Buku 01

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 4 September 2008 at 03:50  Comments (146)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-01/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

146 KomentarTinggalkan komentar

  1. mantap bos…

  2. waduh.. sorry nih.. tadi waktu ngedit buku 1 dan 2 salah kepencet mousenya jadi pada ilang deh..
    tadi sekarang udah dibenerin plus tambah sampe buku 3.

    ndt : makasih mas.. masih 7 buku lagi dong :mrgreen:

  3. Selangkah demi selangkah, gambar kover mulai disisipkan. Tapi ada kover kami yang rusak/hilang, yaitu: Jilid 2, 4, 6, 18, dan 20. Mas Julius, bisa minta tolong scan kover2 yang rusak-hilang tersebut?

    Mas Kris: komentnya ditangkap AKISMET dan tidak bisa di-DE-SPAM. Info alamat sudah kami simpan tetapi tidak bisa kami tampilkan karena harus seijin yang punya. Ntar kalo ybs didatangi preman gimana?

    (DD)

  4. [...] Buku 01 [...]

  5. Thank’s berat yang sudah bersusah payah mencetak episode di Api di Bukit Menoreh. Saluut!, lanjut terus Bung, kalau bisa episode-episode yang lainnya, seperti episode Singasari (judulnya saya lupa). Saya penyuka cerita silat jawa. Bagaimana dengan pengarang yang lainnya termasuk Widi Widajat, dan yang lainnya.

    D2: Ada yg mau share bahannya?

  6. na ini aku suka nii
    semangat baca!!!

  7. tur nuwun nggih,remen bangen kaleh sh mintardja

  8. Wah kemajuan ini. Banyak yg googling dari dulu baru nemukan sekarang. Lanjut Bos…..!

  9. [...] 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50 [...]

  10. Waowww…smoga mjd amal yg tiada habis….selama blog msh ada, yg baca pasti akan bahagia. Tmksh banyak. Aku msh coba2 bgmn agar bisa mbaca melalui browser hp mas, he he biar dimanapun bs menikmati ADBM. sigit_js@yahoo.com adrs: kulonprogo-jogja

  11. Nuwun Sewu, numpang nyedot nggih Mas, matur nuwun.

  12. gimana dengan karya sh mintarja yg lain…kalo ada yg punya di upload dooong…
    al: hijaunya lembah hijaunya lereng pegunungan, mata air bayangan bukit, 2 naga dlm 1 sarang,bara di atas singasari dll….

  13. nyuwun sewu,

    kulo nderek maos nggih mas,

    GD: Ojo maneh 1000, sak yuta juga boleh. Silahkan. Bawa para tetangga, kawan, kerabat, …. dan siapa saja. Jangan lupa siapkan jenang alot, wedang ronde, dan …. pil anti sakau

    • ikut baca

  14. om kirimin bukunya dong
    dalam bentuk ekstensi doc atau pdf ke e-mail saya
    thanks

    GD: pdf kami tdk punya (blm buat), doc kan sudah ada tinggal baca atau kopi paste.

  15. Gugling untuk cari master piece SH Mintardja ini sdh lama, baru nemu kali ini. Matur nuwun….
    Kalo ada yg punya Bende Mataram karya Herman Pratikto boleh juga tuh.

  16. Ah saya speechlees dah

    Hanya bisa ngucapin terima kasih tak terhingga atas segala jerih payah nya demi kebahagiaan bersama.

    Salut

  17. alhamdulillah, senangnya bertemu kembali dgn serial ini sekaligus dgn para penggemar yg lain

    terima kasih banyak kpd semua yg sdh menjadikan blog ini menjadi ada

  18. Matur nuwun sanget Mas,,, hebbbat sekali bisa mengumpulkan cerita dengan lengkap ilustrasinya,, sudah lama mau cari bukunya dan susah,, Saya kenal cerita ini -itu pun penggalan2 saja- dari seorang teman penggemar berat buku ini,,, Alhamdulillah sudah bisa baca,, baca dari HP,, bisa baca sambil tiduran, makan, besok2 bisa sambil nunggu sate dihidangkan,, mungkin sambil ngawas mahasiswa UAS,, Makasih banyak deh salut,,, Two Thumbs for U. Boleh kasih masukan? Nyuwun sewu,, masih ada yang salah salah ketik ya Mas. Tapi luar biasa,, dibandingkan mencari bukunya setelah sekian lama baru bisa baca berkat upaya dan perjuangan Mas. Tengkyu banget,,,, Salam kenal.

    GD: Ibu Yanti, jilid 1-10 kami kopi paste saja dari blog pendahulu kami yang sekarang sudah non aktif. Kami belum sempat membenahinya baik karena waktu maupun rujukan aslinya yg tidak punya. Mulai jilid 11, tidak akan ada lagi salah2 ketik itu. Kami jamin karena mulai jilid 11 itulah kami melanjutkan ADBM.

  19. Mas kalo mau beli bukunya dimana ya ?

    Terima kasih :)

    GD: Yang jelas bukan di sini :)

  20. terima kasih banyak untuk yang telah bersusah payah demi menyenangkan penggemar dan melestarikan budaya melalui cerita silat.
    Bravo, didiP

  21. Salut oi terima kasih banyak atas usahanya yang luar biasa ini, maju terus kami penggemar cersil angkat topi untuk Anda
    Salam, Eddy.M

    # selamat bergabung, kisanak.

  22. Matur Nuwun sanget mas,
    Nuwun sewu bade numpang ngopy nggih,..
    supados maosipun saget raoooss pisan

    # monggo kisanak. jangan lupa isi testimonial di halaman cerita.

  23. pansiunan, kilas balik ke …………..

  24. Yang jagoan ini Agung Sedayu apa Untara ya ? kok beda banget

  25. Cerito kang biso nggugah lan paring tulodo tumraping kaum mudo, kanggo jogo kawetahaning nagri estu pantes kawaos ing saksinteno kewolo.

  26. Dimana saya bisa mendapatkan buku-buku ini ya?

  27. English Version :
    Lightning raced through the sky, its thundering sound echoed throughout the slope of Mountain Merapi. The tropical thunder storm owns the night.
    Agung Sedayu is still sitting on a bamboo bench, shivering with fear. His face turns paler every time. It was very cold and gruel some.
    “I am going,” suddenly he heard the low tone voice of his older brother, Untara. He raised his pale face, and with a shivering voice he said, “No, please don’t go now”.
    “No more time”, Untara said. “The remaining of Arya Penangsang’s troops who can’t accept their defeat has gone wild and uncontrollable. I have to inform uncle Widura in Sangkal Putung. If not, casualties will be devastating. His children will die in vain. The attack will come swiftly.”
    “But can you just send somebody else to do that?” said Agung Sedayu.
    “There’s no one else,” Untara replied.
    “But,…” Agung Sedayu lips are trembling.
    “I have to go.” Untara rise, but his brother’s hands quickly grab his cloth. “No, please, don’t!” he scream. “I’m scared”.
    Untara release a long sigh. “You only have to be alone for one night,” he said. “Tomorrow, you will go to Banyu Asri, and you’ll stay there until I come.”
    “But it’s this night that makes me scared.” His little brother replied. “What if those angry troops come here?”
    “They won’t,” Untara said. “I know that. They will ambush uncle Widura. That’s why I have to go.”
    “No – Noo!!” Agung Sedayu eyes began covered with tears.
    Once more Untara releases a long sigh, and unconsciously put him back sitting to his brother’s side. His mind stuck. He can’t just do nothing for his uncle’s troop that is already being in danger. But his little brother is really a mama’s boy. He’s almost 18 years old, but depends entirely on others. After their father past away a few years ago, followed by their mother’s a few months back, his brother never leaves his side, especially in this kind of situation. He sometime thinks he’s left with a baby.
    After a long pause, he said, “Sedayu, you’re almost 18 years old. At your age, The Duke of Pajang, once known by his nick name, Mas Karebet has made an impact on Demak, and now, still at a very young of age, he defeated the mighty Arya Penangsang.”
    “I’m not them.” Sedayu answered
    Untara shakes his head, “at least, you have to be ashamed of yourself”.
    “But, I’m scared!” Agung Sedayu said, ignoring his big brother’s words.
    Again, Untara is at lost. It’s his own fault that he is over protecting his younger brother. He faced everyone who tried to bully his little brother. That’s why Sedayu is totally depended on him. And now that he’s grown into a young man, he’s not able to stand on his own feet.
    Although he already teach him a move or two on self defense, where in that lesson Sedayu showed his agility and dexterity, but it’s still limited behind their house walls.
    (SHOULD I CONTINUE ?)
    Mohon arahannya Ki Gede,…

    $$ pasti boleh.. saya dukung.

  28. Akan sangat luar biasa jika ada versi bahasa inggrisnya.

  29. komik ini saya baca ketika saya kelas 4 SD, belum selesai sampai anak saya juga udah kelas 4 juga
    dalam pada itu pengarangnya dipanggil oleNYA
    saluuuut…..
    moga-moga tambah semangat buat para padepokan yang nyantrik di blog lurah sangkal putung ini
    terima kasih mas..

  30. jadi pengen bongkar gudang, masih ada ga ya…bukunya….kangen sama ceritanya

  31. klo pengen nyari bukunya masih ada ga, ya?
    hiks…dulu tetangga pernah punya…eh tiba2…udah dijual…walhasil ga selesi bacanya

    suwun

  32. luarrrrr biasa, para cantrik lain sudah tamat mempelajari kitab 149 di tanggal 18 feb 2009, e..di tanggal 14 feb 2009 ada cantrik pemula yang menelusuri dari kitab 1, rrruaarrrr biasa.

  33. rupanya perlu juga ADBM go internasional dng versi bhs inggrisnya..sptnya gak kalah dng cerita Harry Potter yg penuh fantasi

  34. mau baca caranya gmana nih mas

  35. Wahhhh dulu cuma bisa liat2 di rentalan komik tapi udah pada ngilang….
    Masss… mbok disediain ikon untuk download otomatis… soalee.. ndak bisa setiap hari ke warnet nihhh…. plissss… maturnuwun. Merdeka !!!

    $$ google aja mas..

  36. wah masih ada yang baru mulai nyantrik
    Sungguh mengesankan…

  37. better late than never late he..he..he…

  38. :mrgreen:

  39. tulisan jejeg

  40. boleh di testkan

  41. nyoba nulis neng kene sinambi nyeluk diajeng nunik…
    diajeeeeng nnuuuniiiikk….

  42. @ bung Didik
    lha kok nulis jejeg nang kene boeng,
    nang adbm 272, ono sing kelawek, mbalik ngisor nduwur,
    ngiwo nengen bung

  43. Ikut ngabsen dsni jg deh

  44. ikutan gabung Di sini dweeh,,:)

  45. Wah koncone soyo akeh…Mataram tambah rejo. Aku dadi tukang satang wiwit 7 Nop 2008, pas mongso prastowo lahire ADBM 01. Saiki aku wis keponthal2 ora iso nututi bantere lakuning jaman, mbuh saiki ADBM wis tekan jilid piro sing mesti aku lg moco tekan jilid 99.
    Ayo wong Mataram & Menoreh, menopo arep nyabrang kali Progo ojo sungkan2…tak sabrangke ora usah bayar. Omahku kulon kali Progo, klebu tlatah Menoreh.
    Oiyo…sopo yo sing ngerti, ono jilid piro prastowo Agung Sedayu bondoyudo nglawan Swandaru mergo kepekso kudu mbuktekne ilmu kanuragane?
    sigit_js@yahoo.com

  46. ooo, di sini aman, lanjut…

  47. Versi untuk djvu utk jilid 1 no.1-94 bisa didapat dimana ya?

  48. matur nuwun sanget…
    mas ijin me “nitro pdf” ADBM nya…
    lagi memulai buku 1 di nitro nich he..he…

  49. luar biasa, aku baru menemukan blog ini hari ini (2 Mei).

    sejak nogososro sabut inten tamat disambunglah denagan adm ini, aku mengikutinya sejak aku masih smp (bahkan sempat pula ke rm sh mintardjo di pojok beteng kulon, rumahnya waktu itu masih setengah tembok -mlarat ya?- maklum jaman dulu penghargaan buat beliau hanya sebatas periuk nasi), tapi setelah hijrah ke kota lain adm 2 nya gak sempet kubeli n kubaca sampai tamat.

    saya hanya bisa mengucap terima kasih yang tak terhingga kepada pemilik site ini, semoga ALLAH memberkat anda dan keluarga, amien

  50. Komentarnya cuman 49, tak genapin aja supaya genap jadi 50, he…he… dari pada nganggur… iseng sambil nunggu buku III-21…

  51. Latihan :
    kalau bener, ini tulisannya miring
    Trus ini mr green : ‘:mrgreen:’
    dan yang ini setan :’:evil:’

  52. :evil:

  53. gimana donl;otmya ?

  54. Awalnya baca ADBM biasa saja.. gak ada kesan.. setelah di terusin kok jadi ketagihan.. Apalagi ceritanya puaaannjaaaangg buuuaaangeett..

  55. aku suka…

  56. ada yang sharing donk beri contoh utk link kitab1-70 donk, makasih

  57. sip banget, membuat aku teringat masa kecil. kira-kira sampai jilid berapa ya edisi elektroniknya

  58. KARO NGENTENI KITAB 299 METU, TA REREAD MANEH SEKO KITAB PERTAMA

  59. permisi, saya boleh bergabung? membaca cerita karya bangsa sendiri.

    terima kasih :)

  60. Terima kasih tak terhingga karena boleh ngunduh isinya…
    Kalo ada yang punya kumpulan:
    1. Matahari Esok Pagi (kalo ndak salah karangan SH. Mintardja juga)
    2. Lanjutan dari Tembang Tanah Air-nya Arswendo Atmowiloto (Jilid 9 ampe akhir)
    tolong di share disini (kalo boleh) atau kirim ke mail aku : airbening@plasa.com
    matur nuwun

  61. Maaf mas2, sy buka lwt hp kok g bs nggih, cm ada balasan “memori penuh”. Blh minta tlg g, bgm caranya biar sy bs baca lwt hp..mtrnwn.

  62. Maaf mas2, sy buka lwt hp kok g bs nggih, cm ada balasan “kesalahan kehabisan memori”. Blh minta tlg g, bgm caranya biar sy bs baca lwt hp..mtrnwn.

  63. Terima kasih tak terhingga karena boleh ngunduh isinya…
    Kalo ada yang punya kumpulan:
    1. Matahari Esok Pagi (kalo ndak salah karangan SH. Mintardja juga)
    2. Lanjutan dari Tembang Tanah Air-nya Arswendo Atmowiloto (Jilid 9 ampe akhir)
    tolong di share disini (kalo boleh) atau kirim ke mail aku : airbening@plasa.com
    matur nuwun

  64. trimakasih…akhirnya dapat baca kembali Api di bukit menoreh..

    S senang sekali ada cantrik baru di padepokan :)

  65. Mohon maaf Nyi Seno dan bagi pembaca Gandok 1. Saya titip retype II-94 di sini, mudah-mudahan tidak mengganggu.
    Karena di sana sudah tidak bisa muat lagi.
    Terimakasih.

    Lanjutan retype adbm2-jilid 294

    Namun dalam pada itu, di pintu gerbang yang menjadi tujuan Ki Tumenggung Wiladipa telah terjadi kekacauan. Ketika para prajurit Pajang dan Demak sedang dengan gigih mempertahankan pintu gerang itu dari sebuah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang menjadi bagian dari pasukan Mataram, mereka telah melihat pasukan berkuda yang datang kearah mereka.

    Pasukan yang bersiap-siap di belakang pintu gerbang menyambut pasukan itu dengan gembira, karena mereka berharap bahwa pasukan berkuda itu akan memperkuat kedudukan mereka jika pintu itu benar-benar mampu dipecahkan oleh pasukan Mataram.

    Tetapi ternyata sikap pasukan berkuda itu berlawanan dengan harapan mereka. Ketika pasukan berkuda itu mendekati pintu gerbang, maka mereka pun telah berpencar.

    Ki Pranawangsa, Senapati yang memimpin pasukan berkuda itu tiba-tiba saja telah memberikan perintah kepada pasukan Pajang dan Demak untuk menyerah dan melepaskan senjata mereka.

    “Apa arti perintah ini?” bertanya perwira yang memimpin pasukan Pafang dan Demak di pintu gerbang itu.

    “Kalian harus menyerah dan membuka pintu gerbang itu” perintah Ki Pranawangsa.

    “Menyerah kepada siapa?” bertanya perwira itu.

    “Menyerah kepada kami, karena kami merupakan bagian dari pasukan Mataram” jawab Ki Pranawangsa.

    “Pengkhianat” geram perwira itu, “jadi kalian telah berkhianat dan berpihak kepada Mataram?”

    “Kami tidak berkhianat” jawab Pranawangsa, “kami adalah pasukan yang justru berusaha untuk menempatkan Pajang pada keadaan yang seharusnya. Pajang merupakan bagian dari Mataram. Sekarang Pajang yang berada dibawah pengaruh Ki Tumenggung Wiladipa telah memberontak melawan Mataram.”

    “Persetan” teriak perwira itu, “hancurkan pasukan berkuda yang berkhianat itu.”

    “Kami berusaha untuk tegak pada kebenaran” Ki Pranawangsa berteriak pula, “kami tidak mau dijadikan korban pengkhianatan Tumenggung Wiladipa. Nyawanya tidak lebih berharga dari nyawa kami sehingga kami tidak mau dijadikan tebusan dan mati tanpa arti.”

    “Lalu kalian mau mati sebagai apa?” bertanya perwira yang marah itu.

    “Kami ingin mati sebagai prajurit yang setia kepada kedudukannya, karena Pajang merupakan bagian dari Mataram” jawab Pranawangsa.

    Perwira itu tidak bertanya lebih lanjut. Sekali lagi ia meneriakkan perintah kepada para prajurit Pajang dan Demak yang bersiap-siap dibelakang pintu gerbang.

    Dengan demikian maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran antara pasukan yang mempertahankan pintu gerbang itu melawan pasukan berkuda yang kuat. Pertempuran yang segera menjadi pertempuran yang sengit.

    Namun dengan demikian, maka pasukan Pajang dan Demak itu telah melawan dua kekuatan yang besar yang berada di luar dan di dalam arah pintu gerbang. Karena itu, maka kekuatan mereka seakan-akan telah terbagi.

    Sementara itu, Ki Tumenggung Wiladipa dengan dua orang pengawal telah sampai ketempat itu. Dengan jantung yang hampir meledak ia melihat satu kenyataan, bahwa pasukan berkuda Pajang telah berkhianat kepadanya.

    Dengan demikian maka dengan suara gemetar ia telah memerintahkan pengawalnya untuk langsung menuju ke barak pasukan cadangan.

    “Perintahkan atas namaku, agar mereka dengan cepat menuju kemari” perintahnya.

    Seorang dari kedua pengawalnya telah berpacu menuju ke barak pasukan cadangan yang dipersiapkan sebagaimana pasukan berkuda yang dapat ditarik kesegala arah. Dengan sangat tergesa-gesa pengawal itu telah menyampaikan perintah Ki Tumenggung Wiladipa untuk segera menggerakkan pasukan cadangan.

    Pasukan cadangan itu pun terdiri dari prajurit-prajurit yang sigap. Karena itu, maka dengan cepat mereka menyiapkan diri dan dalam kesatuan yang utuh mereka berlari menuju ke pintu gerbang yang dimaksud.

    Sementara itu Ki Tumenggung Wiladipa masih belum melibatkan diri. Ia masih berusaha untuk memelihara jarak dengan pertempuran.

    Namun pasukan berkuda itu berusaha dengan cepat menembus pertahanan pasukan Pajang dan Demak. Mereka berusaha untuk mencapai pintu gerbang dan mengangkat selaraknya yang besar dan berat untuk membukanya.

    Tetapi orang-orang Pajang dan Demak mempertahankan pintu gerbang itu dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Mereka tidak lagi mengingat untuk apa mereka bertempur. Sebagai seorang prajurit Pajang dan Demak mereka mempunyai naluri untuk mempertahankannya.

    Ki Tumenggung Wiladipa masih berusaha untuk menunggu pasukan cadangan yang dengan cepat bergerak. Tetapi ketika keadaan menjadi semakin mendesak maka Ki Tumenggung Wiladipa tidak dapat berpangku tangan. Dengan diam-diam ia berusaha mendekati arena dan dengan tidak menyatakan dirinya sebagai seorang yang memegang perintah seluruh pasukan Pajang dan Demak, maka ia menyelinap kemedan bersama seorang pengawalnya.

    Dengan garangnya Ki Tumenggung Wiladipa telah menyapu setiap prajurit berkuda yang mendekatinya. Kemampuannya ternyata sangat mengagumkan. Meskipun tidak seorang pun diantara prajurit dari pasukan berkuda yang ragu-ragu, namun kehadiran seorang yang tidak terlalu banyak dikenal itu, telah menggetarkan pasukan itu.

    Tetapi ternyata di bagian lain dari pertempuran itu, dari antara para prajurit dari pasukan berkuda itu pun beberapa orang telah bertempur dengan kemampuan yang tidak tertahankan. Kemampuannya yang luar biasa telah membawanya mendesak dan menerobos pasukan yang sedang bertahan mati-matian.

    Sekelompok kecil prajurit berkuda telah berusaha mematahkan setiap penghambatnya untuk dapat mencapai pintu gerbang. Dengan kemampuan ilmunya, maka setapak demi setapak jarak itu akan dapat dijangkaunya.

    Namun dalam pada itu, telah terdengar sorak yang bagaikan merobohkan gerbang. Pasukan cadangan yang diperintahkan oleh Ki Tumenggung Wiladipa ternyata telah datang.

    Perwira dari pasukan cadangan yang memimpin pasukan itu pun segera meneriakkan aba-aba. Pasukan cadangan itu diperintahkannya untuk menghancurkan pasukan berkuda yang telah berkhianat.

    “Kita harus cepat mencapai pintu gerbang itu jika pasukan ini tidak ingin dihancurkan disini” berkata Ki Pranawangsa.

    Untara menggeram. Lalu katanya, “Kita terpaksa menghancurkan setiap orang yang berusaha menghalangi kita.”

    Sabungsari mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Marilah.”

    Masih seorang lagi yang akan bertempur bersama mereka. Agung Sedayu. Betapapun ia menghindarkan diri dari kemungkinan membunuh namun dalam pertempuran yang menjadi semakin sengit itu, kemungkinan yang tidak diinginkan itu pun terjadi.

    Bersama dengan sekelompok kecil pengawal terpilih mereka telah menerobos menusuk kedalam pertahanan lawannya.

    Sulit untuk menahan gerak Sabungsari dan Agung Sedayu. Sementara pedang Untara, Ki Pranawangsa dengan para pengawal terpilihnya telah menyibakkan pertahanan lawan.

    Betapa pasukan berkuda itu bertempur dengan beraninya, tetapi kehadiran pasukan cadangan itu pun terasa sangat berpengaruh. Pasukan cadangan yang kemudian mengepung dari punggung pasukan berkuda telah membuat pasukan berkuda itu menjadi semakin, sulit kedudukannya.

    Bahkan semakin lama mereka pun menjadi semakin terjepit. Namun karena kematangan latihan-latihan yang telah menempa pasukan itu, maka mereka pun mampu bertahan dan melawan dengan sengitnya pula.

    “Kalian telah membunuh diri” geram Senapati yang memimpin pasukan cadangan itu.

    Prajurit dari pasukan berkuda itu sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan sekali lagi seorang perwira dari pasukan berkuda itu masih berteriak, “Menyerahlah. Kalian akan mendapat pengampunan dari Mataram.”

    “Gila kau pengkhianat” teriak Senapati dari pasukan cadangan itu.

    Dengan demikian maka pertempuran pun telah menjadi semakin seru. Suara dentang senjata beradu berbaur dengan sorak yang gemuruh di antara orang kesakitan, membuat suasana pertempuran itu menjadi semakin menegangkan.

    Pertempuran yang berkobar semakin dahsyat bukan hanya dipintu gerbang yang satu itu. Dipintu gerbang utama pasukan Mataram telah menggempur pasukan Pajang dan Demak. Tetapi pintu gerbang utama itu pun dipertahankan dengan kekuatan yang memadai, sehingga pertempuran pun terjadi dengan sengitnya, meskipun dibatasi oleh jarak. Kedua belah pihak telah melontarkan anak panah dan lembing tak terhitung lagi jumlahnya. Sementara usaha untuk memecahkan pintu gerbang atau memanjat dinding masih belum berhasil.

    Dipintu gerbang yang lain, pasukan Sangkal Putung menyerang menghentak-hentak. Swandaru sendiri memimpin serangan untuk mencoba memecahkan pintu gerbang. Tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak dapat membiarkan anak-anak terbaiknya terbunuh dimuka pintu gerbang tanpa perhitungan. Karena itu, maka Swandaru pun berusaha untuk dapat mengurangi jumlah korban yang jatuh dimuka pintu gerbang itu. Sehingga dengan demikian, maka usaha pasukan pengawal kademangan Sangkal Putung itu pun masih belum berhasil juga.

    Dalam pada itu, maka Untara dan kelompok kecilnya berusaha terus menyuruk maju. Mereka tidak lagi berada diatas punggung kuda, tetapi mereka bertempur dengan kaki di atas tanah.

    Agung Sedayu dan Sabungsari yang berada di paling depan telah membuka jalan bagi mereka. Meskipun keduanya tidak sempat mempergunakan ilmu mereka yang memancar lewat sorot mata mereka, namun ilmu pedang keduanya melampaui kemampuan setiap prajurit Pajang dan Demak. Bahkan dengan ilmu kebalnya, Agung Sedayu membuat lawan-lawannya menjadi bingung dan tidak percaya akan kenyataan yang mereka hadapi. Namun Agung Sedayu itu maju terus betapapun lambatnya.

    Sementara itu, prajurit Pajang dan Demak telah mendesak terus. Di atas dinding mereka bertempur melawan pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang berusaha menerobos masuk dari luar. Kedatangan pasukan cadangan yang membantu mereka, telah memulihkan kekuatan pasukan Pajang dan Demak yang berada di atas dinding untuk menahan usaha pasukan Tanah Perdikan Menoreh untuk maju.

    Sedangkan pasukan cadangan yang lain telah menghimpit pasukan berkuda yang mengalami sedikit kesulitan. Tetapi pada saat”saat yang mendebarkan itu, Agung Sedayu dan kelompok kecilnya telah menjadi semakin dekat dengan pintu gerbang. Tidak ada lagi pertimbangan yang menghambatnya. Ia harus mencapai pintu gerbang dan membukanya. Para prajurit Pajang dan Demak yang menghalanginya, terpaksa disingkirkannya. Mati atau tidak mati.

    Tetapi para prajurit Pajang dan Demak pun mempertahankan pintu gerbang itu mati-matian. Seorang perwira yang memimpin kelompok prajurit dari Demak, yang setia kepada Ki Tumenggung Wiladipa telah meneriakkan aba-aba untuk mempertaruhkan nyawa mereka agar pintu gerbang itu dapat diselamatkan.

    Kemenangan itu ternyata sampai juga kepada Ki Tumenggung Wiladipa. Sehingga dengan kemarahan yang menghentak di dalam dadanya ia menggeram, “Setan mana yang dapat menerobos prajurit-prajuritku itu?”

    Sebenarnya, bahwa prajurit Pajang dan Demak memang tidak mampu menahan gerak maju sekelompok kecil yang dengan ujung senjata telah menyibakkan lawau-lawannya.

    Dengan jantung yang berdegup keras Ki Tumenggung Wiladipa bergeser di antara pasukannya untuk berusaha mencapai sekelompok orang yang bergerak menuju kepintu gerbang. Sementara pertempuran antara pasukannya dengan pasukan berkuda masih juga berlangsung dengan sengitnya, meskipun prajurit-prajurit dari pasukan berkuda yang jumlahnya lebih sedikit dari pasukan Pajang dan Demak, apalagi setelah ditambah dengan pasukan cadangan. Namun yang semakin lama menjadi semakin jelas bahwa para prajurit dari pasukan berkuda mengalami kesulitan.

    Namun pada saat yang gawat itu, Agung Sedayu dan Sabungsari telah menghentakkan kemampuannya. Untara: Ki Pranawangsa dan sekelompok terpilih berusaha untak mendesak maju. Sementara Agung Sedayu dan Sabungsari menahan tekanan dari sebelah menyebelah bersama Untara dan Ki Pranawangsa, maka lima orang pengawalnya telah mulai menggapai selarak pintu yang besar. “Cepat” perintah Untara.

    Kelima orang itu pun kemudian dengan menggerakkan kekuatannya berusaha untuk mengangkat selarak pintu itu. Betapapun beratnya selarak pintu yang besar itu, namun perlahan-lahan selarak itu mulai terangkat.

    Ki Wiladipa yang menyusup di antara pertempuran itu pun sudah mendekati regol itu pula. Beberapa langkah lagi ia akan sampai untuk mencegah pintu itu terbuka. Namun ia pun tertegun. Dari sela-sela ujung senjata ia melihat Untara berada di antara orang-orang Yang berusaha membuka selarak pintu itu.

    “Setan Untara” geram Ki Tumenggung Wiladipa. Jantungnya yang bergejolak keras telah mendorongnya untuk meloncat menerkam Untara dan orang-orangnya. Tetapi pada saat yang demikian, selarak pintu yang berat itu telah terangkat.

    Di muka pintu gerbang itu telah terjadi keributan yang membingungkan. Kekuatan di luar pintu gerbang yang sangat besar telah menekan pintu gerang yang sudah tidak berselarak lagi itu. Betapapun orang-orang Pajang dan Demak menghujani orang-orang Tanah Perdikan dengan anak panah dan lembing, namun ketika pintu mulai terbuka perlahan-lahan, maka kekuatan dari luar regol telah mengalir memasuki pintu gerbang diiringi oleh sorak gemuruh yang bagaikan meruntuhkan langit.

    Sementara itu, selapis pasukan yang khusus telah mendapat tugas untuk melindungi pasukan yang menerobos masuk itu dengan lontaran anak panah dan lembing kearah para prajurit Pajang dan Demak yang berada di atas pintu gerbang dan sebelah menyebelahnya.

    Dalam kekisruhan ita, ternyata kelompok-kelompok pasukan berkuda telah mengambil kesempatan. Mereka jurtsu menghindar dari pertempuran. Sebagian dari mereka berusaha memanjat dinding untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi hambatan yang dilakukan oleh para prajurit Pajang dan Demak, sementara prajurit Pajang dan Demak yang ada dipintu gerbang, ternyata tidak sempat menahan mereka karena arus pasukan yang memasuki pintu gerbang.

    Pertempuran pun menjadi bertambah sengit. Para prajurit dari pasukan berkuda yang memanjat dinding tidak segera dapat berbuat sesuatu yang berarti, karena yang sempat melakukan tidak cukup banyak jumlahnya. Namun sementara itu, ternyata pasukan khusus dari Mataram yang berada di lingkungan pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah memanjat dinding dari luar pula dengan tangga-tangga yang sudah mereka persiapkan.

    Dengan demikian, maka prajurit Pajang dan Demak yang ada di atas dinding itu menjadi seolah-olah terjepit. Sementara itu prajurit dari pasukan berkuda pun semakin banyak pula yang memanjat tebing dari bagian dalam.

    Akhirnya pertahanan di atas dinding itu pun pecah pula. Para prajurit Pajang dan Demak tidak lagi sempat menghujani lawannya dengan anak panah dan lembing. Tetapi mereka harus mencabut pedang mereka dan bertempur beradu dada.

    Sementara itu, pasukan Tanah Perdikan Menoreh benar-benar bagaikan air bah yang telah memecahkan bendungan. Meskipun tertahan-tahan, tetapi pasukan itu mengalir terus memasuki pintu gerbang. Bahkan kemudian pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang terlatih dan memiliki pengalaman di beberapa benturan perang besar itu pun dengan pasti telah mendesak lawan mereka. Bahkan pasukan khusus Mataram yang ada di lingkungan pasukan Tanah Perdikan itu pun telah berloncatan turun pula dari atas dinding setelah mereka berhasil mematahkan perlawanan pasukan Pajang dan Demak bersama para prajurit dari pasukan berkuda yang memanjat dari dalam.

    Dengan demikian, maka sejenak kemudian pertempuran pun telah membakar kota Pajang di dalam pintu gerbang. Pasukan Mataram yang terdiri dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, sekelompok pasukan khusus Mataram dan para prajurit dari pasukan berkuda Pajang perlahan-lahan berusaha menyusun diri sebaik-baiknya sambil mendesak pasukan lawan untuk bergeser mundur.

    Ki Tumenggung Wiladipa ternyata terlambat menyelamatkan pintu gerbang itu. Tetapi ia pun memiliki ketajaman pengamatan atas seluruh medan. Karena itu, maka yang dilakukannya kemudian adalah berusaha menemui Senapati pasukannya yang terdesak itu dan berkata -Aku tidak dapat terikat dalam satu pertempuran, karena aku harus berada di segala medan. Aku terlambat mencapai pintu gerbang. Tetapi sudah pasti bahwa tujuan pasukan Mataram kemudian adalah membuka pintu gerbang utama. Karena itu, tarik pasukan kepintu gerbang utama dan bantu pasukan yang ada di sana untuk mempertahankan pintu gerbang. Biarlah sebagian saja dari pasukanmu yang melayani pasukan lawan, karena menurut perhitunganku, sebagian besar dari mereka tentu akan menuju ke pintu gerbang utama. Aku akan berada disana.

    Senapati yang memimpin prajurit Pajang dan Demak di pintu gerbang yang sudah terbuka itu pun dengan cepat telah menarik diri. Sambil bertahan mereka beringsut surut menuju kepintu gerbang induk. Mereka akan menyatukan diri dengan pasukan yang kuat ;yang; ada di pintu gerbang utama itu dan mempertahankannya.

    Namun Senapati itu tidak melepaskan sama sekali pintu gerbang yang sudah terbuka itu. Ia menugaskan sekelompok pasukannya untuk berada di sekitar pintu gerbang dan mengganggu prajurit Mataram yang terdiri dari pasukan Pangawal Tanah Perdikan Menoreh, setelah sebagian besar dari pasukan itu mengalir ke pintu gerbang utama.

    Tetapi tidak semua kekuatan yang memasuki kota di. pintu gerbang yang terbuka itu menuju kepintu gerbang utama. Meskipun sebagian dari mereka memang menuju kepintu gerbang utama, tetapi sebagian yang lain telah menuju ke pintu gerbang yang lain. Kepintu gerbang yang harus bertahan melawan pasukan dari Sangkal Putung.

    Kehadiran pasukan itu, memang agak kurang diperhitungkan sebelumnya. Karena itu, maka prajurit Pajang dan Demak yang berada di pintu gerbang itu terkejut dan untuk beberapa saat mereka dicengkam oleh kebingungan. Namun para perwiranya dengan susah payah telah berhasil menguasai keadaan, sehingga perlawanan mereka pun menjadi mapan.

    Apalagi ketika sebagian pasukan yang terpecah dari para prajurit Pajang dan Demak yang kemudian datang pula ke pintu gerbang itu telah membantu mereka.

    Dengan demikian maka pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh berusaha untuk memecahkan perhatian para prajurit Pajang dan Demak. Bahkan sebagian dari mereka telah berusaha untuk memanjat dinding dari bagian dalam untuk mengurangi perlawanan pasukan Pajang dan Demak atas pasukan pengawal Sangkal Putung.

    Bagaimanapun juga kehadiran para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu berpengaruh atas perlawanan pasukan Pajang dan Demak. Sementara itu Swandaru telah berusaha dengan sekuat tenaganya untuk memecahkan pintu gerbang.

    Sebenarnya Swandaru merasa agak kecewa bahwa telah datang pasukan Tanah Perdikan Menoreh ke pintu gerbang itu untuk membantu pasukannya. Sebenarnya ia ingin menunjukkan bahwa pasukannya memiliki kemampuan untuk memecahkan pintu gerbang itu tanpa bantuan dari siapa pun. Namun agaknya pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah datang membantunya justru dari dalam.

    Sementara itu, di pintu gerbang induk, pertempuran pun berlangsung pula semakin sengit. Pasukan Pajang dan Demak yang ditarik dari pintu gerbang yang pecah, sebagian besar telah mundur ke pintu gerbang itu pula. Sementara itu sebagian besar pasukan Tanah Perdikan Menoreh dan sekelompok prajurit Mataram dari pasukan khusus telah berusaha untuk memberikan tekanan sebesar-besarnya kepada pasukan Pajang dan Demak yang mempertahankan pintu gerbang utama. Bahkan sebagian dari pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah berhasil memanjat dinding dan bertempur melawan mereka yang mempertahankan pintu gerbang itu dari atas dinding. Dengan demikian maka mereka yang berada di luar dinding pun telah mendapatkan kemungkinan lebih besar untuk memanjat dinding pula.

    Di luar pintu gerbang pasukan khusus Mataram bekerja dengan keras. Usaha para pengawal Tanah Perdikan untuk mengurangi tekanan atas pasukan yang menyerang pintu gerbang itu mempunyai pengaruh yang besar, sehingga pasukan Mataram mendapat lebih banyak kesempatan untuk berusaha memecahkan pintu gerbang dari luar.

    Sebenarnyalah, pertempuran di pintu gerbang itu menjadi semakin seru ketika Pajang melepaskan orang-orang khususnya untuk melawan para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh. Mereka telah melepaskan budak-budak dan orang-orang yang dianggap tidak berharga disamping para prajurit.

    Orang-orang itu tidak banyak berpengaruh. Meskipun jumlah yang besar di dalam benturan kekuatan ada juga pengaruhnya, tetapi pasukan Tanah Perdikan Menoreh justru dengan cepat mampu menguasai mereka.

    Tetapi yang menyusul kemudian, benar-benar telah menggetarkan jantung para pengawal. Ternyata Pajang benar-benar telah mempergunakan orang-orang yang seharusnya menjalani hukuman karena melakukan kejahatan. Mereka adalah perampok-perampok, bajak laut dan perompak, yang pada umumnya secara pribadi memiliki kemampuan. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang itu henar-benar telah mengguncang medan pertempuran.

    Cara mereka bertempur telah mengejutkan orang-orang Tanah Perdikan. Tetapi mereka pun dengan cepat berusaha untuk menyesuaikan diri.

    Namun ternyata bahwa Pajang benar-benar telah menempatkan pasukan yang kuat di pintu gerbang utama itu, sehingga meskipun pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah datang membantu dari dalam, namun mereka tidak mudah dapat memecahkan atau membuka pintu gerbang. Apalagi karena pasukan Pajang dan Demak dari pintu gerbang yang tidak berhasil dipertahankan itu tidak berada pula di pintu gerbang induk.

    Sementara itu, Ki Pranawangsa dan Untara yang telah berada di pintu gerbang itu pula, serta Ki Gede Menoreh telah sepakat untuk menyusun kelompok kecil sebagaimana telah dilakukan oleh pasukan berkuda waktu membuka pintu gerbang, yang juga bertugas menyusup pasukan lawan membuka pintu gerbang utama itu.

    Pasukan kecil itu harus terdiri dari orang-orang terpilih.

    Sejenak kemudian maka telah berkumpul orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui para pengawal yang lain. Ki Pranawangsa sendiri, Ki Gede Menoreh yang juga menyatakan kesediaannya. Untara, Agung Sedayu dan Sabungsari, bahkan kemudian akan ikut pula Sekar Mirah dan Glagah Putih.

    “Kita akan menyusup di antara pasukan lawan dan membuka pintu gerbang.” berkata Untara.

    Kelompok kecil itu pun segera bersiap-siap. Mereka melengkapi kelompok mereka dengan beberapa orang terpilih, sehingga dengan demikian maka mereka akan mampu untuk menahan gelombang yang akan mendera dari sebelah menyebelah.

    Namun dalam pada itu, Ki Tumenggung Wiladipa tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti pernah terjadi. Ia tidak menunggu sekelompok orang bergerak lebih dahulu. Tetapi Ki Tumenggung Wiladipa telah menunggu mereka di pintu gerbang bersama beberapa orang pengawal terpilihnya.

    “Mereka tentu akan datang” berkata Ki Tumenggung Wiladipa “kita tunggu mereka disini.”

    Sebenarnyalah, maka sekelompok kecil orang-orang terpilih dari pasukan Mataram itu pun mulai bergerak.

    Namun dalam pada itu, pasukan pengawal Tanah Perdikan dan prajurit Mataram dari pasukan khusus kecuali bertempur di dalam pintu gerbang, mereka pun telah berhasil untuk merintis jalan memanjat dinding, sehingga dengan demikian maka orang-orang Pajang dan Demak yang berada diatas dinding harus membagi perhatian mereka. Apalagi ketika prajurit Mataram dari pasukan khusus diluar sempat juga memasang tangga dan memanjat pula.

    Dengan demikian, maka hambatan bagi para prajurit Mataram yang akan membuka pintu gerbang dari luar itu pun menjadi jauh berkurang meskipun pertempuran di belakang pintu gerbang itu sendiri masih terjadi dengan sengitnya.

    Ki Tumenggung Wiladipa yang mengetahui bahwa orang-orang dalam kelompok kecil yang ingin menyusup di antara para prajurit Pajang dan Demak itu adalah orang-orang pilihan, benar-benar telah mempersiapkan diri. Ia tidak mengenal sebagian dari mereka. Tetapi ia tahu bahwa Untara dan seorang pengawalnya adalah orang pilihan karena mereka dapat lolos dari tangan orang-orang yang dipilihnya untuk membunuhnya ketika Untara kembali dari Pajang ke Mataram.

    Namun dalam pada itu, sebelum Ki Wiladipa benar-benar bertemu dengan Untara atau dengan Agung Sedayu atau Sabungsari, karena sekelompok kecil orang-orang pilihan dari Tanah Perdikan Menoreh belum sempat mencapai pintu gerbang, maka terdengar derak yang memekakkan telinga. Di luar pintu gerbang, dilindungi oleh lontaran-lontaran anak panah, lembing dan bahkan mereka yang sempat memanjat dinding, maka sekelompok orang telah mengangkat sebuah kayu balok yang besar dan panjang. Dengan berlari kencang sebagai ancang-ancang, maka mereka membenturkan balok kayu itu kearah pintu gerbang.

    Betapapun kuatnya pintu gerbang dan selaraknya yang besar, namun ketika benturan itu dilakukan beberapa kali, maka selarak pintu gerbang itu pun mulai retak.

    “Gila” geram Ki Wiladipa “tahan, agar pintu itu tidak terbuka.”

    Namun dalam pada itu Untara yang mendengar dan kemudian mengetahui bahwa selarak pintu yang besar itu mulai retak telah memberi peringatan kepada kawan-kawannya, untuk berhati-hati.

    “Sebaiknya kita menunggu sejenak” berkata Untara “kita dapat bertempur dalam jarak tertentu. Mudah-mudahan selarak itu benar-benar akan pecah.”

    Kawan-kawannya pun mengerti. Karena itu, maka mereka telah menahan diri untuk tidak mendesak maju. Tetapi mereka telah bertempur di tempat.melawan para prajurit Pajang dan Demak yang datang menyerang.

    Sebenarnyalah, ketika hentakan balok kayu yang besar dan panjang itu diulangi lagi dengan ancang-ancang yang cukup jauh, maka.selarak pintu gerbang itu pun mulai bergetar. Selarak pintu yang retak pun menjadi semakin retak, sehingga akhirnya selarak pintu itu pun telah runtuh.

    Dengan derak yang diiringi oleh sorak yang gemuruh, maka pintu gerbang itu perlahan-lahan telah terbuka. Kehadiran pasukan Tanah Perdikan Menoreh dan sekelompok para prajurit dari pasukan khusus serta pasukan berkuda telah mampu memperkecil hambatan dari pasukan Pajang dan Demak, terutama yang berada diatas dinding, sehingga memungkinkan mereka memecahkan pintu gerbang yang kuat itu.

    Sejenak kemudian, maka sebagaimana air yang menderu di atas bendungan yang pecah, maka pasukan Mataram pun telah mendorong pasukan Pajang dan Demak. Tanpa dapat ditahan lagi, maka mereka telah mendesak maju, sementara pasukan Tanah Perdikan Menoreh dan sekelompok kecil pasukan khusus serta pasukan berkuda yang dipimpin oleh Ki Pranawangsa berusaha untuk menyesuaikan diri.

    Dengan demikian, maka telah terjadi hiruk pikuk di pintu gerbang itu. Para prajurit Pajang dan Demak pun telah dengan susah payah menyusun diri. Mereka pun terdiri dari prajurit-prajurit yang berpengalaman, sehingga mereka berhasil memantapkan kembali pasukan mereka. Sementara itu, Pajang benar-benar telah melepaskan semua orang yang dianggapnya tidak berharga kedalam medan: Terutama orang-orang yang telah diambilnya dari bilik-bilik hukuman.

    Namun pasukan Mataram cukup kuat untuk mendesak mereka. Perlahan-lahan pasukan Mataram berhasil membangunkan landasan berpijak bagi pasukannya.

    Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang sengit di dalam lingkungan kota Pajang. Pasukan Mataram yang kuat, serta pasukan berkuda Pajang yang berpihak kepada Mataram, perahan-lahan telah mendesak pasukan Pajang dan Demak selangkah demi selangkah surut.

    Dalam pada itu, hampir bersamaan waktunya, ternyata pasukan Sangkal Putung pun telah mampu memecahkan pintu gerbang. Pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang sempat datang membantunya dari dalam dinding telah memperkecil perlawanan pasukan Pajang dan Demak sebagaimana terjadi di pintu gerang utama.

    Meskipun tidak sedahsyat pertempuran di gerbang utama, namun pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh juga mengalami perlawanan yang gigih. Para prajurit Pajang dan lebih-lebih para prajurit Demak yang berada di Pajang, telah bertempur dengan tekad yang mantap.

    Dengan demikian, maka pertempuran yang terjadi di dalam kota Pajang di segala medan menjadi semakin dahsyat. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kernampuan yang mungkin dapat mereka kerahkan. Mereka tidak mau mengalami kesulitan di dalam pertempuran itu karena kelengahan dan kelambatan. Karena itu, maka kedua belah pihak berusaha untuk dengan cepat mengatasi kemampuan lawannya.

    Dalam pada itu, ketika pasukan Mataram sebagian hesar telah memasuki kota Pajang, maka ternyata bahwa kekuatan Mataram masih berada di atas kekuatan pasukan Pajang dan Demak. Perlahan-lahan pasukan Mataram berhasil mendesak pasukan Pajang yang menarik pasukannya menuju kepintu gerbang halaman istana Pajang, Mereka berusaha untuk mempersempit medan sehingga mempersempit pula daerah benturan antara kedua pasukan itu.

    Namun dalam pada itu, pasukan Mataram dengan kewaspadaan yang tinggi, masih tetap mengawasi setiap jengkal dinding kota Pajang. Selain memasuki kota, mereka pun mendapat perintah, agar tidak seorang pun yang dapat lepas dari tangan mereka. Mereka harus berhasil menangkap Ki Tumenggung Wiladipa yang telah mencoba membunuh utusan Panembahan Senapati.

    Karena itu, maka disetiap pintu gerbang yang ditinggalkan oleh pasukan Pajang dan, Demak masih tetap diawasi oleh pasukan Mataram, di samping pengawasan atas dinding diseputar kota.

    Sementara itu, ternyata Ki Tumenggung masih tetap berada di antara pasukannya. Ketika pasukan induknya telah terdesak semakin jauh, maka ia pun telah memerintahkan sekelompok prajuritnya untuk menyiapkan tempat bagi pasukannya yang akan. memasuki pintu gerbang dinding halaman istana. Sementara itu pasukan pengawal harus mempersiapkan diri. Pasukan Mataram mungkin akan berhasil mendesak pasukan Pajang dan Demak memasuki halaman istana. Dalam keadaan yang demikian, maka pasukan pengawal khusus yang terdiri dari orang-orang pilihan harus turun kemedan. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain bertempur dan dengan kemampuan mereka yang rata-rata melampaui kemampuan prajurit kebanyakan, maka mereka akan dapat membantu kekuatan Pajang dan Demak untuk bertahan bahkan mengusir pasukan Mataram.

    Sebenarnyalah bahwa Pajang dan Demak telah berusaha untuk menarik diri melalui ampat pintu gerbang halaman istana. Sementara itu sekelompok pasukan telah mempersiapkan pintu gerbang yang akan dilalui oleh pasukan Pajang dan Demak Sedangkan pasukan itu pun telah mempersiapkan pula sekelompok prajurit yang akan berada di atas dan di sebelah-menyebelah pintu gerbang. Mereka akan menghambat pasukan Mataram yang akan mendesak pasukan Pajang dan Demak setelah mereka masuk ke dalam pintu gerbang.

    Ternyata bahwa pasukan pengawal khusus yang telah mendapat keterangan tentang pasukan Pajang dan Demak, telah mempersiapkan diri. Tetapi jumlah mereka pun cukup banyak, sehingga mereka dapat membagi para pengawal khusus itu pada ke empat pintu gerbang. Mereka segera memanjat dinding dan bersiap dengan bukan saja anak panah dan lembing, tetapi mereka justru lebih percaya kepada pisau-pisau yang dapat mereka lontarkan dengan bidikan yang lebih cepat dari bidikan anak panah, meskipun harus ditunggu sampai jarak yang lebih dekat. Bahkan seandainva lawannya berusaha untuk menyembunyikan diri dibalik perisai sekalipun. Asal saja masih ada bagian tubuhnya yang nampak, maka yang nampak itu masih akan dapat dikenainya, menyusup di antara lindungan perisainya.

    Namun dalam pada itu telah terjadi ketegangan di dalam istana. Kanjeng Adipati yang mengikuti perkembangan keadaan terus-menerus lewat beberapa orang petugas yang mengamati keadaan, telah menjadi cemas juga. Ternyata bahwa Ki Tumenggung Wiladipa telah salah menilai kekuasaan Mataram dan kekuasaan Pajang yang diperkuat oleh Demak.

    “Tetapi seandainya pasukan berkuda tidak berkhianat maka hamba kira, pintu gerbang samping itu tidak akan pecah Kangjeng Adipati” berkata salah seorang Senapati pasukan pengawal khususnya.

    “Kenapa tidak seorang pun di antara para petugas sandi yang dapat menyadap rencana pengkhianatan pasukan berkuda itu” geram Kangjeng Adipati.

    “Itulah yang membuat hamba geram” jawab Senapati itu. Kemudian katanya, “Tetapi Kangjeng Adipati tidak usah cemas. Ki Tumenggung Wiladipa mempunyai kemampuan yang luas menanggapi setiap keadaan. Ternyata dalam personal ini pun Ki Tumenggung cepat mengambil sikap. Sekelompok prajurit telah diperintahkan untuk mempersiapkan diri menyongsong pasukan Pajang yang akan mundur memasuki gerbang halaman istana. Sementara itu, pasukan pengawal khusus yang tidak tertembus oleh kekuatan yang manapun sudah dipersiapkan pula. Apakah artinya pasukan Mataram jika mereka sudah berhadapan dengan pasukan pengawal khusus?”

    Kangjeng Adipati Pajang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa sangat kecewa terhadap Pangeran Benawa yang berkuasa di Jipang, karena Pangeran Benawa sama sekali tidak menanggapi permintaannya untuk mengirimkan pasukan yang akan dapat memperkuat kedudukan Pajang.

    Hampir di luar sadarnya Kangjeng Adipati itu bergumam “Aku tidak dapat mengerti, kenapa Adimas Pangeran Benawa tidak mau bekerja sama dengan Pajang untuk menghancurkan Mataram. Jika Panembahan Senapati tidak merebut tahta dari Pajang ke Mataram, maka Pangeran Benawa-lah yang sebenarnya berhak atas. Tahta Pajang.”

  66. Senapati yang menghadapi itu pun kemudian menyahut “Ampun Kangjeng Adipati. Jipang tidak akan berarti apa-apa bagi kita selain hanya akan mempersulit kedudukan saja. Karena itu justru beruntunglah kita bahwa Jipang tidak melibatkan diri kedalam persoalan ini sehingga Pangeran Benawa kelak tidak akan dapat menuntut apa pun juga kepada Kangjeng Adipati. Bahkan kelak, Jipang itu pun akan dapat dihapuskan pengaruhnya, sehingga tidak akan mengganggu kedudukan Kangjeng Adipati.”

    Kangjeng Adipati Pajang tidak menjawab. Tetapi nampak kebimbangan masih saja membayang di wajahnya. Namun demikian Senapati itu pun tidak berbicara lagi. Ia takut jika kemudian kata-katanya justru tidak berkenan dihati Kangjeng Adipati.

    Dalam pada itu pertempuran pun masih terjadi dengan sengitnya. Perlahan-lahan, masih dalam kesatuan yang utuh, pasukan Pajang dan Demak menarik diri. Jalan sudah dipersiapkan, sementara sebagian dari mereka yang telah mendahului serta pasukan pengawal khusus telah siap melindungi mereka jika mereka memasuki regol yang kemudian akan diselarak dari dalam. Pasukan Mataram berusaha mencegah penarikan diri yang cermat itu. Tetapi ternyata tidak berhasil. Perlahan-lahan tetapi pasti, pasukan Pajang dan Demak telah memasuki pintu gerbang halaman istana dan kemudian diselarak dari dalam.

    Pasukan Mataram memang terhambat oleh perlindungan pasukan yang memasuki gerbang itu lebih dahulu, dibantu oleh para pengawal khusus yang memiliki kemampuan melampaui para prajurit kebanyakan.

    Ketika pintu gerbang di ampat penjuru utu telah tertutup maka pasukan Mataram baik pasukan khususnya, maupun para prajuritnya yang berada di Jati Anom atau yang telah ditarik dari beberapa daerah, serta para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan Sangkai Putung, terpaksa menghentikan pengejaran. Pintu gerbang telah tertutup rapat diselarak dengan pengawalan yang sangat kuat. Apalagi matahari telah menjadi semakin rendah diujung Barat.

    “Pasukan Mataram tidak bersiap-siap untuk memecahkan pintu-pintu gerbang itu” berkata salah seorang perwira “alat-alat yang ada telah ditinggal dipintu gerbang yang memasuki kota.”

    Laporan itu akhirnya sampai kepada Panglima pasukan Mataram yang memimpin serangan itu. Ki Lurah Branjangan.

    “Untuk sementara kita menarik diri” berkata Ki Lurah “sebentar lagi senja akan turun. Sebaiknya beberapa orang tertentu mencari tempat yang paling baik untuk malam nanti. Namun demikian, kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Ada beberapa kemungkinan dapat terjadi. Pasukan Pajang dan Demak akan dapat mengambil sikap yang menyimpang dari paugeran perang. Mereka dapat keluar di malam hari dan menyerang kita. Kemudian melarikan diri kembali masuk pintu gerbang. Sedang kemungkinan lain yang tidak boleh terjadi, malam nanti Ki Tumenggung Wiladipa tidak boleh hilang dari dalam kepungan. Karena itu, tidak seorang pun yang boleh keluar dari dinding kota.”

    Para perwira pun menyadari tugas mereka masing-masing. Karena itu maka mereka pun telah mempersiapkan pasukan mereka untuk menarik diri dari medan dan beristirahat. Namun dalam pada itu, mereka telah menunjuk orang-orang yang khusus untuk mencari tempat-tempat beristirahat. Tidak harus baik, tetapi harus memungkinkan mengamankannya.

    Demikian, ketika saatnya tiba, maka telah terdengar suara isyarat menggema di seluruh kota. Pasukan Mataram pun kemudian perlahan-lahan bergeser surut meninggalkan pintu-pintu gerbang dan dinding istana.

    Ternyata setiap kelompok telah mendapatkan tempatnya masing-masing. Ada yang di banjar padukuhan, ada yang di rumah-rumah yang cukup besar dan berhalaman luas, ada yang mendapat tempat pada barak-barak termasuk barak pasukan berkuda sendiri. Dan tempat-tempat lain yang memungkinkan. Namun dalam waktu singkat, para penghubung telah dapat mengetahui semua tempat yang dipergunakan tanpa ada yang terlampaui.

    Ki Lu:ah Branjangan dan para pemimpin dari segala unsur yang ada di dalam pasukan Mataram telah menentukan tempat bagi pimpinan pasukan Mataram. Tempat yang harus diketahui oleh semua perwira dan penghubung, karena dari tempat itulah semua kebijaksanaan pertempuran itu akan diatur.

    Namun dalam pada itu, semua prajurit Mataram telah menerima perintah untuk tidak me!epaskan kewaspadaan. Setiap saat mereka harus siap untuk bertempur. Juga malam hari. Karena itu maka setelah makan dan membenahi diri maka para prajurit telah berbaring berserakan di tempat-tempat yang telah ditentukan, sambil memeluk senjata masing-masing apa pun ujudnya, Perisai dan pedang, tombak, trisula, canggah, kapak dan jenis-jenis senjata yang lain menurut kemampuan para prajurit itu sendiri. Karena dimedan perang yang sebenarnya mereka dituntut untuk mampu mengerahkan tingkat tertinggi dari kemampuan dan ilmu senjata masing-masing.

    Tetapi di antara mereka, para penjaga hilir mudik di tempat tugas masing-masing. Bergantian mereka mengawasi keadaan. Sementara itu, petugas-petugas khusus telah mengitari seluruh medan untuk menolong kawan-kawan mereka yang terluka dan mengumpulkan mereka yang terbunuh di peperangan.

    Sementara itu, pasukan Mataram sama sekali tidak mengganggu tugas yang sama dari orang-orang Pajang dan Demak, meskipun mereka telah keluar dari pintu gerbang halaman istana dengan obor-obor ditangan.

    “Silahkan” para petugas dari Mataram justru telah mempersilahkan mereka yang ditemui di bekas arena yang luas itu.”

    “Jika ada yang terlampaui, tolong rawat kawan-kawan kami yang terluka” berkata para petugas dari Pajang.

    “Kami tidak akan melepaskan kemanusiaan kami” jawab orang Mataram “siapa pun yang memerlukan pertolongan, akan kami tolong sesuai dengan kemampuan yang ada pada kami.”

    “Terima kasih” jawab orang-orang Pajang.

    Namun sebenarnyalah orang-orang Pajang harus bekerja keras untuk mengangkut kawan-kawan mereka yang terluka dan tersebar di seluruh kota ke dalam dinding halaman. Namun tugas itu mereka lakukan juga.

    Namun dalam pada itu, setiap prajurit, Mataram yang bertugas menjadi sangat berhati-hati. Mungkin diantara mereka terdapat orang yang bernama Wiladipa.

    Namun sampai batas waktunya orang-orang Pajang itu ditarik memasuki regol halaman istana, tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Orang-orang Pajang sekedar melakukan tugas kemanusiaan atas kawan-kawan mereka tanpa menimbulkan persoalan lain.

    Dengan demikian maka para perwira Mataram dari segala unsur menganggap bahwa Ki Wiladipa tentu masih berada di dalam kota, kecuali jika orang itu terbunuh di luar pengetahuan para prajurit Mataram. Ki Tumenggung Wiladipa tentu memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan, sehingga ia tidak akan terlalu mudah untuk terbunuh di pertempuran yang betapapun ganasnya.

    Karena itu, maka perintah Ki Lurah Brangjangan masih tetap dijalankan oleh setiap prajurit Mataram dari segala unsurnya. Tidak seorang pun yang akan dapat lolos meninggalkan kota yang kemudian dipersempit seluas halaman istana saja.

    Sementara itu, Ki Lurah Branjangan masih sempat pula untuk mengadakan pembicaraan dengan beberapa orang yang bertanggung jawab atas unsur-unsur yang ada di lingkungan pasukan Mataram, hanya sekedar untuk menyesuaikan agar mereka dapat tetap memelihara langkah-langkah mereka, karena perjuangan mereka telah mendekati babak terakhir. Jika mereka mampu memecahkan gerbang halaman yang manapun dari keempat pintu gerbang istana, maka mereka, akan dapat memasuki istana.

    Namun tugas itu adalah tugas yang amat berat, karena di balik dinding halaman istana itu, penuh dengan prajurit Pajang dan Demak yang siap untuk bertempur mati-matian. Seakan-akan setiap jengkal tanah akan dipertahankan oleh seorang prajurit yang bersedia mati untuk itu.

    Malam itu, semua persiapan telah dilakukan sebaik-baiknya. Para prajurit Mataram telah mempersiapkan alat-alat yang akan mereka pergunakan untuk memecahkan pintu gerbang istana. Sementara itu, mereka juga menyiapkan tangga-tangga yang akan mereka pergunakan untuk mencoba memanjat dinding halaman apabila memungkinkan.

    Tengah malam, maka semua persiapan dan usaha untuk menyingkirkan setiap orang yang terluka dan mengumpulkan mereka yang terbunuh di peperangan telah dianggap selesai. Semua orang harus benar-benar beristirahat sebaik-baiknya, kecuali beberapa orang saja yang masih harus bertugas dengan penuh kewaspadaan. Di pintu-pintu gerbang dan setiap jarak tertentu di seputar dinding istana dan diseputar dinding kota, agar tidak seorang pun dapat lolos.

    Demikianlah, maka ternyata para prajurit dari kedua belah pihak, betapapun ketegangan mencengkam, namun mereka sempat juga melepaskannya dan dengan nyenyak tidur mendengkur, meskipun ada juga satu dua orang yang gelisah.

    Tetapi pada keadaan yang demikian, maka hampir setiap orang di dalam pasukan kedua belah pihak, merasa bahwa tidak akan ada kemungkinan lain daripada bertempur. Membunuh atau dibunuh, sehingga dengan demikian maka mereka tidak lagi dibayangi oleh kegelisahan lagi.

    Demikianlah, waktu bergeser setapak demi setapak. Malam pun menjadi semakin dalam menjelang fajar.

    Kesibukan mulai nampak pada kedua belah pihak ketika mereka yang mempersiapkan makan dan minum bagi para prajurit itu pun mulai menyalakan api.

    Ketika langit menjadi semakin terang, maka pasukan dikedua belah pihak pun telah bersiap. Ki Lurah Branjangan telah mengadakan pertemuan sekali lagi dengan para pemimpin. Ia memberikan perintah-perintah terakhir sebelum pasukannya mulai bergerak. Karena menurut perhitungan dan harapan Ki Lurah Branjangan, maka pada hari itu mereka akan dapat memecahkan gerbang di dinding halaman.

    “Jangan kalian usik Kangjeng Adipati Pajang, karena bagaimanapun juga, Kangjeng Adipati adalah masih kadang sendiri” berkata Ki Lurah Branjangan “segala sesuatunya akan kami serahkan kepada Panembahan Senapati sendiri. Demikian juga kalian berhasil menangkap orang yang bernama Ki Tumenggung Wiladipa. Orang itu jika mungkin dapat ditangkap hidup. Biarlah Panembahan Senapati pulalah yang memberikan hukuman kepadanya, karena ia sudah menghina Panembahan Senapati dengan mencoba membunuh utusannya. Sementara itu,.sekelompok prajurit khusus yang sudah ditunjuk harus mengamankan gedung pusaka dan gedung perbendaharaan.

    Panembahan Senapati sendiri pulalah yang akan menentukan, pusaka-pusaka manakah yang akan dibawa ke Mataram dan yang manakah yang akan tetap berada di Pajang. Mungkin Panembahan Senapati harus berbicara lebih dahulu dengan Pangeran Benawa, karena meskipun Pangeran Benawa tidak menerima kedudukan sebagai Sultan di Pajang, namun ia adalah putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang lahir laki-laki yang sebenarnya, berhak menggantikan kedudukannya. Tetapi jika tidak itu adalah karena kehendaknya sendiri.

    Para Senapati pun menjadi jelas, apa yang harus mereka lakukan jika mereka nanti memasuki halaman istana. Sebagai kelengkapan pesannya, maka Ki Lurah pun berkata “Kalian adalah prajurit-prajurit Mataram yang berlandaskan sikap seorang kesatria, karena itu, kalian tidak boleh bersikap sewenang-wenang atas lawan kalian yang sudah kalian kalahkan.”

    Kalian juga tidak boleh menyentuh semua harta benda yang ada di dalam istana Pajang, karena itu bukannya hak kalian. Panembahan Senapati pun tidak menghendaki menaklukkan Pajang sebagaimana perang antara dua kekuatan yang memang saling bermusuhan. Tetapi yang dilakukan adalah sekedar peringatan dari keluarga sendiri terhadap anggauta keluarga yang lepas dari kebijaksanaan.”

    “Baik Ki Lurah” jawab seorang Senapati “kami akan berusaha untuk mengendalikan setiap orang dalam pasukan kami sebagaimana Ki Lurah kehendaki.”

    Demikianlah, maka sebelum matahari terbit, para Senapati telah berada di dalam pasukan masing-masing. Mereka pun telah bersiap untuk melakukan serangan pada tahap-tahap terakhir.

    Mereka berharap bahwa pada hari itu mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka yang berat.

    Sementara itu, untuk mengendalikan para prajurit di dalam setiap unsur pasukan Mataram, maka setiap kepala kelompok telah memberikan pesan-pesan sebagaimana mereka dengar dari para Senapati yang tumimbal.

    Setiap pemimpin kelompok berkata bepada pasukannya, “Kita harus memegang sifat seorang kesatria. Jangan menodai nama Mataram dengan sikap dan tingkah laku yang tidak pantas bagi seorang kesatria.”

    Dengan demikian, maka para prajurit di dalam setiap kelompok itu pun mempunyai pegangan yang sama, karena mereka mempunyai pengertian yang sama tentang sifat-sifat seorang kesatria.

    Demikianlah, pada saatnya maka isyarat pun telah berbunyi. Satu kali, setiap orang harus sudah berada di tempatnya. Dua kali bersiap-siap dan ketika terdengar isyarat untuk ketiga kalinya, maka pasukan pun mulai bergerak.

    Dengan tekad yang bulat untuk memecahkan pertahanan lawan, maka pasukan Mataram maju mendekati dinding halaman istana. Namun mereka pun sadar, bahwa di dalam dinding itu terdapat pasukan pengawal khusus yang terkenal. Sebagian besar mereka adalah orang-orang Demak yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan.

    Seperti yang telah terjadi, maka pasukan Mataram telah dibagi sesuai dengan asal mereka masing-masing sehingga dengan demikian maka mereka akan dapat bekerja sama dengan baik. Namun dalam keseluruhan pasukan Mataram itu benar-benar telah mengepung halaman istana. Sementara di pintu-pintu gerbang telah terjadi pemusatan-pemusatan pasukan yang akan memecahkan dinding halaman.

    Tetapi pasukan Pajang pun telah mengadakan pemusatan-pemusatan diatas dan di seputar regol. Mereka telah siap dengan segala macam senjata lontar. Bukan saja anak panah dan lembing, tetapi pasukan pengawal khusus telah siap dengan pisau-pisau kecil mereka yang dapat mereka lontarkan dengan daya bidik yang tidak akan pernah meleset dari sasaran yang dikehendaki.

    Ketika pasukan Mataram telah mulai membentur dinding dan pintu gerbang maka pertempuran pun telah mulai. Anak panah berterbangan ke kedua arah. Demikian pula lembing yang tajam. Sementara para prajurit dari pasukan pengawal khusus telah siap untuk melakukan tugas mereka dengan satu pegangan bahwa tidak ada pasukan manapun juga yang mampu menembus pertahanannya.

    Sejenak kemudian maka pertempuran pun telah membakar setiap jengkal tanah dan dinding halaman. Namun tekanan dan pertahanan yang terberat berada di sekitar pintu-pintu gerbang.

    Para prajurit dan pasukan Pengawal Khusus benar-benar memiliki daya tempur yang sangat besar.

    Dengan demikian maka pasukan Mataram telah mengalami kesulitan untuk memecahkan gapura-gapura yang ada di dinding halaman itu. Satu pun di antara gapura yang ada di ampat arah itu tidak dapat didekatinya. Gelondong kayu yang besar yang sudah diangkat dan siap dibenturkan kepintu gerbang. telah kandas karena pertahanan yang tidak tertembus. Hujan anak panah dan lembing yang dilontarkan oleh para prajurit dari pasukan khusus tidak dilakukan sebagaimana prajurit-prajurit yang lain. Prajurit-prajurit yang lain sekedar hanya melontarkan anak panah dan lembing kearah pasukan Mataram. Tetapi para prajurit dari pasukan khusus benar-benar telah membidik. Mereka yang melindungi dirinya dengan persiapan masih juga dapat dikenainya. jika yang nampak adalah sikunya, maka sikunyalah yang terkena anak panah. Sedangkan jika yang masih nampak adalah jari-jari kakinya, maka jari-jari kakinya itulah yang terkena anak panah. Bahkan semakin dekat, yang menyusup diantara perisai-perisai itu bukan saja anak panah dan lembing, tetapi juga pisau-pisau kecil mereka.

    Dengan demikian maka pasukan Mataram menjadi semakin berhati-hati. Selapis pasukannya yang melindungi kawan-kawannya dengan anak panah seakan-akan tidak berarti apa-apa. Bahkan para prajurit dari pasukan khusus Pajang itu ada yang sempat berdiri diatas dinding, sambil berteriak “Marilah orang-orang Mataram. Apa yang dapat kau lakukan dengan permainanmu yang buruk itu? Berapa orang kawanmu yang akan kau korbankan di muka pintu gerbang ini he?”

    Para Senapati dari Mataram menjadi berdebar-debar. Namun dalam pada itu, pasukan khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh telah mengambil sikap. Terdengar Ki Lurah Branjangan sendiri meneriakkan aba-aba -Pasang gelar kura-kura.”

    Sekelompok pasukan khusus yang bersenjata perisai telah berkumpul. Dengan cepat mereka telah memasang satu gelar yang terlalu khusus. Gelar yang tidak banyak dikenal, tetapi seolah-olah secara khusus telah dikembangkan oleh pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh.

    Gelar itu kemudian merupakan bentuk yang sangat tertutup. Yang nampak adalah perisai-perisai yang besar yang saling berhubungan rapat, sehingga tidak ada selubang jarum pun yang akan dapat disusupi oleh anak panah dan bahkan pisau-pisau kecil.

    Sementara itu di dalam gelar itu, telah bersembunyi sekelompok orang yang membawa gelondong kayu yang besar dan panjang yang akan mereka benturkan pada pintu gerbang.

    Gerakan yang aneh itu telah membuat pasukan pengawal khusus dari Pajang menjadi marah. Mereka tidak lagi menghujani pasukan yang mempergunakan gelar yang aneh itu dengan anak panah dan lembing, bahkan pisau-pisau kecil. Tetapi mereka kemudian menyerang gelar itu dengan batu-batu besar yang digulingkan di bibir dinding diatas regol.

    Para prajurit dari pasukan khusus mencoba bertahan. Sementara di dalam gelar itu telah terjadi gerakan-gerakan yang keras karena sekelompok prajurit mencoba memecahkan gerbang-gerbang dengan gelombang kayu, betapapun sulitnya, karena ruang gerak yang sangat sempit.

    Namun dalam pada itu, ternyata seorang Senapati dari pasukan pengawal itu melihat, betapa pasukan Mataram telah mempergunakan gelar yang aneh. Karena itu, maka mereka pun harus melawan gelar itu dengan cara yang khusus pula.

    Yang kemudian berdiri di atas gerbang itu adalah Ki Turnenggung Wiladipa sendiri. Dengan wajah yang merah menahan kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya, ia pun berkata kepada Senapati pasukan pengawal khusus, “jadi kalian tidak dapat memecahkan gelar itu.”

    “Bagaimana pendapat Ki Tumenggung?” bertanya Senapati itu.

    “Kalian memiliki kemampuan di atas orang kebanyakan. Marilah bersama aku memecahkan gelar yang gila itu” jawab Ki Tumenggung.

    Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baik Ki Tumenggung Marilah. Kita pecahkan gelar yang gila itu.”

    Ki Tumenggung Wiladipa pun kemudian mengambil anak panah dan busurnya, sebagaimana dilakukan oleh Senapati itu. Dengan wajah yang tegang Senapati itu berkata, “Mudah-mudahan aku memiliki kekuatan sebagaimana dimiliki oleh Ki Tumenggung meskipun barangkali berbeda bentuknya.”

    “Jika kau tidak mampu memecahkan gelar itu, maka sebaiknya kau meletakkan jabatanmu” berkata Ki Tumenggung.

    Sejenak kemudian maka Ki Tumenggung Wiladipa itu pun telah melontarkan satu di antara anak panahnya. Ternyata akibatnya sangat mengejutkan. Sentuhan anak panah itu pada perisai pasukan khusus Mataram, telah melontarkan bunga api yang memercik kesegala penjuru. Ternyata bahwa yang nampak itu hanya sekedar salah satu akibat saja dari benturan anak panah yang dilontarkan oleh Ki Tumenggung Wiladipa. Akibat yang lain, yang ternyata sangat menentukan adalah kekuatan ilmu Ki Tumenggung yang menjalar lewat anak panah yang dilontarkan dan kemudian menusuk ke dalam perisai prajurit Mataram dari pasukan khusus itu. Perisai baja itu rasa-rasanya bagaikan telah dipanggang di atas bara. Perlahan-lahan perisai itu menjadi panas.

    Akibat itu memang sangat mengejutkan. Tetapi pada satu lapis tertentu kenaikan panas itu pun berhenti. Prajurit yang memegang perisai itu pun menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa masih mampu mengatasi panah itu dengan daya tahan tubuhnya.

    Namun yang tidak diduga-duga, sekali lagi anak panah Ki Tumenggung Wiladipa mengenai perisai itu. Dengan demikian maka panas sudah hampir menurun itu telah meningkat semakin tinggi.

    “Gila” geram prajurit itu “panas ini tidak tertahan kan lagi.”

    “Ada apa?” bertanya kawannya.

    Namun ternyata bahwa anak panah Ki Tumenggung telah mengenai dua tiga perisai yang lain. Setiap kali bidikannya diulangi. Dan ternyata bahwa Ki Tumenggung tidak pernah salah membidik perisai yang telah pernah disentuh oleh anak panahnya.

    Sementara Senapati pasukan pengawal khusus Pajang itu mempergunakan anak panah pula untuk menggugurkan gelar lawannya. Dengan menghentakkan ilmunya. Senapati itu telah melontarkan anak panahnya. Akibat yang timbul memang berbeda. Anak panah itu tidak membuat perisai lawannya menjadi panas. Tetapi perisai itu bergetar dengan kerasnya seolah-olah segumpal batu hitam yang runtuh dari lereng bukit telah menimpanya.

    Prajurit yang perisainya terkena anak panah Senapati itu mengaduh. Dengan nada keheranan ia berkata “Gila. Batu sebesar apakah yang telah dilemparkan ke perisaiku.”

    Namun kawannya tidak sempat menjawab, karena anak panah berikutnya telah mengenai perisai kawannya itu.

    Dengan demikian, maka gelar kura-kura yang aneh itu menjadi goncang. Beberapa orang menjadi sakit karena goncangan kekuatan yang tidak tertahankan.

    Pemimpin dari gelar itu semula tidak menyadari apa yang terjadi. Tetapi ketika gelarnya menjadi rusak maka ia pun telah meneriakkan aba-aba, agar pasukannya itu ditarik undur.

    Gelar kura-kura yang aneh itu pun kemudian bergerak mundur. Bahkan sebagian dari mereka terpaksa tertinggal, karena pada saat-saat yang sulit, anak panah lawannya berhasil mengenainya. Bukan anak panah Ki Tumenggung dan Senapati yang mampu menggetarkan perisai pasukan khusus Mataram itu mundur, tetapi anak panah dari para pengawal yang mengejar saat-saat pasukan Mataram ditarik.

    Ki Lurah yang melihat gelarnya itu mundur, telah memanggil pemimpin gelar itu. Namun kemudian dari beberapa orang prajuritnya Ki Lurah mengetahui apa yang telah terjadi. ,

    “Gila” geram Ki Lurah “ tetapi kita tidak boleh gagal lagi.”

    Namun dalam pada itu, matahari pun telah melewati puncaknya. Pasukan Mataram yang terdiri dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dari para pengawal dari Sangkal Putung pun pun tidak mampu memecahkan pintu gerbang disisi yang lain.

    Untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Maka Ki Lurah pun segera memanggil beberapa orang Senapati terpenting, Untara. Ki Gede Menoreh, Swandaru dari unsur yang berbeda serta Agung Sedayu.

    “Para senapati Pajang telah mempergunakan ilmu yang sangat tinggi” berkata Ki Lurah.

    “Tetapi kita tidak boleh berputus asa” berkata Swandaru “ pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh, hampir saja berhasil memecahkan pintu gerbang.”

    “Kita memang tidak akan berhenti” berkata Ki Lurah “tetapi yang terjadi itu mudah-mudahan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Iangkah-langkah kita selanjutnya.”

    “Kita harus memanfaatkan kemampuannya yang melebihi kemampuan orang kebanyakan” berkata Ki Gede.

    “Kita habiskan hari ini” berkata Agung Sedayu “jika kita gagal, kita pertimbangkan cara-cara yang akan kita tempuh esok.”

    “Kita biarkan anak-anak” kita menjadi sasaran anak panah dari pembidik-pembidik tepat dari Pajang dan Demak?” bertanya Ki Lurah.

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang masuk akal. Namun kesulitan jawabnya, “Kita harus berhati-hati. Kita berusaha untuk memanfaatkan perisai sebaik-baiknya Tidak semua orang Pajang dan Demak mampu membakar perisai dan menggetarkan lengan orang-orang Mataram. Sementara itu para pembidik tepat kita pun akan ikut membantu mereka. Jika terpaksa, maka kita akan mengambil jarak dari para pemimpin mereka yang tentu berada di gerbang induk. Aku yakin hanya satu dua di antara pemimpin-pemimpin mereka sajalah yang mampu berbuat demikian.”

    Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Sementara Swandaru berkata, “Aku masih akan mencoba. Aku kira kita akan dapat berbicara nanti setelah pertempuran ini diakhiri untuk hari ini.”

    Ki Lurah masih mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi jangan lengah. Kita berhadapan dengan ilmu yang tinggi. Bukan saja dalam gelar perang, tetapi secara pribadi mereka memiliki kekuatan yang sulit untuk dilawan.”

    Sementara itu, maka Swandaru dan Ki Gede pun segera kembali ke pasukan masing-masing. Sedangkan Agung Sedayu untuk sejenak masih berada bersama Ki Lurah.

    Dengan nada ragu Ki Lurah bertanya kepada Agung Sedayu “Bagaimana dengan Kiai Gringsing?”

    “Guru ada disini Ki Lurah. Tetapi guru pernah berkata kepadaku bahwa guru sudah waktunya untuk mulai menyingkir dari arena seperti ini. Meskipun tidak dengan serta merta.” jawab Agung Sedayu “namun jika keadaan memang memaksa , mungkin aku akan dapat menanyakan kepada guru, setidak-tidaknya guru akan dapat memberikan petunjuk untuk mengatasinya.”

    Ki Lurah mengangguk-angguk. Ia memang sudah mendengar niat Kilai Gringsing untuk tidak melibatkan diri lagi dalam persoalan-persoalan seperti yang terjadi saat ini. Namun baik Agung Sedayu maupun orang-orang lain tidak tahu apa yang sebenarnya tersirat di hati Kyai Gringsing. Kecuali ia memang ingin perlahan-lahan menarik diri dan mulai dengan satu kehidupan yang menjurus di hari-hari tuanya, maka ia ingin mendorong agar Agung Sedayu lebih cepat untuk berusaha menggantikan tempatnya. Menurut pengamatan Kiai Gringsing, ilmu yang ada pada diri Agung Sedayu, baik kedalamannya maupun jenisnya, sudah pantas baginya untuk tampil menggantikannya. Hanya dalam keadaan tertentu saja, maka ia dapat keluar dari padepokan yang akan menjadi tempat tinggalnya.

    “Aku memang sudah terlalu tua” berkata Kiai Gringsing kepada diri sendiri, “jika aku tidak mulai mendorong yang muda untuk menggantikan kedudukan orang-orang tua seperti aku, maka pada suatu saat akan terjadi kekosongan yang berbahaya.”

    Dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun kemudian minta diri kepada Ki Lurah untuk sekali lagi mengamati medan. Ia masih akan berusaha untuk mencari pemecahan dari persoalan yang dihadapi oleh pasukan Mataram.

    Ia tidak ingin segera menyampaikan persoalan itu kepada gurunya. Hanya jika sudah tidak ada jalan lain, maka ia akan minta petunjuk apa yang sebaiknya dilakukannya.

    Bersama Ki Lurah Branjangan, maka Agung Sedayu pun kembali ke medan. Namun dengan tujuan yang berbeda. Ki Lurah berusaha untuk dapat melihat kemungkinan-kemungkinan lain di pintu gerbang-pintu gerbang samping. Mungkin dapat ditemukan jalan untuk memecahkan pintu gerbang itu. Tetapi jika ia mempergunakan gelar kura-kura, maka tentu akan terulang lagi kegagalan yang baru saja terjadi di pintu gerbang utama.

    Sementara itu, Agung Sedayu telah berada di pintu gerbang Utama. Untara telah menenggelamkan diri kedalam pasukannya. Namun Pasukan Mataram benar-benar menemui kesulitan, sehingga hal itu mereka masih belum berhasil memecahkan pintu gerbang yang manapun.

    Disisi lain. Swandaru berusaha untuk dapat memecahkan pintu gerbang dengan cambuknya. Ia telah minta sebuah perisai kepada seseorang pengawal. Dengan perisai ditangan kiri untuk melindungi dirinya dari lontaran lembing dan anak panah, maka ia mencoba untuk memecahkan pintu gerbang itu.

    Ledakan cambuknya memang mengejutkan seluruh medan di satu sisi. Para prajurit Pajang dan Demak terkejut mendengarnya. Bukan mereka pun menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat seseorang berusaha memecahkan pintu gerbang dengan sehelai cambuk.

    Namun ternyata usaha Swandaru tidak segera berhasil. Meskipun pintu gerbang itu bergetar, tetapi ternyata bahwa pintu gerbang itu benar-benar kokoh, sehingga cambuk Swandaru tidak dapat mematahkan selaraknya di bagian dalam.

    Sementara itu, maka serangan prajurit Pajang dan Demak seluruhnya seakan-akan terpusat kepada Swandaru. Meskipun sekelompok pengawalnya telah melindunginya dengan lontaran anak panah dan lembing, namun ternyata bahwa Swandaru tidak dapat dapat bertahan terlalu lama. Ketika kakinya dan lengannya tergores ujung anak panah dan kemudian berdarah, maka ia pun mengumpat sambil bergeser mundur. Ternyata bahwa perisai yang dibawanya tidak dapat melindungi seluruh tubuhnya.

    “Gila” geram Swandaru kemudian sambil mengusapi luka-lukanya dengan obat pemampat darah, “kita harus menemukan satu cara untuk memecahkan pintu gerbang itu.”

    Tetapi bagaimanapun juga, Swandaru masih mempunyai pertimbangan bahwa ia harus berusaha namun dengan tidak memberikan korban yang tidak diperhitungkan.

    Disisi lain, pasukan Tanah Perdikan Menoreh pun tidak berhasil memecahkan pintu gerbang. Namun Ki Gede tidak dibakar oleh gelonjak perasaan yang melonjak-lonjak. Karena itu, maka ia memang tidak ingin dengan tergesa-gesa memecahkan pintu gerbang itu tanpa menghiraukan kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi atas pasukannya.

    Di pintu gerbang utama. Agung Sedayu berdiri termangu-mangu di belakang pasukan yang sedang bertempur dengan anak panah dan lembing.

    Namun sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun telah berkisar. Ia tidak lagi merenungi pintu gerbang utama. Tetapi ia merenungi pintu gerbang samping yang sedang bertahan mesawan pasukan Tanah Perdikan Menoreh.

    Untuk beberapa saat Agung Sedayu termangu-mangu. Namun menurut perhitungannya, pintu gerbang samping yang lain pun tidak akan banyak berbeda dengan pintu gerbang yang sedang direnunginya itu.

    “Pasukan pengawal khusus memang memiliki kemampuan yang luar biasa” desis Agung Sedayu, “agaknya jika terjadi benturan pasukan seandainya Mataram berhasil memecah pintu gerbang, maka Mataram harus benar-benar mengerahkan segenap kemampuan yang mungkin dapat dituangkan didalam pertempuran itu.

    Untuk beberapa saat Agung Sedayu masih tetap berdiri termangu-mangu tanpa berbuat sesuatu. Sementara itu, langit pun menjadi semakin buram, karena matahari menjadi semakin rendah.

    Tiba-tiba saja Agung Sedayu bergeser. Dimintanya sebuah busur dari salah seorang pengawal Tanah Perdikan. Selangkah ia maju.

    “Beri aku anak panah” berkata Agung Sedayu.

    Sejenak kemudian, dilambung Agung Sedayu telah tergantung endong dengan segenggam anak panah. Sejenak Agung Sedayu mengawasi para prajurit yang berada di atas dinding. Mereka bukan saja mampu membidik dengan cepat. Tetapi mereka mampu menangkis serangan anak panah dan lembing dengan busurnya.

    “Mereka memang terlatih secara khusus” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “melampaui pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh.”

    Namun sejenak kemudian Agung Sedayu telah memasang sebuah anak panah. Ketika ia siap menarik anak panah itu seorang mendekatinya sambil berkata, “Tidak ada gunanya.”

    “Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

    “Kau lihat. Anak panah yang dilontarkan oleh para pengawal Tanah Perdikan ini bagaikan hujan. Tetapi tidak satu pun dapat mengenai mereka meskipun mereka tidak berperisai” berkata orang itu.

    “Sebagian besar tubuhnya terlindung dinding”, jawab Agung Sedayu.

    “Mereka mampu menangkis serangan anak panah dengan busurnya. Tidak perlu dengan perisai” jawab orang itu.

    Wajah Agung Sedayu berkerut. Satu gejala kemunduran tekad yang menyala di hati para pengawal Tanah Perdikan. Karena itu, muka ia merasa wajib untuk meniupnya kembali.

    Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Lihatlah. Aku akan membuktikan kepadaniu, bahwa mereka tidak memiliki ilmu setinggi sebagaimana kau duga. Tetapi, kita sendirilah yang kurang bersungguh-sungguh, sehingga rerangan-serangan kita tidak dapat mengenai sasaran.”

    Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia memang ingin membuktikan apa yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu, seorang yang dikenal memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Tetapi sasaran susaran yang dibidiknya itu pun bukan orang kebanyakan pula.

    Sejenak kemudian maka Agung Sedayu telah membidikkan anak panahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Orang yang berdiri di sisi pilar itu adalah orang yang sangat berbahaya. Aku akan mencoba membidiknya.”

    “Orang itu hanya kelihatan sebagian kecil dari tubuhnya itu?” bertanya orang yang berada di dekat Agung Sedayu, “kenapa tidak kau bidik orang yang berdiri dengan sombongnya di atas dinding dan mengibaskan setiap anak panah yang mengarah kepadanya.”

    “Orang yang berada di samping pilar itulah yang paling berbahaya di antara mereka” berkata Agung Sedayu.

    Sebenarnyalah bahwa ia adalah seorang Senopati dari pasukan pengawal khusus. Anak panahnya yang terlontar dari busurnya mempunyai daya dorong yang luar biasa. Jika anak panak itu menyentuh kulit betapapun tipisnya, kulit itu seakan-akan telah tergores oleh bara api yang menyala, yang membakar kulit daging sampai ke tulang.

    Sejenak kemudian maka anak panah Agung Sedayu itu pun telah lepas dari busurnya. Demikian cepatnya, melampaui kecepatan anak panah yang dilontarkan oleh orang-orang kebanyakan.

    Orang yang berdiri di sampingnya menjadi keheranan. Meskipun sasarannya sebagian besar tertutup oleh pilar dinding di sebelah pintu gerbang, namun anak panah Agung Sedayu seakan-akan mempunyai mata pada ujungnya. Anak panah itu meluncur tanpa dapat dicegah oleh siapa pun. Tidak mengenai tubuh orang yang hanya nampak sedikit di samping pilar itu, tetapi justru mengenai tangannya yang memegang busur dan siap melepaskan anak panah.

    Orang itu mengaduh. Busurnya terlepas dari tangannya yang telah dikoyak oleh anak panah Agung Sedayu.

    Sejenak kemudian orang itu telah hilang dibalik pilar. Orang yang berdiri di samping Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan penuh keheranan ia bertanya, “Apakah kau sengaja membidik tangannya dan mengenainya?”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia telah memasang satu lagi anak panah pada busurnya. Dipandanginya orang yang berdiri diatas dinding istana itu dengan saksama. Seorang prajurit pengawal yang memiliki ketrampilan yang luar biasa. Ia mampu menangkis anak panah yang meluncur kearahnya dengan busurnya. Sementara itu, bidikannya seakan-akan tidak pernah luput dari sasaran, meskipun akibatnya tidak separah bidikan orang yang berada disebelah pilar.

    Dengan tajamnya Agung Sedayu mengamati bumbung tempat anak panahnya yang tergantung dipinggangnya. Namun Agung Sedayu tidak ingin menyerang dengan tatapan matanya. Ia ingin menunjukkan kepada orang Tanah Perdikan Menoreh itu, bahwa anak panah mereka pun sebenarnya masih sangat berguna.

    HABIS

  67. Terima kasih Ki….

  68. kamsia Ki Ajar

  69. Dari dulu dicari baru sekarang ketemu. Matur suwun mas. Mohon izin saya copy ya mas. Nostalgia masa kecil kembali lagi.

    • Yang lain udah mau tamat, sampeyan baru buku I. Kejarlah daku kau kutinggal.
      He he he…
      (Ki GD)

  70. Thanks Ki GD. Saya baca waktu belum sekolah sekarang lupa alur ceritanya. Bukunya sudah tidak tahu dimana. Sekali lagi terima kasih.

  71. Maksudnya bukan baca tapi lihat gambarnya, he he..

  72. Ki TAA, kupenuhi panggilanmu stlh berbilang bln. Krg kenceng sih teriaknya.
    Ki telik sandi, dilanjut dunk versi inggrisnya, cool..
    Ki ajar gurawa ampe nitip retype disini. Gandok aslinya penuh ya ki? Wis jan hebat tenan padepokan ini.

  73. Ki GD, nyi seno, aku turut bsukacita atas hadirnya cantrik2 baru. Mg padepokan ini lestari dan abadi. Selamat ya ki..
    Sbnrnya aku tuh nyari jejak ki julius spt yg diminta nyi seno digandok 373. La wong aku ga inget blas jee. Afwan ya ki julius :-)

  74. ikutan nyantrik ya..? telat sih..karena baru belajar internet dan kebetulan nyangkut di padepokan ini..
    wah sueneng buanget bisa ketemu sama para kiai saudara kiai Gringsing

    • Silakan Ki Samy, Ki GD tak akan pernah berkeberatan. Dikebut bacanya ya Ki, biar cepat ngejar kami yang lagi nunggu rontal 393. Salam ADBMers Ki Samy.

  75. Hadir ….. Antri Lagi :)

    • Ayo…
      mulai belajar lagi mulai awal seperti Ki Sarip (Tambak Oso?)

      • ikut Ahhhhhh …..
        Antri antri …..
        hadiR .. menemani ki Arema ronda Ah…

        • he he …
          kurang kerjaan.

  76. antri maneh kawet ngarep ahhh….

  77. Ikut berbaris dengan rapi… (sambil bernostalgia)….

  78. assalamualaikum…
    Akhirnya.. lama saya cari karya2 Ki SHM di dunia maya ( mau cari yg gratisan hehehe..)tarnyata bertemu jua.. kepada para bebahu blog ini gak ada kata yg terucap slain berjuta terima kasih.. TWO THUMBS UP.. tp berhubung saya yg paling junior kayaknya harus ngejar ketinggalan nih ( NGEBUT MODE : ON … Salam kenal dan persahabatan..

  79. assalamualaikum…
    Akhirnya.. lama saya cari karya2 Ki SHM di dunia maya ( mau cari yg gratisan hehehe..)tarnyata bertemu jua.. kepada para bebahu blog ini gak ada kata yg terucap slain berjuta terima kasih.. TWO THUMBS UP.. tp berhubung saya yg paling junior kayaknya harus ngejar ketinggalan nih ( NGEBUT MODE : ON … Salam kenal dan persahabatan..

  80. Kulonuwun… Waduh kayaknya saya nih yg paling junior bgtz.. Ikut ngebut ah..

  81. Trims atas kebaikannya ya…

  82. saya baru nemu site ini setelah googling semoga dapat mengobati kangen saya pada cerita ADBM.. dulu keluarga punya koleksi lumayan lengkap dari awal terbit (kalo ga salah 1965??)tapi sudah hilang sewaktu pindah rumah..:(

  83. mulai membaca kang ^_^
    matur nuwun :)

  84. salud n bangga, aku d bca hinnga menoreh ke-3, di gnerasi glagah putih gak smpat, tp sllu muncul krinduan tuk bc lg, tp slit cari bukunya lg, mksh ad forum ini

  85. Hebat tenan…sudah lama saya mencari koleksi ADBM sejak buku-buku saya banyak tercecer saat pindah kos.
    Mau nanya juga, ada yang punya Jalan Simpang dan Nogososro Sabukinten? Kalo ada mohon sharing. Matur sembah nuwun.

  86. sambang padepokan lawas, eh… ternyata masih ada juga cantrik2 baru..selamat dan ayo rame-rame nyantrik di sini kalo perlu undang teman-teman sudah lama nyari tapi belum dapet…

  87. Mas,.
    Makasih Mas, Buku ini dulu sekali pernah saya baca, namun kalau tidak salah tidak sampai tamat ya,…
    Tapi Mas maaf mau tanya,.
    Apa bisa membukanya dari HP Mas,..
    Makasih Mas

  88. matur nuwun adbm nya….
    saya kenal serial ini waktu SD, dan merupakan serial pertama yg pernah saya baca…
    tak terlupakan…sampe sekarang…

    • tumben, ada mentrik, koq gak dikerubungi ki menggung berdua… :mrgreen:

      • Wah telat…wis kadung dikerubungi semut….

  89. Salam kenal….
    Saya penggemar cerita jawa karya SH Mintardja ADBM termasuk salah satu yang selalu ditunggu tiap bulan buku itu terbit (dulu waktu saya SD). Alhamdulillah saya bisa menemukan lagi saat ini via internet.
    Cuma ada sedikit masalah…. sampai saat ini saya gak tahu cara download nya… maklum gaptek..
    Saya coba ikuti tanya jawab yang ada di atas malah semakin bingung….
    Barang kali ada yang bisa membantu ? Kasih tahu cara download ADBM ini? Bener-bener step by step yah….
    Makasih atas bantuannya.

    Wassalam,

    salamun eddy

  90. boleh juga nih…

  91. setelah dua tahun mencari bagian yang terputus,akhirnya ketemu juga disini…..terima kasih…

  92. selamat sore semuanya,…..

    saya penggemar berat cerita silat jawa… mau baca cerita api dibukit menoreh…
    bagaimana caranya ya

  93. Mampir lagi di gandhok adbm-01.
    kalau boleh bertanya, apakah versi djvu memang tidak ada? inginnya hati ini, membaca versi djvu karena saya tidak pernah sekalipun melihat buku aslinya. lha kalo ada versi djvu, walau bukan buku asli tapi kan sudah mengobati rasa keingin tahuan yang besar ini… matur nuwun

  94. Horas beh!!!
    Maaf cara donlot yang serial ADBM di page mana yah?
    Saya pening link nya entah yang mana…
    Maaf kalo ‘keras’ kali awak ngomong…
    maklum orang medan… :)

    • Dimana mana…co’ak cari dulu mbah…eh..bah !

    • kalo ga salah, kita harus copy sendiri mulai dari halaman 2 sampek terakhir…aku dulu gitu, atau memang sekarang ada yg lebih mudah?

  95. Sugeng Sonten
    Saya juga mengharap ada versi DJVU untuk jilid2 awal ADBM, untuk koleksi biar lengkap.
    Saya menunggu sabda sang Panembahan,
    Suwun

  96. nyuwun sewu, memang gak ada yang versi djvu ya…? padahal aku pingin banget yg veri djvu…

    • mboten wonten Ki
      baru jilid 19 mulai ada versi djvunya.

  97. terimakasih untuk telah menghadirkan ADBM di dunia cyber!

  98. Mohon ijin unduh ulang, ki. matur suwun sa derenge.

  99. MOHON INFO:
    kalo mau beli bukunya (lengkap)
    ada di mana?
    berapa harganya ya?

    #makasih

  100. Sugeng siang….
    Sambang maneh…wis suwe…kangen

  101. Aku pikir dah gak ada buku api di bukit menoreh,,info dong gimana pesennya

  102. sangar dab… kelingan mbiyen pas iseh ampuh ampuhe …..

  103. napak TILAS gandok siji dimulai,

    sapa yang berkenan menemani……he-heee, tentu ki AS,
    kalo bukan ki AS siapa lagi.

    sugeng dalu kadang adbmers,

    • leyeh2, minum kopi…..sambil baca rontal jilid siJI.

      • Ki As sinten njihh….

        • ..O..bukaannn ! :D

          • waduh ketinggalan nomer uakeeeeh ki, sugeng ndalu derek danten …. ki sukra, ki yud, ki karto

            • weh ki gund dereng rawuh sibuk nopo nggih

              • HADIR kok ki, biarpun ketinggalan siTIK…..he5x

                nginep dulu di gandok sini dhisik, baru balapan
                masuk gandok-02.

                • sugeng enjang ki AS, ki Karto….kisanak sedayanya.

                  nyi SENO napak tilas kanca2 cantrik apa direstui-iiii
                  jawab nyi, bales nyi…..sapa nyi, hikss

                  • bablasss…eh…balas dunk deh :D

                    • :)
                      :)
                      :):):)

                    • mandeg nang kene sik, sampe Nyi SENO wedar titah…..!??

                      Heee5x, namun goJEG kok Nyi……saestu 110% berguYON,

                    • hayooo…mbah Gundul nggodooo… :D

                    • h
                      a
                      y
                      o

                      k
                      i

                      k
                      a
                      r
                      t
                      o

                      t
                      e
                      r
                      g
                      o
                      d
                      a
                      .
                      .
                      .
                      .
                      .

  104. wadhuh wis nggak diakoni, mosok jik nunggu moderasi haraaa

  105. Asalamualaikum Panembahan saya pingin baca cerita Api di bukit menoreh seri 2 sampai yg sekarang mohon penembahan sudi bantu saya kirim ke email rufiyan95@yahoo.co,id supaya tidak ketiggalan sepur terlalu jauh. maturnuwun

    • Waalaikumsalam Ki Bamba..ng mboten usah dikirim kirim Ki..langsung diambik kemawon… :D

  106. Asyiiiikkkkkkk……….
    hadir pertama di bulan maret.

    • asyik pisan aaaah…………….
      hadir kedua
      (halah, nggak isok melbu neh)

      • he he he …..
        pada klayapan ndik kene

        • he….he….he…..
          konangan pak Satpam lagi
          ndhelik neng kene..
          teng mriki kula mboten
          dolanan bold utawi italic lho.

          • lha nek dolanan bold lan italic mengko dislentik Nyi Seno, soale gak ana sing bertugas nyetip.

            • ki satpam sing muruki lho

              • Gak kok

                ki gembleh sendiri yang suka mainan

  107. Kangen rek ………..

    • Sugeng dalu Ki Sarip,
      harak inggih sami wilujeng to….???

  108. Biar telat asal msh sempat . .
    Wk wk . . Setelah 20an thn akhirnya bisa bernostalgia kembali

    matur nuwun. .

  109. Terima kasih banyal buat kereppotannya…

  110. wuah….seperti diguyur air sewindu…mak cles…senang bukan main dapat cerita yang lama saya cari. Ini bisa untuk cerita menjelang tidur anak=anak. Biar mereka tahu khasanah derita sejarah negeri, meskipun campur fiksi. Sejarah kombinasi rekaan yang sangat masuk akal. Luar biasa panjang cerita ini…jadi nyandu bila baca tiap kali koran kr datang. kini bisa baca lebih banyak sekaligus. matur nuwun sanget.

    salam Indonesia!!!

    Suryo Hamijoyo

    • kirain ki yudhap yangmencungul, ternyata salah baca :P

  111. Selamat pagi

    padepokan semakin sepi

    • asal ki yudap, ki arief, ki mbleh dkk hadir pasti rame lagi ki, mungkin lagi sibuk sama mentrik padepokan sebelah tuh :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: