Buku 20

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 9 Oktober 2008 at 08:51  Comments (26)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/424/trackback/

RSS feed for comments on this post.

26 KomentarTinggalkan komentar

  1. Iseng2 tadi aku lihat jumlah pengunjung gubug reot bernama ADBM. Mata saya cukup terbelalak melihat jumlah pengunjung pada tanggal 9 November 08 yang mencapai 6000 kurang 5. Biasanya jumlah pengunjung hanya sekitar 2000an. Saya senang karena virus ADBM cepat menyebar.

    Menjawab pertanyaan kawan2 mengenai proses retype pasca format penayangan baru. Proses retype tetap berjalan. Bahkan kini lebih bebas dan melibatkan makin banyak partisipan. Dulu, proses retype hanya dikerjakan oleh tim editor yang kebagian sampur. Sekarang, siapa saja yang mau bisa ikut mengambil sampur dan meretype. Sehalaman2 juga OK. Kalau yang mau menjadi relawan ada 67 orang, seorang kan cukup retype 1 halaman. Halaman yang sudah diretype silakan dishout di boks komentar. Nanti kami akan mengumpulkannya dan menayangkannya di halaman Buku sebagaimana sebelumnya. Biar tidak overlapping, ada baiknya setiap satu halaman selesai diretype langsung dishout.

    Mudah2an segera ada yang memulai.

    DD

  2. Yang dimaksud begini ya Mbak DD:

    Buku 20 halaman 18:

    … lepaskan atau akan dapat melepaskan dirinya sendiri? Atau kita harus menunggu sampai Sidanti dan orang-orang liar di padepokan itu sudah puas dengan segala macam perbuatannya atas gadis itu dan melemparkannya ke luar sarang mereka, atau membunihnya?”

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi orang tua itu tidak kehilangan ketenangannya. Dengan sareh ia berkata, “Tentu tidak, Ki Demang. Kita pati harus berusaha. Tetapi usaha kita itulah yang harus kita pertimbangkan masak-masak. Kita dapat menangkap ikannya tanpa mengeruhkan airnya, bahkan membinasakan ikan itu sendiri.”

    Ki Demang terdiam sejenak. Tetapi hatinya masih juga bergolak. Seakan-akan ia akan segera meloncat saat itu juga ke padepokan Tambak Wedi di lereng Merapi. Dalam pada itu terdengar Untara berkata, “Kita harus mempunyai persiapan yang baik untuk merebut kembali Sekar Mirah. Bukan saja merebut Sekar Mirah, tetapi sekaligus membinasakan orang-orang Jipang yang tidak mau mempergunakan kesempatan yang baik, yang telah aku berikan kepada mereka.”

    “Ah,” desah Ki Demang, “aku akan membantu membinasakan Sanakeling dengan segenap kekuatannya. Tetapi rencana itu jangan menghambat usahaku membebaskan anak itu. Kalian jangan berpihak pada kepentingan kalian sendiri. Jangan berpihak pada pandangan searah. Mungkin bagi kalian tidak ada bedanya, apakah kita akan menyerang Sanakeling, Sidanti, dan Tambak Wedi itu sekarang, atau besok, atau lusa, asal kalian yakin kekuatan kita sudah cukup, kita menyerang. Kita hancurkan mereka. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian. Aku harus segera membebaskan anakku sebelum terjadi sesuatu atasnya.”

    Untara hanya dapat menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Ki Demang Sangkal Putung yang lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan seorang ayah daripada seorang demang yang menghadapi lawan di peperangan. Demikian juga agaknya Swandaru dan Agung Sedayu. Bahkan segenap orang-orang Sangkal Putung. Bukan saja orang-orang Sangkal Putung, sebagian prajurit-prajurit Pajang sendiri merasa apa yang dilakukan oleh Sidanti itu merupakan penghinaan dan tantangan yang harus segera mendapat pelayanan sewajarnya.

    Yang menjawab kemudian adalah Kiai Gringsing. “Ki Demang benar. Kita tidak dapat membuat pertimbangan dari segi yang timpang. Kita tidak boleh memberatkan kepentingan Angger Untara sebagai seorang Senopati Pajang. Tetapi kita pun tidak

    D2: Begitulah Ki Juru. Siapa menyusul? Jangan marah ya Ki Juru, kalau nanti postingnya saya cut untuk dipindah ke halaman Buku.

  3. Buku 19 dan 20 dalam file pdf yang harus di rename ke djvu. Masalah yang saya alami, untuk membuka/download buku 19 saya klik di buku 19 (yang ada linknya) dan selalu gagal dengan informasi file not found. Saya coba dengan IE dan FireFox juga sama, baru berhasil dengan DAP.
    Terimakasih admin ADBM dkk atas kerja keras dan cerdasnya sehingga kami pencinta adbm dapat bernostalgia baca adbm yang dulu tidak sampai selesai.
    Informasi terakhir, bahwa u/ download buku 19 dan 20 saya lakukan dengan klik kanan save as target dengan IE atau save to folder download dengan opera berjalan mulus.
    Terima kasih!

  4. Maaf Mbak DD, saya mencoba retype buku 20 hal 65, semoga dapat diterima :

    Buku 20 halaman 65

    demikian ia bertanya, “Kenapa Agung Sedayu hanya seorang diri?”
    Dengan demikian, maka mereka tidak akan terlampau bersiaga. Pengaruhnyapun tidak akan terlampau banyak bagi orang-orang di lereng Merapi itu. Mereka dapat menyangka bahwa Agung Sedayu hanya sekedar melihat rumahnya.
    Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia berkata selanjutnya, Ki Tanu Metir telah mendahuluinya, “Tetapi ngger, Ada soal lain yang harus kau mengerti. Orang-orang lereng Merapi itu mendendam Agung Sedayu sampai ke ubun-ubun.”
    Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Kalau mereka mendengar nama Agung Sedayu, maka jantung mereka akan segera menyala. Tetapi kalau Agung Sedayu itu seorang diri, maka tanggapan merekapun akan berbeda daripada apabila Agung Sedayu datang bersama Swandaru atau seorang tua yang bernama Ki Tanu Metir. Bahkan mereka pasti ingin menjebak Agung Sedayu ke dalam perangkapnya, sebab di lereng Merapi itu memang telah tersedia umpannya.”
    Wuranta tidak segera menangkap maksud Kiai Gringsing, sementara itu wajah Agung Sedayu pun menjadi kemerah-merahan.
    “Angger Wurannta,” berkata Ki Tanu Metir itu selanjutnya, “Ketahuilah, bahwa adik Swandaru yang bernama Sekar Mirah, sejak beberapa hari yang lalu telah hilang. Ternyata Sekar Mirah itu telah dilarikan oleh Sidanti. Hal ini adalah salah satu sebab yang mendorong kami mendahului pasukan Untara. Dan hal ini pula termasuk salah satu yang harus angger perhitungkan apabila angger berhasil masuk ke dalam lingkungan Sidanti itu. Angger harus secepatnya berusaha memberi kami kabar, dari mana kami akan mendapat kesempatan yang paling aman untuk memasuki padepokan Ki Tambak Wedi dan mendekati tempat Sekar Mirah itu disimpan. Kami harus dapat mencegah supaya Sekar Mirah tidak akan dapat dijadikan barang taruhan untuk memeras kekuatan pasukan angger Untara kelak. Sebab mau tidak mau, angger Untara pasti akan terpengaruh seandainya Sekar Mirah itu masih tetap berada di padepokan. Nah, barangkali angger Wuranta kini telah dapat membayangkan, apakah kira-kira yang harus angger lakukan apabila angger bersedia mengorbankan diri untuk tugas itu.”
    Sekali lagi Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Gambaran tentang tugas yang disanggupinya itu menjadi kian jelas. Anak muda itu tahu benar hubungan apakah yang ada antara kedua anak muda itu dengan Sekar Mirah. Sekar Mirah itu adalah adik Swandari dan adik Swandaru itu adalah umpan yang baik untuk memancing Agung Sedayu.

    Salam.
    Wpam-bna

  5. Buku 20 halaman 66-67

    Tiba-tiba Wuranta itu tersenyum, meskipun hatinya masih juga berdebar-debar. Sambil memandangi Agung Sedayu ia berkata, “Baiklah Ki Tanu Metir. Aku akan mencoba melihat, darimana sebaiknya adi Swandaru harus menangkap umpannya, tetapi tidak tersangkut kailnja, atau mungkin adi Agung Sedayu?”
    “Ah”, Agung Sedayu berdesah. Tetapi Swandaru tertawa hampir tak terkendali, sehiogga Ki Tanu Metir mencegahnya. “He, Swandaru, jangan menunggu Ki Tambak Wedi menutup mulutmu.”
    Suara tertawa Swandaru itupun terhenti. Tetapi mulutnya masih juga tersenyum. Katanya, “Nah, ternyata kita mendapat suatu cara yang baik untuk membebaskan Sekar Mirah karena pertolongan kakang Wuranta.” Kemudian kepada Wurenta ia berkata, “Kakang Wuranta, mudah-mudahan usaha ini akan bermanfaat bagi kita semua. Bagi kami yang datang dari Sangkal Putung ini dan bagi Jati Anom.
    “Mudah-mudahan adi,” jawab Wuranta pendek.
    “Sekaraag,” berkata Ki Tanu Metir, “anggar Wuranta harus meninggalkan rumah ini. Usahakan supaya orang-orang lereng Merapi mencari angger Agung Sedayu lewat halaman depan. Kau dapat berbuat seakan-akan kau menentangnya dengan dengan menccgah orang-orang itu dengan tergesa-gesa memasuki halaman ini. Dengan demikian kau memberi kesempatan kepada kami untuk meninggalkan rumah ini lewat pintu belakang. Apakah kau dapat mengerti?”
    “Baik Kiai.”
    “Nah, sekarang pergilah. Kau merasa dikejar oleh Agung Sedayu. Kau harus dilihat oleh orang-orang yang memasuki desa ini. Lalu kau kembali bersama mereka untuk menunjukkan bahwa di rumah itu ada seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu yang mengejarmu karena kau mengambil sesuatu dari rumah ini. Berangkatlah supaya orang-orang lereng Merapi itu sempat melihatmu sebelum mereka pergi meninggalkan padukuhan ini.
    “Baik Kiai.”
    “Yang lain-alain akan menyusul. Mudah-mudahan kita akan segera bertemu lagi. Atau tinggalkan pesan di sudut Tegal Mlanding.”
    “Baik Kiai. Sekarang baiklah aku pergi.” Wuranta berhenti seeaat, lalu katanya, “Tetapi kemana aku harus berlari. Apakah aku harus mengelilingi padukuhan ini sampai aku bertemu dengan orang-orang itu?”
    “Kau dapat bertanya kepada seorang dua orang yang melihatnya. Bukankah perempusn dan anak-anak tidak perlu melarikan dirinya apabila orang-orang itu datang ?”
    “Sampai sekarang anak-anak dan perempuan tidak pernah mereka ganggu Kiai. Mungkin orang-orang itu sedang mengambil hati orang-orang Jati Anom.”
    “Demikianlah. Dan kau pasti cukup bijaksana.”
    Kemudian Wuranta itupun minta diri kepada Kiai Gringsing dan kedua anak muda, murid orang tua itu. Dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah itu. Sampai di luar regol halaman ia menjadi ragu-ragu sejenak, namun-kemudian iapun berlari kearah barat.
    Tiba-tiba ia berhenti ketika terdengar seorang perempuan memanggilnya dari balik pintu regol. Ketika Wuranta mendekat, perempuan itu berbisik, “Sst, Wuranta, larilah. Orang-orang itu berada beberapa puluh langkah darimu. Dua halaman di scbelah barat itu.”
    Dada Wuranta berdesir mendengar bisik orang itu. Sejenak ia menjadi ragu-ragu kembali. Apakah ia dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya itu? Ia tahu pasti bahwa Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu bukanlah prajurit-prajurit Padang yang berwenang untuk memberinya tugas2 demikian. Apakah ia akan smapai hati untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kemudian diberikan kepadanya oleh orang-orang lereng Merapi, yang mungkin akan sangat bertentangan dengan hatinya. Apakah kata orang-orang Jati Anom sendiri tentang dirinya dan apakah orang-orangitu kelak akan dapat mengerti, bahwa apa yang dilakukan itu justru untuk kepentingan mereka.
    Dalam keragu-raguan itu, kembali Wuranta mendengar perempuan di belakang regol itu berkata, “Cepat, masuklah kemari Wuranta. Cepat. Mereka berada di halaman sebelah barat itu.”
    Tetapi Wuranta kini benar-benar tidak dapat berbuat lain. Pada saat itul ia melihat beberapa orang laki-laki dengan senjata dilambungnya keluar dari halaman di sebelah Barat itu berantara satu pomahan.
    Ketika tampak oleh mereka itu seorang anak muda berdiri di depan regol, maka tiba-tiba salah seorang dari mereka melambaikan tangan mereka memanggil Wuranta mendekat.
    “Masuklah,” desis perempuan di belakang regol.
    “Mereka telah melihat aku, “ desis Wuranta perlahan.
    “Oh, kau terlambat nak,” kata perempuan itu sambil bergegas-gegas menionggalkan regol halamannya naik ke rumah. Dengan tergesa-gesa pula diringnya pintu lerengnya dan kemudian diselaraknya rapat-rapat.

    Salam,
    wpam-bna

  6. Ini Halaman 70, 71 dan 72 – ADBM Buku – 20.
    Cuman sedikit , baru test bermanfaat atau tidak, gitu. Mohon dikoreksi, ya..

    Tiba-tiba Sidanti tertawa. Katanya ” Mungkin kau memang tidak akan dapat melawannya. Agung Sedayu tumbuh terlampau cepat. Tetapi serahkan ia kepadaku”.
    “Siapakah anak muda itu ?” – bertanya Argadjaya.
    “Agung Sedayu?”
    “Ya”.
    “Yang aku jumpai di Prambanan?”
    “Nah, itulah, paman. Agung Sedayu”.
    Dada Argadjayapun berdesir. Ia mengenal tiga anak-anak muda di Prambanan. Tetapi Agung Sedayu itu bukanlah anak muda yang berkelahi melawannya.
    “Apakah mereka juga bertiga?” bertanya Argadjaya.

    Wuranta mengerutkan keningnya. Kenapa Argadjaya itu dapat menebak bahwa AGung Sedayu datang bertiga? Tetapi maksud Argadjaya adalah tiga anak-anak muda, AGung Sedayu, Swandaru dan seorang lagi yang mengaku bernama Sutajia.

    Untunglah bahwa Wuranta segera ingat pesan Ki Tanu Metir, bahwa Agung Sedayu datang seorang diri ke rumahnya. Maka jawabnya “Sendiri Tuan. Agung Sedayu hanya seorang diri menurut penglihatanku, Tetapi entahlah aku tidak tahu apakah ia datang bersama kawan-kawannya”.

    “Beruntunglah kalau aku dapat bertemu dengan setan itu” desis Argadjaya. “Sidanti” katanya kepada kemenakannya “serahkan anak itu kepadaku”.

    Sidanti tersenyum. Jawabnya “Jangan seperti berebut durian runtuh paman. Aku ingin menangkapnya hidup-hidup. Membawanya kembali ke padepokan dan mempertemukannya dengan Sekar Mirah. Tetapi tidak dalam keadaan yang wajar. Aku ingin supaya Sekar Mirah melihat, Agung Sedayu akan aku ikat seperti anjing. Aku pukuli sampai Sekar Mirah mau menerima aku sebagai suaminya”.

    “Kau terlampau mementingkan dirimu sendiri Sidanti. Kau tidak mengingat bahwa kita berada dalam keadaan perang melawan Padjang. Persoalan-persoalan pribadi akan dapat mengganggu bagi persoalan-persoalan yang lebih penting”.

    Sidanti masih saja tersenyum. Tetapi kini ia tidak dapat menjawab kata-kata pamannya. Kepada Wuranta ia berkata “Ayo bawa aku kepadanya. Kalau kau berhasil menunjukkan dimana Agung Sedayu berada, maka kau akan mendapat keris yang kau kehendaki dan bukan itu saja. Mungkin kau mempunyai beberapa permintaan”.

    “Baik Tuan” sahut Wuranta. “Marilah, sebelum anak itu lari”.

    Merekapun kemudian berjalan beriringan dengan tergesa-gesa. Wuranta berjalan di paling depan dengan tegapnya. Sekali-kali ia meloncat berlari-lari seakan-akan ia benar-benar segera ingin melihat Agung Sedayu itu tertangkap.

    Di belakangnya, Sidanti dan Argadjaya berjalan sambil sambil memperhatikan Wuranta. sambil tersenyum Sidanti berkata lirih “Lagaknya anak itu. Seakan-akan ia sendirilah yang akan menangkap Agung Sedayu. Ternyata ia lari pontang-panting ketika dikejarnya”.

    Argadjaya tidak menjawab. Tetapi dendamnya kepada Sutajia masih belum dapat dilupakannya, kalau nanti ia benar-benar bertemu dengan AGung Sedayu maka sekali lagi ia ingin minta kepada Sidanti agar menyerahkan anak muda itu kepadanya, sebagai pelepas dendamnya. Namun tiba-tiba di kepalanya melontar sebuah pertanyaan “Bagaimanakah kalau Sutajia itu kini bersama Agung Sedayu itu pula?”

    Tanpa disengajanya ia berpaling. Di belakang berjalan empat orang prajurit dengan senjata di lambungnya. Tetapi bagi Argadjaya, empat orang prajurit itu sama sekali tidak banyak berarti apabila mereka benar-benar bertemu dengan ketiga anak-anak muda yang ditemuinya di Prambanan.

    Semakin dekat mereka dengan regol halaman rumah Agung Sedayu, maka hati merekapun menjadi semakin berdebar-debar. Wuranta menjadi cemas, apakah Agung Sedayu benar-benar akan berhasil melepaskan dirinya, sedang Sidanti dan Argadjaya menjai cemas kalau anak itu telah meninggalkan rumahnya.

    Sampai di muka regol halaman, Wuranta berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Dalam keragu-raguan itu terdengar Sidanti bertanya “Kenapa berhenti?’.
    “Aku akan memanggil , Tuan”.
    “Tak usah. Kita masuki saja rumahnya”.
    “Bagaimana kalau Agung Sedayu membawa beberapa orang kawan?’
    Sidanti tersenyum, katanya “Akupun membawa beberapa orang kawan pula”.

    Tetapi Argadjayalah yang menyahut “Panggil anak itu keluar. Kita lebih baik tidak menampakkan diri. Kita akan lebih mudah menangkapnya apabila kita telah melihat orangnya”.

    Sidanti tidak membantah. Pendapat itu baik juga agaknya. Karena itu maka katanya kepada Wuranta “Bagaimana caramu untuk memanggilnya. Apakah ia akan keluar juga?’.

    “Tunggulah tuan, aku akan membuat ia marah”.

    Sidanti tersenyum. Katanya “Lakukanlah”.

    Wuranta itupun kemudian berdiri di tengah-tengah regol halaman rumah AGung Sedayu. Tetapi sebelum berteriak, sekali lagi ia berpaling kepada SIdanti sambil berkata “Tetapi Tuan jangan melepaskan aku sendiri. Aku akan dibunuhnya nanti”.

    “Penakut”. geram Sidanti. “aku disini. Jangan takut”. Beberapa orang di belakang Sidanti hamper tidak dapat menahan tertawa mereka melihat sikap Wuranta. Sedang Argadjaya dengan garangnya berkata “Lekas, jangan membuang waktu”.

    Wuranta memandangi rumah itu lagi. Dilihatnya pintu depan rumah Agung Sedayu tertutup. Tetapi ia mengharap bahwa AGung Sedayu dan kawan-kawannya telah melihatnya dari bilik dinding.

    Sekali lagi ia berpaling kepada Sidanti, dan dilihatnya mata anak muda itu hamper saja meloncat dari pelupuknya.

    Wuranta itupun kemudian menengadahkan wajahnya. Dengan lantang ia berteriak “He, Agung Sedayu. Kenapa kau bersembunyi? Hampir mati kepayahan aku menunggumu di prapatan”. Ayo , kalau kau benar-benar jantan”.

    Masih belum terdengar jawaban, dan Wuranta berteriak lagi “He, kalau kau tidak berani keluar, jangan sebut dirimu Agung Sedayu. Jangan sebut dirimu putera Ki Sadewa dan jangan sebut dirimu adik Untara, ayo, keluarlah”.

    Dada Sidanti tiba-tiba berdesir, sedang jantung Argadjaya terasa berderak ketika mendengar suara dari dalam halaman, “Wuranta, jangan terlapau sombong. Halaman ini cukup luas untuk mengadu litany kulit, kerasnya tulang. Jangan lari. Marilah kita jajagi, siapakah yang jantan dianatara kita”.

    Tiba-tiba Wuranta tertawa menyakitkan hati. Dengan nada yang tinggi ia berkata “O, kau agaknya ingin menjebak aku he?, Ayo keluarlah dari regol halaman rumahmu. Kalau kita berkelahi di dalam halaman, maka mungkin kau menyimpan kawan didalam rumahmu yang jelek itu. Ayo, keluarlah”.

    “Kaukah yang menjebak aku? Apakah kau sudah mendapat kawan baru sehingga kau kembali lagi ke halaman ini? Ha, jangan ingkar. Aku melihat kau sekali-sekali berpaling. Siapakah kawanmu he?’.

    DD: terima kasih, bahan sudah diambil Ki Demang.

  7. Bung DD yth,
    Thanks, perubahannya ke DEJAVU. Jadi sekarang menunggunya nggak perhalaman, tetapi langsung
    satu jilid. Tapi mohon maaf saya belum bisa
    menawarkan tenaga lagi untuk ikut bantu2 ngusir
    sisa2 laskar Jipang, karena lagi lumayan shibuk.
    Bravo untuk anda, semoga Allah swt senantiasa
    merahmati anda.
    Salam hormat,
    Sumarmo Hs

    D2: Doanya juga sudah membantu, Pak.

  8. Buku 20 halaman 1 (mohon bantuan tolong dicek ya

    Akhirnya dari tempat yang terlindung itu Kiai Gringsing melihat dua orang mendekatinya.
    “Benarkah kau, Kiai ?”
    “Ya, aku datang bersama dengan anakmas Swandaru dan Agung Sedayu”
    “Oh, dimana mereka sekarang ?”
    “ Itu, disitu. Kami tidak ingin mengejutkan kalian. Kalau kalian melihat kami berempat, maka kalian akan terkejut dan mungkin berbuat sesuatu diluar perhitungan kami”
    Orang itu mengangguk2kan kepalanya. Dalam pada itu Swandaruyang tidak sabar telah keluar dari persembunyiannya diikuti oleh Sutawijaya dan Agung Sedayu.
    ”Seluruh kademangan menunggu kalian ”, kata penjaga itu. ” Kita telah menjadi bingung.”
    ”Apakah mereka mencemaskan nasib kami?”, bertanya Swandaru, ” dan karena itu ibu menangis ?”
    ”Bukan saja karena itu”, jawab penjaga, ”kami menghadapi soal yang lain”.
    Dada Swanadru berdesir mendengan jawaban penjaga itu. Karena itu dengan serta-merta ia bertanya ” Apakah ada soal lain yang penting ?”
    ”Ya”, sahut penjaga itu
    ”Apa”

  9. walah ! masih banyak salahnya ya?
    sori baru nyoba, mohon dimaafkan

  10. Bagi yang mau urun retype, berikut adalah data terbaru halaman yang sudah diretype:
    Buku 19: 78, 79, 80.
    Buku 20: 7, 8, 18, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72
    Yang mau retype dlm jumlah banyak, silakan booking halaman, sehingga tidak overlapping.
    Kami menyadari cara ini mungkin tidak efisien. Ada usul yang lebih baik?

    DD

  11. mBak DD,
    dari kapan-kapan saya pingin bantu, tapi nggak tahu caranya. Dikantor saya ada peralatan yng bisa scan dan “mengembalikannya” dalam bentuk huruf/ kata yang bisa diedit (….semacam OCR gitu….).
    Saya pingin nyoba, dimana saya bisa dapet file mentahnya?
    salam,
    bambang-didiek

    D2: Komandan Pasukan scanning adalah Nyai Demang. Gimana Nyai, kok lama gak muncul? Jangan2 mengikuti jejak Mas R?

  12. Selama liburan, aku memang tidak pernah on line, eh tahu-tahu udah berubah banyak.
    Ini sekedar pengalaman pakai DJVU-Solo 3.1, HP PSC 1410
    – Scan Document colour 200 DPI, file JPG Optione JPEG LOW hasilnya xxx0001.jpg (150 KB – 175 KB)
    – file jpg dibuka di DSJVU-solo 3.1 save dengan option 400 DPI
    – hasilnya misalnya ADBM021.DJVU (700 KB s.d. 800 KB)

    file tersebut sudah cukup bagus untuk diubah ke text file

    sebenarnya Ayah Almarhum dulu punya koleksi ADBM dari th 70an s.d. 80 an, aku sudah mencoba mencarinya tetapi nggak ketemu mungkin udah loak-in.

    Mohon maaf saat ini belum bisa bantu ya Mbak DD (he he katanya di dunia maya boleh2 aja panggil mbak, mas bahkan mbah ya?)

  13. Maaf Mod.
    Insya Allah saya retype buku 20 hal 68 dan 69 biar nyambung dengan Ki Demang.
    Suwun.
    Wpam-bna

  14. gimana kalo dijatah halamannya tetep terus mas, misalnya halaman 10 terus, biar seri berapapun

  15. Buku 20 halaman 68-69

    Wuranta berjalan dengan hati yang berdebar-debar mendekati orang-orang itu. Ketika ia menjadi semakin dekat, maka tahulah ia bahwa orang-orang itu hanyalah berjumlah enam orang. Ketika dilihatnya seorang anak muda di antara mereka yang berwajah tampan namun keras, segera dikenalnya anak muda itu. Anak muda itu adalah Sidanti, seperti yangdikatakan oleh beberapa orang kawan-kawannya yang pernah ditangkap pula. Di dalam rombongan kecil itu pula dilihatnya seorang yang bersenjatakan tombak pendek. Maka iapun menduga, bahwa orang itulah yang sering disebut oleh kawan-kawannya bernama Argajaya.
    Ketika Wuranta menjadi semakin dekat, maka kini ia menjadi semakin jelas. Di samping kedua orang yang berada di depanitu, maka yang lain hanyalah beberapa orang prajurit pengawalnya saja.
    “Kemarilah,” berkata anak muda yang disangkanya bernama Sidanti.
    Wuranta melangkah perlahan-lahan. Dadanya diamuk oleh kecemasan dan keragu-raguan. Namun akhirnya ia membulatkan tekadnya bahwa ia akan berbuat sebaik-baiknya seperti yang dipesankan oleh Ki Tanu Metir.
    “Siapakah kau anak muda?” bertanya orang yang disangkanya Sidanti itu.
    Keringat dingin telah mengalir membasahi punggung Wuranta. Perlahan-lahan ia menjawab, “namaku Wuranta, tuan.”
    “Nama yang baik,” desis orang yang bertanya itu. “Sebaiknya kau mengenal aku pula. Namaku Sidanti.”
    “O.” Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku telah pernah mendengar nama tuan. Apakah tuan yang membawa tombak pendek itu bernama Argajaya?”
    Sidanti tertawa, “Darimana kau mengenal kami?”
    “Kawan-kawanku mengatakan kepadaku tuan.”
    “O” desis Sidanti, “aku memang pernah bertemu dengan beberapa anak-anak muda dari Jati Anom. Sayang diantara kita belum ada sentuhan perasaan yang dapat mempererat hubungan kita. Sebagian dari anak-anak muda Jati Anom sengaja menghindari apabila kami datang ke Kademangan ini untuk memperkenalkan diri.”
    “Ya tuan. Kami, anak-anak Jati Anom kadang-kadang menjadi takut kepada tuan-tuan.”
    “Kenapa takut?” bertanya Sidanti.
    “Justru karena kami belum mengenal tuan.”
    Sidanti tertawa. “Alasanmu bagus sekali. Kita terperosok ke dalam suatu lingkaran yang tak berpangkal dan berujung. Kalian takut berkenalan dengan kami, karena itu kalian selalu menghindari kami. Adapun sebabnya kalian takut karena kalian belum mengenal kami. Begitu?”
    Wuranta tersenyum pula. Senyum yang dipaksakannya. Tetapi kini ia telah mencoba melakukan pekerjaannya. Berkali-kali ia berpaling ke belakang dengan gelisahnya. Ia mengharap Sidanti akan bertanya tentang sikapnya itu.
    Ternyata harapannya itu berlaku. Dengan adhi yang berkerut-kerut, Sidanti bertanya, “Apakah kau sedang menunggu seseorang?”
    “Tidak tuan” sahut Wuranta, “tetapi seseorang tadi mengejarku. Hampir akuk bersembunyi di halaman sebelah seandainya tuan tidak memanggilku”.
    “siapa yang mengejarmu?” bertanya Sidanti dengan serta merta, “dan kenapa kau dikejar orang?”
    “Ah, soalnya agak memalukan tuan”
    “Kenapa?”
    “Hanya sebilah keris”
    “Bagaimana dengan sebilah keris?” Argajaya tidak dapat bersabar.
    “Aku mendapatkan sebilah keris di sebuah rumah yang aku sangka kosong tuan. Tiba-tiba dari belakang datang seorang anak muda penghuni rumah itu. Penghuni yang sebenarnya telah lama sekali menghilang.”
    “Siapa?”
    “Agung Sedayu tuan”
    “He” terasa darah Sidanti tersirap, “kau berkata bahwa Agung Sedayu berada di rumahnya?”
    “Ya tuan. Agung Sedayu adalah lawan berkelahi sejak kami masih kanak-kanak.”
    Wajah Sidanti tiba-tiba menjadi merah. Dengan mata yangmenyala ia bertanya, “Wuranta, mari tunjukkan di mana Agung Sedayu sekarang?”
    “Di rumahnya tuan. Baru saja aku dikejarnya.”
    “Apakah kau tidak berani melawan Agung Sedayu?”
    “Aku tidak bersenjata tuan”
    “Kalau kau bersenajta?”
    Wuranta terdiam sejenak. Dipandanginya Sidanti dengan wajah bertanya-tanya.

  16. Buku 20 Hal 8
    Penjaga itu menjadi ragu-ragu sejenak. Pendapa Kademangan itu itu tinggal beberapa puluh langkah lagi. Disana duduk para pemimpin Kademangan Sangkal Putung dan para pemimpin prajurit Pajang yang akan dapat memberi penjelasan sebaik-baiknya kepada anak itu. Karena itu maka prajurit itu menjawab,
    “Biarlah Ki Demang sendiri memberi penjelasan. Ki Demang berada di Pringgitan.”
    Swandaru tidak dapat menahan diri lagi. Tanpa menjawab sepatah katapun ia segera meloncat dan berjalan tergesa-gesa ke pendapa. Di belakangnya berjalan Agung Sedayu dan Sutawijaya bersama Kiai Gringsing.
    Di pendapa Swandaru melihat beberapa orang prajurit Pajang masih juga duduk dalam beberapa gerombol. Disana-sini mereka agaknya sedang memperbincangkan sesuatu yang cukup penting. Tetapi kesan yang didapat oleh Swandaru adalah bahwa tidak ada penyerbuan yang gawat telah terjadi. Kalau demikian, soal apakah yang penting itu.
    Dengan langkah yang panjang anak2 muda itu bersama Kiai Gringsing itu masuk kedalam pringgitan. Beberapa orang yang melihatnya menyapa pendek, dan merekapun menyapa pendek pula.
    Ketika pintu pringgitan terbuka, maka setiap orang yang duduk melingkar di sekeliling sebuah pelita minyak kelapa, berpaling memandang ke arah pintu. Hampir bersamaan mereka melihat Swandaru melangkah masuk dan hampir bersamaan pula mereka berdesis, ” Kau, Swandaru ?”
    Swandaru tertegun. Ia melihat beberapa orang pemimpin Kademangan dan prajurit Pajang lengkap. Karena itu dadanya menjadi ber-debar2.
    ”Masuklah”, terdengar Untara mempersilakannya.
    Swandaru tersadar dari kegelisahannya yang mencekam dadanya. Iapun kemudian melangkah dan meletakkan busurnya disisi pintu. Tetapi pedangnya masih juga menggantung dilambungnya. Agung Sedayu dan Sutawijayapun kemudian meletakkan busur2 mereka dan berjalan di belakang Swandaru duduk didalam lingkungan para pemimpin itu.
    ”Hem”, Ki Demang Sangkal Putung berdesah. Ditatapnya wajah anaknya yang gemuk bulat itu dalam pandangan yang aneh, setelah dipersilakannya pula Kiai Gringsing duduk diantara mereka.

  17. Jilid 20 hal 77

    “Sedayu”, teriak Sidanti.

    Sepi. Tak seorangpun yang menyahut.

    “Agung Sedayu, pengecut”.

    Suara itu saja yang melontar menyentuh dedaunan. Seolah-olah memenuhi seluruh pedukukan Jati Anom.

    “Gila”, geram Sidanti, “Apakah aku akan kehilangan dia?”

    Tiba-tiba Sidanti itu melihat sesuatu yang bergerak-gerak di dalam bilik belakang. Cepat ia meloncat mendekati. Dengan gerak seperti kilat pedangnya telah tergenggam di dalam tangannya. Kali ini ia tidak membawa pusakanya, neggala.

    “Keluar”, teriaknya, “Ayo keluar. Apakah kau Agung Sedayu?”

    Yang terdengar kemudian adalah suara tangis kanak-kanak yang meledak. Dengan penuh ketakutan seorang perempuan dengan anak laki-laki yang masih kecil terbongkok-bongkok keluar dari bilik kecil itu.

    “O gila kau”, bentak Sidanti, “Dimana Agung Sedayu he?”

    “Agung Sedayu lari tuan”, sahut perempuan itu.

    “Suruh anak itu diam”, teriak Argajaya sambil menunjuk kepala anak itu dengan ujung tombaknya.

    “Cup ngger”, desis perempuan itu sambil menggigil . Didekapnya anak itu didadanya.

    “Suruh anak itu diam”, bentak Argajaya pula.

    Perempuan itu menjadi semakin ketakutan. Dengan gemetar ia mencoba manahan tangis anaknya, “Cup diam ya ngger”. Tetapi anak itu masih juga menangis.

    “Di mana Sedayu”, sekali lagi Sidanti membentak.

    “Lari Tuan. Ia lari meloncat pagar dinding itu”.

    “Kau berkata sebenarnya? Apakah anak itu tidak kau sembunyikan?”

    “Tidak Tuan. Tuan dapat mencari di seluruh halaman ini”.

    “Kalau aku ketemukan dia, aku penggal kepalamu”.

    Perempuan itu tidak menjawab, tetapi ia menggigil ketakutan.

    “Ayo, tunjukkan dimana ia bersembunyi”, perintah Argajaya.

    Tiba-tiba Wuranta maju selangkah sambil berkata, “Maaf tuan-tuan, perempuan ini adalah bibiku. Memang ia menjadi pembantu dan penunggu rumah Agung Sedayu sejak ayahnya masih hidup. Karena petunjuknya pula aku ingin mengambil keris hari ini, tetapi tiba-tiba saja Agung Sedayu itu datang”.

  18. Buku 20 halaman 72-76

    “Tunggulah tuan. Aku akan membuat ia marah.” Sidanti tersenyum, katanya “Lakukanlah.”
    Wuranta itupun kemudian berdiri di-tengah2 regol halaman rumah Agung Sedayu. Tetapi sebelum berteriak, sekali lagi berpaling kepada Sidanti sambil berkata “Tetapi tuan jangan melepaskan aku sendiri. Aku akan dibunuhnya nanti.”

    “Penakut” geram Sidanti “Aku disini. Jangan takut.”
    Beberapa orang dibelakan Sidanti hampir tak dapat menahan tertawa mereka melihat sikap Wuranta. Sedang Argajaya dengan garangnya berkata “Lekas, jangan membuang waktu.”

    Wuranta memandangi rumah itu lagi. Dilihatnya pintu depan rumah Agung Sedayu tertutup. Tetapi ia mengharap bahwa Agung Sedaya dan kawan2nya telah melihatnya dair balik dinding. Sekali lagi ia berpaling kepada Sidanti, dan dilihatnya mata anak muda itu hampir saja meloncat dari pelupuknya.

    Wuranta itupun kemudian menengadahkan wajahnya. Dengan lantang ia berteriak “He, Agung Sedayu. Kenapa kau bersembunyi? Hampir mati kepayahan aku menunggumu diprapatan. Ayo kalau kau benar2 jantan.”

    Tidak segera terdengar jawaban dari dalam rumah itu. Sidanti dan Argajaya menjadi gelisah. Mereka masih berdiri dibalik dinding halaman, sehingga mereka tidak melihat kedalam halaman.

    “Agung Sedayu” teriak Wuranta kemudian “He Agung Sedayu. Kenapa kau tidak mengejarku terus? Aku menunggumu diprapatan.”

    Masih belum terdengar jawaban, dan Wuranta berteriak lagi “He, kalau kau tidak berani keluar, jangan sebut dirimu Agung Sedayu. Jangan sebut dirimu putera Ki Sedewa dan jangan sebut dirimu adik Untara. Ayo, keluarlah.”

    Dada Sidanti tiba-tiba berdesir, sedang jantung Argajaya terasa berderak ketika mereka mendengar suara dari dalam halaman “Wuranta, jangan terlampau sombong. Halaman ini cukup luas untuk mengadu liatnya kulit, kerasnya tulang. Jangan lari. Marilah kita jajagi, siapakah yang jantan diantara kita.”

    Tiba2 Wuranta tertawa menyakitkan hati. Dengan nada yang tinggi ia berkata “O, kau agaknya ingin menjebak aku he? Ayo, keluarlah dari regol halaman rumahmu. Kalau kita berkelahi didalam halaman, maka mungkin kau menyimpan kawan didalam rumahmu yang jelek itu. Ayo, keluarlah.”

    “Kaukah yang akan menjebak aku? Apakah kau sudah mendapat kawan baru sihingga kau kembali lagi kehalaman ini? Ha, jangan ingkar. Aku melihat kau sekali2 berpaling. Siapakah kawanmu he?”
    “Persetan. Aku bukan pengecut. Ayo, kemarilah” sahut Wuranta.

    Namun dada Sidantilah yang tidak tahan lagi. Seakan-akan dana itu akan bengkah. Ia bukan pengecut yang hanya berani bersembunyi, kemudian menyerang lawanya dalam kelengahan. Karena itu, maka terdengar giginya gemeretak menahan diri.

    Ternyata Argajayapun hampir2 tidak dapat menguasai perasaannya lagi. Dengan parau ia menggeram “Jangan bermain sembunyi2an. Ayolah Sidanti, kita selesaikan tikus itu.”

    Sidanti tidak menunggu ajakan berikutnya. Cepat ia meloncat dari balik diding regol hampir bersamaan dengan Argajaya. “Agung Sedayu” teriak Sidanti “Kita bertemu kembali. Apakah kau memang mencari aku”.

    “O” sahut Agung Sedayu “Kaukah itu Sidanti? Dan yang satu itu bukankan pamanmu yang bernama Argajaya? Apakah kau datang bersama gurumu Ki Tambak Wedi?”.

    Kata2 itu terasa seperti bara api menyentuh telinga Sidanti. Dengan gigi gemeretak ia menjawab “Agung Sedayu. Jangan merasa dirimu jantan sendiri. Aku bersedia untuk sekali lagi melakukan perang tanding dengan jujur. Ayo, turunlah. Kita berhadapan sebagai laki2.”

    Terdengar Agung Sedayu tertawa. Nadanya menyakitkan hati. Katanya “Wuranta, itukah mintasrajamu?”
    “Jangan hanya berbicara” sahut Wuranta “Sekarang kau sudah berhadapan dengan lawanmu”.
    “Pengecut. Agaknya kau hanya berani bersembunyi dibalik punggungnya.”
    “Jangan menghina Wuranta. Aku terpengaruh oleh keadaan, karena aku berada didalam rumahmu tanpa ijinmu.” Jawab Wuranta.
    Sidanti hampir tidak sabar lagi mendengar percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, sekali lagi ia membentak “Sedayu, ayo, kita mulai.”

    Agung Sedayu terdiam. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Keringat dingin mengalir dari keningnya. Ia mendapat pesan dari gurunya, untuk kepentingan yang lebih besar, ia harus menghindari perkelahian kali ini. Ia harus masuk kedalam rumahnya dan lari bersama-sama lewat pintu belakang dan meloncati dinding halaman belakan. Tetapi ketika ia melihat Sidanti telah berdiri dihadapannya. Tiba2 darahnya menggelegak. Hampir2 ia tidak dapat mengingat lagi, apa yang harus dilakukan seandainya gurunya tidak berbisik dari balik dinding “Tinggalkan mereka. Cepat, kita lari sebelum rencana ini bubrah.”

    Agung Sedayu masih diam mematung. Bahkan tangan Swandarupun menjadi gemetar. Dengan penuh kekecewaan ia berkata “Guru, kenapa mereka tidak kita bantai sekarang? Bukankah guru dan kami berdua mampu melakukannya? Wuranta itu tidak lagi perlu mencari jalan untuk masuk kedalam padepokan Tambak Wedi.”
    “Kau tidak ingin adikmu kembali? Dan apakah kau ingin melihat Jati Anom menjadi karang abang?”. Swandaru terdiam.

    Yang terdengar kemudian adalah suara Sidanti “Turunlah atau aku akan naik kerumahmu?”
    “Cepat Agung Sedayu” perintah gurunya dari balik dinding. Katakan kepadanya, suatu ketika kau akan menerimanya menjadi tamumu.”

    Mulut Agung Sedayu serasa terbungkam. Namun ketika Kiai Gringsing berkata “Agung Sedayu, taati perintah gurumu”, maka Agung Sedayu itupun tidak dapat menolak lagi. Ketika ia melihat Sidanti maju setapak maka iapun berteriak “Sidanti kali ini aku berkeberatan menerimamu. Tetapi lain kali aku harap kau sudi berkunjung kerumahku lagi”.

    Agung Sedayu tidak menunggu jawaban Sidanti. Hatinya sendiri berguncang dahsyat sekali karena ia harus meninggalkan lawan bebuyutan itu.

    Melihat Agung Sedayu meloncat dan hilang dibalik pintu, Sidanti terkejut bukan kepalang. Sama sekali tidak disangkanya bahwa begitu cepat Agung Sedayu meniggalkannya dengan ter-gesa2. Ia mengharap bahwa Agung Sedayu menerima tantangannya dan berkelahi dihalaman. Namun tiba2 Agung Sedayu berlari seperti tikus melihat kucing.

    Justru karena itu maka sejenak ia berdiri diam seperti patung. Argajaya terkejut pula. Sifat anak itu sama sekali berubah dari sifat Agung Sedayu yang ditemuinya di Prambanan, yang melihat ujung senjata dengan tegadah. Apalagi anak muda yang bernama Sutajia. Tetapi adalah mengherankan kalau kali ini tanpa malu2 Agung Sedayu itu meloncat berlari sipat kuping.

    Sejenak kemudian Sidanti menyadari keadaanya. Menyentak ia berkata “Setan itu harus aku tangkap”. Tetapi ketika Sidanti meloncat terdengar Wuranta berkata “Tuan. Tunggulah”. Sidanti tertegun. Diawasinya wajah anak muda Jati Anom itu dengan heran.

    “Tuan siapa tahu didalam rumah itu ada beberapa orang yang telah siap menjebak tuan”. Sidanti ragu2 sesaat. Tetapi kemudian ia bertanya “Bukankah kau berkata bahwa Agung Sedayu hanya seorang diri saja”. “Itu menurut penglihatanku tuan. Tetapi siapa tahu, bahwa sepuluh atau dua puluh orang telah siap menanti tuan”.

    Argajaya ternyata tidak sabar menunggu mereka berbincang. Ia tanpa berkata sepatah katapun segera meloncat mendahului. Sidanti berlari melintasi halaman rumah Agung Sedayu. Sidantipun segera menyusul sambil berkata “Kalau kau takut, tinggallah diluar. Kalau ia tidak sendiri, maka mereka pasti sudah beramai-ramai mengejarmu tadi”.

    Wuranta tidak menjawab lagi. Ia mengharap bahwa waktu yang diusahakannya telah cukup panjang bagi Agung Sedayu dan kedua kawannya.

    Dalam pada itu Argajaya telah naik kependapa disusul oleh Sidanti. Dengan kasarnya ia mendorong pintu sambil berteriak “He pengacut. Diamanakah kejantananmu? Pilihlah diantara kami, siapakah yang akan kau jadikan lawanmu”.

    Suara Argajaya itu berderak memukul dinding2 rumah yang kosong. Sama sekali ia tidak mendengar jawaban. Meskipun demikian ia tidak dapat masuk dengan tanpa bersiaga menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Peringatan Wuranta ternyata mempengaruhinya juga.

    “Ayo, keluarlah. Siapa yang berada dirumah ini?” Masih tak ada jawaban. Sidantipun kini telah berada didalam rumah itu. Tangannya telah melekat dihulu pedangnya. Bahkan orang2nya yang berada dibelakangnya telah menggenggam senjata masing2. Sedang tombak pendek Argajayapun telah siap bergerak apabila terjadi sesuatu dengan tiba2.

    “Agung Sedayu” terdengar Sidanti me-manggil2. Masih tidak ada jawaban.

    Dengan marahnya Sidantipun segera menendang pintu2 dan perabot rumah yang memang telah porak-poranda. Suaranya ber-derak2 tak keruan. Orang2nyapun menirukan saja apa yang diperbuat oleh Sidanti itu.

    Tiba2 terdengar Sidanti berkata “Kita cari kebelakang”. Merekapun kemudian berlari kehalaman belakang. Wurantapun ikut pula deng mereka, bahkan seperti mereka juga Wuranta ikut me-nendang2 beberapa macam barang.

  19. Jilid 20 hal 78

    Argajaya dan Sidanti serentak berpaling memandangi Wuranta. Dan Wuranta mencoba meyakinkan, “Ia berada di pihakku tuan. Ia tidak akan menyembunyikan Agung Sedayu”.

    Sidanti dan Argajaya menjadi ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Wuranta dan perempuan itu berganti-ganti. Kemudian berkata Sidanti, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

    “Buat apa aku membohong tuan. Bibi inilah yang mengatakan bahwa Untara telah menyimpan sebuah pusaka berbentuk keris di dalam rumah ini. Tetapi ketika aku mencoba mencarinya, aku masih belum menemukannya. Malahan hari ini Agung Sedayu yang datang tanpa disangka-sangka telah mengejarku”.

    Sidanti dan Argajaya mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak segera berbuat sesuatu.

    Ketika mereka masih saja berdiri diam, maka tiba-tiba bertanyalah Wuranta kepada perempuan tua itu, “Bibi, kemana Agung Sedayu melarikan dirinya? Ke samping atau ke belakang?”

    “Ke belakang ngger”, sahut perempuan itu ragu-ragu.

    “Apakah tuan masih akan mengejarnya?”, bertanya Wuranta.

    Sidanti dan Argajaya tiba-tiba tersadar. Tanpa berkata sepatah katapun segera mereka berlari dan dengan tangkasnya mereka meloncat dinding di bagian belakang. Wurantapun tidak ketinggalan pula. Ternyata iapun cukup tangkas untuk meloncat dinding itu tanpa kesulitan.

    Tetapi mereka sudah tidak menemukan seseorang di belakang dinding itu. Meskipun demikian mereka masih mencoba mencarinya ke sekitar halaman rumah Agung Sedayu, bahkan sampai ke halaman rumah tetangga-tetangganya. NAmun mereka sudah tidak menemukan Agung Sedayu.

    “Sayang”, desis Wuranta.

    “Apa yang sayang?”, bertanya Sidanti.

    “Monyet itu”.

    “Huh”, Argajaya mencibirkan bibirnya, “Apa yang dapat kau lakukan seandainya kami menemukannya? Kau hanya mampu lari terbirit-birit seperti anjing kena cambuk”.

    Terasa dada Wuranta berdesir. Sesaat darahnya bergolak, namun sesaat kemudian ia tersenyum kecut. Tetapi ia tidak menjawab sepatah katapun. Meskipun demikian, terasa alangkah menyakitkan kata-kata Argajaya itu. Ia tahu, bahwa orang-orang dari lereng Merapi adalah orang-orang yang pilih tanding. Bahkan anak muda yang bernama Sidanti itu memiliki kemampuan bertempur

  20. Jilid 20 hal 79

    yang hampir diluar kemampuan prajurit biasa. Argajaya itu adalah pemimpin yang agaknya disegani juga. Tetapi untuk mendengarkan hinaan dari mereka terasa telinganya menjadi sakit juga.

    Meskipun demikian Wuranta harus menahan diri. Ia sedang melakukan tugas yang sangat berat. Karena itu ia harus dapat mengorbankan perasaannya dan bahkan harga dirinya. “Pekerjaan yang tidak menyenangkan”, ia berdesah di dalam hantinya.

    Namun sedikit banyak terasa olehnya, bahwa orang-orang lereng Merapi sampai saat itu tidak mencurigainya. Pekerjaannya kini tinggallah mencari kepercayaan yang lebih besar dan berusaha untuk turut serta ke sarang mereka.

    Setelah mereka tidak dapat menemukan jejak Agung Sedayu, maka Sidanti kemudian berkata, “Apakah yang harus kita lakukan kini paman?”

    Argajaya tidak segera menjawab. Diawasinya wajah Wuranta yang kemudian berpaling. Ia tidak mau berpandangan mata dengan paman Sidanti yang kasar itu supaya ia tetap dapat menahan diri dalam tugasnya.

    “Bertanyalah kepada pengecut itu”, jawab Argajaya, “apa saja yang ingin dilakukan di kampung halamannya ini”.

    Sidanti mengerutkan keningnya. Baginya pamannya memang terlampau kasar menghadapi orang-orang yang sedang dipancing untuk berpihak kepada mereka.

    “Baiklah”, akhirnya Sidanti itu menjawab, dan kepada Wuranta ia bertanya, ” Wuranta, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Apakah ada yang menarik di Kademangan ini untuk dikunjungi?”

    Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu arti pertanyaan itu. Sidanti dan Argajaya ingin menemukan sesuatu yang mungkin berharga bagi mereka.

    Tetapi Wuranta pura-pura tidak mengerti maksud Sidanti. Karena itu ia bertanya, “Apakah maksud tuan?”

    Sidanti tersenyum. Kemudian katanya, “Apakah kau tahu, dimana kami mendapat sesuatu yang dapat disumbangkan untuk perjuangan kami melawan ketamakan orang-orang Pajang? Pusaka misalnya atau perhiasan untuk menambah bekal?”

    “Di rumah Agung Sedayu ada pusaka tuan, tetapi beberapa hari aku sudah mencarinya, namun belum juga ketemu”.

    “Bodoh kau”, bentak Argajaya, “apakah kau tahu, dimana ada orang-orang kaya di Kademangan ini?”

    “O”, desis Wuranta. Sekali lagi telinganya menjadi pedih. “Tetapi tuan, rumah-rumah itu telah pernah tuan kunjungi”.

    Mata Argajaya terbelalak karenanya. Hampir ia mengumpat sejadi-jadinya. Tetapi Sidantilah yang mendahului sambil tertawa, “Baik. Memang barangkali kau benar. Hampir setiap rumah yang cukup menarik telah kami kunjungi. Lalu barangkali kau mempunyai pertimbangan lain?”

    Wuranta menggelengkan kepalanya.

    “Selain harta benda apakah yang dapat kau sumbangkan?”, bertanya Sidanti.

    “Apakah maksud tuan?”

  21. Jilid 20 hal 79-80

    yang hampir diluar kemampuan prajurit biasa. Argajaya itu adalah pemimpin yang agaknya disegani juga. Tetapi untuk mendengarkan hinaan dari mereka terasa telinganya menjadi sakit juga.

    Meskipun demikian Wuranta harus menahan diri. Ia sedang melakukan tugas yang sangat berat. Karena itu ia harus dapat mengorbankan perasaannya dan bahkan harga dirinya. “Pekerjaan yang tidak menyenangkan”, ia berdesah di dalam hantinya.

    Namun sedikit banyak terasa olehnya, bahwa orang-orang lereng Merapi sampai saat itu tidak mencurigainya. Pekerjaannya kini tinggallah mencari kepercayaan yang lebih besar dan berusaha untuk turut serta ke sarang mereka.

    Setelah mereka tidak dapat menemukan jejak Agung Sedayu, maka Sidanti kemudian berkata, “Apakah yang harus kita lakukan kini paman?”

    Argajaya tidak segera menjawab. Diawasinya wajah Wuranta yang kemudian berpaling. Ia tidak mau berpandangan mata dengan paman Sidanti yang kasar itu supaya ia tetap dapat menahan diri dalam tugasnya.

    “Bertanyalah kepada pengecut itu”, jawab Argajaya, “apa saja yang ingin dilakukan di kampung halamannya ini”.

    Sidanti mengerutkan keningnya. Baginya pamannya memang terlampau kasar menghadapi orang-orang yang sedang dipancing untuk berpihak kepada mereka.

    “Baiklah”, akhirnya Sidanti itu menjawab, dan kepada Wuranta ia bertanya, ” Wuranta, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Apakah ada yang menarik di Kademangan ini untuk dikunjungi?”

    Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu arti pertanyaan itu. Sidanti dan Argajaya ingin menemukan sesuatu yang mungkin berharga bagi mereka.

    Tetapi Wuranta pura-pura tidak mengerti maksud Sidanti. Karena itu ia bertanya, “Apakah maksud tuan?”

    Sidanti tersenyum. Kemudian katanya, “Apakah kau tahu, dimana kami mendapat sesuatu yang dapat disumbangkan untuk perjuangan kami melawan ketamakan orang-orang Pajang? Pusaka misalnya atau perhiasan untuk menambah bekal?”

    “Di rumah Agung Sedayu ada pusaka tuan, tetapi beberapa hari aku sudah mencarinya, namun belum juga ketemu”.

    “Bodoh kau”, bentak Argajaya, “apakah kau tahu, dimana ada orang-orang kaya di Kademangan ini?”

    “O”, desis Wuranta. Sekali lagi telinganya menjadi pedih. “Tetapi tuan, rumah-rumah itu telah pernah tuan kunjungi”.

    Mata Argajaya terbelalak karenanya. Hampir ia mengumpat sejadi-jadinya. Tetapi Sidantilah yang mendahului sambil tertawa, “Baik. Memang barangkali kau benar. Hampir setiap rumah yang cukup menarik telah kami kunjungi. Lalu barangkali kau mempunyai pertimbangan lain?”

    Wuranta menggelengkan kepalanya.

    “Selain harta benda apakah yang dapat kau sumbangkan?”, bertanya Sidanti.

    “Apakah maksud tuan?”

    Sidanti tidak meneruskan kata-katanya. Tetapi sambil tersenyum ia berkata, “Ah, hari telah siang. Apakah kita sudah cukup paman?”

    “Lalu anak ini”, berkata Argajaya sambil menunjuk kepada Wuranta.

    Sebelum Sidanti menjawab Wuranta telah mendahului, “Apakah tuan akan segera kembali naik ke lereng Merapi? Aku menjadi takut tuan apabila nanti Agung Sedayu datang kembali”.

    Sidanti tersenyum melihat Wuranta yang kecemasan itu, katanya, “Lalu? Apa yang kau kehendaki?”

    Wuranta tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah kedua pemimpin dari lereng Merapi itu berganti-ganti. Namun agaknya Argajaya tidak begitu senang melihat sikapnya. Maka katanya, “Kenapa kau bertanya kepadanya? Biarkan saja, apa yang akan dilakukannya”.

  22. Buku 20 halaman 22 – 26

    ..kemungkinan. Di antaranya adalah, bahwa Ki Tambak Wedi telah mempergunakan Sekar Mirah sebagai perisai.”

    “Tidak Kiai,” sahut Swandaru, “Sidanti benar-benar memerlukan Sekar Mirah sebagai kelanjutan hubungan mereka di Kademangan ini dahulu. Dengan demikian maka sangat besar kemungkinannya bahwa Sekar Mirah akan tetap hidup. Tetapi akbiat-akibat lain daripada itulah yang harus kami cegah.”

    “Mungkin juga, tetapi ada juga kemungkinan yang lain. Kalau Sidanti harus lari meninggalkan padepokannya karena serbuan pasukan Sangkal Putung dan Pajang, maka Sidanti tidak akan sempat membawa gadis itu. Nah, daripada ia kehilangan Sekar Mirah, maka lebih baik baginya apabila Sekar Mirah itu dibinasakannya sama sekali. Itulah yang harus kita hindari.”

    “Oh,” Swandaru memegang kepalanya dengan kedua tangannya, “ Soal itu akan selalu kembali dan melingkar-lingkar. Tetapi kita tidak dapat membiarkannya dengan berbantah tanpa berbuat sesuatu di sini.”

    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Muridnya itu agak terlampau berani menjawab setiap kata-katanya. Tetapi Kiai Gringsing yang sudah lanjut itu dapat mengerti, apakah sebabnya maka Swandaru dan Agung Sedayu itu seakan-akan menjadi kehilangan pengamatan diri.

    Maka jawab orang tua itu kemudian, “Karena itu Swandaru. Coba dengarlah, aku akan memberikan beberapa cara yang mungkin dapat ditempuh,” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Kepada Untara ia berkata, “Angger. Senapati di daerah ini adalah angger Untara. Meskipun demikian perkenankanlah saya mengusulkan beberapa cara yang mungkin dapat ditempuh.”
    “Silahkanlah Kiai,” sahut Untara.

    “Apakah pasukan yang sekarang mengawal orang-orang Jipang ke Pajang itu akan segera kembali dan bahkan bersama-sama dengan pasukan yang baru untuk angger Untara?”

    “Demikianlah menurut Ki Gede Pemanahan.”

    “Bagus, kalau yang berkata demikian adalah Ki Gede Pemanahan maka pasti akan terjadi,” sejenak Kiai Gringsing itu berhenti, kemudian diteruskannya, “Kalau demikian, maka sebaiknya angger Untara menunggu kedatangan pasukan itu di sini.”

    “Kenapa harus menunggu Kiai,” potong Agung Sedayu, “bagaimana kalau pasukan itu tidak segera datang?”

    “Kita tinggal akan menemukan Sekar Mirah yang telah menjadi klaras. Menjadi daun yang telah kering tanpa arti,” sambung Swandaru.

    “Tunggu dulu,” sahut Kiai Gringsing, “bukan maksudku bahwa kita hanya menunggu saja sampai pasukan itu datang. Kita harus memperhitungkan, bahwa di belakang Sidanti dan Sanakeling itu berdiri Ki Tambak Wedi,” Kiai Gringsing itu terdiam sejenak. Tampaklah kerut-merut menjadi semakin dalam di dahinya. Kemudian ia berkata pula, “Kita harus bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Agal ataupun halus. Karena itu pasukan angger Untara itu sangat kami perlukan. Namun sementara itu kita tidak akan tinggal diam. Kita harus berusaha mendekati padepokan Ki Tambak Wedi dengan diam-diam. Nah, tugas itu dapat diserahkan kepadaku.”

    “Bersama aku,” hampir bersamaan Agung Sedayu dan Swandaru berteriak.

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik,baik,” katanya, “kami bertiga pergi mendahului pasukan Pajang. Tetapi pesanku Sangkal Putung jangan dikosongkan. Sangkal Putung harus tetap dijaga dengan kekuatan yang cukup. Ini adalah tugas angger Widura. Mudah-mudahan kita dapat memecah perhatian Ki Tambak Wedi, seperti Ki Tambak Wedi berhasil membuat kepala kita menjadi pening. Mudah-mudahan perhatian KI Tambak Wedi tertarik pada pasukan Untara yang segera akan mendekati padepokan mereka. Sementara itu kami bertiga mendapat kesempatan untuk mendekat. Mudah-mudahan kita akan dapat melihat setidak-tidaknya mendengar nasib Sekar Mirah.”

    Pringgitan itu kini terdiam, seakan-akan ingin mencernakan kata-kata Kiai Gringsing itu. Beberapa otang saling berpandangan untuk mendapatkan pertimbangan, meskipun hanya lewat sorot mata masing-masing.

    Ki Demang Sangkal Putung mengagguk-anggukkan kepalanya sambil berdesah. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

    Yang mula-mula berbicara adalah Widura, yang selama ini lebih mendengarkan daripada menyatakan pendapatnya, katanya, “Apakah menurut pertimbangan Kiai, Ki Tambak Wedi masih akan kembali lagi ke Kademangan ini? Apakah Ki Tambak Wedi mempunyai kepentingan yang sama seperti Tohpati terhadap Sangkal Putung?”

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, “Aku kira demikian. Ki Tambak Wedi tidak akan dapat menyediakan makan yang cukup untuk waktu yang panjang kepada Sanakeling dan anak buahnya. Mereka pada suatu saat pasti memerlukan lumbung yang dapat disadap untuk kepentingan makan mereka.”

    “Apakah tidak ada daerah yang lebih dekat dari Sangkal Putung, Kiai. Misalnya Jati Anom.”

    “Tentu mungkin. Tetapi kenapa Tohpati memilih kademangan ini daripada kademangan-kademangan lain? Pasti Tohpati itu pun mempunyai alasan yang telah memaksanya berbuat demikian. Bukan mustahil bahwa Ki Tambak Wedi pun mempunya pilihan yang sama. Sebab menurut penilaian oang-orang di luar kademangan ini, di Sangkal Putung tersimpan kekayaan yang berlipat ganda dibandingkan dengan kademangan-kademangan yang lain, sehingga pengorbanan yang diberikan untuk merebut kademangan ini tidak akan sia-sia.”

    Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Di dalam hati kecilnya terbersit pula secercah kebanggaan atas pujian itu, tetapi kebanggaan itu benar-benar harus ditebus dengan sangat mahal. Bahkan kini anak gadisnya harus direbutnya dari tangan orang-orang yang memuakkan itu.

    Widura pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Seperti Ki Demang ia merasa, bahwa Sangkal Putung menelan tebusan yang mahal. Tetapi Widura adalah seorang prajurit. Seorang prajurit yang bukan saja harus mempertahankan lumbung-lumbung yang akan dapat memberi makan kepada lawan, tetapi prajurit memang harus melindingi hak dan milik rakyat. Bukan sebaliknya. Karena itu, seandainya Sangkal Putung itu tak ada apa-apa pun, adalah kuwajiban setiap prajurit Pajang untuk menjaga dan melindunginya dari pihak-pihak yang dapat menelan daerah itu, memperkosa hak dan kemanusiaan.

    Yang bertanya kemudian adalah Swandaru, “ Nah, apakah kita akan berangkat sekarang?”

    “Jangan tergesa-gesa dan kehilangan perhitungan,” jawab gurunya, “Beristirahatlah. Besok kita berangkat setelah kita membuat persiapan-persiapan secukupnya.”

    “Kenapa besok, guru?” sahut Agung Sedayu, “waktu yang sekejap sangat berguna bagi kita. Yang sekejap itu akan dapat meluluhkan segenap masa depan bagi Sekar Mirah. Yang sekejap itu akan bernilai seumur hidupnya.”

    “Itu kalau kita dapat memanfaatkan waktu yang sekejap itu,” sahut Kiai Gringsing, “tetapi kalau kita gagal sama sekali karena kita ditelan oleh nafsu, maka bagi kita bukan saja kehilangan waktu yang sekejap, tetapi kita akan kehilangan semuanya. Sekarang sebaiknya kita beristirahat. Kita dapat menilai pembicaraan ini. Mungkin kita akan menemukan pikiran-pikiran yang ternyata lebih bernilai dari pikiran-pikiran yang kita temukan dengan tergesa-gesa dalam pertemuan ini. Pertemuan yang lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu kemarahan, kecemasan dan ketergesa-gesaan daripada perhitungan yang cermat. Apalagi perhitungan yang bersasaran luas. Hubungan yang bersangkut-paut dengan sikap Pajang terhadap Sanakeling dan Sidanti dan sikap Sangkal Putung atas hilangnya Sekar Mirah. Kita masing-masing tidak dapat memandang dari satu segi. Sebab kedua-duanya memiliki nilainya sendiri-sendiri yang tak dapat saling dipisahkan.”

    Ki Demang Sangkal Putung menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk dapat mengerti keterangan itu. Keterangan Ki Tanu Metir. Ketika ia memandang Untara, maka anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Ki Tanu Metir benar-benar berpandangan cukup luas, mencakup segenap kepentingan yang dihadapi. Untuk mendapatkan Sekar Mirah bukan berarti dapat merusak segenap rencana sikap yang harus ditempuh oleh para prajurit Pajang. Sekar Mirah bagi Pajang hanya merupakan salah satu soal dari seribu macam soal yang harus diatasi. Meskipun demikian Untara tidak akan dapat mengabaikannya. Apalagi Untara menyadari, bahwa adiknya, Agung Sedayu dan Swandaru benar-benar terbakar oleh peristiwa hilangnya Sekar Mirah.

    Demikianlah maka akhirnya pertemuan itu pun dibubarkan. Swandaru segera pergi ke bilik ibunya. Ditemuinya ibunya masih juga menangis ditunggui oleh beberapa orang perempuan. Ketika dilihatnya Swandaru masuk ke dalam biliknya maka tiba-tiba tangisnya mengeras. Seakan-akan diteriakkan kepedihan hatinya sepuas-puasnya.

    “Oh, anakku ngger, kemana kau pergi selama ini? Sepeninggalmu ternyata adikmu hilang dicuri orang. Apakah kau akan membiarkannya saja? Apakah kau tidak akan berusaha untuk mengambilnya kembali? Swandaru, kalau adikmu tidak dapat diketemukan, o, lebih baik aku mati saja sama sekali.”

    Dada Swandaru seakan-akan terbelah mendengar tangis ibunya. Dengan dada yang sesak ia berjongkok di samping pembaringan ibunya. Perlahan-lahan ia berkata, “ Ibu, aku berjanji bahwa aku akan mengambil Sekar Mirah kembali bersama kakang Agung Sedayu dan guru Kiai Gringsing. Aku tidak akan kembali sebelum aku membawa anak itu menghadap ibu.”

    Mendengar janji anaknya, tangis ibunya bahkan seakan-akan meledak. Namun di antara suara tangisnya terdengar ia berkata, “Tidak sia-sia aku melahirkanmu Swandaru. Kau adalah anak laki-laki yang harus dapat aku banggakan. Ayahmu menjadi semakin tua. Kaulah yempat kami bergantung. Juga kali ini.”

  23. Buku 20 halaman 32-36

    Semakin keras sikap Sekar Mirah, maka semakin besar nyala api di dalam dada Sidanti. Sebagai seorang laki-laki yang kuat dan kasar, maka Sidanti merasa bahwa kesanggupan yang ada di dalam dirinya pasti mratani. Juga untuk menundukkan gadis ini.

    Sejenak kemudian maka kembali Sidanti tersenyum. Sambil melangkah ke pintu ia berkata, “Baiklah Mirah. Aku menyadari bahwa yang aku hadapi kali ini adalah seorang gadis yang garang. Karena itu aku harus berhati-hati. Bukan saja berhati-hati, tetapi aku harus bersabar hati.”

    Sekar Mirah kini tidak mau menjerit lagi. Ia tahu bahwa jeritnya pasti akan mengundang Sidanti itu masuk kembali ke dalam biliknya, apabila anak muda itu belum terlampau jauh.

    “Lebih baik aku mati daripada di jamah oleh iblis itu,” desis Sekar Mirah di dalam hatinya. TIba-tiba tangannya meraba ikat pinggangnya. Ia menjadi berlega hati ketika tangannya menyentuh sebuah benda yang kecil. Patremnya masih terselip diikat pinggangnya.Ternyata kemarin Sidanti tidak mengetahuinya, pada saat membawanya ke lereng ini dalam keadaan pingsan.

    “Kalau ia mendekat, maka patrem ini akan membunuhnya atau membunuh diriku sendiri.”

    Tetapi terasa bilik itu menjadi semakin sempit. Ketika kembali malam mencekam lereng Gunung Merapi, maka kembali bilik kecil itu menjadi gelap. Tetapi hati Sekar Mirah jauh melampaui gelapnya malam yang paling pekat sekalipun.

    Ketika Sekar Mirah mendengar pintu bergerit cepat-cepat ia bergeser menjauh. Tangannya segera melekat pada tangkai patremnya yang kecil. Tetapi patrem itu akan dapat mencapai jantungnya apabila ditusukkannya tepat di dada.

    Tetapi yang masuk adalah seorang yang bertubuh kecil. Dengan nanar ia memandangi seisi bilik itu. Ketika terlihat olehnya Sekar Mirah berdiri di sudut bersandar dinding, maka tampaklah seleret giginya yang kemerah-merahan oleh sinar pelita yang dibawanya.

    “Heh, heh, heh,” terdengar orang kecil itu tertawa, “ aku mendapat tugas untuk memasang lampu ini Sekar Mirah. Jangan takut.”

    Sekar Mirah tidak menyahut. Ia menjadi ngeri melihat wajah itu. Kecil tapi liar.

    Ketika orang yang bertubuh kecil itu telah meninggalkan biliknya, maka kepedihan di dalam dada Sekar Mirah menjadi semakin menyekat dadanya. Kini biliknya tidak lagi menjadi gelap. Sebuah pelita yang kecil telah terpancang di dinding. Tetapi justru sinar yang samar-samar itu telah menjadikan Sekar Mirah bertambah ngeri.

    “Oh,” desahnya, “ kenapa aku terlempar ke dalam sarang hantu-hantu semacam ini.” Namun ketika terasa dadanya mendesak air matanya menetes, ditahannya hatinya. Ia harus tetap dapat menguasai dirinya. Ia harus tetap melihat dan mendengar keadaan di sekitarnya.

    “Aku tidak boleh tenggelam,” desahnya.

    Pada saat yang bersamaan, Kiai Gringsing dan Agung Sedayu menunggu di depan pendapa Kademangan Sangkal Putung dengan gelisah. Keberangkatan mereka tertunda karena perkembangan keadaan di Sangkal Putung. Hari itu datang seorang pesuruh dari Pajang yang mengabarkan bahwa pasukan Pajang sedang di perjalanan. Pasukan yang akan diberikan kepada Untara untuk menghadapi hantu di lereng Merapi bersama Sanakeling dan pasukannya. Tetapi ternyata sampai lewat senja pasukan itu belum juga datang.

    “Kenapa kita harus menunggu Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

    “Maksudku, aku akan dapat melihat pasukan itu lebih dahulu. Kemudian apabila kita dapat melihat kekuatan Tambak Wedi, maka segera kita akan dapat membuat perbandingan.”

    “Ah. Apakah kita perlu menunggu lebih lama lagi?” bertanya Swandaru pula. Biarlah kita berangkat. Hari telah menjadi gelap. Kita telah kehilangan waktu lagi satu hari.”

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah kita segera berangkat. Lebih baik kita berangkat lebih dahulu.”

    Kiai Gringsing itupun segera menemui Untara dan Widura. Diberitahukannya kepada Senapati itu bahwa ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi.

    “Kalau keberangkatan kami tertunda ngger, maka akibatnya pasti kurang baik bagi adikmu, Ki Demang dan Swandaru. Apalagi kalau kedatangan kami di lereng Merapi ternyata terlambat, maka kesalahan pasti akan ditimpakan kepadaku dan angger.”

    Untara dan Widura saling berpandangan sejenak. Tetapi Untara masih mencoba menahannya, “ Aku kira pasukan itu pasti datang hari ini Kiai. Kiai akan segera dapat melihat kekuatan itu dan langsung dapat menilainya. Perjalanan Kiai kemudian akan mendapat dua nilai sekaligus. Melihat keadaan Sekar Mirah dan memperbandingkan kekuatan kita dan kekuatan Tambak Wedi.”

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudut pandangan itu akan bermanfaat bagi Untara sebagai seorang Senapati. Tetapi ia tidak sampai hati untuk membiarkan kedua murid-muridnya menjadi tegang, Ketegangan itu akan berbahaya bagi anak-anak muda. Mereka akan dapat kehilangan pertimbangan dan bertindak di luar perhitungan oleh desakan perasaan mudanya.

    Karena itu sejenak Kiai Gringsing menjadi bimbang. Menurut pendapatnya, selisih waktu yang beberapa saat pasti tidak akan banyak pengaruhnya. Kalau Agung Sedayu dan Swandaru dapat menunggunya lagi, maka prajurit Pajang itu pasti akan datang, Namun perasaan kedua anak muda itu agaknya telah mencengkam mereka, sehingga nalar mereka tidak lagi dapat bekerja dengan baik.

    “Angger Untara,” berkata Kiai Gringsing itu kemudian, “sebenarnya aku dapat mengerti perhitungan angger. Tetapu adik angger itu benar-benar telah menjadi waringuten. Demikian pula Swandaru. Kalau kami tidak segera berangkat, aku menjadi cemas bahwa mereka akan pergi lebih dahulu tanpa aku. Nah, apabila demikian keselamatan mereka pasti terancam.”

    Untara menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga Widura. Tetapi agaknya Widura yang telah lebih tua dari Untara itu lebih dapat merasakan perasaan kedua anak-anak muda itu. Karena itu maka katanya, “Untara, biarlah mereka berangkat. Tetapi Kiai Gringsing pasti akan dapat mengatur perjalanan mereka, sehingga mereka akan dapat melihat kekuatanmu nanti di Jati Anom. Yang penting bagi mereka adalah segera berangkat meninggalkan Sangkal Putung. Mereka hanya ingin segera berbuat sesuatu.”

    Akhirnya Untara tidak dapat menahan Kiai Gringsing lebih lama lagi, kalau dengan demikian akan berbahaya bagi adiknya dan Swandaru. Meskipun demikian mereka sempat juga membicarakan cara-cara yang terbaik untuk menyelesaikan tugas mereka.

    “Kalau malam ini pasukan itu telah datang, Kiai,” berkata Untara, “dalam waktu yang singkat aku pasti sudah berada di Jati Anom. Kiai dapat melihat kekuatan itu di sana. Aku akan memasang rontek dan umbul-umbul untuk sedikit memberi sentuhan pada perasaan orang-orang Jipang. Mudah-mudahan mereka segera akan terpengaruh, sehingga mereka pun akan menjadi berkecil hati.”

    “Bagus ngger,” sahut Kiai Gringsing, “berilah tanda-tanda. Kebesaran pasukanmu akan memperkecil daya tahan orang-orang Jipang. Dengan demikian, maka pekerjaanku mencari Sekar Mirah pun akan menjadi lebih mudah. Mudah-mudahan perhatian mereka terpecah. Mudah-mudahan mereka tidak menjadi gila dan berbuat liar di luar batas-batas perikemanusiaan atas Sekar Mirah.”

    “Baiklah Kiai,” berkata Untara kemudian, “ mudah-mudahan Kiai besok sempat menghubungi aku di Jati Anom untuk segala keperluan.”

    Kiai Gringsing pun segera mengabarkan kepada Agung Sedayu dan Swandaru, bahwa mereka dapat berangkat segera. Agung Sedayu dan Swandaru pun dengan tergesa-gesa minta diri kepada Untara, Widura dan Ki Demang berdua. Sekali lagi Swandaru berjanji kepada ibunya bahwa ia akan membawa Sekar Mirah kembali bersama guru dan saudara seperguruannya. Sedang ibunya melepas anak itu seperti melepasnya masuk ke dalam api peperangan. Orang tua mereka sadar, bahwa apa yang mereka lakukan adalah lebih berbahaya daripada menghadapi lawan di dalam garis perang.

    Sesaat kemudian maka mereka bertiga, Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Swandaru pun segera berangkat meninggalkan induk Kademangan. Langkah mereka tampaknya tergesa-gesa seakan-akan sesuatu telah menunggu mereka di luar sana. Namun mereka hampir-hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun.

    Yang terdengar hanyalah gemerisik langkah mereka. Kadang-kadang angin yang agak kencang bertiup menggerakkan dedaunan. Dan malam pun menjadi semakin lama semakin pekat, meskiupn di langit bintang bertabur seperti biji padi di sawah.

    Tetapi tiba-tiba langkah mereka itu pun tertegun. Di kejauhan mereka melihat dua tiga buah obor berjalan kea rah Kademangan Sangkal Putung.

    Sejenak mereka bertanya-tanya di dalam hati. Namun kemudian terdengar Kiai Gringsing bergumam, “ Aku kira mereka itulah pasukan yang datang dari Pajang.”

    “Mungkin,” sahut Agung Sedayu.

    “Apakah kita akan menunggu?” bertanya Kiai Gringsing pula.

    “Tidak,” jawab Swandaru, “apakah gunanya?”

    “Dengan pasukan itu kita akan lebih banyak dapat berbuat.”

    “Menyerang padepokan Ki Tambak Wedi?” bertanya Swandaru, “ Bukankah itu akan sangat berbahaya bagi Sekar Mirah? Seperti tadi Kiai mengatakannya.”

    “Tidak Swandaru. Tetapi pasukan itu dapat menarik perhatian setiap orang di dalam padepokan itu, sehingga perhatian mereka terbagi. Mereka tidak saja terikat untuk mengawasi Sekar Mirah di dalam ruang yang menahannya.”

    “Pasukan itu dapat datang kemudian,” berkata Agung Sedayu, “Lebih baik kita berusaha memasuki padepokan itu. Apabila kemudian pasukan kakang Untara datang maka keadaan kita akan menjadi lebih baik. Kalau terjadi sesuatu dengan Sekar Mirah karena pasukan kakang Untara, kita dapat mengawasinya, dan mudah-mudahan dapat membebaskannya.”

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Perasaan anak-anak muda yang sedang terbakar memang kadang-kadang kurang mempunyai nilai pemikiran. Tetapi Kiai Gringsing tidak membantah. Seperti seorang yang memancing ikan. Sekali-kali talinya diulurnya, Namun sekali-sekali ditariknya pula.

    “Baiklah ngger. Kita tidak menunggu. Tetapi aku ingin melihat jumlah pasukan itu.”

    “Apakah gunanya?”

    “Kita akan membuat perbandingan.”

    “Itu adalah pekerjaan kakang Untara,” sahut Swandaru, “itu adalah pekerjaan petugas sandi dari Pajang. Tugas kita adalah melepaskan Sekar Mirah.”

    Sekali lagi Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, “Baiklah,” katanya dalam nada yang rendah. Meskipun demikian Kiai Gringsing itu sudah dapat menduga dengan pasti bahwa segera Untara sudah berada di Jati Anom.

    Tetapi tiba-tiba Kiai Gringsing itu pun tertegun. Dengan nada yang datar ia berkata, “Apakah mereka itu benar-benar pasukan dari Pajang yang akan diperbantukan kepada angger Untara?”

    Agung Sedayu dan Swandaru pun mengerutkan keningnya, Dengan serta merta mereka bertanya, “Lalu siapakah mereka itu, Kiai?”

    Kembali terdengar suara Kiai Gringsing, “Bagaimana kalau mereka itu orang-orang Sanakeling atau orang-orang Sidanti atau bahkan bersama-sama?”

    Kedua anak muda itu tertegun. Terasa denyut jantung mereka menjadi lebih cepat.

  24. Buku 20 halaman 42-46

    Sekali lagi Kiai Gringsing memandangi wajah muridnya iitu. Tetapi tiba2 ia berkata “Marilah kita brjalan lebih cepat lagi. Kita masih belum sampai ke Tangkil.”

    Yang segera menyahut adalah Swandaru “Marilah Kiai.” Agung Sedayu tidak ber-kata2 lagi. Ia tahu bahwa Swandaru menjadi kesal mendengar pembicaraan yang tidak diketahuinya. Karena itu, maka ketika langkah2 mereka menjadi semaki panjang dan cepat, mereka tidak lagi ber-cakap2. Mereka melangkah didalam malam yang gelap, verjalan diatas jalan berbatu-batu. Tetapi jalan itu kini kering. Tidak digenangi air yang se-olah2 ditumpahkan dari langit, seperti pada saat Aung Sedayu datang berkuda kepadukuhan ini bersama kakaknya Untara, yang pada saat itu sedang terluka.

    Bukan saja jalan ini yang kini menjadi jauh berbeda dengan saat2 ia melewatinya dahulu, tetapi hatinyapun kini sama sekali tidak lagi dicengkam oleh ketakutan dan kecemasan. Ia tidak lagi hampir pingsan melihat tonggak yang tegak dipinggir jalan disambar oleh sinar laut. Dan ia tidak lagi menjadi lemas melihat sebuah bambu yang menyilang ditengah jalan. Seandainya ia kini bertemu dengan apa yang ditemuinya saat ia berjalan dengan kakaknya, maka hatingya justru akan menjadi gembira. Apalagi kalau yang ditemuinya dijalan ini adalah Sidanti.

    Tetapi jalan yang ditempuhnya itu amatlah lenggang. Tak seorangpun yang mereka jumpai diperjalanan. Bahkan rumah2 dipadukuhan kecil itupun tampaknya gelap dan tidak berpenghuni. Hanya kadang2 saja terdengar lamat2 rengek anak2 yang kepanasan oleh udara yang kering. Namun sejenak kemudian suara itupun terputus. Buru2 ibunya menyumbatkan air susu kedalam mulut anaknya.

    Mereka yang berjalan dimalam yang kelam itupun merasakan betapa daerah ini tertekan oleh suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Dan Agung Sedayupun menyadari, apalang setelah Tohpati meninggal, maka laskar Jipang pasti akan menjadi semakin garang berkeliaran didaerah ini.

    Dalam kekelaman malam itu Kiai Gringsing dan kedua muridnya berjalan semakin cepat. Bernyata jalan yangmereka tempuh bukanlah jalan yang dahulu dilewati Agung Sedayu bersama Untara. Jalani ini adalah jalan nyidat, langsung dari Dukuh Pakuwon ke Jati Anom. Bahkan kadang2 mereka harus meloncati parit2 dan menyeberangi sungai. Menerobos pategalan dan sawah2 menyusup lewat padesan2 kecil. Padesan kecil yang sepi.

    Ahirnya merekapun menjadi semakin dekat. Tetapi mereka baru semakin dekat dengan Jati Anom. Mereka masih balum mendaki lereng Merapi mencari padepokan orang yang bernama Ki Tambak Wedi. Padepokan itu masih jauh diarah Barat.

    Ketika mereka sampai dijalan yang cukup lebar, maka segera Agung Sedayu mengataui bahwa mereka telah berada di Sendang Gabus. Agung Sedayu menarik nafas dalam2. Ia adalah anak Jati Anom sejak kecil, tetapi ternyata Kiai Gringsing lebih banyak mengenal lekuk2 padesan disekitar tempat kelahirannya.

    Tetapi Agung Sedayu kemudian tergagap ketika ia mendengar Kiai Gringsing bertanya “Nah, kita sudah sampai di Sendang Gabus. Apakah kita akan pergi ke Jati Anom, ataukah kita mempunyai tujuan lain?”. Agung Sedayu tidak dapat segera menjawab. Seharusnya ialah yang mengajukan pertanyaan itu. Bukan gurunya.

    Ternyata Kiai Gringsingpun berkata seterusnya “Angger berdua. Sudah tentu kita tidak akan dapat langsung masuk kepadepokan Tambak Wedi malam ini. Kita masih belum mengenal jalan2 didaerah itu dengan baik. Kita masih harus mendengar apakah yang ada dipadepokan itu. Sudah tentubahwa Ki Tambak Wedi menyadari keadaan mereka setelah mereka dengan dada terbuka menentang kekuasaan Pajang. Kalau Di Tambak Wedi tidak mempunyai kekuatan yang cukup, maka ia tidak akan berani berbuat demikian. Sehingga dengan demikian, maka sudah pasti bahwa padepokan itu akan dibentengi oleh kekuatan yang dapat mereka percayai. Karena itu, maka kita hrus mencari tempat peristirahatan. Tempat yang baik sebagai pancadan menuju kepadepokan Tambak Wedi itu.

    Agung Sedaya dan Swandaru tidak segera menjawab. Baru sekarang mereka menyadari, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah suatu pekerjaan yang berbahaya. Meskipun mereka sama sekali tidak takut menghadapi bahaya, namun sudah tentu bahwa mereka menginginkan pekerjaan mereka berhasil. Sedang apa yang mereka hadapi kini adalah suatu daerah yang masih gelap bagi mereka. Suatu daerah yang seolah-olah berada dibelakang tabir yang tak tertembus oleh penglihatan.

    Dalam pada itu terdengar Kiai Gringsing berkata pula “Bagaimanakah pendapat kalian?”. Agung Sedayu dan swandaru tidak tahu, bagaimana mereka harus menjawab pertanyaan itu. Tetapi terasa oleh mereka, bahwa sebenarnya mereka telah dibakar oleh kemarahan yang hampir tak terkendali.

    “Jadi” berkata orang tua itu “apa yang akan kita lakukan sekarang? Bukankah aku hanya menuruti kehendak kalian?” Agung Sedayu dan Swandaru masih juga terbungkam. “Nah” berkata orang tua itu kemudian “Jadikanlah kali ini pelajaran buat kalian. Kalian ternyata masih terlampau mudah dibakar oleh persaan tanpa mempertimbangkan nalar. Auku telah membawa kalian kekaki Gunung Merapi seperti yang kalian kehendaki. Agaknya sampai ditempat ini kalian masih belum tahu apa yang akan kalian lakukan. Seandainya kalian berdua pergi tanpa aku, apakah kalian akan langsung mendaki kaki Gunung Merapi dan masuk kedalam padepokan Tambak Wedi?”

    Agung Sedayu dan Swandaru masih belum dapat menjawab. Namun kini mereka menjadi semakin menyadari keadaan. Ketika sekali lagi Kiai Gringsing menasehati mereka, maka perasaan merekapun segera tersentuh. Berkatalah orang tua itu “Tetapi apa yang terjadi ini merupakan suatu pelajaran yang berharga bagi kalian.”

    Kini sejenak mereka terdiam. Langkah mereka terdengar berdesah diantara daun2 kering yang menyentuh tubuh2 mereka yang basah oleh keringat.

    Jati Anom kini sudah berada dihadapan hidung mereka. “Kita berhenti di Jati Anom” berkata Kiai Gringsing. “Bukankah ada rumahmu di Jati Anom” katanya kemudian kepada Agung Sedayu. “Ya Kiai” sahut Agung Sedayu, “tetapi rumah itu agaknya telah kosong. Hanya seorang permpuan tua dan anaknya yang masih kecil sajalah yang menungguinya, pada saat kami tinggalkan.”

    “Kita hanya menumpang tidur”. berkata Kiai Gringsing pula. Segera merekapun menuju kerumah Agung Sedayu. Dalam malam yang semakin dalam maka jalan2 dipadukuhan itupun telah benar2 sepi. Namun kesepian padukuhan itu adaknya terasa ber-lebih2an. Hampir tak terlihat nyala pelita dari rumah2 di-tepi2 jalan. Bahkan regol-regol halamnpun tertutup rapat2. Tak ada peronda di-gardu2 ronda seperti di padesan2 kecil yang telah dilaluinya.

    Tetapi merekapun segera memaklumi. Daerah ini adalah daerah yang tidak terlampau jauh dari padepokan di Lereng Merapi itu. Adalah mungkin sekali bahwa orang2 Jipang dilereng Merapi itu berkeliaran sampai kepadukuhan ini pula. Bahkan mungkin Alap-alam Jalatunda telah mempergunakan daerahnya yang lama untuk mencari apa saja yang diinginkannya. Dengan cara2 yang lama pula. Merampok dan menyamun.

    Meskipun malam menjadi semakin pekat, tetapi Agung Sedayu mengenal daerah itu dengan baik. Setiap lorong dan tikungan dikenalnya seperti mengenali halaman rumah sendiri.

    Ahirnya merekapun sampai kedepan sebuah regol pada halaman yang luas. Tetapi halaman yang luas itu tampaknya gelap bukan main. Tidak ada pelita tersangkut dihalaman, bahkan tak ada sorot yang menerobos dari sela2 dinging rumah itu.

    Mereka bertiga, Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Swandaru berhenti sejenak. Per-lahan2 terdengar Agung Sedayu berkata “Inilah rumahku Kiai.”

    Kiai Gringsing tersenyum. Jawbnya “Aku sudah mengentahuinya ngger”.
    “He” Agung Sedayu terkejut, “Jadi Kiai sudah mengetahui bahwa ini adalah rumahku?”
    “Tentu.”
    “Darimana Kiai mengetahuinya?”
    “Seperti ayanmu pernah mengenal ponkokku yang jelek di Dukuh Pakuwon, maka akupun pernah juga datang kerumah ini.”

    “Oh” Agung Sedayu menarik nafas dalam. Tetapi lebih2 ia terkejut ketika Kiai Gringsing berkata “Aku pernah pula mengunjungi rumah ini bersama angger Untara”.
    “Kakang Untara?”
    “Ya, angger Untara yang terluka itu harus bersembunyi. Tetapi untuk keselamatannya sebagai seorang Senapati, maka ia harus benar-benar tidak diketahui tempatnya. Sekali2 kami harus berpindah tempat. Dalam kesempatan itu kami pernah bersembunyi pula di rumah ini.”

    “Oh” Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun yang terdengar adalah pertanyaan Swandaru “Tetapi apakah halamanmu ini sengaja kau jadikan rumah hantu?”
    “Kenapa?” sahut Agung Sedayu.
    “Tercium olehku bau bunga kantil. Terbayang juga pohonnya yang besar rimbun. Tetapi gelapnya bukan main.”

    Agung Sedayu tersenyum. Tiba2 terkenanglah masa kanak2-nya. Ia sama sekali tidak berani ber-main2 dibawah pohon kantil itu, meskipun disudut halaman rumahnya sendiri. Tetapi kini ia mendapat kesan yang lain.

    Ketika kemudian angin malam berhembus agak kencang, terdengarlah benda berjatuhan. Tidak hanya satu dua, tetapi lima, enam, sepuluh.

    “Apakah itu?” bertanya Swandaru.
    “Apakah kira2”
    Swandaru menggeleng “Aku tidak tahu”
    Agung Sedayu tersenyum “Dihalaman itu terdapat pula sebatang pohon kemiri. Agaknya pohon kemiri itu sedang berbuah. Buahnya yang sudah tua akan berjatuhan ditiup angin.
    “Hem” desah Swandaru “rumahmu memang rumah hantu.”

    “Apakah kau takut hantu?” bertanya Kiai Gringsing.
    “Aku hanya takut kepada hantu dibekas perkemahan orang2 Jipang itu” sahut Swandaru.

    Kiai Gringsing tertawa kecil. Sedang Agung Sedayupun kemudian mempersilahkan mereka masuk.

    Terdengar sebuah gerit pintu regol itu terbuka, dan ketiganyapun kemudian hilang ditelan oleh gelap malam dibalik regol halaman itu.

    Halaman itu memang gelap bukan main. Pohon2 yang besar tumbuh disebelah menyebelah. Meskipun demikian Agung Sedayu masih mengenal halamannya dengan baik. Dengan langkah yang tetap ia berjalan lewat sisi rumahnya langsung kebelakang, ketempat penunggu rumahnya itu berdiam.

    “Mudah2an ia masih berada disana” desisnya.
    “Ketika aku datang bersama angger Untara, perempuan itu masih disana.” berkata Kiai Gringsing.

    Dan ternyata disebuah bilik kecil dibelakang rumah itu masih mereka lihat sebuah pelita yang menyala. Agung Sedayupun menarik nafas bergumam “Ha itulah ia. Ternyata perempuan itu masih disana.”

    Per-lahan2 Agung Sedayu mengetuk pintu bilik itu. Dan dari dalam rumah itupun terdenger suara menyapa “Siapa?”
    “Aku Sedayu”
    “Oh, angger Sedayu? Apakah angger datang bersama angger Untara?”
    “Tidak bibi. Aku bersama dua orang kawanku.”
    Yang terdengar kemudian adalah langkah kaki perempuan itu ber-lahan2. Terdengar sebuah gerit kecil dan pintu itupun terbuka.

  25. Buku 20 halaman 47-51

    “Angger Agung Sedayu” desis perempuan itu.
    “Ya bibi.”
    “Marilah. Marilah masuk dahulu.” berkata perempuan itu terbata2. Tetapi hal itu mula2 sama sekali tidak menarik perhatian Agung Sedayu. Disangkanya perempuan yang sudah lama tidak melihatnya itu hanya sekedar terkejut melihat kehadirannya yang tiba2 jauh ditengah malam.

    Tetapi ketika mereka bertiga melangkah masuk, dengan ter-gesa2 pintu itupun ditutupnya sambil bergumam “Setiap sorot lampu yang meloncat keluar akan dapat memanggil orang2 itu untuk datang.”
    “Siapa?” bertanya Agung Sedayu yang mulai menjadi curiga.

    Sejak perempuan itu memandangi ketiga orang yang kini duduk diatas sebuah amben bambu. Diamben itu pula, anaknya seorang anak laki2, tidur mendengkur.

    Bilik itupun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas2 mereka, dan dengkur anak yang sedang tidur dengan nyenyaknya itu.

    Wajah perempuan itu tiba2 menjadi tegang. Ia telah mengenal Agung Sedayu sejak masa kanak2. Ia mengenal Agung Sedayu sebagai seorang anak laki2 yang manja, yang tidak berani beranjak dari sisi ibunya. Karena itu maka sejenak perempuan itu menjadi ragu2. Bahkan kemudian ia bertanya “Angger, apakah angger datang hanya bertiga dimalam begini?”

    “Ya bibi. Aku datang bertiga dari Sangkal Putung. Tetapi siapa yang sering datang kemari?”
    “Angger” bisik orang itu se-akan2 takut didengar oleh dedaunan diluar dinding biliknya “sebaiknya angger Agung Sedayu menjauhi tempat ini.”

    “Ya kanapa?” Agung Sedayu menjadi tidak sabar.
    Kembali perempuan tua itu menjadi ragu2. Ditatapnya Agung Sedayu dan kedua temannya ber-ganti2.

    Ahirnya Agung Sedayu dapat memaklumi perasaan perempuan itu. Dengan sungguh2 ia berkata untuk meyakinkan perempuan itu, “Bibi. Katakanlah. Sekarang barangkali aku tidak akan pingsan mendengar nama siapapun yang akan bibi sebutkan. Mungkin bibi masih menganggapku seperti Agung Sedayu yang dahulu, yang sambil menangis mengikuti kakang Untara meninggalkan Jati Ano dimalam yang gelap dibawah hujan yang lebat. Tetapi sekarang tidak bibi. Bukan karena aku menjadi seorang yang sakti, tetapi aku sekarang mempunyai seorang teman yang tidak akan dapat dilukai oleh tajamnya senjata” sambil menunjuk kepada Swandaru ia berkata “Lihatlah temanku yang demuk ini. Ia akan mampu melindung rumah ini.”

    Perempuan tua itu memandangi Swandaru dengan sorot mata yang diwarnai oleh kebimbangan hatinya. Namun sekali lagi Agung Sedayu meyakinkannya “Bibi, namanya adalah Swandaru. Swandaru Geni. Tangannya dapat menjadi sepanas bara dan sorot matanya apabila ia sedang marah dapat menyala seperti semburan api.”

    “Uh” Swandaru berdesah. Tetapi ia tidak memotong kata2 Agung Sedayu.

    Perempuan itu ahirnya dapat meyakini kata2 Agung Sedayu. Wajah Swandaru yang bulat itu dapat melenyapkan ke-ragu2annya, sehingga perlahan sekali ia berkata “Angger Agung Sedayu. Daereh ini sekarang terlalu sering didatangi oleh orang2 dari lereng Merapi. Bahkan rumah ini pernah dimasukinya dan di-aduk2 seluruh isinya. Sambil me-maki2 mereka bertanya dengan kasar, apakah ini rumah Untara dan Agung Sedayu. Angger Agung Sedayu, aku ternyata tidak dapat ingkar. Mereka tau benar bahwa rumah ini adalah rumah angger berdua. Kalau nanti angger masuk keruang dalam, maka angger akan melihat, bahwa perabot rumah ini telah menjadi rusak.”

    Dada Agung Sedayu menggelegak mendengar kata2 perempuan tuan itu. Hatinya baru saja dibakar oleh peristiwa hilangya Sekar Mirah, sehingga dimalam yang gelap ini ia merayapi jalan2 kecil, pematang2 dan kandang2 lumpur sawah untuk mendekati lereng Merapi, tempat Ki Tambak Wedi membuat sarangnya. Dani kini ia mendengar rumahnya di-obrak-abrik orang.

    Dengan gemetar Agung Sedayu kemudian bertanya “Bibi, siapakah yang berani masuk kerumah ini dengan kasar?”

    “Orang2 dari lereng Merapi ngger. Mereka sengaja meninggalkan pesan untuk membuat angger dan angger Untara marah.”

    “Apa kata mereka?”
    “Mereka menyebut nama2 mereka dengan Sidanti, Sanakeling, Argajaya, Alap-alap Jalatunda dan beberapa orang lain.”

    Nama2 itu telah menyengat hati Agung Sedayu demikian dahsyatnya sehingga anak muda itu terlonjak berdiri. Dengan suara yang bergetar Agung Sedayu bertanya “Kapan, kapan bibi? Kapan mereka itu datang kemari?”

    “Kemarin ngger. Baru kemarin. Dan hampir setiap hari ada saja orang2 mereka yang berkeliaran. Siang dan malam.”

    Kemarahan Agung Sedayu kini memuncak. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Swandarupun tiba-tiba telah terbakar pula. Dengan lantang ia berkata “Mari kita cari orang2 itu”.

    “Mari” sahut Agung Sedayu “mudah2an kita dapat bertemu.”

    Namun dalam pada itu terdengar Kiai Gringsing bertanya “Kemana kita harus mencari mereka itu ngger? Mengelilingi padukuhan ini, atau mendaki lereng Merapi?”

    Agung Sedayu dan Swandaru terdiam.
    “Kalau kita mengelilingi padukuhan ini, semalam suntuk, bahkan ditambah lima hari lima malam, tetapi kebetulan mereka tidak datang kemari, maka kita pasti didak akan dapat bertemu. Sedang apabila kita naik kelereng Merapi, maka pertanyaan yang serupa seperti tadi, tentang benteng yang mengelilingi padepokan itu akan berulang kembali.”

    Swandaru dan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kembali mereka terpaksa menyadari keter-gesa2an mereka. Namun meskipun demikian Agung Sedayu masih juga menemukan sebab, supaya mereka dapat bertemu dengan orang2 lereng Merapi itu. Dengan serta-merta ia berkata “Bibi, bukalah pintunya.”

    Perempuan tua itu memandang Agung Sedayu dengan ragu2. Tetapi Agung Sedayu berkata sekali lagi “Bukalah pintu. Biarlah sorot lampumu meloncat keluar. Biarlah orang2 itu melihatnya apabila ia berada dipadukuhan ini. Biarlah mereka datang kemari. Kami ingin bertemu dengan mereka.”

    “Tetapi ngger……” sahut perempuan itu cemas.
    “Jangan cema bibi. Kami bertiga membawa senjata dilambung kami. Aku bukan Agung Sedayu beberapa bulan yang lampau.”

    Tetapi perempuan tua itu masih juga ragu2 sehingga sekali lagu Agung Sedayu berkata “Bukalah bibi. Bukalah” Bahkan kemudian aAgung Sedayu berkata “Apakah dirumah ini ada lampu yang lain? Kalau ada pasanglah diluar rumah, aku ingin melihat sekali lagi mereka masuk kehalaman rumahku”.

    Kiai Gringsing menggelengkan kepala melihat anak2 muda yang sedang marah itu. Tetapi ia dapat mengerti, betapa darah muda yang sedang bergolak itu melampaui bergolaknya ombak lautan yang paling dahsyat.

    Meskipun demikian Kiai Gringsing merasa perlu untik memperingatkannya “Angger Agung Sedayu. Apakah perlunya kalian memanggil orang2 Merapi itu sekarang.”

    Agung Sedayu menjadi heran mendengar pertanyaan gurunya. Dengan pandangan mata yang aneh ia menjawab “Guru, apakah masih belum jelas, bahwa mereka telah menghina aku beberapa kali? Hilangnya Sekar Mirah dan kini rumahku diobrak-abriknya”.

    “Benar ngger. Angger pasti merasa terhina. Tetapi apakah dengan perbuatan itu angger kana mendapat keuntungan, justru dalam usaha angger menebus kekalahan yang pernah terjadi.”

    “Aku belum pernah dikalahkannya Kiai” sahut Agung Sedayu, sedang Swandaru menyelanya “Kapan kami mengalami kekalahn sejak ia meninggalkan Sangkal Putung?”

    “Kekalahan itu telah membawa angger berdua kemari. Hilangnya Sekar Mirah.”
    “Itu bukan kekalahan Kiai, itu adalah kecurangan” sahut Swandaru.
    “Ya, ja. Demikianlah” berkata Kiai Gringsing memperbaiki istilahnya.
    “Kenapa usaha itu akan dapat mengganggu. Kiai?
    “Dengan demikian merekan akan dapat membawa orang2-nya kemari, mengepung tempat ini dan menangkap kita bertiga. Kalau kita berhasil lolos misalnya, maka penjagaan atas diri Sekar Mirah akan menjadi semakin ketat”

    “Ah” terdengar kedua anak muda itu mengeluh “lalu apa yang dapat kami lakukan Kiai. Segala perbuatan tidak dapat dibenarkan. Apakah keperluan kita ini kemari?” bertangya Swandaru.

    “Kita mencari Sekar Mirah” sahut Kiai Gringsing “karena itu, tahanlah perasaan kalian, Jangn menimbulkan sesuatu yang dapat mengganggu usaha itu.”

    Swandaru menggeretakkan didinya, sedang Agung Sedayu menarik nafas dalam2.

    “Sekarang tidurlah. Beristirahatlah dengan baik. Kecuali kalau malam ini mereka datang dan kita tidak mempunyai waktu untuk menyingkir, maka kita harus berkelahi. Tetapi kalau tidak, kita harus mempergunakan saat ini se-baik2nya untuk beristirahat. Waktu kita hanya sedikit, sedang pekerjaaan yang kita hadapi adalah pekerjaan yang cukup berat.”

    Kembali terdengar gemeretak gigi Swandaru. Tetapi anak2 muda itu tidak membantah.

    “Nyai” berkata Kiai Gringsing “dimanakah kami dapat beristirahat sejenak untuk menghabiskan malam ini?”

    Perempuan penunggu rumah Agung Sedayu menjadi agak bingung mendengar pertanyaan itu. Sejenak dipandanginya wajah Agung Sedayu, se-akan2 ingin bertanya kepadanya dimana mereka akan beristirahat.

    Agung Sedayupun kemudian menangkap maksud perempuan tua itu, sehingga dengan ragu2 ia bertanya “Bagaimana ruang dalam?”

    “Ruang dalam itu telah menjadi morat-marit ngger. Tetapi kalau saja kalian bersedia membantangkan tikar dilantai.”

    “O, itu sudah cukup” Sahut Kiai Gringsing “sehalai tikar sudah cukup baik untuk kami.”

    Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyahut lagi. Merekapun kemudian mengikuti perempuan itu masuk keruang dalam dengan sehelai tikar dan sebuah pelita kecil.

    Demikan mereka melangkah masuk, demikian dada mereka menjadi se-olah2 berguncang. Mereka melihat perabot rumah mereka menjadi rusak. Bahkan beerapa bagian dari dinding sentong tengahpun menjadi rusak. Pembaringn, gelodok2 dan paga2, menjadi potongan2 kayu yang berserakan.

    “Hem” Agung Sedayulah menggeretakkan giginya.
    “Aku belum mengumpulkannya” desis perempuna tua itu
    “Aku ingin salah seorang dari kalian berdua, kau atau angger Untar, melihatnya, bahwa rumah ini telah menjadi berantakan.”

    “Ya” sahut Agung Sedyu singkat. Dan Tiba2 ia ingat kan bibinya yang tinggal di Banyu Asri. Mungkin sekali bibinyapun akan dapat menjadi sasatran kekasaran orang2 Sanakeling. Maka dengan serta-merta ia bertanya “Bibi, bagaiman dengan bibi di Banyu Asri?”

    “Bibimu tiba2 telah hilang, ngger.”
    “He? Apakah bibi diambil pula oleh orang2 dari lereng Gunung Merapi itu?”
    “O tidak ngger. Mungkin bibimu mengetahui pula kemungkinan itu. Beruntunglah bahwa bibimu sempat mengungsi. Tak seorangpun diberitahukannya, kemana ia pergi. Tetapi rumahnyapun menjadi sasaran kemarahan orang2 itu seperti rumah ini.”

    “Hem” Agung Sedayu menggeram “Untunglah bibi mempunyai ketajaman firasat. Sebagai isteri seorang prajurit ia harus sigap bertindak sendiri.”

    Dalam pada itu, maka merekapun kemudian membentangkan tikar di-tengah2 ruangan. Sejenak kemudian merekapun telah

  26. test .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: