapa orang tua, namun justru bekas prajurit-prajurit dimasa mudanya, ternyata memberinya banyak bantuan. Meskipun tenaga orang-orang tua itu sudah tidak sekuat anak-anak muda, namun pengalamannya benar-benar dapat memberi beberapa keuntunga. Mereka masih dapat membingungkan lawan-lawan dengan gerak-gerak yang aneh. Kadang-kadang mereka menghilang didalam keriuhan pertempuran, namun dengan tiba-tiba mereka muncul kembali dengan sebuah serangan yang mengejutkan. Bahkan kadang-kadang mereka bertempur berpasangan dengan anak-anak muda sambil memberi beberapa petunjuk kepada mereka.
Citra Gati yang melihat cara mereka bertemput, sempat juga tersenyum. mereka adalah bekas prajurit Demak yang tangguh dimasa muda mereka.
Tetapi Agung Sedayu sendiri, masih saja merasa kebingungan. Ia ragu-ragu untuk segera mengakhiri pertempuran. Kalau ia segera mengerahkan segenap kemampuannya, apakah Alap-alap Jalatunda itu tidak menjadi beruntung karenanya? Apakah Alap-alap Jalatunda sengaja membuatnya tidak sabar, dan menunggu sampai ia menjadi lemah?
karena itu, maka akhirnya ia memutuskan untuk melayani saja lawannya. Dibiarkannya lawannya mengambil sikap lebih dahulu, baru kemudian ia akan menyelesaikannya.
“Biarlah” katanya dalam hati “Akan aku layani Alap-alap Jalatunda ini. Sehari, dua hari atau seminggu sekalipun. Kalau ia masih mampu menggerakkan senjatanya, masa aku tidak dapat melawannya dengan senjataku”
Dengan demikian Agung Sedayu itu bertempur saja sekedar untuk melindungi dirinya dari sentuhan senjata lawannya.
Tetapi disayap yang lain, keadaan Sidanti agak lebih sulit. Laskar Plasa Ireng benar-benar memiliki kemampuan yang baik. Dengan dahsyatnya mereka berhasil menekan laskar yang dipimpin oleh Sidanti, sehingga pertempuran itu telah bergeser beberapa langkah surut. Sidanti terpaksa mengambil kebijaksanaan untuk menarik laskarnya mendekati induk pasukan. Diharapkannya bahwa induk pasukan akan dapat memberinya bantuan.
Untarapun kemudian melihat kesulitan Sidanti. Beberapa kali ia mencoba untuk menilai induk pasukan itu. Namun keadaan induk pasukan itu sendiri tidak sedemikian baiknya. Ternyata laskar Tohpatipun mampu mengimbangi laskar Untara. Bahkan terasa bahwa anak-anak muda Sangkal Putung telah mulai susut tenaganya. Mereka belum biasa memeras tenaganya untuk waktu yang lama, apalagi dalam kesibukan yang membingungkan. Karena itu, maka Untara menjadi prihatin. Walaupun demikian, ia berusaha untuk memberi isyarat kepada Hudaya. Isyarat sandi yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
Hudaya melihat gerak tangan kiri Untara. karena itu, maka ia mengerutkan keningnya. Didalam hati ia bergumam “Biarlah Sidanti itu mampus. Kenapa Untara itu memerintahkan aku untuk membantunya?”
Sebenarnya bahwa isyarat sandi Untara itu adalah “Hudaya dan beberapa orang, pergi membantu sayap kanan” Bantuan itu memang hampir tak berarti. Tetapi sedikit banyak cukup berpengaruh sekedar untuk mengurangi kesibukan Sidanti.
Sidanti melihat Hudaya dan beberapa orang memisahkan diri dari induk pasukannya dan pergi kesayap yang dipimpinnya. Tetapi ia menjadi sangat kecewa. Bantuan itu sama sekali tidak berarti. Bahkan tersembullah suatu prasangka didalam hati Sidanti yang mudah menjadi panas itu. “Hem. Untara sengaja membiarkanku dalam kesulitan. Setan. Telah menjadi sumpahku, bahwa Untara itu harus disingkirkan”
Dan ternyata bahwa bantuan Hudaya itu hampir tak berarti. Namun Hudaya sendiri telah berusaha sebaik-baiknya. Bahkan hampir seperti orang yang kehilangan kesadaran diri. Mengamuk sejadi-jadinya.
Namun hal itu telah mendorong Sidanti untuk berbuat lebih banyak. Kemarahannya kepada Plasa Ireng, dirangkapi oleh kemarahannya kepada Untara menjadikannya berjuang sekuat-kuat tenaganya. Tetapi betapapun juga, kehadiran Hudaya didalam sayapnya, telah mengurangi kesibukan pikirannya. Ia menjadi agak tenang untuk menghadapi Plasa Ireng tanpa banyak berpikir tentang laskarnya. Meskipun bantuan yang didapatnya tidak banyak memberi kekuatan pada laskarnya, namun ternyata banyak membantu ketenangannya. Ia kini mencoba memusatkan perhatiannya kepada lawannya. Plasa Ireng. Ia mencoba untuk sesaat melupakan orang-orang lain didalam sayapnya yang dalam keadaan sulit itu.
Dalam keadaan yang demikian itu, maka Sidanti benar-benar menjadi seorang anak muda yang pilih tanding. Kalau beberapa saat yang lampau ia berhasil menyelamatkan dirinya setelah bertempur beberapa lama melawan Tohpati, maka kini ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya untuk membinasakan lawannya. Selain itu, ternyata Sidantipun seorang yang keras hati. Sekali ia bertekad untuk membunuh lawannya, maka tak ada alasan apapun yang dapat mencegahnya. Kali inipun ia bertekad membunuh Plasa Ireng, seperti Plasa Ireng berusaha membunuhnya. Tak ada pikiran lain didalam benaknya. Membunuh. Hanya itu. Membunuh.
Dengan demikian maka Sidanti itupun kemudian memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Senjatanya bergerak berputaran sehingga kemudian seakan-akan telah berubah menjadi asap yang hitam kebiru-biruan. Senjata yang hanya sebatang, namun berujung sepasang timbal-balik itu, seakan-akan berubah menjadi senjata serupa yang berpuluh-puluh jumlahnya. Menyerang tubuh Plasa Ireng dari segenap arah.
Meskipun Plasa Ireng bukan seorang prajurit yang baru saja belajar memegang senjata, namun tiba-tiba ia menjadi bingung menghadapi permainan Sidanti. Permainan murid Ki Tambak Wedi itu benar-benar memeningkan kepalanya. Meskipun demikian, Plasa Irengpun tidak segera menjadi cemas. Plasa Ireng adalah seorang prajurit yang tabah. Berpuluh bahkan beratus kali ia mengalami kesulitan didalam peperangan dan perkelahian perseorangan. Namun berpuluh bahkan beratus kali ia dapat menghindarkan kesulitan itu. karena itu, maka dengan sekuat-kuat tenaga yang ada padanya, maka ia berusaha untuk mematahkan gumpalan sinar hitam kebiru-biruan yang melandanya.
Tetapi gumpalan sinar hitam kebiru-biruan itu benar-benar seperti asap yang tak dapat disentuh oleh senjatanya. Sidanti yang menjadi semakin bernafsu itu, telah menyerangnya tanpa pertimbangan kecuali membinasakan.
Sekali-sekali Plasa Ireng itupun meloncat muundur. Ia menjadi berbesar hati ketika ia melihat laskarnya berhasil menekan laskar Sidanti. Tetapi ia tidak dapat menutup kenyataan bahwa desing senjata Sidanti itu seakan-akan sebuah siulan maut yang selalu mengejarnya.
karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi cemas. Kalau perlu ia dapat menarik satu dua orang untuk mengganggu Sidanti.
Hudaya yang bertempur didekat Sidanti melihat kelebihan Sidanti dari lawannya. Meskipun kebenciannya kepada anak itu sampai keujung rambutnya, tetapi, dalam menghadapi musuhnya, Hudaya berbesar hati juga melihat kemenangan Sidanti. karena itu, maka ia berusaha untuk selalu berada didekatnya. Ia sudah dapat memperhitungkan apa yang kira-kira akan terjadi. Sebagai seorang prajurit yang telah bertahun-tahun hidup didalam arena pertempuran, maka ia dapat menduga, bahwa apabila terpaksa Plasa Ireng pasti tidak akan segan-segan memanggil satu dua orang untuk membantunya.
Demikianlah pertempuran disayap kanan itu menjadi semakin ribut. Laskar Sidanti menjadi semakin lama menjadi semakin sulit pula. Plasa Irengpun semakin lama menjadi semakin sulit pula. sekali-sekali ia meloncat berkisar disekitar garis pertempuran berlindung dibelakang beberapa orang laskar yang sedang berjuang. Namun akhirnya Sidanti berhasil menekannya semakin dalam. Sidantipun mampu memperhitungkan keadaa, bahwa daya tahan laskarnya masih lebih baik dari daya tahan Plasa Ireng. Sehingga meskipun ia melupakan laskarnya sejenak, tetapi ia akan mencapai hasil yang pasti lebih baik.
Sehingga karena itu, maka Sidanti kemudian memusatkan segenap kemampuannya untuk membinasakan lawannya itu.
Plasa Irengpin benar-benar merasakan, betapa serangan-serangan Sidanti semakin menekannya. Senjatanya yang aneh benar-benar telah berputar-putar ditelinganya. Betapapun Plasa Ireng mencoba mempertahankan dirinya, namun Sidanti itu mendesaknya semakin kuat.
Akhirnya Plasa Ireng itu menganggap bahwa tak akan ada gunanya ia bertahan seorang diri. Dalam peperangan, tak akan ada celanya, apabila ia harus bertempur berpasanan. karena itu, tiba-tiba terdengar ia bersuit nyaring.
Sidanti mendengar suara suitan itu. Terasa dadanya bergetar. Iapun tahu pasti, bahwa Plasa Ireng memanggil seorang atau dua orang untuk membantunya.
Dan sebenarnyalah, seseorang yang bertubuh tinggi, namun tidak cukup besar dibandingkan dengan tingginya, meloncat sg lincahnya, menyerbu ketempat pertempuran antara Plasa Ireng dan Sidanti. Ditangannya tergenggam sebilah tombak pendek. Dengan cepatnya ujung tombak itu bergetar, dan dengan tangkasnya ia memotong serangan-serangan Sidanti.
Sidanti surut selangkah. Terdengar ia menggeram parau “Setan. Apakah kau sudah kehabisan akal?”
Plasa Ireng tertawa “Didalam pertempuran, maka setiap orang dipihak lawan adalah musuhnya. Panggillah orang-orangmu untuk ikut serta dalam pertempuran berpasangan ini”
Sidanti menjadi semakin marah. Plasa Ireng ternyata mampu memperhitungkan kekuatan laskarnya. karena itu, maka sekali lagi Sidanti dipengaruhi oleh keadaan laskarnya.
Namun tiba-tiba tanpa diduga-duga, Hudaya yang dengan cepatnya memperhitungkan kemungkinan itu, meloncat dengan cepatnya. Pedangnya terjulur lurus, langsung kelambung orang yang tinggi itu. Orang itu terkejut, sekali ia melangkah kesamping dan kemudian dengan memutar tombaknya ua mencoba menghindarkan serangan Hudaya berikutnya.
Tidak saja orang yang tinggi itu yang terkejut. Plasa Irengpun terkejut pula. ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda Sidanti memanggil seseorang untuk melibatkan diri dalam pertempuran diantara mereka. Tetapi Hudaya bukan seorang yang hanya mampu berbuat karena diperintah. Iapun mampu mengambil sikap dalam setiap pertempuran. Demikianlah pada saat-saat yang penting itu Hudaya mampu membuat perhitungan-perhitungan yang cermat. Ia menjadi marah pula, ketika ia melihat saat-saat terkhir dari lawan Sidanti itu diganggu oleh orang lain.
Dalam keadaan yang demikian itulah Sidanti yang berotak cerdas itu mempergunakan keadaan sebaik-baiknya. Pada saat orang yang tinggi itu masih dalam usaha menyelamatkan dirinya, maka Sidanti meloncat dengan garangnya. Memutar senjatanya dan mendesak Plasa Ireng sejadi-jadinya.
Plasa Ireng benar-benar terkejut dan karena itu sesaat ia kehilangan keseimbangan. Keseimbangan gerak dan keseimbangan pikiran. Dengan demikian maka justru ia lupa untuk memberi isyarat kepada orang lain lagi untuk membantunya. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dalam usahanya untuk mempertahankan dirinya. Tetapi ketika kembali terasa nyawanya seakan-akan telah melekat diujung senjata Sidanti, maka barulah ia teringat kembali kepada orang-orang yang berdiri mengitarinya.
Tetapi Plasa Ireng itu telah terlambat. Getar senjata Sidanti telah benar-benar memusingkan kepalanya. Maka demikian terdengar ia bersuit dua kali untuk memanggil orangnya yang lain, maka demikian pundaknya tergores oleh senjata Sidanti. Plasa Ireng terkejut bukan buatan. Sekali ia melontar mundur, namun Sidanti itu sempat mengejarnya, dengan satu loncatan pula. Dan sebelum seseorang berhasil datang membantunya, terdengarlah Plasa Ireng memekik pendek. Sekali lagi senjata ciri perguruan Tambak Wedi yang dahsyat itu merobek dadanya.
Kini Plasa Ireng benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Matanya kemudian seakan-akan mejadi gelap, dan sinar-sinar obor disekitarnya itu serasa menjadi padang bersama-sama. Yang terasa kemudian sekali lagi seubha tusukan menghunjam dadanya, langsung menembus jantungnya. Plasa Ireng itu mengaduh sekali, kemudian ketika Sidanti menarik senjatanya yang berlumuran darah, Plasa Ireng itu terseret selangkah maju untuk kemudian jatuh terjerebab dibawah kaki anak muda itu.
Ketika seseorang datang mendekatinya, orang itu terkejut. Yang dilihatnya adalah Sidanti berdiri tegak diatas tubuh Plasa Ireng. Karena itu betapa marahnya orang itu. Dengan serta-merta ia menyerang Sidanti tepat didadanya.
Tetapi serangan itu tidak banyak berarti buat Sidanti. Sekali Sidanti mengelak dan ketika senjata orang itu terjulur disamping tubuh Sidanti, maka tangan Sidanti bergerak dengan cepatnya. Sebuah goresan yang panjang telah melukai lambung orang itu. Ketika orang itu berteriak ngeri, maka sekali lagi Sidanti menusuk perutnya. Orang itupun terbanting jatuh disamping tubuh Plasa Ireng.
Tetapi agaknya kemaran Sidanti masih belum tercurahkan seluruhnya. Ketika sekali lagi ia melihat tubuh Plasa Ireng, maka terungkatlah geram dihatinya. Karena itu dengan serta-merta ia menggerakkan senjatanya, menyobek punggun lawannya yang sudah tidak bernafas itu. Sekali, dua kali dan dipuaskannya hatinya.
Hudaya yang semula tersenyum melihat kemenangan Sidanti, tiba-tiba mengerutkan keningnya. Sambil melayani lawannya ia melihat betapa Sidanti berbuat melampaui batas. Hudaya sama sekali tidak menyangka, bahwa didalam hati Sidanti itu tersimpan kekerasan, kekejaman dan kekasaran. Ditubuh anak muda itu ternyata mengalir darah yang buram, sehingga dengan tangannya, anak muda itu sampai hati berbuat demikian atas lawannya yang sudah tidak dapat melawannya.
“Anak setan” geram Hudaya itu “Alangkah kotornya tangan anak muda itu”
Sidanti itu benar-benar seperti orang yang sedan kesurupan. Dengan mata yang merah liar dan gigi gemeretak, disobeknya tubuh lawannya yang terbaring diam
“Adi Sidanti” desis Hudaya yang tidak tahan lagi melihat perbuatan Sidanti “Sudahlah. Jangan kau turuti hatimu yang gelap”
“Tutup mulutmu” Sidanti itu membentak.
Dan Hudaya menutup mulutnya. Dalam keadaan itu, ia lebih baik tidak membuat persoalan, sebab kemungkinan menjadi salah paham sangat besar. Pada saat Sidanti sedang kehilangan segenap pertimbangannya. karena itu, maka h lebih baik memusatkan perhatiannya pada lawannya. Diputarnya senjatanya dan dengan dahsyatnya ia menyerang seperti taufan.
Tetapi bukan saja Hudaya yang heran melihat perbuatan Sidanti. Hampir setiap orang, baik dari laskar Pajang maupun dari laskar Jipang, hatinya tergetar melihat perbuatan itu. Perbuatan yang melampaui batas-batas yang dibenarkan dalam tata pergaulan keprajuritan. Apalagi anak-anak muda Sangkal Putung. Mereka menjadi ngeri. Bagi mereka, lebih baik memalingkan wajah-wajah mereka, dan memusatkan segenap perhatian mereka untuk menyelamatkan diri mereka dari kemungkinan yang sama dengan Plasa Ireng.
Perbuatan Sidanti itu ternyata berpengaruh bagi lawannya. Mereka menjadi ngeri dan cemas. Selain kematian pemimpin mereka, maka apa yang mereka lihat itu benar-benar telah mengerutkan hati mereka.
Setelah puas dengan perbuatannya, Sidanti tegak berdiri diatas mayat lawannya, satu kakinya menginjak punggung, dan satu kakinya diatas kepala. Dengan lantang ia berkata kepada laskar Jipang yang masih bertempur dengan gigihnya “He, laskar Jipang yang keras kepala. Lihatlah, pemimpinmu telah terbunuh mati oleh tangan Sidanti. Ayo, siapa yang berani mengangkat diri menjadi senapati. Inilah Sidanti, murid Tambak Wedi”
Suara Sidanti itu menggelegar, menyusup diantara dentang senjata dan jerit kesakitan, menggema berputar-putar didalam malam yang kelam, seakan-akan getar suara dari neraka, memanggil-manggil setiap nama yang ikut serta dalam pertempuran itu.
Malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang yang gemerlapan dilangit bergeser setapak-setapak kebarat dalam hembusan angin malam yang dingin. Selembar-selembar awan yang putiih mengalir keutara seperti gumpalan-gumpalan kapuk raksasa yang sedang hanyut.
Pertempuran diperbatasan kademangan Sangkal Putung masih berlangsung dengan sengitnya. Disayap kanan, laskar Jipang seakan-akan telah kehilangan semangat untuk bertempur, setelah mereka menyaksikan pemimpin mereka jatuh. Kekasaran Sidanti, meskipun menumbuhkan kengerian didalam dada laskar Jipang, namun didalam dada itu juga menyala dendam yang tiada taranya. Dendam yang seakan-akan tidak akan kunjung padam. Betapa perbuatan Sidanti itu tergores didinding jantung mereka. Sebelum nyawa mereka melayang, maka peristiwa itu tidak akan mereka lupakan.
Beberapa orang yang tidak dapat menahan hatinya melihat pemimpinnya mendapat perlakuan yang sedemikian menyakitkan hati, segera menyerbu bersama-sama. Namun Sidanti benar-benar memiliki tenaga dan ketrampilan yang luar biasa. Meskipun beberapa orang datang bersama-sama, namun anak muda itu masih saja mampu untk mengalahkan mereka.
Tetapi, ketika lawan Sidanti menjadi semakin banyak, maka Hudaya juga berasa bertanggung-jawab pula atas kemenangan yang harus mereka perjuangkan, betapapun hatinya menjadi pedih melihat perbuatan Sidanti, namun ia datang juga untuk membantunya.
Kemenangan-kemenangan yang didapatnya itu telah mendorong Sidanti lebih jauh kedalam ketamakan dan kesombongannya. Kematian Plasa Ireng merupakan racun yang tajam yang menusuk langsung keotaknya. Dengan membunuh Plasa Ireng maka Sidanti merasa bahwa ia wajar untuk menerima kehormatan yang jauh dari semestinya. Bahkan kematian Plasa Ireng itu telah menumbuhkan suatu impian yang mengerikan.Laskar Jipang yang kehilangan pemimpinnya itupun kemudian menjadi semakin kacau. Seorang yang bertubuh tinggi kurus, yang bertempur melawan Hudaya mencoba untuk mengambil alih pimpinan. Dipanggilnya beberapa orang untuk menggantikan perlawanannya terhadap Hudaya, dan ia sendiri meloncat kesana kemari, memekik tinggi memberikan aba-aba kepada sisa-sisa laskarnya. Namun usahanya itu tidak banyak memberikan perubahan apa-apa. bahkan dengan demikian maka ia memberi kesempatan kepada Hudaya untuk menghindari seitap lawannya, dan membantu Sidanti yang harus bertempur melawan beberapa orang sekaligus.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 September 2008 at 07:50  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-06/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. ijinkan saya bermesu diri di tempat ini ki GD,
    bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

    # silakahkan kisanak

    • ikut dong

      • Kemana ?..Kemana ?…Kemana ?.. 😀

        • bukan alamat palsuuuu

          • ijinkan saya berHADIR lagi di tempat ini ki GD,
            bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

  2. wuiiii, kabuuurrr…..

    • Kemana ?..Kemana ?

      • tinggalnya sekarang di mana tuing …

  3. Antri nomer 3 oleh medali perak

  4. ijinkan saya berHADIR lagi di gandok ini nyi SENO,
    melacak jeJAK keberadaan ki Abdus S, ki Kartojudo
    yang menghilangkan diri dari gandok sebelah.

    tanpo woro-woro….tanpo di nyono-nyono makBlass
    “wes-wes….weeess”,

    • welah dalah aku ke sini nyari alamat ayu tuing tuing jeh 🙂

  5. yang kuterima ….
    alamat palsu ….

  6. ndherek nyerot ki, nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: