Woro-woro dari buku 175


Nesu

Senopati nesu  (marah) ?
Jelas tidak.

Tugas Senopati sebagaimana ditulis di dalam Surat Tugas sebagaimana telah ditulis di pengantar kitab 145 :

  1. Menjaga ketenangan suasana padepokan.
    Segala bentuk keributan silakan dilakukan di padepokan lain.
     
  2. Menjaga ketenangan hati para cantrik.
    Padepokan hanya untuk menuntut ilmu bukan untuk pamer kelebihan
     
  3. Menjaga keteraturan penyampaian kitab.
    Baik rutinitas maupun penyimpanannya.
     
  4. Mengatur jadwal tugas.
    Tugas bukan ditunjuk tetapi mengajukan diri sehingga perlu ditata supaya tidak tumpang tindih. Jika kayu bakar di dapur habis, silakan membelah kayu.. dan bukan hanya bisa menyalahkan cantrik yang bertugas.

Apa yang Senopati jalankan masih sesuai dengan tugas itu.

Pengelola padepokan sombong dan arogan ?

Beberapa cantrik telah menulis komen seperti itu. Betulkah demikian ?! 
Setiap situs pasti ada pengelolanya. Semata-mata agar situs itu tidak mati. Mungkin Kisanak tidak menyadari ketika kita bersorak-sorak menembus 200 komen, maka pengelola situs musti membaca setiap komen, memilah mana yang musti ditanggapi, bahkan menghapus komen/spam. 

Setiap situs punya policy nya sendiri-sendiri. Silakan kita memilih untuk terlibat atau tidak di dalamnya. Ada banyak situs yang memberikan buku Api Di Bukit Menoreh. Mungkin mereka memberikan policy yang berbeda dari disini. Jangan disamakan.

Kisanak yang memiliki situs/blog tentu sudah berpengalaman dalam mengelola komen. Tapi mengelola 300 komen per hari ? Dengan pengunjung lebih dari 10 ribu per hari ? Pasti jarang terjadi. Tolong Senopati dibantu. Saring kembali komen yang hendak diberikan. 

Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Haruskah kesalahan SATU cantrik dibebankan kepada semuanya. Tentu saja tidak. Namun semua musti mesu diri juga. Dahulu jika salah satu cantrik SPOILER maka yang lain akan mengingatkan. (Betulkan Anakmas Sukra ?) Tapi sekarang malah menambahi. Ayo dong.. mana semangat kebersamaan, semangat memiliki, semangat membesarkan padepokan, yang dulu ada saat padepokan ini berdiri. 

Para cantrik baru mungkin tidak merasakan atmosfir itu. Namun bisa mempelajarinya dengan membaca komen diawal-awal kitab ini berdiri. Para cantrik lah pemilik padepokan ini. Bukan Ki GD, Senopati, ato bebahu padepokan yang lain. KITA pemilik padepokan ini.

Sehingga ketika seseorang kita hujani dengan kecaman, ketika seseorang terang-terangan menghina cantrik yang lain .. maka orang bisa berkata, ” Oh begini tho sikap pembaca ADBM. Tidak ada nilai dalam ceritanya.”

Dan SHM pun sedih.

Senyum

Mesem kalo kata orang Jawa. Tetaplah tersenyum. Bahkan saat sakit sekalipun. Bukan hanya ditujukan kepada orang yang sedang tertimpa kesusahan tetapi juga orang yang sedang marah. Senopati masih tersenyum sewaktu dihujat. Semoga para cantrik juga demikian saat sedang marah.

Kenapa musti senyum? Karena dengan senyum kita tidak berbicara. Tidak akan terlontar ucapan yang kurang pantas seperti kutukan atau hujatan. Sehingga saat suasana telah kembali ceria, tidak ada perasaan malu ketika teringat ucapan dan sikap yang kurang pantas ketika marah.

Mohon Maaf

Untuk ini semua Senopati mohon maaf. Dan mohon kerja samanya. 

 

PS : Cantrik yang meniru Senopati telah mendapat beberapa kali teguran, tentu saja dia menyadarinya. Tetapi masih mengulangi dengan beberapa kejadian yang lain. Bahkan dengan bentuk semu. Semoga dia mengelola sebuah situs yang besar sehingga lebih bijaksana dalam bertindak.

Sumber : Buku 175

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/2009/03/20/woro-woro-dari-buku-175/trackback/

%d blogger menyukai ini: