Buku II-75

175-00

Halaman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 13 Maret 2009 at 05:56  Comments (868)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-75/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

868 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sip Nyi $eno mboten duko yayah sinipi

  2. Sendiko dawuh Nyi, semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menuju ke kebaikan bersama.

  3. Sik, aku tak masak panganan sik okeh, slametan nggo Ki JoBrond, weis suwe nyantrik nembe iki nomer siji iso komen.

    Aku pamit arep cuti suwe

  4. sampurasun..punten Nyai.
    antri no dua :)

  5. Ora nding

    :D

  6. waduh..pas submit, udah di lima. tobat.

  7. asyik no 7
    absen masuk

  8. Nyai Senopati memang moi
    Sudah berhasil mewarisi ngelmu kesabaran, kesarehannya Kyai Gringsing secara tuntas,
    Sehingga menyadari ada cantrik yang grusa-grusu kaya
    Swandaru, ada yang kaya Prastawa yang suka iri pada orang lain, ada yang kaya Agung Sedayu (seperti saya ini he he) , ada yang kaya Kakang Panji -yang menyelewengkan ilmu kanuragannya yang pancen ngedab-ngedabi,
    Nyai, Tetap Semangat nggiiih,
    saya doaken tetap sehat selalu
    (biar kirimanny kitab lancar)

  9. Nyai Senopati, semoga Nyai tetap tabah dan tegar menghadapi ulah usil cantriknya. Amin.

    Perjalanan kita membina padepokan ini memang berat. Ada saja orang usil & iri yang menggangu suasana yang menyenangkan di tempat ini.
    Semoga saya, para cantrik yang lain & kita semua turut membangun padepokan ini sebaik-baiknya.

  10. setujuuuuuu…

    pokoknya nyai seno bilang apa aja, saya setuju…. :)

    beneran lho, ini gak main-main…

  11. Terimakasih Diajeng Senopati .. dimengerti message nya, semuanya demi kebaikan bagi kelangsungan padepokan ini juga, Tidak hanya sekedar menghabiskan ransum setiap harinya tapi juga semoga pesan moral yg disisipkan dalam kitab2 SHM bisa juga diserap oleh seluruh cantriks disini.
    Cuma Diajeng, ingat jatah ransum harian, jadi ingat jatah kitab 174 mustinya tetap di wedar hari ini kan … ? :-) :-) (Keukeuh …)

  12. Mudah-mudahan tidak ada lagi tindakan cantrik mbeling yang menyebabkan Nyi Seno harus meng-close koment, karena tanpa koment dari rekan-rekan cantrik ADBMers kayaknya terasa ada yang kurang..

    Sedulur semua harus mawas diri, komen benar-benar disaring agar tidak menyebabkan suasana panas. Satu lagi jangan spoiler sesuai pesan Nyi Seno

  13. Nyi Seno, saya tunggu wedharan rontal 174nya ya…

    Kan udah nggak marah…. :) :lol:

  14. Mau ikut mesu diri dsni, smbil brharp semga retype 115 dst segera kluar….. Salam hangat buat ki GD dan Nyai Senopati

  15. thank Nyi…., emang cantrik perlu mentaati peugeran-peugeran yg sudah dibuat.

  16. Setuju Nyimas… sudah waktunya paugeran dipertegas !!!!
    Padepokan ADBM bukan lagi padepokan pda awal-awal berdirinya, jumlah komen yang semakin banyak, jumlah hit yang semakin tinggi, serta banyaknya cantrik baru, jelas menambah kompleksitas permasalahan.
    Cantrik baru yang nyemplung di tengah-tengah pendadaran mungkin kurang mengerti aturan dasar padepokan, sementara cantrik senior yang muncul pada awal-awal berdirinya padepokan tampaknya sudah tidak banyak muncul.
    Jadi usul saya, mungkin paugeran-paugeran tersebut bisa rutin muncul ditiap gardu, sehingga cantrik-cantrik baru segera paham paugeran padepokan ini….
    Nuwun.

  17. Kayakx dari semua cantrik yg ad dsni, aq adlh cntrik yg pling bebal dan ktinggalan dlam menyerap isi kitab2 adbm, but aq sllu doa’in mga ki GD and nyai senopati beserta para bebahu padepokan ini sllu lancar trus dlm mengelola padepokan ini dan sukses sllu ya…..

  18. Ihhh…isih sepi, asikkkkkk……
    Antri dan absen, Dinda Senopati…..

  19. Dari dulu begitulah pengelola, selain menjadi departemen akibat, ceritanya juga tiada akhir, para cantrik ayo senopati di bantu.
    Apakah senopati perlu senopati pengapit? pengapit kanan dan kiri….

  20. Ki GD, Saya mau usul gmn kalo di halaman muka ki GD memajang foto ki GD beserta bebahunya ( klo bs fotox pake busana zaman dulu jg ) supaya kita2 para cantrik lebih mengenal dan merasa lebih dekat dg padepokan ini, gmn ki GD ? setuju gak para cantrik2 semua…..?

  21. Nyi Seno dan Ki gede
    Memang cantrik-cantrik jaman sekarang banyak yg susah diatur, walau tentu cantrik yg baik juga banyak.
    cantrik yg susah diatur biasanya akibat sakaw…alias kecanduan ADBM.
    saya sudah pernah menyampaikan bahwa jaman ADBM ini ditulis oleh ki SHM, keluarnya setiap hari di Koran KR, banyaknya setara dengan 2 halaman rontal kita sekarang, alias satu buku rata-rata 1 bulan masa terbitnya, namun tidak ada cantrik yang protes pada ki SHM, mengapa tidak cepat2 keluar rontal berikutnya, mereka semua menunggu dengan sabar…sungguh, diantara waktu-waku menunggu itu ada kenikmatan yang tidak tergantikan saat kita dapat membacanya bulan depan, bahkan membuat kita membaca berulang kali rontal-rontal tersebut, meresapi nilai-nilai yang ada di dalamnya, belajar sabar, rendah hati namun penuh kesungguhan seperti Agung Sedayu, belajar mengaca diri saat menilai sikap Swandaru, belajar memahami sikap Pengeran Benawa dan Raden Sutawijaya, belajar mendekat dan menyerahkan diri kita pada Kuasa Yang Tak Terhingga atas semua nasib yang kita alami….
    Ahh…mengapa kita tidak belajar dari itu semua?
    apakah padepokan ini berdiri hanya untuk memuaskan nafsu membaca kita? percayalah…kita tidak akan pernah puas dengan kisah ADBM ini, bahkan kita akan kecewa saat nanti kita membaca rontal terakhir yang ditulis oleh ki SHM, karena ADBM adalah kisah yang tak pernah berakhir.
    saya mengajak semua cantrik dan bebahu yang ada agar tidak meninggalkan nilai-nilai yg sudah kita baca, agar kita semua tidak seperti KELEDAI yang memikul kitab. Mari kita belajar dari sang Maestro, ki SHM.

    Nyi Senopati dan Ki Gede, sebaiknya mencabut janji untuk melansir 1 kitab setiap hari, karena janji inilah yang membuat banyak cantrik menghujat bila janji tersebut tak terpenuhi. Tanpa jadwal keluar resmi setiap hari, saya yakin para cantrik akan belajar bersabar dan terus absen di padepokan ADBM ini dengan setia.

    Maaf bila ada kata yang kurang berkenan.

  22. TeRimakasiH atas PenCeRahannYa … semoga dapat Memperkaya padepokan ini ……. HiduP ADBM’ers ..

  23. hanya satu kata …
    ketika bibir bicara …

    maafkan aku senopati …
    semoga tdk memper-seret wedaran kitab …
    tetapi memper-rapet wedaran kitab …

    ojo komen sing ora2, ora et labora, nanging ojo sing ora-ora

  24. waiting komen jalaran soko moderator

  25. Saya setuju dengan “penembahan agung” sebaiknya nyi senopati tidak usah berjanji 1 hari 1 kitab. Saya yg selalu melihat ADBM ini kadang2 jengkel juga, katanya 1 hari satu kitab tetapi kenyataannya tidak ada. Saya hampir tidak pernah menulis comment, baru yg kedua kali ini. Saya juga baru dapat blog ini secara kebetulan kira-kira november 2008 kemarin. Pada saat itu saya membaca bahwa ini memuat serial ADBM dari seri 1 maka saya copy paste dari jilid 1 – 94. setelah itu saya kehilangan jilid 95, sya bingung akhirnya saya baca comment2 dibawahnya, ternyata seri 95 di sembunyikan, maka sejak itu saya rajin membaca comment, karena biasanya di situlah kitabnya di sembunyikan. setelah saya dapat menemukannya di comment2 tersebut maka saya dapat mendownloadnya sampai ke seri 160… Dan semenjak itu saya mulai melihat para senopati ADBM sudah mulai kewalahan menghadapi para cantrik yg selalu mendesak agar kitab segera turun dan kalau perlu sekalian dengan bonusnya. saya tidak tahu sudah berapa lama blog ini berdiri yang saya tau saya dapat membaca dari seri 1 – 173 dalam waktu yg singkat dan saya juga sudah mulai “sakaw” (meminjam istilah senopati) karena terputus ditengah jalan.

    mohon maaf sebelumnya….. mungkin ada yang tidak berkenan……

  26. Alangkah bijak nya pengelola Senopati & ki GD, walaupun jengkel masih juga tersenyum dan minta maaf.
    (padahal harusnya kita-kita yang meminta maaf)
    Wong dikasih gratisan kok akeh penjaluke!
    Dengan besar hati juga pastilah diterima maaf nya
    (wong memberi maaf pada seseorang yang meminta maaf adalah wajib bagi kita, dan tidak mengurangi apa-apa yang ada dalam diri kita malah memperkaya tali silaturahmi)
    Maju terus ADBM……….!

    salam,

  27. Saya setuju bahwa Nyi Seno, mmmm….mungkin tidak perlu mencabut janji 1 kitab 1 hari, tapi secara perlahan merubahnya dengan periodesasi yang tidak menentu tapi lama-lama polanya terbaca dengan sendirinya oleh para cantrik.

    Komentar para cantrik harus diakui mampu menghidupkan suasana padepokan sehingga tetap gayeng, dan saya kira ke gayengan ini nggak cuma membuat para cantrik sakaw, disamping sakaw dengan kitab-kitab yang sering digantung diujung oleh Sang MAestro Ki SHM, tapi kegayengan ini juga membuat pengelolanya ‘Sakaw’.
    Sebab apalah artinya penyiar kalau nggak ada pendengar, apalah artinya sebuah buku bagus kalau tidak ada pembacanya, dan apalah artinya sebuah blog kalau tidak ada pengunjungnya.
    Oleh sebab itu, menurut saya, 10 ribu pengunjung setiap hari, ratusan komentar yang harus dibaca dan dipilah memang membuat repot Ki GD dan Nyi Senopati, tapi sudah pasti juga memberikan kegembiraan, bahwa padepokan yang telah dibangun dengan susah payah ini ternyata diminati baik oleh cantrik lama maupun cantrik baru, baik yang aktif berkomentar maupun yang pasif namun secara tetap berkunjung setiap hari.

    Saya kira kalau padepokan ini terlalu tentram, terlalu tenang, terlalu santun, terlalu sunyi juga tidak akan membuat Ki GD, Nyi Seno dan para sedulur cantrik senang.
    Padepokan yang regeng, gayeng, penuh celotehan (tapi terukur) cantrik, meskipun kadang-kadang ada yang nakal, adalah sebuah padepokan yang selalu ‘ngangeni’, yang membuat cantrik-cantrik ingin dan selalu ingin berkunjung, dan pengelolanya ingin dan selalu ingin berbagi.
    Bukankah kebahagiaan terbesar adalah ketika kita bisa memberikan sesuatu, apalagi kalau mereka yang diberi seolah-olah tidak punya sesuatu untuk ‘membalas’ selain ucapan terimakasih yang tulus…?
    Just my 2 cents

  28. Setuju dengan Ki Arya, menurut saya konflik yang terjadi memang lumrah di suatu padepokan yang besar seperti ADBM dimana cantrik tersebar di berbagai benua tapi yang menakjubkan semuanya dipersatukan oleh cerita ini wajar Bila ada cantrik yang aneh dan berulah macam macam. Mudah mudahan itu menjadi tambahan pengalaman bagi para bebahu dan para cantrik untuk mematangkan ilmu.

    Seperti Kangmas Agung Sedayu yang tetap sareh menghadapi Sekar Mirah yang suka merajuk.

    Konflik yang terjadi membuktikan cantrik cantrik padepokan ini mempunyai gairah untuk terus menimba ilmu.

    Terima kasih Nyi Seno dan Ki Gede….

  29. Sudah dimuat di koment 173:
    @ Ki Ronggolawe,
    Mohon maaf ki, saya kok tidak sepaham dengan andika. Saya kira haknya Nyi Seno untuk menerapkan paugeran demi tertibnya situasi padepokan yang terkadang riuh rendah seperti pasar temawon. Coba pahamilah bahwa pengorbanan para pengelola yang menjadikan sebuah bacaan yang menghibur ini dapat tersaji dengan baik dihadapan kita, tentulah sangat besar. Bagaimana mereka dag-dig-dug jika suatu jilid yang sudah menjelang waktunya beredar, ternyata belum ada. Kemudian situasi yang lainnya misalkan hasil scanning yang kurang sempurna, tentunya memerlukan penanganan yang kita tidak pernah tahu, bagaimana sibuknya mereka. Dan Ki Ronggolawe, ternyata semua pengorbanan itu mereka lakukan tanpa pamrih. Tidak mengharap imbalan dari Ki Ronggo sepeserpun. Maka dari itu Ki Ronggolawe, saya yang merasa bisa membaca dengan tanpa kontribusi sama sekali, “amat sangat tidak setuju dengan pernyataan Ki Ronggolawe”, yang mengkritisi sikap Nyi Seno belakangan ini.
    Nuwun,
    Ki Truno Podang

  30. Mau ikutan gabung…..

  31. Duh Nyai, Duh Ki Gede,
    Saat membaca semua dawuh-2 Ki Gede atau Nyi Seno diatas, Hati ini Resep, Adem lan Lego, Senang rasanya membaca tanggapan yang menyejukkan hati, tanpa amarah yang berlebihan dan yang tetap menyampaikan semuanya dengan tegas tapi SANTUN. Santun itulah Nyai / Ki Gede yang saya tengarai mulai hilang dikalangan para cantrik. Monggo dilanjut Saya akan tetap berharap rekan-2 cantrik bisa memahami dan mengikuti Ke SANTUNAN yang diperlihatkan oleh Nyi Seno lan Ki Gede,

    Salam Semua

  32. SEBAIKNYA SEMUA PARA CANTRIK KUAT BERSABAR…….
    WALAU LAMBAT TAPI MASIH ADA HASILNYA………
    ADALAKANYA PENANTIAN ITU SATU KENIKMATAN APABILA APA YANG DINANTIKAN ITU KITA DAPATKAN……….
    BUKAN KAH BEGITU………
    BIAR SERU,……

    $$ mohon jangan capslock semua Ki

  33. kulo manut mawon … wong cilik

  34. Salut buat pengelola ADBN….

    Dengan banyaknya komen dan tuntutan dari para cantrik (pembaca/pengunjung situs ini), memang menjadi suatu pekerjaan yang besar. Saya juga mengelola suatu web (meskipun tugas pekerjaan), yang hanya ada sekitar 20 masuk ke QA, sudah cukup merepotkan. Apalagi harus ratusan…memang luar biasa!

    Salut juga bahwa ketika ADBM dicaci-pun, Nyai Senopati masih bisa dengan sabar memberi teguran dengan sangat wajar, seperti seorang ibu menegur anaknya yang iseng.

    Ketika kemudian ada yang bertingkat menjadi Nyai Seno, tentu saja sudah mengganggu. Dan untuk itu, si anak memang harus dijewer dan diberi peringatan cukup tegas dan keras. Yang luar biasa, ternyata Nyai Seno tetap bisa sabar. kalau saya pengelola, mungkin sudah saya tutup! dan hanya member yang bisa akses. Ternyata Nyai Seno tidak berbuat demikian.

    Hukuman dengan menutup Koment…memang bagus, karena banyak cantrik yang merasa kehilangan. Dengan memberi komen, sebenarnya sesama cantrik tetlah menjalin hubungan untuk menjadi lebih dekat satu sama lain.

    Apapun yang nyai Seno lakukan, saya dukung.

    Nuwun

  35. antri..antri..
    antri..antri..
    antri..antri..
    antri..antri..
    antri..antri..
    antri..antri..
    antri..antri..

  36. e…eh…. kebablasen…

    balik kanaaaaaan

  37. Memang tidak mudah menjadi pemimpin itu. Ia harus dapat memilah mana yang baik dan buruk bagi semua anggotanya namun dengan tidak meninggalkan kedewasaan dalam memimpin. Memimpin itu sebuah seni dalam mempengaruhi seseorang atau lebih.
    Semoga kita semua diberikan kedewasaan dalam berpikir dan bertingkah laku.

  38. sabar sabar…………
    ramalane, nyai seno iseh masak jenang alot lan jadah kanggo slametan sesuk emben, mulane kitabe rodo telat. bubar slametan mengko bonuse lagek tumurun.

    tunggal guru ojo ngganggu

    nuwun
    “meneng karo sedakep matek aji”

  39. ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺎﺑﺮﻳﻦ

  40. ﺻﺒﺮ ﻣﻨﻨﺔ ﻛﺘﺎﺏ

    $$ mohon diterjemahkan juga Kisanak

  41. saya setujuu .. tidak perlu harus 1 kitab 1 hari.. sesempetnya ki gede dan nyai senopati aja lah .. kalo sempet 1 kitab seminggu nggih monggo, kalo sempet 3 kitab 1 hari nggih sokur

  42. Jegar jegeeer…..

  43. setuju juga dengan empu windujati…

    tidak perlu 1 kitab 1 hari

    mungkin satu minggu hanya 7 kitab, atau setengah hari setengah kitab plus bonus untuk hari-hari tertentu, itu sudah cukup koq :D

  44. Ato bila perlu sebulan sekali…. 30 rontal..
    he..he..he.. just joking..

  45. Nuwun, kulo nuwun,..
    setelah nyantrik di padepokan ini, rasa-rasanya memang bisa dipertimbangkan oleh Ki GeDe dan Nyi Senopati, akan kebutuhan adanya Senopati pengapit yang bertugas khusus untuk menanggapi komen2 poro cantrik.
    Sejauh ini, saya melihat, bahwa apabila ada respons dari Nyi Senopati, maka poro cantrik dengan sangat antusias akan menanggapinya.
    Senopati pengapit ini kiranya juga pinisepuh Padepokan yang dapat membuat suasana padepokan menjadi gayeng, rame dan teduh.
    Saat-saat seperti Membuat Serundeng, Jenang Alot, atau saat-saat lain dimana Nyi Senopati atau Ki GeDe menanggapi celotehan poro cantrik, adalah saat-saat yang dirindukan.
    Poro cantrik ini dapat dikiaskan sebagai anak kecil yang menangis di tengah malam, memanggil-manggil ibunya. Saat ibunya hadir, walau belum melakukan apa-apa, maka si anak kecil itu akan kembali tenang.
    Pareeeng

  46. sugeng enjing…

    saya pribadi sebagai cantrik biasa turut merasakan bahwa suasana padepokan sekarang ini tidak seindah dulu waktu jaman pertama berdiri yg adem ayem penuh suasana kekeluargaan…
    sekarang ini kok terasa gerah…sumpek dan kurangtertib…
    mungkin karena sekarang sudah banyak sekali cantrik baru yg bergabung di padepokan…
    tentu saja dengan segala tingkah polah mereka yang beraneka rupa, menjadikan suasana padepokan seperti ini…
    tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini…
    hal ini pula yang membuat bebahu padepokan menjadi semakin sibuk….
    rasa-rasanya kok ki GD sudah waktunya mengangkat beberapa bebahu untuk mengurus padepokan….
    saran saya, jia memang ada satu oknum cantrik yg merasa dirinya paling sakti (kayak Swandaru itu lho) sehingga membikin ulah yang kebablasen dan tidak mawas diri, seyogyanya bebahu padepokan mengambil langkah tegas kepadanya, jangan ragu-ragu supaya ketentraman padepokan tetap terjaga…
    karena justru ulah oknum seperti itulah yang akan memperkeruh suasana padepokan…
    tentu saja kami para cantrik semua akan berdiri dibelakang bebahu padepokan….

  47. setuju maswal .. mbokmenawi amargi badhe PEMILU , kathah ontran2 bersifat politik

  48. Injih, tumut kemawon budhe Seno.

  49. wess….. aku ora melu melu….

  50. setelah masalah terselesaikan biasanya ada syukuran bersama alias bonus kitab…

  51. :)
    .
    ..
    :D

    ..
    .
    mrgreen:

    # kurang tanda “titik dua” didepan buto ijo Nyi.. :mrgreen:

  52. wah…
    sing ngisor kok nggak dadi setan gundul ndhas ijo ya?

  53. Tanggal 16 Maret kampanye pemilihan caleg dimulai. Padepokkan sementara di tinggal…… untuk mesu diri…
    mungkin para bebahu juga ingin ikut pembukaan kampanye ….
    Semoga sukses dalam mesu dirinya….

    Kitab selalu di tunggu

    Trim’s para bebahu.

  54. Selamat pagi / sugeng enjing,

    Semoga wewaler/tanggapan dari Nyi Senopati kiranya dapat menggugah para cantrik agar mesu diri untuk bersama-sama membangun padepokan ini, dan dalam memberikan komentar, saran, kritik, bersifat positif baik terhadap para bebahu pengelola blog ADBM ini maupun kepada sesama cantrik, utamanya saya sendiri selaku pribadi.

    Yang normal itu biasa, tapi kalau sudah gak normal menjadi luar biasa.
    Nuwun

  55. Ah … senangnya, nyai ternyata ndak nesu.
    Saya yg nyantrik di padepokan ini setuju & mendukung nyai Seno.

    Meskipun demikian saran yg bersifat konstruktif tetap diperlukan kan … agar tidak bernuansan ABS (Asal Bu Nyai Seneng) :)

    Salam dari semua cantrik di tlatah mBatam.

  56. On 13 Maret 2009 at 19:21 meongku Said:
    ﺻﺒﺮ ﻣﻨﻨﺔﻛﺘﺎﺏ

    $$ mohon diterjemahkan juga Kisanak

    @@ masih ada juga yang nganeh-anehi !

  57. nyai seno dan ki gd sudah mulai ikut kampanye…

    sukses aja deh untuk nyai seno dan ki gd…

    tidak ketinggalan untuk para bebahu padepokan yang lain dan para cantrik yang nyaleg juga…

  58. maksudnya nyarap sing legi-legi… :D

  59. On 13 Maret 2009 at 19:21 meongku Said:
    ﺻﺒﺮ ﻣﻨﻨﺔﻛﺘﺎﺏ

    “Sabar menanti kitab”

  60. kita berdoa..mudah2an hari ini dapat rejeki kitab yang banyak

  61. hmmmmmmmmm
    (menggeram)
    nyekeli janggunt ambek manggut manggut pisan mlaku ngalor ngidul bolak balik koyo setliko, ngrasakno kahanane padepokan sing jarene wis gak sepiro harmonis.
    Walah pancen jenenge ndonya yo ono ae sing bener ono uga sing gak tayoh alias nggak pleki.
    (aku mungkin yo masuk kategori sing gak tayoh pisan yo hehehehehe)
    wis ta lah poro pengasuh,…
    nek misale onok sing gak tayoh di srimpung ae nang ngarep lawang cek’e gak sampak mlebu lan ngisruh nang njerone padepokan.
    sing mesti poro bebahu lan poro putut nang padepokan iki lak wis duwe ngelmu sing wis mumpuni, mangkane jarene penyiar JTV sing gak usah “KCC” srimpung ae…. bro (dadakno aku dewe iki mengko sing keno srimpung eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekekekekekekekekekekekekekekek)

  62. Selamat mengelola ADBM kembali Anakmas Sukra.

    Semoga padepokan makin mempercantik diri dan selalu digemari oleh para cantrik di segala lapisan, tua, muda remaja, kakung, putri, yang memiliki kegemaran yang sama, dengan aneka macam komentar para cantrik dan membuat padepokan ini semakin hidup, salut.
    Doa kami semoga Ki Gede dan Nyai Senopati dalam keadaan sehat wal-afiat tanpa kekurangan dan halangan sesuatu apapun, agar bisa segera kembali menyambangi kami para cantrik yang gandrung dengan ADBM ini.

    Nuwun

  63. Aaaaach saya ikut prihatin Nyai. Semoga Ki gede dan Nyai Seno serta bebahu padepokan ini tetap berbesar hati, karena bagaimanapun yang berlaku begitu kan hanya segelintir oknum. Yang sebagian besar lainnya berbangga dab berterimakasih pada para pengelola situs ini.
    Saya mengajak kepada para cantrik semua, marilah kita berpatisipasi aktif, secara positif dan tidak arogan.Banyak cantrik lain yang mumpuni namun bersikap rendah hati seperti tokoh kita bersama yaitu Agung Sedayu. Kalo meurut kakang Pandanalas sih ojo deksuro terus ojo opo meneh kang.. nuwun tulung terusno…

  64. Apa sasmita dari Panah Sendarennya Ki Sukra ya ? Apakah berarti beberapa hari ke depan kitab belum akan diturunkan, tapi nantinya langsung satu pedati diberikan setelah Nyi Senopati pulang dari mengamankan musim kampanye ?

  65. We’ lha kedadean ki, sebulan sekali… 30 rontal…
    sidho mendhem ….
    Apapun itu slamet ber mesu diri Nyimas dan Ki GD, kepada para saudaraku cantrik sedaya rontal akan tersendat sehingga kegiatan kanuragan mungkin akan terhenti sementara waktu, mungkin waktu yang tepat untuk ber mesu budi mengulang kembali olah kajiwan yang mungkin selama ini terabaikan.

    Selamat datang Ki Sukra, mudah-mudahan anda sukses menunaikan tugas yang di emban.
    Nuwun…

  66. kasih saya 5 kitab ki sukra buat di-retype…silahkan tentukan nomor berapa saja…

    # ampun juragan… retype aman sampai sekarang. memang diatur supaya tidak nyalib kitab djvu.

  67. sebelumnya mohon beribu maaf buat para cantrik yg merasa terganggu kenyamanannya akibat guyon yg kelewatan dari pihak kami, juga tentu khususnya pada Nyai Senopati, mohon dihampura…

    semoga adbm jayamahe

    Mas Gali (JXZ)

    # yang namanya guyon ya pasti bikin ketawa mas. minimal senyum :)

  68. Hadir, absen….ngeronda nglalang dulu…..

  69. :mrgreen
    begini to?

    # depan belakang Nyi :mrgreen:

  70. apa begini: :mrgreen:

  71. kok ada gambare wong ketawa ketiwi rupane ijo royo2….. apa arep melu kampanye ya….

  72. #mrgreen#

  73. #mrgreen:

  74. :mrred:

    test

  75. test

    :mrblack:
    :mryellow:
    :mrblue:
    :mr-embuh:
    :mr-sakarepedewe:

  76. nuwun sewu.. nderek urun rembuk.
    saya menemukan blog ini kurang lebih oktober tahun lalu. pada waktu itu saya cuma menikmati kitab2 suguhan ADBM. tidak ada keinginan untuk kasih komentar, karena suasananya adeem ayem tanpa tantangan. baru februari kemarin, saya merasa koment2 para cantrik sangat menarik dengan segala macam retorika dan karakter yang berbeda2.
    jadi menurut saya berbagai macam komen dari cantrik baik yang kasar maupun yang santun adalah hal yang wajar2 aja, bahkan dapat menambah riak dan riangnya padepokan. kalo isi komennya adem ayem aja, maka padepokan jadi sepi dan tidak ada gejolak2 perjuangan untuk memperbaiki diri dengan belajar dari pikiran orang lain. karena tidak ada kehidupan yang tanpa gejolak. bahkan kehidupan di alam kuburpun penuh dengan gejolak…..

  77. Anakmas Sukra,…

    dititipi padepokan punopo sami kaliyan dititipi wedaran kitab?

    terus tindak-e senopati kaliyan ki GD punopo ngantos wisudanipun Sutawijoyo rampung (tgl. 09 April)?

    ki DJSM, tak teruske :

    ojo deksuro
    ojo daksiyo
    ojo mekso
    ojo ngrondo

    ojo kementhus
    ojo keminter
    ojo kemlinthi

  78. :mrgreen

  79. semakin rame saja nampaknya…,,hmmmm…
    jd inget jmn awal padepokan ini ada….,,
    saat itu jangankan satu kitab satu hari…, para cantrik dengan sabar menunggu turunnya retype beberapa halaman kitab..kadang satu kitab selesai satu minggu kadang lebih lama,,,tapi padepokan tetap tenang..damai…,,,sekarang byk cantrik br yg sakti yg kdg tdk bs menahan diri untuk tdk mengumbar ilmunya…,hmmm smoga saja ADBM ni tetep ada,,tetep bisa jd komunitas yg sehat dan menyehatkan,,,tempat ngangsu kawruh yg bermanfaat..,,
    maturnuwun buat KI GD (dl sempat jg di sbt om DD, mas DD:-) ), Nyi Seno dan semua bebahu padepokan semuanya..

  80. mrgreen: :mrgreen #mrgreen: :mrgreen:

  81. menurut PS-e ki Sukra, ki GD + Senopati “walk out” mesu diri berkaitan dgn sikap cantrik2 yg sdh berlebihan …

    (aku yakin, panjenengane mesthi lagi meningkatkan ilmu kebal ulik2 + ilmu kebal rayuan) …………..

  82. dgn PS ki Sukra tsb…<
    apakah berati jg ada penangguhan mengunggah kitab, sampai ki GD dan Nyi Seno pulang?
    pulang dari mana??

  83. ….
    ………

  84. Selamat datang lg ki sukra… Saya setuju klau kitab retype segera diwedar supaya para cantrik yg cuman punya hp gak kitgglan jauh critax dg cntrik yg punya komputer, jd virus adbm tambah lebih cepat menyebar luas…. BRAVO…..3x ADBM…..Yesss…..

  85. sumpah pemuda
    inti point 3 :

    Berbahasa satu bahasa Indonesia

  86. @Ki Pandanalas

    Ki GD dan Nyi Seno “mesu diri” sambil piknik, lha mosok mau di padepokan terus memelototi 300 comment sehari, dengan berbagai canda (yang kadang guyonnya tidak maton)para cantrik, pasti perlu pemandangan lain.

    Sepertinya tumurunnya kitab agak tertunda, memberi kesempatan Ki Lateung sementara ketawa kegirangan; tapi nanti kalau rapelannya turun, cantrik lainnya gantian matek aji gelap ngampar.

  87. ##PS (Panah Sanderan) :
    Para cantrik silakan tetap absen di padepokan seperti biasa. Semoga Ki GD dan Senopati cepat kembali. Satu kitab satu hari akan tetap menjadi janji sehingga akan terjadi rapel besar-besaran saat Ki GD kembali.

    Ki Sukro, punapa mulai rontal 175 meniko terus mboten saget dipun wedhar saben ndinten, terus mangkeh dirapel sakkundure Ki GD & Nyi Senopati saking cutinipun???

    Waduh terus pinten ndinten Ki??? Mugi-mugi mboten dangu Nggih??? :cry: :cry:

  88. Bulek Seno jangan diambih dihati.kalu para cantrik susah diatur itu karena konsekuensi dari anomali dan anoninya mereka. The show must go on bulek Seno. Memang ada yan bukan nakal lagi tetapi sudah menjurus ke trojan behaviour. Tapi biarkan saja joyo jayadiningrat lebur dening pangastuti

  89. Selamat pagi sedulur2..

    nderek antri,
    Ki KontosWedul

  90. ada 2 group adbm difacebok…
    mana yg harus ku pilih…?

  91. retype
    langsung aja ke bahasa mataram, sehingga lateung dan beberapa rekan yang tidak bisa berbahasa mataram (termasuk saya) tidak perlu lagi mengunjungi situs ini karena tidak mengerti (selama ini masih mengerti karena materi disajikan dalam bahasa Nasional/ bahasa persatuan, bahasa Indonesia)
    untung masih ngerti matur nuhun yang berarti kitab sudah beredar.

    mohon maaf

  92. Klo menurut saya, kitab adbm itu di wedarnya jgn rutin karna akan menyebabkan para cantrik menjadi sakaw yg sangat berlebihan sehingga pd saat ad halangan dan kitab tdk bs diwedarkn hri itu maka pr cantrik akan berbuat yg aneh2 dan dluar kontrol dirinya akibat sakaw yg berlebihan td,lain klo kitab itu gak terlalu rutin diwedar kan kadang 1 hari 1 kitab, kadang 2 hari 1 kitab, kadang 3 hari 1 kitab, sehingga para cantrik akan trbiasa utk bs mengontrol diri dan sabar menanti jd gak sakaw yg berlebihan, meskipun tetap sakaw dlm menanti he…..3x, tapi jgn terlalu lama jg diwedarknx krna akn menyebabkn cntrik bosen menunggu he…3x

  93. Nyuwun pangapunten,
    saya mungkin juga termasuk penggemar sejak awal, bahkan sejak dirintis oleh Mas Rizal, memang betul dulu itu adem ayem, biar ada komen tapi sifatnya membangun, guyub dan ngajari,sekarang dengan banyaknya anggota dan “wong pinter” tambah kisruh, memang masih dalam batas wajar tapi kadang-kadang ono sik kebacut dan kurang pantas….monggo Nyai, saya setuju dengan kebijakan bahwa keluarnya buku terserah poro bebahu padepokan saja bade 1 hari satu monggo, bade dirubah juga monggo dan saya mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
    pisssss men

  94. Mangga teu langkung Ni senopati sareng Ki GD wae,, abdimah ngiringan wae :) dapet menikmati cerita ADBM juga sudah senang….

  95. saya juga cuma manut saja, lha wong nggak pernah bantuin retype atau scan :) bisanya cuma ngunduh dan komen.

    dikasih kitab atau tidak dikasih kitab tetap maturnuwun, paling tidak masih bisa baca komen yg lucu-lucu.

  96. Urun rembuk ah…

    Sebenarnya masalah bahasa, terserah yang mau komen.i
    Pakai bahasa Indonesia silahkan, Pakai bahasa Jawa monggo, pakai bahasa Sunda mangga. Bagi yang pengin nanggapi silahkan, yang tidak mau / tidak bisa menanggapi ya gak papa.. Yang penting pakai bahasa apapun pakailah bahasa yang sopan dan tidak menyinggung perasaan siapapun.

    Kayaknya sebelumnya sudah berkali-kali diulas, kok masih ada yang belum puas ya…

    Maaf kalau ada yang tidak berkenan… :cool: ;)

  97. wah ada rencana bikin kaos ya? ikutan pesen donk kalo bener :mrgreen:

  98. Hayooo poro saderek ngaku, sing dadi sakaw ora mung ktab, mlebu nang padepokan yo dadi sakaw

  99. Wah klo bener jd bikin kaos/baju/stiker ADBM skalian aj nanti bikin partai ( PARTAI ADBM ) ntar saya jg bersedia jd tim suksesx utk wilayah kalimantan he…..3x

  100. ..sakaw tidak sakaw ..
    yang penting ngantrii..,
    submit comment ..,
    dan dapat kitab..

    ..kalo udah diwedar.

  101. Absen Ki Sukra….
    Selamat bertugas kembali…

  102. ..klak-klik klak-klik, ..jet kejet kejet, kruget kruget, krusek-krusek-krusek, krembut-krembut ..

    ..lah, ini sakaw apa ayan, ya?
    ki Telik Sandi ke mana, ya? .. :schock:

  103. mmm, ..maksudnya ‘shock’ :shock: !

  104. Akuuuurr…

  105. :mrgreen:
    tak jajale metu ko ra

  106. ikuttt,ya kopi darat dan kaos/sticker utk mempeerat cantrik

  107. Tetaplah bersama kami, Ki GD dan senopati akan kembali setelah yang satu ini…..

  108. Absen Ki Gede dan Nyi Seno, kalau bisa tembus. Selama ini tidak bisa kasih koment nggak tahu kena apa????????????????????????????????????????????????????????????????????????

  109. Aku baru mulai baca kitab 101
    ketinggalan benerrr he..he…spt komputer pentium 1
    tapi nggak apa2…alon-alonnnn asal klakon

    tapi hidupku tambah semangat/senang (spt ketemu sang idaman hati he..he..), karena setiap pulang ke rumah, setiap saat, ada yg menemani yaitu ADBM

    # kemana saja Ki Lurah ?

  110. melu cuti ah….
    anggep wae abdm prei seminggu…

    ben nggone diresiki sik karo ki sukra…
    wis kokehan ilereee cantrik sik do ngronda ngenteni wedaran kitab

    preiiii…preiii…peiiiiii

  111. wuihhhhhhhhhh, kebagian no urut 80 lebih. Sekejap aja dah numpuk komen nya. Yang menarik dan sangat menarik adalah situs ini menyajikan teka-teki untuk meraih rontal yang diinginkan. Cuma mereka yang setia dengan Virus ADBM yang mau mecahkan teka-teki ini.

    Buat Ki GD, Senopati, salut and salut untuk kebijakan yang telah dibuat. Poro Cantrik, mohon dengan sangat agar dapat memahami kebijakan ini.

    Yang paling mengesankan dari Virus ADBM ini adalah pasokan tatanilai berupa kesantunan dari seorang AS sebagai adik, sebagai kakak (seperguruan), sebagai murid, sebagai suami, sabagai anak mantu, sebagai anak buah dll. Kesantunan yang ‘njawani’ yang kini telah meredup di tengah gemerlapnya modernisasi namun tidak mengerdilkan filosofi jawa ditebar oleh SHM dengan cara yang manis dan estetis. Walau masih tampak HITAM dan PUTIH, dan belum ada yang tampak ABU-ABU dari tokoh-tokoh ADBM, menurut saya, ini lah tanah jawa.
    Bagi teman-teman yang ingin memahami karakter orang jawa, disini t4 nya untuk mengetahui bagaimana karakter orang jawa yang sebenarnya. Andap Asor, mikul nduwur mendem jero, dll semua tampil dalam karya SHM.

    Nah kondisi padepokan ADBM yang seperti saat ini menjadi media paling berharga bagi dunia untuk dapat mengetahui, mencerna dan mendalami filosofi jawa yang tampaknya secara tidak langsung menjadi filosofi manusia Indonesia walau disertai modifikasi yang disesuaikan dengan kenyataan yang ada.

    Ayao para cantrik. Kita jaga padepokan ini dengan sebaik-baiknya. Caranya yaaa, mungkin dengan mengikuti kebijakan pengelola. C7!!!!!!!!!

  112. Aku jadi sedih kalau padepokan ini harus cuti. Kebiasan tiap pagi untuk sementara libur dong

  113. Assalamu’alaikum, wr wb
    para cantrik sedoyo
    ndherek antri
    punopo kitab 175 dereng dipun wedharaken?
    Wassalamua’laikum, wr wb.

  114. nunggu kitab 175 disini,dulu

  115. test….:-|

    http://support.wordpress.com/smilies/

  116. test…

    http://support.wordpress.com/smilies/
    :-|

  117. hehehe, baru bisa…
    ……………
    :-D :) :mrgreen:

  118. Ki & Nyi Gede undur diri
    Ngudi sarira mesu diri
    Anakmas Sukra tampil mengganti
    Padepokan dibenahi

    Cantrik selalu setia mengantri
    Agar kitab 175 dst unjuk gigi
    tetapi apa yang terjadi
    Akhirnya cantrik gigit jari

    Cantrik sabar dan tahan emosi
    komentar saring dan hati-hati
    Ki & Nyi Gede pasti kembali
    bersama Ki Sukra lontar tersaji

    he…he…he (tersenyum sambil baca lontar yang tersaji)

  119. hehehe..
    akhirnya dibuka kembali, meski aku gak ngerti kpn dibukak-e..
    tapi sempet ngerasa hekkk juga diperut ini, waktu komen-ku ikut didelete sama nyi seno..
    wislah..
    keep in good work para bebahu dan mesu diri selalu. bukan cuman para bebahu padepokan, para cantrik seharusnya ikut mesu diri juga ben gak gegeran terus..
    keep in peace and smile .. :))

  120. Eloh…. durung absen tho aku ki mau….
    Wis teka ket mau je malah lali… dadi entuk mburi tenan kik….

  121. jajal iso po ra yo
    :roll: :mrgreen:

  122. wah ada rapel besar-besaran,begitu ya Ki Sukra ,janjimu ku tunggu……

  123. :twisted: ini jika ada yang ngiler …. :twisted:

  124. Hadir Ki Pasir Sawukir,..whualah iku yo ajian sing ngedab – ngedabi,..

  125. :roll:

    yg kedip dan mesem…

  126. @ Ki Widura
    Lha memang gandoknya di selarak kok jadi ya ngga bisa ngabsen….
    Untung segera dibuka lagi…

  127. kulanuwun

  128. Buto Ijo :mrgreen:
    Buto rambut geni :twisted:
    Glundung pringis :lol:

  129. Mesam-mesem
    Menjap-menjep
    Ngguya-ngguyu
    Mringas-mringis
    Cengingas-cengingis
    Ketawa-ketiwi
    Cekakak-cekikik
    Kapanpun Kitab di wedar
    Sudahkah anda tersenyum hari ini
    Tersenyumlah sekarang tapi jangan terlalu lama :mrgreen: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :mrgreen:

  130. saya sebagai cantrik hanya menurut apa yg terjadi

    asal kitab tetep diwedar kukan setia menunggumu … oh …oh ..!!

  131. Hmm…gambar kover wae durung ana….apa ya mungkin?

    Ya wis lah..tak bali ndhisik, mengko tengah wengi opo sesuk esuk tak balenane meneh.

  132. Sabar dulur,ayo antri sig tertib

  133. Para bebahu akan mesu diri….Oalah 40 hari 40 malam nih..ditambah pati geni 3 hari 3 malam..selama itukah para cantrik menunggu wedarnya kitab ???

  134. Whaduh, musuhnya Agung Sedayu mbanyu mili. Lha nanti kalo adik seperguruan Prabadaru dan Bajak Laut ko’it, apa nggak gurunya nglurug juga ke Menoreh. Kalo begini modelnya agak membosankan juga yah! Tapi apa boleh buat sudah telanjur kecanduan.
    Oh ya cover 175 belum nampak yah, jadi nggak ada spoiler nih. Kayak kalo mau nongton pelem, mesti menganalisis dulu gambarnya yang terpajang di pojok gedung pelem itu.
    Selamat datang Ki Sukro, selamat bertugas memasang dan mengangkat pliridan.
    Regards,
    Truno Podang

  135. Wah Ki Sukra sekarang dapat tugas jadi bebahu padepokan, ngga bisa diajak masang pliridan dong nanti malem ???

  136. Sebagai salah satu cantrik…selamat buat Ki Sukra..semoga pe”wedar”an kitab lancar…memang penasaran klu nunggu kelanjutan cerita….tapi para cantrik diharap sabar menunggu…bonussss….

  137. Yah .. begitulah kehidupan ….

    Baik di alam nyata ….
    Maupun di alam maya …
    Sifat-sifat manusia ….
    Akan tetap tampil ke muka …

    Yang mempunyai sifat memberi …
    Tanpa ingin ucapan terima kasi ..
    Tapi tetap memberi ..
    Walau terkadang dimaki …

    Atau yang selalu minta di kasi …
    Kala tidak terpenuhi …
    Terkadang suka memaki …
    Pada saat lupa diri ..

    Bersama ini kami ucapkan ..
    Terima kasih yang kami rasakan ..
    Atas segala pemberian …
    Yang sungguh sukar diungkapkan …

    Terima kasih Ki GD & Nyi Senopati ..
    Atas pemberian selama ini …

  138. Semangat mendiang Ki SHM adalah rendah hati dan welas asih, mari kita renungkan dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari….

  139. :P

  140. amin……………………………………………

  141. 8O

  142. Wah…ini berarti selama Ki GD dan Nyi Senopati nganglang dan nenepi di luar padepokan, kitab-kitab tidak akan diturunkan ? aduh…ciloko….
    Meskipun bagian ini, setelah Agung Sedayu mengalahkan bajak laut itu agak kurang menarik karena pokal Swandaru yang sombong, namun tetap saja penting sebagai kelajunta cerita, agar tidak terlongkapi…..
    Ya sudah…mudah2 an benar seperti apa yang disampaikan oleh Ki Sukra, nanti sepulangnya Ki GD akan terjadi rapel besar-besaran sesuai dengan jumlah hari dimana kitab2 itu absen…

    PS: Yang agak senang pastilah si Lateung….dengan GR nya dia akan pamer bahwa ‘akhirnya usulnya di terima’….ben ae lah…

  143. ¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿lbr bg ktb selama msm kampanye
    ¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿

  144. SeLamat Datang Kembali Ki SUKRA …..

  145. saya termasuk salah seorang yang amat sangat berharap agar padhepokan ini terus berlanjut karena saya belum pernah tuntas membaca serial ini. Dulu pernah mengikuti serialnya dalam bentuk drama radio, tetapi juga tidak tuntas. Pernah juga difilmkan, tetapi juga tidak tuntas. Nah, kalau sekarang tidak tuntas juga gimana donk? Bisa sakaw berat.

  146. Ki Agung Raharjo,
    Barusan saya jalan-jalan ke halamani lain, wisata adbm, disitu saya baca artikel Ki Agung tentang tembang. Panjenengan tampaknya wasis urusan tembang-menembang, apa semua tembang itu selalu berisi lirik yang sesuai dengan tahapan hidup tadi (temanya) jadi kalau Mas Kumambang berarti temanya pasti mengenai jabang bayi yang sedang dalam kandungan dan Dandang Gula selalu berkisah/bertema tentang kesenangan hidup yang dapat dicapai ???

    Liriknya selalu sama atau berbeda-beda yang penting setia pada temanya ??

  147. Pantes Kitab Agak….lambat diwedar….
    ternyata Ki Gede dan Nyi Seno sedang ngelanglang….
    keluar padepokan……
    mudah-mudahan janji…. beliau……
    rapel Kitab….. terpenuhi…..

    hehehhehehe

  148. Salut salut deh, emang ngerjain Web seperti ini apalagi gratis sungguh luar biasa, dengar jumlah cantrik sedemikian besar, pasti repot banget dan makan waktu, apalagi kalau adminnya cuma 1 saja yg ngerjain wah ndak kebayang. Waktu rasanya banyak tersita.

    Mudah2 an ada pembagian admin (misalnya 2 atau 3 orang) paling ndak 2 hari dikerjakan oleh 1 admin yg berbeda. sehingga setiap admin ada istirahatnya. Itu juga kalau saran tsb belum dilakukan

    Maju terus, yg sering memaki artinya tidak ada rasa bersyukur…….., udah gratis mau minta lebih….. itulah orang indonesia hehehe

  149. Kulonuwun…..sepi sekali suasana padepokan pasca penggembokan…apa ini yang dinamakan suasana tenteram ya..?

    Kok saya merasa kehilangan gairah padepokan yang semula terpancar pada saat pertama kali bergabung…sekarang tidak ada cantrik yang pecicilan, semuanya merunduk takut salah omong….

    Padepokan ini semarak karena pokal cantrik yang beragam,justru saya merasa menemukan dunia yang akrab saat itu.

    Hanya pendapat pribadi, jika tidak berkenan mohon dimaafkan.

  150. emang terasa sepi dan nglangut……,,, mgkn karena para cantrik tahu g bakalan da kitab yg di bagi…jd tdk bergairah….,,
    sampai kapan ya….

  151. Salah satu penyebabnya, diantaranya adalah alur cerita yang mulai menurun seiring dikalahkannya musuh2 besar AS. Ketegangan mulai mereda. Para cantrik pun tensinya normal kembali. Rasa Sakaw mulai berkurang. Susana pedepokan sedemikian tenangnya. Lutungpun jarang berkeliaran.

    Bila pada saatnya nanti kitab yang berisi pertarungan AS melawan Swandaru mulai beredar, mungkin suasana akan kembali menghangat. Terlebih lagi bila ceritanya dibuat menggantung dipenghujung kitab, wabah sakaw kembali merebak. Waduuuh,..ciloko rek,..

    Tapi jika pas serunya jalan cerita, pas padepokan adbm sedang melaksanakan panen raya, beruntunglah para cantrik karena mendapatkan bonus yang melimpah untuk dibagikan kepada para cantrik semua. Seperti halnya besok (halah, gosippp mode on,.. hehehe)

    Salam,

  152. sepertinya perang tanding antara nyi seno dan si Lateung dimenangkan si Lateung, terbukti nyi seno lari untuk mesu diri dulu menjari ilmu baru, selamat Lateung, anda sementara menang, yang kasian para cantrik, pada nglangut, tadi aku nyoba nyari-nyari di buku loakan siapa tahu ada api di bukit manoreh lanjutannya. Besuk hari minggu berburu lagi buku loakan dari pada di padepokan nglangut. Kasihan nyi seno sekarang mungkin sakaw, moga-moga tidak bunuh diri aja.

  153. werrrrr….

  154. hihihi aulianda & hernowo
    pada udah pernah baca ya..
    hebat koen ya
    eh ceritain sekalian lengkap napa sih
    biar kita cepet tau juga ceritanya
    gimana bro akur nggak

  155. ho’o, spoiler jangan setengah-setengah. satu jilid sekalian…..

  156. 1,444,826 cantrik

    kaya’nya memang nunggu sampai 1,5juta ya….

  157. Daripada ngelangut…hi hi hi

    Sumpek oiiiii

  158. @Ki Hernowo said: “ki Jayaraga yang akhirnya malah menjadi guru Glagah Putih, juga kedatangan raden rangga yang berpetualang dengan glagah putih,….

    Bisa dianggap SPOILER lho ….. nyuwun sewu!

  159. @ki Widura…
    Sopo NGILER kui…..

  160. spoilernya ditaruh di fesbuk ADBM aja deh,,,,biar gak kena setip..monggo ki..psstt..,emang AS dan Swandaru perang tanding?

    # itu yang selalu dibilang.. spoiler ditempat lain saja.

  161. @Ki Hernowo

    Dulu sekali sekitar th 80an saya juga membaca ADBM dari harian KR tapi juga terpotong-potong dan malah nggak rutin pisan. Kemudian pernah dengan cerita bahwa ilmu AS masih meningkat lebih tinggi lagi setelah bisa menghafalkan isi kitab K. Grg. Malah juga pernah dengar cerita bahwa ilmu AS pada permainan cambuk bisa mengeluarkan sinar yang bisa menyerang dari jarak jauh bahkan lebih hebat dari sorot matanya. Apa benar ki?

  162. Ki SAS,
    yang lagi molor …. lebih gampang ngiler ….
    yang terlalu sering nongol … lebih gampang ngompol
    yang terlalu pinter … lebih gampang keblinger ..
    yang terlalu banyak kongkaw di adbm , lebih gampang sakaw.
    He ….. hee kita masuk kategori mana Ki SAS?

  163. @ Ki Kebo Jenar…
    Ampun mancing2 cantrik podho ngiler …
    mengko poro chantrik dadi keminter…
    saking keminter’e dadi keblinger…

    @ Ki Widura, aku koyone mlebu kategori wong sing ngiler ngidam ADBM iki….

  164. punten nyi seno aku aku kok jadi nglantur, nanti jangan-jangan tambah ndak keluar rotal 175 nya, sory banget saking kepinginnya menbaca lanjutannya, trims buat canrik yang ngelingke, sebaiknya aku pamit aja dari pada nambah-nambahi kisruh padepokan yang laki nglangut ini.

  165. Lho…belum diwedar ya…???
    Ronda du ahh…..

  166. Sugeng tindak Ki Hernowo …… sugeng Sare!

  167. Kalo dipikir kok ya sama saja,
    Kemarin comments are closed
    sekarang comments are open
    ..

    ….
    tapi ditinggal pergi sama Ki Gedhe dan NYi Senopati
    artinya:
    Comment-mu No reken… :) :D :mrgreen:

  168. Heran kale liat org2 yg ada d sini, bukan-a duduk manis terima kitab malah buat rusuh……..
    Ga tau berterimakasih ama pengelola, tinggal menikmati aja banyak tinggkah….

    Hidup ADBM, hidup bhs INDONESIA

    tetap semangat 1 minggu 1 kitab…..

  169. hidup ki lateung…

    saya setuju!!!

    1 minggu 1 kitab, 1 senin 1 kitab, 1 selasa 1 kitab, 1 rabu 1 kitab, 1 kamis 1 kitab, 1 jumat 1 kitab, 1 sabtu 1 kitab… :D

  170. setuju usul @banuaji
    ha hah ha aha a…

  171. $ ==> nyai seno yang punya
    # ==> ki sukra yang punya
    (o)(o)==> siapa yang punya… :mrgreen:

  172. suwe ora jamu
    jamu godong telo
    suwe ora ketemu
    ketemu pisan njaluk telo…

  173. sepi…pi…pi…
    sunyi…nyi…nyi…
    suwi…wi…wi…
    pi…nyi…wi…

  174. Cantrik shift malam sudah siap ???

  175. @ki pembarep

    kurang ki pandan, ki kimin, ki manahan, ki… sapa maneh ya…

    yang jelas sedang pada nganglang, karena ki gd dan nyai seno sedang berbulan madu eh… mesu diri…

  176. shift malam ato pagi siap selalu
    siaaap!!!!!

    emange ono opo?

  177. Ki Lateung said:

    “Heran kale liat org2 yg ada d sini, bukan-a duduk manis terima kitab malah buat rusuh……..
    Ga tau berterimakasih ama pengelola, tinggal menikmati aja banyak tinggkah….”

    —-
    ki latueng dan rekan cantrik lain,

    sy pribadi gak melihat ada yang perlu disesali dari situasi “rusuh” ini. justru kebalikannya, ini adalah bukti nyata yang tidak terbantahkan dari suksesnya blog ADBM ini.

    seperti sebelumnya pernah sy singgung, dunia ini emang seolah seperti sudah kebalik-balik. interaksi yang terbangun dari blog ini luar biasa komunikatif dan dinamisnya sehingga dalam suasanan spt itu semakin “rusuh”, semakin sukses.

    suka tidak suka, sadar tidak sadar, kita semua ada di dalamnya. karena itu, tidak perlulah tunjuk hidung dan caci maki siapa yang paling bener dan siapa salah.

    dan Nyi Seno, trims atas penjelasan sbgmana tertera di halaman 1 di atas.

    salam

  178. API DI BUKIT MENOREH
    Kode Buku : ASH001
    Jml Jilid : 396
    Harga : 2.500.000
    LIHAT DETAIL

    PELANGI DI LANGIT SINGOSARI
    Kode Buku : ASH021
    Jml Jilid : 79
    Harga : 800.000
    LIHAT DETAIL

    ada cantrik yang ngasih link, buat yang sakaw berat…,
    tapi kurang asik…, ga ada celoteh latteung!!!
    TAPI boleh juga , daripada daripada… 8-)

  179. sabar2… orang sabar di sayang Tuhan…

  180. link yg mana? dewo??

  181. thong….thong….thong…..Ronda2. Ayo cantrik2 keturunan kalong pada bangun. Mas Jualanhiikk pesen kopi joss ya.

  182. he he he memang adbm top, bahkan tanpa kitabpun padepokan tetap rame. :D

  183. sambil nunggu kitab liat camfrog ajaa

    _Indonesia_City_Plus ada yg lagi “show”

  184. pukul satu…

    makin rame…

  185. Kimin hadirrrr……. ki banuaji

  186. On 15 Maret 2009 at 00:52 putut karang tunggal Said:

    link yg mana? dewo??
    +++++++++

    http://www.anelinda-store.com./silatantik.php
    tolong kalo udah beli, jangan lupa scan ya…
    :D

  187. weleh weleh weleh enteno

  188. Bagus juga ada yang punya buku lengkap.., ntar kalo kitab nyi seno ada yg tercecer.., nah bisa jadi tim bantuan khusus
    :lol:

  189. seperti sekolahan, kalo gurunya lagi gak ada, malah ramee…. :)

    sugeng dalu ki kimin… bagaimana garwanya, sudah sehatkah?

  190. Sugeng enjang wonten pinggir lepen barito ki banuaji, sanes garwa, tapi putra ingkang sakit ki…, alhamdulillah sampun sehat….
    Ki banuaji, ketingale ki manahan sampun mandhap nggih, teras ki widura, ki alGhors, ki Agung Rahardja kok kadhose mboten ketingal, punapa sami janji saweg dugem nggih, mumpung malem minggu…. he..he…he…
    dugeme ningali tayuban wonten padukuhan sebelah….

  191. Sakjane, maksude mesu diri iku kepiye tho…??? opo karepe “nesu diri” hehehe…obong-obong!

  192. para cantrik
    hari ini bhb
    bu guru dan pak guru ada studi tur ke jipang…
    maka…
    silakan belajar sendiri…
    pelajaran bebas……, tapi jangan bikin rusuh dan onar…

  193. 35. Tomy Winata – Agung Sedayu Grup, 110 Million $, Age 48 Pemegang saham Artha Graha Bank dan usaha property Agung Sedayu.

    termasuk 40 orang terkaya Indonesia…
    selamat buat Adimas AS…., semoga padepokan ADBM tambah jaya…, subur makmur,

    ….meronda hari esok…..

  194. sepi…..

  195. @Ki Kimin,
    Saya hadir, mau ronda …. cari rondo ……. kepetuk cantrik sing lagi nggodain ….. rondo ……….
    Dasar ….. jagsa malam harus diperketat.

  196. Eeeh cari rondeeeeee

  197. ha..ha…ha…

    untung nggak ada ki sas, nanti tersungging…

    ayamnya gak bisa kluruk lagi gara-gara sudah rondo… :D

    @ki kimin

    nyuwun pangapunten nggih, tapi ya syukurlah kalau sudah sehat…

    btw, dulu saya pernah ke banjarmasin dan ketemu sama seorang dayak yang tertarik sama cangklong yang saya bawa dari ranah jati anom, ya.. saya berikan dan ternyata beliau memberikan saya sebungkus bubuk hitam, katanya untuk penyakit apa saja bisa.

    saya cobakan ke isteri saya yang sedang terkena tumor, dan ternyata sembuh total ki…

    kalau bertemu dengan beliau sampaikan terima kasih saya (padahal gak tau namanya dan alamatnya :) )

  198. bukan sepi ki… sambungan internet di sini masih sering terganggu sejak beberapa hari yang lalu, jadi putus-sambung, putus-sambung, byar-pet, byar-pet… :(
    gara-gara terkena angin prahara ki tumenggung

  199. huwah, tinggal segelintir pengawal padepokan…

  200. @Ki Banuaji ..
    Semua pengawal …. sedang …. nonton layar tancap ..
    sepenginggal Sultan Hadiwijaya, Tumunggung Wirabumi sedang cari masa … untuk menanamkan kukunya di Pajang.

    Ki Kimin sedang lari ke Kali Barito sekarang ….. gara-gara kebanyakan makan cempedak ….
    Ki Manahan sedang kungkum di kali Nil ….. tapi cuma dibatas bawah lutut … saja.

    Njengenang ada di kali mana Ki Banuaji?

  201. @ ki Widura
    Alhamdulillah ki widura hadir…, tadi saya monitor di peta who’s among us, lampu dari negari kayangan gak kedap-kedip, saya pikir lagi gak ada tahunya lagi negronda keliling ketemu wedang ronde… ya cocok kalau lama cangkruk di samping angkring, mesti namabah gak cukup cuman satu mangkok.
    @ ki banuaji
    Tahun berapa ke banjarmasinnya ki ? Sekarang posisi dimana, ibu sembuh karena serbuknya atau ditambah upaya medis, tumor apa, he…he… kaya ngerti aja nanyanya ya ki… BTW tertarik juga nih sama serbuknya, kira2 dari apa ya, terus ketemu orangnya banjarmasinnya dimana, siapa tahu bisa dilacak sama ki telik sandi, hicks…hicks…hicks….

  202. mangga, para cantrik ingkang badhe nggantosaken pengawal ingkang sampun sare…

    kula nggih badhe sare rumiyin, muga-muga mbenjing ki gd kalian nyi seno sampun rawuh lan kitabipun sampun dipun kawedaraken…

    (bener gak sih??? :mrgreen:)

  203. masih sepiii nihhhhh…..

  204. Ki Kimin, mbeto sarung rangkap … boten? Kolu radi kademen …. ?

  205. We… ki banuaji pun ditengga garwane kapurih sare….
    monggo2 ki… sugeng sitorohat….

  206. he..he..he..

    saat ini saya sedang di kali ciliwung ki widura, baru minggu kemarin nganglang ke jati anom, jadwalnya minggu depan baru nganglang ke tanah perdikan banyubiru.

    saya ke banjarmasin sudah dua tahun yang lalu ki kimin.
    nyonyah justru sembuh karena serbuknya, begitu di cek medis kembali, ternyata sudah tidak ada lagi tumornya.
    kalau gak salah mamae accesories deh.

    justru karena begitu sampai di bandara, tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba mak mbedunduk beliau menghampiri saya yang sedang merokok menggunakan cangklong itu, makanya belum kenal dan belum sempat tanya macam-macam.

    serbuknya seperti tumbukan arang, entah hasil bakaran apa, tinggal di campur di air cuma satu sendok teh dan dioleskan di daerah yang sakit. hanya itu petunjuknya dari beliau.

    wah wis ngantuk ki, selamat beristirahat bagi yang ngantuk juga dan selamat meronda bagi yang amnesia :D

  207. @ Ki wisnu
    Soegeng enjang ki….
    @ Ki Widura
    Lhadalah…. sampun ngunjuk ronde 2 mangkok taksih kademen, wua….. ki manahan sing ngasta sarung doble je wau…. sampun diasta kundhur …..

  208. Pade pados burrito rimiyen Ki Kimin ….
    nJenengan pade sarapan …. sekol pecel …

    Segeng enjang ki Wisnu…… njenengan dereng ngantuk tho? Mangke dalam pundutku …. taco…

  209. Ki Widura sampun dangu2, nitih turangga kemawon sampun mlampah….
    lhe… kok malah mlampah….. meanwi kedangon dalem nyusulllllll…….

  210. Ikutan ronda….

  211. Sumangga ki Aryarto…. taksih wonten wedang ronde bekalipun ki widura niki….. monggo dipun unjuk….
    uanget…..

  212. Pinggir lepen barito bang subuh sampun muluk, dalem pamit…..

  213. Ahh…mampir di pendopo dulu….ikut minum wedang ronde dulu…

  214. lho kula wonten kok ki Kimin, kalawau keturon wonten lincak njawi. Dinggo bancakan karo nyamuk, sakpunika bentol2 kabeh.

  215. Salam…
    Wach rame jg ternyata malam ini, gmn kabar sederek2 sedoyo?
    Malam minggu malam yang asyik…
    Malam yang enak buat…

    Oh ya saya mau nanya ni buat sederek2 FB ADBM apa ya alamatnya?

  216. ki alGhors, alamatipun wonten FB Api Di Bukit menoreh. Punika link-ipun: http://www.facebook.com/album.php?aid=2007474&id=1327323252#/group.php?gid=46116775873
    Mangga gabung, wonten Ki Zacky, Ki Maswal, Ki Sukra lan para cantrik. Kula inggih sampun gabung, hananging namung monitor thok, mboten aktif.

  217. wah link kula salah punika. Ki Sukra nyuwun tulung di setip nggih, wenehi link kok malah salah. Nyuwun pangapunten nggih.

  218. Matur nuwun Ki Manahan kulo segera meluncur ke lokasi:D

  219. On 14 Maret 2009 at 23:40 Lateung Said:
    Heran kale liat org2 yg ada d sini, bukan-a duduk manis terima kitab malah buat rusuh……..
    Ga tau berterimakasih ama pengelola, tinggal menikmati aja banyak tinggkah….

    Hidup ADBM, hidup bhs INDONESIA

    tetap semangat 1 minggu 1 kitab…..

    TERIMAKASIH KI LATEUNG ANDA SUDAH MENGIKUTI SARAN PARA CANTRIK LAINNYA SUDAH MENYEBUT NAMA INDONESIA DENGAN LENGKAP, HARAPAN SAYA ANDA SEMAKIN MENJADI LEBIH BAIK, SEMAKIN SADAR DIRI, SEMAKIN MENYATU, SEHATI SEPIKIRAN DENGAN PARA CANTRIK LAINNYA DAN SEMAKIN MENJADI BAGIAN YANG TIDAK TERPISAHKAN DARI PADEPOKAN INI SEPERTI YANG DIHARAPKAN PARA PENGELOLA PADEPOKAN INI, AMIN.

    # caplock nya Oom..

  220. Bertapa ( Tapabrata )

    Tapabrata dianggap oleh para penganut Agami Jawi sebagai suatu hal yang sangat
    penting, Dalam kesusateraan kuno orang kuno, konsep tapa dan tapabrata diambil
    langsung dari konsep Hindu tapas, yang berasal dari buku-buku Veda. Selama
    berabad-abad para pertapa dianggap sebagai orang keramat, dan anggapan bahwa
    dengan menjalankan kehidupan yang ketat dengan disiplin tinggi, serta mampu
    menahan hawa nafsu, orang dapat mencapi tujuan-tujuan yang sangat penting.
    Dalam cerita-cerita wayang kita sering dapat menjumpai adanya tokoh pahlawan
    yang menjalankan tapa.

    Orang jawa mengenal berbagai cara bertapa, dan cara-cara itu telah disebutkan
    oleh J. Knebel (1897 : 119-120 ) dalam karangannya mengenai kisah Darmakusuma,
    murid dari seorang wali di abad ke 16, berbagai cara menjalankan tapa adalah :

    1.Tapa ngalong, dengan bergantung terbalik, dengan kedua kaki diikat pada dahan
    sebuah pohon.
    2.Tapa nguwat, yaitu bersamadi disamping makam ( nenek-moyang anggota keluarga,
    atau orang keramat, untuk suatu jangka waktu tertentu.
    3.Tapa bisu, dengan menahan diri untuk tidak berbicara, cara bertapa semacam
    ini biasanya didahului oleh suatu janji.
    4.Tapa bolot, yaitu tidak dan tidak membersihkan diri selama jangka waktu
    tertentu.
    5.Tapa ngidang, dengan jalan menyingkir sendiri ke dalam hutan.
    6.Tapa ngramban, dengan menyendiri di dalam hutan dan hanya makan
    tumbuh-tumbuhan
    7.Tapa ngambang, dengan jalan meremdam diri di tengah sungai selama beberapa
    waktu yang sudah ditentukan.
    8.Tapa ngeli, adalah cara bersamadi dengan membiarkan diri dihanyutkan arus air
    di atas sebuah rakit.
    9.Tapa tilem, dengan cara tidur untuk suatu jangka waktu tertentu tanpa makan
    apa-apa.
    10.Tapa mutih, yaitu hanya makan nasi saja, tanpa lauk pauk.
    11.Tapa mangan, dilakukan dengan jalan tidak tidur, tetapi boleh makan.

    Ketiga jenis tapa yang tersebut terakhir, sebenarnya juga dilakukan oleh
    orang-orang yang hanya menjalankan tirakat aja, oleh karena itu batas antara
    tirakat dan tapabrata itu tidak begitu jelas. Walaupun demikian bahwa kita
    harus memperhatikan bahwa ke 11 jenis tapabrata itu jarang dilakukan secara
    terpisah, semua biasanya dijalankan dengan tata urut tersendiri, atau dilakukan
    dengan cara menggabung-gabungkan.

    Oleh karena itu tapa semacam itu mirip dengan tapas pada orang hindu dahulu,
    sehingga dengan demikian ada suatu perbedaan fungsional antara tirakat dan
    tapabrata. Namun sering terjadi bahwa orang melakukan tapabrata bersamaan
    dengan samadi, dengan maksud untuk memperoleh wahyu. Tentu saja tujuan dari
    tapa semacam ini adalah untuk mendapatkan kenikmatan duniawian, akhirnya perlu
    disebutkan bahwa pada orang Jawa tapa merupakan salah satu cara penting dan
    utama untuk bersatu dengan Tuhan.

  221. Meditasi atau Semedi.

    Bahwa meditasi dan tapa adalah sama, serta perbedaan antara keduanya hanya
    terletak pada intensitas menjalankannya saja. Teknik-teknik s rta
    latihan-latihan untuk melakukan meditasi ada bermacam-macam, yaitu dari yang
    sangat sederhana, seperti memusatkan perhatian pada titik-titik hujan yang
    jatuh ditanah, hingan yang sukar dan berat dijalankan, seperti menatap cahaya
    yang terang benderang dari dalam sebuah gua yang gelap ditepi pantai, dengan
    gemuruh ombak sebagai latar belakangnya, sambil berdiri dengan posisi yang
    sukar selama 12 jam berturut-turut.

    Meditasi atau semedi memang biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata,
    orang yang melakukan tapa ngeli misalnya, tidak hanya duduk diatas rakitnya
    saja sambil mbengong, tidak berbuat apa-apa, ia biasanya juga bermeditasi.
    Sebaliknya meditasi seringkali juga dijalankan bersama dengan suatu tindakan
    keagamaan lain, misalnya dengan berpuasa atau tirakat.

    Maksud yang ingin dicapai dengan bermeditasi itu ada bermacam-macam, misalnya
    untuk memperoleh kekuatan iman dalam menghadapi krisis sosial ekonomi atau
    sosial politik, untuk memperoleh kemahiran berkreasi atau memperoleh kemahiran
    dalam kesenian, untuk mendapatkan wahyu, yang memungkinkannya melakukan suatu
    pekerjaan yang penuh tanggung jawab atau untuk menghadapi suatu tugas berat
    yang dihadapinya. Namun banyak orang melakukan meditasi untuk memperoleh
    kesaktian ( kasekten ) disamping untuk menyatukan diri dengan sang Pencipta

  222. Tujuh Tapa
    Pujangga terkenal dari Kasunanan Surakarta, Ranggawarsita memiliki konsep yang menarik tentang “Tujuh Tapa” yang mungkin dapat memberi makna lebih bagi puasa kita. Dengan memahami makna “Tujuh Tapa” dalam Serat Pamoring Kawulo-Gusti, semoga puasa kita tidak hanya berhenti pada ritual “tidak makan-tidak minum”, tetapi juga memiliki dampak sosio-politik-spiritual-moral yang lebih dalam bagi kehidupan kita selanjutnya.
    Jenis tapa yang pertama disebut sebagai Tapa Jasad, yakni laku badan. Hati agar dibersihkan dari sifat benci dan sakit hati, rela atas nasibnya, merasa dirinya lemah, tak berdaya. Jadi, hal ini merupakan laku yang berada dalam tataran syari’iat. Yang kedua adalah Tapa Budi, yaitu laku batin atau laku tarekat. Hati harus jujur, menjauhi perbuatan dusta, segala janji harus ditepatinya. Jenis tapa ini sangat tepat dilakukan oleh para politisi yang saat ini sedang dalam proses kampanye untuk Pemilu 2009 mendatang. Melalui momen puasa inilah para politisi dituntut untuk merealisasikan janji-janji kampanye dengan niat yang tulus untuk memperbaiki nasib rakyat dan bangsa.
    Yang ketiga adalah Tapa Hawa Nafsu, yakni berjiwa sabar dan alim serta suka memaafkan kesalahan orang lain. Walaupun kita dianiaya orang lain, lebih baik diserahkan kepada Allah, agar diampuni dosanya.
    Mengampuni dan memaafkan kesalahan orang lain merupakan wujud dari kebesaran hati untuk merajut tali persaudaraan dan jalinan kasih sayang antarsesama. Sedangkan meminta maaf merupakan wujud keberanian mengakui kesalahan dan mengemban tanggung jawab untuk tidak lagi mengulanginya, tetapi berusaha memperbaikinya dengan kerja keras dan kesungguhan hati.
    Yang keempat adalah Tapa Brata atau tapa rasa jati. Dengan berpuasa, manusia diperintahkan untuk semakin dekat dengan Allah, mencapai ketenangan batin (hening-heningenna kalbu), dan mampu berdamai dengan diri sendiri. Selama bulan Ramadhan, kaum Muslim melakukan berbagai aktivitas di mesjid, tadarus, pengajian, dan iktikaf —demi menentramkan hati dan pikiran, serta membersihkan jiwa dari berbagai sifat buruk yang selama ini mengungkung jiwa kita.
    Yang kelima adalah Tapa Sukma, yaitu bermurah hati (ampek parama arta) dengan ikhlas rela mendermakan apa yang dimiliki. Jangan suka mengganggu orang lain dan agar mengemong hati orang lain. Di akhir Ramadan, kaum muslim yang mampu diperintahkan untuk memberikan sebagian hartanya kepada mereka yang berhak menerimanya. Karenanya, zakat dianggap sebagai syarat mutlak agar ibadah puasa seseorang diterima oleh Allah.
    Yang keenam adalah Tapa Cahaya yang memancar (Cahya Amuncar), yaitu agar hati-hati selalu awas dan ingat, mengerti lahir batin, sanggup mengenal yang rumit-rumit antara yang palsu dan yang sejati. Selalu mengutamakan yang mendatangkan keselamatan, suka membuat terang/padang hati orang yang sedang kesulitan dengan jalan mendermakan tenaga, harta, dan pikirannya (ilmunya).
    Yang ketujuh adalah Tapa Hidup (Tapaning Urip), yakni hidup dengan penuh kehati-hatian dengan hati yang teguh, dengan hati percaya teguh tidak khawatir terhadap apa yang akan terjadi lantaran yakin akan kebijakan Allah.

  223. 4-1 … 7-5 ..

    ayo ayo naik , masih muat .. 7-5, 7-5

  224. Pagi Kang Sukra,

    Nyonyahe Seno kapan balik ya….mau ngambil titipan kitab…selamad pagi semua…

  225. selamat pagi diajeng mala, empu widujati, ki Amat, saderek semua

  226. Selamat Pagi..

    Ngomong2 soal kaos ada ngga yang kepikiran untuk gambar depannya dipilih dari salah satu cover yg paling bagus. Dan pasti banyak yang milih gambarnya SM yang semok,.. :D Atau gambarnya Nyi Seno yang sedang menenteng senjata abad 20 nya. Berjejer dengan Pandawangi dengan pedang rangkap dan SM dengan tongkat baja putihnya. Keren kan? Trio Srikandi kita..

    Atau gambar AS,Swandaru dan Kiai Gringsing sedang memecut lutung yang nakal,.. hehehehe,.. Piss Ki.. Sekedar celotehan pagii…

    Salam,

    # bisa dikirim contoh gambarnya Ki ?

  227. “..Heran kale liat org2 yg ada d sini, bukan-a duduk manis terima kitab malah buat rusuh……..
    Ga tau berterimakasih ama pengelola, tinggal menikmati aja banyak tinggkah….

    Hidup ADBM, hidup bhs INDONESIA ..”

    Senang melihat Ki Lateung berslogan ‘hidup bhs INDONESIA’. Akhir-akhir ini jarang orang mempunyai sikap seperti itu. Hanya saja, ketika seseorang lantang berteriak, biasanya perhatian akan sepenuhnya tertuju padanya, tak terkecuali saya. Maka saya melihat orang yang bersemangat untuk menegakkan pemakaian bahasa Indonesia itu justru masih belum berbahasa Indonesia dengan baik. Pemakaian kata-kata ‘kale’, ‘org2′, ‘buat rusuh’, ‘ga tau’, ‘ama’, dan ‘aja’.. membuktikan hal itu.

    Mohon maaf jika tidak berkenan.

  228. Wah, ki GD & nyi Seno lagi spring break to?
    Trus apa ndak bisa disulihi leh medar kitabs, ki Sukra?
    Lah nek nunggu rapelan 1 minggu rak mblenger mengko…

  229. hoyeeeee,..kitabnya belum saya unduh

  230. Macam-macam puasa ala Kejawen

    1. Mutih
    Dalam puasa mutih ini seseorang tdk boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja.
    Nasi putihnya pun tdk boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi
    putih dan air puih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi
    keramas dulu sebelumnya dan membaca mantra ini : “niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged,
    putih kaya bocah mentas lahirdipun ijabahi gusti allah.”

    2. Ngeruh
    Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran / buah-buahan saja. Tidak
    diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb.

    3. Ngebleng
    Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa
    Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu
    tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari
    kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu
    atau cahaya-pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya
    sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

    4. Pati geni
    Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan
    alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang
    melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka,
    harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah mantra puasa
    patigeni : “niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara
    murka krana Allah taala”.

    5. Ngelowong
    Puasa ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang
    makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam).
    Diperbolehkan keluar rumah.

    6. Ngrowot
    Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang
    melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja! Diperbolehkan untuk memakan
    buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa
    ini diperbolehkan untuk tidur.

    7. Nganyep
    Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama
    dengan Mutih , perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

    8. Ngidang
    Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak
    diperbolehkan.

    9. Ngepel
    Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu
    kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

    10. Ngasrep
    Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali
    saja sehari.

    11. Senin-kamis
    Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Puasa ini identik dengan
    agama islam. Karena memang Rasulullah SAW menganjurkannya.

    12. Wungon
    Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.

    13. Tapa Jejeg
    Tidak duduk selama 12 jam

    14. Lelono
    Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan
    sebagai waktu instropeksi diri).

    15. Kungkum
    Kungkum merupakan tapa yang sangat unik. Banyak para pelaku spiritual merasakan sensasi yang
    dahsyat dalam melakukan tapa ini. Tatacara tapa Kungkum adalah sebagai beikut :
    a) Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar-pun dengan posisi bersila (duduk) didalam air
    dengan kedalaman air se tinggi leher.
    b) Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai
    c) Menghadap melawan arus air
    d) Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai
    e) Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana
    f) Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan dilakukan lebih dari tiga
    jam (walau ada juga yang memperbolehkan pengikutnya kungkum hanya 15 menit).
    g) Tidak boleh tertidur selama Kungkum
    h) Tidak boleh banyak bergerak
    i) Sebelum masuk ke sungai disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu)

    16. Ngalong
    Tapa ini juga begitu unik. Tapa ini dilakuakn dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas
    (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan
    posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak.
    Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan
    puasa Ngrowot.

    17. Ngeluwang
    Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian
    yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan
    gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau
    tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan
    melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dlsb).

  231. gpp deh kitab diluncurkan agak lama, mumpung lagi seneng ngeliat Liverpool membantai Man U 4-1 td malem di Old Trafford :D Viva era 80-an !
    :D

  232. absen.. nyi seno, nenggo kitab ingkang saklajengipun….

  233. dihalaman ini, sedikit di tengah, ada cantrik yang mengingatkan tentang point 3 SUMPAH PEMUDA,tentang kewajiban warga negara Indonesia untuk menjunjung tinggi bahasa Persatuan, bahasa Nasional, Bahasa Indonesia.
    Dan ternyata hanya Ki Lateung yang meneriakkan dengan sangat lantang : “HIDUP BAHASA INDONESIA ”
    Saya merinding melihat Nasonalisme Ki Lateung.

    Lantas, mohon info tentang situs yang menawarkan kitab ADBM, murah banget seharga 5 ribuan per kitab.

    Tetap semangat ki Lateung

  234. :) :) :) :) :)

    Selamat pagi/siang/sore/ para cantrik dan para bebahu padepokan ADBM.

    Sekedar mengingatkan kembali, Sumpah Pemuda tidak menghendaki “berbahasa satu”, tetapi menghendaki “menjunjung tinggi bahasa persatuan”.
    Menjunjung tinggi disini bukan berarti harus selalu menggunakan Bahasa Indonsia lho, tetapi lebih bermakna menghormati bahasa persatuan kita itu.

    Saya pribadi seandainya ingin berbicara dengan umum, maka saya akan berusaha menggunakan bahasa yang umum. Kalau ingin berbicara dengan orang-orang tertentu, sepertinya tidak menjadi masalah kan jika saya menggunakan bahasa yang tertentu juga?

    Mohon maaf bila ada yang tidak sependapat.
    :) :) :) :) :)

  235. Memang ada baiknya juga berbahasa satu. Di negara-negara maju, mereka juga hanya berbahasa satu. Prancis dulunya mengenal banyak bahasa daerah seperti halnya di Indonesia, setiap region mempunyai bahasa daerah masing-masing. Tapi saat ini hanya dikenal satu bahasa Perancis saja. Inggris, USA, dll.. hanya ada satu bahasa juga ya..

  236. Nyai Seno + Ki GD ternyata pendukung MU .. habis kalah 1-4 trus tahannnnnn ….

  237. hhh .. jangan diambil hati nggih ..

  238. meskipun ki gede & nyai senopati lagi ndak dipadepokan..
    ternyata para cantrik setia menunggu padepokan adbm ini.

    salut untuk para cantrik :)

  239. selamat pagi semua….
    selamat pagi indonesia…
    selamat pagi dunia…..

    nampaknya karena tidak ada kitab yg bs di bahas jadi pembahasannya berganti ke soal bahasa,,,(yg sdh berkali kali dibahas)
    menurut saya tdk masalah kalau ada yg sesekali menggunakan bhs jawa,toh padepokannjg sdh menyediakan kms bhs jawa,,,
    saya justru tertarik kalau padepokan atau cantrik yg lain jg menyediakan kms bhs daerah lainnya sehingga bs sekalian buat bljr…

    piss ah…salam damai aja,,, tp ko gak ada yg bagi2 sarapan ya…,he..he..maunya gratisan melulu

    # boleh. ada yang punya kamus bahasa selain jawa? sukra punya kbbi mau ?

  240. halo cantrikers

    selamad pagiii…

    Ki KontosWedul

  241. Ngomong-ngomong soal bahasa, saya setuju bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi/ bahasa persatuan. tetapi dalam pada itu, kita juga harus! melestarikan bahasa daerah kita masing-masing/ mother language seperti juga di Malaysia dan Singapura. Di negri jiran tersebut penggunaan bahasa daerah masing dianjurkan secara resmi.
    Jadi kalo menurut pendapat saya sah-sah saja kita ngobrol di forum ini dalam bahasa jawa, sunda, bugis, batak dan apapun yang kita mau. Kalo Ki L****ng ga ngerti obrolan bahasa jawa di padepokan ini belajar aja Ki. Gitu aja kok repot.

  242. Setuju dengan pendapat Ki djojosm..,,bahasa derah perlu dilestarikan, jangan samapai punaqh seperti bahasa orang eskimo…setelah orang tertua meninggal disana (142 tahun) maka punahlah salah satu bahasa di dunia ini…sudah ada +/- 1.200 bahasa yang punha dui dunia ini..konon beritanya…..
    Ari saya mah satuju make basa naon baelah….anu penting kitab ulah telat wedar…plus…bonusss….
    Maju terus ADBM…bebahu jangan lama2 mesu diri…

  243. kalau Ki Sukra mengisyaratkan akan rapel besar-besaran berarti Ki GD dan Senopati perginya agak lama, jadi sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar ya…………………………….

  244. Rapel besar-besarannya diberikan di awal juga tidak apa-apa kok … hihihi :)

  245. rapel besar2an????????????????
    sebulan berati ya?

  246. ditunggu rapelnya :), bisa-bisa sekarang ngunduh 3 kitab sekaligus untuk menenangkan padepokan agar adem ayem.

  247. hm.. soal bahasa lagi.. bahwa bahasa kesatuan kita bahasa Indonesia semua WNI pasti sudah tahu.. yang gampang2 aja.. kalau ga tahu bahasa Jawa, commentnya dilewat aja.. ga usah dibaca.. gitu aja koq repot..

  248. @ mala
    ..,emang AS dan Swandaru perang tanding?

    ah itu bohong aja . . .
    alias NGAPUSI . . .
    sing bener sih Swandaru berkelahi sama kiai Gringsing,
    nuntut keadilan, setelah dia tahu bahwa AS lebih jago darinya, he he
    (ada yang lebih bohong ndak ya)

  249. No rapel plz…….
    tetap 1 mggu 1 kitab

  250. Biasanya saya mengunduh kitab di hari Jum’at sore, dan itu rapel kitab-kitab yang di upload dari sabtu sampai kamis. Jadi di akhir pekan saya punya beberapa kitab yang dapat saya baca. Cara ini saya lakukan supaya saya tidak perlu ‘ketar-ketir’ tiap hari menunggu terbitnya kitab. Di akhir pekan selain rapel unduh kitab saya juga rapel baca komentar teman-teman semua. Wah akhir pekan benar-benar ‘sibuk’ dan tidak terasa sudah mau hari Senin lagi….

    • Bagaimana cara mengunduh ya, saya kok ngak dapat dapat ada tang mau memberi penjelasan, Salam

  251. Para cantrik semua …… ayo jalan-2 keluar dulu deh ….. Ki Gede dan Nyi Seno lagi mesu … ya … nggak perlu dipaksa berhenti – nanti ilmunya tidak taneg. Selain itu beri kesempatan Ki Sukra …. duduk santai sambil menikmati kesukaannya ….

    Jalan-2 dulu deh …. supaya jadi kreatif …. agar komentarnya bukan cuma
    1 mgg 1 kitab, hidup bahasa Indonesia …… dari dulu cuma itu-itu saja ………
    Sekali-sekali kasihlah bocoran kitab 175, 176, 396 sekalian ….
    Atau mungkin yang bersangkutan …. belum bisa menikmati bahasanya SHM yang njlimet …. namun mengenyangkan?

    Mari para cantrik ….. nikmati hari munggu yang segar ini……

  252. sugeng ngrantos,mugi tansah pinaringan sabar

  253. Sugeng rawuh Mas Sukra.
    Salam buat Ki Gede dan Ny. Senopati yang sedeang melaksanakan cuti besar , semoga keduanya selalu diberi kesehatan dan kebagiaan. mari poro cantrik , sanayan Ki Gede dan Ny. senopati citi, padepokan toh masih ada bebahu sing wis sakti mondroguna, udan ra kepanasan , panas ra kudanan.

    Salam

  254. s……….e……..p………i…………????????

  255. misanya ta kasih bocoran satu kitab di setip ngak ya ?

  256. atau bisa baca di blok ku ?

  257. tapi sabar aja deh, kita hormati nyi seno, au ndak mau mbocorkan atau spoiler nanti juga akan di wedar juga rtal selanjutnya, mari bersabar, nunggu nyi seno mesu diri !!!!!!!!!!!!!!!

  258. @Ki widura
    supaya jadi kreatif …. agar komentarnya bukan cuma
    1 mgg 1 kitab, hidup bahasa Indonesia …… dari dulu cuma itu-itu saja ………

    mau tanya ki ngajarinya gimana? kalau beo kan bisa ngomong/nyanyi tapi yang itu-itu juga.
    Lha kalau ini kan jenisnya lain sudah bisa ngomong dan kita mengerti saja sudah termasuk langka…..
    kita wajib mensyukurinya bahwa yang langka itu hadir di blog ADBM ini.

  259. no comment, no spoiller, gak ono kitab.

  260. Nila setitik, rusa susu sebelanga
    dampaknya begitu besar, wis rong dina gak ana kitab.
    weeee laah blaiiiii tenan.

  261. s
    e
    p
    i
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    t
    i
    d
    a
    k

    a
    d
    a

    k
    i
    t
    a
    b

    l
    i
    b
    u
    r

    p
    a
    a
    a
    a
    a
    n
    n
    n
    j
    j
    a
    a
    a
    a
    n
    n
    n
    g
    g
    g
    g
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .

  262. selamat siang parakadang cantrik Adbm semua 1minggu ndak absen berhubung ada perintah dines keluar dari gusti senopati di kantor yah sebagai pengawal nusantara harus selalu siap dong walau hati ini berat ninggalin padepokan ADBM. langsung aja tuh dengan semangat 45 and jiwa JENDRAL SOEDIRMAN yang selalu menggelora satupersatu semua kitab di lahap tanpa mbaca dlu coment para rekan cantrik dan ketika di kitab 174 kalau tidak salah mengerti pengiriman kitab mau di hentikan gimana nih?
    cilolo eh ciloko tenan iki!

  263. @KI Agung raharjo
    sempurane KangMas kemaren ndak jadi keruma tadinya udah mau berangkat eh datang senopati ke rumah ada perintah dines luar jadinya yah ndak bisa ke rumah Kang mas
    gmn kalau nanti sore aja (15-03-2009) ada banyak yang mau di koordinasikan.

  264. sugeng siang..
    walah ternyata sepi beneran yach…

    hehehehe.. tapi sebenarnya, kitab sing blm kewedar bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kreatifitas para cantrik yang sudah mumpuni dan punya waktu lo (yang sayangnya bukan saya salah satunya… maaf ki gd..hehehehe..)
    misalnya dengan membantu kangmas sukra untuk segera melengkapi halaman2 wisata adbm, menambah halaman2 lain seperti yang ditulis ki amat dalam rangkaian tapa brata dan tirakat diatas.

    semoga biarpun tak ada kitab bukan brarti tak ada komen dan tak ada cantrik yang nglalang padepokan lagi.

    untuk waktu wedar kitab, saya juga setuju jika wedar kitab tidak ditarget, lebih seru kalo sewaktu-waktu sesenenge para bebahu seperti waktu masih dipegang ki gd sendiri dulu (waktu awal2 aku mulai nyantrik. kapan yach?? kalo gak salah dibulan 10 tahun 2008).

    waktu itu saya terkesima oleh serunya para cantrik ngobrol kanan kiri sembari berusaha memecahkan teka teki ki gd dan juga membantu cantrik lain yang pada kesusahan.
    rasanya sangat menyenangkan dan ngangeni. kemudian mulai muncul kata2 kasar yang sempat saya minta tolong kepada nyi seno untuk membatasinya. karena saya mulai tidak betah dan resah. karena saya kehilangan guyonan yang gayeng tapi santun, cerita yang lucu tapi santun, usul2 yang muncul tapi tetap santun.

    saya kehilangan rasa tentram sampai saya malas baca komen. saya berkunjung tiap hari (bisa sampai 4-5 kali) kepadepokan bukan buat ngunduh tapi cuman buat menyapa dan dlosoran dengan para cantrik, karena saya ngunduhnya cuman 3 hari sekali. ketika kata2 yang tidak sepantasnya muncul, saya membatasi kunjungan pada tengah malam saja supaya tidak tergelitik untuk memberi komen yang sama kasarnya.

    tapi yo wis. sudahlah. yang lalu biarlah berlalu :)
    semoga ini bisa menjadi langkah awal kembali, menjadi padepokan sejuta cantrik yang tentram dan membikin bungah hati… (karena kadang saya mengandalkan padepokan ini beserta komen para cantriknya untuk membantu meringankan beban diotak saya kalo pas dikantor dan lagi ngerjain lap keuangan yang gak balance2..hehehe.. kapan ki truno podang bikin cerita lucu lagi yach.. balada cinta ASM..kangen ki truno..)

    jadi, keep in peace and smile semuanya… :)
    terimakasih para bebahu padepokan dan terimakasih para cantrik semuanya…
    pun duko sedoyo, jangan marah, jangan tersinggung, karena ini hanya sekedar ungkapan hati… :)

  265. @ Ki Lurah
    Monggo Ki, saya tunggu. Kalau kesulitan silakan menanyakan warga komplek tentang rumah saya. Saya tidak pakai nama semu kok Ki.

  266. Libuuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

  267. Ikut bikin Kaooooooooooooooooooooooooooossssssssssssssssssssssssssssssssss

  268. Rasanya, halaman ini akan memiliki komen terpanjang.

  269. masih ada 15 cantrik yg setia menunggui padepokan,,,

  270. Semoga hari ini bisa keluar kitabya, sebab bila hari kerja agak repot juga merapel bacanya
    Matur nuwun

  271. sekedar penghilang sumpek….
    buat yang suka mp3 humor bahasa jawa dari Cilacap,,
    CURANMOR.. Curahan Perasaan dan Humor,,bisa di unduh di
    http://www.esnips.com/_t_/curanmor

  272. @ Ki Pembarep
    Menurut saya pribadi, pada prinsipnya yang paling mudah untuk mencirikan/membedakan antara tembang satu dengan yang lainnya itu adalah apa yang disebut “guru gatra (jumlah baris), guru wilangan (banyaknya suku kata tiap baris), dan guru lagu (huruf vokal di tiap akhir baris)”.
    Setiap tembang macapat memang memiliki “karakter” sendiri-sendiri tetapi tidak terlalu mengikat tema apa yang harus diangkat dalam tembang itu. Suasana yang ingin dibangun/karakter tiap tembang terungkap dalam titi nada/cengkok yang sudah melekat di dalamnya.
    Kehebatan para pujangga kita yang menciptakan jenis-jenis tembang macapat itu yaitu mereka telah memasukkan unsur falsafah hidup yang tersirat/tersurat didalamnya.

    Mohon masukan dari para sanak kadang yang lain.

  273. wah sae punika, mbok menawi wonten ingkang gadhah conto tembang2 macapatan/ dandang gula antawisipun? monggo dipun wedhar, saged kagem rengeng2 sinambi nengga medalipun kitab2 saklajengipun…..
    kawula wekdal sekolah SD remen, nanging sampun dangu sanget boten nate mireng rengeng2 macapat malih…..

  274. Ki Termangu-mangu, monggo sareng-sareng kekidungan macapat utawi kidung-kidung sanesipun kaliyan para cantrik sanesipun. Contonipun saget dipun pirsani wonten ing http://jv.wikipedia.org/wiki/Macapat utawi wonten website sanesipun.
    Salam taklim saking kulo.

  275. Sedikit studi perbandingan saja nih …
    Bagi para kadang yang pernah baca Pendekar Mata Keranjang Tang Hay karya alm Kho Ping Hoo …. tentu juga mengetahui saat Hay hay sedang menyempurnakan ilmu dengan cara .. tapa pendem, kungkum & pati geni dll (yg tidak diceritakan lebih jelas) ….
    Ternyata ide tapa ini dipakai juga yaa .. dalam penyempurnaan ilmu di daratan sana sehingga Hay hay bagaikan Agung Sedayu yang lahir kembali setelah melakukan tirakat 40 hari + 1 hari pati geni. Adakah cerita lain yang juga mengikutkan salah satu (atau dua ..) cara tapa dalam cerita yang lainnya ? Apakah para kadang ada mengetahui ?

  276. Poro sederek sedanten…
    Berhubung sekarang kitab nya belum bisa di wedhar entah sampai kapan, gimana kalau poro sederek mandegani (bener nggak ya ?)’temu darat’ cantrik adbm.
    Biar nanti kita bisa ketemu Ki Sukra, Nyi senopati dan Ki GD sekligus.
    Biar kita bisa melihat hidung Lateung, mendengar dandang gulo ny aKi Pandanalas atau malahan mocopatan nya Ki Ageng Rahardjo atau Ki Terangguk-angguk atau cantrik ‘senior’ yang lain.
    Gimana ?

  277. Hari ini dan besok libur, padepokan sepi ditinggal para bebahu. Kitab tidak bisa diwedar. Para cantrik bisa bergiliran jaga dipadepokan dan piket. Besuk jika tiba saatnya semua bebahu pulang mereka tidak kecewa karena padepokan tetap terawat baik.

    Jika para bebahu tidak kecewa, tentu langsung akan merapel kitab-kitab untuk diwedar. Tidak usah iri dan saling tunjuk siapa yang harus jaga dan piket di padepokan. Silakan semua dengan kesadaran dan rasa cinta kepada padepokan.

    PS: Panah Sendaren baru dipesan. Nanti jika sudah tiba saatnya mbokayu Senopati akan memukul Kiai Bicak sebagai tanda.

  278. Seeeeeeep……….
    Makin ditahan malah smakin bagus.
    Yeeeeessss…………!!!!!

  279. hehe….seneng ya Teung

  280. On 15 Maret 2009 at 18:21 Slamet76 Said:

    hehe….seneng ya Teung

    Seneng bangeeeeeeet…….. Heeeeee….
    Horeeee…… Idup ADBM

  281. bagaimanapun ki lateung adalah cantrik setia juga.
    ikutan jaga padepokan yg sementara waktu ditinggal para guru.

  282. klo d tanya kesetiaan neh jgn di tanya…..
    liat sendiri neh padepokan malah banyak yg lari kalo ga d kasi kitab, klo d beri rame2 kemari….
    Wuuuuuu… dasar klo ada mau-a baru mau singgah, klo ga d kasi kitab malah kabur entah kemana…..

    Tetap semangat ya ADBM ……….

  283. wah piye iki

  284. Terus kalau singgah disini nggak ada kitab, apa yang dicari Teung? iseng2 aja ya……

  285. @ Ki Sukra dan Nyi Seno,
    Saya mau banget KBBI-nya. Bisa diunduh dimana ya?
    Tengkyu banget…

  286. Dulu masih bisa ngimbangi bahkan sampai menunggu-nunggu kapan kitab dibagikan. Sekarang keteteran untuk ngejarnya, baru nyampe kitab 153 nih. Ini semua gara-gara daku memutuskan untuk jadi TKI ke KSA. Jeda waktu 1 bulan ternyata sudah tertinggal cukup jauh. Tapi sekarang jadi kerasa nikmatnya. Jauh dari anak dan istri maka ADBM menjadi bacaan yang menyenangkan.

  287. kapan kopdar pecinta ADBM..? seru kali yah, yang lain pecinta Manchester United, kita rombongan pecinta Ki SHM….

  288. mas mau tanya nghunduh kitab II-51 gimana sih, mumet tenan aku tolong ya mas yang tahu

  289. untuk sekali ini, i couldnt agree more ama kang lateung hehe ternyata sakaw ada juga seninya, cuma jangan sering2 Nyi xixixi
    btw, setuju kalo kopdar, sapa tau tyt ki lateung ‘anti kemapanan’ tyt kl di luar lemah lembut..dan cantik (hwahahah sapa tau tyt dia cewek nyamar :))
    setelah nyantrik setengah pasif di sini, uda mulai terbiasa dengan bentuk2 semu, baik yg menyenangkan ataupun yang menjengkelkan :p
    Hidup Liverpool.., eh ADBM :)

  290. Selamat malam,

    Paling senang saya kalau lateung sudah berkomentar.. Sialnya, komentarnya selalu monoton, itu-itu saja yang bisa diucapkannya.. hahaha,..

    Dan yang lebih parah lagi, sebenernya dari semua cantrik yang mengalami sakaw, justru dia yang paling parah, sehingga kekesalannya ditumpahkan ke Ki GD dengan sindiran yang cukup tajam,.. Ati-ati teung, boleh kesal tapi jangan berlebihan,..

  291. wah ..masih belum wedar kitabnya….mudah2an malam ini ada kiriman…sabarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

  292. Dek Puput, kitab ii-51 ada pada nama Ki Hartono, silahkan di unduh….

  293. ki GD dan Nyi Seno

    Selamat menjalani cuti, selamat menikmati perjalanan, santai saja, padepokan aman dan terkendali di bawah pengawasan ki Sukra

    salam

  294. Kitaab lebih cocok sepertin-a tidak akan d edar secara luas seperti sebelumnya…….

    Lebih baik lewat email saja, yg paling aktiv d sini baru d beri kalo tidak jgn harap d beri….. ttp jgn setiap hari, bosan n kasian ama yg laen…..

    Copi darat…..? siapa takut…. :)

  295. embuh ah … mudah2an tdk ada yg munafik….

  296. wah, kl ki lateung semangat ngopi di darat, jangan2 memang sangar orangnya..hehe bener ato salah ki?
    tapi yang jelas ki lateung berjasa buat padepokan ini karena ambil posisi lawan arus trus hehe jadi gayeng and ‘hot trus… :)

  297. setuju kalau kita kopdar….tolong diatur….

  298. setuju saja. mudah-mudahan ada rejeki untuk hadir. maklum, jauh. di tengah sulawesi. :)

  299. cari waktu n tmpat yg tepat,
    asal nnti ga pake maen keroyokan ya….

  300. Usul ya kalau nanti liburnya lima hari maka kitab yag diwedar langsung aja kitab no. 180 gimana biar cepat, jadi nomor 175, 176, 177, 178, 179 dilewati aja biar yang belum baca jadi sakaw.

  301. aku lihat nyi seno sudah kebanyakan uang transfer habis yang ngeklik bloknya banyak sekali sih, makanya sekarang lagi haneymoon dulu, namanya heneymoon ya sebulan.

  302. harga scan yang paling murah berapa sih sekarang ?, nanti biar kitab-kitabku tak scan dan tak kirim via email ke cantrik-canrik yang lain aja.

  303. On 15 Maret 2009 at 19:54 wisnu Said:

    setuju kalau kita kopdar….tolong diatur….

    On 15 Maret 2009 at 20:00 Lateung Said:

    cari waktu n tmpat yg tepat,
    asal nnti ga pake maen keroyokan ya….

    he… he….. he……..
    kalo ketemu, gimana kalo ki lateung, kita kembalikan ke BKSDA aja?

  304. Wah Ki Agung Raharjo, terima kasih atas pencerahannya, membaca penjelasan kiai tentang guru gatra, guru wilangan dan guru lagu saya jadi ingat pelajaran waktu sekolah dulu tentang pantun-pantun melayu kayanya kok punya struktur yang sama ya… (kalau ndak salah ingat ‘njih)yang benten mungkin cuma cengkoknya…
    Mungkin kedua budaya ini dulu memang dekat ya ?

    Omong-omong napa Ki Agung gadah link untuk tembang macapat dalam bentuk mp3 ?

  305. Cantrik-cantrik yang lain, ADBM itu hanya cerita khayal lho, jangan dipraktekkan, kalau dipraktekkan rekoso wekasane, dulu ada yang coba-coba mempraktekkan 3 tahun dikungkung, mangkaknen lulus PT cum laude. Paling apik ngalah, lan kaya jarene nyi seno senyum (mesem). Ning yen ono kancane lho yen dewe jenenge syaraf.

  306. Para Cantrik yang berbahagia,

    Duluuu, dulu sekali, ketika Mas Rizal menghilang dari peredaran dunia maya, saya masih ingat betul bagaimana rasa kebersamaan dan kegotong royongan untuk meneruskan impian menduniakan ADBM. Ada sederet nama yang ikut urun rembug meneruskan cita2 luhur Mas Rizal. Ada Mas/mbak DD yang penuh misteri yang sekarang telah menjelma menjadi Ki GD dan mengelola padepokan ini. Ada Mas Herry Warsono yang ikut pontang panting, Mas GI, ma s Bensroben, Mas Maswal dll yang sekarang tidak pernah muncul kepermukaan. Pada kemanakah beliau2 ini? Pada saat itu commen2 yang ada terasa sangat adem, dan penuh persaudaraan. Sungguh saya merindukan saat2 seperti itu lagi.
    Mas Herry, panjenengan wonten pundi? Kok dangu mboten ketawis.

    # masih lengkap kok Ki .. cuma sekarang komen mereka ikut nyelip di antara puluhan komen yang lain :)

  307. duh..pada mau kopdar ya…,ki lateung jg semangat bgt kayane,,,,bg cantrik pinggiran mcm saya si cm bisa berdoa saja smoga smua lancar…

  308. Ki Hernowo

    Gak perlu cari scanner yang khusus, beli saja printer yang murah tapi bisa beberapa kegunaan, misalnya canon MP160 atau canon MP145, bisa print, bisa fotocopy juga bisa printer bisa dimodifikasi tinta diluar pake botol, kalau di daerah saya harga sekitar 850ribu, tapi kalau di jawa mungkin dapat lebih murah.

    Nuwun

  309. sambil ngisi waktu menjelang pemilu ini aku mau juga berpantun-pantunan mengingatkan reformasi yang udah miring-miring alias arep mbelok gini pantunnya
    Di Klaten Mas, ramai-ramai membeli nasi
    yang sekarang panen mas, yang tak ikut reformasi
    Menggoreng nasi Mas, di pagi hari
    yang ikit reformasi mas, malah gigit jari

    Makan pisang Mas, jangan dicampur kluwih
    kalau menenbang korupsi mas, jangan tebang pilih
    Makan pisang Mas, sama panen kubis
    menebang korupsi Mas, harus tebang habis

    Ubur-ubur Mas, tidur di hari Selasa
    yang tidak jujur Mas, malah bisa berkuasa
    Ubur-ubur Mas, malah tidak bisa tidur
    yang berkata jujur Mas, malah kebentur-bentur

    Hari Sabtu Mas, bukan hari Minggu
    tahu sama tahu Mas, agar tetap brewu
    Hari Minggu Mas, bukan hari pasaran
    agar tetap brewu Mas, opo wae dipangan

    Daun kara Mas, jangan disebar-sebar
    kalau rakyat sengsara Mas, jangan disuruh bersabar-sabar
    Daun dadap Mas, jangan dikenterke banyu
    kalau rakyat megap-megap Mas, jangan malah ngguya-ngguyu

    Di sini manik di sana manik, klosone dewe dilalekke
    di sini gubdik di sana gundik, bojone dewe dilalekke
    Di sini gajah di sana gajah, gajah edan makan terasi
    di sini omah di sana rumah, jebulane hasil korupsi

    Keset sepet Mas, di lempar di garasi
    daripada mumet Mas, lebih baik nulis puisi
    Keset sepet Mas, diletakkan di depan lemari
    dari pada mumet Mas, lebih baik mengaji

  310. Saya kurang setuju dengan mas Lateung

    –>
    On 15 Maret 2009 at 19:32 Lateung Said:

    Kitaab lebih cocok sepertin-a tidak akan d edar secara luas seperti sebelumnya…….

    Lebih baik lewat email saja, yg paling aktiv d sini baru d beri kalo tidak jgn harap d beri….. ttp jgn setiap hari, bosan n kasian ama yg laen…..

    Copi darat…..? siapa takut…. :)

  311. On 15 Maret 2009 at 18:32 Lateung Said:
    klo d tanya kesetiaan neh jgn di tanya…..
    liat sendiri neh padepokan malah banyak yg lari kalo ga d kasi kitab, klo d beri rame2 kemari….
    Wuuuuuu… dasar klo ada mau-a baru mau singgah, klo ga d kasi kitab malah kabur entah kemana…..

    Tetap semangat ya ADBM ……….

    #Bener juga Teung,
    Tapi gak semua benar menurut pendapat Lateung.
    Saya yakin bagi cantrik yang sudah lama nyantrik di padepokan ADBM, tetep concern pada padepokan ini kok, ada atau tidak ada kitab.
    Lihat saja walaupun sudah 3 hari gak ada kitab, tapi padepokan kan tetep rame, tul nggak ?

  312. ada pantun ADBM
    disana gunung, disini gunung,
    ditengah-tengah bunga melati
    saya bingung kamu pun bingung
    karena ADBM tidak segera tersaji ???!?

    Jalan-jalan ke kota paris
    lihat rumah berbaris-baris
    hati siapa yang tidak miris
    lihat para cantrik pada mengemis (minta diwedar kitabnyakan)

  313. Tetap setia menunggu…..

  314. tambah lagi pantun reformasi:
    Kalau ada sumur di ladang
    Jangan diintip gadis yang mandi
    Koruptor akalnya panjang
    Jaksa dan hakim diajak kompromi

    Berburu ke padang datar
    Mendapat janda belang di kaki
    Koruptor sakit diijinkan pesiar
    Uang rakyat dibawa lari

    Berakit rakit ke hulu
    Berenangnya kapan kapan
    Maling kecil sakit melulu
    Maling besar dimuliakan

    Kura kura dalam perahu
    Buaya darat didalam sedan
    Wakil rakyat jangan ditiru
    Korupsinya edan edanan

    Si tukang riba disebut lintah darat
    Si hidung belang disebut buaya darat
    Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
    Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?

    Binatang bego itu kura kura
    Binatang lamban juga kura kura
    BBM naik rakyat sengsara
    Uang bea cukai ditilep juga

    Aduh aduh cantiknya si janda kembang
    Sedang menyanyi si Jali Jali
    Hujan emas di rantau orang
    Hujan babu di negeri sendiri

    nuwun

  315. opo maneh yo gen terus isi ?

  316. Maju terus pantang mundur
    Biarpun salah dan didesak mundur.

    maju tak gentar
    membela yang bayar

    Berakit-rakit kehulu berenang renang ketepian
    Sudah untungnya sedikit digusur terus-terusan

  317. teka-teki sinting
    Kata Gudel: “Orang Bali kawin sama orang Inggris, nama anaknya kira-kira apa?”.
    Jawab Gudal: “Made in England”

    Kata Gudel: “Lha kalau Orang Bali kawin sama orang Betawi, nama anaknya kira-kira apa?”.
    Jawab Gudal: “I Gede Amat”

    Kata Gudel: “Lha kalau Orang Bali kawin sama orang Bantul, nama anaknya kira-kira apa?”.
    Jawab Gudal: “Slamet Kentut, atau Nyoman Sewu”

    Kata Gudel: “Lha kalau Orang Bali kawin sama orang Batak, nama anaknya kira-kira apa?”.
    Jawab Gudal: “Putut Harahap”

  318. tetep setia loh

  319. KI HERNOWO iso ae salut Ki. walaupun turunnya kitab belum jelas kita tetep setia setuju para sedulur?
    AND KELIHATAN.

  320. Fenomena Bush dan Obama

    Nama George Bush (lafal orang Jawa mengatakan “gedebus” artinya suka bohong) seolah-olah indentik dengan sepak terjang kekuasaannya. Untuk menyerang Irak laporan PBB tidak digubrisnya. Alasan adanya senjata pemusnah masal yang mendorong dilancarkannya penyerangan Irak ternyata juga tak terbukti. Tujuannya memang jelas untuk menumbangkan Sadam Husein tanpa reserve dan memojokkan umat Islam. Ancaman teror dan teror terus menjadi senjata ampuh untuk kampanye kekuasaannya. Masyarakat AS yang notabene high educated ternyata bisa terbius oleh kampanye ini. Akhirnya dia terpilih lagi jadi Presiden AS untuk kedua kalinya.

    Kini mayoritas masyarakat AS sudah tersadar dengannya setelah krisis finansial melanda negeri itu dan imbasnya ke seluruh dunia. Padahal publik Amerika mestinya sudah dari dulu tersadar dengan naiknya George Bush (gedebus) jadi presiden periode pertama kalinya. Ia menang kontroversial. Menangnya aneh bin ajaib. Suara rakyat (popular votes) kalah dari Al Gore pesaingnya. Sementara suara pemilih (electoral votes) cuma menang 1 (satu) suara saja. Kemenangannya ditentukan oleh Mahkamah Agung.

    Untungnya pesaingnya Al Gore seorang yang legowo, tidak memaksa menuntut kekuasaan demi alasan menyelamatkan demokrasi. Kalo pemimpin di Indonesia kayak dia tak akan terjadi kerusuhan seperti yang timbul di Maluku Utara, Sulsel dan daerah-daerah lainnya. Mudah-mudahan tidak di Jatim. Hikmahnya untuk Al Gore namanya terus bersinar dengan kampanye Global Warming, dapat hadiah Nobel perdamaian sementara George Bush akan meninggakan kekuasaannya dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan, namanya dihujat di seluruh dunia. Calon presiden dari kubu partainya McCain dan Sarah (orang Jawa bilang Makin Parah ) juga kena imbasnya kalah telak dengan pendatang baru Barack Husein Obama.

    Lha Barack Husein Obama ini anti tesis dari semua yang melekat di George Bush. Ia menang telak di hampir semua negara bagian. Rakyat Amerika memilih tanpa embel-embel Ras lagi. Ia berkulit hitam, ia tidak murni Amerika tulen karena ayahnya orang Kenya disambung ayah Indonesia. Namanya ada Muslimnya (Husein) orang yang dibenci George Bush. Dunia mengelu-ngelukannya dan banyak berharap padanya. Lucunya musuh utama George Bush Osama Bin Laden namanya mirip yang menggantikannya Obama Bidden . Kalo George Bush mengirim tentara ke Irak, lha Obama programnya menarik tentara dari Irak sesuai dengan namanya Back to Barack . Obama juga istilah lain dari sayang istri, baca: ‘Obah, Ma’ . Gedung Putih (White House) mustinya dirubah Gedung Hitam karena dari dulu penghuninya semua berkulit putih, baru kali inilah penghuninya berkulit hitam. TUHAN MAHA ADIL untuk menunjukan siapa yang batil siapa yang mulia. Moga-moga dengan Obama dunia makin lebih baik dan romantisme dengan Indonesia masih melekat dihatinya

  321. apa lagi ya, kalau ndak pasti aku bisa spoiler nyeritaian itab yang belum diwedar

    Korban Gempa

    Para ahli gempa di Yogya, telah mengklasifikasikan korban-korban gempa
    dari kondisi tubuh korban.

    1. Kalau patah tulang, kepala bocor, tangan atau kaki remuk, tulang belakang bengkok. ini disebabkan gempa tektonik.
    2. Kalau rambut rontok, sesak nafas, kulit terbakar, ini pasti disebabkan gempa vulkanik .
    3. Kalau mata sayu, pucat, rambut basah, lemas lebih2 sampai hamil ini pasti disebabkan gempa seksonik .

    Sejauh ini baru ketiga jenis gempa tsb yang bisa diklasifikasikan.

  322. kitab belum di wedar para cantrik ngomongnya jadi ngalor ngidul.yo ono sing bahas bahasa indonesia yo ono sing bahas tapa brata lha terakhir bahas barack obama .

    emang padepokan ini terdiri beragam suku bangsa dan hobby tentunya!!

    keep on rocking beibeh !!!biar rame!!
    wes telung dino nggak ono tambahan ilmu blasss…

  323. Paantun rakit buat :
    Rakyat umum
    Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian
    bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

    Rakyat kecil
    Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian
    bersakit-sakit dahulu bernanah-nanah kemudian

    Rakyat besar (Pengusaha/Penguasa)
    Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian
    berkredit-kredit dahulu ngemplang kemudian

    Rakyat sengsara
    Berakit-rakit kehulu berenang renang ketepian
    Sudah sakit dulu ditimpa bencana kemudian

  324. bagi teman-teman yang suka bola ada kabar pertandingan Chelsea melawan Manchester City nich yang baru memuelesaikan babak pertama
    London – Chelsea hingga akhir babak pertama tetap memimpin 1-0 dari Manchester City. Gol bagi The Blues tersebut dicetak oleh Michael Essien.

    Pada pertandingan di Stamford Bridge, Minggu (15/3/2009), Chelsea sudah berhasil unggul di menit ke-18. Essien berhasil menjebol gawang Man City setelah meneruskan tendangan bebas Frank Lampard.

    Peluang masih dimiliki oleh Chelsea. Namun usaha Michael Ballack dan Didider Drogba masih belum membuahkan hasil. Hingga turun minum The Blues masih tetap unggul 1-0 atas Man City

  325. Ki Hernowo,

    Cara nge-secan murah dan cepat.

    Dipoto kopi (100 rph per lembar), poto kopiane terus digowo nang sekolah sing duwe scan jet (wis akeh sekolah sing duwe scan jet kanggo ngoreksi ujian, harga scan negosiasi), 1 jam mampu nyecan 1500 lembar.

  326. Pantun buat kita:

    Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian
    Berposting-posting dahulu, Berngantuk-ngantuk kemudian.

    Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian
    Berefres-refres dahulu, berkecewa-kecewa kemudian

  327. makasih ki semprul atas infonya besu tak tanya sekolah yang punya scan jet

    trims

  328. KI HERNOWO salah satunya yang paling saya ingat adalah saat agung sedayu yang lagi laku ilmu yang pada satnya berendam dan menghisap getah pohon yang bisa menambah tenaga yang hampir tiada batas itu ada dalam buku berapa yah Ki?

  329. Anak mas Sukra maaf loh bukan maksud mancing spoyiler
    kanggo resume mawon

  330. pamit dulu ah, hampir aja spoiler, udah ngetik sampai 4 lembar, bahaya kalau masih di sini. Salam buat nyi seno jika datang ki sukra, soalnya kalau kelamaan jika ada yang memanfaatkan dengan melanjutkan cerita ADBM ini maka eman-eman padepokan ini nanti kehilangan cantrik yang dikumpulkan sekian lama. Soalnya kelihatanya para cantrik pada sudah nggak sabaran lagi. Jika aku nddak menemukan kitab om ku yang sudah hampir hancur akibat nggak terawat sehingga banyak dilubangi rayap, bisa-bisa aku ikutan sakaw

  331. BUKU AJAIB….

    Si Uli: Mak..minta duit… Mamaaak…(sambil teriak)

    Mamak : Mamak gak ada duit… bapakmu blom kasih uang blanja…

    Si Uli: Seribu saja mak… beli jajan…

    Mamak : sudah dibilang mamak tak ada duit….(sambil ngelus dada)

    Si Uli: Mamaaaaaaaaaak….. jajaaan….

    Si Mamak sudah gak sabar lagi, si uli kena cubit…
    Si uli terus nangis… gero-gero….

    Tiba2 adik si uli (si tika) datang mendekati si uli..

    Si tika: ada apa kak…???

    Si uli: kakak minta duit gak dikasih mamak…

    Si tika: untuk apa kak??

    si uli: beli jajaaann… (masih menangis)

    Si tika: udah kak…gak usah nangis…. (mbujuk kakaknya)… gini aja kak, kita ambil buku ajaib bapak…

    Si uli: buku ajaib??? buku ajaib apa..???

    Si tika: biasanya kalo bapak pergi ke warung cuma bawa buku ajaib itu… pernah tika diajak bapak ke warung… bapak cuma nyerahkan buku ajaib itu terus dapat rokok, beras, minyak juga jajan… gitu kak (si tika nerangkan ke kakaknya)

    Si uli: dapat jajan juga..??? disimpan dimana buku ajaib itu..??

    si tika: biasanya babap nyimpan diatas lemari…

    Kemudian si uli dan si tika mengambil buku itu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya…
    Setelah didapatnya kemudian keduanya pergi ke warung.
    Sesampai di warung keduanya menambil jajan menurut kesukaan mereka…
    Setelah itu diserahkannya buku ajaib itu kepada si tukang warung…

    Si tika: bener kan kak… buku ini memang ajaib kan??
    tidak ada uang kita bisa dapat jajan…

    Si uli: kenapa gak dari dulu kamu kasih tahu kalo bapak punya buku ajaib…???

    Si tika: tika takut kalo kena marah bapak, lagian bapak pernah bilang tika gak boleh pegang2 buku ajaib ini….

    Sesampai dirumah keduanya terkejut mendengar bapaknya teriak2 mencari buku kecil yg disimpan diatas lemari..

    Bapak: mana sih mak..!!?? buku bon-bonan itu???

    Mamak: gak tahu pak, bapak sendiri yang biasanya simpan di atas lemari…

    Bapak: Lambe bapak sudah kecut, mulai kemarin blom mrokok… bapak mau ngebon rokok lagi

    Tiba2 si bapak melihat si uli dan si tika asik mengunya jajan…

    Bapak: dari mana jajan kalian dapat..???

    Si tika: dari warung… tika nunjukan buku ajaib ini ke warung pak…

    Bapak: oooo…. gundulmu…. buku ajaib buku ajaib… itu buku bon bonan…. siapa yang ngajarin???

    si tika: kan bapak sendiri… waktu itu bapak ngajak tika ke warung ambil beras juga rokok dan jajan… cuma dengan nunjukan ini semua bisa dapat….

    bapak: sekali lagi bapak bilang ya… gak boleh pegang buku itu lagi… itu bukan buku ajaib tahu..!!

    Mamak yg dengerin cuma bisa ngelus dada… duuh kapan nasib bisa berubah..??? untung ada warung yang bisa diutangi… oohhh…. buku ajaib… bener juga kata si tika…. buku ajaib

  332. RAJAH KALACAKRA

    Yamaraja… Jaramaya
    (siapa yang menyerang berbalik menjadi belas kasihan)

    Yamarani…Niramaya
    (siapa yang datang dengan niat buruk akan malah menjauhinya)

    Yasilapa…Palasiya
    (siapa yang membuat lapar berbalik memberikan makan)

    Yamiroda…Daromiya
    (siapa memaksa, berbalik memberikan keleluasan dan kebebasan)

    Yamidosa…Sadomiya
    (siapa yang berbuat dosa berbalik berbuat jasa)

    Yadayuda…Dayudaya
    (siapa yang memerangi berbalik menjadi damai)

    Yaciyaca,,,Cayasiya
    (siapa yang membuat celaka berbalik membuat sehat dan sejahtera)

    Yasihama..,Mahasiya
    (siapa yang membuat merusak berbalik membangun dan sayang)

  333. sing penting nulis….biar gak sepi…

  334. loh..loh.. koq podho tenguk2 neng pendopo ?
    sing nduwe pendopo gek nganglang loh… wes ndang podho bali, ati2 neng ndalan .. banyak jalan berlubang (ojo diwalik yo ……)

  335. Ruwatan: Mengendalikan Kala

    lukisan_011Telah banyak diketahui bahwa ruwatan adalah tradisi Jawa asli. Ruwatan memuat nilai-nilai budi pekerti luhur yang pantas dijadikan pegangan hidup. Menurut Suwardi Endraswara (Budi Pekerti dalam Budaya Jawa, Hanindita Yogyakarta, 2003), ruwat berarti memperbaiki yang rusak, membersihkan yang cacat, dan mengganti yang tidak baik. Hal ini berarti, bahwa orang yang diruwat ada yang kotor. Hal yang kotor itu dinamakan sukerta.

    Sukerta, berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atatu dicuci agar bersih. Orang sukerta tersebut jika tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala. Karenanya, ruwatan juga dinamakan murwakala, artinya murwa (murba) YAKNI MENGENDALIKAN ATAU MENGUASAI KALA (Batara Kala). Kala juga berarti waktu. Jadi menguasai kala berarti mampu memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh. Orang yang mampu menguasai waktu, berarti akan hidup tenteram.

    Dalam tradisi ruwatan, ada beberapa orang yang tergolong sukerta. Orang-orang itu, jika telah diruwat akan bebas dari ancaman kala. Para sukerta itu sangat banyak jumlahnya, lebih dari 50 macam, antara lain sebagai berikut:

    1. Orang yang menanak nasi merobohkan dandang (alat penanak nasi).

    2. Orang yang mematahkan pipisan (batu gilasan jamu).

    3. Mempunyai kebiasaan membakar rambut dan tulang

    4. Anak ontang-anting, artinya anak laki-laki tunggal (sendirian)

    5. Anak luminting, artinya anak yang lahir tanpa ari-ari.

    Demikian beberapa contoh anak-anak sukerta yang seharusnya diruwat. Tentu saja masih banyak lagi anak-anak sukerta yang perlu diruwat dan masing-masing memiliki nilai budi pekerti khusus. Tegasnya, tradisi ruwatan merupakan upaya strategis untuk mencari keselamatan. Apalagi kalau berkiblat pada wasiat yang pernah dikemukakan Sunan Kudus. Sunan Kudus pernah memotong taring Batara Kala dalam kisah pewayangan, agar tidak manakutkan anak-anak. Maksud pemotongan taring ini memuat nilai budipekerti agar kecelakaan yang mungkin timbul pada sukerta dapat teratasi.

    Lebih jauh lagi, taring juga merupakan simbol dari nafsu kebuasan. Bayangkan, bukankah hewan-hewan yang memiliki ta-ring dan raksasapun juga mempunyai sifat buas. Lebih dalam lagi, taring tersebut milik Batara Kala yang konon lahir akibat kamasalah. Kamasalah adalah ajaran budi pekerti seksual yang agung. Yakni ketika Batara Guru telah bernafsu kepada Batari Uma, akhirnya tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dalam ber-making love Karenanya, lahir Batara Kala. Yang mengerikan lagi, Batara Uma lalu disuruh pergi oleh Batara Guru. Akhirnya sampai di Pasetran Gandamayit bersama Batara Kala. Batara Uma berubah wajah menjadi reseksi bernama Batari Durga dan menjadi isteri Batara Kala.

    Hal demikian sebagai akibat kamasalah, sehingga terjadi kerusakan dan berantakan rumah tangga yang tak karuan. Jika seseorang sampai meneteskan kama (sperma) bukan pada tempat dan waktunya yang tepat, berarti tidak menghargai kesucian. Manusia tersebut tak menghargai wiji aji (bibit unggul) yang diamanahkan kepadanya. Ibarat orang menanam padi, kalau bibitnya unggul tetapi ditanam disembarang tempat, tentu hasilnya akan mengecewakan.

    Berarti hubungan seksual yang tidak memperhatikan budi pekerti luhur empan papan (tahu situasi dan kondisi), akan berakibat fatal. Manusia akan bebas dari semua kekotoran dan kecelakaan itu harus diruwat. Pada saat meruwat digunakan Rajah kalacakra. Rajah berarti tulisan, kala artinya waktu, dan cakra adalah perputaran. Rajah kalacakra berarti tulisan atau ngelmu tentang perputaran waktu. Orang yang mengetahui perpuataran waktu, berarti akan mempertimbangkan empan papan dalam bersikap dan bertindak.

    Rajah Kalacakra biasanya diucapkan oleh Ki Dalang Kandhabuwana seperti yang pernah dituliskan sebelumnya.

    Mungkin kita perlu mengadakan Ruwatan Masal agar suasana padepokan bisa damai kembali … agar para cantrik yang sukerta, bisa teruwat semua menjadi pribadi-pribadi yang sesuai dengan paugeran padepokan ini.

  336. ojo diruwat,…. mundak tambah ruwet

  337. Adimas Sukra,

    Pada pengantar Adimas mengatakan salah satu tugasnya adalah mengejar adbm versi teks dari versi djvu yang sudah melejit hingga 175.

    Untuk mengejar ketinggalan tersebut diperlukan update halaman retype yang telah ada, sehingga ketahuan mana saja yang telah selesai diretype dan mana yang belum.

    Tampaknya banyak cantrik yang ingin membantu, tetapi tidak tahu mana yang harus dibantu. Jangan sampai terjadi duplikasi, sia-sia.

    Saya kira perlu moderator yang cepat menanggapi setiap pesanan retype dari para cantrik.

    Mumpung lagi sepi (kitab belum diwedar lagi), para cantrik mungkin bisa menyumbangkan karyanya untuk padepokan ini.

    Monggo Adimas

    # Matur nuwun Ki. Untuk sementara retype cukup. Malah beberapa double. Sedang stock opname retype nih :)

  338. Absen…..
    Ngeronda lagi ahh…..

  339. Adapun tanda perempuan durhaka
    berpaling atau bermasam muka
    perkataan kasar tidak berjangka
    diajak seketiduran tiada suka

    Kesukaan suami tiada diturut
    suami berkata mukanya terkerut
    seperti kulit limau purut
    terkadang jawabnya dengan mencarut

    Atau tidak endah akan lakinya
    berjalan tidak dengan izinnya
    jadilah haram perjalanannya
    dilaknat malaikat hingga baliknya

    Atau pintu rumah dikunci
    lakinya naik ianya benci
    nyatakan tanda hati tak suci
    karena banyak perbuatan keji

    Suamipun balik-baliklah nazar
    nasihatkan dahulu hendak yang benar
    jika masih membuat onar
    coba disorong dengan yang benar

    Jika tiada juga ubahnya
    coba ditinggalkan dahulu rumahnya
    sehari dua hari ketiganya
    periksa pula hal ikhwalnya

    Jika tiada berubah dan susah
    boleh dipalu boleh disesah
    tetapi mukanya jangan dibelasah
    luka dan cacat haramnya syah

    Jika tiada ia endahkan
    kepada orang besar dimaklumkan
    taati olehmu yang dihukumkan
    syariat yang indah dijalankan

    Dihimpun kerabat kedua pihaknya
    disuruh musyawaratkan hukumnya
    patut disuluh suluhkannya
    patut dicerai ceraikannya.

  340. Panembahan Ismoyo ternyata seorang pujangga melayu

  341. Dihimpun karebet kedua pihaknya
    disuruh musyawaratkan hukumnya
    patut disilih Kiai Suluh
    patut dicerai ceraikannya.

  342. Jawi asli Ki, namung ngais rejeki wonten ing tlatah melayu.
    Ujar orang melayu “dimana bumi dipijak disitu adat resam dijunjung”
    Kersa mboten kersa inggih kedah sinau adat melayu-baur Ki, kados guru tari zapin kemawon asli priyayi saking Yogya. Nanging pakempalan kebudayaan komplit kok Ki, wonten jatilan jaran kepang, reog ponorogo, jaipong, chinese dance, wayang klitik, wayang kulit, wayang wong,campursari, zapin, makyong,lan sakpanunggalipun. Mbok menawi panjenengan langkung pirsa nate wonten tlatah jambi, makaten Ki.
    Nuwun.

  343. melayune teng pundi panembahan?

  344. Apabila terpelihara mata
    sedikitlah cita-cita

    Apabila terpelihara kuping
    khabar yang jahat tiadalah damping

    Apabila terpelihara lidah
    niscaya dapat daripadanya faedah

    Bersungguh-sungguh engkau memelihara tangan
    daripada segala berat dan ringan

    Apabila perut terlalu penuh
    keluarlah fi’il yang tiada senonoh

    Anggota tengah hendaklah ingat
    disitulah banyak orang yang hilang semangat

    Hendaklah peliharakan kaki
    daripada berjalan yang membawa rugi

  345. Tlatah propinsi Kepulauan Riau Ki, leresipun wonten Tanjungpinang-Kota Gurindam, seberang Pulau Penyengat Indrasakti tempat dimana Raja Ali Haji, hidup dan dimakamkan.

  346. Hadir Ki GD (tunjuk tangan)! Sebelum jam 00.00 tgl 16 Maret

  347. Agung Sedayu belumlah bebas
    mesu diri hinggalah tuntas
    sungguh kita bangga dan puas
    ADBM ini monumental dan bernas

  348. absen lagi…,

  349. walau sepi…
    walau tdk ada pembagian kitab…
    tetep setia menunggui padepokan…

  350. Hadir…
    Tp ngantuk, jd jaga sambil tidur aja lah.
    Titip gardu ki sukra.

  351. Kulonuwun, selamat malam ki/ni sanak semua yang lagi ronda malam.

    @ Ki Pembarep,
    Ini ada beberapa site yang dapat dikunjungi untuk mendengarkan macapat ataupun download:

    http://arsipnjowo.blogspot.com/2008/12/mp3-macapat.html
    http://pr4bu.co.cc/?page_id=703
    http://arsipnjowo.blogspot.com/2008/08/sinau-sekar-macapat.html

    Silakan menikmatinya kisanak.

    # sugeng ndalu kisanak. sukra juga sedang mendengarkan kebo giro nya ki nartosabdo.

  352. Sugeng ndalu Ki Sukra, selamat bertugas Ki. Saya temani berjaga ya di malam yang hening ini.

  353. siip…lah,
    cuma ada 13 cantrik,
    Bisa sluku-sluku bathok

  354. ˙ɥılıl lɐƃƃuǝ ıʇɐdouǝs ıɐʎu ʞɐqɯ oɹɐʞ ǝpǝƃ ıʞ sɐɯ ɐƃnɯ-ɐƃnɯ ¿ɐʎ nʇǝɯ nʇǝɯ ɐɹo oʞ ‘uɐɾ ˙ǝʎıdǝʞ snɹǝʇ ‘ʞnʇuɐƃu ɥɐnʍ

  355. Ki Sura Ireng, pantesan tak cari kemana-mana bathok-nya tadi nggak ketemu. Jebulnya njenengan yang mbawa tho.

  356. jam segene masih ada 9 cantrik standby nunggu dititipin rontal… bangatte!

  357. Ngelmu iku kelakone kanthi laku
    Lekase lawan kas
    Tegese kas nyantosani
    setya budya pangekesing dur angkara

  358. Bapak pucung cangkemmu marep mendhuwur
    Sabane ing sendhang
    Pencokane lambung kering
    Prapteng wisma si pucung mutah guwaya

    (coba batangen cangkriman ing dhuwur )

  359. Sugeng ndalu Ki Ismoyo, jebule njenengan tho yang ngasto klenthing-e.

  360. dari jam 23.53 :
    Ki said, Jeng Nunik, Ki Agung Raharjo, Ki Sura Ireng, Ki Paimo, Ki Rumanadang.
    Masih tetep setia meronda padepokan, dan Anakmas sukra, tetep madepok.

  361. Sugeng nDalu ugi Ki Agung Raharjo

    Wasis tenan panjenengan, taksih ngronda tho Ki ?

  362. Wayahe wis lingsir wengi
    ngaso rumiyin, mbenjang enjang tumandang nyambut gawe, ngayahi tugas.

    pamit mundur, kepareng lan matur nuwun.

  363. Injih Ki Ismoyo, nembe toto-toto nyiapaken rontal kagem makaryo mbenjang enjang sinambi mirengaken mocopatan sekaliyan tilik padepokan.

  364. Monggo nderek’aken, sugeng ngaso Ki Ismaya.

  365. Sugeng ndalu sederek2 sedoyo…

  366. Wah matur nuwun sanget link nya Ki Agung Raharjo, akan saya tengok dengan segera…
    Buat para cantrik yang ngrondho selamet patroli (apa wis pada sare yo ???)
    Pamit bade tilem…

  367. Sami-sami Ki Pembarep, sugeng ngaso.

  368. Pangkur (anggitanipun Ki Riptadi)

    Ajining wong ing wicara
    resep sedep wijile rum aririh
    wosing sedya laras runtut
    grapyak gampang tinampa
    culing tutur tinampa datan ngelantur
    Solah bawa mung samadya
    Karyenak tyasing sasami

    Terjemahan:

    Nilai manusia ditentukan bicaranya
    enak didengar sedap dan tidak keras
    maksudnya jelas dan keluar teratur
    akrab dan gampang diterima
    kata-kata baik dan tak berkepanjangan
    sikap dan gaya cukup seperlunya
    membuat senang siapapun

  369. Sugeng rawuh Ki alGhors. Cakruk ronda nembe sepi, sebagian nembe nganglang padepokan.

  370. Para sedulur yang masih berjaga, saya mohon pamit dulu mau istirahat. Selamat malam.

  371. MOnggo Ki Agung ndereaken, moga mimpi indah :D

  372. kula namung pengen nabuh kenthongan kemawon, terus ngleker malih….

  373. Kulo tumut cangkrukan wonten gardu. Kok dereng wonten ingkang ngirim wedang sere nggih.

  374. zzzzzzzzzzzzzz

  375. Kenapa harus merugi ..
    Jika tidak menemu yang dicari …
    Selama bisa saling mengisi …
    Walau sedikit sungguh berarti ..

  376. Belajar itu menambah pengetahuan ..
    Mengajar akan memperdalamnya …

  377. PETIKAN SERAT JANGKA JAYA BAYA SEBAGAI BERIKUT :

    Mbesuk jen wis ana kreta mlaku tanpa turangga
    Tanah Djawa kalungan wesi,
    Prahu mlaku ing a duwur awang2.
    Kali pada ilang kedunge, iku tanda yen jaman Jayabaya wis cedak

    Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :

    Ø Besok jika ada kereta berjalan tanpa kuda ( tafsir= Mobil, kereta api)
    Ø Tanah Jawa berkalung besi ( tafsir= Rel Kereta api)
    Ø Perahu terbang diatas angkasa ( tafsir= pesawat terbang , pswt luar angkasa)
    Ø Sungai pada hilang danaunya / sumbernya (tafsir = sungai buatan)
    Ø Itulah pertanda jaman Jayabaya sudah dekat

    Akeh janji ora ditepati. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dewe, Manungso pada seneng nyalah , tan ngendah-ake hukum Allah

    Ø Banyak janji tidak ditepati

    Ø Banyak orang melanggar sumpahnya sendiri

    Ø Manusia senang berbuat salah, tidak mengindahkan hukum Tuhan.

    Barang jahat diangkat-angkat , barang suci dibenci
    Hukuman ratu ora adil, akeh pangkat sing jahat lan jahil

    Ø Sesuatu yang jahat diagungkan , sesuatu yang suci/baik dibenci

    Ø Hukuman penguasa tidak adil, banyak yang jahat dan jahiliyah.

    Kelakuan pada ganjil, wong sing apik kepencil. Makarya apik, luwih becik ngapusi. Wong agung kesinggung, wong ala kepuja-puja

    Ø Kelakuan orang pada aneh, Orang berbuat baik terkucilkan

    Ø Berbuat baik malah merasa malu, lebih baik berbohong

    Ø Orang Besar tersinggung, orang jahat dipuja-puja/ dihormati

    Wong wadon ilang wanitane ilang wirange.
    Wong lanang ilang lanange,priya ilang prawirane

    Ø Wanita hilang kewanitaanya, hilang malunya

    Ø Laki-laki hilang kelaki-lakianya, hilang keberaniannya

    ( dlm arti harafiah = banci, homo, maupun perlambang laki2 tidak jantan, pengecut)

    Akeh udan salah mangsa, akeh perawan tua, akeh randameteng, akeh bayi takon bapa
    Agama akeh kang nantang, kamanungsan saya ilang.

    Ø Banyak Hujan tidak tepat /sesuai musimnya

    Ø Banyak perawan tua (tfsr = selain byk perawan tua, jg banyak wanita yang kawin usia tua)

    Ø Banyak janda hamil (tafsir = janda hamil tanpa suami)

    Ø Banyak bayi bertanya siapa bapaknya ( tfs= hamil diluar nikah)

    Ø Agama banyak ditentang, Rasa kemanusiaan makin hilang

    Olah suci pada dibenci , olah ala pada dipuja
    Wanadya pada wani ngendi-ngendi

    Ø Olah Kebaikan dibenci, Olah kejelekan di puja

    Ø Wanita pada berani dimana-mana , (maksudnya sama pria)

    Sing Weruh ketuduh, sing ora ya ketuduh

    Ø Yang tahu (bener atau salah) tertuduh , yang tidak tahu juga (tafsiran= orang cari kambing hitam)

    Mbesuk yen ana prang saka wetan, kulon, lor lan wong cilik saya sengsara lan mbendul, Wong jahat mlarat brekat

    Ø Besok jika ada perang di Timur , Barat, Utara,Selatan, (=berbagai belahan dunia/negara) rakyat kecil semakin sengsara dan menderita

    Ø Orang Jahat miskin Berkat

    Sing Curang makin garang ,sing jujur kojur, wong dagang keplanggang

    Ø Yang curang berani, yang jujur hancur, orang berdagang kepalsuan.

    Judi pada dadi, akeh barang haram, akeh anak haram, prawan cilik nyidam
    Wanita nglanggar priya, isih bayi pada bayi

    Ø Judi semakin menjadi ,

    Ø Banyak anak haram, banyak gadis kecil yang hamil

    Ø Wanita berani sama laki-lakinya, Masih kecil (anak2) sudah punya anak

    Sing Priya pada ngasorake drajade dewe
    Bumi saya suwe saya mengkeret
    Sekilan bumi dipajegi
    Jaran doran sambel
    Kretane roda papat satugel

    Ø Yang laki-laki merendahkan derajatnya sendiri

    Ø Bumi semakin menyusut /mengecil ( Tafsir => dunia semakin tak ada batasan ruang dan waktu berkat teknologi modern spt : transpotasi, komunikasi )

    Ø Setiap jengkal tanah dipajak ( => apa2 sekarang dipajakin)

    Ø Kuda doyan sambal (tafsir => tukang becak ,ojek kan doyan sambel)

    Ø Kereta beroda empat terpotong ( tafsir => roda kereta api)

    Wong wadon nganggo pakean lanang
    Iku tandane yen bakal nemoni wolak-waliking jaman
    Akeh manungsa ngutamakake real, lali kemanungsan
    Lali kebecikan, lali sanak kadang
    Akeh biyung lali anak,akeh anak nlandung biyunge

    Ø Perempuan berpakaian laki-laki ( => bukankah skrg udah ngetren cewek pake pakaian cowok,celana panjang dsb)
    Ø Itu pertanda akan menemui jaman yang serba terbalik ( => byk salah kejadian)
    Ø Banyak manusia mengutamakan harta, lupa rasa kemanusiaan
    Ø Banyak ibu melupakan anak, banyak anak berani sama ibunya ( => contohnya skrg byk artis2 yg melupakan anak, jg Anak yang berani ama orang tuanya)

    (Masih ada sambungannya )

  378. Iihh … serem …..

    Saya (Ki Amat) sudah dekat ….
    Tobat … tobat ….
    Taubat Nasuha selagi sempat ….
    Sebelum kematian menjerat ….

  379. LANJUTAN SERAT JANGKA JAYABAYA:

    Akeh bapa lali anak. Akeh anak wani nglawan ibu.
    Nantang bapa.Sedulur padha cidra.
    Kulawarga padha curiga.Kanca dadi mungsuh.
    Akeh manungsa lali asale.
    Ukuman Ratu ora adil.Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
    Akeh kelakuan sing ganjil.

    · Banyak bapak melupakan anaknya. Banyak anak melawan bapaknya (orang tua) (=>di infotaintment banyak menayangkan)

    · Saudara saling menyakiti keluarga

    · Masa bekerja, ingin hidup seperti raja, mengumbar nafsu angkara murka, mengandalkan perbuatan cidra.

    · Orang Benar terpaku diam, Orang Salah bersenang-senang, Orang Baik Tersingkirkan

    Wong apik-apik padha kapencil. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
    Luwih utama ngapusi.Wegah nyambut gawe.
    Kepingin urip mewah.Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.

    ·Orang baik terkucilkan. Banyak orang bekerja baik-baik /jujur yang malah malu

    ·Lebih baik berdusta

    ·Malas bekerja. Ingin hidup mewah

    ·Mengumbar angkara murka /kejahatan, mengagung-agungkan kejahatan

    Wong bener thenger-thenger. Wong salah bungah.
    Wong apik ditampik-tampik. Wong jahat munggah pangkat.
    Wong agung kasinggung. Wong ala kapuja.

    ·Orang Benar terpaku. Orang Salah bergembira/berbangga

    ·Orang Baik ditolak di mana-mana. Orang Jahat naik pangkat

    ·Orang Besar tersinggung. Orang Jelek dipuja

    Wong wadon ilang kawirangane.
    Wong lanang ilang kaprawirane.
    Akeh wong lanang ora duwe bojo.
    Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
    Akeh ibu padha ngedol anake.
    Akeh wong wadon ngedol awake.
    Akeh wong ijol bebojo.
    Wong wadon nunggang jaran.
    Wong lanang linggih plangki.

    ·Orang perempuan hilang malunya

    ·Lelaki hilang keberaniannya/ jadi pengecut

    ·Banyak laki-laki tidak beristri (=> menurut sensus jumlah perempuan lebih banyak)

    ·Banyak Wanita tidak setia/ berselingkuh

    ·Banyak ibu menjual anaknya

    ·Banyak wanita menjual diri, prostitusi (dalam berbagai bentuk)

    ·Wanita naik kuda (tafsir= wanita banyak menduduki posisi penting di pemerintahan)

    ·Laki-laki duduk di belakang (lelaki yang hilang martabatnya sebagai laki-laki)

    Randha seuang loro.Prawan seaga lima.
    Dhudha pincang laku sembilan uang.

    ·Janda seuang dapat 2 orang ( 50 sen) ( =banyak wanita mudah yang bercerai )· Perawan dijual murah

    ·Duda pincang laku 9 keping, (lebih mahal)

    Akeh wong ngedol ngelmu.
    Akeh wong ngaku-aku. Njabane putih njerone dhadhu.
    Ngakune suci, nanging sucine palsu.Akeh bujuk akeh lojo.
    Akeh udan salah mangsa.
    Akeh prawan tuwa.Akeh randha nglairake anak.
    Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
    Agama akeh sing nantang.

    ·Banyak orang menjual “ilmu” (agama) (=>sekarang banyak orang mencari popularitas, politik, uang berkedok agama)

    ·Banyak orang mengaku-aku, Luarnya “PUTIH” dalamnya “MERAH DADU” (=>serigala berbulu domba)

    ·Mengaku “suci”, tapi “sucinya” palsu. Banyak yang menipu

    ·Banyak hujan salah musim,

    ·Banyak perawan tua, banyak bayi tanpa bapak (lahir diluar nikah)

    ·Agama banyak yang menentang

    Prikamanungsan saya ilang.
    Omah suci dibenci. Omah ala saya dipuja.
    Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
    Akeh laknat.Akeh pengkianat.
    Anak mangan bapak. Sedulur mangan sedulur. Kanca dadi mungsuh.
    Guru disatru. Tangga padha curiga

    ·Perikemanusiaan semakin hilang, tempat ibadah dibenci,

    ·Tempat maksiat dipuja, Prostitusi di mana-mana

    ·Banyak laknat, pengkhianat

    ·Anak mengorbankan bapak(berani), saudara tega dengan saudara

    ·Teman jadi musuh, Guru dilawan. Tetangga saling curiga

    Kana-kene saya angkara murka.
    Sing weruh kebubuhan.
    Sing ora weruh ketutuh.
    Besuk yen ana peperangan.
    Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
    Akeh wong becik saya sengsara.
    Wong jahat saya seneng.
    Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul.

    ·Sana-sini semakin terjadi angkara murka

    ·Yang tahu terjebak, yang tidak tahu tersentuh

    ·Besok jika ada peperangan di timur,barat, utara ,selatan (berbagai belahan dunia dan negara)

    ·Banyak rakyat kecil menderita, orang jahat semakin bergembira

    ·Waktu itu banyak Dandang (tempat menanak nasi) dibunyikan oleh burung kuntul (sejenis burung sawah)

    Wong salah dianggep bener. Pengkhianat nikmat.
    Durjana saya sempurna. Wong jahat munggah pangkat. Wong lugu kebelenggu.

    ·Orang salah dianggap benar, pengkhianat nikmat, durjana semakin sempurna

    ·Orang jahat naik pangkat, Orang lugu/jujur terbelenggu/ dipenjara

    Wong mulya dikunjara. Sing curang garang.Sing jujur kojur.
    Pedagang akeh sing keplarang.
    Wong main akeh sing ndadi.

    ·Orang berhati mulya dipenjara. Yang curang semakin garang/ berani, yang jujur malah hancur

    ·Pedagang banyak tertipu

    ·Orang berjudi makin banyak (=adanya tempat-tempat perjudian yang legal, illegal, terselubung)

    Akeh barang haram. Akeh anak haram.
    Wong wadon nglamar wong lanang.
    Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
    Akeh barang-barang mlebu luang.
    Akeh wong kaliren lan wuda.
    Wong tuku ngglenik sing dodol.Sing dodol akal okol.
    Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
    Sing kebat kliwat. Sing telah sambat.

    ·Banyak barang haram, banyak anak haram

    ·Wanita melamar laki-laki (=> sekarang sudah banyak)

    ·Lelaki merendahkan martabatnya sendiri (= pengecut, gigolo, dsb)

    ·Banyak barang masuk lobang (jebakan)

    ·Banyak orang kelaparan dan tak berpakaian

    ·Orang mengandalkan “KLENIK” jika berbisnis

    ·Yang berbisnis, menggunakan kekuatan dan kelicikan

    ·Orang semakin susah mencari makan

    ·Yang salah keterlaluan, banyak orang yang mengeluh

    Sing gedhe kesasar. Sing cilik kepleset.
    Sing anggak ketunggak.Sing wedi mati.
    Sing nekat mbrekat.

    ·Yang besar kesasar. Yang kecil kepleset. Yang diam terpaku

    ·Yang takut mati. Yang nekat mencari berkat

    Sing jerih ketindhih. Sing ngawur makmur.
    Sing ngati-ati ngrintih. Sing ngedan keduman.
    Sing waras nggagas.Wong tani ditaleni.
    Wong dora ura-ura.

    ·Yang takut tertindih/terjajah. Yang ngawur makmur

    ·Yang berhati-hati merintih. Yang gila (harta) kebagian

    ·Yang waras berpikir. Petani diikat/dibelenggu

    ·Orang jahat bersenandung

    Ratu ora netepi janji, musna panguwasane.
    Bupati dadi rakyat. Wong cilik dadi priyayi.
    Sing mendele dadi gedhe.Sing jujur kojur.
    Akeh omah ing ndhuwur jaran.

    ·Penguasa yang tidak menepati janji, hilang kekuasaannya

    ·Bupati jadi rakyat (tidak punya kuasa)

    ·Orang kecil jadi intelek

    ·Yang jahat jadi besar, yang jujur hancur

    ·Banyak rumah di atas kuda (Tanah tak bertuan)

    Wong mangan wong.
    Anak lali bapak. Wong tuwa lali tuwane.
    Pedagang adol barang saya laris. Bandhane saya ludhes.
    Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
    Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara.

    ·Orang makan orang (=banyak yang tega pada sesama, juga harafiahnya =>ada orang yang makan orang /kanibal)

    ·Anak lupa orang tuanya, orang tua lupa diri (tidak dewasa), seperti anak kecil pikirannya

    ·Pedagang yang berjualan laris. Tapi hartanya habis ludes,

    ·Banyak orang mati kelaparan, padahal banyak makanan di sampingnya (=Indonesia kaya hasil bumi /pangan, tapi rakyatnya masih kelaparan/ miskin)

    ·Banyak orang bergelimang harta, tapi hidupnya sengsara

    Sing edan bisa dandan. Sing bengkong bisa nggalang gedhong.
    Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
    Ana peperangan ing njero. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham.

    ·Yang Gila (harta), bisa berdandan (=> bisa kamuflase/bunglon) , yang bengkong/menipu malah mempunyai gedung,kekuasaan

    ·Orang benar dan adil hidupnya menderita dan terkucilkan.

    ·Ada perang tersembunyi (=> terror & perang saudara di mana-mana)

    ·Timbul karena pembesar yang salah paham

    Durjana saya ngambra-ambra. Penjahat saya tambah.
    Wong apik saya sengsara. Akeh wong mati jalaran saka peperangan.

    ·Durjana semakin berkuasa. Penjahat bertambah

    ·Orang baik sengsara. Banyak orang mati karena peperangan

    Kebingungan lan kobongan. Wong bener saya thenger-thenger.
    Wong salah saya bungah-bungah.
    Akeh bandha musna ora karuan lungane. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe

    ·Kebingungan dan kebakaran (=> akibat teror di mana-mana)

    ·Orang benar semakin diam terpaku kebingungan. Orang Salah malah bersuka

    ·Banyak Harta hilang tak jelas ke mana. Banyak pangkat & kedudukan hilang entah ke mana

    Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
    Bejane sing lali, bejane sing eling.
    Nanging sauntung-untunge sing lali.
    Isih untung sing waspada.
    Angkara murka saya ndadi.
    Kana-kene saya bingung.

    ·Banyak barang haram, banyak anak haram

    · Beruntunglah yang “LUPA DIRI” dan beruntunglah yang “INGAT” (akan Tuhannya)

    ·Tapi seberuntung-beruntungnya yang LUPA (DIRI), masih beruntung yang “INGAT dan WASPADA” (akan nilai -nilai moralnya)

    ·Angkara murka semakin menjadi. Sana-sini kebingungan.

    Pedagang akeh alangane. Akeh buruh nantang juragan.
    Juragan dadi umpan. Sing suwarane seru oleh pengaruh.
    Wong pinter diingar-ingar. Wong ala diuja.
    Wong ngerti mangan ati.
    Bandha dadi memala. Pangkat dadi pemikat.
    Sing sawenang-wenang rumangsa menang.

    ·Pedagang banyak hambatan (=berbisnis banyak halangannya)

    ·Banyak buruh menentang juragan (=pemilik perusahaan) (=> sekarang kan banyak demo-demo buruh yang memperjuangkan hak2nya)

    ·Juragan jadi umpan (=> dimanfaatkan oleh penguasa), Yang banyak suara (pengaruh)

    ·Orang pintar dibodohi, diliciki, orang jahat dimanjakan

    ·Orang tahu (akan kebenaran) makan hati (sakit hati)

    ·Harta jadi musibah, pangkat jadi pemikat , yang berkuasa merasa menang

    Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
    Ana Bupati saka wong sing asor imane.
    Patihe kepala judhi.
    Wong sing atine suci dibenci.
    Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
    Pemerasan saya ndadra.

    ·Yang mengalah merasa semua salah

    · Ada bupati (=>penguasa daerah), yang rendah imannya

    ·Patihnya (=>Aparatnya) kepala judi (=> Mafia judi, maksiat)

    ·Orang berhati suci dibenci, Orang jahat dan penjilat semakin dapat kedudukan

    ·Pemerasan di mana-mana.

    Maling lungguh wetenge mblenduk.
    Pitik angrem saduwure pikulan.
    Maling wani nantang sing duwe omah.
    Begal pada ndhugal. Rampok padha keplok-keplok.
    Wong momong mitenah sing diemong.
    Wong jaga nyolong sing dijaga.
    Wong njamin njaluk dijamin.
    Akeh wong mendem donga.
    Kana-kene rebutan unggul.

    ·Maling duduk perutnya buncit (=>Kayaknya Gaya KORUPTOR)

    ·Ayam mengeram di atas pikulan (=> pemaksaan pekerja, contoh TKW, ayam yang mengeram kan betina)

    ·Maling berani nantang yang punya rumah (=..KORUPTOR BERANI MENANTANG YANG PUNYA HAK /RAKYAT DI PENGADILAN)

    ·Begal/ Penjahat semakin menjadi, Perampok bertepuk tangan (BANYAK MAFIA YANG LOLOS DI PENGADILAN)

    ·Yang mengasuh memfitnah yang diasuh, yang mengangkat pejabat tapi menjatuhkan (=>mencari kambing hitam)

    ·Orang yang menjaga malah mencuri (=>banyak aparat yang “bermain”)

    ·Orang yang menjamin minta dijamin (=> minta upeti)

    ·Banyak orang yang mengubur doa

    ·Sana-sini berebut kekuasaan

    Angkara murka ngombro-ombro.
    Agama ditantang.
    Akeh wong angkara murka.
    Nggedhekake duraka.
    Ukum agama dilanggar.
    Prikamanungsan di-iles-iles.
    Kasusilan ditinggal.
    Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
    Wong cilik akeh sing kepencil. Amarga dadi korbane si jahat sing jahil.

    ·Angkara murka meraja lela, agama ditentang

    ·Banyak orang berbuat angkara murka, mengagungkan tindak durjana

    ·Hukum agama dilanggar, Perikemanusiaan diinjak-injak

    ·Kesusilaan ditinggalkan/diabaikan.

    ·Banyak orang gila (keduniawian), Jahat dan kehilangan akal budi

    ·Rakyat kecil makin terkucilkan karena menjadi korban yang jahat

    Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
    Negarane ambane saprawolon.
    Tukang mangan suap saya ndadra.
    Wong jahat ditampa.Wong suci dibenci.

    ·Kemudian ada Ratu (penguasa) yang berpengaruh dan punya tentara (militer)

    ·Negaranya seperdelapan (=>dunia, maksudnya luas sekali)

    ·Tukang makan suap semakin menjadi . (=> banyak orang menggunakan kekuasaannya untukkepentingan pribadi dengan makan suap)

    ·Orang Jahat diterima. Orang Suci dibenci

  380. weleh weleh … jam segini ada cantrik-cantrik yang masih berjaga di pendapa padepokan. Sudah bangun atau memang belum tidur? hehehehhe….. selamat pagi semuanya.

  381. saya sangat senang,
    teman2 cantrik beberapa hari ini keluar lagi semangat arifnya….
    banyak wejangan2 yg bermanfaat bagi hidup,
    kata2 nggresulo dan kata2 “keras” semakin berkurang,
    ini menandakan bahwa memang sesekali perlu dilakukan pendinginan oleh Ki GD dan staf,
    sehingga kita sempat untuk mawas diri.
    membaca kitab secara non stop setiap hari dengan berbagai jalinan konflik dalam cerita sungguh melelahkan jiwa dan raga, sehingga kadang2 kita terbawa emosinya tokoh2 antagonis….
    nyuwun pangapunten lan matur kesuwun……

  382. ki amat
    critane ko ra ono as,sm lan bolo2ne

  383. Saya hanya bisa mengucapkan banyak-banyak trm kasih untuk KI GD, Senopati, dan semua sesepuh padepokan ini untuk semua jerih payahnya. Bisa ngunduh ADBM merupakan suatu kesempatan yg jarang terjadi. Untuk Ki Sukra, selamat mengemban tugas baru, semoga semuanya lancar.

    Membaca komentar kadang cantrik memang menyegarkan .. bisa belajar bayak tentang sifat2 cantrik.

    Viva ADBM … Peace …

  384. Bener kan, tertundanya kitab membuat Ki Lateung tertawa terbahak-bahak. Tapi nanti kalau rapelan kitab turun, yang lain gantian tersenyum :)

  385. Selamat pagi,

    Nyi Seno nampaknya cuti bulan madu ini,,,,Kang Sukra, ada woro woro kapan beliau kembali?

  386. ki GD dan Nyi Seno, cutinya jangan lama-lama ya ki.
    Semoga selamat sampai tujuan, selamat sampai kembali ke Padepokan, padepokan “aman-aman saja nyi”
    Kalau bisa kitab diwedar setiap hari jumat sore, sehingga bacanya bisa hari sabtu dan minggu, ngurangi mencuri waktu dinas

  387. dadi, miturut panggraitaku … cantrik2 podho ngoyo-woro yen senopatine ono neng pendopo… why ?

    sebabe jelas, cantrik2 podho mateg aji pangulik-ulik, ngayam-ayam kareben kitabe ndang diwedar….

    malah kadang nganggo jurus sing ngedap-edapi, nggawe atining senopati rodo “serik” ….. terus mesem….terus mblokade komen….terus cuti nentremke ati (mungkin gek topo kungkum utowo topo ngalong..hik…hik)

    dongaake wae ilmune tambah mantep, ora tedas tapak paluning komen, udan ora kepanasen…panas ora kudanan

  388. Nyi Mala, … esuk iki masak opo? kulo durung bf je…

  389. Pagi-pagi ngabsen dulu sambil belajar nyoba emoticon, berhasil nggak ya …
    :(( :)) #:-S X( :-/ /:) =)) ~X( :-h I-) :-$ (:| =p~ :-? :-bd

  390. absen dulu, sambil belajar sabar meskipun nampak disana para leteung dan teman2nya berjingkrak-jingkrak

  391. Selamet hari gini para cantrik sedaya (waktu sengaja tidak disebut secara pasti mengingat para cantrik juga berada dimana-mana di belahan dunia ini)…

    Membaca Serat Jayabaya yang di salin Ki Amat membuat hati menjadi sedih, apa tidak ada ramalan Jayabaya yang gambarannya menyenangkan hati Ki ??? karena yang terbaca oleh saya hanya satu (walaupun menurut saya itu adalah pamungkasnya) … seberuntung-beruntungnya orang yang LUPA lebih beruntung orang yang INGAT dan WASPADA

    Mudah-mudahan yang satu itulah yang mampu menjaga orang untuk tetap ingat…

  392. Wah banyak yang gagal, nyoba lagi ah siapa tahu berhasil …
    :((
    :))
    #:-S
    X( :-/
    /:)
    =))
    ~X(
    :-h
    I-)
    :-$
    (:|
    =p~ :-?
    :-bd

  393. Gagal lagi … hehe .. ya sudah kalau begitu tak tinggal macul dulu.
    Selamat pagi buat para sanak kadang semua.

  394. Ki Agung Raharjo, mbok panjenengan mirsani link niki http://codex.wordpress.org/Using_Smilies, apa ini yang ‘njenengan maksudkan, atau memang sedang bereksperimen ???

  395. Hehe … tidak sedang bereksperimen kok Ki, barangkali referensi saya yang masih kurang dan ilmunya masih cethek sehingga salah-salah terus. Matur nuwun nggih Ki Pembarep, nanti tak coba mampir ke link tersebut.

  396. Sugeng enjang Ki Agung Raharjo

    Taksih tetep nyambangi padepokan walaupun semalam suntuk sudah ngronda tlatah ADBM, saya sekarang menggunakan internet di tempat golek pangan, sambil nyambut gawe mampir nyambangi cantrik padepokan.

    Nuwun

  397. Ki Ismoyo, sakniki kulo nggih sampun dugi wonten barak pasukan khusus. Nembe ngentosi para prajurit ingkang siap-siap badhe ngangsu kawruh.

  398. Sambang padepokan malih. Tingak-tinguk, sinten ingkang jatah ronda.

  399. Jadi hari ini kita punya deposit 3 kitab ya para ki sanak?

  400. selamat pagi cantrikers

    dan selamat hari senin

    xixixi,
    Ki KontosWedul

  401. Ternyataaaa,…

    Ma’acih Ki GD, Mbokayu Seno n Kang Sukra…
    Met pagi cemuaaaa!!!

  402. selamat pagi semua, nderek antri

  403. Smily buat wordpress

    http://codex.wordpress.org/Using_Smilies

  404. Smily buat wordpress

    “http://codex.wordpress.org/Using_Smilies”

  405. test smilleys :roll:

  406. Sugeng enjing para sederek Cantrik sedaya…
    Monggo dipunsekecakaken…

  407. Waduh !!!! Nimas Rara Wulan,
    ampun ndangu mboten ngeto’,
    begitu muncul terus mbengo’
    bikin kagyatnya saya yang lagi tenguk’-tenguk’ di pendapa…. :grin:

    Sugeng Nimas ??? apa kabar bumi yang sedang dijunung Nimas Rara Wulan …. ? musim apakah yang sedang berlangsung ??
    Di Betawi lagi musim duren dan musim gusuran … :mrgreen:

  408. Ralat:
    dijunung = dijunjung

  409. # kemana saja Ki Lurah ?

    lagi mesu diri & sedang cari keris2 tua juga
    lagi ngerencanain napak tilas ke mataram kuno
    anggarannya kok durung mudun2 ha..ha…

    Aku haturkan matur suwun seageng-agengnipun, masih bersemangat ngurusin adbmcadangan.wordpress.com

  410. Hihihihi,…
    kabar baik Ki Pembarep, ma’af yah!!
    gi menjelang musim gugur disini Ki.

    Mau durenna donk (bukan duda keren maksudna kan!!!)

  411. Monggo Ki AR, monggo sederek cantrik, ingkang wonten padepokan, barak pasukan khusus, parajurit khusus, ingkang wonten gardu lan jejibahan sanesipun, mangga sedaya sami ngayahi kuwajiban lan tugas, sinambi nyambangi padepokan, kajengipun tetep gayeng lan rame, mangga !

  412. Wah Ki Pallawa, gambar jerry (ne’ mboten klentu ‘njih ?)lebih kelihatan di lihat di source nya daripada disini…
    Panjenengan pinter melukis dengan kibord ‘njih ??

  413. kuwi dudu jerry, nanging bentuk semu ki Pallawa ..

    xixixixi… ojo nesu ki :)

  414. ..pantesan, ono ki Jeri .. :twisted:
    lha lontare podho mripil dikrikiti ki Jeri, ..soyo suwe metune iki ..

    absen maning, ..ngantri maning.

  415. Lho…belum muncul…..
    Absen aja…..Ke sawah dulu aja…nanti habis dari sawah di tengok lagi…

  416. mengko nek wis ono tabuh kiai Bicak, berarti senopati wis kondur lan siap medar kitab…

    saiki podho macul ndisik neng sawahe dewe2….

    sing ora nduwe sawah..ndang podho ngrewangi macul sawahe cantrik liyane..

    Jeng Nunik, Nyi Mala, Pudak Wangi…. njaluk ijin tak ngrewangi maculi sawahe sampeyan …….

  417. sedelo maneh daftar hadir padepokan tabuh 1.500.000

    berarti sedelo maneh tabuh kiai Becak

    siap2 nompo rapelan kitabbb………….

  418. mudah2an rapelan bisa terjadi hari ini …..

  419. Ada sesuatu kejadian luar biasa yg akan diukir padepokan ini :

    jml comment terbanyak dengan tanpa wedaran kitab ….

    ngedap-edapi, menjadi catatan sejarah dunia blogger …………….. (akankah didaftarkan di MURI?)

  420. sabar

  421. Jgn pernah ada rapelan neh……

  422. Sabar iku ibarate segoro kang diileni maewu-ewu kali ning tetep momot…
    Uwong kang sabar iku dudu uwong sing ora iso nesu, nanging uwong kang iso ngarahke kanepsone tumuju kang migunani, yaiku awujud semangat kang makantar-kantar tumuju gegayuhan kang luhur.
    Kabeh Agama negeske yen uwong kang sabar iku kinasih ing Pangeran..
    Mugo-muga migunani kanggo para bebahu padepokan..!
    Ki Warsono

  423. Uwis nunggu ket mau esuk, durung ono rontal opo meneh rapelan, tapi aluwung sabar ben diwenehi rapelan akeh….. he….he…. heee….

  424. tenang…tenang

    salah satunggaling punggowo padepokan sampun maringi pangandikan : Sabar iku ibarate segoro kang diileni maewu-ewu kali ning tetep momot…

    dados sabaripun ngantos jam pinten niki ki Warsono ?

  425. Hmmmm…… (gayane wong sabar kiyi….)

  426. Ngenteni rapelan kapan methune…kok urung jelas
    arep nyambi sinau nang cersilangka, ekon’e wis enthek…kudu mbayar maneh… (:

    Poro sedhulur ono sing dhuwe ..mbok nyuwun share accoun’e premiyum..

    Damel obat sakau…

  427. pangandikane ki Warsono memuat syarat sing tersirat :

    segoro maewu-ewu kali : maewu-ewu komen ….

    blaik kie, kudu sabar tenan …

    mestine :

    sabar jembar
    jujur akur

    dudu :

    sabar bubar
    jujur ajur

  428. hadiiiiiiiiiiiiiirrrrrrrr

    tadi pagi mampir ke kantor ambil kerjaan, sekarang sudah di pesanggrahan dan siap berjaga-jaga hingga subuh kembali (nek kuat… :D )

  429. @Ki Pandanalas,..
    baru sadar ya Ki,.. lah, kalo pintu gandok 176 dibuka, ya langsung aja poro cantrik ini pasti ikut ndelosor di sana, padahal 175 aja belum keluar,..opo tumon??
    Pasti Ki Pandanalas juga ngintip-ngintip ta, kalau-kalau pintu gandok 176 sudah dibuka? kayaknya ada kepuasan tersendiri di padepokan ini, bila bisa komen terdepan, atau menemukan wedaran jilid baru duluan,..hehe..
    langsung saja pada absen matur nuwun cepet-cepetan,.. iya apa iyaaa..
    wong emang aneh koq poro cantrik ki,.. termasuk saya,..huehehehe

  430. :D :) :| :( :x :evil: :twisted::mrgreen:

    Terima kasih juga buat Ki Embuh Tenan yang telah memberikan link smilies (sampai 2 kali malah).

    Bende “Kiai Becak” telah terdengar … kring-krong … kring-krong … nunut nyang warung kang.

  431. absen…
    untuk hari senin :)

  432. huufffhh….
    kesel… lempoh
    bar ngelangi segoro…

  433. ´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¢o¶¶´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´ø$7ø¶
    ´´´´´´´´´´´´´7¶¶¶´´´´´7ø¶¶¶¶´´´´¶¢
    ´´´´´´´´´´´´¶¶¢7¶¶7¶¶¶¶ø71¢ø$¶¶´ø¶
    ´´´´´´´´´´´¶¶´17´7¶´777777777´1¶¶¶
    ´´´´´´´´´´´¶11771´¶´777777777717´¶¶7
    ´´´´´´´´´´´¶¶´171´¶´7777771777771´7¶¶1
    ´´´´´´´´´´´´¶¶ø71¶717771717777771177ø¶¶
    ´´´´´´´´´´´7¶´7711177771¶¶$777771¶7777¶
    ´´´´´´´´´´´ø¶´777777777¶77771777ø¶1¶7$¢
    ´´´´´´´´´´´1¶´77777777177777´777717777øø7
    ´´´´´´´´´´´´¶7177777777771¶¶7777717¶¶¶¶¶¶
    ´´´´´´´´´´´´7¶´77777777771777777777¶¶¶¶1¶
    ´´´´´´´´´´´¶¶¶1´777777777777777777777177¶
    ´´´´´´´´´´´¶¶¶¶´77177777771117777771777¶
    ´´´´´´´´´´´ø¶ø¶¶¶$77777771´7¶7777777¶7¶¶¶¶¶77
    ´´´´´´´´´´´´ø¶ø$ø¶¶¶¶7771ø¶¶¶¢7117$¶´ø¶7¢7¶¶$¶¶¶
    ´´´´´´´´´´´¶¶ø7¢¢¢¢¢ø¶¶¶77777¶¢¶¶777¶¶7¢¢¢$¶7777¶¶¶1
    ´´´´´´´´¢¶¶$ø¢øøøø¢$7¢ø$¶¶777717¶77¶ø¶7¢¢¶7$¶771177¶¶7
    ´´´´´´7¶¶ø¶7øøøøø¢7¶¢øø¢¢ø¶¶¶77717øø7$$7¢¢¢717777177¶¶
    ´´´´7¶¶´¶7¶¢øøøø¢¢ø$¢øøøøøø¢ø¶¶¶ø7¶øø¢¶7¢ø´777777717¶¶
    ´´´¶¶777¶7øøøøøø¢ø¶¢øøø¢øøø¢ø¢77¢¢¶¶¢$¶ø777777777717¶$
    ´´¶¶117´¶¶¢øø¢¢7øø77¢øøøøøø¢øøø$¶$ø7¢´1¶¶¶¶ø111777777¶
    ´¢¶117711$¶$¢ø¶¶¶$øøøøøøøøøøøøø¢77¢¢¶´´´´´7¶¶¶¶ø7111¶¶
    ´¶717777777¢¶¶77¶¶¶¶øø¢¢¢7¢¢ø¢ø¶¶¶¶¶77¶´´´´´´´´´´¶¶¶¶´
    ¶¶´777777´7¶17777777¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶7777777¶¢
    ¶´777777´¶¶11777777777777777777777777777¶
    ¶´77777´¶¶´1777777777777777777777777777ø¶
    ¶´7777´ø¶´177777777777777777777777777777¶
    ¶´77711¶¶´777711777777777777777777777777¶
    ¶¢´1´7¶$$´77117$7´177777777777777777777¶7
    ´¶¶¶¶¶ø$¶´717¶¢7¶¶¶´1777777777777777777¶ø
    ´´´´´´´´¶7´7¶1171´¶¶7´7777777777777777¢¶
    ´´´´´´´´ø¶1¶717777´7¶71777777777777777¶$
    ´´´´´´´´´ø¶¶´7777771´¶17777777777777ø¶ø
    ´´´´´´´´´´´¶´7777777´$¶177777777177¶¶1
    ´´´´´´´´´´´¶717777771´¶´77771777¢¶¶7
    ´´´´´´´´´´´¶¶´77117ø7´¶77777¢¶¶¶¶¶
    ´´´´´´´´´´´´¶ø´´$¶ø77ø¶¶$¶¶¶¢77¶¶
    ´´´´´´´´´´´´¶¶´$¶´´7ø1´¶´´´´´$¶ø
    ´´´´´´´´´´´´´¶1¶´7¶¶$¶7¶1´1ø¶¶
    ´´´´´´´´´´´´´¶¶71¶¢¢¢¢7¶´¶¶¶ø
    ´´´´´´´´´´´´´¶¶´¶ø7¢¢7¶¶´´´´¢¶
    ´´´´´´´´´´´´´¶¶´$ø¢ø7¢¶´´´´´¶¶
    ´´´´´´´´´´´´´´¶¶$ø77ø¶¶¶¶¶¶¶ø7
    ´´´´´´´´´´´´´´´´ø¢ø¶ø´77

  434. enak’e kitab di wedar seminggu pisan wae pas jum’at
    langsung 5 atau 6 kitab
    hehehehehehehehe seneng aku
    soale aku yo ora tau iso moco nek dino dino liyane
    hehehehehehe ben podo klenger kabeh
    aku thok sing ora
    waaaaaaaaaaaaaaaakakakakakakakakakakak
    ngisruuuuuuuuuuuuuh

  435. :roll: :?:

  436. Senang melihat orang lain senang dan susah melihat orang lain susah, itu perilaku para bebahu dan cantrik padepokan adbm.

    Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang, itu perilaku siapa?

  437. iseng…

    http://www.ki-demang.com

  438. MUDAHAN DENGAN CUTI REHAT INI SENOPATI AKAN LEBIH SEGAR…………

    # capslock nya nyala tuh Ki

  439. (o)(o) mohon jangan dicaplok… nanti ada yang marah, apa maneh sing durung kebageyan :mrgreen:

  440. Alhamdulillah,
    Masih aman dan terkendali
    ra ono sik ngawe kisruh
    nuwun

  441. @ki TS

    opo sampeyan nyimpen kuncine 176? ket wingi tak ingak-inguk isih tutupan..selarake ugo isih malang neng lawang…

    blaik ki, sampeyan ojo2 kesasar neng gandok-e Jeng Mirah…

  442. :lol: :mrgreen: :D :) :( :cry: :( :)

    jek tas isa

  443. On 13 Maret 2009 at 15:38 Telik Sandi Said:

    Poro pinisepuh sedoyo,..
    apakah ada di antara poro kadang yang memiliki softcopy Babad Tanah Jawa atau tau link dimana saya bisa mendapatkannya??
    Atau mungkin para sesepuh Padepokan, berkenan menampilkannya pada halaman Padepokan, sebagai pelengkap Padepokan yang sudah ngedab-ngedabi ini??
    Matur Nuwuuuuun
    ________________________________________________________

    monggo dicoba di http://www.ki-demang.com

  444. Setia menunggu diwedarnya kitab sembari menikmati tembang campursari “setyatuhu”

  445. lagu KANGEN evie tamala wae :

    pitung sasi yo dik yo nggonku ngenteni
    mung sliramu cah ayu kang dadi ati
    mbalung janur cah ayu mbok ojo lali
    ngusadani sakawku setengah mati

  446. @Ki Pandanalas, njenengan kalawingi kesasar wonten bilikipun Sekar Mirah ta? Kok mboten kepanggih kula nggih? :)

  447. kira kira aja…, bentuk wadag ki gede sama
    nyi senopati tuh mirip siapa ya??…,
    Aura kasih??.
    Melly Guslaw??

  448. Happy Salma?
    apa
    Pandan Wangi??

  449. koyo iwak sepat bentuk-e …. (ojo nesu kang PLW)

  450. Teung gimana neh, kok lum terbit2 kitabna?

    kau doakan ya ?….hehe

  451. @kI Pd alas,….

    iku setengah dino aku nggambar lo ki….

  452. Wah Ki Pallawa memang ahli membuat bentuk-bentuk semu… winnie the pooh dan rara wulan (?)…
    lebih nganu yang di lihat di source lho Ki.. :smile:

  453. Ki Dewo 1234, Nyi Seno itu bentuk Wadagnya mungkin kayak Asmirandah…..

  454. ayo pada dolan menyang gandhok 76 ana woro2 lho. Ki Arema arep tanggap warsa.

  455. Wah kitab 176 sudah mulai dibuka oleh si Mbah, Katanya ditunggu jam 00.00 WM (Waktu Mataram), kapan yah ?

    Mau kasih koment belum bisa

  456. Ayo para sanak kadang sekalian, siap-siap bawa kado buat Ki Arema untuk nanti malam.

  457. opo mungkin yen Nyimas senopati kuwi bentuk semune ki GD ?

    (ilmune mesti luwih duwur tinimbang ajar tal pitu, soale iso membo dadi priyayi putri)

  458. Wakakakakakakak,..ngguyu kekelen aku mas,…
    wakakakakakakak….
    (serius mode ON)
    matur nuwun Ki Banuaji,..
    (ketawa mode ON)
    whuahahahahahaha,..
    mbayangke Ki Manahan karo Ki Pandanalas podo2 nggolek
    kunci pintune Sekar Mirah,..qeqeqeqeq

  459. Wis jan, ra iso turu tenan aku, nyantrik lan ronda karo poro cantrik ki,…
    Lha Asmirandah barang digowo-gowo,..

  460. kiai gringsing “roso” nya mirip mbah maridjan

  461. Mbok ya nanti malam sekalian ditayangkan foto-foto Ki GD, Nyi Senopati, dan para bebahu padepokan yang lainnya.

  462. Waduh…. trus siapa yang mo jadi ketua panitia tanggap warsa Ki Arema…?
    Tar malem pasti rame dan seru banget neh…
    Saya cuma bisa bantuin nggodog wedang je….

  463. heee… ki ts piye tha… yang mbawa barangnya asmirandah itu siapa???

  464. Njoged gak bisa, nembang juga gak bisa.
    Bisaku cuma nyebul semprong doang….

  465. On 16 Maret 2009 at 16:04 pembarep Said:
    Wah Ki Pallawa memang ahli membuat bentuk-bentuk semu… winnie the pooh dan rara wulan (?)…

    …@ “menurut sampeyan, aq bentuk semu Ki Pallawa, hihihihi,…. kesian banged!!!!”

    apa ada comment Ki Pallawa??!

  466. jebul ki palawa niku seniman nggih?
    gambar klincine sae sanget

  467. eh… salah sorry…

  468. Senopati nesu (marah) ?
    Jelas !!

    Senopati ngambek (mutung) ?
    Jelas !!

    Senopati mogok ?
    Jelas

    yen hurung diwedar tak pamit wae

  469. Heeee………. (seneng bgt) ;) :)

  470. -:)) kok rung ana ya

  471. Absen Ki GD/Nyi Seno ……..dari negeri singa

  472. absen juga…

  473. Sami sugeng poro sederek? Sinten kemawon niki ingkah wonten padepokan.

  474. Geber II-76 segera dibuka..
    Mohon para cantrik bersiap-siap
    Penurunan kitab segera di mulai..

    Midnight Show….!

  475. test ah….!

  476. ini ngetest nyoret tulisan

  477. durung iso nyoret tulisan

  478. isih durung iso

  479. isih durung iso

  480. isih durung iso

  481. angel tenan nggawe underline karo linetrough

  482. mbok aku ditulungi …

    tolung…tuloooong….. to looooong…… long size…..

  483. kadone ki Arema tak titipne neng gandok kene wae…sopo ngerti mengko bengi aku ra iso wungon…maklum moto tuwo…kudu dibantu nganggo ilusine ki PLW …

    mbang jambu mbang kecubung
    selamat ulang tahun BUNG !

  484. absen melu ronda….
    tapi wis siap gowo bantal sak kasure …

  485. @ Nimas Rara Wulan, ada 3 gbr (silhoutte) yang dibuat Ki Pallawa, Jerry the mouse, Winnie the pooh dan bayangan seorang gadis dengan tag Roro Wulan….
    tapi heran bin ajaib, dua gambar telah menghilang, tinggal Winnie the pooh…

    Jadi bukan dalem menebak kalau Ki Pallawa bentuk semu Nimas Rara Wulan… gitu….
    he..he..he.. ilmu dalem belum sampai Nimas…

    @Ki SaS dan Pandan Alas, wah ilmunya tambah mantep ya ??? sudah bisa ilmu pameling gayanya para bebahu padepokan…

  486. koment terbanyak kah??

  487. @ki Pembarep …

    senadyan nduwe sifat AS nggone nyadap ilmu, kulo ora meh pisan2 membo2 dadi senopati…. iso kojur cantrik sak padepokan nek senopatine menjeb ….

  488. He…he..he… mbok menawa ketrucut Ki anggenipunnge test..
    Underline itu ngga bisa, mungkin karena fungsi underline disini digunakan untuk menunjukkan link Ki Pandan Alas jadi sengaja di paten kan (dimatiin) dari sananya sama yang kuasa tlatah.
    Kalau linethrough dalem mboten ngertos…

  489. masih belum di”wedar”kah ?….sepertinya ini adalah komen terbanyak sepanjang sejarah ADBM… interesting….

    # sayangnya ini bukan komen terpanjang Ki Juru..

  490. wah suwe tenan to yo pakansi-ne nyi seno karo ki gede. ora sabar tenan je sing ngenteni……..

  491. Sugeng ndalu,
    sedulur cantrik, nderek madepok.

    nuwun

  492. mangga maaaaang….

  493. menurut kitab 176 besok ki arema ultah plus diwedar kitabnya jadi sama2 kita nyanyikan

    happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you happy birthday to you

    semoga panjang umur dan panjang kitabnya untuk diwedar selalu ….amieeeen….!!!

  494. Ki Gede Menoreh : Sukra, udah dikasih tau Kyai Gringsing??.. saya tuh udah sembuh gitu.., sakitnya ga berlama lama.., sekarang udah bisa ngawasi padepokan dan nganglang tanah perdikan.

    Sukra -sambil terburu buru mo ke sungai – : sudah Ki….tenang aja…, udah ta kasih tau kok.., beres.., sekarang mo liat prilidan..- jawab sukra sambil ngacir..

    Eh eh eh -…, kata Ki Gede,…kamu ngomongnya gimana??..ntar salah arti lagi…,..

    …Lha gampang pisan Ki…., saya bilang ama Kyai Gringsing tadi…, “tahlilan tuh ga jadi mbah.”……
    ….kata Sukra sambil ngacir…..

    …-dasar anak iblis…-.. Ki Gede membatin….

  495. wah salah, durung methu

  496. nyoba nyadap ilmune jago kluruk ki SAS

  497. akhire …. suwun ki SAS

    njaluk ajar sing underline ….

  498. ki PLS pancen oye..
    tapi ojo membo2 dadi Senopati lhoh…
    gawat ki…
    mundak nesu…koment di blok ga iso cuwat-cuwit piye jal….

  499. selamat ki arema….

    semoga soyo tuwo soyo nambah umure…. :D

  500. sing underline…kudu nganggo spidol dhewe
    di coret ngisor’e…
    aku yo urung nemu je..

  501. aku wis janji karo ki Pembarep,..ora meh membo2 dadi bebahuning padepokan …

    nek ono sing membo2 nganggo jenengku, kuwi mesti palsu… percoyoho

  502. dicobian

  503. dicobian oge

  504. apa sih yang dicobian :shy:

  505. @ki SAS

    wis dak coret nganggo spidol… iso tenan underline-ne

    nek ga percoyo, cobian sok

  506. ternyata gak bisa

  507. Absen dari negeri ginseng

  508. wah masih rame tho

  509. ada cover hore hore hore
    ada harapan

  510. bener-bener

    ada cover, ada harapan

  511. numpang bengong ah……………

  512. Nyuwun Sewu Poro seduluR

    Tumut absen meleh dinten niki

  513. tunggu 00:00 waktu mataram ya… ke wib jam brapa ya?

  514. lawan swandaru bawa linggis apa mau nyolong kitab ya??

    kok lawan swandaru mesti yg ilmunya rendahan jadinya sombong sekali 2 gurunya prabadaru biar mapus simulut besar

  515. sudah ada koper…
    sudah 3 halaman…
    halaman ke 4….???

  516. koq ngubah font gak bisa ya… gimana sih…

  517. Mulai ada harapan.
    Mata ngantuk. pengin tidur tapi begitu lihat cover kok penasaran. jangan jangan mo diwedhar malem ini.

  518. Covere Swandaru NGGENDEWO!!!!

  519. Lumayan…sudah ada cover…mudah2an tidak lama lagi kitab sudah wedar…sabarrrrrrrrrr

  520. nyobo tiru tiru

    melu melu nyobo ah

  521. maap sekedar ikut2an,,,,

  522. Kitab 175 kayaknya episode swandaru geni round

  523. ko swandarunya jadi kecil ya,,,gak gemuk lagi..,

  524. Lho …belum to….
    Eh…sudah ada covernya….harapan semaklin dekat
    Ahh…ditinggal ngeronda dulu…nanti mampir di pendopo lagi…

  525. nyoba yg ini,barangkali bisa

  526. nyoba lagi ah

  527. setia menanti…..

  528. koq kaya’ nama rumah makan di pantura, ki juru???

  529. testing

  530. Ampun ngagem underline nek mboten hyperlink!

    testing

  531. salam kenal cantirkers

  532. @ki sas

    kalau gak salah sih underline memang tidak akan ditampilkan pada beberapa browser atau memang karena format dari html nya… (sok keminter… :p )

  533. tinggal 5 watt … zzzzz

  534. Nyoba..!

  535. @ ki Banu..
    emang betul sampeyan…
    untuk font warna juga gagal terus

  536. apa iya ..?..mungkin disana tunggu panganan…kalau ini tunggu…wedar…..itu bedanya Ki Banuaji…salam kenal….

  537. Hadiir, absen, muteri pdpkan, jupuk bantal, mlebu gandok, mapan..hehehe…
    Sugeng dalu sedoyo…

  538. <blink>tes<blink>

  539. Kalau merubah font style kayaknya masih bisa, tapi belum tahu nih!

  540. salah resep…

  541. hadir je

  542. Sugeng Tanggap Warso Ki Arema, Mugi tansah pinaringan sehat lan panjang yuswa.
    Kadhonipun kula titipaken dateng mriki:
    http://ki-demang.com/index.php?option=com_content&task=view&id=715&Itemid=700

  543. banyak mencoba banyak gagal….
    dasar ndeso…,dah nyoba ganti font gak bisa jg,,

  544. Akhirnya, kang mas Cover sudah muncul, tinggal menunggu isinya :D

  545. @ Ki said
    Resep’e melu mecungul

    hi…hi

  546. font style pakai :mrgreen:

    ini kalau lagi nge-hack web :D

    pengennya sih pakai font hanacaraka… :)
    tapi kalau gak lagi nge-hack gak pernah bisa… :(

  547. he…he….ndeso emang

  548. wah cantriknya banyak skl yg nunggu rapelan. Wong Swandaru aja ditunggu :P

  549. wa…haa….haa….

    busek otomatis…

  550. ho’o, tumben yang ronda banyak banget, apa maneh sing ngerondo :mrgreen:

  551. Sugeng enjang sederk sedoyo
    Ngaturaken sugeng tanggap warso dumateng Ki Arema.
    Mugi-mugi tansah pinaringan kesarasan saking Gusti Kang Murbeng Dumadi,amien…

  552. jam 00:10 ternyata masih semu…………..

  553. tabuh 12…
    pamit mundur dulu ah…

  554. Wah Ki Sukra keturon iki, lali ngangkat selarak gandok 176….

  555. Dingaren kok sepi…
    biasane akeh cantrik sing do jogo, ana sing tetembangan barang..
    Ki warunghiik yo ra ono, arep pesan sega kucing karo wedang secang… kok yo ra dodolan yo ???
    Apa karena sing mbayari Nyimas Senopati lan Ki GDdurung bali ??
    Lho wong ono sing arep party kok malah ra dodolan…

  556. masih rame koq ki pembareb, cuma seperti biasa, masih pada nonton wayangan… :D

  557. Tet..tet…tet…tet….
    Sugeng tanggap warsa Ki Arema… Mugi tansah pinaringan karahayon, panjang yuswa, kawilujengan lan kasarasan saking Gusti Kang Murbeng Dumadi….
    Lho… kok jajanan pasar durung ana ya…
    Ayak e ditok ke wayah temawon ayak e….

  558. Ini pada kena sipep kali ya….
    Sepi banget. PAra cantrik kok juga ga ada di pendopo maupun di gardu. Yang katanya ULTAH jangan2 masih ngringkel didalam sarung.
    Wooo lhaaa dha nonton wayang aku ra diajak….

  559. ki kimin malah dereng mentas saking dugem… :)

    sebentar lagi ki manahan, ki widura, ki kimin, dan para aki-aki dan nyai-nyai pada menggantikan cantrik yang bertugas dari pagi…

  560. Eh, sirep dhing…

  561. Lho Ki Benowo msh d pendopo…
    Ke banjar Ki nonton wayangan disana, dalam rangka ultah Ki Arema, Ki Sukra juga kayaknya disana..
    cepet lho Ki wayah’e goro-goro, saya mau ke pakiwan dulu..

  562. Tumpeng acarane Ki Arema sudah dipenggal ya, wah gak uman iki.

  563. Njajal tulisan digaris ahhh…

  564. Njajal mringis

  565. ikut jaga juga ahhhhh karo mlaku-mlaku

  566. gak dadi kik

  567. ngintip lagi

  568. tim buser (buru sergap) rontal 175 kecele. Padepokan rame, tapi sepi uwong. Ruang pustaka, masih terkunci rapat.

  569. Panjang umurnya
    Panjang umurnya
    Panjang umurnya
    serta mulia
    serta mulia
    serta muliaaaaaa….

    Panjang umurnya
    Sehat awaknya
    bahagia hidupnya
    ‘tuk Ki Arema
    ‘tuk Ki Arema
    ‘tuk Ki Aremaaaaaaaa

    Njaluk Kitabnya
    Wedar kitabnya
    mohon bonusnya
    oh Ki Arema
    ‘tuk para cantrik
    sa padepokannnnnnnnnhh…

    Sugeng Tanggap Warso KI…

  570. kayaknya jam 6 pagi nih halaman 4. tidur dulu ah setelah buser gagal jam 01 dinihari td.

  571. @Ki Pembarep,..
    Mungkin memang kurang jelas ya Ki,..apa 17 Maret 2009 pukul 00.00 WM atau 17 Maret 2009 pukul 24.00 WM?
    Lagipula, WM (Wektu Mataram) itu GMT minus atau plus berapa jam ya,.. hihihihi

  572. Anyway, matur nuwun sanget kagem Ki Arema.

    Selamat Ulang Tahun, kami ucapkan.
    Selamat Sejahtera, kita kan doakan,
    selamat ulang tahun, sehat sentausa
    Selamat Panjang Umur dan Bahagia.

    Happy birthday to you,
    happy birthday to you, happy birthday, happy birthday
    happy birthday to you.

    Juga tentunya matur nuwun pada sesepuh lainnya yang berkenan pinjamkan kitab pada poro cantrik.

  573. Lho…belum dibagikan to….
    Ngeronda dulu ahh…..

  574. Hmmm….ngeronda sambil berpikir….apa yang pantas KADO ULTAH untuk Ki Arema…???
    Menyanyi sudah ada….
    Mau kado njoget tidak bisa….
    Mau tak kado kita ADBM sudah punya….
    Hmmm….apa ya…???
    Ucapin selamat Ulang Tahun saja nich….
    Semoga Ki Arema panjang umur, sehat selalu, rejeki melimpah dan semoga selalu berada dalam lindunganNya…..Amin

  575. Ki Arema,
    Ngaturaken Sugeng Tanggap Warsa
    Mugio tansah pikantuk sih nugraha Ingkang Akarya Jagad.
    Sakulawarga pinaringana tata, titi, tentrem tur raharja, kalis nir ing sambikala. Amiin.
    Nderek nyengkuyung palilahipun anggenipun kersa paring pusaka rontal lan tuntunan retype dumateng padepokan, saged dipun sinau dateng para cantrik sadaya.

    :Ugi nderek selamat ulang tahun kagem anak kula mbarep jaler (17-03-1985) ngger, dadio anak sing ngabekti marang wong atuwamu lan manembah marang Gusti Kang Murbeng Dumadi, migunani tumrap nusa, bangsa lan agama, tansah kadunungan kasarasan adoh saka sambikala:

  576. A pi di bukit menoreh serial ceritanya
    D alam cerita Agung Sedayu peran utama
    B uah karya Sang Maestro SH Mintardja
    M ataram dan Pajang setting lokasinya
    S edari kecil yatim piatu adanya
    H anya Ki Untara pengganti ayah bunda
    M endapat bimbingan Kiai Gringsing sebagai gurunya
    I lmu kanuragan dan kitab Ki Waskita diserapnya
    N amun Swandaru menganggap tak sehebat dirinya

    ADBM SH MINTARDJA, baru sampai ADBM SH MIN, siapa melanjutkan ?

  577. siap
    siap
    siap…..

  578. ada cover ada harapan….

  579. On 14 Maret 2009 at 14:42 djoko Said:
    Ki & Nyi Gede undur diri
    Ngudi sarira mesu diri
    Anakmas Sukra tampil mengganti
    Padepokan dibenahi

    Cantrik selalu setia mengantri
    Agar kitab 175 dst unjuk gigi
    tetapi apa yang terjadi
    Akhirnya cantrik gigit jari

    Cantrik sabar dan tahan emosi
    komentar saring dan hati-hati
    Ki & Nyi Gede pasti kembali
    bersama Ki Sukra lontar tersaji

    he…he…he (tersenyum sambil baca lontar yang tersaji)

    tapi kok ya durung diwedar ya
    :p :o :oops: :lol: :roll: :roll: :roll:

  580. @Ki Ismoyo,..
    coba lihat woro-woronya Ki Sukra,..

    “Hari Selasa ini (17 Maret 2009), dst…
    Komentar akan dibuka tepat pukul 00.01 WM (Waktu
    Mataram) nanti malam
    (semoga kitab juga sudah siap diwedar saat itu :) )”

    Jadi kalau saya tidak salah, ya diwedarnya Hari Rabu, 18 Maret 2009 Pukul 00.01 WM..
    Lha ini, WM itu yang Ki Sukra pinter,…hihihi

  581. ADBM SH MINTARDJA, baru sampai ADBM SH MIN, siapa melanjutkan ?

    @Ki Ismoyo, bagaimana kalau diteruskan demikian ..

    T api tokoh-tokoh sakti sementara berdiam diri
    A gung Sedayupun tidak ambil peduli
    R upanya saat ujian belum mulai
    D ua murid kiai Gringsing masih harus mesu diri
    J awaban atas pertanyaan baru terjadi
    A pabila janji rapel dipenuhi oleh Nyi Senopati

    He hee ehhhh

  582. Wach2 lagi pada rame menjabarkan daripada SH MINTARDJA nie…
    keren….
    Rame banget kek nya malam ini…

  583. He he he
    boleh juga Ki Widura.
    wasis tenan

  584. Kagem Ki Arema, Ki GeDe, Ki Sukra, Nyi Senopati, porosepuh lan poro cantrik..

    Monggo dicobi,..Tumpeng Rombyong,..

    Sega kuning, Urap, Tempe Tahu goreng lan bacem, Ayam goreng + sadeg lan ayam bakar, Kering tempe lan kacang, ndog pindang lan ndog dadar iris tipis, gereh kipas, Peyek kacang, peyek teri lan peyek kacang ijo, perkedel, abon, empal goreng, lalapan sambel sekalian.

    Unju’anipun nggih dawet cendol, wedang ronde, sekoteng, kopi kalian teh nggih wonten

    Kulo bade nanggap Wayang nanging mboten ngertos lakon menopo nggih..

    Monggo,..

  585. Ki Telik Sandi,

    WM (Waktu Mataram) kira-kira selisih berapa jam dengan WIB, WITT (Waktu Indonesia Barat, Tengah, Timur)

    Gegojegan sinambi nunggu wedare kitab, sebagaimana di janjikan Anakmas Sukra.

  586. Ki Widura
    Jadi yen di gabung lengkape ngene :

    A pi di bukit menoreh serial ceritanya
    D alam cerita Agung Sedayu peran utama
    B uah karya Sang Maestro SH Mintardja
    M ataram dan Pajang setting lokasinya
    S edari kecil yatim piatu adanya
    H anya Ki Untara pengganti ayah bunda
    M endapat bimbingan Kiai Gringsing sebagai gurunya
    I lmu kanuragan dan kitab Ki Waskita diserapnya
    N amun Swandaru menganggap tak sehebat dirinya
    T api tokoh-tokoh sakti sementara berdiam diri
    A gung Sedayupun tidak ambil peduli
    R upanya saat ujian belum mulai
    D ua murid kiai Gringsing masih harus mesu diri
    J awaban atas pertanyaan baru terjadi
    A pabila janji rapel dipenuhi oleh Nyi Senopati

    He hee ehhhh
    Tul juga.

  587. Pada hari ini bebahu padepokan bersuka cita
    Ada sesepuh merayakan tanggap warsa
    Doa terpanjat untuk Ki Arema
    Esok yang penuh dengan suka dan bahagia
    Para cantrikpun ikut gembira
    Obat sakaw dijanjikan segera tiba
    Kitab 175 dan bonus-bonusnya
    Akan disambut dengan penuh gembira
    Nyanyi, tari dan puisi tentu lebih menggila,..

  588. Gandhok no 76 sampun dibikak lho, mangga para cantrik padha pinarak…

  589. ada cover ada harapan ,betul nggak Ki ?

  590. kitabe wes diwedar, ning kareben ora podho kaget diparingi covere ndisik

  591. Amin…amin….amin….

    Mohon maaf kepada para cantrik yang ngeronda semalam, saya tidak bisa ikut-ikutan.

    Sungguh, saya tidak tahu ada acara ini, karena sepulang kerja (saat terakhir saya cek masih belum ada woro-woro itu) saya istirahat dan baru iseng buka komputer pagi ini.

    Jadi, betul seperti komentar Ki Benowo (?) semalam saya memang asik kemulan sarung sampai pagi. Mau bengi adem banget je. He…he…

    Maaf….maaf…maaf…. dan terima kasih.

    Balasan kadonya, saya telah mencoba merayu Ki Gede untuk mempercepat wedarnya kitab-kitab yang sudah ditunggu beberapa hari ini, mungkin termasuk bonusnya.

    Mohon maaf kepada Ki Gede yang telah terganggu jadwal nganglangnya dengan adanya panah sendaren dari padukuhan induk.

    Arema

  592. masih ‘rung wedar..???…….sabarrrrrrrrrr

  593. Attention …..

    para penumpang ADBM Air Ways diharapkan mengenakan safety belt, pesawat sekarang sdg mengalami ggn teknis … utk sementara akan singgah di Jonggring Saloko ….

  594. wah, dangu-dangu nggih ngelangut boten wonten waosan makaten…..

  595. Para Sedulur,

    Nyai Senopati dan Ki GD lagi repot kampanye, maklum mau jadi caleg, itu dugaan saya lho..
    semoga kalau memang benar, saya doakan sukses mengemban amanat rakyat dan para cantrik padepokan
    tetap semangaaat

  596. Dumateng ngarsanipun Ki Gedhe, Nyai Senopati dalasan Kyai Sukra, sugeng ngayahi tugas, mugi-mugi tansah pinayungan karahayon, amin.

  597. :cry: uhuk..uhuk…

    soyo deres milining luh ning mripatku
    sebab kesuwen nggonku menthelengi lcd-ku

    sesuk mesti tuku koco moto kir
    ben mripatku ora mblabur tur ora njungkir

    blaik kie gegerku wis kemeng
    mergo mbegegeg kakehan mandheng

  598. durung to…, sabar… sabar….

  599. @ Ki Ismoyo…

    T unggu kisah pertarungannya
    A ntara Agung Sedayu melawan Swandaru
    R upanya kita masih harus menunggu
    Duel antara saudara seperguruan
    J eng Senopati yang akan menjadi saksi
    A khirnya, Sura Dira Jayaningrat Lebur Ing Pangastuti

  600. Tetap menanti dgn sabar … di WB (waktu Bandung) …

  601. Sugeng enjing para kadang

  602. @ Ki Panembahan Agung
    Kalau mengambil pelajaran dari cerita ADBM.
    Mencabut janji sudah menyalahi nilai-nilai luhur.

    Sabda Pandhita Ratu

    Tapi nggeh monggo terserah Ki Gedhe & babahu padepokan…..

    Sendiko dhawuh

  603. @ki SAS …

    ojo terus terang maengkono, mengko keno linethrough loh…

  604. rame…ramee……

  605. Blaik-blaik tak rewangi sewengi ra mati komputerku….
    Tibake durung Kawedar Kitabe

    Gusti paringono sabar…

  606. Selamad pagi cantrikers…

    aseek dah ada cover

    xixixi,
    Ki KontosWedul

  607. @ki PLS
    wah lali…
    lha wis, ngepasno kalimat’e angel iki…

    Nyuwun sewu ki Gedhe, Senopati
    Menawi keberatan…di setip mawon

  608. 50 cantrik gladi kanuragan!

  609. lha kemarin sudah menembus angka 60-an ki…

  610. Sugeng tanggap warsa katur dumateng Ki Arema, mugi tansah pinaringan rahayu sedayanipun

    Ki Gede, Nyai Snpt dan Ki Sukra, panjenengan sedaya bukan pemarah, sombong atao arogan. Malah justru panjenengan sedaya selalu tersenyum dan memberikan maaf kepada poro cantrik yang agak kebablasen. Untuk itu kami sangat berterima kasih atas pengabdian panjenengan sedaya mengelola padepokan adbm ini, apapun kebijaksanaan panjenengan sedaya.

    Kepada poro cantrik, mbok yao agak ngerem sedikit supaya tidak menimbulkan gejolak-gejolak yang tidak baik bagi padepokan.

    Nuwun.

  611. bumi gonjang ganjing
    langit kelap kelip katon
    lir gincanging alis
    padepokan sangsoyo rame
    cantrike podho binguuung
    al kitabe ra metu – meeeetu
    sampuun

  612. @ki Amat ..

    kulo nyuwun longgaring manah panjenengan,… Jongko Joyo Boyo kulo copas njih….

  613. akismet ?

  614. @ ki arema
    met ultah ki/ cak,
    yg penting bukan hura-hura tapi mawas diri tmbh tua tmbh dekat liang……..(isi dw)

    coba2 beri nasehat (kemeruh titik)
    peace man masak pis..dong opo pis..lah

  615. wah…..prihatin tenannn…..

  616. ojo diklik, test underline

  617. ngaaaaaaaaaaantuuuuuuuuuukkk

  618. we… lha pancen durung diwedar to … pantesan aku le nggoleki nganti mumet ora ketemu…hmm

  619. ki pandan, garis bawah itu pakai perintah (spidol :D )

  620. @ki BAJ …

    mau bengi wis tak coba nganggo spidol, iso tenan (lcd-ku tak coret, jebule salah nganggo permanent ink … blaik kie)

  621. sampeyan kok iseh penasaran karo underline..to ki PLS…

    Jelas ora iso, kudu ngisore di coret dhewe..
    mesti dadine…

  622. Atw534q7y4qjte,7ip68[‘n;oeaj,;x,mns;ksdnm/.mz.;mzbm
    ;sljpmsx lskfnjp’sn lskmnpjrp;ll;’
    nlkbhja ‘;lakjb ;poajh ;oljka;l p;okj l;akbq9ieup’o ;lajkp
    kjaopieusp l;kijphs

    nek ku ngetik karo merem….
    sebabe nek melek yo percuma…
    malah loro mripatku plus ngantuk…
    menthelegi kat wingi kok sek pancet neng kene…
    kapan pindahe….????

    merem maneh aaahhh….

    kjhqwp9ti8y19387 oiqjlkjhtnr ‘kjp’rjhp9
    mnskj ;lkjwhr9u lkjhorht

  623. From ADBM With

    ´´´´´´´´´´o¢$$$ø¢o´´´´´´´´´´´´´´´´´´7oø$$$øo1´´´´´´´´´
    ´´´´´´¶¶¶¶¶¶$$$¶¶¶¶¶¶¶´´´´´´´´´´ø¶¶¶¶¶¶$$$¶¶¶¶¶¶7´´´´´
    ´´´´¶¶¶¶$$$$$$$$$$$$¶¶¶ø´´´´´´7¶¶¶$$$$$$$$$$$$$¶¶¶1´´´
    ´´o¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶´´´´¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶´´
    ´¢¶¶$$$$$$$¶¶$$$$$$$$$$¶¶¶´´¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶´
    ´¶¶$$$$$$¶¶¶¶¶$$$$$$$$$$$¶¶ø¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶´
    7¶$$$$$$$¶´´¶¶$$$$$$$¶¶¶¶¶¶¶¶$¶¶¶$$¶¶¶$$$¶¶¶¶¶¶$$$$$¶ø
    ¢¶$$$$$$¶¶´´¶$$$$$$¶¶¶ø11ø¶¶¶¶¶´¶$¶¶´¶¶¶¶¶o´1$¶¶$$$$$$
    ø¶$$$$$$¶¶´´¶$$$$$¶¶1´´´´´´ø¶¶1´¶$¶´´1¶¶ø´´´´´´¶$$$$$$
    o¶$$$$$$¶¶´´¶$$$$$¶7´¶¶¶¶´´´o¶´´¶¶¶1´´¶ø´´¶¶¶´¶¶$$$$¶$
    ´¶$$$$$$¶¶´´¶$$$$¶¶´´¶¶¶¶¶o´´¶´´¶¶¶¶´´¶´´¶¶¶¶¶¶¶$$$$¶o
    ´¶¶$$$$$¶¶´´¶$$$$¶ø´ø¶$$$¶¶´´¶o´$¶¶¶´$¶´´1´´´´ø¶$$$¶¶´
    ´¶¶$$$$$¶¶´´¶$$$$¶7´ø¶$$$$¶o´ø¶´´¶¶¶´¶o´´¶¶¶´´¶¶$$$¶¶´
    ´´¶¶$$$$¶¶´´¶$$$$¶o´´¶¶$$$¶¶´$¶´´¶¶7´¶¢´1¶¶¶¶¶¶$$$¶¶´´
    ´´´¶¶$$$¶¶´´¶$$¶¶¶¶´´¶¶¶$¶¶1´¶¶´´¶¶´¶¶¶´´¶¶$$$$$$¶¶o´´
    ´´´7¶¶$$¶¶´´¶$¶¶1o¶´´´ø¶¶¶¶´1¶¶$´´7´¶¶¶´´o¶¶$$$$¶¶¶´´´
    ´´´´o¶¶¶¶¢´¢¶¶¶¶´´¶¶1´´´´´´´¶¶¶¶´´´¶¶$¶¶´´´¶¶¶¶¶¶¶´´´´
    ´´´´´o¶¶´´´¶¶ø´´´´¶¶¶¶o´´7¶¶¶$$¶¶´¶¶$$$¶¶1´´´´¶¶¶´´´´´
    ´´´´´´1¶¶7´´´´´´o¶¶$¶¶¶¶¶¶¶¶$$$¶¶¶¶¶$$$$¶¶¶¶¶¶¶ø´´´´´´
    ´´´´´´´´¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶1´´´´´´´
    ´´´´´´´´´¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´ø¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶7´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶7´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´$¶¶¶$$$$$$$$$$$$$$$¶¶¶´´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶¶¶$$$$$$$$$$$$¶¶¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´´´´o¶¶¶$$$$$$$$¶¶¶$´´´´´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶¶¶$$$$$$¶¶¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶¶¶$$¶¶¶1´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´7¶¶¶¶ø´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´

  624. Siapa orang ke-3 di jilid 163?

    Daripada bingung nunggu kitab, buat ngisi waktu mending ngulangi pelajaran yang dudah didapat di padepokan ini.

    Dijilid 163, diceritakan Kakang Panji secara rahasia mengamati kekuatan pasukan Mataram. Namun kehadirannya ternyata diketahui setidaknya oleh 7 orang lain . Pertama, disebut di ADBM sebagai Orang kedua yang datang dan yang menyapa Kakang Panji kemudian diketahui sebagai Pangeran Benawa, Orang ke-4 yang bersandar di pohon adalah Ki Juru Martani, Orang ke-5 yang berdiri ditebing dan kemudian diserang oleh kakang panji adalah Raden Sutawijaya. Orang ke 6,7,8 yang tidak terlibat pembicaraan adalah Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita.

    Sampai sekarang sudah bolak balik baca ADBM, saya masih belum bisa tahu siapa yang dinamakan Orang Ke-3 yang disebut bukan orang Pajang maupun Mataram, ia pergi paling awal, bahkan sebelum Kakang Panji menyerang Sutawijaya.

    Mungkin poro cantrik ada yang bisa ngasih pencerahan?

    Salam
    Karebet

  625. Mungkin Sultan Hadiwijaya….

  626. baca sekali lagi….
    simak percakapan si benowo sama sang sultan setelah kejadian tsb…

  627. simak…simak…simak…simak…ketemu…eh…lho…
    ilang…simak…simak…simak…ngantuk…simak…
    merem…melek…simerem…simelek……………….

  628. 1,475,022 cantrik

    kapan 1,500,000 -nya, kok bisa berkurang terus nambah eh…kurang lagi…eh…nambah lagi…

  629. Klo niteni gambar sampule kitab 75, opo ya jaman sakmono wis ono linggis sing modele koyo mengkono…?

  630. Trims. Luar biasa.

    Berulang kali saya baca ADBM, tapi baru sadar kalau halaman-halaman ini selalu saya lewat, gak sabar pengen langsung ke Bab perang.

    Terima kasih atas pencerahannya.

  631. krompyang

  632. @ki PLW …

    aku pesen jenengku dilukis gandeng karo Jeng Nunik ….
    (nyuwun sewu jeng nunik, mangke tak rewangi nggarap sawahe)

  633. Ki Karebet, orang ke-3 itu ya njenengan sendiri … lha itu kan Sultan Hadiwijaya … coba perhatikan saat P Benawa bertemu Sultan setelah kejadian tsb …

  634. itu bukan linggis, ki dpi

    itu khan sing nggo kukur-kukur geger kuwi lho…

  635. @Karebet
    Bukannya sudah dijelaskan bahwa orang yang ketiga itu adalah Sultan Hadiwijaya.
    coba baca lagi Ki.
    Setelah peristiwa ketemuan di pinggir kali opak itu, Sultan memanggil Pangeran Benawa dan ngomongin peristiwa itu, termasuk penyerangan yang dilakukan oleh Kakang Panji terhadap Raden Sutawijaya.
    YoPoRa ?

  636. kuwi mesti salah sawijining cantrik sing cobba2 mbongkas selarak lawange senopati … meh nyolong kitab 175 + rapelanne… terus konangan karo ki Sukra, diajar nganggo tjambuk kilat…

    Tjambuk kilat….datanglah….. aku butuh bantuanmu….

  637. lintange sumebyar
    ing langit pating gelebyar
    ora ana mega….ora ana mendung…
    rembulane neba…sak nduwuring gunung
    sasat ratu, sinewaka
    lintang sewu, padha seba….(apa wis wengi eneh ta iki kok ngantuuuuxx…)

  638. Wah, saya juga ingat…
    Pringgojoyo waktu perang Mataram vs pajang sampe slese kok ga disebut2 ya. Apa krena gagal maning gagal maning terus dianggap senopati biasa yang ga ngetop.

  639. Pringgojoyo akhire wis sadar yen tumindhake nyalahi toto trapsilo…. saiki ngenger neng padepokan, kuwi sing ndeprok neng pojokan kemulan sarung tur ndingkluk terus mergo isin2

  640. Ki Karebet, orang ketiga adalah Sultan Hadiwijaya, hal itu terungkap di halaman 69 di kitab 163. Silakan dibuka kembali kisanak.

  641. lha wong punya karebet halaman 69 ilang… piye thoo???

  642. Ki Pandanalas, Pringgojoyo meniko bentuk semu nggih? :)

  643. Ki Pandanalas…
    Pringgojoyo ndeprok neng pojokan kemulan sarung tur ndingkluk terus mergo isin2 soale wis ra duwe duwit eneh nggo tukon udud opo meneh pangkat. Mau tak lirik deweke wiwit njaluk udud ting we nggone anak buahe Sidanti. Ajar nglinting ra isa2…

  644. @Den Mas Benowo YSM,
    Mengenai hilangnya Pringgojoyo pernah disebutkan bahwa beliau terhanyut di kali Progo, waktu melarikan diri dari perkelahian mencegat iringan pengantin Agung Sedayu – Sekar Mirah menuju Perdikan Menoreh. Larinya dibawah pengetahuan Prabadaru dan Sutawijaya yang mengamati pertempuran dari kejahuan. Kala itu Pringgajaya berhadapan dengan Kiai Gringsing, dan Agung Sedayu menghadapi ……. (lupa).
    Namun tokoh yang hilang bisa juga dimunculkan lagi dibelakang hari, dengan peningkatan ilmu, dan biasanya ditolong oleh orang sakti. Biasa dalam ceritera2 silat.
    Sayang kita tidak melakukan inventarisasi siapa2 saja tokoh hitam yang terbunuh, tertangkap tangan, ataupun hilang melawan Agung Sedayu. Ada yang ingat secara komplit? Karena untuk mengulang lagi ke depan rasanya berat juga ya?.
    Nuwun,
    Ki Truno Podang

  645. Kesimpulannya dari 7 jago top ADBM yang lagi kumpul bareng dengan menyamar sebelum perang Pajang X Mataram…

    adalah :

    Sultan Hadiwijaya ilmu kanuragannya yang paling Ngedab-ngedabi alias Makin tua makin menjadi-jadi lan ndrawasi

  646. @ki TP

    tokoh hitam : Jalitheng, ontorejo, satria baja hitam, spiderman 3, batman, wonder woman, budi anduk, sopo meneh yo ….???

    kabuuuuurrrrr …….. (ojo nesu ki TP xixixixixiiii…)

  647. ki karebet, orang ketiga adalah ki pandanalas, dalam perebutan nyi nunik dengan ki tp… :D

  648. ono maneh Ki Pandanalas mari kobongan…keno angus kabeh….

    @Ki TP,
    Tokoh hitam yang melawan AS seringnya terbunuh dalam perang tanding, kecuali Kelasa Sawit yang licik, kabur namun akhirnya mati juga oleh Swandaru..gara2 lempe-lempe kehabisan tenaga melawan AS.

    Tokoh-tokoh yang mati lawan AS setelah mesu diri:
    Telengan, Wanakerti, Samparsada, Jandon, Telengan (Bapakku),Talpitu,Mahoni, (Mlanding gak ono),Prabadaru, Bajak Laut (anonymous name)

  649. nek perang jaman sakono ono hp ora perlu Pangeran Benowo nganggo aji Pameling mesen Senopati, cukup sms

  650. ki SAS ilmune ngedap-edapi,… pirang2 wong nganti apal : jeneng, tgl lair, uripe, ilmune, matine, …

    takon siji ki, … mBah Kanthil saiki neng ndi? opo nyantrik neng padepokan terus madeg dadi senopati .. ?

  651. Ñ Ñ Ñ Ñ Ñ
    Ñ ÑÑÑÑÑÑÑÑÑ
    Ñ ÑÑÑ Ñ
    Ñ ÑÑÑ Ñ
    ÑÑÑ Ñ
    ÑÑÑ Ñ
    Ñ Ñ
    Ñ Ñ
    Ñ Ñ
    Ñ Ñ
    Ñ ÑÑÑÑ
    Ñ ÑÑÑÑÑ Ñ
    Ñ Ñ Ñ Ñ
    Ñ Ñ Ñ Ñ Ñ
    Ñ Ñ Ñ Ñ
    Ñ Ñ Ñ ÑÑÑÑ
    Ñ Ñ Ñ Ñ
    Ñ Ñ Ñ Ñ
    ÑÑ ÑÑÑÑÑ ÑÑÑ
    Ñ Ñ
    Ñ Ñ
    ÑÑ Ñ
    Ñ ÑÑ ÑÑ
    Ñ ÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑ
    Ñ Ñ Ñ Ñ
    Ñ Ñ Ñ Ñ
    ÑÑ ÑÑÑÑÑÑ
    Ñ Ñ Ñ
    Ñ ÑÑÑÑÑÑ
    Ñ Ñ Ñ
    Ñ Ñ Ñ
    ÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑÑ

  652. @ki PLS
    Mhak kanthil, pensiun dadi dukun, saiki lagi “Tapa Ngrame’ ganti profesi jualan akik Pawenang nang pasar Bringhardjo…

    Nek arep ketemu dhewe’e, mangkat nang pasar esuk2 sak dhurunge phitekku kluruk..cirine gampang wonge rodho bothak rambute goro2 kakehan di jambaki, nginang terus, mripat’e lirak-lirek nek ono wong bagus..panggone pojok ngisor jembatan.

  653. nek kuwi Si Manis Jembatan Bringhardjo… ki SAS

  654. =========================
    |s|a|k|a|w||m|o|d|e||o|n|
    #########################

  655. aku ikut nyoba deeh

  656. Apa hari ini juga belum bisa keluar ya kitabnya.Capek juga nunggunya bolak-balek ke warnet gak keluar-keluar kitabnya……

  657. ki bejo,… warnet dituku wae ….

  658. eh aku dapat bocoran dari illegitimate source,
    kenapa kitab tidak di wedar-wedar.
    padepokan adbm dilaporkan okeh koran kr ke densus lapan-lapan, karena
    1. upload buku tanpa izin.
    (kalau iya) alangkah sedihnya hatiku
    ora sanak ora kadang
    yen mati melu kelangan
    2. bisa membuat banyak orang ketagihan sampai
    melupakan, pekerjaan, anak istri, kuliah, sekolah
    3. di khawatirkan akan membuat partai yang bisa
    menyaingi partai yang berkuasa.

  659. nyoba nulis underlined ah

  660. eh kok malah kandel he he

  661. nyoba lagi ah

  662. iki nyoba apa lagi

  663. Pringgojoyo

    Pringgojoyo hadir di Prambanan, dalam salah satu percakapan senapati pajang, dikabarkan dia berbaur diantara prajurit. Saya lupa jilid dan halamannya, mungkin ada cantrik yang bisa mastikan.

    Salam
    Karebet

  664. ki kisruh mreneo, tak silihi spidol permanent nggo ngunderline layare sampeyan …..

  665. iki nyoba apa lagi / keep on tryiiing

  666. @ ki pandan alas
    trims ki,
    produk jadul ki, jadi belajarnya lambat
    karena gaptek,
    tetep nyoba lagi

  667. nek iso ngunderline aku mengko diwuruk-i yo ki … wes telung ndino nggonku nyoba awan bengi durung iso, akhire layare sing dak coret

  668. horeeeee aku isi nulis tulisan “underline”

  669. he he
    bisanee baru ngandeli ki,
    iki malah digeguyu sama mentrik-mentrik di padepokanku,
    di ajari jurus macem2, tapi malah tambah bingung,
    yang ngandeli tadi juga wurukane mentrikku ki,
    kebo nyusu gudel tenan ki,

  670. Absen…

  671. JURANG GRAWAH

    Salah satu kelebihan Ki SHM dibandingkan pengarang lain adalah ceritanya tentang gelar perang. Yang paling menarik menurut saya adalah JURANG GRAWAH. Dengan sukses memasang gelar ini, Untara sebagai senapati bisa dibilang sejajar dengan Hannibal dari Cartago atau Khalid Bin Walid dari Arab.

    Gelar serupa diperagakan Hannibal ketika menginvasi Romawi pada pertempuran di Cannae (216 SM), bagian dari Perang Punic II (Cartago vs Romawi). Konon 56.000 tentara Hanibal yang berasal dari berbagai suku mulai dari Afrika (Libya), Iberia (Spanyol), Celt dan Galia sanggup menghancurkan 87.000 Pasukan Romawi yang terkenal dipimpin Jendral Paullus dan Varro. Hanibal menebar pasukannya dalam garis memanjang, Pasukan Afrika yang kuat di sayap kiri-kanan sementara Pasukan Hispanic dan Celt yang lebih lemah di induk pasukan. Dalam pertempuran, Hanibal yang memimpin induk pasukan sengaja mundur sambil bertahan, sehingga gelar pasukannya melengkung dan pasukan Romawi yang bernafsu untuk menghancurkan induk gelarnya terjebak ditengah. Kemudian sayap pasukannya mulai bergerak menghimpit Pasukan Romawi sehingga digambarkan Pasukan Romawi demikian berdesakan sehingga tak mampu lagi mengayunkan senjatanya. Dalam perang ini hanya 3000 prajurit Romawi yang tersisa. Konon perang ini dianggap “One of the Greatest Tactical Feat in Military History”

    Taktik serupa diterapkan Khalid Bin Walid ketika memimpin 15.000 Pasukan Arab-Muslim menghadapi Pasukan Persia yang berjumlah 3 kali lebih banyak pada Perang Wallaja di Iraq (633). Bedanya Khalid memanfaatkan pasukan berkuda untuk menghimpit pasukan Persia.

    Berhubung Untara hidup dijaman yang cukup jauh dengan 2 jendral diatas, sepertinya Untara mengembangkan sendiri versi gelarnya. Untara memang senopati jempolan.

    Ada yang mau nambahkan? Nyi Seno sendiri mungkin?(nyuwun sewu, saya bukan orang militer, cuma senang baca cerita perang).

    Salam Karebet

  672. Ilmu Raden Danang Sutowijoyo, Tameng Wojo,
    aku inget temenku yg punya “Rantai Babi”
    kulitnya dibacok, nggak mempan
    rambutnya yg kecil itupun aku silet pakai silet gol yg baru, juga nggak mempan alias keballl

    kodamnya ampuh he..he….
    Ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo

  673. weleehhh durung metu tho….
    untung aku wis survey, nang rental buku sebelah omah…
    ternyata stock buku abdm-nya kumplit.

    lumayan iso nggo jogo-jogo nek ki gede karo nyaine senapati ternyata lagi “cuti kampanye”.
    iso-iso sesasi full preine.

    opo meneh nek ki gede karo nyaine senapati kepilih dadi wakil rakyat…. bisa berabe…
    hehehehehehe…

  674. gundul2 pacul-cul, gembelengan….
    nyunggi2 wakul-kul…gelelengan…..
    wakul wutah, segane dadi sak latar…..

    ehemmm…, betul2 Ki GD DKK lagi cuti kampanye neeh, njurkam….

  675. Kalau sampai macet, terpaksa Ki Gonas turun tangan meneruskannya he..he….
    adbmcadangan2.wordpress.com

    semoga nggaklah
    lancar terus rekkk !!!

  676. Spoiler Cover 175 :
    Orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu akhirnya memantapkan tekadnya untuk memasuki Gandok sebelah kanan dari rumah induk. Sementara itu di pendopo rumah Ki Gede masih asyik berbincang. Ki Gede Menoreh, Swandaru, dan Kiai Gringsing. Sementara Pandan Wangi telah masuk untuk beristirahat belum lama berselang. Sekar Mirah dan Glagah Putihpun telah kembali ke rumah mereka. Sehingga yang berada di Gandok sebelah kanan hanyalah Agung Sedayu dan Ki Waskita, yang meskipun keadaanya sudah semakin membaik, tetapi masih perlu untuk beristirahat secara penuh.
    Cuaca saat itu cukup cerah, pada sore hari terlihat berawan sedikit, tetapi ditengah malam itu sudah tertiup angin sehingga bintang gemintang nampak di persada langit nan hitam. Para pengawal di gardu2 ronda yang tadinya masih riuh, maka malam itu satu persatu merebahkan diri. Diantara para pengawal di Gardu Induk sebahagian besar anak2 muda. Tapi ada satu diantaranya yang sudah setengah baya. Dia merasakan adanya hawa yang aneh menyelinap di tengah suasana yang sepi dan cerah itu. Sementara satu demi satu para pengawal duduk dan tertidur, pengawal tua itu mencoba untuk bertahan, tetapi rupanya sebelum ia menyadari apa yang terjadi, iapun jatuh tertidur di tlundak pintu gardu induk sambil memegangi tombaknya.
    Tiga orang yang masih berbincang di pendopo nampaknya tidak mengalami gangguan apapun. Akan tetapi Kiai Gringsing adalah orang yang pertama kali merasakan adanya hawa yang aneh bertiup di ruangan itu. Sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam dunia kanuragan, maka sudah barang tentu ia dapat mencium adanya gelagat yang kurang baik dari seseorang.
    “Guru dan Ki Kanjeng Rama, …….. saya sepertinya lelah sekali hari ini, padahal saya seharian tidak melakukan apa2. Rasa2nya saya kok ngantuk sekali. Saya mohon diri untuk beristirahat terlebih dahulu!” Celetuk Swandaru.
    “Tunggu dulu Swandaru! Kiai Gringsing mencegah kepergian muridnya. “Saya merasakan adanya hawa yang kurang nyaman saat ini, seperti pengaruh sirep. Apa Ki Gede juga merasakannya?” cetus Kiai Gringsing.
    “Ya, ya, ya, ……….. saya merasakannya sekali, dan semakin lama semakin tajam” sahut Ki Gede.
    “Kalau begitu mari kita berwaspada, dan kita tengok keadaan Agung Sedayu dan Ki Waskita, barangkali mereka karena keadaannya dapat terpengaruh sirep ini. Dan kau Swandaru, tolong bangunkan para pengawal, ajak mereka ke rumah Sekar Mirah, barangkali ada tujuan mengganggu mereka.” perintah Kiai Gringsing.
    “Baik Guru” sahut Swandaru sambil bergegas ke regol halaman.
    Kiai Gringsing dan Ki Gede bersegera pula menunju Gandok kanan sambil berjingkat. Ternyata sebelum sampai ke Gandok, di halaman samping terdengar bunyi cambuk dan desah nafas seperti orang sedang bertempur. Maka Kiai Gringsing dan Ki Gede segera menyerbu ke halaman samping itu. Ternyata disana terlihat Agung Sedayu sedang bertempur dengan seorang yang bertubuh kecil dengan badan bungkuk. Meskipun Agung Sedayu belum pulih dari cederanya ketika melawan bajak laut dari Gn Kendeng, tetapi nampaknya tidak mengkhawatirkan perlawanannya terhadap tamu tak diundang itu. Berkali-kali cambuknya mengenai tubuh lawannya yang bersenjata linggis itu. Makin lami makin banyak luka di tubuh yang kurus itu, sehingga akhirnya orang itupun ambruk dan tidak dapat bangkit lagi.
    Kiai Gringsing segera menghampiri lawan Agung Sedayu dan memastikan bahwa orang tersebut telah tidak bernyawa. Kemudian dilihatnya Agung Sedayu yang ternyata tidak kurang suatu apa.
    “Apa angger Sedayu tidak mengalami sesuatu?” tanya Kiai Gringsing. “Tidak Guru, ….. hanya sayang orang itu memaksa diri sehingga menambah jumlah orang yang menjadi korbanku”. Jawab Agung Sedayu. “Seblum terlanjur tadinya sudah saya minta untuk mengurungkan niatnya menuntut balas kematian saudara seperguruannya” lanjutnya.
    “Ooh jadi angger tahu siapa dia itu?”
    “Dia adalah adik seperguruan Tumenggung Prabadaru dan 3 bajak laut itu Guru!”
    “Wah, wah, wah, ……… kenapa begini jadinya ya, balas dendam yang tidak putus2nya. Mudah2an saja guru mereka berempat tidak berniat balas dendam juga” kata Kiai Gringsing.

    @Ki Kisruh,
    Apa betul berita yang Ki Kisruh sampaikan tentang tuntutan surat kabar Kr terhadap pengasuh pedepokan kita?. Kalau betul maka kita akan berprihatin sekali. Apakah diantara para cantrik ada yang ahli hukum, barangkali bisa untuk membantu para petinggi padepokan ini.
    Nuwun,
    Ki Truno Podang

  677. @ki gonas
    Ki, rentalnya di mana ?
    Siapa tau deket rumahku juga :D

  678. 71. Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!

  679. @Karebet
    Sambi nunggu kemurahan hati bebahu padepokan,…

    Ki..dalam perang tradisional memang gelar perang menjadi penting dan bahkan utama untuk dipersiapkan kaitannya dengan jumlah tentara, jenis senjata (jarak pendek atau sedang atau jauh), gerakan perubahan pasukan yang kaitannya dengan kondisi topologi medan pertempuran. Seorang senopati haruslah pintar untuk mengambil manfaat sebesarny-besarnya dari potensi yang ada ditambahkan dengan mengobarkan semangat memenangkan perang. Dalam perang tradisional memang kemampuan individu prajurit dan senopati akan sangat menentukan kemenangan perang.

    Cuma sekarang dalam perang modern, semua itu telah berkembang bahkan telah bergeser. Walaupun esensi perang masih sama yaitu kekuasaan dan ekonomi.

    Saya kira perang modern banyak menitik beratkan pada kehebatan teknologi persenjataan bukan lagi tata gelar perang. Perang modern sering prajurit berperang pada jarak yang jauh…bahkan mungkin besok kedepan perang tidak perlu menggerakkan prajurit maju perang tetapi semua prajurit hanya duduk di depan komputer di tampat jauh untuk mengendalikan robot, tank tanpa awak, pesawat tanpa awak dst, sehingga seperti main game saja.

    Dan memang perang is just a game that need anything to win it.

  680. apakah nasib ADBM sama dengan sepak bola, yg harus libur karena ada kampanye… gak MUNGKIN kan….
    maju terus ADBM
    maju terus ADBM
    maju terus ADBM

  681. @ Ki Truno
    semoga aja tidak ki,
    sumbernya aja “illegitimate”

  682. @ Ki Truno
    Spoiler nya ngarang dhewe yo Ki…? :D
    Ketoke yang melawan si bongkok itu Swandaru je, jadinya yo aneh gini….
    Udah antri capek2, nunggu kesel2, begadang ngantuk-ngantuk (tadi malam) kitabe gak di wedhar, trus kitabe isine ‘cuma’ Swandaru…..
    Tapi tetep penting untuk kontinuity to…YoPoRa ?

  683. Ki Truno Pondang, mohon dilanjut spoilernya, sampai jilid 176

  684. :cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry:
    :cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry:
    :cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry:

  685. :cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry:
    :cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry:
    :cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry::cry:

  686. koyo ngene rasane
    wong kang nyadong kitabe
    janjimu nganti seprene
    durung ketok ambet ambune

    e ladalah mumet sirahku
    mergo ra kuat nggonku nunggu
    keloro-loro sepet mataku
    amben-amben pirsa laptopku

    oh ki sukra oh senopati
    nek wani ojo wedi-wedi
    nek wedi ojo wani-wani
    setyotuhu sekelan janji

    ………………..[mblayu ndishik mundhak didukani]…

  687. kalau menurut saya yang gak ngerti hukum, buku ini kan sudah lama sekian puluh tahun yang lalu, lagi pula padepokan ini kan gak berharap pengganti biaya dari para pembaca, kemudian apakah KR mempunyai hak cipta atas karya tersebut, lah wong dibaca oleh seluruh masyarakat kok malah dipersulit, gimana bangsa ini mau maju, baca saja dilarang ooaaalahhhhhhhh yuh biyuuh.

  688. 688

  689. @Angger Arya Salaka/Bagus Handaka,
    Kalau betul yang ngalahin adik seperguruan T. Prabadaru itu Swandaru, wah jadi makin rame ya!. Swandaru pasti akan menepuk dada kalo ilmunya lebih tinggi dari Agung Sedayu, dengan anggapan bahwa dia mengalahkan saudara seperguruan T. Prabadaru dengan mudah, tanpa cedera. Padahal sesungguhnya walopun saudara seperguruan T. Prabadaru, namun ilmunya masih cetek gola gatek. Dia berani mendatangi Agung Sedayu karena beranggapan bahwa memanfaatkan kesempatan selagi Agung Sedayu belum sehat kembali. Namun tiba2 harus dihadapkan dengan Swandaru yang segar bugar dan telah menambah ilmu dari kitab Perguruan Windujati.
    Wah jadi penasaran nih, ………… Ki Sukra kapan nih pliridannya di angkat, kayaknya terlihat ada 2 kitab di dalamnya atuh!.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  690. Ki Ismoyo…
    Ya mungkin saja KR keberatan soalnya dagangan bukunya jadi ga laku kalau semua peminat buku ADMB pada nyantrik disini. Lagian royalty tuk keluarga SHM kan jadi berkurang banyak.

  691. Di buku tertulis:
    _________________________
    sh.mintardja

    Api dbukit
    Menoreh
    seri II

    Jalan Simpang

    Dicetak dan diterbitkan oleh:
    Badan Penerbit “Kedaulatan Rakyat”
    Yogyakarta
    _________________________
    Jilid ke-tujuhpuluh empat
    Cetakan pertama
    1983

    hak Cipta dilindungi oleh undang-undang
    _________________________
    Di halaman terakhir tertulis:
    Kutipan dan penyiaran lesan/tertulis harus seijin penulis
    _________________________

    Silakan yang mengerti hukum untuk memberi pencerahan mengenai makna tulisan tersebut. Monggo.
    Kalau pengarangnya sudah meninggal dunia lalu bagaimana ya?

  692. Waduh, kalau yang ketemu pendekar Bongkok itu Swandaru jadi kurang seru, pasti menang orang kata gurunya ilmu si bongkok ini masih cetek, cuma menang punya ilmu sirep karena mantan maling sepertinya…sudah begitu sama Swandaru kemampuan si bongkok ini yang dipakai sebagai referensi kemampuan Prabandaru & trio bajak laut itu, jadi merasa ge-er dan makin sakti saja si gendut…..memang harus cepet2 di sadarkan si Swandaru itu sebelum makin menyebalkan, lha kita yang baca saja ikut sebal je…

    jadi kapan itu duel AS vs Swandaru (kata yg sopongiler lho) ? menyenangkan lihat Swandaru diajar AS…..

  693. Coba kalau keluarga SHM dapat Rp.100,- saja dari tiap buku ADBM yang terjual. Trus yang beli semua cantrik disini, bisa dibayangkan kan, berapa yang akan didapat dari keluarga SHM. Kalau dibelikan cam cao atau es cendol kan bisa tuk renang sak kecamatan….

  694. LLLLLLLLL OOOOOO VVVVVV VVVVVV EEEEEEEEEEEEEE
    LL OO OO VV VV EE EE
    LL OO OO VV VV EE
    LL OO OO VV VV EE EE
    LL OO OO VV VV EEEEEEEE
    LL OO OO VV VV EE EE
    LL OO OO VV VV EE
    LL LL OO OO VV EE EE
    LLLLLLLLLLLLLL OOOOOO VV EEEEEEEEEEEEEE

  695. Ki Gonas, mohon info lokasi rental adbm
    terimakasih ki

  696. maka daripada itu.. semua penggede padepokan memakai ilmu semunya ki waskita.
    karena di niatkan untuk melestarikan karya besar mpu SH Mintarja.. semoga tidak ada masalah yang melanda para punggawa padepokan.

  697. AAAAAA DDDDDDDDDDDD BBBBBBBBBBBBBB MMMMMM MMMMMM
    AAAA DDDD DDDD BBBB BBBB MMMM MMMM
    AAAA DDDD DDDD BBBB BBBB MMMMMMMMMMMM
    AAAAAAAA DDDD DDDD BBBB BBBB MMMMMMMMMMMM
    AAAAAAAA DDDD DDDD BBBBBBBBBBBB MMMMMMMMMMMM
    AAAA AAAA DDDD DDDD BBBB BBBB MMMMMMMMMMMM
    AAAAAAAAAAAA DDDD DDDD BBBB BBBB MMMM MMMM
    AAAA AAAA DDDD DDDD BBBB BBBB MMMM MMMM
    AAAAAAAAAAAAAAAA DDDDDDDDDDDD BBBBBBBBBBBBBB MMMMMMMMMMMMMMMM

  698. @@@@@ @@@ @@@ @@@ @@@@@@@
    @ @ @ @ @ @ @
    @ @ @ @ @ @
    @ @ @ @ @ @ @
    @ @ @ @ @ @@@@
    @ @ @ @ @ @ @
    @ @ @ @ @ @
    @ @ @ @ @ @ @
    @@@@@@@ @@@ @ @@@@@@@

  699. menyinggung soal royalti buat keluarga SHM, mungkin baik rasanya kalau padepokan ini membuka rekening untuk menampung sumbangan sukarela dari para cantrik, seperti donasi yang ada pada freeware gitu…

  700. absen untuk selasa siang…. :)

    kalau tuntutan hukum kok kayaknya belum deh (belum denger maksudnya).

    lha kalau mereka nuntut, ya kita gantian juga nuntut supaya dicetak ulang lagi dari jilid pertama sampai akhir komplit, dijamin laris deh pada beli terutama adbmers, lha nanti di padepokan ini tinggal mbahas ceritanya saja dan lain-lain :)

  701. ;;
    ;; ;;;;
    “” ;;””
    “”kk “”;; ;;ww
    RR “”JJ”” ttww
    ttZZ JJtt “”JJ;; ttRR
    ;;;; ;;wwJJttJJ ;;tt ZZJJ “” ;;
    “” JJtt “”JJwwZZww””ttttkkkkJJ ;;kk;; ;;;;
    “”;; ;;JJtt ttMMZZtt JJMMkk”” tttt ;;;;
    ;;JJ “”tt””;;JJMMJJ;;;;ttMM”” tttt;; kk
    ttkk ttJJ””kkZZZZwwwwwwZZ””ttJJ”” ZZ
    ;;JJkk ;;”” JJJJwwwwwwwwwwwwwwJJww”” ;;”” MM ;;
    ;; ttZZ”””””” ;;””ttJJkkwwwwwwwwwwwwwwwwJJtttt”” tt””””MM ;;
    ;;””””MMJJ””kktttt””;;JJwwwwwwZZwwwwwwwwwwwwtt””””ttJJJJ;;ZZZZ;;tt
    ;;RR RRMMJJkkJJttJJkkwwttkkttttZZwwJJwwJJkkwwJJttJJttwwJJMMJJ;;ww
    ;; ZZkk wwttRRJJ ;;wwkkwwttkkJJwwkkkkJJwwkkwwJJ;; MMttwwtt RRJJ
    ;;;;””MM””JJRR””;;;; JJwwwwwwwwJJwwkkwwwwwwwwZZ;; “”;;kkRR;;kkRR “”
    kk””ttMM””wwMMJJttkkkkwwwwwwwwJJwwkkkkwwwwwwwwttww;;wwMM””ZZRR;;tttt
    ;;””MMJJ;;JJ ZZRRRRJJwwwwwwwwwwJJZZkkkkwwwwwwwwkkwwRRMMJJ;;JJ;;ZZww””
    “”;;RRJJZZRRttRRkkwwwwwwwwkkZZJJwwkkkkkkwwkkwwwwJJZZwwJJRRkkwwww;;””
    ;;””wwJJtt;;kkRRwwkkwwwwwwwwwwJJJJwwkkkkkkwwkkwwwwwwJJRRRRtt””ttJJww;;
    ;;””””ZZttMMwwRRttwwwwwwwwwwkkkkttwwkkkkkkwwkkwwwwwwwwJJZZRRwwwwww””””
    “”ZZJJ””ttwwkkwwwwwwwwwwwwkkZZJJJJwwkkkkwwkkwwwwwwwwJJRRJJtt””kkww;;
    ;;ttkkkkwwRRkkwwwwwwwwwwwwkkwwJJwwttwwkkwwkkwwwwwwwwwwkkRRkkwwJJ””””
    JJZZkkJJMMkkZZwwwwwwwwwwwwwwttwwkkttZZwwwwwwwwwwwwkkwwZZ””ZZZZ””
    ;;””ttwwJJZZZZJJwwwwwwwwwwwwwwJJwwkkkkttZZwwwwwwwwkkJJMMkkkkkk””””
    ttkkttJJwwMMwwJJJJJJZZwwZZJJZZkkkkJJkkwwJJJJJJZZMMwwJJJJkk””
    ;;ttwwwwJJJJwwJJ ;;JJwwwwkkJJttwwZZtt”” ;;wwkkkkttZZJJ””;;
    ;;ttwwRRkk;; ;;””JJwwwwwwwwwwwwJJ”” “”RRZZkkJJ
    kkwwwwwwwwwwwwwwZZ;; ;;
    wwwwwwwwwwwwwwwwZZ;;
    kkwwwwwwwwwwwwwwww
    “”wwwwwwwwwwwwZZtt
    ttZZwwJJwwwwtt;;
    “”kkJJ;;;;;;
    ;;

  702. Hmmm … ada apa dengan Ki Pallawa?

  703. ttDD kktt
    ttkk ttkkkkkk
    kktt MMDDkkMM
    DD MMMMDDkktt
    MM ttDDMMDDkktt
    DD DDDDMMMMDDDDDDtt
    kk kkMMDDkkDDDDDDDDkk
    kkMM kkMMDDDDMMMMMMMMDD
    DDMMMMMMkkMMDDDDMMMMMMtt
    DDttttMMMMMMDDDDDDDD kkkk
    DD kkDDDDDDDDDDkktt
    DD DDDDMMDDMMMMMMDD
    ttkk kkMMDDkkDDkkMMMMkk
    kktt DDDDDDMMMMDDMMMMkk
    DD DDDDDDMMMMMMkktttt
    MM MMDDkkDDMMDDttMMtt
    DD DDkkkkDDDDtt MM
    kk kkDDDDDDMM
    tttt kkDDDDDDDD
    ttkk kkDDDDDDDD
    kk kkDDDDDDDDkk
    DD kkDDDDMMDDDD
    MM kkDDDDMMMMDDkk
    MM kkDDDDMMDDMM
    tttt ttMMDDDDttMMDD
    ttkk kkkkkkMM MMtt
    ttDDMM

  704. lukisan pesenanku ndi ki PLW ….. ?

    (nek gek sakaw ojo diuduh-uduhke…)

  705. Ya nunggu lagi †††††††††ӧӧӧӧөөөөөөө‡‡‡‡‡‡••••••

  706. ĴąňĴī-Ĵăŋĵĩ ђїпĝğåĻ Ĵåñĵī ħåñýã МīмРī ****źźźžźŽŽŽŽŽ

    ĴąňĴī-Ĵăŋĵĩ ђїпĝğåĻ Ĵåñĵī ħåñýã МīмРī ****źźźžźŽŽŽŽŽ

  707. mu la i se te ress yaa..???

  708. IKI Saking Sakawne

    …………..//\\\
    ………..///_\\\\
    ……….||.^|^\\\
    ……….))\_-_/ ((\
    ……….)’_/.”.\_`\)
    ……././._.\…/…\
    ……/./(_.\x/._).|
    …….\.\.)”.|.”(/./
    ……..\.’…’.. //./
    ……./….`…/./
    …….|….__.\.\
    …….|…/.\…\/
    …….|..|…\…\
    …….|..|….\…\
    …….|..|……\..\
    …….|..|…….\..\
    …….|..|……..\..\
    …….|..|………\..\
    ……/__\………|__\
    ……./.|…………|.\_.
    ……`-”………….“-

  709. Ki Pallawa ternyata juga bisa bahasa planet ya….
    Mbok aku diajari Ki….

  710. Iki Oleh2 Kanggo Ki Panda………N……Alas

    ´´´´´´´´´´´´´´´11´´o¢¢o´´´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´¶¶$¶¶¶¶¶7¶¶¶¶¶¶¶´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´¶¶¶¶¶¶¶´´´ø¶¶¶¶¶¶´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´¶¶¶o´¶o¶¶ø1´¶¶¶¶¶¶´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´¶¶¶ø¶o7¶´1ø¶´¶´´¶$¶o´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´ø¶¶¶$´¶´´77o´´´1¶¶¶$´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´¶¶ø´17777717¶¶¶¶´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´¶¶¶ø´177o71¶¶¶¶´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´¢¶¶ooo7o17´¶1´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´´´´11o777´o´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´´´´¢¶¶¶77771´o¶¶´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´7ø¶¶¶1177o1´ø¶¶¶¶ø´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´oo7¶¶7´17771´¶¶$¶¶¶¶¶1´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´o´¶¶7´77o71´$¶$¶o´´´1o¶´´´´´´´
    ´´´´´´´´´ø1¶¶o´77o77´ø¶ø¶o´17777oø´´´´´´
    ´´´´´´´1$o1¶¶´777o711¶ø$¶´777777¢7´´´´´´
    ´´´´´´øøo7711177771´¶¶¶¶o177777oø´´´´´´´
    ´´´´´´ooo7777ooo7o7¢¶ø71´77777¢ø´´´´´´´´
    ´´´´´¢o77o77o7o77777´11777777ø1´´´´´´´´´
    ´´´´7¢o7777777777777oo777777oo´´´´´´´´´´
    ´´´´$o77777777777oooo7777771ø´´´´´´´´´´´
    ´´´´oøø$ø71´77oo7777777777´1¶´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´¶¶ø´´1771117771´7¶¶¶´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´¶¶ø$øooo¢¶7´´´7¶¶¶¶´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´1´$¢¢øøøo¶¶¶¶¶¶ø1´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´´¶oooooooøø$¶ø´´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´ø¶¢o¢¢¢oø¶ø´´´1´´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´´1¶¶$øø$¶¶´´´´117´´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´´1´´1¢$$o1´´´111117´´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´´711´´´´´´´´111111111´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´11111111´´11111111117´´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´711111´1´1111111111111´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´11111´1´1´7´11111111117´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´71111´1´1´1´111111111111´´´´´´´´´
    ´´´´´´71111111´1´1´111111111117´´´´´´´´´
    ´´´´´´1111111111´1´1111111111111´´´´´´´´
    ´´´´´71111111111´1´1111111111117´´´´´´´´
    ´´´´111111111´1111´11111111111111´´´´´´´
    ´´´´711111111´7´11´11111111111117´´´´´´´
    ´´´11´´´´111111´11´111111111111117´´´´´´
    ´´´7´´o11´1111111111111111111111117´´´´´
    ´´11´oo7o1´111111´111111111111111117´´´´
    ´´7´1777o7´11111111´11111111111111117´´´
    ´´71777777´11111111´111111111111111117´´
    ´´7´´¢7oo´´11111´111111111111111111111´´
    ´´71´´1o´´1111111111´111111111111111117´
    ´´´111´´´11111111´17´111111111111111111´

  711. kalau masalahnya royalty untuk penulis ataupun ahli warisnya saya kira para cantrik ADBMers gak keberatan kok, tinggal harus ditransfer ke rek mana a/n siapa, gitu.

    Masalahnya Blog ADBM sudah terlanjur menyatu hati dengan ada cantrik, sayang kalo sampai mandeg.

    Mohon bagi yang mengerti hukum, kiranya dapat membantu menyelesaikan permasalahan ini denagan sebaik-baiknya yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.

    Matur nuwun.

  712. Iki Oleh2 kanggo Den Ayune Roro Wulan

    ´´´´oo¶1´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´$´´
    ´´´¶´$´¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶´´
    ´´¶¶´¶´¶7´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶7´
    ´´¶´´¶´´¶´´´´´´´´´´´7¶¶¶¶¶¶¶¢7¶´´´´´´øo´
    ´´¶1´´¶´´¶1´´´´´´´´¶ø´´´´´´´´¶ø´´´´´´´o´
    ´´¶11´¶´´´¶¶´´´´´´$¶´´´¶$¶¶¢¶´´´´´´´´´´´
    ´´¶´¶7¶´´´´¶´´´´´´¶´´´¶´¢´¶´´´´´´´´´´´´´
    ´´¶´´¶´´´´´oø´´´´¶´´´´1¶´´¶´´´´´´´´´´´´´
    ´¶ø´´¶´´´´´o¶´¶¶¶¶¶ø¶o1¶´´¶´´´´´´´´´´´´´
    ´¶´´´¶´´´´´´´¶¶7´´´´´´¶¶¶¶´´´´´´´´´´´´´´
    ´¶´´´¶´´´´´´´´´´¶¶¶1´´´´´¶´´´´´´´´´´´´´´
    ´´¶1´o´´´´´´´´´¶´´´¶1´¶¢7¶¶´´´´´´´´´´´´´
    ´´´¶´´´´´´´´´´´¶¶¶´¶´´¶o´$o¶´´´´´´´´´´´´
    ´´¶´´´´´´´´´´´´´ø´o7´´ø¶¶¢´¶¶´¶¶¶¶¶ø´´´´
    ´´¶´´´´´´´´´´´´17øø´´´´´1o´´´¶¶¶¶¶¶¶¶¶1´
    ´¶´´´´´´´´´´¶¢1´´´´´´´´´´´´¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶´
    ´¶´´´´´´´´´$¶´´´´´´´´´´´´´¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶´
    ´¶´´´´´´´´´´¶´´´´´´´´´´´´´$¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶´7
    ´ø´´´´´´´´´´ø¶¶¶´´´´´´´´´´´1¶¶¶¶¶¶¶¶¶´´¶
    7$´´´´´´´´´´´´´¶¶´´´´´´´´´´´´´¶¶¶¶¶´´´´¶
    ´¶´´´´´´´´´´´´´´¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶´
    ´¶¶´´´´´´´´´´´´´¶¢´´´´´´´´´´´´´´¶´´´´¶1´
    ´´ø¶´´´´´´´´´´´´´¶¶´´´´´´´´´´´´¶1´´¶¶´´´
    ´´´´¶¶´´´´´´´´´´´´´¶¶´´´´´´´¢¶¶´´¶¶´´´´´
    ´´´´´´¶¶7´´´´´´´´´´´´¢ø$¶¶¶¶o´¶¶¶´´´´´´´
    ´´´´´´´´¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶$$øø¶¶´¶´¶´´´´´´´´´´
    ´´´´´´´´¶´´´1oo1´´´´´´´´´´1ø¶¶ø´´´´´´´´´
    ´´´´´´´ø¶¶¶¢7´´1ø¶¶¶¶¶¶¶¶o´¶7´¶´´´´´´´´´
    ´´´´´¶¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶¶´oø¶77´´´´´´´
    ´´´´1¶´´´´´´$´´´´´´´´´´´´¶´´$´ø´o¶o´´´´´
    ´´´´´¶´´´´´´1¶$ø´´´´´´´´´¶¶oøø7ø´´o¶´´´´
    ´´¶¢¶´¶¶´´´´´´¶´´´´´´´´´´´´øø´´¶´´´¶´´¶´
    ´o$´¶´´¶$´´´´´¶7´´´´´´´´´´´´´´´¶´´o¶´´¶o
    ´¶´´1¶´1øo¶´7¶¶´´´´´´´´´´´´´´´¶´´¶¢´´´¶´
    ´¶´´´ø´7¶´¶¶ø´´´´´´´´´´´´´´´´¶$o7¶´´´´¶´
    ´¶´´´´¶1´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶øøø´´´´´´¶´
    ´´¢´´¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´7¶´´´´´´´´´´¶´
    ø$¶¶¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶$´´´´´´´´´´´¶´
    ´´¶´¶´´´´´´´´´´´´´´´´´´´¶¶¢$¶¶øo¶$øø¢¶¶ø
    ´´¶´¶´´´´´´´´´´´´´´´´´¶¶´´´´´´¶´´´´´´´´´
    7ø¶1¶¶´´´´´´´´´´´´´´$¶´´´´´´´´¶´´´´1´´´´
    ´´´´´o¶´´´´´´1¶¢$ø¢7¶´´1´7´´´´´¶´´´´´o7´
    ´´´´´´´¶´´´´´´¶´´´´¶¶´´´$´´´´´´¶o7¢¢øo¢o
    7¶1ø¶¶o7¶´´´´ø¶´´1¶1ø7¶o¢$¶ø¶ø¢1¶´77¢¶´´
    ´¶´¶7´¢´´´´´´¶ø´´´´´´o¶o´´´´´´´´¶´´´´o¶´
    ´¶´¶ø¶´´´´´´´¶ø´´´´´´1¶´´´7o´´´´´¶´´´´¶´
    ´¶´´´¶o¢¢ø$$ø´´øø¢¢$$1´´71´´11´´´¶´7´´´¶

  713. Aku saiki ya isa gawe lho Ki Pallawa…
    Lhooo….

    …………..//\\\
    ………..///_\\\\
    ……….||.^|^\\\
    ……….))\_-_/ ((\
    ……….)’_/.”.\_`\)
    ……././._.\…/…\
    ……/./(_.\x/._).|
    …….\.\.)”.|.”(/./
    ……..\.’…’.. //./
    ……./….`…/./
    …….|….__.\.\
    …….|…/.\…\/
    …….|..|…\…\
    …….|..|….\…\
    …….|..|……\..\
    …….|..|…….\..\
    …….|..|……..\..\
    …….|..|………\..\
    ……/__\………|__\
    ……./.|…………|.\_.
    ……`-”………….“-

    Ning mung copy paste kagungane hehehe…..

  714. @Ki Pallawa,
    Agar Ki GD, Nyi Seno, or Ki Sukra tersentuh lubuk hatinya yang terdalam, coba gambarkan Ki GD dan Nyi Seno dengan angka 175 dan 176. Kalo bisa wah ngedab2i sungguhan pangeram-eramnya Ki Pallawa.
    Regards,
    Ki Truno Podang.

  715. suwun ki PLW,..tapi bentuk-e koq nggegirisi (koyo pocong…)

  716. Satu kitab satu hari akan tetap menjadi janji sehingga akan terjadi rapel besar-besaran saat Ki GD kembali. Katanya !!

    Janji 1 hari 1 kitab, bukan berarti setiap hari 1 kitab. Kecuali janjinya 1 kitab setiap hari. Jadi kalau tidak keluar kitab lebih dari 1 hari itung aje berapa hari nanti rapelannya juga sesuai jumlah harinya.

    Kalau tidak salah keluar kitab nanti setelah jumlah pengunjung mencapai 1.500.000 (satu setengah juta). Berapa hari lagi ?????????

  717. apakah saat ini sudah jam 0.01 WM (Waktu MataraM)? (?)

  718. Ada cover ada harapan,apalagi halaman jg sudah ada angka 3 nya……sepertinya tanda2 kehidupan sudah membayang.
    Para cantrik…..percayalah Ki gd dan Nimas Senopati tidak bakal blenjani janji karena beliau sangat ngugemi dharmaning satriya : Setya ing janji nuhoni sabda ingkang wus kawedar……
    1. Sambil menunggu datangnya hari baik alangkah indahnya jikalau kita bisa berdiskusi terkait usulan beberapa cantrik spt COPDAR,buat kaos dll
    2.Ilmu para cantrik sdh sansaya mirunggan alias canggih,gimana kalau saling beradu “kanuragan” untuk membuat design kaos ADBM?
    3.Buat para cantrik yg tinggal di bumi mataram dan sekitarnya,monggo dipun gagas menawi bade kempal,kawula namung nyadong respon

    matur nuwun

  719. jam 00.01 WM nunggu kiai Bicak berdentang … tapi barange wis muspro

  720. sopo nduwe ganco…????
    komputerku atene tak peceli….
    jaan guething aku… njelehi….
    suwi tenan ngenteni….
    telong dino telong wengi sampe ra turu…..
    melu bosok ambune komputerku…

  721. PS (Panah Sanderan) :
    Para cantrik silakan tetap absen di padepokan seperti biasa. Semoga Ki GD dan Senopati cepat kembali.

    Mari kita do’a kan bersama2 agar cepat kembali, sehat2 selalo,,,
    Bukan-a kitab yg paling d harapkan…..
    Sotojooooo…….

  722. ki TAA, iki dak silihi Kiai Suluh (kiai sulut)

    tinggal..jressss … mbledug

  723. masalah ijin perijinan, sepertinya dulu saya pernah baca tapi lupa di mana, kalau yang sudah ada yang minta ijin dari kr dan keluarga sh mintardja mengenai sosialisasi karyanya…

  724. aku pulang kerja buru buru tak peduli si boss yg lagi
    sibuk cari anak buahnya hilang satu

    langsung kutancap motorku tak peduli polisi yg berteriak ngak jelas karena lampu merah kutrabas.

    dirumah kuhidupkan komputerku langsung ke adbm
    ternyata…………………………..

    waduh belum keluar…ampuuuuuuuuuuunnnnnn !!!!
    katanya jam 00:01 wm terus kapannnnnn?????

  725. Soyo suwe soyo sabar, tapi lha piye kok wis kadung sakaw, terus piye dadine pak sabar.

  726. Weh..kok yo durung ono.
    La..kadung sakaw tenan ini….kudu ono tambane.

    Ya kudu golek obat…nek ngrental ADBM neng tlatah Mataram (jogja) ngendi ya Ki? sebab nek tuku sak set rong gelo setengah je…poya mothik sisan.

  727. mudah mudahan sebentar lagi diwedar kitabnya :)

  728. waduh baru hari ini masuk kerja dan baru bisa internetan lagi, setelah nengok padepokan,,, hmmmmmmmm…

    ngomong-ngomong copdar aku setuju itu…….
    usul tempat, bagaimana kalo di tanah mataram, sekalian bagi-bagi (tapi ga gratisan tentunya) kaos ato pernik-pernik yang lain. monggo disusun panitiane…
    peace……

  729. Mengenai urusan hak cipta ADBM, selama poro cantrik mengunduh tanpa kepentingan komersial, harusnya gak jadi masalah.

    ADBM sendiri sekarang sudah tidak terbit, buat yang kepingin punya pun sulit mencarinyajadi, jadi keberadan Blog ini menurut saya tidak merugikan siapapun. Malah membuat ADBM semakin terkenal, bahkan cantrik yang diseberang lautan pun bisa turut menikmati.

  730. Uji coba huruf tebal bisa nggak ya

  731. masih durung ono toh….nggolek obat sakaw sech…

  732. Uji coba huruf miring bisa nggak ya

  733. Uji coba huruf miring tebal bisa nggak ya

  734. Uji coba huruf hapus bisa nggak ya

  735. Blm jg diwedharkah cendol 175?

  736. Uji coba huruf miring menjorok bergaris bisa nggak ya

  737. biasanya rapelan langsung masuk rekening

    ini rekening saya

    rzulfadin[at]gmail.com
    :D

  738. Scrappy Doo ya Ki Pallawa ? (Ponakan Ki Scooby Doo) :smile:

  739. uji coba huruf pake aji halimunan.

    ternyata…, dari 4 baris kalimat di atas, tidak ada satupun yang bisa dibaca.
    sukses.. ;)

  740. ,.mateg aji membo Senopati,…Nyai Seno,.Kang Mas Senopati engkang rawuh,…njujug gedong pustaka,..kene Nyai pustaka 175-180 tak gawane diwedar kanggo para cantrik mentaram. Nuwun inggih Kang Mas,..sumangga,…Kai Zaky kang membo Senopati mlayu nggembol pustaka medar wonten padepokan fesbukiah,…lha dalah katiwasan cubung wulung dienggo nginang,..Kai Zaki tak kira Kangmas Senopati! Nyai Seno golong-koming, nangis gero-gero sambat Senopati.

  741. On 17 Maret 2009 at 16:55 Ki Kebo Jenar Said:

    Weh..kok yo durung ono.
    La..kadung sakaw tenan ini….kudu ono tambane.

    Ya kudu golek obat…nek ngrental ADBM neng tlatah Mataram (jogja) ngendi ya Ki? sebab nek tuku sak set rong gelo setengah je…poya mothik sisan.

    ————————————-

    aku wis nemu nang jogja …. KKJ
    sisuk tak kandani nek aku wis nyilih..
    soale onone ming siji….
    mengko ndak rebutan.

  742. rentale ono ning tlatah mataram
    tepatnya di kota yogyakarta

    hehehehehe….
    sayang stocknya cuman satu-satu.

  743. @Ki Gonas

    Ya..Ki aku gelem ngenteni kok..ning tenan lho Ki…wis kadung sakaw tenan iki.

  744. wonten jalan godean, ngajeng balai desa ki gonas, ning njih meniko mboten lengkap,..loncat-loncat kados kodok ngorek. nunggu wontem mriki mawon,..sekedap malih dipun wedar, Nyai senopati sampun kenging aji sirep kecubung wulung. heh3x

  745. Yang terakhir, uji coba link alamat adbm bisa nggak ya

  746. Yes … ternyata berhasil, mohon maaf cuma sekedar penasaran saja ingin mencoba.
    Mas Sukra, kalau tidak berkenan mohon dimaafkan dan silakan dihapus saja uji cobanya.

  747. masih tetap menanti…..
    dalam kesabaran yang paling mendalammmmmmmm….

    sabarrrrrrr….sabarrrrrrrrrrrrrrr

  748. masih tetap menanti…..

    dalam kesabaran yang paling mendalammmmmmmm….

    sabarrrrrrr….sabarrrrrrrrrrrrrrr

  749. Lha rak tenan, kitabe durung metu….
    WIB karo WM kuwi selisih pirang jam ya?..

  750. bocoran info dari telik sandi, bahwa ternyata bebahu padepokan sedang mempersiapkan rapelan sekaligus kado ultah buat ki Arema…
    poro cantrik harap berbaris yang rapi dan jaga ketenangan….
    konon, semuanya akan diwedhar hari ini juga….

  751. MASIH DURUNG ONO……MUGI2 MALAM INI DI-WEDAR RONTALNYA…SAKAW NIH…….

  752. 754.

    ki gede pulang menunggu 1000 komen ya..?

  753. oya tak caosi bocoran yo, s***

    ## SPOILER DILARANG KERAS disini Ki Jagaraga

  754. Sugeng dalu…
    Wah, cantrieks-e wis podo iso sabar ya. Ngisi gandok dgn macem2 ilmu. Tp sayang-nya dihape-ku gambar2e ki PLW gak jelas blas. Cmn muncul hrf, ttk, grs, angka, sing gak braturan. Wah nunggu kitab wedar ki, ben iso lihat gbre ki plw.

  755. mugi-mugi mangke dalu ki gd kaliyan nyai seno sampun rawuh ing padepokan.

    amargi cantrik-cantrik sedaya, sampun mboten kiat…

    kula ugi (abdi oge)… :D

  756. @ki bens

    karena 1000 suara baru dapat 1 kursi :mrgreen:

  757. wah, belum diwedar jg?
    ki gede sama nyi seno apakah orang yg sama ya? ngilang koq bisa barengan…

  758. Kitab 175 ada di mana ya? Belum ada ya.

  759. Absen ki sukra dan selamat ulang tahun ki arema. Maaf telat ki. Jd cantrik terakhir yg ngucapin slmt. Smg smua keinginan ki arema dikabulkan YME. Bhgia & sehat sll. Smg kitabnya bsk diwedar biar ada alasan brangkat ke warnet. Hehehe…

  760. Wah ternyata gandok 175 dan gandok 176 adalah dunia paralel…

  761. Gandok 175 untuk penantian kitab, gandok 176 untuk penantian tumpengan ulang tahun. :)

  762. MyNiceSpace.com

  763. <img src=”http://i.mynicespace.com/835/83512.gif”

  764. Kok yo durung tumurun tho yo. Wis tak iseng-iseng.
    nyoba nggawe smiley
    :):roll:
    :D :-D

    Jan koyo wong ora duwe gaweyan.

  765. Berhasil!!! Suwun kadang sing podo paring petunjuk. Jadi tambah rame padepokane. serba smiley.

  766. :smile: :lol: :grin: :oops: :sad: :cry: :eek: :evil: :shock: :twisted: :???: :roll: :cool: :!: :mad: :?: :razz: :idea: :neutral: :arrow: :wink: :mrgreen:

  767. *test*_______
    *test*
    *testing*
    *testing*
    *coba…coba…coba*
    *yo po ra … ya po ra*
    *embug…embuh…embuh*

  768. Wah Ki/Nyi Pembarep mempertontonkan kebolehannya. Lha saya membuat 4 saja yang satu gagal. Ikut iseng ya Ki.. apa Nyi ya. Sambil nungu wedaran, sekaligus macul sawah, monitor padepokan. jan multitasking tenan. Pokoknya komputer tidak boleh merem.

  769. Ki, Nyimas…
    Kasih jarak spasi Nyimas dengan image yang akan di buat, Insya Allah jadi deh..

  770. test_______
    test
    testing
    testing
    coba…coba…coba
    yo po ra … ya po ra
    embug…embuh…embuh

  771. ketinggalan kereta yo ra po..po
    sing baku tetep melu ngantri
    muga-muga…..kitab diwedar mbengi iki
    angger ra ya wis, ditunggu maning karo disambi mangan golak lanting sing isih nduwe untu
    bakuhe tetep nglenceri padepokan yang kang mase, mbokayune;-)

  772. ???

  773. diatas tadi ngetest huruf menjorok…

  774. Mungkin begini rasanya para cantrik padepokan Kiai Gringsing waktu di tinggal Agung Sedayu ke Menoreh dan Kiai Gringsing ke Sangkal Putung…
    Ngelangut dan tak tentu arah….

  775. 1 hari 1 kitab….. Sudah berapa kitab ya rapelannya ???

  776. @Ki Pembarep

    ngronda padepokan agar tetep rumegeng
    ngronda padepokan agar tetep rumegeng
    ngronda padepokan agar tetep rumegeng
    ngronda padepokan agar tetep rumegeng
    ngronda padepokan agar tetep rumegeng

    Nuwun

  777. kok sepi lagi………………

  778. tenang, malam ini pukul 00.01 wm.
    :roll:

  779. Waduh
    Versi Cover
    Mo mbales ndendam malah disabet pecut
    Kasihan deh loe

    Versi aku
    Ternyata direwangi milir kitab ya belum diwedar juga
    Kasihan deh gue

  780. Ikut Ronda Ki Sanak

  781. Hening …
    Sepi …
    Sunyi …
    Tiada suara …
    Tiada tumpeng …
    Tiada kitab …

  782. teng.. teng.. teng…teng.. teng.. teng.. teng..teng..teng..teng..teng..

    ayo yang mau ronda…..

  783. Sugeng ndalu Ki Arema, selamat malam para sanak kadang semua yang lagi ronda.
    Sekedar pengisi waktu, silakan menikmati tembang Pangkur yang diambil dari Serat Wedhatama. Semoga dapat memberikan manfaat.

    Secara semantik, Serat Wedhatama terdiri dari tiga suku kata, yaitu: serat, wedha dan tama.
    > Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan,
    > wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan
    > tama berasal dari kata utama yang artinya baik, tinggi atau luhur.

    Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian:
    > sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan dan keluhuran hidup dan kehidupan umat manusia.

    Serat Wedhatama yang memuat filsafat Jawa ini ditulis oleh Kangjeng Gusti Pangeran Arya (KGPA) Mangkunegara IV yang terlahir dengan nama Raden Mas Sudira pada hari Senin Paing, tanggal 8 Sapar, tahun Jimakir, windu Sancaya, tahun Jawa 1738, atau tahun Masehi 3 Maret 1811.(Sumber : http://www.heritageofjava.com/)

    TEMBANG PANGKUR

    1] Mingkar mingkuring angkara
    Akarana karenan mardi siwi
    Sinawung resmining kidung
    Sinuba sinukarta
    Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
    Kang tumrap neng tanah Jawa
    Agama ageming aji

    Menghindarkan diri dari angkara
    Bila akan mendidik putra
    Dikemas dalam keindahan syair
    Dihias agar tampak indah
    Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai
    Kenyataannya, di tanah Jawa
    Agama dianut raja

    2] Jinejer neng Wedhatama
    Mrih tan kemba kembenganing pambudi
    Mangka nadyan tuwa pikun
    Yen tan mikani rasa
    Yekti sepi asepa lir sepah samun
    Samangsane pakumpulan
    Gonyak-ganyik nglilingsemi

    Diuraikan dalam Wedhatama
    Agar tidak mengendurkan budi daya
    Pada hal meski tua renta
    Bila tak memahami perasaan
    Sama sekali tak berguna
    Misalnya dalam pertemuan
    Canggung memalukan

    3] Nggugu karsane priyangga
    Nora nganggo paparah lamung angling
    Lumuh ingaran balilu
    Uger guru aleman
    Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
    Sinamun ing samudana
    Sesadon ingadu manis

    Menuruti keinginan pribadi
    Bila berbicara tanpa dipikir lebih dahulu
    Tak mau disebut bodoh
    Asal dipuji dan disanjung
    Tetapi manusia telah paham akan pertanda
    Yang ditutupi dengan kepura-puraan
    Ditampilkan dengan manis

    4] Si pengung ora nglegewa
    Sangsayarda denira cacariwis
    Ngandhar-andhar angendhukur
    Kandhane nora kaprah
    Saya elok alangka longkanganipun
    Si wasis waskitha ngalah
    Ngalingi marang si pingging

    Si bodoh tidak menyadari
    Bicaranya semakin menjadi-jadi
    Melantur-lantur semakin jauh
    Ucapannya tidak masuk akal
    Semakin aneh dan jauh dari kenyataan
    Si pandai dan waspada mengalah
    Menutupi kekurangan si bodoh

    5] Mangkono ngelmu kang nyata
    Sanyatane mung weh reseping ati
    Bungah ingaran cubluk
    Sukeng tyas yen den ina
    Nora kaya si punggu anggung gumunggung
    Agungan sadina-dina
    Aja mangkono wong urip

    Begitulah ilmu yang nyata
    Sesungguhnya hanya memberi kesejukan
    Bangga dikatakan bodoh
    Senang hatinya bila dihina
    Tidak seperti si bodoh yang besar kepala
    Minta dipuji setiap hari
    Orang hidup jangan begitulah

    6] Uripe sapisan rusak
    Nora mulur nalare ting saluwir
    Kadi ta guwa kang sirung
    Sinerang ing maruta
    Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung
    Pindha padhane si mudha
    Prandene paksa kumaki

    Hidupnya semakin rusak
    Nalarnya tidak berkembang dancompang-camping
    Seperti gua yang gelap
    Diterpa angin badai
    Menggeram, mengaung, gemuruh
    Sama siperti si muda
    Meski begitu ia tetap sombong

    7] Kikisane mung sapala
    Palayune ngendelken yayah-wibi
    Bangkit tur bangsaning luhur
    Lah iya ingkang rama
    Balik sira sasrawungan bae durung
    Mring atining tata krama
    Ngon-anggo agama suci

    Kemampuannya sangat kecil
    Geraknya bergantung kepada ayah-ibu
    Terpandang dan tingkat luhur
    Itulah orang tuanya
    Sedangkan belum mengenal
    Artinya sopan-santun
    Yang merupakan ajaran agama

    8] Socaning jiwangganira
    Jer katara lamun pocapan pasthi
    Lumuh asor kudu unggul
    Sumengah sosongaran
    Yen mangkono kena ingaran katungkul
    Karem ing reh kaprawiran
    Nora enak iku kaki

    Sifat-sifat dirimu
    Tampak dalam tutur-bicara
    Tak mau mengalah, harus selalu menang
    Congkak penuh kesombongan
    Sikap seperti itu salah
    Gila kemenangan
    Itu tak baik, anakku

    9] Kekerane ngelmu karang
    Kakarangan saking bangsaning gaib
    Iku boreh paminipun
    Tan rumasuk ing jasad
    Amung aneng sajabaning daging kulup
    Yen kapengkok pancabaya
    Ubayane mbalenjani

    Yang termasuk ilmu takhayul
    Pesona yang berasal dari hal-hal gaib
    Ibarat bedak
    Tidak meresap ke dalam tubuh
    Hanya ada berada di luar daging, anakku
    Jika tertimpa mara bahaya
    Pasti akan mengingkari

    10] Marma ing sabisa-bisa
    Babasane muriha tyas basuki
    Puruita kang patut
    Lan traping angganira
    Ana uga angger-ugering keprabun
    Abon-aboning panembah
    Kang kambah ing siyang ratri

    Maka sedapat mungkin
    Usahakan berhati baik
    Mengabdilah dengan baik
    Sesuai dengan kemampuanmu
    Juga tata-cara kenegaraan
    Tata-cara berbakti
    Yang berlaku sepanjang waktu

    11] Iku kaki takokena
    Marang para sarjana kang martapi
    Mring tapaking tepa tulus
    Kawawa naheb hawa
    Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
    Tan mesthi neng janma wredha
    Tuwin muda sudra kaki

    Bertanyalah anakku
    Kepada para pendeta yang bertirakat
    Kepada segala teladan yang baik
    Mampu menahan hawa nafsu
    Pengetahuanmu akan kenyataan ilmu
    Tidak hanya terhadap orang tua-tua
    Dan orang muda dan hina anakkku

    12] Sapa ntuk wahyuning Allah
    Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit
    Bangkit mikat reh mangukut
    Kukutaning jiwangga
    Yen mangkono kena sinebut wong sepuh
    Liring sepuh sepi hawa
    Awas roroning atunggal

    Barangsiapa mendapat wahyu Tuhan
    Akan cepat menguasai ilmu
    Bangkit merebut kekuasaan
    Atas kesempurnaan dirinya
    Bila demikian, ia dapat disebut orang tua
    Artinya sepi dari kemurkaan
    Memahami dwi-tunggal

    13] Tan samar pamoring sukma
    Sinukmanya winahya ing ngasepi
    Sinimpen telenging kalbu
    Pambukaning wanara
    Tarlen saking liyep layaping ngaluyup
    Pindha sesating supena
    Sumusiping rasa jati

    Tidak bingung kepada perpaduan sukma
    Diresapkan dan dihayati di kala sepi
    Disimpan di dalam hati
    Pembuka tirai itu
    Tak lain antara sadar dan tidak
    Bagai kilasan mimpi
    Merakna rasa yang sejati

    14] Sajatine kang mangkana
    Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi
    Bali alaming asuwung
    Tan karem karameyan
    Ingkang sipat wisesa-winisesa wus
    Milih mula-mulanira
    Mulane wong anom sami.

    Sesungguhnya yang demikian itu
    Telah mendapat anugerah Tuhan
    Kembali ke alam kosong
    Tak suka pada keramaian
    Yang bersifat kuasa-menguasai
    Telah memilih kembali ke asal
    Demikianlah, anak muda

  784. para peronda sudah mulai mengisi gardu-gardu yang kosong, berjaga-jaga untuk menyongsong ki gd dan nyi seno…

    kula badhe sare rumiyin, menawi ki gd kaliyan nyi seno sampun rawuh, mugi-mugi kula sampun wungu lan wuninga…
    :)

  785. Tulisan dan Terjemahan Serat Wedhatama tersebut diambil dari http://pr4bu.co.cc/?p=328

  786. lah kae sopo sing wis ngrungkel kemulan sarung neng pojokan?

  787. Ki Agung Raharjo

    Tentang anak muda jaman sekarang.
    Bagaimana ya Ki, rasanya anak muda sekarang kok banyak (tidak semuanya) yang tidak memiliki ungah-ungguh seperti kita waktu kecil dulu. Apakah karena jamannya yang sudah berubah ya Ki.

    Banyak contoh di lingkungan kita yang tidak perlu disebut satu persatu. Sehingga, kalau ada anak muda yang sopan-santun kelihatan menjadi aneh.

    Mungkin juga salah kita ya Ki, yang tidak bisa memberi tuntunan seperti tembang yang Ki Raharjo tuliskan itu. Orang tua sibuk dengan urusannya sendiri, perkembangan anak diserahkan kepada pembantu/baby sitter, penitipan anak, guru di sekolah, dsb.

    Memang masih ada yang sambil mengaji memberi tuntunan tentang hidup dan kehidupan kepada anak-anaknya, tetapi jumlahnya berapa?

    Pendidikan budi pekerti di sekolah yang hanya beberapa tatapmuka adakah artinya, jika di setiap keluarga tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

  788. Maksud hati ingin menemani Ki Sanak meronda.

    Tetapi, ngantuknya yang tidak dapat ditahan lagi.

    Pamit dulu Ki Sanak.

  789. ki Arema, mbok senopatine dikirimi SMS kareben medar kitab

  790. ki pandan piye tha…

    wong lagi mlungker koq malah dibalang tales…
    lha ki gd lan nyi seno durung teka je…

    tak mlungker maneh ah….

  791. Angel tenan..niru ki Palawa…
    Nek komen wis pas..di submit bubrah kabeh…he..he

  792. Matur nuwun sanget Ki Agung Raharjo,.. matur nuwun..

    Saya sangat setuju dengan Ki Arema, oleh karena itu saya hanya bisa berandai-andai, seandainya saja tembang-tembang sarat makna tersebut dapat dijadikan sebagai muatan lokal pada tingkat pendidikan menengah di Jawa Tengah.

    Bukan maksud saya untuk mengeksklusifkan diri, namun saya yakin, hal yang sama dapat diberlakukan pula di masing-masing daerah sebagai Muatan Lokal, karena petuah-petuah semacam itu, saya rasa ada pula untuk setiap kebudayaan di masing-masing daerah.

    Menurut saya, kekayaan budaya bukan saja hadir pada jenis kain dan bentuk upacara, namun juga pelajaran budi pekerti yang ada pada setiap sejarah kedaerahan di tanah air tercinta yang kaya raya ini.

    Semoga,..

  793. Ki Arema,

    Rasa-rasanya akan susah untuk menjadikan para pemuda kita berperilaku santun jika para orang tua, guru dan pemimpin tidak memberikan suri tauladan secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari kepada mereka.

    Barangkali sekarang ini jamannya memang sudah berubah dan kita benar-benar mengalami jaman edan seperti yang tertulis dalam Serat Jongko Boyo:
    Pancen amenangi jaman EDAN, sing ORA EDAN ora KADUMAN.
    Sing WARAS padha NGGRAGAS, sing TANI padha DITALENI.
    Wong dora padha ura-ura. Begjane sing eling lan waspada.

  794. Matur nuwun Ki Telik Sandi atas tanggapannya, memang budaya lokal darimanapun itu berasal kalau kita kaji secara mendalam akan kita temukan serpihan-serpihan mutiara yang sarat dengan makna.

  795. ki sas nggambar wanita berjanggut apa guci tha?

  796. AMENANGI ZAMAN EDAN

    Pupuh sinom, serat Kolotidho banyak menguraikan makna yang disebut dengan kedatangan zaman edan Joyoboyo, seorang raja pengagum seni sekaligus seorang peramal ulung dalam sejarah Jawa, sudah lebih dahulu memprediksikan datangnya zaman edan ini, dimana manusia harus memilih, menjadi manusia edan atau ditindas oleh yang edan.

    Banyak orang yang keberatan dengan istilah ‘zaman edan’ ini. Menurut mereka buka zamannya yang edan, tetapi orang-orangnya yang edan. Benar sekali. Tapi ‘zaman edan’ yang dimaksudkan di atas meliputi unsure manusia dan juga system yang berlaku. Zaman edan dalam pengertian yang lebih luas meliputi paradigma, system, dan juga perilaku.

    Nusantara adalah negeri penghasil padi dan mayoritas penduduknya petani, tetapi pada saat yang sama menjadi bangsa yang lapar dan mengimpor beras secara besar-besaran. Ayam mati di lumbung padi adalah analogi yang tepat atas kenyataan ini. Bumi kita memiliki kandungan minyak tetapi kita selalu krisis BBM. Pada saat bangsa kita sedang membenah diri dan memperbaiki krisis, datanglah berbagai pengaruh asing, produk asing (indikasi globalisasi) yang berpotensi menghabisi kekuatan lokal. Inilah zaman edan itu. Ada keedanan individu dan juga ada keedanan kolektif atau keedanan antar bangsa.

    Keedanan itu tercipta oleh manusia itu sendiri. Kalau kita tarik masalah ini pada wilayah kajian ilmiah, kita akan menemukan banyak sekali keedanan system dalam masyarakat. Kita melihat manusia begitu mengagungkan uang hingga memusnahkan tradisi pemanfaatan lumbung. Kenapa saya harus menyebut lumbung, karena lumbung ini merupakan symbol Gemah Ripah Loh Jinawi yang merupakan bukti kemakmuran masa lalu orang Jawa. Petani lebih suka menjual padinya (karena mereka merasa lumbung hanya mendatangkan tikus) dan uangnya disimpan di dalam bank. Manusia akan merasa tidak kaya kalau tidak memiliki tanah yang subur dan bibit yang unggul. Saya melihat pragmatisme ini sudah diisyaratkan oleh pesan budaya, Kumrincing Ringgit. Gemerincing ‘ringgit’ begitu mudah menggoda rasionalitas berpikir kita. Sehingga bumi Nusantoro yang subur dan luas ini tidak termanfaatkan secara maksimal.

    Dalam Pupuh Sinom, serat Kolotidho terdapat ungkapan:

    Amenangi jaman edan
    Ewuh ojo ing pambudi
    Melu edan ora tahan
    Yen tan melu anglakoni
    Boya keduman melih
    Kaliren wekasanipun
    Dilalah kerso Allah
    Begja begjane kang lali
    Isih begja kang eling
    Lawan waspada.

    Saya mencoba menafsirkannya lebih sederhana. Bahwa akan ketemu (datang) zaman yang disebut dengan zaman edan. Di mana pada zaman edan ini, orang akan menghancurkan satu sama lain dan sangat sulit mengambil sikap. Segala aspek kehidupan menampakkan keedanan yang luar biasa nampak dihadapan mata. Mau ikut edan tidak tahan oleh karena manusia memiliki nurani dan perasaan. Tetapi jika tidak ikut edan, maka akan tergerus oleh keadaan atau akan dikuasai oleh keedanan yang ada. Manusia itu sendiri berada pada kondisi yang serba edan. Kaliren Wekasanipun!

    Yang kuat akan menindas yang lemah. Sehingga yang lemahpun berpikir untuk memperkuat diri dan bersiap untuk menjadi penindas. Jongko Joyoboyo yang dikembangkan oleh generasi penerusnya ini sama dengan pisau dua mata. Bisa menjadi ajaran edan yang mencelakai manusia, tetapi juga bisa menjadi penangkal keedanan.

    Saat manusia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama edan, maka sikap yang tepat menurut Joyoboyo adalah mengambil sikap Eling Lan Waspada. Karena, Begja begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada. Eling yang dimaksud itu bukan sekedar ‘eling’ pada pengertian sempit. Tetapi meliputi ‘eling’ diri, tanggung jawab social, tidak lupa daratan dan ‘eling’ pada Tuhan yang senantiasa ‘memantau’ tindakan manusia. Waspada tidak berarti bersikap curiga. Tetapi bermaksud agar hati-hati, teliti dan bersikap antisipatif. Wajar kalau pada zaman edan itu kita mesti waspada agar tidak ikut edan. Seedan apapun zaman, janganlah sampai merugikan kepentingan masyarakat apalagi sampai menindas manusia lainnya.

    Oleh: Walikota Malang

  797. Hmmm….belum juga keluar kitabnya….???
    Ngeronda dulu ahh…..
    Pokoknya hari-hari ini tidak ada latihan di Padepokan, hanya ngeronda dan ngeronda dulu, untuk sementara waktu.
    Yeah…hitung-hitung latihan melek dulu untuk para cantrik…..

  798. Wach sampeyan arep begadang malam ini ya Ki Abu Ghani? Lumayan ada 13 cantri?
    Ayo ronda jaga ketentraman dan keamanan padepokan dimalam hari?
    Masih ada panggonan nggak ni?

  799. ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺎﺑﺮﻳﻦ

    ” Sejatosipun Gusti Allah puniko sesarengan kaliyan sinten kemawon ingkang sabar ”

    Mugi-mugi ﺻﺒﺮ ﻣﻨﻨﺔ ﻛﺘﺎﺏ ” sabar menanti kitab ” saget ndadosaken kitho termasuk golongan ingkang disarengi Gusti Allah. Amin.

  800. pripun menawi komentar para cantrik dipun dadosaken setunggal per-cantrik,..kulo jamin badhe ngakak piyambak, kagem kaca benggala. ha3x

  801. Wah…usul Ki Rujakpolo boleh juga tuh…

  802. هل الكتاب حينشر بعد قليل؟
    أنا جاستناه؟
    إمتى…إمتى يا باشا؟

  803. Waduh…Ki AlGhors mocone nopo niku….arab gundul je…

  804. ada 4 cantrik yang ronda, dari jerman 1 sisanya Jakarta..
    Subuh para cantrik…

  805. ayo cantrik2 bangun….
    segera tunaikan kewajiban..

  806. Yen ta’ pikir-pikir,.. hehehe

    Anakmas Sukra, sekiranya berkenan, saya kira tidak ada salahnya memberikan sedikit komen-nya, agar jelas duduk persoalan yang sebenarnya, serta sedikit mengobati kegelisahan para cantrik karena merasa ditinggal sendirian oleh para bebahu padepokan..

    Itu juga kalo persoalannya sedang duduk lho anakmas,..kalau persoalannya masih lari-lari ya,..monggo mawon :D

    # lihat penjelasan di Panah Sanderan :)

  807. Lha nek persoalane sedang ndodok pripun niku?

    Mboten usah kuwatos…, mangke rak pindah dewe nek empun sundul.

  808. kakang pembarep memang jeli, kita yang di jerman juga merasa wajib meronda menjaga kamtibmas, apalagi saat ki GD sedang mesu diri, browser pun harus di-set refresh otomatis tiap 5 menit biar terus mengelilingi tembok padepokan.

  809. Matur nuwun kitabnya sudah diterima.

  810. makasih………. puas sudah penantianku

  811. Sukran ki Sukra…

  812. selamat pagi……………………………………..

  813. dan terima kasih….

  814. matur nuwun anakmas Sukra..

  815. ananging koq gedem sanget…

    untung sambungannya lagi waras…

  816. Alhamdullillah , akhirnya keluar juga

  817. lho ternyata uda keluar ya :) Wah, thx banget ya pren :)

  818. koq lebih rame waktu menunggu daripada waktu mengunduh…

    he, para cantrik, di pendapa sudah ada sarapan…

  819. :sad:

  820. tengkiuuuuuuuuuuuuuu……………..

  821. :lol:

  822. Terima kasih. Setelah ngundhuh, lihat dulu ke gandhok 176, siapa tahu rapelan sudah tersedia dan bisa tertawa bersama Ki Lateung.

  823. matur nuwon ki GD, Ki sukra n bude seno ……

  824. trima kasih
    tengkiyuuu
    maturnuwun
    175 dan 177 dah dapet
    176 ketlingsut

  825. Wah sampun diwedar kitab-e
    Matur sembah nuwun ki GD..Senopati
    Sugeng rawuh dateng padepokan maleh…

  826. gile…
    4Mb saja gagal terus.. ihiks..

    btw bmw… thanks sudah ada.. meski belum sukses ndownload

  827. bacanya sehari satu saja
    untuk jaga-jaga siapa tahu akan ada lagi kelangkaan pasokan

  828. pasokan aman ki yayan (kata ki arema)

    karena ki arema nanggap wayang selama tiga hari tiga malam :D

  829. duuhhh 4MB… sudah 4x gagal terus…
    hiks… hiks….

    # maaf… makanya keluar agak lama… nanti malam akan dicoba di perkecil ukuran kitabnya.

  830. ini bener jeng winola ryder yang artis dari tlatah hutan suci???

  831. matur nuwun, atas kitabnya Guru

  832. @Adimas Sukra

    Saya tidak tahu, mengapa ya file jilid 175 ini membengkak menjadi 4 MB, padahal aslinya hanya 1.3 MB.

    Jika tidak gagal, sebentar lagi file aslinya akan saya kirim melalui adbmcadangan@yahoo.com

    @ Ki Sanak semua

    Saya minta maaf, jilid ini kualitasnya kurang baik. Maklum kitab ini adalah kitab pertama kali yang saya scan. Ada kesalahan proses, sehingga file scan asli (300 dpi) tertimpa file yang diperkecil (pada saat belajar memperkecil dengan Microsoft office picture manager), dan menurut Ki Gede sudah cukup sehingga tidak saya scan ulang. Jilid 176-180 juga sedang belajar sehingga formatnya agak kurang enak dibaca

    Mohon maaf……

  833. alhamdullillah…akhirnya……terima kasih….sementara ngga peduli file besar atau kecil..yang penting pe-WEDAR-an kitab sudah dimulai lagi setelah lama “mesu diri”….terima kasih

  834. Kitab 175 ini memang men’debar’kan, setelah ditunggu hampir sepasar dengan sekian ratus komen baru bisa dinikmati …

    Dan gara2 kover ini, padepokan adbm di fesbuk juga jadi rame … banyak yang komen … mulai bebahu .. cantrik senior .. cantrik yunior .. bahkan cantrik yg baru mau (tertarik) ndaftar juga ikut komen…

    Jadi virus admb akan makin menyebar nih …

  835. Kok kalo di download filenya htm ya.
    Gak bisa terus nih

  836. Ki Arema,
    Buku 175 ini sungguh2 susah diunduhnya. Setelah memakai mesu diri dan jurus cambuk sendal pancing,
    ternyata tidak berhasil juga. Mohon petunjuk Ki Arema dan Ki Sukra, barangkali ada cara jitu menaklukkan tenaga cadangan 4,2 gb.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  837. terimkasih ki arema.. sudah bersusah payah memberikan ketenangan batin kepada kami.. smoga ki arema selalu sehat dan terus memberikaan rontal – rontal sakti berikutnya.

  838. Matur :grin: Nyimas, Ki GD, Ki Sukra…

  839. Wah.. Ki Titis Anganten, orang sakti dari Banyuwangi, salam kenal Ki, ternyata pengembaraan kiai sudah mencapai tlatah German… wah sae sanget…
    Temen Kiai, danyang Gn. Kidul, Ki Pandan Alas sudah ngetop duluan disini…

  840. ada teman saya bilang, kalo ngunduh buku yang penuh dengan kebijakan, maka akan banyak cobaan dalam mengunduhnya, mungkin sang jagat dewa batara ingin menggoda keteguhan iman?… hehehe.

    tapi ngunduh lakon dewi traci lord yg bermukim di jagad seberang, yg pernah memporak porandakan jagad dunia, biarpun lebih dari 1 gb.., terasa mudah…
    :)

  841. saya berhasil mendapatkan 4.2 MB, caranya.. saya minta teman di bandung download.. terus di email :)..

    kalo mau yang 4.2 MB.. boleh saya emailkan… monggo

  842. gagal mulu…. :sad:

  843. Weleh, sudah di wedar tho. Seharian keluar desa,baru tahu kalau sudah di wedar. Matur suwun Ki Gede, Nyi Seno, Kakang Sukra.

  844. Ki Sukra,
    Kalo ngasih Souvenir mbok yoa yang umum saja,
    Kalo file-nya sebesar ini namanya bukan souvenir lagi, tetapi PARCEL.

    Di download setiap udah 80%, koneksinya nggak kuat, njur putus lagi, mulai dari awal.
    Gemes …. tenan aku……

  845. Tawaran Ki Hiku sungguh menyenangkan, karena saya dah berjam2 tidak berhasil download juga, ini email saya Ki, jagadide@gmail.com, Ki Gede, Nyi Seno n Ki Sukra, ora opo2 tho saya ngunduh kitab 175 lewat email ki Hiku… Nembahnuwun

  846. tengkyu Ki GD/Nyi Seno..
    Sampun download

  847. @ki Amat
    mohon ijin copas jangka jayabaya nya ki, untuk saya pajang di gubug saya

    nuwun

    Ro_Man

  848. He protes aku …. eh nggak protes ding, cuma mau koreksi dikit ……. itu tuh dhandang diunekake kuncul (betul ya?), bilang guruku Ki Dandang Wesi artinya bukan gituuuu ….
    Dhandang disini artinya burung gagak yang warnanya item itu, lalu kuntul itu burung yang warnanya putih. Jadi kalimat itu mengibaratkan orang yang memutar balik fakta. Burung hitam dibilang putih ….. gituuu. Tapi entah yang benar yang mana, tapi kalau melihat konteks kalimat lanjutannya kayaknya guruku yang betul deh ….. amit, bukan karena beliau guruku lho ya? Memang jaman sekarang kan, yang bener dibilang salah, yang salah justru tidak diapa-apain.

  849. waduuuh ngenteni wae kesel opo maneh ngetik yo

  850. Tapak Sakti muncul dari surga barat !!! Jurus pertama…jurus perkenalan Sembilan Benua..yg meminta ijin bergabung di padepokan ADBM.ternyata ada pendekar yg menyakiti hati tuan rumah….seorang pendekar BANCIII..sembilan benua menantangnya berkelahi secara jantan.

  851. Sugeng enjang… :) :))

  852. Monggo, satu lagi

    JILID 175

    bagian 1

    “MESKIPUN mungkin orang itu juga tidak terkena sirepku, tetapi di malam hari, ia juga akan tidur sebagaimana kebiasaan seseorang. Dalam keadaan tidur, maka sirep itu akan mencekiknya semakin dalam sehingga tidak seorang pun akan dapat melawan. Para peronda adalah anak-anak muda yang akan segera kehilangan kesadarannya.”
    Demikianlah, maka orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu pada malam hari berikutnya telah menyiapkan segala sesuatunya yang akan dipergunakannya untuk memasuki gandok kanan rumah Ki Gede Menoreh. Ia akan berada di belakang gandok itu, dan kemudian menggali lubang di bawah dinding setelah memasang ilmu sirep. Ia berharap bahwa dalam keadaan tidur, ilmu sirepnya akan semakin menyenyakkan tidur seseorang.
    Ketika malam menjadi semakin dalam, dan rumah Ki Gede itupun telah menjadi sepi, maka orang itu pun mulai melakukan tugasnya. Ia merayap dari satu halaman, ke halaman yang lain. Tanpa kesulitan apa pun juga, maka ia berhasil mendekati gandok kanan rumah Ki Gede. Untuk beberapa saat lamanya, orang itu menunggu dengan sabarnya di belakang gandok rumah itu.
    Sambil duduk bersandar sebatang pohon mlinjo, orang itu kemudian tersenyum dan berkata kepada diri sendiri “semuanya akan berlangsung dengan mudahnya. Semua orang sudah tertidur. Sirepku hanya akan menekankan kesenyapan di dalam diri, memperdalam mimpi yang pahit.”
    Tetapi, orang bertubuh kecil itu tidak tergesa-gesa. Ia tahu ada beberapa orang berilmu di rumah itu. Tetapi, semuanya itu tidak mencegahnya untuk melakukan tugasnya.
    “Tugasku sekarang, menunggu orang-orang itu tidur,” katanya di dalam hati.”Mereka akan tidur nyenyak, karena mereka tidak akan menyangka sesuatu akan terjadi. Dalam tidur sirepku menindihnya dalam kelelapan. alangkah mudahnya. Para peronda itupun akan tidur di gardu silang melintang.”
    Orang bertubuh kecil itu tersenyum sendiri. Sementara itu untuk beberapa saat ia tetap masih duduk di bawah sebatang pohon melinjo.
    Sebenarnyalah rumah Ki Gede menjadi semakin sepi. Tidak terdengar lagi suara seseorang di dalam gandok itu. Glagah Putih yang menunggui Agung Sedayu dan Ki Waskita, ternyata sudah tertidur pula. Sementara Agung Sedayu sendiri sebagaimana juga Ki Waskita, yang memerlukan istirahat sebanyak-banyaknya telah berusaha pula untuk dapat tidur sebanyak-banyaknya.
    Lewat tengah malam, rasa-rasanya tidur pun menjadi semakin nyenyak. Agung Sedayu dan Ki Waskita yang masih saja digelitik oleh perasaan sakit dan berusaha melupakannya dalam tidurnya, merasa betapa nyenyaknya ia tidur malam itu. Rasa-rasanya angin malam telah menyusup di antara dinding-dinding gandok, menyapu wajah mereka dan luka-luka mereka, sehingga rasa-rasa¬nya mereka bagaikan dibuai oleh segarnya udara malam hari.
    Tidak seorang pun yang menyangka bahwa sesuatu akan terjadi. Semua orang yang ada di rumah Ki Gede itu tidak bersedia menghadapi lontaran ilmu sirep yang kuat. Mereka pergi ke pembaringan dan sebagaimana kebia¬saan seseorang di malam, maka mereka pun telah tidur dengan lelap.
    Dalam keadaan yang demikian itu, maka ilmu sirep orang bertubuh kecil itu benar-benar telah membenamkan mereka yang tidur nyenyak itu semakin dalam ke dunia mimpi mereka tanpa berprasangka apa pun juga.
    Sedangkan mereka yang meronda di gardu di depan rumah Ki Gede itu pun sama sekali tidak mampu melawan kekuatan sirep itu, sehingga mereka pun telah tertidur nyenyak.
    Orang bertubuh kecil itu menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum bertindak, ia pun masih sempat meyakinkan, apakah sirepnya telah mencengkam semua orang -orang berilmu.
    Orang itupun tersenyum kecil. Pendengarannya yang tajam meyakinkannya, bahwa semua orang telah tertidur. Tidak ada satu suara tarikan nafas yang mencurigakannya.
    Demikianlah, maka ilmu sirep yang ternyata telah dilontarkan oleh orang bertubuh kecil itupun telah mencengkam seisi rumah Ki Gede Menoreh. Bahkan rumah-rumah di sebelah-menyebelah pun telah terpercik oleh ilmu sirep itu pula.
    Baru ketika ia sudah yakin bahwa semua orang telah tertidur, maka ia pun mulai bergeser dari satu tempat ke tempat lain. Sekali lagi ia meyakinkan diri. Dengan hati-hati ia memasuki longkangan dan menyusuri dinding-dinding bilik dalam sebelah longkangan itu. Ternyata semuanya memang sudah tertidur nyenyak.
    Ketika orang itu pergi ke halaman depan, maka dilihatnya para peronda pun terbaring silang melintang. Bahkan dua orang anak muda telah tertidur dengan nyenyaknya di belakang gardu. Nampaknya mereka sedang duduk beristirahat sambil menguliti kacang. Namun akhirnya mereka telah tertidur, sementara kacang yang sudah dikulitinya.
    Orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu tersenyun. Katanya, “Semuanya berlangsung jauh lebih mudah dan yang aku perkirakan”
    Akhirnya orang itu pun kembali ke belakang gandok sebelah kanan. Ia sudah menyiapkan sebatang linggis dan alat pencukil. Ia harus mencungkil sebuah lubang dan masuk ke dalamnya.
    Orang itu meraba sebilah pisau belati di pinggangnya. Katanya, “Aku tidak memerlukan banyak sekali pisau-pisau kecil untuk membunuh lawanku, sebagaimana harus jadi di dalam satu perkelahian. Aku hanya memerlukan sebilah pisau belati. Dan pisau ini akan menembus jantung Agung Sedayu dan Ki Waskita.”
    Demikianlah, maka sesaat kemudian, orang itupun mulai dengan pekerjaannya. Cepat sekali, seperti mencungkil gula kelapa madon dari tawonan, sebangsa makanan yang banyak digemari.
    Sekali-sekali orang itu tersenyum kepada diri sendiri. Seolah-olah ia sudah berhasil dengan satu tugas yang berat, yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.
    Namun dalam pada itu. yang terjadi adalah di luar dugaan orang bertubuh kecil itu. Ketika ia sedang sibuk mencungkil batu-batu pada padon gandok Ki Gede, maka tiba-tiba saja ia mendengar suara tertawa lirih. Tidak jauh dari tempatnya.
    Orang bertubuh kecil itu terkejut bukan buatan. Menurut perhitungannya, maka semua orang tentu sudah tertidur nyenyak. Tiba-tiba saja ia masih mendengar su¬ara orang tertawa.
    Dengan tangkasnya orang itu pun segera meloncat berbalik. Diedarkannya pandangan matanya ke sekitarnya. Menembus kegelapan malam dan menyusuri dinding halaman rumah Ki Gede. Tetapi orang itu tidak melihat seorang pun.
    Wajah orang bertubuh kecil itu menjadi tegang. Selangkah ia maju. Diamatinya gerumbul di sebelah po¬hon mlinjo tempat ia bersandar. Bahkan kemungkinan o¬rang bertubuh kecil itu dengan tangkasnya telah meloncat menerkam gerumbul itu. Tetap ia tidak menemukan seseorang.
    Sejenak suasana menjadi bening. Suara tertawa itu tidak terdengar lagi. Bahkan tidak ada suara apa pun. Desir angin pun rasa-rasanya telah berhenti sama sekali.
    “Gila, “ geram orang itu, “apakah aku mendengar suara hantu?”
    Untuk beberapa saat orang itu menunggu. Namun tidak terdengar suara apa pun juga. sehingga akhirnya orang itu berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak peduli. Aku akan segera masuk ke dalam gandok. Membunuh Agung Sedayu dan kemudian apa pun yang terjadi, akan kuhadapi.”
    Karena itu, maka orang bertubuh kecil itu pun telah melanjutkan usahanya untuk melubangi padon gandok itu sebagaimana sering dilakukan oleh seorang pencuri.
    Namun telinganya telah tergelitik lagi oleh suara tertawa. Perlahan-lahan saja. Namun tidak jelas dari mana arah suara itu.
    Orang bertubuh kecil itu benar-benar tidak menghiraukannya. Ia justru bekerja lebih keras. Ia harus segera dapat membuat sebuah lubang. Kemudian masuk ke dalamnya untuk membunuh Agung Sedayu dan Ki Waskita. Atau jika ia tidak sempat membunuh keduanya, maka sasaran utamanya adalah Agung Sedayu.
    Demikianlah, orang bertubuh kecil itu sama sekali tidak menghiraukan suara tertawa yang mengganggunya. Bahkan akhirnya orang itu menggeram, “Aku tidak sempat bermain-main dengan hantu dalam keadaan seperti ini.”
    Karena itulah, maka ia pun telah bekerja semakin sibuk.
    Namun dalam pada itu, suara tertawa itu semakin lama menjadi semakin dekat, sehingga akhirnya suara itu benar-benar berada di belakangnya. Bahkan rasa-rasanya suara itu berdesah menyentuh tengkuknya.
    Dengan tangkasnya orang itupun telah meloncat. Bahkan dengan garangnya ia telah mengayunkan linggisnya mendatar, menyambar sumber suara di belakangnya itu.
    Namun ayunan linggisnya itu sama sekali tidak menyentuh sesuatu. Bahkan oleh kekuatannya sendiri, orang itu telah terseret sehingga hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.
    “Iblis, setan alas,” orang itu mengumpat, “jangan bersembunyi pengecut.”
    Tetapi belum melihat sesuatu.
    Namun dalam pada itu, dari balik dinding halaman, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang, “Aku tidak telaten guru. Aku akan membinasakannya.”
    Suara itu terdiam. Namun ternyata orang itu tidak menunggu lebih lama. Sebelum orang yang diajak berbicara itu menjawab, maka tiba-tiba saja sesosok tubuh telah hinggap di atas dinding halaman.
    “Gila,” geram orang bertubuh kecil, “ternyata kau berada di belakang dinding.”
    “Kami melihat tingkah lakumu lewat dari atas dinding” jawab bayangan di atas dinding halaman itu
    Orang bertubuh kecil itu menjadi semakin tegang
    Ia sadar, bahwa orang yang mampu melepaskan diri dari pengaruh sirepnya itu tentu orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
    “Ada juga orang-orang gila yang ternyata melihat kerja yang sedang aku lakukan” berkata orang bertubuh kecil itu di dalam hatinya.
    Namun orang itu tidak gentar. Orang yang berdiri di atas dinding halaman itu tentu bukan orang terbaik. Bukan Agung Sedayu dan bukan pula Ki Waskita.
    Namun ketika terbersit satu pertanyaan di dalam hatinya. Ia menjadi gelisah. Bagaimana jika justru gurunya.
    Tetapi orang yang berdiri di atas dinding itu masih muda meskipun ia belum melihat wajahnya dengan jelas. Tubuhnya agak gemuk dan tidak terlalu tinggi.
    “Guru Agung Sedayu tentu sudah tua” berkata orang bertubuh kecil itu di dalam hatinya.
    Sementara itu, orang yang berada di atas dinding halaman itupun segera meloncat turun. Dengan tangkasnya ia melenting langsung berdiri di hadapan orang bertubuh kecil dan agak terbongkok-bongkok itu.
    “Siapa kau?” bertanya orang bertubuh kecil itu.
    “Aku Swandaru Geni,” jawab orang yang turun dari atas dinding halaman, “apa kerjamu disini, dan siapakah kau sebenarnya?”
    “Aku tidak akan ingkar. Aku datang untuk membunuh Agung Sedayu dan Ki Waskita. Mereka telah membunuh saudara-saudara seperguruanku” jawab orang bertubuh kecil itu.”
    Swandaru menggeram. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi kau saudara seperguruan bajak laut itu dan jika demikian kau juga saudara seperguruan Ki Tumenggung Prabadaru?”
    “Tepat.” jawab orang itu, “namaku Lodra.”
    “Uh” Swandaru mengerutkan keningnya, “nama itu memberikan kesan besar dan kekar. Tetapi ternyata kau bertubuh kecil dan bahkan terbongkok-bongkok.”
    “Apa hubungannya nama dengan tubuhku. Aku memang besar. Aku mempunyai ilmu yang tidak ada bandingnya. Karena itu, menyingkirlah. Aku akan membunuh Agung Sedayu dan Ki Waskita. Jika kau tidak mau menyingkir, maka kau akan aku binasakan.” jawab orang bertubuh kecil yang bernama Lodra itu.
    “Jangan mengigau. Kau berhadapan dengan Swandaru Geni. Saudara seperguruan Agung Sedayu. Jika benar kau saudara seperguruan bajak laut yang terbunuh itu, maka kau akan berhadapan dengan aku. Perguruanmu dan perguruanku akan sekali lagi bertemu dalam arena perang tanding.”
    “Bagus, “orang bertubuh kecil itu hampir berteriak, “kita akan melihat, siapakah yang sebenarnya akan menjunjung tinggi nama perguruan. Kau atau aku. Kita tidak akan dapat mengambil ukuran pertempuran antara Agung Sedayu dan saudara-saudaraku. Agung Sedayu bertempur di medan perang. Mungkin Agung Sedayu curang atau orang lain dengan curang membantunya sehingga saudaraku itu terbunuh. Sedangkan para bajak laut itu pun tidak akan dapat dinilai dengan murni dalam pertempurannya melawan Agung Sedayu. Agung Sedayu telah dibantu oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh sehingga akhirnya ketiga saudaraku itu terbunuh. Nah, sekarang kau berhadapan dengan aku. Kita masing-masing akan menunjukkan sikap seorang laki-laki.”
    “Jangan mengigau. Bersiaplah. Kita akan bertempur. Jangan takut ads orang yang akan membantuku. Semua prang sudah tidur nyenyak. Sedangkan yang tidak tertidur akan dapat menghargai sikapku sebagai seorang laki-laki, sehingga mereka tidak akan menggangguku.” jawab Swandaru.
    Orang bertubuh kecil yang bernama Lodra itu pun segera bersiap. Ternyata bahwa linggis di tangannya itu adalah senjatanya. Karena itu, maka ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
    Dalam pada itu, di belakang dinding. Kiai Gringsing mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebar-debar. Jika orang yang sedang berusaha untuk mencungkil alas padon gandok itu benar-benar saudara seperguruan para bajak laut dan Ki Tumenggung Prabadaru dan memiliki ilmu yang setingkat dengan mereka, maka Swandaru akan mengalami kesulitan.
    Karena itu, maka Kiai Gringsing pun tidak akan dapat meninggalkan Swandaru, tetapi ia pun tidak ingin mempengaruhi pertempuran itu dengan kehadirannya. Karena itu, maka seperti yang telah dikerjakannya selama ia menunggui Lodra yang sedang sibuk dengan usahanya memasuki gandok itu dengan duduk di sebatang dahan di belakang dinding halaman. Dari tempatnya Kiai Gringsing akan dapat melihat apa yang terjadi.
    Sementara itu, sebenarnyalah orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh memang sedang tidur nyenyak. Mereka yang tidak menduga sama sekali akan kedatangan seseorang yang mampu melontarkan ilmu sirep yang tajam, telah tertidur nyenyak sejak sebelumnya. Apalagi ketika mereka terkena pengaruh sirep. Maka tidur pun rasa-rasanya menjadi semakin nyenyak, karena di dalam tidur, mereka tidak sempat melawan pengaruh sirep itu.
    Hanya Kiai Gringsing sajalah yang mula-mula mengenali sentuhan pengaruh sirep itu pada dirinya. Perlahan-lahan ia membangunkan Swandaru, dan membawanya ke luar dari gandok sebelah kiri. Akhirnya dengan ketajaman pengenalan Kiai Gringsing atas sumber ilmu itu, akhirnya mereka menemukan Lodra di belakang gandok sebelah kanan sedang sibuk dengan usahanya memasuki gandok itu.
    Demikianlah, maka dengan jantung yang berdebaran, Kiai Gringsing menyaksikan dua orang di belakang gandok kanan itu sudah bersiap. Karena Lodra telah menggenggam linggisnya, maka Swandaru pun segera mengurai cambuknya pula.
    “Murid orang bercambuk,” geram Lodra, “sebagaimana Agung Sedayu bersenjata cambuk.”
    “Seperti kau lihat,” sahut Swandaru, “aku memang saudara seperguruannya.”
    Orang bersenjata linggis itu mengangguk-angguk. Dipandanginya cambuk di tangan Swandaru itu. Ada juga terbersit debar di jantungnya. Jika orang yang bernama Swandaru ini memiliki ilmu setingkat dengan Agung Sedayu, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melawannya, sebagaimana Ki Tumenggung Prabadaru dapat dikalahkan oleh Agung Sedayu. Padahal orang bertubuh kecil itu tidak dapat ingkar bahwa kemampuannya masih jauh dari kemampuan Ki Tumenggung Prabadaru.
    “Tetapi kecurangan itu tidak mustahil memang terjadi,” berkata Lodra itu di dalam hatinya, “sehingga de¬ngan demikian Agung Sedayu tidak mengalahkannya dengan jujur.”
    Karena itu, maka Lodra pun kemudian benar-benar telah bersiap untuk bertempur melawan saudara seperguruan Agung Sedayu yang bersenjata cambuk itu. Bahkan orang bertubuh kecil itu pun menganggap bahwa tingkat kemampuan Swandaru tentu berada di bawah kemampuan Agung Sedayu.
    Dengan demikian, maka sejenak kemudian, keduanya pun telah bersiap sepenuhnya. Ketika Swandaru mulai menggerakkan ujung cambuknya maka orang bertubuh kecil itu pun telah bergeser.
    Kiai Gringsing menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Ia hanya dapat menyaksikan Swandaru bertempur melawan saudara seperguruan Ki Tumenggung Prabadaru dan ketiga orang bajak laut yang menurut keterangan Agung Sedayu sendiri, memang memiliki ilmu yang luar biasa.
    Demikianlah, maka keduanya pun kemudian mulai dengan serangan-serangan mereka. Meskipun keduanya belum melepaskan segenap ilmu mereka, namun Kiai Gringsing sudah dapat melihat bahwa orang bertubuh kecil itu memang memiliki dasar-dasar ilmu yang sangat dahsyat.
    Untuk beberapa saat keduanya masih saling menjajagi. Orang bertubuh kecil itu berloncatan dengan tangkasnya. Sementara Swandaru yang bertubuh gemuk itu, bergerak dengan mantap. Cambuknya masih terayun-ayun. Namun cambuk itu masih belum meledak.
    Demikian pula orang bertubuh kecil itu. Ia baru menjajagi lawannya dengan serangan-serangan yang sederhana. Linggisnya terayun mendatar menyambar tubuh lawannya. Namun serangan itu masih belum merupakan serangan yang dapat membahayakan.
    Namun demikian, tataran demi tataran keduanya telah meningkatkan ilmu mereka. Keduanya bergerak semakin cepat, sementara senjata mereka pun telah berputaran semakin cepat pula.
    Meskipun Swandaru mempergunakan senjata yang lebih panjang dari senjata lawannya, tetapi kaki orang bertubuh kecil itu, bagaikan tidak melekat di atas tanah. Loncatan-loncatannya semakin lama menjadi semakin cepat. Jika ujung cambuk Swandaru menyambar leher, maka dengan kecepatan yang mendahului ayunan ujung cambuk Swandaru orang itu merendah. Namun jika ujung cambuk Swandaru terayun menyerang kakinya, maka Lodra pun telah melenting. Tetapi jika ujung cambuk itu menghentak mematuk perutnya, Lodra dengan tangkasnya meloncat surut.
    Namun demikian kakinya menyentuh tanah serta ujung cambuk Swandaru berdesing di depan tubuhnya, maka dengan kecepatan yang tinggi. Lodra telah meloncat sambil menyerang dengan ayunan linggisnya.
    “Gila,” geram Swandaru, “orang ini cukup tangkas. Ia mampu bergerak terlalu cepat.”
    Tetapi Swandaru memang belum sampai ke puncak kemampuannya. Ia masih meninggkatkan ilmunya selapis demi selapis. Namun dalam pada itu. Lodra pun masih belum pula sampai pada batas kemampuannya. Jika Swandaru meningkatkan serangan-serangannya, maka Lodra pun mampu mengimbanginya dengan meningkatkan ilmunya pula.
    Dengan demikian maka pertempuran antara kedua orang itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya menjadi semakin cepat bergerak. Bahkan serangan-serangan mereka pun menjadi semakin berbahaya.
    Dalam pada itu, maka ujung cambuk Swandaru pun telah mulai meledak. Hentakkan-hentakkan yang keras mulai menggetarkan udara malam di padukuhan yang, sepi oleh kekuatan sirep orang bertubuh kecil itu.
    Karena itu, meskipun cambuk Swandaru meledak semakin lama semakin keras, namun para peronda di depan pintu gerbang halaman Ki Gede itu sama sekali tidak terganggu kenyenyakan tidur mereka. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran antara kedua orang itu memang tidak akan terganggu.
    Tetapi ledakan cambuk Swandaru ternyata semakin lama menjadi semakin keras dan semakin sering. Udara malam pun seakan-akan telah terkoyak-koyak oleh ledakan-ledakan yang dahsyat itu.
    Sementara itu, ternyata ledakan cambuk Swandaru itu bukan saja telah menggetarkan jantung lawannya, namun juga telah menghentak dada mereka yang sedang tertidur nyenyak. Meskipun sebagian besar dari mereka yang sedang tertidur oleh pengaruh sirep, atau mereka yang memang sedang tertidur, namun yang kemudian telah ditindih pula oleh pengaruh sirep yang tajam itu, tidak terpengaruh oleh hentakan-hentakan Cambuk Swandaru, namun ada juga di antara mereka yang mulai menggeliat. Betapapun Juga, mereka yang memiliki ilmu yang tinggi, sempat berusaha untuk mengatasi perasaan kantuk mereka justru karena mereka telah terbangun oleh ledakan-ledakan cambuk itu.
    Ki Gede menjadi curiga terhadap perasaannya sendiri. Bagaikan sedang bermimpi ia mendengar cambuk meledak-ledak. Seolah-olah ia sedang berada di tengah sawah menunggui seorang yang sedang membajak. Demikian malasnya dua ekor lembu yang menarik bajak itu sehingga orang yang sedang membajak itu menjadi marah dan mengayunkan berkali-kali.
    Namun, akhirnya Ki Gede itu pun terbangun. Ia sadar bahwa ia sedang bermimpi. Namun matanya rasa-rasanya tidak mau terbuka.
    Pengalaman yang mengendap di dalam dadanya, telah mendorong Ki Gede justru untuk mengenali keadaan yang demikian. Ia telah memaksa diri untuk mengerti apa yang sedang terjadi atas dirinya itu.
    Kecurigaan Ki Gede atas keadaannya itu justru telah mendorongnya untuk melawan perasaan kantuknya yang mencengkamnya.
    Ketika cambuk Swandaru sekali lagi meledak, maka Ki Gede pun telah menyadari keadaan sepenuhnya. Dan Ki Gede pun telah menyadari bahwa Padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu telah terkena oleh sirep yang tajam, terutama di rumahnya dan di sekitarnya.
    Ki Gede pun kemudian telah mempersiapkan diri. Setelah membenahi pakaiannya, maka ia pun telah menggapai senjatanya. Perlahan-lahan ia keluar dari biliknya. Ketika ia melihat bilik yang dipergunakan oleh Pandan Wangi dan Sekar Mirah masih tertutup rapat, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.
    “Apakah keduanya masih tertidur nyenyak?” bertanya Ki Gede di dalam hatinya.
    Tiba-tiba saja Ki Gede teringat tamu-tamunya yang ada di gandok. Kiai Gringsing dan Swandaru. Bahkan tiba-tiba saja ia menjadi berdebar-debar ketika ia teringat kepada Agung Sedayu dan Ki Waskita di gandok kanan, yang hanya ditunggui oleh Glagah Putih.
    Karena itu, maka Ki Gede pun kemudian telah mengetuk pintu bilik Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Semakin lama semakin keras sebagaimana suara ledakan cambuk Swandaru.
    “Pandan Wangi. Sekar Mirah” panggil Ki Gede.
    Ternyata bahwa Pandan Wangi dan Sekar Mirah terbangun pula oleh suara cambuk Swandaru. Tetapi setiap kali matanya menjadi bagaikan terpejam lagi.
    Namun ketika terdengar nama mereka dipanggil, maka rasa-rasanya mereka benar-benar telah terbangun
    “Pandan Wangi, Sekar Mirah” sekali lagi terdengar nama mereka disebut.
    “Siapa?” bertanya Pandan Wangi yang memaksa diri untuk bangkit.
    “Aku,” terdengar suara di luar bilik, “bangunlah. Ada sesuatu yang penting.
    Pandan Wangi mengusap matanya. Tetapi ledakan cambuk itu telah terdengar lagi.
    Sekar Mirah pun telah bangkit pula. Sementara itu Pandan Wangi telah bertanya pula, “Apakah ayah di luar?”
    “Ya, aku. Bukalah.” jawab Ki Gede.
    Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah membenahi pakaian mereka sebentar. Kemudian seolah-olah telah menjadi gerak naluri, keduanya telah mengambil senjata masing-masing. Pandan Wangi telah mengenakan pedang rangkapnya, sementara Sekar Mirah telah menjinjing tongkat baja putihnya.
    Keduanya pun kemudian telah membukakan pintu perlahan-lahan. Yang berdiri di depan pintu memang Ki Gede Menoreh yang telah menggenggam tombaknya pula.
    “Apakah kalian merasakan sesuatu yang lain?” bertanya Ki Gede.
    “Ya, ayah,” jawab Pandan Wangi, “rasa-rasanya mataku tidak dapat terbuka.”
    “Sadarilah hal itu sepenuhnya. Kemudian kau berdua harus melawannya. Kita sudah dicengkam oleh ilmu sirep yang tajam.” jawab Ki Gede.
    Pandan Wangi dan Sekar Mirah mengangguk-angguk. Mereka pun sependapat, bahwa mereka telah terkena sirep, sehingga dengan demikian maka mereka harus berusaha melawannya.
    Namun dalam pada itu, cambuk yang mereka dengar masih saja meledak-ledak.
    Dalam ketegangan itu terdengar suara Pandan Wangi, “Suara itu agaknya suara cambuk kakang Swandaru. Agaknya kakang Swandaru telah terlibat dalam pertempuran.”
    “Ya” jawab KI Gede, “karena itu, marilah, Kita akan melihat, apa yang terjadi.”
    Ketiganya pun kemudian mempersiapkan diri. Dengan hati-hati mereka keluar dari dalam rumah Ki Gede lewat pintu butulan. Sementara itu, suara cambuk itu pun telah menuntun mereka. bahwa pertempuran telah terjadi di belakang gandok sebelah kanan.
    “Di gandok itu Agung Sedayu dan Ki Waskita beristirahat” berkata Ki Gede.
    “Hanya ditunggui oleh Glagah Putih” desis Sekar Mirah. ‘
    “Kita percaya kepada anak itu. Ia memiliki ilmu yang cukup. Menurut penilaian kita, jika terjadi sesuatu, anak itu dapat berbuat sesuatu sambil menunggu kehadiran para peronda. Tetapi kita melupakan ilmu sirep” berkata Ki Gede kemudian.
    Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian telah pergi ke belakang gandok kanan. Namun dalam pada itu. Sekar Mirah telah tertegun sejenak. Dipandangnya pintu gandok yang masih tertutup rapat.
    Ada niatnya untuk menengok ke dalam gandok itu. Namun niatnya diurungkan. Ia akan melihat lebih dahulu apa yang terjadi di belakang gandok itu.
    Ketiga orang itu pun kemudian terhenti beberapa langkah dari arena pertempuran. Dengan jantung yang berdebaran mereka menyaksikan pertempuran yang sengit antara Swandaru dengan seseorang yang bertubuh kecil agak kebongkok-bongkokan.
    Namun dalam pada itu, selagi mereka bergeser mendekat, maka terdengar orang bertubuh kecil itu berkata, “Marilah. Ternyata dengan ledakan cambukmu kau telah memanggil beberapa orang kawanmu atau saudaramu atau siapa pun mereka. Majulah bersama-sama. Aku ingin melihat apakah kalian akan dapat mengimbangi ilmuku.
    Tetapi suara Swandaru tidak kalah garangnya, “Mereka tidak akan mengganggu perang tanding ini. Aku akan bertempur sendiri sampai aku berhasil membunuhmu.”
    Orang bertubuh kecil itu tertawa. Katanya, “Jangan bermimpi sambil bertempur. Itu hanya akan mempercepat kematianmu saja.”
    Tetapi orang bertubuh kecil itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Serangan Swandaru datang melandanya, sehingga orang itu harus meloncat surut.
    Ki Gede Menoreh. Pandan Wangi dan Sekar Mirah menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran.
    Dalam pada itu, pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Cambuk Swandaru meledak-ledak bagaikan petir di mangsa kesanga. Beruntun, susul menyusul tidak henti-hentinya.
    “Gila,” geram lawannya, “cambukmu tidak menyentuh kulitku. Tetapi suaranya memekakkan telinga.”
    Swandaru menggeram. Ia memutar cambuknya scmakin cepat.
    Namun dalam pada itu, Swandaru yang telah mempelajari berbagai ilmu dengan matang, sementara itu dengan tekun ia meningkatkan kekuatan tenaganya dan membuat tenaga cadangannya semakin mapan, maka hentakkan cambuknya pun menjadi semakin nggegirisi. Pada saat-saat terakhir. Swandaru telah menekuni isi kitab gurunya meskipun baru untuk waktu yang singkat. Namun dalam waktu yang singkat itu. Swandaru berhasil menempatkan jalur-jalur kekuatan tenaga cadangannya semakin mapan, sehingga seakan-akan kekuatan jasmaniahnya dalam saat-saat tertentu sebagaimana dikehendaki menjadi semakin berlipat.
    Sementara itu, lawannya pun telah meningkatkan ilmunya pula. Ternyata lawannya mampu bergerak terlalu cepat. Bagaikan bayangan dalam keremangan malam, orang bertubuh kecil itu berterbangan di sekitar Swandaru. Namun cambuk Swandaru seakan-akan selalu memburunya.
    Ketika cambuk itu meledak dan tidak menyentuh sasaran, tetapi mengenai dahan-dahan pepohonan, maka dahan-dahan itulah yang berpatahan. Tanah pun berhamburan dan pepohonan telah terguncang.
    “Gila” geram orang bertubuh kecil itu. Namun ia mempercayakan diri pada kecepatan geraknya. Bahkan dalam keadaan yang sulit, ia pun masih mampu menyerang. Linggis di tangannya menjadi seakan-akan seringan lidi. Sekali-sekali linggis itu terayun mendatar mengarah lambung. Namun kemudian mematuk ke arah dahi dan kadang-kadang menyambar kening.
    Dengan demikian, maka pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang dahsyat. Keduanya memiliki tenaga yang besar dan kemampuan yang tinggi.
    Ki Gede Menoreh, Pandan Wangi dan Sekar Mirah menyaksikan pertempuran itu dengan tegang. Ki Gede dan Sekar Mirah yang melihat perang tanding di Watu Lawang, memang melihat, lawan Swandaru itu memiliki beberapa unsur yang bcrsamaan dengan bajak laut yang bertempur melawan Agung Sedayu.
    Karena itu, maka Sekar Mirah pun menjadi cemas. Jika orang itu mampu mencapai puncak kemampuannya sebagaimana dilakukan oleh bajak laut itu, maka Sekar Mirah mencemaskan keadaan kakaknya.
    Meskipun Sekar Mirah kurang mendalami cara Agung Sedayu meningkatkan ilmunya, namun ia melihat bahwa ada perbedaan antara suaminya itu dan kakaknya meskipun keduanya berguru kepada orang yang sama. Agung Sedayu lebih menukik ke kedalaman ilmunya. Namun Swandaru lebih condong untuk memperbesar kemampuan wadagnya. Karena itulah, maka Swandaru condong untuk membuat tenaga cadangannya semakin mapan.
    Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin sengit.
    Keduanya telah meningkatkan kemampuan mereka, sehingga benturan-benturan ilmu keduanya pun tidak lagi dapat dihindari.
    Orang bertubuh kecil yang mampu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa itu merasakan, bahwa kekuatan Swandaru terasa lebih besar dari kekuatannya. Karena itu, maka ia harus berbuat sesuatu yang dapat mengisi kekurangannya itu.
    Namun, Swandaru yang menyadari bahwa kekuatannya melampaui kekuatan lawannya telah berusaha untuk tidak ragu-ragu membenturkan ilmunya.
    Jika sekali-sekali ujung linggis Lodra itu menyentuh jurai cambuk Swandaru, terasa tangannya menjadi bergetar. Namun ia masih selalu mampu mempertahankan senjatanya sehingga tidak terlepas dari tangannya.
    Dalam pertempuran yang semakin meningkat itu, Kiai Gringsing masih tetap berada di tempatnya. Ia melihat Ki Gede, Pandan Wangi dan Sekar Mirah mendekati arena. Tetapi ia masih tetap mengamati pertempuran itu dari tempat yang tersembunyi.
    Namun dalam pada itu, ternyata yang mendengar ledakan cambuk Swandaru bukan hanya orang-orang yang tinggal di rumah Ki Gede itu saja. Di luar pedukuhan induk, suara itu pun telah memanggil seseorang yang sedang duduk dalam kegelapan.
    Ketika ia mulai mendengar suara cambuk Swandaru, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Untuk beberapa saat itu berusaha untuk mengetahui dari arah manakah suara itu meledak-ledak.
    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan ia berjalan memasuki pedukuhan induk. Ternyata anak-anak muda yang berada di gardu-gardu di regol pun telah bertempur melawan Swandaru itu tidak cukup kuat untuk menguasai seluruh pedukuhan, namun ternyata ada kekuatan lain yang telah membantunya, sehingga seisi pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu pun telah terkena sirep pula.
    Dengan pasti orang itu menuju ke rumah Ki Gede, karena ketajaman telinganya telah membawanya ke arah suara ledakan cambuk Swandaru. Tanpa ragu-ragu ia berjalan di sepanjang jalan pedukuhan. Sehingga, akhirnya ia pun telah berhenti di regol rumah Ki Gede.
    Dilihatnya beberapa orang terbaring di gardu, selebihnya ada pula yang tertidur di belakang gardu, sementara di tangannya masih tergenggam kacang yang sedang dikulitinya.
    Baru kemudian orang itu menjadi berhati-hati. Ia tidak memasuki halaman rumah Ki Gede lewat regol halaman. Tetapi ia pun telah menelusuri dinding. Sebelum sampai ke sudut halaman, maka dengan tangkasnya ia pun telah meloncat masuk. Dari batik gerumbul di bawah bayangan kegelapan, orang itu berusaha untuk dapat mengamati pertempuran di belakang gandok. Namun dari tempatnya, ia melihat beberapa orang yang menunggui pertempuran itu. Seorang laki-laki dan dua orang perempuan.
    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.¬
    Sementara itu, di tempat yang tersembunyi ternyata Kiai Gringsing tidak saja memperhatikan mereka yang sedang bertempur. Ketika pertempuran itu sudah berlangsung cukup lama. namun anak-anak muda di gardu masih juga belum terbangun maka Kiai Gringsing pun berusaha untuk memperhatikan suasana.
    Jika ilmu sirep itu hanya dilontarkan oleh orang bertubuh kecil dan terbongkok-bongkok itu, maka setelah sekian lama ia terlibat dalam pemusatan perhatiannya terhadap pertempuran yang sedang dilakukan, maka lambat laun ilmu sirep itu tentu akan mengendor. Ledakan cambuk Swandaru itu tentu akan segera membangunkan anak-anak muda yang sedang tertidur lelap, namun ternyata bahwa anak-anak itu masih belum juga terbangun.
    “Tentu ada pengaruh lain kecuali yang dilontarkan oleh orang bertubuh kecil itu” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.
    Namun dalam pada itu, sebenarnyalah di dalam gandok, Agung Sedayu, Ki Waskita dan bahkan Glagah Putih telah terbangun. Tetapi Agung Sedayu dan Ki Waskita masih tetap berada di pembaringannya. Tubuh mereka yang terluka masih belum memungkinkan untuk melakukan sesuatu. Yang dapat mereka lakukan hanyalah sekedar bangkit dan duduk dengan hati-hati di bibir pembaringan.
    “Beristirahatlah. Jangan bangkit.” Glagah Putih berusaha untuk mencegah.
    Tetapi Agung Sedayu menjawab, “Tidak apa-apa. Keadaanku sudah bertambah baik hari ini.”
    Glagah Putih tidak memaksanya. Namun perhatiannya tertuju sepenuhnya kepada suara cambuk yang meledak-ledak.
    “Kakang Swandaru.” desis Glagah Putih.
    Agung Sedayu dan Ki Waskita mengangguk berbareng. Sementara itu Glagah Putih pun berkata, “Apakah aku sebaiknya melihatnya?”
    Agung Sedayu ragu-ragu sejenak. Namun Glagah Putih telah menjawabnya sendiri. “Aku disini raja menunggui kakang Agung Sedayu dan Ki Waskita. Mungkin ada orang-orang yang curang memasuki bilik ini.”
    Agung Sedayu tidak menjawab. Namun ia pun sependapat bahwa Glagah Putih sebaiknya ada di dalam bilik itu saja. Mungkin di luar keadaannya sangat berbahaya. Agaknya pertempuran antara Swandaru dan lawannya itu pun telah mencapai puncak kemampuan masing-masing.
    Sebenarnyalah bahwa pertempuran antara Swandaru dan lawannya yang bertubuh kecil, agak terbongkok-bongkok itu berlangsung semakin seru. Cambuk Swandaru meledak semakin sering dan semakin keras. Dengan puncak kemampuannya Swandaru telah melecutkan cambuknya sehingga udara pun bagaikan terguncang karenanya. Rasa-rasanya pepohonan bergoyang dan bahkan gandok kanan itupun bagaikan tergetar oleh ledakan cambuknya.
    Dengan demikian, maka orang bertubuh kecil itu semakin lama nampaknya menjadi semakin terdesak.
    Karena cambuk itu berputar semakin cepat, maka seakan-akan orang bertubuh kecil itu tidak lagi mampu menembus untuk menyerang, sehingga dengan demikian maka yang dapat dilakukannya kemudian hanyalah sekedar meloncat menghindar. Orang itu pun tidak mau membenturkan kekuatannya langsung melawan ujung cambuk Swandaru, karena ia merasa bahwa kekuatan Swandaru ternyata lebih besar dari kekuatannya.
    Swandaru tidak mau kehilangan waktu. Ketika lawannya meloncat surut maka ia pun telah memburunya. Ledakan cambuknya membuat lawannya meloncat ke samping. Namun dengan tiba-tiba saja cambuk Swandaru mengejarnya dengan ayunan mendatar.
    Orang bertubuh kecil itu tidak sempat mengelak sepenuhnya. Meskipun ia sudah berusaha menghindari ujung cambuk itu, namun ternyata bahwa kulitnya masih tersentuh juga.
    Terdengar orang itu mengumpat kasar. Sentuhan ujung cambuk Swandaru itu telah mengoyak kulitnya. sehingga sebuah luka telah menganga di lengannya.
    “Anak iblis geram orang bertubuh kecil itu kau telah melukai tubuhku.”
    “Persetan,” jawab Swandaru, “kau harus mati di sini.”
    Swandaru sama sekali tidak mengendorkan serangannya. Bahkan cambuknya telah berputar semakin cepat.
    Orang bertubuh kecil itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan yang memuncak. Maka tiba-tiba saja ia bergumam di dalam dirinya, “Apa boleh buat. Kekuatan air, udara dan api itu masih baru aku mulai. Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku akan mempergunakannya meskipun belum sempurna.”
    Dalam pada itu, tiba-tiba saja orang bertubuh kecil itu meloncat menjauh. Hampir mendekati Ki Gede. Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang kemudian telah bersiaga. Namun ternyata orang itu tidak mengganggu ketiganya. Untuk beberapa saat orang itu justru terdiam dengan wajah tegang.
    Namun dalam pada itu, sesuatu telah terjadi. Ilmu yang masih dalam ujud yang kasar itu telah menyerang Swandaru dengan kasar pula. Seakan-akan udara pun kemudian berputar seperti angin pusaran. Namun angin pusaran itu ternyata mengandung uap air yang panas.
    Swandaru terkejut. Ketika angin pusaran itu memburunya, maka ia pun meloncat surut. Tetapi sentuhan angin pusaran itu rasa-rasanya membuat kulitnya menjadi bagaikan terbakar.
    “Ilmu iblis yang mana lagi yang dipergunakan orang ini” geram Swandaru.
    Namun, angin pusaran itu masih saja melingkar-lingkar mendekatinya.
    Swandaru menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak menjadi gentar. Ketika angin pusaran itu mendekatinya maka tiba-tiba saja Swandaru telah menyerang angin pusaran itu dengan cambuknya.
    Cambuknya meledak dengan kerasnya bagaikan petir yang meledak di langit. Udara pun tergetar karenanya dan gandok itu bagaikan terguncang.
    Ternyata ledakan cambuk Swandaru itu berpengaruh juga. Udara bergulung-gulung itu bagaikan tergetar pula. Tetapi hanya untuk sesaat.
    Angin yang bergulung yang tergetar oleh ledakan cambuk Swandaru itu bagaikan pecah dan memencar. Namun sejenak kemudian seolah-olah telah terhisap kembali dalam satu pusaran yang berputaran memburu Swandaru.
    Setiap kali Swandaru meledakkan cambuk dengan sepenuh kemampuannya, angin pusaran itu memang bagaikan menyibak.
    Dengan demikian, maka Swandaru pun kemudian berusaha untuk memecah sama sekali gumpalan angin pusaran itu.
    Karena itu, maka ia pun tidak sekedar meledakkan cambuknya sekali dua kali. Tetapi berkali-kali.
    Usaha Swandaru itu nampaknya akan berhasil. Tetapi, tiba-tiba saja ia telah tersengat udara panas di sekitarnya. Tidak lagi dalam gulungan angin pusaran. Namun udara di sekitarnya memang menjadi panas.
    Tetapi Swandaru cepat berpikir. Ia sadar, bahwa sumber dari panasnya udara itu adalah orang bertubuh kecil itu. Ia teringat apa yang pernah dikatakan tentang lawan-lawan Agung Sedayu. Bahkan ada yang pernah mengatakan, bahwa randu alas di Tanah Perdikan Menoreh yang di bawahnya terjadi perang tanding antara Agung Sedayu dan Ajar Tal Pitu telah mati mengering.
    Dengan demikian, maka Swandaru telah bertindak cepat. Ia berusaha bertahan atas serangan panas yang bagaikan membakar kulitnya. Namun dalam pada itu, dengan loncatan panjang ia telah menyerang orang bertubuh kecil itu
    Ternyata orang bertubuh kecil itu menjadi lengah. Ia melihat sambil tersenyum kesulitan yang dialami oleh Swandaru menghadapi ilmunya yang bagaikan angin pusaran. Bahkan ketika angin pusaran itu pecah, maka ia masih sempat menghembuskan kekuatan apinya sehingga udara menjadi bagaikan terbakar.
    Tetapi, bahwa Swandaru telah dengan serta merta menerobos perisai panasnya itu benar-benar di luar dugaan. Karena itu, maka ketika tiba-tiba cambuk Swandaru terayun ke arahnya, maka ia terlambat untuk menghindar. Sekali lagi ujung cambuk Swandaru itu mengenainya, justru pada saat ia berusaha meloncat.
    Karena itu, maka pahanyalah yang kemudian bagaikan terkoyak. Namun demikian, ternyata bahwa ia masih sempat meloncat menjauh sambil menghembuskan ilmunya. Sekali lagi udara yang bergulung” gulung bagaikan angin pusaran telah melanda Swandaru. Udara yang bagaikan mengandung uap air mendidih.
    Swandaru terkejut. Dengan cepat ia berusaha menghindar. Meskipun demikian terdengar juga ia mengeluh. Panas udara itu tidak tertahankan.
    Sekali lagi Swandaru harus bertahan. Cambuknya segera meledak-ledak. Dan sekali lagi Swandaru memecahkan pusaran angin yang mengandung uap panas itu. Namun yang seperti pernah terjadi, udara panaslah yang kemudian melandanya.
    Dalam pada itu, Ki Gede, Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun merasakan sentuhan udara panas itu. Bagi Ki Gede, maka segera ia mengetahui, bahwa tingkat ilmu orang itu masih berada di bawah kemampuan para bajak laut yang bertempur di Watu Lawang. Pengaruh udara panas itu tidak sedahsyat hembusan udara panas bajak laut yang di Watu Lawang. Pada jarak yang lebih jauh, maka udara panas itu terasa menggigit kulitnya. Apalagi serangan kabut yang hampir tidak kasat mata itu benar-benar sangat berbahaya. Sementara pusaran yang dihembuskan oleh orang bertubuh kecil itu adalah serangan yang kasar. Menurut pengamatan Ki Gede, jika Swandaru menghindar dan mengambil jarak semakin jauh. maka pusaran itu menjadi semakin lemah, sehingga pada saat jarak tertentu serangan itu sudah tidak berarti lagi.
    Namun Ki Gede mengagumi kecepatan berpikir dan bertindak Swandaru yang memasuki lingkungan serangan panas lawannya dan langsung menyerangnya.
    Yang menjadi berdebar-debar adalah Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Meskipun Sekar Mi rah merasakan juga bahwa ilmu orang itu masih belum seganas bajak laut yang bertempur melawan Agung Sedayu, namun ia sadar bahwa kakaknya tidak memiliki perisai ilmu kebal seperti Agung Sedayu. Perisai yang ternyata masih mampu ditembus oleh lawan-lawannya yang memiliki ilmu yang sangat dahsyat itu.
    Tetapi Swandaru tidak menghiraukan udara panas yang membakar tubuhnya. Meskipun sambil berdesah, namun ia telah meloncat dengan loncatan-loncatan panjang menyerang lawannya
    Meskipun lawannya tidak menjadi lengah, tetapi serangan Swandaru yang tidak kalah dahsyatnya dengan badai yang dilontarkannya itu, telah membuatnya terdesak pula. Ketika serangan Swandaru melibatnya pada jarak pendek tanpa menghiraukan panas di kulitnya, maka sekali lagi, cambuk Swandaru mengenai tubuh orang itu. Meskipun Swandaru menghentakkan cambuk dari arah dada, tetapi juntainya justru telah mengoyak lawannya pada punggungnya.
    Orang bertubuh kecil itu mengaduh. Luka itu terasa betapa pedihnya. Namun Swandaru pun telah mengaduh pula, karena kulitnya yang bagaikan terbakar oleh panas¬nya udara di sekitarnya.
    Orang bertubuh kecil itu berusaha untuk mengambil jarak. Tetapi Swandaru tidak melepaskannya. Kakinya yang melenting-lenting karena tanah tempat ia berpijak ¬pun bagaikan menjadi bara, namun ia masih tetap melibat lawannya pada jarak yang paling dekat yang dapat dicapainya.
    Dalam pada itu, di belakang gerumbul, di dalam kegelapan seseorang memperhatihan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Ia melihat orang bertubuh kecil dan terbongkok-bongkok itu mula-mula mampu mendesak lawannya. Tetapi ternyata lawannya memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga tanpa menghiraukan ilmu yang mampu membakar udara, di sekitarnya itu.
    Namun orang itupun berdesis, “Ilmu itu baru pada permulaan.”
    Bersamaan dengan itu, Kiai Gringsing yang masih berada di tempat yang tersembunyi pun berdesis pula, “Ilmu itu masih pada tataran pertama. Mudah-mudahan Swandaru dapat mengatasinya.”
    Meskipun demikian Kiai Gringsing pun menjadi berdebar-debar pula.
    Udara panas terpancar di sekitar orang bertubuh kecil itu memang menjadi hambatan utama dari serangan Swandaru. Tetapi ia mempunyai perhitungan tersendiri. Ia harus segera mampu menghancurkan lawannya, sehingga dengan demikian ia telah memadamkan sumber ilmu yang bagaikan membakar dirinya.
    Ternyata, perhitungan Swandaru itu pun mengenai pada sasarannya. Ketika cambuknya sekali lagi mengenai dada, maka darah pun telah memancar dari dada orang bertubuh kecil itu, sehingga dengan demikian lukanya pun benar-benar telah mengganggunya. Bahkan, Swandaru yang meloncat-loncat karena serangan panas itu masih sempat sekali lagi melecutkan cambuknya sendal pancing. Serangan yang justru telah menentukan akhir dari pertempuran itu. Serangan terakhir Swandaru itu telah mengenai leher lawannya. Ketika ujung cambuk itu menghentak, maka karah-karah baja di juntai cambuk itu telah menyobek kulit dan daging di leher lawannya.
    Terdengar keluhan melengking. Sejenak orang ber¬tubuh kecil itu masih tertahan berdiri tegak dengan mata yang memancarkan kemarahan yang tidak ada taranya, namun sejenak kemudian, maka tubuh itu pun telah roboh terguling di tanah.
    Bersamaan dengan itu, maka ilmu yang terpancar dari orang bertubuh kecil itupun lambat laun telah mengendor dan akhirnya lenyap pula.
    Namun dalam pada itu, rasa-rasanya Swandaru sudah tidak dapat bertahan lagi. Dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, serta perasaan panas yang membuat sakitnya bagaikan hangus Swandaru terhuyung-huyung sejenak. Namun kemudian ia pun telah jatuh terduduk.
    “Kakang Swandaru” Pandan Wangi dan Sekar Mirah memekik hampir bersamaan. Keduanya pun kemudian telah berlari bersama mendapatkan Swandaru yang terduduk itu.
    Ketika mereka berjongkok di sebelah Swandaru, mereka melihat wajah Swandaru yang tegang. Dengan gigi yang terkatub rapat, Swandaru berusaha untuk ber¬tahan terhadap perasaan sakit yang mencengkam seluruh tubuhnya.
    Namun, ketika Pandan Wangi dan Sekar Mirah memandanginya dengan cemas, Swandaru itu pun berusaha untuk tersenyum, “Aku tidak apa-apa.”
    Kedua orang perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Terdengar Pandan Wangi berdesis, “Syukurlah kakang Swandaru. Namun nampaknya sesuatu telah menyakiti kakang pada saat pertempuran itu berlangsung.”
    “Orang itu memang gila. Ia adalah saudara seperguruan bajak laut yang telah melukai kakang Agung Sedayu. Ia memiliki kemampuan untuk udara di sekitarnya. Rasa-rasanya aku memang berada di neraka. Untunglah, aku mampu mengatasinya, langsung menghancurkan sumber ilmu itu, sehingga akhirnya, maka seperti kau lihat, aku telah mengalahkan saudara seperguruan bajak laut itu.”
    Pandan Wangi mengangguk-angguk. Sementara Sekar Mirah pun menyahut, “udara panas itu terasa dari luar arena pertempuran.”
    “Ternyata bahwa kebesaran nama perguruan Ki Tumenggung Prabadaru dan ketiga bajak Taut itu tidak seimbang dengan kenyataan yang aku alami sekarang ini” berkata Swandaru.
    Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Meskipun is tidak dapat menyebut dengan terperinci, tetapi ia mera¬sakan tingkat ilmu orang yang bertempur melawan Swan¬daru itu berada di bawah tataran lawan Agung Sedayu.
    Ki Gede Menoreh yang kemudian mendekat pula, hanya dapat mengerutkan dahinya. Tetapi tidak ingin menyakiti perasaan Swandaru.
    Dalam pada itu, Ki Gede yang kemudian mendekati orang bertubuh kecil dan terbaring diam itu dengan hati-hati telah meraba tubuhnya. Namun tubuh itu rasa-rasanya telah menjadi beku. Ternyata luka-lukanya yang parah telah merenggut jiwanya. Luka pada leher orang itu telah menentukan segala-galanya.”
    Kiai Gringsing yang masih saja berada di tempat yang tersembunyi menarik nafas dalam-dalam. Namun, ia masih tetap berada di tempatnya. Rasa-rasanya ada se¬suatu yang tidak wajar. Orang bertubuh kecil itu sudah dilumpuhkan bahkan menurut pengamatan Kiai Gring¬sing sing dari tempatnya, orang itu agaknya telah terbunuh di peperangan. Namun rasa-rasanya pengaruh sirep itu masih saja mencengkam Tanah Perdikan Menoreh.
    Dalam pada itu, maka Ki Gede pun kemudian berkata kepada Swandaru, “Marilah Ngger. Kita naik ke pendapa. Mungkin Angger memerlukan pertolongan.”
    Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku tidak apa-apa Ki Gede. Hanya terasa panas yang telah menggigit tubuhku itu masih sedikit ber¬pengaruh.”
    “Karena itu, marilah. Angger memerlukan istirahat” berkata Ki Gede.
    Namun agaknya Ki Gede pun sedang mencari seseorang. Dalam keadaan yang demikian, ia tidak melihat Kiai Gringsing.
    Tetapi, sebelum Ki Gede bertanya, Swandaru telah berkata, “Guru berada di balik dinding. Agaknya aku memang memerlukan bantuan guru untuk perasaan sakit karena sentuhah udara dan uap panas itu.”
    “O” Ki Gede mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja mereka mendengar suara Kiai Gringsing lambat saja tanpa melihat orangnya, “Hati-hatilah. Dan biarlah aku disini.”
    Ki Gede mengerutkan keningnya. Ternyata bukan saja Ki Gede yang mendengar. Tetapi juga Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Swandaru.
    Karena itu, maka Swandaru pun tidak menunggu pertolongan Kiai Gringsing. Pandan Wangi lah yang kemudian menolongnya berdiri dan memapahnya mendekati dinding gandok.
    “Duduklah bersandar dinding,” berkata Ki Gede, “kita sedang menunggu sesuatu.”
    Swandaru pun kemudian duduk bersandar dinding. Namun katanya kemudian, “Aku hanya memerlukan waktu beristirahat sebentar. Kemudian aku akan dapat berbuat sesuatu lagi menghadapi lawan.”
    Dalam pada itu, di dalam gandok, Glagah Putih mendengar pula percakapan itu, karena Swandaru berada dekat pada dinding gandok. Bahkan ia pun mendengar saat Swandaru meletakkan punggungnya pada dinding gandok itu.
    Glagah Putih tidak dapat menahan diri untuk mengetahui apa yang terjadi. Hampir di luar sadarnya ia melekatkan mulutnya pada dinding gandok sambil bertanya, “Apakah kau tidak apa-apa kakang Swandaru?”
    Swandaru dan orang-orang yang ada di luar gandok mendengar pertanyaan itu. Sementara itu Swandaru pun menjawab, “Tidak Glagah Putih. Aku tidak apa-apa.”
    “Syukurlah. Aku tetap, di sini menunggui Kakang Agung Sedayu dan Ki Waskita. Mungkin ada orang yang dengan curang ingin berbuat jahat dengan memasuki bilik ini.” berkata Glagah Putih kemudian.
    “Tepat,” berkata Swandaru, “kau tetap di situ menjaga mereka yang sedang terluka.”
    Glagah Putih tidak bertanya lagi. Sementara Swandaru pun berusaha untuk mengusir perasaan sakit yang masih terasa di tubuhnya.
    Tetapi usaha itu tidak segera berhasil. Perasaan sakit dan panas itu masih saja terasa menggigit kulit. Seakan-akan kulitnya benar-benar telah tersiram uap air yang sangat panas, sehingga kulitnya itu bagaikan terkelupas.
    Namun dalam pada itu, ternyata Kiai Gringsing tidak ‘segera datang kepadanya untuk memberikan obat yang dapat mengurangi rasa sakit itu. Sehingga karena itu, maka untuk sesaat ia harus berusaha mengatasi perasaannya itu tanpa pertolongan obat apa pun juga.
    Ki Waskita, Pandan Wangi dan Sekar Mirah masih saja berdebar-debar. Jika tidak ada sesuatu, maka Kiai Gringsing tentu sudah berlari-lari mendapatkan muridnya yang terluka itu.
    Sebenarnyalah saat itu seseorang sedang bergerak mendekati orang-orang yang berada di belakang gandok itu. Beberapa langkah dari mereka orang itu berhenti.
    Ki Gede, Pandan Wangi, Sekar Mirah bahkan Swandaru pun melihat orang itu pula. Karena itu, maka mereka pun segera bersiaga. Tombak pendek di tangan Ki Gede pun telah merunduk, sementara tangan Pandan Wangi telah berada di hulu pedangnya. Dekat di sisi Swandaru, Sekar Mirah menggenggam tongkat baja putihnya semakin erat.
    “Luar biasa,” terdengar orang itu berdesis, “kalian telah berhasil membunuh muridku.”
    “Aku melawannya seorang diri” tiba-tiba saja Swandaru menyahut. Ia berusaha berdiri tegak meskipun perasaan sakit di tubuhnya masih mencengkamnya. Namun dengan sekuat-kuatnya ia menahannya seakan-akan perasaan sakit itu telah lenyap sama sekali.
    “O” orang yang baru datang itu mengangguk, “kau benar. Aku salah ucap. Aku memang melihat kau bertem¬pur seorang diri.”
    “Jadi kau adalah gurunya?” bertanya Swandaru kemudian.
    “Ya. Aku adalah gurunya. Aku juga guru ketiga bajak laut yang terbunuh itu, dan aku jugalah guru Tumenggung Prabadaru.” jawab orang itu.
    “Bagus,” sahut Swandaru, “aku sudah siap. Jika kau merasa kehilangan kelima orang muridmu dan ingin menuntut balas, maka kini sudah tiba waktunya.”
    Tantangan Swandaru itu telah mengejutkan Ki Gede, Sekar Mirah dan apalagi Pandan Wangi. Bagaimanapun juga, mereka mengetahui keadaan Swandaru. Apalagi jika ia harus bertempur melawan guru orang yang dibunuhnya itu.
    Namun tanggapan orang yang baru datang itu ter¬nyata sangat mengejutkan pula, “anak muda. Jangan memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang tidak kau mengerti. Jangan kau sangka aku tidak melihat apa yang terjadi. Kau memang berhasil membunuh muridku yang terakhir. Tetapi bahwa kau kemudian ingin menempatkan diri melawanku adalah suatu mimpi yang sangat buruk. Seharusnya kau mampu menilai dirimu sendiri. Kau hampir saja kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri melawan muridku yang terakhir. Bagaimana mung¬kin kau menantangku untuk bertempur.”
    “Kaulah yang tidak mampu menilai tingkat ilmu seseorang,” jawab Swandaru, “muridmu terbunuh tanpa dapat berbuat apa pun juga. Apakah kau kira, meskipun kau gurunya, memiliki ilmu dan kemampuan yang berlipat dari muridmu itu?”
    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Aku hormat kepadamu anak muda. Kau memiliki keberanian yang luar biasa. Tetapi aku ingin menasehatimu. Mungkin gurumu tidak pernah melakukannya.” orang itu berhenti sejenak, lalu, “sebaiknya kau setiap kali membuat penilaian atas ilmu yang kau miliki. Tangga-tangga kemampuan yang pernah kau injak sampai tingkat kemampuan yang sekarang.”
    Kemarahan Swandaru tiba-tiba saja meledak. Ia merasa terhina oleh kata-kata orang itu. Seakan-akan melupakan perasaan sakitnya, Swandaru melangkah menyibak orang-orang yang berdiri di sekitarnya.
    “Kau lihat Ki Sanak,” geram Swandaru, “aku dapat membunuh muridmu tanpa cidera sama sekali.”
    Orang itu mengerutkan keningnya. Ki Gede Menoreh menggamit Swandaru agar ia dapat mengekang dirinya sedikit. Tetapi Swandaru sama sekali tidak menghiraukannya.
    Orang yang datang kemudian itu berdiri tegak dengan sikap yang ragu. Namun kemudian orang itu bertanya, “Apakah kau ingin melihat, apakah kau akan mampu berbuat sesuatu atasku?”
    “Persetan” geram Swandaru.
    “Kau memang berani. Menyenangkan mempunyai murid seperti kau. Tetapi gurumu masih harus memberimu beberapa pengarahan,” berkata orang itu, “baiklah. Jika kau memang ingin mencoba, marilah. Mendekatlah. Aku berjanji untuk tidak bergerak sama sekali. Pergunakan cambukmu yang dahsyat itu. Sekali lagi aku berjanji, aku tidak akan menggerakkan ujung, jari kakiku sekalipun.”
    Kata-kata itu benar-benar satu penghinaan yang membuat darah Swandaru mendidih. Tiba-tiba saja Swandaru telah memutar cambuknya, dan sejenak kemudian cambuk itupun telah meledak.
    Sikap Swandaru itu benar-benar mencemaskan orang-orang yang menyaksikannya. Pandan Wangi berusaha untuk menenangkannya. Tetapi Swandaru justru mendorongnya menjauh sambil berkata, “Aku ingin membungkam kesombongannya dengan cambukku sebagaimana telah terjadi atas muridnya.”
    Pandan Wangi yang terdorong beberapa langkah, benar-benar menjadi cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun ia tidak menganggap bahwa guru orang yang telah melawan dan terbunuh oleh Swandaru itu melampaui kemampuan setiap orang, tetapi keadaan Swandaru masih belum mengijinkan. Swandaru masih dicengkam oleh perasaan sakit. Hanya karena darahnya yang telah mendidih sajalah maka rasa sakit itu telah dilupakannya.
    Dalam pada itu, Ki Gede dan Sekar Mirah sama sekali tidak juga dapat mencegahnya. Jika Pandan Wangi, isterinya tidak didengarnya, maka apalagi orang lain.
    Sementara itu, Swandaru pun telah melangkah semakin dekat. Orang yang menyebut dirinya guru lawannya yang sudah terbunuh itu benar-benar masih tetap berdiri tegak dan tidak bergerak. Satu sikap yang sangat menyakitkan hati.
    Demikianlah, ketika Swandaru sudah siap untuk bertempur melawan orang yang berdiri tegak itu, Kiai Gringsing pun dicengkam oleh keragu-raguan. Ada niatnya untuk mencegah Swandaru, karena ia yakin bahwa orang yang datang itu benar-benar memiliki kemampuan yang tinggi. Sikapnya, kata-katanya dan sirep yang masih terasa mencengkam Padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.
    Namun, ternyata Kiai Gringsing tidak berbuat sesuatu. Tiba-tiba saja timbul niatnya untuk sedikit memberi peringatan kepada Swandaru, bahwa ilmunya bukanlah ilmu terbaik yang pernah dimiliki oleh semua orang. Ia berharap bahwa dengan demikian Swandaru mengerti, bahwa yang dicapainya itu masih belum terlalu tinggi.
    Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian mengurungkan niatnya untuk mencegah Swandaru. Bahkan mungkin dalam keadaan yang demikian Swandaru pun tidak akan mendengarkannya. Biarlah ia mendapat sedikit pengalaman yang, mungkin akan berguna baginya.
    Namun dengan demikian, Kiai Gringsing tidak ingin mengorbankan Swandaru. Ia sudah bersiap mencegah malapetaka yang dapat terjadi atas Swandaru jika lawannya benar-benar menyerangnya.
    Untuk menjaga segala kemungkinan, maka Kiai Gringsing pun telah siap dengan ilmunya yang nggegirisi, yang akan dapat menjadi tabir yang akan melindungi Swandaru tanpa melakukan kecurangan dengan menyerang lawannya dari tempat yang tersembunyi.
    Tetapi untuk selanjutnya, Kiai Gringsing menjadi berdebar debar. Ia sadar, bahwa dalam keadaan yang memaksa, maka ia harus berbuat sesuatu.
    “Sebenarnya aku sudah ingin menjauhi dunia kekerasan seperti ini,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “sudah waktunya untuk menyepi, merenungi hidup yang sudah dijalani.”
    Tetapi Kiai Gringsing tidak akan sampai hati melepaskan muridnya dalam keadaan yang paling sulit seperti itu.
    Dalam pada itu, Swandaru pun melangkah semakin dekat. Cambuknya berputaran dan meledak-ledak. Namun ia masih belum sampai pada satu pijakan yang dapat menjangkau lawannya dengan ujung cambuknya.
    Kiai Gringsing menjadi semakin berdebar-debar ketika Swandaru melangkah lebih dekat lagi. Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh orang yang baru datang itu. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun telah bersiap sepenuhnya.
    Namun menilik sikapnya, maka orang itu tidak akan melakukan serangan yang dapat menentukan keadaan Swandaru. Agaknya orang itu pun hanya ingin sekedar menunjukkan kepada Swandaru, bahwa anak muda yang gemuk itu bukannya lawannya yang seimbang.
    Dalam pada itu, ketika Swandaru maju selangkah lagi, tangannya sudah mengayunkan cambuknya. Dari tempatnya jika ia maju selangkah maka ujung cambuk¬nya akan dapat menjangkau lawannya.
    “Aku akan melihat, apakah kulitnya kebal dan tidak akan terluka oleh ujung cambukku” geram Swandaru di dalam hatinya.
    Namun ketika Swandaru mengangkat kakinya untuk melangkah maju, tiba-tiba saja ia terkejut. Di luar sadarnya ia pun telah meloncat beberapa langkah surut.
    Demikian ia siap untuk melangkah maju, tiba-tiba saja tanah dihadapannya seakan-akan telah meledak, meskipun tidak terlalu keras. Dari dalam tanah seakan akan telah menyembur asap dan api yang menjilat.
    “Gila” geram Swandaru. Tetapi api yang hampir menjilatnya itu sudah terasa panasnya-bagaikan membakar kulitnya.
    Sejenak Swandaru termangu-mangu. Ketika ia melihat orang itu masih tetap berdiri di tempatnya, bahkan terdengar suara tertawanya meskipun tertahan, darah Swandaru menjadi semakin panas.
    Tiba-tiba saja ia ingin melakukannya lagi dengan serta merta, sebagaimana dilakukan atas lawannya yang terbunuh itu.
    “Aku harus berbuat dengan cepat. Aku harus melon¬cat dan dengan serta merta melecutnya. Jika cambukku mengenai tubuhnya, apalagi di tempat yang paling gawat, maka ia tidak akan mampu lagi melontarkan ilmu iblisnya itu.”

  853. Maaf Nyi Seno.

    Salah ketik, sehingga ke”bold” semuanya.

  854. bagian 2

    Sejenak Swandaru membuat ancang-ancang. Tetapi sebenarnyalah bahwa tubuhnya masih terasa sakit. Namun hatinya yang sakit oleh penghinaan telah mendorong¬nya untuk melakukan sesuatu yang justru sangat berbahaya baginya.
    Sejenak kemudian maka Swandaru pun telah siap. Dengan menghentakkan kekuatannya, maka ia pun telah siap meloncat. Tangannya pun telah terangkat untuk mengayunkan cambuknya dilambari dengan segenap kekuatan ilmu yang ada padanya.
    Namun demikian Swandaru meloncat, maka sekali lagi setapak dihadapannya telah menyembur asap api dari dalam tanah.
    Bagaimanapun juga, asap dan api yang panas itu telah menghentikan langkah Swandaru. Bahkan ia pun telah meloncat surut pula karena panas yang menyentuh tubuhnya.
    Swandaru menggeram. Kemarahannya telah menghentak-hentak dadanya. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Ternyata bahwa ia tidak dapat menembus panas yang dilontarkan oleh orang itu sebagaimana ia menembus udara yang panas di sekitar lawannya yang telah terbunuh. Guru dari lawannya yang telah terbunuh itu benar-benar dapat menghembuskan api. Bukan sekedar udara panas di sekitarnya.
    Namun Swandaru tidak dengan cepat menyerah. Ia masih berusaha beberapa kali. Namun akhirnya Swandaru itu pun menjadi letih. Apalagi tubuhnya yang masih terlalu lemah.
    Ketika usaha Swandaru menjadi mengendor, maka orang itu pun kemudian berkata, “Nah, anak muda. Nampaknya kau sudah menjadi letih. Baiklah. Kita hentikan permainan ini. Aku ingin bermain-main dengan orang-orang yang sebayaku. Mungkin sebaya umurnya. Atau mungkin sebaya ilmunya.”
    “Persetan” geram Swandaru. Namun sebenarnyalah bahwa ia sudah benar-benar kehabisan tenaga. Perasaan sakit di tubuhnya justru menjadi semakin terasa.
    Hanya karena harga dirinya yang sama sekali tidak mau tersentuh sajalah, maka Swandaru berusaha untuk tetap berdiri.
    Dalam pada itu, orang yang telah memberikan satu kenyataan yang sangat pahit bagi Swandaru itupun kemudian berkata, “Anak muda. Aku sudah memenuhi janjiku. Aku sama sekali tidak bergerak. Meskipun hanya ujung jari kakiku. Sekarang, jangan ganggu aku lagi. Aku ingin mengundang orang yang kini memperhatikan permainan kita. Orang yang agaknya sudah ada di sini sejak terjadi perkelahian antara anak muda itu dengan muridku.”
    Orang-orang yang ada di sekitar arena itu menjadi berdebar-debar. Mereka belum tahu pasti, siapakah yang dimaksud oleh orang itu. Mungkin salah seorang dari kedua orang perempuan yang ada di tempat itu, atau mungkin Ki Gede Menoreh.
    Namun ternyata bukanlah mereka yang dikehendaki. Dengan jantung yang berdebaran, maka ketiga orang itu melihat guru orang yang sudah terbunuh itu memutar tubuhnya. Berpaling kegelapan, ke arah sebatang dahan pohon yang tumbuh di belakang dinding halaman.
    “Ki Sanak,” berkata orang itu, “nampaknya kau sama sekali tidak mengacuhkan peristiwa yang terjadi di tempat ini. Marilah. Mungkin kita dapat berbicara serba sedikit. Menurut dugaanku, maka kau adalah salah seorang dari kawan anak muda yang berani ini, meskipun kau membiarkan saja apa yang telah terjadi sebagaimana ketiga orang yang menungguinya disini.”
    Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang berada di seba¬tang dahan dalam kegelapan itupun menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga bahwa orang itu tentu o¬rang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dan ia pun sama sekali tidak berusaha untuk melepaskan diri dari kemungkinan pengamatan orang itu, karena memang tidak ada orang lain yang pantas untuk menemuinya kecuali Kiai Gringsing sendiri.
    Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian meloncat turun. Sejenak kemudian maka ia pun telah muncul ketika ia meloncati dinding halaman dan memasuki halaman rumah Ki Gede di belakang gandok sebelah kanan.
    “Aku menghargai sikapmu Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “kau tidak bersungguh-sungguh ketika kau berusaha meyakinkan muridku, bahwa kau memang orang yang memiliki ilmu yang luar biasa.”
    “O, jadi kau adalah guru anak muda bercambuk itu?” bertanya orang itu.
    “Ya Ki Sanak. Akulah yang menuntunnya sekedar mengenal bagaimana caranya menggembala dengan cambuk” jawab Kiai Gringsing.
    “Kau agaknya suka merendahkan diri. Tetapi aku pun menghargai sikapmu dan sikap ketiga orang yang menunggui pertempuran ini. Kau dan ketiga orang ini sama sekali tidak berbuat sesuatu betapa pun muridmu itu mengalami kesulitan. Agaknya mereka terbiasa bersikap jantan sebagaimana muridmu itu sendiri.” berkata orang itu pula.
    “Mungkin memang begitu Ki Sanak. Namun dengan menyesal sekali, bahwa akhir dari pertempuran antara muridku dan muridmu itu bukanlah maksud kami,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “tetapi dalam pertempuran yang sengit dan dalam keadaan yang sulit, maka muridku merasa perlu untuk membela dirinya dengan menghentikan serangan-serangan muridmu.”
    “Ah, jangan begitu Ki Sanak. Aku menganggapmu seorang yang rendah hati. Tetapi jika kau mengulangi kata-katamu itu, maka kau justru akan memberikan kesan seorang yang sombong, seolah-olah kebetulan saja muridku mati tanpa perjuangan yang sewajarnya dari muridmu. Hanya karena kesalahan kecil, maka muridku pun terpaksa terbunuh.”
    “Maaf Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing, “sama sekali bukan maksudku untuk mengatakan demikian. Aku hanya ingin mengatakan bahwa bukan kebiasaan kami untuk membunuh, Barangkali kau juga melihat dalam pertempuran itu, muridku telah terdesak. Cara satu-satunya yang dapat ditempuh adalah cara sebagaimana telah dilakukannya itu.”
    Orang itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Muridmu memang lebih baik dari muridku. Ia memiliki segalanya. Kemampuan, keberanian dan kekuatan. Harga dirinya memang agak terlalu tinggi. Tetapi dengan itu ia mampu mengatasi perasaan sakitnya yang mencengkam.”
    “Aku tidak apa-apa” Swandaru tiba-tiba saja berteriak.
    Orang itu tersenyum, sementara Kiai Gringsing berkata, “Beristirahatlah Swandaru. Kau memerlukan itu.”¬
    Wajah Swandaru menjadi semakin tegang. Ia tidak tahu maksud gurunya. Tetapi kemudian ia menangkap arti kata itu sebagaimana di katakannya. Ia memang memerlukan istirahat. Tetapi Swandaru tidak ingin menunjukkan kelemahannya kepada guru orang yang telah dibunuhnya. Juga kepada Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Ki Gede. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak mengalami sesuatu, sementara Agung Sedayu terluka.
    Karena itu, maka Swandaru masih tetap berdiri tegak. Ia sama sekali tidak berdesah, meskipun perasaan sakit dan panas masih tetap menggigit tubuhnya.
    Namun adalah di luar dugaan Swandaru ketika orang yang telah berhadapan dengan Kiai Gringsing itu berkata, “Muridmu tidak akan mau beristirahat Ki Sanak. Agaknya ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya kepada gurunya.”
    Kiai Gringsing tidak menjawab, meskipun ia sependapat dengan orang itu. Tetapi dalam pada itu, Swandaru lah yang menggeram, “Kau terlalu sombong. Kau menganggap orang lain terlalu kecil.”
    Tetapi orang itu tersenyum. Jawabnya, “Maaf anak muda. Aku tidak menganggap kau terlalu kecil. Kau adalah orang yang mempunyai kelebihan dari mereka yang sebayamu dalam olah kanuragan. Seandainya kau melihat sesuatu yang tidak dapat kau atasi pada orang lain, misalnya aku, maka kau tidak perlu terlalu berkecil hati. Aku adalah orang yang jauh lebih tua berada di lingkungan olah kanuragan. Mungkin sebaya dengan gurumu. Karena itu, maka sulit bagimu untuk dapat mengimbangi kemampuanku. Bukan karena kekurangan padamu, tetapi adalah satu yang sangat wajar saja.”
    Swandaru menggertakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat menjawab. Ia mengakui kebenaran kata-kata itu. Dan bahkan terasa pada Swandaru bahwa orang itu memang tidak menganggapnya kecil sesuai dengan tingkatnya dalam masa berguru. Dan menurut tanggapan Swandaru dan bahkan orang-orang yang berada di belakang gandok itu, orang itu berkata dengan jujur.
    Dalam pada itu, karena Swandaru tidak menjawab, maka orang itu pun berkata kepada Kiai Gringsing, “Ki Sanak. Kau sudah melihat, bahwa muridku tidak dapat mengalahkan muridmu. Tetapi apakah itu ukuran, bahwa gurunya tidak akan dapat mengalahkan Ki sanak?-
    “Tidak,” jawab Kiai Gringsing, “aku tidak berpendapat demikian. Aku memiliki tataran ilmu yang sama. Karena itu, kekalahan seorang murid dari satu perguruan, bukan ukuran bagi guru mereka.”
    “Kau benar-benar seorang yang rendah hati” berkata orang itu. Namun orang itu merasa heran, bahwa murid dari orang yang rendah hati itu mempunyai harga diri dari yang agak berlebihan.
    “Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kehadiran Ki Sanak sekarang ini tentu bukannya tanpa maksud. Mungkin Ki Sanak hanya sekedar mengikuti murid Ki sanak. Tetapi mungkin ada maksud-maksud yang lain.”
    “Aku mohon kau dapat membayangkan perasaanku,” jawab orang itu, “sudah lima orang muridku terbunuh. Tumenggung Prabadaru terbunuh oleh Agung Sedayu yang ternyata adalah murid Ki Sanak. Seorang dari muridku yang menjadi bajak laut itu dibunuh juga oleh Agung Sedayu. Sekarang, satu lagi muridku terbunuh oleh muridmu yang lain.”
    “Kau mendendam?” bertanya Kiai Gringsing.
    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hidupku menjadi gersang setelah murid-muridku terbunuh. Aku kira tidak ada gunanya lagi aku hidup lebih lama. Namun demikian, sebelum aku mati aku ingin menguji, apakah aku memang tidak memiliki kemampuan untuk mengajari muridku sebagaimana Ki Sanak mengajari Agung Sedayu, sehingga ia mampu membunuh Ki Tumenggung Prabadaru, membunuh muridku yang menjadi bajak laut dan bahkan memiliki sisipan ilmu orang lain. Dan yang terakhir, muridmu yang lain telah membunuh muridku yang terakhir. Aku tidak ingin berbicara tentang Pangeran Benawa atau murid Hadiwijaya yang lain, karena aku merasa, bahwa aku memang tidak akan dapat mengimbanginya seandainya ia masih hidup sekarang ini.”
    “Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “apakah keuntunganmu jika mengetahui tingkat kemampuanmu dibandingkan dengan kemampuanku? Jika kau kalah, maka kau akan mati sebagaimana kau inginkan. Tetapi jika kau menang dan berhasil membunuh aku, lalu apa yang akan kau perbuat? Membunuh diri?”
    “Tidak. Aku tidak akan membunuh diri berkata orang itu. Lalu jika aku menang dan berhasil membunuhmu, maka aku justru berharap bahwa aku akan mem¬punyai pijakan kepercayaan baru atas diriku sendiri. Mungkin hidupku tidak lagi terasa gersang. Mungkin aku akan mengambil murid-murid baru di dalam padepokanku yang terpencil. Atau mungkin aku ingin mengambil muridmu yang luar biasa itu dan menempanya menjadi seorang yang memiliki ilmu yang melampaui kemampuanku.”
    “Persetan” geram Swandaru.
    Orang itu berpaling kepada Swandaru sambil tersenyum. Katanya, “Jika kau mendapat bimbingan yang sungguh-sungguh, maka kau akan dapat menjadi seorang yang luar biasa.”
    “Aku tidak memerlukan kau” jawab Swandaru.
    Orang itu tidak menyahut lagi. Tetapi ia masih tersenyum.
    “Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku pun mengerti bahwa yang kau lakukan adalah wajar. Kau merasa kehilangan karena murid-muridmu terbunuh. Tetapi apakah kau tidak mempunyai pertimbangan lain yang dapat merubah niatmu?”
    “Ki Sanak,” berkata orang itu, “jangan bersikap terlalu baik. Seharusnya kau dengan kasar menantangku dan mengharuskan aku di sini. Aku sudah siap untuk mati. Tetapi jika sikapmu terlalu baik, maka aku akan dapat berubah pikiran. Mungkin aku akan mengurungkan niatku untuk berkelahi. Namun dengan demikian, kau akan menyiksa aku seumur hidupku, atau yang urung hari ini itu sekedar menunda waktu, karena akhirnya aku pun tidak akan dapat menahan siksaan yang demikian dan pada satu saat aku pun akan datang kepada Ki Sanak untuk ber¬tempur.”
    “Sikapmu memang masuk akal Ki sanak. Baiklah. Jika kau tidak dapat mencari jalan lain, maka aku pun seharusnya tidak ingkar. Dua orang muridku telah menyakiti hatimu, karena mereka telah membunuh tiga orang muridmu. Tetapi kau pun harus menyadari, bahwa muridku melakukan pembunuhan itu dalam keadaan tan¬pa pilihan. Mereka dipaksa untuk melakukannya, justru untuk membela dirinya.”
    Orang itupun menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Gringsing dengan pandangan yang suram. Katanya kemudian dengan nada yang dalam, “Jangan sebut itu lagi Ki Sanak. Aku tahu bahwa murid-muridkulah yang telah mendesak murid-muridmu untuk membunuh mereka sendiri. Aku mengerti. Dan sudah tentu aku sama sekali tidak mengajari mereka untuk melakukan hal-hal yang ternyata telah mereka lakukan. Aku sama sekali tidak bermimpi bahwa murid-muridku akan menjadi bajak laut. Aku berbangga bahwa seorang dari muridku telah mengabdikan diri dan bahkan menjadi seorang Tumeng¬gung. Tetapi ternyata bahwa jalan yang ditempuhnya juga sesat, tidak jauh berbeda dengan ketiga saudara seperguruannya yang menjadi bajak laut. Bahkan di antara murid-muridku telah timbul permusuhan yang membuat hatiku menjadi sakit. Aku tidak tahu, siapakah yang bersalah. Apakah murid-muridku, atau gurunya yang telah bersalah. Dan yang terakhir, aku mengambil muridku yang baru saja terbunuh itu dari dunia yang hitam pula. Aku menemukannya dalam keadaan yang sangat parah. Aku obati orang itu sehingga sembuh meskipun kemudian ia menjadi bongkok. Aku berharap ia akan dapat menjadi orang yang baik. Tetapi ketika ia mendengar keempat saudara seperguruannya terbunuh, maka aku tidak dapat mencegahnya untuk membalas dendam. Tetapi akhirnya, sebagaimana telah terjadi, orang bongkok itu telah mati.
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun iapun masih bertanya, “Tetapi kenapa kau sendiri sekarang melakukan?”

    “Aku sudah kehilangan segala-galanya. Buat apa aku tetap hidup di padepokan terpencil itu? Nampaknya sudah jelas, bahwa semua muridku akan menjadi orang-orang terbuang menurut penilaian sewajarnya. Seandainya aku bertahan untuk hidup terus dan mengambil murid lagi, maka agaknya ia juga akan menjadi orang-orang yang menempuh jalan salah seperti murid-muridku yang terdahulu.” berkata orang itu.
    Kiai Gringsing mengerutkan dahinya. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Dalam keremangan malam ia tidak dapat melihat dengan pasti, kesan apakah yang tersirat pada wajahnya selagi ia berceritera tentang, murid-muridnya. Namun nampaknya ia benar-benar menyesali dirinya sendiri. Sebagai seorang guru, maka ia telah kehilangan harapannya untuk melihat hasil dari bimbingannya. Bahkan seandainya murid-muridnya masih hidup, maka ia pun selalu dibayangi oleh perasaan kecewa, karena sikap murid-muridnya itu.
    “Nah, sudahlah Ki Sanak,” berkata orang itu kemudian, “kita sudah berbicara panjang lebar. Semakin panjang kita berbicara maka nafsuku untuk bertempur men¬jadi semakin susut. Karena itu, kita sudahi pembicaraan kami. Kita akan mulai dengan satu pertempuran yang akan memaksa kita masing-masing untuk menguras kemampuan kita.
    “Baiklah Ki Sanak. Kita akan mengerahkan segenap kemampuan. Tetapi pada satu saat tertentu, kita akan berhenti” berkata Kiai Gringsing.
    Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa maksudmu, bahwa pada suatu saat kita akan berhenti?
    “Bukankah pada satu saat pertempuran di antara kita akan berhenti.” jawab Kiai Gringsing, “pada saat salah seorang di antara kita sudah tidak mampu lagi untuk melawan, maka itu akan berarti pertempuran berhenti.”
    “Aku akan berhenti kalau kita sudah sampai pada batas mati Ki Sanak. Aku akan membunuhmu. Aku tidak akan berhenti sebelum kau mati. Entahlah apa yang akan kau lakukan atasku jika kau menang. Apakah kau akan membunuh aku atau tidak, itu adalah persoalanmu.”
    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku melihat sesuatu yang kau paksakan. Kau ingin kelihatan garang. Kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah orang yang memiliki ketegasan bertindak. Tetapi, sebenarnya kau adalah seorang yang berhati lembut. Kau tidak berbuat atas dasar nuranimu. Tetapi kau justru ingin menunjukkan bahwa kau dengan sikap seorang guru telah membela kematian murid-muridnya. Dan celakanya sikap itu adalah sikap yang kurang mapan bagi seorang guru yang baik. Yang justru sesuai dengan nuranimu.”
    “Cukup,” bentak orang itu, “apakah aku kurang garang? Dan apakah aku belum menunjukkan sikap seorang yang kasar, yang tidak menghiraukan paugeran baik dan buruk, yang tidak mau mengerti persoalan orang lain dan yang menyimpan segala macam keburukan didalam diri¬nya.”¬
    “Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “jangan paksa dirimu.”
    “Persetan,” geram orang itu, “kau coba untuk melunakkan hatiku dengan cara yang licik itu anak setan.”
    “Umpatanmu tidak meyakinkan.” jawab Kiai Gring¬sing.
    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia berpaling kepada Ki Gede Menoreh, Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Katanya, “Kalian menjadi saksi. Aku tantang orang ini untuk berperang tanding.”
    Kiai Gringsing melihat orang-orang yang berdiri dekat di sebelah gandok itu termangu-mangu. Agaknya mereka pun bingung melihat sikap orang itu. Sikap yang sulit untuk dimengerti.
    Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing merasa bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Memaksa atau tidak memaksa diri orang itu telah menantangnya. Dan ia harus melayaninya.
    Demikianlah, maka orang itu pun kemudian bergeser agak menjauhi gandok itu. Ketika Kiai Gringsing pun bergeser pula, maka orang itu pun berkata, “Biarlah orang-orang di sekitar rumah ini tetap terkena pengaruh sirep. Aku tidak mau membuat mereka menjadi gelisah karena perkelahian ini.”
    “Aku sependapat Ki Sanak.” jawab Kiai Gringsing.
    “Nah, kalau kau-ingin mempergunakan cambukmu seperti muridmu aku tidak berkeberatan” berkata orang itu.
    “Mungkin nanti. Tetapi sekarang belum” sahut Kiai Gringsing.
    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bersiap untuk benar-benar bertempur melawan Kiai Gringsing.
    Sejenak kemudian, kedua orang itu pun sudah saling berhadapan dalam kesiagaan penuh. Untuk beberapa saat mereka masih belum berbuat sesuatu. Agaknya mereka sedang melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lakukan.
    Namun dalam pada itu, maka orang itu pun kemudian berkata, “Bersiaplah Kiai. Aku akan mulai.”
    “Aku sudah bersiap. Tetapi sebelum pertempuran ini terjadi, apakah kau dapat menyebut namamu?” tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya.
    “Baiklah,” jawab orang itu, “namaku tidak banyak dikenal orang. Yang mau menyebutnya, namaku adalah Kiai Jayaraga.”
    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Nama itu tidak akan banyak artinya, karena orang itu akan dapat menyebut nama yang manapun juga. Bahkan orang itu akan dapat menyebut dirinya bernama Kiai Gringsing sekalipun.
    Namun demikian Kiai Gringsing itu pun kemudian berkata, “Baiklah Kiai Jayaraga. Kita akan mulai dengan perang tanding seperti yang kau kehendaki.”
    Kiai Jayaraga tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja di hadapan Kiai Gringsing telah meledak sebagaimana terjadi pada saat Swandaru bersiap untuk menyerang orang itu.
    Seperti Swandaru Kiai Gringsing pun meloncat surut. Sementara itu, orang yang menyebut dirinya Kiai Jayaraga itu pun telah menyerangnya pula. Beberapa kali, setiap Kiai Gringsing meloncat menghindar, maka tiba-tiba saja di sebelahnya, bahkan kadang-kadang terlalu dekat, telah berhembus seolah-olah dari dalam tanah, uap dan api yang panas.
    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang itu tidak ingin menjajagi kemampuan lawannya dari awal. Ia langsung mempergunakan ilmunya yang dahsyat itu untuk menyerang.
    Dalam pada itu, karena Kiai Gringsing masih saja berloncatan menghindar, maka orang itupun berkata, “Kau tidak bersungguh-sungguh Ki Sanak?”
    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau memang aneh. Kau tidak mulai dari permulaan. Kau langsung menusuk ke ujung kemampuan kita. Baiklah. Jika demikian, maka kita akan langsung mempergunakan puncak-puncak kemampuan kita.”
    “Kita tidak perlu berbasa-basi” jawab orang itu, “aku tahu, bahwa kau memiliki ilmu yang luar biasa. Nah, sekarang saatnya kau mempergunakannya. Jika benar pendengaranku, maka yang telah membunuh orang yang menyebut dirinya Kakang Panji di medan perang Prambanan adalah guru Agung Sedayu. Agaknya kau lah yang telah melakukannya.”
    Wajah Kiai Gringsing menegang sejenak. Orang itu ternyata mengetahui tentang kematian orang yang menyebut dirinya Kakang Panji.
    “Aku tidak ingkar Ki Sanak” jawab Kiai Gringsing.
    “Nah, bukankah aku tidak perlu menjajagi ilmumu dari tataran permulaan? Kecuali jika orang yang membunuh Kakang Panji itu guru Agung Sedayu yang lalu.¬”
    “Tidak ada gurunya yang lain Ki Sanak,” sahut Kiai Gringsing, “tetapi ia tidak terpancang kepada unsur-unsur ilmu yang aku berikan saja. Ia mencari sendiri dan mengembangkannya.”
    Orang yang menyebut dirinya Kiai Jayaraga itu tidak menjawab. Tetapi serangannya menjadi semakin sering sehingga Kiai Gringsing menjadi semakin cepat berloncatan.
    Namun ketika serangan itu menjadi semakin cepat, maka Kiai Gringsing tidak lagi menghindarinya. Dibiarkannya saja tubuhnya terjilat oleh uap dan api yang bagaikan memancar dari dalam tanah. Namun setiap kali nampak seolah-olah dari tubuh Kiai Gringsing itu berguguran tepung yang berwarna kekuning-kuningan.
    “Bukan main” desis orang itu. Namun dalam pada itu, orang itu pun melihat guru Agung Sedayu itu mengusap pergelangan tangannya. “Ia mempunyai penangkal yang tidak tertembus oleh ilmuku.”
    Namun dalam pada itu, orang itu pun tidak terhenti oleh kegagalan itu. Dengan tangkasnya ia telah meloncat mendekati lawannya. Dengan telapak tangan terbuka ia menyerang. Tetapi tidak untuk mempergunakan sisi telapak tangannya. Tetapi benar-benar mempergunakan telapak tangannya.
    Kiai Gringsing tidak membiarkan tubuhnya disentuh. Agaknya kemampuan yang terpancar dari telapak tangannya itu lebih ganas dari uap dan api yang seolah”olah menyembur dari dalam tanah.
    Karena itu, maka Kiai Gringsing terpaksa meloncat menghindar. Ia sadar, sentuhan telapak tangan itu akan mempunyai arti yang gawat bagi tubuhnya.
    Dalam serangan-serangan berikutnya, maka gerak orang yang menyebut dirinya Kiai Jayaraga itu menjadi semakin cepat. Jika tangannya yang menyambar Kiai Gringsing itu tidak mengenai sasaran, tetapi menyentuh batang pepohonan, maka nampak asap yang mengepul. Telapak tangan itu akan membekas pada batang-batang pepohonan, sebagaimana tersentuh bara.
    Ki Gede, Pandan Wangi dan Sekar Mirah menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar. Sementara itu Swandaru berdiri tegak dengan jantung yang berdenyut semakin keras.
    Dalam pada itu, yang berada di gandok pun menjadi berdebar-debar pula. Agung Sedayu menjadi gelisah dan Ki Waskita pun menjadi tegang.
    “Aku ingin menyaksikan pertempuran itu” berkata Agung Sedayu.
    “Jangan,” Ki Waskita lah yang mencegahnya, “kau masih terlalu lemah, Agung Sedayu. Jika kau berada di pinggir arena itu, maka dapat terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki atasmu. Menurut pendengaranku, kau adalah sasaran utama dari kehadiran orang-orang itu. Jika kau nampak oleh orang yang menyebut dirinya Jayaraga itu, maka ia akan dapat berbuat curang dengan menyerangmu dari jarak jauh, sementara kau masih belum cukup kuat untuk melawan atau menghindarkan diri.
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Waskita. Karena itu, maka iapun mengurungkan niatnya untuk melihat.
    Swandaru menyaksikan pertempuran itu dengan perasaan yang bergejolak. Ada semacam kebanggaan di dalam dirinya tentang gurunya. Namun di samping itu terbersit pula kebanggaannya terhadap dirinya sendiri. Dengan tidak sadar, Swandaru berharap, bahwa pada suatu saat nanti, ia akan memiliki kemampuan seperti gurunya. Yang tidak terbakar oleh panasnya uap dan api yang terpancar dari ilmu orang yang menyebut dirinya Jayaraga itu.
    “Apakah yang dapat dilakukan oleh lawannya, jika tubuh guru tidak dapat disengat oleh perasaan pa¬nas” berkata Swandaru di dalam hatinya.
    Namun ia pun kemudian melihat, bahwa Kiai Gringsing, telah berusaha untuk menghindari serangan-serangan telapak tangan lawannya. Agaknya Kiai Gringsing benar-benar tidak mau disentuh oleh tangan itu.
    Dalam pada itu, pertempuran antara kedua orang yang berilmu tinggi itu pun menjadi semakin seru. Kiai Gringsing masih saja menghindari sentuhan telapak tangan lawannya. Namun ia bukan sekedar menghindari, tetapi dengan tangkasnya pula Kiai Gringsing telah menyerang lawannya pula.
    Telapak tangan Kiai Gringsing pun ternyata terbuka seperti lawannya. Tetapi jari-jarinya benar-benar merapat. Dengan jari-jarinya yang merapat itu Kiai Gringsing menyerang lawannya.
    Dalam serangan yang semakin cepat, maka sulitlah kedua belah pihak untuk benar-benar menghindarkan diri dari sentuhan serangan lawannya. Karena keduanya mampu bergerak secepat pusaran angin.
    Karena itu, maka tangan kedua orang itu sakali-sekali dapat menyentuh lawannya pula.
    Jika telapak tangan orang yang menyebut dirinya Kiai Jayaraga itu menyentuh tubuh Kiai Gringsing, maka rasa-rasanya kulitnya bagaikan terkelupas. Bahkan terlihat asap yang mengepul sekilas dan bau pakaian Kiai Gringsing yang bagaikan tersentuh api.
    “Pakaian Kiai Gringsing termakan oleh panasnya telapak tangan lawannya” desis Swandaru dan orang-orang yang berdiri di pinggir arena itu. “Itu tidak terjadi oleh uap dan api yang menyembur dari dalam tanah.”
    “Kulitnya pun telah terbakar-gumam Ki Gede.
    Namun mereka menjadi semakin tegang ketika mereka melihat akibat sentuhan tangan Kiai Gringsing. Meskipun tangan Kiai Gringsing tidak membakar seperti tangan lawannya, tetapi tubuh Kiai Jayaraga yang tersentuh tangan Kiai Gringsing telah terkoyak karenanya. Tubuh itu bagaikan tergores oleh tajamnya pusaka setipis daun ilalang.
    Terdengar kedua orang itu berdesis. Tetapi mereka masih bertempur semakin dahsyat. Keduanya mampu bergerak seperti putaran baling-baling ditiup badai.
    “Luar biasa” desis Ki Gede.
    Sementara itu, Pandan Wangi dan Sekar Mirah hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sementara Swandaru mulai berangan-angan tentang dirinya sendiri.
    Dalam pada itu, maka pertempuran itu pun semakin lama semakin cepat sehingga seakan-akan telah kehila¬ngan bentuknya. Keduanya hanya bagaikan bayangan di kelamnya malam. Terbang menyambar-nyambar dengan tangan yang mengembang. Bahkan tangan-tangan mereka pun seakan-akan telah berubah menjadi berpasang-pasang mengelilingi seluruh tubuh mereka masing-masing.
    Namun, akhirnya keduanya menjadi jemu dengan cara yang menguras tenaga itu. Ternyata Kiai Jayaraga itu pun berkata, “He, apakah kita akan melanjutkan permainan ini? Luka-luka di tubuhku menjadi berdarah. Sementara luka-luka di tubuhmu telah mengelupas kulit dan daging. Tetapi cara begini tidak akan dapat mengakhiri pertempuran ini dengan cepat.”
    “Jadi bagaimana yang kau inginkan? Bukankah kita masing-masing telah dapat saling melukai? Siapa yang lukanya menjadi lebih banyak dan memenuhi tubuhnya, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk menang dalam pertempuran ini, karena orang itu akan kehabisan tenaga.” sahut Kai Gringsing.
    “Tetapi aku menjadi jemu. Pertempuran begini tidak menarik” berkata Kiai Jayaraga, “tetapi terserah, kepadamu jika kau memang ingin bertempur seperti ini. Tubuhku sudah cukup kau lukai. Aku tidak mau lagi tergores oleh tanganmu.”
    “Mau atau tidak mau aku akan melakukannya. Kecuali jika kau menyerah” berkata Kiai Gringsing.
    “Jangan seperti anak kecil,” berkata Kiai Jayaraga, “betapa pun kau merendahkan dirimu, tetapi aku kira kau akan berusaha untuk tetap hidup. Kecuali jika terpak¬sa karena kau tidak mampu lagi bertahan.”
    “Aku masih mampu mengimbangi kecepatan gerakmu. Aku memang terluka oleh apimu. Tetapi kau pun terluka oleh tusukan tanganku. Ternyata kekebalanku terhadap uap dan apimu yang menyembur dari dalam tanah itu tidak mampu menahan panas di telapak tanganmu.” jawab Kiai Gringsing sambil mengelak ketika lawannya menyerangnya dengan telapak tangannya mengarah keningnya.
    “Jangan keningku” desis Kiai Gringsing.
    “Persetan” geram orang itu “aku akan bersungguh-sungguh. Terserah kepadamu, apakah kau akan bersungguh-sungguh atau tidak.”
    “Kau terlalu baik. Kau selalu memperingatkan lawanmu jika kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya bagi lawanmu itu” berkata Kiai Gringsing.
    Tetapi orang itu menggeram. Katanya, “Jangan merajuk. Bersiaplah. Aku tidak mau bertempur seperti kanak-kanak ingusan. Jika kita mempergunakan cara ini, maka tiga hari tiga malam kita tidak akan selesai.”
    “Apakah kau tidak tahan bertempur tiga hari tiga malam?” bertanya Kiai Gringsing.
    “Mungkin aku tahan lima hari lima malam tanpa berhenti jika kau kehendaki. Tetapi kemampuan ilmu sirep itu akan lebih cepat berakhir. Bahkan tidak akan sam¬pai ujung pagi ini. Kecuali jika kita memang ingin memamerkan kemampuan ini kepada banyak orang.”
    K A Gringsing menarik nafas. Namun tiba-tiba saja ia menjadi tegang. Ia melihat lawannya itu benar-benar tidak lagi menyerang dengan telapak tangannya. Tetapi orang yang menyebut dirinya Jayaraga itu justru bergeser menjauh,
    “ Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Kiai Gringsing.
    “Aku akan mengambil jarak yang cukup,” jawab orang itu, “aku akan menyerangmu dengan caraku. Terserah kepadamu, apakah kau akan melawan atau tidak. Jika kemudian kau mati, itu bukan salahku.”
    Kiai Gringsing termangu-mangu. Tetapi ia tidak boleh bermain-main dengan lawannya. Agaknya lawannya memang memiliki ilmu yang sangat dahsyat.
    Tetapi sesuatu telah bergejolak di dalam dada Kiai Gringsing. Ternyata ia masih terpaksa untuk melepaskan ilmunya yang sudah lama sekali tersimpan. Baru kemudian karena ia harus berhadapan dengan orang yang bernama kakang Panji, maka ilmu yang tersimpan itu terpaksa diungkapkan. Namun kini, ia tidak dapat membiarkan dirinya hancur oleh ilmu lawannya. Karena itu, maka dengan terpaksa sekali iapun harus mempergunakannya.
    “Justru puncak ilmu itu” gumam Kiai Gringsing.
    Perlahan-lahan dirabanya pergelangan tangannya. Ia harus memusatkan nalar budinya. Ia harus melawan ilmu lawannya yang belum diketahui tingkat dan tatarannya.
    “Mungkin puncak ilmuku ini pun tidak akan mampu melawannya” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.
    Namun dalam pada itu, ia menjadi gelisah pula tentang muridnya, Swandaru. Jika ia melihat, bagaimana Kiai Gringsing mampu mengungkapkan ilmunya yang nggegirisi, maka bagaimanapun juga anak itu tentu mengharapkan, bahwa pada satu saat iapun akan dapat” melakukannya.
    “Tetapi masih harus dipertanyakan, untuk apa?” keragu-raguan itu sudah timbul sejak lama di hati Kiai Gringsing terhadap muridnya yang gemuk itu.
    Tetapi Kiai Gringsing tidak mempunyai banyak waktu untuk merenung. Karena sejenak kemudian, orang yang menyebut dirinya Jayaraga itu sudah berdiri tegak dengan tangan teracu ke depan, sementara kedua telapak tangannya masih saja terbuka.
    “Ki Sanak,” berkata Ki Jayaraga, “cepatlah sedikit. Jangan mati sebelum melawan, karena dengan demikian seakan-akan aku sudah berbuat licik, menye¬rang lawan sebelum bersiap.”
    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun ia memang harus menghadapinya. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian berdiri tegak dengan tangannya bersilang di dadanya.
    Meskipun demikian, Kiai Gringsing itu masih juga sempat bertanya, “Kenapa kau mengambil jarak yang demikian jauhnya Ki Sanak. Apakah dengan demikian, kau ingin membatasi kemampuan ilmumu agar tidak menghancurkan tubuhku.”
    “Bukan ilmuku. Tetapi aku sadar, bahwa kau pun akan membentur seranganku. Jika seranganku gagal, maka aku berharap ilmumulah yang tidak akan melumatkan tubuhku. Meskipun seandainya aku harus mati, biarlah tubuhku masih utuh sebagaimana masa hidupku.”
    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Orang itu memang aneh. Nampaknya ia bukan orang-orang kejam sebagaimana para bajak laut yang diceriterakan oleh orang-orang yang menyaksikan pertempuran mereka di Watu Lawang. Dan nampaknya orang ini pun tidak segarang Ki Tumenggung Prabadaru sendiri.
    Meskipun demikian, Kiai Gringsing harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin orang ini justru sedang mengatur satu perangkap yang licik.
    Sesaat suasana benar-benar menjadi tegang. Kiai Gring¬sing pun telah berdiri tanpa bergerak. Dipandanginya kedua tangan lawannya yang teracu ke depan dengan telapak tangan yang mengembang.
    “Beberapa saat kemudian, dalam keremangan malam itu, nampak semacam kabut yang putih kemerahan seolah-olah memancar dari kedua belah tangan orang yang menyebut dirinya Kiai Jayaraga itu. Kabut itu perlahan-lahan mengalir mengarah ke tubuh Kiai Gringsing yang berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada. Ia sadar, bahwa lawannya benar-benar ingin mengadu kemampuan ilmu mereka yang paling dalam.
    Untuk beberapa lamanya, kabut itu mengalir semakin mendekati tubuh Kiai Gringsing. Ujung dari kabut yang putih kemerah-merahan itu bagaikan kepala seekor ular yang siap mematuk tubuh Kiai Gringsing yang berdiri diam.
    Orang-orang yang menyaksikan pertempuran yang aneh itu menjadi tegang. Ki Gede berdiri tegak dengan wajah yang berkerut. Sementara Pandan Wangi dan Sekar Mirah di luar sadar mereka telah saling merapat. Sedangkan Swandaru berdiri tegak dengan tanpa bergerak sama sekali. Bahkan nafasnya pun rasa-rasanya telah berhenti mengalir.
    Di dalam gandok, Agung Sedayu dan Ki Waskita benar-benar menjadi, berdebar-debar. Mereka tidak melihat apa, yang terjadi. Tetapi mereka merasakan ketegangan yang sedang mencengkam. Seakan-akan di belakang gandok itu sedang terjadi dua kekuatan ilmu yang saling mendorong untuk saling menghancurkan.
    Dalam pada itu, Glagah Putih yang hampir, tidak dapat menahan diri lagi itu pun telah berdiri merapat dinding. Tetapi dinding kayu itu ternyata cukup rapat, sehingga tidak ada lubang yang dapat dipergunakannya untuk melihat keluar.
    “Rasa-rasanya aku ingin memecahkan dinding ini” berkata Glagah Putih di dalam hatinya. Tetapi ia tidak berani melakukannya, karena dengan demikian kakaknya akan dapat menjadi marah kepadanya, karena ia telah merusak sebagian dari rumah Ki Gede. Tetapi keinginannya untuk melihat apa yang terjadi, telah membuatnya bagaikan berdiri di atas api.
    Untuk beberapa saat lamanya, orang-orang yang berada di dalam gandok itu tidak mendengar sesuatu. Namun kemudian yang mereka dengar adalah suara ber¬desis, seakan-akan berpuluh-puluh ekor ular telah berdesis bersama-sama.
    Dalam pada itu, ujung kabut yang berwarna putih kemerah-merahan itupun menjalar terus perlahan-lahan mengarah ke tubuh Kiai Gringsing. Semakin lama semakin dekat. Sementara itu, Kiai Gringsing masih tetap berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada.
    Ketika ujung kabut itu hanya tinggal selangkah saja dari tubuh Kiai Gringsing, Ki Gede, Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Swandaru menjadi sangat cemas. Mereka sadar, bahwa kabut itu tentu merupakan sejenis senjata yang sangat berbahaya. Mungkin kabut itu akan membakar sasarannya, tetapi mungkin juga kabut itu adalah uap beracun yang sangat keras, yang membuat tubuh lawannya menjadi beku dan kejang, karena darahnya mengental di saluran-salurannya.
    Namun dalam pada itu, ternyata ujung dari kabut itu tiba-tiba saja terhenti. Meskipun tidak nampak oleh mata wadag, namun rasa-rasanya serangan Kiai Jayaraga itu telah membentur sebuah perisai tepat di hadapan Kiai Gringsing.
    Benturan itu telah menimbulkan satu kesan yang dahsyat. Seakan akan dua kekuatan saling mendesak. Ujung serangan yang aneh dari Kiai Jayaraga itu mendesak perisai yang agaknya telah dipasang oleh Kiai Gringsing, namun tidak nampak oleh mata wadag. Tetapi agaknya tidak terlalu mudah untuk menembus perisai yang tidak kasat mata itu.
    Untuk beberapa lamanya, kedua macam ilmu itu saling mendesak dan saling mendorong. Sekali-sekali benturan itu bergeser mendekati Kiai Gringsing. Tetapi tidak sampai sejengkal kemudian, maka kekuatan Kiai Gringsing telah mendesaknya kembali, sehingga jaraknya menjadi bergeser menjauh.
    Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang berdiri tegak dengan menyilangkan tangannya di dadanya itu pun nampaknya telah mengerahkan segenap kemampuannya, sementara lawannya pun menjadi semakin tegang. Tangan yang terjulur ke depan itu menjadi bergetar. Dan kabut yang berwarna putih kemerahan itu pun seakan-akan menjadi semakin lama semakin tebal. Namun kabut itu ternyata masih belum mampu menembus satu jenis perisai yang tidak nampak yang mengurung tubuh Kiai Gringsing.
    Ketegangan benar-benar telah mencengkam halaman rumah Ki Gede yang berada di belakang gandok itu. Semua orang yang menyaksikannya bagaikan menjadi beku. Bukan saja darah seakan-akan telah berhenti mengalir, tetapi mereka pun rasa-rasanya tidak sempat lagi menarik nafas.
    Demikianlah dua kekuatan ilmu telah berbenturan dengan dahsyatnya., Saling mendesak, saling mendorong sehingga benturan kedua ilmu itu setiap kali bergeser.
    Sebenarnyalah pada saat yang demikian, baik Kai Jayaraga maupun Kiai Gringsing telah mengerahkan segenap kemampuan ilmu mereka. Keduanya memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Meskipun Kiai Gringsing sebelumnya merasa, bahwa waktunya telah tiba untuk menyepikan diri dan menghindari benturan ilmu kanuragan dalam upayanya untuk menemukan ketenangan di hari tuanya, namun dalam keadaan yang demikian, ia tidak akan dapat ingkar lagi. Ia harus melepaskan puncak kemampuannya jika ia sendiri tidak ingin lumat.
    Ternyata bahwa benturan dua jenis ilmu itu telah menggetarkan udara di sekitarnya. Meskipun seakan-akan benturan itu tidak menimbulkan angin dan badai serta tidak memancarkan panas seperti ilmu Kiai Jayaraga sebelumnya, namun pengaruhnya terasa bukan saja langsung menggetarkan isi dada orang-orang yang ada di sekitar arena. Bahkan mereka yang berada di dalam gandok itu pun merasakan, udara seakan akan telah bergetar dengan gelombang getaran yang semakin lama semakin cepat.
    Dalam pada itu, baik Kiai Gringsing maupun Kiai Jayaraga telah mengerahkan segenap ilmu mereka. Ilmu yang saling mendesak dan mendorong. Jika ujung kabut yang seakan-akan menjadi semakin pekat itu berhasil menyentuh tubuh sasarannya, maka akan dapat menumbuhkan pengaruh yang sangat buruk pada tubuh dan bahkan berpengaruh kepada jaringan nalarnya.
    Namun Kiai Gringsing agaknya telah mampu menahan dorongan kabut yang semakin pekat itu. Pada saat saat tangan Kiai Jayaraga menjadi semakin gemetar, maka tubuh Kiai Gringsing yang berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada itu justru seakan-akan telah mengepulkan asap. Tipis sekali, berwarna putih kebiruan.
    Dalam ketegangan yang memuncak, mereka yang berdiri di pinggir arena itu melihat daun-daun pepohonan yang berguguran. Bukan saja daun yang sudah berwarna kekuningan. Tetapi daun-daun yang hijau pun menjadi layu dan runtuh sehelai-sehelai bagaikan hujan yang menjadi semakin deras.
    Dalam pada itu, dalam kegelisahan yang sangat, Ki Gede, Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Swandaru melihat, bahwa ujung kabut yang memancar dari tangan Kiai Jayaraga itu bagaikan mendidih. Seolah-olah dengan menghentakkan kekuatan ujung kabut itu ingin menembus pertahanan Kiai Gringsing yang rapat.
    Namun ketika asap di tubuh Kiai Gringsing menjadi semakin tebal maka ujung kekuatan ilmu Kiai Jayaraga itu justru bagaikan terdesak. Perlahan-lahan benturan dan kekuatan itu mulai bergeser. Justru menjauhi tubuh Kiai Gringsing. Semakin lama semakin jauh.
    Gejolak yang dahsyat telah terjadi pada benturan dua kekuatan raksasa yang sulit dimengerti itu. Kabut yang putih kemerahan itu menjadi semakin pekat. Warna kemerahan itu rasa-rasanya bagaikan semakin membara. Tetapi, tidak ada pancaran panas dari kekuatan ilmu keduanya.
    Ki Gede benar-benar menahan nafas ketika ia merasakan bahwa benturan kekuatan ilmu itu benar-benar telah sampai ke puncak. Kedua orang yang bertempur itu telah menjadi basah oleh keringat. Bahkan tubuh Kiai Jayaraga telah bergetar pula, bukan saja kedua tangannya yang teracu ke depan, sementara asap yang mengepul dari tubuh Kiai Gringsing pun menjadi semakin menebal.
    Dalam puncak benturan kekuatan ilmu itu, garis benturan yang bagaikan bayangan gejolak pengerahan nalar budi dalam ungkapan ilmu dari dua orang pinunjul itu menjadi semakin dahsyat pula.
    Ki Gede yang melihat benturan antara dua kekuatan ilmu itu menjadi semakin tegang. Seakan-akan ia melihat gejolak yang dahsyat dari dua kekuatan raksasa yang tidak ada bandingnya. Yang satu ingin mendesak dan mendorong yang lain, sementara yang lain bertahan dengan segenap kekuatan yang tidak ada taranya.
    Kabut yang terjulur dari kedua telapak tangan Kiai Jayaraga itu pun telah menjadi semakin pekat. Ujungnya bergejolak semakin dahsyat. Namun dalam pada itu, kekuatan ilmu Kiai Gringsing ternyata telah mendorong ujung kabut itu perlahan-lahan ke arah Kiai Jayaraga sendiri.
    Tangan dan tubuh Kiai Jayaraga menjadi semakin bergetar. Bahkan kabut yang terjulur itu pun telah menjadi bergetar pula Dengan segenap kemampuan yang ada, maka Kiai Jayaraga benar-benar telah berusaha untuk mendesak kekuatan Kiai Gringsing ke arah orang tua itu. Tetapi Kiai Gringsing pun telah mengerahkan segenap ilmunya pula, sehingga mendorong benturan antara dua kekuatan itu justru ke arah Kiai Jayaraga.
    Pada puncak kemampuan masing-masing, maka batas benturan kedua ilmu itu benar-benar telah bergeser, ke arah Kiai Jayaraga. Meskipun kekuatan ilmu Kiai Gringsing tidak nampak sebagaimana kekuatan ilmu Kiai Jayaraga, tetapi yang tidak nampak itu jelas terasa adanya.
    Namun betapa pun juga, benturan ilmu itu sampai juga kepada akhirnya. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu. Mengerahkan tenaga yang ada di dalam diri masing-masing.
    Pada saat-saat terakhir, maka batas benturan ilmu itu menjadi semakin bergeser mendekat kepada Kiai Jayaraga yang berdiri dengan tubuh yang bergetar. Wajahnya menjadi tegang, namun semakin lama menjadi semakin pucat. Tangannya yang gemetar itu nampaknya tidak lagi mampu bertahan oleh desakan kekuatan lawannya:
    Pada saat-saat yang menegangkan itu, tiba-tiba dari bibirnya meleleh darahnya yang merah.
    Ki Gede menjadi semakin tegang pula. Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Swandaru pun memperhatikan keadaan keduanya. Mereka pun sempat melihat dengan ketajaman penglihatan mereka, sesuatu meleleh dari bibir Kiai Jayaraga.
    Dengan demikian, maka tubuh itupun semakin lama menjadi semakin bergetar. Bahkan kemudian terjadilah sesuatu yang menentukan. Dalam keadaan yang terakhir itu, Kiai Jayaraga telah terdorong setapak surut.
    Tidak ada lagi harapan bagi Kiai Jayaraga. Sejenak kemudian, tekanan Kiai Gringsing pun menjadi semakin menentukan. Batas benturan itu pun menjadi semakin dekat. Sejengkal saja dari ujung kedua tangan Kiai Jayaraga.
    Namun tiba-tiba saja Ki Gede terkejut. Batas benturan itu perlahan-lahan justru telah bergeser pula. Menjauh dari kedua ujung tangan Kiai Jayaraga yang terjulur ke depan.
    “Apa yang telah terjadi?” bertanya Ki Gede di dalam hatinya.
    Ketegangan di hatinya pun memuncak. Rasa-rasanya dadanya bagaikan meledak.
    “Apakah dengan demikian berarti bahwa kekuatan ilmu Kiai Gringsing. mulai terdesak?” pertanyaan itu telah mencengkam jantungnya.
    Namun dalam pada itu, Ki Gede melihat kabut yang menjalar dari kedua tangan Kiai Jayaraga yang mengembang itu menjadi semakin menipis. Warna yang membara itu bagaikan pudar, sehingga akhirnya, kabut itu bagaikan lenyap sama sekali.
    Tetapi dalam pada itu, sesuatu telah terjadi pada Kiai Jayaraga. Ia ternyata tidak lagi mampu berdiri tegak. Tubuhnya yang gemetar itu seolah-olah kehilangan keseimbangannya, sehingga akhirnya ia pun telah jatuh terduduk pada lututnya.
    Sejenak Ki Gede termangu-mangu. Demikian pula Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Swandaru. Dalam ketegangan itu mereka berpaling ke arah Kiai Gringsing.
    Ternyata Kiai Gringsing masih berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada. Asap yang mengepul dari tubuhnya, perlahan-lahan menjadi semakin tipis, sehingga akhirnya lenyap sama sekali.
    Namun sementara itu, orang-orang yang berada di pinggir arena itu pun masih belum beranjak dari tempat¬nya. Mereka masih belum mengetahui perkembangan terakhir dari pertempuran ilmu yang mendebarkan itu.
    Baru sejenak kemudian, Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tangannya yang bersilang di dadanya itu pun telah diurainya.
    Perlahan-lahan Kiai Gringsing melangkah ke depan. Kakinya seakan-akan menjadi sangat berat. Bahkan langkahnya pun nampak seakan-akan Kiai Gringsing itu mengalami kelelahan yang sangat.
    Sebenarnyalah Kiai Gringsing telah mengerahan segenap kemampuan dan tenaganya. Karena itu, iapun mengalami keletihan yang luar biasa. Namun ia berhasil bertahan dari serangan lawannya, sehingga ia tidak mengalami terluka di bagian dalam tubuhnya, meskipun untuk melangkah beberapa langkah saja, kakinya terasa terlalu berat dibebani oleh tubuhnya yang letih.
    Dengan langkah yang letih, Kiai Gringsing berusaha mendekati lawannya yang kemudian telah terduduk lesu. Kepalanya menunduk dan kedua tangannya berusaha untuk menopang tubuhnya yang lemah.
    Dua langkah di hadapan lawannya, Kiai Gringsing berhenti. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Bagaimana keadaanmu Ki Sanak?”
    Orang itu mengangkat wajahnya sejenak. Namun kemudian dengan suara yang kurang jelas ia menjawab, “Kau menang Ki Sanak. Aku terluka di dalam.”
    “Apakah kau mempunyai obatnya?” bertanya Kiai Gringsing pula.
    “Aku memerlukan air” desisnya.
    Kiai Gringsing pun kemudian berpaling kepada Swandaru. Katanya, “Swandaru. Tolong, ambilkan air bagi Kiai Jayaraga”
    Swandaru termangu-mangu. Namun ia tidak dapat menolak perintah gurunya. Bersama Pandan Wangi iapun kemudian meninggalkan tempat itu untuk mengambil air.
    Meskipun pada tubuh Swandaru sendiri masih terasa sengatan rasa sakit dan pedih, namun ia pergi juga ke sumur. Dengan mangkuk yang diambil oleh Pandan Wangi di dapur, maka mereka pun kemudian membawa air yang diminta oleh Kiai Jayaraga.
    “Terima kasih.” desis Kiai Gringsing yang menerima mangkuk itu. Lalu katanya kepada Kiai Jayaraga, “kau memerlukan air?”
    Ternyata keadaan Kiai Jayaraga menjadi semakin lemah. Dengan susah payah ia berhasil mengambil sebuah bumbung kecil dari kantong ikat pinggangnya yang lebar. Kemudian menaburkan isinya ke dalam mangkuk yang berisi air itu.”
    “Tolong” desis Kiai Jayaraga.
    Kiai Gringsing mengerti, bahwa ia harus mengaduk air di dalam mangkuk itu. Karena itu, maka ia pun melakukannya. Setelah campuran itu menjadi rata, maka Kiai Gringsing telah memberikan obat itu kepada Kiai Jayaraga.
    Seteguk demi seteguk Kiai Jayaraga telah minum obatnya sendiri. Hampir seluruh isi mangkuk itu dihabiskannya.
    “Terima kasih,” desisnya, “mudah-mudahan aku tidak terlambat. Aku telah terluka oleh kekuatanku sendiri”
    Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia pun berusaha untuk membantu Kiai Jayaraga duduk dengan baik.
    “Kiai,” berkata Kiai Jayaraga, “ilmumu luar biasa. Aku tahu, bahwa kau tidak ingin membunuhku. Tetapi dorongan kekuatanku sendiri yang terdorong oleh perisaimu yang tidak dapat aku tembus itu, membuat dadaku menjadi bagaikan retak.
    “Tenanglah,” berkata Kiai Gringsing, “kau dapat menyembuhkannya. Aku juga memerlukan waktu untuk memulihkan keadaanku. Aku menjadi sangat letih.”
    Kiai Jayaraga tidak menjawab lagi. Iapun kemudian duduk sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Dengan segenap kemampuan nalar budinya, maka Kiai Jayaraga itu berusaha untuk mengurangi keparahan luka-luka di dalam dirinya.
    Sementara itu, ternyata Kiai Gringsing pun telah berbuat serupa. Ia pun telah duduk bersila, beberapa langkah dari Kiai Jayaraga.
    “Aku harus mengatur pernafasan dan aliran darahku,” gumam Kiai Gringsing, “mungkin susunan urat-uratku yang telah bekerja terlalu keras juga memer¬lukan penataan sehingga dapat bekerja sewajarnya.”
    Kiai Gringsing kemudian sebagaimana dilakukan oleh Kiai Jayaraga, telah memusatkan segenap daya kemampuan batinnya untuk melihat ke dalam dirinya sendiri.
    Demikianlah untuk beberapa saat kedua orang tua itu telah duduk diam sambil menundukkan kepala mereka. Agaknya keduanya memang memerlukan waktu untuk melakukannya, agar mereka tidak mengalami kesulitan di dalam diri mereka untuk selanjutnya.
    Ki Gede, Sekar Mirah, Swandaru dan Pandan Wangi pun kemudian memperhatikan keduanya dengan ketegangan yang masih mencengkam jantung. Rasa-rasanya mereka pun telah hanyut pula ke dalam satu keadaan sebagaimana dilakukan oleh Kiai Gringsing dan Kiai Jayaraga.
    Swandaru yang tidak dapat mengingkari perasaan sakitnya, telah terpengaruh pula oleh sikap kedua orang tua itu. Karena itu, maka iapun kemudian telah duduk bersandar dinding gandok.
    Pandan Wangi membiarkan saja Swandaru dalam sikapnya. Dengan demikian keadaannya tentu akan menjadi lebih baik daripada ia berusaha untuk tidak mengakui keadaannya yang sebenarnya.
    Namun dalam pada itu, rasa-rasanya Ki Gede, Sekar Mirah dan Pandan Wangi telah mendapat tugas untuk mengawasi keadaan, sehingga orang-orang yang sedang berusaha untuk menolong dirinya sendiri itu tidak akan terganggu.
    Sementara itu, bintang-bintang di langit pun beredar semakin ke Barat. Bahkan di langit pun telah mulai membayang warna fajar. Meskipun demikian, masih belum se¬orangpun di rumah itu telah terbangun. Cengkaman ilmu sirep yang dilontarkan oleh murid Kiai Jayaraga yang menyebut dirinya bernama Lodra, kemudian dikuatkan oleh Kiai Jayaraga itu sendiri, ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga pengaruhnya masih terasa sampai saat menjelang dini hari.
    . Ketika di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok, maka yang pertama-tama menyelesaikan pemusatan nalar budinya adalah Kiai Gringsing. Beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan ia telah mengurai tangannya.
    Ki Gede mendekatinya ketika Kiai Gringsing kemudian bangkit berdiri.
    “Bagaimana dengan keadaan Kiai?” bertanya Ki Gede.
    Kiai Gringsing mengulangi tarikan nafasnya dua tiga kali. Lalu katanya, “Aku sudah merasa segar kembali Ki Gede.”
    “Swandaru juga berusaha untuk mengurangi rasa sakitnya” berkata Ki Gede.
    “Seharusnya ia melakukan sejak beberapa saat yang lalu. Tetapi anak itu kurang menyadari keadaan dirinya” desis Kiai Gringsing hampir berbisik.
    Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Kiai Gringsing pun berkata Mudah-mudahan pengalamannya hari ini memberinya peringatan, bahwa kemampuannya masih jauh dari pantas untuk hadir di antara orang-orang seperti Kiai Jayaraga itu.”
    Ki Gede berpaling sejenak. Swandaru masih duduk bersandar dinding, sementara Pandan Wangi berdiri beberapa langkah di sampingnya.
    Untuk beberapa saat orang-orang yang berada di belakang gandok itu masih menunggu. Namun dalam pada itu, Glagah Putih telah duduk di amben sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu apa yang telah terjadi, sebagaimana Agung Sedayu dan Ki Waskita. Meskipun mereka tidak melihat, tetapi mereka dapat memba¬yangkan, apakah yang kira-kira telah terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang berada di belakang gandok itu.
    Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian berkata kepada Ki Gede, “Kita masih menunggu Ki Jayaraga. Aku ingin berbicara dengan orang itu.”
    Perlahan-lahan, maka cahaya yang kemerahan pun telah mulai meraba langit. Semakin lama menjadi semakin jelas. Bintang-bintang seakan-akan menjadi semakin redup.
    Kiai Gringsing pun kemudian bangkit berdiri perlahan-lahan. Tubuhnya memang terasa menjadi semakin segar. Tetapi keletihan masih saja menjalari urat-urat nadinya.
    Sementara itu, Kiai Jayaraga pun telah menyelesai¬kan usahanya untuk menolong dirinya sendiri. Terpengaruh oleh obat yang telah diminumnya, serta pemusatan nalar budinya, maka terasa luka-luka di dalam tubuhnya menjadi berkurang. Dengan demikian, Kiai Jayaraga masih dapat berharap bahwa ia akan terbebas dari keadaan yang paling gawat bagi jiwanya.
    “Kau sudah selesai?” bertanya Kiai Gringsing.
    Kiai Jayaraga menggerakkan kedua tangannya. Direntangkannya tangannya itu perlahan-lahan. Ternyata dadanya masih terasa sakit meskipun sudah tidak meremas jantung.
    “Marilah,” Kiai Gringsing mempersilahkan, “atas nama Ki Gede aku persilahkan Ki Sanak naik ke pendapa.”
    Ki Jayaraga menarik nafas panjang, sebagaimana dilakukan oleh Kiai Gringsing ketika ia menyelesaikan usahanya untuk memperbaiki keadaan dirinya. Beberapa kali. Baru kemudian ia pun berusaha untuk bangkit perlahan-lahan.
    Tetapi ternyata keadaan wadagnya tidak memungkinkannya. Hampir saja Kiai Jayaraga itu terjatuh. Untunglah bahwa Kiai Gringsing betapa pun lemahnya, masih mampu menolong Kiai Jayaraga itu.
    “Marilah” Kiai Gringsing berusaha membimbingnya.
    Keduanya pun kemudian melangkah perlahan-lahan meninggalkan halaman di belakang gandok itu. Dengan melingkari sudut gandok kanan, mereka pun menuju ke halaman depan dan selanjutnya dengan hati-hati naik ke pendapa.
    Ki Gede pun kemudian mengikuti keduanya, semen¬tara Pandan Wangi dan Sekar Mirah masih menunggu beberapa saat. Baru ketika kemudian Swandaru pun menarik nafas sambil menggeliat, maka Pandan Wangi dan Sekar Mirah itu pun mengulurkan tangan mereka untuk menolongnya berdiri.
    Tetapi Swandaru justru berdesis, “Apakah kalian mengira bahwa aku tidak dapat bangkit berdiri karena hanya sekedar tersentuh api titikan?”
    Pandan Wangi dan Sekar Mirah saling berpandangan. Namun mereka tidak menyahut sama sekali.
    Akhirnya Swandaru pun bangkit berdiri tanpa pertolongan siapa pun juga. Ia pun merasa bahwa keadaan tubuhnya menjadi lebih baik. Meskipun ia masih mera¬sakan panas dan pedih pada tubuhnya, tetapi keadaan itu sama sekali tidak membahayakannya.
    Namun baru kemudian Swandaru menyadari, bahwa ia tidak dapat mengabaikan gangguan di dalam tubuhnya itu. Meskipun tidak nampak luka pada kulitnya, tetapi rasa-rasanya api lawannya itu pun telah membakar isi dadanya.
    Sesaat kemudian, Swandaru diikuti oleh Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah pergi ke pendapa pula. Tetapi agaknya Sekar Mirah telah berhenti di depan gan¬dok kanan.
    “Aku akan menengok kakang Agung Sedayu” desis Sekar Mirah.
    Swandaru pun terhenti pula. Bahkan akhirnya iapun berkata, “Aku akan pergi saja ke gandok. Aku tidak ingin menemui orang gila itu.”
    Dengan demikian maka ketiga orang itupun langsung memasuki gandok kanan untuk melihat keadaan Agung Sedayu dan Ki Waskita.
    Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Agung Sedayu dan Ki Waskita justru sudah duduk di bibir pembaringannya, sementara Glagah Putih telah membuka pintu lereg gandok kanan itu.
    “Marilah” Ki Waskita mempersilahkan.
    Ketiganya pun kemudian telah masuk ke gandok itu. Swandaru nampaknya memang tidak ingin pergi ke pendapa, sehingga karena itu, maka ia pun telah duduk di amben di sudut gandok itu pula.
    “Semuanya telah selesai,” desis Swandaru, “namun nampaknya guru tidak sampai hati menyelesaikan sampai tuntas. Orang tua yang gila itu tidak dibunuhnya sekali.”
    Agung Sedayu hanya menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Waskita berkata -Agaknya Kiai Gringsing benar-benar telah menundukkannya.”
    “Ya. Guru dapat saja membunuhnya pada saat benturan kekuatan itu terjadi.” jawab Swandaru.
    “Tentu tidak bijaksana untuk membunuh seseorang yang sudah tidak berdaya” sahut Ki Waskita.
    “Tidak. Tetapi pada saat perang tanding itu terjadi. Benturan ilmu di antara keduanya akan dapat membunuh orang itu jika guru memang menghendaki. Tetapi agaknya guru tidak bermaksud demikian” Swandaru seolah-olah bergumam saja bagi dirinya sendiri dengan penyesalan diri.
    Ki Waskita tidak menanggapinya. Tetapi ia bertanya yang lain, “Bukankah kau telah membunuh lawanmu.”
    “Ya. Tubuhmu masih berada di belakang gandok ini,” jawab Swandaru, “belum ada orang yang terbangun dari tidurnya untuk mengangkatnya karena kemampuan sirep yang sangat tajam ini.”
    Namun dalam pada itu, ternyata satu dua orang peronda telah mulai menggeliat dan bangkit dari tidurnya yang sangat nyenyak. Mereka terkejut ketika Ki Gede kemudian memanggil mereka dan memberitahukan apa yang terjadi.
    “Ada sesosok mayat di belakang gandok. Ambillah dan selenggarakan dengan baik sebagaimana seharusnya siapa pun orang itu.” berkata Ki Gede.
    Demikianlah maka anak-anak muda yang terbangun itu pun menjadi sibuk. Mereka segera mengambil sesosok mayat di belakang gandok, untuk diselenggarakan.
    Namun dalam pada itu, orang-orang di dapur ternyata telah terlambat pula bangun, sehingga air pun terlambat dijerang.
    Sementara itu, ketika Kiai Gringsing, Ki Gede dan orang yang menyebut dirinya Kiai Jayaraga itu masih berada di pendapa, Swandaru masih belum kembali ke biliknya. Ia masih berada di bilik Agung Sedayu bersama Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Sementara itu, justru karena Agung Sedayu sudah ada yang menungguinya, maka Glagah Putih pun telah pergi ke pakiwan. Agaknya anak itu masih mencemaskan kemungkinan adanya orang-orang yang licik yang memasuki gandok untuk mencelakai Agung Sedayu dan Ki Waskita.
    Di Gandok, Swandaru masih saja menyesali gurunya yang tidak menyelesaikan lawannya sampai tuntas meskipun kadang-kadang terbersit juga pengertiannya tentang sikap gurunya itu.
    Namun karena setiap kali Ki Waskita berusaha untuk meyakinkan akan kebenaran sikap Kiai Gringsing itu, maka Swandaru pun kemudian mengalihkan pembicaraannya tentang dirinya sendiri dan tentang Agung Sedayu.
    “Dengan keadaan ini, maka kemungkinan kakang Agung Sedayu untuk menekuni isi kitab guru agaknya harus ditunda.” berkata Swandaru.
    “Aku tidak akan terlalu lama mengalami keadaan seperti ini” jawab Agung Sedayu, “dengan obat yang diberikan oleh guru, maka dalam waktu yang pendek, aku akan sembuh sehingga aku akan dapat melakukannya sesuai dengan rencana setelah kau menyelesaikan waktu yang diberikan oleh guru.”
    “Tetapi keadaan ini seharusnya dapat menjadi pengalaman bagi kakang Agung Sedayu,” berkata Swanda¬ru kemudian, “ternyata jalan yang ditempuh oleh kakang Agung Sedayu selama ini bukanlah jalan yang paling baik. Kakang berusaha untuk mencapai kedalaman ilmu namun melupakan pengolahan kemampuan jasmaniah. Dengan demikian maka kakang mengalami satu keadaan yang sulit pada saat terakhir. Untunglah bahwa di pertempuran itu hadir Pangeran Benawa, sehingga dengan kemampuannya maka pertempuran itu berakhir dengan keadaan yang lebih baik bagi kakang.

    SELESAI

  855. Draf minggu ini habis.
    Mohon bersabar, sampai minggu depan.

    kecuali ada relawan lain

    Nuwun….

  856. Siap !!!
    Saya selalu sabar menunggu hasil karya Ki Ajar.
    Tapi nggak sabar menunggu relawan lain ikut berpartisipasi me-retype ADBM…. :))

  857. Numpang lewat untuk Kangmas Glagah Kuning, meskipun agak terlambat.
    Mas, kalau menurut saya antara Dandang dengan Dhandang itu memiliki arti yang berbeda. Kalau Dandang artinya alat untuk mengukus nasi yang biasanya terbuat dari tembaga. Seperti kuali, ada lehernya dan bentuknya lebih tinggi dari kuali biasa. Jadi Dandang Wesi artinya Dandang yang terbuat dari besi. Sedangkan Dhandang ada dua makna yaitu berarti 1. burung Gagak dan arti yang ke 2 adalah Gancu yang mempunyai tajam di dua tanduknya. Tanduk I untuk membelah, tanduk lainnya untuk meratakan. Istilah ini umum di pakai di daerah Exs Karesidenan Kedu. Terima kasih

  858. INTI KEKUATAN BATIN

    Mari kita bedah bersama-sama, inti kekuatan batin kita dengan harapan bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang luhur dan mulia.

    Inti kekuatan batin bisa dijelaskan sebagai berikut.

    1. TUHAN ASAL SEMUA ENERGI. Inti kekuatan batin yang pertama adalah Pemberian Tuhan. Dialah sumber dari segala sumber energi, tenaga dan kekuatan. Sumber energi dan kekuatan yang lain itu hakekatnya berasal dari Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang. Dia adalah sumber dari semua sumber apapun di alam semesta. Dibutuhkan keyakinan yang mendalam untuk mengakui bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber kekuatan ini. Dari mana asal keyakinan? Asalnya tetap yaitu dari Pemberian Tuhan. Maka, jika Anda sudah memiliki “keyakinan” maka itu artinya Tuhan sudah memberikan anugerah kekuatan batin yang perlu dirawat, dijaga dan diitingkatkan.

    Maka, langkah pertama bila ingin memiliki batin yang sangat kuat maka mintalah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh.

    2. PASRAH/SUMELEH/SUMARAH PADA-NYA. Inti kekuatan batin yang kedua adalah kepasrahan total pada kehendak-Nya. Apabila Anda terus menerus berkomunikasi dengan Tuhan, maka Anda akan menerima dengan senang hati dan ikhlas semua pemberian-Nya. Senang, susah, derita, bahagia, sedih duka lara nestapa maupun senyum akibat musibah maupun berkah hendaknya diterima dengan kepasrahan. Kepasrahan adalah usaha aktif mental dan batin kita untuk mengakui Kemahakuasaan Tuhan. Ya, langkah kedua bila ingin memiliki batin yang sangat kuat maka pasrah saja kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh pasrah.

    3. USAHA AKTIF BATIN UNTUK MERANCANG RENCANA BERSAMA SANG MAHA INSINYUR YAITU TUHAN: VISUALISASI.

    Inti kekuatan batin ketiga adalah visualisasi. Visualisasi hakikatnya adalah melanjutkan usaha aktif batin dengan cara membayangkan sesuatu yang belum ada menjadi ada dan hadir nyata berada di depan kita. Visualisasi adalah kekuatan pikiran kita untuk merancang sebuah karya bersama-sama Sang Maha Insinyur yaitu Tuhan. Kita bersama-sama dengan Tuhan seakan menggambar obyek-obyek berdasarkan atas apa yang sudah kita lihat dan berdasarkan atas apa yang kita alami sehari-hari.

    Visualisasi memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kegagalan dan keberhasilan usaha meraih keinginan. Ketika otak kita membangun bayangan tentang sesuatu yang ingin dicapai, maka kita sesungguhnya tengah membangun sebuah gedung di alam kenyataan. Harap diketahui bahwa otak kita sesungguhnya adalah insinyur batiniah yang akan mewujudkannya dalam realitas. Jaringan sel dalam otak ini akan mampu mendorong kita untuk juga meraih kesempurnaan kenyataan.

    Bagaimana melakukan visualisasi? Pertama adalah, memperjelas keinginan atau tujuan yang ingin dicapai. Keinginan yang ingin kita raih harus bersifat spesifik. Misalnya: Anda membayangkan ingin memiliki isteri cantik. Kemudian mulailah melakukan visualisasi pada saat Anda sedang santai. Kenapa santai? Karena di saat santai dan rileks, gelombang otak kita memasuki stage alfa teta. Ini akan membuat otak anda lebih mudah untuk menggambar kenyataan. Kedua fokus pada tujuan sedetail mungkin. Bayangkan warna, detail, bentuk, dimana, kapan, bayangkan pula suasana dan situasi saat Anda memiliki isteri cantik. Ketiga, libatkan emosi anda sekuat-kuatnya. Bagaimana rasanya mampu mendapatkan isteri cantik dengan sempurna? Bagaimana rasanya bisa benar-benar memiliki isteri yang cantik. Menyertakan perasaan dan emosi akan memperkuat sistem “cara kerja yang sistematis” dalam otak yang merupakan desain kenyataan. Selanjutnya lakukan visualisasi berulang-ulang.

    4. DOA. Inti kekuatan batin keempat adalah doa. Doa adalah adalah kalimat afirmasi/penegasan yang diulang-ulang dan nyaris monoton. Hakekat doa adalah sebuah kesaksian kita di depan Sang Hakim, yaitu Tuhan. Kata-kata afirmasi yang membentuk kalimat “khusus” yang akan memunculkan energi gaib yang luar biasa dahsyat. Kata akan menjadi mantra yang mampu menghimpun semua daya yang ada di alam semesta untuk menyatu dan mengarah pada obyek doa. Mantra itu ibarat sinar laser yang terkumpul dari jutaan, milyaran bahkan trilyunan energi menjadi satu garis energi yang mampu menembus baja tebal.

    Doa atau mantra yang merupakan energi spiritual kemudian akan memunculkan energi fisik yang luar biasa. Energi itu berwujud dan berbentuk macam-macam. Di Jawa, kita mengenal beragam bentuk energi yang bisa dikenali dari warnanya. Energi yang ada di alam berasal dari semua elemen pembentuknya, misalnya dari Cahaya, Api, Air, Angin, Tanah dan seterusnya. Tuhan juga membentuk semua yang ada di alam semesta ini dari elemen-elemen tersebut. Manusia diciptakan dari tanah, malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari api, begitu pula dengan hewan di hutandan tumbuhan serta segala sesuatu yang ada di bumi ini diciptakan Tuhan dari unsur-unsur di dalam bumi sendiri.

    Doa yang kita panjatkan akan memproses delapan zat yang ada di alam (permata, emas, perak, timah, tembaga, besi, garam, belerang). Doa yang dipanjatkan untuk kemuliaan hidup dunia akan memproses saripati emas dan tembaga menjadi cahaya gaib yang dinamai “Pulung” , bercahaya warna biru kehijau- hijauan, turun kepada manusia yang berbudi mulia, mempunyai watak welas asih.

    Doa yang dipanjatkan untuk kemuliaan hidup di akhirat akan memproses saripati saripati perak dan timah, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Wahyu” , bercahaya warna putih kekuningan, turun kepada manusia yang berhati bersih, berwatak tanpa pamrih, berbudi pada sikapnya.

    Doa yang dipanjatkan untuk mencapai kepemimpinan akan memproses saripati emas, perak dan besi, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Daru” , bercahaya warna kuning besar seukuran buah kelapa, turun kepada manusia yang berhati bersih, sabar, tawakal, berjuang demi sesama, dan bersikap adil paramaarta.

    Doa yang dipanjatkan untuk kehancuran makhluk-Nya akan memproses saripati timah, tembaga dan besi, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Teluh”, bercahaya warna merah keunguan, turun kepada manusia yang asusila, jail, ugal ugalan, tidak mengerti hakekat benar dan salah.

    Doa yang dipanjatkan untuk menuruti kesenangan hidup dunia dan akhirat akan memproses saripati besi, garam dan belerang, menjadi cahaya gaib yang dinamai “Guntur” , bercahaya warna ungu gelap, turun kepada manusia yang hanya menuruti hawa nafsu, angkara murka, dan tidak bersyukur.

    Bagi para pejalan spiritual, yang perlu diketahui bahwa setiap pengharapan yang ada di hati kita merupakan doa. Itu adalah wujud kasih sayang Tuhan sang Pencipta yang maha mendengarkan setiap keinginan dan harapan manusia. Benar bila dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lain ciptaan-Nya, sebab dia diberi budi luhur yang lebih sempurna. Oleh sebab itu, manusia wajib mengetahui akan hakekat kemanusiaannya sehingga dia mengerti akan sangkan paraning dumadi.

    5. METODE ATAU CARA. Ini adalah kunci terakhir inti kekuatan batin. Kekuatan Batin bisa dicapai dengan banyak metode atau cara. Kita mengenal ribuan metode atau cara untuk menggali kekuatan batin yang tersembunyi pada diri manusia. Di India, kita mengenal tradisi Yoga, di Barat kita mengenal tradisi meditation, di Indonesia kita mengenal semedhi, maladehing, manekung, maneges. Di negara-negara arab, kita mengenal tradisi bertahanut dan seterusnya. Cara boleh berbeda namun semuanya bermuara pada inti yang sama; yaitu bagaimana kita memfokuskan keinginan agar nyambung dan menyatu dengan iradat-Nya.

    • Alhamdulillah lan matur nuwun, mugi tansah angsal ridlone Gusti Allah.

  859. di mana 175?

  860. aduh biyung, cantrik baru gagal mendapatkan kitab 175, ilmu masih rendah, harus mesu diri 40 hari 40 malam, atau ada yang memberi petunjuk ilmu instant seperti pangeran benawa?

  861. Buka halaman 4 Ki.
    Ada dua cantolan, kitab 175 dan …ini dia
    Saya tidak tahu apa bedanya. Mungkin dipilih yang bawah saja Ki.

  862. lha endi karangane

    • Baca petunjuk Ki Arema di atas itu Ki.
      File ADBM yang ada di sini berformat djvu, tetapi karena WordPress tidak kenal format djvu maka diakali dengan mengganti ekstensi djvu menjadi docx atau ppt seperti pada kasus di jilid ini.
      Pada saat itu, file disembunyikan agar ada “greget” untuk menemukan.
      File teks diretype oleh sukarelawan yang diposting pada box commen di setiap halaman.
      kalau ingin mudah download file djvu bisa langsung saja di sini http://adbmcadangan.wordpress.com/2010/10/05/api-di-bukit-menoreh/

      • nanya ki satpam, sesudah dowload terus bagaimana caranya biar bisa dibaca di kalkulator saya ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: