WISATA ADBM

wiki-adbmPara kadang sekalian,

Meskipun semua peristiwa dalam ADBM adalah fiksi, tetapi lokasi-lokasi penting tempat berlangsungnya berbagai peristiwa adalah nyata.  Tempat-tempat penting itu mungkin sampai sekarang masih ada, atau sudah berubah sama sekali.

Halaman ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi geografis tempat-tempat penting di dalam ADBM, Mudah-mudahan pada akhirnya tempat-tempat itu nantinya bisa kita pindahkan ke sebuah peta sehingga memudahkan pembaca untuk memperoleh gambaran menyeluruh lokasi-lokasi itu. Kami sangat mengharapkan bantuan para kadang sekalian untuk ikut menyumbangkan pengetahuan geografinya.

ADBM juga menyimpan banyak harta karun lain yang berharga. Di antaranya adalah jenis makanan, senjatapakaian, tokohsiasat perang kuno, dan sebagainya.

Terhadap harta karun ini pun kami ingin mengangkatnya. Untuk sementara halaman tetek-bengek ini kita namakan WISATA ADBM.

Masih banyak halaman kosong Kisanak .. mohon gotong royongnya. Sampaikan di kolom komentar atau sampaikan tautan (link) nya sehingga bisa kami pindahkan kemari. 

Nuwun.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 19 November 2008 at 09:57  Comments (102)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/wisata-adbm/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

102 KomentarTinggalkan komentar

  1. Selamat Ki Gede, dengan dibukanya Balai Wisata ADBM ini, maka banyak manfaat yang diperoleh para cantrik padepokan ini, yaitu antara lain meningkatkan semangat para cantrik untuk terus berlatih sekaligus menghayati betapa beratnya perjuangan para nenek moyang kita dalam membuka sebuah hutan menjadi kota. Dengan melihat jarak antara satu tempat dengan tempat lainnya yang ternyata cukup jauh, harus ditempuh dengan berjalan kaki.
    Mudah2an kalo ada rejaning jaman, nantinya Wisata ADBM ini dapat dilakukan secara fisik dengan thema “Napak Tilas ADBM”. Apa hantu gowok masih ada ya?
    Ki Truno Podang

  2. kadipaten Jipang pusat pemerintahannya sekarang di wilayah kabupaten bojonegoro,

    • Bukan Mas, tapi di seputaran kota Cepu.

  3. konon gelar garuda nglayang pernah digunakan oleh panglima besar Soedirman dalalm perang palagan Ambarawa

  4. seingat embah masih banyak gelar perang lainnya spt: gedong minep, samodra rob, jurang grawah dll

    • masih ada sapit urang, garuda nglayang, cakra buya, gelatik neba, dirada meta

      • Mungkin yang benar Cakra Byuha. Gelar perang ini dikembangkan dari cara berperang orang India yang banyak dikutip dari Serat Mahabharata dan Bharatayudha. Modelnya bisa dilihat di musium keprajuritan di TMII, Jakarta. Namun beberapa gelar perang semacam ini sulit diterapkan di daerah berkontur yang diliputi vegetasi. Beberapa gelar perang ini menuntut setiap senopati yang memimpin bagian untuk saling melihat dan berkomunikasi. Mungkin perang semacam ini hanya efektif dengan jumlah prajurit 5.000-10.000 orang saja.

  5. Maaf ada pertanyaan lagi, ada istilah kabuyutan yang dipimpin oleh seorang buyut. kira2 masuk kategori apakah ini?

    • itu kan yang kakinya disko to mbah

      • Buyut niku nak bapake mbah-e ?

        • o sudah ganti to

          • Sudah mulai kemarin .

    • Kabuyutan itu kurang lebih desa sekarang ini.

  6. @denmas rudita
    bukannya supit urang, mas?

    • betul…betul…betul!!!

  7. Untuk Mbah Man,
    Buyut = lurah atau kepala padukuhan,
    Kalau menurut bausastra jawa, kabuyutan adalah kalurahan.

    Untuk gelar perang selain yang disebutkan Mbah Man ada pula gelar Pasir Wutah, namun sayang sekali sampai saat ini deskripsi atas gelar gelar tersebut belum bisa diuaraikan.

  8. Makam Ki Ageng Selo
    Makam Ki Ageng Selo teletak di desa Selo, kecamatan Tawangharjo 10 km sebelah timur kota Purwodadi, Kab Grobogan sebagai obyek wisata spiritual, makam Ki Ageng Selo ini sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah pada malam jum’at, dengan tujuan untuk mencari berkah agar permohonannya dikabulkan oleh Tuhan YME. Ki Ageng Selo sendiri menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar khususnya atau masyarakat jawa umumnya, diakui memiliki kesaktian yang sangat luar biasa sampai – sampai dengan kesaktiannya ia dapat menangkap petir.
    Ki Ageng Selo dipercaya oleh masyarakat jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan raja – raja di tanah Jawa. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja – raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja – raja Yogyakarta. Api dari sela dianggap sebagai api keramat.

    Legenda dari Makam Ki Ageng Selo :
    Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja – raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
    KISAH LENGKAP DI http://grobogan.go.id

  9. Makam Ki Ageng Selo
    Makam Ki Ageng Selo teletak di desa Selo, kecamatan Tawangharjo 10 km sebelah timur kota Purwodadi, Kab Grobogan sebagai obyek wisata spiritual, makam Ki Ageng Selo ini sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah pada malam jum’at, dengan tujuan untuk mencari berkah agar permohonannya dikabulkan oleh Tuhan YME. Ki Ageng Selo sendiri menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar khususnya atau masyarakat jawa umumnya, diakui memiliki kesaktian yang sangat luar biasa sampai – sampai dengan kesaktiannya ia dapat menangkap petir.
    Ki Ageng Selo dipercaya oleh masyarakat jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan raja – raja di tanah Jawa. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja – raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja – raja Yogyakarta. Api dari sela dianggap sebagai api keramat.

    Legenda dari Makam Ki Ageng Selo :
    Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja – raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
    KISAH LENGKAP DI http://grobogan.go.id

  10. PETILASAN Pajang di Sukoharjo

    Bila Anda ke Kota Solo, tak ada salahnya singgah sejenak di Petilasan Pajang. Namun, jangan dulumemanjangkan imajinasi akan menemui reruntuhan situs bekas kerajaan yang didirikan Jaka Tingkir, yang terkenal dengan legendanya telah mengalahkan puluhan buaya putih di Bengawan Solo ini. Meskipun begitu, seperti situs sejarah lainnya, Petilasan Pajang tetap memberi pelajaran sangat berharga akan pentingnya menghargai sejarah secara obyektif.

    Memasuki kompleks petilasan di perbatasan Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo, yaitu di Kampung Sanggrahan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, ini kita akan disambut dua arca gupala yang memegang trisula dan gada. Di dalam kompleks terdapat bangunan sederhana berupa pendopo, langgar, dan secuplik lahan yang disebut Gedung Pusoko. Di sini dipercaya masih tersimpan sisa-sisa pusaka peninggalan Kerajaan Pajang yang dipendam di dalam tanah.

    Petilasan ini didirikan tahun 1993 oleh Paguyuban Amarsudi Petilasan Kasultanan Karaton Pajang. Kusairi alias Mas Ngabehi Rekso Bantolo dari seksi budaya paguyuban ini mengatakan, pada tahun 1960-an masih ditemukan susunan batu bata sisa reruntuhan bangunan keraton serta umpak atau fondasi batu penyangga tiang bangunan. Kini yang tersisa hanya beberapa buah batu bata yang kemudian disemen di atas Gedung Pusoko dan sebuah umpak. Bangunan baru yang ada, sama sekali tak mengindahkan kaidah rekonstruksi arkeologi.

    Kusairi mengakui, pihaknya hanya ingin agar sisa peninggalan Kerajaan Pajang tak hilang sama sekali. “Kalau kami tak nekat membangun,mungkin daerah ini sudah berubah jadi perumahan,” ujar dia.

    Dalam perjalanan waktu, lokasi ini berubah menjadi tempat bertapa atau bersemedi. Pengunjungnya pun sekarang juga datang dari luar kota.

    Sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta Soedarmono mengatakan, Petilasan Pajang mencerminkan masih adanya bias kajian sejarah. “Kenyataan sejarah harus tetap berani kita lihat apa adanya, tak boleh terpengaruh latar belakang pengkaji atau penguasa. Dengan demikian tak ada pengabaian,” kata Soedarmono.

    Meskipun bercorak kerajaan Islam, tujuan pendirian Kerajaan Pajang adalah mengembalikan citra kerajaan Jawa. Hal ini ditandai dengan tak adanya alun-alun selatan yang jadi simbol konsep akhir zaman.(SRI REJEKI)

    SUMBER: KOMPAS, 5 Mei 2007

  11. JIPANG
    sumber:http://citizennews.suaramerdeka.com
    Selain minyak, sesungguhnya Cepu memiliki daya tarik lain yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah objek wisata sejarah. Objek ini berupa peninggalan sejarah masa lampau, Petilasan Kadipaten Jipang Panolan. Kerajaan ini terkenal di masa pemerintahan Adipati Aryo Penangsang dengan tunggangan kuda saktinya, Gagak Rimang. Petilasan ini terletak di desa Jipang, berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu.

    Untuk mencapai daerah Jipang, bisa ditempuh dengan kendaraan sepeda motor atau mobil. Petilasan ini berbentuk makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan bekas pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat ini bisa ditemukan Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, Petilasan Masjid, dan makam kerabat kerajaan waktu itu, antara lain makam Raden Bagus Sumantri, Raden Bagus Sosrokusumo, Raden Ajeng Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng dapat ditemukan Makan Santri Songo. Disebut demikian karena di situ dapat ditemukan sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata pemerintahan Pajang.

  12. Di Kraton Yogyakarta diketahui ada banyak tombak yang bentuk mata tombaknya bervariasi. Ada yang bercabang tiga, ada pula yang seperti kudi, ada yang seperti cakra, dan ada pula yang berbentuk konvensional. Diantara tombak-tombak pusaka kagungan dalem yang dipandang istimewa adalah Kangjeng Kyai Ageng Plered. Tombak tersebut sudah ada di lingkungan kraton Mataram-Islam sejak pemerintahan Panembahan Senopati.

    Jenis-jenis tombak atau tumbak yang pernah dikenal dalam tradisi Kraton Yogyakarta adalah sebagai berikut:
    a. Tumbak, senjata panjang yang ujungnya terbuat dari besi/baja tajam, panjang lebih kurang 2 meter.
    b. Tumbak Larakan, senjata panjang lebih kurang 2,5-3 meter, membawanya dilarak
    c. Talempak, tumbak pendek kurang lebih 1,5 meter
    d. Trisula, tumbak panjang dengan ujung tajamnya bermata 3
    e. Canggah, tumbak panjang kurang lebih 3 meter dengan ujung tajamnya 2 mata lengkung
    f. Lawung, tumbak tumpul empuk, hanya untuk latihan perang
    SUMBER: http://gudeg.net/

  13. Di buku buku ADBM, banyak nama-nama orang dan gerakan yang menggunakan nama burung mulai dari Alap-alap jalatunda, Ki Jalak, Ki Branjangan, serta gerakan seperti burung sikatan.
    Untuk melihat seperti apa burung burung yang dijadikan sebagai penamaan orang atau gerakan dipersilakan liat di http://www.burung.org/detail_burung.php?id=95&op=burung
    di kolom pencarian tinggal di ketik jalak, sikatan, dll

  14. urun rembug:
    gelar perang:
    gedong minep; adalah sebuah gelar yang digunakan untuk menjebak musuh yang jumlahnya lebih sedikit dengan cara memancing pasukan lawan untuk masuk kedalam gelar, kemudian pasukan lawan kalau sudah masuk ditengah, mereka kurung (gedong=gedung, minep=menutup)kemudian lawan akan dihancurkan. gelar ini tidak efektif manakala jumlah pasukan seimbang atau lebih banyak, karena kepungan lambat laun akan jebol.
    jurang grawah; mirip dengan gedong minep, namun biasanya digunakan untuk melawan pasukan yang lebih banyak jumlahnya dengan cara memancing mereka kedalam pasukan, tetapi tidak dikurung (jurang=jurang, grawah= menganga), lawan dibiarkan masuk sebanyak banyaknya, namun begitu sampai ketengah pasukan langsung dibinasakan. ini hanya bisa dilaksanakan jika pasukan memiliki kelebihan kemampuan, baik perseorangan maupun dalam kelompok dibanding dengan pasukan lawan, atau dapat dikatakan ini adalah gelar yang sering digunakan oleh pasukan khusus, walaupun kecil jumlahnya tapi berkemampuan tinggi.

  15. tambahan:
    gelar cakra byuha biasanya digunakan untuk melindungi raja, orang penting, tawanan atau pusaka,yang akan dibawa kesuatu tempat.orang/ barang yang dilindungi tsb diletakkan ditengah gelar, sementara pasukan melindungi berlapis lapis berbentuk bulat/melingkar. dengan ujung2 geriginya pasukan bergerak menghancurkan penghalang yang merintangi.
    gelar supit urang bertujuan memecah gelar lawan dan memisahkannya dari induk pasukan. biasanya untuk menghadapi lawan yang menggunakan gelar dirada meta. senopati utama menempati kepala, sedangkan senopati pengapit masing2 di supit kiri dan kanan. pada saat penyerangan dua supit bergerak mendahului menyerang lambung dirada meta dari sisi kanan dan kiri, tujuannya memecah pasukan agar telepas dari pasukan induk. apabila ini berhasil, biasanya sang senopati akan segera mengubah gelar dari supit urang ke gedong minep, salah satu supit yang dipimpin senopati pengapit segera berbalik menyerang dari belakang gelar dirada meta yang sudah terpotong jadi dua, sementara supit yang lain menghancurkan ekor dirada meta yang sudah terpisah dari induknya dan berada diluar kepungan gelar gedong minep. Untuk menghadapi gelar supit urang, senopati dirada meta tidak akan membiarkan lambungnya dirobek oleh supit urang. biasanya pada kaki2 gajah ini yang terdiri dari sekelompok prajurit akan bergerak secara fleksibel menendang supit urang yang coba2 merobek lambungnya

    • Mas, bisa diberi sketsanya. Menarik sekali penjelasan mas. Barangkali bisa diberi sketsa bagaimana gelar perang ini bekerja. Salut!

  16. koreksi sedikit mengenai lokasi Tambak Wedi, tertulis sebelumnya sbb : “Tambak Wedi :
    Belum dapat dipastikan, apakah ini wilayah yg sama dengan desa/kecamatan Wedi di sebelah Utara kota Klaten arah Merapi.”

    menurut saya yg asli Klaten, Tambak Wedi kemungkinan besar tidak ada hubungannya dengan Kecamatan Wedi, karena Kecamatan Wedi justru terletak di sebelah Barat-Selatan Klaten…
    sedangkan menurut AdBM, Tambak Wedi berada di lereng Gn.Merapi dan tidak jauh dari Jati Anom (Jatinom), maka kemungkinan besar Tambak Wedi berada di daerah Kecamatan Kemalang atau Kecamatan Tulung, yg merupakan dua Kecamatan di Klaten yg terletak di dekat Gunung Merapi.

  17. Kalau dipikir-pikir, SHM memang Sang Maestro di bidang Sastra Sejarah. Buktinya begitu melekat banyak nama-nama yang diciptakan beliau, nyaris menjadi abadi..Contohnya, Tim Mahesa Jenar merupakan Tim Sepak Bola asal Semarang (?), bahkan konon pernah ada yang mengkultuskan dan telah menemukan makam Mahesa Jenar di suatu tempat (Pengging?)..opo tumon. Juga nama tempat seperti Bukit Menoreh menjadi Booming setelah buku ADBM di era 70-80an muncul dan sekarang memang merupakan sentralnya salak pondoh..(desa pondoh?)
    saya juga nggak ngerti, bgmana bisa begitu kuat imaginasi beliau untuk menciptakan nama daerah-daerah lama..konon katanya, sebelum dituliskan beliau sempatkan untuk survey wilayah-wilayah tersebut..

  18. Nambahin ah…
    SH Mintardja memang seorang yg maju dan berpikiran ke depan. siapapun pasti menyangka dan sedikitnya beliau ngerti olah kanuragan dan hal2 yg berbau supranatural seperti yg tumbuh subur di tanah jawa.
    Tapi dengan bijak…, beliau tidak pernah mengaitkan segala sesuatu yg supranatural, olah kejawen dsb dalam setiap cerita yg beliau buat. Bahkan dengan sengaja beliau “menertawakan” hal2 yg masa kini tumbuh subur di bumi modern Indonesia . Tidak ada mantera, tidak ada aji2an dan kekuatan seperti yg diusung paranormal sekarang untuk membuat kekuatan yg luar biasa, semua adalah olah kanuragan dengan latihan intens.

    Kiai Gringsing sang dukun digambarkan sebagai sosok berpengetahuan luas ttg obat2an dan herbal.., tanpa menyem2 dan bleduk dupa serta mulut komat kamit baca mantera…, sungguh lain dengan para dukun sekarang yg jualan di tv – yg jualan ayat2.., jin, dan tahayul!!.
    Mungkin belum popular ” kirim REG…, hehehehehe”

    Malahan beliau melecehkan KI Meni dan Ki sapa tuh dari Menoreh yg menyambat para jin dan jerangkong dengan elmu2 paranormalnya… malah ga mempan sama sekali thd swandaru.. hehe, ibarat menohok Ki Joko Bodo masa kini., padahal cerita dibuat nyaris 30 tahun yl!!

    Selevel SH Mintardja yg lahir di tanah Jawa Tengah,ga mungkin jauh dari olah kejawen dan kebatinan, tapi beliau tidak memamerkan kelebihan2 supranatural dalam ceritanya, malah menggiring kita untuk berbuat rasional…. Tidak juga mengagungkan suatu agama, shg cerita beliau bisa diterima semua kalangan.

    Sekian warta berita malam ini, punten Ki Gede…salam..

  19. ya ya…
    saya cuma bisa mengangguk-angguk saja…

  20. mas Dewo..Tul!
    SHM merupakan maestro di bidangnya bahkan bisa disejajarkan spt Ki Nartosabdho (dalang kondang asal Semarang) sbg Empu dalam hal crita carangan..
    Tapi memang..Tul!
    SHM adalah umat beragama yg taat bahkan nek tak “condro” dengan usia sepuhnya, kereligiusan beliau udh dalam tataran hakikat, meskipun juga banyak kelemhannya (ketika wafat beliau dimakamkan di pemakaman Kristen), spt kebanyakan orang Jawa, pasti pada umumnya beliau juga fasih klu sekedar crita ttg kejawen, olah kanuragan, tirakatan dst..dst..Tapi yg jelas beliau bukan yg termasuk menganggungkan klenik.. Maka itu, dalam untaian narasi beliau, tanpa pernah nampak menonjolkan suatu isme dalam pengertian religi tertentu. SALUT!
    Beliau, menilik alur narasi dalam cerita ADBM atau apa saja, menunjukkan kalau dalam kehidupannya sehari-hari begitu sabar, tenang dan tidak ngoyo..
    Sementara itu saja..
    Salam kompak mas..!

  21. SUTOWIJOYO

    Siapa Dia ??????
    Mengapa Kerajaan Pajang rajanya hanya satu ??? (tidak ada raja ke dua di Pajang).
    Mengapa pewaris kerajaan Pangeran Benowo tidak menjadi raja ??????
    Mengapa justru Sutowijoyo yang melanjutkan menjadi raja???? (walau pindah Lokasi kerajaan di Mataram/Mentaok).

    RADENRONGGO ngudal Sabdo :

    Semua pertanyaan diatas merupakan ke”SENGAJA”an dari Mas Karebet/Hadiwijoyo sendiri.
    Sutowijoyo memang asli anak dari Mas Karebet.
    ada dua kemungkinan :
    1. Ibu Sutowijoyo memang istri ke I dari Mas Karebet (tapi bukan garwo padmi/permaisuri) yang di lungsurkan kepada Pemanahan sahabatnya (konon jaman dulu kalau dapat lungsuran dari raja adalah berkah??)
    mungkin karena kurang gaul Pemanahan nggak punya istri.>>>> Sutowijoyo jadi anak angkat.

    2. Istri Pemanahan di”GANGGU” oleh Mas Karebet (Mengingat kenakalan karebet thd wanita luar biasa) sehingga melahirkan Sutowijoyo. Pemanahan marah tapi dapat menahan diri (untuk menutupi aib semua) tapi Karebet harus berjanji bahwa anak itu(Sutowijoyo)harus jadi anak angkat Karebet,dan harus menggantikan Karebet untuk menjadi raja.

    Pajang hanya satu raja !!!!!!
    Benowo sengaja tidak dididik ilmu pemerintahan oleh Karebet, yang dididik justru Sutowijoyo.
    Nah pada saat Sutowijoyo dan Benowo sama sama dewasa Karebet bingung ??? Kalau pewaris kerajaan diberikan Sutowijoyo secara legal pasti diprotes oleh banyak pihak, Namun kalau diwariskan ke Benowo, Karebet kalah janji dengan Pemanahan.
    Bukan Karebet kalau tidak dapat menyelesaikan masalah secara piawai. Maka diskenario lah perpindahan kekuasaan(skenario politik tingkat tinggi). Pemanahan disuruh membesarkan alas mentaok menjadi kerajaan dan pada saatnya Mataram juga harus memerangi Mataram (saat itu Karebet sudah tua dan sakit sakitan). Maksudnya menurut hukum perang, perpindahan kekuasaan dengan jalan peperangan yang menang SAH memegang tampuk pemerintahan.

    Itulah cerita yang tidak kalah menarik,sebagai selingan sambil menunggu ransum dari BANJAR WISATA ADBM. NUWUN SALAM !!!!!!!

  22. maaf mataram memerangi pajang

  23. Mungkin yang tepat Pajang memerangi Mataram,karena pada waktu itu Sultan Hadiwijaya sendiri yang memimpin pasukan yang akan menyerang ke Mataram.
    Konon ceritanya ,ditengah perjalanan pasukan Pajang yang akan menyerang ke Mataram ,hancur lebur terkena letusan gunung merapi.
    Kemudian diperjalanan pulang ke Pajang ,Sultan Hadiwijaya sakit,sampai mangkat(meninggal).
    Konon menurut cerita lagi,sebelum Beliau wafat sempat berpesan kepada anaknya ,yaitu Pangeran Benowo agar tidak mendendam kepada Sutawijaya.
    Singkat kata permusuhan antara Pajang dan Mataram harus dihentikan.
    Setelah Sulatan Hadiwijaya wafat, kemudian Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram yang pertama.
    Dengan gelan Panembahan Senopati.
    Sutawijaya tidak menggunakan gelar Sultan,demi menghormati ayah angkatnya yang telah wafat.

    Pangapunten Raden rangga saya cuma nambahin saja .
    Biar wisata ADBM semakin semarak.

    Salam.

  24. untuk tau lebih banyak tentang Panembahan Senopati alias Sutawijaya mungkin bisa dibaca dalam Wisata ADBM.

  25. Berikut Informasi tentang Candi Prambanan yang saya ambilkan dari web site : http://www.javacandi.com/artikel_candi/prambanan.html. Disana ada foto2nya yang indah.

    Welcome to Candi Prambanan site

    Candi Prambanan terletak di sebelah selatan Candi Sewu, terletak 16 Km kearah timur dari kota Yogyakarta atau berada di sisi utara jalan Yogya-Solo tepatnya berada di desa Karangasem kecamatan Bokoharjo kabupaten Sleman Yogyakarta, secara administratif candi Prambanan terletak diperbatasan antara kabupaten Klaten (Jawa Tengah) dan kabupaten Sleman (Yogyakarta).
    Candi Prambanan, dibagian tengahnya, Candi Lara Jonggrang, diduga dibangun oleh King Daksha, Shivaist Dynasty (Dinasti Syiwa) dari Mataram kuno sekitar tahun 915. Bagian yang penting adalah teras segi empat bertingkat keatas dan dilindungi dinding batu. Didalamnya berdiri 8 candi dengan tinggi bertingkat. Lara Jonggrang adalah yang terbesar dan didedikasikan untuk Dewa Syiwa, disebelah selatannya berdiri Candi Brahma dan sebelah utaranya Candi Wisnu. . Berdasarkan Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 856 M, nama asli Candi Prambanan adalah Siwa Grha, adapun nama Candi Prambanan diambil dari nama tempat Candi berada.
    Ada juga pendapat bahwa berdasarkan Prasasti Ciwagrha dan Wanua Tengah III, Candi Prambanan dibangun abad 9, atas perintah Rakai Panangkaran, Raja Mataram Kuno.
    Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 47 m, namun seperti halnya dengan candi-candi yang lain, Candi Prambanan ditemukan kembali dalam keadaan runtuh dan hancur serta ditumbuhi semak belukar. Hal ini karena telah ditinggalkan manusia pendukungnya beratus-ratus tahun silam. Secara administratif kompleks candi ini berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Masyarakat sering menyebut candi ini dengan nama candi Larajonggrang, suatu sebutan yang sebenarnya keliru karena seharusnya Rara Jonggrang. Kata rara dalam bahasa Jawa untuk menyebut anak gadis. Dalam cerita rakyat Rara Jonggrang dikenal sebagai putri Prabhu Ratubaka yang namanya diabadikan sebagai nama peninggalan kompleks bangunan di perbukitan Saragedug sebelah selatan Candi Prambanan. Dikisahkan dalam cerita tersebut ada seorang raksasa Bandung Bandawasa namanya. Ia mempunyai kekuatan supranatural dan ingin mempersunting putri Rara Jonggrang. Untuk itu dia harus membuat candi dengan seribu arca didalamnya dalam waktu satu malam. Permintaan tersebut dipenuhi oleh Bandung Bandawasa, namun Rara Jonggrang curang sehingga pada saat yang ditentukan candi itu belum selesai, kurang sebuah arca lagi. Bandung Bandawasa marah dan mengutuk putri Rara Jonggrang menjadi pelengkap arca yang keseribu. Arca tersebut dipercayai sebagai arca Durgamahisasuramardhini yang berada di bilik utara Candi Siwa. Yang jelas Durgamahisasuramardhini adalah istri Dewa Siwa.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  26. Sambungan dari atas :

    Layout Candi Prambanan

    Candi Prambanan dikenal kembali saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar. Usaha pertama kali untuk menyelamatkan Candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 baru dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang. Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan Candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan, pada tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar. Candi Brahma mulai dipugar tahun 1978 dan diresmikan 1987. Candi Wisnu mulai dipugar tahun 1982 dan selesai tahun 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi perwara yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut / patok.

    Kompleks Candi Prambanan mempunyai 3 halaman, yaitu halaman pertama berdenah bujur sangkar, merupakan halaman paling suci karena halaman tersebut terdapat 3 candi utama (Siwa, Wisnu, Brahma), 3 candi perwara, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi sudut/patok. Halaman kedua juga berdenah bujur sangkar, letaknya lebih rendah dari halaman pertama. Pada halaman ini terdapat 224 buah candi perwara yang disusun atas 4 deret dengan perbandingan jumlah 68, 60, 52, dan 44 candi. Susunan demikian membentuk susunan yang konsentris menuju halaman pusat.
    Nuwun,
    Ki Truno Podang

  27. tambahan informasi lokasi,

    semangkak, kalau kita menyusuri Jl.Merapi (searah dari arah barat ke timur) melewati SMU 1 Klaten, trus Stadion Trikoyo, bablas terus sampai pertigaan Sidowayah belok kiri trus belok kanan (ikuti jalur kearah Solo)…
    setelah belok kanan itu lurus sampai mentok, nha di sebelah kiri jalan pentokan itulah daerah Semangkak…
    jadi letaknya kira-kira 1 km setelah Stadion Trikoyo.

  28. Urun-urun dikit!
    Para sedulur masih ingat dalam satu bagian, Ki Damar ngudarasa sendirian setelah dia dicegat Kiai Gringsing yang nyaru jadi hantu Kiai Dandang Wesi. Ki Damar menyebut-nyebut nama Panembahan Jati Srana. Siapa dia dan di mana bertempat tinggal? Saya belum menyelesaikan cerita yang masih keruh di tlatah yang sedang dibuka itu. Sampai jilid 59, sosok itu belum muncul dengan jelas. Namun lepas dari jalan cerita itu, nama Jati Srana memang benar ada dan terletak di ngarai Pegunungan Menoreh. Nama itu sekarang dikenal dengan Desa Jatisarana yang masuk Kecamatan Nanggulan. Di sebelah utara, Desa Jatisarana berbatasan dengan Desa Kembang (orang juga mengenal dengan nama Kenteng). Sebelah barat desa ini dibatasi dengan hamparan sawah yang luas. Nah, jika kita berdiri di pinggir desa, barisan bukit Menoreh akan tampak jelas. Pegunungan itu seakan menjadi beteng pertahanan bagi Desa Jatisarana. Demikian yang bisa saya bagikan. Terima kasih.

  29. Mangir, tepatnya disebelah barat daya kabupaten Bantul. Palbapang (1 km sebelah selatan dari pusat kota bantul) berjalan 3 km arah barat. sampailah di daerah Mangir. Di sudut kampung ini masih ada tonggak batu pengikat gajah.

  30. Sungai (Kali) Opak adalah nama sebuah sungai yang mengalir di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sungai ini panjangnya sekitar 19 kilometer dengan muaranya menghadap ke Samudra Hindia.

    Sungai (Kali) Progo adalah sebuah sungai yang mengaliri Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Indonesia. Sungai ini bersumber dari lereng Gunung Merapi yang melintas ke arah barat daya. Di daerah Ngluwar, Kabupaten Magelang, Kali Progo dibendung untuk sarana irigasi bagi masyarakat Yogyakarta oleh Belanda. Bendungan ini dikenal sebagai “Ancol Bligo” yang menjadi taman rekreasi. Irigasi yang berasal dari sungai progo ini mengalir dari Ngluwar menuju ke arah Timur membelah Kabupaten Sleman dan menuju ke Kabupaten Klaten. Saluran irigasi ini dikenal dengan Selokan Mataram (Van Der Wijck). sungai ini mengalir membelah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kali Progo ini menjadi ambang batas antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulon Progo.

    • Seingat saya hulu Kali Progo ada di lereng Gunung Sindoro. Setiap peringatan Waisak biasanya ambil air suci dari mata airnya di Jumprit. Dari Ngadirejo, Temanggung ke arah barat. Kalau tidak salah disana ada wanawisata yang dikelola Perhutani.

  31. Ketika Panembahan Senopati kesulitan menaklukkan Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Karanglo mempunyai gagasan strategi mengalahkan Mangir. Caranya, putri sulung Senopati diutus menjadi ledhek (penari jalanan) untuk memikat Mangir. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah.
    Tak ada alasan bagi Ki Ageng Mangir untuk tidak sungkem kepada mertuanya, yang tidak lain musuh besarnya. Saat Ki Ageng Mangir tewas di depan Panembahan Senopati, Ratu Pembayun dalam keadaan mengandung.
    Menurut Surakso Ismail, Panembahan Senopati bermaksud menghabisi pula keturunan Ki Ageng Mangir. Namun, oleh Ki Ageng Karanglo niat ini berhasil dicegah, karena membunuh janin berarti mengakhiri hidup Ratu Pembayun.
    Pesan Panembahan Senopati, bila si anak lahir kelak, juga harus dihabisi agar tidak menjadi musuh dalam keluarga. Ak- hirnya, Ratu Pembayun dijadikan triman (dikeluarkan dari Keraton, diberikan kepada seseorang untuk diasuh atau dijadi- kan istri), dan diserahkan kepada Ki Ageng Karanglo.
    “Ratu Pembayun kemudian dijodohkan dengan putera Ki Ageng Karanglo dalam keadaan mengandung (disarikan dari: Iwan’s Blog)
    Makam Ki Ageng Mangir terletak di Kutho Gedhe satu kompleks dengan makam Panembahan Senopati dan Makam Ki Ageng Pemanahan. Makan Ki Ageng Mangir dibatasi pagar yang melambangkan bahwa beliau ketika hidup separo hati sebagai musuh Mataram dan separo sisanya merupakan putra menantu.
    Di depan kompleks makam, kira2 300 m dari gerbang terdapat petilasan watu gilang berbentuk persegi panjang kira-kira 1,5 m2 yang dinaungi dengan rumahan kecil (cungkup). Konon watu gilang tersebut merupakan tempat singgasana Panembahan Senopati ketika menerima pasewakan. Di salah satu tengah sisi dari batu tersebut, terdapat lekukan yang kata jurukunci saat itu, merupakan bekas kepala Ki Ageng Mangir ketika kepalanya dibenturkan ke batu tersebut dan menemui ajalnya (wafat).
    Masih dalam cungkup, tetapi dibatasi dengan tembok, terdapat batu sebesar bola basket, tetapi terdapat lubang2 sebesar jari..Konon merupakan bekas tusukan jari jemari Raden Ronggo ketika masih kecil dan mempunyai kesaktian yang tiada taranya..

  32. Lokasi cerita ADBM banyak yang berada di sekitar tempat tinggal saya waktu kecil. Saya dulu kalau malam menjelang tidur suka membayangkan Untoro kakak Agung Sedayu yang jadi Prajurit Pajang dan ditempatkan di Jati Anom, mau sowan ke Pajang akan melewati jalan (mungkin dulu hutan) dekat rumah saya sambil naik kuda.

  33. cita-cita membuat peta perlu dilanjutkan. Jati Anom, Sendang gabus, Pakuwon, Banyu Asri, Macanan, Semangkak, Sangkal Putung, Tambak Baya, Mentaok, Prambanan, Menoreh, Pengging, Branjangan, Lemah Cengkar, Cupu Watu, Mangir, Kali Wedi, Tempuran, Pajang, Kali Opak. Itu catatan saya atas nama sejumlah tempat yang ada sampai jilid 70. Hampir semua tempat ada di Kab Klaten, Bantul, Jogja, serta(mungkin) Magelang dan Boyolali.

    GD: Yang dari Klaten, tolong infonya mengenai Sendang gabus, Pakuwon, Banyu Asri, Macanan, Pengging, Branjangan, Lemah Cengkar, Cupu Watu.
    Ki Gede ada pertanyaan: di kali apa tuh pertempuran pasukan Jipang dan Pajang terjadi? Seingat saya Kali Opak, tapi kalau lihat peta Pajang dan Jipang mungkin Kali Bengawan Solo. Mohon pencerahan

  34. betul ki. ini saya copykan kisah penangsang:

    Arya Penangsang
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Arya Penangsang atau Arya Jipang, adalah bupati Jipang Panolan yang memerintah pada pertengahan abad ke-16. Ia melakukan pembunuhan terhadap Sunan Prawoto raja terakhir Demak tahun 1549, namun dirinya sendiri kemudian tewas ditumpas para pengikut Sultan Hadiwijaya, penguasa Pajang.Arya Penangsang juga terkenal sakti mandraguna.
    Menurut Serat Kanda, Ayah dari Arya Penangsang adalah Raden Kikin putra Raden Patah raja pertama Kesultanan Demak. Ibu Raden Kikin adalah putri bupati Jipang sehingga ia bisa mewarisi kedudukan kakeknya. Selain itu Arya Penangsang juga memiliki saudara lain ibu bernama Arya Mataram.
    Pada tahun 1521 Pangeran Sabrang Lor raja kedua Demak meninggal dunia. Kedua adiknya, yaitu Raden Kikin dan Raden Trenggana berebut takhta. Raden Mukmin (putra Raden Trenggana) mengirim utusan membunuh Raden Kikin sepulang salat Jumat di tepi sungai. Sejak itu, Raden Kikin terkenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen (bunga yang gugur di sungai).
    Sepeninggal ayahnya, Arya Penangsang menggantikan sebagai bupati Jipang Panolan. Saat itu usianya masih anak-anak, sehingga pemerintahannya diwakili Patih Matahun. Wilayah Jipang Panolan sendiri terletak di sekitar daerah Blora, Jawa Tengah.
    Raden Trenggana naik takhta Demak sejak tahun 1521 bergelar Sultan Trenggana. Pemerintahannya berakhir saat ia gugur di Panarukan, Situbondo tahun 1546. Raden Mukmin menggantikan sebagai sultan keempat bergelar Sunan Prawoto.
    Pada tahun 1549 Arya Penangsang dengan dukungan gurunya, yaitu Sunan Kudus, membalas kematian Raden Kikin dengan mengirim utusan bernama Rangkud untuk membunuh Sunan Prawoto. Rangkud sendiri tewas pula, saling bunuh dengan korbannya itu.
    Ratu Kalinyamat adik Sunan Prawoto menemukan bukti kalau Sunan Kudus terlibat pembunuhan kakaknya. Ia datang ke Kudus meminta pertanggungjawaban. Namun jawaban Sunan Kudus bahwa Sunan Prawoto mati karena karma membuat Ratu Kalinyamat kecewa.
    Ratu Kalinyamat bersama suaminya pulang ke Jepara. Di tengah jalan mereka diserbu anak buah Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos sedang suaminya terbunuh.
    Arya Penangsang kemudian mengirim empat orang utusan membunuh saingan beratnya, yaitu Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana yang menjadi bupati Pajang. Meskipun keempatnya dibekali keris pusaka Kyai Setan Kober, namun, mereka tetap dapat dikalahkan Hadiwijaya dan dipulangkan secara hormat.
    Hadiwijaya ganti mendatangi Arya Penangsang untuk mengembalikan keris Setan Kober. Keduanya lalu terlibat pertengkaran dan didamaikan Sunan Kudus. Hadiwijaya kemudian pamit pulang, sedangkan Sunan Kudus menyuruh Penangsang berpuasa 40 hari untuk mendinginkan amarahnya yang labil.
    Dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya agar segera menumpas Arya Penangsang. Ia yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Hadiwijaya menang.
    Hadiwijaya segan memerangi Penangsang secara langsung karena merasa sebagai sesama anggota keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh bupati Jipang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Mataram.
    Kedua kakak angkat Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara. Hadiwijaya memberikan pasukan Pajang untuk membantu karena anak angkatnya, yaitu Sutawijaya (putra kandung Ki Ageng Pemanahan ikut serta.
    Ketika pasukan Pajang datang menyerang Jipang, Arya Penangsang sedang berpesta merayakan keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Meskipun sudah disabarkan Arya Mataram, Penangsang tetap berangkat ke medan perang.
    Perang antara pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Sore. Perut Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian Penangsang tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip dipinggang.
    Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.
    Dalam pertempuran itu Ki Matahun patih Jipang tewas pula, sedangkan Arya Mataram meloloskan diri. Sejak awal, Arya Mataram memang tidak pernah sependapat dengan kakaknya yang mudah marah itu.
    Kisah kematian Arya Penangsang melahirkan tradisi baru dalam seni pakaian Jawa, khususnya busana pengantin pria. Pangkal keris yang dipakai pengantin pria seringkali dihiasi untaian bunga mawar dan melati. Ini merupakan lambang pengingat supaya pengantin pria tidak berwatak pemarah dan ingin menang sendiri sebagaimana watak Arya Penangsang.
    Kepustakaan
    Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
    H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
    Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
    M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
    Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius

  35. Ki Juru Martani
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Kyai Juru Martani (lahir: ? – wafat: Mataram, 1615) adalah tokoh cerdik yang menjabat sebagai patih pertama dalam sejarah Kesultanan Mataram, bergelar Kyai Adipati Mandaraka.

    Silsilah Ki Juru Martani
    Ki Juru Martani adalah putra Ki Ageng Saba atau Ki Ageng Madepandan, putra Sunan Kedul, putra Sunan Giri anggota Walisanga pendiri Giri Kedaton. Ibunya adalah putri dari Ki Ageng Sela, yang masih keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad).
    Juru Martani memiliki adik perempuan bernama Nyai Sabinah yang menikah dengan Ki Ageng Pamanahan, putra Ki Ageng Ngenis, putra Ki Ageng Sela. Dengan demikian, Ki Ageng Pemanahan adalah adik sepupu sekaligus ipar Juru Martani.
    Juru Martani memiliki beberapa orang anak yang menjadi bangsawan pada zaman Kesultanan Mataram, antara lain Pangeran Mandura dan Pangeran Juru Kiting.
    Pangeran Mandura berputra Pangeran Mandurareja dan Pangeran Upasanta. Mandurareja pernah mencoba berkhianat pada pemerintahan Sultan Agung tapi batal. Ia kemudian ikut menyerang Batavia yahun 1628 dan dihukum mati di sana bersama para panglima lainnya. Sementara itu Upasanta diangkat menjadi bupati Batang. Putrinya dinikahi Sultan Agung sebagai permaisuri, berputra Amangkurat I.

    Peran Awal Ki Juru Martani
    Nama Juru Martani muncul dalam Babad Tanah Jawi sebagai tokoh yang mendesak Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi agar berani mengikuti sayembara menumpas Arya Penangsang.
    Arya Penangsang adalah bupati Jipang Panolan yang telah membunuh Sunan Prawoto raja Demak tahun 1549. Sayembara diadakan oleh Hadiwijaya bupati Pajang dengan hadiah, tanah Pati dan Mataram.
    Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi semula tidak berani mengikuti sayembara karena takut pada kesaktian Arya Penangsang. Setelah Ki Juru Martani berjanji menjadi pengatur strategi, maka keduanya pun berangkat mendaftar.

    Strategi Membunuh Arya Penangsang
    Strategi untuk mengalahkan adipati Jipang disusun rapi oleh Juru Martani. Mula-mula Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara sambil membawa serta Sutawijaya (putra kandung Ki Ageng Pemanahan). Hadiwijaya merasa tidak tega karena Sutawijaya telah menjadi anak angkatnya. Maka, ia pun memberikan pasukan Pajang untuk mengawal Sutawijaya.
    Pasukan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi yang terdiri atas gabungan orang Pajang dan Sela berangkat dan menunggu di sebelah barat Sungai Bengawan Sore. Juru Martani melarang mereka menyeberang karena sungai tersebut sudah dimantrai oleh Sunan Kudus, guru Arya Penangsang.
    Juru Martani kemudian menangkap tukang kuda musuh yang sedang mencari rumput. Telinga orang itu dipotong dan ditempeli surat tantangan atas nama Hadiwijaya.
    Si tukang kuda pulang ke kadipaten Jipang melapor pada majikannya. Arya Penangsang marah melihat pembantunya dilukai, apalagi terdapat surat tantangan agar Arya Penangsang bertarung tanpa kawan melawan Hadiwijaya di tepi Sungai Bengawan Sore.
    Arya Penangsang tidak kuasa menahan emosi. Ia pun berangkat melayani tantangan musuh. Siasat Juru Martani berhasil. Apabila surat tantangan dibuat atas nama Ki Ageng Pemanahan atau Ki Panjawi, pasti Arya Penangsang tidak sudi berangkat.
    Arya Penangsang tiba di tepi timur Bengawan Sore berteriak-teriak menantang Hadiwijaya. Ia tidak berani menyeberang karena ingat pesan Sunan Kudus. Namun Juru Martani sudah menyusun rencana jitu. Sutawijaya disuruh naik kuda betina yang sudah dipotong ekornya.
    Akibatnya, kuda jantan milik Arya Penangsang yang bernama Gagak Rimang bisa melihat alat vital si kuda betina. Kuda tersebut menjadi liar dan tidak terkendali sehingga membawa Arya Penangsang menyeberangi sungai mengejar kuda milik Sutawijaya.
    Ketika Arya Penangsang baru saja mencapai tepi barat, Sutawijaya segera menusuk perutnya menggunakan tombak Kyai Plered. Perut Arya Penangsang robek dan ususnya terburai. Namun ia masih bertahan. Ususnya itu disampirkan pada pangkal keris pusakanya.
    Arya Penangsang yang sudah terluka parah masih bisa meringkus Sutawijaya. Sutawijaya dicekik sampai tidak berdaya. Juru Martani meneriaki Arya Penangsang agar bertarung secara adil. Karena Sutawijaya bersenjata tombak pusaka Kyai Plered, maka ia juga harus memakai pusaka jika ingin membunuh Sutawijaya.
    Maka, Arya Penangsang pun mencabut keris pusaka Kyai Setan Kober yang terselip di pinggangnya. Akibatnya, usus yang tersampir di pangkal keris tersebut ikut terpotong, sehingga Arya Penangsang pun menemui kematiannya.
    Pasukan Jipang dipimpin Patih Matahun datang menyusul majikan mereka. Melihat Arya Penangsang tewas, mereka pun menyerbu untuk bela pati. Kesemuanya itu dapat ditumpas oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi.
    Sayembara telah usai. Ki Juru Martani menyusun laporan palsu bahwa, Arya Penangsang mati dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Apabila Hadiwijaya di Pajang mengetahui kalau pembunuh sebenarnya adalah Sutawijaya, tentu ia akan lupa memberi hadiah tanah Mataram dan Pati, mengingat Sutawijaya adalah anak angkat Hadiwijaya.

    Ki Juru Martani Sebagai Penasihat Sutawijaya
    Setelah mengalahkan Arya Penangsang tahun 1549, Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan tanah Mataram sejak tahun 1556. Ki Juru Martani ikut bergabung di desa itu. Ki Ageng Pemanahan meninggal tahun 1575, digantikan Sutawijaya, yang berambisi menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka.
    Ki Juru Martani menjadi penasihat Sutawijaya. Ia juga mendukung perjuangan Sutawijaya selama masih berada pada jalan yang benar. Juru Martani pun berangkat bertapa ke puncak Gunung Merapi meminta bantuan penguasa di sana. Hasilnya, ketika terjadi perang melawan Pajang tahun 1582, Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan memuntahkan laharnya menyapu pasukan Sultan Hadiwijaya.

    Kesaktian Ki Juru Martani
    Juru Martani tidak hanya dikisahkan cerdik, tapi juga memiliki kesaktian tinggi, meskipun tidak pernah diceritakan bertarung melawan musuh.
    Babad Tanah Jawi mengisahkan, Sutawijaya memiliki putra sulung bernama Raden Rangga yang suka memamerkan kesaktiannya. Suatu hari Raden Rangga disuruh pergi ke rumah Juru Martani untuk berguru. Pemuda itu pun berangkat dengan setengah hati karena merasa lebih kuat dari pada Juru Martani.
    Sesampainya di tujuan, Juru Martani sedang salat. Raden Rangga menunggu di teras mushala sambil iseng melubangi batu lantai menggunakan jari. Juru Martani muncul dari dalam dan mengatakan kalau batu mushala tersebut keras jadi jangan buat mainan. Seketika itu juga, Raden Rangga tidak mampu lagi melubangi batu mushala dengan jarinya.
    Sejak itu, Raden Rangga berguru pada Juru Martani dengan sepenuh hati karena ia yakin kalau orang tua yang dianggapnya lemah dan tidak pernah bertarung itu ternyata menyimpan kesaktian yang luar biasa.

    Akhir Hayat Ki Juru Martani
    Ki Juru Martani menjabat sebagai patih Kesultanan Mataram sejak pemerintahan Sutawijaya tahun 1586-1601. Dilanjutkan pemerintahan Mas Jolang putra Sutawijaya yang memerintah tahun 1601-1613. Lalu digantikan oleh Adipati Martapura putra Mas Jolang yang menjadi raja satu hari, dan dilanjutkan Sultan Agung putra Mas Jolang lainnya yang naik takhta sejak tahun 1613.
    Kyai Juru Martani alias Adipati Mandaraka meninggal dunia pada tahun 1615. Kedudukannya sebagai patih Mataram kemudian digantikan oleh Tumenggung Singaranu. Dengan demikian, Juru Martani mengabdi di Mataram dalam waktu yang sangat lama, yaitu ikut membuka Alas Mentaok menjadi desa Mataram, sampai awal pemerintahan Sultan Agung, cicit Ki Ageng Pemanahan.
    Sultan Agung memerintah sampai tahun 1645 kemudian digantikan oleh putranya, bergelar Amangkurat I yang lahir dari permaisuri keturunan Ki Juru Martani.

    Kepustakaan
    Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
    Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
    H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
    Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
    M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
    Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius

  36. Ki Ageng Pamanahan
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Ki Ageng Pamanahan atau Ki Gede Pamanahan, adalah pendiri desa Mataram tahun 1556, yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Mataram di bawah pimpinan putranya, yang bergelar Panembahan Senapati.

    Asal-Usul Ki Pamanahan
    Ki Pamanahan adalah putra Ki Ageng Ngenis, putra Ki Ageng Sela. Ia menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Nyai Sabinah putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Ngenis).
    Ki Pamanahan dan adik angkatnya, yang bernama Ki Penjawi, mengabdi pada Hadiwijaya bupati Pajang yang juga murid Ki Ageng Sela. Keduanya dianggap kakak oleh raja dan dijadikan sebagai lurah wiratamtama di Pajang.

    Peran Awal Ki Pamanahan
    Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Kesultanan Demak mengalami perpecahan akibat perebutan takhta. Putra Sultan yang naik takhta bergelar Sunan Prawata tewas dibunuh sepupunya sendiri, yaitu Arya Penangsang, bupati Jipang.
    Arya Penangsang yang didukung Sunan Kudus juga membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggana. Sejak itu, Ratu Kalinyamat memilih hidup bertapa di Gunung Danaraja menunggu kematian Arya Penangsang bupati Jipang.
    Arya Penangsang ganti mengirim utusan untuk membunuh Hadiwijaya di Pajang tapi gagal. Sunan Kudus pura-pura mengundang keduanya untuk berdamai. Hadiwijaya dating ke Kudus dikawal Ki Pamanahan. Pada kesempatan itu, Ki Pamanahan berhasil menyelamatkan Hadiwijaya dari kursi jebakan yang sudah dipersiapkan Sunan Kudus.
    Dalam perjalanan pulang, Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja. Ki Pamanahan bekerja sama dengan Ratu Kalinyamat membujuk Hadiwijaya supaya bersedia menghadapi Arya Penangsang. Sebagai hadiah, Ratu Kalinyamat memberikan cincin pusakanya kepada Ki Pamanahan.

    Pertempuran Melawan Arya Penangsang
    Hadiwijaya segan memerangi Arya Penangsang karena masih sama-sama anggota keluarga Kesultanan Demak. Maka, ia pun mengumumkan sayembara, barang siapa bisa membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan hadiah tanah Mataram dan Pati.
    Ki Pamanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara atas desakan Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Pamanahan). Putra Ki Pamanahan yang juga anak angkat Hadiwijaya, bernama Sutawijaya ikut serta. Hadiwijaya tidak tega sehingga memberikan pasukan Pajang untuk melindungi Sutawijaya.
    Perang antara pasukan Ki Pamanahan dan Arya Penangsang terjadi di dekat Bengawan Sore. Berkat siasat cerdik yang disusun Ki Juru Martani, Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya.
    Ki Juru Martani menyampaikan laporan palsu kepada Hadiwijaya bahwa Arya Penangsang mati dibunuh Ki Pamanahan dan Ki Penjawi. Apabila yang disampaikan adalah berita sebenarnya, maka dapat dipastikan Hadiwijaya akan lupa memberi hadiah sayembara mengingat Sutawijaya adalah anak angkatnya.

    Ki Pamanahan Membuka Mataram
    Hadiwijaya memberikan hadiah berupa tanah Mataram dan Pati. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih Mataram yang masih berupa hutan lebat, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah Pati yang saat itu sudah berwujud kota.
    Bumi Mataram adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan yang menutupi Mataram dengan nama Alas Mentaok.
    Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, Hadiwijaya dilantik menjadi raja baru penerus Kesultanan Demak. Pusat kerajaan dipindah ke Pajang, di daerah pedalaman. Pada acara pelantikan, Sunan Prapen cucu (Sunan Giri) meramalkan kelak di daerah Mataram akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.
    Ramalan tersebut membuat Sultan Hadiwijaya resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556. Hal ini diketahui oleh Sunan Kalijaga, guru mereka. Keduanya pun dipertemukan. Dengan disaksikan Sunan Kalijaga, Ki Pamanahan bersumpah akan selalu setia kepada Sultan Hadiwijaya.
    Maka sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, pindah ke Hutan Mentaok, yang kemudian dibuka menjadi desa Mataram. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Adapun status desa Mataram adalah desa perdikan atau daerah bebas pajak, di mana Ki Ageng Mataram hanya punya kewajiban menghadap saja.
    Babad Tanah Jawi juga mengisahkan keistimewaan lain yang dimiliki Ki Ageng Pamanahan selaku leluhur raja-raja Mataram. Konon, sesudah membuka desa Mataram, Ki Pamanahan pergi mengunjungi sahabatnya di desa Giring. Pada saat itu Ki Ageng Giring baru saja mendapatkan buah kelapa muda bertuah yang jika diminum airnya sampai habis, si peminum akan menurunkan raja-raja Jawa.
    Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng Giring dalam keadaan haus. Ia langsung menuju dapur dan menemukan kelapa muda ajaib itu. Dalam sekali teguk, Ki Pamanahan menghabiskan airnya. Ki Giring tiba di rumah sehabis mandi di sungai. Ia kecewa karena tidak jadi meminum air kelapa bertuah tersebut. Namun, akhirnya Ki Ageng Giring pasrah pada takdir bahwa Ki Ageng Pamanahan yang dipilih Tuhan untuk menurunkan raja-raja pulau Jawa.
    Ki Ageng Pamanahan memimpin desa Mataram sampai meninggal tahun 1584. Ia digantikan putranya, yaitu Sutawijaya sebagai pemimpin desa selanjutnya.Kelak Sutawijaya menjadi raja Mataram Islam yang pertama dengan nama Panembahan Senopati.

    Kepustakaan
    Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
    H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
    Purwadi. (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

  37. ada baiknya juga kita mengenal pak singgih alm:

    Singgih Hadi Mintardja
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    S.H. Mintardja atau Singgih Hadi Mintardja (Yogyakarta, 26 Januari 1933 – Yogyakarta, 18 Januari 1999) adalah seorang pionir cerita silat dari Yogyakarta.

    [sunting] Karya
    SH Mintardja telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar beberapa karya sang pengarang itu:

    Api di Bukit Menoreh (396 episode)
    Tanah Warisan (8 episode)
    Matahari Esok Pagi (15 episode)
    Meraba Matahari (9 episode)
    Suramnya Bayang-bayang (34 episode)
    Sayap-sayap Terkembang (67 episode)
    Istana yang Suram (14 episode)
    Nagasasra Sabukinten (16 episode)
    Bunga di Batu Karang (14 episode)
    Yang Terasing (13 episode)
    Mata Air di Bayangan Bukit (23 episode)
    Kembang Kecubung (6 episode)
    Jejak di Balik Bukit (40 episode)
    Tembang Tantangan (24 episode)

    KEMBALINYA MAHESA JENAR
    (Monday, March 20, 2006)
    “Ki sanak, siapakah nama Ki Sanak?
    Dari manakah asal Ki Sanak?
    Sebab dari pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang daerah kami…”
    Ia memakai blangkon ikat lembaran. Badannya gagah, tinggi-besar.
    Pakaian yang dikenakannya sangat bersahaja: lurik hijau gadung melati
    (hijau tua). Di telinga kirinya sering terselip bunga melati. Ia mengembara
    dari desa satu ke desa lain, dari satu kedemangan ke kedemangan lain.
    Ia seorang pengikut Syeh Siti Jenar. Ia gelisah karena Syeh Siti Jenar
    dieksekusi mati oleh para wali. Mulanya, ia seorang perwira Demak yang
    sangat disegani bernama Rangga Tohjaya. Lalu ia pergi meninggalkan Demak, menyusuri hutan dan lereng-lereng gunung di Jawa Tengah. Mengubah nama menjadi Mahesa Jenar. Mencari sepasang keris: Nagasasra dan Sabuk Inten–yang syahdan bisa tetap mempertahankan kewibawaan Demak.
    Bila ada sebuah sosok fiksi yang namanya pernah begitu populer di seluruh pelosok Jawa Tengah, itulah mungkin Mahesa Jenar. Mahesa–ciptaan almarhum S.H. (Singgih Soehadi) Mintardja–adalah pendekar dalam cerita bersambung Nagasasra Sabuk Inten. Mungkin para kritikus menganggap karya ini sebagai “sastra picisan”, namun harus diakui pencapaiannya mungkin tak bisa ditandingi novel-novel serius kita mana pun.
    Nagasasra dikenal dibaca dari tukang becak sampai para pegawai. Ia
    menyentuh imajinasi kalangan jelata, merakyat, hingga sampai banyak orang menamakan anaknya dengan nama pendekar dalam kisah ini.
    Gaya berbaju lurik Mahesa pernah menjadi tren di kalangan seniman Yogya, bahkan klub sepak bola seperti PSIS Semarang–sampai sekarang mereka menyebut dirinya “tim Mahesa Jenar”.
    Karya S.H. Mintardja ini awalnya dimuat secara rutin (tiap hari) di harian
    Kedaulatan Rakyat (KR) pada 1966. Kemudian dibukukan seluruhnya menjadi 64 jilid, tiap jilid 80 halaman. Saat cetakan kedua, dipadatkan menjadi 32 jilid dengan tebal 160 halaman. Di masa lalu, amat mudah menemukan seri Nagasasra di warung-warung koran, warung rokok, atau kios buku di Yogya.
    Karena itulah agaknya pihak Kedaulatan Rakyat menerbitkan edisi luks
    Nagasasra Sabuk Inten. Bersampul hard cover, semuanya berjumlah tiga jilid dengan tebal masing-masing sekitar 800 halaman. Harga per jilid Rp 100 ribu. “Sebuah edisi koleksi,” kata Joko Budiarto, editor harian Kedaulatan Rakyat yang menangani edisi luks ini. Kelahiran kembali cerita silat yang merakyat itu menarik untuk dirayakan.
    S.H. Mintardja adalah pelopor kisah genre silat Indonesia. Sebelumnya,
    cerita-cerita silat Cina telah banyak digemari masyarakat, baik yang
    saduran seperti terjemahan O.K.T (Oey Kim Tiang) dan Gan Kok Liang alias Gan K.L. maupun yang karangan sendiri seperti karya-karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo.
    Tapi gara-gara S.H. Mintardja memunculkan Nagasasra, Kho Ping Hoo pun mencoba menulis silat Jawa. Ia membuat Badai Laut Selatan, Kuda Putih dari Mataram, dan sebagainya. Lalu muncullah generasi para penulis silat Jawa, mulai dari Herman Pratikto yang menulis Bende Mataram sampai Arswendo Atmowiloto yang menciptakan Senopati Pamungkas.
    Almarhum S.H. Mintardja–sering disapa Pak Singgih–di masa lalu bekerja sebagai pegawai negeri di bidang kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Yogyakarta. Ia selalu berpenampilan rapi dan sederhana. Dari masa muda, ia memang bergelut di dunia seni. Setamat SMA bersama Kirdjomulyo, Nasjah Jamin Widjaja, dan Sumitro, misalnya, ia mendirikan majalah Fantasia dan majalah film Intermezzo. Lalu ia menjadi aktor dalam grup drama Ratma, yang dipimpin Kirdjomulyo.
    Banyak yang menganggap cerita Mahesa Jenar mencari keris Nagasasra Sabuk Inten menggambarkan ketersingkiran Mintardja sebagai orang PNI di zaman Orde Baru. Sutradara ketoprak Bondan Nusantara termasuk yang menafsirkannya demikian. Mintardja menganggap Orde Baru cenderung arogan. Kepada Bondan, ia pernah mengatakan bahwa ia menyikapi situasi politik yang sedang berjalan saat itu. “Mahesa Jenar lambang pendekar yang ‘dibuang’ oleh negara, tapi mengabdi tanpa pamrih. Ini nasionalisme Pak Singgih,” kata Bondan.
    Kisah Nagasasra Sabuk Inten memang bercerita tentang kekuasaan dengan latar belakang gonjang-ganjing Demak Bintoro. Sidang para wali di Kesultanan Demak memutuskan mengeksekusi Siti Jenar dan kemudian murid-muridnya: Ki Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging. Mahesa Jenar adalah murid Ki Ageng Pengging.
    Ki Kebo Kenanga meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet yang dibesarkan Nyi Ageng Tingkir. Mahesa Jenar mencari putra itu. Sebab, di kala kecil Sunan Kalijaga telah melihat tanda-tanda Mas Karebet bakal menjadi penguasa. Jenar juga mencari Nagasasra dan Sabuk Inten, sepasang pusaka warisan Majapahit yang hilang. Tapi ternyata kedua keris itu juga diperebutkan oleh golongan hitam. Mereka juga percaya, bila memiliki sepasang keris itu, bisa absah mendirikan pemerintahan tandingan yang menyaingi kekuasaan Demak.
    Sesungguhnya, soal konflik para wali dengan Syeh Siti Jenar alias Syeh
    Lemah Abang itu akan menarik apabila dieksplorasi lebih jauh. Tapi, dalam Nagasasra, S.H. Mintardja tidak banyak mengisahkan perseteruan para wali. Mungkin karena Mintardja seorang penganut Katolik. “Dia sendiri pernah mengatakan, karena tidak menguasai Islam, dia tidak berani menulis lebih banyak tentang para wali,” kata Bondan Nusantara. Sebagai seorang Katolik kejawen, agaknya S.H. Mintardja lebih menuliskan paham-paham kejawennya.
    S.H. Mintardja terlihat tak menyukai kekerasan. Mahesa Jenar bila bertempur dikisahkan tidak pernah membunuh kalau tidak terpaksa. Seburuk apa pun tokoh itu, tidak sampai dibunuh. Tokoh-tokoh golongan hitam yang sepanjang hidupnya bengis, pada akhir hidupnya–saat sekarat–meninggal dengan penyesalan. Seperti Sima Rodra penyamun dari Gunung Tidar, atau Lowo Ijo penguasa hutan Mentaok, mereka berdua jahanam sejak awal, tapi mati dengan keikhlasan sebuah pertobatan.

    ***
    “S.H. Mintardja ini banyak membaca babad dan berbagai serat,” kata
    sejarawan UGM, Prof Joko Suryo. Menurut dia, banyak nama tokoh Nagasasra seperti Ki Ageng Pengging, Kebo Kanigara, Joko Tingkir, yang memang ada dalam cerita sejarah.
    Berbagai lokasi yang digunakan dalam setting Nagasasra semuanya juga lokasi konkret, macam Lereng Merbabu, Rawa Pening, Gunung Slamet, Gunung Tidar, Nusakambangan. S.H. Mintardja dikenal kerabatnya sebelum menulis cerita selalu mensurvei sendiri lokasi sambil membawa peta. Saat mensurvei lokasi antara Merapi dan Merbabu, ia sampai menyusuri dari daerah Selo.
    Keris Nagasasra dan Sabuk Inten, misalnya, juga bagi pencinta keris di Jawa dianggap dua keris yang ampuh. “Keris Nagasasra dan Sabuk Inten itu memang benar-benar ada,” kata Sugeng Wiyono, ahli keris Yogya. Keris Nagasasra menurut dia berwarna keunguan, dibuat oleh Mpu Supa Madrangki yang hidup pada zaman Majapahit. Keris ini memiliki luk 13, simbolisasi kebangunan jiwa. Sementara Sabuk Inten dibuat oleh Mpu Domas, juga dari Kerajaan Majapahit, memiliki luk 11, berwarna putih kekuningan. Keris ini menjadi simbolisasi welas asih.
    Saat ini keris-keris tersebut disimpan di Keraton Solo (tahun 1974, menurut Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo, keris ini dibuatkan warangka baru–dari kayu cendana wangi). Banyak tiruan keris ini, menurut Sugeng, yang beredar di mana-mana sampai kini–dimiliki perseorangan kolektor ataupun pejabatdan diperjualbelikan dengan harga beragam dari Rp 200 ribu hingga sekitar Rp 4 miliar. Kedua keris ini memang menjadi makin populer saat S.H. Mintardja mencipta kisah Nagasasra.
    Berbagai ajian yang dimiliki para pendekar dalam Nagasasra juga sumber imajinasinya berasal dari khazanah kebatinan populer Jawa. Paling tidak ada tiga ajian dahsyat dalam kisah Nagasasra. Ajian Sastra Birawa yang dimiliki Mahesa Jenar, ajian Lebur Seketi milik Gajah Sora, putra Ki Ageng Sora Dipayana, dan ajian Lembu Sekilan yang dikuasai Joko Tingkir. Antara Sastra Birawa dan Lebur Seketi seimbang. Bila Jenar menghantamkan Sasra Birawa kepada Gajah Sora, tangannya seolah tertahan selapis baja yang tebalnya sedepa yang bisa balik memukulnya. Sedangkan Lembu Sekilan dimiliki oleh Jaka Tingkir. Ini ilmu aneh yang membuat semua serangan tak dapat menyentuh tubuh Joko Tingkir.
    S.H. Mintardja sendiri menurut sang istri, Suhartini, pernah belajar silat
    Jawa, di antaranya Perisai Sakti, tapi tidak mendalami. “Bapak ikut silat
    hanya untuk olahraga,” katanya. Tapi agaknya S.H. Mintardja paham
    seluk-beluk kebatinan Jawa. “Saya kira pengetahuan kebatinan Pak Singgih cukup tinggi,” kata Prof Djoko Prayitno, ketua dan pendekar pencak silat Jawa: Persatuan Hati. Pencak silat Jawa, menurut Prof Joko Prayitno, dasar gerakannya seperti tarian, tidak brutal. Pencak Jawa filosofinya wiraga (mengolah raga), wirama (mengolah irama hidup), wirasa (mengolah rasa).
    Yang disajikan S.H. Mintardja dalam Nagasasra banyak olah rasa ini.
    Misalnya ketika Mahesa Jenar ditatar di gua Karang Tumaritis oleh Ki Kebo Kanigara untuk menyempurnakan ilmunya, Sasra Birawa. “Ilmu ngrogoh sukma yang dialami Mahesa Jenar itu, dalam kebatinan Jawa bisa dilakukan,” tutur Prof Joko Prayitno.
    Tapi, karena arahnya lebih ke olah rasa, ia melihat jurus-jurus silat yang
    ditampilkan para pendekar ciptaan S.H. Mintardja sangat kalah detail
    dibanding cerita silat Cina seperti yang disadur OKT atau Gan K.L. “S.H. Mintardja kalau sudah menulis perkelahian, misalnya bila pendekarnya menampilkan tendangan, tidak dijelaskan dengan jurus apa atau menghindar dengan jurus apa. Hanya paling-paling tertulis tubuhnya digeser, mundur selangkah, tubuh direndahkan….”

    ***
    Harus diakui, kemampuan dan kepekaan S.H. Mintardja mencampuradukkan tokoh-tokoh ciptaannya sendiri dengan sejarah, lokasi-lokasi konkret, mitos yang hidup di masyarakat, yang membuat karya ini mampu menancap dalam-dalam di benak masyarakat dusun-dusun Jawa Tengah. Apalagi, pada tahun 1980-an, drama radio penuh dengan ketoprak–yang menampilkan lakon Mahesa Jenar.
    “Kalau Pasingsingan datang, terasa mencekam,” demikian Nyoman Agung, seorang wartawan penggemar Nagasasra, teringat masa kecilnya saat mendengarkan drama radio itu. Pasingsingan adalah seorang tokoh golongan hitam misterius yang memiliki beberapa macam ilmu golongan putih. Ia selalu berjubah dan berkedok topeng kasar.
    Hampir semua kelompok ketoprak top di Yogya dahulu, seperti Dahono Mataram, Suryo Mataram, Wargo Mulyo, memainkan lakon Mahesa Jenar. “Saya ingat betul, waktu itu bukan hanya kelompok ketoprak di Yogya, tapi ketoprak seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur mementaskan lakon Mahesa Jenar,” tutur Bondan Nusantara. Setiap malam Jumat, misalnya, Siswo Budoyo dari Tulungagung menampilkan lakon Mahesa Jenar, sementara Ketoprak Darmo Mudo dari Semarang mementaskannya setiap malam Kamis. Menurut Bondan, ketoprak tobong itu berkeliling dari kota ke kota, kecamatan ke kecamatan.
    Judul yang pernah dipentaskan, misalnya, Dedah Prambanan, Nyabrang Alas Tambak Boyo, Saresehan Rawa Pening. Semua itu diambil dari episode Mahesa Jenar, tapi dipotong-potong.
    Akibat begitu populernya, menurut Andang Suprihadi Purwanto, putra sulung S.H. Mintardja, kala ayahnya masih hidup, banyak pasangan suami-istri yang datang menemui Singgih untuk meminta restu memberi nama anaknya sesuai dengan nama pendekar dalam Nagasasra. Ada juga yang meminta izin mendirikan perguruan silat dengan nama Pandan Alas–meniru nama Ki Ageng Pandan Alas, pendekar sepuh ciptaan S.H. Mintardja yang pandai menembang dalam Nagasasra.
    Hasmi, kreator tokoh Gundala Putra Petir, mengakui inspirasinya tentang Gundala datang dari membaca Nagasasra. Dalam Nagasasra, S.H. Mintardja menyebut-nyebut nama Ki Ageng Selo dan ular gundala. Sesuai dengan legenda Jawa, Ki Ageng Selo diyakini bisa menangkap petir. Ki Ageng adalah teman sepermainan Mahesa Jenar. Petir dalam cerita disebut senjata para dewa dalam bentuk simbol ular gundala. Batara Wisnu memiliki ular gundala seta, Batara Kala memiliki ular gundala wereng yang bisa menimbulkan bunga api di udara.
    Yang lucu, akibat membaca Nagasasra, banyak juga orang yang kemudian mencari makam para tokoh yang ada dalam cerita itu. Andang Suprihadi Purwanto mengenang, pernah suatu hari seseorang datang ke rumahnya. Orang itu menyampaikan kepada S.H. Mintardja bahwa ternyata makam Mahesa Jenar dan Pasingsingan Sepuh benar-benar ada. Kuburan Mahesa di Demak dan Pasingsingan Sepuh di dekat Gunung Telomoyo. S.H. Mintardja hanya tersenyum dan memberi tahu itu tidak mungkin karena Mahesa Jenar itu fiktif, buatan dia sendiri.
    Andang sendiri, yang pelaku kejawen, suatu hari pernah mencari makam Kebo Kenanga dan Kebo Kanigoro. Ia menemukan makam itu di daerah Pengging. Kedua makam itu dikelilingi benteng. Yang mengherankan, ada sebuah makam kecil di luar benteng, tanpa nama. Ketika ia menanyakan kepada juru kunci, dijawab bahwa itu adalah makam Endang Widuri, pendekar perempuan di Nagasasra.
    Sesampai di rumah, dengan semangat Andang menceritakan hal itu kepada ayahnya: “Tidak mungkin. Wong, Widuri itu nama fiktif, asli buatanku,” kata Singgih seperti ditirukan Andang.

    ***
    Nagasasra bukanlah cerita bersambung terpanjang yang dibuat S.H. Mintardja. Cerita silat terpanjang yang pernah ditulis S.H. Mintardja adalah Api di Bukit Menoreh. Cerita ini pertama kali dimuat di harian Kedaulatan Rakyat tahun 1968, setelah pemuatan Nagasasra selesai. Dalam bentuk cetakan buku, Api di Bukit Menoreh ada 496 jilid. Tatkala berjalan menulis Api di Bukit Menoreh, Almarhum juga menulis cerita bersambung silat lain di harian Suluh Marhain: Pelangi di Langit Singosari. Sampai akhir hayat sang pengarang, cerita Api di Bukit Menoreh itu belum selesai dibuat.
    Yang sulit dibayangkan adalah bagaimana S.H. Mintardja memiliki energi untuk tiap hari sanggup kontinu menyerahkan naskah karangannya kadang di dua koran yang berbeda (biasanya sepanjang tiga lembar mesin tik tiap koran). Menurut Joko Budiarto, editor harian Kedaulatan Rakyat, apabila S.H. Mintardja berhalangan tidak mengirim naskah, redaksi KR selalu dibanjiri telepon menanyakan kenapa cerita bersambung tak muncul.
    S.H. Mintardja melahirkan karya-karyanya dari sebuah rumah sederhana di Gedong Kiwo MJ/801, di sekitar Pojok Beteng Kulon, Yogyakarta. Menurut istrinya, Ibu Suhartini, dahulu ia menyediakan ruang khusus untuk mengetik bagi suaminya di lantai dua, tapi justru ruang favorit Mintardja adalah ruang makan. “Kalau sepi, bapak tidak produktif. Kalau menulis, bapak harus di tempat yang bisa berinteraksi dengan orang lain,” kata Suhartini mengenang.
    Kebiasaan lain, setiap kali selesai menulis naskah terutama sandiwara
    radio, S.H. Mintardja selalu meminta istrinya itu membaca lebih dahulu
    sebelum naskah itu diserahkan ke sutradara. “Kalau ibu belum oke, bapak belum akan menyerahkan ke sutradara,” kata Andang. Agaknya, itu karena Suhartini dahulu adalah pengisi suara sandiwara radio.
    S.H. Mintardja menurut keluarganya tidak pernah mempunyai stok cerita. Ceritanya mengalir, improve. Pengetahuan sejarahnya yang kuat membuatnya tidak pernah kehabisan ide untuk mengangkat kembali cerita-cerita yang hampir antiklimaks. Maria Kadarsih, pengasuh sandiwara radio, teman S.H.Mintardja, misalnya, pernah melihat, dalam bekerja Almarhum menyiapkan beberapa mesin ketik sekaligus. “Jadi kalau bosen atau buntu dengan kisah satu, ia ganti ke mesin tik lain dengan cerita lain,” kata Maria Kadarsih.
    Untuk memudahkan cara kerja Mintardja, suatu kali sebuah penerbit berniat membelikan Mintardja komputer, yang kala itu masih sangat mahal, tapi Mintardja menolak dengan alasan lebih senang mendengar detak bunyi mesin tik di malam hari.
    Pada akhir kehidupan, S.H. Mintardja banyak menulis lakon ketoprak. Salah satu karya S.H. Mintardja yang dikagumi Sultan Hamengku Buwono X adalah naskah ketoprak berjudul Sumunaring Suryo ing Gagat Raino. Dipentaskan November 1996 di Keraton Yogya. Ceritanya tentang alih kekuasaan dari Pajang ke Mataram. Seperti juga cerita Nagasasra yang berakhir dengan Joko Tingkir menggantikan Sultan Trenggana, memindahkan pusat dari Demak ke Pajang, cerita ini membawa pesan politik halus tentang suksesi. Saat itu, kita ingat terjadi tuntutan masyarakat agar Soeharto turun.
    S.H. Mintardja meninggal 18 Januari 1999 pada umur 66 tahun di Rumah Sakit Bethesda karena sakit jantung. Pada waktu wafat, tulisannya Mendung di Atas Cakrawala masih dimuat bersambung sampai episode ke 848 di harian Bernas, Yogya. Sepeninggal Mintardja, bukan berarti Mahesa Jenar mati. Terakhir tahun lalu, 2005, di Yogya, dalam Festival Kesenian Yogya 2005, didukung Wali Kota Yogya, para pemain ketoprak senior dan yunior muda dari 14 kecamatan di Yogya bergabung bersama dan menampilkan lakon Mahesa Jenar.
    Adegan ketoprak akbar itu diawali dengan sumpah Mahesa Jenar: “Aku ora bali ing Kraton Demak Bintoro kalamun durung bisa nggawa keris
    Nagasasra-Sabuk Inten…” (Aku tak akan kembali ke Keraton Demak sebelum membawa keris Nagasasra dan Sabuk Inten.)

    Seno Joko Suyono dan L.N. Idayanie
    SUMBER: bagusalfa.blogspot.com

  38. tambahan info : Pengging, terletak diantara Kartosuro dan Boyolali, Pengging ini sekarang masuk dalam wilayah kabupaten Boyolali.
    Kalau kita naik bis dari Kartosuro ke arah Boyolali maka pasti akan melewati Pengging.
    Jarak Pengging ke Jati Anom (Jatinom) di Klaten memang tidak begitu jauh.

  39. Kali Progo bersumber dari lereng gunung sindoro, tepatnya didesa Jumprit, Kec. Ngadirejo, Kab. Temanggung, Jawa Tengah. Tempat saat ini sering digunakan orang untuk kungkum terutama pada malam Jum’at, entah apa yang mereka cari, Penyakit mungkin, karena airnya sangat dingin. Dan tiap tahun pada upacara Waisak di candi Borobudur selalu mengambil air dari mata air ini

  40. Pendiri dinasti Mataram adalah Panembahan Senapati atau Sutawijaya. Moyang Sutawijaya adalah Ki Ageng Sela yang berasal dari keluarga petani biasa. Tetapi dituturkatakan oleh legenda bahwa Ki Ageng Sela ini bukanlah seorang warga pinggiran biasa. Namun, seorang dari desa yang bercita-cita tinggi menggapai langit, salah satu dari kesaktiannya yang paling sering diceritakan oleh orang adalah bahwa beliau ini mampu menangkap petir.

    Dalam salah satu hasrat di dalam dirinya, Ki Ageng Sela ini ingin sekali memiliki keturunan yang nantinya bakalan kembali berkuasa di Pulau Jawa, mengingat bahwa beliau merasa bahwa dalam dirinya masih terdapat darah Majapahit. Kelak keinginan terbuka melalui cucu angkatnya, Mas Karebet atau Jaka Tingkir, anak Kebo Kenanga alias Ki Ageng Pengging.

    Dalam hidup perkawinannya, Ki Ageng Sela berputrakan 7 orang yaitu masing-masing adalah Nyai Ageng Purungtengah, Nyai Ageng Saba, Nyai Ageng Bangsri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Petanen, Nyai Ageng Pakisdadu dan satu-satunya lelaki dan menjadi bungsu dalam keluarga dinamakan Ki Ageng Ngenis.

    Ki Ageng Ngenis menurunkan seorang putra tunggal, Ki Ageng Pamanahan serta seorang anak angkat Ki Penjawi. Setelah dewasa, Pemanahan dinikahkan dengan putri sulung Nyai Ageng Saba dari hasil perkawinannya dengan Pangeran Saba, putra Sunan Giri II. Sedang bungsu Nyai Ageng Saba lahir laki-laki bernama Juru Mertani.

    Seperti juga Sultan Pajang Hadiwijaya, Pemanahan dan Penjawi serta Juru Mertani adalah murid-murid terdekat Sunan Kalijaga. Dari pergaulan erat inilah kehidupan Pemanahan dan Penjawi terangkat ke lapisan elit Keraton menjadi panglima prajurit Wiratamtama Pajang.

  41. KEJAYAAN MATARAM

    Bait 01

    Tertulis dalam babad tanah Jawi, dalam ingatan orangtua
    tentang Prabu Brawijaya Sang Kertabumi, raja di Majapahit
    bahwa ia memperistri Putri Wandan, dan memperoleh putra
    tampan berwibawa rupanya, ia disebut Raden Bondan Kejawan
    Saat ia dilahirkan Majapahit telah mendekati kehancurannya
    karena itu dititipkanlah ia kepada Ki Juru Sabin
    apalagi karena ibundanyapun meninggal sewaktu melahirkan
    Setelah mencapai usia remaja Bondan Kejawan dibawa ke Tarub
    untuk dibina jiwa dan raganya oleh Ki Ageng Tarub
    ketika disanalah ia berganti nama menjadi Raden Lembu Peteng

    Bait 02

    Adapun Ki Ageng Tarub itu sebenarnya putra Dewi Rasawulan
    yaitu putri tumenggung Tuban Wilatikta yang perkasa
    ia pun adik Raden Said, yang disebut juga Sunan Kalijaga
    Ki Ageng itu menikah dengan Dewi Nawang Wulan
    dan menurunkan seorang anak wanita bernama Dewi Nawangsih
    maka dengan Dewi Nawangsihlah Bondan Kejawan menikah
    dan berputra Raden Getas Pandawa, yang lalu menurunkan
    Ki Ageng Sela, abdi setia, prajurit di kesultanan Demak
    Ia cakap mengabdi, bahkan turut perang melawan Majapahit
    tetapi setelah tua kembalilah ia ke desanya
    di sana menulis sebuah serat pepali untuk anak cucu

    Bait 03

    Dari putri Sumedang Ki Ageng sela menurunkan dua orang anak
    yaitu Nyi Ageng Saba dan Ki Ageng Ngenis ing Nglawean
    Ki Ageng Ngenis adalah pengabdi dan pendukung Mas Karebet
    bahkan hingga naik takhta dengan gelar Sultan Hadiwijaya
    Karena jasa-jasanya dari raja Pajang itu memperoleh dukuh Perdikan
    yaitu Nglaweyan di mana ia kemudian menetap hingga mangkatnya
    Putra Ki Ageng, yang bernama Ki Gede Pemanahan
    menjadi abdi Sultan Pajang, dan diangkat menjadi kakak
    Karena kasihnya ia selalu membela junjungannya
    hingga berani menghadapi Arya Penangsang dari Jipang
    seorang musuh Pajang yang sombong dan angkuh sikapnya
    karena dukungan Ki Juru Mertani, Ki Penjawi dan Sutawijaya
    berhasillah Ki Gede Pemanahan membinasakan Arya Penangsang
    yang gugur dalam kemarahan di aliran Bengawan Sore
    Karena jasanya itu maka Sultan Pajang menghadiahkan
    Alas Mentaok dan daerah Kadipaten Pati
    kepada Pemanahan dan kepada Penjawi.

    Bait 04

    Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
    berangkatlah rombongan Ki Gede ke Alas Mataram
    di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gede Pemanahan
    Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
    Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
    yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
    Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
    Sementara Ki Gede bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
    Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
    Di mana rombongan dijamu oleh Ki gede Karang Lo
    Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
    hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gede

    Bait 05

    Semakin lama negeripun semakin berkembang jua
    malah dilengkapi keraton yang selesai dibangun tahun 1578
    Di sanalah Ki Gede Pemanahan memerintah, sebagai bawahan Pajang
    Hingga akhirnya mangkat dipanggil ke hadirat Sang Pencipta
    serta dimakamkan di halaman mesjid Agung di Kuto Gede
    pada tahun ber-candrasengkala “Lunga trus rumpaking bala”
    Maka Ki Gede Pemanahan meninggalkan tujuh orang anak:
    Pertama Mas Danang, yang disebut pula Sutawijaya
    dan sering dipanggil Raden Ngabehi Lor ing Pasar
    kedua Raden Jambu, ketiga Raden Santri
    keempat Raden Kedawung, kelima Raden Tompe
    keenam istri Arya Dadap Tulis, ketujuh istri Tumenggung Mayang

    Bait 06

    Tersebutlah Sutawijaya ditunjuk Sultan Pajang
    menjadi pengganti ayahnya, dengan gelar Senopati Ing Alaga
    Ia adalah pemimpin yang cakap, dan prajurit yang gagah perkasa
    tegasnya pantas ia menjadi raja, sebagaimana yang dicita-citakannya
    Sewaktu bertirakat di batu besar Lipura ia mendapat wahyu
    bahwa akan menjadi raja, yang menurunkan Wangsa Agung
    diperingati oleh paman Ki Martani, ia menyusuri kali Opak ke arah timur
    lalu bertapa di laut selatan, yaitu di tepi ombak yang menderu
    di tempat bernama Sawangan, di wilayah Kanjeng Ratu Kidul
    Sementara itu Ki Juru Martanipun memberinya dukungan
    dengan menjalankan prihatin tapa, di lereng gunung Merapi

    Bait 07

    Setelah itu bersiaplah mereka mempersiapkan kebangunan Mataram
    menjawab panggilan sejarah, memenuhi amanat leluhur
    Segala adipati, penguasa, dan tokoh di sekitar Mataram
    ditundukannya untuk menjadi pendukung usahanya
    Ki Ageng Mangir, adipati Kulon Progo, yang ingin merdeka
    dibinasakannya, walau ia adalah seorang menantu
    yaitu suami Kanjeng Ratu Pembayun, putri Senopati
    yang suka supaya ayahandanya dan suaminya mau bersatu
    Seterusnya Senopatipun memperkuat semua pasukannya
    juga membangun parit dan benteng, seakan menantang Pajang
    Setelah itu ditemukannya berpuluh dan beratus halaman
    tempat dituliskannya seribu satu malam alasan
    untuk tidak datang ke Pajang, dan bersembah kepada raja
    Marahlah Adiwijaya, Pajang menyerbu, pertempuran pecah di Prambanan
    gagah orang Mataram berjuang, maka Pajangpun mengundurkan diri
    Pada perjalanan pulang Sultan Adiwijaya jatuh sakit
    dan sangat parah keadaannya sewaktu tiba di kota
    penuh hormat dan kasih Senopati mengiringkan perjalanannya
    malah menyuruh letakkan serumpun kembalian cinta
    berupa kembang selasih, yang diletakkan di gerbang istana
    akhirnya mangkatlah Sri Sultan, terbukalah jalan bagi Mataram
    Maka kemenangan Mataram itu terjadi pada tahun Saka 1508
    dan diperingati dengan Candrasengkala pada gerbang mesjid Agung

    Bait 08

    Setelah itu mulailah Sang Panembahan Senopati berperang
    untuk menaklukkan daerah-daerah di tanah Jawa
    ia pergi bertempur melawan adipati-adipati di timur
    bahkan pernah pula berlaga melawan Pati
    berperang melawan Pragola Pertama, putra Ki Penjawi
    demikianlah hidupnya penuh perjuangan, hingga ia mangkat
    pada tahun 1601 di Bale Kajenar yang disebut juga Gedhong Kuning
    seperti ayahandanya iapun dimakamkan di halaman mesjid Agung
    di ibukota praja Mataram, negeri para perwira

    Bait 09

    Lalu naiklah raja baru, yaitu Mas Jolang, anak Kanjeng Ratu Pati
    ia mengenakan gelar Sunan Hadi Prabu Anyakrawati
    Walaupun sebentar memerintah iapun sering bertempur
    melawan para adipati di timur dan di pesisir utara
    serta terus berusaha menanam pengaruh, di Sumatra dan Sukadana
    Di bidang pembangunan ia rajin memperindah istana
    juga tekun mendorong perkembangan sastra
    Sebagai contoh adalah menjadi majunya ilmu pewayangan
    sebagai buah-tangan hasil karya Ki Dalang Panjang Mas
    Adapun Sunan Hadi Prabu Anyakrawati mangkat
    ketika celaka sewaktu melakukan perburuan di Krapyak
    maka iapun disebut orang Panembahan Seda Krapyak
    ia dimakamkan di Kota Gede bersama dengan seluruh keluarga istana

    Bait 10

    Lalu naik takhtalah Mas Rangsang, putra prabu
    dari Kanjeng Ratu Pajang
    pembawaannya sungguh seperti Senopati Ing Alaga
    dan sebagai imam disebut pula Sayidin Panatagama Khalifatullah
    sedangkan gelarnya adalah Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma
    Ia adalah negarawan yang berkemauan dan bercita-cita keras
    bijaksana, jujur, adil, menyukai sastra, dan bertakwa
    Sejak mulai memerintah tekun membina roda pemerintahan
    memperkuat tentara dan mengukuhkan kehormatan Mataram
    kesiagaan kerajaan agung ditingkatkan dan kewaspadaan dijaga
    sebab dimana-mana timbul tantangan dan perlawanan
    Tahun 1614 Mataram menyerbu kota-kota Pasuruan dan Lumajang
    tetapi lalu mundur di kejar gabungan tentara Wetan
    pecah pertempuran di tepi sungai Andaka dan Matarampun jaya
    Tahun 1615 di bawah pimpinan Prabu Agung Mataram menyerbu
    Wirasaba, kota benteng di Maja Agung, diporak-porandakan
    Tetapi telah berkumpul di Lasem para adipati Wetan
    dipimpin dipati Surabaya yang ingin menahan kemajuan Mataram
    Tentara Mataram yang sedang kembali dikejar mundur
    hingga di Pajang dimana tentara Wetan dipukul mundul
    Tidak menyerah pada tahun 1616 gabungan adipati Wetan ganti menyerbu
    di Siwalan-Pajang pecah pertempuran yang dimenangkan Mataram
    terus Mataram maju menyerang dan merebut Lasem
    dan pada tahun berikutnya menaklukkan Pasuruan
    hingga adipatinya terpaksa lari ke Surabaya

    Bait 11

    Seterusnya pada tahun 1618 Pajang memberontak maka dijarah habis
    kotanya dihancurkan dan penduduknya digiring ke Mataram
    Tahun 1619 pelabuhan Tuban di kepung selama berbulan-bulan
    hingga rakyatnya menyerah karena tak tahan derita
    Tahun 1620 dan 1621 Mataram menyerbu Surabaya, tetapi gagal
    sebab selat Madura belum dikuasai, dan bantuan pangan tetap datang
    dari para sekutu di Madura dan di Sukadana
    Tahun 1623 Mataram menyerbu lagi dengan ganasnya
    habis rusak Jortan, Gresik dan seluruh kitaran Surabaya
    Adipati Kendalpun dikirim untuk merebut Sukadana
    Tetapi tetap saja Surabaya tangguh bertahan dalam serbuan itu
    akhirnya gelombang prajurit Mataram menyapu Madura
    Sumenep, Bangkalan dan Sampang semua tunduk tanpa kecuali
    banyak para ningrat terbunuh, banyak pula yang lari ke Giri dan Banten
    Setelah itu dikepunglah Surabaya dan dibendunglah sungai Mas
    ditaburkan racun dan bisa pada airnya yang menggenang di kota
    ribuan rakyatnya mati karena penyakit dan kelaparan
    maka setelah bertempur dengan penuh keberanian dan kegagahan
    akhirnya Surabaya tunduk dan menyerah kalah
    Pada tahun 1625 yaitu di puncak kejayaan Mataram
    dibuatlah meriam Pancawura sebagai lambang kekuasaan
    Tetapi perang penaklukkan oleh Mataram belum selesai
    sebab tanah Jawa belumlah semuanya tunduk

    Bait 12

    Pada tahun 1627 Prabu Agung memimpin pasukan menyerbu Pati
    karena Pragola kedua terlihat akan memberontak
    kota Pati dijarah habis dan rakyatnya dijadikan tawanan
    sedangkan keluarga Pragolapun sirna dari sejarah Jawa
    Setelah itu bersama tentara Sunda dari Ukur dan Sumedang
    pasukan Mataram menyerbu kedudukan Belanda di Betawi
    dalam penyerbuan pertama di tahun 1625
    dan dalam penyerbuan kedua di tahun 1626
    Walaupun gagah dalam menyerbu Mataram terpaksa mundur
    karena kuatnya pertahanan kota Belanda di Betawi
    dan jayanya armada laut serta mutakhirnya persenjataan
    Beberapa saat setelah itu bergolak pula daerah Kulon
    karena Ukur dan Sumedang memberontak kepada raja
    maka dengan dukungan Panembahan Cirebon dan para umbul Sunda
    menyerbulah Mataram dan memadamkan pemberontakan
    sedangkan adipati Ukurpun dihukum mati

    Bait 13

    Tetapi Sultan Agung bukanlah hanya pemenang dalam perang
    sebab ia juga menjadi pelopor pembangunan dan kebudayaan
    Kraton didirikan, mesjid diperindah, dan gerbang Tembayat dipugar
    Ia menulis surat sastra Gending, tentang hal kebatinan
    yaitu persatuan antara sastra aksara dan gending marifat
    Ia juga menyatukan tarikh saka dan tarikh hijrah
    dan memadu perayaan garebeg dengan puasa dan maulud
    maka di masa itu ia memerintahkan penulisan babad kejayaan
    Walaupun semua berjalan dengan lancar dan baik
    terjadi pula beberapa keresahan di Mataram
    Pada tahun 1630 beberapa pengikut Tembayat
    dengan dukungan Tepasana dan Kajoran memberontak
    tetapi kemudian tunduk kepada kewibawaan Prabu Agung
    Selanjutnya pada tahun 1636 Panembahan Kawis Guwa
    yaitu keturunan Sunan Giri, menolak kekuasaan Mataram
    akibatnya Giri diserbu dan Panembahan dikalahkan
    Pada tahun 1635 Matarampun telah menyerbu Balambangan dan Panatukan
    yang kukuh bertahan karena bantuan Dewa Agung dari Gelgel
    Lalu pada tahun 1639 sekali lagi Mataram menyerbu ke timur
    Setelah menang ingin terus menyerbu ke pulau Bali
    tetapi rencana dibatalkan karena banyak perwira telah gugur
    Demikianlah Mataram itu pada puncak kekuasaannya
    besar, megah dan sangat unggul di sebagian besar Jawa
    serta dihormati oleh Jambi, Palembang, Banjar dan Makasar
    yang sering mengirimkan utusan dengan hadiah ke ibu kota
    Akhirnya pada bulan Februari tahun masehi 1646
    mangkatlah Sultan Agung dan dimakamkan di Imogiri
    yaitu bukit pemakaman keramat keluarga istana
    yang menjadi lambang dan tanda keagungan Mataram

    Bait 14

    Lalu naik takhtalah Pangeran Adipati Anom,
    putra prabu dari Kanjeng Ratu Kulon
    yang memerintah dengan gelar Susuhunan Amangkurat pertama
    Pada dirinya itulah terhimpun riwayat dan sejarah keluarga
    dari pihak ayahandanya berdarah Senopati dan Pamanahan
    dari pihak ibundanya ia mewarisi darah para pemuka Sunda
    Sebab ibunda Kanjeng Ratu Kulon bukan saja memiliki Batang,
    sebagai tanah gaduhan
    tetapi ia juga putri Panembahan Cirebon, yaitu Panembahan Ratu
    Sedangkan Panembahan Ratu adalah turunan darah Syarif Hidayatullah
    yaitu wali yang disebut Susuhunan Gunung Jati, dan
    Ibunda Gunung Jati adalah Nyi Rara Santang yang saleh
    adik Panembahan Cakrabuwana,
    yaitu Raden Arya Santang atau Haji Abdul Iman
    dan kakak Sunan Rakhmat Suci,
    yaitu Raden Kian Santang atau Prabu Sagara
    Maka mereka bertiga itu adalah anak Nyi Ratu Subang Karancang
    yaitu santri wanita, putri patih Mangkubumi dari Jayasingapura
    yang dijadikan istri oleh Prabu Siliwangi Ratu Jayadewata
    penguasa Prahajyan Sunda yang agung dan luhur
    disebut juga Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran
    Karena itu pada diri sang Adipati Anomlah bersatu
    darah Brawijaya, darah Mataram dan darah Siliwangi

    Bait 15

    Adapun masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat Ingalaga Mataram itu
    penuh dengan kemelut, bencana, dan gejolak musuhnya
    banyak baik di luar maupun di dalam istana
    baik di kalangan sentana raja, ulama, maupun penguasa daerah
    dan sering pula mengalami pecahnya pemberontakan
    Pada tahun 1647 Balambangan mengangkat senjata
    dipimpin Tawang Alun yang ingin merdeka dari Mataram
    maka terjadilah penyerbuan ke timur dan pertempuranpun pecah
    banyaklah pejabat Mataram yang gugur dalam memadamkan pemberontakan
    Demikian pula di Mataram Pangeran Alit dibinasakan para pengawal raja
    karena dengan keris terhunus ingin membunuh kakanda prabu
    Seterusnya Amangkurat bersilang jalan pula dengan Pamanda Purbaya
    dan bahkan di kemudian hari dengan anak kandungnya, Adipati Anom
    yang lahir dari Kanjeng Ratu Surabaya, putri Pangeran Pekik
    yaitu Adipati Surabaya yang dihukum mati Amangkurat
    Maka dalam suasana kemelut dan pecah-belah itu
    kekuatan lawan perlahan-lahan mulai tersusun
    Trunojoyo, turunan Sampang dan Bangkalan membangkang
    dibantu Kraeng Galesung, pemimpin pelarian Makasar di Demang-Basuki
    didukung oleh keluarga besar Kajoran di Klaten
    yang di pimpin oleh Raden Kajoran Ambalik, yaitu Panembahan Rama
    bahkan putra mahkota Adipati Anom mulanya bersahabat dengan Trunojoyo

    Bait 16

    Pada tahun 1675 serangan Madura dan Makasar datang melanda
    dan secara singkat wilayah dari Gresik hingga Pajarakan jatuh
    di Madura Trunojoyo mengambil gelar Panembahan Maduretna
    dan dengan restu Sunan Giri menundukkan kota Surabaya
    Akhirnya bergeraklah tentara Mataram dengan dukungan pasukan Sunda
    di bawah pimpinan Pangeran Purbaya
    dan Adipati Anom yang bersetengah hati
    pertempuran pecah di Gegodog, di sebelah timur Tuban
    Mataram dikalahkan, Purbaya gugur dan Anom melarikan diri
    Tentara Trunojoyo terus menyerbu dengan penuh semangat
    hingga jatuh seluruh pantai utara, kecuali kota Jepara
    Sementara itu Belanda ingin melihat Mataram berkuasa terus
    maka pada tahun 1677 menyerbu Madura dan merusak Maduretna
    Tetapi tentara Trunojoyo dan Kajoran telah memasuki Mataram
    tanpa tertahan oleh para pangeran yang terpecah belah
    maka kraton di Pleredpun jatuh serta dibakar habis
    seluruh harta kekayaannya diangkut ke Jawa Timur

    Bait 17

    Dalam keadaan sakit Susuhunan mengundurkan diri ke barat
    untuk meminta bantuan keluarga ibunya merebut Mataram
    dengan diiringi keluarga dan para pengawal yang setia
    dilintasinya Bagelen, pegunungan Kendeng, wilayah Banyumas
    kemudian terus ke utara menujun ke daerah Batang
    Sementara itu Adipati Anom bertobat dan menggabungkan diri
    lalu dari tangan ayahnya menerima semua pusaka kraton
    Sebelum mencapai Tegal Susuhunan Amangkurat meninggal dunia
    dan disemayamkan di sebuah bukit kecil di Tegal Arum
    dan sejak saat itu disebut Panembahan Seda Tegal Arum

    Bait 18

    Maka hilanglah segala kebingungan dan kelesuan dari putra sang Prabu
    bangkitlah semangatnya dan bercahaya wajahnya karena wahyu keratuan
    disebutnya dirinya dengan gelar Susuhunan Amangkurat kedua
    dan diterimanya pengakuan dari para pangeran dan penguasa
    Pasir luhur, Batang, Cirebon, Semarang dan Jepara mendukungnya
    juga diterimanya janji untuk membantu dari Belanda
    Bersama pasukannya ia maju kearah timur untuk merebut hak
    tetapi tertahan di batas Mataram, karena ulah kakanda Puger
    yang dalam keadaan kacau telah mengangkat dirinya menjadi raja
    maka Amangkurat Amral berbelok ke utara menuju Jepara
    di sana menandatangani perjanjian dengan Belanda
    dilepasnya seluruh hak atas Jawa Barat, dan ditanggungnya biaya perang
    kemudian Belanda merebut seluruh wilayah Pantai utara
    untuk diserahkan kembali sebagai milik Susuhunan
    Raja Mataram sendiri merebut Kediri, dimana Trunojoyo ditangkap
    dengan kerisnya sendiri Susuhunan menghukumnya mati
    Lalu pada tahun1680 Amangkurat mendirikan istana di Pajang-Wanakerta
    dan pada tahun 1681 menerima penyerahan diri kakanda Puger
    tetapi keluarga Kertasana dari Brantas dan Kajoran dari Klaten
    begitu pula orang-orang Wanakusuma dari Gunung Kidul
    dengan teguh meneruskan perjuangan mereka
    hingga kelak bergabung dengan Untung Surapati di tahun 1686

    Bait 19

    Susuhunan Amangkurat ke dua memerintah hingga tahun 1703
    yaitu tahun dimana sang prabu meninggal dunia dan dimakamkan
    Lalu naik takhtalah putra sang prabu, yaitu Susuhunan Amangkurat ketiga
    dibantu oleh Patih Nerang Kusuma, Panembahan Cakraningrat
    dan Untung Surapati
    raja muda itu ingin mengikis habis pengaruh Belanda di Mataram
    Pamanda Puger yang ingin menjadi raja merasa dicurigai
    maka larilah ia ke Semarang untuk meminta bantuan Belanda
    kembali bersama Belanda ke Mataram ia mengangkat dirinya menjadi raja
    dan disebut dengan gelar Sinuwun Pakubuwono pertama
    sedangkan Amangkurat ke tiga dan para pengikutnya lari ke timur
    untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda bersama Surapati
    Setelah Surapati gugur pada tahun 1706
    Susuhunan terus melawan hingga tahun 1708
    yaitu ketika ia menyerah kepada Belanda
    Seterusnya ia diasingkan ke negeri Sailan,
    hingga mangkat disana pada tahun 1737.

    Bait 20

    Di negeri Mataram Pakubuwana pertama diikuti oleh yang kedua dan ketiga
    maka pada masa Pakubuwana ketigalah Pangeran Mangkubumi memberontak
    Karena ia tak terkalahkan diadakanlah perjanjian Giyanti pada tahun 1755
    Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta
    di Surakarta berkuasa wangsa Pakubuwana
    dan di Yogyakarta wangsa Hamengkubuwana
    Selanjutnya terjadi lagi pemberontakan oleh Raden Mas Said,
    putra Mangkunegara,
    yang selama masa peperangan disebut Pangeran Samber Nyawa
    Iapun tak terkalahkan, sepak terjangnya benar-benar perkasa
    Pada tahun 1757 diadakanlah perjanjian Salatiga
    antara Raden Mas Said, Kasunanan dan Kompeni Belanda
    di mana di sepakati bersama pembentukan wilayah Mangkunegaran
    Terakhir adalah pembentukan wilayah Paku Alaman
    Sewaktu Inggris menguasai Jawa dari tahun 1814 hingga 1818
    ketika itu Pangeran Natakusuma dianggap berjasa
    dan diangkat Gubernur Jendral menjadi Sri Paku Alam Kesatu
    Demikianlah berlalu kebesaran dan kejayaan Mataram
    untuk dikenang oleh semua orang yang menjadi pewarisnya

    By alang alang
    alangalangkumitir.wordpress.com

  42. BABAD TANAH JAWI (PANEMBAHAN SENOPATI)

    PANEMBAHAN SENOPATI DAN KANJENG RATU KIDUL

    Cerita Kemenangan Jawa atas kaum radikal dituturkan dalam Babad Tanah Jawi (the Story of the Land of Java), yang terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia yang puitis merupakan bagian dari kampanye untuk mendukung kultur-kultur Islam lokal, pribumi yang terancam oleh ekstremisme religius.

    KINANTHI

    (1) Alon tindak kalihipun, Senapati lan sang dewi, sedangunya apepanggya, Senapati samar ngeksi, mring suwarna narpaning dyah, wau wanci nini-nini.

    Perlahan jalan keduannya, Senopati dan sang Dewi, selama mereka bertemu, Senopati sebenarnya tidak tahu jelas bagaimana wajah rupa sang Dewi, seperti terlihat nenek-nenek tadi.

    (2) Mangke dyah warnane santun, wangsul wayah sumengkrami, Senapati gawok ing tyas, mring warna kang mindha Ratih, tansah aliringan tingal, Senapati lan sang dewi.

    Lalu nanti wajah rupa sang Dewi berubah kembali lagi sangat menarik hati, Senopati terpesona hatinya melihat kecantikan si Dewi seperti Ratih, mereka saling mencuri pandang selalu, Senopati dan sang Dewi.

    (3) Sakpraptanira kedhatun, narpeng dyah lan Senapati, luwar kanthen tata lenggah, mungging kanthil kencana di, Jeng Ratu mangenor raga, Senapati tansah ngliring.

    Setelah sampai di istana, keduanya sang senopati dan Dewi melepas genggaman tangan kemudian duduk, di atas bunga kanthil emas, Jeng Ratu menggeliatkan badannya, senopati selalu melihatnya dengan mencuri pandang.

    (4) Mring warnanira Jeng Ratu, abragta sakjroning galih, enget sabil jroning driya, yen narpeng dyah dede jinis, nging sinaun ngegar karsa, mider wrin langening puri.

    Melihat pada kecatikan Ratu, mendadak galau/gelisah di dalam hatinya, teringat bahwa si Dewi bukan sejenis manusia, menjadi hilang keinginannya, Senopati berkeliling melihat-lihat keasrian taman puri si Dewi.

    (5) Udyana asri dinulu, balene kencana nguni, jaman purwa kang rinebat, Gathutkaca lan wre (k.238) putih, bitutaman dirgantara, bale binucal jeladri,

    Keasrian/keindahan taman dipuja-puja, ranjang emas kuno, jaman ketika Gathutkaca dan kera putih merebutkannya, berkelahi di angkasa, ranjang terlempar ke samudera.

    (6) Dhawah teleng samodra gung, kang rineksa sagung ejim, asri plataran rinengga, sinebaran gung retna di, widuri mutyara mirah, jumanten jumrut mawarni.

    Jatuh di tengah-tengah samudera raya, yang dijaga oleh mahluk halus, halaman yang asri, bertebaran intan-intan megah, mutiara merah, dan bermacam-macam batu jamrud.

    (7) De jubine kang bebatur, grebag suwasa kinardi, sinelan lawan kencana, ing tepi selaka putih, sinung ceplok pan rinengga, rukma tinaretes ngukir.

    Lantainya agak tinggi, dengan hiasan emas, ditepinya emas putih, berbentuk bunga-bunga mekar dan hiasan berukir-ukiran

    (8) Tinon renyep ting pelancur, rengganing kang bale rukmi, sumorot sundhul ngakasa, gebyaireng renggan adi, surem ponang diwangkara, kasorotan langen puri.

    Terasa sejuk berkilauan, hiasan di ranjang terlihat bercahaya yang sampai menyentuh angkasa, gemerlap cahaya megah, matahari terlihat meredup terkena sorotan cahaya dari puri si Dewi.

    (9) Gapurane geng aluhur, sinung pucak inten adi, sumorot mancur jwalanya, lir pendah soroting awi, yen dalu kadi rahina, siyang latriya pan sami.

    Gapura tinggi megah, diatas puncak berhias intan sangat indah, memancarkan cahayanya, seperti sinar matahari, jika malam seperti siang, siang dan malam menjadi sama.

    (10) Sigeg rengganing kadhatun, wau ta Sang Senapati, kelawan sang narpaning dyah, tan kena pisah neng wuri, anglir mimi lan mintuna, nggennya mrih lunturireng sih.

    Cukup dulu cerita dalam keadaan istana si Dewi, tadi tersebut sang senopati, dan sang Dewi, tidak bias dipisahkan, seperti Mimi dan Mintuno, mereka saling membuka hati.

    (11) Yen tinon warna Jeng Ratu, wus wantah habsari swargi, tuhu Sang Dyah Wilutama, kadya murca yeng ingeksi, sakpolahe karya brangta, ayune mangrespateni.

    Ketika terlihat wajah sang ratu, sudah melebihi wajah Dewi Habsari di surga, sama persis seperti sang Dewi Wilutama, keluar terlihat tingkah lakunya membangkitkan birahi, kecantikannya menawan hati.

    (12) Kadigbyaning warna sang ru- (k.239) m, ping sapta sadina salin, ayune tan kawoworan, terkadhang sepuh nglangkungi, yen mijil pradanggapatya, lir dyah prawan keling sari.

    Sang Ratu mempunyai kesaktian berubah wujud, berubah 7 kali sehari, kecantikan yang terpancar sempurna, terkadang sangat tua, jika terdengar musik tingkah laku si Dewi berubah enjadi seperti gadis kelingsari.

    (13) Yen sedhawuh jwaleng sang rum, lir randha kepaten siwi, yen praptaning lingsir wetan, warna wantah widadari, tengange lir dyah Ngurawan, Kumuda duk nujwa kingkin.

    Apabila sedang memberi perintah, seperti janda yang anaknya meninggal, ketika menjelang ufuk timur muncul wujud berubah seperti bidadari, seperti dewi dari Kurawa, berkuda seperti sedang susah.

    (14) Lamun bedhug kusuma yu, mirip putri ing Kedhiri, yen lingsir lir Banowatya, lamun asar pindha Ratih, cumpetingsapta sadina, yen latri embah nglangkungi.

    Ketika tabuh bedug, mirip putrid di kedhiri, ketika matahari terbenam seperti Banowati, ketika asar berubah seperti Dewi Ratih, 7 kali sehari, ketika malam semakin bertambah cantik.

    (15) Lawan sinung sekti punjul, dyah lawan samining ejim, warna wigya malih sasra, mancala putra pan bangkit, mila kedhep ing sakjagad, sangking sektining sang dewi.

    Serta mempunyai kesaktian tinggi, Ratu dengan sesame mahluk halus, mampu berubah wujud 1000 kali, bias berubah menjadi laki-laki, sehingga berada di seluruh dunia, karena sangat saktinya sang Dewi.

    (16) Sinten ingkang mboten teluk, gung lelembut Nungsa Jawi, pra ratu wus teluk samya, mring Ratu Kidul sumiwi, ajrih asih kumawula, bulu bekti saben warsi.

    Siapa yang tidak tunduk, seluruh mahluk halus dan bangsa manusia di Jawa, para Raja-raja sudah takluk semua, hanya kepada Ratu Kidul saja, mereka takut dan mengabdi, memberi pengabdian setiap tahun.

    (17) Ngardi Mrapi Ngardi Lawu, cundhuk napra ing jeladri, narpa Pace lan Nglodhaya, Kelut ngarga miwah Wilis, Tuksanga Bledhug sumewa, ratu kuwu sami nangkil.

    Gunung Merapi dan gunung Lawu, bermahkota di samudera, Raja Pace dan Nglodhaya, Gunung Kelut dan gunung Wilis, Mata air sembilan Bledug dan Ratu Kuwu semua hadir.

    (18) Wringinpitu Wringinrubuh, Wringin-uwok, Wringinputih, ing landheyan Alas Ngroban, sedaya wus kereh jladri, Kebareyan Tega- (k.240) l layang, ing Pacitan miwah Dlepih.

    7 Beringin, Beringin tumbang, Beringin besar, Beringin putih, di tengah-tengah alas Ngroban, semua sudah dikuasai samudera, Kebareyan tegal laying, di Pacitan serta Dlepih.

    (19) Wrata kang neng Jawa sagung, para ratuning dhedhemit, sami atur bulubektya, among Galuh kang tan nangkil, kereh marang Guwatrusan, myan Krendhawahana aji.

    Merata di seluruh Jawa, para Raja-raja mahluk halus, semua memberi pengabdian, hanya Galuh yang tidak hadir, diperintah oleh Guwatrusan, menghadapi Krendhawahana aji.

    (20) Wuwusen malih Dyah Kidul, lawan Risang Senapati, menuhi kang boja-boja, minuman keras myang manis, kang ngladosi pra kenyendah, sangkep busana sarwa di.

    Menceritakan kembali tentang Ratu Kidul dengan sang senopati, lengkap dengan makanan, minuman keras dan minuman manis, yang melayani para gadis-gadis yang berpakaian bagus-bagus.

    (21) Bedhaya sumaos ngayun, gendhing Semang munya ngrangin, weh kenyut tyasnya kang mriksa, wileting be (ksa) mrak ati, keh warna solahing beksa, warneng bedhaya yu sami.

    Para penari bedhaya maju kedepan, musik gending semang berbunyi nyaring, yang melihatnya membuat rasa hati tenteram, gerakannya menawan hati, bermacam-macam gerakan penari.

    (22) Senapati gawok ndulu, mring solahe dyah kang ngrangin, runtut lawan kang bredangga, wilet rarasnya ngrespati, acengeng dangu tumingal, de warneng dyah ayu sami.

    Senopati terheran-heran terpesona melihat gerakan-gerakan yang gemulai, sesuai dengan alunan irama musik, irama tembangnya menentramkan hati, sampai lama terpana melihatnya, wajah dewi-dewi yang cantik-cantik.

    (23) Tan lyan kang pineleng kayun, mung juga mring narpa dewi, brangteng tyas saya kawentar, de sang dyah punjul ing warni, kenyataning waranggana, sorote ngemas sinangling.

    Tiada yang lain yang dipikirkan hanya di depannya, juga hanya kepada Ratu Kidul, hatinya semakin berdebar-debar, karena sang Dewi lebih unggul kecantikannya dibandingkan penyanyi, Dewi bercahaya seperti emas dicuci.

    (24) Wuyunging driya sinamun, tan patya magumbar liring, tan pegat sabil ing nala, wau Risang Senapati, enget yen dene jinisnya, dyah narpa tuhuning ejim.

    Senopati menutup-nutupi asmara dalam hatinya, tidak terus mengumbar pandangannya hanya sebentar-bentar saja memandang Ratu, tidak berhenti pula perang dalam bathin hatinya, sang senopati teringat bahwa Ratu Kidul bukan dari golongan sejenisnya, sang Ratu yang sebenarnya adalah mahluk halus/jin.

    (25) Rianos jroning kung, 1) kagugu saya ngranuhi, temah datan antuk karya, (k.241) nggenira mrih mengku bumi, nging narpeng dyah wus kadriya, mring lungite Senapati.

    Dalam perasaan senopati terdalam, 1) mengikuti rasa penasaran, agar berhasil tujuan, (k.241) untuk menguasai bumi, akan tetapi sang Ratu sudah tahu, dengan apa yang dipikirkan senopati.

    (26) Ngunandika dalem kalbu, narpaning dyah ing jeladri, “ Yen ingsun tan nggango krama, nora kudu dadi estri, enak malih dadi priya, nora na kang mejanani.

    Berbicara dalam hati, sang Ratu di samudera, “Jika saya tidak perlu menikah, tidak harus menjadi permaisuri, lebih baik mejadi laki-laki, tidak ada yang mempengaruhi.

    (27) De wis dadi ujar ingsun, anggon sun wadad salamining, ngarsa-arsa pengajapan, temah arsa ngapirani, sunbekane mengko jajal, piyangkuhe ngadi-adi.

    Sudah menjadi sumpah saya, berniat untuk menyendiri selamanya, menanti-nanti pengharapan, akan menjadi merepotkan, nanti aku mencoba, keangkuhannya menjadi-jadi.

    (28) Wong agunge ing Metarum, dimene lali kang nagri, krasan aneng jro samodra”, kawentar mesem sang dewi, tumungkul tan patya ngikswa, Senapati tyasnya gimir.

    Orang besar di Mataram, agar lupa dengan negaranya, kerasan (suka tinggal) di samudera”, sang Dewi mengumbar senyum, kepala menunduk dengan mata menoleh sedikit melihat senopati, hati Senopati menjadi penasaran.

    (29) Duk liniring mring sanging rum, tambuh surasaning galih, wusana lon anandika, “Dhuh wong ayu karsa mami, wus dangu nggoningsun ningal, mring langene ing jro puri,

    Mencuri pandang kepada sang Dewi yang harum, menjadi tidak menentu perasaannya, sambil berbicara halus “Duh putri cantik yang kuinginkan, sudah lama aku memandang, kepada keindahan dalam puri,

    (30) Pesareyanta durung weruh, kaya ngapa ingkang warni”, nging dyah “Tan sae warninya, yen kedah sumangga karsi, sinten yogi ndarbenana, lun mung darmi anenggani.”

    Tempat tidurmu belum tahu, seperti apa kelihatannya tempat tidurmu itu”, Ratu menjawab, “Tidak bagus wujudnya, jika harus melihatnya terserah Anda, siapa yang pantas memiliki, saya hanya sekedar menjaga saja.”

    (31) Wusira gya jengkar runtung, Sang Sena lan narpa dewi, rawuh jrambah jinem raras, alon lenggah sang akalih, mungging babut pan rinengga, Se- (k.242) napati gawok ngeksi.

    Segera mereka beranjak bersama, sang senopati dan sang Dewi, datang ke tempat tidur yang nyaman, keduanya duduk pelan-pelan, diatas permadani yang rapi, Senopati terheran-heran melihatnya,

    (32) Warneng pajang sri kumendhung, tuhu lir suwargan ngalih, sang dyah matur marang priya, “Nggih punika ingkang warni, tilemane randha papa, labet tan wonten ndarbeni.”

    Bermacam-macan hiasan Sri Kumendhung dipajang, terasa seperti syurga berpindah, Sang Ratu berbicara pada sang senopati, “Ya begini lah wujudnya, tempat tidur si janda yang sengsara, karena tidak ada yang memiliki,”

    (33) Kakung mesem nglingira rum, ”Anglengkara temen Yayi, ujare wong randha dama, ing yektine angluwihi, kabeh purane pra nata, tan padha puranta Yayi.

    Senopati tersenyum sambil melirik si Dewi yang harum, “Kasihan sekali kamu Dik, katamu hanya seorang janda tapi kenyataanya melebihi semua istana, tidak ada yang menyamai istana dinda.

    (34) Pepajangan sri kumendhung, ingsun tembe nggonsun uning, pesareyan warna endah, pantes lawan kang ndarbeni, warna ayu awiraga, bisa temen ngrakit-ngrakit.

    Hiasan Sri Kumendhung, baru kali ini aku melihatnya, tempat tidur serba indah, pantas sesuai yang memilikinya, bentuk yang sangat cantik, pandai sekali merangkainya.

    (35) Baya sungkan yen sun kondur, marang nagari Matawis, kacaryan uningeng pura, cacatira mung sawiji, purendah tan nganggo priya, yen darbea kakung becik.

    Aku menjadi malas pulang ke negeri Mataram, setelah melihat-lihat istana, rasa kecewa hanya satu, lebih bagus tidak ada lelaki, jika ada yang memiliki pria baik

    (36) Wanodyane dhasar ayu, imbang kakunge kang pekik, keng runtut bisa mong garwa, wonodyane bekti laki, tur dreman asugih putra”, Senapati denpleroki.

    Dasarnya wanitanya cantik seimbang dengan pria yang baik, yang setia kepada isteri, wanitanya juga setia pada suami, juga suka mempunyai anak banyak”, Senopati melirik menggoda dengan matanya.

    (37) Dyah merang lenggah tumungkul, sarwi mesem turira ris, “Sae boten mawi priya, mindhak pinten tyang akrami, eca mung momong sarira, boten wonten kang ngrego-(k.243) ni.

    Sang Dewi duduk dengan kepala menunduk, sambil tersenyum berbicara halus, “Bagus tidak memiliki suami, bertambah apa orang bersuami, enak sendirian saja, tidak ada yang mengganggu (k.243).

    (38) Eca sare glundhung-gundhung, neng tilam mung lawan guling, lan tan ngronken keng ladosan”, Senapati mesem angling, “Bener Yayi ujarira, enak lamban sira Yayi.

    Enak tidur sendiri berguling kesana kemari, diatas tikar bersama guling, dan tidak ada yang harus dikerjakan”, Senopati terlihat tersenyum, Benar dinda katamu, enak sendirian kamu dinda.

    (39) Mung gawoke Nimas ingsun, na wong ledhang aneng gisik, tur priya kawelas arsa, lagya rena wrin in jladri, semang ginendeng pineksa, kinon kampir mring jro puri.

    Hanya heran saya kepada dinda, ada seorang lelaki di pesisir pantai, apalagi pria yang meminta belas kasihan, sedang melihat samudera, malah digandeng paksa, disuruh mampir/ singgah ke dalam puri.

    (40) Jeng Ratu kepraneng wuwus, merang tyas wetareng lungit, kakung ciniwel lambungnya, mlerok mesem datan angling, Senapati tyasnya trustha, wusana ngandika aris.

    Sang Ratu terpana akhirnya, hatinya merasa tersentuh, lelaki itu dicubit perutnya, melirik tersenyum menggoda senopati, menyentuh hati senopati, selanjutnya berbicara lembut.

    (41) ”Ya sun pajar mirah ingsun, nggon sun praptaneng jeladri, labet sun anandhang gerah, alama tan antuk jampi, kaya paran saratira, usadane lara brangti.

    “Ya aku ini berbicara secara mudahnya saja, aku datang ke samudera karena sedang sakit, sudah lama tidak mendapat obat, seperti apa syaratnya obat sakit asmara.

    (42) Mider ing rat nggon sun ngruruh, kang dadi usadeng kingkin, tan lyan mung andika mirah, pantes yen dhukum premati, bisa mbirat lara brangta, tulus asih marang mami.”

    Aku sudah keliling dunia untuk berusaha, yang menjadi penawar sakit tidak lain hanya kamu, pantas jika dihukum, yang bisa menyembuhkan sakit asmara, kasih sayang tulus kepadaku.”

    (43) Sang dyah maleruk tumungkul, uning lungit Senapati, nging tansah ngewani priya, mangkana usik sang dewi, “Wong iki mung lamis ujar, sunbatanga nora slisir

    Sang Dewi cemberut menunduk, sambil memandang Senopati, tapi selalu berani dengan lelaki, demikian goda sang Dewi kepada senopati, “ Anda ini hanya berbicara bohong, perkiraan saya tidak lah salah.

    (44) Minta tamba ujaripun, pan dudu lara sayekti, lara arsa madeg nata, ewuh mungsuh guru darmi, wus persasat ingkang yoga, kang amengku Pajang nagri.”

    Meminta obat katanya, tapi tidak sungguh-sungguh sakit, sakitnya karena berkehendak mejadi Raja, tidak enak bermusuhan dengan sesama guru, sudah dititahkan yang memegang kekuasaan negeri Pajang.”

    (45) Wusana dyah matur kakung, “Kirang punapa sang (k.244) pekik, kang pilenggah ing Mataram, lelana prapteng jeladri, tan saged lun sung usada, nggih dhateng keng gerah galih.

    Akhirnya sang Dewi berbicara kepada senopati, “Kurang apakah sang pangeran tampan, yang menduduki Mataram, berkelana sampai samudera, tidak bisa menyembuhkan yang menjadi sakit hatinya.

    (46) Yekti amba dede dhukun, api wuyung ingkang galih, mangsi dhatenga palastra, tur badhe nalendra luwih, kang amengku tanah Jawa, keringan samining aji.

    Sungguh saya bukan dukun, api asmara yang anda pikirkan, tidak mungkin menyebabkan kematian, apalagi akan menjadi Raja dari para raja-raja, yang menguasai tanah jawa, ditakuti oleh sesame raja.

    (47) Kang pilenggah ing Matarum, mangsi kirangana putri, ingkang sami yu utama, kawula estri punapi, sumedya lun mung pawongan, yen kanggea ingkang cethi.

    Yang menduduki Mataram tidak mungkin kekurangan wanita, yang cantik-cantik dan utama, kaum wanita yang bagaimanapun, tersedia para nyai, jika dibutuhkan secara pasti.

    (48) De selamen lamban ulun, kepengin kinayan nglaki, kang tuk bulu bekti praja, labet blilu tyang pawestri, tan wigya mangenggar priya, labet karibetan tapih.

    Selama saya menyendiri, pernah mempunyai keinginan bersuami, yang berbakti kepada kerajaan, karena malas seorang wanita, tidak pandai terhadap pria, karena terlilit kain.

    (49) Lamun kanggeya wak ulun, kalilan among anyethi, ngladosi Gusti Mataram”, wau ta Sang Senapati, sareng myarsa sebdeng sang dyah, kemanisan dennya angling.

    Meskipun badan saya dibutuhkan, diijinkan hanya untuk berbakti kepada Gusti Mataram,” Sang Senopati mendengarkan perkataan Dewi sambil menikmati melihat kemanisan Ratu Kidul.

    (50) Saya tan deraneng kayun, asteng dyah cinandhak ririh, sang retna sendhu turira, “Dhuh Pangeran mangke sakit, kadar ta arsa punapa, srita-sritu nyepeng driji.

    Semakin lama tidak bisa ditahan lagi hati Senopati, tangan Dewi dipegang pelan-pelan, sang Ratna Dewi berkata lembut manja, “Dhuh Pangeran nanti sakit, sebetulnya pangeran mau apa, tiba-tiba meremas-remas jari tangan saya.

    (51) Asta kelor driji ulun, yen putung sinten nglintoni, nadyan wong agung Mataram, mangsi saged karya driji”, kakung mesem lon delingnya, “Dhuh wong ayu sampun runtik.

    Jari tangan saya kecil-kecil, jika patah siapa yang akan mengganti, meskipun orang besar Mataram tidak mungkin menciptakan jari tangan”, Senopati tersenyum sambil berkata pelan, “Dhuh wanita cantik jangan marah.

    (52) Nggon sun nyepengasteng masku, Yayi aja salah tampi, mung yun u-(k.245) ning sotyanira”, dyah narpa nglingira aris, “Yen temen nggen uning sotya, sing tebih andene keksi.

    Saya memegang tanganmu, dinda jangan sampai salah terima, hanya mau melihat ( k.245) cincinmu”, Lalu Dewi berkata halus, “Jika benar Anda hanya mau melihat cincin saya, bisa melihat dari jauh saja.

    (53) Yekti dora arsanipun, sandinya angasta driji, yektine mangarah prana, ketareng geter ing galih, dene durung mangga karsa, paring jangji sih mring cethi.”

    Pasti bukan kehendak sesungguhnya, berpura-pura memegang jemari, pasti berkehendak sesuatu, terlihat jelas dipikiran, beri lah janji cinta kasih yang pasti.”

    (54) Kakung mesem sarwi ngungrum, swara rum mangenyut galih, narpaning dyah wus kagiwang, mring kakung asihnya kengis, esemnya mranani priya, Senapati trenyuh galih.

    Senopati merayu dengan bernyanyi sambil tersenyum, suaranya merdu menggugah hati, Ratu cantik sudah terpesona, kepada senopati cintanya terbuka, senyum ratu menawan pria, Senopati tersentuh hatinya.

    (55) Narpaning dyah lon sinambut, pinangku ngras kang penapi, sang dyah tan lengganeng karsa, labet wus katujweng galih, jalma-jalma dera ngantya, pangajapan mangke panggih,

    Sang Dewi disambut perlahan, diletakkan diatas pangkuan senopati, sang Dewi tidak menolak keinginan, yang tertuju kepada kekasih hati, terpenuhi keinginan mahluk-mahluk itu.

    (56) Lan titisnya Sang Hyang Wiku, kang mengkoni ngrat sekalir, Senapati nir wikara, karenan mring narpa dewi, tansah liniling ngembanan, de lir ndulu golek gadhing.

    Dan titisan Sang Hyang Wiku, yang menguasai dunia, Senopati tanpa halangan, kehendak kepada sang Dewi, saling melihat mesra dalam pangkuan, seperti boneka golek gadhing.

    (57) Binekta manjing jinem rum, tinangkeban ponang samir, kakung ndhatengaken karsa, datansyah bremara sari, mrih kilang mekaring puspa, kang neng madya kuncup gadhing.

    Dibawa masuk ke tempat tidur yang harum, tertutup kain selendang, senopati mendatangkan hasrat, selalu mesra, kepada ratu yang seperti bunga sedang mekar, yang berada ditengah kuncup gading.

    (58) Jim prayangan miwah lembut, neng jrambah sami mangintip, mring gusti nggen awor raras, kapyarsa pating kalesik, duk sang dyah katameng sara, ngrerintih sambate (k.246) lalis.

    Jin setan parahyangan serta mahluk halus, mereka mengintip, kepada gusti yang bercinta, terdengar saling berbisik, ketika sang Ratu terkena tajam, mengadu merintih (k.246).

    (59) Kagyat katemben pulang yun, sang dyah duk senanira nir, nggeladrah rempu ning tilam, ukel sosrah njrah kang sari, kongas ganda mrik mangambar, bedhahe pura jeladri.

    Terkejut ketika sang Dewi kehilangan selaput daranya, pecah membanjiri di tempat tidur, sanggul rambutnya menjadi berantakan, tercium bau semerbak harum, rusaknya pura samudera.

    (60) Dyah ngalintreg neng tilam rum, jwala nglong kerkatira nir, Senapati wlas tumingal, sang dyah lin sinambut ririh, sinucen dhateng patirtan, wusira gya lenggah kalih.

    Dewi terbaring lemah di tempat tidur harum, selaput daranya hilang, Senopati memandang dengan belas kasihan, sang Dewi diambilnya pelan-pelan, lalu keduanya duduk.

    (61) Dyah sareyan pangkyan kakung, tan pegad dipunarasi, mring kakung Sang Senapatya, nyengkah ngeses sang retna di, raket sih kalihnya sama, penuh langen ngasmara di.

    Dewi tiduran diatas pangkuan Senopati, tidak henti-hentinya diciumi oleh Senopati, keduanya saling dekap erat, penuh cinta.

    (62) Cinendhak rengganing kidung, pasihane sang akalih dugi ngantya sapta dina, Senapati neng jeladri, ing mangke arsa kondura, marang prajanya Matawis.

    Irama kidung yang pendek, kemesraan keduanya sampai tujuh hari, Senopati tinggal di dalam samudera, yang nanti akan pulag ke kerajaan Mataram.

    (63) Kakung nabda winor rungrum, “Dhuh mas mirah ingsun Gusti, ya sira karia arja, ingsun kondur mring Matawis, wus lama aneng samodra, mesthi sun diarsi-arsi,

    Senopati berbicara dengan bernyanyi, “Dhuh emas merahku, ya semoga kamu bahagia, aku pulang ke Mataram, sudah lama di samudera, pasti aku sudah ditunggu-tunggu,

    (64) Marang wadyengsun Matarum, wus dangu tugur ing nagri”, narapaning dyah sareng myarsa, yen kakung mit kondur nagri, sekala manca udrasa, druwaya badra dres mijil.

    Oleh rakyatku di Mataram, sudah lama menjaga negeri”, Dewi mendengarkan sambil merasa sedih jika senopati pamit pulang ke negerinya, menangis sedih, Rembulan menjadi menangis deras.

    (65) Dereng dugi onengipun, mring kakung kemangganing sih, alon lengser sangking pangkyan, udrasa sret dennya angling, “Kaya mengkono (k.247) rasanya, wong tresna dentimbangi.

    Belum sampai yang di pikirannya, kepada senopati yang dicintai, perlahan-lahan turun dari pangkuan, terdengar isak tangis Ratu, “ Seperti ini lah (k. 247) rasanya mencintai yang dibandingkan.

    (66) Kaya timbang tresnaingsun, yen sun bisa nyaput pranti, myang nguja sakarsanira, mesthi kanggo nggonsun nyethi”, kakung uning wus kadriya, mring udrasa sang retna di.

    Seperti membandingkan cintaku, seandainya aku bisa memberi, menuruti semua kehendakmu, pasti saya berguna”, Senopati sudah tahu dalam hati, atas tangisan sang Ratna.

    (67) Lon ngudhar paningsetipun, cindhe puspa pinrada di, dyah sinambut gya ingemban, binekta mider kuliling, marang kebon petamanan, kinidung ing pamijil.

    Pelan-pelan melepas kain setagen, berhias bunga-bunga emas, Dewi disambut diemban/diangkat, dibawa keliling-keliling ke kebun taman sambil dinyanyikan oleh Senopati.
    M I J I L

    (1) “Dhuh mas mirah aja sumlang ati, titenana ingong, lamun supe marang sira Angger, marcapada myang delahan Yayi, nggoningsun mangabdi, ditulus sihipun.

    “Dhuh emas merahku jangan khawatir hatimu, lihatlah saya, jika lupa kepadamu, dari dunia sampai akherat Dinda, aku mengabdi cinta tulus.

    (2) Nadyan ingsun pas wus sugih krami, tur sami yu kaot, genging tresna wus tan liya Angger, ingkang dadi teleng ingsun kang sih, mung andika Gusti, nggen sun ngawu-awu.

    Walaupun saya sudah punya banyak isteri, dan cantik-cantik, besar cintaku tidak lain adalah kamu dinda, yang menjadi tanda kuat cinta, hanya dirimu adinda Gusti, kepadamu saya tergila-gila.

    (3) Malawija neng jro tilam sari, tan lengganing pangkon, mung pun kakang timbangana Angger, ingsun yekti anandhang wiyadi, dereng antuk jampi, tan lyan sira masku,

    Kenapa saya berlebihan ditempat tidur, tidak melepaskan pangkuan, hanya kakanda pula daripada dinda, saya sungguh sedang menderita sakit, belum mendapatkan obat, tidak lain hanya lah kamu emasku,

    (4) Ambirata rentenging tyas kingkin, satemah sun-antos, nadyan kinen laju jrak neng kene, tan suminggah sakarsa mestuti, nging kapriye Yayi, solahe wadyengsun.”

    Yang bisa menghilangkan hati sedih, jadi saya tetap menunggu-nunggu, walaupun harus berjalan jauh sampai disini, tidak ingin sembunyi berusaha, tetapi bagaimana dengan rakyatku Dinda.”

    (5) Narpaning dyah tyasnya lir jinait, kapraneng pamuwos, kemanisen kakung pangrengihe, (k.248) dadya luntur sihira sang dewi, mring kakung lon angling, “Pangran nuwun tumrun.”

    Hati Ratu tersentuh, terpesona oleh perkataan senopati yang manis minta dimengerti, (k.248) menjadi pudar sihirnya sang Dewi, kepada senopati berkata pelan, “Pangeran saya minta turun.”

    (6) Sing ngembanan wus tumrun sang dewi, long lenggah sekaron, malih sang dyah matur mring kakunge, “Pangran nuwun ngapunten kang cehti, dene kumawani, dhoso gungan kakung.

    Sang Dewi turun dari pengembanan/ bopongan, kemudian duduk diatas bunga, kembali Dewi berbicara kepada senopati, “Pangeran, saya mohon sungguh-sungguh dimaafkan, karena terlalu berani banyak kepada lelaki/senopati.

    (7) Datan langkung panuwuning cethi, sih tresnanya yektos, sampun siwah putra wayah tembe, tinulusna darbe cethi mami”, kakung ngraketi ngling, dyah ingras pinangku.

    Tidak lebih permohonan saya, cinta kasih yang nyata, jangan berubah sampai anak cucu nanti, ketulusan menjadi milikku”, Senopati langsung memeluk, Dewi dipangku.

    (8) “Ya mas Mirah aja sumlang galih, sok bisaa klakon”, malih sang dyah matur mring kakunge, “Nggih Pangeran yen wus mangguh westhi, praptanireng jurit, mrih enggal lun tulung.”

    “Ya emas merahku jangan khawatir hatimu, nanti akan terjadi”, Dewi berbicara lagi kepada senopati, “Ya Pangeran jika sudah menjadi sungkan nanti menghadapi perang, segera saya tolong.”

    (9) Magut sang dyah kakung lon winangsit, ubayaning temon, “Sedhakepa myang megeng napase, anjejaka kisma kaping katri, yekti amba prapti, ngirit wadya lembut.

    Kepala Dewi mengangguk pelan sebagai tanda akhir pertemuan, “Sedekapkan tanganmu dengan menahan nafas, hentakkan kaki ke tanah 3 kali, saya pasti datang, membawa pasukan mahluk halus.

    (10) Lawan amba atur araneng jurit, mrih digbya kinaot, Tigan lungsungjagad nggih namine, dhinahara gung sawabe ugi, panjang yuswa yekti, kyating sara timbul.

    Bersama saya serahkan pasukan, agar kekuatannya unggul, Telur Lungsung Jagad namanya, mendapat pengaruh besar juga, panjang umur pasti, kekuatan tumbuh pesat.

    (11) Lawan Lisah Jayengkatong nami, dewa kang sih mring ngong “, kalih sampun ngaturken kakunge, Senapati sawusnya nampeni, langkung trustheng galih, antuk sraneng pupuh.

    Dengan minyak Jayengkaton namanya, Dewa yang memberi padaku”, kedua hal itu sudah diberikan kepada senopati, sudah diterima oleh senopati, bertambah senang hatinya, mendapat sarana untuk perang.

    (12) Malih sang dyah mangsit marang laki, ngelmining kerato- (k.249) n, mrih kinedhep mring lelembut sakeh, Senapati wus kadriyeng wangsit, wusana sang dewi, ngraket weceng kakung.

    Kembali sang Dewi memberi pesan kepada senopati, ilmu dari keraton (k. 249), yang tersedia oleh semua mahluk halus, Senopati sudah menerima wangsit, selesainya Dewi memeluk erat Senopati.

    (13) “Dhuh Pangeran yen marengi karsi, ing panuwun ingong sampun age-age kondur mangke, wilangun lun yekti dereng dugi, paran polah mami, yen paduka kondur.”

    “Dhuh Pangeran jika saya diperbolehkan meminta, saya minta jangan cepat-cepat pulang, menurut perhitungan saya belum sampai, seperti apa saya nanti, jika Paduka pulang.”

    (14) Raka ngimur mrih lipuri Yayi, “Adhuh mirah ingong kang sih tresna marang ing dasihe, myang sakjarwa wus sun trima Yayi, nging sun meksa amit, megat oneng masku.

    Kanda Senopati menghibur Dinda Ratu, “Adhuh emas merahku yang aku cintai, saya sudah jelas menerima Dinda, hanya saja saya harus pamit, berpisah dengan mu emas merahku.

    (15) Aja brangta mirah wong akuning, lilanana ingong, ingsun kondur mring Mataram prajeng, nora lama mesthi nuli bali, mring pureng jeladri, tuwi dika masku,

    Jangan sedih emas merah milikku, relakanlah saya, saya pulang ke kerajaan Mataram, tidak lama pasti akan kembali, ke puri samudera ini, menjenguk engkau emasku,

    (16) Saking labet datan betah mami, pisah lan mas ingong, sangking wrate wong mengkoni prajeng”, sang dyah ngungsep pangkyan ngling ing laki, “Pangran sampun lami, nggih nuntena wangsul.”

    Saya sebenarnya sangat tidak kuat untuk berpisah dengan emasku, hanya karena berat beban saya menjaga menlindungi kerajaan”, Sang Dewi kemudian jatuh memeluk pangkuan Senopati, “Pangeran jangan lama, segera pulang kesini.”

    (17) Dugi nggusthi megat onenging sih, gya mijil sang anom Ratu Kidul ndherekken kondure, asarimbit kekanthen lumaris, rawuh Srimanganti, gya kakung nglingnya rum.

    Sampai akhirnya Gusti Senopati mengakhiri kasih cinta, segera Ratu Kidul mengantarkan kepulangannya, saling menggandeng tangan harmonis, sampai di Srimanganti, Senopati segera melihat sang Dewi penuh rasa kasih.

    (18) “Wus suntrima sihira Mas Yayi, nggennya ngater mring ngong, among ingsun minta sihirangger, srana tumbal usadaning kingkin”, sang dyah manglegani, sih katresnane kakung.

    “Sudah saya terima sihir mu Dinda Mas, olehmu menghantar saya, hanya saya minta sihirmu, sebagai sarana tumbal obat sakit asmaraku”, Sang Dewi memberi cintanya kepada Senopati.

    (19) Atur gantyan manglungken sing lathi, tinampen waja (k.250) lon, geregetan ginigit lathine, sang dyah kagyat raka sru pinulir, purna kang karon sih, sewangan lestantun.

    Bergantian memberi ciuman bibir, diterima gigi secara pelan, mencium menggigit mesra, Sang Dewi kaget pada Senopati, setelah bercumbu, kunjungan selesai.

    (20) Senapati praptanireng njawi, puranya sang sinom, sirna wangsul keksi samodrane, Senapati nggenya napak warih, lir mangambah siti, tinindakkira laju.

    Senopati telah sampai diluar pura sang Dewi, kembali menghilang samudera dari penglihatan, Senopati berjalan diatas air, seperti memijak tanah, dia berjalan terus.

    (21) Senapati sakpraptaning gisik, wespadeng pandulon, kang pitekur neng Parangtritise, wus saestu lamun guru yekti, niyakaning Sunan Adilangu.

    Senopati sampai dipinggir pesisir pantai, melihat dengan waspada kepada seseorang yang berdiri tegak di Parangtritis, sudah merasa yakin bahwa dia adalah Guru Senopati, yaitu Sunan Adilangu.

    (22) Senapati gepah nggen mlajengi, mring guru sang kaot, prapta laju, mangusweng padane, pamidhangan ngasta mring sang yogi, luwarnya ngabekti, lengser lenggah bukuh.

    Senopati segera menghampiri maha guru, dengan segera memberi hormat tunduk, tangan guru menyentuh sang anak/ murid, sebagai tanda diterimanya bakti sang Senopati, bergeser duduk sopan.

    (23) Sunan Adi gya ngandika aris, “Jebeng sokur ingong, lamun sira katemu neng kene, sabab ingsun arsa anjarwani, pratingkah kang yekti, mrih arjaning laku.

    Sunan Adilangu berbicara dengan bijaksana, “Aku bersyukur anakku, aku bertemu denganmu disini, sebab aku menanti-nanti, apa yang sebenarnya terjadi dengan perjalananmu.

    (24) Sira sinung digdaya lan sekti, ngluwihi sagung wong, sun prelambang samodra pamane, kita ambah tan teles kang warih, lir dharatan ugi, tyasnya aja ujub,

    Kamu sangat ampuh dan sakti, melebihi semua orang, misalnya saja tanda samudera yang kamu injak tanpa basah dengan air, seperti daratan saja, tetapi ingatlah hatimu jangan angkuh

    (25) Riya kibir sumengah tan keni, segahe Hyang Manon, nabi wali uliya sedene, yen neraka tuk sikuning Widi, karseng Hyang piningit, bab catur piyangkuh.

    Sombong, riya, congkak tidak boleh, dibenci oleh Hyang Manon, nabi wali Allah juga membenci, jika neraka mendapat laknat dari Hyang Widi, diharapkan oleh Hyang tersembunyi, bab pembicaraan yang angkuh.

    (26) (k.251) Wong gumedhe anglungguhi kibir, sapa padha lan ngon, larangane Hyang Sukma kang murbeng, kibir riya piyangkuhing jalmi, mrih ngalema luwih, keringan sawegung.

    (k.251) Orang yang sombong melebihi kibir. Barang siapa yang patuh pada larangan Hyang Sukma yang menciptakan alam dan seisinya, sombong dan riya adalah keangkuhan manusia, minta dipuji-puji berlebihan, semuanya itu tidak lah pantas

    (27) Amemadha marang ing Hyang Widi, wong pambeg mengkono, kalokeng rat mring praja liyane, ujubira piyangkuh ngengkoki, gawoka kang ngeksi, lumaku gumunggung.

    Mempersamakan diri dengan Hyang Widi, orang seperti itu disemayami derajat dari raja-raja yang lainnya, perlihatkanlah kepribadianmu yang tidak angkuh, terlihat mempesona, berjalan anggun berwibawa.

    (28) Saksolahe was tan darbe maning, mung legane batos, sakeh patrap ja mengkono Jeneng, Senapati tuhunen kang kapti, lan sun plambang maning, kan tan lungguh ngelmu

    Semua tingkah laku tidak ada yang mengganggu hati, tinggal tentramnya hati saja, banyak sekali perilaku jangan hanya menjadi nama saja, Senopati benar-benar hanya berfokus pada kehendak/cita-cita luhur, dan saya memperumpamakan lagi, yang tidak memiliki ilmu.

    (29) Aja sira pambeg kaya langit, bumi gunung argon, lan samodra plambang patrap kabeh, pan ya Kaki pambeganing langit, saengganing jalmi, ngendelken yen luhur.

    Jangan lah kamu menengadah seperti langit (angkuh), bumi gunung tinggi, dan samudera semua contoh, ya Kaki pemberian langit, bermacam-macam manusia, mengandalkan yang luhur.

    (30) Bumi kandel jembare ngluwihi, dwi lir pambeging wong, wus tan ana mung iku dayane, myang kang gunung digung geng inggil,sagra jro tirtaning, gurnita kang alun,

    Tebalnya bumi dan luasnya itulah dua sifat manusia, sudah tidak ada yang melebihi kekuatannya selain itu, kepada gunung-gunung besar dan tinggi, dalamnya samudera, gumelarnya ombak,

    (31) Ngendelaken digdayane sami, bumi samodra rob, langit arga pambeg jalma kabeh, wus tan ana polataning maning, sisip pambeg jalmi, kurang jembar kawruh.

    Mengandalkan kekuatan mereka, bumi samudera banjir, semua langit dan gunung seperti sifat manusia, sudah tidak ada perbedaannya lagi, sedikit berbeda dengan manusia yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan.

    (32) Yen sira yun wigya dadi aji, mangreh sagunging wong, aja pegat istiyarmu Je- (k.252) beng, laku pasrah mring Kang Murbeng Bumi, neng musik di-ening, mrih uning Sukma Gung.

    Jika kamu menjadi orang tinggi/ Raja, memerintah semua orang, jangan berhenti ikhtiarmu (k.252) Nak, berpasrah kepada Kang Murbeng Bumi (Penguasa Yang menciptakan Bumi dan seisinya), menjadi sekutu terhadap Sukma Gung (Hyang Besar Sukma)

    (33) Ginampangan seka karseng Widi, di-terang pandulon, aja sereng sakpekoleh bae, ngibadaha nglungguhana gami, nging driya dieling, mrih manise wadu.

    Secara mudah terwujud kehendak dari Hyang Widi, berfokus lah pada pandangan/tujuanmu, jangan sembarangan bertingkah seenaknya saja, beribadah lah memeluk agama, selalu hati berwaspada kepada manisnya wanita.

    DHANDHANGGULA

    (1) Lawan Jebeng ya sun Tanya yekti, antuk apa sira seka sagra”, Senapati lon ature, “Inggih binektan ulun, Tigan lungsungjagat ken nedhi, lan Jayengkaton lisah”, dwi serana katur, sang wiku wrin lon delingya, “Katujone durung kongsi sira bukti, yen wisa dadi apa.

    Kepadamu anakku aku bertanya, kamu mendapat apa dari segoro/samudera”, Senopati menjawab pelan, “Ya saya diberi Telur Lungsung Jagad yang disuruh memakannya, dan Minyak Jayengkaton”, Keduannya adalah pemberian, sang Wiku sudah menyadarinya dan berkata secara halus, “Untung saja kamu belum membuktikannya, jika sudah dimakan mau jadi apa kamu Nak.

    (2) Temah antuk sengsareng ngaurip, yekti wurung sira dadi nata, nggonirarsa mengku ngrate, sida neng samodra gung, datan bisa mulih Matawis, de wadyanta tan wikan, myang garwa putramu, labete wus salin tingal, kita dadi jodhone Ni Kidul mesthi, sabab nir manungsanya.

    Hanya mendapat hidup yang sengsara, pasti gagal keinginanmu menjadi Raja memerintah kerajaan malah terperangkap di samudera luas, tidak bisa kembali ke Mataram, rakyatmu dan anak isterimu tidak akan melihatmu karena kamu sudah berubah wujud, karena kamu menjadi lelaki/suami Ratu Kidul, menjadi hilang wujud manusiamu.

    (3) Maneh Jebeng sun Tanya kang yekti, sira remen marang narpaning dyah, kaya ngapa suwarnane”, Senapati lon matur, “Wananipun ayu nglangkungi, saktuwuk dereng mriksa, keng (k.253) kadya Dyah Kidul”, sang wiku mesem ngandika, “Kesamaran kita Jebeng Senapati, kena ngayu sulapan.

    Kembali saya bertanya kepada mu dengan pasti, kamu suka kecantikan sang Ratu, seperti apa wajahnya”, Senopati menjawab pelan, “Wajahnya sangat cantik, seumur hidup saya belum pernah melihat, yang seperti (k.253) Dyah Ratu Kidul”, Sang Wiku tersenyum berbicara, “Kamu terkena sihirnya anakku, itu hanya wujud yang disulap.

    (4) Sabab sira durung sidik ngeksi, nguni sun wus namun manjing pura, dyah supine ya suncolong, neng jenthik driji sang rum, iki warna delengen Kaki”, kagyat Sang Senapatya, nggenira andulu, de supe langkung gengira, pan sakwengku tebok bolonging li-ali, tumungkul Senapatya.

    Sebab kamu belum pernah melihat sebelumnya, dulu saya sudah pernah masuk ke pura, aku mencuri cincin dari jari kelingking sang Ratu, ini wujud sebenarnya sang Ratu silahkan melihat anakku”, senopati terkejut, melihat cincin yang sangat besar, sebesar “tebok” lubang cincin, Senopati merunduk memperhatikan.

    (5) Driya maksih maiben ing galih, Sunan Adi ing tyas wus waskitha, Senapati tyas sandeyeng, wusana ngling sang wiku, “Payo Jebeng ya padha bali,mumpung narpeng dyah nendra,katon warna tuhu, mengko Jebeng wespadakna”, ri wusira Jeng Sunan lan Senapati, linggar manjing samodra.

    Saya masih merasa ragu dalam hati, Sunan Adilangu menyadari dalam hatinya, hati senopati bimbang, lalu melihat kepada sang Wiku, “Ayo Nak kita pulang, mumpung Ratu sedang tidur, nanti kamu bisa memperhatikannya lagi” setelahnya Kanjeng Sunan Adilangu dan senopati berabjak meninggalkan samudera.

    (6) Sakpraptaning jro pureng jeladri, Ratu Kidul wus kepanggih nendra, nglenggorong langkung agenge, lukar ngorok mandhekur,rema gimbal jatha mangisis,panjangnya tigang kilan, sakcarak gengipun, kopek nglembereh sakiyan, Senapati kamigilan wrin ing warni, tansah legek tan nebda.

    Sesampainya di pintu samudera, diketahui bahwa Ratu Kidul sudah tidur, tidur telentang badannya sangat besar, tidur tanpa pakaian dan suara mendengkur, rambutnya gimbal/ gembel dan gigi siungnya keluar tajam, panjangnya 3 kali jengkal tangan, sebesar “carak”, payudaranya turun menggantung, Senopati menggigil ketakutan melihat wujudnya, sangat terkejut sampai tanpa bicara.

    (7) (k.254) Sunan Adi nebdeng Senapati, “Jebeng iku warnane sanyata, kang bisa ayu sulape, linulu mring Hyang Agung, lamun wungu sakarep dadi, bisa salin ping sapta, sakdina warna yu, yen wis tutug pandulunya, payo mulih bok menawi mengko tangi, gawe rengating driya.”

    (k.254) Sunan Adilangu berkata kepada Senopati, “Nak itu lah wujud sebenarnya Ratu Kidul, yang bisa berubah menjadi cantik karena sulapan sihir, “linulu” kepada Hyang Agung, ketika bangun berubah lagi, bisa berubah selama tujuh (7) kali, dalam satu hari, menjadi cantik, kalau kamu sudah puas melihantnya mari kita pulang, kemungkinan dia nanti bangun, membuat sakit hati.”

    (8) Wusnya nulya kentar pyagung kalih, ing semarga Sunan tansah jarwa, “Ya sun tan malangi Jebeng, nggonira kita wanuh, lan dyah narpa sakkarsa Kaki, wis bener karsanira, nging ta cegah ingsun, wenangira mung persobat, sabab iku kang rumeksa Pulo Jawi, wenang sinambat karsa.

    Setelah itu kedua pembesar beranjak pergi, di perjalanan Sunan berbicara, “Ya saya tidak menghalangi kamu berkenalan dengan Ratu Kidul, sudah benar keinginanmu, terserah kamu, hak kamu berteman, sebab itu yang menyatukan Pulau Jawa, berhak meminta bantuan.

    (9) Mayo padha mulih mring Matawis, ingsun arsa kampir wis manira”, wusnya dwi gancang tindake, Sunan ing Ngadilangu, dhinerekken lan Senapati, tindakira lir kilat, sakedhap prapta wus, njujug dalem pepungkuran, Sunan Adi lawan wayah Senapati, arsa ngyektekken srana.

    Mari kita pulang ke Mataram, saya mau singgah di rumahmu”, ayo percepat perjalanan kita, Sunan Adilangu diikuti oleh Senopati, jalan mereka secepat kilat, sekejap sudah sampai, langsung menuju rumah belakang, Sunan Adilangu dan cucu Senopati akan membuktikan sarana (pemberian Ratu, telur dan minyak).

    (10) Juga juru taman Senapati, jalma tuwa madad karemannya, dadya mengguk raga ngronggok, yen angot tan tuk turu, sambat muji marang Hyang Widi, nuwun kuwatan rosa, pinanjangna (k.255) ngumur, samben muji pan mangkana, kantya tan wrin yen gustenira miyosi, tumrun bale krengkangan.

    Juga juru taman Senopati, manusia tua yang suka menghisap candu, menjadi batuk dan badan rusak kurus kering, jika kumatnya datang tidak bisa tidur, mengadu kesakitan kepada Hyang Widi, meminta kekuatan dan panjang umur (k.255), setiap sedang memohon seperti itu seterusnya sampai tidak sadar kalau gusti majikannya menghampiri, dia turun dari bale dengan susah payah jatuh bangun.

    (11) Senapati wusnya lengah angling, “Heh Ki Taman mau sun miyarsa, sira muji mintakyate, iku ta apa tuhu, minta ing Hyang sarasing sakit, lan dawane murira”, Juru Kebon matur,”Nggih Gusti yektos amba, rinten dalu nenuwun maring Hyang Widi, pangjanging umur saras.”

    Setelah duduk Senopati berbicara, “Heh Ki Taman tadi aku mendengar kamu berdoa meminta kekuatan, apa itu betul, minta kepada Hyang untuk sembuh dari sakit dan panjang umurmu”, Juru Taman menjawab,”Ya Gusti, benar hamba, setiap malam meminta kepada Hyang widi, panjang umur dan sehat.”

    (12) “Yen wis mantep panuwunmu Kaki, sunparingi sesarating gesang, dimen sirna lara kabeh”, Ki Taman nembah nuwun, majeng sinung tigan tinampin, laju kinen nguntala, seksana nguntal wus, Ki Tamanmubeng angganya, lir gangsingan tantara jumeglug muni, wreksa sol sangking prenah.

    “Kalau sudah yakin permintaanmu Kaki, aku memberimu prasyarat hidup, agar hilang semua kesakitan”, Ki Taman menghaturkan sembah terimakasih, maju mendekat Senopati dan menerima telur, disuruh segera menelannya, sesudah menelan telur badan Ki Taman berputar-putar, seperti gangsingan berbunyi keras (gangsingan = mainan anak terbuat dari bamboo yang bergerak berputar-putar cepat seperti angina puyuh), arahnya dari pohon besar.

    (13) Gya jenggeleg warna geng nglangkungi, juru taman lir gunung anakan, jatha gimbal kalih kaged, wrin langkung tyasnya ngungun , sang wiku ngling mring Senapati, “Iku Jebeng dadinya, yen nut mring Ni Kidul”, Sang Sena minggu tan nebda, mitenggengen gegetun uningeng warni, dekadya arga suta.

    Ki Taman berubah menjadi besar sekali seperti anak gunung, dua gigi siung dan rambut gembel, hatinya terkejut dan menangis, Sang Wiku melihat Senopati, “Itu lah jadinya Nak jika mengikuti kehendak Ni Kidul”, Sang Senopati selama tujuh (7) hari tidak mau berbicara, terpaku melihat wujud dan menyesal, Senopati berdiri kaku seperti anak gunung.

    (14) Sunan adi gya ngandika malih, “Kari siji Jebeng nyatakena, kang ran lenga Jayengkatong”, Sang Senapatya me-(k.256) stu, nulya dhawuh kinon nimbali, pawongan nguni emban, tengran Nini Panggung, lan gamel nami Ki Kosa, tan adangukalihnya wus tekap ngarsi,Sang Sena lon ngandika.

    Sunan Adilangu segera berbicara lagi, “Masih ada satu lagi yang harus dibuktikan Nak, yang bernama Minyak Jayengkatong”, Sang Senopati setuju (k.256), segera memberi perintah untuk memanggil emban abdi dalem/ pengasuh yang bernama Nini Panggung, dan tukang gamelan/ tukang musik yang bernama Ki Kosa, keduanya dipanggil dan tidak lama setelahnya mereka sudah ada di hadapan, Sang Senopati berbicara pelan.

    (15) “Bibi Panggung mula suntimbali, lan si Kosa ya padha sunjajal. Nggonen lenga Jayengkatong, nggennya sung Ratu Kidul, yen wis ngarja sekti ngluwihi”, kang liningan wot sekar, tan lengganeng dhawuh, Panggung Kosa tinetesan, Jayengkatong gya sirna kalih tan keksi, pan wus manjing nyeluman.

    “Bibi Panggung kamu saya panggil dan Ki Kosa untuk saya coba. Pakailah Minyak Jayengkaton pemberian Ratu Kidul, jika sudah terbukti sangat sakti”, tidak menolak perintah, Panggung dan Kosa ditetesi Minyak jayengkaton segera keduanya hilang tidak kelihatan, sudah berubah menjadi siluman.

    (16) Saksirnanya ngungun Senapati, abdi tiga pan salah gedadyan, wusana lon ngandikane, “Heh Kosa bibi Panggung, de wong roro padha tan keksi”, umatur kang sinebdan, “Inggih Gusti ulun, keng cethi tan kesah-kesah, sangking ngarsa wit pinaringan lisah Gusti, de mawi tan katinggal.”

    Setelah hilangnya mereka, Senopati menangis, pada tiga abdi sudah terjadi kesalahan, setelahnya pelan bicaranya, “Heh Kosa dan bibi Panggung, perlihatkanlah diri kalian”, menjawablah mereka, “Baik Gusti saya, yang pasti kami tidak pergi-pergi dari Anda sejak diberi minyak oleh Gusti, walaupun saya tidak terlihat.”

    (17) Sunan Adi lon nambungi angling, “Heh Ni Panggung sira lan si Kosa, padha narimaa karo, pan wus karseng Hyang Agung, sira dadi wadaling gusti, dene jatining jalma, mengko tan kadulu, pan wis dadi ejim padha, nging ta sira aja lunga sing Matawis, emongen gustenira.

    Sunan Adilangu pelan menyahut, “Heh kamu Ni Panggung dan si Kosa, terimalah atas kehendak Hyang Agung, kalian menjadi tumbalnya Gusti, tetap menjadi sejatinya manusia sebelumnya sampai masadepan, walaupun sudah menjadi mahluk jin, janganlah pergi dari Mataram, asuhlah Gusti kalian.

    (18) Prayogane Jebeng (k.257) Senapati, bocahira telu ingsun prenah, Panggung Kosa ing enggone, anenga wringin sepuh, juru taman neng Gunung Mrapi, ngereha lembut ngarga,rumeksaa kewuh, mungsuh kirdha jroning praja, juru taman kang katempuh mapag jurit”, mestu kang sinung sebda.

    Sebaiknya Nak Senopati (k.257), ketiga abdimu aku tempatkan, Panggung Kosa di tempat Beringin Sepuh/ Tua, Juru Taman di gunung Merapi, menguasai mahluk halus di gunung, menjaga dari musuh dalam kerajaan, Juru Taman yang akan memimpin prajurit”, semua mematuhi perintah Sinuhun Senopati.

    (19) Katriya wus kinon manggon sami, Panggung Kosa lawan juru taman, sang kalih dugi karsane, gya kondur dalemipun, Senapati ngungun ing galih, duk aneng pureng sagra, de meh sisip nglakur, Sunan Adi gya ngandika, “Senapati wismamu tan dipageri, kebo glar neng pegungan.

    Ketiganya sudah menuju tempatnya masing-masing, Panggung, Kosa dan ki Juru Taman. Keduanya sampai kehendaknya segera pulang kerumahnya, Senopati menangis hatinya, mengingat di dalam puri samudera, ternyata berbeda, Sunan Adilangu segera berbicara, “Senopati rumahmu tidak dilindungi pagar, kerbau di tikungan.

    (20) Tanpa kandhang ya kang kebo sapi, heh ta Jebeng Senapati Nglaga, iku sisip pasrahe, karena Allah dudu, piyangkuhmu aneng Matawis, sebarang karsanira, kadhinginan ujub, kebo sapi tanpa kandhang, wahanane sapa wani marang mami, dursila satru kridha.

    Tanpa kandang (rumah hewan) ya kerbau dan sapi, heh Nak Senopati Ngalaga, itu perbedaan pasrah, karena bukan, keangkuhanmu di Mataram, semua kehendakmu, harus terwujud, bagaikan kerbau dan sapi tanpa kandang/rumah, menantang semua barang siapa saja yang berani denganku, manusia buruk membuat masalah.

    (21) Becik nganggo eneng lawan ening, lumakuo sokur lawan rena, wismaa lan pepagere, kebo sapi yen ucul, keluhana dipuncekeli, yen mulih prapteng wisma, kandhangna sedarum,selarae pace- (k.258) lana, tunggonana yen turu kelawan wengi, pasrahna mring Kang Murba.

    Lebih baik memakai ketenangan dan keheningan, berjalanlah dengan syukur dan tujuan, kerbau dan sapi jika lepas, peganglah kepalanya, jika pulang ke rumah, kandangkanlah di ruang cukup, dikunci pintunya (k.258), tunggulah ketika tidur sampai larut malam, berpasrah kepada Kang Murba (Hyang Menciptakan Hidup).

    (22) Anganggoa andum lawan milih, dipatuta lan lakuning praja,lungguhira lawan ngelmune, istiyarmu diagung, anganggoa sumendhe Widi, sebarang tingkahira, anganggoa sokur, karane dipunprayitna, laku linggih solah muna lawan muni, pracina dadi nata.

    Melakukan memberi dengan memilih, dipantaskan dengan sifat raja, dudukilah dengan ngelmu/ilmu, besarkan ikhtiarmu, berlakulah pasrah pada Hyang Widi, semua tingkahlaku mu, bersyukurlah, pantas diingat-ingat, tingkah laku dan berbicara selalu dijaga.

    (23) Mengko Jebeng ingsun mertikeli, karya kitha mrih kukuh prajanta, salameta prapta tembe, Jebeng ngambilaranu, aja akeh kebak kang kendhi”, Senapati wotsekar, dhawuh cethi mundhut, tirta ing kendhi pratala, kang liningan sandika nulya nyaosi, tirta mungging lantingan.

    Nanti Nak saya tambah petunjuk untuk, usaha kota agar kuat kerajaan, selamat sampai nanti, Nak ambillah air, jangan banyak-banyak memuat di kendhi (tempat air dari periuk tanah)”, Senopati berkata, saya patuh mengambilnya, air di kendhi tanah, yang diperintah segera mengambil dan memberi air dengan alat.

    (24) Nulya linggar wau Sunan Adi, ngasta pandelengan isi tirta, tindak ngideri dhadhahe, Senapati tut pungkur,sarwi mbekta ingkang tetali, ngenthengi ruting tirta, ngandika sang wiku, “Heh ya Jebeng Senapatya,ge turuten saktilase banyu iki, karyanen kuthanira.

    Kemudian Sunan Adilangu berjalan mengelilingi perbatasan dengan membawa kendi bersisi air, Senopati mengikuti di belakang, sambil membawa yang diikat, meringankan air, berbicaralah sang Wiku, “Heh ya Nak Senopati, segera ikuti bekas air ini, buatlah kotamu.

    (25) Jebeng rehne tumitah ngaurip, aja kandheg laku panarima, lan diweruh wewekane, ingo-(k.259) n-ingonmu sagung,uga padha kelawan kasih, yen kurang pangreksanya, temah praja eru, saking datan wruh ing weka, nora ngrasa yen manungsa mung sinilih, marang Kang Murbeng Alam.

    Nak karena dharma perintah hidup, jangan berhenti bersyukur menerima hidup, dan mengerti sifat-sifat semua (k.259) peliharaanmu, juga kepada yang di cintai, jika kurang memeliharanya, kerajaan menjadi ruwet/kacau, dari ketidaktahuan penglihatan, tidak merasa bahwa manusia hanya meminjam dari Kang Murbeng Alam.

    (26) Lawan sira diwespadeng gaib, lamun kita marentah mring wadya, enakena kabeh tyase, tuhunen ujar ingsun, nuli siram rentaha dasih, awita konen nyithak, wongira Matarum, sakpekolehe nggon karya, becingahen kuthanira dia becik, dadya tila isun wuntat.

    Dan kamu harus berwaspada pada yang gaib, walau kita memerintah kepada rakyat, buatlah semua nyaman di hati, patuhilah nasehatku, sekarang dimulai dengan menyiram dan suruhlah orang-orang Mataram mencetak, bekerjalah dengan nyaman, buatlah kotamu menjadi bagus, akhirnya menjadi peninggalan.

    (27) Jebeng yen ws jumbuh traping urip, sasat sira wus madeg narendra, mengkoni ngrat Jawa kabeh, netepi manungsa nung, lan Hyang Sukma kinarya silih, mengkoni ngalam padhang, kang kuwasa tuhu, asung sakwarneng gumelar, pan manungsa kang winenang andarbeni, lestari tanpa kara.

    Nak, jika sudah berhasil dengan hidup, sama dengan sudah menjadi Raja, memerintah seluruh tanah Jawa, menjadi manusia unggul, dan Hyang Sukma menciptakan ganti, menguasai alam terang, yang benar berkuasa, membawa semua kebesaran, manusia yang berhak memiliki, lestari (nyaman sentosa) tanpa perkara.

    (28) Lan diweruh kahananing Widi, Jebeng uga nggene kang senyata, pan ya sira saksolahe, nging kesampar kesandhung, dene sira nora ngulati, nggone cedhak asamar, tan ana kang dunung, ngalela neng ngarsanira, gustenira neng ngarsa katon dumeling, anging (k.260) kalingan padhang.

    Dan diperlihatkan suasana Widi, Nak juga tempat yang nyata, dengan semua tingkah mu, jatuh bangun, selalu dekat dengan kehendaknya, Gustimu terlihat di depan ingatanmu, tapi (260) terhalang sinar.

    (29) Senapati wotsekar nuwun sih, jarweng Sunan Adi wus kadriya, nging meksih sandeya tyase, de naluri kang tinut,

    Senopati menghaturkan terimakasih, nasehat Sunan Adilangu sudah masuk di dalam hati, tapi masih khawatir hatinya, karena naluri yang diikuti
    alangalangkumitir.wordpress.com

  43. Urun Rembug…
    Pengging :
    Kebetulan waktu kecil sampai SMU saya tinggal di daerah itu, lokasinya ada di kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Lokasi tepatnya kurang-lebih 12 km sebelah timur Kota Boyolali. Dari pengging ke JatiNom atau Klaten lewat jalan pintas butuh waktu kurang lebih 40 Menit. Di Pengging ini terkenal dengan Pemandian peninggalan Kasunanan Surakarta (pecahan Mataram).Juga terdapat Makam R Ng. Yosodipuro seorang pujangga kasunanan Surakarta. Pengging Terkenal juga dengan Pasarnya yang rame setiap pasaran wage dan pahing.

  44. Macanan:
    Seingat saya ada beberapa lokasi di Yogyakarta, maupun di daerah jawa tengah yang mempunyai nama macanan, jadi agak sulit menentukan macanan yang mana yang terkait dengan cerita ini.

  45. Cupu Watu:
    HMMM…Ada daerah di sekitar kalasan kab. sleman, DIY yang bernama dusun cupu watu. Yang jelas paling saya inget ada Pabrik genteng samiaji disana….hehehehe…

  46. Maaf Ke Gede, jika tulisan pohon nyamplung dan cangkring salah kamar.

    Sekarang tulisan tentang alasan kenapa Sultan Hadiwijaya menunda-nunda dalam menyerahkan Alas
    Mentaok:

    Hadiwijaya memberikan hadiah berupa tanah Mataram dan Pati. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih Mataram yang masih berupa hutan lebat, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah Pati yang saat itu sudah berwujud kota.

    Bumi Mataram adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan yang menutupi Mataram dengan nama Alas Mentaok.

    Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, Hadiwijaya dilantik menjadi raja baru penerus Kesultanan Demak. Pusat kerajaan dipindah ke Pajang, di daerah pedalaman. Pada acara pelantikan, Sunan Prapen cucu (Sunan Giri) meramalkan kelak di daerah Mataram akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

    Ramalan tersebut membuat Sultan Hadiwijaya resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556. Hal ini diketahui oleh Sunan Kalijaga, guru mereka. Keduanya pun dipertemukan. Dengan disaksikan Sunan Kalijaga, Ki Pamanahan bersumpah akan selalu setia kepada Sultan Hadiwijaya.

    Maka sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, pindah ke Hutan Mentaok, yang kemudian dibuka menjadi desa Mataram. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Adapun status desa Mataram adalah desa perdikan atau daerah bebas pajak, di mana Ki Ageng Mataram hanya punya kewajiban menghadap saja.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pemanahan

  47. Di buku 82 disebutkan mengenai songsong atau songsong agung yang diberikan Sultan Hadiwijaya untuk Sutawijaya melalui Ke Juru Mertani.

    Songsong = payung. “Payung agung” atau “Songsong Agung”, berarti “penguasa”.

    Kalau menyebut “dipayungi” (Jawa: pinayungan),artinya mendapat berkah Yang Maha Kuasa.

    Bisa juga “dipayungi” berarti diberi “pangayoman”. Arti luas diberi lindungan dari kehujanan, kepanasan, kelaparan, rasa ketakutan didalam suatu lindungan yang aman, damai dan sejahtera.

    Bacaan (dalam bahasa Jawa):

    http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=226

  48. Di buku 86 dan 87 digambarkan perjalanan trio detektif, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita yang menjelajah menoreh dengan menyebarang kaliprogo, kembali ke Mataram, kemudian ke Sangkal Putung dilanjutkan dengan petualangan ke gunung merapi yang hanya beristirahat semalam.

    Untuk membayangkan perjalanan yang ditempuh masa itu, meskipun mereka digambarkan sebagai orang sakti, maka jika dibayangkan dengan saat ini sekiranya perjalanan itu memang sangatlah melelahkan, jika tidak dapat dikatakan bahwa mereka dengan demikian amat sakti.

    berikut peta yang menggambarkan wilayah Kulonprogo, yogya dan merapi.

    http://www.maplandia.com/indonesia/d-i-yogyakarta/kodya-yogyakarta/yogyakarta/

    http://www.trulyjogja.com/index.php?action=layanan.map

  49. Di buku 87 hal 52, disebutkan Swandaru minta “belondo” atau “blondo” saat mendengar Sekar Mirah akan membuat minyak goreng dari buah kelapa kering:

    Blondo merupakan hasil samping dari pembuatan minyak kelapa secara tradisional (ditanak), cara Churning, dan cara fermentasi, blondo tersebut belum banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena manfaat dan nilai gizinya belum diketahui, maka selama ini hanya dijadikan makanan ternak dan sambel.

    Blondo selain mengandung protein, juga mengandung karbohidrat dan lemak. Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu juga merupakan sumber energi yang lebih efektif dibandingkan dengan karbohidrat dan protein

    Mengingat fungsi lemak sangat penting lemak harus tetap dikonsumsi oleh tubuh setiap hari. Orang yang sedang melakukan diet sekalipun tetap harus mengkonsumsi lemak, hanya saja jumlahnya diabatasi. Kebutuahn tubuh akan lemak minimal adalah 30% dari kebutuahan kalori harian atau sekitar 50 – 70 gram per hari.

    Telah dialakukan penelitian tetang kandungan lemak dalam blondo, dengan tujuan antara lain mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam blondo, dan mengetahui pengaruh pembuatan minyak terhadap kandungan lemak dalam blondo. Analisis kandungan lemak dalam blondo dilakukan secara ektrasi.
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa blondo fermentasi mempunyai kadar lemak 15,93 % dan blondo tanak mengandung lemak 10,82%.

    http://www.unhas.ac.id/~lemlit/researches/view/214.html

    • galendo kalau di galuh

  50. Beringin alun-alun kidul keraton ngayogjokarto

    Aku Sabtu (20/12/08) kemarin ke Yogya, malam hari jam 11 malam aku sempatkan mampir ke sana.
    Biarpun sudah malam suasana disini makin ramai

    Di alun2 kidul terdapat 2 beringin, anahnya dg mata tertutup yg semestinya kita bisa melewati dg mudah, tapi kenyataannya, sampai 4 kali aku mencoba, nggak satupun berhasil melewati diantara 2 beringin ini. Ada apanya yach?
    Saya berjalan sepertinya ada yg menggerakkan ke arah kanan, atau kadang ke kiri (sedikit melayang)

    Ada nggak yach kisah beringin ini disebut2 di kisah ADBM?

  51. @lurah Basman
    Pak Lurah, Ringin Kurung yang ada di Alun-alun Kidul Kraton Yogyakarta sekarang rame banget kalau malam, banyak yang jualan dan banyak yang menyewakan penutup mata bagi yang mau mencoba melewati lorong dinatara kedua Ringu\in Kurung yang terletak di tengah-tengah alun-alun itu.
    Mitosnya siapa saja yang dapat melewati lorong tersebut ddalam keadaan mata tertutup semua keinginannya akan terkabul :).

    Kira-kira tahun 88 waktu masih tinggal di Yogya saya pernah berhasil melewatinya dengan sekali coba !
    Waktu itu sedang menunggu hasil festival Band yang di Sasana Hinggil, iseng mencoba dan waktu itu saya satu-satunya yang berhasil.
    Tapi meskipun berhasil, band saya kalah tuh :).
    Lagian keberhasilan saya bukan karena saya sakti atau apa, bukan juga karena saya punya aji Sapta Pangrungu sehingga bisa nguping bisik2 penonton di pinggir alun-alun, tapi karena saya mencoba dengan ketat dan hati-hati mengontrol setiap langkah saya, saya pastikan saya dalam posisi tegak lurus dengan lorong tersebut lantas setiap melangkah saya pastikan telapak kaki saya lurus dan saya jejakkan kaki tepat di depan kaki yang sedang tidak melangkah,s ehingga simpangannya relatif kecil.

    Menurut yang pernah saya baca atau dengar atau ketahui, kecenderungan untuk berjalan ke kanan atau kiri saat mencoba melewati ringin kurung dengan mata tertutup itu bukan karena wingitnya kedua beringin tersebut, tapi memang ada kecenderungan kita untuk berjalan agak berputar apabila ada ketidak sinkronan antara indera-indera yang berhubungan dengan keseimbangan, dalam hal ini mata dan telinga.

    Kalau pengin membuktikan, silakan di coba di lapangan bola, dari jarak yang agak jauh Kisanak mencoba masuk gawang dengan kondisi mata tertutup, dijamin sama susahnya dengan masuk lorong di antara ringin Kurung itu.

    Ketika tahun lalu saya mencoba lagi, saya gagal total :)

  52. Di buku 94 hal 8, disebutkan bahwa pertemuan suatu kelompok akan dilakukan di kaki Gunung Tidar.

    Gunung Tidar terletak di Magelang, sehingga jika saat itu kelompok itu sedang berada di Menoreh, maka perjalanan dari Menoreh ke Magelang dengan berkuda pada masa itu apakah dapat ditempuh selama satu hari?

    Mungkin berdasarkan hasil Survei Ki SHM memang dapat dengan memacu kuda dengan cepat.

    Untuk melihat jarak dan letak silahkan klik zoom in dan out (tanda – dan +) di peta ini:

    http://travelingluck.com/Asia/Indonesia/Jawa+Tengah/_1623953_Gunung+Tidar.html#local_map

  53. Sepertinya ada yang kurang di wisata adbm, yaitu tentang pusaka2/senjata2 yg disebutkan di adbm, mungkin sedulur lain bisa mengupas tentang, kyai plered, kyai pasir sawukir dll, atau gmn bentuknya nenggala, bindi dllnya itu.
    Salut dan trimakasih setinggi2nya kepada tim adbm yang telah menghadirkan cerita yang istimewa nan mengagumkan ini ke dunia maya.

  54. Tambahan nama tempat:
    JATI ANOM/JATINOM (tambahan)
    Sekarang kota kecamatan. Sampai Perang Diponegoro dua abad silam, wilayah ini masuk wewengkon Pajang. Diponegoro menjadikan Jatinom sebagai markas/”istana” selama perang.

    Jati Anom-Sangkal Putung berjarak 10 km. Sampai akhir 1990-an, sebelum ada bus Boyolali-Klaten, angkutan umum Klaten-Jati Anom adalah andong roda empat yang berangkat dari pasar Klaten.

    Dari arah “Pajang” (Kartosuro/Solo) ke Jati Anom, tidak perlu lewat Sangkal Putung, tapi bisa langsung. Sampai awal 1990-an, ada bus sisa 1950-an, dengan stir kiri, yang tiap hari menempuh rute Pasar Klewer-Jati Anom. Entah sekarang masih ada atau tidak.

    MACANAN
    Macanan terletak tepat sekitar 5 km dari Sangkal Putung, tepat di pertengahan Jati Anom. Jalan dari Jati Anom-Sangkal Putung itu pada dasarnya datar dan lurus. Satu-satunya turunan, dan itu cukup curam, hanya ada di Macanan.

    Jalan menurun karena melewati sungai yang airnya kecil dan berpasir. Air ini mengalir tepat di belakang rumah nenek saya–kampungnya di samping Macanan. Pada 1980-an, orang orang sekitar sana biasa membeli petasan di Macanan.

    PAKUWON
    Sekitar 1 kilometer dari Macanan ke arah Jati Anom, ada kampung bernama Kuwaon. Mungkin ini yang disebut sebagai Pakuwon oleh SH Mintardja dan menjadi tempat tinggal Ki Tanu Metir alias Kiai Gringsing alias Penggembala.

    SENDANG GABUS
    Menempel Jatinom.

    TANAH PERDIKAN MENOREH
    Ini yang paling memusingkan dari lokasi utama Api di Bukit Menoreh.

    Bukit Menoreh itu merentang di sebelah barat sungai Progo di sekitar Wates sampai ke dekat Magelang.

    Tapi, Kadipaten Menoreh itu letaknya lebih utara lagi dari Magelang. Sekarang Kadipaten Menoreh disebut Kabupaten Temanggung.

    Okelah, kita sebut saja Tanah Perdikan Menoreh terletak di Bukit Menoreh, sekitar Wates sekarang, berdasarkan deskripsi berulang-ulang bahwa lokasinya sebelah barat Mataram

    Tapi mengapa Tanah Perdikan? Bukan Kademangan?

    Tanah Perdikan itu desa yang dibebaskan dari pajak. Status Tanah Perdikan biasa diberikan penguasa di Jawa kepada desa yang (1) memiliki jasa besar kepada raja, (2) karena uang pajak untuk kepentingan umum, misalnya desa diberi tanggung jawab menyeberangkan orang di sungai dengan gratis, atau (3) karena diberi tugas memelihara tempat suci.

    Tak pernah diceritakan mengapa Menoreh menjadi Tanah Perdikan. Atau mungkin karena memiliki tempat suci?

    Di masa lalu, para biksu yang hendak ke Borobudur biasa singgah di Sendang Semayang, yang terletak pegunungan Menoreh sebelah selatan, untuk istirahat. Sekarang Sendang Semayang ini menjadi petilasan Katolik dengan nama Sendang Sono.

    Saya menduga, mungkin SH Mintardja, sebagai seorang Katolik dan sedang ingat Sendang Sono saat menulis kisah Agung Sedayu, kemudian iseng menyebut Menoreh sebagai “Tanah Perdikan” untuk lucu-lucuan.

  55. eh, ki GD, ini halaman 4 ama halaman 5, memang belum berisi yach?
    sayang ih.. tapi memang menarik kok mempelajari kembali cerita lama..
    punya babad tanah jawi yang udah diterjemahin ndak ki?
    kalo ada boleh dong pinjem..hehehehe.. maunya…

  56. Di LOntar Tusnam (Seratus Enam) halaman 4-6 disebutkan “pagi wayah pasar temawon”.

    Pagi=pagi
    wayah=saat
    pasar t(em)awon= berdengung dengung karena suara tawon (lebah)

    Pagi wayah pasar temawon adalah pagi pada saat pasar sedang ramai ramainya. Namun jika ditentukan kira kira pada jam berapa, penulis sendiri tidak bisa mengira-kira, biasanya pada saat pagi jam berapa ya pasar itu sedang ramai ramainya? Jam 8,9,10 atau jam 11?

  57. Di Tusnam (lontar seratus enam) halaman 35 disebutkan, anak anak muda Tanah Perdikan Menoreh berlatih di bawah pohon munggur.

    Pohon Munggur : Pohon Trembesi, Enterolobium saman PRAIN (Ptchecolobium saman BENTH), pohon bertajuk besar dan tinggi dengan mahkota yang besar dan rindang.

    Di Jawa, pada jaman saya kecil bijinya yang sudah tua dan kering suka diambil,kemudian dilepaskan dari kulit polongnya yang lengket. Kemudian bijinya digoreng. Setelah digoreng maka kulit biji yang keras akan terpecah dan bijinya sangat gurih dimakan sebagai snack…

  58. Mas Jebeng..eh wis ngundang mas kok nyebut jebeng? saya nambahi yo (berdasarkan pengalaman jaman semono), snack dari biji munggur yang sudah digoreng sangan (tanpa minyak) namanya Godril (sering nggo senggakan nek wirosworo nggon klenengan lagi nembang: Godriiill)..Godril memang mak nyus karena rasa gurihnya, tapi kocapo kuwi marahi lebih banyak memproduksi “angin beirut”…

  59. Matur nuwun Ki GD lan ugi poro cantrik, kulo sampun ngunduh woh “NYAMPLUNG” …..

    bisa aja ya, mantap rontal 109 nya

  60. Ki Gede…107nya udah direvisi belum ?

  61. Kalau udah aku yo arep maturnuwun.. :P

  62. Ayo ada yang tahu permainan “bentik” dan “dakon” nggak?
    permainan itu disebutkan di buku 116 dan 117 kalo gak salah oleh Ki SH Mintardja.

    Bentik itu apakah semacam cricket atau golf ya? permainan bentik itu menggunakan stick pendek (biasanya dari batang pohon kayu lamtoro atau kayu yang kecil tapi keras bisa juga dari bambu), kemudian stick pendek yang diletakkan di suatu lubang itu diungkit ke atas kemudian dipukul dengan dengan stick panjang.

    Nah, saat stick pendek melontar ke atas pemain biasa melakukan hattrik dengan memukul stik pendek berkali kali semacam melambung lambungkan bola, kemudian dengan keras dipukul ke arah lawan yang mencoba menangkapnya (semacam pemain basebal yang memukul bola sementara lawan berusaha menangkap).

    BENTHIK cukup mudah dilakukan. Siapkan minimal 3 bambu yang sudah diraut. 2 berukuran sekitar 50 cm, sedang satunya sebagai umpan berukuran 20-an cm. Permainan ini bisa dilakukan minimal berdua, tapi bisa juga dilakuklan lebih dari dari.

    Kemudian bobok tanah sedalam 5 cm. dibuat agak lebar untuk melatakkan umpan. Letakkan umpan di tengah tanah yang sudah kita bobok itu. Kemudian lentikkan dengan bambu yang lebih panjang. Lawan kita kita harus menepisnya dengan bambu yang dia pegang juga.

    Ada istilah ‘patil lele’ dalam permainan ini. Yaitu, umpan diganjal dengan batu keci, Kemudian disentil dengan bambu sekeras-kerasnya. Kalau bisa melenting jauh dan tidak tertangkap lawan kita, bisa jadi kitalah pemenang permainan ini.
    Kalao dakon itu adalah permainan congklak (kalo gak salah), pemain menaruh biji batu atau (dibuku adbm pandan wangi dan sekar mirah pakai “klungsu” atau biji asam) di lobang yang dibuat berderet di suatu papan, kedua ujung papan ada lubang besar yang disebut lumbung untuk menaruh biji kemenangan pemain.

    silakan jalan jalan di sini:

    http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-article/dakon/

    http://www.rileks.com/ragam/index.php?act=detail&artid=31102006117386

    • Benthik itu kalau di Betawi namanya (kalau nggak salah) tak kadal. Mainnya seingat saya persis seperti itu yang paling besar nilainya adalah kalau kayu yang dipukul itu bisa ditangkap dengan tangan kosong (cuma ya sakit banget.

  63. ki pandanalas
    kalo di daerahku namanya bukan “bentik”
    permainan dari 2 batang kayu bulat yang diameternya 2-3cm yang satu pendek kira2 sak kecu (10-15cm) yang satunya agak panjang (30-40cm), itu namanya “gepok/gepuk lele”..

    kalo dakon itu kesukaan ibuku… biasanya diwaktu senggang aku disuruh ngawani ibu dengan permainan itu jadi malu aku.. abis kluargaku laki2 kabeh.. 7 lanang kabeh… dan kebetulan waktu itu yang paling dekat dengan ibu ya aku ini…

  64. Ki GD, gimana kalau nama2 daerah seperti Jalatunda, Jati anom dll juga diplotkan di peta sehingga para cantrik lebih mudah memahaminya. Matur Nuwun…

  65. Inilah Kali Progo. Mangir terletak di sebelah timur kali. Pada gambar berikut, ibu kota Mangir terletak tepat di tengah peta.

  66. Inilah Kali Progo. Mangir terletak di sebelah timur kali. Pada gambar berikut, ibu kota Mangir terletak tepat di tengah peta.

    http://wikimapia.org/#lat=-7.9052113&lon=110.2790451&z=12&l=0&m=a&v=1

  67. ndherek njagong…
    Sedikit catatan lain mengenai Aneka Macam Gelar Perang:
    1. Dirada meta / Gajah Meta
    Dalam gelar ini, seorang Senopati berada di depan sbg belalainya, dan 2 orang Senapati berada di kanan & kiri belalai agak di belakang sebagai gadingnya. Senopati agung sbg orang terpenting berada di belakang kepala, kemudian seorang Senopati lagi berada di belakang sendiri sbg ekornya. Adapun para Prajurit berada di sekitar / diantara para Senopati tersebut.
    2. Gedung Mineb
    Senopati berada di tengah, dikelilingi bawahan dan prajuritnya. Shg bila mendapat serangan musuh maka para prajuritnya yg terkena lebih dulu. Apabila Gelar ini bukan suatu siasat untuk menjebak musuh, maka gelar ini memberi gambaran bahwa Senopati / Senopati Agung tsb sebenarnya kurang memiliki keberanian.
    3. Garuda Nglayang
    Gelar ini menempatkan Senopati di depan sendiri sbg paruhnya, kemudian 2 orang berjajar / seorang Senopati di belakang paruh sbg kepala burung, kemudian Senopati Agung di belakang kepala burung. Dua orang Senopai berada di ujung sayap kanan dan kiri yang cukup jauh. Para Prajurit mengisi sayap dan menyambung dengan tubuh burung, kepala dan ekor, dimana di ekor burung terdapat seorang Senopati lagi. Dua sayap pd Gelar ini dimaksudkan agar dpt mengepung prajurit musuh utk dikalahkan / ditumpas.
    4. Wukir Jaladri
    Bermakna Gunung di tengh laut. Kendaraan besar & gajah berada di tengah sbg gunung / batu karang, dg Senopati Agung berkedudukan di tengah-tengahnya sbg pusat komando, sedangkan para Senopati & prajurit melingkarinya sbg gelombang dan airnya.
    5. Wulan Tumanggal
    Bermakna bulan muncul pertama, bentuknya “njlirit” kecil seperti alis wanita. Bentuk ini hampir sama dg Garuda Nglayang, tetapi bedanya tanpa kepala, paruh, dan ekornya.
    Maksud & tujuan gelar ini utk mengepung musuh. Senopati Agung berada di tengah-tengah, kemudian para Senopati berada di sekitarnya, dan di sebelah kanan kirinya memanjang ke arah ujung dan di ujungnya diletakkan lagi seorang Senopati. Para Prajurit mengisi diantara kedudukan kosong yg ada.
    6. Gilingan Rata / Roda Kereta
    Digambarkan melingkar seperti menggelindingnya roda, pemimpin gerakan ini sebagian di depan & sebagian lg di belakang mengamati gerak tipu musuh. Perang dg cara ini berarti mengerahkan tentara scr besar-besaran dan bergerak cepat.
    7. Emprit Nebo
    Bermakna burung emprit yg scr bersama-sama datang di sawah utk mncari makan padi, pd umumnya melayang turun bersama-sama. Tentu saja burung emprit tsb mamakan padi semaunya sendiri tanpa aturan. Gelar ini biasanya dilakukan oleh Senopati Agung / sepasukan prajurit yg sudah putus asa, mungkin krn sudah terjepit dan pantang menyerah.
    8. Supit Urang
    Dalam salah satu kisah pewayangan Baratayuda dlm Lakon Abimanyu gugur disebutkan Pandawa memakai gelar ini. Drustajumpeno sbg ujung supit kanan, Gatotkaca sbg supit kiri, Setyaki sbg mulut dan Prabu Puntadewa sbg kepala, diiringi para raja pembantu prajurit.
    Beberapa Gelar lain:
    9. Braja Tikona Lungit
    10. Cakra Bhuya
    11. Mahadigda
    12. Dirga Marungsit
    13. Wowor Sambu / Mowor Sambu
    14. Dom Sumuruping Banyu
    Gelar 2 nomor terakhir ini (13 & 14)umumnya tdk disebut sbg satu gelar perang.
    Dlm Gelar Wowor Sambu, sepasukan prajurit , sebagian atau bahkan seorang prajurit bertugas menyerang musuh dari belakang / dari dalam dengan cara menyamar sbg prajurit musuh / dlm bentuk lain. Hal ini pernah dilakukan prajurit Mataram pada masa Sultan Agung menyerang Kompeni Belanda/ VOC di Batavia tahun 1929, dengan memasukkan prajuritnya ke dlm benteng VOC dg menyamar sbg pedagang sayur sejumlah 40 prajurit, yg kemudian bertugas menyerang musuh dari belakang, sementara prajurit Mataram yg besar jumlahnya menyerang dari depan / luar benteng.
    Sedangkan pengertian Dom Sumuruping Banyu adalah memasukkan sedikit orang ke daerah musuh utk memata-matai kekuatan musuh, hal ini sama dengan Wowor Sambu apabila dengan prajuruit yg relatif sedikit yg ditugaskan khusus hanya utk memata-matai musuh.
    Sumber :
    Tim Penyunting Bid. Kesenian KanWil Depdikbud DIY.1985.TUNTUNAN SENI KETHOPRAK. Yogyakarta

  68. neng kene yo ora ono…
    malah nemu woh nyamplung…
    kiro-kiro enak dipangan opo ora yo…???
    dinggo ngganjel weteng arep nganglang nggoleki kitab 155…
    rawe-rawe rantas malang-malang putung…

  69. Sumber:

    http://suryanto.blog.unair.ac.id/2007/12/30/tembang-macapat-dan-tahapan-perkembangan-anak/

    TEMBANG MACAPAT DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN ANAK
    Oleh : Suryanto
    Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

    Teori-teori psikologi perkembangan yang ada dewasa ini banyak berasal , kalau tidak boleh saya katakan semuanya, berasal dari luar negeri. Berikut ini urutan tahapan perkembangan manusia yang saya kutip dari http://jv.wikipedia.org/wiki/Macapat.

    Maskumambang
    Gambarake jabang bayi sing isih ono kandhutane ibune, sing durung kawruhan lanang utawa wadhon, Mas ateges durung weruh lanang utawa wadhon, kumambang ateges uripe ngambang nyang kandhutane ibune.

    Mijil
    Ateges wis lair lan jelas priya utawa wanita.

    Sinom
    Ateges kanoman, minangka kalodhangan sing paling penting kanggone won anom supaya bisa ngangsu kawruh sak akeh-akehe.

    Kinanthi
    Saka tembung kanthi utawa tuntun kang ateges dituntun supaya bisa mlaku ngambah panguripan ing alam ndonya.

    Asmarandana
    Ateges rasa tresna, tresna marang liyan (priya lan wanita lan kosok baline) kang kabeh mau wis dadi kodrat Ilahi.

    Gambuh
    Saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yen wis jumbuh / sarujuk njur digathukake antarane priya lan wanita sing padha nduweni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan.

    Dhandhanggula
    Nggambarake uripe wong kang lagi seneng-senenge, apa kang igayuh biso kasembadan. Kelakon duwe sisihan / keluarga, duwe anak, urip cukup kanggo sak kaluarga. Mula kuwi wong kang lagi bungah / bombong atine, bisa diarani lagu ndandanggula.

    Durma
    Saka tembung darma / weweh. Wong yen wis rumangsa kacukupan uripe, banjur tuwuh rasa welas asih marang kadang mitra liyane kang lagi nandhang kacintrakan, mula banjur tuwuh rasa kepengin darma / weweh marang sapadha – padha. Kabeh mau disengkuyung uga saka piwulange agama lan watak sosiale manungsa.

    Pangkur
    Saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang dipikir tansah kepingin weweh marang sapadha – padha.

    Megatruh
    Saka tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi wancine katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuwasa.

    Pocung
    Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durunge dikubur.

    Dari kutipan di atas, kalau kita dalami lebih jauh, sudah merupakan teori perkembangan manusia mulai dari masih dalam kandungan hingga meninggalnya.
    Mas Kumambang menceritakan bagaimana bayi dalam kandungan.
    Kalau ditilik lebih lanjut, bayi dalam kandungan yan selalu diairi oleh ketuban akan lahir kemudian.
    Setelah sembilan bulan di kandungan, bayi akan lahir.
    Mijil adalah istilah yang cocok untuk mendeskripsikan kelahiran bayi.
    Bagaimana situasi kelahiran, tugas-tugas perkembangan apa, akan sangat cocok untuk dipahami apabila kita bisa memahami bayi dari aspek fisik, sosial dan psikologisnya.
    Setelah bayi “mijil”, maka tahapan perkembangan selanjutnya adalah munculnya anak yang “anom”. maka tembang sinom cocok untuk mendekripsikan kehidupan anak-anak yang masih “anom”.
    Sebagai anak muda, anak yang “anom” ini perlu mendapatkan pendidikan yang banyak.
    Oleh karena itu mereka perlu didampingi atau “dikantheni”.
    Tembang kinanthi cocok untuk tahapan perkembangan selanjutnya.
    Kinanthi atau pendampingan dan pendidikan merupakan tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh anak-anak ini.
    Setelah menginjak remaja, salah satu tugas perkembangannya adalah perkembangan sosial khususnya dalam percintaan.
    Tembang Asmarandana merupakan tembang yang menggambarkan tentang suasa hati yang sedang dimabuk asmara.
    Bila tugas perkembangan ini dapat dilaluinya, maka kehidupan cintanya menjadi baik dan sesuai norma lingkungannya.
    Kehidupa cinta remaja yang baik akan mencerminkan adanya kesesuaian antara kedua pasangan yang bercita.
    Kesesuaian ini dapat dilihar dari “kegambuhan” atau “jumbuh-nya” antara kedua insan manusia.
    Tembang gambuh mencerminkan kesesuaian itu. Setelah menikah, tugas perkembangan selanjutnya adalah berdarma. dan tembang durma cocok untuk menjelaskan tahapan perkembangan ini.
    Setelah mulai menginjak dewasa dan tua, maka orang akan mungkur “selesai” tugas-tugas kehidupannya.
    Tembang pangkur cocok untuk mendeskripsikan tugas-tugas perkembangan ini.
    Dan setelah mungkur tugasnya, maka usia akan menjelang ajal. Megatruh )megta roh) akan mencerminkan bagaimana pisahnya jiwa raga dan roh manusia.
    Dan di akhir kehidupannya, manusia akan meningal dan umat islam yang meningggal umumnya dipocong pakai kain kafan. dalam kematian, orang harus senang-senang, karena tugasnya telah selesai.

    Kiranya tulisan ini cukup sekian dulu, lain kali kita diskusikan lagi.

  70. Mmmmmmmmmmmmmmmmmmm……… JEnang tu tgl lahirnya brapa yach?? (gila aneh ni pertanyaan)

  71. Cerita tentang Kali Opak di sebelah barat Prambanan.
    Waktu saya SD dan SMP tiap hari Minggu bersama teman-teman latihan renang di Kali Opak. Bukan kali Opaknya, tetapi ada saluran irigasi di pinggir Kali Opak, tepatnya di bawah gunung Boko. Ciri khas kali Opak di Prambanan sampai gunung Boko adalah sungai yang lebar, kedalamannya tidak begitu dalam, paling2 selutut orang dewasa. Di samping itu, dicirikan oleh hamparan pasir di tepiannya dan bebatuan keras yang menyebar sepanjang sungai dengan ukuran yang beragam, seingat saya ada yang sebesar kerbau…mhh kalau sebesar rumah kayaknya nggak ada. Di tepian sungai banyak ditumbuhi alang2 di sepanjang tebing sungainya. Sungai ini saat itu menjadi tempat MCKnya penduduk sekitar, he3x…salah satu penyebab kami rutin main ke kali opak ya ngintip orang mandi dari balik alang2…(wajar ya ki sebagai wujud keingintahuan anak kecil terhadap lingkungan hidupnya…he3X asal jangan kebablasan rasa ingin tahunya sampai tua)
    Bila kita bepergian dari dan ke Solo-Jogja pasti melewatinya bila melalui jalur utama, nah kegiatan MCK ini masih bisa dilihat tanpa harus ngintip2. Kebanyakan penduduk masih MCK di sebelah selatan jembatan. Di bawah jembatan inilah mungkin dulunya Sultan Pajang pernah jatuh dari gajahnya pada saat memerangi Mataram.
    Pasir-pasir dan batuan berasal dari muntahan gunung Merapi di sebelah utaranya. Pasir-pasir ini dibawa terus ke laut yang bermuara di pantai Parangtritis. Nah, kalau pernah ke Parangtritis anda pasti telah menyaksikan bukit-bukit pasir yang memanjang menjelang masuk lokasi pantai di sebelah kanan jalan. Di sebelah kiri jalan juga dijumpai tetapi tidak begitu meluas karena dibatasi oleh perbukitan kapur. Biasanyapun kalau shooting film2 atau video klip yang berlatar belakang perbukitan pasir, bisa dipastikan mengambil lokasi di sini, karena tidak semua pantai dapat membentuk bukit pasir seperti Parangtritis ini. Bagi anda yang sering jelajah pantai hal ini bisa dibuktikan. Bukit pasir di Parangtritis adalah salah satu bukit pasir pantai yang ideal, bukan saja di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Ketinggiannya dapat mengubur rumah maupun pohon-pohon besar. Bila anda ke Parangtritis, cobalah luangkan waktu untuk tidak hanya memandangi deburan ombaknya, tetapi luangkan waktu untuk berjalan ke arah barat ke arah bukit pasirnya. Di atas bukit pasir tersebut dapat disaksikan bagaimana “keganasan” pasir2 mampu menimbun rumah2 dan pepohonan. Pohon Akasia yang ketinggian umumnya setinggi rumah, pucuknya dapat kita sentuh dengan tangan kita tanpa kita memanjatnya karena pohon tersebut telah tertimbun pasir mendekati pucuknya dan pohon tersebut masih hidup. Menurut cerita penduduk sekitar yang sudah berumur, dulunya di jaman pendudukan Jepang, di pantai Parangtritis tidak ada bukit pasir, yang ada adalah hamparan pasir dan bahkan terdapat rawa-rawa dan di sepanjang pantainyapun ditumbuhi hutan. Bukit pasir tersebut muncul setelah hutan-hutan itu ditebangi oleh…. (siapa ya, aku lupa je). Bahkan berkembangannya semakin jauh ke arah darat. Hal tersebut merugikan penduduk sekitar karena sawah dan ladangnya tahun ke tahun secara pasti mulai tertimbun pasir. Upaya apapun untuk menghalangi pasir agar tidak “memakan” rumah dan lahan persawahan mereka tidak berhasil.
    Secara keilmuan, hal ini ternyata berhubungan erat dengan keberadaan kali Opak. Secara geografis posisi Parangtritispun memberi sumbangan dalam terbentuknya Bukit Pasir Pantai ini. (Ini pelajaran Geografi yang pernah saya terima puluhan tahun yll, kalau salah, paling salahnya sedikit karena ada yang terlupa, mudah2an ada Geografer atau ahli kebumian lainnya yang nyantrik di sini saya mohon bantuannya). Bila kita berada di pantai Parangtritis dan memandang ke laut lepasnya maka sebenarnya kita memandang jauh ke benua Australia. Nah, selanjutnya geser pandangan kita ke arah kiri sepanjang pantai (ke arah timur), maka kita akan melihat jajaran pegunungan dengan tebing-tebingnya yang membatasi lautan dan juga membatasi hamparan pasir pantai. Selanjutnya pandangan kita geser ke kanan (ke arah barat) maka kita akan melihat hamparan pasir yang tidak terbatas sepanjang pantai, di ujung pantai ini kalau kita menyusurinya maka kita akan ketemu dengan muara sungai Opak. Masih dari tepian pantai Parangtritis tempat kita berdiri semula, jika pandangan kita arahkan ke barat laut, kita akan melihat perbukitan pasir yang menghampar sampai sepanjang jalan raya saat kita masuk ke Parangtritis.
    Mengapa bukit pasir pantai Parangtritis ideal? Karena komponen pembentuknya tersedia semua di tempat tersebut. Bahan pembentuknya berupa pasir selalu tersedia sepanjang kali Opak masih mampu membawa material pasir dari gunung Merapi ke arah pantai, dan ini terjadi mayoritas di musim penghujan. Selanjutnya pasir2 yang sampai di hilir sungai, akan disebarkan ke sepanjang pantai oleh arus laut, dan sampailah material tersebut di sepanjang pantai Parangtritis. Pada saat musim kemarau, butiran2 pasir yang mengering akan mudah diterbangkan oleh angin yang kekuatannya cukup kencang. Hal ini bisa dibuktikan dengan cara kita berdiri di atas bukit pasir di siang hari musim kemarau, akan terasa seluruh badan kita diterpa angin yang membawa butiran2 pasir halus. Nah, ternyata bertepatan dengan musim kemarau itu, angin yang berasal dari benua Australia bertiup cukup kencang ke arah pantai Parangtritis (bukan hanya Parangtritis saja tetapi sepanjang pantai selatan Jawa). Nah keberadaan tebing2 pegunungan kapur di sebelah timur pantai Parangtritis, menjadikan titik pantulan angin dari benua tetangga tersebut mengarah dengan kuat ke arah pantai Parangtritis, sehingga dari pantulan angin yang kuat ini mampu mengangkut pasir di sepanjang pantai ke arah daratan. Maka, dengan demikian setiap tahun, perbukitan pasir ini selalu merambah ke arah daratan.
    Bila ada yang nanya, kenapa pasirnya tidak diambili untuk bahan bangunan saja, jawabnya adalah tidak bisa karena pasirnya bukan pasir kali tetapi pasir pantai…kira-kira begitu

  72. [...] 12 Mei 2009 WISATA ADBM [...]

  73. Kalo gunung Kendeng itu dimana ya?

  74. Kiai Gringsing ternyata menaruh perhatian juga kepada ceritera itu. Maka ia pun
    bertanya, ”Jadi, Ki Gede sekarang sedang menerima tamu juga dirumah ini?”
    “Ya. Kadang sendiri. Dan bukan dari jauh.”
    “Dari mana?”
    “Dari daerah Tempuran.”
    “Tempuran?”
    “Ya, sebuah daerah kecil disebelah Utara Tanah Perdikan ini.”
    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Ki Sumangkarlah yang
    kemudian bertanya, ”Apakah tamu Ki Gede itu juga baru saja datang?”
    “Tidak. Sudah dua malam mereka bermalam di tempat ini. Ayah, ibu dan seorang
    anak laki-laki yang sekarang sedang pergi berburu bersama Pandan Wangi.”

    Dalam masa perjalanan awal ke Menoreh (Ep 51-75) diceritakan ttg asal Ki Waskita dari daerah Tempuran. Kalau dilihat dari letaknya yang tidak terlalu jauh dari Menoreh, mungkin Tempuran yang dimaksudkan adalah Tempuran yang sekarang berada di wilayah sekitar Salaman (Magelang).

  75. Ki Saba Lintang menyerbu Tanah Perdikan Menoreh dari arah utara (tempuran/muara Kali Elo-Kali Praga), arah barat (Pucang Kerep) dan selatan (Krendetan). Desa Krendetan saat ini berada di Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo, pada arah barat-selatan dari Bukit Menoreh.

    • Saya coba mengingat-ingat daerah yang terkait dengan nama Pucang Kerep. Dari Kota Purworejo ke arah timur +/- 8 km ada desa namanya Cangkrep. Kalau dilihat secara geografis daerah ini memang berada di sebelah barat perbukitan Menoreh. Saya tidak tahu persis apakah Cangkrep ini berasal dari kata Pucang Kerep. Hanya dengan metode othak-athik gathuk dugaan saya ini boleh jadi mendekati.

  76. Numpang tanya. Saya pernah mendengar Makam Ki Ageng Mangir yang sebenarnya adalah yang di desa Tangkilan – Yogyakarta sebelah Barat. Apakah itu benar?.

  77. Asal usul gelar “ngabehi loring pasar”
    dilihat tata letak kerajaan pajang, sekarang kemungkinan besar tepatnya disebelah selatan tugu pajang kelurahan pajang laweyan.nah pasar yg disebut diatas kemungkinan yg pasar jongke warisan belanda itu.
    tapi mungkin ya pasar lama yaitu disebelah timur sungai laweyan.sampai sekarang diutara pasar itu masih ada lapangan bola yg kemungkinan besar bekas alun alun utaranya kraton pajang waktu itu.
    ini baru perkiraan saya sebagai cantrik kelahiran loring pasar.minta maaf kalo salah.

  78. Saya suka banget sama cerita api di bukit menoreh, seaka-akan kita mengalami langsung saat kita membaca cerita tersebut. Tapi sayang, ayah saya waktu itu kurang memelihara buku-buku tersebut sehingga banyak yang hilang. Saya hanya membaca pada seri 2 jilid 41 sampai seri 3 jilid 45. Itupun banyak yang sudah hilang. Seandainya Api Di Bukit Menoreh diterbitkan lagi…

    S selamat datang di padepokan.. disini silakan membaca kitab adbm dari mulai nomor 1 sd 396.. plus mendapat bonus cerita “bukan adbm”.. monggo .. :)

  79. Menurut cerita di majalah Joyoboyo yg berjudul WULUDOMBA PANCAL PANGGUNG (Pusaka Jipang Panolan),disitu dicertakan lebih detai bahwa Pangeran BENOWO pernah menjadi Raja di JIPANG PANOLAN dan pernah perang dengan Rajek Wesi yang dibantu dengan Mataram dalam perang tsb dijelaskan memang mataram penuh dengan stategi untuk mengalahkan JIPANG PANOLAN tidak mudah karena Jipang panolan punya 6 (enam)senjata andalan sebagai pelindung kerajaan maka dicurilah 6 senjata tersebut baru bisa dikalahkan oleh Mataram tapi sipencuri tersebut tertangkap oleh Saudarax2 dari PANGERAN BENOWO dan pencuri tersebut menyerah, karena kerajaan sudah dibumihanguskan oleh pasukan Mataram maka SaudaraX2 dari pangeran Benowo tsb tidak pulang ke JIPANG PANOLAN, maka sampai sekarang ada makam di daerah CEPU dan sekitarnya, ada makamx2 yang dikeramatkan diantaranya MAKAM KIYAI MBALUN/MBAH NAWANG/MBAH NAWANG DIPURO (PANGERAN ANOM)inilah salah satunya Adik Pangeran Benowo yang ditugaskan mencari pusaka keraton yg dicuri dan ada lagi Makam Mbah Ndoro ini juga dikeramatkan ini juga salah satu Panglima perang Jipang Panolan yg mengawal KIYAI MBALUN (PANGERAN ANOM)dan memang ini menjadi kenyataan karena keturunannya masih ada dan bisa bercerita dengan gamblang dan ada bukti senjatax2 tersebut maka saya mohon situsx2 sejarah tersebut harus dilestarikan dan dirawat (dibangun) oleh PEMKAB setempat supaya sejarah DESA MBALUN,SEJARAH KOTA CEPU DAN SEJARAH JIPANG PANOLAN Tidak hilang begitu saja dan anak cucu bisa mengetahui apalagi kalau dijadikan TUJUAN WISATA RELEJIUS saya sangat setuju, apa lagi 5 sumur minyak cepu sekarang sudah mulai beroprasi kan anggarannya bisa diambil dari presentase penghasilan Daerah salah satunya ya DARI SUMBER MINYAK TERBESAR DIASIA TENGGARA YAITU “CEPU” SELAMAT MEMBANGUN CEPU “UNEK UNEK DARI PEMUDA CEPU GENERASI PENERUS BANGSA”

  80. Bicara tentang ADBM tentu tak bisa dipisahkan dari keberadaan Menoreh itu sendiri. Namun saya pribadi sebagai fans ADBM masih juga merasa simpang siur terhadap wilayah perdikan menoreh itu sendiri. Sejauh pengembaraan saya menunggangi kuda bernama Google maupun dengan bertanya kepada Ki Wikipedia, maka yg berhasil saya ketahui tentang Menoreh adalah nama sebuah perbukitan yang membentang di wilayah barat laut Kabupaten Kulon Progo, sebelah timur Kabupaten Purworejo, dan sebagian Kabupaten Magelang. Namun dilain sisi juga saya ketemukan fakta bahwa Menoreh adalah nama sebuah Kabupaten yang terakhir kali berpusat di kota Parakan(Temanggung), sebelum pusat kota dipindah ke Temanggung yang untuk selanjutnya sampai sekarang dikenal sebagai Kabupaten Temanggung. Jadi untuk para ADBMer yg punya gambaran lengkap tentang tlatah Menoreh yang bagi saya cukup membingungkan ini mohon pencerahannya. Terimakasih.

  81. ikutan nyemak, penggemar SH Mintardja..
    silahkan mampir di blog saya

  82. Cocok buat para pelancong yang sering travelling

  83. numpang urun rembug

    A.Letak makam Nyai Ageng Ngerang

    Nyai Ageng Ngerang adalah seorang ulama wanita dan waliyullah yang menyebarkan agama islam di daerah juwana,dan daerah lereng Pegunungan Kendeng,yang hidup sezaman dengan para Sunan dan WaliSongo.Nama ulamanya yakni Nyai Siti Rohmah.Nyai Ageng Ngerang keturunan bangsawan kerajaan Majapahit,dan mempunyai nasab dengan Nabi Muhammad Saw generasi ke 25,dari jalur keluarga Bani alawi Hadramaut.

    Makam Nyai Ageng Ngerang terletak di Sekitar Pedukuhan Ngerang Desa Tambakromo kecamatan Tambakromo kabupaten Pati Jawa Tengah.Tepatnya terletak di kawasan Pati Selatan di bawah lereng Pegunungan Kendeng.Sekitar 18 km sebelah selatan kota Pati.

    Makam Beliau dipelihara dan dikeramatkan serta dijaga dengan baik oleh masyarakat pedukuhan Ngerang.Dan terakhir kali makam beliau dipugar sekitar tahun 1996/1997 dan resmi selesai 21 mei 1998.

    Disekitar makam beliau terdapat petilasan-petilasan bersejarah Nyai Ageng Ngerang dalam menyebarkan agama islam.

    Nama Pedukuhan Ngerang sendiri berasal dari kata nama sebutan beliau,karena Suami Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Ngerang Juwana yakni Ki Ageng ngerang atau Syeh Muhammad Nurul Yaqin,yang disebut dengan nama Sunan Ngerang.

    B.Silsilah Nyai Ageng Ngerang

    Menurut beberapa catatan Babad Tanah Jawi,Serat Centhini dan berbagai sumber termasuk dari Keraton Surakarta hadiningrat nama asli beliau adalah Raden Roro Kasihan.Nama lainnya yakni Nyai Siti Rohmah.Dan karena beliau menikah dengan Ki Ageng Ngerang maka beliau lebih dikenal dengan sebutan Nyai ageng Ngerang.

    Beliau mempunyai tali lahirbathin dengan para sultan,para sunan dan guru besar agama yang bersambung pada Raja Brawijaya V,raja Majapahit Prabu Kertabumi yang memerintah pada tahun 1468-1478 dan pula bersambung dengan keturunan Baalawi Hadramaut yang mempunyai garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad Saw.

    Menurut Babad Tanah Jawi Prabu Kertabumi mempunyai banyak istri namun dalam catatan sejarah hanya beberapa istri yang mendapat perhatian sejarahwan.Diantaranya dengan putri champa(negeri cermai)daerah kamboja dan mempunyai putra yang bernama Raden Patah,nama kecilnya jien Boen dan menjadi Raja pertama kerajaan Demak Bintoro.Dan Prabu Kertabumi yang terakhir menikah dengan Putri Wandan Kuning yang menurut sejarawan berkulit kehitaman yang berasal dari negeri Phandhan ,India.Dan dari pernikahan dengan Putri Wandan kuning inilah yang menurunkan Raja-raja di Tanah jawa.

    Prabu Kertabumi menikahi Putri Wandan Kuning dan mempunyai satu putra yang bernama Raden Bondan Kejawan,nama lainnya Aryo Lembu Peteng dan Ki Ageng Tarub II.

    Raden Bondan Kejawan dititipkan ayahnya sejak kecil di Ki Buyut Pati atau Ki Mashar.Dan setelah beranjak dewasa kemudian dititipkan dan berguru ke Ki Ageng Tarub.penitipan beliau ke Ki Ageng Tarub oleh ayahnya dengan harapan kelak keturunan Prabu Kertabumi dapat menjadi Raja yang mumpuni dan dapat beristri dengan keturunan kahyangan yang suci.

    Menurut Babad Tanah Jawa Ki Ageng Tarub mempunyai istri seorang Bidadari kahyangan yang bernama Dewi Nawang Wulan.Dan kemudian mempunyai satu putri yang bernama Dewi Retno Nawang Sih.Dewi Nawang Sih kemudian dinikahkan dengan Raden Bondan Kejawan/Aryo Lembu Peteng dan mempunyai 3 putra yakni:Ki Ageng Wonosobo,Ki Getas Pendowo dan Nyai Ageng Ngerang.

    Berikut Silsilah Nyai Ageng Ngerang:

    *Nama asli Beliau:Raden Roro Kasihan
    *Nama lain Beliau:Nyai Siti Rohmah
    *Nama Populer di masyarakat:Nyai Ageng Ngerang.
    *Suami Beliau: Ki Ageng Ngerang/Syeh Muhammad Nurul Yaqin.
    *Ayah beliau:Raden Bondan Kejawan atau aryo Lembu Peteng.
    *Ibu beliau:Dewi Retno Nawang Sih.
    *Kakek nenek :Prabu Kertabumi Brawijaya V +Putri Wandan Kuning
    *Kakek nenek :Ki Ageng Tarub + Dewi nawang Wulan,seorang bidadari kahyangan.
    *Saudara kandung:Ki Ageng Wonosobo dan Ki Ageng Getas Pendowo.

    *Keturunan Nyai Ageng Ngerang sbb:
    #1.Nyi Ageng Ngerang II atau Nyi Ageng Selo II

    Putri Nyai ageng Ngerang ini menikah dengan sepupunya sendiri yakni Ki Ageng Selo (seorang legendaris si penangkap petir),kemudian bernama Nyi Ageng Selo.Ki Ageng Selo adalah keponakan dan sekaligus menantu Nyai Ageng Ngerang.Nyi Ageng Selo mempunyai 6 putri dan Ki Ageng Henis.
    Ki Ageng Henis berputra Ki Ageng Pemanahan.dan Ki ageng Pamanahan berputra Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati Mataram.

    #2.Ki Ageng Ngerang II

    Putra Nyai Ageng Ngerang ini mempunyai putra yakni:Ki Ageng Ngerang III,Ki Ageng Ngerang IV,Ki Ageng Ngerang V dan Pangeran Kalijenar.

    Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah salahsatu putri Sunan kalijaga mempunyai Putra yang bernama Ki Ageng Penjawi,yang juga disebut Ki Ageng Pati karena beliau mendapat hadiah dari Raja Pajang yakni tanah perdikan Pati yang sudah berbentuk wilayah .
    sedang Ki Penjawi mempunyai 2 putra yakni Waskita Jawi yang menjadi permaisuri Panembahan Senopati Sutawijaya dan bergelar Ratu Mas.Dan yang satu lagi bernama Wasis Joyokusumo dan bergelar adipati Pragola Pati.

    Sunan Pakubuwono XII adalah keturunan Nyai Ageng Ngerang generasi yang ke 18 dan Sunan Pakubuwono yang sekarang dan Sultan Hamengkubuwono X adalah keturunan Nyai Ageng Ngerang generasi ke 19.

    Nyai Ageng Ngerang merupakan Pepunden atau Leluhur Pati,Kesunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Yogyakarta.Nyai Ageng Ngerang diperkirakan hidup di abad XV,masa hidup beliau sangat panjang.Masa hidup beliau sezaman dengan para sunan dan para Wali Songo.Bahkan Padepokannya sering disinggahi para sunan dan para Wali Songo.Beliau menetap dan mendirikan padepokan (pesantren) di lereng pegunungan kendeng.

    Setiap tanggal 1 suro atau 1 muharram Haul wafat beliau selalu dilaksanakan dengan meriah dan khidmat.Banyak yang menghadiri Haul Beliau dari masyarakat setempat dan luar daerah pelosok tanah air bahkan Para Punggawa Keraton Surakarta Hadiningrat setiap tahun turut menghadiri kirab haul beliau.Dan situs makam beliau dijadikan salahsatu cagarbudaya dan dimasukkan didalam kalender wisata tahunan pemerintah kabupaten Pati.

  84. saya baca Api Di Bukit Menoreh seingat saya sejak kelas 3 SD, tahun 1988, seri III nomor berapa saya lupa. karena Bapak adalah penggemar beratnya. Bapak baca sejak beliau kuliah di Jogja tahun 1971. Belinya gantian sama sahabatnya, Alm. Pak Kamil, mereka bertukar buku setiap bulan-nya…hingga nomor terakhir 396 saya aktif membacanya. Saat kuliah, sekitar tahun 1999, saat saya maen ke perpustakaan kota di jalan malioboro, saya nemu buku pertama ADBM, senengnya gak ketulungan. Sudah sejak lama ingin membaca dari buku pertama, tapi waktu mustahil dapatin bukunya. Koleksi Bapak banyak yang hilang, dan tahu cerita jilid I & II hanya dari cerita Bapak..dan untunglah Desember 2009 adik laki-laki saya menemukan blog ini dan download TAMAT serial ini sejak jilid I hingga terakhir…senengnya……..

  85. kelompok gajah liwung pindah markas ke padukuhan sumpyuh. Padukuhan sumpyuh letaknya dimana ya? Di barat kebumen?

  86. nemu temen2 yg seneng ADBM disini ternyata..ninggalin jejak dulu, kok sekarng jadi sepi, ayo dong di hidupkan diskusinya. Saya nemu persewaan buku D-Lima di Jogja yg pada waktu saya SMA (th 90 – 93) punya ADBM dari seri pertama dengan ejaan lama nya, trus setelah bertahun-tahun sekarang saya baca baca lagi sampai tamat baru saja..
    Senengnya ADBM karena lokasinya ngga jauh2 dari Jogja, dan meskipun rumah orang tua saya dekat kotagede tapi waktu pulang ke jogja terakhir bulan kemaren baru pertama kalinya saya nyekar ke makam raja2 mataram di kotagede, disitu semua memori saya tentang kisah kepahlawanan di ADBM menjadi semakin merasa dekat karena para tokoh2-nya pada “sare” di depan saya dari kanjeng hadiwijaya sampai anak turun panembahan senopati…
    Kapan2 pengen jalan2 napak tilas lokasi2 di ADBM sekedar untuk menuntaskan dan lebih dalam merasakan suasana di cerita itu..

    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: