Download

Cara download rontal ADBM oleh Ki Jojosm

Halaman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 9 Oktober 2008 at 06:27  Komentar (65)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/download/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. terima kasih sebelumnya atas usaha kawan-kawan mengangkat kembali ADBM ke dunia maya ini. Saya sangat menunggu-nuggu tiap buku yang ada di sini.

    BTW, ada yang tahu gk sofware untuk membuka file DJVU di handphone semisal nokia communicator, soalnya saya terbiasa membaca ADBM di HP.

    makasih sebelumnya yach

  2. wah lama nggak pernah berkunjung, saya pingin mencoba software ini gimana caranya

    D2: Tinggal diinstal, Pak. Untuk membaca ADBM harus dikembalikan ekstensinya ke djvu.

  3. kok api di bukit menoreh nya gimana cara sedotnya ya. thx

    D2: Jangan pake sedotan es. Rait klik, sev as.

    • kepiye carane ngunduh ? kok ora tau kasil ? seyoyanya Ki GD dan para tetunggul menerangkan agar para cantrik yang tidak paham IT gak bingung

      matur nuwun wedang sere ne

  4. Makasih….

  5. sudah saya unduh file STDU viewer dengan ekstensi doc, tapi kok muncul ada virusnya

    D2: Mas Sukra, bisa kasih penjelasan?

  6. saya sudah donlot STDU viewer, setelah saya buka file doc nya eror. mungkin saya ada yang salah kali ya

  7. Ki Gedhe, beberapa hari ini saya bermigrasi ke PCMacintosh karena warung tempat saya bekerja memutuskan kerjasamanya dengan Bill Gates. Nah saya jadi gratul-gratul menyesuaikan diri.
    Sampai sekarang instalasi MacDjView saya masih belum berhasil menembus file djvu ADBM.
    Mohon pencerahan.
    Maturnuwun..

    • macdjview seharusnya nggak ada masalah ki jaya, mungkin bisa juga dicoba djvureader, saya sendiri lebih menyukai evince yang terinstall secara default di kebanyakan desktop gnome.

  8. Banyak cantrik2 baru yg keteter mengikuti ngelmu ADBM, hanya karena belum dilambari olah kanuragan dasar “djVU”.. belum lagi kalau Ki Gde sedang triwikrama dengan mantra2 kasuksman yang lebih sempurna. Langkah dasar tersebut tidak akan cukup,karena harus dilanjutkan dengan aji sapta pandulu, sapta pangrungu, sapta panggraita, dan sapta-sapta lainnya.
    Salam..
    \\Cubluk\\

  9. sugeng siang ke Gede…matur nuwun kitab 102 nya.Nanti malam akan sy pergunakan utk penyempurnaan ilmu sapta pandulu,sapta pangrungu lsp

    Sekedar usul utk saling mengenal antara sesama cantrik bagaimana sekiranya para cantrik menyebutkan “domisilinya” dalam setiap comment
    misalnya……….agung sedayu,jogjakarta

  10. semakin lama semakin sukar mencari buku nya……
    minta tolong di permudahkan donload nya. saya dari melaysia asyik membaca adbm. tetapi teka teki yang tidak saya faham menyukarkan saya mencari di mana dukuknya buku tersebut…… minta agar ada yang dapat membantu

    • cik sangkeng,

      awas klo ADBM ini d klaim jadi cerita malaysia..!!

  11. To Encik Sangkeng – from Malaysia
    sebenarnya tak susah nak cari buku/kitab dalam site ini even sometimes is hidden. Saya guna Internet Download Manager to find the file, just right click on the page and select download all link…so kita akan jumpa kitab yang hidden, biasanya dia ade dalam baris 3 or 4 using extension .ppt or doc. So sila cuba and pasti berjaya

  12. Tolong dong, rekan2 disini kok saya gak bisa buka ADBM II.
    Setiap di klik hanya gambatnya saja yg keluar tanpa text?
    Kalau harus download kok gak ada menunya ya?

    Please informasinya dong bagaimana caranya download atau buka ADBM II.

    Terima kasih

  13. gmana download soft djvu nya

  14. @ Ki Adum, download saja salah satu file di atas – misalnya STDU Viewer dengan extention doc. Kalau sudah ter-save ubah extention doc menjadi exe. Insya Allah langsung bisa dipakai.

    Kitab-kitab yang diwedar juga ber-extention doc, ppt atau odt. Sebelum dibaca ubah dulu extention itu menjadi djvu.

    Selamat mencoba

  15. @ para cantrik yang masih kesulitan mencari wedaran kitab jilid II :

    > Kita mesti bertualang ke sana ke mari sesuai petunjuk Ki GD, Ki Sukra atau Nimas Senopati.
    > Dengan mengikuti petunjuk itu kita akan ketemu kitab-kitab yang dibungkus dengan doc, ppt atau odt siap diunduh.
    > Untuk bisa membuka kitab ini pertama harus punya senjata yang bisa dipinjam dari gandok ini – misalnya : STDU Viewer. Lihat komentar di atas untuk mengunduhnya.
    > Saat akan dibaca bungkus kitab harus diubah dulu dengan djvu

    Selamat bertualang !

  16. Ketika adbm edisi halaman retype masih ada, saya sering mengcopynya dan mengconvertnya menjadi file prc dan saya pindahkan ke HP saya yang mempergunakan system operasi Symbian S-80 dan dibaca mempergunakan pembaca ebook Mobireader. Tetapi sejak adbm mempergunakan format djvu, saya tidak bisa membacanya melalui hp saya. Suatu ketika saya melihat halaman unduh dan disitu ada program untuk membaca file djvu melalui hp dengan nama handy djvu. Karena tidak ada tautannya, saya mencoba mencarinya melalui Google, ternyata ada dengan versi 1.0. Saya download dan saya install ke hp saya…wah ternyata enggak bisa dijalankan…Saya berfikir lagi, gimana ya caranya supaya bisa membaca adbm lewat hp s-80 saya…Nah kebetulan di hp saya ada pembaca file pdfnya yaitu adobe reader untuk s-80…Mulailah saya mencoba mencari-cari software yang dapat mengconvert file djvu menjadi file pdf…berhasil…ternyata ada…maka saya convertlah file2 adbm berformat djvu menjadi pdf, tetapi ternyata filenya jadi cukup besar, sehingga memakai memori di hp cukup besar juga. Tetapi tidak apa-apalah, yang penting sekarang saya tidak perlu membuka laptop lagi kalau di dalam perjalanan ingin membaca adbm,cukup saya buka hp symbian s-80 saya. Memang tulisannya jadi kecil-kecil tetapi dengan dibesarkan menjadi 200%, menjadi jelas terbaca oleh mata saya.
    Oh ya, software yang saya pergunakan adalah IrfanView
    Adakah para pembaca adbm mempunyai cara lain, selain cara yang saya pergunakan supaya dapat membaca adbm melalui hp?

    $$ betul sekali ki Joe. gunakan handy djvu untuk ponsel symbian. jika tidak bisa mungkin sewaktu install ada yang error. penggunaan PDF memang membuat file menjadi sangat-sangat besar. itulah sebabnya kita tidak menggunakannya.

  17. Mohon Bantuannya saya tidak bisa download Kitab-kitab dibawah ini :
    Kitab nomor 96,97,98,99,100,104,107,109,110,111,112,113,116,117,118,119,120,121,122,123,125,128,129, 133,135

    Kalau ada yg bisa bantu saya ucapkan terima kasih.

    Wahyu,

  18. Maturnuwun….sampun diunduh….kitab 186-ipun.

  19. mohon di bantu saya tidak bsa mendownload kitab no 187, 188, 189, 190…… 200 mohon dibantu

  20. aduhh, tambah lagi kitab 200 sampai 210 juga tidak bisa bagaimana mendownloadnya secara cepat. Atas bantuannya ak ucapkan terimaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa kasiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih

  21. gampang sekali ki benowo…
    cari genter bambu yang panjang… trus di ogrok-ogrok…
    pasti bisa…. suweeerrr….

  22. celengan gadjah…

  23. kalo celengan gajah gak bisa bawa gajahnya sekalian aja

  24. Saya baru ikutan di web ini.
    Klo saya baca di hp ato di web jadi pusing.
    Tolong donk kasih tau cara downloadnya gimana.. Ato kalo bisa mesen bukunya aja lengkap ke siapa?
    Tks.

    S kita cuma sharing buku mas.. tidak jualan

    • selamat datang nyi Seno

  25. masih belum bisa dan menemukan kitab 151 tapi udeh belajar ngunduh file djvu…utk teka-teki ngunduh kitabnya mohon pencerahannnya…..or konfirm ke yudya05@yahoo.com dong pleaseeee dah sakaw beratt nehhh

  26. Apakah sampai sekarang belum ada javaDJVU? saya mencoba mencari melalui Google adanya opensource dan saya enggak mudeng. tolong dong kalau ada Djvu Reader untuk hp berbasis java. Terimakasih.

  27. saya sudah coba download symdjvu, tapi kok ora gelem diinstall di E63-ku…
    Ada yang bisa kasih pencerahan nih. Kitab 151 dah berhasil didownload tapi gak iso dibuka.
    Please, bisa kirim via email saya :paknesena@gmail.com

    • Sesuai dengan keterangannya Symdjvu itu tidak bisa langsung diinstal di symbian seri 60, ada lagi yang harus di download untuk menyesuaikannya. Kalau menurut keterangannya Symdjvu adalah utnuk symbian seri 80 (9210, 9300, 9300i, 9500) tapi nyatanya coba saya instal di 9300i juga gagal.. ada yang bisa bantu?

      • sekedar berbagi, sebenarnya sebelum instal symDJVU di Nokia s60 terlebih dahulu kita harus instal program PIPE. kalo gak salah symDJVU ini di paketannya ada tuch PIPE-nya. silahkan dicoba. saya dah sukses menikmati ADBM dari HP, mulai dari donlot sampai baca

  28. kok setelah menu option dirubah, saya klik kiri malah jadi buka new tab dengan gambar sampul tsb, tidak ada keterangan download? apa ada yang musti di disable dulu kah?

  29. Ki Jojosm,

    Terimakasih atas petunjuknya menDownload ADBM,
    Tapi kok beberapa buku Setelah di click Ex tentionya bukan PPT tapi hanya JPG jadi hanya gambar saja

    Mohon petunjuk nya

    Salam

  30. Maaf, saya sangat ingin sekali membaca cerita ini terutama ADBM II jilid 40 dan seterusnya. Mohon di beritahu bagaimana cara downloadnya. Saya sudah mencoba seperti yg di sarankan di cara download atau right klik save as… tetapi hanya gambar aja yg terdownload. Terima kasih sebelumnya.

    • Ki Panon Suka

      Untuk mendownload lontas ADBM, harus dicari tautannya. Lontar biasanya disembunyikan di sembarang tempat oleh Nyi Seno/Ki Sukra, bukan untuk main-main cuma supaya lebih rame saja.

      Tautannya di mana, biasanya bisa dibaca dari komen para cantrik yang sudah dapat ngunduh lontar.

      Yang tidak tersembunyi, biasanya dapat dilihat dari kata-kata dari Nyi Seno/Ki Sukra yang diberi warna coklay muda, kalau di klak (klik kanan) akan muncul “save link as” jika pakai mozilla atau “save target as” pada internet explorer. Contoh: pada halaman II-40, klak pada “Ayo” pada Ayo dicari … di halaman 2.

      Yang tersembunyi memang agak sulit, harus mencari klu dari para cantri yang sudah dapat. Kadang dititipkan pada cantrik atau pada komentar para cantrik.

      Misal pada III-59 di letakkan pada “kepulauan Hawaiian” di komennya Ki Widura.

      Kadang pada tempat yang tidak diduga, misalnya pada III-60 diletakkan diantara huruf 1 dan 2 pada Halaman 123.

      dan sebagainya.

      Memang agak pusing kalau mencari sendiri, tetapi coba dicari Ki Panon, lama-lama jadi asyik juga.

      Jika sudah diunduh, file bisanya berekstensi *.doc, .ppt, *.docx atau *.pptx. harus dirubah menjadi *.djvu.
      Baru dibaca dengan software yang WinDjew atau Stduviewer yang bisa diunduh melalui petunjuk di Halaman lain -> Halaman unduh.

      Monggo Ki

      • Terima kasih balasannya…
        wah memang jadi lebih mengasyikkan kalo sudah ketemu….jerih payahnya terbayarkan
        sukses buat Ki Gede dan timnya

        • Monggo Ki

          Selamat bergabung dengan cantrik yang lainnya.
          Juga komen-komennya.

      • nyuwun sewu, menawi sampun wonten engkang sampun saget ngunduh nyuwun tulung katuran ngirimi medal email kulo graveyardblusvodkabilly@gmail.com

  31. Mbuh ah…djvu, pdf, doc kuwi opo. Pokoke aku ra iso moco Kitab 151 mergo ra ono retype. Amal baik kok dadak diangel2 stengah ati diumpet2ne barang, mbok Kitab diwedhar byak ben kabeh gampang moco rak luwih apik, ibarat arep mlebu lawang surgo kok dadak toleh toleh menggak menggok kamongko wis cetho lawang ketok ono ngarep.

    • Ha ha …

      retype digarap kroyokan Ki, oleh cantrik yang punya waktu dan kepedulian terhadap sesama. Nyi Sena menjadi mederatornya.

      Mohon juga dilihat dari sisi pengelolanya, yang kebetulan saat ini sedang sibuk dengan tugasnya sendiri.

      Kalau Ki Joko Rangsang mau meloncat, mulai jilid 198 sampai 245 sudah ada di sini sumbangan dari Ki Mahesa.

  32. Arep penak kok ra gelem kangelan…?? Mugo2 ora ono sing komentar ngono mergo kuwi ora bener. Ki GD, Nyi Seno mbok kulo nyuwun blog meniko dipermudah biar mjd kebaikan unt seluruh manusia, bukan hny unt yg pny komputer, yg pinter dll. Iki uneg2 atiku, didukani tak tompo kanthi ati legowo. Aku wis frustasi mergo kepunggel tresno marang ADBM gur tekan Kitab 150, wis 1 wulan ora bisa nyambung meneh.

  33. Heeee…. Kitab 198 tekan 245 wis ono retype.e. Maturnuwun buangeeeet Ki Arema anggone paring info. Sakbenere pancen wis tak wolak walik tak udhal udhal Kitab2 sekitar 151 dg harapan sopo ngerti cuma 151 yg hilang tp semua tetap tdk ada. He he atiku mak nyesss….hpku ora sido tak banting mergo jengkel

  34. minta tolong,
    saya pengen baca kitab 1 sampai dengan 70 apa ada link downloadnya ya saya cari, cari koq ga ketemu-temu udah ada satu bulan saya coba sambil mengikuti isyarat-isyarat dari para cantrik yang sudah menemukannya juga pada kitab 73,93,94,89, karena saya pengemar berat, pengen lengkap versi djvu nya
    bagi yang menolong semoga mendapat pahala yang luar biasa karena menolong orang dalam kesusahan dan membuat orang senang.
    makasih banget

    • Kalau versi retypenya sudah diunggah, biasanya versi dejavunya sudah diambil linknya

  35. Maaf Ki Gede/Ki Arema, saya bisa minta bantuannya, kalo2 Ki Gede/Ki Arema masih punya file DJVUnya, saya minta tolong dong dikirimin ke theisaffa_amal_utama@yahoo.com, memang baru baca s/d buku 83 saking serunya sampai benar2 dihayati jadi lama bacanya(sambil ngasuh anak juga sih), tapi udah download s/d 292 supaya ga ketinggalan, makasih sebelumnya Ki Gede/Ki Arema, dan Ki Arema atas tanggapannya makasih ya.

  36. Ki Gedhe dan ki Arema,apakah kiyai masih punya file djvu nggak,kalau masih nyuun tolong dishare dumateng kadang sepu dumateng ki radjiman dg alamat ;radj17@telkom.co.id

  37. Buku 151

    BAGAIMANA dengan Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang Senopati Mataram?“ bertanya Pangeran Benawa.

    “Tidak ada seorangpun yang boleh ikut menemui Pangeran selain Ki Lurah Branjangan,” jawab Agung Sedayu.

    “Kau memang aneh-aneh. Demikian aku memasuki barak, mereka telah berkerumun. Barangkali ada diantara mereka yang melempari aku dengan batu,“ berkata Pangeran Benawa.

    “Aku akan mengaturnya,” jawab Agun Sedayu.

    Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Jadi sekarang kau akan membawaku ke barak itu? Mungkin dengan tangan terikat?”

    “Ah, jangan begitu Pangeran. Kesediaan Pangeran sudah sangat membesarkan hatiku, untuk kepentingan anak-anak didalam barak itu,“ jawab Agung Sedayu, “untuk selanjutnya aku akan mengucapkan terima kasih ganda. Petunjuk Pangeran tentang goa itu, dan kesediaan Pangeran untuk singgah.”

    Pangeran Benawa mengangguk-angguk ia tidak sampai hati menolak permintaan Agung Sedayu. Karena itu, maka iapun kemudian bersama Agung Sedayu pergi ke barak.

    Sementara itu, anak-anak muda didalam barak itupun menunggu dengan gelisah. Bahkan mereka mulai mencemaskan Agung Sedayu, karena merekapun tahu. bahwa orang yang dikejarnya itu adalah orang yang luar biasa.

    Ki Lurah Branjangan yang telah membiarkan Agung Sedayu seorang diri mengejar orang itupun menjadi berdebar-debar pula. Segala kemungkinan memang dapat terjadi. Mungkin orang itu benar-benar orang yang memiliki ilmu yang tidak terkatahkan, melampaui ilmu Ajar Tal Pitu. Tetapi mungkin pula orang itu tidak sendiri. Ia lelah berhasil memancing Agung Sedayu kedalam sekelompok orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

    Namun dalam pada itu, selagi anak-anak muda yang berada di regol itu termangu-mangu mereka telah mulihat dua orang berjalan mendekat. Seorang diantara mereka segera dapat mereka kenali. Agung Sedayu. Sementara yang lainpun kemudian dapat mereka kenal pula. meskipun cahaya obor diregol masih belum menggapai keduanya.

    “Tentu orang yang sedang dikejarnya itu,” desis salah seorang dari anak-anak muda yang berada diregol itu.

    “Ya. Agaknya orang itu,“ sahut yang lain.

    Hampir saja mereka beramai-ramai menyongsong Agung Sedayu dan orang yang mereka anggap aneh itu. Tetapi mereka tertegun ketika mereka melihat justru orang itu berhenti, dan Agung Sedayu sendirilah yang berjalan mendekati regol.

    “Kenapa orang itu kau tinggalkan?“ bertanya salah seorang anak muda itu.

    “Katakan kepada Ki Lurah Branjangan,” berkata Agung Sedayu, “aku telah berhasil membawanya kemari. Tetapi orang itu cemas bahwa akan terjadi sesuatu atasnya.”

    “Kenapa?” desis anak muda yang lain.

    “Ia merasa bersalah,” jawab Agung Sedayu.

    “Bawa kemari. Biarlah kami melihatnya,” berkata yang lain pula, “orang itu sudah menghina kami.”

    “Bukankah kecemasan orang itu benar-benar dapat terjadi. Jika aku membawanya memasuki halaman regol ini? Nampaknya kalian tentu akan mengerumuninya dan bertindak tidak sewajarnya,“ berkata Agung Sedayu.

    “Apa artinya sewajarnya terhadap orang yang telah menghina kami itu,” geram yang lain.

    “Dengarlah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku minta ki Lurah Branjangan datang kemari. Jika kalian menuruti kehendak kalian sendiri maka aku suruh orang itu berlari lagi dan bersembunyi di semak-semak, sehingga kalian tidak akan dapat menemukannya lagi Ki Lurah tentu akan marah. Tidak kepadaku, tetapi kepada kalian.”

    Anak anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang diantara mereka berkata, “Baiklah. Aku akan menyampaikannya.”

    Ketika anak muda itu kemudian memasuki regol, maka yang lainpun rasa-rasanya ingin meloncat mendekati orang yang bendiri beberapa langkah di hadapan mereka. Tetapi setiap kali mereka harus menahan hati. karena Agung Sedayu agaknya benar-benar tidak ingin seorangpun mendekatinya.

    Sejenak kemudian, maka Ki Lurah Branjanganpun dengan tergesa-gesa mendekati Agung Sedayu. Belum lagi langkahnya berhenti, ia sudah berkata, “Kenapa tidak kau bawa saja orang itu kemari Agung Sedayu.”

    Agung Sedayu tidak segera menjawab, sementara Ki Lurah Branjangan berkata selanjutnya, “Kila akan berbicara dengan orang itu di ruang dalam barak.”

    Tetapi Agung Sedayu kemudian menjawab, “Orang itu berkeberatan untuk dibawa masuk kedalam barak Ki Lurah.”

    “Kenapa ia berkeberatan ? Kau dapat memaksanya, ia tidak berhak menentukan pilihan apapun juga,” berkata Ki Lurah Branjangan.

    “Aku tidak dapat memaksanya,“ jawab Agung Sedayu.

    “Kau berhak memaksanya,” sahut Ki Lurah, “Ia adalah tawananmu.”

    “Bukan,” jawab Agung Sedayu cepat, “aku tidak ingin menawannya. Aku hanya ingin berbicara dengan orang itu. Siapakah ia dan apakah maksudnya. Apakah kepentinganku dengan orang itu sehingga aku harus menawannya?“

    “Ia sangat mencurigakan,” berkata Ki Lurah.

    “Setelah aku berhasil menemukannya ternyata kecurigaan kita tidak beralasan. Karena itu, silahkan Ki Lurah bertemu dengan orang itu. Sendiri seperti yang dimintanya,“ berkata Agung Sedayu.

    “Jangan hiraukan permintaannya,” berkata Ki Lurah, “aku yang mengambil keputusan disini bukan orang itu.”

    “Aku bertanggung jawab atas kata-kataku kepadanya. Aku hanya akan mempertemukan orang itu dengan Ki Lurah. Tidak dengan siapapun juga,” sahut Agung Sedayu.

    “Aku dapat menjatuhkan perintah. Aku mempunyai wewenang atas limpahan kuasa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga,” berkata Ki Lurah.

    “Jika demikian, terserah kepada Ki Lurah. Ambillah orang itu dan bawalah masuk kedalam barak,” desis Agung Sedayu.

    Ki Lurah terpaksa menahan gejolak jantungnya. Yang dihadapannya adalah Agung Sedayu. Bukan seorang Senapati Mataram yang memang berada dibawah perintahnya. Namun dalam kegeraman ia bergumam, “Kau memang tidak tepat untuk menjadi seorang Senapati.”

    “Sudah aku katakan sejak semula.” diluar sadarnya Agung Sedayu menjawab, “bahkan tidak pantas pula berada dilingkungan pasukan yang manapun juga.”

    Ki Lurah terkejut Agung Sedayu mempunyai kedudukan khusus dimata Senapati Ing Ngalaga. Jika anak muda itu memutuskan hubungan dengan pasukan khusus itu karena sikap Ki Lurah, maka Raden Sutawijaya tentu akan marah kepadanya.

    Karena itu. maka katanya, “Kali ini baiklah. Aku akan menemuinya. Tidak untuk selanjutnya kau dapat bertindak lebih tegas. Kaulah yang memutuskan apakah ia harus menghadap, atau dengan cara lain.”

    “Sekarang akupun telah memutuskannya,“ jawab Agung Sedayu, “orang itu tidak menghadap. Tetapi dengan cara lain.”

    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mencoba memahami akan pikiran Agung Sedayu. Sementara anak-anak muda yang berdiri disekitar mereka itupun termangu-mangu. Mereka belum pernah melihat sikap Agung Sedayu sekeras sikapnya waktu itu. Merekapun belum pernah melihat, keduanya berselisih pendapat.

    Namun dalam pada itu. Ki Lurah terpaksa memenuhi permintaan Agung Sedayu untuk datang kepada orang yang menunggunya didalam kegelapan. Tetapi Ki Lurah sudah berniat untuk menentukan sikap terhadap orang yang menjengkelkan itu. Jika ia mencurigainya. maka ia bertekad untuk meyakinkan agar Agung Sedayu menahannya.

    Ttdak seorangpun boleh mengikutinya. Kepada anak-anak muda itu Agung Sedayu berkata, “Tunggulah disini. Jangan melanggar pesanku, agar tidak terjadi sesuatu yang belum pernah terjadi di barak ini.”

    Dalam pada itu Agung Sedayu dan Ki Lurahpun menjadi semakin dekat dengan orang itu. Ketika orang itu beringsut selangkah. Ki Lurah berkata lantang, “Jangan lari. Jika kau tidak ingin mengalami kesulitan.”

    “Bukan orang itu yang mengalami kesulitan,“ potong Agung Sedayu, “tetapi kita.”

    Ki Lurah mengerutkan keningnya. Sikap Agung Sednyu terasa sangat aneh.

    Semakin dekat keduanya dengan orang itu, maka wajah Ki Lurah menjadi semakin tegang. Ia masih belum dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, sehingga ia masih belum dapat mengenalnya, siapakah orang yang telah membuat seisi barak itu menjadi berdebaran.

    “Nah,” berkata Agung Sedayu kemudian ketika keduanya sudah berdiri dihadapan orang itu, ”bertanyalah kepadanya dan cobalah Ki Lurah mengambil kesimpulan tentang orang itu.”

    Ki Lurah mengerutkan keningnya, “Pertanyaannya yang pertama adalah Siapa kau?”

    Tetapi orang itu justru mengulangi pertanyaan Ki Lurah, “Siapa aku? Cobalah Ki Lurah menyebutnya.”

    Wajah Ki Lurah berkerut pada dahinya. Namun hampir saja Ki Lurah membentaknya seandainya orang itu tidak berkata lebih lanjut, “Seharusnya Ki Lurah mengenal aku sejak kita bertemu didepan regol itu.”

    Ki Lurah bergeser mendekat dipandanginya wajah orang itu dengan seksama. Meskipun malam menjadi semakin gelap, namun ia masih berhasil mengenali orang itu. Dengan suara bergetar ia berkata, “Pangeran Benawa. Benarkah aku berhadapan dengan Pangeran Benawa?”

    Pangeran Benawa tersenyum. Jawabnya, “Ya. Kau berhadapan dengan Benawa Ki Lurah.”

    “O,“ Jantungnya terasa berdentangan. Sementara Pangeran Benawa berkata, “Sudahlah. tidak apa-apa. Karena itulah, maka aku tidak mau kau bawa kepada anak-anak muda itu. Mungkin anak-anak itu tidak akan mengenaliku tetapi beberapa orang Senapati Mataram yang bertugas di barak itu sebaiknya tidak perlu tahu bahwa aku pernah datang kemari.”

    “Aku, aku mohon maaf Pangeran,“ desis Ki Lurah.

    “Tidak. Kau tidak bersalah apa-apa.“ jawab Pangeran Benawa, “yang kau lakukan adalah wajar sekali. Bertanya tentang seseorang yang kau anggap belum mengenalnya. Baru kemudian kau tahu, bahwa kau berhadapan dengan aku.”

    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak perlu menyembunyikan perasaaaanku kepada Pangeran. Semula aku berniat untuk memaksa Pangeran datang kebarak. Agung Sedayu sama sekali tidak mengatakan bahwa yang kami hadapi sebenarnya adalah Pangeran.”

    “Sebenarnyalah anak-anak itu memang tidak perlu tahu. Semula akupun tidak berniat untuk singgah. Tetapi karena permintaan Agung Sedayu maka aku tidak dapat menolaknya. Ia ingin menunjukkan kepada anak-anak muda di barak itu, bahwa para penuntunnya adalah orang-orang yang mumpuni. Jika Agung Sedayu gagal membawa aku kemari, maka anak-anak muda itu akan sangat kecewa, dan menganggap bahwa orang yang mereka agung-agungkan ternyata tidak mampu mengatasi keadaan.”

    “Aku mengerti Pangeran,” Ki Lurah mengangguk-angguk, aku mengucapkan terima kasih. Sebenarnyalah dengan demikian anak-anak tetap menganggap bahwa Agung Sedayu adalah orang yang pilih tanding. Kecuali mereka mengetahui bahwa yang dihadapinya adalah Pangeran Benawa.”

    “Karena itu aku dapat dipaksanya untuk singgah, karena Agung Sedayu mengancam aku menyebut siapa sebenarnya aku,” jawab Pangeran Benawa.

    “Jika demikian, apakah yang akan Pangeran lakukan kemudian jika Pangeran tidak ingin singgah ke barak itu ?” bertanya Ki Lurah.

    “Aku ingin meneruskan perjalanan. Mudah-mudahan anak-anak di barak itu sudah puas melihat aku dibawa oleh Agung Sedayu menghadap Ki Lurah. Terserah kepada Ki Lurah. apa yang akan Ki Lurah katakan kepada anak-anak itu,” jawab Pangeran Benawa. Lalu katanya kepada Agung Sedayu, “Bukankah sudah cukup aku hadir sampai disini.”

    “Sudah. Sudah Pangeran. Sudah cukup. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Anak-anak itu sudah melihat bahwa aku berhasil membawa orang yang mereka curigai menghadap Ki Lurah, sehingga mereka tetap mempunyai keyakinan bahwa yang mereka hadapi sehari-hari tidak membuatnya sangat kecewa,” sahut Agung Sedayu, “karena sebenarnyalah, jika Pangeran tidak mau untuk singgah, aku terpaksa menyebut siapa sebenarnya Pangeran.”

    Pangeran itu tertawa pendek, Katanya, Ki Lurah. ternyata Agung Sedayu sekarang sudah dihinggapi penyakit mementingkan dirinya sendiri, meskipun ia menolak ketika aku menyebutnya demikian. Katanya Justru untuk kepentingan anak-anak muda di barak itu. Bagaimana tanggapan Ki Lurah.”

    “Aku sependapat dengan Agung Sedayu. Pangeran untuk kepentingan keperecyaan anak-anak itu, bukan saja kepada Agung Sedayu. tetapi kepada para penuntunnya secara umum,” jawab Ki Lurah.

    Pangeran Benawa tertawa pula. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, aku minta diri. Aku akan meneruskan perjalanan. Kemudian susunlah jawaban atas pertanyaan yang tentu akan dilontarkan oleh anak-anak itu kepada kalian berdua.”

    Ki Lurah teruwa pendek iapun sadar, bahwa seribu pertanyaan harus dijawabnya. Namun kemudian katanya, “Biarlah kami menjawab semua pertanyaan mereka.”

    Pangeran Benawapun tertawa pula. Kemudian sekali lagi ia minta diri kepada Agung Sedayu ia berpesan, “Berhati-hatilah menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasmu. Meskipun aku mengetahui serba sedikit tentang barak ini. aku tidak akan berceritera kepada siapapun di Pajang. Juga tentang pesan-pesanku sebelumnya kepadamu.”

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengerti maksud Pangeran Benawa. Ia tentu akan memperingatkan tentang pesannya. bahwa di dinding pegunungan itu terdapat sebuah gua. Kemudian pesan-pesannya bagaimana ia harus menyadap khasiat yang terdapat pada air yang mengalir digoa itu jika ia menginginkannya.”

    Karena itu. maka Agung Sedayupun menjawab, “Baiklah Pangeran. Aku akan mengingat segala pesan Pangeran.”

    Pangeran Benawapun mengangguk-angguk kecil. Kemudian iapun mulai beringsut sambil berkata, “Selamat malam Ki Lurah.”

    Ki Lurah Branjangan tidak dapat berbuat lain kecuali berdesis, “Selamat malam Pangeran.”

    Sekejap kemudian Pangeran Benawa itupun telah meloncat dan hilang didalam semak-semak yang rimbun.

    Anak-anak muda yang menyaksikan pembicaraan itu dari kejauhan, melihat meskipun tidak jelas, orang itu menghilang. Terasa jantung mereka tergetar, Agung Sedayu dan Ki Lurah sama sekali tidak berusaha mencegahnya.

    Dalam pada itu, Ki Lurahpun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak semula, bahwa yang kau jumpai itu adalah Pangeran Benawa.”

    “Bagaimana aku mengatakannya,“ sahut Agung Sedayu, “demikian aku mendekati regol. Anak-anak itu sudah mengerumuni aku.”

    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mendapat kesulitan menjawab pertanyaan anak-anak itu. Tetapi baiklah kita bersepakat mengatakan kepada anak-anak itu. bahwa setelah kita selidiki orang itu sama sekali tidak mempunyai kepentingan apapun dengan barak ini.”

    “Tetapi kenapa ia berkeliaran disini ?” bertanya Agung Sedayu.

    “Ya Kenapa?“ Ki Lurah mengulangi.

    “Sebut saja orang itu memang seorang yang kurang waras,” berkata Agung Sedayu.

    “Ah. apakah pantas kita menyebut demikian terhadap Pangeran Benawa,” bertanya Ki Lurah.

    “Justru untuk melindungi namanya. Jika tidak demikian kita akan terlalu banyak mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak itu,“ jawab Agung Sedayu.

    Ki Lurah termangu-mangu. Ia merasa ragu-ragu untuk menyebut Pangeran Benawa seperti yang dimaksud oleh Agung Sedayu. Meskipun demikian ia tidak menemukan jawaban yang lebih baik dari itu.

    Karena itu. maka katanya kemudian, “Baiklah Agung Sedayu. Tetapi kuamamang tidak mempunyai niat untuk menghinanya.

    Demikianlah, keduanyapun dengan berat melangkah kembali ke regol halaman barak mereka. Beberapa orang anak muda telahi menyongsongnya. Seperti yang mereka duga, maka pertanyaanpun segera mengalir dari mereka.

    “Kenapa orang itu dibiarkan pergi?“ bertanya salah seorang dari mereka.

    Sebelum pertanyaan itu dijawab, yang lain telah bertanya pula, “Siapakah sebenarnya orang itu ? Apakah benar ia orang Tanah Perdikan ini ?”

    Ki Lurah Branjanganlah yang kemudian menjawab, “Anak-anak. Ternyata kita tidak dapat berbuat apa-apa atas orang itu. Setelah kami bertemu dan berbicara dengan orang itu. ternyata orang itu adalah orang yang kurang waras.”

    “Ah, mustahil.” bentak seorang anak muda, “ketika kami berbicara dengan orang itu, sama sekali tidak nampak gejala-gejala kegilaan pada orang itu.”

    “Mungkin kalian tidak dapat menangkap gejala itu,“ desis Agung Sedayu. Lalu, “Tetapi aku tidak ingkar bahwa ia memang memiliki sesuatu yang dapat menggetarkan kalian. Ia memang memiliki kemampuan berlari dan bersembunyi. Tetapi sebenarnyalah kemampuannya tidak setinggi yang kalian duga. Kamipun dapat melakukan seperti orang dilakukannya. Berlari secepat-cepatnya menyusup semak-semak.”

    “Tetapi ia dapat seolah-olah hilang begitu saja,“ berkata yang lain.

    “Itu menurut perasaanmu ia memang mampu berlari cepat sekali. Ia sama sekali tidak bersembunyi seperti yang kalian duga. Tetapi ia berlari sejauh-jauhnya. Untuk itu aku harus mengejarnya,“ berkata Agung Sedayu kemudian.

    Anak-anak itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Agung Sedayu berusaha menjelaskan, “Kalian telah terpengaruh lebih dahulu sebelum kalian mulai mengejar orang itu. Jika perasaan itu tidak ada, maka kalian tidak akan terjebak kedalam keragu-raguan sehingga kalian mencari orang itu diseputar tempat yang kalian anggap, menjadi tempat persembunyiannya.”

    Anak-anak itu mengangguk-angguk. Namun seorang yang lain bertanya, “Bagaimanapun juga, kenapa orang itu tidak dibawa saja kemari?”

    “Tidak perlu,” Jawab Ki Lurah. “Semula akupun kecewa, bahwa Agung Sedayu tidak membawanya kemari. Tetapi dalam tekanan pertanyaan-pertanyaan yang berat, orang itu berbicara dengan tidak sadar ia mengucapkan kata-kata kotor dan tidak pantas kalian dengar. Ternyata kemudian aku setuju, bahwa orang itu tidak kami bawa masuk ke barak.”

    Anak-anak muda itu tidak bertanya lagi. Dua orang Senopati Mataram yang kemudian berada diantara anak-anak muda itu sama sekali tidak bertanya. Namun setelah mereka berada didalam, salah seorang bertanya kepada Ki Lurah, “Ki Lurah, apakah orang itu perlu mendapat perlindungan, apakah nama, kedudukan dan barangkali lingkungannya ?”

    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu seperti jawabannya kepada anak-anak muda di barak itu.

    Karena itu. untuk sesaat Ki Lurah Branjangan justru tidak menjawab. Dipandanginya kedua Senopati itu berganti-ganti. Pada sorot mata mereka, Ki Lurah melihat gejolak perasaan mereka.

    Namun, justru karena itu. maka Ki Lurahpun kemudian menjawab, “Siapa sebenarnya orang itu. tidak perlu diketahui. Tetapi orang itu tidak akan mengganggu anak-anak kita lagi.”

    Kedua Senapati itupun mengangguk-angguk. Mereka tidak akan dapat memaksa Ki Lurah untuk mengatakan siapakah orang itu sebenarnya.

    Dalam pada itu. sebenarnyalah anak-anak muda di barak itu telah mempertimbangkan peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka memang merasa heran bahwa orang yang mereka curgai itu telah dilepaskan begitu saja.

    “Tidak terlalu sulit untuk berpura-pura gila,” desis salah seorang diantara mereka.

    “Akupun dapat mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor agar aku disangka gila,“ sahut yang lain, “tetapi gila atau tidak, orang itu sebenarnya perlu dibawa ke barak ini.”

    “Entalah,“ berkata yang lain lagi, “Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu tentu mempunyai perhitungan yang lebih baik dari kita. Mungkin Agung Sedayu sengaja melepaskannya justru setelah ia menunjukkan bahwa Agung Sedayu mempunyai kemampuan melampaui orang itu. Dengan demikian, maka orang itu akan membuat laporan tentang kenyataan yang dihadapinya, sehingga orang itu tidak akan merendahkan kita semuanya.”

    “Mungkin sekali,” desis kawannya, “jika orang itu ingin mengukur kemampuan barak ini. ia harus memperhitungkan Agung Sedayu. Jika orang itu tidak dilepas dengan sikap sedikit sombong, mungkin ia tidak akan mendapat kesan yang mendebarkan jantung mereka, seolah olah isi barak ini sama sekali tidak gentar menghadapi kekuatan yang manapun juga.

    Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, mereka menjadi semakin mengagumi Agung Sedayu. Beberapa orang diantara mereka tidak mampu menemukan orang itu. Namun sebagaimana mereka duga bahwa Agung Sedayu akan dapat menyelesaikannya. meskipun akhir dari persoalan itupun masih merupakan teka-teki. Namun mereka tidak lagi ragu-ragu. apa yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu. Bahwa Agung Sedayu mampu membunuh Ajar Tal Pilu bagi kebanyakan mereka barulah merupakan ceritera meskipun diantara anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh yang sempat menyaksikan apa yang telah ternjadi. Tetapi peristiwa kecil dengan orang yang disebut gila itu telah memperkuat keyakinan mereka. Jika Agung Sedayu tidak berhasil membawa orang itu kembali ke barak, maka tentu akan timbul keragu-raguan, apakah benar Ajar Tal Pitu adalah orang yang pilih tanding seperti yang mereka dengar.

    Dalam pada itu. pada saat saat kepercayaan anak-anak muda itu utuh terhadap Agung Sedayu, maka sampailah soalnya anak-anak muda yang lain akan dalang menyusul. Karena itulah. maka barak itu terasa menjadi sibuk. Anak-anak muda yang terdahulu akan ikut menerima anak-anak muda yang akan menyusul. Mereka akan ikut membantu menentukan susunan sementara pasukan khusus didalam barak itu. Anak-anak muda yang datang terdahulu itu, akan berada didalam jenjang kepemimpinan.

    Pada saat-saat yang demikian itulah, maka Agung Sedayu menganggap bahwa kehadirannya tidak sangat penting didalam barak itu. Pada saatnya kemudian ia akan menerima segala macam tugas yang akan dibebankan kepadanya. Tetapi ia tidak merasa perlu untuk ikut menyusun tataran tubuh pasakan khusus itu sendiri.

    Ketika ia mengatakan hal itu kepada Ki Lurah, maka Ki Lurah itupun menjawab, “Ah, bukan begitu anakmas. Tentu kau sangat diperlukan. Kau mengenal banyak lingkungan anak-anak muda. Tentu pendapatmu akan sangat penting bagi kami.”

    “Ki Lurah,“ berkata Agung Sedayu, “pada hari-hari pertama, yang akan dilakukan dalam barak ini barulah membagi anak-anak itu. dimana mereka akan tidur. Aku tidak akan lama pergi. Tidak lebih dari sepekan. Selama waktu itu. mungkin anak-anak muda dari daerah-daerah itu masih belum lengkap hadir di barak ini.”

    “Kau akan pergi kemaaa ngger ?“ bertanya Ki Lurah.

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Aku memerlukan waktu bagi kepentinganku sendiri. Bukan berarti bahwa aku sudah mementingkan diriku sendiri tanpa menghiraukan kepentingan yang lebih besar, tetapi justru pada saat-aaat senggang aku memerlukan waktu barang sepekan.”

    Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Agaknya waktu yang demikian memang tidak banyak yang harus dikerjakan oleh Agung Sedayu. Mereka akan menerima anak-anak muda dari berbagai daerah. Hal itu akan dapat dilakukan oleh anak-anak muda yang telah datang terdahulu. Sementara itu Agung Sedayu dapat melakukan satu hal yang mungkin penting bagi dirinya sendiri.

    Karena itu. maka Ki Lurah itupun kemudian berkata, “Baiklah anakmas. Tetapi jangan lebih dari sepekan. Mungkin ada hal-hal yang perlu kita bicarakan bersama.

    “Dalam keadaan yang mendesak. Ki Waskita dan Ki Gede akan dapat membantu memecahkan persoalan, selain sepuluh orang pimpinan tertinggi dari pasukan khusus ini yang ditunjuk oleh Raden Sutawijaya.“ jawab Agung Sedayu.

    “Kami tentu tidak akan dapat mencegah angger melakukan sesuatu yang barangkali sangat penting bagimu,“ berkata Ki Lurah Branjangan lalu, “karena itu silahkan anakmas. Tetapi jangan lebih dari sepekan.”

    Agung Sedayu tersenyum. Lalu katanya, “Terima kasih Ki Lurah. Aku akan pergi sejak esok pagi.”

    Malam itu. Agung Sedayupun telah minta diri pula kepada Ki Waskita dan Ki Gede. Ternyata kepada kedua orang itu, Agung Sedayu tidak menyembunyikan kepentinngannya yang sebenarnya, meskipun dengan pesan, bahwa tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

    “Aneh,” desis Ki Gede, “aku adalah orang Tanah Perdikan ini sejak bayi. Tetapi aku belum pernah mendengar ceritera yang mengerikan itu.”

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya Ki Gede adalah Kepala Tanah Perdikan itu. Namun ternyata bahwa ia tidak mengerti tentang goa di dinding kelir itu.

    Tetapi dalam pada itu Ki Gedepun berkata, “Tetapi hal itu tidak mustahil. Jika orang yang ditemui oleh Pangeran Benawa itu adalah seorang dukun tua yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan jauh lebih luas dari aku, maka apa yang diketahuinya mungkin sekali tidak aku ketahui. Tetapi dukun itu yang disebut Pangeran Benawa itupun tidak aku kenal. Baik namanya maupun tempat tinggalnya.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku tidak tahu, apakah Pangeran Benawa mengatakan yang sebenarnya atau ia telah membuat satu ceritera tersendiri. Meskipun demikian aku percaya kepadanya, bahwa ia tentu bermaksud baik.”

    “Tetapi berhati-hatilah,” pesan Ki Waskita, “mudah-mudahan kau dapat melakukan seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa dan mendapat hasil seperti yang dimaksudkannya pula.”

    Demikianlah, maka pagi-pagi berikutnya Agung Sedayupun segera berangkat ia tidak langsung pergi ke bagun atas bukit yang mempunyai dinding datar seperti yang dimaksud. Namun ia telah pergi ke hutan di depan dinding itu.

    Dari hutan itu ia dapat melihat dinding yang datar seperti kelir. Kemudian ia melihat ditengah-tengah dinding yang datar itu terdapat sebuah goa. Goa yang sulit untuk dicapai, karena tidak ada jalan yang memanjat dari bawah goa itu. Satu-satunya jalan untuk menuju goa itu adalah seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa. Dengan tali yang diikat pada sebatang pohon diatas goa itu.

    Karena itu. maka Agung Sedayu memerlukan sebuah tali ijuk yang kuat. Dengan memberikan kesan yang lain tentang dirinya. Agung Sedayu terpaksa keluar dari hutan itu lagi dan pergi ke pasar terdekat.

    Tidak seorangpun yang mencurigainya. Banyak orang yang membeli tali ijuk untuk berbagai keperluan.

    Baru dengan tali ijuk itu Agung Sedayu memanjat tebing naik kebagian atas dari bukit yang berdinding datar itu.

    Ternyata seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa. di hutan diatas dinding yang datar itu memang terdapat sebuah tonggak dari sebatang kayu raksasa. Namun dalam pada itu, disebelah menyebelah tonggak itupun masih terdapat pepohonan yang besar meskipun tidak sebesar pokok kayu yang sudah mengering itu.

    “Kayu inilah yang disebut dengan pohon hantu itu. berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Sebenarnyalah, ia menduga, bahwa pohon itu mungkin sekali telah disambar petir, sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Benawa. bahwa petir itulah yang dimaksud dengan raja ular bertubuh api dari langit.

    Sejenak Agung Sedayu duduk disebelah pohon kayu yang sudah kering itu sambil meneliti tali ijuknya. Mungkin tali itu ada yang cacat sehingga membahayakannya.

    Namun dalam pada itu. Tiba-tiba saja jantungnya berdesir ketika ia melihat seekor ular berwarna hitam kelam meluncur di sebelah kakinya. Ular itu tidak terlalu besar. Tidak lebih dari pergelangan tangan. Tetapi ular itu terlalu pendek. Ular sebesar pergelangan tangan itu panjangnya tidak lebih dari dua jengkal. Bahkan kepala dan ekornyapun hampir tidak dapat dibedakan. Namun karena lidah ular itu kadang-kadang terjulur, maka Agung Sedayu pun tahu. dimana letak kepalanya seandainya ular itu tidak merayap maju.

    “Ular kendang,“ desis Agung Sedayu. Dan Agung Sedayupun sadar, ular itu mempunyai ketajaman racun seperti ular bandotan.

    Karena itu. maka Agung Sedayu sama sekali tidak berani bergerak Ia harus menunggu ular itu menjadi semakin jauh. Baru kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdiri.

    Sambil memandang kesebelah menyebelah. maka Agung Sedayupun menyadari, tentu banyak binatang berbisa berada disekitar tempat itu. Tempat yang semula menjadi daerah maut bagi binatang-binatang berbisa itu. Namun yang kemudian karena pohon hantu itu sudah tidak ada. maka binatang-binatang itu tidak takut lagi berkeliaran di tempat itu.

    Jantung Agung Sedayu berdesir ketika ia melihat seekor laba-laba berwarna biru mengkilap merambat disebatang pohon kecil disebelah salah satu dari pohon raksasa yang tumbuh disekitar tonggak itu. Laba-laba yang mempunyai racun tidak kalah kuatnya dari seekor ular.

    Namun untunglah, bahwa Agung Sedayu membawa bekal obat untuk melawan racun. Meskipun ia tidak kebal racun, namun jika salah seekor binatang beracun itu menggigitnya, maka ia akan dapat meogobatinya.

    Dalam pada itu. dengan hati-hati Agung Sedayupun telah memasang tali ijuknya berjuntai sampai kemulut goa. Ia yakin bahwa tidak akan ada orang yang berada dihutan dihadapan dinding yang datar seperu kelir itu dan menyaksikannya. Meskipun demikian Agung Sedayu menunggu matahari turun rendah disebelah barat.

    “Tiga hari tiga malam,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Karena ia tidak mulai dari pagi hari. maka iapun menganggap bahwa ia harus mengakhiri waktu yang tiga hari tiga malam itu pada saat matahari telah turun pula.

    Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu itupun mulai menuruni tali ijuknya. Dengan sangat hati-hati ia merayap pada tali ijuknya di wajah lereng yang datar seperti kelir itu.

    Ternyata Agung Sedayu memerlukan waktu yang tidak terlalu cepat. Mulut goa itu tidak terlalu dekat dengan puncak bukit itu. Karena itu. maka rasa-rasanya tangannya menjadi sangat pedih dan panas, sementara keringatnyapun mulai membasahi seluruh pakaiannya.

    Karena itulah, agar tangannya tidak terkelupas, maka Agung Sedayu terpaksa mempergunakan ilmu kebalnya, sehingga dengan demikian maka tangannya itu tidak terluka justru karena ia menelusuri tali ijuk yang masih baru dan tajam.

    “Tali dari sabut tentu lebih lunak,” berkata Agung Sedayu didalam hati, “tetapi tali dari ijuk akan lebih kuat.”

    Demikianlah, maka setelah menelusur turun beberapa lamanya, akhirnya Agung Sedayupun sampai juga kemulut goa. Dengan hati-hati ia meloncat dan berdiri di bibir goa yang mulai gelap itu.

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. ia memperhatikan sisa sinar matahari yang jatuh di hutan dihadapan goa itu. Nampaknya hutan itu terlalu rendah. Ujung pepohonan yang paling tinggipun tidak dapat menggapai mulut goa di dinding kelir itu.

    Pada hari yang ketiga. Agung Sedayu akan berada di goa itu sampai sinar matahari jatuh di hutan di hadapan goa itu sebagaimana dilihatnya. Baru ia menggenapi saat yang tiga hari tiga malam itu.

    Setelah ia mengamati sisa sinar matahari, maka iapun mulai memperhatikan goa itu. Goa yang ternyata cukup besar. Ketika ia berada di hutan dibawah goa itu, nampaknya mulut goa itu hanya kecil saja. Namun ternyata ketika ia sudah berada dimulut goa itu. ia menyadari bahwa goa itu bukannya goa yang sempit.

    “Aku tidak boleh terluka oleh apapun juga sebelum tiga hari tiga malam,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

    Sebenarnya dinding goa itu terdiri dari batu batu padas. Jika tubuhnya tergores oleh batu-batu padas itu. maka kulitnya memang akan lerluka. Dan menurut Pangeran Benawa ia harus merendam luka itu didalam air yang mengalir di dalam goa itu. yang ternyata menghilang menjelang ke mulut goa.

    Untuk menjaga segala kemungkinan. maka Agung Sedayu masih saja mengetrapkan ilmu kebalnya. Dengan demikian maka ia tidak akan terluka meskipun terjadi sentuhan-sentuhan yang agak keras dengan dinding goa. atau mungkin telapak kakinya menginjak ujung yang runcing.

    Sejenak kemudian. maka Agung Sedayupun mulai merayap memasuki goa yang gelap itu. Jauh lebih gelap dari udara diluar yang masih disentuh oleh sisa sinar matahari yang menjadi sangat rendah diujung Barat.

    “Kaki ini belum menyentuh air,“ desis Agung Sedayu.

    Ternyata bahwa air di goa itu menghilang kedalam tanah tidak terlalu dekat dengan mulut goa.

    Sebenarnyalah, beberapa puluh langkah kemudian. Agung Sedayu telah mendengar desir air. Karena itu. maka iapun menyadari, bahwa ia telah sampai kebagian yang dimaksud oleh Pangeran Benawa.

    Karena Agung Sedayu hanya memerlukan air yang harus diminumnya selama tiga hari tiga malam ia berada di goa itu. maka pada hari yang pertama itu. ia tidak ingin memasuki goa itu lebih dalam. Ketika ia mulai menyentuh air. maka iapun kemudian mencuci wajahnya dengan air yang mengalir di dalam goa itu. Alangkah segarnya.

    Ketika Agung Sedayu kemudian mencakup air dengan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya kemulutnya. Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Tetapi keragu-raguan itu hanya sesaat ia sadar, bahwa Pangeran Benawa tentu tidak akan menipunya. Karena jika Pangeran Benawa ingin mencelakainya, ia tidak perlu mengambil jalan melingkar lingkar. Dimanapun. kapanpun ia akan dapat melakukannya.

    Karena itu. maka Agung Sedayupun kemudian telah meneguk air yang mengalir didalam goa itu.

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Terasa air itu agak pahit. Namun air itu telah menyegarkan tubuhnya pula. Bahkan kemudian terasa seolah-olah sesuatu tetah menjalari urat darahnya.

    Agung Sedayupun kemudian mencari tempat untuk duduk. Sejenak ia merenungi keadaannya. Ketika ia meraba dinding goa itu dan alasnya, maka batu-batu padas tidak lagi terasa runcing dan tajam. Meskipun demikian Agung Sedayu masih juga merasa aman dalam pengetrapan ilmu kebalnya.

    Malam yang kemudian turun, membuat goa itu semakin pekat. Agung Sedayu tidak dapat melihat keadaan disekitarnya. Tetapi ia dapat melihat lubang mulut goa. karena di luar udara lebih terang dari kegelapan didalam goa.

    Hampir semalam suntuk Agung Sedayu tidak tidur. Namun menjelang pagi ia dapat tidur sejenak sambil bersandar dinding goa. meskipun udara terasa lembab dan dingin.

    Ketika Agung Sedayu membuka matanya, ia merasa aneh. Hampir sehari semalam ia tidak makan sama sekali. Tetapi ia tidak merasa lapar. Seolah-olah air yang mengalir didalam goa itu mengandung makanan yang dapat membuatnya tidak merasa lapar.

    Ketika kemudian matahari terbit, maka mulailah Agung Sedayu sempat mengamati keadaan goa itu. Semakin tinggi matahari, semakin jelas apa yang nampak didalam goa.

    Terasa tengkuk Agung Sedayu meremang. Ternyata di bagian goa yang lebih dalam lagi itu dilihatnya akar pepohonan yang silang menyilang. Akar yang tembus dari dinding yang sebelah menyusup dinding diseberang. Namun demikian. Jika ia menghendaki, maka ia akan dapat menyusup lewat disela-sela akar pepohonan itu memasuki goa lebih dalam lagi.

    Tetapi Agung Sedayu belum berminat untuk masuk kedalam. Ia masih tetap duduk di tempatnya tidak terlalu jauh dari mulut goa.

    Namun demikian. ia tidak lupa untuk meneguk air yang mengalir di alas goa itu. Seteguk demi seteguk. Dan setiap kali ia merasa sesuatu mengalir di urat darahnya.

    Namun dalam pada itu. Tiba-tiba saja Agung Sedayu teringat kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapa Ing Ngalaga. Ia dapat melakukan dua tiga laku sekaligus.

    “Daripada aku hanya duduk saja sambil minum seteguk demi seteguk. tentu aku dapat memanfaatkan waktu,“ desis Agung Sedayu.

    Tiba-tiba saja dipandanginya akar-akar pepohonan yang silang menyilang didalam goa itu. Karena ingatannya kepada laku yang lain yang dapat diperbuauiya didalam goa itu. maka Agung Sedayu itupun sudah bangkit. Perlahan-lahan ia melangkah memasuki goa itu lebih dalam lagi. Ketika ia sampai diantara akar-akar pepohonan yang silang melintang, maka iapun berusaha untuk dapat menyusup di sela-sela akar pepohonan itu.

    Di beberapa bagian, terdapat tempat yang agak lapang, sementara air dibawah kakinya justru menjadi lebih besar.

    Agaknya alas goa ini berlubang-lubang,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “sebagian dari airnya meresap hilang didalam tanah.”

    Agung Sedayu tertegun ketika pada satu tempat ia melihat goa itu bercabang. Satu cabang kekiri, yang lain menjelujur lurus kedepan.

    Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu ia harus memilih. Atau barangkali ia akan menjenguk yang satu kemudian kembali untuk melihat cabang yang lain.

    Namun dalam pada itu, Agung Sedayu tiba-tiba saja telah memperhatikan air dibawah kakinya. Ternyata sebagian besar air itu mengalir dari arah cabang yang menjelujur kekiri.

    “Aku akan melihat apa yaag ada di dalam lubang ini lebih dahulu,“ berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

    Namun demikian, ia menganggap babwa ia harus minum air setelah kedua arus air dari kedua cabang itu bertemu, karena ia tidak tahu pasti apakah kedua aliran itu mempunyai khasiat yang sama.

    Meskipun demikian Agung Sedayu telah memasuki lubang yang bercabang ke kiri. Betapa gelapnya lubang itu. Namun Agung Sedayu mempunyai kelebihan dari tangkapan tatapan mata orang kebanyakan. Meskipun gelap sangat pekat, tetapi Agung Sedayu masih dapat melihat bayangan didalam kegelapan itu. Sehingga dengan demikian. maka ia masih saja merayap lebih dalam lagi.

    Langkahnya kemudiaa tertegun ketika ia melihat lubang itu menjadi semakin besar, sehingga akhirnya ia telah memasuki ruang yang luas dibawah tanah di dalam sebuah bukit.

    “Luar biasa,” desisnya. Lubang itu ternyata lebih luas dari lubang yang pernah di ketemukannya di Jati Anom, goa yang pada dindingnya terpahat lukisan dan lambang lambang tata gerak dan ilmu kanuragan dalam jalur ilmu Ki Sadewa.

    Yang lebih mendebarkan jantungnya. ternyata di dasar ruangan di dalam goa itu ternyata terdapat sebuah kolam.

    Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Dengan ketajaman penglihatannya ia melihat sebuah kolam yang ditebari dengan bebatuan yang besar berbongkah bongkah. Sementara pada dinding goa itu nampak akar pepohonan yang mencuat dan menjulur silang melintang.

    “Aku dapat memanfaatkan keadaan ini,“ berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

    Karena itulah, maka Agung Sedayupun telah mempunyai rencana tersendiri. Meskipun setiap kali ia harus berjalan kelubong goa itu bercabang dan minum seteguk air. namun ia kemudian ingin berada di ruang yang luas dengan sebuah kolam air berbatu-batu itu.

    Dalam pada itu, maka Agung Sedayupun telah melepaskan kain panjang dan bajunya. Justru karena ia yakin tidak ada seorangpun didalam goa itu. Dengan ketajaman ingatannya. maka iapun mulai menelusuri isi kitab Ki Wsskita. ia ingin memahami sebagian dari isi kitab itu. untuk mendapatkan, kemungkinan seolah-olah tubuhnja menjadi lebih ringan ia sudah berhasil menyerap bunyi jika dikehendaki. Dan usahanya kemudian disamping mengikuti petunjuk Pangeran Benawa. Iapun ingin mendapatkan kekuatan baru seolah-olah dapat memperingan tubuhnya.

    Pada hari yang kedua itulah. Agung Sedayu mulai dengan usahanya untuk memantapkan ilmu memperingan tubuh. Ia mulai dengan berloncat-loncatan diatas bebatuan dalam gelap yang pekat. Semakin lama semakin cepat. Meskipun tidak dengan serta merta. Karena untuk mendapatkan kemampuan memperingan tubuh, menurut isi kitab Ki Waskita. Sebenarnyalah Agung Sedayu harus mampu mengatur dengan tepat, kemampuan gerak, kecepatan dengan imbangan kekuatan cadangan yang ada didalam dirinya. Dengan demikian, maka lontaran tenaga yang seimbang dengan kecepatan gerak pada alas tenaga cadangannya itu seolah-olah telah membuat tubuhnya dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.

    Demikianlah, dalam kesempatan itu. Agung Sedayu telah berusaha menekuni untuk menemukan dan memahami keseimbangan itu. Jika ia berhasil, maka ketika untuk selaniutnya tinggallah mematangkannya.

    Dengan tekun dan tidak mengenal lelah. Agung Sedayu melakukannya didalam kitab Ki Waskita. Sehingga dengan demikian. maka perlahan-lahan terasa oleh Agung Sedayu, bahwa ia akan menemukan keseimbangan itu.

    Karena itu. maka iapun menjadi semakin berusaha dengan sungguh-sungguh. Tidak henti-hentinya berloncatan didalam gelap.

    Meskipun demikian Agung Sedayu tidak melupakan pesan Pangeran Benawa. Setiap kali ia telah melangkah ke cabang goa itu untuk meneguk air seperti yang pernah dilakukannya. Air itu masih tetap terasa agak pahit. Namun setiap kali ia masih tetap merasa seolah-olah air itu mengaliri seluruh urat darahnya.

    Agung Sedayu telah melakukan latihan-latihannya untuk menemukan kemampuan memperingan tubuh itu. tidak saja sehari penuh bahkan sampai malam turun, ia masih tetap melakukannya. Namun ia tetap menyadari bahwa malam telah tiba untuk kedua kalinya selama ia berada didalam goa itu. Ketika ia berada di cabang gua itu maka ia melihat perubahan cahaya di mulut goa yang nampaknya menjadi sempit, dibalik sulur dan akar kekayuan yang saling melintang.

    Namun dalam pada itu, Agung Sedayupun menjadi yakin, bukan air yang rasanya agak pahit itu memang mengandung khasiat yang mempengaruhi tubuhnya. Bukan saja arus yang rasa-rasanya menjalari urat darahnya. tetapi ia benar-benar tidak menjadi lapar. Meskipun ia berlatih dengan memeras keringat diudara yang lembab dingin itu. namun rasa-rasanya ia tetap tidak menjadi lapar sama sekali.

    Demikianlah, maka hari kedua setelah malam kedua lewat. Agung Sedayu masih tetap menekuni usahanya untuk menemukan kemampuan memperingan tubuhnya. Sebenarnyalah pada hari kedua itu. usahanya sudah mulai nampak. Keseimbangan itu sudah dekat sekali. Rasa-rasanya didalam dirinya sudah diketemukan takaran untuk mendukung kemampuan gerak, kecepatan dan ketrampilannya dengan dukungan tenaga cadangan dalam keseimbangan yang tepat.

    Karena itu, maka pada hari kedua itu, ia menjadi semakin cepat dan tangkas. Kakinya seolah-olah tidak lagi menyentuh bebatuan. Bahkan seakan-akan baru ujung jarinya sajalah yang menyentuh batu. maka tubuhnya telah melenting jauh.

    Ketika senja turun maka Agung Sedayupun menjadi yakin dengan tuntunan isi kitab Ki Waskita, maka ia telah sampai pada satu kemampuan untuk seolah-olah membuat tubuhnya menjadi ringan.

    Karena itulah, maka meskipun kemudian malam turun. Agung Sedayu tidak menghentikan usahanya. Malam tinggal satu lagi. Dan ia harus memanfaatkannya sebaik-baiknya. Sitelah malam terakhir dan sehari tiga malam. Mungkin ia dapat lebih lama lagi berada didalam goa itu. Tetapi apakah dengan demikian dapat berpengaruh pada dirinya, pada wadagnya. Justru karena ia telah minum dengan takaran yang terlalu banyak.

    Karena iti. malam dan hari yang tersisa itu dipergunakannya sebaik-baiknya untuk menyelesaikan laku yang kedua yang sekaligus ditempuhnya didalam.

    Dengan tekun dan tidak mengenal lelah. Agung Sedayu mengulang-ulang apa yang telah dicapainya. Setapak demi setapak ia medapatkan kemajuan. Tubuhnya dalam sikap yang dikehendakinya, terasa menjadi semakin ringan dalam keseimbangan yang tepat, maka seakan-akan ia mampu mlenting tanpa bobot badannya.

    Keseimbangan yang telah dicapainya itu dilakukannya berulang-ulang. Berulang-ulang. Sehingga akhirnya Agung Sedayu yakin, bahwa ia telah berhasil menguasai ilmu yang dikehendakinya. Salah satu dari ilmu yang disadapnya dan isi kitab Ki Waskita.

    Betapa kelelahan kemudian mencengkam tubuh Agung Sedayu. Namun kemadian kebanggaan telah mekar di jantungnya ia telah mampu menguasai ilmu memperingan tubuhnya. Jika kelak ia keluar dari goa itu. maka yang dilakukannya hanya mengulang-ulang dan memantapkannya. Tetapi persoalannya telah dapat dikuasainya sebaik-baiknya.

    Dalam pada itu. maka iapun tidak lupa untuk selalu meneguk air di tempat goa itu bercabang agar ia tidak salah memilih. Mungkin air didalam kolam itu tidak mempunyai khasiat apapun, karena air yang mempunyai khasiat adalah air yang mengalir di jalur sebelah meski pun arusnya lebih kecil.

    Sisa malam dan hari berikutnya telah dipergunakan oleh Agung Sedayu sebaik-baiknya. Namun ketika ia yakin bahwa ia sudah selesai dengan laku dalam pencapaian ilmu memperingan tubuh, maka iapun sempat untuk benstirahat menjelang akhir hari yang ke tiga setelah malam ketiga lampau.

    Tetapi rasa-rasanya ia tidak dapat duduk tenang di alas bebatuan didalam ruang yang berkolam itu. Karena itu. maka iapun telah keluar dari jalur yang bercabang kekiri itu, untuk menelusuri jalur yang menjelujur lurus. Namun akhirnya ia tertahan oleh akar-akar pepohonan yang menjadi semakin pepat. Tidak ada lubang yang dapat ditembus untuk sampai kebelakang akar yang silang menyilang itu.

    Karena itu. maka Agung Sedayupun kemadian kembali kedekat mulut gua sambil menunggu hari berakhir. Tidak ada lagi yang dikerjakannya selain setiap kali meneguk air yang mengalir dihadapannya.

    Ketika matahari telah menjadi semakin redah, maka Agung Sedayupun merasa bahwa laku yang pertama kehadirannya didalam goa itupun telah selesai dilakukannya. Ia sudah berada didalam goa itu tiga hari tiga malam penuh. Ia mulai pada menjelang senja hari dan iapun mengakhiri pada waktu yang sama tiga hari kemudian.

    Sambil meneguk air didalam gua itu sekali lagi. maka Agung Sedayupun kemudian melangkah kemulut goa ia melihat sinar matahari yang tersisa tepat seperti saat ia memasuki gon itu.

    Ketika ia kemudian berdiri dimulut goa. terasa betapa udara yang sejuk berhembus menyentuh wajahnya. Angin sumilir telah menyapu dinding pegunungan yang datar seperti kelir itu. Dibawah mulut goa. dedaunan nampak bergoyang dalam permainan angin menjelang senja.

    Sejenak Agung Sedayu memondang kesekelilingnya. Kemudian iapun menatap tali ijuknya yang masih bergayut pada sebatang pohon dan terurai di mulut goa. Ia akan memanjat tali itu sebagaimana ia pernah menuruninya.

    Agung Sedayu masih mempunyai waktu sedikit sebelum gelap menjadi semakin muram di perbukitan itu. Karena itu. maka iapun kemudian meraba tali ijuknya. Meyakinkannya bahwa tali itu tidak akan putus atau terlepas.

    Kemudian masih dalam pengetrapan ilmu kebalnya, maka iapun mulai memanjat. Namun demikian kakinya terlepas dari bibir goa, terasa tubuhnya memanjat menjadi jauh lebih ringan. Sentuhan tangannya pada tali. dengan keseimbangan yang mapan antara kekuatan, ketrampilan. kemampuan Ilmu dan dorongan tenaga cadangan telah membuatnya seakan-akan tidak berbobot lagi.

    Karena itu. maka dengan mudah dan cepat ia memanjat tali ijuknya. Beberapa saat. kemudian, maka iapun telah sampai kepuncak bukit, kepokok sebatang pohon raksasa yang telah mengering diantara beberapa batang pohon raksasa yang lain. meskipun tidak sebesar pokok yang telah kering itu.

    Demikian Agung Sedayu menginjakkan kakinya pada akar pepohonan yang kering itu. maka iapun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwn Yang Maha Agung telah melindunginya selama ia berada didalam goa itu. Bahkan ia telah diperkenankan untuk menyelesaikan dua laku sekaligus.

    “Tuhan memang Maha Besar,” desisnya. Sejenak Agung Sedayupun kemudian beristirahat. Meskipun malam kemudian turun, namun Agung Sedayu dengan kemampuan penglihatannya yang tajam, tidak akan kehilangan jalan menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

    Tetapi Agung Sedayu tidak tergesa-gesa ia berada di puncak bukit itu semalam suntuk. Ia sadar bahwa ditempat itu terdapat banyak sekali binatang berbisa. Namun iapun tahu. tanpa melakukan sesuatu yang mengejutkan binatang-binatang itu, biasanya binatang itu tidak akan menggigit.

    Namun akan lebih aman baginya untuk tetap mengetrapkan ilmu kebalnya sehingga binatang berbisa itu tidak akan dapat melukai kulitnya. ia masih belum berani mencoba kekebalannya terhadap bisa. karena ia masih belum meyakinkannya.

    Baru menjelang fajar, setelah membenahi pakaiannya. Agung Sedayupun kemudian meninggalkan pokok sebatng pohon raksasa yang sudah mengering itu. Dengan kemampuan penglihatannya yang sangat tajam melampaui ketajaman penglihatan orang kebanyakan, maka Agung Sedayupun menuruni bukit dan langsung menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Manoreh.

    Dalam pada itu. ketika ia berada di bulak panjang. Ia merasa mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuannya di ruang yang lepas bebas. Apakah kemampuannya memperingan tubuh yang di dalamnya di sebuah ruang yang sempit itu bukan sekedar kemampuan semu.

    Dalam kegelapan menjelang dini hari Agung Sedayu telah berlari di bulak panjang. Ternyata bahwa ia benar-benar mampu membuat tubuhnya menjadi seolah-olah tidak berbobot. Sehingga karena itu. maka iapun mampu bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

    Untunglah, tidak ada seorangpun yang melihatnya berlari di bulak panjang. Sehingga dengan demikian tidak menimbulkan kebingungan dari orang yang melihatnya itu.

    Dengan demikian, maka perjalanan Agung Sedayu menjadi jauh lebih cepat. Ia telah melintasi bulak-bulak yang sepi dengan kecepatan yang mengagumkan.

    Namun menjelang padukuhan induk, Agung Sedayu kemudian telah melangkah sebagaimana orang berjalan meskipun ia tetap berusaha untuk mencari jalan yang sepi. sehingga tidak seorangpun akan menjumpainya. Agung Sedayu sadar bahwa pakaian yang dikenakannya tentu sangat kotor. Meskipun di ruang di dalam goa itu ia melepas pakaiannya. tetapi pada saat ia memasuki dan menjelang ia keluar dari goa itu. maka pakaiannya tentu menjadi sangat kotor.

    Demikianlah maka saat Agung Sedayu memasuki padukuhan indukpun ia tidak melalui gerbang di lorong yang membelah padukuhan itu. Sementara langit menjadi semakin merah. Karena itu. maka Agung Sedayupun menjadi tergesa-gesa.

    Tetapi iapun kemudian bersokur. bahwa ia berhasil memasuki halaman rumah Ki Gede lewat belakang. Dengan mudah Apung Sedayu meloncati dinding kebun di bagian belakang. Kemudian dengan hati-hati ia merayap mendekati pintu gandok.

    Pagi telah menjadi semakin terang. Ketika Agung Sedayu mengetuk pintu gandok. maka ia mendengar beberapa orang peronda di gardu di bagian depan halaman rumah Ki Gede tertawa. Nampaknya beberapa orang telah siap untuk meninggalkan gardu itu. karena langit menjadi semakin terang.

    Ki Waskita yang telah bangunpun membuka pintu ia terkejut melihat Agung Sedayu yang tergesa-gesa menyelinap masuk. Apalagi ketika ia kemudian melihat, bahwa pakaian Agung Sedayu memang menjadi sangat kotor.

    “Kau,” desis Ki Waskita.

    “Ya paman. Aku agak kesiangan,“ desis Agung Sedayu.

    “Pakaianmu,” bertanya Ki Waskita pula.

    “Nanti aku akan berceritera,” Jawab Agung Sedayu sambil melepas bajunya. “Aku akan ke pakiwan.”

    Sambil membawa ganti pakaian. Agung Sedayupun kemudian pergi ke pakiwan. Ketika langit menyadi semakin terang, maka iapun telah selesai membersihkan diri dan mencuci pakaiannya.

    Beberapa orang terkejut melihat Agung Sedayu tiba-tiba saja telah menyangkutkan pakaiannya pada jemuran di halaman belakang rumah Ki Gede. Seorang perempuan pembantu rumah Ki Gede itupun telah bertanya, ”Kapan kau datang kemari? Sudah berapa hari kau tidak nampak datang. Tiba-tiba saja kau sudah berada disini sepagi ini.”

    Perempuan itu tidak bertanya lebih lanjut. Sementara Agung Sedayupun telah berada kembali didalam biliknya.

    Sambil membenahi pakaiannya. Agung Sedayu telah berceritera kepada Ki Waskita. apa yang telah dilakukannya ia menceriterakan sejak awal sampai akhir tentang kedua laku yang telah diselesaikannya sekaligus.

    Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau telah banyak mendapat pengalaman batin dari Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa. sehingga kau mampu melakukan apa yang baru saja kau selesaikan.”

    “Memang belum seberapa dibanding dengan kedua orang itu.” sahut Agung Sedayu.

    “Kau sudah melakukan melampaui kebanyakan orang,” berkata Ki Waskita, “aku kira jarang sekali anak-anakk muda sebayamu yang mempunyai ketekunan menuntut ilmu seperti yang kau lakukan.”

    Agung Sedayu tidak menyahut. Namun iapun telah mengangkat wajahnya ketika ia mendengar pintu berderit. Ternyata Prastawalah yang telah menjenguknya dari celah-celah daun pintu yang sedikit terbuka.

    “Kau,” desisnya.

    “Ya,” sahut Agung Sedayu singkat.

    Ternyata Prastawa hanya memandanginya saja tanpa melontarkan pertanyaan lebih jauh. Tetapi Agung Sedayu sudah dapat rnembaca sorot matanya, bahwa Prastawapun menjadi heran, bahwa tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam gandok itu tanpa melihatnya lewat di regol halaman. Karena hampir semalam suntuk ia berada diregol itu bersama beberapa orang kawannya.

    Ketika kemudian Prastawa meninggalkannya, maka Agung Sedayu pun kemudian berkata, ”Aku mendapat ijin sepekan dari Ki lurah Branjangan. Aku masih mempunyai satu hari lagi. Jika ada kesempatan aku ingin bertemu dengan guru untuk meyakinkan, apakah aku benar-benar telah kebal racun.”

    Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Memang sebaiknya kau meyakinkan hal itu dihadapan gurumu. Aku serba sedikit mengetahui juga tentang racun. Tetapi tentu tidak sedalam Kiai Gringsing.”

    “Waktuku tinggal sehari,” desis Agung Sedayu.

    “Kau dapat datang ke barak hari ini. Besok kau minta ijin lagi sehari semalam. Karena aku kira kau tidak dapat datang ke Jati Anom tanpa bermalam. Mungkin di padepokan. Mungkin di Sangkal Putung,” berkata Ki Waskita.

    Agung Sedayu mengangguk-angguk ia memang dapat melakukan seperti yang dikatakan oleh Ki Waskita. Ia datang ke barak, yang menurut dugaannya, segala sesuatunya tentu masih belum siap untuk segera dimulai.

    Karena itu, maka sambil mengangguk-angguk Agung Sedayu berkata, “Baiklah Ki Waskita. Jika tidak besok, maka dua tiga hari lagi aku kira masih belum terlalu lambat. Sokurlah jika aku masih belum diperlukan hari ini dan besok di barak itu.

    Ki Gede yang kemudian melihatnya telah kembali telah menanyakan pula. apa yang telah dilakukan. Seperti kepada Ki Waskita, maka Agung Sedayupun menceriterakan apa yang telah didapatnya di dalam goa itu meskipun tidak selengkapnya, karena ia masih belum menyebut bagaimana ia menyerap ilmu dari isi kitab Ki Waskita. Sehingga dengan demikian, yang diketahui oleh Ki Gede adalah, bagaimana ia melakukan apa yang dipesankan oleh Pangeran Benawa.

    “Aku akan meyakinkannya. Ki Gede,“ berkata Agung Sedayu kemudian, “karena itu aku memerlukan waktu barang satu dua hari untuk berada di Jati Anom.”

    “Silahkan ngger. Tetapi berhati-hatilah,” pesan Ki Gede, “kau masih selalu dibayangi oleh dendam dari beberapa pihak.”

    “Aku akan menemui Ki Lurah Branjangan,” berkata Agung Seduyu kemudian, “mudah-mudahan aku tidak dicegahnya.”

    Demikianlah, setelah makan pagi, Agung Sedayu meninggalkan rumah Ki Gede menuju ke barak. Namun dalam pada itu. ia masih sempat memperbandingkan, bahwa dengan minum air yang mengalir didalam goa itu rasa-rasanya tidak terlalu jauh dari makan nasi seperti yang baru saja dilakukannya.

    “Air itu memang aneh. Apalagi jika aku menjadi benar-benar kebal bisa seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa,“ berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

    Ketika ia sampai ke barak, maka ia melihat bahwa barak itu sudah menjadi semakin sibuk. Anak-anak muda berkeliaran disegala sudut dan halaman barak yang cukup luas itu.

    “Mereka telah datang,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

    Ternyata bahwa Agung Sedayu telah bertemu dengan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh yang menyusul kawan-kawannya memasuki barak itu. Ia sendiri ikut menentukan. siapa saja yang akan di kirim ke barak itu untuk menjadi anggauta pasukan khusus yang dibentuk oleh Senapati Ing Ngalaga di Mataram, sebagaimana ia ikut menentukan siapa saja yang akan mendahului memasuki barak itu.”

    Ketika ia berada di ruang pimpinan pasukan khusus itu, maka Ki Lurah Branjangan telah menyambutnya dengan gembira.

    “Ternyata kau datang lebih awal dari yang kuduga,“ berkata Ki Lurah Branjangan.

    “Pekerjaanku yang pertama sudah selesai Ki Lurah,“ jawab Agung Sedayu.

    “Yang pertama. Apakah masih ada yang lain ?“ bertanya Ki Lurah itu pula.

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku harus menghadap guru Ki Lurah. Ternyata ada sesuatu yang harus aku yakinkan dihadapan guru.”

    “Jadi kau akan pergi ke Jati Anom ?” bertanya Ki Lurah Branjangan dengan kerut merut dikening.

    “Ya. Aku tidak mempunyai pilihan lain. karena persoalannya akan menyangkut masalah perkembangan ilmu, jawab Agung Sedayu.

    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian iapun berkata, “Tentu aku tidak akan dapat mencegahmu ngger. Tetapi seperti yang pertama, aku hanya dapat mohon agar kau tidak terlalu lama pergi. Mungkin sehari kau dapat menempuh perjalanan pulang dan pergi.”

    “Aku akan bermalam meskipun hanya semalam Ki Lurah,” jawab Agung Sedayu.

    Ki Lurah mengangguk-angguk. Tidak ada kuasanya untuk melarang Agung Sedayu pergi. Ia tidak termasuk dalam susunan kepemimpinan pasukan khusus itu sebagaimana dimintanya sendiri, meskipun ia bersedia menyumbangkan tenaganya untuk pasukan itu.

    “Baiklah,” berkata Ki Lurah, “Jika angger memang ingin pergi. aku persilahkan. Tetapi ingat, bahwa anak-anak muda yang terdahulu berada di barak ini, yang sekarang telah siap membantu kepemimpinan pasukan ini. masih perlu selalu meningkatkan kemampuannya. Mereka akan tetap mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya yang datang kemudian. Bukan saja untuk kewibawaan mereka. tetapi juga agar pasukan ini benar-benar merupakan pasukan yang memiliki kemampuan yang tinggi pada saat diperlukan.”

    “Aku hanya memerlukan waktu sehari semalam. Mungkin dua hari semalam,” jawab Agung Sedayu.

    “Hari ini kau akan menyaksikan isi barak ini?“ bertanya Ki Lurah Branjangan, “semua anak-anak muda telah datang. Jenjang kepemimpinannyapun telah terisi.”

    “Menarik sekali,” berkata Agung Sedayu, “aku tidak mempunyai rencana apa-apa hari ini. Baru besok pagi-pagi aku akan berangkat ke Jati Anom.”

    Hari itu Agung Sedayu telah dipertemukan dengan para perwira yang telah ditunjuk langsung oleh Raden Sutawijaya untuk memimpin barak itu. Namun temyata pimpinan tertinggi untuk sementara masih berada ditangan Ki Lurah branjangan.

    Sebagian besar dari para perwira itu ternyata telah mengenal Agung Sedayu. karena Agung Sedayu sering singgah di Mataram dalam hubungannya dengan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.

    “Bukan orang baru bagi kamu,” berkata seorang perwira ketika Agung Sedayu memasuki ruang para pemimpin itu.

    Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan aku masih dapat membantu.”

    “Tentu,” sahut yang lain, “kau mempunyai kedudukan yang aneh. Tetapi anak-anak ini masih perlu ditempa dengan latihan-latihan berat. Apalagi yang baru datang.

    Dari para pemimpin pasukan khusus itu Agung Sedayu mengerti. bahwa ia masih tetap harus menempa anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah itu, terutama yang datang mendahului kawan-kawannya, ia harus tetap berusaha agar anak-anak muda yang datang lebih dahulu itu mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. karena mereka mendapat tugas untuk membantu para pemimpin pasukan khusus itu pada jenjang-jenjang tertentu.

    “Mereka harus tetap berwibawa,“ berkata Ki Lurah Branjangan.

    Namun dalam pada itu. Agung Sedayu masih belum dapat memulainya karena ia akan meninggalkan barak itu lagi untuk dua hari.

    “Semuanya sudah siap,“ berkata salah seorang perwira, “tetapi yang kami lakukan pada satu dua hari ini memang baru saling memperkenalkan diri. Namun demikian pada setiap saat kami sudah dapat mulai dengan latihan-latihan.”

    “Aku akan datang pada waktunya,“ jawab Agung Sedayu, “dan akupun akan berusaha untuk menjalankan kewajibanku sebaik-baiknya.”

    “Terima kasih,“ berkata Ki Lurah Branjangan, “pembagian waktumu telah kami susun. Jika kau kembali dari Jati Anom. kau dapat melihat susunan pembagian waktu itu yang harus kau tangani untuk sementara memang hanya anak-anak muda yang datang terdahulu.”

    “Baiklah,” jawab Agung Sedayu, “tugas apapun juga. asal masih dalam balas kemampuanku, akan aku lakukan sebaik-baiknya.”

    Dengan demikian, maka Agung Sedayupun masih belum terjun kedalam tugasnya ia justru minta diri untuk kembali ke rumah Ki Gede. Dikeesokan harinya ia akan pergi ke Jati Anom.

    Kepada Ki Waskita dan Ki Gede, Agung Sedayu menceriterakan apa yang sudah dilihatnya dibarak itu. Semuanya memang sudah siap untuk mulai dengan bekerja keras.

    “Aku sudah mendapat pemberitahuan dari Ki Lurah meskipun belum terperinci,” berkata Ki Gede, “latihan-latihan yang sebenarnya baru akan dimulai beberapa hari mendatang.”

    “Ya Ki Gede,“ sahut Agung Sedayu, “pada saat ini mereka baru dalam suasana saling memperkenalkan diri. Karena itu, maka Ki Lurah tidak berkeberatan membiarkan aku pergi barang satu dua hari.”

    Ki Gede mengangguk angguk sambil berdesis, “Ia memang tidak akan dapat menahanmu.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kedudukannya memang tidak menuntut ikatan yaag terlalu kuat pada segala macam pengeras yang ada didalam barak itu.

    “Jadi. kapan kauakan berangkat ngger,“ bertanya Ki Waskita.

    “Besok pagi-pagi aku akan berangkat,“ Jawab Agung Sedayu.

    “Sebaiknya kau tidak seorang diri. Aku akan menemanimu,” berkata Ki Waskita kemudian.

    Agung Sedayu memandang Ki Gede sejenak. Namun kemudian katanya, “Terima kasih paman. Aku akan senang sekali mendapat kawan di perjalanan.”

    “Tetapi hanya dua hari,” desis Ki Gede.

    Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Ya Ki Gede. Aku hanya ingin meyakinkan, apakah ada gunanya aku berada di dalam goa itu selama tiga hari tiga malam.”

    Ki Gede mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Mudah-mudahan kau mendapatkan sesuatu dengan laku yang berat itu.”

    Malam itu Agung Sedayu dan Ki Waskita di dalam biliknya seolah-olah tidak merasa mengantuk sama sekali ketika mereka terlibat dalam pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang laku yang kedua yang disadap oleh Agung Sedayu dari isi kitab Ki Waskita.

    “Sokurlah. Jika kau berhasil ngger,” berkata Ki Waskita, “aku sendiri tidak sempat memahaminya dengan sedalam-dalamnya. Nampaknya kau telah berhasil dengan baik dan meyakinkan.”

    “Tetapi masih harus dimatangkan Kiai,” berkata Agung Sedayu, “aku baru berhasil menguasai pathokannya saja. Meskipun dengan demikian hasilnya sudah dapat dilihat.”

    “Kau harus menunjukkannya kepada gurumu,“ berkata Ki Waskita ia tentu akan berbangga. Meskipun aku gurumu,” berkata Ki Waskita, “ia tentu akan berbangga. Meskipun aku tahu. setiap peningkatan kemampuanmu, maka gurumu selalu berpikir tentang Swandaru. Jika pada suatu saat. Swandaru menyadari bahwa kau telah meninggalkannya agak jauh, maka akan dapat timbul dugaan, bahwa gurumu telah memberikan lebih banyak kepadamu daripada kepada Swandaru.”

    “Aku tidak bermaksud menyudutkan kedudukan guru,“ berkata Agung Sedayu dengan nada rendah.

    “Kau memang tidak bersalah,“ berkata Ki Waskita, “yang perlu adalah penjelasannya.”

    “Mudah-mudahan perasaan seperti itu tidak tumbuh di hati Swandaru,” berkata Agung Sedayu kemudian.

    Ki Waskita mengangguk-angguk. Seolah-olah kepada dirinya sendiri ia berkata, “Mungkin aku terlalu berprasangka.”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Namun ia tidak segera dapat melupakan kemungkinan seperti yang dikatakan oleh Ki Waskita itu.

    Namun dalam pada itu. maka keduanyapun kemudian berbaring dipembaringan dengan angan-angan mereka masing-masing. Tabuh tengah malam telah terdengar di gardu-gardu. Di halaman terdengar suara Prastawa terawa. Namun anak itupun agaknya telah masuk kedalam rumah Ki Gede lewat pintu samping.

    Sejenak kemudian kedua-duanyapun telah tertidur. Menjelang fajar. sebagaimana kebiasaan mereka, maka keduanyapun telah bangun. Selelah membersihkan dan membenahi diri lahir dan batin. maka merekapun segera bersiap untuk pergi ke Jati Anom.

    “Kalian akan berangkat pagi-pagi benar?“ bertanya Ki Gede yang juga sudah bangun.

    “Ya,“ jawab Ki Waskita, “agar waktu kami tidak terlalu sempit di Jati Anom nanti. Agaknya angger Agung Sedayu tentu akan singgah pula di Sangkal Putung.”

    Setelah makan beberapa potong ubi rebus dan meneguk minuman hangat, maka keduanyapun minta diri untuk meninggalkan Tanah Perdikan barang dua hari.

    “Kalau tahu. aku ingin ikut pergi ke Sangkal Putung,“ berkata Prastawa.

    “Kau mengawani aku disini,” desis Ki Gede.

    Prastawa menarik nafas dalam-dalam, iapun mengerti, bahwa ia harus berada di Tanah Perdikan. Apalagi jika Agung Sedayu dan Ki Waskita pergi. Namun rasa-rasanya ia memang ingin pergi ke Sangkal Pulung. Justru karena di Sangkal Putung tinggal Sekar Mirah.

    Tetapi dalam pada itu ia hanya dapat mengantar Agung Sedayu dan Ki Waskita sampai keregol sebagaimana dilakukan oleh Ki Gede.

    Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu dan Ki Waskitapun telah berpacu dipunggung kuda meskipun tidak terlalu kencang menuju ke Jati Anom.

    “Kita tidak usah singgah di Mataram,“ berkata Agung Sedayu, “jika demikian kita akan kehabisan waktu.”

    “Ya. Karena itu kita akan menempuh jalan sebelah Utara, meskipun jalan itu tidak sebaik jalan Selatan. Tetapi di sebelah Barat Tambak Baya kita akan turun ke jalan yang lebih baik itu,” sahut Ki Waskita.

    Dalam pada itu. maka keduanyapun telah mengambil jalan penyeberangan di sebelah Utara. Mereka melalui jalan yang tidak begitu besar, untuk menghindari jalan yang lewat Mataram, agar mereka tidak perlu singgah. Karena mungkin sekali mereka dengan tidak sengaja bertemu dengan para perwira yang akan dapat menceriterakannya kepada Raden Sutawijaya bahwa mereka telah melintasi Mataram. Adalah tidak mapan jika dengan demikian mereka tidak singgah barang sebentar.

    Karena itu. maka mereka telah menempuh jalan yang tidak begitu baik. Meskipun demikian kadang-kadang mereka bertemu pula dengan satu dua pedati yang memuat hasil sawah para petani.

    Sebelum mereka memasuki jalan yang menghubungkan Mataram dengan Pajang, maka mereka hanya melalui hutan-hutan yang tidak lagi menakutkan, karena jalan-jalan dipinggir hutan itu semakin lama menjadi semakin ramai. Binatang buaspun telah terdesak semakin keten

  38. [...] daripada pdf, namanya djvu. Penjelasannya tentang format ini dalam bahasa Indonesia bisa dilihat di sini [...]

  39. apa Ki Gede bisa bantu ngunduh kitab 208 lsp,walaupun masih beberapa laku harus dilaksanakan, yaitu harus instal djvu selama ini saya baca pakai file word saya ada kitab 1 – 200 lengkap

    • Mas Joko,apa bisa tolong saya dikirimi ADBM 1-200 versi wordnya ke email saya bbwahono@hotmail.com
      Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

      Salam

      Cantrik baru ADBM

      • Pak Kiai/ Nyi,
        Kulo cantrik anyar, pikantuk alamat niki nggih anyaran,
        namung nawi bade sedot lontar kok iangil tenan nggih, nopo malih kulo ngandelakel HP sing gprs pra bayar, nembe moco komentaripun cantrik senior mawon sampun langsung telas pulsa kulo.

        Mbok menowo wonten sing bade sedekah lontar2 hasil sedotanipun sumonggo dipun kintu ke : shinin_sky@yahoo.co.uk.

        Matur nuwuuunnn sangeettt….

        Srengenge.

    • nyuwun sewu kang joko, yen mboten keberaten nderek mirsani file word kitab 1-200, pun mumet ndas kulo mubeng2 demi mertuo, ciptosteven@yahoo.co.id maturnuwun sanget..

  40. walaupun jauh terlambat..
    mboten kasengojo manggihi padepoan ingkang asri ananging rejo meniko. sepindah nyerat namung iseng2 saklajengipun jiann numani. matur nuwun kaatur dumateng sedoyo bebahu ugi poro cantrik ingkang sampun angrumiyini lampah.
    ananging duh gelaning lampah kawulo,lampah ingkang sakderengipun lancar sak sampunipun dumugi adbm buku 182 kawulo kejengkang dawah kemlumbruk amargi mboten saget nglajengaken ngunduh. cover ingkang kawulo unduh mawi idm mboten ngedalaken –.ppt kados buku2 sak derengipun.
    inggih amargi kacetekanipun akal kawulo saking meniko kawulo nyuwun bimbinganipun poro sesepuh menopo ingkang kagungan padepokan supados ngudar dospundi coro ngunduhipun.
    sanget anggenipun kawulo kepingin nglajengaken lampah meniko, samugi enggal pinaringan bimbingan saking sesepuh.. matur nuwun

    • panjenengan mlebet halaman 2, kados ing ngandap puniko:
      ————————
      Buku II-82

      absen dulu.. terutama yang belum pernah absen

      sugeng enjang ki sanak

      Halaman: 1 2 3
      ————————
      tautan rontal wonten ukoro ki sanak ingkang menawi kursor dipun dipun arahaken wonten mriku gantos dados gambar telunjuk tangan.
      Panjenengan klik ping kalih utawa klik kanan save link as…., ekstensi doc dipun gantos djvu.
      Monggo ki.

  41. minta maaf nih pada cantrik2 senior, group cantrik yamaha baru mulai gabung nih.
    cuman terakhir dapet kiriman wesel rontal dari cantrik diindocement sampai seri 399.
    yg bisa ngirim lanjutan sinten nggih?
    matur nuwun.(saking cantrik padepokan yamaha)

    • Ki Gede dan para kadang ADBMers…. kerso-o retype 323 dst….
      Matur nembah suwun sanget…

      Mugi Kang Moho Agung paring piwales ingkang agung…

  42. Untuk yg menggunakan MAC..download dulu DJview untuk Mac..rubah ektensionnya jadi .djvu

  43. saya kok kesulitan mendapatkan file IV-26 dst, mohon dapat dibantu dong

    matur suwun

  44. Saya dari kecil (SD) sudah suka baca. Mas saya suka nyewa komik sing ono gambare ( Djair, jaka sembung , sibuta dari gua hantu dll) juga suka nyewa buku wacan silat karangane SH.Mintardja, Herman Partikto dll. Saya dulu sudah baca Mahesa jenar (Nogososro, Tanah warisan) tapi saya belum sempat baca Api di Bukit menoreh paling baru baca satu jilid itupu sudah jilid yang kesekian gak dari awal. Nah saya coba cari-cari di internet eh ketemu juga disini. maturnuwun nggih

  45. wah…terusannya gmna ya…hayo siapa yg bisa nerusin ceritanya

  46. saya baru baca bukunya sampai 56,,,
    koleksi saya masih kurang buku ke 331-360,, eh,, ternyata disini ada,,
    matur nuhun Ki Gde,,,

  47. Gunging panuwun kula ingkang katur Ki, kula sampun saged donlot..

  48. mbareng mboten sengojo enten engkang ngginakke komputer kulo terus instal B1 malah sak niki keropotan menawi bade mbukak hasil downlotan susah kulo niki priupun solusinipun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 134 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: