Buku 84

84-00

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:38  Comments (83)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-84/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

83 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hmmm sepi nglangut di alas Mentaok ini… apakah ini bakal pasar Kotagede dan pusat kerajinan perak ?… mungkin….mungkin sekali… wah kapan nih Ki Ageng Mangir dijebak ?…

  2. disini pun sudah ada pengawal pula, bukan main tanah perdikan adbm ini…….

  3. OOOOOHHHHH OOOOHHHH OOOOOHHHHH Telat Maning Telat Maning

  4. Lumayan wis ana batire, ora wedi antri dewekan ……

  5. Kulo rewangi mbabat alas Mentaok…

  6. Turut berdukacita atas wafatnya Ki GD Pamanahan..
    Tetapi seperti yang sudah2,akan selalu setia absen menanti sajian dari Ki DD.

    Salam.

  7. Dari kitab satu ke kitab yang lain…dari jurus yang satu ke jurus yang lainnya…semakin menarik dan sedikit aneh-aneh…jan ngedap-ngedapi dan nggigirisi ilmu Ki GeDe…..Heeebattt….Joss….Salut ama Ki GeDe

  8. Weleh….
    Panembahan Agung khan sudah hilang ilmu pengangen-angennya karena bertempur sama ki waskita, lha jadi ndak tahu dimana kitab 84 itu disembunyikan.
    salam kenal buat ki Gede, dan para cantrik2 serta para pengawal lain

  9. Dari penjelasan Kiai Gringsing, bahwa ia adalah murid dari sahabatnya yaitu Kebo Kanigoro. Para pembaca NS&SI pasti tahu bahwa sahabat Kebo Kanigoro adalah Mahesa Jenar. Tetapi di dalam ceritera itu bukankah murid Mahesa Jenar hanya satu, yaitu Arya Salaka. Dan Kiai Gringsing juga menceriterakan bahwa akhirnya Arya Salaka menjadi Ki Gede Banyubiru. Lalu siapakah gerangan murid Mahesa Jenar yang lain selain Arya Salaka?
    Cantrik Sukra, Cantrik Hartono, atau Cantrik Palawa-kah yang kemudian jadi murid Mahesa Jenar yang ke II?
    Ki Truno Podang
    (Muridnya Ki Truno Rungu)

  10. jadi, di mana kitab itu ki GD?

  11. Sebenernya sudah bisa diunduh blom yaa???

  12. barusan sudah ngunduh buku 83 dan kini sedang menanti bonus dari ki GD, yaitu buku 84. matur sembah nuwun ki GD

  13. kitab 84 sdh bs di tutul blm si…

  14. Ki Truno badhe matur, menopo Aryo Salaka meniko Ki Gede Banyubiru, ingkang dados Guru (menawi mboten lepat) Ki Waskita (mbuhlah bingung nek di-urut2, wong sik ngarang wae ra ono sangkut2-ane)
    He he he he he he

    Ki GD, matur suwun sanget dipun paringi donlot-an ingkang sae meniko

  15. ADBM-ers Yth,
    Wah gara2 hantu spoiler menggerayangi Alas Mentaok dengan baunya yang gemerincing, menyebabkan para pengantri ketakutan tidak berani mengeluarkan suara sama sekali. Jangankan bersuara mengambil nafas juga sangat hati2.
    Spoil, kalo diterjemahkan artinya busuk. Tapi kalo dilihat kasusnya di sini, yaitu menceriterkan kejadian yang akan dimuat di ADBM jilid y.a.d, karena seseorang pernah membacanya, itu namanya spoil.
    Sama halnya kalo kita nonton pelem, ama orang yang udah pernah nongton. Die nyrocos terus nyritain setelah ini lalu begini, setelah begini lalu begicuuuu sepanjang pemutaran pelem. Kita yang baru nongton dadi kesel ame to orang, ….. betuuulll?
    Nah kalo yang begicu sememang tidak boleh lah. Tapi kalo ane betul2 asli menganalisis berdasarkan nalar dalam rangka mencerna jalan ceritera sekaligus menebak ke arah mana jalan pikiran sang penulis yang maestro. Daripada menunggu jurus2 Ki Gede dengan kalimat2 yang sama diulang-ulang, bukannya lebih bermanfaat kalau kita berdiskusi hal2 positif hingga keluarnya jilid lanjutan. Kemudian kalo kita nanya hal yang telah diceriterakan dalam buku jilid yang lalu, untuk diskusi sehat, khan bukan spoiler namanya.
    Nah di sini Ki Truno Podang betul2 sedang bingun, wong muridnya Mahesa Jenar cuman satu yaitu Arya Salaka, kok Kiai Gringsing mengaku sebagai murid dari sohib Kebo Kanigoro yang tak lain ya Mahesa Jenar itu? Gitu lho, dijamin bukan “spoil”. Kalo spoil ki Gede tentu sudah nyetop-top-top-top.
    Regards,
    Ki Truno Podang
    Kesepian nih gak ada yg mau diajak ngobrol

  16. Ki GD, kasih bocoran dong…Ki Sukra nyimpennya dimana ? kok aku belum lihat jilid-84 nya..

  17. bonusnya mana ya, ditunggu kok belum mak nyus…mesti sabar emang. Maaf ki DD, bonusnya saya tunggu buat nemeninmakan siang.

  18. Mendengar pesan2 Ki GD, kmi yg tua2 ini semakin sadar bahwa ingatan dan daya tangkap kami semakin berkurang.
    Dengan jurus2 barunya, Ki GD sudah membuat poro orang tua semakin berdebar2 menebak-nebak setiap jurus

  19. Mendengar pesan2 Ki GD, kmi yg tua2 ini semakin sadar bahwa ingatan dan daya tangkap kami semakin berkurang.
    Dengan jurus2 barunya, Ki GD sudah membuat poro orang tua semakin berdebar2 menebak-nebak setiap jurus

  20. Ki Truno,

    kalau Ki Truno menebak gurunya Kiai Gringsing adalah Mahesa Jenar maka kesimpulan yang ditarik bisa aneh sebab : menurut Kiai Gringsing gurunya itu selain sahabat Kebo Kanigoro tetapi juga sekaligus adik seperguruan dari Empu Windujati. Seandainya gurunya itu Mahesa Jenar, maka saudara perguruan Mahesa Jenar adalah Ki Kebo Kenanga. Kesimpulannya : Empu Windujati adalah Ki Kebo Kenanga. Berarti Empu Windujati bapaknya Karebet. Karena Kiai Gringsing cucunya Empu Windujati, berarti Kiai Gringsing keponakan Karebet. (atau malah mungkin anaknya Karebet) he..he.. bingung kan? atau cuma saya yang bingung ???

    Mohon Pencerahan Ki Truno ..

  21. Sepertinya Ki GD masih suka bermain2 dengan jurus2 aneh, terutama langkah yg ke-84 ini

  22. Bha ha ha ha, ………… bingung kok nular. Makanya saya mau nanya ama Ki Hartono yang pernah ketemu Mahesa Jenar. Ato nanya Ki Pandanalas, mertokunya Mahesa Jenar.
    Tapi kayaknya pendapat Ki tqmrk benar adanya, karena berarti bahwa tokoh ini memang sama sekali tidak dikenal di NS&SI.
    Suwun,
    Ki Truno Podang
    Lumayan dapet temen walopun namanya huruf mati semua.

  23. @ki truno.p

    sebernya sy jg pingin nemeni mbahas itu,,tp sy ko dah agak2 lupa ns&si….,,o iya apa bener ada episod lanjutan ns&si yg berjudul Kembalinya Mahesa Jenar??

  24. Pakde Truno,
    dalam NS&SI, Mahesa Jenar adalah murid Ki Kebo Kenanga, jadi hubungannya dengan Ki Kebo Kanigoro adalah paman gurunya, jadi tidak mungkin sahabat Ki Kebo Kanigoro adalah Mahesa Jenar. Ketika disebut Pangeran Buntara atau Panembahan Ismaya, Kyai Gringsing diam saja, padahal pangeran Buntara atau pasingsingan sepuh punya murid 3 orang yang semuanya tidak ada aliran darah keturunan Majapahit, berarti Kyai Gringsing bukan murid Panembahan Ismaya, atau mungkin dalam pengembaraannya yang tidak diceritakan dalam NS&SI pangeran Buntara yang masih adik Prabu Brawijaya Pamungkas bertemu dengan Raden Pamungkas dan mengangkatnya menjadi murid terakhir, bisa saja itu terjadi, bukankah mereka sama sama keturunan Majapahit?
    demikian otak atik embah.

  25. @ ki truno podhang…bukannya dulu pada waktu menerapkan ilmu “mbambung kesaru” mengaku murid “Ki Brathi Podhang”

  26. Ki Truno, setelah Rara Wilis menikah dgn Mahesa Jenar, maka aku segera mengasingkan diri di Gunung Kidul bersama Surapati. Sejak itu aku sdh tidak mencampuri lagi dunia persilatan, bahkan sahabat2kupun seolah2 sdh kehilangan aku shg aku tidak dpt menceritakan sambung-rapet antara Empu Windujati & Kebo Kanigoro. Sejauh perjalananku di seputar mentaok, tumaritis & gunung kidul aku blm pernah mendengar nama Empu Windujati,… atau aku yg kuper nggak pernah chatting, SMS maupun akses internet shg ketinggalan cerita dunia luar sana (keasyikan tanam jagung???)

  27. wah iki mesti si ki Ardi, …tapi kok raine koyok sabungsari yo????????

  28. Seingatku Mahesa Jenar bukan murid Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging)tetapi saudara seperguruannya. Gurunya adalah Ki Ageng Pengging Sepuh, ayahanda dari Ki Kebo Kenongo dan Ki Kebo Kanigoro.

    Dibawah ini ada sedikit cuplikan dari NS&SIS,

    Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga
    disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas
    Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut
    Jaka Tingkir.
    Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka
    Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.
    Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng
    Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi
    meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia
    merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.

  29. Ki Truno iki sing marakne podho bingung….yang sudah agak pasti bisa disimpulkan :
    1. Ki Waskita adalah murid Ki Gede Banyu Biru atau Arya Salaka, jadi cucu murid Mahesa Jenar
    2. Guru Kiai Gringsing sahabat Ki Kebo Kanigara, tapi dari keterangan Kiai Gringsing gurunya bukan murid langsung/tidak langsung dari perguruan Pengging, sedangkan Mahesa Jenar adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh/Pangeran Handayaningrat, jadi kesimpulannya Guru Kiai Gringsing BUKAN Mahesa Jenar, memang sahabat Ki Kebo Kanigara tapi bukan dia, lalu siapa sahabat Ki Kebo Kanigara itu ?

    Gimana Ki Truno

  30. thanks atas dunlut 84nya…

  31. Upss salah, ternyata Ki Waskita bukan murid Ki Gede Banyu Biru/Arya Salaka meskipun masih jalur Perguruan Pengging, jadi siapa guru Ki Waskita itu ? Mahesa Jenar ? Ki Kebo Kanigara ? atau siapa ?
    Makin bingung…..

  32. kl gak salah cerita, kiai windujati masih saudara dengan raden buntara, jadi kiai gringsing mungkin murid panembahan ismaya setelah punya 3 murid terdahulu, masih ingat cantrik muda teman arya salaka, yang selalu menemani dan melayani panembahan ismaya, mungkin dia itu kiai gringsing sekarang

  33. kakang palawa, mbok aku dikasih tahu dimana posisi kitab 84 kalo bener kakang palawa sudah menemukannya.

  34. @ ki Pallawa
    dimana yach link donlot kitab 84-nya?saya kok sampai saiki durung nemu. tunjukin dong please

  35. Itu lho deket sama dewo ruci…kalau masih belum ketemu sampeyan takon karo bopo druno….yen gak enek jawaban takon karo ki Sukro

    …..Aku dehwe ae durung iso donlot isane ..dunlut makane sing ke save gambare thok….

  36. Ki Truno,

    saya sebenarnya suka mengikuti ‘otak-atik’ nya Ki Truno yang memang kreatif dan bikin pusing… Ditunggu otak-atik selanjutnya Ki Truno.

    Saya kira pendapat terakhir Ki Truno benar, hanya Ki Ageng Pandanalas selaku mertua MJ yang bisa menjelaskan kepusingan ini. Tetapi rupanya Ki Ageng Pandanalas yang hadir disini sudah ketularan penyakitnya Kiai Gringsing, pura-pura tidak tahu.

    regards.
    TerimaQasih MeReKa yang bisa baca ADBM online.

  37. Sorry kang Joko lan Kang Seno lan poro kadang….iki mau cuma sebatas “Selasa MOP” supaya Ki Gede cepet2 ngetokne jurus ilmu “Panglemunan”….

  38. Ki Waskita merupakan murid dari Ki Gede Banyu biru tua atau Gajah Sora, setelah Ki Gede Banyubiru menyerahkan pimpinan pemerintahan ke Arya Salaka, kemudian mendirikan perguruan, salah satu muridnya itu Ki Waskita, ini menurut penerawangan saya dengan dasar cerita yang ada.

  39. Menurutku, yg paling bisa membeberkan rahasia ini hanya Ki Sukra, karena beliau hidup di 3 zaman : Zaman keemasan Pasingsingan (Majapahit), kemudian Zaman Mahesa Jenar mencari NS-SI (Demak) & Jamannya Sutawijaya (Pajang-Mataram).
    Ayo Ki Sukra, tunjukkan jati dirimu & beberkanlah rahasia2 besar yg masih menjadi perdebatan poro cantrik ini

  40. Matur Suwun Ki GD,.. 84 wis tak unduh ning pucuk tugu

  41. iya nih mana Ki Sukra, menurut Ki Gede kan hadiah tergantung Ki Sukra, tp Ki Sukra nya gak muncul2

  42. Saya belum baca kitab berikutnya tapi penjelasan Kiai Gringsing memang belum tuntas. Dia tidak menyebut dengan jelas nama gurunya, juga dua murid kakeknya (Windujati alias Wirawardana). Dia hanya bilang, gurunya adalah adik seperguruan Windujati. Gurunya adalah sahabat yang dekat dengan Kebo Kanigoro. Dia pernah menjelajahi Merapi, Merbabu, bahkan Bali.
    Mungkin kita bisa bertanya: siapakah sahabat Kebo Kanigoro yang dimaksud, yang mewarisi ilmu dari Pengging? SHM memang jago mencampur fakta dan fiksi. Mahesa Jenar dan AdBM adalah kisah fiktif tapi pelaku dan lokasi kejadian benar-benar ada. Jadi, pertanyaan ini mungkin akan terjawab pada kiitab berikutnya. Saya tidak tahu.

  43. pandan alas pucuk tugu sing endi?

  44. jangan menggoda ki pandanalas. tak klik bolak-balik tetap saja jpg.

  45. tambahan untuk ki pandanalas: saya cuplik dari wikipedia

    Dalam perantauannya, Mahesa Jenar bersahabat dengan Ki Ageng Gajah Sora dari Banyubiru. Ki Ageng Gajah Sora adalah putra sekaligus murid dari Ki Ageng Sora Dipayana yang juga adalah sahabat gurunya. Uniknya, sebelum saling menyadari, keduanya terlibat pertarungan dahsyat yang nyaris merenggut nyawa mereka berdua. Persahabatan mereka berdua pula yang membawa Mahesa Jenar terlibat perang saudara di Banyubiru dan akhirnya harus melarikan diri setelah Ki Ageng Gajah Sora difitnah telah mencuri keris Nagasasra dan Sabukinten. Dalam pelariannya itu, dia membawa putra Ki Ageng Gajah Sora, Arya Salaka yang belakangan diangkatnya sebagai anak dan murid. Secara tidak diduga, dalam pelariannya selama hampir lima tahun itu, dia bertemu dengan saudara seperguruannya, Ki Kebo Kanigara, yang memiliki kesaktian jauh lebih dahsyat dari gurunya sendiri. Dan lewat bimbingan dari Kebo Kanigara pulalah Mahesa Jenar akhirnya bisa melewati batas kemampuan ilmunya sendiri yang membuat ilmunya meningkat berlipat-lipat hingga diapun juga berhasil melampaui kesaktian gurunya.

  46. Nyuwun sewu poro kadang,… kalimatku durung ono (.) Bar tak unduh isine mung gambar pemakamane Ki Pemanahan.

    Aku kawatir Ki Sukra ki kesaren, dadi mungkin tengah wengi kitab-84 nembe diuncalke neng pucuk tugu

  47. SHM sengaja tidak menyebutkan nama guru Kyai Gringsing, masalahnya dalam NS&SI, beliau tidak menyebut atau pernah mengisahkan bahwa Ki Kebo Kanigoro punya seorang sahabat, bahkan nama empu Windujati tidak ada dalam NS&SI. sebenarnya SHM ingin membuat alur yang menyambung dari NS&SI dengan ADBM, namun sayang dalam NS&SI sudah terlanjur tidak ada nama perguruan windujati, padahal dengan hilangnya kedua keris tersebut seharusnya perguruan windujati akan ikut mencari sebagaimana perguruan2 lain.sangatlah janggal apabila perguruan sebesar dan setenar windujati tidak tersebut dalam percaturan Demak dalam kisah NS&SI, ini agaknya salah satu yang terlewatkan oleh SHM.

  48. Benul eh betul mbah_man….sepertinya siapa guru Kiai Gringsing akan tetap menjadi teka-teki, tidak seperti guru Ki Waskita yg sudah dijawab oleh Ki ayas yaitu Ki Ageng Gajah Sora….mungkin sengaja dibuat gitu oleh Penembahan SHM atau memang kelewatan

  49. Matur Nuwun Sanget Ki GD
    Akhirnya bisa mengurai jalur semu 84, dan terbuka
    Sukses Ki GD

  50. Wah, sedino utuh menthelengi kompi
    nunggu jilid 84. lagi metu saiki.
    suwun Ki Gede.

  51. wah… kok pada ngaco sih..??
    yang benarkan udah jelas terpampang :
    Raja terakhir Majapahit = Brawidjaja PAMUNGKAS
    Nama asli Kiai Gringsing = Raden PAMUNGKAS
    nah jelaskan.?? darisana bisa diambil kesimpulan..
    walaupun tidak menutup kemungkinan yang dikatakan oleh tqmrk itu benar :Empu Windujati adalah Ki Kebo Kenanga. Berarti Empu Windujati bapaknya Karebet. Karena Kiai Gringsing cucunya Empu Windujati, berarti Kiai Gringsing keponakan Karebet.

    Regards.

  52. Hadiahnya udah done…lho(d).
    tengkyu Ki Gede.

  53. Jika kitab 84 ini menceritakan wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti kita menjelajahi waktu kembali ke tahun 1584 Masehi.

    Pada tahun yang sama nun jauh di sana di Belanda (yang kemudian menguasai negeri gemah ripah loh jinawi ini melalui VOC yang didirikan tahun 1602); William of Orange (William the Silent)dibunuh di rumahnya di Delft, Belanda oleh Balthasar Gérard. William ini bercita cita menyatukan Belanda dengan Spanyol dan hampir berhasil sebelum dibunuh.

  54. Cuplikan dari buku sejarah …..
    Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

    Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

    Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

    Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

    Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

  55. Nuwun sewu Ki Sanak Ibnu Gurslung,
    Menurut hemat saya gak mungkin Ki Kebo Kenongo, ayahnya Mas Karebet, adiknya Kebo Kanigoro, adalah Ki Windujati. Bukankah Ki Kebo Kenongo sudah wafat sewaktu Mas Karebet masih kecil. Sedangkan ki Windujati hidup hingga menjelang berakhirnya kesultanan Demak.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  56. Adimas J3b3ng
    Di kapling 83 crito sampeyan ttg pohon Cangkring dan pohon Nyamplung sangat bermanfaat, cuman klu ada mohon dng hormat disertakan foto atau gambarnya..? alangkah lengkapnya informasi itu.. Matur sembah nuwun Adimas..mugo2 Pengeran sing mbales!

    GD: Coba tengok di WISATA ADBM di bagian Miselinus. Wohe koyok duku, tapi mungkin gede2

  57. Kyai Truna,
    saya menyangka Empu Windujati sama dengan Pangeran Buntara. Meski muridnya sebenarnya tiga (di NSSI), tapi Umbaran menyeleweng dan akhirnya terbunuh sama dua murid yang lain, Radite dan Anggara.

    Cuma memang di NSSI tidak pernah disebut-sebut adanya adik P. Buntara, yang jadi guru Kiai Gringsing. Juga R. Pamungkas yang jadi cucu Empu Windujati. Akan tetapi, karena Kebo Kanigara juga menjadi putut di Tumaritis, maka guru Kiai Gringsing –entah siapa namanya– tidak mustahil bersahabat dengannya. Yang juga tidak pernah disebut di NSSI adalah adanya lambang cambuk dan cakra gerigi sepuluh, sebagai ciri Perguruan Windujati (=Karang Tumaritis).

    Begitu tebakan saya. Eee, ‘kali aja bener…

  58. Mohon maaf jika mengurangi indahnya roman ADBM besutan Ki SHM.

    Jika merunut sejarah, sepertinya ada hal yang mungkin terlewat oleh Ki SHM. Namun hal itu dapat dimaklumi karena pada jaman Ki SHM menuliskan kisah ini belum ada internet, apalagi wikipedia. Beliau kabarnya melakukan riset baik dalam membaca babad tanah Jawi, serta kitab kitab kuno sampai riset ke lapangan untuk menuliskan wilayah wilayah yang disebutkan dalam ADBM.

    Jika Ki SHM menceriterakan kisah menjelang wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti setting berada pada tahun 1584, sehingga alas mentaok telah dibuka selama 28 tahun, dari sejak diserahkan tahun 1556.

    Sementara sebelum tahun 1584 terdapat kejadian penting bagi Sutawijaya yaitu 1582, di mana dia memerangi Sultan Hadiwijaya. Namun seolah olah dalam ADBM tidak ada ceritera ini.

    Sultan HAdiwijaya menurut tulisan Kakang Panji wafat tahun 1582 (meninggal karena sakit setelah pulang perang).

    Namun di ADBM, Sultan Hadiwijaya dikabarkan masih sehat dalam menerima kedatangan Ki Gede Pemanahan.

    Terlepas dari itu semua, ADBM tetap kisah yang memukau….

    Suntingan dari Wikipedia:
    Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

    Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.

    Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.

    Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

    Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

    Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

    Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

    Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.

    Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang

  59. Agung Sedayu masih sibuk bolak-balik donlot file-file .ppt yang sudah disediakan oleh Ki GeDe, tetapi sampai sekarang masih bingung karena file tersebut juga tidak dapat dibaca dengan pusaka yang dia punya. Mohon petunjuk dari Ki GeDe atau cantrik-cantrik yang lain sekiranya dapat memberikan informasi bagaimana file-file tersebut dapat dibaca dengan baik.

  60. @J3b3ng
    Yeah…menurut Wikipedia memang demikian.
    Sedangkan menurut Ki SHM, Ki Gede Pemanahan meninggal terlebih dahulu di banding Sultan Hadiwijaya.
    Faktor yang cukup penting adalah berdasarkan urutan tahun di Wikipedia, Ki Gede Pemanahan meninggal SETELAH terjadinya peperangan antara Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya dengan Pajang yang dipimpin langsung oleh Sultan Hadiwijaya, sedangkan seperti kita baca di buku ke 81-84 ini, Ki Gede Pemanahan telah meninggal sementara perang Mataram – Pajang belum lagi terjadi.
    Tahun-tahun krusial Menurut Wikipedia adalah :

    1556 Ki Gede Pemanahan pindah ke Mataram
    1582 Meletus Perang Mataram – Pajang (Pajang kalah)
    1582 Sultan Hadiwijaya Mangkat (Meninggal Dunia)
    1584 Ki Gede Pemanahan Meninggal dunia

    Namun ada yang tidak konsisten dari tulisan di Wikipedia yaitu dalam entry berjudul KESULTANAN PAJANG – http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang,
    Dituliskan bahwa Mataram semakin maju setelah Ki Gede Pemanahan digantikan oleh Puteranya yaitu Sutawijaya mulai tahun 1575.

    Sedangkan pada entry berjudul Ki Gede Pemanahan http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Gede_Pemanahan, disebutkan bahwa Sutawijaya menggantikan Ki Gede Pemanahan setelah ayahandanya tersebut meninggal dunia pada tahun 1584.

    Saya berpendapat bahwa sebagai orang yang menguasai sejarah Jawa dengan baik (seperti terlihat di tulisan tulisan beliau : NSSI, ADBM, Pelangi di Langit Singosari, Tanah Warisan dll), kecil kemungkinan bagi Ki SHM kecil untuk melakukan kesalahan yang menurut saya cukup fatal seperti urutan peristiwa meninggalnya Ki Gede Pemanahan dan Sultan Hadiwijaya seperti yang telah diuraikan oleh rekan j3b3ng.
    Saya berpendapat, Ki SHM memiliki catatan bahwa barangkali yang benar adalah Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575 dan kemudian Raden Sutawijaya tampil menggantikan kedudukan beliau. Nah, kalau memang demikian (Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575), maka urutan peristiwa seperti yang tertulis di ADBM ini tidak ada yang salah.
    Nah…., saya mengajak Ki Sanak semua untuk besama-sama mencari data yang lebih akurat, sumonggo…..

  61. Pangeran Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh) punya 2 orang anak: Kebo Kanigoro (ayahnya Endang Widuri) dan Kebo kenanga/Ki Ageng Pengging (ayahnya Karebet/Joko Tingkir/Putut Karang Tunggal). Keduanya jadi Muridnya, ada satu murid lagi yaitu Mahesa Jenar atau Rangga TohJaya, jadi total muridnya ada 3: Kanigoro, Kenanga, Mahesa Jenar.

    Pangeran Wirawardana/Empu Windujati punya 2 murid dan satu orang cucu (Kyai Gringsing/Pamungkas).

    Pangeran Buntara (Pasingsingan sepuh atau Panembahan Ismaya) punya 3 orang murid: Radite, Anggara, dan Umbaran. Beliau punya Padepokan Karang Tumaritis, beberapa orang yang pernah nyantrik di sana: Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Karebet (Jaka Tingkir), Arya Salaka (murid Mahesa Jenar), Endang Widuri(anak Kebo Kanigoro).

    Sultan Hadiwijaya/Karebet/Jaka Tingkir/Putut Karang Tunggal seperguruan dengan Ki gede Pemanahan (anak Ki Ageng Sela ?) dan Ki Penjawi (Mantan Pengawal Perdikan Banyubiru ?). Siapa guru mereka bertiga ?..nggak jelas…
    Tapi yang jelas gurunya Karebet konon ribuan orang…

    Murid Mahesa Jenar adalah Arya Salaka (Ki Ageng Banyubiru)…Arya Salaka adalah gurunya Ki waskita ?….

    Jadi Siapakah guru Kiai Gringsing alias Pamungkas ?… Guru tidak langsung yang pasti kakeknya: Empu Windujati atau Pangeran Wirawardana…tapi gurunya langsung adalah Sahabat sekaligus saudara seperguruan Kebo Kanigoro, siapakah dia ?…Kelihatannya memang Mahesa Jenar….apalagi di ADBM disebutkan bahwa jurus2 Gringsing & Ki Waskita memiliki jalur yang sama dengan perguruan Pengging… Tapi di NSSI sama sekali tidak disebutkan Murid Mahesa jenar selain Arya Salaka…Jadi kemungkinan Kiai Gringsing adalah saudara seperguruan Arya Salaka (Ki Ageng banyubiru anak Ki Ageng Gajah Sora)….mbuhlah…gak jelas…

  62. Saya sih setuju dengan mbah_man kalo ini cara mencocok-cocokan gaya SHM antara ADBM dan NSSI… Jadi ga usah dicari hubungannya terlalu dalam. Cuma kalo dilihat rasio “kebetulan”nya, Lebih tinggi NSSI dibanding ADBM.. coba perhatikan, kemunculan-kemunculan Tokoh tua NSSI, pasti tiba-tiba disaat Mahesa jenar sudah terdesak (masalah dulu baru tokoh muncul).. bandingkan dengan kemunculan sumangkar di alas mentaok maupun peranan ki waskita di pedepokan panembahan agung misalnya, disainnya sudah lebih jelas, ada tokoh baru masalah..

    peace man..

  63. dos pundi niki maos kitapipun 83 n 84? sampun angsal warisan tapi boten saged maos

  64. Saya sependapat dengan kesimpulan Anakmas Sutajia Said, sebagian besar emang benar, tapi mengenai Mahesa Jenar sebage guru Kiai Gringsing adalah kurang tepat karena seperti telah di sebutkan bahwa guru Kiai Gringsing adalah adik seperguruan Empu Windujati, sedangkan di NSSI disebutkan bahwa Ki Ageng Pengging Sepuh hanya memiliki tiga murid yaitu: Ki Kebo Kanigara, Ki Kebo Kenanga dan Majesa Jenar. Jadi kesimpulan nya bahwa guru Kiai Gringsing adalah masih merupakan teka-teki.

  65. Kelihatannya Guru Kyai Grinsing bukan Mahesa Jenar….tapi justru Panembahan Ismaya….(dalam hal ini setuju dengan komentar Pradabaru di 82)…

    Tambahan lagi bahwa Setting cerita saat pengepungan Sultan Trenggana berburu di Prawata oleh Pasukan Banyubiru, saat itu memang murid Panembahan Ismaya baru 3 (2 murid yang baek, 1 murid durhaka=Umbaran)..jadi sangat mungkin kalau setelah peristiwa itu Panembahan Ismaya mendapat murid lagi yaitu Kyai Gringsing…tapi kejadiannya setelah Mas Karebet ditarik untuk mengabdi lagi kepada Sultan Trenggana…

  66. joko tingkir dlm NS&SI sak pantaran sama arya salaka muride maheso jenar, sedangkan ki waskita saat ini kalo menilik sudah punya anak sepantaran agung sedayu berarti umurnya gak jauh dari jaka tingkir(hadiwijoyo)
    padahal kiwaskita mestine juga sak pantaran sama arya salaka , apa ya tumon murid’e sakpantaran ambek gurune , lha bingung lagi to? hehehehehe puniko namung cerita fiksi kok mbah, dados nggih sampun dipun damel waton hehehehehe monggo sami disimak kemawon

  67. kan udah dibilangin bukan muridnya Arya Salaka, tapi muridnya GajahSora (Ki Ageng Banyubiru sepuh)…

  68. meskipun sudah dibantai sidanti di padepokan tambak wedi, tetapi saya masih mengharapkan sekar mirah. saya ingin tahu bagaimana nasibnya. bisa memberi clue ki gede

  69. nuwun sewu, saya mau nanya bagaimana caranya ngedownload buku ADBM

    suwun

  70. Guru kiai Gringsing adalah Panembahan Ismaya, karena Kiai Gringsing sendiri bilang gurunya adalah adik dari kakeknya (empu Windujati a.k.a Pangeran Wirawardana) jadi otomatis gurunya juga seorang pangeran (R. Buntara a.k.a P. Ismaya), hal ini secara implisit juga diberikan oleh K Gringsing yg hanya tersenyum ketika ditanya siapakah P Ismaya tsb. Dan lagi diceritakan bahwa Kebo Kanigoro pernah menjadi Putut di padepokan P. Ismaya.

    Sementara sepenangkapan saya, Kebo Kanigoro bukan lah murid ki Ageng Pengging Sepuh, tapi justru saudara seperguruannya. Jadi meskipun Kebo Kanigoro merupakan anak dari Ki Ageng Pengging Sepuh, tapi dalam perguruan mereka adalah saudara seperguruan. Sehingga Kebo Kanigoro adalah paman guru dari Mahesa Jenar.

    salam.

  71. >>”Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara sebagai seorang bangsawan cucu dari salah seorang yang pernah merajai Majapahit, hatinya tersentuh pula. ”
    >>”Empu Windujati punya 2 orang murid dan 1 cucu (Pamungkas)”
    >>”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah anak Pangeran Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.” (Kebo Kanigara)
    >>”KANIGARA kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir berteriak ia berkata, ”Raden Buntara, bukankah Raden Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan…?”
    >>”Tentu,” sahut orang tua itu. ”Ayahmu pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat dengan ayahmu itu.”
    >>”Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya,” kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali. ”
    >>”Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku (P.Ismaya) pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak (Raden Patah), beliau berkata, juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang. Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya, tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”

    JAdi>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

    1. Prabu Brawijaya punya anak namanya Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat & Raden Patah.

    2. P.Ismaya / Buntara adalah adik Prabu Brawijaya dan Paman ayahnya Kebo kanigara (Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat) sekaligus paman raden patah.

    3. Ilmu Pengging adalah Ilmu Bangsawan Majapahit.

    4. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah saudara/sepupu dari Raden Patah – Sultan Demak Pertama.

    5. Mas Karebet = Anak Ki Kenongo / cicit Prabu Brawijaya.

    6. Kiai Grinsing / Pamungkas = Cucu langsung Empu Windujati – Pangeran Majapahit dan murid sahabat kebo kanigoro.

    Kesimpulannya:

    1. Kiai Grinsing = Sepupu Karebet (sama2 keturunan majapahit)
    2. Empu Windujati = P. Ismaya
    3. Sahabat Kebo Kanigoro = ???EmJee??
    4. Ki Waskita adalah anak Arya Salaka yg berbeda paham dengan ayahnya dan melarikan diri dari banyubiru.

    >>>>JAdi Guru Kiai Grinsing adalah ???<<<<<<<

    Jawabnya – SH MIntardja….

  72. Songsong Kanjeng Ki Menggung,
    eh kleru,….. Kiai Mendung.

    • jan ki Gembleh keBANGETan tenan…..teGA nian menDHISIKi
      cantrik,

      Lha sudah TAU kalo cantrik baru nyampe gandOK-71 kok ya
      malah mblayu ngeBUT ning gandok-84….. :) :)

      • walah ki ndul ternyata yo melu kebut-kebut kwkwkwkkkk

        • ..sehingga terpaksa Ki addus ikutan ngebut-i…..lamuk ! :D

          • yahmene nang nggembong wayae kebut-kebut doro ki kartu

            • ..dara….manis ? :D

              • dara tista kwkwkkk

                • doro muluk ??????????

                  • d
                    o
                    r
                    o

                    n
                    g
                    .
                    .
                    .
                    .

                    • j
                      a
                      g
                      u
                      n
                      g

                      b
                      e
                      r
                      o
                      n
                      d
                      o
                      n
                      g

  73. kiai gringsing adalah murid dari mahesa jenar, jadi paling tidak dia kenal dengan sultan hadiwijaya

  74. Guruku adalah sahabat yang dekat dengan seorang yang menyebut dirinya Kebo Kanigara, putera dan sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, kakak dari Ki Ageng Pengging yang juga bernama Kebo Kenanga. Yang menyingkir pula dari lingkungannya dengan alasan yang berbeda.”

    Tetapi di dalam ilmu kanuragan, keduanya bersumber pada guru yang sama. Ayah mereka sendiri, Kiai Ageng Pengging Sepuh.”

    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Memang mungkin sekali. Guruku memang sahabat Ki Kebo Kanigara. Meskipun umurnya terpaut sedikit. Dengan demikian, maka tidak mustahil jika ilmu keduanya saling mempengaruhi.”

    Dari kutipan diatas sebenernya sudah sangat jelas bahwa guru kiai gringsing adalah Mahesa Jenar, dan sepertinya mahesa jenar juga sempat kembali mengembara dan membawa kiai gringsing untuk turut serta

    “Aku berkesempatan mengikutinya meskipun tidak seluruh perjalanannya.”

    Dan Ki gede banyubiru adalah arya salaka jika mengacu pada kutipan berikut :

    “Ki Gede Banyubiru yang sekarang mempunyai ikatan yang rapat dengan Sultan di Pajang. Mereka pernah berada di satu padepokan. Pernah hidup dalam satu lingkungan. Dan ilmu mereka pun tidak terlampau jauh pula, meskipun Sultan Pajang memiliki seribu macam ilmu dari seribu macam perguruan.”

    ========

    memang mantab jalan ceritanya, seperti sebuah sejarah tapi abu2, tokoh2nya pun seperti nyata, karena memiliki keterkaitan dan masuk dalam alur cerita yang nyata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: