Buku 06


Namun laskar lawan mereka, menjadi semakin dekat pula. bahkan beberapa orang tleah berlari melingkar dan meloncati pagar-pagar batu yang melingkari desa itu.
Orang-orang yang berada didalam semak-semak itu merasa, bahwa mereka tidak akan dapat melawan mereka. karena itu maka merekapun semakin dalam membenamkan diri kedalam padesan sambil mencari perlindungan didalam gelapnya malam.
Tiba-tiba, keenam orang itu menengadahkan wajah-wajah mereka. Dari kejauhan mereka mendengar derap orang berlari-lari. “Laskar cadangan” pikir mereka. karena itu maka pemimpin gardu itupun segera memberikan tanda sandi kepada mereka. “Gardu selatan. Langsung dari arah angin. Laskar lawan mendekati pada jarak limapuluh depa”
Sebenarnyalah mereka adalah laskar cadangan yang berada dikademangan. Namun kekuatan merekapun tidak seberapa. Meskipun demikian, keenam orang peronda itu menjadi berbesar hati. Sebab dengan demikian, maka perlawanan mereka akan menjadi lebih berarti. Dari kejauhan terdengar pemimpin laskar cadangan itu menjawab “Kami segera datang”
Yang menyahut kemudian adalah suara Sanakeling. “Hem. Kalian memanggil kawan-kawan kalian. Baiklah. Agaknya kalian ingin mendapat kawan lebih bayak lagi dalam perjalanan kalian ke akhirat”
Namun beberapa orang Sanakeling itupun telah sedemikian dekatnya. Sehingga tiba-tiba saja mereka telah terlibat dalam perkelahian. Kedua laskar Widura itu segera melepaskan busur mereka, dan dengan serta-merta mereka telah mencabut pedang-pedang mereka. Ketika beberapa orang melompat menerkamnya, maka segera terjadi perkelahian yang sengit. Keempat kawannya itupun tidak membiarkan kedua orang itu bertempur sendiri. ketika mereka sudah tidak dapat membidikkan anak panah mereka, maka merekapun segera melemparkan busur mereka, dan dengan golok ditangan mereka menyerbu pula dalam perkelahian iu. Namun mereka benar-benar belum banyak berpengalaman dalam pertempuran malam. karena itu, maka mereka tidak dapat melakukan perlawanan dengan sebaik-baiknya. Setapak demi setapak mereka terdesak mundur. Apalagi lawan-lawan mereka kemudian datang berloncatan.
Tetapi dalam pada itu, laskar cedangan itupun telah datang pula. segera mereka melibatkan diri dalam perkelahian itu. Meskipun jumlah mereka belum memadai jumlah laskar Sanakeling, namun didalam malam yang gelap itu, amatlah sukar untuk membedakan, siapa kawan siapa lawan. Meskipun laskar masing-masing agaknya telah memiliki tanda-tanda sandi mereka masing-masing, namun dalam keributan pertempuran itu, maka banyak diatara mereka yang menjadi ragu-ragu. Laskar Jipang dan laskar Pajang yang telah jauh lebih berpengalaman dari anak-anak muda Sangkal Putung itupun masih juga belum dapat menempatkan diri mereka dengan baik. Sebab sebenarnya mereka tidak terlalu biasa mengadakan pertempuran dimalam hari dalam jumlah yang cukup besar.
Sanakeling melihat kesulitan itu. Maka teriaknya kemudian “Nyalakan obor. Jumlah kita lebih banyak. Apalagi lawan-lawan kita adalah cucurut-cucurut dari Sangkal Putung”
Pemimpin laskar cadangan itupun tak mau anak buahnya berkecil hati karena teriakan-teriakan lawannya. Maka dengan lantang pula mereka menjawab “He anak-anak muda Sangkal Putung yang ikut dalam pertempuran ini. Lihatlah apa yang kami lakukan. anggaplah pertempuran ini sebagai latihan. Sebaba ternyata yang dikirim oleh Tohpati kemari tidak lebih dari laskar yang mereka tempukan disepanjang pengungsian mereka”
“Gila” sahut Sanakeling. “Inilah Sanakeling. Siapa yang berteriak-teriak itu”
Pemimpin laskar cadangan itu tergetar hatinya. Sanakeling. Nama itu pernah didengarnya sebagai pemimpin laskar Jipang disebelah utara. Namun ia tidak mau mengecilkan hati anak buahnya yang sedang bertempur itu. Maka katana didalam gelap “Ha. Bukankah terkaanku benar. Sanakeling yang lari dari tekanan laskar Pajang disebelah utara, yang dipimpin langsung oleh Ki Panjawi”
“Gila. Siapakah kau. Ayo tampakkan dirimu”
Namun pemimpin laskar cadangan itu tidak mendekati Sanakeling. Sebab ia tahu, bahwa orang itu benar-benar bukan lawannya. Meskipun demikian ia menjawab “Disini. Datanglah kemari”
Sanakeling menjadi marah bukan buatan. Ia meloncat dengan garangnya kearah suara itu. Namun perkelahian menjadi semakin ribut. Dan sekali lagi ia berteriak “Tenaga kita berlebihan. Sebagian dari kalian nyalakan obor”
Sesaat kemudian beberapa obor telah menyala. karena itu daerah pertempuran itu menjadi agak terang. Dibeberapa bagian segera tampak wajah-wajah mereka samar-samar didalam bayang-bayang yang selalu bergerak-gerak. Pemimpin laskar Pajang menjadi cemas karenanya. Dengan demikian keringkihan laskarnya segera akan nampak. Namun demikian, laskar Pajang bersama laki-laki dari Sangkal Putung sendiri itu telah siap mengorbankan apa saja yang ada pada mereka.
Karena itu maka betapapun besarnya bahaya yang mengancam, namun mereka sama sekali tidak gentar. Bahkan dengan demikian, mereka segera menyerbu musuh-musuh mereka, mengamuk sejadi-jadinya. Mereka telah siap berkorban untuk kampung halaman mereka yang mereka cintai. Sawah ladang mereka yang telah memberi kepada mereka makan dan minum, serta lumbung-lumbung mereka, persediaan buat hari-hari mendatang, persediaan buat anak-anak mereka dimusim paceklik. Dengan demikian, maka pertempuran diujung desa Sangkal Putung itu segera berkobar dengan dahsyatnya. Sanakeling yang melihat keberanian laskar Sangkal Putung itu menggeram marah. Dengan wajah yang merah padam segera iapun terjun kekancah pertempuran itu.
Namun segera mereka dikejutkan oleh sorak-sorai yang membahana, seolah-olah mengalir disepanjang jalan disisi desa itu. Sesaat kemudian mereka melihat obor yang beterbangan menuju kekancah pertempuran itu. Kemudian diantara sorak yang menggelegar itu terdengar suara lantang “He, siapakah yang memimpin sempalan laskar Tohpati?”
Suara itu belum terjawab. Namun obor-obor yang seolah-olah beterbangan berebut dahulu itu menjadi semakin dekat. Dari antara mereka terdengar kembali suara “Angin barat. Sayap selatan. Ayo, siapa yang berada dipihak lawan?”
Mendengar suara itu laskar Pajang yang sedang bertempur itupun tiba-tiba bersorak pula. mereka mengenal tanda sandi itu, dan merekapun mengenal suara itu, suara Widura. Karena itu maka segera mereka menyahut “Laskar mereka dipimpin oleh Sanakeling”
“Setan”geram Sanakeling “Siapa yang datang?”
Sebenarnyalah yang datang itu adalah Widura beserta sebagian laskarnya. Dengan tergesa-gesa mereka berloncatan diatas parit-parit dan pematang supaya mereka segera sampai ke Sangkal Putung. Ketika mereka melihat nyala obor yang menerangi daerah sekitar gardu selatan itu hati mereka menjadi berdebar-debar. Rupanya laskar lawan benar-benar telah sampai ke Sangkal Putung. Tanda bahaya yang menggema diseluruh kademangan, telah mendorong mereka untuk berjalan lebih cepat. Karena itu kemudian mereka tidak saja berjalan cepat-cepat, namun mereka telah berlari-larian berebut dahulu.
Demikian mereka memasuki Sangkal Putung. Maka segera Widura memerintahkan kepada laskarnya untuk mempengaruhi pertempuran itu dengan caranya. Laskar yang dibawanya itu segera bersorak dengan riuhnya.
Ternyata usaha Widura itupun mempunyai pengaruh pula. laskar cadangan yang lebih dahulu telah terlibat dalam pertempuran itu menjadi berbesar hati, sehingga karena itu maka perlawanannya menjadi semakin seru. Meskipun saat-saat itu tidak terlalu panjang, namun saat-saat itu adalah saat-saat yang menentukan. Tekanan yang berat dari laskar Sanakeling, hanpir-hampir menjebolkan laskar cadangan itu. Apabila demikian, maka arus mereka benar-benar akan melanda kademangan. Sehingga kademangan dan seluruh Sangkal Putung pasti akan menjadi geger.
Beberapa orang dari laskar Sanakeling itu telah siap untuk langsung menerobos masuk ke Sangkal Putung. Namun karena sorak sorai yang riuh itu, serta nyala api obor yang meluncur dengan cepatnya kedaerah pertempuran, terpaksa mereka mengurungkan niat itu. Mereka menunggu sementara apa yang akan terjadi.
Sanakeling yang melihat perubhan didalam tata pertempuran itu segera mengatur anak buahnya. Mereka yang telah bersiap untuk langsung masuk kejantun Sangkal Putung segera ditariknya kembali. Mula-mula Sanakeling itu berharap, bahwa dengan sebagian saja dari laskarnya, maka laskar cadangan itu akan dapat dimusnahkan, sedang yang lain-lain akan dapat merambas jalan masuk kepusat kademangan itu sebelum laskar Tohpati datang. Namun tiba-tiba rencananya itu terpaksa diurungkan. Dengan marahnya terdengar Sanakeling itu menggeram “He, ternyata cecurut-cecurut itu bertambah pula. jangan diberi kesempatan untuk memandang fajar esok”
Terdengar kemudian suara tertawa “Aku pernah mendengar suara itu” berkata suara itu diantara tertawanya.
“Setan” Sanakeling itu mengumpat “Siapakah yang memimpin laskar Pajang itu?”
“apakah kau Sanakeling?” sahut Widura yang belum menampakkan dirinya.
Sanakeling menggeram keras sekali. Sementara itu, laskar Widura telah terjun pula kedalam pertempuran yang menjadi semakin riuh.
“Inilah Sanakeling” teriak Sanakeling.
Sesaat Widura melihat pertempuran itu. Ia melihat beberapa orang laskarnya menebar. Mengambil arah yang tepat, langsung menghadapi laskar Sanakeling. Beberapa orang diantaranya memegang obor ditangan kiri dan pedang ditangan kanan. Sedang beberapa orang yang lain berusaha melindunginya. karena itu maka pertempuran itupun bertambah ribut pula. obor-obor berhamburan kian kemari pada kedua belah pihak. Sedang kawan-kawan mereka sibuk mempertaruhkan nyawa mereka.
Gemerincing pedang diantara pekik sorak gemuruh membelah sepi malam. Sekali-sekali terdengar sebuah jerit yang membumbung tinggi.
Tajam pedang berkilat-kilat dalam sinar obor yang kemerah-merahan. Tetapi warna merah itu telah bertambah merah karena darah yang tertumpah.
“Perang brubuh” desah Widura “keduanya tidak lagi pasang gelar. Tetapi tiba-tiba Widura terkejut. Diantara riuhnya pedang, tampaklah seseorang yang meloncat-loncat dengan lincahnya. Sekali-sekali pedannya terjulur dan kemudian terayun deras sekali. Widura itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “itulah Sanakeling” desisnya. “Pedang ditangan kanan dan bindi ditangan kiri.”
Widura tidak dapat membiarkannya menyambar-nyambar diantara laskarnya. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia meloncat langsung menghadapi pemimpin laskar Jipang dari utara itu.
“He” Sanakeling itu terkejut ketika ia melihat Widura hadir dalam pertempuran itu.
Widura kini telah tegak dihadapannya dengan sebuah pedang yang khusus. Pedang yang tidak terlalu tajam, namun ujungnya runcing seruncing ujung jarum.
“Aku memang mengharap dapat bertemu dalam pertempuran ini.” Berkata Sanakeling.
“Sekarang kau telah berhadapan dengan Widura. Menyesal bahwa pertempuran kita kali ini tidak terlalu leluasa.” Sahut Widura.
Sanakeling menggeram. Widura telah lama dikenalnya, dan ia telah mengenal pula kemampuan yang tersimpan didalam dirinya. Mereka dulu adalah kawan yang baik meskipun tidak terlalu akrab. Namun keadaan yang memisahkan Pajang dan Jipang sesudah Sultan Trenggana wafat, telah memutuskan hubungan mereka pula.
Dan Sanakelingpun tahu, siapa yan memimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Dari Tohpati dia mendengar, bahwa Widura beberapa waktu dahulu, setelah ia memimpin sendiri laskar Pajang di Sangkal Putung. Mungkin karena tanggung jawab yang sepenuhnya berada dipundaknya. Mungkin karena ketekunannya berlatih. Dan dari Tohpati ia mendengar bahwa dalam barisan Widura itu pula terdapat seorang anak muda yang bernama Sidanti, murid Ki Tambak Wedi.
Sanakeling menyadari bahwa ia harus berhadapan dengan salah satu diantara keduanya. Kalau ia harus melawan Sidanti maka Plasa Irenglah yang harus melawan Widura atau sebaliknya.
Sedangkan Tohpati akan dapat dengan leluasa membuat rencana mengatur laskarnya untuk langsung menembus jantung Sangkal Putung. Mungkin Plasa Ireng masih belum memadai kekuatan Widura atau Sidanti,namun Alap-alap Jalatunda akan dapat menyelesaikannya. Betapapun, tetapi anak muda yang menamakan dirinya Alap-alap Jalatunda memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang lain didalam laskar Tohpati yang diperkuat itu.
Dan kini, ternyata yang tampil dihadapannya adalah Widura. Karena itu maka katanya “Apakah aku berhadapan dengan induk pasukan?”
Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada seseorang yang berdiri tegak disampingnya dengan sebuah tombak pendek ditangan. Orang itu adalah seorang penghubung yang memang sedang menunggu perintah. Karena itu ia tidak turut bertempur.
“Sampaikan kepada laskar yang tinggal, bahwa aku tetap berada di Sangkal Putung. Sebab aku bertemu kawan lamaku Sanakeling.”
Orang itu mengangguk, namun ketika ia sedang bergerak maka Sanakeling itu berteriak ‘tungggu”
Orang itu berhenti, namun Widura memberi isyarat untuk berjalan terus. “He” teriak Sanakeling “berhenti”
Tetapi orang itu tidak berhenti. Karena itu Sanakeling berteriak pada anak buahnya “hentikan orang itu”
Seseorang meloncat maju memburunya. Namun orang itu telah tenggelam dibalik lindungan beberapa orang kawannya, sehingga Sanakeling seterusnya hanya mengumpat-umpat.
“He,Widura “ bertanya Sanakeling itu pula “apakah aku berhadapan dengan induk pasukan?”
Widura berpikir sejenak “kemudian katanya “ya, kau berhadapan dengan induk pasukan.”
Sanakeling mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Katanya “jadi inikah induk pasukan Sangkal Putung yang kau bangga-banggakan?”
“Aku tak pernah membangga-banggakannya. Sekarang kau melihatnya sendiri.”
“Hem” Sanakeling menggeram pula. Sekali lagi ia memandang pertempuran itu. Ia kini benar-benar terkejut. Dalam pertempuran itu terjadi banyak sekali perubahan hanya dalam waktu yang sangat pendek. Ternyata kehadiran laskar Widura benar-benar telah merubah keseimbangan pertempuran itu.
“Gila” Sanakeling mengumpat dengan kasarnya “ketahuilah Widura, dibelakangku masih ada bagian dari laskar yang jauh lebih kuat dari laskar ini. Kalau aku sudah berhadapan dengan induk pasukan maka pasukanmu yang lain sesaat kemudian pasti sudah akan musnah. Dan kemudian akan datang saatnya induk pasukanmu ini musnah pula.
Widura tersenyum. Jawabnya “Ya, aku tahu. Sisa-sisa laskar Jipang agaknya benar-benar telah dipusatkan disekitar Sangkal Putung. Kalau sempalan laskarnya disini dipimpin Sanakeling, maka dibagian yang lain masih ada Tohpati sendiri, Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan siapa lagi?”
“Gila, kau sadari kedudukanmu Widura, kalau begitu kau telah benar-benar siap mati. Nah lihatlah, Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya.
Widura bergeser setapak. Disekitarnya pertempuran masih berkecamuk. Namun mereka seolah-olah sama sekali tak menghiraukan kedua pemimpin yang asyik bercakap-cakap itu.
Tetapi kini mereka sudah tidak bercakap-cakap lagi. Mereka masing-masing telah mengangkat pedang, dan terdengar Sanakeling itu berkata “kau harus mati dulu Widura. Laskarmu akan buyar dengan sendirinya.”
“Aku atau kau” sahut Widura.
Sanakeling tidak menjawab. Digerakkannya pedangnya sambil berkata “apakah dadamu sudah berperisai baja.”
Widura menyilangkan pedangnya dimuka dadanya sambil ,menjawab “Inilah perisaiku.”
Sanakeling sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada menyelesaikan dahulu orang ini, pemimpin laskar Sangkal Putung itu. Dengan demikian maka laskar Sangkal Putung itu akan menjadi tercerai berai dengan sendirinya. Apalagi kalau laskar Tohpati kemudian datang melanda desa yang sedang ketakutan itu maka semuanya akan segera selesai. Meskipun ia menjadi cemas juga melihat perkembangan pertempuran itu.
Karena itu maka segera ditundukkannya pedangnya. Dengan gerakan pendek dijulurkannya pedang itu kedada Widura.
Gerak Sanakeling itu menjadi isyarat dari suatu perkelahian yang akan menjadi dasyat sekali. Sebab Widura kemudian mundur selangkah sambil menangkis dengan pedangnya. Sentuhan dari kedua pedang itu untuk yang pertama kalinya, disusul dengan sentuhan-sentuhan yang berikutnya. Semakin lama menjadi semakin dasyat. Dan berkobarlahh pertempuran antara Widura dan Sanakeling itu. Kedua-duanya adalah pemimpin yang telah cukup banyak makan asam garamnya peperangan. Masing-masing telah banyak memiliki perbendaharaan pengalaman didalam dirinya. Karena itu maka perkelahian itu segera menjadi perkelahian yang sengit. Sanakeling pernah mendengar keteguhan perlawanan Widura dari Tohpati sehingga ia dapat membandingkannya dengan apa yang pernah dilihatnya atas orang itu dahulu. Sedang Widura pernah mendengar tentangsn dari berbagai pihak. Ketrampilannya, kecepatannya dan ketangguhannya.
Kini mereka berhadapan dalam satu pertempuran. Dan ternyata apa yang telah mereka dengar itu sebenarnyalah demikian. Sanakeling terpaksa mengagumi ketangguhan lawannya, sedang Widura terpaksa berhati-hati karena ketrampilan Sanakeling itu benar-benar mengherankan.
Dalam pada itu, penghubung yang mendapat perintah Widura memberitahukan keadaan Sangkal Putung itu kepada Untara, segera melakukan tugasnya. Dengan berlari-lari kecil ia menghampiri kudanya yang ditambatkannya didalam gelap tidak jauh dari pertempuran itu, ditunggui oleh beberapa orang kawannya. Dengan tangkasnya ia meloncat keatas punggung kudanya, dan seperti angin kuda itu dipacunya ketempat kedudukan Untara, diujung Barat dari sebuah desa kecil dari kademangan Sangkal Putung.
Untara menerima berita itu denga mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “baik. Aku terima beritamu.”
Sesaat kemudian Untara segera mengurai keadaan yang dihadapinya. Kini ia benar-benar memimpin induk pasukan yang diserahkan oleh Widura itu kepadanya.
Ketika ia melihat Sidanti diantara mereka, maka anak muda itu segera dipanggilnya “Sidanti, sampai saat ini belum ada laporan bahwa induk pasukan Tohpati akan merubah arah. Kalau ia menempuh jurusan ini, maka kita segera akan berhadapan. sekarang, kau aku serahi untuk memimpin laskar sayap kanan. Atas nama kakang Widura, yang dikuasakan kepadku, ambillah pimpinan itu. Kalau Tohpati telah terlibat dalam pertempuran dengan induk pasukan ini, maka ambillah arah lambung dan usahakan serangan itu dengan sangat tiba-tiba”
Tetapi Untara itu terkejut ketika Sidanti menjawab sama sekali diluar dugaannya “Aku adalah anak buah kakang Widura. berilah perintah kepada kakang Widura. dan biarlah kakang Widura yang memberi perintah kepadaku”
Untara mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ditahannya hatinya, katanya “Aku disini mendapat kekuasaan dari kakang Widura”
Sidanti itu tersenyum. “Aneh, pangkat serta jabatanmu lebih tinggi dari kakang Widura. Apakah wajar kalau kau mewakilinya?”
Untara menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya melontar jauh menembus gelapnya malam, telah siap menerkamnya, Macan Kepatihan beserta laskarnya yang benar-benar telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada pada mereka.
Karena itu, betapa darahnya bergolak, namun Untara mencoba sekuat-kuat tenagana untuk melawannya. Bahkan katanya kemudian “Sidanti, kau benar-benar perasa. Dalam keadaan seperti sekarang ini, marilah kita lupakan segala persoalan diantara kita masing-masing. Marilah kita lupakan seandainya ada perselisihan diantara pribadi kita masing-masing. Marilah kita pusatkan kemampuan yang ada pada kita untuk menghadapi lawan kita. Macan Kepatihan beserta laskarnya”
Sidanti mendengar kata-kata Untara itu. Terasa juga sesuatu menyentuh dadanya, sehingga karena itu katanya “Baiklah. Untuk kali ini aku penuhi perintah yang tidak lewat saluran yang sewajarnya itu, demi keselamatan Sangkal Putung”
“Terima kasih Sidanti” sahut Untara
Sidanti itupun segera pergi kesayap kanan. Atas nama pimpinan laskar Sangkal Putung ia memegang pimpinan sayap kanan. Apabila induk pasukan telah terlibat dalam pertempuran, maka ia harus segera menyerang dari arah lambung.
Beberapa orang yang berada disayap kanan itu menjadi kecewa atas kehadirannya. Tetapi mereka dalam keadaan yang genting, sehingga Karena itu mereka tidak berbuat apa-apa. mereka menyadari bahwa Sidanti adalah kekuatan yang tangguh untuk melawan setiap pimpinan yang namanya menakutkan dari pihak lawan. Para anggota itupun telah mendengar bahwa didalam pasukan lawan itu terdapat pula nama-nama Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda, Sanakeling dan yang lain-lain.
Diseberang kegelapan malam, Tohpati sedang sibuk menilai keadaan pula. ketika didengarnya tanda bahaya meraung-raung diseluruh Sangkal Putung, maka Macan Kepatihan itu tertawa. katanya kepada Plasa Ireng “Mudah-mudahan laskar Pajang ditarik sebaian besar kearah suara itu”
Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda yang muda itu tertawa pula. sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mereka berkata “Tanda bahaya itu pasti akan menarik sebagian besar dari mereka. Karena itu marilah kita menerobos langsung kepusat kademangan Sangkal Putung. Sebagian dari kita, masih akan sempat menyelamatkan laskar Sanakeling, apabila ia keroban lawan.
Macan Kepatihan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Bagus. Marilah kita bergerak”
Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda segera pergi ke kekelompoknya masing-masing. Dan sesaat kemudian Tohpati itupun segera memerintahkan laskar induk itu untuk maju.
Ternyata laskar induk itu tidak saja berjalan dalam gerombolan yang liar. Mereka berada dalam sebuah garis yang luas, hampir dalam gelar Garuda Ngalayang meskipun tidak sempurna.
Sengaja Tohpati memisahkan sayap-sayapnya dengan jarak yang cukup untuk memberi kesempatan kepada sayap-sayapnya itu melakukan kebijaksanaan menurut keadaan. Apabila ternyata laskar lawan tidak begitu berat, maka sayap-sayap pasukannya dapat berjalanterus menuju kejantung Sangkal Putung. Menduduki tempat-tempat yang penting, terutama lumbung-lumbung padi serta tempat-tempat perbekalan yang lain. Kemudian kademangan dan banjar desa. Tetapi kalau lawan yang dihadapi cukup kuat, maka mereka harus menempuhnya dari lambung.
Pengawas yang dipasang oleh Widura segera melihat kedatangan laskar lawan itu dalam tebaran yang luas. Karena itu segera ia merangkak-rangkak dan berusaha secepatnya menyampaikan berita itu kepada induk pasukannya.
Untara yang menerima berita itu segera mengatur laskarnya. Dipecahnya sebagian dari induk pasukan itu, untuk dengan tergesa-gesa menempati sayap kiri.
“Citra Gati memimpin sayap ini?” berkata Untara.
Citra Gati termangu-mangu sejenak. Dipandangnya Agung Sedayu dengan sudut matanya. Namun ia tidak bertanya sesuatu. Meskipun demikian Untara memaklumi. Katanya “Citra Gati, pimpinlah sayap ini. Biarlah Agung Sedayu besertamu. Ia bukan salah seorang dari laskar paman Widura, sehingga ia tidak dapat memegang pimpinan apapun. Tetapi ia akan dapat memberimu bantuan.”
Agung Sedayu menarik nafas. Meskipun kini ia tidak gemetar lagi, namun bagaimanapun juga, ia masih selalu ingin bersama-sama dengan kakaknya. Tetapi ia tidak dapat membantah. Karena itu maka katanya “Baik, kakang.”
“Cepat, berangkatlah.”
Citra Gati dan Agung Sedayu itupun segera membawa sebagian laskar Pajang dan beberapa anak-anak muda Sangkal Putung beserta mereka. Diantara mereka adalah Swandaru yang seolah-olah ingin berada didekat Agung Sedayu.
Kini Untara tinggal menantikan kedatangan laskar Tohpati. Namun Untara tidak ingin bertempur didalam desa yang gelap pekat. Karena itu, maka dibawanya laskarnya menyongsong induk laskar Tohpati yang semakin lama semakin dekat.
Setelah Untara itu menempuh jarak beberapa puluh langkah dari pedesaan maka laskarnya segera dihentikan. Diperintahkannya untuk menempatkan diri masing-masing sedemikian, sehingga tidak segera dapat dilihat oleh lawan-lawan mereka yang sedang mendekati. Apalagi dalam malam yang gelap segelap malam itu. Hanya cahaya bintang yang berkedipan dilangit sajalah yang dapat memberi kemungkinan untuk dapat memandang pada jarak yang dekat.
Tetapi ternyata laskar Tohpati itu tidak maju langsung dalam gelarnya. Ternyata beberapa orang diperintahkan oleh Macan Kepatihan itu merambas jalan. Mereka berkewajiban untuk mengetahui, apakah jalan yang mereka tempuh itu tidak berbahaya. Sebab Tohpati memang sudah menyangka, bahwa laskar Widura tidak akan menunggunya saja dipadesan yang berada dimukanya itu.
Meskipun demikian, namun laskar yang dipimpin oleh Untara itupun memiliki pengalaman yang cukup. Karena itu, ketika mereka telah mengendap dibalik pematang, maka dibiarkannya tiga orang laskar Tohpati yang mendahului barisannya untuk berjalan dengan tenang. Dibiarkannya orang itu melampaui barisan Untara yang diam-diam menunggu kehadiran lawannya.
Karena itulah maka, laskar Tohpatipun berjalan dengan tenangnya setenang ketiga orang yang mendahuluinya itu. Mereka tidak menduga bahwa laskar Widura yang dipimpin Untara beserta anak-anak muda Sangkal Putung itu telah menunggu mereka dibalik lindungan bayangan pematang yang hitam kelam.Maka ketika laskar Tohpati itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar suara Untara memecah sepi malam, mengatasi suara angin yang berdesah diantara daun-daun padi yang masih sangat muda. Diantara heningnya malam terdengar suara itu “Sergap…….!”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 12 September 2008 at 07:50  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-06/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. ijinkan saya bermesu diri di tempat ini ki GD,
    bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

    # silakahkan kisanak

    • ikut dong

      • Kemana ?..Kemana ?…Kemana ?.. 😀

        • bukan alamat palsuuuu

          • ijinkan saya berHADIR lagi di tempat ini ki GD,
            bernostalgia, menikmati jurus2 dasar ADBM

  2. wuiiii, kabuuurrr…..

    • Kemana ?..Kemana ?

      • tinggalnya sekarang di mana tuing …

  3. Antri nomer 3 oleh medali perak

  4. ijinkan saya berHADIR lagi di gandok ini nyi SENO,
    melacak jeJAK keberadaan ki Abdus S, ki Kartojudo
    yang menghilangkan diri dari gandok sebelah.

    tanpo woro-woro….tanpo di nyono-nyono makBlass
    “wes-wes….weeess”,

    • welah dalah aku ke sini nyari alamat ayu tuing tuing jeh 🙂

  5. yang kuterima ….
    alamat palsu ….

  6. ndherek nyerot ki, nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: