Kamus Jawa

Untuk membantu mempermudah memahami kosa kata Jawa yang banyak digunakan SHM. Para kadang yang memiliki perbendaharaan, silahkan dikirim ke boks koment. Kami akan menyusunnya di halaman ini sebaik-baiknya.

Beberapa situs yang dapat dijadikan rujukan untuk kamus bahasa Jawa adalah :

1. Sesotya Pita – Basastra atau silakan diunduh kamus jawa

2. Kamus Lengkap Jawa Indonesia karangan Sutrisno Sastro Utomo (tidak semua halaman)

Meski keduanya belum boleh dibilang lengkap dan hanya sepotong-sepotong namun kiranya dapat sedikit membantu pemahaman akan bahasa Jawa.

Untuk hal-hal yang belum dimengerti akan diunggah secara berkala dan mohon kiranya Kisanak juga bersedia untuk menuliskannya dalam kolom komentar sehingga kita akan dapat sama-sama belajar.

Update :
Berdasarkan penelusuran dari SCRIBD, kita telah mendapatkan kamus bahasa sansekerta-indonesia. Silakan dilihat. 

Halaman: 1 2

Telah Terbit on 14 November 2008 at 01:15  Comments (17)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/kamus-istilah-jawa/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

17 KomentarTinggalkan komentar

  1. matur nuwun ki Gedhe…..sdh semakin familiar dgn teka teki dan sasmita nya

  2. UCENG nek ga salah juga dipakai utk sumbu mercon

  3. Keterangan / terjemahan atas kata-kata berikut mungkin bermanfaat dalam mengikuti cerita ADBM, karena dalam dua kamus di atas ternyata tidak ada (sekilas saja saya nyarinya). Mohon koreksinya kalo ada yang salah.

    Kita mulai dengan bagian-bagian rumah.

    Regol : gapura, pintu gerbang. bisa berpintu, bisa juga tidak. terdapat di depan rumah (pintu pagar) atau perbatasan / jalan masuk suatu daerah.
    Pendhapa : bagian rumah yang paling depan, tidak berdinding atau berdinding rendah.
    Pringgitan : (=rumah dalam) bagian dalam suatu rumah setelah pringgitan, berdinding penuh.
    Sentong : kamar di sisi belakang pringgitan. rumah tradisional jawa hanya mempunyai 3 sentong / kamar yang berjajar.
    Gandhok : paviliun. kamar(-kamar) yang berada di sebelah kanan dan kiri rumah utama, terpisah dari rumah utama.
    Longkangan : jalan atau tempat untuk jalan yang berada di antara rumah utama dan gandhok.
    Pintu Butulan : pintu samping rumah yang langsung masuk pringgitan.

    Jadi kalo seseorang masuk dari jalan depan rumah, urut-urutan yang dia lalui lurus dari depan ke belakang adalah :
    – regol
    – halaman depan
    – pendhapa
    – pringgitan
    – sentong

    kemudian kalo ke samping akan ke :
    – gandhok
    – dapur
    – sumur & kamar mandi (pakiwan)

    ke belakang lagi :
    – halaman belakang

    demikian kira-kira gambaran rumah jawa tempo doeloe.

    nuwun.
    dk

  4. Berikut saya tambahin arti kata-kata yang sering digunakan di ADBM.

    Sebelumnya harap diketahui bahwasanya arti kata yang saya tulis ini adalah semata2 berdasarkan apa yang saya tahu, alias tidak berdasarkan kamus karena kebetulan saya agak males mbukak2 kamus. Jadi kalo ada kadang cantrik yang mau mbukak kamus dan menemukan kesalahan pada tulisan saya, mohon bisanya tulisan saya dikoreksi.

    Juga, kata2 yang saya terjemahkan hanya yang sering digunakan di ADBM sampai jilid 88 karena jilid 89 dst dikunci sama Ki GD dan saya itu kok ya males untuk nyari2 kuncinya. Mbok ya diparingi kuncinya Ki GD.

    Di bawah ini yang berhubungan dengan senjata :

    1. Keris

    Senjata yang paling umum di Jawa. Bentuknya ya seperti yang terlihat jaman sekarang kalo ada yang pakai pakaian adat Jawa waktu pernikahan dll itu.

    Keris terdiri dari 2 bagian ;
    a. Bilah keris
    b. Sarung (bhs Jawa : warangka)
    dimana masing2nya masih mempunyai bagian2 lagi yang detail.

    Cara mengenakan keris ada 3 macam :
    a. Disengkelat : dikenakan di belakang (punggung) seperti yang umum terlihat saat ini. Ini adalah cara mengenakan keris sehari2 yang paling umum.
    b. Dicothe : dikenakan di samping kiri atau kanan (pinggang). Ini juga umum sehari2.
    c. Dianggar : dikenakan di depan (seperti yang ada di gamabr P. Diponegoro atau Jend. Sudirman). Cara ini dipakai ketika sedang dalam perang atau berkelahi sehingga kerisnya mudah untuk dicabut.

    Keris pada umumnya diberi warangan (dengan bahan utama arsenikum) sehingga semua keris biasanya beracun. Pemberian warangan ini selalu diperbaharui setiap tahun yaitu pada bulan Sura / Muharam yang disebut keris tsb “diadusi” (adus = mandi) atau “jamasan” (jamas = keramas).

    Keris meskipun merupakan senjata tetapi juga merupakan kelengkapan pakaian, sehingga apabila seseorang dalam keadaan resmi dan harus berpakain resmi (walaupun sekedar menerima tamu di rumah) maka dia harus mengenakan keris. Bahkan dalam keadaan resmi itu (di kraton sekalipun) seseorang mungkin saja tidak memakai baju (atau bajunya tidak dipakai) tetapi dia harus mengenakan keris.

    Keris juga merupakan salah satu kelengkapan seorang pria, sehingga setiap pria pasti mempunyai keris dan belum lengkap sebagai pria kalo belum memiliki keris. Oleh karena itu keris bisa dianggap mewakili pemiliknya. Maka ada kasus2 tertentu dimana keris mewakili pemiliknya yang tidak bisa hadir, umpama : pengantin pria berhalangan hadir (tetapi sekarang kalo pengantin pria berhalangan hadir, ya diwakili oleh keris apapun bahkan keris sewaan).

    2. Patrem.

    Sejenis keris tapi dengan ukuran lebih kecil. Kalo sarung keris ada “sayap”nya, maka sarung patrem tidak ada “sayap”nya.

    Patrem biasanya dipakai oleh perempuan.

    3. Cundrik

    Sejenis keris juga tetapi lebih kecil daripada patrem sehingga bisa disembunyikan (dan memang pemakaiannya biasanya tersembunyi)

    4. Panah

    Panah seperti yang lazim kita lihat.

    Panah terdiri dari 2 bagian :
    a. Anak panah.
    Ujung akan panah yang runcing disebut “bedhor”. Umumnya bedhor ini bentuknya hanya runcing begitu saja (bisa bulat atau pipih), tetapi untuk panah pusaka bedhor ini bisa berbentuk macem2, ada yang bulat bergerigi (cakra), ada bentuk burung (arda dadali), ada yang berujung dua, dll.
    Tempat untuk menaruh beberapa anak panah pada waktu dibawa disebut “endhong”

    b. Busur (bhs Jawa : gandhewa atau langkap), seperti umumnya busur2 yang lain.

    Panah selain sebagai senjata, ada pula yang digunakan sebagai isyarat (umunya untuk orang lain yang berjauhan tempatnya), yaitu :
    a. Panah api, yaitu ujung anak panah diberi semacam sumbu dan dinyalakan sesaat sebelum dilepaskan.
    b. Panah sendaren, di ujung anak panah diberi semacam peluit yang akan berbunyi apabila bergesekan dengan udara.

    5. Tombak

    Tombak adalah senjata panjang kira2 2-3 m. Terdiri dari 2 bagian :
    a. Mata tombak, bisanya sama dengan bilah keris (baik jenis maupun sifatnya, sehingga mata tombak juga beracun)
    b. Pegangan tombak (bhs Jawa = landheyan) terbuat dari kayu.

    Tombak pendek adalah tombak yang landheyannya pendek 0.5-1 m.

    Apabila mata tombak tsb berujung 2 (seperti bulan sabit) maka disebut “Canggah” atau “Dwisula”.
    Apabila mata tombak berujung 3 berjajar, maka disebut “Trisula”.

    6. Pedang

    Pedang seperti yang umum kita ketahui. Mata pedang adalah tajam di kedua sisinya, biasanya tanpa warangan sehingga tidak beracun dan oleh karena itu warnanya mengkilap.

    7. Gada

    Senjata pemukul. Mempunyai pegangan / tangkai sebatas cukup untuk pegangan saja. Di atas pegangan sudah merupakan badan gada itu sendiri, bulat makin ke ujung makin membesar.

    Kalo ada yang pernah berkunjung ke keraton dan melihat ada patunmg raksasa di depan pintu gerbang sambil membawa senjata pemukul, ya senjata itulah gada.

    8. Bindi

    Semacam gada, tetapi lebih kecil. Badan bindinya (yang untuk memukul) secara umum adalah bundar seperti bola. Tangkainya justru panjang.

    Sekian dulu, kalo ada tambahan nati ditambahkan kemudian.

    Nuwun,
    ~dk~

  5. Tambahan untuk senjata :

    9. Nanggala

    Secara umum bentuknya bulat segenggaman tangan, panjang +/- 1m, runcing di kedua ujungnya, dipegang di tengah2nya. Variasinya bisa di bentuknya yg tidak melulu lurus atau ujungnya yg diberi ukiran atau tempat pegangannya diukir. Terbuat dari kayu.

    Dalam cerita pewayangan, nenggala ini adalah senjata Prabu Baladewa.

    Nuwun,
    ~dk~

  6. Tambahan perbendaharaan kata, sekarang mengenai panggilan.

    1. Bapak / bapa : panggilan anak kepada orangtua laki-laki (ayah). Beda dengan saat ini, panggilan “bapak” pada jaman dulu khusus hanya kepada orangtua (benar2 orangtua [father]).

    2. Ibu : sama dengan “bapak” tetapi kepada orangtua perempuan (mother).

    3. Kakang : aslinya artinya adalah “kakak” baik laki2 maupun perempuan (kakak laki2 : kakangmas; kakak perempuan : kakangmbok). Dalam prakteknya “kakang” adalah panggilan seseorang kepada kakak laki2, baik kandung maupun yang dianggap / diposisikan sebagai kakak laki2.

    4. Mbak / Mbakyu : panggilan seseorang kepada kakak perempuan, baik kandung maupun yang dianggap / diposisikan sebagai kakak perempuan.

    5. Adi (Adhi) : aslinya artinya adalah “adik” baik laki2 maupun perempuan (adiklaki2 : adhimas; adik perempuan : adhiajeng). Dalam prakteknya “adi” adalah panggilan seseorang kepada adik laki2, baik kandung maupun yang dianggap / diposisikan sebagai adik laki2.

    6. Diajeng / Jeng (e dibaca spt gelas) : panggilan seseorang kepada adik perempuan, baik kandung maupun yang dianggap / diposisikan sebagai adik perempuan.

    7. Paman : panggilan kepada saudara (aslinya adalah adik, tapi dalam praktek bisa kakak maupun adik) laki2 ayah atau ibu. Juga panggilan kepada seorang laki2 seusia ayah baik dikenal maupun tidak dikenal sebagai penghormatan / sopan-santun.

    8. Bibi : panggilan kepada saudara (aslinya adalah adik, tapi dalam praktek bisa kakak maupun adik) perempuan ayah atau ibu. Juga panggilan kepada seorang perempuan seusia ibu baik dikenal maupun tidak dikenal sebagai penghormatan / sopan-santun.

    9. Uwa / Siwa : panggilan kepada kakak laki2 dari ayah atau ibu.

    Saya belum menemukan pasangan dari “uwa” ini (kakak perempuan)

    10. Angger / Ngger (e dibaca spt besok) : panggilan kepada anak atau orang lain yang seusia anak (remaja / dewasa) sebagai bentuk kasih sayang.

    11. Ki Sanak : panggilan orang tua kepada orang tua lain (seusia) yang belum dikenal.

    12. Jebeng (e pertama dibaca spt gelas, e kedua spt besok) : artinya sama dengan “angger”, merupakan panggilan khusus kepada Sutawijaya oleh orang2 terdekatnya.

    13. Kanjeng / Kangjeng (e dibaca spt gelas) : panggilan kepada orang yang sangat dihormati, diikuti oleh jabatan (bukan nama). Kadang2 juga kepada benda yang dikeramatkan. Contoh : Kanjeng Sultan, Kanjeng Adipati, Kanjeng Bupati (dibawah Bupati tidak ada yang disebut dengan Kanjeng), Kanjeng Kiai Pleret, Kanjeng Kiai Mendung, dll.

    Nuwun,
    ~dk~

  7. Rinding sejenis alat musik yang suaranya terbentuk dari getaran dan udara yang ditiupkan melalui mulut. Rinding ini merupakan salah satu senjata dari glagah putih (kemenakan Agung Sedayu)

    • maaf mas sekedar mengingatkan glagah putih itu sepupu agung sedayu, bukan kemenakan.

  8. Kalo di kraton jenis / macam pakaian Jawa ada banyak tergantung pemakainya (santana/keluarga raja, abdi raja, dewasa, anak2, dll) dan untuk acara apa (sehari2, menghadap raja, upacara2 [grebeg, sawalan, pernikahan, khitanan, dll]).

    Berikut saya coba menjelaskan cara berpakaian sehari2 bukan di kraton. Kalo ada yang salah mohon koreksinya.

    Pakaian Pria

    Secara garis besar ada 3 bagian utama, yaitu :

    1. Ikat kepala (Jawa : iket, dhestar)

    Bentuknya (setelah dipasang di kepala) seperti blangkon yogya yang kita kenal sekarang. Bedanya, kalo blangkon sudah jadi tinggal pakai saja seperti topi, kalo ikat kepala bentuknya lembaran kain segitiga (atao bujur sangkar dilipat menjadi segitiga). Kain tersebut dililitkan di kepala dengan teknik tertentu sehingga berbentuk seperti blangkon. Otomatis kalo dilepas ya jadi kain lembaran lagi. Makanya di ADBM sering ada kata2 spt ini : … ikat kepalanya dikalungkan di leher … Trus kalo kita lihat blangkon yogya atau gambar di ADBM, di ikat kepala bagian belakang ada tonjolan seperti telor (Jawa : mondholan), itu kalo di ikat kepala adalah rambut yang dibungkus dengan ikat kepala tsb (jaman dulu rambur pria juga panjang). Kain ikat kepala juga dibatik dengan pola2 tertentu dan mempunyai nama2 tertentu.

    2. Baju (Jawa : klambi, rasukan)

    Bentuknya seperti baju yogya sekarang (surjan). Lehernya (kerah) seperti kerah baju koko / baju encim tapi lebih tinggi dan memakai kancing (biasanya 3). Kancing baju yang diluar hanya 1 yaitu paling atas, di bawah ada 2 lagi tetapi di dalam letaknya. Ujung bawah depan lancip, namanya “sogok upil”. Bahannya kalo rakyat biasa ya lurik (seperti baju yogya yang ada sekarang) dengan bermacam2 motif, kalo priyayi (bangsawan) ya kain yang bagus bahkan beludru atau sutra.

    3. Kain panjang (Jawa : jarik, jarit)

    Memakainya ada 2 macam :

    a. Keadaan normal.
    Memakainya seperti kita lihat di acara perkawinan jawa, jadi menutupi seluruh kaki sampai mata kaki. Dililitkan hanya satu setengah lilitan dari kanan ke kiri, dari belakang sampai ujungnya jatuh pas di tengah depan (oleh sebab itu meskipun pakai kain panjang, pria tetep bisa meloncat). Ujung kain dilipat selebar 4 jari, disebut “wiron” (wiron ini dibikin sebelum dipakai ya). Kain panjang ini dibatik dengan motif2 tertentu dan pemakaiannya harus memperhatikan motifnya sehinga tidak kebalik (motif2 tertentu sudah ditentukan mana yang atas mana yang bawah, sedang motif2 tertentu lainnya atas dan bawahnya sama saja). Apabila seseorang sudah berpakian seperti ini kemudian dia harus bergerak dengan cepat (misal : berkelahi, lari tergesa2, dll) maka kain panjang ini ujung bawahnya bias ditarik ke atas disangkutkan di keris atau di sabuknya.

    b. Pemakaian untuk prajurit, orang kerja di lapangan (sawah, dll) atao orang yang dari awalnya memerlukan pergerakan yang bebas.
    Memakainya seperti yang kita lihat di gambar2 ADBM, yaitu kain panjang dilipat 2 dalam arah memanjangnya, tidak diwiru (tidak memakai wiron). Sama, dililitkan hanya satu setengah lilitan dari kanan ke kiri, dari belakang berhenti di tengah depan, sisanya dilipat-lipat kebawah (sebagai ganti wiron).

    Bagian-bagian pakaian yang lain :

    4. Celana

    Modelnya seperti celana silat, panjang sampai tengah2 betis (kalo sekarang namanya celana 3/4 ???). Baik memakai kain panjangnya normal (utuh) ataupun dilipat, tetap memakai celana ini (otomatis kalo pakai kain panjangnya utuh, calananya gak keliatan).

    5. Ikat pinggang terdiri dari 2 bagian :

    a. Sabuk (bhs Jawa !!! bukan pengertian sabuk jaman sekarang) atau kamus (atau yang umum dikenal “setagen”, tetapi setagen ini untuk perempuan)
    Terbuat dari kain lebar sekitar 20 cm panjang 4-5m dipakai melilit pinggang dari kanan ke kiri bertumpuk. Fungsinya untuk mengikat kain panjang supaya gak mlorot. Jadi pemakaiannya di luar kain panjang, di dalam baju (dalam cara2 tertentu sabuk bisa sebagian di dalam baju, sebagiannya lagi di luar baju)

    b. Epek & Timang.
    Epek ini bentuknya seperti sabuk jaman sekarang lebar sekitar 5 cm terbuat dari kain tebal atau kulit atau rambut. Timang adalah kepala epek (gesper). Timang terbuat dari logam, kalo orang kaya bias terbuat dari emas dan dipasangi batu permata. Pemakaian epek & timang adalah di luar sabuk (kamus) pas di tengah2nya.

    6. Keris

    Mengenai kerisnya sendiri sudah ada di komentar saya terdahulu. Pemakaiannya di punggung di dalam sabuk (bukan di dalam epek), miring ke kanan.

    Pakaian Wanita

    1. Kain panjang

    Dipakai menutupi seluruh kaki sampai mata kaki dengan beberapa lilitan dari kiri ke kanan, ujungnya pas di tengah depan. Ujungnya diwiru (memakai wiron) selebar 2 jari. Mengenai kainnya sendiri sama dengan pria.

    Kain panjang ini diikat / dikencangkan dengan memakai setagen yang panjangnya 7-9m. Beda antara sabuk (pria) dan setagen (wanita), kalo sabuk semata2 hanya untuk menahan kain panjang supaya gak mlorot, kalo setagen selain untuk menahan kain panjang juga untuk mengencangkan pinggang supaya tetap kecil.

    2. Kemben

    Untuk menutup dada, terbuat dari kain. Memakainya beberapa lilitan, ujungnya pas di tengah depan, bisa habis, bisa juga bersisa yang sisanya dilipat2 ke bawah.

    3. Baju / Kebaya

    Kebaya ini bentuknya seperti yang kita saksikan jaman sekarang (seperti Ibu Kartini). Kebaya ini dipakai bisa tertutup seluruhnya (yang kanan dan yang kiri bertemu di tengah dan dikancingkan, jadi kembennya gak keliatan) atau tidak tertutup penuh (yang kanan dan yang kiri tidak bertemu, jadi kembennya keliatan). Kebaya terbuat dari lurik juga untuk rakyat kebanyakan atau dari kain yang bagus (beludru atau sutra) untuk priyayi.

    Untuk kebaya jaman sekarang, tetap ada yang tertutup penuh maupun tidak tertutup penuh. Yang tertutup penuh seperti kebaya Ibu Kartini. Yang tidak tertutup penuh, karena wanita sekarang gak pakai kemben, maka ada tambahan kain penghubung antara kanan dan kiri, disebut “kuthu baru”.

    Untuk wanita tidak ada penutup kepala, hanya rambutnya digelung (konde).

    nuwun
    ~dk~

  9. Tambahan tentang pakaian pria.

    Cara berpakaian tersebut di atas sebagian besar sesuai dengan cara Yogyakarta karena cara itulah yang dipakai di jaman Mataram. Untuk pemakaian dengan cara Surakarta ada sedikit perbedaan.

    Nuwun

  10. Lho …. setelah huruf O kok terus huruf U?
    Mana huruf-huruf lainnya? (P, R, S, T)

  11. Apakah ini betul?
    agung (ta) api

  12. ki dwijokangko,

    bagaimana dengan gelungan atau sanggul ?
    bisakah diwedhar di sini?.

    nuwun.

    • Ki Sukrasana,

      wadhuh saya gak pernah gelungan je … (just kidding Ki)
      memori saya untuk gelungan kebetulan sedang kosong … tapi saya pernah baca buku yang menjelaskan macem2 gelungan / sanggul … kalo ketemu lagi bukunya, ntar saya wedhar di sini
      eh … ngomong2 ini gelungan yang dipakai wayang atau sanggul perempuan ? masing2 ada macem2nya

      nuwun
      ~dk~

  13. Lho, Sesotya Pita alias Bausastra kok mboten saged dipun akses? Sanjangipun Geocities sampun mboten aktif? Pripun menika? Menapa wonten alamat lintunipun??

  14. Ijin menggunakan daftar kosa kata untuk membuat aplikasi free blackberry, boleh?

  15. kulo nderek sinau nggih mas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: