Buku 58

Babad Alas Mentaok memang membangkitkan para hantu. Hantu2 ini telah mengganggu kami dengan padepokan ADBM sehingga Kitab 57 terlambat diedarkan. Tetapi marilah kita ambil hikmahnya yang baik2. Salah satunya adalah memberi kesmpatan kepada para prajurit lapangan untuk mengejar ketertinggalannya. Demikian sibuknya para prajurit menghadapi kisruh yang ditimbulkan para hantu, sehingga banyak di antara para prajurit masih terseok-seok untuk mengkatamkan sebelumnya. Sebut saja Ki Warsono, katanya baru sampe Kitab 50. Anakmas Mbodo malah baru di Kitab 37 Kitab 32. Ki Gede sendiri ….hik…hik…hik… malu… lagi di 54.

BTW, mohon para kadang maklum jika ada gangguan lagi. Komitmen kami belum bergeser senyari pun, yaitu menghadirkan mahakarya ini sebagai warisan untuk anak cucu negeri.

(GD)

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 November 2008 at 11:41  Comments (55)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-58/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

55 KomentarTinggalkan komentar

  1. we-lhadhalah..lokete sih rung bukak to..aku kecepeten mlakune

  2. Pandan Alas Sigar Penjalin
    Absen no. 1 sopo ngerti oleh prioritas moco 58 disik

  3. Lah kok kisanak nunjang palang to..aku sing wit mau menthelengi loket nomor 58 opo ra digubris..ning ya gak apa2 wong aku mung skedar meramekan loket..jan2e ngantriku yo sih neng loket sebelah..sebelah wae sih adoh..

  4. Aku ikutan……nomor urut 2 Partai ADBM…

  5. Kula ndelek antlii maaann…ben oleh kitab kalo batik glingsing bonus calungg..

  6. Ngga ngabsen dulu disini ach… ntar aja kalo 57 dah muncul.. baru ngabsen….

  7. ngadem dulu di kamar 58 aah,…
    mumpung sepiiii…..
    57 dah kepenuhan,… ngabludak
    hihihihihi……

  8. Kapan kapling 58 dibuka ya?…….Mungkin 1 jam…..5 jam……1 hari….1 minggu lagi…. who knows?…ini gara2 hantu2 mentaok kali…

  9. “Angger berdua baiknya kepakiwan dulu saja, sesuci. Kemudian kembalilah ke barak 57. Tunggu kitab itu muncul disana. Jangan mengantri disini, karena barak 57 saja belum jelas kapan dibukanya.” berkata Kiai Gringsing seraya melongok barak 58 yang sudah berisi 8 cantrik padepokan ADBM.

  10. Link alternatif utk jilid 57 :

    http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-57

  11. Utk menghindari pagebluk yg sdg melanda kamar 57, kayaknya lebih santai stand by di kamar 58 ini. Sapa tahu isi kamar 57 dipindahkan kesini utk menghindari tawuran antar cantrik

  12. Silahkan cantrik yang lain istirahat, biar saya yang menjaga kalau-kalau jilid 58 muncul…

  13. Memang jos gandos bener dah adbm,
    buku 57 pun terputus di saat2 yang menegangkan

    mantaaab

    pasti malem ini pada ga isa tidur

    xixixi,
    Ki KontosWedul

  14. Istilah :
    Tanah Perdikan : Wilayah yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak ke kerajaan (semacam daerah istimewa).

    Mas Ngabehi Loring Pasar = Mas Ngabehi (yang) tinggal di sebelah Utara Pasar (Lor=Utara)

    Wanakerti : Wana= hutan, kerti = kemakmuran

    Warangan : racun yang biasanya dilumurkan pada senjata keris

    Bacaan :
    Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa)
    Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta
    Penerbit: Yayasan Kanisius, 2001, 885 hal

  15. Alas Mentaok:

    Alas Mentaok atau Hutan Mentaok adalah sebuah hutan yang dahulu pernah ada di wilayah Yogyakarta. Lokasi Alas Mentaok berada di timur Kota Yogyakarta dan di selatan Bandara Adisutjipto atau di sekitar daerah Banguntapan.

    Pada jaman dahulu, Alas Mentaok merupakan wilayah bekas Kerajaan Mataram Kuno yang menguasai wilayah Jawa Tengah bagian selatan pada abad 8 hingga abad 10. Setelah Mataram Hindu memindahkan pusat kerajaannya ke daerah Jawa Timur akhirnya wilayah pusat kerajaan yang lama menjadi hutan dan disebut Alas Mentaok.

    Setelah beberapa abad kemudian Alas Mentaok menjadi wilayah Kesultanan Pajang. Pada tahun 1556, saat Kesultanan Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, wilayah Alas Mentaok, yang juga disebut Bumi Mataram pada kala itu, diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas keberhasilannya menumpas pemberontakan Arya Penangsang. Kemudian setelah itu Alas Mentaok yang saat itu berupa hutan lebat dibuka menjadi sebuah desa oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani. Desa di Alas Mentaok tersebut selanjutnya dinamai Mataram dan berstatus sebagai tanah perdikan atau swatantra atau daerah bebas pajak.

    Seiring berjalannya waktu, wilayah Alas Mentaok semakin berkembang dan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Mataram. Kini, bekas wilayah Alas Mentaok telah menjadi bagian dari Kota Yogyakarta di mana juga terdapat Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

    Sumber: Wikipedia

  16. Alas mentaok adalah sarang gerobolan Lowo Ijo yg di obrak-abrik oleh Mahesa Jenar(R.onggo Tohjoyo). Di Alas Mentaok inilah pertama kali Mahesa Jenar bertemu dengan Rara Wilis.
    sumber :Nagasasra Sabuk Inten. karya SH. Mintarja.

  17. Angger Jebeng,
    Lha kalo Tanah Perdikan Menoreh, kemudian daerah Mangir, Tambak Wedi, Jati Anom dan Sangkal Putung apa juga masih ada Ngger? Lha mestinya tempat2 itu sudah menjadi kota besar sekarang dengan nama lain? Terima kasih buat pencerahannya.

  18. Terima kasih atas penjelasannya…

  19. Mangir:

    Dulu di Desa Mangiran, yang pada waktu itu disebut Kademangan Mangiran, ada seorang tokoh yang dikenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Tak jauh dari wilayah itu ada raja besar bernama Panembahan Senopati yang berkuasa di Kota Gede Mataram.
    Panembahan Senopati sudah melebarkan wilayah kekuasaannya ke daerah Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Namun, sebuah kademangan yang tak jauh dari wilayahnya terang-terangan menyatakan menolak kebesaran Senopati selaku Raja Mataram.
    Ki Ageng Mangir Wonoboyo menolak menyembah Panembahan Senapati. Sebab, Desa Mangiran, yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Bantul (Provinsi DI Yogyakarta) itu, waktu itu adalah wilayah perdikan, yang artinya tanah merdeka. Oleh karena itu, layaklah jika Ki Ageng Mangir Wonoboyo menolak memberikan upeti kepada Senopati.
    Menurut legenda setempat Sendang Kasihan ada kaitan erat dengan cerita Rara Pembayun (putra Panembahan Senapati, Pendiri Kraton Mataram). Sebelum masuk ke wilayah Mangir (yang membangkang terhadap Mataram), Rara Pembayun bersama pengiringnya mandi dan mencuci muka di sendang ini. Proses penyucian diri di sendang ini konon memberi dampak bagi kecantikan Rara Pembayun sehingga membuat Ki Ageng Mangir, jatuh cinta padanya. Oleh karena itu air sendang ini dipercaya membuat wajah dan tubuh tampak lebih muda, bersinar, dan menimbulkan daya pikat yang luar biasa.
    Menggunakan daya upaya, yaitu dengan mengirim putrinya (Raden Ayu Pambayun) yang cantik sebagai umpan, Ki Ageng Mangir dapat diajak ke Kota Gede. Di sana, Ki Ageng dijebak di atas Watu Gilang hingga menemui ajalnya, sehingga mangir masuk kemwilayah Mataram.
    Dusun Mangir sekarang terbagi atas tiga wilayah, yakni Dusun Mangir Lor, Mangir Tengah dan Mangir Kidul. Lokasi ini terletak kira-kira 20-an kilometer dari Jogyakarta. Secara administratif dusun ini masuk dalam wilayah Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.
    Kasihan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Nama Kasihan diambil dari nama Sendang Pengasihan, sebuah telaga yang terletak di dusun Kasihan, Kelurahan Tamantirto.
    Kecamatan Kasihan bersama dengan Kecamatan Sewon, dan Banguntapan merupakan suatu kawasan yang disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul sebagai kawasan penyangga pengembangan kota Yogyakarta ke arah Selatan.

    Bacaan:
    Lampung Post (http://www.lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2004042600582820)
    http://forum.detik.com/showthread.php?t=28644&page=5
    http://id.wikipedia.org/wiki/Kasihan,_Bantul
    http://www.indospiritual.com/artikel_misteri-ki-ageng-mangir-dan-baruklinting.html

  20. Mangir
    Dulu di Desa Mangiran, yang pada waktu itu disebut Kademangan Mangiran, ada seorang tokoh yang dikenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Tak jauh dari wilayah itu ada raja besar bernama Panembahan Senopati yang berkuasa di Kota Gede Mataram.
    Panembahan Senopati sudah melebarkan wilayah kekuasaannya ke daerah Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Namun, sebuah kademangan yang tak jauh dari wilayahnya terang-terangan menyatakan menolak kebesaran Senopati selaku Raja Mataram.
    Ki Ageng Mangir Wonoboyo menolak menyembah Panembahan Senapati. Sebab, Desa Mangiran, yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Bantul (Provinsi DI Yogyakarta) itu, waktu itu adalah wilayah perdikan, yang artinya tanah merdeka. Oleh karena itu, layaklah jika Ki Ageng Mangir Wonoboyo menolak memberikan upeti kepada Senopati.
    Menurut legenda setempat Sendang Kasihan ada kaitan erat dengan cerita Rara Pembayun (putra Panembahan Senapati, Pendiri Kraton Mataram). Sebelum masuk ke wilayah Mangir (yang membangkang terhadap Mataram), Rara Pembayun bersama pengiringnya mandi dan mencuci muka di sendang ini. Proses penyucian diri di sendang ini konon memberi dampak bagi kecantikan Rara Pembayun sehingga membuat Ki Ageng Mangir, jatuh cinta padanya. Oleh karena itu air sendang ini dipercaya membuat wajah dan tubuh tampak lebih muda, bersinar, dan menimbulkan daya pikat yang luar biasa.
    Menggunakan daya upaya, yaitu dengan mengirim putrinya (Raden Ayu Pambayun) yang cantik sebagai umpan, Ki Ageng Mangir dapat diajak ke Kota Gede. Di sana, Ki Ageng dijebak di atas Watu Gilang hingga menemui ajalnya, sehingga mangir masuk kemwilayah Mataram.
    Dusun Mangir sekarang terbagi atas tiga wilayah, yakni Dusun Mangir Lor, Mangir Tengah dan Mangir Kidul. Lokasi ini terletak kira-kira 20-an kilometer dari Jogyakarta. Secara administratif dusun ini masuk dalam wilayah Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.
    Kasihan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Nama Kasihan diambil dari nama Sendang Pengasihan, sebuah telaga yang terletak di dusun Kasihan, Kelurahan Tamantirto.
    Kecamatan Kasihan bersama dengan Kecamatan Sewon, dan Banguntapan merupakan suatu kawasan yang disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul sebagai kawasan penyangga pengembangan kota Yogyakarta ke arah Selatan.

  21. Bukit Menoreh adalah daerah perbukitan yang membentang di wilayah utara Kabupaten Kulon Progo, sebagai batas antara kabupaten tersebut dengan Kabupaten Purworejo di sebelah barat dan Kabupaten Magelang di sebelah utara.

    Bukit Menoreh adalah basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam berperang melawan Belanda.

    Kabupaten Kulon Progo terdiri atas 12 kecamatan, yang dibagi lagi atas 88 desa dan kelurahan, serta 930 Pedukuhan (sebelum otonomi daerah dinamakan Dusun). Pusat pemerintahan di Kecamatan Wates, yang berada di jalur utama lintas selatan Pulau Jawa (Surabaya – Yogyakarta – Bandung. Wates juga dilintasi jalur kereta api lintas selatan Jawa.

    Bagian barat laut wilayah kabupaten ini berupa pegunungan (Bukit Menoreh), dengan puncaknya Gunung Gajah (828 m), di perbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

    Sumber: Wikipedia

  22. Matur suwun poro cantrik2 sedoyo pencerahannya. Saya jadi ingat kembali pengembaraan Mahesa Jenar di sepanjang daerah2 itu utk mencari Nagasasra-Sabukinten

  23. Wah….para cantrik yang menunggu dengan sabar kitab 58 sudah pada ngantri….ikutan ah……

  24. Jilid 58, adalah jilid dengan penantian terlama menurut MURI telah memecahkan rekor nasional. Rekor ini sampai sekarang belum terpecahkan, bahkan para kawulo masih menantikan kehadiran Jilid 58. Menurut sumber yang kurang terpecaya hal ini disebabkan karena sesuatu yang bersifat non-teknis, non-human error…alias gara2 hantu2 alas mentaok.

  25. Cara cepat cek kemunculan jilid 58 & jilid2 selanjutnya, tulis aja di web bowser http://…./buku-x/3: (ini yg saya perhatikan dari jurus terbaru Ki GD)

    http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-58/3/

  26. Kayaknya bukan, Ki Pallawa.
    Rekor terlama sepanjang masa adalah penantian Kitab 10 ke Kitab 11. Dan sampai sekarang pembawa lembar terakhir kitab 10 juga masih tersesat di alas Mentaok alias tidak diketahui keberadaannya.

  27. hahahaha……

  28. Ya ya ya, ………. Jebeng alias Sutawijaya ketika naik tahta menjadi Raja Mataram yang perdana, kemudian bergerlar Panembahan Senopati. Alas Mentaok sekarang menjadi Kota Jogyakarta. Jadi Mataram itu ya Kota Jogya itu.
    Kalo peristiwa atau dongeng Nyi Pembayun dijadikan cerita silat oleh SHM wah oke juga tuh. Atau Mas Jebeng aja bikin cerita peristiwa itu yang berlandaskan dongeng itu, tapi dengan versi SHM gitu lho mas. Thanks.

  29. Sangkal Putung saat ini menjadi kawasan ramai di kota Klaten, ada terminal busnya juga.

    Tambak Wedi, saya kurang yakin, apakah ini wilayah yg sama dengan desa/kecamatan Wedi di sebelah Utara kota Klaten arah Merapi itu. Kalau Jatinom & Jolotundo yg punya alap2 itu jelas di sekitar2 area situ. Bahkan saya pernah belajar renang di umbul Jolotundo.

    Mas Jebeng, apakah alas Tambakbaya itu sekarang yg disebut Tambakbayan di Jl Solo dekat nJanti itu..??

  30. Nyambung ceritera Nyi Pambayun di atas, dibikin serial aja di media ini Mas Jebeng. Jadi para cantrik selain menunggu jilid2 yang bakal datang, juga nungguin ceritera Nyi Pambayunnya Mas Jebeng.
    Gimana para ki sanak semua? Setuju?

  31. Aku sing paling setujuuuuu…

  32. Walah….. Saking sibuknya nunggu jatah ADBM. Sampai-sampai tidak terasa kita melewati peristiwa besar pergantian ejan ke EYD mulai jilid 49.

  33. Ki Gede, bukan 37 tapi malah 32.. he..he..he..

    GD: Upss sori, yang salah yang kasih info, Den Mas Sukra.

  34. wah…. komentar ki Jebeng perlu di kumpulkan dan satukan menjadi kitab pendukung kitab2 ADBM dimana terdapat penjelasan istilah2 jawa yg dipakai juga penjelasan daerah teritorial….yg disesuaikan.

    thx ats infonya Ki Jebeng..

    penghuni alas mentaok yg lain di tunggu info yg mendukung.. syukur2 ada yg mau upload peta lereng gunung merapi ….

  35. Nyuwun sewu,..nderek langkung, upami rino eng penggaleh, nderek tepang kaliyan pengasuh padepokan ADBM meniko .. sejatosipun sinten engkang nami Ki GDe, Ki Sukra dll. Punopo wonten sambung rapetipun kaliyan Panembahan Tumaritis

    GD: Kami pernah bertamu ke padepokan Karang Tumaritis yang diasuh oleh Eyang Ismoyo atau mungkin dinamakan pula Panembahan Tumaritis. Jadi saya kenal beliau tapi mungkin beliau tidak kenal saya, setidak-tidaknya sudah lupa. Tapi yang pasti beliau kenal sekali dengan Ki Pandanalas dengan cucunya yang cantik bernama Pandan Wangi. Waktu padepokan ADBM masih kecil saya dipanggil DD atau D2 atau dhedhek atau dhedhe atau eded. Sekarang padepokan sudah agak besar (hampir 60 jilid), jadi saya mengubah diri menjadi Gede atau GD, lengkapnya Gede Menoreh

  36. kagem kyai sigar penjalin..sampeyan kedah maos rumiyin inggih punika ingkan tetelo serat Nogososro Sabukinten. Salam kagem titis anganten …radite, radityo, kebo kenanga dll.

  37. sebelum ke halaman ini, saya coba cari referensi lokasi kejadian. saya ingin merunut perjalanan agung sedayu dari Jati Anom, Sangkal Putung, Prambanan, Kali Progo, Alas Tambakboyo, Menoreh, hingga ke Alas Mentaok. kalau sudah pasti bahwa Jati Anom itu Jatinom di Klaten, begitu juga Sangkal Putung, rasanya perjalanan mereka bisa dibuat peta menuju Prambanan, Menoreh, ke Mentaok (Kota Gede). Kisah Mangir mungkin bisa diikuti di http://www.mangir.itgo.com

  38. Hore ….., buku 58 sudah dibagi. Sayangnya, setelah 2 jam internet kami mogok, saya belum berhasil mengunduh buku tersebut. Beberapa kali putus di tengah jalan. Kenapa ya, apakah saluran internet di tempat kami atau ada masalah di filenya?
    Penasaran ……………..!!!!!!!!!!!

  39. scroll 58 sudah bisa diunduh, thanks.

  40. aku yo wis oleh jilid 58

    GD: Ki Rekso, kirimannya lagi mana?

  41. Di barak kami Sipat Kandel No.58 dapat diserap dengan mudah, kekuatannya hanya 1.4 MB. Mungkin
    di tempat Ki Pallawa banyak hantu2 picisan seperti
    Ilu-Ilu Banaspati, Jerangkong, Thethekan dan Gendruwonya yah.
    Coba hubungi Kiai Damar mungkin bisa menolong.

  42. Ki Jebeng, trims bgt atas segala pencerahan ttg teritorial dan istilah2 dalm ADBM yg ga semua orang tau…, jadinya kita bisa bayangkan sperti apa wilayah tersebut sekarang.

    Kemaren badan demam, mual, sakit kepala, ga sempet buka internet – mgkin kena racun dari orang – yg kekurus kurusan – atau juga dari Ki Damar.., untung obat kerikan dari ki sangkan masih tokcer….. tapi ada hikmahnya…, hari ini dapat 57 dan 58 setelah lama nunggu 57 ga muncul2….
    temen saya yg kerjaaannya jadi makelar mobil bekas sms “.. euy…, lima tujuh can aya keneh nya…, bisi we di tempat ente mah geus muncul…”…

    jadi sambil berkurung di barak, ditutup selimut, ditemenin kopi…., hehehe asik banget punya cadangan 2 kitab…..wuih dunia kayaknya begitu indah…..
    salam buat Ki GD….

  43. Saya hanya bisa mengangguk-angguk, begitu jilid seket wolu dengan lancarnya angslup di dalam laptop, sambil bergumam lirih,” Matur nuwun, Ki GD”

    Kalau diperhatikan hampir semua (atau bahkan semua) pemain di dalam cerita ADBM ini pasti pernah melakukan katakerja ini : mengangguk-angguk, coba di cek aja.

    Salam untuk semua

  44. Ki Lazuardi .. kayaknya sampeyan salah.
    Sampai saat ini seluruh pemain dalam ADBM belum bisa mengangguk-angguk. Baru bisa : meng-angguk2 :D

  45. Ki GD, bukannya nama cucunya mbah Pandan Alas adalah Rara Wilis ?

    GD: Awalnya begitu. Pandan Wangi adalah nama samarannya.

  46. “wis kono jilit 58 do digarap bareng-bareng, aku tak leyeh-leyeh sikik…., wis suwe ra tau metheti manuk”

    GD: metheti manuk karo nglaras gending kutut manggung, wah jan … swarga ndonya.

  47. sekedar info:
    Jati Anom, sekarang namanya Jatinom scr administrasi masuk kabupaten Klaten, daerah ini terkenal dengan acara Ongkowiyu atau Yoqowiyu (nggak tahu istilah dari mana?..mungkin dari Arab) salah satu acaranya rebutan kue Apem di panggung depan sebuah Masjid, jadi diselenggarakannya pendak bulan Ruwah..di Jatinom terdapat petilasan2 para wali berupa 3 buah goa (?) yang masing-masing punya nama sendiri2..

    Sangkal Putung, waktu saya masih remaja (skr sdh estewe) merupakan daerah yang letaknya di “pojok” kota Klaten ke arah luar kota. Skr ketika Solo-Jogja sudah “nyambung” dusun kecil Sangkal Putung praktis sdh tidak nampak karakteristiknya.

    Jalatunda, juga masih di daerah kabupaten Klaten kira2 5 Km dari Jatinom mengarah ke jalan raya Solo-Jogja, terkenal dengan tempat pemandian alami dng mata air melimpah ruah..konon jika mata airnya tidak disumbat dengan sebuah Gong oleh Sunan Kalijaga, maka niscaya daerah tersebut dan sekitarnya berubah menjadi telaga atau Danau..

  48. kepriben kabare jilit seket wolu…?
    wis ana sing nggarap apa durung.
    nek durung tek garap sisan baenlah…
    mumpung inyong saiki lagi ora kakean garapan,
    timbangane ngenteni jilit 59 nganti peteng dhedet durung metu-metulah.

  49. kepriben kabare jilit seket wolu…?
    wis ana sing nggarap apa durung.
    nek durung tek garap sisan baenlah…
    mumpung inyong saiki lagi ora kakean garapan,
    timbangane ngenteni jilit 59 nganti peteng dhedet durung metu-metulah.

  50. kok podho ngage-age mongso
    mbok yo podho sabar sak untoro
    aku lho isih moco jilid seket enem
    mangkane dulur ojok podho ngebut anggone podho moco

  51. Kupikir, Panembahan Jati Sarono akan mengurungkan niatnya untuk menghalang-halangi pembukaan hutan Mentaok. Aku mendengar kabar bahwa andahannya tiga orang sudah tewas. Satu menyamar jadi pengawas, satu menyamar jadi dukun, dan satu lagi orang yang tinggi kekar itu! Sayangnya, Panembahan Jati Sarono tidak terpengaruh. Dia justru menambah orang-orang baru untuk membantu Ki Damar yang masih bertahan di hutan Mentaok. Apakah Ki Damar sudah mendapatkan sisik melik untuk mengetahui siapa Ki Truno Podang dan dua anak laki-lakinya itu? Aku hanya tercenung di pringgitan. Ku tatap bintang malam! Ah…masih menunggu jenang lot 58 disajikan!

  52. “Kau bernama Sura Mudal bukan ?” bertanya Raden Sutawijaya.

    mudal mudalan bukan Ki Sura,
    mudal mudalan Ki Menggung ber2, Ki AS, dan pak Satpam, segera sampai di gandhok ini.

    • ..mudal mudalan mboten….mudal madul..

      • “gandOK sini mudal-mudal-an banyak pengunjung” bisik teman
        si Sura Mudal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: