Buku 06


Seperti kuda yang lepas dari ikatan, maka laskar Untara itupun berloncatan dari balik-balik pematang, langsung menyergap lawan-lawan mereka yang terhenti karena terkejut. Ternyata mereka masih memerlukan waktu sekejap untuk melenyapkan desir yang menggoncangkan dada mereka. Dengan serta-merta mereka menjulurkan senjata-senjata mereka untuk menyongsong laskar Pajang yang melibat mereka seperti badai.
“Setan” geram Tohpati. Dengan lantang ia berkata “Sayap kanan dan kiri, lihat perkembangan keadaan”
Sayap-sayap kanan dan kiri itupun tidak segera meneruskan perjalanan mereka menyusup langsung kejantung Sangkal Putung. Mereka menunggu sesaat untuk melihat perkembangan keadaan induk pasukannya.
Tiga orang yang mendahului gelar laskar Macan Kepatihan itu ternyata terkejut bukan kepalang. Cepat mereka berloncatan kembali dan langsung melibatkan diri dalam pertempuran melawan orang-orang Pajang. Keadaan itu benar-benar tak disangkanya. Ternyata orang-orang Pajang telah berhasil dengan baik, menjebaknya dan menyergap pasukannya.
Pertempuran itupun segera berkobar dengan sengitnya. Tetapi pertempuran ini tidak berlangsung ditengah-tengah desa yang rimbun dalam gelap pepat. Diudara terbuka, maka mereka masih mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk mengamati kawan dan lawan. Meskipun demikian pertempuran itu tidak berlangsung terlalu cepat. Masing-masing masih juga ragu-ragu untuk mengayunkan pedang-pedang mereka dengan lepas. Karena itu, baik laskar Macan Kepatihan maupun laskar Widura dibawah pimpinan Untara itupun menganggap perlu bahwa beberapa orang diantara mereka menyalakan obor-obor.
Ternyata laskar yang dihadapi oleh Tohpati itu cukup berat, sehingga terdengar suara Macan Kepatihan itu lantang “Sayap-sayap kanan dan kiri, ikutlah menghancurkan lawan disini. Baru kemudian kami bersama-sama memasuki Sangkal Putung”
Untara mendengar pula aba-aba itu. Tetapi ia tidak memberi aba-aba imbangan. Dibiarkannya sayap-sayapnya menyergap kemudian setelah pertempuran menjadi riuh.
Sayap-sayap kanan dan kiri dari laskar Tohpati itupun kemudian segera menyergap lawannya dari arah lambung. Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi bertambah sengit. Ketika sekali lagi Untara mengawasi pertempuran itu, maka hatinya menjadi tenang. Jumlah laskarnya kini telah seimbang dengan laskar Tohpati. Namun meskipun demikian, kemudian disadarinya, bahwa anak-anak muda Sangkal Putung yang ikut serta dengan mereka, masih belum memiliki kekuatan yang sama dengan laskar Pajang sendiri. Karena itu maka Untara kemudian memerintahkan kepada dua orang penghubung untuk segera menggerakkan sayap-sayap laskar mereka.
Macan Kepatihan itu tersenyum melihat keseimbangan pertempuran. Menurut perhitungannya, maka ia akan dapat mengatasi lawannya itu. Namun ia tidak tahu, bagaimanakah keadaan laskar Sanakeling. Kalau induk pasukan Pajang telah ditarik untuk melawan laskar Sanakeling, maka keadaan Sanakeling pasti akan gawat. Karena itu maka Macan Kepatihan segera mengerahkan segenap kekuatan yang ada padana untuk menebus kekalahan kecil yang dialaminya pada benturan pertama.
Tetapi semakin lama Macan Kepatihan itu menjadi semakin yakin, bahwa laskarnya akan dapat menjebolkan pertahanan pasukan Pajang dan akan dapat langsung memasuki induk desa Sangkal Putung.
Namun tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya sekumpulan pasukan muncul diarah selatan, langsung menyerbu kedalam perkelahian itu. Sesaat ia berdiri tegak seperti patung, kemudian terdengar suaranya lantang “Sayap kiri, siap melawan sayap lawan”
Yang berdiri disayap kiri terkejut mendengar teriakan itu. Seorang anak muda dengan mata yang tajam setajam mata alap-alap menengadahkan wajahnya. dilihatnya sekelompok laskar langsung menyerbu kearah mereka yang sedang menghantam lawan dari arah lambung iu. Dengan tergesa-gesa anak muda itu menarik beberapa orangnya, yang dengan tergesa-gesa pula melepaskan lawan-lawan mereka.
Dengan marahnya anak muda yang memimpin sayap kanan laskar Macan Kepatihan itu menggeram. Kemudian dengan senjata ditangan ia mendahului anak buahnya menloncat menyongsong laskar yang datang itu.
Yang berdiri dipaling depan dari laskar Pajang adalah Citra Gati. Ketika ia melihat lawan menyongsongna, segera ditundukkannya pedangnya. Dan tanpa berkata sepatah katapun maka kedua orang itu telah terlibat dalam satu perkelahian, sedang anak buah merekapun segera menghambur, dan dengan sengitnya kemudian campuh beradu senjata.
Agung Sedayu yang berada didalam sayap itu melihat Citra Gati bertempur dengan sekuat tenaganya. Lawannya adalah seorang anak muda yang lincah, namun serangannya kuat dan garang. Tiba-tiba dada Agung Sedayu bedesir “Alap-alap Jalatunda” desisnya. Namun ia tidak berbuat sesuatu atas perkelahian diantara kedua pemimpin sayap itu. Ketika kedua belah pihak telah tenggelam dalam suatu pertempuran, Agung Sedayupun ikut bertempur pula. pertempuran ini adalah pertempuran yang pertama kali dialami. Meskipun dengan pedangnya ia mampu melawan setiap serangan yang datang kepadanya, namun terasa sesuatu bergolak didalam dadanya. Ketika sekali pedangnya terayun, memukul pedang lawannya dengan kekuatannya yang tercurah sepenuhnya, maka pedang lawannya itu terpental jatuh. Kini kesempatan terbuka baginya. Lamat-lamat ia melihat wajah orang itu dalam cahaya obor dikejauhan menyeringai pedih. Dilihatnya betapa wajah itu menjadi ketakutan melihat pedangnya. Ketika tangan Agung Sedayu terjulur, dan ujung pedangnya hampir menembus dada lawannya, tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Ketakutan yang terbayang diwajah lawannya yang telah tidak bersenjata itu membangkitkan iba dihatinya. Ia belum pernah membunuh orang. Dan ia sendiri pernah mengalami, betapa sakit perasaan yang dikejar-kejar oleh ketakutan. Karena itu maka tiba-tiba tangannya yang sudah terjulur itu digerakkan kesamping, sehingga pedangnya tidak menembus dada lawannya yang telah berputus asa.
Lawannya terkejut bukan main. Matanya telah menjadi gelap dan harapannya telah putus. Sekilas terbayang istrinya yang masih muda menunggunya, serta anaknya yang baru berumur tiga bulan. Anak yang masih belum pernah ditimangnya, sebab selama ini ia selalu mengembara dari satu tempat kelain tempat bersama-sama dengan Alap-alap Jalatunda atau pemimpin-pemimpin Jipang yang lain.
Tetapi tiba-tiba terasa kaki lawannya itu mendesak dadanya, dan terdengar suaranya lirih “Pergi. Kalau kau masih berdiri disitu, aku bunuh kau”
Orang itu benar-benar tidak mengerti. Namun secepat kilat ia meloncat kesamping, menyusup diantara teman-temannya dan dengan nafas terengah-engah ia berdiri dibelakang pertempuran itu. Sesaat ia mencoba untuk mengenangkan apa yang baru saja terjadi. “Mustahil, mustahil” katanya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun ternyata ia masih hidup. Ketika ia menggeleng-gelengkan kepalanya, maka yang dilihatnya masih saja perkelahian yang seru. Ia tidak sedang mimpi. Karena itu segera ia meloncat kembali, mengambil pedang seorang kawannya yang terluka “Mari, berikan senjata itu kepadaku”
Kawannya yang terluka itu merangkak kesamping. Diberikannya pedangnya kepada kawannya sambil berdesah “Bunuhlah. Bunuhlah siapa saja yang kau temui. Aku sudah dilukainya. Dan lukaku parah”
Orang itu menerima pedang itu dengan tangan gemetar. Kawannya dilukai dadanya, sedang dirinya sendiri, yang telah pasrah pada nasib, tiba-tiba mendapat kesempatan untuk hidup. Dan apakah sekarang ia harus membunuh?
Tetapi ia tidak mendapat kesempatan ntuk berpikir lebih panjang. Sekali lagi ia meliat seorang kawannya jatuh terlentang dengan luka didadanya. Karena itu segera ia meloncat kembali memasuki arena pertempuran yang menjadi kian sengit.
Agung Sedayu masih juga bertempur dengan gagahnya. Namun ketika ia melihat beberapa orang kawan dan lawannya terluka, maka kepalanya menjadi serasa pening. Kini lututnya sudah tidak gemetar karena ketakutan. Apalagi setelah ternyata ia dapat melepaskan diri dari berbagai bahanya. Namun ia masih belum sampai hati untuk membunuh orang, meskipun dalam pertempuran.
Tetapi sementara itu pertempuran berjalan terus. Citra Gati dengan gigihnya bertempur melawan Alap-alap Jalatunda. Alap-alap yang masih muda itu bertempur dengan tangkasnya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti beratus-ratus pedang.
Tetapi Citra Gatipun cukup berpengalaman. Pedangnyapun berputar seperti baling-baling. Dengan sepenuh tenaga dicobanya untuk melawan Alap-alap Jalatunda. Namun Alap-alap Jalatunda itu mempunya I beberapa kelebihan daripadanya. Kelincahan dan kecepatannya. Sekali ia menyambar dari samping, namun dengan cepatnya pedangnya telah terjulur kearah lambung.
Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah dari pertempuran itu kadang-kadang dapat menyaksikannya dengan cermat. Ia melihat, bahwa Alap-alap Jalatunda itu benar-benar tangkas. Tetapi meskipun demikian, kini Agung Sedayu itu tidak menjadi gentar seperti pada saat ia melihat Alap-alap Jalatunda bertempur melawan kakaknya. Bahkan tiba-tiba terungkatlah kebenciannya kepad Alap-alap Jalatunda itu. Sebab ia adalah salah seorang dari mereka yang menyebabkan kakaknya terluka pada waktu itu.
Karena itu untuk melepaskan kebimbangannya melawan setiap orang yang belum pernah dikenalnya dalam laskar lawannya, maka tiba-tiba Agung Sedayu itupun meloncat mendekati Citra Gati. Ia sama sekali tidak cemas lagi melihat pedang Alap-alap Jalatunda itu. Meskipun demikian, ia menjadi berdebar-debar juga. Kalau ia terpaksa terlibat dalam pertempuran yang seimbang, apakah ia harus membunuh lawannya? Namun demikian, ada juga keinginannya untuk melepaskan gelora yang tersekap didalam dadanya. Gelora kemarahannya kepada Sidanti yang belum ditumpahkannya.
Alap-alap Jalatunda yang sedang bertempur melawan Citra Gati itu melihat seseorang mendekati perkelahian itu. Karena itu segera ia berteriak “Ha, siapa lagi yang ingin bertempur melawan Alap-alap Jalatunda?”
Dalam pada itu seorang prajurit Jipang tiba-tiba menyerang Agung Sedayu. Namun dengan tangkasnya Agung Sedayu menghindari serangan itu, bahkan dengan kerasnya ia memukul pedang lawannya, kearah yang sama, sehingga justru Karena itu, maka pedang itupun meloncat dan terlepas dari tangannya.
Alap-alap Jalatunda sempat menyaksikan ketangkasan itu. Karena itu maka segera perhatiannya tertarik kepada lawan yang mendekatinya. Sambil bertempur melawan Citra Gati ia berkata “He, alangkah tangkasnya anak itu. Siapakah kau? Apakah kau ingin melawan Alap-alap Jalatunda?”
Agung Sedayu tidak segera menjawab. namun diamatinya perkelahian antara alap-alap itu melawan Citra Gati. Baru sesaat kemudian ia berkata “Aku Agung Sedayu, adik Untara yang cegat berempat disekitar Macanan”
“He, kaukah itu? Pengecut yang selama ini aku cari-cari”
“Kita bertemu disini. Apakah aku benar-benar pengecut?”
Citra Gati menjadi heran. Apakah mereka sudah berkenalan? Tetapi kemudian diingatnya cerita Agung Sedayu tentang perjalanannya malam-malam ia pertama kali datang di Sangkal Putung. Karena itu maka katanya sambil menggerakkan pedangnya, menangkis serangan Alap-alap Jalatunda “Apakah kau bertemu dengan kawan lama?”
“Ya” sahut Agung Sedayu.
“Kalau kau yang bertempur melawan aku sekarang, maka aku akan dapat melepaskan sakit hatiku. Bukankah kakakmu yang namanya Untara itu membunuh tiga orang kawan-kawanku?” teriak Alap-alap Jalatunda.
Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian katanya “Kau masih marah?”
“Setan” desis Alap-alap Jalatunda. “Kalau kau tidak melarikan diri waktu itu, maka kau telah aku cincang dibawah randu alas ditikungan”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. “Ya” katanya dalam hati. “Kalau pada saait itu Kiai Gringsing tidak menolongku, mungkin aku benar-benar telah dicincangnya”
Kemudian jawabnya “Tetapi sekarang kita bertemu lagi”
“Jangan lari. Setelah aku menyelesaikan yang seorang ini, akan datang giliranmu”
Citra Gati tersinggung mendengar kata-kata itu. Karena itu ia memperketat serangannya sambil berteriak “Apa kau sangka aku ini dapat kau kalahkan?”
Alap-alap Jalatunda terkejut. Serangan Citra Gati benar-benar berbahaya. Sedang seorang yang lain telah menyerang Agung Sedayu pula. namun sekali lagi dengan mudahnya Agung Sedayu dapat menghindarinya. Bertempur beberapa saat, kemudian dengan sejuat tenaga melawan serangan orang itu dengan serangan pula, sehingga kedua senjata mereka beradu. Ketika pedang lawannya itu masih bergetar ditangannya, mak dengan cepatnya Agung Sedayu memukul pedang itu sehingga terlepas pula dari genggamannya. Namun sekali lagi ia ragu-ragu untuk membunuhnya. Maka dibiarkannya lawannya itu berlari menyusup diantara riuhnya pertempuran.
Kini, setelah beberapa kali Agung Sedayu meyakinkan kemampuannya, maka dengan tangkasnya ia meloncat mendekati Citra Gati sambil berkata “Lepaskan anak muda itu paman. Biarlah ia melawan aku dahulu”
Citra Gati mengangkat dahinya. Sebenarnya ia ingin menyobek mulut Alap-alap Jalatunda yang telah menghinanya itu. Tetapi ia tidak mampu. Karena itu maka jawabnya “Silakan. Kalau kawan lama sudah bertemu, maka aku akan menyingkir”
“Kau mau bunuh diri?” teriak Alap-alap Jalatunda “Beberapa waktu yang lalu kau melarikan dirimu, sekarang kau bersombong diri, melawan aku”
“Pada waktu itupun aku tidak lari” sahut Agung Sedayu yang mencoba menutupi kekecewaannya atas masa lampau itu “Waktu itu aku sedang menyelamatkan kakang Untara”
Alap-alap Jalatunda mencibirkan bibirnya. Anak muda itu dapat mengingatknya dengan baik ketika Agung Sedayu berdiri dengan gemetar melihat Untara bertempur seorang diri.
Tetapi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar menjadi heran, bahwa kini Agung Sedayu benar-benar berani melawannya atas kehendak sendiri. bahkan sengaja mendatanginya dan menyatakan dirinya untuk bertempur melawannya.
Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus. Citra Gati yang kemudian melepaskan lawannya, segera mendapat serangan dari orang-orang Alap-alap Jalatunda yang menyangka bahwa Agung Sedayu dan Citra Gati akan mengeroyok pimpinan sayapnya. Tetapi Citra Gati segera berkisar dari tempatnya, dan menyambut serangan itu dalam jarak yang cukup dari Alap-alap Jalatunda.
Kini Alap-alap Jalatunda berdiri bebas tanpa lawan seperti Agung Sedayu. Anak buahnya segera mengerti bahwa mereka beruda akan berhadapan sebagai lawan. Demikian juga dengan anak buah Citra Gati. Karena itu maka mereka tidak akan mengganggu kedua orang yang sudah siap untuk bertempur itu. Bahkan mereka sedang sibuk melayani lawan masing-masing.
Alap-alap Jalatunda itu sekali melayangkan pandangannya kearena yang tidak begitu luas itu. Perkelahian masih berlangsung dengan sengitnya. Terasa bahwa jumlah lawannya agak sedikit lebih banyak. Tetapi beberapa orang diatara mereka adalah anak-anak muda yang belum begitu tangkas mempergunakan senjata-senjata mereka, sehingga mereka terpaksa bertempur berpasangan. Tetapi anak buah Widura sendiri, telah bertempur mati-matian. Dan sebenarnya tandang mereka ngedap-edabi. Dengan demikian maka anak-anak muda Sangkal Putung yang berbekal tekad yang menyala didalam dada mereka itupun menjadi garang pula. diantara mereka, Swandaru tampak mempunyai beberapa kelebihan. Bahkan kini ia tidak kalah tangkas dengan setiap orang didalam pasukan kecil itu. Pedangnya yang besar berputar menyambar-nyambar seperti baling-baling. Dan setiap benturan, langsung terasa oleh lawannya bahwa kekuatannya benar-benar bukan main. Karena itulah maka Swandaru itu benar-benar mengamuk seperti banteng yang terluka.
Alap-alap Jalatunda itu kemudian memandang Agung Sedayu yang telah siap beridir dimukanya. Dengan wajah yang tegan Alap-alap Jalatunda itu membentak “He, apakah kau sekarang sudah mendapat seorang guru yang pilih tanding? Yang mampu meremas prahara?
Agung Sedayu masih juga berdebar-debar. Meskipun demikian ia merasa bahwa ia tidak takut lagi menghadapinya. Karena itu maka katanya “Alap-alap Jalatunda, aku telah mendapat guru yang sangat bauk. Aku berguru pada keadaan dan waktu. Akhirnya aku beranimenghadipmu kini”
Alap-alap Jalatunda tertawa. katanya “Nah, berperisailah dengan segala macam mantra, doa, aji dan ilmu. Namun sebentar lagi dadamu akan tembus oleh ujung pedangku”
“Tidak. Aku hanya berperisai dengan keyakinan akan kebenaran perjuanganku. Mudah-mudahan Tuhan membenarkan pula”
“Huh, setiap orang meyakini kebenaran perjuangannya. Akupun yakin, Karena itu jangan membual tentang kebenaran”
“Kau benar” sahut Agung Sedayu “Tetapi marilah kita cari kebenaran yang jujur. Kebenaran yang dibenarkan oleh Tuhan kita. Bukankah kau juga mengakui kebenaran yang mutlak itu?”
“Pandangan kita tak akan bertemu”
“Mungkin tidak. Tetapi apa yang kau lakukan selama ini, perampokan, pencegatan, perkosaan atas kebebasan dan kemanusiaan adalah sama sekali tidak mencerminkan kebenaran perjuanganmu”
“Jangan menggurui aku. Kita sudah memegang pedang ditangan masing-masing”
“Bagus. Aku sudah siap”
Alap-alap Jalatunda tidak berbicara lagi. Segera ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Namun Agung Sedayupun telah siap pula. ia telah banyak mengalami penempaan selama ini. Dari kakaknya dimasa kanak-kanaknya, dari ayahnya dan akhirnya dari pamannya. Namun ia sendiri telah menemukan banyak persoalan yang dapat dipecahkannya lewat lukisan-lukisannya yang telah disempurnakan oleh kakaknya, sehingga dengan demikian, maka Alap-alap Jalatunda benar-benar menjadi heran. Agung Sedayu adalah anak muda yang perkasa.
Demikianlah mereka terlibat dalam perkelahian yang sengit. Alap-alap Jalatunda yang ber tanggung-jawab atas anak buahnya, segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk secepat-cepatnya berusaha menyelesaikan pertempuran itu. Sedang Agung Sedayu kemudian melawannya dengan gigih.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba timbullah berbagai pertanyaan didalam diri Agung Sedayu. Ia belum pernah mengalami pertempuran yang sebenarnya. Karena itu, ia menjadi heran. Apakah Alap-alap Jalatunda itu tidak bertempur dengan segenap kemampuannya? Apakah anak muda itu sengaja memancingnya atau membiarkannya menjadi lelah?
Sampai sedemikian lama, Agung Sedayu sama sekali tidak merasakan sesuatu kesulitan untuk melawan Alap-alap Jalatunda yang ditakutinya. Ia dapat melawan dengan baik, bahkan kadang-kadang ia mampu melibat lawannya dalam keadaan yang sangat sulit. Karena itu maka Agung Sedayu justru menjadi bingung. Ia akhirnya menyangka bahwa Alap-alap Jalatunda belum bertempur dengan sepenuh kemampuannya. Dengan demikian, maka Agung Sedayupun berusaha menyimpan sebagian dari tenaganya untuk menghadapi setiap saat apabila Alap-alap Jalatunda itu mengerahkan ilmunya.
Tetapi sebenarnya bahwa Alap-alap Jalatunda telah berjuang mati-matian untuk membinasakan lawannya. Namun betapa ia menjadi heran. Lawannya itu menjadi seperti hantu yang sangat membingungkannya. Sekali-sekali ia dapat menghadapinya dengan mantap, namun tiba-tiba bayangannya telah melontar mengitarinya seperti bayangan hantu yang tidak berjejak diatas tanah. Karena itu, maka keringat dingin telah mengalir disegenap wajah kulitnya. Meskipun demikian Alap-alap Jalatunda itu masih bertempur dengan garangnya.
Hal inilah yang tidak diketahui oleh Agung Sedayu. Ia masih menyangka bahwa Alap-alap Jalatunda belum bertempur sebenarnya.
Dengan demikian, maka Agung Sedayu itupun masih menunggu. Disimpannya sebagian dari tenaganya. Apabila saatnya datang, maka segera ia siap untuk bertempur mati-matian.
Bagaimanapun juga, Agung Sedayu itu masih juga terpengaruh kenangan masa-masa lampaunya. Ia masih menganggap bahwa Alap-alap Jalatunda adalah seorang anak muda yang perkasa. Karena itu maka ketika ia mengalami pertempuran melawan alap-alap itu, ia menjadi ragu-ragu. Sebab dalam perkelahian itu ternyata, bahwa Alap-alap Jalatunda sama sekali tidak segarang yang disangkanya, sehingga dengan demikian ia tetap mengira, bahwa Alap-alap Jalatunda masih menyimpan sesuatu yang akan dipakainya untuk mengakhiri pertempuran.
Demikianlah maka mereka berdua masih berempur dengan serunya, didalam riuhnya pertempuran antara laskar Widura dan anak-anak Sangkal Putung disatu pihak dan laskar Tohpati dilain pihak.
Sementara itu, induk pasukan merekapun bertempur dengan serunya pula. mereka telah berjuang sekuat-kuat tenaga mereka. Sejak munculnya laskar yang dipimpin oleh Citra Gati itu maka Macan Kepatihan yang cerdik segera dapat menduga, bahwa akan datang pula serangan dari sayap lain. Karena itu segera ia berteriak “Siapkan sayap kiri”
Dan sebenarnyalah laskar Pajang yang dipimpin oleh Sidanti itupun segera melanda lawannya seperti arus banjir yang berusaha memecahkan tebing. Bergulung-gulung gelombang demi gelombang.
Sidanti telah mengatur anak buahnya dalam sap-sap yang tipis. Sebagian anak buahnya langsung berusaha masuk kedalam barisan lawan. Sedang lawan-lawan mereka yang berdiri dibaris terdepan, harus berhadapan dengan lapis-lapis yang berikutnya. Dengan demikian, maka mereka menjadi ragu-ragu. Karena itu itu maka pertempuran yang ribut itu berlangsung dalam suasana yang tidak menentu. Apalagi malam yang pekat telah melindungi wajah-wajah mereka sehingga sukar untuk membedakan siapakah lawan dan yang manakah kawan. Tetapi dengan demikian Sidanti telah berhasil mengurangi kemungkinan yang tidak diharapkan bagi mereka yang masih belum lanyah mempermainkan senjata, sebab dalam keadaan demikian, mereka bertempur berpasang-pasang, bahkan kadang-kadang dalam jumlah tiga atau empat bersama-sama.
Dalam keadaan demikian itulah maka kedua belah pihak memandang perlu untuk menyalakan obor-obor lebih banyak lagi sehingga oleh sinar obor-obor itu mereka dapat sedikit membedakan, antara lawan dan kawan.
Namun Plasa Ireng tidak membiarkan pertempuran itu menjadi kisruh tidak menentu. Karena itu maka segera ia berteriak “Jangan berkisar dari satu titik. Merengganglah, dan carilah jarak diantara kawan sendiri”
Arena pertempuran yang mula-mula justru menjadi kian sempit itu, maka perlahan-lahan menebar kembali. Laskar Jipang bukan pula laskar kemarin petang. Karena itu segera mereka dapat menempatkan diri mereka dengan baik.
Sidanti yang memimpin laskar Pajang itupun segera dapat melihat siapakah yang memegang perintah dalam laskar lawannya. Karena itu maka tanpa berkata apapun segera ia meloncat menyerbunya.
Plasa Ireng terkejut melihat anak muda itu. Sekali ia meloncat kesamping kemudian dengan menggeram ia berkata “Siapakah kau?”
“Sidanti” sahut Sidanti. Namun sementara itu, senjatanya yang berujung tajam dikedua sisinya berputar dengan cepatnya. Sekali-sekali mematuk dan sekali-sekali menyambar hampir menyentuh wajah Plasa Ireng.
Plasa Ireng itu menjadi marah bukan buatan. Dengan menangkis setiap serangan Sidanti ia menggeram “apakah kau sudah jemu hidup?”
Sidanti menyerang semakin garang. Meskipun demikian ia menjawab “Kita berada dimedan pertempuran. Jangan ribut”
Plasa Ireng itupun kemudian berteriak nyaring. Dengan garangnya ia melawan serangan-serangan Sidanti. Iapun bukan anak-anak yang baru sekali menyaksikan darah tertumpah. Plasa Ireng adalah prajurit sejak mudanya. Seakan-akan ia memang dilahirkan untuk memanggul senjata.
Demikianlah perkelahian itu cepat menanjak menjadi dahsyat sekali. Sidanti bergerak dengan lincahnya, sedang Plasa Ireng bertempur dengan tangguhnya. Keduanya memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang kebanyakan.
Namun ketika Plasa Ireng sempat memperhatikan senjata lawannya, maka iapun menjadi berdebar-debar. Ciri yang ada ditangan Sidanti itu adalah ciri perguruan Tambak Wedi.
“Hem” desisnya sambil bertempur “Apakah kau murid Ki Tambak Wedi?”
Sidanti menjadi berbangga hati mendengar pertanyan itu “Ya” jawabnya singkat.
Sekali lagi Plasa Ireng menggeram “Jangan berbangga. Aku mendengar nama Ki Tambak Wedi dari Macan Kepatihan. Karena itu aku akan mencoba, apakah berita tentang Tambak Wedi itu benar-benar mendebarkan hati”
Sidanti menjadi tersinggung karenanya. Maka senjatanya menjadi semakin dahsyat berputar-putar mengitari tubuh lawannya. Bagaimana Plasa Irengpun telah mencapai puncak kemarahannya. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi bertambah seru. Sebenarnyalah Sidanti memiliki beberapa keanehan. Ia mampu meloncat-loncat seperti kijang, namun kadang-kadang ia menyambar seperti elang. Dengan penuh tekad, ia ingin menunjukkan kelebihannya dari setiap orang dari kedua belah pikak. Ia ingin membunuh lawannya itu, dan karena itu ia ingin membanggakan dirinya kepada setiap orang di Sangkal Putung.
Tetapi Plasa Ireng itupun ingin berbuat serupa. Ia ingin segera membinasakan murid Ki Tambak Wedi itu. Dengan demikian iapun akan dapat membanggakan dirinya pula.
Plasa Ireng pernah mendengar dari Macan Kepatihan bahwa murid Ki Tambak Wedi ternyata telah berhasil menyelamatkan dirinya ketika ia bertempur melawan Macan Kepatihan itu sendiri “Tetapi ia akan mati kali ini” berkata Plasa Ireng didalam hatinya. Dengan demikian maka pertempuran diantara mereka menjadi semakin seru. Masing-masing berhasrat untuk membunuh lawannya. Tanpa ampun, tanpa pertimbangan lain.
Ketika keuda sayapnya telah mendapatkan lawan masing-masing, maka kini Tohpati menjadi tenang. Kini ia tinggal mengatur induk pasukannya. Ketika dengan seksama ia memperhatikan pertempuran itu, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ia menyesal bahwa kunci pertempuran itu telah dibuka oleh laskar Pajang. Sesaat yang pendek itu ternyata benar-benar berpengaruh atas laskarnya.“Hem” ia menggeram. “Sekali lagi dapat disegap oleh Widura. Jaringan pengawasannya benar-benar luar biasa. Tetapi sejak pertempuran ini dimulai, aku belum memlihatnya. Aku belum melihat seorangpun yang memberi aba-aba pada laskar ini”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 September 2008 at 07:50  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-06/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. ijinkan saya bermesu diri di tempat ini ki GD,
    bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

    # silakahkan kisanak

    • ikut dong

      • Kemana ?..Kemana ?…Kemana ?.. 😀

        • bukan alamat palsuuuu

          • ijinkan saya berHADIR lagi di tempat ini ki GD,
            bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

  2. wuiiii, kabuuurrr…..

    • Kemana ?..Kemana ?

      • tinggalnya sekarang di mana tuing …

  3. Antri nomer 3 oleh medali perak

  4. ijinkan saya berHADIR lagi di gandok ini nyi SENO,
    melacak jeJAK keberadaan ki Abdus S, ki Kartojudo
    yang menghilangkan diri dari gandok sebelah.

    tanpo woro-woro….tanpo di nyono-nyono makBlass
    “wes-wes….weeess”,

    • welah dalah aku ke sini nyari alamat ayu tuing tuing jeh 🙂

  5. yang kuterima ….
    alamat palsu ….

  6. ndherek nyerot ki, nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: