Bukan ADBM

Dengan perohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Ki Gede dan Nyi Seno, saya coba buat gandok untuk menampung karya Ki Agus yang mencoba “melanjutkan” cerita ADBM yang berakhir secara menggantung.

Karya ini khusus untuk kalangan sendiri, para sanak kadang ADBM yang kehausan lanjutan ADBM.

Selain itu, juga untuk mengurangi beban gandok ADBM-96 yang sudah terlalu panang sehingga agak kesulitan untuk loading dan scrolling ke atas dan ke bawah.

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 Januari 2010 at 10:40  Komentar (604)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/bukan-adbm/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

604 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bukan ADBM

    • Sebagai informasi saja

      Pada pasal 2 ayat (1) UUHC, diterangkan tentang definisi hak cipta secara khusus yang isinya bahwa Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang mana pengalihan hak cipta, dalam hal penggandaan suatu karya tulis atau kekayaan intelektual lainnya, dapat dilakukan dengan pemberian lisensi atau perijinan kepada suatu pihak tertentu yang hal ini diatur dalam suatu kesepakatan antara pihak pemegang hak milik dengan pihak lain yang akan menerima pengalihan hak cipta tersebut.

      Maka jelaslah bahwa penggandaan atau duplikasi menjadi wewenang pihak penerima hak cipta. Dan barang siapa yang hendak menggandakan seluruh atau sebagian dari karya yang hak ciptanya dalam penguasaan suatu pihak tertentu, maka harus mendapatkan izin dari pihak pemegang lisensi hak cipta tersebut.

      Pada pasal 3 ayat (2) UUHC, dijelaskan mengenai macam-macam cara pengalihan hak cipta. Dan salah satunya sudah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, yaitu dengan suatu perikatan atau perjanjian.

      Pada pasal 12 dijabarkan tentang macam-macam hak cipta yang dilindungi oleh hokum dan ketentuan-ketentuannya. Dan isi pasal tersebut adalah :

      1) Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup:
      a. buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
      b. ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
      c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
      d. lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
      e. drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
      f. seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;
      g. arsitektur;
      h. peta;
      i. seni batik;
      j. fotografi;
      k. sinematografi;
      l. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

      2) Ciptaan sebagaimana dimaksud dalam huruf l dilindungi sebagai Ciptaan tersendiri dengan tidak mengurangi Hak Cipta atas Ciptaan asli.

      3) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), termasuk juga semua Ciptaan yang tidak atau belum diumumkan, tetapi sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang nyata, yang memungkinkan Perbanyakan hasil karya itu.

      Dengan berdasarkan pada pasal 612 KUHPer, maka penggandaan barang tanpa mencantumkan nama pemilik adalah suatu tindak pelanggaran terhadap hak cipta.

      Tetapi dalam UUHC pasal 15, pemerintah Indonesia membuat suatu pengecualian terhadap tindakan ini. Dan isi dari pasal tersebut adalah :

      “Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta:
      a. penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta;
      b. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan;
      c. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan:
      (i) ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; atau
      (ii) pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta.
      d. Perbanyakan suatu Ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra, kecuali jika Perbanyakan itu bersifat komersial;
      e. Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya;
      f. perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur, seperti Ciptaan bangunan;
      g. pembuatan salinan cadangan suatu Program Komputer oleh pemilik Program Komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri.”

      Maka sudah jelas bahwa tindak pengutipan suatu karya tulis tanpa mencantumkan nama pemilik hak cipta atas karya tersebut adalah suatu pelanggaran atas hak cipta. Dan mengenai kepemilikan karya tersebut adalah menjadi hak milik pemegang hak cipta. Dan karya turunan yang merupakan hasil jiplakan tanpa identitas sumber idenya, akan kembali kepada pemilik hak cipta sebatas bagian yang merupakan kutipan tersebut. Dan apabila merugikan pihak pemegang hak cipta, maka pihak tersebut dapat melakukan wanprestasi atas tindakan pengkutipan tersebut.

      f. Kesimpulan

      Kepemilikan karya tulis yang mengkutip karya orang lain tanpa mencantumkan nama pemiliknya dapat diperkarakan oleh pemilik karya tulis apabila hal tersebut merugikan dan termasuk perkara wanprestasi. Dan pengutipan tanpa mencantumkan nama pemilik atau penulis atau sumber pengambilan data (source of data) adalah suatu tidakan yang melanggar ketentuan pasal 612 KUHPer dan pasal 15 UUHC.

      Pada dasarnya kepemilikan suatu karya tulis yang berupa tulisan tersebut tidak secara otomatis berpindah dengan berpindahnya kepemilikan buku. Tetapi penguasaannya mengikuti berpindahnya penguasaan bendanya. Adapun ciri-ciri hak milik adalah ;

      1. Merupakan hak pokok terhadap hak-hak lain yang sifatnya terbatas,
      2. Merupakan hak yang paling sempurna,
      3. Bersifat tetap, dan
      4. Merupakan inti dari hak-hak kebendaan yang lain.

      Selain ciri-ciri tersebut diatas, hak milik juga memiliki sifat elastic, artinya bila diberi tekanan (dibebani dengan hak kebendaan yang lain) menjadi lekuk, sedang bila tekanan ditiadakan menjadi penuh kembali. Adapun batasan-batasan terhadap hak milik dapat ditemukan dalam pasal 570 KUHPer yang ditambah dengan ketentuan pada UU nomer 5 tahun 1960, yaitu sebagai berikut :

      a. Ketentuan hukum yang berlaku,
      b. Ketertiban umum,
      c. Hak-hak orang lain, dan
      d. Fungsi social

      Mengenai ketentuan pemindahan hak milik, diatur dalam pasal 548 KUHPer. Dan ketentuan pemindahan atau pengalihan hak cipta diatur dalam pasal 3 ayat (2) UU no 19 tahun 2002 tentang hak cipta.

      Demikian semoga ada manfaatnya

      Sumber : http://herman-notary.blogspot.com/2010/09/analisis-hukum-perdata-pada-kasus.html

  2. ..Nyapu ndisit…

  3. :D
    jadi ingat padepokan Ki Thukul Arwana di Bukan 4 Mata

  4. waduuuh…
    siiippp ki arema…
    ayo lanjut…
    matur nuwun… :D

  5. tetap serasa di gandhok sendiri.
    Padhepokan ADBM memang hebat.
    nuwun.

  6. Matur nuwun Ki Arema. Sungguh saya merasa sangat terharu atas perhatian yang sedemikian besar dari Ki Arema dan para sesepuh Padepokan serta para cantrik/mentrik atas hasil karya saya. Semoga dengan dibukanya gandok baru ini saya dapat secara rutin menulis dan melanjutkan karya adiluhung dari pendahulu kita Ki S.H.Mintardja. Selain itu, saya yang baru belajar (melanjutkan) menulis Bukan ADBM yang baru tiga bulan tentu tidak bisa langsung seratus persen seperti yang saya tiru. Namanya juga barang tiruan, tidak bisa plek sama persis dengan barang yang ditiru. Apalagi Ki SHM sudah menggeluti dunia ini berpuluh-puluh tahun, ketika dulu saya masih baru belajar membaca.

    Atas perhatian Kisanak semua saya ucapkan terima kasih. Yang saya mohonkan kepada Yang Maha Agung (meminjam istilah Ki SHM), adalah agar saya diberi kelapangan kesehatan, keselamatan dan rezeki, agar saya bisa tetap meneruskan tradisi Ki SHM, satu buku satu bulan. Akan lebih baik lagi apabila bisa lebih cepat.
    Akhirnya segala kritik dan saran pendapat dari Kisanak semua, tentu sangat saya hargai. Sebab tak ada gading yang tak retak. Lebih-kurangnya saya mohon maaf.

    • Ki Agus S. Soerono,
      Manah kulo monkok, trenyuh, bilih wonten bibit penerus SHM engkang mulai, sumonggo ki dhilanjutaken,
      mugi2 lancar anggonipun nyangkok kawasisaning SHM.
      kita dukung, monggo dipun cethak wonten buku,kanthi Ilustrasi kadosto Kitab Babonipun.
      Selamat…Panembahan Donoloyo

  7. sugeng…. eh… banuaji…..

  8. Tulisan Ki Agus semakin muantapppppppp……

    • tulisan ki mantap semakin begundal :p

  9. hadiiiiiiiirrrr

    • wah jan diecer2 lan diajak dolanan delikan tenan to karo ki Banu … suwun ki
      nuwun sewu ki GD lan ki Arema nderek langkung nembe ngoyak ki Banu … he3 …
      iso wae tekan kene lho …

      • jas merah, ki… jangan sekali-kali melupakan sarah…. :D

        • isih mulai babad alas ki….

          • Ki Banu, kulo ecer-ecerane kurang kebagian, eceran 1,2,3, suwun Ki Banu

            • 1, 2, 3….

              • kie hadir di tunggu kelanjutan nya….

              • ki banu kulo kirang 4,5 lan seeteruse…hi hi hi ngepek enek e wae.ngampunten lo….

                • wah, maaf ki sanak… beberapa bulan ini saya mencari-cari jalan untuk masuk ke padepokan saya sendiri (lupa kunci gandoknya ada di mana) he…he…he…

              • link unduh tthom, ada di :mrgreen:

    • link unduh tthom1 itu ada di sini

      • eh… salah… :mrgreen:

      • .

  10. hadir, ditunggu lanjutannya

  11. Ngikut nyapu di PDLS…sugeng enjang…

  12. Ki Agus S. Soerono,pancen wasis, mugo-mugo nunggak semi kalian SHM, iso 1000 jilid,

  13. Selamat ki Agus atas penulsan bukan ADBMnya dan terima kasih kepada para bebahu padepokan yang telah memfasilitasi tulisan ki Agus.

  14. SElamat buat Ki Agus, ayo akhiri ADBM yang menggantung itu. semangat

  15. kulo tenggo candakipun ki

  16. Ayo abseeeenn….. :))

  17. absen mas

  18. Saya juga absen nih….

  19. wah saya malah ketinggalan njih,

    Ki Agus S. Soerono…….terima kasih Njenengan
    berkenan melanjutkan “ADBM ki SHM” dengan karya
    “Bukan ADBM” versi Ki Agus,
    Matur nuwun saya diperkenankan ikut membaca dan
    menikmati “Bukan ADBM” nya,

    tetap semangaaat, sehat selalu, dan saya terus menunggu dengan semangaaat…….”Bukan ADBM-nya”

    • “loepa”……!!!

      Absen hadir pagi, siang, sore dan malam

  20. hadiiir lagi…
    saya belum sempat menikmati bukan adbm versi ki agus..
    mungkin nanti2 dech…

    kemana mbah_man yach????

    • mbah_man, tetap semangat…..!!!!!!!

    • Mbah_man sekarang di “terusan adbm Gagak seta”

  21. Ternyata belum ada lanjutannya???????

  22. nitip hadir ki gd.. :D

  23. Ikut ni Nunik, melu hadir nunggu wedaran…

  24. disini kok sepiiiiiiiiiiiiiiiiiii sekali yooo…

    jarang ada yang komen…
    hiks…

    • di sini sebenarnya ramai sekali, Ni. mungkin hati ninilah yang sedang gundah sehingga terasa sepi mencekam diri nini… :D

  25. ngenteni tumenggung untara beraksi…

  26. lama gak hadir, …., mampir dulu… ah..

    • ha…..dulu mampir…….hadir gak lama….
      apa khabar Adik_Nunu, apa gak kangen dengan canda para kadang cantrik ?
      he…..he…..he…..

  27. Lama gak komentar, kangen juga jadinya…
    Ki Agus … mana lanjutannya ? udah kangen nih

  28. betul lanjut . hehe

  29. Ki, mana lanjutannya?

  30. Weleh belum ada juga lanjutannya … Ki Agus, kumaha atuh kang ? kapan ada lagi lanjutannya ? dah kangen neh

  31. Monggo Kisanak…

    Api di Bukit Menoreh
    Seri IV-100

    Membangun Armada Laut
    Yang Kuat bagi Mataram

    Oleh Ki Agus S. Soerono

    KETIKA menyadari semua yang terjadi itu, Ki Tumenggung Untara pun kemudian bersyukur dan terus berusaha mendalami ilmunya yang baru terungkap. Ki Tumenggung Untara melatihnya berulang-ulang.

    Ternyata di dalam gua itu terdapat cukup banyak batu besar yang teronggok di sudut-sudut ruangan yang dapat menjadi sasaran ilmunya.

    Karena mengetahui di dinding gua itu banyak terdapat pahatan gambar yang dibuat oleh ayahnya Ki Sadewa mengenai berbagai tata gerak dasar olah kanuragan perguruan Jati Kencana, maka Ki Untara tidak berani mengarahkan pukulannya ke dinding gua.

    Ia khawatir seperti yang dialami Agung Sedayu, yang secara tidak sengaja telah menghancurkan goresan puncak ilmu Jati Kencana. Meskipun secara tidak sengaja pula ia berhasil menemukannnya, ketika membuka batu pipih yang terdapat di tengah ruangan gua itu.

    Demikianlah dengan tidak mengenal lelah Ki Untara, berlatih dan berlatih dengan ilmunya yang baru. Aji Jati Kencana. Ketika bayangan sinar mentari di kubah gua yang berlubang itu semakin redup barulah ia mengakhiri latihannya.

    Ia pun kemudian membersihkan dirinya dengan air yang muncul dari celah-celah batu dan jatuh gemercik di bawahnya. Ketika suasana di dalam gua itu semakin gelap, maka Ki Untara pun menyalakan oncor dari biji jarak dengan batu titikan dan dimik belerang.

    Ruangan gua yang tadinya gelap, menjadi sedikit terang. Ia meletakkan oncor dari biji jarak itu di atas meja batu pipih.

    Ki Untara duduk di lantai, sementara itu kitab Jati Kencana peninggalan ayahnya—Ki Sadewa—digelarnya di sebelah oncor itu.

    Ia pun membalik-balik lembaran demi lembaran rontal itu dan matanya tertarik pada tata gerak ilmu pedang –Aji Jati Laksana— yang terdapat di dalam rontal itu.

    Dengan teliti ia mengingat dan mengguratkan gambar demi gambar, kata demi kata dan segala petunjuk dalam pelaksanaan ilmu pedang Jati Laksana tersebut terpateri ke dalam bilik ingatannya.

    Seperti halnya adiknya Ki Agung Sedayu, Ki Untara pun mempunyai ingatan yang kuat atas tiap sesuatu yang diamati dan diperhatikannya dengan teliti. Dalam waktu yang tidak terlalu lama semua guratan di atas rontal itu sudah dipindahkannya ke dalam bilik ingatannya.

    Ketika malam semakin mencapai ke puncaknya, maka Ki Untara sempat beristirahat sejenak. Namun tidak lama kemudian, ketika sinar kemerahan mulai memantul dari lubang kecil di atas kubah gua itu, maka Ki Untara bangkit kembali.

    Setelah melaksanakan kewajibannya, ia bertekad ingin segera berlatih dengan ilmu pedang aji Jati Laksana yang tadi malam dipelajarinya dari lembaran rontal-rontal itu.

    Demikianlah Ki Untara pun mulai bergerak dengan lincahnya memutar, memukul, membabat, menyabet, menepis, menghentak dan mengguncang dinding gua itu dibarengi dengan teriakan yang keras guna mendalami ilmu pedang mustika peninggalan ayahnya.

    Pedang yang jauh lebih berat dari pedang rata-rata itu, dengan ringannya berputar di tangan Ki Untara. Seperti halnya ketika ia mengerahkan aji Kencana Jati, maka dalam ilmu pedang Jati Laksana ini pun Ki Untara merasakan pada akhirnya golakan hawa murni tenaga cadangannya yang terkumpul di dadanya.

    Karena itu, Ki Untara pun segera melakukan petunjuk tata gerak dari puncak ilmu pedang Jati Laksana. Ia pun memusatkan nalar budinya. Tangan kanannya yang memegang pedang mustika itu perlahan-lahan diangkatnya menyilang di depan dada, sedangkan tangan kirinya juga perlahan-lahan terangkat ke dada menakup ke kanan.

    Ketika semua hawa murni dari tenaga cadangannya sudah terkumpul di dada, maka dihentakkannya pedang mustika yang berat itu ke arah sebuah batu besar di sudut ruangan. Akibatnya sungguh dahsyat.

    Seperti halnya ketika batu-batu yang tergolek di sudut itu kena gempuran tata gerak dasar aji Jati Kencana, maka batu hitam itu pun hancur berantakan ketika kena gempuran dari jarak cukup jauh oleh tata gerak dasar ilmu pedangnya. Aji Jati Laksana.

    Demikianlah, Ki Untara terus melatih tata gerak ilmu pedangnya semakin mempertajam dan semakin memperdalamnya. Ia pun setiap kali menambah jarak jangkauan aji Jati Laksana. Ketika semua sudah dirasakannya cukup, maka Ki Tumenggung Untara pun hendak menyelesaikan tugas dan kewajibannya untuk mempelajari ilmu tata gerak dari olah kanuragan peninggalan ayahnya, yang ternyata bernama perguruan Jati Kencana.

    Setelah membersihkan diri, Ki Untara pun menanti saat turunnya matahari senja di balik selimut bukit di sebelah Barat. Sinar mentari yang tadinya menerobos dari lubang kubah itu berwarna terang, lama kelamaan berubah menjadi merah kekuning-kuningan dan pada akhirnya menjadi redup.

    Pada gilirannya warna redup itu berubah menjadi gelap dan tidak nampak apa-apa lagi. Namun mata Ki Untara yang sudah terbiasa dengan gelapnya gua itu bisa melihat dengan jelas setiap titik yang berada di dalam gua itu, seperti ia melihat di siang hari di luar gua.

    Ketika tiba saatnya sepi bocah, Ki Untara pun mulai menyiapkan kampil perbekalannya. Bahan makanan mentah yang dibawanya, sesuai perhitungannya ternyata telah habis. Namun tempat bahan makanan mentah itu kini digantikan oleh kotak kayu kecil yang berisi kunci tata gerak ilmu olah kanuragan perguruan Jati Kencana.

    Sementara di pinggangnya kini terselip dua bilah pedang, yaitu pedang pendek yang dibawanya dan pedang mustika pemberian ayahnya yang ditemukannya di bawah meja batu pipih di dalam gua itu.

    Setelah selesai dengan persiapannya kembali ke padepokan kecil Orang Bercambuk, perlahan-lahan Ki Untara berjalan menuju mulut gua.

    Namun terasa ada sesuatu yang menahannya untuk segera meninggalkan gua itu. Selama sekian hari berada di dalam gua itu, ia merasa ayahnya—Ki Sadewa—seolah-olah berada di sebelahnya memperhatikan dan memberinya petunjuk, seperti ketika ia masih kecil dulu berlatih tata gerak ilmu olah kanuragan di dalam gua itu.

    Ki Untara merasa ayahnya itu selalu memberinya petunjuk yang diperlukannya, ketika ia merasa salah melakukan tata gerak yang diguratkan di dinding gua maupun di dalam kitab Perguruan Jati Laksana. Karena itu ia merasa berat untuk meninggalkan gua itu.

    Namun seperti ketika ia berangkat untuk mesu diri ke dalam gua itu, ia merasa berat untuk berangkat, maka kini ia pun merasa berat untuk meninggalkannya. Tetapi dengan tekad yang kuat, dikeraskannya hatinya.

    –Terima kasih ayah—katanya dalam hati—semoga ilmu tata gerak dari ilmu olah kanuragan yang ayah tinggalkan dapat bermanfaat bagi sesama—

    Ki Untara pun kemudian bergerak menuruni lorong-lorong gelap dan berbatu-batu tajam itu serta menurun menuju mulut gua. Ketika memasuki kubah pertama dari arah mulut gua, hidungnya yang tajam itu pun mencium bau pesing yang ditinggalkan oleh ribuan kelelawar yang bersarang di dinding gua. Namun agaknya sebagian kelelawar itu baru keluar dari mulut gua, sehingga suaranya tidak begitu berisik seperti saat ia baru masuk ke dalam gua itu.

    Akhirnya Ki Untara pun sampai di mulut gua di atas tebing sungai itu. Di sudut mulut gua masih dilihatnya onggokan gulungan tali ijuk yang diberinya simpul-simpul. Ia lalu mengambil gulungan tali itu. Sebelum melemparkannya ke bawah, ia mencoba menarik-narik tali yang tersangkut pada jangkarnya di bebatuan di atas tebing.

    Ketika Ki Untara menarik-narik tali itu untuk menguji kekuatannya, suatu benda tiba-tiba terjatuh di sisinya. Benda yang semula melingkar itu kemudian mengurai lingkarannya sambil berdesis-desis dan kepalanya bergerak-gerak. Ular bandotan. Tidak hanya satu, tapi tiga ekor.

    Ular bandotan yang cukup besar—sebesar lengannya— itu mendesis-desis sambil meliuk-liuk menghampiri Ki Untara dari satu arah. Sekali-sekali kepalanya diangkat. Mulutnya menganga dan dari celah-celah taringnya keluar lidah yang bercabang dua.

    Ketika ular-ular itu merasa sudah sampai pada jarak pagutannya, maka ketiga ular itu secara bersamaan meluncur seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

    Sebelum ketiga ular itu sempat mencapainya, Ki Untara segera mencabut pedang pendek di lambung kirinya. Crash. Crash. Dua ekor ular berhasil dibabatnya dengan pedang itu. Ular itu terpotong menjadi dua bagian. Serangan ular yang ketiga berhasil dihindarinya.

    Ketika ia berpaling ke ular yang ketiga, ternyata bagian kepala ular yang berada di dekatnya masih sempat menggeliat dan menyambar kakinya. Ular itu ternyata tidak mati. Meskipun terpotong dua, kepala ular itu masih hidup dan taringnya yang tajam menikam betisnya.

    Terasa pedih di betisnya itu. Di babatnya sekali lagi potongan ular itu. Namun sisa potongan kepala ular yang hanya sejengkal itu, masih menempel dengan kuatnya mencengkeram daging di betisnya.

    Ki Untara sambil menahan pedih di betisnya kemudian memperhatikan ular ketiga yang bersiap-siap untuk menerkamnya. Ternyata kepala ular yang berhasil menggigitnya itu telah mulai membenamkan biang racun yang ada di langit-langit mulutnya ke betis Ki Untara.

    Rasa nyeri tiba-tiba terasa merayap dari luka gigitan ular itu ke seluruh bagian-bagian tubuhnya dan bergolak menuju ke jantung. Ia sempat menyeringai sesaat. Namun ia kemudian meneguhkan hatinya.

    Ki Untara yang sudah menjalani mesu diri dengan berendam di dalam belumbang gua itu, tiba-tiba merasakan hawa yang hangat menggumpal dan mendorong rasa nyeri yang mulai mencengkeramnya tadi. Perlahan-lahan hawa hangat itu terus mendorong rasa nyeri itu sampai ke titik lukanya.

    Ketika Ki Untara sedang menghayati hawa hangat yang mendorong rasa nyerinya itu, ia sempat terlena sesaat. Waktu yang sesaat itu dipergunakan oleh ular ketiga untuk menyambar betis yang lain. Tetapi Ki Untara tidak mau ular bandotan yang cukup besar itu juga menempel lagi di kakinya.

    Dengan tangkas ia membabat lagi ular itu. Crash. Crash. Crash. Crash. Ular itu terpotong menjadi empat bagian dan tergeletak di sisinya. Ki Untara masih melihat kepala ular yang sepotong itu mencoba menerkamnya. Sekali lagi pedangnya menikam kepala ular itu. Dan kepala ular itu terbelah menjadi dua dan tidak bergerak lagi. Mati.

    Perlahan-lahan Ki Untara menurunkan pandangannya, dan dilihatnya kepala ular yang kedua masih menempel di betisnya. Ditikamnya kepala ular itu sekali lagi. Kepala ular itu pun terlepas dari gigitannya pada betis Ki Untara. Gigitan itu meninggalkan empat buah lubang bekas taring di betisnya. Dari luka itu mengalir cairan berwarna biru kehitam-hitaman. Racun.

    Ki Untara pun sambil menyeringai berusaha memeras darahnya dari luka di betisnya. Cairan biru kehitam-hitaman itu pun keluar semakin lama semakin banyak. Namun perlahan-lahan cairan yang keluar warnanya berubah menjadi kemerah-merahan dan akhirnya merah sama sekali. Tidak ada lagi bekas racun yang berwarna biru kehitam-hitaman.

    Ki Untara kemudian mengambil sebuah bumbung kecil yang terselip di ikat pinggangnya. Ia mengeluarkan serbuk obat luka yang ada di dalam bumbung kecil lalu menaburkannya ke bekas luka gigitan ular bandotan. Tak lama kemudian darah yang keluar dari lukanya mampat dan tidak mengalir lagi.

    Ki Untara lalu duduk bersemadi di atas batu yang terdapat di mulut gua. Ternyata gelombang arus hawa hangat yang mendorong rasa nyerinya tadi terus bergerak. Segala sisa-sisa racun ular bandotan yang ada di dalam tubuhnya didorong keluar.

    Kini Ki Untara menyadari bahwa ketiga laku yang dijalaninya di dalam gua itu—puasa, patigeni dan berendam di dalam belumbang—membuat dirinya kebal dari segala racun, termasuk dari bisa ular bandotan yang sangat tajam. Ia kini telah kebal terhadap segala jenis racun.

    Karena darahnya cukup banyak keluar, maka Ki Untara beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga setelah darahnya terkuras akibat gigitan ular tersebut.
    Ternyata ia membutuhkan waktu agak lama untuk memulihkan tenaganya akibat darahnya terperah dari luka gigitan ular bandotan itu. Perlahan-lahan tenaganya pulih kembali. Sedikit demi sedikit tenaga cadangan yang dikerahkannya mampu mendorong sisa racun itu. Pada akhirnya Ki Untara merasa tenaganya telah pulih kembali.

    Setelah Ki Untara merasa segar kembali, ia menuruni tebing sungai itu dengan mempergunakan tali yang digulungnya di mulut gua. Gulungan tali itu diurainya, lalu dilepaskannya ujungnya berjuntai ke bawah. Ia pun menuruni tebing sungai itu dengan berpegangan pada simpul-simpul tali.

    Tidak seperti ketika naik, di mana ia merasa bobot badannya yang agak gemuk telah memberati tangannya ketika berpegangan pada simpul-simpul tali, maka ketika turun ini Ki Untara merasa lebih ringan. Hal itu karena perasaannya yang lega karena telah berhasil meningkatkan ilmunya dan juga karena kemampuannya yang baru yang dicapainya dalam masa mesu diri di dalam gua. Ilmu Meringankan tubuh.

    Ketika telah tiba di batu yang menjorok di tebing sungai itu, tiba-tiba timbul keinginan Ki Untara untuk mengetahui tingkat kemampuan ilmunya yang sebenarnya. Karena ketika berada di dalam gua, ia merasa terhalang oleh ketinggian kubah gua itu. Namun di atas batu yang menonjol di atas tebing sungai, ia bisa bergerak bebas. Ia merasa tidak ada yang menghalangi ketinggian loncatannya. Keadaan alam yang sepi dan tidak ada penghalang di atasnya, akan dipergunakannya sekali lagi untuk mengetahui tingkat kemampuannya.

    Setelah meletakkan kampilnya, Ki Untara bersiap-siap. Ia lalu meloncat tinggi dengan mengerahkan tekanan kakinya pada pijakannya. Begitu ia menjejakkan kakinya, tubuhnya serasa seperti bilalang yang meloncat tinggi menghindari sambaran burung sikatan.

    Ternyata Ia mampu meloncat setinggi separuh ketinggian gua. Ketika meluncur turun ia menjejak sebuah batu yang menonjol di tebing sungai dan badannya serasa terbang menuju mulut gua.

    Ki Untara kemudian meluncur turun. Ia mendarat di atas batu yang menonjol di tebing sungai itu, seperti seekor kucing yang terjatuh dari atas atap rumah. Tidak menimbulkan suara apapun.
    Ia pun mencoba meloncat sekali lagi. Pada lompatan kedua ini, ternyata ia mampu meloncat setinggi tiga perempat dari panjang tali ijuk yang menjuntai di mulut gua.

    Dengan sigap ia menyambar tali itu ketika badannya meluncur turun. Hal itu diulanginya beberapa kali dengan kekuatan yang semakin bertambah. Sehingga pada suatu ketika Ki Untara mampu mencapai mulut gua itu dengan satu kali loncatan dari batu yang menonjol di tebing sungai itu.

    Begitu juga sebaliknya, ketika ia turun, Ki Untara terjun saja dari batu di mulut gua itu. Dengan mengendalikan gerak tubuhnya melalui pikirannya, ternyata Ki Untara seolah-olah bisa mengerem kecepatannya meluncur itu. Sehingga ketika sampai di bawah, ia bisa melayang turun seperti seekor elang yang mendarat di tanah.

    Ia bisa mendarat dengan ringan tanpa menimbulkan sedikitpun desiran suara.

    Ki Untara pun melatihnya beberapa kali untuk naik ke mulut gua dan terjun ke batu yang menonjol itu. Memang pada awalnya ia merasa gamang dengan naik turun seperti itu. Namun lama kelamaan iapun menjadi terbiasa.

    Ia teringat akan kegamangannya ketika masih remaja dulu, pada saat ayahnya melatihnya mengendarai kuda. Ketika ia sudah berada di atas punggung kuda, keringat dingin serasa membasahi punggungnya dan kedua telapak tangannya. Namun dengan memberanikan diri, ia menghentak tali kekang kuda itu dan kudanya mulai berjalan. Lama kelamaan keringat dingin itu pun hilang, ketika ia telah terbiasa.
    Ia bisa mengendalikan kaki kuda itu sesuai keinginannya, maju, lari, lari lebih cepat, meloncat tinggi, mundur, belok ke kiri, belok ke kanan. Semua gerakan kuda itu bisa dilakukan dengan menarik tali kendali atau menjepit perut kuda itu dengan lututnya. Kalau ia ingin lari kuda itu lebih cepat, ia memberi perintah kuda itu melalui tendangan kakinya pada perut kuda itu. Akhirnya ia merasa pikirannya sudah menyatu dengan pikiran kuda itu. Kudanya memahami apayang diperintahkannya.

    Begitu pula kali ini, setelah berlatih meloncat-loncat dari atas ke bawah dan sebaliknya, keringat dingin yang membasahi punggung dan kedua telapak tangannya itu terasa hilang. Pada akhirnya ia menjadi terbiasa.

    Sehingga pada kesempatan lain kalau ia hendak memasuki gua itu, ia tidak memerlukan lagi tali ijuk yang diberinya simpul-simpul setiap dua jengkal.

    Setelah mencoba dua tiga kali dan ia berhasil mendarat di atas mulut gua, dan turun kembali ke batu kali yang menjorok di tebing sungai, maka Ki Untara merasa telah cukup. Ia pun kembali mengemasi kampilnya dan segera berjalan meuju ke padepokan kecil yang dipimpin oleh pamannya. Ki Widura.

    Berbeda dengan saat ia datang, perjalanan kembali ke padepokan itu terasa lebih cepat dan lebih ringan. Dengan tangkasnya Ki Untara meloncat-loncat dari satu dahan ke dahan yang lain, dari akar pohon satu bergelayutan ke akar pohon yang lain.

    Badannya terasa menjadi ringan seringan kapas. Ia merasa seperti terbang karena ayunan kakinya yang kuat. Seandainya ada orang yang melihat gerakan Ki Untara, tentu orang itu mengira bahwa ia bersayap dan bisa terbang seperti seekor elang yang menyambar anak ayam. Gerakannya demikian lincah.

    Setelah lewat sedikit dari wayah sepi uwong, Ki Untara telah sampai di padepokan itu yang terasa sepi. Lamat-lamat dari luar pagar halaman padepokan itu masih didengarnya suara pamannya yang membawakan tembang di malam yang hening.

    Ki Untara segera membuka pintu regol dan memasuki halaman padepokan. Ia naik ke pendapa dan mengetuk pintu peringgitan.
    –Siapa—terdengar suara pamannya dari dalam.

    —Aku paman.—jawab Ki Untara. Tak lama kemudian terdengar desir langkah dan selarak pintu dibuka.

    —O. Kau ngger. Kau sudah kembali. Syukurlah—kata Ki Widura sambil mempersilakan Ki Untara duduk di atas sehelai tikar di pendapa.

    —Ya paman. Berkat doa paman, aku sudah dapat menyelesaikan niyatku untuk memperdalam ilmu perguruan Jati Kencana.

    —Perguruan Jati Kencana?—

    —Iya Paman. Ternyata dalam nawala yang ayah tulis dan ditinggalkan di dalam gua itu, perguruan kita ini bernama Jati Kencana.—jawab Ki Untara.

    —Di manakah kau temukan nawala itu, ngger?—

    —Aku menemukannya di dalam rongga di bawah meja batu pipih di tengah ruangan, yang secara tak sengaja aku membukanya. Ternyata selain nawala itu, ayah juga meninggalkan kotak kayu kecil berisi kitab rontal ilmu olah kanuragan dari perguruan yang menurut ayah bernama Jati Kencana yang didirikan oleh kakek buyut dari ayah—kata Ki Untara.

    —O. Syukurlah, bahwa nasib perguruan kita tidak terputus. Bahkan angger mendapat kitab rontal yang berisi ilmu murni dari perguruan Jati Kencana ini.

    —Iya paman. Bahkan bukan hanya itu. Ayah bahkan mewariskan pedang mustika ini dan tata gerak ilmu pedang mustika yang terdapat di dalam rontal kitab Jati Kencana.

    —Alangkah beruntungnya kau ngger. Aku telah berulang kali masuk ke dalam gua itu, namun tidak aku ketahui bahwa kitab itu tersimpan di sana.—

    —Secara kebetulan dulu aku pernah melihat ayah mengangkat batu pipih itu dan memasukkan sesuatu ke dalam rongga di dalamnya. Dan kebetulan pula ketika aku berlatih ilmu tata gerak sebagaimana termuat dalam rontal itu, batu pipih tersebut terangkat dan kulihat ada kotak kecil berisi rontal dan pedang mustika di dalamnya.

    —Dalam nawala itu, ayah berpesan agar ilmu dari perguruan Jati Kencana ini diturunkan ke dalam lingkungan keluarga kita saja. Sehingga dengan demikian Paman Widura dan Glagah Putih serta Wira Sanjaya termasuk orang-orang yang boleh mempelajarinya.—

    —Baiklah. Jika demikian kita bisa semakin memantapkan keberadaan perguruan Jati Kencana ini dalam kiprah perjuangan Mataram di masa depan—ujarnya dengan nada gembira.

    —Bolehkah aku melihat pedang mustika yang ditinggalkan Kakang Sadewa di dalam gua itu?—tanya Ki Widura.

    –Silakan paman—jawab Ki Untara sambil menarik sebilah pedang dan wrangkanya dari pinggangnya.

    Ki Widura kemudian menerima pedang dalam wrangkanya itu dan ia segera teringat bahwa pedang itu adalah milik kakaknya Ki Sadewa yang selalu dibawanya jika sedang mengembara. Ia teringat ketika sebelum menjadi prajurit kakaknya itu pernah mengajaknya merantau.

    Dalam pengembaraan itu, dengan ilmu dan pedang mustika itu, kakaknya Ki Sadewa mampu mengalahkan perampok yang sangat disegani di Alas Roban. Namun setelah pengembaraan itu, ia memasuki dunia keprajuritan dan sangat jarang bertemu kembali dengan kakaknya. Ki Sadewa.

    Namun yang masih lekat dalam ingatannya adalah kakaknya itulah yang melatihnya dalam olah kanuragan yang menjadi bekalnya dalam memasuki pendadaran dan olah keprajuritan.

    Dengan bekal ilmu yang baru diketahuinya bernama perguruan Jati Kencana, dengan cepat pula Ki Widura menapaki jenjang keprajuritan. Terakhir ia ditempatkan sebagai seorang senapati Pasukan Pajang di Sangkal Putung ketika menghadapi gerombolan pasukan Macan Kepatihan dari Jipang.

    Semua pengalaman itu melintas dengan cepat dalam ingatannya, peristiwa demi peristiwa.

    —Apakah anakmas sudah ingin beristirahat? Jika anakmas ingin beristirahat, anakmas dapat tidur di gandok kanan yang selalu dibersihkan oleh para cantrik—kata Ki Widura sambil menyerahkan pedang mustika itu kepada Ki Untara.

    —Sebenarnya aku masih ingin berbincang dengan paman mengenai kemungkinan pengembangan padepokan ini. Tapi baiklah kita membicarakannya besok saja. Paman juga nampaknya sudah letih—kata Ki Untara.

    —Tidak ada yang berat untuk kukerjakan, anakmas.Tetapi memang sebaiknya anakmas beristirahat dulu, mengendorkan otot-otot yang kaku setelah mesu diri sekian lama di dalam gua—

    Demikianlah Ki Tumenggung Untara pun kemudian beristirahat di gandok kanan padepokan itu. Ia pun sejenak kemudian tertidur pulas. Setelah meningkatkan kemampuan olah kanuragannya di dalam sebuah gua yang terletak di tebing sungai selama hampir dua pekan.

    Keesokan harinya Ki Tumenggung Untara terbangun ketika terdengar kokok ayam untuk ketiga kalinya. Ia pun lalu pergi ke pakiwan untuk mandi dan sesuci.
    Kemudian ia melaksanakan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Setelah selesai, ia lalu turun ke halaman dan menikmati udara pagi di padepokan.

    Suasana yang hijau asri dan sejuk, diwarnai dengan kicau suara burung yang berkejaran di pepohonan, menambah kedamaian dalam alam pedesaan.

    Ketika berputar ke halaman belakang, Ki Untara bertemu dengan Ki Widura yang juga sudah berjalan-jalan di pagi hari.

    —Sepagi ini paman sudah terbangun—kata Ki Untara.

    —Aku memang terbiasa bangun di pagi hari sebelum sang mentari muncul di ufuk Timur, anakmas—katanya. Ki Widura pun kemudian mengantarkan Ki Untara berkeliling melihat-lihat keadaan padepokan kecil itu. Ki Untara sempat mengagumi belumbang yang berisi ikan berwarna-warni.

    Ikan-ikan itu berkejaran dengan lincahnya ke sana kemari, terlebih lagi ketika Ki Widura melemparkan umpan ikan itu berupa potongan kecil-kecil ketela pohon yang sudah direbus. Ikan itu juga melahap daun kangkung dirajang kecil-kecil yang dilemparkan ke tengah belumbang itu.

    Di sekitar belumbang itu terdapat berbagai jenis tanaman buah-buahan yang sudah berbuah ranum. Pepohonan yang terdapat di halaman itu antara lain jambu air, jambu biji, belimbing, rambutan, sawo dan sebagainya.

    Pepohonan itu pun ditanam oleh ayahnya Ki Sadewa ketika Untara masih kecil. Mendiang Kiai Gringsing sama sekali tidak menebang pohon buah-buahan itu, ketika membangun padepokan. Mendiang bisa menempatkan tata letak bangunan padepokan dengan serasi tanpa mengorbankan sebatang pohon pun.

    –Aku tidak melihat Wira Sanjaya, paman. Ke manakah anak itu?—tanya Ki Untara.

    —Wira Sanjaya sejak kemarin sore pamitan untuk menginap di rumah kawannya yang putera Ki Demang Jati Anom—jawab Ki Widura.

    —Semoga anak itu tidak merepotkan kakeknya—kata Ki Untara.

    —Tentu tidak, anakmas—kata Ki Widura.

    —Apakah Wira Sanjaya rajin berlatih, paman?—tanya Ki Untara.

    —Ya. Wira Sanjaya rajin berlatih bersama kawannya itu. Dalam waktu singkat Wira sudah menguasai tata gerak dari perguruan kita, meskipun belum sempurna benar.—

    —Syukurlah, jika ia tekun berlatih. Aku khawatir kalau-kalau ia kurang rajin. Anak itu terlalu manja.—

    —Sejauh ini aku mengamati bahwa kemajuannya cukup cepat.—
    —Meskipun demikian paman perlu meningkatkan disiplin anak itu, agar ia tidak berlatih dengan semaunya saja.

    —Tentu. Tentu anakmas. Aku akan meningkatkan disiplinnya—ujar Ki Widura sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Sebagaimana halnya Ki Untara, Ki Widura pun pernah mengalami menjadi prajurit bahkan senapati yang disegani di wilayah Selatan. Soal kedisiplinan adalah menu sehari-hari yang selalu digelutinya dalam olah keprajuritan. Oleh karena itu ia tidak asing lagi dengan pendapat kemanakannya yang merasa kedisiplinan Wira Sanjaya terlalu longgar.

    Setelah berkeliling di halaman padepokan, Ki Widura membawa kemanakannya itu melihat-lihat persawahan mereka yang terletak tidak jauh dari padepokan.

    Sawah yang baru saja dipanen itu sudah mulai dibajak dan dicangkul tanahnya. Pada salah satu sudut petakan sawah itu, para cantrik sudah mulai menebar benih yang sudah mulai tumbuh.

    Setelah benih padi itu tumbuh sepanjang sejengkal, maka pada gilirannya akan ditanam di sawah mereka yang cukup luas itu dengan jarak sejengkal-sejengkal. Dengan berbekal ketekunan dan kedisiplinan, para cantrik padepokan kecil peninggalan mendiang Kiai Gringsing itu mampu menghasilkan pangan yang cukup bagi warga padepokan. Meskipun jumlah cantrik di padepokan itu terus bertambah, namun mereka tidak perlu merasa khawatir bahwa mereka akan kekurangan bahan pangan. Selain padi yang menghasilkan beras, di musim kemarau sawah itu ditanami dengan ketela pohon dan jagung.
    Bahkan hasil yang berlebih itu sempat pula dibawa oleh cantrik untuk dijual dan uangnya dibelikan sejumput garam sebagai penyedap rasa agar makanan tidak terasa hambar.

    Sedangkan untuk teman minum wedang jahe atau wedang sere, para cantrik itu cakap pula memanjat pohon kelapa untuk menderes legen yang kemudian diolah menjadi gula kelapa.

    Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Rangga Agung Sedayu pun semakin sibuk dengan kegiatannya menyelesaikan perluasan barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh dan pembangunan armada laut pasukan khusus Mataram di tepian Kali Praga.

    Tempat yang dipilihnya sebagai sanggar terbuka untuk pembangunan kapal jung armada laut itu, terletak di sisi sebelah hilir dari tempat penyeberangan rakit paling selatan yang ada di tepian Kali Praga itu.

    Tempat yang dipilihnya itu terdapat di tepian Kali yang rata, berpasir dan tidak banyak berbatu-batu. Sehingga apabila pada saatnya kapal jung itu siap diluncurkan, maka tidak diperlukan terlalu banyak orang untuk mendorongnya ke tengah sungai.

    Setiap hari Ki Rangga hilir mudik dari rumahnya di Tanah perdikan Menoreh ke barak, lalu ke tepian Kali Praga.

    Sementara itu Nyi Sekar Mirah semakin sibuk sejalan dengan semakin besarnya jabang bayi di dalam kandungannya. Ia sudah mulai merasakan gerakan yang sangat lincah calon bayi itu di dalam perutnya. Sekali-sekali sang jabang bayi itu menendang ke kanan, di saat yang lain menendang ke kiri.

    Kalau Ki Rangga sedang pulang lebih awal, maka Nyi Sekar Mirah menunjukkan kepada calon ayah bayinya itu betapa si jabang bayi bergerak dengan lasak di dalam perut. Diletakkannya tangan suaminya di atas perutnya yang semakin membesar.

    Anehnya ketika tangan Ki Rangga diletakkan di atas perutnya, sang jabang bayi seolah-olah menikmati kehangatan tangan ayahnya. Ia tidak bergerak. Diam di tempatnya. Begitu tangan itu diangkat, jabang bayi itu kembali bergerak-gerak lincah seolah-olah mencari-cari tangan Ki Rangga.

    Nyi Sekar Mirah juga sudah mulai menyiapkan pakaian bayi yang dibuatnya sendiri. Ia membeli beberapa lembar kain yang dipotong dan dijahitnya sendiri menjadi pakaian bayi. Popok, gurita, baju kecil, selimut dan bedong bayi.

    Kalau di pasar ada baju jadi yang bagus, maka dibelinya baju atau kelengkapan bayi itu. Nyi Sekar Mirah sesekali juga mulai memeriksakan keadaan kandungannya kepada dukun beranak yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Nyi Saniscara.

    Semula Nyi Saniscara terkejut atas kedatangan Nyi Sekar Mirah ke rumahnya. Setelah melihat keadaan perut Nyi Sekar Mirah yang mulai membesar, dukun beranak yang sudah berusia lanjut itu pun mengangguk-angguk dan berkata.

    —Biarlah besok-besok aku yang datang ke rumahmu ngger. Jangan angger yang datang kemari. Syukurlah kondisi kandunganmu sehat—kata Nyi Saniscara setelah memeriksa keadaan kandungan Nyi Sekar Mirah.

    —Terima kasih Nyi—

    —Tetapi bukankah akan lebih baik aku berjalan-jalan kemari sambil melemaskan otot. Menurut orang tua-tua, kalau perempuan sedang hamil harus banyak berjalan agar posisi kepala bayi bisa di bawah menjelang saat kelahirannya—

    —Angger benar, ngger. Terserah angger lah, aku yang datang ke rumahmu atau angger yang datang ke mari. Sama saja bagiku—

    Demikianlah Nyi Saniscara setiap pekan memeriksa kondisi jabang bayi dalam kandungan Nyi Sekar Mirah. Ia pun membawakan jamu kunyit dan jamu godogan lainnya yang harus diminum oleh Nyi Sekar Mirah agar mempunyai kekuatan yang cukup jika pada saatnya harus melahirkan jabang bayi itu.

    Dalam pada itu, Ki Rangga Agung Sedayu pun semakin tenggelam dalam kesibukannya. Setiap hari ia mengawasi pembangunan kapal jung pertama yang akan menjadi contoh bagi armada laut pasukan khusus Mataram.

    Ia dengan tekun setiap hari mengawasi pembangunan kapal itu, karena Kangjeng Panembahan Hanyakrawati ingin menyaksikan langsung hasilnya sebelum diluncurkan ke laut lepas.

    Demikianlah setelah mengubah rancangan bangun kapal sesuai dengan perintah Kangjeng Panembahan Hanyakrawati, di mana ditambahkan istal pada bagian buritannya yang bisa menampung tiga sampai lima ekor kuda dan penambahan empat buah sekoci pada sisi badan kapal. Masing-masing sekoci tersebut dirancang untuk bisa memuat delapan hingga sepuluh orang. Semula memang Kangjeng Panembahan Hanyakrawati meminta agar ditambahkan dua sekoci saja di kiri-kanan lambung kapal.

    Namun setelah Ki Rangga Agung Sedayu memikirkannya lebih dalam, ternyata jika terjadi keadaan darurat, seluruh awak kapal harus dapat termuat oleh semua sekoci yang ada. Karena itu, Ki Rangga menambahkan jumlahnya menjadi empat sekoci.

    Untuk melaksanakan pembangunan kapal tersebut Ki Rangga dibantu seorang lurah prajurit yang mendapat kepercayaannya. Ki Lurah Darma Samudra.

    Setiap pagi mereka berangkat bersama dari barak pasukan khusus prajurit Mataram di Tanah Perdikan Menoreh dan pada sore harinya kembali ke barak. Setelah kembali ke barak, Ki Rangga Agung Sedayu kembali tenggelam dalam kesibukannya di barak.

    Ia memanggil lurah yang mendapat kepercayaannya untuk menyelesaikan pembangunan barak itu. Dari lurah itu, Ki Rangga mendapat laporan kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan.

    —Pembangunan barak sudah mencapai sembilan dari sepuluh bagian, Ki Rangga. Pekerjaan yang tinggal hanyalah mengaci, melabur, dan pembuatan amben-amben dan gledek di bangsal tidur prajurit, menyungging pilar-pilar balai pertemuan prajurit serta memperbesar regol utama agar barak pasukan khusus ini nampak berwibawa—

    —Apakah Ki Lurah dapat menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu bulan?—tanya Ki Agung Sedayu.
    —Siyaga Ki Rangga—kata Ki Lurah Suprapta yang menjadi kepercayaannya.
    —Baiklah, segera selesaikan segala kekurangannya, dalam waktu kurang dari satu bulan. Kalau perlu dikerjakan siang dan malam, agar pekerjaan cepat selesai—
    —Siyaga Ki Rangga—jawab Ki Suprapta.

    Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu semakin mempercepat pekerjaannya, sejalan dengan rencana Kangjeng Panembahan Hanyakrawati yang hendak meninjau pekerjaan pembangunan barak pasukan khusus dan kapal jung armada laut pasukan khusus di dermaga yang terletak di tepian Kali Praga.

    Ketika ia tengah tenggelam dalam kesibukannya itu, tanpa disangka-sangka datanglah dua orang utusan Ki Patih Mandaraka ke barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh.

    Kedua utusan Ki Patih Mandaraka itu pun memperlambat lari kudanya ketika telah sampai di regol barak pasukan khusus yang sudah mulai dibongkar untuk diperbesar. Mereka lalu mengikatkan kudanya di patok-patok tambatan tali kendali kuda, lalu berjalan menuju gardu perondan.

    Setelah menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu, maka mereka dipersilakan menanti di gardu perondan, sementara seorang prajurit jaga menyampaikan kepada Ki lurah. Ki Lurah itu pun segera menyampaikan kepada Ki Rangga Agung Sedayu bahwa dua orang utusan Ki Patih Mandaraka telah datang ke barak pasukan khusus itu.

    Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menerima dua orang utusan Ki Patih Mandaraka itu di ruang khusus tempat Senapati Pasukan khusus itu menerima tamu.

    —Silakan Ki Lurah, masuklah—ujar Ki Rangga yang telah mengenal Ki Lurah itu dalam berbagai medan pertempuran.

    —Terima kasih Ki Rangga—jawab Ki Lurah itu.

    —Selamat datang di barak pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh—lanjut Ki Rangga Agung Sedayu pula. Sebagaimana kebiasaan yang berlaku, maka Ki Rangga kemudian menanyakan keselamatan tamu-tamunya, keadaan Mataram, kesehatan Ki Patih Mandaraka, serta para petinggi Mataram yang dikenalnya.

    —Berkat doa Ki Rangga, maka semuanya dalam keadaan sehat walafiat, kecuali keadaan Ki Patih Mandaraka yang semakin sepuh dan sering-sakit-sakitan. Namun meskipun sakit Ki Patih masih tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya, termasuk mengutus aku untuk menemui Ki Rangga sekarang ini—
    Ki Rangga Agung Sedayu mengerutkan keningnya.—Adakah sesuatu hal yang sangat penting, sehingga Ki Patih mengutus Ki Lurah datang ke mari?—

    —Tentu Ki Rangga. Ki Patih memerintahkan Ki Rangga untuk datang ke Paseban Agung yang akan diadakan dua hari lagi. Ki Rangga diminta hadir dengan pakaian lengkap keprajuritan.—

    Ki Rangga Agung Sedayu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun lalu bertanya—Apakah Ki Lurah mengetahui yang akan terjadi dalam paseban nanti, sehingga aku harus hadir?—

    —Aku tidak tahu Ki Rangga. Aku hanya mendapat tugas untuk menyampaikan perintah agar Ki Rangga hadir dalam Paseban Agung itu.—

    —Baiklah Ki Lurah. Besok aku datang ke Mataram. Bukankah Ki Lurah akan menginap malam ini di barak pasukan khusus?—tanya Ki Agung Sedayu.

    —Tidak Ki Rangga. Setelah menyampaikan pesan ini aku akan segera kembali ke Mataram, karena masih banyak yang harus aku kerjakan untuk mempersiapkan Paseban Agung itu—

    Ki Rangga Agung Sedayu kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya—Tetapi sekarang waktunya makan siang. Sebaiknya Ki Lurah berdua menikmati makanan pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh ini, baru setelah beristirahat sejenak, Ki Lurah dapat melanjutkan perjalanan kembali ke Mataram—

    —Dengan senang hati Ki Rangga—jawab Ki Lurah itu

    Demikianlah setelah kedua tamunya dijamu dengan masakan sehari-hari yang dimakan oleh prajurit pasukan khusus, dan beristirahat sejenak, maka kedua utusan Ki Patih itu pun kemudian berpamitan.

    —Baiklah Ki Lurah. Terima kasih atas pesan yang disampaikan kepadaku. Aku menjunjung tinggi perintah Ki Patih—

    Setelah kedua tamunya meninggalkan barak pasukan khusus itu, Ki Rangga Agung Sedayu memanggil semua senapati yang berada di bawah wewenangnya untuk datang ke ruang khusus untuk mengadakan pertemuan.

    Ki Rangga lalu menceriterakan bahwa Ki Patih telah memanggilnya untuk ikut hadir dalam Paseban Agung yang akan diadakan dua hari lagi. Karena itu, agar ia tidak terlambat, maka Ki Rangga Agung Sedayu dan dua orang lurah yaitu Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta akan datang besok ke Mataram.

    Sedangkan senapati-senapati yang lain tetap bertugas di pasukan khusus dan di dermaga pembangunan kapal jung di tepian Kali Praga.

    —Hari ini aku akan pulang lebih awal, karena aku akan menyampaikan kepada Ki Gde Menoreh dan kepala pengawal Tanah Perdikan Menoreh, Prastawa, mengenai kepergianku ke Mataram esok hari—

    Para senapati yang hadir dalam ruangan khusus itu pun kemudian mulai mendapat pembagian tugas dari Ki Rangga selama ia pergi ke Mataram. Namun Ki Rangga masih tetap merahasiakan apa sebabnya ia dipanggil ke Paseban Agung. Ki Rangga mengatakan bahwa jika Paseban Agung itu berlangsung hingga petang, maka ia akan bermalam dua malam di Mataram.

    Setelah membagi tugas sesuai dengan wewenang masing-masing, maka Ki Rangga pun kemudian berpamitan dan memacu kudanya pulang ke rumah. Nyi Sekar Mirah yang sedang berada di dapur terkejut ketika mendengar derap kaki kuda memasuki regol halaman dan ia segera melongok ke pintu. Ternyata suaminya, Ki Rangga Agung Sedayu yang pulang.

    —Kakang pulang lebih cepat hari ini?—tanyanya.

    —Iya Mirah. Tadi dua orang utusan Ki Patih datang ke Barak dan memintaku besok datang ke Mataram—

    —Ada apa gerangan Kakang?—tanya Nyi Sekar Mirah yang perutnya semakin bulat dan pipinya nampak lebih montok. Nyi Sekar Mirah pun menuntun suaminya ke pendapa dan mereka kemudian duduk di atas selembar tikar yang digelar di tengah ruangan.

    —Kedua utusan Ki Patih tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya memintaku untuk hadir dalam Paseban Agung—jawab Ki Rangga.

    —Tumben kakang diminta hadir dalam Paseban Agung—tanya Nyi Sekar Mirah dengan wajah penuh tanda tanya dan perasaan waswas.

    —Entahlah Mirah. Mungkin ada kaitannya dengan perluasan barak pasukan khusus dan pembangunan kapal jung itu—jawab Ki Rangga. Ia masih menyimpan keterangan Kangjeng Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka yang akan menaikkan pangkatnya setingkat lagi menjadi panji.

    —Ke manakah Ki Jayaraga dan Sukra, Mirah?—tanya Ki Rangga lagi.

    —Ki Jayaraga tadi pagi ke sawah. Siang tadi Sukra membawakan makanan dan minuman untuk Ki Jayaraga. Sampai saat ini Sukra belum kembali. Mungkin ia langsung pergi ke kademangan induk untuk berkumpul dengan anggota pasukan pengawal lainnya.—jawab Nyi Sekar Mirah.

    —Malam nanti aku akan menghadap ke Ki Gde Menoreh untuk menyampaikan rencana kepergianku ke Mataram besok—ujar Ki Rangga.
    —Baiklah kakang—jawab Nyi Sekar Mirah.—Agaknya anakmu dalam kandungan ini sudah dapat firasat akan kedatangan kakang. Dari tadi ia menendang ke kiri ke kanan. Sampai aku mengatakan, Le, tole, jangan terlalu lasak. Ada apa to Le, kok meloncat ke sana ke mari?—

    Ki Rangga Agung Sedayu pun tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Ia pun kemudian bersenandung Tak Lelo-lelo, sambil memegang perut istrinya. Nyi Sekar Mirah pun heran, begitu terdengar senandung suaminya dan disentuh tangannya, jabang bayi dalam kandungan itu pun terdiam seolah-olah menyimak suara senandung ayahnya.

    Ketika Ki Rangga berhenti bersenandung dan mengangkat tangannya dari perut Nyi Sekar Mirah, maka jabang bayi itu pun kembali bergerak ke sana ke mari.

    —Lihat kakang, anakmu meloncat-loncat lagi—kata Nyi Sekar Mirah.

    —Baiklah aku akan menyanyi lagi Le—kata Ki Rangga.

    Demikian setelah bercengkrama beberapa lama dengan jabang bayi di dalam perut istrinya, Ki Rangga pun kemudian pergi ke pakiwan untuk mandi dan sesuci. Setelah itu ia melaksanakan kewajibannya kepada Yang Maha Agung.

    Matahari yang sudah jauh melewati titik puncaknya semakin terpeleset di cakrawala Barat. Semakin lama sinarnya semakin kemerah-merahan dan semakin pudar ketika bersembunyi di balik bukit. Apalagi awan yang kelabu yang bertengger di atas bukit ikut menutupi cahayanya.

    Awan kelabu yang bergerak selapis demi selapis, pada akhirnya menumpuk di atas bukit sehingga menjadi semakin pekat dan mulai mengembunkan uap-uap air menjadi gerimis.

    Gerimis itu pun pada akhirnya kemudian berubah menjadi hujan yang semakin lebat. Sebelum hujan itu menjadi kian lebat Ki Jayaraga dan Sukra telah kembali ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Sambil memikul cangkulnya Ki Jayaraga memasuki regol halaman rumah itu disusul oleh Sukra.

    Mereka pun kemudian menuju ke longkangan dan meletakkan cangkul dan peralatan lainnya di sana lalu terus ke pakiwan untuk membersihkan diri. Setelah sesuci dan melaksanakan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, mereka pun berkumpul di pendapa.

    Ternyata di pendapa itu telah hadir pula Ki Rangga Agung Sedayu dan tak lama kemudian Nyi Sekar Mirah mengeluarkan singkong rebus yang masih mengepulkan asap dan beberapa mangkuk wedang jahe serta beberapa potong gula kelapa.

    —Silakan Ki Jayaraga dan Sukra, kita menikmati singkong rebus yang masih hangat—kata Nyi Sekar Mirah.

    —Wah hujan-hujan begini nikmat sekali makan singkong rebus ditemani wedang jahe. Badan yang mulai kedinginan kena hujan bisa menjadi hangat kembali—ujar Ki Jayaraga.

    Demikianlah mereka menikmati udara sore yang mulai dingin itu sambil melahap singkong rebus. Sambil makan singkong rebus itu Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan kepada KI Jayaraga dan Sukra bahwa besok ia akan menghadap ke Mataram atas perintah Ki Patih Mandaraka. Ia akan hadir dalam Paseban Agung yang akan digelar lusa.

    —Sungguh merupakan suatu kehormatan, bahwa Ki Rangga diundang dalam Paseban Agung—ujar Ki Jayaraga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Ki Rangga Agung Sedayu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti halnya kepada Nyi Sekar Mirah, ia pun tidak menceriterakan bahwa dirinya akan dinaikkan pangkatnya menjadi panji. Nanti setelah serat kekancingan dipegangnya, barulah ia menceriterakan kenaikan pangkatnya itu.

    —Iya. Ki Jayaraga benar. Undangan untuk datang ke Paseban Agung sungguh merupakan suatu kehormatan yang luar biasa bagiku. Aku tidak tahu apakah kehadiranku itu ada kaitannnya dengan perluasan barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh dan dermaga di tepian Kali Praga itu—jawab Ki Rangga.

    —Bisa jadi Ki Rangga. Ki Rangga diperintahkan hadir mungkin saja karena Kangjeng Panembahan Hanyakrawati ingin mendengar perkembangan perluasan barak pasukan khusus dan pembangunan kapal jung itu di dermaga —kata Ki Jayaraga pula.

    Karena kepergian Ki Rangga Agung Sedayu ke Mataram selama tiga hari, maka kepada Ki Jayaragan dan Sukra dimintanya untuk bergantian berada di rumah mengingat usia kandungan Nyi Sekar Mirah yang sudah semakin membesar. Ki Jayaraga dan Sukra pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Mereka telah mengenal Nyi Saniscara, dukun beranak yang merawat kandungan Nyi Sekar Mirah. Jika terjadi sesuatu atas Nyi Sekar Mirah selama Ki Rangga pergi ke Mataram, maka mereka diminta segera menghubungi Nyi Saniscara yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Ki Rangga.

    —Setelah matahari surup, aku akan menghadap Ki Gde Menoreh. Mudah-mudahan hujan sudah reda—kata Ki Rangga sambil melihat cucuran air di teritisan yang sudah mulai berkurang lebatnya.

    Dan benar saja, tidak lama kemudian hujan yang tadinya lebat, meskipun tidak disertai petir dan guntur, kini telah berkurang menjadi gerimis. Langit yang tadinya gelap sempat terang sejenak, ketika sang mentari sempat mengintip dengan sinarnya yang jingga di ufuk Barat.

    Awan hitam yang masih menggantung di langit Timur mendapat sorotan sinarnya sehingga menimbulkan lingkaran besar cahaya berwarna-warni di langit. Pelangi. Lengkungan cahaya itu berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Cahaya pelangi yang berwarna-warni itu memberi inspirasi bagi orang tua yang kreatif untuk menciptakan lagu dolanan anak-anak.
    Pelangi yang sejenak itu pun perlahan-lahan menjadi semakin pudar ketika sang mentari berkewajiban mengikuti garis edarnya untuk bersembunyi di balik bukit. Sang dewa malam pun mulai berkuasa dalam kegelapan.

    Namun yang lebih berkuasa adalah sang mendung yang menutupi kehadiran bintang gemintang di langit. Tak satu pun bintang yang hadir di langit.

    Namun angin Barat yang kencang tidak membiarkan gelap malam berkuasa terlalu lama. Angin kencang itu pun mendorong awan yang mengandung titik-titik air itu terbang ke langit Timur. Satu persatu bintang dengan malu-malu mulai menampakkan dirinya.

    Mereka berpendaran satu dengan lainnya, seolah bersahut-sahutan dengan cahayanya menerangi langit. Meskipun sinarnya itu tidak seterang rembulan, namun bintang waluku di langit Selatan bisa menjadi petunjuk jalan orang yang tersesat atau nelayan yang kehilangan arah di tengah samudera.

    Setelah hujan gerimis pun usai, maka Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian berpamitan untuk pergi ke rumah Ki Gde Menoreh. Karena jalanan becek, Ki Rangga memilih untuk berjalan kaki saja.

    Selain karena jaraknya tidak terlalu jauh, kalau dalam keadaan becek seperti itu ia berkuda, tentu sepakan kaki kuda akan melontarkan tanah yang becek itu ke punggungnya, sehingga pakaian di bagian punggungnya akan kotor.
    Dengan hati-hati Ki Rangga menapaki jalanan yang becek itu. Gemericik air di selokan terdengar cukup jelas ditingkahi oleh suara bilalang dan kodok ngorek yang bersahut-sahutan dengan irama alam yang merdu.
    Kodok enggung yang suaranya besar dan berwibawa seolah-olah menjadi pemimpin konser alam itu. Ketika kodok enggung mulai bersuara, kodok bangkong segera menyahuti dengan suaranya yang melengking, lalu disusul oleh katak pohon dan katak hijau. Dengan riangnya mereka saling bercandetan, satu dengan yang lain saling mengisi keheningan malam itu.

    Ketika kodok enggung diam beberapa saat, maka para kodok dan katak itu pun berhenti bersuara. Tidak terdengar suara apa pun. Persawahan itu menjadi sunyi. Setelah kodok enggung membuka suara, maka yang lain pun mulai menimpalinya. Begitu seterusnya. Seolah-olah mereka menjadi gembira menyambut kebahagiaan yang datang bersama turunnya sang hujan.
    Ki Rangga Agung Sedayu terus melangkah sambil menikmati kebesaran malam di tengah persawahan itu. Di balik kegelapan malam ia masih dapat melihat gerumbul-gerumbul padi yang sudah mulai tumbuh membesar, setelah pekan sebelumnya mulai ditanam dengan jarak tanam sejengkal-sejengkal.
    Ki Rangga terus berjalan, sehingga tanpa terasa ia sudah dekat dengan rumah Ki Gde Menoreh. Beberapa langkah lagi ia sampai di tikungan, lalu membelok ke kiri, lalu beberapa ratus langkah lagi sampailah di rumah paling besar di Tanah Perdikan itu.
    Ketika sampai di rumah Ki Gde Menoreh, regol halaman itu masih terbuka lebar. Ia pun memasukinya dan mendekati pendapa. Dari jauh Ki Gde Menoreh yang sudah melihat kedatangan Ki Rangga Agung Sedayu, segera menghampiri.
    —Marilah anakmas. Silakan naik ke pendapa—ujarnya sambil tersenyum gembira.—Pantaslah kupu-kupu tarung dari pagi berseliweran di pendapa ini. Agaknya anakmas yang datang.—
    Ki Rangga Agung Sedayu pun tertawa panjang menimpali canda Ki Gde Menoreh.
    —Ki Gde bisa saja. Bukankah kupu-kupu tarung itu terbang ke mari, karena di halaman rumah Ki Gde banyak bunga yang sedang mekar?—jawab Ki Rangga.
    Demikianlah mereka saling bertegur sapa sebagaimana layaknya dua orang yang sudah lama tidak bertemu meskipun jarak rumah mereka tidak terlalu berjauhan. Namun karena kesibukan masing-masing mereka tidak bisa saling beranjangsana. Apalagi Ki Gde kaki kirinya agak terganggu akibat luka di punggung yang dideritanya.
    Ki Rangga pun kemudian menceriterakan keadaan keluarga kecilnya yang dalam keadaan sehat sejahtera dan ia juga menceriterakan keadaan istrinya yang sedang mengandung dan kini semakin membesar.

    Ia mohon doa restu dari Ki Gde agar pada saatnya anak dalam kandungan itu bisa lahir dengan lancar, sehat dan selamat tidak kekurangan sesuatu apapun juga. Begitu pula ibunya.
    —Syukurlah angger akan segera mendapat keturunan—kata Ki Gde Menoreh dengan nada gembira.

    Ki Gde Menoreh pun kemudian mendoakan agar kelak Nyi Sekar Mirah bisa melahirkan dengan lancar.dan selamat.
    —Apakah kandungan Nyi Rangga sudah diperiksa oleh dukun beranak?—tanya Ki Gde Menoreh.
    —Sudah Ki Gde. Setiap pekan Nyi Saniscara memeriksa kondisi kandungan istriku—jawabnya. Ki Gde Menoreh mengangguk-angguk.
    Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan kepada Ki Gde Menoreh bahwa besok ia mendapat perintah untuk datang ke Mataram guna hadir dalam Paseban Agung pada keesokan harinya. Ki Gde Menoreh mengangguk-anggukkan kepalanya.
    —Agaknya kehadiran Ki Rangga di Paseban Agung ada kaitannya dengan perluasan barak pasukan khusus dan rencana pembangunan armada laut pasukan khusus Mataram di tepian Kali Praga—kata Ki Gde Menoreh menduga-duga.
    —Saya kira memang demikian Ki Gde—kata Ki Rangga Agung Sedayu.—Sehubungan dengan hal tersebut, aku hendak berpamitan kepada Ki Gde dan Prastawa sebagai kepala pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh serta para bebahu yang hadir di sini—

    —Biarlah seseorang memanggil Prastawa di rumahnya—ujar Ki Gde Menoreh. Ia lalu menugaskan seorang anggota pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh memanggilnya. Tidak beberapa lama kemudian, Prastawa pun hadir di rumah Ki Gde Menoreh. Lalu Ki Gde menceriterakan kembali maksud kedatangan Agung Sedayu malam itu ke rumah Ki Gde. Prastawa pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan nada tulus ia mengucapkan selamat atas kepercayaan yang diterima oleh Agung Sedayu. Sebab baru sekali ini, Ki Rangga mendapat kehormatan untuk hadir dalam Paseban Agung.
    —Kehadiran Kakang Agung Sedayu dalam Pisowanan Agung, juga merupakan kepercayaan bagi Tanah Perdikan Menoreh—tuturnya.—Kami turut gembira atas kepercayaan yang kakang terima.—
    Seperti halnya kepada Ki Gde Menoreh, Agung Sedayu juga menceriterakan kepada Prastawa bahwa Nyi Sekar Mirah sudah mulai mengandung.
    —Wah aku agaknya akan segera mendapat kemanakan—katanya dengan gembira.
    —Aku mohon doa restumu adi—kata Agung Sedayu kepada Prastawa.
    —Tentu. Tentu saja aku mendoakan agar mbokayu Sekar Mirah dan bayi dalam kandungannya sehat, kelak lahir dengan lancar dan selamat—jawab Prastawa.

    Demikianlah setelah berbincang-bincang mengenai berbagai hal, Ki Rangga Agung Sedayu berpamitan kepada Ki Gde Menoreh, Prastawa dan para bebahu Tanah Perdikan Menoreh yang kebetulan hadir di rumah Ki Gde Menoreh.
    Ki Gde Menoreh dan Prastawa pun lalu mengantarkan Ki Rangga Agung Sedayu sampai regol halaman. Seperti pada waktu datang, pada waktu pulang pun Ki Rangga Agung Sedayu pun berjalan kaki ke rumahnya yang tidak begitu jauh itu di tengah gelapnya malam.
    Agung Sedayu pun tersenyum sendiri ketika mengenang masa kecil sampai remajanya yang menjadi ketakutan ketika disuruh kakaknya pergi dari Jati Anom ke Sangkal Putung di tengah malam.
    Karena saking takutnya ia tidak juga mau pergi ke Sangkal Putung untuk memberitahu Ki Widura mengenai rencana penyerbuan Macan Kepatihan, sampai-sampai kakaknya Untara sempat mengancamnya dengan kerisnya.
    Tanpa terasa, Ki Rangga Agung Sedayu telah sampai di rumahnya. Ia segera masuk ke dalam rumah setelah istrinya membukakan pintu.
    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Rangga Agung Sedayu telah siap pergi ke barak pasukan khusus. Setelah mengisi perutnya dengan makanan kecil, Ki Rangga pun berpamitan untuk pergi ke barak untuk kemudian berangkat ke Mataram.
    Sesampainya di barak Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta sudah siap pula untuk berangkat ke Mataram. Setelah memeriksa kesiapan para senapati yang akan ditinggalkannya, maka mereka bertiga pun segera memacu kudanya ke Timur. Menuju ke tempat penyeberangan di Kali Praga.
    Ketika mereka sampai di tepian Kali Praga, ternyata rakit-rakit bambu yang ada di sisi barat sudah bergerak ke seberang, sehingga mereka harus menunggu beberapa saat sampai rakit itu kembali.
    Pada saat menanti kedatangan rakit-rakit itu dari seberang, tiba-tiba datanglah empat orang berkuda yang juga ingin menyeberang. Dengan wajah-wajahnya yang sangat orang-orang tersebut maju mendahului deretan orang yang menunggu rakit. Dengan kasarnya mereka mendorong deretan orang yang menunggu rakit itu, termasuk Ki Rangga Agung Sedayu, Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta.
    Ki Rangga Agung Sedayu yang mempunyai kesabaran luar biasa itu sama sekali tidak terganggu oleh penyerobotan yang dilakukan keempat orang berkuda yang berwajah kasar. Tetapi tidak demikian halnya dengan Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta. Mereka mereka haknya sebagai pengantre yang terlebih dahulu datang dilanggar oleh keempat orang berkuda itu.
    —KiSanak harus menunggu giliran, tidak boleh menyerobot begitu saja—kata Ki Lurah Suprapta.
    —Kau mau apa. Kami sedang terburu-buru. Jangan mencari perkara dengan kami kalau mau selamat—kata salah seorang di antara mereka yang berwajah kasar, mata juling dan berambut keriting.
    —Kisanak, meskipun kami tidak mengatakannya, tapi kami juga terburu-buru. Meskipun demikian kami tetap sabar menunggu giliran—kata Ki Lurah pula. Keempat orang berkuda itu tidak mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, karena Ki Rangga dan kedua lurahnya tidak mengenakan pakaian keprajuritan.
    —Apakah kalian berkeberatan jika kami naik ke rakit lebih dahulu—bentak kawannya yang juga berwajah kasar dan terdapat bekas luka menyilang di pipinya.
    —Kalau semua mau menyeberang lebih dahulu tanpa memperhatikan kepentingan orang yang terlebih dahulu datang, maka hal itu akan merusak tatanan—kata Ki Lurah.
    —Tatanan apa. Tatanan apa yang aku rusak?—kata orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
    —Kalau Kisanak mau mengatakan apa alasan Kisanak harus terburu-buru, maka mungkin kami dapat mengerti dan bisa memberi kesempatan kepada Kisanak untuk menyeberang terlebih dahulu—kata Ki Lurah pula.
    —Kau tidak perlu tahu, minggir—kata orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
    —Eh, nanti dulu—kata ki lurah. Namun orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut kriting itu agaknya sudah tidak sabar lagi.
    Tiba-tiba saja tangannya menyambar pipi Ki Lurah Suprapta. Ki Lurah Suprapta yang tidak bersiaga, menjadi terkesiap dan sempat melangkah surut sehingga tangan orang berwajah kasar dan bermata juling itu hanya lewat senyari di depan hidungnya. Belum lagi Ki Lurah bersiaga sebuah tendangan melayang ke arah dadanya. Ki Lurah yang tidak mau menjadi sasaran tendangan lawannya yang berwajah kasar dan bermata juling itu, terpaksa harus berbuat sesuatu untuk mengatasi tendangan itu. Ki Lurah pun merendahkan badannya, sehingga tendangan itu lewat sejengkal di atas kepalanya.
    Ki Lurah Suprapta yang masih berjiwa muda itu tentu saja tidak mau menjadi sasaran serangan tiga kali berturut-turut. Ki Lurah pun segera membalas serangan itu dengan kepalan tangannya mengarah ke dada.
    Orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting itu ternyata cukup tangkas. Ia melangkah surut selangkah sehingga kepalan tangan Ki Lurah itu tidak menyodok dadanya. Orang berwajah kasar itu pun kembali melontarkan serangan dengan sisi telapak tangannya menyambar lambung, lalu disusul dengan serangan beruntun dengan kakinya yang mengarah ke dada.
    Ki Lurah masih sempat menghindar ketika tangan orang berwajah kasar itu menyerang lambungnya dengan melangkah surut, tapi serangan beruntun dengan kakinya itu tidak lagi sempat dihindarinya. Dengan sigap Ki Lurah menyilangkan tangannya di depan dada untuk membentur tendangan menyilang dari lawannya. Akibatnya, Ki Lurah terdorong surut selangkah dan berusaha menguasai keseimbangannya. Sementara orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut kriting itu terdorong surut dua langkah lalu jatuh terguling-guling.
    Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Lurah Darma Samudra yang sedari tadi memperhatikan kedua orang itu bertarung, segera bersiap-siap ketika mereka melihat ketiga kawan orang yang berwajah kasar itu bersiaga untuk melibatkan diri.

    —Ki Lurah, kau hadapi orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu. Aku menghadapi dua orang lainnya—kata Ki Rangga.

    —Baik Ki Rangga—jawab Ki Lurah Darma Samudra.

    Demikianlah di tepian berpasir itu pun terjadi tiga lingkaran pertempuran. Ki Lurah Suprapta menghadapi orang yang bermata juling dan berambut keriting, Ki Lurah Darma Samudra menghadapi orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya, sedangkan Ki Rangga menghadapi sisanya dua orang yang juga berwajah kasar, namun yang satu agak gemuk dan yang satu lagi agar kurus dan berkumis tebal.

    • Bersambung ke Jilid ke-401

  32. Sekelumit Renungan : Datangnya Penyakit Berasal Dari Diri Sendiri

    Kesehatan itu mahal harganya. Jiwa raga sehat maka kehidupan, disadari atau tidak insya Allah merasa tenang, senang, lapang dan melaksanakan aktifitas dengan maksimal. Sebaliknya, jiwa raga sakit, dipastikan kegiatan terhambat, tidak bersemangat, mudah emosi, gampang tersinggung, sehingga hari-hari akan kita jalani dengan suram.

    Seperti diketahui khususnya bagi yang muslim, sering mendengar bahwa Al-Quran adalah penyembuh segala penyakit dan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak berusaha merubahnya.
    Berbagai metode digali, dikelola dan mengklaim berasal dari Al-Quran untuk mengupayakan kesembuhan penyakit. Mulai dari membaca satu atau beberapa ayat hingga sekian puluh, ratus bahkan ribuan kali; menuliskan ayat diatas selembar kertas lalu dibakar, abunya dimasukkan kedalam air dan diminum; hingga doa-doa khusus yang dibaca agar penyakit bisa sembuh.
    Belum lagi yang berikhtiar (maaf) ke dukun, melakukan ritual-ritual khusus mohon kesembuhan, periksa dokter mulai dari dokter umum hingga yang sudah bergelar professor, meminum obat-obatan hingga operasi sampai keluar negeri dengan biaya yang selangit. Pertanyaannya adalah apakah semua itu benar? Apakah semua itu pasti berhasil?

    Wallahualambisawab, pada kenyataannya banyak yang berakhir di ritual-ritual sesat atau berakhir di meja operasi, na’udzubillahimindzalik. Semua adalah ikhtiar, semua adalah usaha agar kita menjadi sembuh dan sehat asal tidak bertentangan dengan ajaran agama insya Allah hal itu sah-sah saja.

    Tapi sebenarnya, tahukah kita bahwa segala penyakit itu datangnya dari diri kita? Bukan berasal dari virus, kuman, bakteri, nyamuk, mutasi sel dan sebagainya. Memang ketika kita sakit ketika diteliti ada yang namanya virus, kuman, bakteri yang merajalela didalam tubuh kita tapi itu bukanlah sebab itu hanyalah akibat !!

    Semua yang diklaim sebagai sebab sakit sebetulnya adalah akibat dari perbuatan diri sendiri, perilaku sehari-hari yang kurang terpuji dihadapan Allah SWT. Dimana perilaku yang kurang terpuji tersebut, menjadikan malaikat Atid terus mencatat dan mencatat serta melaporkannya di hadapan Allah SWT, dimana sudah berjalan bertahun-tahun bahkan mungkin juga sudah berpuluh tahun sehingga akhirnya Allah menurunkan suatu azab, musibah, cobaan berupa penyakit sebagai pengingat kita umat-Nya agar segera kembali kejalan-Nya. Hal ini mungkin luput dari perhatian kita semua tapi hal itu sudah terdapat dalam ayat-ayat Al-Quran yang sudah berabad-abad lalu tercipta dan sudah dijamin keabsahannya dan kebenarannya serta tak terbantahkan hingga akhir jaman bahkan Allah SWT sendiri yang menjamin.

    Coba kita renungkan ayat-ayat berikut, mari kita baca satu-persatu dengan pelan, teliti dan arif.
    “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.” (QS: As-Syuura 42:30-31).

    Jelaslah, bahwa apapun musibah dan cobaan yang menimpa, adalah disebabkan oleh perbuatan diri sendiri, kesalahan-kesalahan, dosa-dosa sendiri, astaghfirullah.
    Benarkah demikian, hanya karena dosa dan kesalahan dan bukan seperti apa yang sudah diyakini selama ini bahwa penyakit datangnya dari virus, kuman bakteri, pemanasan global, lapizan ozon dan sederet alasan ilmiah lain? Jawabannya adalah benar!

    Mengapa terlihat sederhana sekali? Hanya karena dosa dan kesalahan lalu tiba-tiba bisa menderita suatu penyakit bahkan hingga yang parah sekalipun?
    Sebenarnya tidak sesederhana itu, pada ayat diatas Allah sudah menerangkan bahwa dosa dan kesalahan sudah banyak sekali diampuni oleh-Nya, karena kita sendiripun tidak akan sadar bahkan mungkin tidak pernah bisa menghitung dosa yang diperbuat setiap harinya. Dosa dan kesalahan itu kita kerjakan terus menerus dari hari kehari, bulan ke bulan bahkan hingga berpuluh tahun barulah Allah akan menurunkan suatu musibah dalam hal ini penyakit semata-mata hanya sebagai hukuman, sebagai peringatan, sebagai sentilan, sebagai jeweran bagi kita agar segera sadar bahwa kita memang banyak salah dan dosa agar kita segera merenung, instrospeksi, kembali ke jalan Allah (….dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah).
    Sudah jelas disini disebutkan kata-kata pelindung dan penolong, artinya kalau mau selamat dari musibah, kalau ingin sembuh dari penyakit, semata-mata harus kembali kepada pelindung dan penolong kita yaitu Allah SWT.

    Hal ini juga akan diperjelas lagi oleh Allah SWT melalui firmanNya yang lain yang berbunyi:
    “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS: An-Nissa 4:111)
    Demikianlah, tidak bermaksud menyinggung siapapun, hanya sekelumit renungan pribadi disebalik musibah, cobaan dan sakit yang saya alami, nyatanya terdapat sisi positif yang dapat ditarik hikmahnya. Utamanya bagi diri pribadi, keluarga, sanak saudara, dan melebarnya kepada orang lain. Apa itu ?…. Bersegeralah kembali ke jalan-Nya, meminta ampunan dan perlindungan semata-mata hanya kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.

    Jika renungan bermanfaat, tentu kebenaran datangnya semata-mata karena rachmat Allah SWT, dan jika tidak dikarenakan kesalahan, kekhilafan saya sebagai manusia yang dhoif, yang tidak pernah luput dari noda dan dosa.

    nuwun.

    • Nderek nyengkuyung lan manghayubagya katur panjenenganipun Ki Agus S Soerono.

      Ternyata harapan sanak kadang cantrik terpenuhi dengan dilanjutkan adbm serial IV oleh Ki Agus S Soerono.

      maju terus,….kami para cantrik hanya bisa numpang ngunduh dan membaca.

      Nuwun.

      • nderek ki is, nyekungkung..hehehehe..

        tetap semangat, walau belum pernah baca..
        tapi pasti nanti dibaca dech..

        ayo ki agus.. dan salam tepank.. :)

  33. Matur nuwun Ki Agus S. Soerono atas lanjutan Bukan AdBMnya. Bukan hal yang mudah untuk melanjutkan AdBM ini. Salut! Dengan dua jempol mode on.

    Sekedar saran nih, bagaimana jika beberapa jilid di gabung atau mungkin ke depannya setiap jilid agak lebih panjang ceritanya.

    Berdasarkan pengalaman saya me-retype AdBM, setiap jilid AdBM berisi 125000 huruf atau lebih. Jadi tidak cepat selesai bacanya. Mungkin itulah sebabnya AdBM dulu diwedar tiap bulan sekali(?).

    Maaf, ini sekedar usul.

    Mudah-mudahan Ki Agus tetap sehat wal afiat dan terus melanjutkan ceritanya. Amin.

  34. Lanjut.. Ki.. Nampaknya semakin seru dan membuat penasaran…

  35. Soyo Suwe Soyo Asik… monggo tetep semangant lanjutkan!

    • Soyo Suwe Soyo enak… monggo tetep semangat lakukan!

  36. TERIMA KASEEEHHHHhhhh …. akhirnya terbit juga lanjutannya. Lanjut Ki Agus … saya tunggu jilid berikutnya.

  37. Ki Agus,
    Terima kasih atas kelanjutan kisahnya. Kalau boleh meminta, jangan lama2 melanjutkan ceritanya kalau bisa nih tiap minggu gitu lho……tks berat.

  38. nginguk padepokan…..

    Sugeng enjang Nyi Seno,
    Sugeng enjang Ki GD
    Sugeng enjang Ki Sanak sedaya….

    • Ikutan di belakang Ki Ismoyo

      Sugeng enjang Nyi Seno,
      Sugeng enjang Ki GD
      Sugeng enjang Ki Sukra
      Sugeng enjang Ki Mbodo
      Sugeng enjang Ki Sanak sedaya….</i

      • Buka gandok gs, subuhan, nganglang padepokan…mampir nyambangi gandok pelangisingosari, terus njujug padepokan adbmers.

  39. Padepokan adbm’bers udah mulai rame lagi neh … bagaimana Ki Agus permintaan tiap 1 minggunya terbit ?
    saya yakin Ki Agus bisa …
    Saya berdoa untuk Ki Agus agar sehat selalu, sehingga dapat terus melajutkan ADBMnya …

  40. mmm… lama gak nginguk…
    weleh..ternyata udah sampe jauh sekali… :)

    • o..ow..tumben yah,gandoknya sepi gak ada yang komen.. kok gak se rame dulu ketika di padepokan adbm ya?? :)

  41. masih menungguh ki agus… :D

  42. Ki Agus sugeng dalu…buku 401nya sampun dipun tenggo ADBMers Ki. Termasuk kulo. hiks

  43. Sabar mawon, alon-alon waton saged nglejengaken criyosipun

  44. Hehehehehe …. kejadian berulang lagi … dulu saya harus sabar menunggu diterbitkannya jilid2 berikutnya adbm,
    Pernah kejadian pas terbit pas gak ada duit, pas ada duit pas keabisan buku ditempat biasa saya beli… jadilah hunting di pasar senen …
    sekarang harus lagi sabar menunggu di terbitkannya adbm lanjutan versi ki Agus ….
    sabar… sabar… sabar

  45. Aduuuh, ……… nanggung nih Ki Agus, …… ditunggu terbitan 401-nya. Sebab jadi penasaran, siapa sih orang2 yang berani nyegat perjalanan Ki Rangga Agung Sedayu. Betul2 gak tahu diri dia.
    Ki Agus jalan terus aja ki, …….. nanti kalo Ki Agus sudah dikenal masyarakat pembaca, tinggal nerbitin buku dengan judul yang lain, insya Allah laku keras Ki.
    Oke oke, …….. salam dari Ki Truno Podang!

  46. Salah satu mentrik ADBM, rara wulan, kalau tidak salah ada di chile… apa kabar kiranya ??? apakah dalam keadaan sehat sentosa tiak kurang suatu apa ?

  47. 401 401 401 401 401 401 401 401 401 401 401 401 401 401 he…he…he… sakaw sakaw sakaw sakaw…

  48. sama … sama … sama …sama … sama sakauwnya nunggu 401

  49. ngenteni tenanan ki . . .

  50. Ki Agus,
    Kulo ngrantos sambungane……saestu.

  51. @Poro Sutresno,
    Kalo gak salah sewaktu pertemuan di Padepokan Banuaji, Ki Agus menyampaikan masalah kekhawatirannya tentang masalah hukum jika beliau melanjutkan ceritera Ki SHM. Ya kita2 yang hadir kebetulan tidak ada yang ahli hukum (nggak ada kan ya Ki Laz?), jadi ya menjawabnya mungkin kurang memuaskan. Barangkali di sini ada yang berkenan menjelaskan, ……………… monggo. Jadi kasusnya beda dengan menerbitkan, tetapi melanjutkan ceritera.
    Nuwun.

    • apa yang disampaikan ki Truno Podang,
      ada sanak kadang Adbm…….yang bisa
      memberikan tela’ah dari sisi hukum.

      lha saya sendiri sebagai cantrik hanya
      bisa ngomong……teruskan ki AGUS ini
      karya Njenengan bukan copas dari karya
      orang lain.

      tetep semangaaat…!!!

      • Ki Agus sewaktu kita berbincang di padepokane ki Banu njenengan kelihatan semangat lan sumringah mau melanjutkan penulisan buku bukan ADBM. Mangga ki sampun dipun tenggo kaliyan para sederek cantrik.

  52. Teruskan Ki Agus,.. Gak usah takut… Kalo ada yang protes, kita keroyok rame rame.. Semua ADBMer, siap membela… Tapi jangan kelamaan keluarnya Episode 101 nya..

  53. Kekhawatiran Ki Agus sangat wajar, memang harus dikonsultasikan dengan ahli hukum.
    Tuntutan bisa saja datang dari Keluarga SHM, penerbit, komunitas pencinta SHM.
    Saran saya, padepokan ADBMers sowan ke keluarga SHM, minta ijin, untuk melanjutkan cerita ADBM yang “bukan ADBM” syukur-syukur keluarga SHM dapat memberikan master (Pakem) endingnya ADBM, tinggal ki Agus mengembangkannya.
    Kalau tuntutan komunitas pencinta ADBM mungkin tidak akan terjadi, karena kelanjutan cerita ADBM atas permintaan dari ADBMers sendiri, jadi gak usah kuatir.
    Kalau tuntutan dari penerbit, juga tidak usah kuatir, karena lanjutan ADBM dibuat untuk kalangan terbatas, tidak diperjual belikan dan tidak ada yang dirugikan.
    Jadi menurut saya, kita tinggal menunggu keikhlasan keluarga Alm. SHM saja.
    Saya adalah salah satu orang yang haus akan kelanjutan ADBM, dan SELALU menunggu kelanjutan bukan ADBMnya karya Ki Agus.
    Sambil menunggu hasil sowan pengurus padepokan ADBMers, dilanjut aja terus, … sampai ada pernyataan sikap dari keluarga SHM.
    demikian pendapatan saya, mohon koreksi apabila salah

    • setuju buanget ,yg penting semua terselesaikan dgn baik ,amien

  54. Lama tidak berkunjung ke padepokan, ternyata ada padepokan baru bernama “bukan adbm”. Jujur saya belum membacanya, tapi saya berikan apresiasi kepada Ki Agus yg telah mencoba untuk meneruskan cerita ADBM yang menggantung,,,harapan saya semoga gaya bertuturnya dan ‘detailnya’ sama seperti gayanya Ki SHM,,,,bravo Ki Agus,,,,

  55. menurut saya Ki Agus lanjutin aja karena cerita itu milik rakyat indonesia, pada saat sang Maestro membuat cerita ADBM pun saya yakin gak perlu minta ijin ke ahli waris kesultanan MATARAM terlepas dari nama-nama tokoh dalam cerita yang di ambil dari ADBM yang pasti dari judulnya sajah sudah jelas BUKAN ADBM dan yang paling penting BUKAN ADBM bukan dan TIDAK di KOMERSILKAN tetapi melestarikan KARYA ANAK BANGSA. HIDUP INDONESIA.

  56. Siiiiipppp … Ayo Ki Agus Lanjut terus

  57. Para sederek sedoyo…
    matur nuwun sanget urun rembagipun. Kulo nyuwun pangapunten sampun ndamel panjenengan sedoyo sakaw.
    Kulo sakjanipun kepingin sanget ngelanjutaken bukan adbm (lanjutan)mboten dangu-dangu. Nanging wekdal kulo kolo meniko radi padet kangge macul sawah ing padepokanipun Kiai Gringsing. Nanging ing tengah kerepotan meniko kulo taksih nyempet-nyempetaken nulis sak saged kulo. Sakmeniko kulo sampun ngelanjutan ADBM jilid 401, nanging dereng cekap 80 halaman. Dadosipun dereng saged kulo wedar, kulo nyuwun nggih sabar rumiyin…
    Saknanipun kulo nggih kepingin nerbitaken buku ADBM niki, nanging nggih meniko, soal hak cipta kok keraos ngganjel ing manah kulo. Menawi saged diterbitaken dados buku, mbok menawi kulo saged konsen nulis kados Ki Begawan SHM, mboten pecah konsentrasi sinambi macul. Sepindah malih, kulo nyuwun pangapunten lan nyuwun sabar rumiyin.

    Salam,

    Agus Sedayu

  58. di halaman ini ada istilah hawa murni dan tenaga dalam,,,sepengetahuan saya di adbm tidak pernah ada istilah tersebut adanya tenaga cadangan,,,saya bingung nih, kok jadi seperti kho ping hoo?

  59. Mana ya Ki Agus…..
    ayo Ki..lanjutkan. Biarpun ada kritik atau apapun jangan didengerin, krn mereka cuma bisa kritik tp gak pernah buat sesuatu yang bisa dinikmati adbmer’s.
    Mohon maaf klo terlalu kasar….

  60. setahku banyak pengemar ADBM ini adalah praktisi Hukum dan memang berkecimpung didunia Hukum, salah satunya adalah Ki andre sulistiawan dkk yang padepokannya bernama lembaga bantuan hukum (LBH)IWORK di jakarta. nah coba aja ada yang ngontak beliau mungkin bisa kasih saran. selain ki andre dipadepokan itu ada juga ki andhi ardiasto, SH,MSi, seorang mpu pembuat keris dan praktisi budaya jawa dari Yk, dan juga ki sila trihastana yang setahuku adalah seorang pengemar budaya jawa. selain itu kalo memang ada masalah dengan persoalan hukum saya bisa menghubungi kadang-kadang padepokan wacana nusantara yang jelas bisa membantu. nuwun

    • mung iso ngedukung 100% siii…p.

  61. certa pagi :

    Tole baru masuk SD kelas 1, hari pertama dia sudah protes sama ibu guru.. “Bu.. saya seharusnya duduk di kelas 3..” bu guru nya heran.. “Kenapa kamu yakin begitu..?” Tole menjawab dengan mantap..”Soalnya saya lebih pintar dari kakak saya yang sekarang kelas 3..”

    Akhirnya bu guru membawa Tole ke ruang kepala sekolah.. Setelah diceritakan oleh bu guru, pak kepala sekolah mencoba menguji Tole dengan berbagai materi pelajaran murid kelas 3 SD..

    Kepsek: Berapa 16 dikali 26?
    Tole: 416
    Kepsek: Perang Diponegoro berlangsung tahun berapa?
    Tole: 1825-1830
    Kepsek: Siapa penemu lampu bohlam?
    Tole: Thomas Alfa Edison
    Kepsek: Hewan yang memakan daging dan tumbuhan termasuk golongan apa?
    Tole: omnivora

    Setelah beberapa pertanyaan, pak Kepsek bilang ke ibu guru.. “Kelihatannya Tole memang cerdas, saya rasa bisa masuk di kelas 3..”
    Tapi ibu guru masih belum yakin… “coba saya tes lagi pak kepsek..” kata bu guru.

    Ibu guru: Benda apakah yang huruf pertama nya K.. huruf terakhirnya L.. yang bisa menjadi tegang, bisa lemas..?(mendengar pertanyaan bu guru pak Kepsek melongo kaget..)
    Tole: Ketapel..

    Ibu guru: OK, sekarang apakah yang huruf pertamanya M.. huruf terakhir K.. ditengah benda itu ada kacangnya?.. (pak kepsek makin melongo.. sambil melap keringat di jidatnya..)
    Tole: Martabak..

    Ibu guru: OK, berikut.. Kegiatan apakah yang biasa dilakukan anak remaja dikamar mandi dengan gerakan yang berulang-ulang. ., huruf pertama nya M, huruf terakhir I..? (pak kepsek makin salah tingkah denger pertanyaan bu guru)
    Tole: Menggosok Gigi..

    Ibu guru: Kegiatan apakah yang biasa dilakukan pria dan wanita yang lagi pacaran dimalam hari, huruf pertamanya N, huruf terakhir T.. (pak kepsek nyaris pingsan denger pertanyaan terakhir..)
    Tole: Nonton Midnight..

    Sebelum bu guru melanjutkan pertanyaan, pak kepsek memotong… ”ibu guru.. Tole masukin ke kelas 6 aja… saya aja dari tadi salah terus jawab pertanyaan bu guru .

    • salluuuu,,,t

  62. Monggo Kisanak,

    Api di Bukit Menoreh

    Seri V-01

    Membangun Armada Laut
    Yang Kuat bagi Mataram

    —————————————————–
    DENGAN sigap Ki Lurah Suprapta menghindari semua serangan orang yang bermata juling dan berambut keriting. Namun Ki Lurah tentu saja tidak mau menjadi kantong pasir yang diam saja diserang bertubi-tubi seperti itu. Sambil menghindari serangan yang membabi buta itu, Ki Lurah pun dengan gencar balik menyerang lawannya.

    Sebuah tendangan mendatar yang mengincar dadanya dengan cepat bisa dihindarinya, lalu Ki Lurah pun membalasnya dengan sebuah tendangan beruntun dengan kaki kiri dan kaki kanan. Orang yang bermata juling itu pun terjengkang ke belakang ketika tendangan Ki Lurah Suprapta menghajar pundaknya.

    Orang berwajah kasar dan bermata juling itu mengumpat-umpat kasar ketika pundaknya terasa nyeri. Ia pun segera surut selangkah lalu mempersiapkan diri menghadapi serangan Ki Lurah yang datang membadai seperti burung sikatan yang menyambar belalang. Namun agaknya ilmu olah kanuragan orang yang berwajah kasar dan bermata juling itu hampir setingkat lebih rendah daripada ilmu olah kanuragan Ki Lurah Suprapta.
    Setiap kali mendapat serangan yang cepat dan keras, orang bermata juling itu kesulitan untuk menghindari serangan lawannya. Sebuah tendangan yang kuat dan cepat telah menyambar lambungnya. Orang bermata juling itu surut selangkah dan jatuh terbanting ketika Ki Lurah Suprapta mengejarnya dan memukul dagunya dengan sisi telapak tangan kanannya.
    Ki Lurah membiarkan orang bermata juling itu dengan tertatih-tatih bangun dan bersiap menyerang kembali.

    Sementara itu di arena pertempuran lainnya, Ki Lurah Darma Samudra menghadapi orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya. Orang yang tinggi kurus itu bertempur sambil mulutnya berteriak-teriak kasar.
    —Apakah mulutmu tidak bisa diam—kata Ki Lurah.
    —Persetan—jawabnya sambil menyerang dengan tinjunya menyambar kening. Ki Lurah mundur selangkah sambil menundukkan kepalanya.
    —Siapakah sebenarnya kalian?—tanya Ki Lurah sambil menghindari serangan lawannya. Ki Lurah segera bersiap-siap menyerang kembali menghadapi serangan lawannya yang kasar itu.

    Sisi telapak tangannya segera menyambar lambung lawannya. Orang yang tinggi kurus itu agaknya sedikit mempunyai kelebihan daripada kawannya yang bermata juling. Ia pun meloncat menghindar ke samping ketika sisi telapak tangan Ki Lurah menyambar lambungnya.
    Ki Lurah yang sebelum mendapat kesempatan menjadi prajurit di pasukan khusus itu adalah murid sebuah padepokan di Mangir, ternyata memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah kanuragan.
    Dengan lincahnya Ki Lurah mempergunakan berbagai tata gerak yang sulit dimengerti oleh lawannya. Gerakannya sungguh rumit dan sulit diduga oleh lawannya. Sebuah pukulan yang cepat ke arah pundak, disusul oleh tendangan, lalu serangan dengan siku mengarah ke dada, kemudian serangan sisi telapak tangan menyambar ke dahi.
    Serangan Ki Lurah yang beruntun itu sulit dihindari oleh lawannya yang bertubuh tinggi kurus itu. Meskipun ia mampu menghindari tiga serangan Ki Lurah, namun ia tidak bisa menangkis serangan sisi telapak tangan yang menyambar ke dahi.
    Orang bertubuh tinggi kurus itu, selangkah surut. Meskipun ia tidak jatuh terbanting, matanya berkunang-kunang. Ki Lurah yang melihat lawannya sudah kena dahinya, tidak mau kepalang tanggung. Sebuah pukulan di ulu hati orang yang tinggi kurus itu membuatnya jatuh terjengkang.
    Namun orang yang tinggi kurus ini ternyata mempunyai daya tahan yang kuat. Dengan cepat ia meloncat bangun dan bersiap menghadapi serangan Ki Lurah berikutnya.

    Di lingkaran pertempuran lainnya Ki Rangga Agung Sedayu bertempur dengan ringannya menghadapi kedua lawannya. Meskipun Ki Rangga secara sekilas sudah dapat menakar kemampuan kedua lawannya, namun ia tidak ingin menimbulkan kesan bahwa ia meremehkan lawannya. Ki Rangga sengaja bertempur dari tahap awal, setapak demi setapak meningkat dan semakin lama semakin tinggi tatarannya.
    Karena Ki Rangga dengan telaten meladeni lawannya setingkat demi setingkat, maka kedua lawannya tidak bisa menjajaki ketinggian ilmu Ki Rangga Agung Sedayu. Bahkan kerapkali Ki Rangga menunjukkan dirinya seolah-olah terdesak oleh serangan kedua lawannya.
    —Menyerahlah Kisanak. Sebelum aku menyakitimu. Lebih cepat lebih baik—kata lawan Ki Rangga yang agak gemuk.

    —Tetapi siapakah sebenarnya kalian—pancing Ki Rangga yang semakin terdesak oleh kepungan serangan kedua lawannya. Lawan Ki Rangga yang agak gemuk ini agaknya merasa yakin bisa akan mengalahkan lawannya dengan mudah.
    —Apakah ada gunanya kalau kami menjelaskan kepadamu siapa kami sebenarnya—tanya lawan Ki Rangga yang agak gemuk itu.
    —Tentu. Tentu ada gunanya. Kalau aku harus mati di tepi Kali Praga hari ini, paling tidak arwahku tidak menjadi penasaran dan membuntuti kalian ke mana-mana—kata Ki Rangga.
    —Hahaha. Agaknya kau sudah menjadi berputus asa mendapat serangan kami berdua—kata lawan Ki Rangga yang kurus dan berkumis tebal.
    —Kami adalah prajurit telik sandi dari Panaraga—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
    —Kenapakah kalian begitu terburu-buru menyeberang sehingga melanggar tata kesopanan dalam menunggu giliran untuk menyeberang—kata Ki Rangga memancing sambil menghindari serangan kedua lawannya yang datang secara beruntun dan dalam keteraturan gerak yang rapi.
    —Kami harus segera bertemu dengan atasan kami mengenai hasil penyelidikan kami di Mataram—kata lawannya yang gemuk sambil melakukan serangan yang sulit dihindari.—Kami utusan dari Panaraga—

    Menghadapi serangan yang sulit itu, Ki Rangga segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada sehingga membentur tendangan lawannya. Untuk memancing keterangan lawannya yang sudah merasa di atas angin, Ki Rangga pun jatuh bergulingan, lalu mencoba bangkit sambil menyeringai kesakitan.
    Belum lagi Ki Rangga bersiap benar, lawannya yang kurus dan berkumis tebal telah meloncat tinggi lalu menendang dadanya. Ki Rangga sengaja tidak menghindari serangan itu dan membiarkan dadanya menjadi sasaran kedua lawannya itu.
    Kali ini Ki Rangga jatuh terbanting, meskipun dalam posisi yang tidak membahayakan dirinya. Kedua Lurah yang mengawal Ki Rangga sempat terkejut melihat Ki Rangga demikian mudah dikalahkan oleh kedua lawannya. Mereka meloncat surut beberapa langkah dan hendak mendekati Ki Rangga untuk menolongnya.
    —Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa—kata Ki Rangga kepada kedua lurah prajurit itu. Kedua lawan Ki Rangga tertawa berkepanjangan mendengar ucapan Ki Rangga bahwa ia tidak apa-apa.
    —Sebentar lagi kawanmu ini aku lempar ke Kali Praga untuk menjadi makanan buaya di kedung dalam di tikungan sungai—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
    —Apakah yang kalian selidiki di Mataram—tanya Ki Rangga sambil berjalan terseok-seok mendekati kedua lawannya yang sudah siap menyerang kembali.
    —Kami menyelidiki kekuatan Mataram, seberapa pasukannya, seberapa kuat pasukan berkudanya dan seberapa banyak prajuritnya—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
    —Untuk apakah kalian menyelidiki kekuatan Mataram, bukankah Panaraga dan Mataram tidak bermusuhan—kata Ki Rangga.
    —Panaraga memang tidak memusuhi Mataram, namun Mataramlah yang memusuhi Panaraga—katanya lagi.
    —Kau aneh Kisanak. Setahuku hubungan Mataram dan Panaraga baik-baik saja. Tidak ada bibit permusuhan di antara penguasa kedua wilayah itu.
    —Kau tahu apa?—kata orang yang berkumis itu.
    —Aku sangat tahu, Kisanak. Karena aku juga seorang prajurit, meskipun aku berdiri di pihak Mataram.—kata Ki Rangga.
    —Kebetulan sekali aku berhadapan dengan seorang prajurit. Jadi aku tidak usah repot-repot mengintai semua barak dan menghitung jumlah prajurit yang ada di sana. Kalau kau membantu aku memberikan keterangan mengenai kekuatan pasukan Mataram, aku berjanji akan membunuhmu dengan cara yang baik.—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
    —Bagaimana jika aku yang menangkap kalian dan membawa kalian ke Mataram—tanya Ki Rangga dengan tenangnya.
    —Apa? Apa yang kalian dapat lakukan atas kami?—tanya orang yang gemuk dan bermuka kasar.
    —Apakah kalian tidak pernah mendengar nama kami Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Gunung Kendeng?—tanya orang yang berwajah kasar, kurus dan berkumis tebal.
    Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengubah tata geraknya. Gerakannya yang tadi seolah-olah asal-asalan saja menghadapi serangan lawannya, kini berubah.
    Ia kini mempergunakan tata gerak yang dipelajarinya dari perguruan Orang Bercambuk. Gerakannya cepat, kuat dan trengginas. Kalau tadi gerakannya seperti orang yang tidak mengenal tata gerak dasar ilmu olah kanuragan, maka kini gerakannya benar-benar nggegirisi.
    Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Ki Rangga bergerak cepat dari satu sisi ke sisi yang lain. Sehingga membuat kedua lawannya menjadi bingung. Satu saat, Ki Rangga berada di sudut dan terkepung oleh kedua orang itu.
    Namun dengan kecepatan di luar tangkapan mata wajar, Ki Rangga sudah berada di luar kepungan. Ki Rangga mulai memberi sentuhan-sentuhan dengan tangannya kepada kedua lawannya.
    Semakin lama sentuhan-sentuhan itu semakin keras dan mengganggu serangan kedua lawannya. Kalau tadi Ki Rangga yang nampaknya seolah-olah terdesak, maka yang terjadi kini adalah sebaliknya.
    Di lingkaran pertarungan lainnya, Ki Lurah Suprapta pun semakin meningkatkan tekanan terhadap lawannya, orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
    Memang pada awalnya, Ki Lurah Suprapta agak kebingungan menghadapi orang yang bermata juling itu. Setiap kali ia salah menebak arah serangan lainnya. Karena memperhatikan arah pandangan orang yang bermata juling itu, Ki Lurah sering terkecoh.
    Arah pandangan lawannya ke kanan, namun serangannya ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Karena arah pandangan kedua mata lawannya yang tidak kompak, membuatnya terkena gerak tipu.
    Akhirnya Ki Lurah tidak lagi memperhatikan arah gerakan mata lawannya sebagai arah gerakan lawannya. Kini ia lebih memperhatikan getaran pundak lawannya untuk mengetahui arah serangannya. Begitu pula gerakan kakinya, Ki Lurah memperhatikan posisi kakinya sebelum memulai gerakan untuk mengetahui arah gerakan lawannya.
    Lama kelamaan keseimbangan pertarungan di lingkaran pertarungan itu pun semakin nampak jelas. Ki Lurah terus mendesak lawannya dengan gerakan-gerakan yang sulit dimengerti dan ditanggapi lawannya. Kini Ki Lurah yang mengendalikan pertarungan itu. Dengan gerakannya yang keras dan cepat, Ki Lurah Suprapta menekan lawannya yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
    Ki Lurah Suprapta melakukan serangan beruntun, tendangan memutar ke arah lambung dengan bertumpu pada kakinya yang sebelah, lalu meloncat dengan tendangan menggunting, dilanjutkan dengan serangan siku dan sisi telapak tangannya dalam gerakan yang cepat.
    Lawannya yang bermata juling itu bisa menghindari dua tendangan beruntun Ki Lurah, tetapi serangan dengan siku dan sisi telapak tangannya tak bisa dihindari. Orang bermata juling itupun mengaduh sambil menekan hulu hatinya.
    Sesaat kemudian ia menarik goloknya yang besar dari wrangkanya. Dengan marah ia mengayun-ayunkan goloknya untuk menyerang Ki Lurah. Ki Lurah yang tidak siap mendapat serangan senjata lawannya, meloncat surut dua langkah. Ia lalu mencabut pedang di pinggangnya dan bersiap menghadapi serangan golok lawannya.
    Lawan Ki Lurah Darma Samudra yang juga sudah terdesak, segera pula mencabut senjatanya berupa golok besar seperti milik saudara seperguruannya yang bermata juling.
    Orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu pun dengan kasarnya bertarung melawan Ki Lurah Darma Samudra. Dari mulutnya keluar kata-kata kotor yang tidak sepantasnya didengar.
    Namun Ki Lurah Darma Samudra yang sudah mempunyai pengalaman yang banyak dalam dunia olah kanuragan, sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata kotor dan kasar yang diucapkan oleh lawannya.
    Ia maklum bahwa kata-kata kasar dan kotor seperti itu biasa dlontarkan oleh orang-orang yang hidup di dunia kelam untuk mempengaruhi ketahanan jiwani lawannya.
    Namun lama kelamaan Ki Lurah menjadi semakin terdesak. Ia pun melangkah surut dua langkah lalu mencabut pedangnya. Sebilah pedang yang biasa dipergunakan prajurit Mataram. Pedang seperti itu mempunyai bilah yang agak lebih panjang, dan lebih tebal daripada pedang biasa. Pedang milik prajurit Mataram adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Sehingga mempunyai kekuatan yang cukup untuk membentur golok lawannya.
    Setelah Ki Lurah Darma Samudra menggenggam pedangnya, maka keseimbangan pertempuran itu pun segera berubah. Kini Ki Lurah Darma Samudra yang mengendalikan jalannya pertarungan itu. Dengan lincahnya Ki Lurah mematuk-matukkan ujung pedangnya di sela-sela putaran golok besar milik lawannya. Betapapun orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu berusaha melindungi dirinya dengan putaran goloknya yang rapat, namun ujung pedang Ki Lurah seakan-akan mempunyai mata untuk menerobos putaran golok lawannya
    Sesekali Ki Lurah Darma Samudra membenturkan ujung pedangnya untuk mengukur kemampuan, kecepatan gerak dan tenaga lawannya. Semakin lama semakin terlihat bahwa ilmu olah kanuragan lawan Ki Lurah Darma Samudra selapis tipis di bawah Ki Lurah. Ketika Ki Lurah semakin menekan lawannya dengan ilmu pedang yang dipadukan antara ilmu pedang perguruannya dengan ilmu pedang keprajuritan, maka lawannya itu menjadi semakin kesulitan.
    Namun karena perbedaan ilmu pedang mereka hanya selapis tipis saja berbeda, maka Ki Lurah juga tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Benturan demi benturan terjadi diwarnai dengan percikan api yang meloncat dari sisi pedang mereka.
    Namun ternyata bahwa pedang Ki Lurah yang merupakan pedang keprajuritan sama kuatnya dengan golok lawannya yang nampaknya memang bukan golok biasa.
    Selain besar, ternyata golok itu juga dibuat oleh pandai besi kebanyakan. Jika dilihat dari bahannya, ternyata golok itu juga terbuat dari besi baja pilihan. Karena tenaga mereka hampir seimbang, maka ketika terjadi benturan rasa nyeri merambat ke kedua telapak tangan mereka.
    Bahkan jika mereka melepaskan tenaga yang cukup besar, maka rasa nyeri itu terasa sangat menusuk ke telapak tangan mereka. Untunglah mereka masih mampu mempertahankan genggamannya atas senjata-senjata mereka.
    Sementara itu, di tepian Kali Praga itu semakin banyak saja orang yang datang untuk menyeberang. Namun karena ada tiga lingkaran pertempuran di tepi sungai, maka para tukang satang itu makin asyik saja menonton pertarungan yang seru itu. Sehingga mereka lupa pada kewajibannya untuk menyeberangkan orang yang hendak melintas.
    Sedangkan orang-orang yang semula datang dengan terburu-buru untuk menyeberang, karena para tukang asyik menonton ketiga lingkaran pertempuran itu, maka pada akhirnya mereka pun ikut meramaikan penonton yang melingkari ketiga arena tersebut.
    Seperti halnya pertarungan Ki Lurah Darma Samudra yang semakin lama semakin seru, maka di lingkaran pertarungan yang kedua Ki Lurah Suprapta berusaha menekan lawannya yang juga tidak kalah garangnya.
    Ki Lurah Suprapta terus menekan lawannya yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting. Meskipun goloknya besar dan berat, namun lawannya yang berambut keriting itu dengan mudah bisa memutar-mutar golok besar itu dengan rapatnya menjadi perisai yang melindungi dirinya.
    Namun Ki Lurah juga bukan orang sembarangan. Ia telah menapaki jenjang keprajuritannya dari tingkat yang paling bawah. Sehingga ketika ia telah menjadi lurah prajurit, Ki Lurah telah melalui pengalaman yang panjang dalam segala medan pertempuran dan peperangan. Ilmunya pun yang semula diperolehnya dari sebuah padepokan silat, semakin terasah dan teruji.
    Oleh karena itu dalam benturan demi benturan yang terjadi, Ki Lurah Suprapta pun mampu terus bertahan menghadapi lawannya. Bahkan sedikit demi sedikit Ki Lurah dapat menguasai lawannya. Pedangnya yang panjang dan tipis seperti layaknya sebuah pedang milik prajurit, juga terbuat dari bahan baja pilihan. Pedangnya seperti cakar seekor elang yang menyambar-nyambar di sela-sela cakar serigala yang berusaha melindungi dirinya.
    Pedangnya seolah-olah mempunyai mata, dan dapat menikam ke tempat-tempat yang kurang rapat terlindungi oleh golok lawannya.
    Orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting itu yang merasa mempunyai tenaga lebih kuat daripada Ki Lurah, memanfaatkan kelebihan tenaganya itu untuk menyerang sambil berlari berputaran mengelilingi Ki Lurah. Semula Ki Lurah menjadi kebingungan menghadapi perubahan tata gerak lawannya. Namun ia membiarkan lawannya itu berlari berputaran sambil mengacu-acukan goloknya yang besar.
    —Biarlah ia berlari berputaran. Yang penting aku tidak lengah. Nanti tentu tenaganya akan habis dengan sendirinya—katanya dalam hati. Karena itu, Ki Lurah tidak terpancing oleh ulah lawannya yang bertempur sambil berlari berputaran dan berteriak-teriak kasar.
    Dengan seksama ia memperhatikan gerak lawannya. Kadang-kadang ia sempat memotong gerakan lawannya dengan meloncat ke samping. Orang yang berambut keriting itu kembali mengumpat-umpat kasar ketika ia kehilangan lawannya yang tidak berada dalam lingkaran serangannya.

    Bahkan ketika lawannya itu lengah, Ki Lurah menikamkan pedangnya dan satu demi satu pedangnya mulai menggores kulit lawannya. Mula-mula sebuah goresan tipis melintang di lengan kirinya. Goresan tipis berikutnya menyambar lengan kanannya. Semakin lama semakin banyak goresan tipis yang menyambar di punggung, di dada, di pundak. Dari goresan tipis itupun cairan merah segera mengembun. Darah. Rasa nyeri dan pedih mulai menggerataki luka-lukanya. Semakin lama semakin banyak darah yang mengalir dari lukanya.
    Di lingkaran pertempuran yang lain, Ki Rangga Agung Sedayu masih juga dengan sabar melayani gerakan kedua lawannya. Ki Rangga menghadapi kedua lawannya yang juga berwajah kasar, namun yang satu agak gemuk dan yang satu lagi agar kurus dan berkumis tebal masih dengan tenaga yang utuh.
    Ia tetap tenang, meskipun kedua lawannya itu berlari berputaran berusaha membuatnya bingung. Ternyata kedua orang lawannya itu beberapa lapis di atas kemampuan lawan kedua pengawalnya. Namun Ki Rangga tidak segera mencabut pedangnya atau melolos cambuk yang melingkar di pinggangnya menghadapi kedua lawannya yang sudah menggunakan goloknya.
    Ki Rangga hanya menerapkan beberapa lapis ilmu kebalnya, ketika lawannya itu mulai mencabut goloknya. Ketika senjata kedua lawannya itu semakin cepat dan kuat menyerangnya, maka selapis demi selapis ditingkatkannya ilmu kebalnya.
    Semula lawannya tidak menyadari kelebihan Ki Rangga yang mulai menerapkan ilmu kebalnya. Namun ketika mereka merasa ujung goloknya membentur kulit Ki Rangga, dan dari bekas goresan golok itu sama sekali tidak menimbulkan torehan luka, maka barulah mereka menyadari Ki Rangga kulitnya tidak tedas dimakan golok yang besar itu.
    —Ilmu kebal—desis mereka berdua hampir bersamaan. Ki Rangga tidak menjawab.
    —Meskipun kau mempunyai ilmu kebal, Kisanak, masakan golokku tidak dapat menembus dinding ilmu kebal itu—kata lawannya yang berwajah kasar dan agak gemuk hampir segemuk kakak seperguruannya. Swandaru.
    Setelah menyadari kemampuan Ki Rangga yang menerapkan ilmu kebalnya selapis demi selapis kian meningkat, kedua lawannya pun terus menggempur Ki Rangga dengan tenaga dan kemampuan olah kanuragan yang kian meningkat.
    Ki Rangga sengaja sejak awal tidak mempergunakan senjatanya berupa cambuk yang melilit di pinggangnya maupun pedang yang tergantung di pinggangnya. Ia ingin menangkap lawannya hidup-hidup dengan aji Panglimunan dan aji Kendali Sukma.
    Naluri keprajuritan Ki Rangga merasa tergelitik. Ia merasa ada yang aneh dengan gerak gerik mereka yang mencurigakan. Dari percakapan sesaat di awal pertarungan, dengan pendengarannya yang tajam ia menangkap kesan bahwa mereka adalah prajurit sandi dari Panaraga yang ingin menakar kemampuan Mataram.
    Karena serba sedikit Ki Rangga dapat mengetahui adanya awan hitam yang menggelayut antara Mataram dan Panaraga. Awan hitam itu semakin lama semakin gelap dan memberikan suasana yang ngelangut di antara rakyat kedua wilayah itu.
    Gangguan ketertiban pun semakin terasa. Berbagai keterangan yang masuk dari prajurit sandi Mataram yang ditempatkan di Panaraga dan disampaikan oleh prajurit penghubung, ternyata semakin banyak kejadian gangguan keamanan di daerah perbatasan. Karena itu, ketika mereka sempat berbincang sesaat tadi, serba sedikit terungkap bahwa mereka paling tidak adalah prajurit telik sandi Panaraga, atau orang-orang padepokan yang mendapat tugas khusus untuk memata-matai Mataram.
    Agaknya panggraita Kangjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga cukup tajam. Dari senapatinya Mas Panji Wangsadrana Kangjeng Adipati mendapat laporan bahwa Mataram—terutama Ki Patih Mandaraka—menaruh curiga terhadap keberadaan Pangeran Ranapati di dalam lingkungan keprajuritan Kadipaten Panaraga.
    Namun Mataram belum dapat berbuat sesuatu, meskipun Glagah Putih dan Rara Wulan sebagai sepasang suami istri yang menjadi prajurit telik sandi di Panaraga telah lama berada di Panaraga. Pangeran Ranapati juga telah dilantik menjadi senapati Panaraga. Mataram bertindak semakin hati-hati, namun juga tidak mau terlambat. Mataram berada dalam keadaan serba sulit, seperti menghadapi buah simalakama. Dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati. Mau dijual, siapa yang mau beli?
    Demikianlah dengan berbekal laporan prajurit telik sandi Mataram, maka Ki Rangga bertekad untuk menangkap semua prajurit telik sandi Panaraga itu hidup-hidup. Mungkin dari keempat orang yang dicurigainya sebagai prajurit telik sandi itu, dapat segera dibongkar jaringan yang berada di belakangnya.
    Namun meskipun sibuk menghadapi kedua orang lawannya yang berwajah kasar itu, maka Ki Rangga masih sempat memperhatikan kedua lurah prajurit yang mengawalnya.
    Sambil meloncat surut menghindari serangan kedua lawannya, Ki Rangga melihat bahwa keadaan kedua lurah prajurit itu tidak begitu mengkhawatirkan. Ia melihat bahwa baik Ki Lurah Darma Samudra maupun Ki Lurah Suprapta, bisa mengatasi kedua lawannya, meskipun hanya berbeda selapis tipis.
    Namun kedua lawan Ki Rangga juga bukan orang sembarangan. Kalau mengamati tata gerak olah kanuragan yang dipakai keempat orang itu, Ki Rangga melihat bahwa tata gerak dasar ilmu olah kanuragan yang mereka pakai hampir sama. Kemungkinan besar mereka adalah saudara seperguruan, meskipun dua orang yang dilawannya nampaknya dari tataran tertinggi dari ilmu perguruan mereka.
    Namun Ki Rangga merasa agak aneh juga, beberapa unsur gerak yang dipakai oleh keempat orang itu ada kesamaan dengan ilmu perguruan Orang Bercambuk. Semakin lama semakin banyak kesamaan yang terlihat, meskipun ilmu yang dipakai oleh kedua lawannya itu nampak semakin kasar.
    Tata gerak ilmu olah kanuragan perguruan Orang Bercambuk yang penuh keluwesan dan dilandasi dengan kasih sayang terhadap sesama itu, di tangan keempat orang itu berubah mengerikan menjadi kasar, ganas, trengginas dan nggegirisi.
    Hal itu membuat Ki Rangga menjadi semakin bertanya-tanya dalam hati di balik setiap gerakannya. Meskipun sudah berubah kasar, namun ilmu olah kanuragan yang dipergunakan oleh kedua lawannya masih dapat dilihatnya memiliki ciri-ciri yang mirip dengan ilmu olah kanuragan dari perguruan Orang Bercambuk.
    Karena itu, ketika kedua lawannya semakin cepat mengepungnya, maka seolah-olah Ki Rangga dapat membaca arah selanjutnya dari serangan lawannya. Ketika seorang lawannya menekuk lututnya untuk menendang dengan arah menyilang, dengan sigap Ki Rangga menangkap kaki lawannya. Lalu mendorongnya keras ke belakang. Sisi telapak tangannya menghantam pergelangan tangan dengan keras, sehingga golok yang terpegang erat di tangannya terlepas jauh dan terpental di belakang lawannya. Sambil berguling Ki Rangga menyapu kaki lawannya yang lain, lalu melenting berdiri dan menendang loncat mengarah ke dada. Gerakan yang cepat dan rumit demikian hanya dapat dilakukan oleh Ki Rangga yang sudah memahami kekuatan dan kelemahan dari perguruan Orang Bercambuk.
    Begitu pula ketika lawannya yang satu lagi menyerang dengan goloknya yang besar, Ki Rangga berkelit ke samping lalu dengan gerakan yang sulit dimengerti lawannya, golok itu sudah terpental, lepas dari tangannya.

    Tetapi lawannya segera bersiap meskipun tanpa senjata goloknya. Ia menyerang dengan siku disusul dengan pukulan sisi telapak tangan, dilanjutkan dengan tendangan berputar mengarah ke kepala. Dengan sigap Ki Rangga meloncat surut dua langkah, lalu berjongkok dan menyapu dengan dua kali putaran kakinya.
    Lawannya yang kurus dan berkumis tebal itu pun meloncat berjumpalitan ke belakang. Ki Rangga yang sudah mengetahui arah gerakannya segera meloncat dengan dilambari ilmu meringankan tubuhnya. Sambil meloncat kakinya dua kali menendang ke arah dada dan paha.
    Lawannya menggelepar ketika dada dan pahanya terkena serangan Ki Rangga. Namun sekali lagi Ki Rangga bisa menebak ke mana arah gerakan lawannya.
    Lawannya yang kurus dan berkumis tebal itu bangkit, lalu ia langsung menerjang dengan tusukan empat jari tangan kanan yang dirapatkan dan jempolnya menekuk ke dalam.
    Gerakan lawannya itu sangat cepat. Tetapi gerakan Ki Rangga lebih cepat lagi. Dengan sigap ia menangkap pergelangan tangan lawannya, lalu dengan mempergunakan tenaga dorongan lawannya ia justru menariknya. Lalu dengan ditambahi sedikit tenaga, maka lawannya itu terbanting terlontar melayang di atas kepalanya. Namun lawannya yang kurus ini ternyata juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi tatarannya.
    Meskipun sudah terlontar di atas kepala, dengan sigap ia berputar sehingga bisa mendarat di atas tanah dengan kedua kakinya yang merenggang.
    Lawannya itu segera menyerang dengan tendangan beruntun mengarah ke dada dan kepala. Tentu saja Ki Rangga tidak mau dada dan kepalanya menjadi sasaran tendangan beruntun dari lawannya.
    Sambil meningkatkan ilmu kebalnya, Ki Rangga menyilangkan kedua tangannya untuk membentur tendangan lawannya. Lawannya melangkah surut dua langkah, sementara Ki Rangga masih berdiri tegak di tempatnya.
    Ki Rangga kembali terperanjat ketika kedua lawannya menarik sesuatu dari pinggangnya. Cambuk. Keduanya menggenggam cambuk yang mirip dengan cambuknya yang berjuntai panjang.
    —He. Dari perguruan manakah kalian?—tanya Ki Rangga heran.
    —Kami dari perguruan Windu Jati. Apakah kau takut?—jawab lawannya.
    —Tidak. Aku tidak takut. Tetapi aku mengenal ciri-ciri perguruan kalian—kata Ki Rangga.
    —Lalu kenapa, kalau kau mengenal ciri-ciri perguruan kami—tanya orang yang kurus dan berkumis tebal.
    —Aku juga mempunyai senjata yang sama seperti kalian—kata Ki Rangga sambil mengurai cambuk dari balik bajunya.
    —He rupanya kau berusaha menyamai senjata perguruan kami—kata orang yang berkumis tebal.
    —Apa gunanya aku menyamai atau meniru senjata perguruanmu, kalau aku tidak dapat menggunakannya—kata Ki Rangga.
    —Apakah kau dapat mempergunakan senjata cambukmu—tanya orang yang berwajah kasar dan agak gemuk.
    —Tentu. Tentu saja aku dapat menggunakan cambuk ini seperti mengenal tangan dan kakiku—jawab Ki Rangga.
    —Ah kau hanya membual saja. Menggerakkan cambuk itu tidak seperti menggerakkan cambuk untuk memukul sapi atau kambing—katanya lagi.
    Ki Rangga pun kemudian menghentakkan cambuknya yang menimbulkan suara menggelegar memekakkan telinga. Kedua orang lawannya yang mengaku dari perguruan Windu Jati itu pun hanya tersenyum-senyum melihat cara Ki Rangga menghentakkan cambuknya yang memekakkan telinga itu.
    —Kalau kau menghentakkan cambukmu seperti itu hanya akan mampu mengusir sapi atau kambing—katanya. Ki Rangga hanya tersenyum mendengar ejekan lawannya.
    —Yah, maafkan aku. Karena aku hanya bisa mengejutkan sapi atau kambing, karena aku hanyalah seorang gembala sapi—jawab Ki Rangga.
    —Tetapi apakah di Pegunungan Kendeng ada perguruan Windu Jati. Kalau ada aku ingin berguru ke sana—kata Ki Rangga.—Karena aku baru bisa sekadar menggetarkan cambukku yang hanya mengejutkan sapi atau kambing saja—
    Orang berbadan gemuk tertawa mengejek mendengar pertanyaan Ki Rangga.
    —Aku berasal dari Panaraga dan aku mengembara sampai Pegunungan Kendeng. Orang menyebut diri kami sebagai Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Pegunungan Kendeng. Hal itu karena kami berwajah kasar dan kulit kami hitam—katanya.—tetapi hati kami baik. Hahahaha—
    —Siapakah gurumu?—tanya Ki Rangga.
    —Apa urusanmu sehingga ingin mengetahui nama guruku?—tanya orang yang agak kurus dan berkumis tebal.
    —Tidak. Tidak ada urusan apa-apa. Aku hanya sekadar ingin tahu—kata Ki Rangga.
    —Nama guruku adalah Kiai Praptala—jawab orang yang berkumis tebal.
    —Bukankah perguruan Windu Jati dari garis keturunan orang berdarah Majapahit?—tanya Ki Rangga.
    —He. Dari mana kau tahu?—tanya kawannya yang gemuk.
    Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Jika ia mengamati unsur tata gerak lawannya, memang ia melihat ada unsur kesamaan dengan ilmu yang diperolehnya dari Kiai Gringsing. Namun di sisi lain, sebagai seorang prajurit Mataram ia mempunyai kepentingan untuk menangkap mereka yang diduganya sebagai petugas telik sandi Panaraga.
    —Bukankah perguruan Windu Jati merupakan ilmu yang berkembang sampai akhir kekuasaan Prabu Brawijaya? Setiap perguruan olah kanuragan tentu memberi pengetahuan kepada murid-muridnya mengenai ciri-ciri perguruan lain yang pernah mempunyai nama besar—jawab Ki Rangga.
    —Apakah menurutmu perguruan Windu Jati merupakan perguruan yang pernah mempunyai nama besar?
    —Tentu. Tentu saja perguruan Windu Jati merupakan salah satu perguruan yang mempunyai nama besar menjelang jatuhnya Majapahit.—
    —He. Agaknya kau banyak tahu tentang perguruan Windu Jati. Karena itu aku harus menangkapmu—kata lawan Ki Rangga yang kurus dan berkumis tebal sambil memutar-mutar cambuknya. Kawannya yang gemuk segera pula mengikuti gerakannya. Dalam sekejap Ki Rangga sudah terkepung dua pusaran cambuk.
    Ki Rangga segera menyiapkan diri, meskipun ia masih memegang gagang cambuknya dengan tangan kanan dan memegang juntainya dengan tangan kirinya.
    Segera saja di tepi Kali Praga kembali terjadi pertempuran yang lebih sengit lagi. Teriakan-teriakan yang keras dan kasar segera ditimpali dengan ledakan cambuk yang bersahutan menggetarkan dada.
    Para penyeberang sungai itu, semakin menjauh dari ketiga arena pertempuran itu. Bahkan para tukang satang yang ikut menonton pertarungan itu, membuat semakin banyak orang yang tidak bisa menyeberang dan ikut menonton adu ilmu cambuk yang jarang terjadi itu.
    Sambil bertempur, Ki Rangga mengamati gerakan kedua lawannya. Sekali-sekali ia meloncat surut di sela-sela putaran ujung cambuk yang menyambar-nyambar. Namun ia tidak ingin kulitnya terkoyak oleh ujung cambuk lawannya yang berkarah baja bersegi sembilan. Karenanya, Ki Rangga semakin meningkatkan kadar ilmu kebalnya, meskipun belum sampai menimbulkan hawa panas di sekitar tubuhnya.
    Ki Rangga semakin meningkatkan ilmu meringankan tubuhnya yang hampir mendekati kesempurnaan. Dengan menerapkan ilmu meringankan tubuhnya itu, Ki Rangga dengan lincah bisa melakukan gerakan-gerakan yang rumit dan cepat dibalik kabut putaran cambuk kedua lawannya. Namun ternyata kedua lawannya juga bukan orang sembarangan.
    Gerakan kedua orang itu seakan-akan bisa saling mengisi dan menutupi kelemahan yang lain. Kedua orang yang mengaku dari perguruan Windu Jati itupun perlahan-lahan menjadi heran. Karena tidak biasanya ilmu mereka yang tiada duanya itu, bisa dihadapi sampai puluhan jurus tata gerak. Jangankan lagi mereka berdua, jika seorang saja yang maju, lawannya tidak akan bisa bertahan lama menghadapi mereka. Karena itu keduanya sibuk menebak-nebak, siapakah lawan mereka itu.
    Begitu pula sebaliknya. Ki Rangga Agung Sedayu hatinya juga bertanya-tanya. Selama ini Kiaia Gringsing tidak pernah menyebut-nyebut aliran perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga yang muridnya kemudian mengembara ke pegunungan kapur Kendeng. Karena itu, semakin besar tanda tanya hatinya, maka semakin besar keinginan Ki Rangga untuk menangkap keduanya.
    —Mereka harus ditangkap—katanya dalam hati.
    Namun lawannya itu, juga semakin heran bahwa kedua ujung cambuk mereka tidak segorespun bisa melukai lawannya. Meskipun Ki Rangga belum meningkatkan ilmu cambuknya, keduanya semakin terheran-heran.
    Demikianlah, Ki Rangga terus menjajaki kemampuan kedua lawannya. Semakin diperhatikan, semakin ternyata bahwa tata gerak mereka memang mempunyai aliran yang sama dengan tata gerak dasar ilmu Orang Bercambuk, meskipun pengungkapannya secara lahiriah sudah jauh lebih kasar.
    Makin lama Ki Rangga semakin yakin bahwa mereka adalah mempunyai sumber yang sama dengan ilmu olah kanuraga dari perguruannya. Namun kesimpulan seperti itu membuat dirinya menjadi mulai ragu-ragu untuk bertindak.
    Kalau ilmu mereka dilumpuhkan dengan aji Kendali Sukma, maka segala tenaga cadangan yang mereka miliki akan sirna. Musnah habis. Sungguh sayang. Padahal untuk mencapai kemampuan tenaga cadangan seperti yang mereka miliki memerlukan latihan selama puluhan tahun.
    Karena itu sambil melayani gerakan mereka, seperti biasanya Ki Rangga Agung Sedayu terbentur pada sikap dan sifatnya yang selalu ragu-ragu. Dalam keragu-raguannya itu, ia terus mengamati gerakan mereka. Semakin lama, kedua orang itu semakin meningkatkan tataran ilmunya.
    Mereka berusaha mendesak, mengepung dan menyudutkan Ki Rangga dengan putaran cambuknya yang semakin lama semakin nggegirisi. Suara cambuk mereka yang tadinya meledak-ledak memekakkan telinga, kini tidak lagi menimbulkan suara yang keras. Tetapi akibat letupan ujung cambuk dengan gerakan sendal pancing itu seakan-akan mampu menggetarkan udara di sekitarnya.
    Pepohonan yang berada tak jauh dari arena pertarungan mereka nampak bergetar. Getaran pepohonan itu ternyata bisa meruntuhkan dedaunan yang sudah menguning. Bahkan getaran yang semakin lama semakin kuat itu ternyata bisa mematahkan ranting-ranting kecil yang terkulai lemas karena letupan ujung cambuk itu.
    Setelah melihat dan mengamati gerakan kedua lawannya, Ki Rangga pun semakin meningkatkan ilmu kebalnya. Tanpa terasa, udara di sekitar tubuhnya perlahan-lahan menjadi panas. Kedua lawannya tersentak ketika merasakan panas yang mulai menggerumiti kulitnya.
    —Ilmu setan apa yang kau pakai, he?—katanya. Ki Rangga hanya tertawa kecil. Namun Ki Rangga belum dapat mengambil keputusan, apakah yang harus dilakukan terhadap kedua orang itu. Apakah mereka harus dilumpuhkan atau dihabisi dengan aji Netra Dahana.
    Karena keragu-raguannya yang sekejap itu, membuat dirinya terlena sejenak. Waktu yang sejenak itu, ternyata dapat dimanfaatkan dengan baik oleh kedua lawannya. Satu sentakan sendal pancing menyambar dadanya, dan sebuah lagi menghajar punggungnya. Namun kedua hempasan ujung cambuk itu, sama sekali tidak menimbulkan bilur-bilur baik di punggung maupun di dadanya.
    Pukulan dari dua arah itu seperti hajaran palu godam, dan membuat Ki Rangga menjadi sesak nafas. Untunglah Ki Rangga sudah meningkatkan ilmu kebalnya, sehingga tidak berakibat terlalu fatal baginya. Ketika sebuah pukulan beruntun kembali menerpanya, tiba-tiba kedua lawannya menjadi kebingungan. Karena tiba-tiba saja, di hadapannya terdapat dua orang Ki Rangga Agung Sedayu. Keduanya membawa cambuk yang nampak mulai menyala pada gagangnya.
    —Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari—kata lawannya yang
    agak kurus dan berkumis tebal.
    —Ya. Tetapi kau tidak bisa mengelabui kami dengan ilmu itu—katanya kawannya yang gemuk menimpali.
    —Apakah kau pikir dengan ilmu semacam ini kau bisa menipu kami—katanya. Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab, namun sebuah letupan sendal pancing menyambar kedua lawannya dari dua arah yang berlawanan.
    Kedua lawannya terperanjat. Ternyata kedua ujung cambuk itu menyambar mereka berdua, dan mereka merasakan betapa ujung cambuk itu bukan hanya merupakan bayangan semu. Benar-benar nyata dan mampu menerpa dada mereka secara wadag.
    Padahal, biasanya orang yang menerapkan aji Kakang Kawah Adi Ari-ari, sosok yang kedua adalah hanya bayangan semu. Sehingga dengan demikian nampak seolah-olah dua sosok kembar Ki Rangga Agung Sedayu yang bertempur melawan kedua musuhnya. Dari segi gerakannya pun, mereka nampak begitu mandiri. Kalau yang satu bergerak menyerang ke kanan, maka sosok Ki Rangga yang lain bisa saja melompat mundur menghindari serangan lawannya yang kurus.
    Kenyataan tersebut benar-benar membuat bingung kedua lawannya. Namun yang bingung bukan hanya lawannya. Ki Rangga Agung Sedayu pun menjadi bingung dalam keragu-raguannya. Ia menggeretakkan giginya. Matahari pun sudah mulai condong ke Barat, dan di tepi Kali Praga semakin banyak orang yang menonton pertarungan itu.
    —Aku tidak boleh ragu-ragu—katanya di dalam hati. Setelah mendapat ketetapan hati demikian, Ki Rangga pun kemudian berkata dengan suara yang seolah-olah menggulung-gulung di dalam perutnya.
    —Menyerahlah kalian. Kalian akan kutangkap—katanya kepada kedua lawannya.
    —Apakah kau sudah merasa menang, sehingga hendak menangkap kami—kata lawannya yang gemuk.
    —Jangan menyesal Kisanak, kalau aku harus menangkapmu dalam keadaan lumpuh dan segenap ilmu kalian punah tidak berbekas—kata Ki Rangga lagi. Suaranya seolah-olah berpindah-pindah dari sosok yang satu ke sosok yang lain.
    —Kau hanya membual saja dari tadi. Buktinya sudah sejak tadi kita bertempur, kau tidak dapat mengalahkan kami—katanya.
    —Sebenarnya sangat sayang, kalau aku harus memunahkan ilmumu. Karena sebenarnya adalah satu jalur perguruan. Aku pun dari perguruan Windu Jati—kata Ki Rangga.
    —He? Kau jangan membual lagi. Perguruan Windu Jati hanya ada di Panaraga. Guru kami yang keturunan langsung dari Majapahit adalah kini tinggal satu-satunya penerus perjuangan untuk membangkitkan kebesaran dan keagungan kerajaan yang pernah mempersatukan nusantara.—
    —Hahaha. Sayang kau keliru Ki Sanak. Penerus perguruan Windu Jati tidak hanya terdapat di Panaraga. Kami, maksudku aku dan saudara seperguruanku pun adalah penerus perguruan Windu Jati yang dikenal dengan nama perguruan Orang Bercambuk—kata Ki Rangga.
    —Kalau benar kau dari perguruan Windu Jati, apakah kau akan bergabung dengan kami untuk membangkitkan kebesaran dan keagungan Majapahit—kata kawannya yang kurus.
    —Sayang sekali tidak, Kisanak. Aku harus melumpuhkan dan menangkapmu, karena kau adalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga—kata Ki Rangga.
    —Hahaha. Mana bisa kau menangkap kami dengan ilmu petak umpet seperti ini.Apakah kau pikir hanya kau yang mempunyai ilmu Kakang Kawah Adi Ari-ari?—dengus lawannya yang gemuk.
    Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian meningkatkan serangannya. Namun kedua lawannya itu ternyata mempunyai ilmu olah kanuragan yang tidak bisa dipandang enteng. Bahkan Ki Rangga pun terhenyak. Karena tiba-tiba bayangan kedua lawannya menjadi kabur dan beberapa saat kemudian kedua lawannya telah membelah diri pula menjadi dua orang. Sehingga Ki Rangga yang telah membelah diri menjadi dua orang itu harus menghadapi lawannya yang juga membelah diri menjadi empat orang. Karena itu arena pertarungan tersebut menjadi semakin luas. Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta yang sedang bertarung melawan musuhnya masing-masing, terpaksa bergeser menepi. Begitu pula orang-orang yang hendak menyeberangi Kali Praga itu pun semakin bergeser menjauh, karena mereka tidak ingin tersambar pukulan nyasar dari pertarungan ilmu olah kanuragan dalam tingkat tinggi tersebut.
    Maka dalam sekejap pertarungan ketiga raksasa di bidang olah kanuragan itu pun menjadi semakin seru. Walaupun tidak seseru pertarungan antara Ki Rangga dengan kedua lawannya, ternyata pertempuran antara kedua lurah prajurit melawan kedua musuhnya juga berlangsung nggegirisi.
    —Baiklah. Jika kalian ingin tetap main petak umpet. Kita lanjutkan permainan kita—kata Ki Rangga dengan nada tegas. Sudah tidak nampak lagi keragu-raguan dalam sikapnya, seperti yang terjadi sebelumnya.
    —Tapi bolehkah aku tahu siapa nama kalian? Agar jika nanti kau mati, aku tidak dipersalahkan karena tidak tahu nama kalian?—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
    —Alangkah sombongnya kau anak muda. Tapi baik juga aku tahu namamu. Sungguh sayang kalau ilmumu yang setinggi itu, siapa mengira akan berakhir sampai di sini. Namaku adalah Bargas dan kawanku yang kurus itu adalah Bergawa. Siapakah namamu?—kata Ki Bargas, lawannya yang bermuka kasar dan bertubuh gemuk.
    —Namaku Agung Sedayu. Aku seorang prajurit dari Mataram—jawab Ki Rangga.
    —Oo. Inilah rupanya Agung Sedayu, yang namanya terkenal seantero Mataram, tetapi pangkatnya tidak naik-naik. Bukankah pangkatmu masih lurah prajurit?—celoteh Ki Bergawa dengan nada melengking tinggi.—Kau salah Kisanak. Pangkatku sekarang sudah Rangga—jawab Ki Rangga dengan nada polos dan jujur.
    —Sayang sungguh sayang. Kalau kau mengabdi di Panaraga, dengan ilmu setinggi ini tentu pangkatmu sudah menjadi tumenggung—katanya dengan nada merendahkan.
    —Kau salah Kisanak. Dengan tingkat ilmuku sekarang ini, aku memang sepantasnya menjadi seorang rangga. Di Mataram terlalu banyak orang yang berilmu sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat ilmuku.—
    —Apakah kau pikir aku tidak tahu tingkat ilmu para senapati Mataram?—dengus Ki Bargas.—Apa gunanya kau berceloteh tentang tata keprajuritan di Mataram? Bersiap-siaplah. Kalian akan kutangkap—kata Ki Rangga yang sosoknya sudah menyatu kembali ketika mereka bercakap-cakap. Begitu pula kedua lawannya.
    —Apakah kau akan semudah itu bisa menangkap kami? Seekor cacing saja akan melawan, kalau terinjak—.
    —Baiklah. Jangan salahkan aku kalau kalian aku tangkap, bahkan semua tenaga cadangan kalian akan punah menghadapi ilmuku aji Kendali Sukma, meskipun kalian adalah berasal dari satu guru satu ilmu dengan aku, jika ditelusuri silsilah perguruan Windu Jati sampai ke masa Majapahit—
    —Aji Kendali Sukma—.
    —Ya. Aji Kendali Sukma—.
    —Apakah aji Kendali Sukma termasuk ilmu aliran perguruan Orang Bercambuk?—tanya Ki Bargas dan Ki Bergawa hampir berbareng.
    —Bukan Kisanak. Kalau aku menggunakan ilmu olah kanuragan Windu Jati, tentu kalian juga mengetahuinya. Karena kita satu aliran. Namun aku ingin menangkap kalian hidup-hidup, karena aku ingin menelusuri garis wewenang dalam segala tindakan yang hendak merongrong kewibawaan Mataram—katanya.
    —Karena itu, sebelum kalian menyesal karena ilmu kanuragan kalian punah, aku masih memberi kesempatan kepada kalian untuk menyerah—kata Ki Rangga.
    —Ah kau terus membual saja dari tadi—kata Ki Bargas.
    —Baiklah. Kalian tidak mau mendengar kata-kataku.Yang penting aku sudah memperingatkan kalian. Kalian tidak percaya terserah kalian—kata Ki Rangga Agung Sedayu yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.
    Tanpa terasa matahari sudah bergeser dari sudutnya semula, sehingga bayangan pohon yang terbentuk sama panjang dengan tinggi pohon itu sendiri.
    Ki Rangga Agung Sedayu pun mulai membangkitkan tenaga cadangannya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Ki Jayaraga untuk membangkitkan aji Kendali Sukma.
    Karena ia sudah bertempur sekian lama dengan kedua lawannya, maka Ki Rangga sudah bisa menakar kemampuan kedua lawannya. Dengan demikian ia sudah mempunyai ukuran seberapa banyak tenaga cadangan yang harus dibenturkan dengan mereka. Dalam beberapa kali benturan dengan ujung cambuknya, Ki Rangga mengerahkan enam bagian dari tenaga cadangannya. Karena itu, untuk melumpuhkan mereka berdua Ki Rangga mengerahkan tujuh bagian dari tenaga cadangannya.
    Ki Rangga pun mulai mengambil ancang-ancang. Begitu pula kedua lawannya. Ki Bargas dan Ki Bergawa.
    Ki Rangga berdiri tegak dengan kaki direnggangkan. Kedua tangannya mengembang ke samping badannya seperti sayap burung garuda yang hendak terbang, lalu kedua tangan itu bersilang di depan dada, dan mendorong ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar.
    Sedangkan Ki Bargas dan Ki Bergawa mengambil sikap lebih sederhana, tangan kanannya diangkat di depan dagu, lalu terbuka di depan dada. Ketika kedua tangan itu disentakkan ke depan, maka seleret sinar meluncur ke arah Ki Rangga, yang juga sudah bersiaga.
    Namun Ki Rangga tidak mau hancur oleh ilmu pamungkas kedua lawannya. Dalam waktu sekejap, dua leret cahaya meluncur dari kedua telapak tangannya itu menerjang Ki Bargas dan Ki Bergawa.
    Hebat akibatnya baik bagi Ki Rangga sendiri maupun kedua lawannya. Namun betapa pun, tenaga cadangan Ki Rangga ternyata jauh lebih kuat daripada Ki Bargas dan Ki Bergawa. Ki Rangga selangkah surut ke belakang. Namun Ki Bagas dan Ki Bergawa terdorong lima langkah, kakinya bergoyang-goyang lalu jatuh terguling ke belakang. Keduanya tersungkur. Lalu tidak bergerak lagi. Pingsan.
    Ki Rangga yang merasakan dadanya seolah-olah terhempas dua buah godam besar, segera duduk bersila, bersedakep, matanya terpejam. Ia memusatkan nalar budinya untuk memulihkan tenaga cadangannya.
    Kedua kawannya yang bertarung melawan Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta, sempat melirik ketika terjadi benturan ilmu yang sangat dahsyat itu. Bahkan udara sekitarnya terasa seperti gelombang lautan yang mendorong segala yang dilaluinya.
    Ketika mereka melihat kesudahannya, maka lawan Ki Lurah Darma Samudra bersuit nyaring. Lawan Ki Lurah Suprapta segera mengerti isyarat kawannya. Mereka berdua melangkah mundur lalu berbalik untuk melarikan diri. Ketika mereka hendak lari, dua buah belati mengejar lawannya.
    Agaknya Ki Lurah Darma Samudra tidak mau kehilangan lawannya begitu saja. Lawannya itu tidak sempat lari lebih jauh lagi. Ia terguling ketika belati itu menancap di punggungnya dan menembus ke jantung. Ia mengeluh tertahan dan jatuh tertelungkup di tepian sungai berpasir itu.
    Tetapi tidak demikian dengan kawannya. Ketika mendengar kesiur angin tajam menyambar ke arah punggungnya, ia sempat menjatuhkan diri, berguling lalu meneruskan larinya. Dalam sekejap orang yang tinggi kurus dan berkumis tebal itu sudah lenyap dari pandangan.
    Ketika Ki Rangga Agung Sedayu telah menyenakkan mata dan sudah pulih tenaga cadangannya, maka dari sela-sela orang-orang yang menonton pertempuran itu, masuklah seorang laki-laki yang tinggi tegap berwibawa, diiringi seorang pengawalnya. Orang itu bertepuk tangan, lalu berkata.—Hebat. Hebat Ki Rangga. Kau mampu menaklukkan kedua lawanmu—katanya.
    —Ampun Pangeran. Hanya sebatas itulah kemampuan Hamba—katanya. Agaknya lelaki tinggi tegap dan berwibawa itu adalah Pangeran Purbaya. Dari pasukan Mataram yang meronda sampai ke tepi Kali Praga, ia mendengar bahwa terjadi pertarungan seru antara Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua lawannya, sedangkan dua lurah yang mengiringinya bertempur melawan musuhnya masing-masing.
    Ketika laporan itu masuk, Pangeran Purbaya sedang menghadap Panembahan Hanyakrawati. Atas seizin Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya diperkenankan menilik pertarungan yang sengit itu.
    —Silakan Pamanda menilik pertarungan itu. Aku ingin mendapat laporan segera atas kesudahan pertempuran itu.
    —Sendika dawuh, Ananda Panembahan—.
    Demikianlah maka Pangeran Purbaya sempat menilik pertarungan mereka. Bahkan Pangeran sempat mendengar percakapan Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua lawannya, seandainya ia bergabung dengan pasukan Panaraga akan diberi pangkat tumenggung. Dan Pangeran pun melihat kesudahan pertempuran itu, yang ternyata kedua lawan Ki Rangga bisa dilumpuhkan, seorang kena lemparan belati dan seorang lagi bisa melarikan diri.
    Ki Lurah Darma Samudra mengambil dua utas tali kulit janget yang kuat dari pelana kudanya. Sebuah tali diserahkan kepada Ki Lurah Suprapta. Lalu mereka mengikat tangan dan kaki lawan Ki Rangga Agung Sedayu. Kedua orang yang seperti terlolosi tulang belulangnya, segera dinaikkan ke atas kuda masing-masing. Sedangkan yang tewas diserahkan kepada tukang satang untuk dikuburkan.
    —Kalau kau sudah pulih, marilah kita berangkat ke Mataram. Ananda Panembahan Hanyakrawati sedang menantimu—ujar Pangeran Purbaya kepada Ki Rangga Agung Sedayu.
    —Sendika dawuh, Pangeran—jawab Ki Rangga, sambil membungkuk hormat. Demikianlah, maka iring-iringan kecil yang terdiri dari Pangeran Purbaya dan seorang pengiringnya, Ki Lurah Darma Samudra, Ki Lurah Suprapta, dan kedua telik sandi Panaraga itu segera bergerak menuju Mataram.
    Dalam waktu tidak terlalu lama rombongan kecil itu sudah sampai di Istana Mataram. Lurah Prajurit jaga yang melihat bahwa orang yang berkuda paling depan adalah Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu, tidak menghalangi ketika mereka melintas ke pendapa. Sedangkan kedua lurah pengiring Ki Rangga dan pengiring Pangeran Purbaya berhenti di regol depan guna menyerahkan kedua tawanan itu kepada prajurit jaga.
    —Kau ikutlah aku ke ruangan khusus ananda Panembahan—ujar Pangeran Purbaya kepada Ki Rangga Agung Sedayu.
    —Hamba Pangeran—jawab Agung Sedayu.
    Demikianlah, maka Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu menghadapi Panembahan Hanyakrawati di dalam ruangan khusus.
    —Marilah masuk, Pamanda dan Agung Sedayu—ujar Panembahan. Pangeran Purbaya duduk di atas sebuah dampar yang lebih rendah daripada dampar kencana yang diduduki Panembahan Hanyakrawati, sedangkan Ki Rangga Agung Sedayu duduk bersila di atas tikar pandan yang dianyam halus dengan motif-motif berwarna cerah.
    Sebagaimana biasanya, maka Panembahan Hanyakrawati menanyakan keselamatan tamunya.
    —Atas pangestu tuanku Panembahan, hamba selalu dilimpahi keselamatan oleh Yang Maha Agung—jawab Ki Rangga Agung Sedayu. Lalu Panembahan Hanyakrawati menanyakan kejadian yang baru saja terjadi di tepian Kali Praga kepada Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu. Pangeran Purbaya lalu menjelaskan kepada Panembahan Hanyakrawati apa yang baru saja terjadi itu. Ki Rangga Agung Sedayu hanya menjawab, jika ada keterangan tambahan yang ingin didengar Panembahan Hanyakrawati.
    Pangeran Purbaya pun menjelaskan urut-urutan kejadian itu seperti yang dilaporkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu ketika mereka berkuda menuju Mataram.
    —Demikianlah Anaknda Panembahan. Ternyata kedua lawan Ki Rangga Agung Sedayu yang ternyata dari jalur perguruan Orang Bercambuk berhasil dilumpuhkan dan dapat ditangkap. Mereka sudah disimpan di pakunjaran oleh penjaga regol Istana—ujar Pangeran Purbaya mengakhiri laporannya. Panembahan Hanyakrawati mengangguk-anggukkan kepalanya.
    —Mereka adalah tawanan yang penting Pamanda. Sudah sewajarnya mereka mendapat pengawalan yang lebih ketat—katanya.
    —Sendika dawuh, Anaknda Panembahan—jawab Pangeran Purbaya.
    —Kejadian yang Pamanda Pangeran Purbaya saksikan itu, membuat aku membuat keputusan lain—ujar Panembahan Hanyakrawati. Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu menjadi berdebar-debar.
    —Apakah keputusan itu, Anaknda Panembahan—tanya Pangeran Purbaya dengan nada penuh khawatir.
    —Pamanda Pangeran dan Ki Rangga tidak perlu khawatir—ujar Panembahan Hanyakrawati, tanpa menjelaskan lebih lanjut. Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu tidak berani mendesak lebih jauh. Mereka hanya termangu-mangu, mendengar jawaban Panembahan Hanyakrawati.
    —Aku persilakan kau beristirahat di ruangan yang telah disediakan oleh pelayan dalam Istana, sedangkan Pamanda aku harapkan tetap di ruangan ini—ujar Panembahan Hanyakrawati kepada Ki Rangga Agung Sedayu.
    —Ampun Panembahan, apakah hamba diperkenankan beristirahat di Istana Ki Patih Mandaraka. Karena hamba dengar beliau dalam keadaan sakit—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
    —Baiklah kalau memang itu keinginanmu.Besok pagi ketika wayah temawon, kau harus sudah hadir di Paseban Agung dengan pakaian lengkap keprajuritanmu—ujar Panembahan Hanyakrawati.
    Atas perkenan Panembahan Hanyakrawati, maka Ki Rangga Agung Sedayu dan dua orang lurah pengawalnya, kemudian menuju Istana Ki Patih Mandaraka yang terletak tidak begitu jauh dari Istana Mataram. Ki Lurah prajurit yang menjaga regol Istana Ki Patih Mandaraka segera mengenal bahwa yang datang adalah Ki Rangga Agung Sedayu.
    —Oo, Ki Rangga Agung Sedayu, bagaimana keadaan ksehatan Ki Rangga—tanyanya.
    —Aku baik-baik saja Ki Lurah Wirasentanu—jawabnya.
    —Sungguh dahsyat pertarungan yang terjadi di Kali Praga siang tadi—tiba-tiba Ki Lurah Wirasentanu berkata.
    —He? Kau tahu dari maka Ki Lurah?—tanya Ki Rangga Agung Sedayu heran.
    —Wah semua orang di Kotaraja membicarakan kejadian tadi siang itu—jawab Ki Lurah Wirasentanu.
    —Tentu yang kau dengar itu terlalu dilebih-lebihkan—kata Ki Rangga merendahkan diri.
    —Seluruh Kotaraja geger, Ki Rangga Agung Sedayu bisa memecah diri menjadi dua dan menang menghadapi dua lawannya yang membelah diri menjadi empat orang—.
    —Ah tidak seluruhnya itu benar. Namanya ceritera dari mulut ke mulut, kalau mulut yang satu menambahkan isi ceritera, maka pendengar yang ke seratus mendengar kejadian yang tadinya semenir, menjadi kejadian segede gajah—kata Ki Rangga Agung Sedayu sambil tertawa. Ki Lurah Wirasentanu pun tertawa. Ia sudah hafal dengan sikap rendah hati dari Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga lalu meminta diri untuk menghadap Ki Patih.
    —Marilah Ki Rangga, aku antarkan menghadap Ki Patih. Biasanya Ki Patih berada di pendapa kiri di sore hari seperti ini—katanya. Ki Rangga dengan diantar Ki Lurah Wirasentanu kemudian diterima Ki Patih di pendapa kiri. Dilihatnya Ki Patih sedang berbaring di kursi panjang yang mempunyai sandaran miring. Ki Lurah Wirasentanu menemani Ki Rangga Agung Sedayu menemui Ki Patih. Mereka duduk di atas tikar pandan yang terhampar di depan kursi panjang itu.
    —Oo kau, Agung Sedayu. Kemarilah—kata Ki Patih yang menyenakkan matanya sambil tetap berbaring di kursinya.
    —Badanku terasa agak meriang, biarlah aku menerimamu sambil berbaring begini—ujar Ki Patih.
    —Silakan Ki Patih tetap berbaring. Hamba akan menginap di sini, karena hamba akan hadir di Pisowanan Agung esok hari—katanya.
    —Ya. Kau memang diundang ke Pisowanan Agung besok. Kau boleh menginap di sini. Bukankah kau sudah tahu di ruangan mana kau harus tidur nanti—ujar Ki Patih.
    —Hamba Ki Patih—jawab Ki Rangga Agung Sedayu.
    —Apakah kau sebelumnya sudah mengenal siapa lawanmu tadi siang—tanya Ki Patih tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Ki Rangga terkejut, ternyata kejadian di tepi Kali Praga itu cepat sekali menyebar di Kotaraja, bahkan telah pula sampai kepada Ki Patih yang sedang beristirahat di Istananya.
    —Ampun Ki Patih, hamba belum mengenal mereka sebelumnya. Bahkan guru hamba Kiai Gringsing, tidak pernah berceritera bahwa ada Perguruan Windu Jati di Panaraga. Setahu hamba hanya ada di Madiun, yang sempat hamba kunjungi sebelum perang Madiun dahulu—jawab Ki Rangga.
    Demikianlah mereka berbincang-bincang cukup lama membicarakan perkembangan yang terjadi di seputar kebangkitan Mataram.
    —Kini tugas kalian yang muda-muda untuk mengisi kebangkitan Mataram ini dengan berbagai kegiatan pembangunan di segala bidang—ujar Ki Patih Mandaraka seakan-akan ingin berpesan kepada Agung Sedayu.
    —Tentu kami akan melakukannya, Ki Patih—katanya.
    —Tugas kami yang tua-tua ini seakan-akan sudah selesai dengan telah berdirinya Mataram. Tugas kalianlah untuk melanjutkannya—ujar Ki Patih lagi.
    —Akan hamba ingat-ingat pesan Ki Patih itu—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
    Ki Patih Mandaraka mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Badannya yang dahulu kelihatan gagah, tinggi besar, dan berwibawa, kini nampak kurus, pucat dan seakan tidak ada lagi nyala kehidupan yang terpancar dari pandang matanya.
    Ki Patih terbaring lemah di pembaringan kursi bambu yang terbuat dari bambu wulung. Di atas kursi itu diletakkan bantalan kapuk terbungkus beludru berwarna cokelat muda. Ki Rangga Agung Sedayu memperhatikan keadaan Ki Patih yang nampak mulai digerogoti oleh penyakit akibat usia yang semakin uzur. Matanya nampak terpejam dan jalan nafasnya mengalir halus.
    —Ki Patih tertidur—kata Ki Rangga Agung Sedayu dalam hatinya. Perlahan-lahan Agung Sedayu memberi isyarat kepada Ki Lurah Wirasentanu sambil bergeser hendak meninggalkan Ki Patih Mandaraka yang telah beristirahat. Namun desir langkahnya yang ringan, masih terdengar oleh Ki Patih yang segera membuka matanya.
    —Jika kau letih beristirahatlah—ujar Ki Patih Mandaraka.—Ampun Ki Patih, hamba kira Ki Patih tertidur. Karena itu hamba tidak ingin mengganggu Ki Patih yang sedang beristirahat. Biarlah hamba ke bangsal yang telah disediakan pelayan dalam Istana Kepatihan.
    —Baiklah. Kau pergilah beristirahat. Ki Lurah akan menunjukkan kepadamu bangsal tempatmu berisitirahat. Kalau makan malam nanti sudah siap, kau makanlah. Aku tidak bisa menemani bersantap di meja makan seperti dulu lagi—kata Ki Patih.
    —Sendika dawuh, Gusti Patih—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
    Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu diantarkan oleh Ki Lurah Wirasentanu ke ruangan yang telah disiapkan oleh pelayan dalam istana. Ki Rangga kemudian beristirahat sejenak. Ketika baru memicingkan matanya sejenak, terdengar pintu kamarnya diketuk pelan.
    Ki Rangga melangkah ke pintu dan ketika pintu terbuka, matanya terbelalak.
    —Kakang Untara dan Adi Swandaru?—katanya terperanjat.
    —Iya Agung Sedayu—kata mereka hampir berbareng. Bergantian mereka memeluk erat Agung Sedayu.
    —Kami juga baru datang sore ini—kata Ki Tumenggung Untara.
    —Apakah kalian datang bersama-sama—Agung Sedayu menimpali.
    —Iya. Kami berdua mendapat juga undangan untuk datang ke Pisowanan Agung besok—jawab Ki Swandaru Geni. Demikianlah mereka kemudian berceritera mengenai keadaan keselamatan masing-masing. Ki Tumenggung Untara mengisahkan tentang kedaan keluarganya, padepokan kecil Kiai Gringsing, tentang anaknya Wira Sanjaya yang sudah berguru di padepokan itu untuk mendapat bimbingan dari ilmu olah kanuragan dari Ki Widura yang kini menjadi pimpinan padepokan itu.
    —Tentu Wira Sanjaya sudah besar dan segagah ayahnya sekarang—kata Agung Sedayu.
    —Iya. Sekarang ia sudah beranjak dewasa dan sudah tidak nakal lagi. Jiwanya sudah tatag. Ia mengirim salam untukmu dan berniat menuntut ilmu di Perdikan Menoreh dari pamannya—kata Untara.—Kakangmbok juga mengirim salam kepadamu sekeluarga. Ia sudah kangen dengan Sekar Mirah—.
    —Sekar Mirah juga kangen dengan kakangmbok. Tetapi ia sekarang tidak dapat bepergian ke mana-mana, karena sedang mengandung, Kakang—kata Agung Sedayu.
    —Oh ya?—hampir berbareng Untara dan Swandaru berteriak kaget. Tetapi mereka segera menutup mulutnya dengan tangan kanan, setelah menyadari bahwa Ki Patih sedang beristirahat di pendapa kiri. Mereka pun kemudian bergeser ke belakang untuk tidak menimbulkan suara berisik yang dapat mengganggu istirahat Ki Patih Mandaraka.
    Setelah bergeser agak menjauh mereka bisa bebas berceritera tentang keadaan masing-masing dengan suara yang tidak perlu ditahan-tahan. Kalau harus tertawa, mereka dapat dengan bebas tertawa.
    —Aku mendengar dari para prajurit, kau tadi bertempur di tepi Kali Praga dengan orang-orang dari jalur perguruan Windu Jati. Siapakah mereka?—tanya Swandaru.
    —Aku tidak tahu siapa mereka yang sebenarnya, Adi. Tapi menurut pengakuan mereka, mereka adalah Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Gunung Kendeng. Masih menurut penuturan mereka, mereka adalah pengikut perguruan Windu Jati dari Panaraga, dan mengembara sampai ke Gunung Kendeng. Dua orang lawanku yang nampaknya merupakan murid utama dari perguruan Windu Jati di Panaraga di bernama Ki Bargas dan Ki Bergawa. Sekarang mereka ditahan di pakunjaran di lingkungan Istana Mataram.—kata Agung Sedayu.
    —Bagaimana dengan dua orang lainnya?—tanya Ki Untara.
    —Yang seorang tewas kena lemparan belati, lurah pengiringku dan seorang lagi bisa melarikan diri—jawab Agung Sedayu.
    Ki Untara mengangguk-angguk, katanya kemudian—Kau harus berhati-hati, karena yang seorang lolos itu tentu akan melaporkan kepada gurunya di Panaraga, bahwa saudaranya Ki Bargas dan Ki Bergawa bisa kau kalahkan. Bukan tidak mungkin gurunya akan mencarimu—
    —Iya kakang. Aku akan berhati-hati—kata Agung Sedayu.
    Tiba-tiba Ki Untara melolos pedang dari lambungnya, sambil berkata—Apakah kau mengenal pedang ini?—
    Sambil meraih pedang yang cukup berat itu, Agung Sedayu mengamat-amatinya. Pada gagangnya tergurat huruf-huruf dalam bahasa Kawi.—Jati Laksana—.
    —Bukankah pedang ini pedamg ayah. Ki Sadewa?—tanya Agung Sedayu sambil menatap Ki Untara.
    —Ingatanmu sungguh tajam—kata Ki Untara—padahal kau masih kecil, ketika ayah sering membawa-bawa pedang ini—.
    —Di manakah kakang mendapatkan pedang Jati Laksana ini?—tanya Agung Sedayu.
    —Aku mendapatkan pedang ini di dalam gua tempat kita berlatih—kata Ki Untara.
    —Ketika aku memasuki gua itu, aku tidak melihatnya—kata Agung Sedayu lagi.
    —Aku menemukannya secara kebetulan. Ketika aku mengangkat meja batu pipih di tengah ruangan gua, ternyata di bawahnya ada sebuah rongga yang dipergunakan ayah untuk menyimpan Kitab Jati Kencana, Pedang Jati Laksana dan sebuah nawala—.
    —He? Nawala?—tanya Agung Sedayu.
    —Ya. Nawala itu dari ayah—kata Ki Untara sambil membuka kampilnya, lalu menyerahkan seikat rontal kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu lalu membaca rontal itu. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh membaca rontal itu. Setelah membaca rontal itu, Agung Sedayu menghela nafas lega.
    —Apakah dalam kitab itu, ada ilmu puncak perguruan Jati Kencana?—tanya Agung Sedayu.
    —Tentu. Tentu saja ada. Bahkan aku sudah dapat menguasainya—kata Untara.
    —Syukurlah. Aku khawatir sekali karena secara tidak sengaja aku telah merusakkan pahatan puncak ilmu yang terletak di puncak kubah gua dengan aji Netra Dahana—kata Agung Sedayu.
    —Aji Netra Dahana?—tanya Untara dan Swandaru hampir berbareng.
    —Ya. Ajiku yang menggunakan kekuatan tenaga cadangan melalui remasan pandangan mata, kunamakan aji Netra Dahana—katanya lagi.
    —Oo—hampir berbareng Untara dan Swandaru berseru kagum.
    —Apakah kakang membawa kitab itu?—tanya Agung Sedayu.
    —Ya. Aku sengaja membawanya, untuk kuperlihatkan kepadamu—Ki Untara merogoh kampilnya dan mengeluarkan sebuah ikatan besar rontal, lalu menyerahkan kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu menerima rontal itu sambil mengembalikan pedang Jati Laksana kepada kakaknya Untara.
    —Apakah kau ingin memakai pedang ini?—kata Untara menawarkan kepada Agung Sedayu.—Pedang ini adalah pedang mustika yang dibuat dari logam khusus dan sangat tajam—.
    —Biarlah kakang saja yang menyimpannya. Aku sudah mempunyai senjata cambuk yang menjadi ciri khusus perguruanku—kata Agung Sedayu.
    —Tetapi kau pun berhak mempelajari ilmu Jati Laksana dan menggunakan pedang ini—katanya.
    —Biarlah kakang yang menggunakan pedang itu. Aku hanya ingin meminjam kitab ini barang sebulan dua bulan. Aku ingin mempelajari bagian ilmu pamungkas yang hilang dari puncak kubah gua—katanya.
    —Baiklah kalau begitu—kata Ki Untara.
    Swandaru Geni yang menyimak pembicaraan mereka, tidak berkata apa-apa. Karena itu menyangkut masalah ke dalam dari perguruan Ki Sadewa, yang ternyata kemudian bernama perguruan Jati Kencana.

    Mereka bahkan sempat bergojeg, mengenang masa-masa muda mereka yang terasa lucu untuk diceriterakan. Padahal ketika mereka mengalami dan merasakannya kala itu terasa betapa tegangnya. Swandaru dan Agung Sedayu tertawa terbahak-bahak, ketika Untara menceriterakan betapa Agung Sedayu menjadi ketakutan ketika dikejar Alap-alap Jalatunda dan Pande Besi dari Sendang Gabus. Tetapi untunglah kemudian hadir Kiai Tanu Metir yang menyamar menjadi Kiai Gringsing.
    Swandaru pun menambahkan betapa wajah Agung Sedayu pias pucat pasi, ketika ia berteriak-teriak kepada kepada peserta pertandingan memanah di lapangan Sangkal Putung, bahwa Sidanti bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung.
    Setelah puas bergojeg, Swandaru tiba-tiba berkata—sehabis Pisowanan Agung, aku akan ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menengok Sekar Mirah—.
    —Aku pun sebenarnya ingin menengok Sekar Mirah dan Ki Gde Menoreh. Tapi sayang tugasku tidak dapat ditinggalkan lama-lama—kata Ki Tumenggung Untara.—Aku titip salam saja, kepada keduanya—
    Ki Untara pun memandang Agung Sedayu lekat-lekat. Ia teringat, betapa dulu ia sangat kecewa ketika dimintanya Agung Sedayu menjadi prajurit Demak dan adiknya itu menolak. Adiknya itu bahkan lebih suka tinggal di Kademangan Sangkal Putung, dan dianggapnya hanya ngenger kepada Ki Demang, karena menginginkan anak gadisnya. Sekar Mirah.
    Namun siapa kemudian mengira bahwa Agung Sedayu kini telah menjadi seorang Rangga. Berdasarkan kabar yang didengarnya, ia bahkan mendengar bahwa adiknya itu esok hari akan dilantik menjadi seorang panji dalam Pisowanan Agung. Ia hanya menggeleng-geleng. Namun karena suasana di halaman belakang Kepatihan itu agak gelap, maka baik Agung Sedayu maupun Swandaru tidak melihat gerakan kepala Ki Untara.
    —Perjalanan nasib, siapa yang bisa mengira. Yang tahu hanya Yang Maha Agung—katanya di dalam hati.
    Tidak berapa lama kemudian, seorang abdi dalem mempersilakan mereka bertiga untuk makan di dekat bangsal

  63. Monggo Kisanak…

    Sambungannya…

    Tidak berapa lama kemudian, seorang abdi dalem mempersilakan mereka bertiga untuk makan di dekat bangsal tempat Agung Sedayu menginap. Makan malam itu tidak disediakan di tempat biasanya Ki Patih Mandaraka menjamu tamu-tamunya, justru karena Ki Patih yang dalam keadaan sakit. Dengan demikian, mereka bisa bersantap sambil melanjutkan ceritera mereka tadi, tanpa harus mengganggu Ki Patih.
    Demikianlah mereka asyik berbincang, sehingga tanpa terasa gugusan bintang Gubug Penceng yang terletak di kaki langit Selatan, garis yang menghubungkan titik bawah dan atasnya sudah condong ke Barat.
    —Di manakah kalian menginap?—tanya Agung Sedayu.
    —Aku menginap di bangsal yang terletak di depan bangsalmu. Dan kakang Untara di sebelahnya—kata Swandaru.
    —He?. Ki Patih tidak mengatakannya—.
    —Tentu Ki Patih ingin membuat kejutan untukmu—kata Untara. Ternyata Swandaru yang lebih dahulu menguap.
    —Aku sudah mengantuk. Kalau perutku kenyang, aku cepat sekali mengantuk—katanya—aku mau tidur—
    Ki Untara dan Agung Sedayu tertawa, dan tidak berkata apa-apa lagi. Namun kemudian Ki Untara menyahut.
    —Aku juga. Besok pagi kita harus bangun, agar tidak keduluan ayam jantan—kata Ki Untara. Mereka pun kemudian memasuki ruangan yang telah disediakan untuk mereka masing-masing. Tak berapa lama mereka terlena dalam pelukan dan buaian dewi mimpi.
    Ketika terdengar kokok ayam jantan yang terakhir kalinya, mereka pun segera terbangun. Mereka seolah-olah tidak mau didahului ayam jantan. Untara pikirannya melayang ke masa kecilnya, di mana yahnya Ki Sadewa membangunkannya setiap pagi sambil berkata.
    —Kau harus selalu bangun pagi, agar rezeki tidak dihabiskan oleh ayam—kata ayahnya. Dan ternyata kebiasaan bangun pagi sejak kecil itu, terbawa sampai masa tuanya sekarang. Kebiasaannya itupun ditularkannya kepada adiknya Agung Sedayu, yang ketika kecil lebih suka bermalas-malasan, karena terlalu dimanjakan oleh ibunya.
    Kini ajaran ayahnya itu telah pula diturunkan kepada anaknya Wira Sanjaya. Seperti Untara, wira Sanjaya pun ternyata seorang anak yang rajin dan tekun. Terlebih lagi kini ia mendapat bimbingan dari Ki Widura, adik dari kakeknya Ki Sadewa.
    Setelah mandi pagi dan sesuci, mereka pun masing-masing menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Setelah itu, seolah-olah berjanji mereka turun ke halaman dan berjalan-jalan menikmati segarnya udara pagi di halaman Istana Kepatihan.
    Tak berapa lama mereka melihat Ki Patih yang baru turun dari pendapa dengan ditopang tongkat kayu hitam yang gagangnya diukir dengan kepala naga raja.
    —Apakah Ki Patih sudah merasa sehat kembali—tanya Ki Untara.
    —Ya Syukurlah, Untara. Aku sudah sehat. Tapi sesehat-sehanya orang tua seperti aku ini, ya tetap diincar oleh berbagai penyakit. Kelak kalau kau menjadi setua aku, kau akan merasakan hal serupa—ujar Ki Patih.
    —Iya Ki Patih. Hal itu sudah merupakan kodrat manusia. Manusia itu lahir, hidup, besar, dewasa, mencapai puncak kejayaannya, lalu surut, menurun, menjadi tua dan akhirnya akan kembali kepada Yang Maha Agung—kata Agung Sedayu.
    —Iya Ki Patih. Selama orang itu bernama manusia, ia tidak bisa terlepas dari kodratnya. Kalau orang itu lahir dan besar, tapi tanpa pernah mati tentu dunia ini akan penuh dengan orang-orang tua yang usianya mencapai ratusan tahun—kata Swandaru.
    —Itulah hakekat kehidupan. Lahir, hidup, mengisi peradaban, lalu tua dan akhirnya mati. Peradaban itu bergeser dari zaman ke zaman, bersama dengan bergeraknya bumi mengitari sang surya. Pagi bergeser menjadi siang, siang bergerak menjadi sore, sore menjadi malam. Malam menjadi fajar. Fajar menjadi subuh. Subuh menjadi pagi dan begitu seterusnya.—kata Ki Patih Mandaraka pula.
    Lalu katanya melanjutkan—Begitu pula kerajaan di nusantara ini, mulai dari Kalingga, Mataram kuno, Sriwijaya, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, lalu sekarang menjadi Mataram.—
    –Semua itu seakan-akan gumpalan awan-awan putih yang bergerak berarak-arak di atas langit. Kalau awan itu putih, maka cuaca akan cerah. Langit pun menjadi indah. Tapi adakalanya pula awan hitam yang bergerak di langit. Awan itu berwarna hitam, karena mengandung butir-butiran air, yang pada suatu saat menurunkan hujan. Hujan pun bisa mendatangkan baik berkah maupun bencana. Hujan itu mendatangkan berkah bagi petani, karena bisa mengairi daerah persawahan dan menghidupi padi-padi yang baru mereka tanami. Itu kalau hujan itu turun secara normal, dalam arti tidak sedikit namun juga tidak berlebihan.
    Jika hujan itu turun berlebihan, bisa menimbulkan bencana, mulai dari menenggelamkan areal persawahan. Menyeret apa saja yang dilaluinya bahkan memporakporandakannya.
    Kembali ke hakekat awan itu, kalau boleh kuibaratkan peradaban manusia itu sendiri. Semuanya itu silih berganti mewarnai bumi ini, dan pada akhirnya akan sirna tersapu angin yang kencang.
    Kalaupun ada bekas-bekas yang ditinggalkannya adalah berupa candi-candi yang merupakan pertanda kebesaran sejarah suatu peradaban. Sebagai misal, di dekat lingkungan kita ini terdapat sebuah candi yang terletak di desa Prambanan. Kita tidak tahu, berapa lama suatu peradaban membangunnya. Lima, sepuluh, dua puluh tahun? Yang jelas, pekerjaan itu dilakukan oleh suatu tatanan yang ajeg, tatag, dan mempunyai ketabahan dari generasi ke generasi.
    Untuk mendirikan Mataram ini saja sudah dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Mulai dari membabat Alas Mentaok, mulai membuat patok-patok, membangun jalan-jalan raya, selokan-selokan, bendungan-bendungan, lahan pertanian, gedung-gedung, dan segala kelengkapannya. Semua itu merupakan batu dasar bagi pertumbuhan Mataram untuk seterusnya. Tugas itu sudah dilaksanakan oleh Ki Gde Pemanahan, aku, dan para sesepuh Mataram lainnya. Ki Patih menghela nafas, lalu melanjutkan.
    Nah selanjutnya, maka tugas kalianlah untuk membangkitkan Mataram agar menjadi negeri yang kuat, kokoh dan tahan menghadapi segala badai sejarah. Oleh karena itu, sangat tepat istilah para tetua dan sesepuh negeri ini dari segala zaman, bahwa kalau suatu negeri ingin damai maka harus bersiap-siap untuk berperang.
    –Kenapa kalau kita ingin damai harus bersiap-siap untuk berperang? Bukankah hal itu suatu hal yang bertolak belakang? Kalau diibaratkan dengan masa kanak-kanak kita. Ketika itu ada saja anak-anak nakal yang selalu mengganggu kawannya. Jika ada anak yang rajin belajar atau menekuni sesuatu, maka niat anak yang sungguh-sungguh itu akan terganggu karena ulahnya. Tetapi jika anak yang rajin dan bersungguh-sungguh itu badannya besar dan tenaganya kuat, maka anak nakal tadi tidak berani menganggunya.
    Begitu pula dalam ukuran yang lebih besar. Dalam bentuk negara atau kerajaan. Kerajaan yang kuat akan bisa membangun negerinya dengan aman jika mempunyai kekuatan pasukan yang besar. Hal ini sudah pernah dialami oleh Mataram yang mengalami guncangan akibat berbagai pertarungan kepentingan, seperti sisa-sisa laskar Jipang yang hendak membangkitkan kekuatan bekas pasukan Macan Kepatihan, lalu Madiun, Demak dan sekarang Panaraga yang hendak membangkitkan sisa-sisa kejayaan masa lalu dari trah Majapahit.
    Semua itu membutuhkan perhatian kita, agar proses pembangunan kerajaan Mataram yang kuat dan bisa bangkit di jajaran pulau-pulau nusantara bisa terlaksana. Kita hanya bisa bangkit, kalau kita bisa membangun pasukan darat yang kuat, armada laut yang kuat dan perdagangan yang ramai, agar bisa mendukung kemampuan keuangan negara untuk menggalang kekuatan itu. Tanpa mempunyai suatu sistem tata laksana keuangan yang kuat, maka sejarah akan terulang kembali.
    Kalian tentu ingat betapa Majapahit dahulu runtuh, karena para pejabatnya hidup terlalu bermewah-mewahan, berpesta pora dan melupakan kehidupan rakyat kecil. Rakyat diperas dengan upeti dan pajak yang mencekik leher, namun tak ada pasukan yang kuat untuk mengamankan keadaan negeri. Yang terjadi adalah kezaliman di mana-mana. Pencurian, perampokan, perkosaan, perjudian dan segala penyakit masyarakat tumbuh dan berkembang subur.
    Akibatnya apa? Rakyat tidak suka kepada pemerintahan. Mereka dengan segera beralih ke Demak, karena mereka anggap Demak akan memberikan pilihan lain bagi kemajuan negeri. Wahyu keraton seakan-akan bergeser ke Demak, ketika negeri itu dianggap sebagai pembaharu. Namun sejarah kembali berulang. Kini wahyu keraton dianggap bergeser ke Mataram. Dan menjadi tugas kalian lah di masa datang harus menjaga agar wahyu keraton itu tetap dianggap berada di Mataram?
    –Apakah yang dapat kami lakukan agar wahyu keraton tersebut dianggap tetap berada di Mataram, Gusti Patih—tanya Untara.
    —Ya seperti aku katakan tadi. Kalau mau damai bersiaplah untuk perang. Dalam keadaan perang dan damai, pasukan darat dan armada laut yang segera dibangun oleh Agung Sedayu, harus paling kuat di tanah ini. Dengan pasukan darat dan armada laut yang kuat, maka tidak akan ada negeri yang berani mengganggu Mataram. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
    Tanpa terasa mereka cukup lama berbincang. Sesaat kemudian seorang abdi dalem mempersilakan mereka bersantap pagi. Agung Sedayu yang merasa dekat dengan Ki Patih Mandaraka, segera menuntun orang tua itu untuk berjalan menuju ruang tengah untuk menikmati santapan pagi yang telah tersedia.
    Dengan tertatih-tatih Ki Patih berjalan. Dan meskipun lambat, akhirnya mereka sampai di meja makan dan setelah Ki Patih mempersilakan, mereka makan dengan lahap. Setelah selesai, mereka mulai berkemas-kemas untuk hadir dalam Pisowanan Agung yang digelar di paseban. Agung Sedayu dan Untara menggunakan pakaian lengkap keprajuritannya, sedangkan Swandaru Geni yang bukan prajurit menggunakan pakaian lengkap adat jawa. Sebilah keris diselipkannya di pinggang.
    Ketika mereka memasuki paseban, maka di ruangan yang besar itu sudah mulai terisi dengan para undangan yang harus hadir dalam Pisowanan Agung tersebut. Beberapa petugas segera menyambut mereka. Ki Tumenggung Untara dan Ki Rangga Agung Sedayu segera menempati tempat yang disediakan di sayap kanan gedung, sedangkan Ki Swandaru Geni ditempatkan di sayap kiri.
    Ketika semua tempat telah terisi, maka Panembahan Hanyakrawati, didampingi Pangeran Purbaya, Ki Patih Mandaraka dan para petinggi pemerintahan di Mataram memasuki ruangan yang besar itu.
    Semua yang hadir menyampaikan sembah pangabekti, sampai Panembahan Hanyakrawati duduk di dampar kencana yang berada di panggungan yang agak tinggi. Di kiri kanannya, duduk Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Purbaya. Agak di belakang berjajar para petinggi pemerintahan. Sedangkan di kiri kanan agak ke pinggir, duduk para perwira prajurit yang mempunyai kedudukan agak tinggi.
    Acara Pisowanan Agung itu pun segera dimulai. Ternyata Pisowanan Agung kali ini adalah acara khusus untuk melantik dan menyerahkan serat kekancingan bagi para prajurit dan para kepala wilayah kademangan yang mendapat pangkat istimewa setara dengan prajurit, karena pengabdian mereka yang tulus, jujur dan teruji dalam waktu lama sejak berdirinya Mataram.
    Acara itu dibagi menjadi dua, pertama penyerahan serat kekancingan kepada para prajurit yang mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Ada dua puluh prajurit yang mendapat kenaikan pangkat dan jabatan tersebut, termasuk di antaranya Ki Tumenggung Untara yang mendapat kedudukan sebagai Panglima Pasukan Wira Tamtama berkedudukan di Kotaraja, dan Ki Rangga Agung Sedayu yang karena jasa-jasanya yang sangat besar bagi negara diberi kenaikan pangkat luar biasa langsung menjadi tumenggung. Ki Agung Sedayu masih membawahi pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, yang meliputi pasukan khusus darat dan pasukan khusus armada laut yang kini tengah dibangunnya.
    Karena Ki Tumenggung Untara menduduki jabatan baru sebagai Panglima Wiratamtama, maka jabatannya sebagai pimpinan pasukan di wilayah Selatan diserahkan kepada Sabungsari yang mendapat kenaikan pangkat menjadi rangga.
    Semua hadirin yang mendengar pengumuman kenaikan pangkat dan jabatan itu terperanjat, meskipun mereka tidak berani berkata apapun. Sebab keputusan itu adalah langsung diambil oleh Panembahan Hanyakrawati. Dan hal itu adalah Sabda pandita ratu. Sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dipertanyakan.
    Sedangkan para kepala wilayah kademangan—termasuk Ki Swandaru Geni—mendapat pangkat istimewa sebagai lurah prajurit meskipun ia tidak membawahi prajurit. Sebab pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung adalah pasukan yang kuat, yang jasa dan pengabdiannya sudah teruji sejak menghadapi pasukan Jipang di masa kerajaan Demak. Dalam setiap peperangan pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung selalu ikut membaktikan tenaga, jiwa dan raganya bagi tegaknya kerajaan Mataram. Anugerah itu diterimakan kepada Ki Swandaru Geni, karena ayahnya yang semula menjadi Demang Sangkal Putung, sudah uzur dan tidak lagi dapat melaksanakan tugas-tugasnya karena masalah usia tadi.
    Dengan demikian, Ki Swandaru Geni mendapat dua hal. Pertama menggantikan ayahnya sebagai demang dan yang kedua mendapat pangkat lurah prajurit atas jasa-jasanya dalam membela Mataram.
    Ternyata ada dua puluh kademangan di sekitar Mataram yang mendapat kedudukan istimewa karena demangnya mendapat pangkat lurah prajurit.
    Setelah selesai pelantikan dan penyerahan serat kekancingan itu, maka Panembahan Hanyakrawati menyampaikan sambutan atau sesorah. Panembahan Hanyakrawati pertama-tama menyampaikan ucapan selamat kepada semua orang yang mendapat anugerah itu.
    Selanjutnya Panembahan Hanyakrawati menyatakan bahwa anugerah itu merupakan bukti perhatian kerajaan Mataram terhadap orang-orang yang telah membaktikan dirinya bagi Mataram dengan siap mengorbankan darah, jiwa dan raganya bagi kemajuan Mataram.
    Ternyata pemikiran Panembahan Hanyakrawati senada dengan pemikiran Ki Patih Mandaraka tadi pagi, yang menyatakan bahwa jika suatu negara seperti Mataram ingin damai, maka harus bersiap-siap untuk perang. Kedamaian di tlatah tanah ini harus ditegakkan dengan kekuatan senjata dan ilmu olah kanuragan. Tanpa kekuatan senjata dan ilmu olah kanuragan yang mumpuni, maka kedamaian itu tidak akan bisa ditegakkan.
    Sebab jika kekuatan senjata dan kemampuan ilmu olah kanuragan itu dimiliki oleh para perampok atau penyamun, maka kedamaian itu menjadi milik mereka. Dan rakyat yang tertindas oleh kekuatan dan ilmu olah kanuragan para perampok atau penyamun, tidak akan bisa menikmati hidup yang tenteram, aman, damai dan sejahtera. Mereka hanya menjadi bahan pemerasan oleh para perampok dan penyamun yang ingin hidup enak tanpa harus mengucurkan keringat.
    Oleh karena itu, Panembahan Hanyakrawati meminta kepada para prajurit untuk terus meningkatkan kemampuannya untuk mesu diri dalam ilmu olah kanuragan dan mesu diri dalam olah sastra dan tata pemerintahan. Sehingga jika pada waktunya mereka menjabat suatu kedudukan tertentu dalam keprajuritan maupun dalam pemerintahan, mereka sudah siap dan tidak terkejut lagi.
    Panembahan Hanyakrawati kembali mengingatkan akan kebesaran kerajaan Majapahit yang kini sudah pudar.
    —Kita bisa belajar dari kebesaran kerajaan Majapahit, bahwa kerajaan itu pernah memiliki soko guru utama yang menopang kejayaannya, yaitu kemampuan luar biasa yang dimiliki Mahapatih Gajahmada yang mumpuni dalam bidang olah kanuragan, namun juga mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam tata pemerintahan.—ujarnya.
    Terlepas dari baik buruknya dan itu bersifat manusiawi, Gajahmada dan Majapahit seolah-olah satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan, selain Raja-Raja besar yang pernah dimiliki Majapahit seperti Raden Wijaya, Prabu Hayam Wuruk dan lainnya.
    —Karena itu, marilah kita bangkitkan Mataram menjadi sebuah kerajaan yang besar yang bisa menguasai seluruh penjuru nusantara. Hal itu bukan semata-mata untuk menunjukkan ketamakan atau keserakahan, melainkan aku ingin Mataram menjadi satu kekuatan yang mampu menegakkan ketertiban dalam masyarakat yang beradab—ujarnya.
    —Sebagai penutup, aku mengucapkan selamat bertugas dan bersungguh-sungguhlah dalam mencapai gegayuhan kita dalam mewujudkan Mataram yang kokoh kuat, tidak lekang oleh matahari dan tidak runtuh oleh badai yang betapa pun kuatnya. Hidup Mataram—ujar Panembahan Hanyakrawati mengakhiri sambutannya.
    Demikianlah hadirin dalam Pisowanan Agung tersebut pun membubarkan diri, kecuali Ki Untara, Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Rangga Sabungsari yang diminta untuk tetap berada di paseban.
    Ketika hadirin yang lain sudah bubar, maka Pangeran Purbaya yang menjalankan pemerintahan sehari-hari sejak Ki Patih Mandaraka menderita sakit, menemui Ki Untara, Agung Sedayu dan Sabungsari.
    Pangeran Purbaya mengucapkan selamat kepada ketiga orang itu. Kemudian Pangeran Purbaya yang sebelumnya boleh dibilang menjabat Panglima Wira Tamtama Mataram, dengan telah diserahkannya jabatan itu kepada Ki Untara, maka pekerjaan menjadi lebih ringan. Ia kini bisa memi\usatkan perhatiannya kepada tata pemerintahan. Sedangkan urusan keprajuritan diserahkannya kepada Ki Untara.
    Namun karena Ki Untara tadinya pimpinan pasukan Mataram di wilayah Selatan berkedudukan di Jati Anom, maka Ki Untara harus kembali ke Jati Anom untuk menyerahkan jabatannya itu di depan anggota pasukannya. Karena itu Ki Untara dan Ki Rangga Sabungsari mendapat tugas untuk berangkat ke Jati Anom untuk melakukan serah terima jabatan.
    Untuk selanjutnya Ki Untara kembali ke Kotaraja untuk mulai menduduki jabatannya sebagai Panglima Wira Tamtama. Banyak hal yang harus dilakukan untuk membenahi tata keprajuritan, termasuk kesejahteraan mereka, meningkatkan kemampuan tempur pasukan dengan berbagai latihan-latihan.
    Sedangkan kepada Ki Tumenggung Agung Sedayu, Pangeran Purbaya minta agar segera diwujudkan pembangunan armada laut Mataram.
    Demikianlah keesokan harinya, setelah meminta diri kepada Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka, maka Ki Untara dan Ki Rangga Sabungsari berangkat ke Jati Anom. Karena kedudukannya yang baru sebagai Panglima Wira Tamtama, maka kepergian Ki Untara dikawal oleh dua puluh prajurit berkuda.
    Sedangkan dalam arah yang lain Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Lurah Swandaru Geni berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menengok adiknya Sekar Mirah yang sedang mengandung.
    Ketika matahari memanjat kaki langit setinggi penggalah, setelah meminta diri kepada Ki Patih maka mereka mulai mengikuti jalanan yang menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Mereka mengendalikan kudanya perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan. Seperti ketika berangkat, ketika kembali kedua lurah pengawalnya pun mengirinya di belakang. Hanya saja, anggota rombongan mereka bertambah karena Ki Lurah Swandaru Geni ikut dalam rombongan itu.
    Demikianlah tidak ada halangan yang berarti dalam perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh itu. Ketika sang surya sudah bergeser ke dinding langit di tepi Barat, maka rombongan kecil itu sampai di Tanah Perdikan Menoreh. Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta langsung membelok ke barak pasukan khusus dan Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Lurah Swandaru, langsung menuju padukuhan induk.
    Mereka langsung menuju ke rumah Agung Sedayu. Agung Sedayu sudah tidak sabar, seakan-akan ingin meloncat langsung masuk ke dalam rumahnya, ketika dari jauh ujung atap rumahnya sudah terlihat. Akhirnya mereka sampai ke regol halaman, Agung Sedayu dan Swandaru segera turun dari punggung kudanya.
    Sukra yang sudah menjelang dewasa segera menyambutnya, ia berteriak gembira lalu menyalami Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti lalu mencium tangannya. Teriakan Sukra yang cukup keras itu menarik perhatian penghuni rumah lainnya. Ki Jayaraga keluar dari pintu dan Nyi Sekar Mirah menyusul di belakangnya.
    —Kakang Swandaru—kata Nyi Sekar Mirah sambil berjalan tergopoh-gopoh dengan perutnya yang semakin membesar. Nyi Sekar Mirah memeluk kakaknya dan meneteskan air mata harunya, karena telah lama tidak berjumpa.
    —Kandunganmu sudah besar Mirah—kata Swandaru Geni.
    —Iya kakang. Sudah delapan bulan—kata Nyi Sekar Mirah.
    —Sebentar lagi Swantara akan punya adik teman sebagai bermain—kata Ki Swandaru sambil tertawa senang.
    —Sekarang Swantara sudah bisa apa kakang—tanya Nyi Sekar Mirah.
    —Wah Swantara semakin nakal saja, ia sudah berlari-lari ke sana kemari, sehingga merepotkan ibunya dan emban pemomongnya. Bahkan ia sudah bisa memanjat pepohonan yang ada di halaman rumah dan rumah tetangga—jawab Swandaru.
    —Oo ya, bagaimana dengan kakangmbok Pandan Wangi? Apakah ia dalam keadaan sehat walafiat?—tanya Nyi Sekar Mirah.
    —Kakangmbokmu sehat-sehat saja. Begitu juga ayah Demangdan Ibu—katanya.
    —Oo syukurlah. Rasanya sudah hampir setahun aku tidak berjumpa dengan ayah dan ibu—kata Nyi Sekar Mirah.
    —Ya. Mudah-mudahan mereka sehat dan bisa menengokmu kemari, jika kelak anakmu lahir—kata Ki Swandaru. Mereka kemudian naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang dianyam halus. Tidak lama kemudian Sukra muncul dengan membawa makanan kecil dan minuman di atas talam.
    Ki Jayaraga, Ki Agung Sedayu dan Ki Swandaru kemudian duduk melingkar sambil menikmati hidangan yang disediakan Sukra. Setelah menghindangkan makanan kecil dan minuman Sukra kembali ke dapur dan membantu Nyi Sekar Mirah menyiapkan makanan bagi mereka.
    Ki Agung Sedayu kemudian menceriterakan pengalamannya sejak berangkat ke Mataram, dicegat oleh orang-orang perguruan Windu Jati dari Panaraga dan cerita kenaikan pangkatnya menjadi tumenggung.
    —Sungguh pengalaman perjalanan yang luar biasa ngger—kata Ki Jayaraga.
    —Ya. Berkat aji Kendali Sukma yang Ki Jayaraga berikan, aku bisa melumpuhkan kedua lawanku, tidak membunuhnya—kata Ki Agung Sedayu.
    —Pangeran Purbaya melihat langsung pertarungan itu dan melaporkannya kepada Panembahan Hanyakrawati, sehingga beliau mengambil keputusan lain setelah mengetahui kemampuanku—kata Ki Agung Sedayu.
    —Apakah yang kau maksudkan dengan keputusan lain?—tanya Ki Swandaru.
    —Semula Panembahan akan meningkatkan pangkatku menjadi panji seperti beliau sampaikan kepadaku ketika aku menghadap dua bulan lalu—kata Ki Agung Sedayu.—Tetapi ketika beliau mendengar ceritera Pangeran Purbaya, maka beliau mengambil keputusan lain yaitu meningkatkan pangkatku menjadi tumenggung—katanya.
    —Aku semula sempat khawatir, ketika beliau sempat mengatakan akan mengambil keputusan lain—kata Ki Agung Sedayu.
    —Yang tidak kuduga, bahwa adi Swandaru juga mendapat pengangkatan menjadi lurah prajurit, meskipun tidak membawahi pasukan Mataram. Tetapi pasukannya adalah pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung. Itu sungguh merupakan penghargaan yang sangat sulit diduga—kata Ki Agung Sedayu.
    —Jadi mulai hari ini, aku harus memanggil anakmas Swandaru dengan Ki Lurah Swandaru Geni?—tanya Ki Jayaraga.
    —Benar Ki Jayaraga—kata Ki Lurah Swandaru Geni bersemangat.
    —Wah. Wah. Selamat. Selamat. Ki Lurah Swandaru Geni. Alangkah gagah namamu setelah mendapat pangkat keprajuritan—kata Ki Jayaraga. Ki Agung Sedayu pun tersenyum gembira, mendengar ucapan Ki Jayaraga tersebut.
    Tidak lama kemudian hidangan segera mengalir dari dapur yang dikeluarkan oleh Sukra. Sejenak kemudian mereka menjadi sibuk menggerumiti makanan yang dihidangkan itu.
    Setelah menikmati hidangan itu, Sukra segera membereskan tempat makanan dan minuman itu dan mencucinya di pakiwan.
    Ki Agung Sedayu, Ki Swandaru Geni dan Ki Jayaraga, kembali bercakap-cakap tentang pengalaman mereka mengikuti acara Pisowanan Agung di paseban Istana Mataram. Setelah membereskan kesibukannya di dapur, Nyi Sekar Mirah pun bergabung duduk di pendapa. Namun karena perutnya besar, ia tidak bisa duduk di atas tikar. Ia memilih duduk di atas dingklik kecil.
    Ki Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan kepada istrinya, bahwa kemarin ia telah diwisuda menjadi tumenggung di Istana Mataram. Ki Agung Sedayu pun kemudian menyerahkan serat kekancingan yang diterimanya kemarin kepada Nyi Sekar Mirah. Dengan gembira Nyi Sekar Mirah membaca serat kekancingan itu dan membolak-baliknya. Ia memperhatikan tulisan dalam huruf jawa yang terlihat rapi diatas kertas yang halus.
    —Selamat kakang. Selamat. Kakang kini menjadi seorang tumenggung. Lalu bagaimana dengan kakang Untara?—tanyanya.
    —Kakang Untara diangkat menjadi Panglima Wira Tamtama. Karena jabatan itu praktis kosong setelah terakhir dijabat oleh Ki Gde Pemanahan pada zaman Demak, yang kemudian disebut Ki Gde Mataram. Selama ini jabatan itu dipegang oleh Ki Patih Mandaraka. Lalu setelah Ki Patih sakit-sakitan, jabatan itu dipegang oleh Pangeran Purbaya. Dengan dipegangnya jabatan itu oleh kakang Untara, maka kakang Untara menyerahkan jabatannya kepada Sabungsari sebagai senapati pasukan Mataram di wilayah Selatan. Sekarang Sabungsari sudah naik pangkat menjadi rangga.—.
    —Lalu di manakah kedudukan kakang Untara?—tanya Sekar Mirah.
    —Sebagai Panglima Wira Tamtama, maka kelak kedudukan kakang Untara di Kotaraja—katanya.
    —Oo. Syukurlah. Kalau ke kotaraja kelak, aku akan bisa berbincang-bincang dengan kakangmbok Nyi Untara—kata Nyi Sekar Mirah.
    Ki Agung Sedayu tiba-tiba teringat dengan dua murid utama perguruan Windu Jati yang dilumpuhkannya di tepian Kali Praga. Ia lalu bertanya kepada Ki Jayaraga.
    —Menurut Ki Jayaraga apakah perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga, akan menaruh dendam kepadaku, karena dua orang muridnya telah aku lumpuhkan dan satu orang lagi tewas kena lemparan belati Ki Lurah Darma Samudra—tanya Ki Tumenggung Agung Sedayu.
    —Aku rasa memang akan demikian, ngger—kata Ki Jayaraga.
    Pertama, karena ini menyangkut sesama perguruan yang satu aliran. Yang kedua, dua orang murid utama itu bisa dilumpuhkan sehingga akan menjadi sumber keterangan yang berharga. Ketiga, gurunya tentu akan turun ke tlatah Menoreh ini untuk mencari Angger.
    —Karena itu, kalau boleh, aku ingin menyarankan agar Nyi Sekar Mirah diungsikan ke rumah Ki Gde, karena dengan membawa dendam yang demikian besar, bukan tidak mungkin guru dari perguruan Windu Jati di Panaraga itu melepaskan dendamnya kepada siapa saja yang ada di rumah ini.—katanya.
    —Jika demikian nanti akan aku sampaikan kepada Ki Gde, mengenai kemungkinan pembalasan dendam dari perguruan windu Jati di Panaraga kepada siapa saja yang ada di rumah ini—kata Ki Agung Sedayu. Lalu ia bertanya.—Apakah Ki Jayaraga pernah mendengar perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga?—
    —Aku baru mendengar bahwa ada perguruan Windu Jati di Panaraga. Setahuku perguruan Windu Jati ada di Madiun, yang sudah pernah angger kunjungi beberapa waktu lalu.—kata Ki Jayaraga.
    Setelah selesai membicarakan berbagai masalah, maka Ki Agung Sedayu minta diri untuk menghadap Ki Gde Menoreh.
    —Apakah adi Swandaru akan pergi bersamaku menghadap Ki Gde?—tanya Ki Agung Sedayu.
    —Baiklah. Aku akan pergi bersamamu ke rumah Ki Gde—kata Ki Swandaru. Sebelum berangkat, ia sempat memberitahukan kepada Nyi Sekar Mirah mengenai kepergiannya bersama Ki Swandaru ke rumah Ki Gde.
    —Baiklah kakang. Sampaikan salam hormatku kepada Ki Gde—kata Nyi Sekar Mirah.
    Dalam waktu tidak terlalu lama mereka telah sampai di rumah Ki Gde Menoreh. Ki Gde yang melihat kedatangan Ki Agung Sedayu dan Ki Swandaru segera tergopoh-gopoh menyambutnya.
    —Oo anakmas Swandaru. Kapan anakmas tiba?—tanya Ki Gde Menoreh menyambut menantunya.—Apakah anakmas datang bersama dari Mataram bersama anakmas Agung Sedayu?—.
    —Iya Ayahanda. Aku baru datang dari Mataram bersama kakang Agung Sedayu—jawab Ki Swandaru.
    —Mari. Mari silakan duduk di pendapa—kata Ki Gde Menoreh. Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Swandaru mulai menceriterakan undangan yang diterimanya dari Istana Mataram. Ternyata ia yang menggantikan ayahnya Ki Demang Sangkal Putung yang mengundurkan diri karena faktor usia, mendapat pangkat lurah prajurit Mataram meskipun ia tidak membawahi pasukan prajurit Mataram.
    —Kehormatan itu aku terima karena aku pemimpin pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung, dan kini menjadi pelaksana harian Demang Sangkal Putung—katanya.
    —Syukurlah kalau demikian—kata Ki Gde Menoreh.—Mengenai kakang Agung Sedayu, biarlah kakang sendiri yang menceriterakannya kepada Ki Gde Menoreh—katanya.
    Ki Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan pengalaman perjalanannya bersama dua orang lurah prajurit. Di tengah perjalanan, di tepi Kali Praga ternyata ia harus bertempur dengan dua murid utama perguruan Windu Jati dari Panaraga.
    Dua orang berhasil dilumpuhkan, seorang tewas dan seorang lagi melarikan diri.
    —Yang aku khawatirkan adalah aksi balas dendam dari saudara seperguruan Ki Bargas dan Ki Bergawa itu, karena jika aku ke barak, Sukra ke banjar kademangan induk dan Ki Jayaraga ke sawah, maka yang ada di rumah hanya Nyi Sekar Mirah—kata Ki Agung Sedayu.
    —Tentu mereka bisa melepaskan dendam kepada siapa saja yang ada di rumah, apalagi istriku dalam keadaan hamil besar—katanya.
    —Jadi apa yang dapat aku lakukan, anakmas?—tanya Ki Gde Menoreh.
    —Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diharapkan, untuk sementara aku ingin menitipkan Nyi Sekar Mirah di sini, Ki Gde—kata Ki Agung Sedayu.
    —Tentu saja aku tidak berkeberatan anakmas—katanya.
    —Ini hanya sementara saja Ki Gde, jika besok aku sudah ke barak, aku tentu bisa menugaskan satu dua orang prajurit untuk ikut mengawasi rumah Ki Gde ini dan rumahku—kata Ki Agung Sedayu.

    o (Bersambung ke Jilid 402)

    • Matur Nuwun Ki agus

      • Ki Agus Matur Nuwun

    • matur nuwun ki agus

    • wah..matur nuwun KI Agus S.Soeseno..ceritanya..mantab..poll..kayak reinkarnasi SHM. Ikut berdoa..semoga diberi kesehatan dan kesempatan melanjutkan cerita bukan ADBM..Matur nuwun

  64. Siipp…………..
    Terimkasih Ki Agus

  65. trimakasiih sangeet :D

  66. Lho lo ternyata aku ketinggalan.
    Kalau tidak mencari SUNdss 2 digandok ini tidak tahu kalau sudah ketinggalan jauh.
    Matur nuwun Ki Agus,
    Matur nuwun Ki Arema.
    Sugeng enjang

    • Saya juga ketinggalan …. tak malah seneng ….
      Bisa moco sak wareg-wareg-ke ……..

      Matur Suwun Ki Agus,
      Ki Seno …. SUNdiSS-03 nya mak Nyuss….. juga!

  67. Lanjutken…

  68. Wah… lama ngga main ke sini. Untung dipaksa Ki Arema :).
    Matur nuwun sanget Ki, atas paksaannya… dan juga matur nuwun kagem Ki Agus atas gembolannya, serta upaya meneruskan ADBM dalam bentuk Bukan ADBM. Tetap semangat Ki…

  69. Mantaaaappp …. terima kasih Ki Agus, saya tunggu kelanjutannya … ngomong-ngomong kabarnya Glagah Putih dan Rarawulan gimana yaa ?

    • Glagah Putih jangan dibuat seperti Demang Kepandak nJih … mesakake Rara Wulan …..
      Aku iso diuber-uber …..

  70. Semakin seru… dan semakin penasaran…
    Ki Agus emang digdaya…
    Ditunggu kelanjutanya dan jangan lama-lama

  71. @Kakang Panji: Sstt dilarang spoiler…hahaha….

  72. @ki satriow,Ki Arema, Ki Yudha Pramana, Ki Honggopati, Ki Tole, Kakang Panji, Ki Begundal lan sederek sedoyo, matur nuwun ugi sampun nyemangati kulo.

    • selamat sore ki Agus,

      selamat sore cantrik-mentrik
      “bukan Adbmers”
      tetep semangaaat….!!!

  73. Hehehehehe …. gak ada maksud spoiler apalagi ngogrok-ngogrok … hanya mau ngasih tau rasa penasaran dan pengen cepet2 baca lanjutannya

    • Waduh…. jangan begitu Ki Panji.. nanti level sakauw-nya makin meninggi… bisa gawat nanti. Ki Agus yang dioyak-oyak cantrik sepadepokan. he he he

  74. Hahahaha…becanda Ki. Sabar aja ya..

  75. Ternyata tidak sia-sia keberadaan padhepokan Manusia Bercambuk.
    Selalu tetep semangat…..lanjutkan!!

  76. salutttttttt buat ki agus……maaf ki agus klo boleh memberikan masukan …..imajinasi ki agus saya rasakan sudah hampir mendekati alur cerita ADBM yang sebenarnya hanya perlu penuangan yang agak di perluas gaya bahasa dan tulisan dari perilaku tokoh yang terlibat didalamnya juga kondisi waktu kejadian sehingga bisa bertaut dengan cerita aslinya,klo ki agus dng penuangan gaya bahasa yang saat ini malah mirip kho ping hoo,terlalu singkat.Padahal di seri ke 1 itu bisa diperpanjang menjadi 2 atau 3 seri klo memakai gaya bahasa SHM.Dan untuk melindungi hak cipta anda,nama tokoh di cerita anda bisa diganti maksud saya karena tokoh tokoh dalam cerita anda itu sudah anda wisuda dengan kekancingan resmi,sehingga bisa menghidarkan anda dari tuduhan menjiplak mungkin beberapa nama sama bukan masalah lagitapi untuk tokoh sentralnya itu yang paling penting.Biasanya seseorang yang sudah di wisuda pasti mempunyai nama gelar.Dan untuk masalah hukum anda tidak usah kwatir karena anda mempunyai hak cipta sendiri apalagi ini tidak di perjual belikan dan hanya untuk ADBM’mers,mungkin klo anda berniat membuat bukunya itu lain lagi.

    • @KI Tambak Manyar: Terima kasih atas masukannya Ki.
      @KiKompor, Kakang Panji & Ki Honggopati: matur nuwun.

  77. We ladalah, ketinggalan aku, Padhepokan Manusia Bercambuk urip maning !

  78. Lah .. dari dulu sebenarnya urip .. cuman lagi pada sakauw nungguin lanjutannya

  79. Sugeng enjang Ki Agus.
    Mugi tansah pinaringan sehat.
    Tansah nyadong kelanjutanipun.
    Matur nuwun.

  80. Salut buat ADBMers …. ternyata secara grafik yang saya baca di SUNdSS-4 masih tinggi … itu tandanya paca cantrik & mentriknya masih tetap cinta pada ADBMers … sebagai pengikat kuat.
    Untuk para sesepuh padepokan ADBMers … maju terus
    Untuk Ki Agus … ojo lali lo yaa … banyak yang nunggu kelanjutan ceritanya.

  81. Sudah lama sekali nggak mampir padepokan, ternyata ada yang ngedap-edapi … whe ladalah … ternyata ada kembaran Ki SHM di sini … kelanjutan cerita senantiasa ditunggu … matur suwun.

  82. ki Agus monggo di lanjut, enyong ngantri kene

  83. Maknyus banget……..

  84. Selamat untuk Ki Tumenggung Agung Sedayu,…. ,tapi ada satu pertanyaan… pada episode yang mana diceritakan tentang kunjungan Agung Sedaya ke Perguruan Windhu Jati Cabang Madiun ? Silakan dilanjut Ki Agus….

    • Sebelum perang Madiun Ki… Murid utamanya dikalahkan Ki AS..

  85. Sugeng enjang Ki Agus.
    Sugeng enjang kadang ADBMers sedoyo.

  86. Ki Agus, mohon maaf, kalau menceritakan kronologis kerajaan dari Majapahit Demak koq terus Mataram, Pajang kok nggak disebut-sebut.

  87. matur nuwun ki Agus candhakipun adbm versi enggal puniko
    salajengipun kulo tenggo malih , matur sembah nuwun .

  88. sekedar usul saja, bolehlah halaman terakhir di letakkan di depan? Jadi posisinya menjadi 6 5 4 3 2 1.
    terimakasih.

    • hikss…
      bisa diajarin Ki, ilmu WP-nya belum sampai di situ.

      • menurutku sih bagus yang sekarang Ki..

        • Ngestoaken Ki

  89. Sugeng dalu Ki Arema,
    Sugeng dalu Ki Agus Sedayu.

  90. malam minggu sambang Padepokan

    selamat sore menjelang malam,
    antri nunggu wedaran…..!!!!

  91. Ki agus nyuwun sewu,menurut beberapa referensi yang sempat saya baca & juga melihat dari cerita Ki SHM sebelumnya, pangeran Purbaya itu adalah Putra panembahan Senopati dengan Putri Kiageng giring, sedangkan versi Ki SHM saudara dari Panembahan senopati yang juga merupakan pamanda panembahan hanyokrowati adalah pangeran mangkubumi, pangeran gagak baning yang jadi adipati pajang dan pangera singasari yang sampai cerita terakhir masih setia mendampingi panembahan hanyokrowati. nah satu hal lagi koreksi dari saya (maaf)kiageng pemanahan yang bukan panglima wiratamtama kerajaan demak tapi kerajaan Pajang, karena beliau adalah saudara seperguruan sultan pajang yang masa mudanya bernama mas karebet. Nuwun

    • pangeran purbaya adalah suatu jabatan, jika pangeran yang bersangkutan meninggal atau mendapat jabatan lain akan digantikan oleh pangeran yang lain, seperti juga pangeran demang tanpa nangkil

  92. sugeng enjang poro sanak kadang lan dulur wonten padepokan.sambil menunggu karya ki Agus saya usul untuk anda tentang ilmu2 yang di punyai tokoh tokoh karya anda itu seperti ilmunya AS yang berbentuk angin pusaran itu kalau ga salah di kitab mantrawedha yang pernah saya baca sekilas namanya Bayu tantra.sebetulnya ilmu2 yang ada di cerita SHM dan yang anda sebut2 itu kayaknya masih ada hingga saat ini tapi cara memperolehnya lumayan susah dan butuh waktu yang amat panjang.

  93. Sugeng enjang Ki Sanak
    Sugeng enjang Ki Agus Sedayu.

  94. Met pagi

  95. Sugeng tepang Ki Agus Sedayu…

  96. derek ngisi presensi saja..
    salam tepank bagi yang belum tepank..
    sugeng sonten sedanten.. :)

  97. Nuwun sewu Ki Agus Sedayu, sampun pinten-pinten dinten kulo tenggo wonten segoro kidul nanging Jung saking Mataram kok dereng berlayar nggih, punopo dereng dados ?

  98. @Ki Agus Sedayu,
    Saya sedang baca buku Laskar Sabrang karya Purwadmadi Admadipurwa, di sini Sultan Mataram juga sedang mbangun armada laut malah dengan mbendung Kali Opak menjadi Samudro Yoso, buat tempat berlatih prajurit laut Mataram. Saya jadi ingat Ki Agus dengan armada lautnya, yah mungkin bisa jadi referensi.
    Nuwun.

  99. tenyata masih berlanjut

  100. Sugeng dalu Ki Agus Sedayu.
    Nderek sowan.
    Monggo dilajengken nyeratipun, kulo sabar ngrantos.

  101. Sugeng dalu para sederek sedoyo:

    @ Ki Yudha Pramana: Sugeng dalu
    @ Ki No Name: Matur nuwun koreksinipun
    @ Ki Tambak Manyar: Angsal maos dateng pundi meniko? Kulo saged sinau dateng pundi Ki?
    Ki Honggopati : Sugeng dalu
    Ki Himawan: Met malem juga, salam tepang
    Ki Pembarep: Salam tepang ugi
    Ni/Nyi Nunik: Salam tepang ugi
    Ki Jokowono: taksih nyangsang ing segoro manah
    Ki Truno Podang: saged diwaos dateng pundi Ki?

    Sabar rumiyin nggih…

    • minggu pagi….mampir Padepokan
      bukan Adbm-ya ki Agus Sedayu.

      sugeng enjang ki Agus
      sugeng enjang adbmers

      tetep semangaaat……..!!!
      ki TP bilang semangaaat pagi,

  102. monggo ki agus,panjenengan saged mbikak wonten kitab primbon bethaljemuradhamakna,athashaduradhamakna, lhukmanakhimadhamakna,manthrawara pecahan dari lhukmanakimadamakna.kalau kebetulan ki agus asli MALANG bisa di lihat di toko buku paling lengkap itpun kalau toko itu masih ada.

  103. Sugeng enjang,
    sugeng dinten minggu,

    sampun sakwetawis wekdal boten mampir padepokan punika jebul sampun wonten pelajaran enggal “Bukan ADBM”.
    ngaturaken apresiasi ingkang mirunggan dumateng ki Agus Sedaya

    Nuwun

  104. Matur nuwun Ki Tambak Manyar
    Kulo sanes asli Malang, Ki. Kulo sakmenika mondok ing tlatah Tangerang. Kala rumiyin bapak kulo kagungan buku primbon adammakna, nanging sakmeniko mboten sumerap sampun dateng pundi. Kulo cobi madosi dateng toko buku ing Jakarta lan Tangerang, nanging kula mboten kepanggih. Menawi saged kula nyuwun tulung dipun padosaken. Nyuwun tulung dikabari ing gandok nawala kula agussoerono@yahoo.com

    • Ki Agus.. kalau boleh tahu.. Tangerang-nya dimana..? ya.., Saya juga di Tangerang, Tanah Tinggi

  105. sugeng injing ki/nyi sanak

  106. sugeng enjang ki Agus Sedayu
    sugeng enjang cantrik-mentrik Adbmers

    hadir ki,

  107. Ki agus kalo kesulitan referensi sebenarnya bisa juga wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram

  108. antri karo tingak tinguk sing nggawa klasa sapa ya? arep nunut…..xixixix…

  109. Setelah tobat beberapa bulan, akhirnya … SAKAAAWWW… lagi

  110. <<<cantrik ketriwalllll
    langsung gpoh2 krungu lanjutan abdm
    langsung babad ludessss
    bahaya banget pancen wong seng kahausan ABDM
    wakkkkkkkkkkk
    matur tq kanggo sesepuh padepokan sedoyo

  111. antri nunggu wedaran bukan Adbm-402,
    karya ki Agus Sedayu.

    monggo ki,selamat siang
    menjelang sore……!!!

    • selamat sore ki yudha, apa kabar ?

      • Alhamdulillah sehat ki,

        malam2 nginguk Gandok meneh
        siapa tau ki Agus S….wedar
        bukan Adbm,

        hikss, sakaaaw….!!!

        • Antri meneh… mburine Ki Yudha

          • mburine sing mburi dewe

            • mburine mburi sing mburi dewe….!!!

              kok yo podo rebutan
              dadi mburi….hiks2

              mbuncit dewe,

              • ora kok ki, tapi cen nang mburine kok ;-) sugeng sonten

  112. bukan ADBM wis tamat apa urung ya?

  113. sedang sabar menunggu kelanjutan bukan adbm

  114. @Poro Sutresno Bukan ADBM,
    Ketingalipun Ki Agus Sedayu saweg wonten sandungan kangge nerasaken lelampahanipun pun Tumenggung Agung Sedayu. Mbok menawi Ki Agus piyambak menopo Ki Laz sa’yoginipun ingkang ngaturaken dumateng poro sutresno, supados poro sut puniko boten nenggo2 ingkang boten wonten, …….. sumonggo Ki Agus, Ki Laz!

    • waduh, wonten sandungan nopo Ki ?

    • iya kok gak ada kabar beritanya ya??? semoga baik-baik saja

  115. Wonten menapa nggih, kok ketingalipun radi sulaya

  116. mohon maaf ki agus seandainya saya saat ini ada di malang pasti akan saya kirimi buku buku tersebut,tapi saat ini saya jauh dari keluarga mungkin baru bisa pulang ketanah air pertengahan tahun 2011 habis kontrak kerja saya,mungkin anda bisa menghubungi saudara saudara kita yang ada di jogya atau solo.sekali lagi saya mohon maaf.

    • Matur nuwun Ki Tambak Manyar. Panjenengan tugas dateng pundi?

  117. oh ternyata sudah tamat tanpa pemberitahuan to :D

  118. Ki Agus, silahkan dibuka emailnya…
    Saya coba kirim sesuatu, mudah2an bermanfaat dan menambah semangat Ki Agus untuk meneruskan cerita ADBM

    • Matur nuwun KiBegundal. Menopo Ki Begundal=Ki Agus Wibowo?

      • Sst.. sesama Agus dilarang membuka rahasia..
        Tapi syukurlah kalau Ki Agus S. masih tetap semangat.. Kami tunggu lanjutannya lagi

  119. Nyuwun pangapunten sederek sedanten. Seri 402 niki radi dangu kula wedar. Saknanipun kula taksih nengga izin sangking kulawarga Ki SHM, dadosipun radi kirang semangat. Nanging kula sampun sepalih dados (nembe 50 kaca) ndamel seri niki. Langkung becik kula wedar kemawon. Sinambi nengga izin kulawarga Ki SHM, kula nggih sedeng ndamel novel sejarah sanesipun. Menawi sampun dados, kula kabari.
    Sugeng sakaw…. (Hikksss).
    Sumonggo…..(hiksss)

    ******

    Api di Bukit Menoreh
    Seri V-02
    Membangun Armada Laut
    Yang kuat bagi Mataram

    Oleh Ki Agus S. Soerono
    ———————————————————————————
    Demikianlah mereka berbincang mengenai berbagai hal yang menyangkut keluarga mereka. Ki Gde Menoreh menanyakan tentang cucunya Swantara, yang tentunya sedang lucu-lucunya.
    —Ayah Demang menjadi kewalahan mengatasi anak kecil itu—kata Swandaru.—Anak itu suka berlari ke sana kemari dan memanjat semua pepohonan yang ada di halaman rumah—.
    Ki Gde Menoreh mengerutkan keningnya.
    —Bukankah Swantara belum berumur empat tahun?—tanyanya.
    —Belum ayah. Tetapi ia sudah lincah sekali bermain ke sana kemari. Ada saja gagasannya yang lucu-lucu membuat semua orang tersenyum, bahkan tertawa lebar—kata Swandaru.
    —Oo. Alangkah lucunya—kata Ki Gde Menoreh.—Kalau aku masih kuat berkuda tentu aku ingin pergi menengok cucuku yang lucu dan nakal itu.—.
    —Ayah, biarlah kelak jika Sekar Mirah sudah melahirkan, aku, Pandan Wangi dan Swantara yang datang kemari menengok adik kecil yang baru lahir—kata Ki Swandaru.
    —Baiklah jika demikian. Aku juga sudah tidak bisa lagi memaksakan diri untuk pergi ke Sangkal Putung, apalagi kondisi kesehatanku yang sudah tidak memungkinkan karena cacat di kaki ini—kata Ki Gde Menoreh.
    Ki Gde Menoreh termangu-mangu sejenak.
    Memang sejak luka-luka di punggungnya setelah berperang tanding dengan Ki Tambak Wedi dahulu, kondisi kesehatan Ki Gde Menoreh tidak bisa pulih seperti sedia kala, terutama cacat pada salah satu kakinya itu. Namun sebagai seorang yang mempunyai kelebihan wadag dan jiwani daripada orang kebanyakan, maka hal itu tidak menjadikan Ki Gde Menoreh menjadi berkecil hati.
    Setiap hari Ki Gde Menoreh masih sempat meluangkan waktu untuk masuk ke ruangan sanggarnya untuk melatih kondisi tubuhnya agar tetap tegar. Selain itu, Ki Gde juga meningkatkan kemampuannya untuk bergerak lincah, meskipun hanya mengandalkan bertumpu pada satu kaki. Bahkan Ki Gde Menoreh lebih banyak berlatih untuk meningkatkan tenaga cadangannya. Ternyata dengan bekal tenaga cadangan yang bisa dibangkitkannya, Ki Gde sudah bisa merambah ke peningkatan kemampuannya dalam menggunakan ilmu pamungkasnya. Seperti halnya dengan anaknya—Nyi Pandan Wangi—ternyata Ki Gde Menoreh mulai mengenali kemampuan ilmunya yang bisa mendahului bentuk wadagnya dalam mencapai sasaran. Ki Gde tak henti-hentinya melatih pengenalan atas ilmunya itu, meskipun secara kewadagan ia sudah merasa mulai menyusut kemampuannya. Namun pengenalan itu membuatnya semakin maju dengan pesat dalam menggeluti ilmu pamungkasnya itu.
    —Bagaimana dengan Ki Widura dan anakmas Untara?—tanya Ki Gde Menoreh yang tiba-tiba teringat dengan kedua kerabatnya itu.
    —Kalau Ki Widura sekarang menyibukkan diri dengan mengurus padepokan kecil Orang bercambuk peninggalan Kiai Gringsing. Bahkan putera kakang Untara—Wira Sanjaya—kini berguru di padepokan itu.—kata Ki Swandaru.
    —Oh ya? Bagaimana kabarnya Ki Untara—tanya Ki Gde Menoreh pula.
    —Kakang Untara mendapat kepercayaan untuk menjadi Panglima Wira Tamtama, suatu jabatan yang sejak lama kosong setelah Ki Gde Pemanahan mendirikan Mataram. Jabatan itu dijabat Ki Gde Pemanahan pada zaman Pajang—kata Ki Agung Sedayu.
    —Oo. Syukurlah. Aku Ikut senang mendengarnya. Apakah Ki Untara akan berkedudukan di Kotaraja?—tanya Ki Gde Menoreh.
    —Iya ayah. Kakang Untara yang kini bergelar Ki Prabayudha itu berkedudukan di Kotaraja. Sedangkan jabatan kakang Prabayudha digantikan oleh adi Sabungsari yang kini sudah berpangkat rangga.—kata Ki Swandaru Geni menimpali.
    —Lalu anakmas Agung Sedayu juga mendapat gelar kekancingan?—tanya Ki Gde Menoreh. Ki Agung Sedayu hanya terdiam, dan menunduk. Sebagaimana biasanya, ia tidak ingin menonjolkan diri. Berbeda dengan adik seperguruannya yang sekaligus kakak iparnya. Ki Swandaru Geni.
    —Iya ayah. Kakang Agung Sedayu mendapat pula gelar kekancingan Ki Tumenggung Agung Jaya Santika—akhirnya Ki Swandaru Geni yang menjawabkan untuk Ki Agung Sedayu.
    —Ki Tumenggung Agung Jaya Santika. Sebuah nama yang bagus—kata Ki Gde Menoreh. Ki Agung Jaya Santika tersipu malu mendengarnya.
    —Terima kasih Ki Gde—jawab Ki Agung Jaya Santika.
    Setelah puas bercakap-cakap, Ki Tumenggung Agung Jaya Santika dan Ki Swandaru pun meminta diri.
    —Kenapa kau tidak bermalam di sini saja. Aku tidak punya teman ngobrol. Apalagi aku jarang sekali bisa tidur di sore hari—kata Ki Gde Menoreh hendak menahan menantunya. Ki Swandaru menoleh kepada Ki Tumenggung Agung Jaya Santika. Ki Tumenggung Agung Jaya Santika pun menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
    —Jika demikian, biarlah malam ini aku menemani ayah malam ini. Bukankah kakang tidak berkeberatan?—Ki Swandaru bertanya.
    —Tidak. Tidak adi. Aku tidak berkeberatan—katanya.—Kalau demikian biarlah aku yang mohon pamit—
    Ki Agung Jaya Santika pun kemudian permisi meninggalkan rumah Ki Gde Menoreh dan kembali ke rumahnya.
    Dalam pada itu, saudara Ki Bargas dan Ki Bergawa yang dilumpuhkan oleh Ki Tumenggung Agung Jaya Santika, terus berlari menjauhkan diri dari Tanah Perdikan Menoreh. Ia merasa seolah-olah Ki Agung Jaya Santika atau anak buahnya terus mengikutinya selama dalam perjalanan.
    Ia berlari menubras-nubras pepohonan semak belukar. Ia baru merasa lega setelah matahari terpeleset di punggung bukit, dan sinarnya berubah menjadi kemerah-merahan. Bersama datangnya sang gelap malam, ia bisa bersembunyi dalam keadaan tenang. Apalagi sebagai seorang yang biasa hidup di dunia yang kelam, kegelapan adalah teman yang paling akrab untuk menyembunyikan diri. Berbeda dengan orang kebanyakan, yang justru takut bila sang gelap malam bertengger di atas marcapada.
    Setelah merasa aman dari kejaran prajurit Mataram itu, ia pun mulai mencari tempat untuk beristirahat di malam yang dingin di musim bediding seperti sekarang ini. Ketika melintasi daerah persawahan, ia melihat sebuah gubuk yang agak rapat tertutup dinding gedeg. Di sanalah ia beristirahat. Sejenak ia menajamkan pendengarannya.
    Ternyata tidak ada yang mencurigakannya. Malam itu irama malam mulai merajai suasana. Suara katak bersahut-sahutan memecah malam, ditingkahi oleh suara jangkerik, bilalang, burung kedasih, burung bence dan burung hantu.
    Sesekali terdengar suara anjing hutan melolong panjang menunjukkan pertanda kekuasaannya dari tepi hutan. Tapi lolong anjing hutan itu segera terputus, ketika dalam jarak yang tidak terlalu jauh terdengar sang raja hutan mengaum panjang. Harimau. Seekor anjing hutan yang tadinya melolong panjang, terdengar terkaing-kaing, lalu diam. Agaknya ia menjadi santap malam yang lezat bagi si raja hutan. Karena sang harimau sudah mendapat santapan malam, ia pun menyeret korbannya ke sarangnya untuk berbagi dengan betina dan anaknya. Setelah itu, malam kembali ke iramanya yang tadi.
    Saudara seperguruan Ki Bargas itu pun kemudian meletakkan tubuhnya di atas tumpukan jerami. Ia yakin harimau yang sudah kenyang itu tidak akan mengganggunya.
    Tanpa terasa ia tertidur nyenyak di tengah persawahan itu. Ketika terbangun, fajar sudah menyingsing. Cepat-cepat ia bangun, karena khawatir jika pemilik sawah itu datang, bisa mencurigainya tanpa sebab.
    Ia pun kemudian melanjutkan perjalanan. Ia sampai ke Gunung Kendeng setelah berjalan sehari penuh. Dari sana ia mencari seekor kuda milik kawannya. Ia lalu memacu kuda itu ke arah Timur menuju Panaraga.
    Dalam pada itu, di Panaraga Glagah Putih dan Rara Wulan masih terus mengamat-amati Istana Kadipaten. Ia selalu berbagi tugas dengan kawannya yang bernama Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda.
    Sudah berhari-hari Glagah Putih mengamati Istana Kadipaten, namun belum dilihatnya ada kegiatan yang berarti dari dalam Istana. Agaknya orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu bekerja sangat cermat. Ia tidak mau terburu-buru untuk menggerakkan pasukan yang akan bisa memancing kemarahan kekuatan Mataram.
    Karena itu, ketika Pangeran Ranapati mendapat kesempatan menghadap Kangjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga, ia menyarankan kepada Kangjeng Adipati untuk mulai memperkuat pasukan Panaraga.
    —Apakah yang harus aku lakukan adimas?—tanya Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga.
    —Kakangmas harus sudah mulai memberi kesempatan kepada rakyat, terutama dari padepokan-padepokan untuk mengikuti pendadaran bakal prajurit Panaraga. Dengan mengangkat prajurit baru, maka pasukan Kadipaten Panaraga akan menjadi semakin kuat, suatu kekuatan yang akan dapat diperhitungkan oleh kawan maupun lawan—kata Pangeran Ranapati.
    —Apakah hal itu sudah cukup adimas?—tanya Pangeran Jayaraga lagi.
    —Tentu belum cukup, kakangmas. Sebenarnya aku sudah menjalin hubungan dengan perguruan Windu Jati dan beberapa padepokan yang ada di Panaraga. Bahkan aku telah mengenal dengan sangat baik salah seorang murid dari perguruan itu Windu Jati…—
    —Oleh kawanku itu, aku sudah sempat dibawa menghadap gurunya. Aku lalu menyampaikan gegayuhanku dan gegayuhan kakangmas untuk menjadikan Panaraga sebuah kadipaten yang kuat untuk membayangi kekuatan Mataram, bahkan kalau mungkin membangkitkan kejayaan Majapahit di masa silam—kata Pangeran Ranapati lagi.
    —Agaknya guru aliran Windu Jati dan beberapa padepokan tersebut memberi perhatian, mempercayaiku dan ia mendukung gegayuhan yang hendak dicapai oleh Panaraga secara keseluruhan.
    —Guru aliran Windu Jati itu pun agaknya mempunyai gegayuhan yang sejalan dengan keinginan kita. Ia tidak mau kepalang tanggung, karena itu ia telah memerintahkan empat orang murid utamanya untuk menjajagi kekuatan pasukan Mataram. Keempat orang itu telah dua pekan berangkat ke Mataram, namun sampai sekarang belum kembali—katanya.
    —Jika kakangmas berkenan, aku rasa Mas Panji Wangsadrana bisa membuat wara-wara untuk segera membuka kesempatan kepada masyarakat dan murid berbagai padepokan di seluruh Panaraga untuk mengikuti pendadaran calon prajurit—kata Pangeran Ranapati.
    —Baiklah. Jika hal itu adimas anggap baik, aku akan memerintahkan Senapati Mas Panji Wangsadrana melaksanakannya—kata Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga.
    —Tapi aku mohon ampun kakangmas. Bukan maksudku untuk meragukan kemampuan kakangmas. Namun aku ingin mengingatkan kakangmas, bahwa untuk membangun kekuatan pasukan yang mumpuni, membutuhkan biaya yang sangat besar—
    —Aku paham adimas. Aku sudah siap biayanya. Namun jika biaya itu kurang maka kita dapat meminta rakyat untuk membayar pajak yang lebih besar untuk membiayai pembangunan kekuatan pasukan Panaraga.—
    —Tetapi apakah mereka tidak akan berkeberatan seandainya kita bebani lagi mereka dengan pajak tambahan?—tanya Pangeran Ranapati.
    —Tidak ada alasan bagi mereka untuk berkeberatan adimas. Bukankah selama ini mereka menikmati hasil pembangunan yang kita laksanakan seperti jalan, jembatan, bendungan dan saluran air yang membuat hasil panen mereka melimpah dan bisa dijual sampai keluar Panaraga…—
    —Nah sekarang, aku memerlukan pengorbanan mereka berupa pembayaran pajak yang sedikit lebih besar, yang pada akhirnya demi kemajuan mereka juga. Kalau Panaraga menjadi negeri yang besar, tentu mereka akan ikut pula menikmati—
    —Baiklah kakangmas, aku dapat memahami itu. Namun ada satu hal lagi kakangmas—kata Pangeran Ranapati.
    —Apa itu adimas?—tanya Kangjeng Adipati.
    —Kakangmas juga bisa mulai membangun kekuatan dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang sudah ada untuk bergabung dengan kita untuk meruntuhkan Mataram—kata Pangeran Ranapati.
    —Caranya bagaimana?—tanya Kangjeng Adipati.
    —Caranya, tentu saja dengan membuat hubungan dengan orang-orang yang tidak puas dengan bangkitnya Mataram. Kita bisa berhubungan dengan Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Di sana tentu ada orang-orang yang merasa tersingkirkan oleh berdirinya Mataram. Padahal kalau Mataram tidak berdiri, tentu seharusnya mereka yang meneruskan garis kekuasaan yang memerintah di tlatah ini—.
    —Inilah yang berbahaya adimas. Mereka tentu sangat mengetahui, bahwa aku adalah masih keturunan Panembahan Senapati—kata Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga..
    —Biarlah hal itu aku yang mengatur kakangmas—kata Pangeran Ranapati.—Bukankah kakangmas sebagai saudara tua, seharusnya lebih berhak memerintah ketimbang Panembahan Hanyakrawati…—
    —Ya itulah yang menjadi sebab aku selalu menjadi gelisah, adimas. Aku merasa seperti ada sesuatu yang selalu mengganggu perasaanku. Aku merasa tidur tidak nyenyak, makan tidak enak…—
    —Hal itu janganlah membuat kakangmas gundah gulana. Sebenarnya nasib kakangmas jauh lebih baik daripada aku. Sejelek-jelek nasib kakangmas, kakangmas masih mendapat sepetak tanah yang bernama Panaraga ini dan mendapat kekuasaan yang tidak terbatas, meskipun dalam lingkungan yang lebih kecil daripada Mataram…—.
    —Tetapi apa yang aku alami? Aku terlunta-lunta hampir sepanjang hidupku. Tidak ada seorang pun di antara keluarga Istana yang mengenalku, bahwa aku masih sanak kadang mereka. Untunglah kakangmas di Panaraga ini sempat mengadakan adon-adon untuk mencari senapati, kalau tidak…—Pangeran Ranapati mendesah.
    —Sudahlah adimas. Mungkin memang sudah menjadi garis nasib, bahwa kita pada akhirnya harus bertemu di Panaraga ini. Bukankah itu lebih baik daripada kita tidak bertemu sama sekali?—kata Kangjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga.
    —Jika kakangmas menyetujui langkah yang harus aku ambil untuk menghubungi sanak kadang kita yang kecewa dengan naiknya Panembahan Hanyakrawati, maka aku akan segera menggalang kekuatan yang bisa kita ajak untuk bergerak bersama-sama dalam satu irama untuk kebangkitan Mataram yang baru—kata Pangeran Ranapati.
    —Baiklah adimas.Tetapi adimas harus berhati-hati benar. Sebab dalam kondisi demikian ada saja orang-orang yang menjadi telik sandi rangkap. Kepada kita mereka tidak menyatakan berkeberatan, tetapi ke sana juga mereka menyatakan tidak menolak—kata Kangjeng Adipati.
    —Aku paham kakangmas. Kakangmas tidak perlu khawatir. Aku mempunyai saluran-saluran yang dapat dipercaya untuk membuat hubungan-hubungan demikian. Asal kita mempunyai dana yang cukup bisa menjamin hidup mereka dan keluarganya, maka mereka tentu bersedia untuk membantu kita.—
    —Mengenai pendanaan aku tidak merasa berkeberatan, adimas. Sebagai bekal perjalanan dan keperluan adimas untuk membangkitkan segala kekuatan yang bisa mendukung kita, adimas bawalah sekantung uang ini—kata Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga, sambil menyodorkan sekantung uang emas.
    —Terima kasih kakangmas. Kepercayaan kakangmas ini aku junjung tinggi—kata Pangeran Ranapati.
    —Untuk menyiapkan pendadaran bakal prajurit Panaraga, aku rasa Mas Panji Wangsadrana sudah mulai bisa bergerak untuk membuat wara-wara penerimaan bakal prajurit Panaraga—kata Kangjeng Adipati.
    —Benar kakangmas. Mas Panji Wangsadrana sudah dapat melakukan hal itu mulai pekan depan—kata Pangeran Ranapati.—Sedangkan aku mulai besok akan bergerak ke Jipang, Madiun dan Demak. Dengan pertanda kepercayaan dari Kakangmas, maka aku akan bisa menjalin hubungan dengan orang-orang tertentu di ketiga kadipaten itu—kata Pangeran Ranapati.
    Demikianlah Pangeran Ranapati segera bersiap-siap untuk mengadakan perjalanan ke ketiga kadipaten itu, termasuk dengan padepokan-padepokan yang bisa diajaknya bekerjasama untuk meruntuhkan Mataram.
    Sebagai langkah pertama, besok Pangeran Ranapati akan mengunjungi padepokan Windu Jati di Panaraga. Padepokan itu terletak di tepi hutan, agak tersembunyi dari jalan raya. Untuk mencapai padepokan itu, diperlukan waktu perjalanan dengan berkuda setengah hari. Namun jika ditempuh dengan berjalan kaki bisa dicapai sehari penuh.
    Namun karena Pangeran Ranapati merasa selalu dimata-matai oleh telik sandi Mataram, maka ia memilih untuk menempuh perjalanan itu dengan berjalan kaki.
    Ia memilih waktu berangkat pada wayah sepi uwong. Itupun tidak melalui regol depan maupun regol butulan istana itu, karena di sana selain ada pos penjagaan yang seantiasa dijaga prajurit pengawal, tentu kedua pintu gerbang itu selalu diamati oleh telik sandi Mataram.
    Oleh karena itu, ia memilih meloncati tembok pagar istana yang cukup tinggi itu, lalu melekat di atasnya sambil mengamati keadaan di sekitarnya untuk beberapa saat. Setelah diamatinya, ternyata tidak ada yang mencurigakan, maka ia meloncat keluar.
    Ia tidak ingin diketahui perjalanannya oleh siapa pun, karena itu ia memilih memakai pakaian orang kebanyakan. Dalam pakaian seperti itu, maka tidak akan ada orang yang memperhatikan. Ia seperti seorang pengembara yang tidak seorang pun menghiraukannya. Untuk mengatasi sengatan cahaya matahari yang terik, ia menggunakan topi bercaping lebar yang biasa dipakai petani kalau sedang menyiangi rumput di sawah.
    Pangeran Ranapati yang sebenarnya bernama Ki Karaba Bodas itu pun sudah terbiasa berjalan tanpa harus menarik perhatian orang. Ia terus berjalan menjauhi Istana Panaraga, lalu menuju jalan desa, melintas di bulak persawahan, gumuk-gumuk kecil, lalu mulai melintasi jalan setapak yang jarang dirambah manusia.
    Ia pun terus berjalan menyusuri jalan yang melalui pengenalannya menuju ke perguruan Windu Jati. Ketika cahaya di langit timur mulai semburat merah, ia menghela nafas perlahan.
    —Hampir fajar—katanya dalam hati. Namun Ki Karaba Bodas itu terus berjalan di sela-sela pepohonan hutan yang masih rapat. Semakin lama pepohonan itu semakin padat, dan ketika matahari muncul di sela-sela dedaunan ia semakin jauh meninggalkan Panaraga.
    Di tepi sungai yang airnya mengalir jernih Ki Karaba Bodas berhenti sejenak, lalu duduk mencangkung di atas batu hitam yang agak lebar dan permukaannya datar. Ia ingin istirahat di sana. Ia membuka bekal nasi yang sempat dibawanya dari Istana Panaraga. Ia pun menikmati sarapan pagi itu sambil ditingkahi gemercik suara air dan burung-burung hutan yang memperdengarkan suaranya yang merdu.
    Setelah selesai dengan santap paginya itu, tiba-tiba rasa kantuk telah menyerangnya. Ia pun membaringkan tubuhnya untuk meluruskan badan di atas bebatuan itu. Udara yang sejuk itu telah membuai matanya. Apalagi dengan perutnya yang baru terisi makanan, membuat kegiatan darah terserap ke perut untuk mengolah makanan itu menjadi sari-sari pati tenaga, untuk kemudian disalurkan ke seluruh tubuh. Suasana yang hening dan sejuk itu membuatnya menguap. Ia lalu mengucak-ngucak matanya, dan Ki Karaba Bodas pun terpelanting ke dalam dunia mimpinya.
    Namun betapa nyenyaknya pun ia tertidur, Ki Karaba Bodas segera terbangun ketika didengarnya desir halus di sebelahnya. Ia terperanjat ketika terdengar auman keras di sebelahnya, sebuah benda besar meluncur ke arahnya dengan kuku-kuku tajam terjulur ke arahnya. Segera saja ia berguling ke samping dan binatang besar yang mengaum dan mencoba menerkamnya tadi adalah seekor harimau. Harimau itu menggeram ketika menyadari bahwa mangsanya bisa menghindar dari serangannya yang mematikan itu.
    Ki Karaba Bodas segera bersiaga. Ia termangu sejenak. Seandainya ia terlambat sedikit saja maka harimau besar itu bisa mengoyak-ngoyak habis tubuhnya. Ia bergerak menyamping ketika harimau itu menerjang dengan sekuat tenaganya. Agaknya harimau itu tengah lapar, sehingga ia sudah tidak memilih lagi dalam mencari mangsanya. Manusia pun hendak diterkamnya.
    Ketika harimau itu menyambar di sampingnya, Ki Karaba Bodas segera menerjang dengan sebuah tendangan yang kuat mengenai tulang rusuknya. Harimau itu menggeram hebat lalu membalikkan badannya. Ia berpikir bahwa Ki Karaba Bodas adalah mangsa yang dapat dengan mudah disantapnya, namun ternyata ia salah menduga.
    Dengan cepat harimau itu meloncat lagi lalu menyambar dengan kedua kaki depannya, dengan menjulurkan kuku-kukunya keluar dari selaput kakinya itu. Ki Karaba Bodas kembali meloncat ke samping, lalu menangkap kaki kanan harimau itu, menariknya kuat-kuat lalu membantingnya di atas batu tempatnya berbaring tadi.
    Harimau itu mengaum hebat, namun agaknya ia telah menjadi jera. Kena dua kali serangan Ki Karaba Bodas yang sempat menyakitinya, harimau itu langsung kuncup hatinya. Ia pun menggeram kecil lalu mencoba melarikan diri. Ki Karaba Bodas membiarkan harimau itu masuk ke dalam semak-semak lalu lari ke dalam hutan yang lebih dalam untuk mencari mangsa yang lain. Sejak itu ia mulai menyadari bahwa mahluk yang bernama manusia bukan sejenis santapan yang bisa diterkamnya dengan mudah.
    Ki Karaba Bodas berdiri termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang cukup keras dari balik semak-semak. Ki Karaba Bodas berbalik dan bersiaga.
    —Aku, Ki Karaba Bodas—kata orang yang bertepuk tangan tadi.
    —Siapa kau?—katanya.—keluarlah—
    Dua buah tangan menguak semak-semak itu dan muncullah sesosok tubuh dari semak-semak itu.
    —Oo kau, adi Gondang Legi—
    —Iya kakang Karaba Bodas—jawab lawan bicaranya.—sebenarnya aku tadi sudah hampir melempar harimau itu dengan pisau belatiku. Tapi kulihat kakang sudah terbangun, jadi aku hanya menyaksikan betapa dua pukulan yang kuat sudah membuat raja hutan itu menjadi jera—kata Ki Gondang Legi.
    —Kenapa kau berada di sini—tanya Ki Karaba Bodas.
    —Aku kebetulan melintas kakang—kata Ki Gondang Legi.
    —He? Bukankah kau dua pekan lalu pergi ke Mataram berempat dengan tiga saudara perguruanmu, kenapa kau kembali sendiri—kata Ki Karaba Bodas.
    —Kami mendapat musibah, kakang—kata Ki Gondang Legi.
    —He? Musibah bagaimana?—tanya Ki Karaba Bodas dengan nada tinggi.
    —Ketika kami telah selesai menjajagi kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri—kata Gondang Legi.
    —Jadi tugas kalian gagal, he?—kata Ki Karaba Bodas.
    —Sebenarnya tugas kami tidak gagal sama sekali, karena semua keterangan tentang kekuatan Mataram sudah berhasil diketahui oleh kakang Bargas dan Bergawa—kata Ki Gondang Legi lagi.
    —Sekarang mana catatan tentang kekuatan pasukan Mataram itu?—tanya Ki Karaba Bodas.
    —Catatan itu ada pada kakang Bargas dan kakang Bergawa—kata Ki Gondang Legi.
    —Namun untunglah aku sudah sempat menyalinnya, sehingga akupun mempunyai catatan yang hampir serupa—tutur Ki Gondang Legi, sambil menepuk kampilnya yang diselipkan di pinggangnya. Maksudnya, ia telah menyimpan catatan itu dalam kampilnya itu.

    —Dan kedua kakak seperguruanmu itu berhasil dilumpuhkan oleh seorang prajurit Mataram?—tanya Ki Karaba Bodas dengan geram.
    —Iya. Keduanya berhasil dilumpuhkan oleh prajurit yang juga mempunyai ciri-ciri aliran perguruan Windu Jati—
    —He? Apakah ada saudara seperguruanmu yang mempunyai ciri-ciri perguruan Windu jati?—tanya Ki Karaba Bodas.
    —Boleh dibilang iya, boleh dibilang tidak—kata Gondang Legi.
    —He? Iya dan tidak, maksudmu bagaimana?—tanya Ki Karaba Bodas sampai terheran-heran.
    —Aku juga heran, kenapa orang itu bisa mempunyai ilmu dari aliran perguruan Windu Jati. Orang itu bukan orang yang berguru pada guruku. Aku tidak tahu ia belajar dari siapa lagi yang mempunyai aliran perguruan Windu Jati—kata Ki Gondang Legi.
    —Apakah orang itu juga bersenjata cambuk seperti kalian?—tanya Ki Karaba Bodas.
    —Iya ilmu orang itu, sangat persis dengan ilmu perguruan kami. Ia bahkan mempunyai ilmu membelah diri seperti kakang Bargas dan Bergawa. Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari—kata Ki Gondang Legi.
    —He? Prajurit itu juga bisa Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari?—tanya Ki Karaba Bodas.
    —Iya—kata Ki Gondang Legi.
    —Lalu sekarang apa rencanamu?—tanya Ki Karaba Bodas.
    —Aku akan menghadap guru—kata Ki Gondang Legi.
    —Baik. Kalau begitu aku pergi bersamamu. Kedatanganku kemari memang untuk menemui gurumu, Kiai Cambuk Petir.—kata Ki Karaba Bodas.
    —Marilah kita lanjutkan perjalanan—kata Ki Gondang Legi.
    Demikianlah mereka berdua pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan itu mereka bertukar ceritera tentang pengalaman mereka masing-masing selama mereka tidak bertemu.
    Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Tumenggung Agung Jaya Santika telah mulai kembali ke barak pasukan khusus. Di depan para prajuritnya ia menceriterakan pengalamannya ketika diwisuda sebagai seorang tumenggung bersama empat puluh orang lainnya, yang mendapat kenaikan pangkat termasuk para demang yang telah mengabdikan dirinya bagi kemajuan Mataram.
    Ki Tumenggung Agung Jaya Santika juga menceriterakan betapa ia merasa sangat terkejut ketika diumumkan bahwa pangkatnya dinaikkan menjadi tumenggung, padahal semula yang ia dengar pangkatnya hanya akan dinaikkan setingkat menjadi seorang panji.
    —Aku sangat bersyukur atas kenaikan pangkatku ini. Hal itu menunjukkan bahwa para pimpinan kita tidak menutup mata atas apa yang kita capai—katanya dengan nada rendah. Memang Ki Agung Jaya Santika adalah seorang yang bersifat rendah hati. Ia tidak pernah mengeluh ketika jabatannya, lama sekali tidak bergeraksebagai seorang lurah prajurit.
    Oleh karena itu—katanya—aku ingin agar kalian juga mengabdikan diri kalian sesuai dengan bidang kehidupan yang kalian pilih yakni sebagai prajurit.—
    —Jika kalian mengabdikan diri secara sungguh-sungguh, maka kalian akan mendapatkan anugerah yang sesuai dengan jiwa pengabdian kalian itu. Kalian harus berjuang untuk menegakkan kerajaan Mataram, sehingga negeri ini bisa menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta raharja—kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    —Sebagai seorang prajurit tugas kalian adalah menegakkan unsur tata tenteram di negeri ini. Jika tata tenteram itu sudah terwujud, maka unsur gemah ripah loh jinawi dan kerta raharja itu akan terwujud—katanya lagi.
    —Jadi unsur tata tenteram yang menjadi tugas kalian untuk menegakkannya, menjadi penentu bagi penegakan segala gegayuhan pimpinan kita dan gegayuhan masyarakat. Dengan tata tenteram petani bisa menanam padi dengan tenang, para pedagang bisa berniaga tanpa gangguan. Sehingga pada akhirnya masyarakat bisa hidup tenang dan terpenuhi segala yang menjadi kebutuhannya.—kata Ki Tumenggung Agung Jaya Santika.
    —Saya ingin menutup sesorah singkat saya ini dengan kata: Hidup Mataram. Marilah kita teriakkan dengan bersemangat: Hidup Mataram—kata Ki Tumenggung Agung Jaya Santika mengakhiri sesorahnya. Ia berteriak Hidup Mataram sambil tinjunya memukul langit.
    —Hidup Mataram. Hidup Mataram. Hidup Mataram—serentak seluruh prajurit di barak Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh berteriak membahana, seolah-oleh hendak mengguncangkan langit, menggetarkan bumi.
    Para prajurit yang termasuk dalam kesatuan pasukan khusus itu pun kemudian membubarkan diri dan melaksanakan tugas masing-masing. Yang pergi berlatih mengikuti latihan dengan penuh semangat, yang melaksanakan pembangunan armada laut di tepian Kali Praga pun melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian.
    Semangat mereka terbakar dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kemajuan Mataram. Agaknya tradisi baru yang dibangun Ki Tumenggung Agung Jaya Santika itu diperolehnya ketika saat wisuda Panembahan Hanyakrawati juga menutup sesorahnya dengan kata-kata itu: Hidup Mataram.
    Rupanya tradisi itu dengan cepat menjalar ke lingkungan prajurit yang lebih luas.
    Dalam pada itu, setelah Panglima Wira Tamtama Ki Prabayudha menyerahkan jabatannya kepada Ki Rangga Sabungsari, maka iapun berpesan kepada seluruh prajurit di wilayah Selatan yang bermarkas di Jati Anom untuk ikut menjaga ketenteraman masyarakat di sekitarnya.
    —Memang selama ini tidak atau boleh dikatakan jarang terjadi gangguan keamanan di wilayah kita di Selatan ini. Karena itu kepada Ki Rangga Sabungsari dan segenap jajarannya, saya perintahkan untuk tetap memelihara dan meningkatkan keamanan di daerah ini—kata Ki Prabayudha yang kini menjadi Panglima Wira Tamtama Mataram.
    —Mulai besok aku akan bertugas di Kotaraja sesuai dengan jabatanku sebagai Panglima Wira Tamtama. Karena itu, aku meminta dengan amat sangat agar kalian semua prajurit Mataram di wilayah Selatan ini tetap melaksanakan perintah yang ditugaskan kepada kalian, seperti sebagaimana kalian melaksanakan perintahku. Kalian jagalah keutuhan dan rasa kebersamaan di antara kalian, sehingga wilayah Selatan ini bisa menjadi contoh bagi pasukan Mataram secara keseluruhan—kata Ki Tumenggung Prabayudha dalam sesorah singkatnya.
    Setelah menyampaikan sesorahnya dan menyerahkan jabatannya kepada Ki Rangga Sabungsari, maka Ki Prabayudha berpamitan untuk menuju Kotaraja pada keesokan harinya.
    Sebelum berangkat ke Kotaraja, pada sore harinya Ki Prabayudha dan istrinya menyempatkan diri mampir ke padepokan kecil peninggalan Kiai Gringsing. Namun pamannya Ki Widura yang sekarang memimpin padepokan kecil itu sedang ke rumahnya di Banyu Asri, yang terletak tidak jauh dari Jati Anom. Sedangkan yang ada di padepokan itu adalah Wira Sanjaya dan temannya putera Ki Demang Jati Anom dan para cantrik yang sedang tenggelam dalam kesibukannya.
    —Kemanakah kakekmu, Wira Sanjaya?—tanya Ki Prabayudha kepada anaknya itu.
    —Kakek sedang ke Banyu Asri, ayah. Karena kemarin ada utusan yang mengatakan nenek sedang sakit—kata Wira Sanjaya.
    —Baiklah ayah dan ibumu akan segera ke Banyu Asri untuk menengok kakek dan nenekmu, sekalian ayah berpamitan karena mulai besok ayah harus bertugas ke Kotaraja—kata Ki Prabayudha.
    —Ayah dan ibu ke Kotaraja? Berapa lama ayah?—tanya Wira Sanjaya.
    —Mulai besok ayah bertugas sebagai Panglima Wira Tamtama, jadi ayah akan seterusnya berada di Kotaraja. Untuk sementara Wira tetap di padepokan ini, sampai kau tuntas menuntut ilmu dari kakekmu—kata Ki Prabayudha.
    —Apakah aku boleh ikut ke Kotaraja ayah?—tanya Wira Sanjaya.
    —Tentu. Tentu kau boleh ikut ke Kotaraja, setelah kau tuntas menyadap ilmu di padepokan ini. Kau pun boleh datang ke Tanah Perdikan Menoreh, karena di sana ada pamanmu Agung Sedayu yang kini mendapat gelar kekancingan Ki Tumenggung Agung Jaya Santika.—kata Ki Prabayudha.
    —He? Paman Agung Sedayu menjadi tumenggung? Luar biasa—kata Wira Sanjaya.—Iya. Pamanmu sekarang sudah menjadi tumenggung. Namun ia masih berkedudukan di Tana Perdikan Menoreh—kata Ki Tumenggung Prabayudha.
    —Wira, kau harus belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar kau dapat mewarisi ilmu olah kanuragan aliran perguruan Jati Kencana dari kakekmu Ki Sadewa dan sekaligus ilmu olah kanuragan dari perguruan Orang Bercambuk peninggalan Kiai Gringsing—
    —Baik ayah. Aku akan melaksanakan pesan ayah itu dengan sungguh-sungguh—kata Wira Sanjaya—Aku mendoakan ayah dan ibu selamat dalam perjalanan ke Kotaraja dan berhasil dalam melaksanakan tugas ayah yang baru.—.
    —Baiklah Wira Sanjaya. Terima kasih atas doamu. Jaga dirimu baik-baik. Aku dan ibumu segera berangkat ke Banyu Asri—kata Ki Tumenggung Prabayudha lagi.
    —Wira jagalah makanan, agar jangan sampai kau sakit karena terlambat makan—kata Nyi Tumenggung Prabayudha.
    Demikianlah Ki Prabayudha dan istrinya segera berderap menunggangi kuda masing-masing menuju ke Banyu Asri. Sebagai puteri seorang prajurit, ternyata Nyi Prabayudha pun terampil untuk mengendarai kuda.
    Tidak berapa lama mereka sampai di Banyu Asri dan bertemu dengan Ki Widura dan Nyi Widura. Mereka menghentikan kudanya di depan regol halaman dan menuntunnya memasuki halaman rumah itu.
    —Marilah anakmas sekalian, naik ke pendapa—kata Ki Widura.
    —Terima kasih, paman—kata Ki Prabayudha dan Nyi Prabayudha.
    Mereka lalu naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang digelar di tengah ruangan.
    —Apakabar paman? Sakit apakah bibi?—tanya Nyi Prabayudha.
    —Kabar baik anakmas. Bibimu sakit biasa. Kalau sudah seumur-umur kami ini memang sebentar-sebentar sakit, paling-paling masuk angin—kata Ki Widura.
    —Syukurlah kalau hanya sakit masuk angin saja, tidak parah-parah sekali. Semoga cepat sembuh. Bolehkah aku menengoknya ke dalam paman—tanya Nyi Prabayudha sambil berjalan masuk ke ruangan dalam.
    Ki Widura hanya tertawa saja.—Syukurlah berkat doa anakmas berdua, bibimu sudah sembuh—
    Nyi Prabayudha masuk ke ruangan dalam, tidak ditemukannya bibinya itu di dalam biliknya. Ia terus berjalan ke ruangan belakang, ternyata bibinya sedang di dapur menjerang air dan memotong-motong kue basah.
    —Wah bibi sedang membuat apa?—tanya Nyi Prabayudha.
    —Oo nyimas. Aku sedang menjerang air untuk membuat wedang jahe dan memotong juadah ini. Mari silakan duduk saja di ruang depan.—.
    —Biarlah aku membantu bibi di sini—kata Nyi Prabayudha—apakah bibi sudah sembuh?—.
    —Aku sudah sembuh nyimas—kata Nyi Widura.
    —Syukurlah bibi sudah sembuh—kata Nyi Prabayudha.
    Sementara itu di ruangan pendapa, Ki Widura dan Ki Prabayudha berbincang berdua.
    —Angin apakah kiranya yang membawa anakmas sekalian datang ke gubuk pamanmu ini—tanya Ki Widura.
    —Aku datang kemari, karena mulai besok aku harus ke Kotaraja, paman—kata Ki Prabayudha.
    —Berapa lamakah anakmas akan ke Kotaraja—tanya Ki Widura lagi.
    —Mungkin dalam waktu yang cukup lama, paman—jawabnya pula.
    —Maksud anakmas, anakmas akan pindah ke Kotaraja?—tanya Ki Widura lagi.
    —Iya paman. Beberapa hari yang lalu aku mendapat panggilan ke Kotaraja. Ternyata aku diwisuda menjadi Panglima Wira Tamtama, suatu jabatan yang kosong sejak ditinggalkan oleh Ki Gde Pemanahan pada zaman Pajang dulu.—jawab Ki Prabayudha.—Wah syukurlah. Aku sangat bersyukur dan berbangga hati anakmas yang kemanakanku mendapat kehormatan menjadi Panglima Wira Tamtama—kata Ki Widura dengan wajah tulus.
    —Kali ini kebanggaan paman berlipat dua—kata Ki Prabayudha.
    —Kenapa ngger?—tanya Ki Widura.
    —Karena kemanakan terkasih paman yang lain juga mendapat anugerah menjadi tumenggung—kata Ki Prabayudha.
    —He? Apakah maksudmu Agung Sedayu—tanya Ki Widura setengah tak percaya.
    —Bukan. Bukan Agung Sedayu paman. Tapi Tumenggung Jaya Santika—kata Ki Tumenggung Prabayudha sambil mengulum senyumnya yang hampir meledak menjadi tawa.
    —Siapakah Tumenggung Jaya Santika itu ngger? Anakmas sudah membuatku bingung. Rasanya aku tidak mempunyai kemanakan bernama Jaya Santika—katanya sambil mengernyitkan alisnya yang sudah berwarna putih semua.
    —Hahaha. Agung Sedayu itulah sekarang yang bernama Tumenggung Jaya Santika paman. Adi Agung Sedayu mendapat gelar kekancingan Ki Tumenggung Jaya Santika. Lengkapnya Ki Tumenggung Agung Jaya Santika—kata Ki Tumenggung Prabayudha sambil tertawa lebar.
    —Oo syukurlah. Aku menjadi semakin berbangga dengan keberhasilan kalian di bidang keprajuritan. Kalian berdua jauh melebihi tingkat kepangkatanku yang hanya mentok sebagai seorang rangga. Meskipun orang-orang lebih akrab menyebutku sebagai Senapati Widura.—katanya.
    —Iya paman. Keberhasilan paman itulah yang mendorong kami untuk ikut maju. Meskipun pada saat awalnya, memang agak lambat bagi adi Agung Sedayu—kata Ki Prabayudha.
    —Kalau anakmas Agung Sedayu mendapat gelar kekancingan Ki Tumenggung Agung Jaya Santika, gelar apakah yang anakmas peroleh?—tanya Ki Widura.
    —Namaku berubah. Namaku menjadi Prabayudha. Ki Tumenggung Prabayudha, paman—jawab kemanakannya itu.
    —Oo. Alangkah bahagianya kakang Sadewa, kalau mendengar bahwa kedua anaknya menjadi orang yang terpandang—kata Ki Widura. Tanpa terasa air matanya menitik. Air mata haru. Untuk mengalihkan pembicaraan, Ki Prabayudha menanyakan kemajuan latihan dan ilmu olah kanuragan yang dicapai oleh anaknya Wira Sanjaya dan temannya, anak Ki Demang Jati Anom.
    —Bagaimanakah kemajuan Wira Sanjaya dan kawannya itu paman?—tanya Ki Prabayudha.
    —Mereka agaknya telah belajar dan berlatih dengan bersungguh-sungguh, anakmas—kata Ki Widura.—Wira Sanjaya agaknya sudah merambah ke dalam pengolahan tenaga cadangannya. Ia mendapat kemajuan yang cukup berarti pada usianya yang boleh dibilang masih sangat muda.—
    —Apakah hal itu tidak membahayakan baginya paman?—tanya Ki Prabayudha.
    —Tidak anakmas. Dengan selalu dalam pengawasanku, Wira Sanjaya sudah mampu mengatasi saat-saat tersulit dalam mencapai tenaga cadangannya. Kini ia tinggal memupuknya saja.—jawab Ki Widura.
    —Atas seizin anakmas, aku akan menggembleng Wira Sanjaya dalam dua aliran perguruan yang berbeda yaitu perguruan Orang Bercambuk dan aliran perguruan Ki Sadewa yang sebenarnya bernama aliran Jati Kencana.—kata Ki Widura lagi.
    —Baik paman. Hal itu akan baik sekali bagi Wira Sanjaya. Kebetulan aku sudah mendalami keduanya, namun tidak terjadi benturan ilmu di antara keduanya—kata Ki Prabayudha.
    —Semoga aku berhasil melatih anak itu agar bisa menjadi generasi penerus yang mumpuni—kata Ki Widura.
    —Iya paman. Aku titipkan pengasuhan anak itu kepada paman—kata Ki Prabayudha.
    —Tentu saja anakmas. Wira Sanjaya juga adalah cucuku. Aku tetap mempunyai kepentingan agar Wira Sanjaya bisa menjadi anak yang membanggakan bagi orang tuanya, dan juga bagi gurunya.—kata Ki Widura lagi.
    Demikianlah sambil berbincang, tak berapa lama Nyi Prabayudha mengeluarkan makanan dan minuman ke pendapa. Nyi Widura dan Nyi Prabayudha pun ikut bersimpuh di pendapa itu sambil mereka bercakap-cakap.
    —Apakah anakmas Nyi Prabayudha tidak canggung mengendarai seekor kuda ke mari—tanya Nyi Widura.
    —Aku sejak kecil sudah terbiasa berkuda, bibi—jawab Nyi Prabayudha.—Karena ayahku juga seorang prajurit pada zaman Pajang seperti paman Widura.—
    —Oo. Syukurlah. Kalau aku sejak kecil sudah takut melihat kuda. Apalagi kalau harus menaikinya—kata Nyi Widura.
    —Aku berani naik kuda, karena ayah memiliki kuda dan aku dilatihnya menunggang kuda itu. Mula-mula aku memang agak gamang, bibi. Seluruh badanku berkeringat dingin. Tetapi lama kelamaan, aku terbiasa dan tidak merasa takut lagi.—kata Nyi Prabayudha.
    —Namun sekarang tenagaku tidak sekuat dulu lagi. Ketika mau naik ke atas punggung kuda tadi, aku harus dibantu oleh kakang—kata Nyi Prabayudha.
    Demikianlah mereka berbincang-bincang cukup lama, karena sebagai sanak kadang telah lama mereka tidak bertemu. Ketika menjelang senja, Ki Prabayudha sekalian berpamitan untuk sekaligus berangkat ke Kotaraja pada keesokan harinya.
    Pada keesokan harinya, Ki Prabayudha menyiapkan segala perlengkapan yang harus dibawanya ke Kotaraja. Sebuah kereta yang dihela dua ekor kuda telah disiapkan untuk membawa barang-barang milik pribadi yang harus dibawa ke Kotaraja. Nyi Prabayudha duduk di dalam kereta, sedangkan Ki Prabayudha duduk di sebelah sais. Sepuluh orang pengawal berkuda di depan kereta dan sepuluh orang lainnya berkuda di belakang kereta.
    Sebenarnya Ki Prabayudha kurang suka bepergian mempergunakan kereta seperti itu. Namun karena dalam perjalanan ini ikut Nyi Prabayudha, maka ia tidak bisa menolak ketika Ki Rangga Sabungsari menyediakan sebuah kereta berkuda untuknya.
    —Kalau kakangmbok juga harus berkuda, akan kasihan sekali kakang. Perjalanan ini cukup jauh—kata Ki Rangga Sabungsari berkilah.
    Demikianlah setelah segala sesuatunya siap, Ki Rangga Sabungsari dan seluruh prajurit Mataram wilayah Selatan di Jati Anom memberi penghormatan sekali lagi. Matahari baru setinggi sepenggalah. Dan kereta berkuda itu berderap diiringi prajurit pengawal berkuda sepuluh orang di depan dan sepuluh orang di belakang.
    Ketika matahari sudah hampir tergelincir di punggung bukit sebelah Barat, rombongan Ki Prabayudha dan pasukannya telah memasuki batas Kotaraja. Setiap orang yang melintas memperhatikan kereta berkuda dan para pengawalnya itu. Namun karena kereta cukup cepat berpacu, mereka tidak bisa melihat secara jelas siapakah yang menaiki kereta tersebut.
    Ketika mendekati regol halaman Istana, kereta tersebut berjalan kian lambat. Lurah prajurit yang memimpin pasukan pengawal berkuda itu segera melapor kepada lurah prajurit jaga yang berada di regol.
    —Silakan. Silakan langsung ke pendapa . Aku telah mendapat perintah untuk mengantarkan rombongan Panglima langsung ke depan pendapa—kata lurah prajurit itu.
    Panglima Wira Tamtama Ki Prabayudha dan Nyi Prabayudha disambut oleh Pangeran Purbaya di depan pendapa Istana. Sedangkan pasukan pengawal berkudanya, menambatkan kuda masing-masing di tempat yang telah disediakan di halaman dalam di kiri kanan regol.
    —Marilah Ki Prabayudha sekalian, naiklah ke pendapa—kata Pangeran Purbaya.
    Mereka pun lalu duduk di atas sehelai tikar lebar yang digelar di pendapa itu. Pangeran Purbaya masuk sejenak ke ruang dalam Istana dan beberapa saat kemudian keluar lagi.
    —Panembahan Hanyakrawati berkenan menerima kalian berdua di ruangan dalam—kata Pangeran Purbaya—marilah aku antarkan—
    Mereka pun kemudian masuk ke ruangan dalam Istana Mataram yang bersih dan megah itu. Nyi Prabayudha yang belum pernah memasuki istana itu sempat memperhatikan pertamanan istana itu yang diatur rapi. Bunga berwarna-warna tumbuh di halaman istana, sehingga nampak asri. Di depan Istana itu tumbuh sepasang ringin kurung. Selebihnya lapangan rumput hijau yang membuat Istana itu nampak berwibawa.
    Atap istana itu disangga oleh sejumlah pilar kokoh yang menambah kewibawaan Istana itu.
    Di dalam pendapa istana, pada dinding kiri dipasang lukisan-lukisan besar yang indah. Seperti lukisan pemandangan, lukisan sekelompok kuda putih, dan agak ke sudut lukisan seorang wanita cantik dalam busana hijau seperti menari di atas alunan gelombang.
    Pada dinding kanan dipasang gambar pendiri Mataram yaitu Ki Gde Pemanahan yang kemudian disebut Ki Gde Mataram, lalu di sebelahnya gambar Panembahan Senapati yang sebelumnya bergelar Senapati Ing Alaga. Dan di sebelahnya lagi gambar Panembahan Hanyakrawati.
    “Marilah Nyi dan Ki Prabayudha, silakan masuk. Panembahan Hanyakrawati berkenan menerima kalian di ruangan dalam—sekali lagi Pangeran Purbaya mengingatkan mereka berdua yang masih tertegun menyaksikan Istana dan kelengkapannya.
    Ternyata Panembahan Hanyakrawati berkenan menerima mereka berdua di ruangan khusus yang lebih kecil. Hanya orang-orang yang sangat penting saja diterima oleh Panembahan Hanyakrawati di ruangan itu. Panembahan Hanyakrawati sudah duduk di atas dampar kencana yang terdapat di dalam ruangan itu. Di sebelahnya terdapat sebuah dingklik kecil dan di depannya terhampar permadani tebal yang bergambarkan motif-motif sangat indah.
    —Marilah Tumenggung Prabayudha sekalian, silakan masuk—kata Panembahan Hanyakrawati ketika Ki Prabayudha nampak ragu-ragu di depan pintu.
    Ki Prabayudha dan Nyi lalu berjalan sambil berjongkok menuju ke permadani di depan dampar kencana. Sedangkan Pangeran Purbaya duduk di atas dingklik di samping Panembahan Hanyakrawati.
    —Hamba berdua menyampaikan sembah pangabekti kepada Panembahan Hanyakrawati—kata Ki Prabayudha sambil menakupkan kedua tangannya di depan hidung. Istrinya pun melakukan hal yang sama.
    —Terima kasih, Prabayudha sekalian, sembah pangabekti kalian aku terima. Bagaimana dengan keadaan kesehatan kalian berdua?—ujar Panembahan Hanyakrawati menerima pangabekti orang yang sangat dibanggakannya itu sambil bertanya.
    —Berkat doa Panembahan, hamba dan keluarga dalam lindungan Yang Maha Agung—kata Ki Prabayudha.—hamba menghadap dan siap menerima tugas selanjutnya.—.
    —Baiklah Prabayudha. Sebenarnya tugas yang aku bebankan kepadamu ini adalah tugas yang dahulu diemban oleh Eyang Gde Mataram, ketika masih menjabat petinggi Pajang. Tentunya kau masih ingat itu.—.
    —Hamba Panembahan. Hamba masih ingat hal itu. Ketika hamba menghadapi Macan Kepatihan dahulu, beliau pernah datang ke Jati Anom sebagai Panglima Wira Tamtama—.
    —Baiklah. Sekarang tugas Panglima Wira Tamtama itu yang harus kau jalani. Nanti Pangeran Purbaya akan menjelaskan secara rinci apa tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabmu. Secara umum dapat aku katakan bahwa di atas pundakmu aku bebankan untuk membuat pasukan Mataram menjadi pasukan yang kuat baik di darat maupun di laut. Tugas untuk menangani armada laut sebagian sudah ditangani oleh adikmu Agung Sedayu yang kuberi gelar kekancingan Jaya Santika. Nanti Jaya Santika akan sepenuhnya menangani armada laut, dan pasukan khusus akan berada di bawah kendalimu.—
    —Sendika Dawuh Gusti Panembahan—kata Ki Prabayudha.
    —Karena kau menjabat sebagai Panglima Wira Tamtama, maka untuk keluargamu aku sediakan rumah di sudut lapangan sebelah kanan. Nanti Pangeran Purbaya akan menunjukkan kepadamu—ujar Panembahan Hanyakrawati.
    —Sendika dawuh Gusti Panembahan—kata Ki Prabayudha.
    —Mungkin masih ada yang ingin kau tanyakan?—tanya Panembahan lagi.
    —Hamba Gusti Panembahan, sudah tidak ada lagi yang hamba tanyakan—kata Ki Prabayudha.
    —Nah kalau sudah tidak ada lagi, kau sudah boleh meninggalkan ruangan ini bersama Pangeran Purbaya—ujar Panembahan Hanyakrawati.
    —Hamba Panembahan—kata Ki Prabayudha. Dengan berjalan mundur sambil berjongkok Ki Prabayudha sekalian meninggalkan ruangan itu didampingi oleh Pangeran Purbaya.
    Pangeran Purbaya membawa mereka ke pendapa dan mereka duduk melingkar di atas permadani yang tergelar di sana.
    —Nah Prabayudha, rumah dan segala kelengkapannya yang ada di sudut kanan lapangan memang disediakan untukmu sebagai Panglima Wira Tamtama. Nanti seorang lurah prajurit akan mengantarkanmu ke rumah itu.—kata Pangeran Purbaya.
    —Baik Pangeran—kata Ki Prabayudha.
    Pangeran Purbaya kemudian memanggil seorang lurah prajurit yang harus mengantarkan Ki Prabayudha ke rumah jabatannya yang baru itu. Lurah prajurit itu pun segera mengantarkan Ki Prabayudha dan rombongannya ke rumah jabatan yang akan ditempatinya di sudut kanan lapangan.
    Rombongan kereta dan pasukan berkuda itu pun segera berbelok ke kanan ketika sampai di sudut lapangan dan memasuki regol besar yang pintunya terbuat dari kayu besi yang sangat kuat. Agaknya para penjaga regol itu sudah diberi tahu bahwa Ki Prabayudha akan memasuki gedung itu sehingga mereka sudah membuka regolnya sebelum rombongan Ki Prabayudha tiba.
    Nyi Prabayudha pun kemudian turun dari kereta, ketika kereta itu sudah berhenti di depan pendapa yang berdinding setinggi setengah badan. Begitu pula Ki Prabayudha. Nyi Prabayudha sempat terlongong-longong di depan pendapa.
    Ia melihat berkeliling. Ternyata rumah jabatan itu sedemikian besarnya. Begitu memasuki regol depan yang berpintu besar, ia melihat halaman depan rumah jabatan itu begitu luas. Pertamanan di halaman depan itu demikian asrinya. Berbagai macam bunga berwarna-warni ditanam di sana, seindah taman yang ada di Istana.
    Di kiri kanan halaman rumah jabatan itu ditanami dengan beberapa pohon buah-buahan seperti pohon mangga, jambu, sawo dan rambutan. Selain buahnya yang ranum-ranum, daunnya pun cukup lebat sehingga menjadi tempat yang teduh untuk ngiyup dari sengatan sinar matahari yang menggatalkan kulit.
    Ki Prabayudha sekalian pun kemudian beranjak ke rumah induk. Di dalam rumah induk itu terdapat pringgitan. Lalu di belakangnya terdapat tiga sentong yang berjajar. Lalu di kiri-kanan sentong itu terdapat gandhok. Di antara sentong dan gandhok itu dipisahkan oleh longkangan yang cukup lebar.
    Di belakang gandhok terdapat dapur dan pakiwan. Ternyata di di belakang pakiwan terdapat halaman yang masih cukup luas. Di sudut kanan halaman belakang itu terdapat sebuah istal atau kandang kuda yang mampu menampung dua puluh lima ekor kuda. Sedangkan di sudut kiri, di belakang dapur dan pakiwan terdapat beberapa petak rumah kecil yang dipergunakan abdi dalem yang mengurus rumah tersebut seperti juru taman, tukang masak, juru tebah, dan pembantu khusus lainnya.
    Setelah berkeliling melihat-lihat rumah dan kelengkapannya, Ki Prabayudha sekalian kemudian kembali ke pendapa. Mereka duduk melingkar di atas permadani lebar yang terdapat di tengah pendapa itu, didampingi oleh lurah prajurit yang mengantarkan mereka ke rumah itu.
    —Baiklah, Kangjeng Panglima. Tugas hamba mengantarkan Tuanku telah selesai. Apakah masih ada yang Tuanku perlukan?—tanya lurah prajurit tadi.
    —Ki Lurah, aku minta agar sentong ketiga kau ubah menjadi sanggarku. Mulai besok kau sudah bisa mengerjakannya. Sedangkan barang-barang yang kubawa dengan kereta dari Jati Anom kau letakkan dulu di sentong nomor dua—kata Ki Prabayudha.
    Demikianlah lurah prajurit tadi memerintahkan prajurit yang mengiringinya untuk menurunkan barang-barang yang dibawa dengan kereta dari Jati Anom dan memasukkannya ke dalam sentong nomor dua.
    Sementara itu, langit sudah mulai gelap karena matahari sudah menyelesaikan tugasnya untuk menerangi langit di atas Mataram. Matahari itu bertugas menyinari bumi makin ke barat dan ke barat lagi, sampai akhirnya esok pagi muncul lagi dari ufuk timur.
    Beberapa abdi dalem segera menyalakan lampu teplok dan obor yang berada di halaman rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Ki Prabayudha. Sedangkan di pendapa yang cukup luas itu, abdi dalem menyalakan lampu gantung berukir yang masih menjadi barang mewah dan hanya terdapat di rumah orang-orang kaya atau pejabat pemerintah tertentu.
    Sementara itu, di dapur para abdi dalem lainnya sedang sibuk menyiapkan makan malam bagi Ki Prabayudha sekalian, para prajurit yang mengawal dari Jati Anom dan persiapan seandainya ada tamu yang datang bertandang ke rumah jabatan Kangjeng Panglima.
    Benar saja, setelah selesai bersantap malam, satu dua tamu mulai berdatangan ke rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha. Kebanyakan mereka adalah para pejabat pemerintahan dan pejabat keprajuritan di Mataram.
    Untunglah para abdi dalem sudah terbiasa menghadapi kesibukan demikian, sehingga tidak sampai kewalahan menyiapkan makanan kecil dan minuman berupa wedang jahe serta wedang sere.
    Akhirnya setelah menyampaikan selamat datang dan selamat bertugas kepada Ki Tumenggung Prabayudha, satu persatu para tamu itu berpamitan dan mengundurkan diri dari rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha.
    Ketika mereka sudah mengundurkan diri dari rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha, maka tinggal Ki Prabayudha sekalian dan lurah prajurit tadi yang masih berada di pendapa. Ternyata lurah prajurit tadi memang bertugas sebagai pimpinan jaga di rumah jabatan itu.
    Rumah jabatan yang begitu besar itu terasa mulai sepi dan kegiatan di malam itu mulai diambil alih oleh suara bilalang, jangkrik dan binatang malam lainnya seperti burung hantu, burung bence dan burung kedasih.
    Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha pun kemudian berangkat ke peraduannya di ruang sentong pertama. Sentong itu berukuran cukup besar. Di dinding sisi timur sentong itu terdapat sebuah jendela yang agak lebar. Kemudian di sisi selatan dinding sentong itu tergantung sebuah lukisan indah yang menggambarkan pemandangan alam persawahan.
    Di tengah ruangan itu terdapat sebuah amben besar, di sebelahnya sebuah meja kecil dan di depan meja itu terdapat dingklik kecil. Meja dan dingklik itu terbuat dari kayu jati berukir halus. Dua buah lampu teplok terletak di dinding di sebelah pintu sentong yang terdapat di sisi barat dan di dinding di atas meja kecil itu.
    Ki Prabayudha pun kemudian menutup pintu sentong dan berbaring di sebelah istrinya.
    —Aku tidak mengira kita akan mendapat rumah sebesar ini kakang—kata Nyi Prabayudha sambil tersenyum dan menoleh ke suaminya.
    —Iya Nyai. Aku tidak menyangka akan mendapat anugerah sebesar ini.—jawab Ki Prabayudha.—ini semua berkat doamu dan restu Yang Maha Agung—
    —Oh ya, aku belum menunaikan kewajibanku kepada Yang Maha Agung—kata Ki Prabayudha sambil bangkit pelan-pelan dari tempat tidurnya.
    Ia lalu pergi ke pakiwan khusus yang ada di dalam sentong itu, sesuci, lalu menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Dalam doanya ia memanjatkan puji syukur kepada Yang Maha Agung atas segala berkah yang diterimanya. Ia juga memanjatkan doa agar semua orang yang dikasihinya, baik yang masih ada maupun yang telah tiada, diberi kesejahteraan di dunia dan akhirat. Secara khusus ia mendoakan semoga kedua orangnya diampuni segala dosanya, sebagaimana mereka mengasihi ia ketika masih kecil.
    Setelah selesai memanjatkan doa, ia kembali berbaring di samping istrinya. Namun istrinya itu sudah tertidur. Sebuah senyum tersimpul dari wajahnya. Ia menjadi gemas, lalu memegang hidungnya yang bangir. Istrinya lalu memeluknya. Mereka lalu terbuai ke alam mimpi.
    Malam yang sejuk itu ternyata tidak hanya membuai Ki Prabayudha sekalian ke alam mimpi. Namun alam mimpi itu ternyata menjadi milik semua orang yang sempat terlelap tidur. Alam mimpi yang timbul ketika hari tersaput gelapnya malam, juga menjadi milik Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika dan keluarga kecilnya.
    Ki Agung Sedayu semula kurang sreg dengan sebutan itu. Sebagaimana dengan sifatnya yang sederhana dan tidak suka berlebih-lebihan dalam sikapnya. Namun ternyata orang-orang di barak, anggota pasukan khususnya, tidak bisa lagi asal menyebut nama lamanya.
    Sesuai dengan paugeran dan unggah-ungguh yang berlaku di dalam dunia keprajuritan, maka sebutan dalam serat kekancingan itulah yang menjadi sebutan sekaligus kepangkatan bagi penyandang gelar itu. Karena itu, akhirnya dengan ikhlas ia harus menerima kenyataan bahwa namanya kini berubah menjadi Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika. Semula nama itu menjadi sangat asing bagi telinganya. Namun lama kelamaan, ia harus menyesuaikan diri dengan sebutan dan jabatannya itu.
    —Panggil saja aku Agung Sedayu—kata Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika kepada Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta yang selalu dekat dengannya. Ia mengatakan kepada kedua lurahnya itu karena merasa kikuk mendengar panggilan yang terasa asing di telinganya.
    —Ampun, Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika, kami bisa saja memanggil panjenengan dengan Ki Agung Sedayu. Tetapi dengan demikian kami melanggar paugeran dan unggah-ungguh dalam tata keprajuritan, karena nama gelar kekancingan itu adalah anugerah dari Ingkang Sinuhun Sampeyan Dalem Panembahan Hanyakrawati—kata Ki Lurah Darma Samudra.
    Akhirnya Agung Sedayu, tidak bisa tidak, harus menerima kenyataan bahwa namanya berubah menjadi Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika. Namun ia tetap bersikerasagar namanya cukup dipanggil Ki Tumenggung Jaya Santika saja. Tanpa embel-embel kangjeng raden tumenggung.
    –Baiklah Ki Tumenggung Jaya Santika—kata kedua lurah itu.
    Agung Sedayu yang berjiwa sederhana dan tidak pernah bermimpi menjadi prajurit. Bahkan ia memasuki bidang keprajuritan itu pun dengan cara setengah dipaksa oleh kakaknya. Untara.
    Ketika pada akhirnya ia mencoba memasuki dunia keprajuritan, ia pun sempat mengalami pergolakan batin dan sempat beberapa saat mengundurkan diri. Namun atas dorongan Panembahan Senapati yang memberinya banyak kesempatan, karena melihat kemampuan, jasa-jasa dan pengabdiannya yang luar biasa kepada Mataram, maka Agung Sedayu tidak dapat menolak takdirnya sebagai seorang prajurit.
    Akhirnya dengan mendapat bimbingan dari Ki Lurah Branjangan, Agung Sedayu bisa menyesuaikan diri dengan dunia keprajuritan yang semula dirasanya kurang sesuai dengan jiwanya yang sederhana dan tidak bermimpi yang muluk-muluk.
    Ia sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi prajurit di tingkat yang paling rendah sekali pun, apalagi untuk menjadi seorang tumenggung, benar-benar membuatnya sempat menghadapi goncangan jiwani.
    Atas saran Ki Jayaraga maka sebagai suatu tradisi di tlatah ini, jika seseorang memberi nama atau mengganti nama, tentu membuat sekadar selametan. Namun ternyata selametan untuk seorang kangjeng raden tumenggung, tidak bisa sesederhana dan sekadar membuat jenang merah putih saja. Karena itu menyangkut pasukannya satu barak.
    Kalau mengikuti kata hatinya, ingin rasanya Ki Agung Sedayu yang kini berubah nama menjadi Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika itu hanya sekadar membuat jenang merah putih saja. Itu sudah cukup baginya.
    Ingin rasanya ia mendobrak tradisi yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. Namun ia tidak berdaya. Meskipun ia sanggup mengalahkan lawan-lawan tangguh seperti Kakang Panji, Ki Ajar Tal Pitu dan lainnya, namun ia tak berdaya menghadapi perubahan namanya sendiri yang datang dengan sekonyong-konyong.
    Tadinya Ki Agung Sedayu menganggap bahwa dengan kenaikan pangkatnya menjadi tumenggung, lalu selesai dengan begitu saja. Ia dipanggil Tumenggung Agung Sedayu dan segalanya mengalir seperti air kali Praga yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun mengalir ke laut Selatan.
    Namun ternyata aliran perubahan namanya itu, tidak sesederhana yang diperkirakan. Apalagi ia mendapat bukan hanya sekadar gelar tumenggung, namun sebutannya menjadi kangjeng raden tumenggung. Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika.
    Ketika Ki Agung Sedayu mengatakan niatnya untuk mengadakan sekadar selametan kepada Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta, kedua orang lurahnya itu hanya mengangguk-angguk dan menyatakan setuju. Namun mereka tidak mengatakan sesuatu.
    Ia mengatakan kepada kedua lurah itu hendak pulang lebih awal hari itu dan agar menyiapkan jenang merah putih untuk didoakan bersama pada keesokan harinya.
    Namun ia terperangah ketika datang ke barak pada keesokan harinya. Ternyata di sanggar utama barak pasukan khusus itu telah tersedia banyak makanan dan minuman, berupa gule, sate dan guling kambing beberapa ekor, penganan kecil, wedang jahe, wedang sere, dan tentu saja jenang merah putih sebanyak lima tanding. Jenang itu terdiri dari jenang merah, jenang putih, jenang merah putih, jenang putih merah dan jenang putih batu.
    —Wah. Wah ada apa ini. Kenapa banyak sekali ada makanan—tanyanya kepada Ki Lurah Darma Samudra.
    —Ampun Kangjeng Raden Tumenggung, seluruh prajurit di barak khusus ini mengadakan urunan untuk merayakan kegembiraan karena pimpinan kami mendapat anugerah luar biasa dari Ingkang Sinuhun Sampeyan Dalem—kata Ki Lurah Darma Samudra. Ki Lurah Suprapta yang berada di sebelahnya, mengangguk tanda setuju, lalu berkata.
    —Kegembiraan Kangjeng Raden Tumenggung, adalah juga kegembiraan kami. Kenaikan pangkat dari seorang rangga menjadi seorang kangjeng raden tumenggung adalah suatu hal yang jarang terjadi. Walaupun secara sederhana, kami mencoba ikut merayakannya—kata Ki Lurah Suprapta.
    Mendengar jawaban mereka, Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika tidak dapat marah. Matanya menjadi berkaca-kaca. Terharu. Kalau ia tidak tahan-tahan, bisa saja uap air mengembun di pelupuk matanya, lalu meleleh menjadi butiran air. Air mata.
    Tetapi ia bukan lagi Agung Sedayu tiga puluh tahun yang lalu, yang mudah menangis karena diganggu anak sebayanya. Karena dengan menguatkan hati ia tidak sampai menitikkan air mata.
    —Wah. Wah. Aku berterima kasih atas kesediaan kalian membuat makanan sebanyak ini—kata Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika, dengan mata haru. Namun Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika terkejut ketika seseorang yang sangat dikenalnya, sambil tertawa lebar maju ke depan dan mengulurkan tangan memberi selamat.
    —He? Ki Lurah ada di sini?—tanyanya dengan ada heran bercampur gembira.
    —Iya. Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika—kata orang itu, yang ternyata Ki Lurah Branjangan.—Aku kebetulan mampir. Agaknya aku mendapat rezeki yang berlimpah karena para prajurit sedang berpesta.
    —Terima kasih Ki Lurah. Aku senang Ki Lurah Branjangan bisa hadir bersama kami di pagi hari yang cerah ini.—kata Kanjeng Raden Tumenggung Jaya Santika.
    Mereka pun lalu membacakan doa bersama kemudian menikmati hidangan itu. Agaknya Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta tidak melupakan keluarga Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika yang berada di rumah dan yang berada di rumah Ki Gde Menoreh. Mereka mengirim pula makanan ke kedua rumah tersebut, yang disambut baik oleh Ki Gde Menoreh maupun Nyi Tumenggung Jaya Santika dengan gembira.

    O Bersambung ke Jilid 403

    • Waaaa…. matur nuwun sanget Ki Agus… Sampun kangen kalian angkatan lautipun :)

    • Sedikit koreksi Ki Agus, kalo berkenan lho yaaa…

      Sepertinya ada yang ngganjel yah, penyebutan antara pangeran Ranapati dengan Adipati Jayaraga, yang semula P. Ranapati lebih dituakan, untuk seri ini terbalik, adipati Jayaraga yang dituakan.

      Ngapunten lho Ki… selebihnya, LANJUUTTT…

      • Terimakasih Ki atas koreksinya. Sayangnya saya tidak bisa akses ke gandhok. Kalau yang di adbmlanjutan nanti saya koreksi.

        Salam,

        Agus S. Soerono

        • malem2 cantrik thilik Padepokan bukan Adbm-nya ki Agus Sedayu.

          hikss, dapet suguhan rontal-402
          matur nuwun ki,

          cantrik berharap :
          Niat baik ki Agus Sedayu,…
          ditanggapi positif keluarga
          besar Alm. Bpk SH Mintardja.

          semoga lancar ki,
          tetep semangaat

        • Bisa dikirim ke pelangisingosari@gmail.com atau ki_arema@yahoo.co.id, nanti saya bantu edit naskah yang sudah terlanjut di unggah.

    • Siiiiiippp… Matur nuwun Ki Agus ….

  120. Aji Kakang Kawah Adi Ari-Ari kalau tidak salah didapat oleh Agung Sedayu dari kitabnya Ki Waskita. Jadi bukan dari Kyai Gringsing pewaris perguruan Windujati. Kalau murid perguruan Windujati yg dari Madiun juga punya aji Kakang Kawah Adi Ari-Ari, darimana dia dapatnya ya?

  121. siang-siang singgah Padepokan
    ki Agus Sedayu,

    suasana Padepokan terlihat ramE
    gojeg-an cantrik tuambah gayeng.

    saran,masukan cantrik ditanggapi
    dengan BAIK sama ki Agus.
    hikss,
    kadang ogrog2-an cantrik nuambah
    “sumigrah” pendopo Padepokan.

    Bravo…ki Agus Sedayu,
    Bravo…Bukan Adbm,

    salam Adbmers,

    • he-he-he…..bukan Adbm tambah jilid
      tambah memikat.
      he-he-he…..bukan Adbm tambah luama
      tambah mengkilat.

      pesen ki,
      biar lebih terasa sakaaaw-nya,…ada
      baiknya persoalan/konflik yang timbul
      dibuat lebih “njlimet” penyelesaiane.

      selamat datang Generasi Muda (yunior2)
      tokoh2 utama Adbm (ki SHM).
      AS yunior, SG yunior, Widura yunior &
      yunior2 laen-nya….Loepa “Sukro” juga

      tetep semangaaat ki,

  122. Setelah lama gak singgah di Gandok ABDM
    pas iseng-iseng mapir
    pas lihat kelanjutan gandok ABDM di Gandok Bukan ABDM
    pas dapet rapelan rontal
    memang pas muuuuaaaaantap…………….
    sembah nuwun kiai

  123. dulu ada empat mata sekarang

    bukan empat mata

  124. Kitab peninggalan Ki Waskita dan Kitab Peninggalan Kyai Gringsing banyak persamaannya. Ilmu Kakang Kawah Adi Ari-Ari dipelajari AS dari Kitab Ki Waskita, yang juga sebenarnya ada di kitab Kyai Gringsing. Karena kesamaan sifat, makanya AS tidak mempelajari lagi dari kitab Kyai Gringsing.

  125. Makasih banyak Ki Agus Sedayu atas ADBM 402-nya, tetap semangat ya

  126. Kayaknya isi Kitab Jati Kencana juga hampir sama dengan Kitab Kiai Gringsing dan Kitab Kiwaskita, saya setuju dengan dimunculkannya Kitab itu jadi orang saktinya tambah lagi Ki Tumenggung Prabayudha, dan juga pencapaian ilmu Ki Swandaru Geni.
    Saya juga sangat senang karena akhirnya AS juga bakal dapet keturunan dan juga kenaikan pangkat, itu menurut saya ada pelajaran yang terkandung di dalamnya bahwa:

    ORANG JUJUR ITU AKAN MUJUR (UNTUNG)
    BUKANNYA
    ORANG JUJUR YO AJUR

    semoga di negri ini semakin banyak orang yang jujur yang akan mujur jangan yang jujur semakin hancur

    Selamat Berjuang Ki Agus

    dah mulai sakaw nih…………

  127. Matur nuwun Ki Agus,
    sampun ngunduh kintunanipun.
    Sugeng enjang.

  128. Ayooo Ki Agus lanjutannya……

  129. Matur nuwun Ki Agus.
    Antri meneh ……

  130. Ki Agus di tunggu lanjutan ceritanya…..semangat-semangat….jangan surut ki……maju tak gentar.

  131. rahayu

  132. Ki Agus S. Soerono,

    Karena tugas2 yang menumpuk, saya baru menyelesaikan ADBM 396 minggu kemaren…hmm gmn ya rasanya dengan cerita akhir yang nggantung gt…tetapi setelah masuk ke gandok ADBM saya terkejut dan sekaligus senang, ternyata ada yang melanjutkan cerita tsb…dan kemudian pindah ke gandok bukan ADBM.

    Menurut saya, sebenarnya untuk membuat cerita terusan dari ADBM tanpa membutuhkan ijinpun tidak masalah, cukup pemberitahuan saja.

    Masalahnya buku ADBM sudah lama tamat dan dari keluarga SHM tidak ada yang peduli melanjutkannya sampai saat ini. Apalagi Ki Agus sudah memberikan judul “Bukan ADBM”, dan itupun dimuat di dunia maya, bukan versi Cetak. Apalagi Ki Agus pun sudah memasukkan tokoh2 baru yaitu junior2 dr tokoh2 pelakon yang lama.

    Jadi silahkan saja dilanjutkan, tetapi dengan judul “Bukan ADBM”

    Tetap semangaaat

    SAlam

    Jadi silahkan saja melanjutkan

    • tapi minta ijin dengan resmi bagaimanapun akan lebih baik

  133. Saya mendukung pendapat Ki Raden Imam S.

    Mari Lanjutkan dan tetap semangat

  134. Sugeng enjang Ki Agus.
    Sugeng enjang kadang sedoyo.

  135. satu Minggu ku menunggu masih ku sabarkan …
    dua minggu ku menunggu masih ku sabarkan …
    tiga minggu ku menunggu juga ku sabarkan …
    namun jangan sampai 4 minggu …
    jangan oooohhh …jangan
    cukuplah sudah rasa sakaw ini
    menunggu lanjutannya …

  136. Sugeng Siang Ki Agus!
    Sugengsiang ugi poro kadang!

  137. Sugeng enajng Ki Agus.
    Mugi-mugi tansah sehat lan pinaringan karahayon. Amin

  138. aku mau nanya,mungkin saudara2 atau temen2 yang tahu web nya ” orang-orang yang berdiri di balik lahir nya majapahit ” gamal komandoko…trima kasih.

  139. ki banuaji di simpen di mana 4,5

  140. adu masuk moderation ,alamat hilang

  141. Wah Ketinggalan…. bukan adbm-nya sudah Mode On…bikin sakaw poro ADBMer’s

  142. Tenguk-tenguk ngenteni Ki Agus karo mangan sate
    Mak nyussss

  143. sepi ………
    hiks ………
    ora ono kancane …….

  144. kulonuwun..ada yg masih inget saya..cantrik sing paling cubluk..
    salam nggo kabeh sanak kadangku

  145. Kembali ke rutinitas sehari-hari … setelah bermacet ria, akhirnya bisa tengak-tengok keluar masuk gandok.
    Assalamu’alaikum Ki Agus, Ki Arema, Ki Pandan Alas, Nyi Seno, dan semuanya (kepanjangan kalo disebutin satu-satu), Semoga pagi yang mendung ini tidak membuat kelabu hati Kita … Menapak langkah dengan semangat LUAAAARRRR BIASAAAA dan penuh optimisme.

  146. di antos kasumpinganana Ki Agus di gandok Bukan ADBM…

  147. yang dinanti-nanti tak kunjung datang……sakaw

  148. Nyebar Godong Koro Poro Sederek
    Rodho Sabar Sawetoro
    Kayaknya Ki Agus Masih Semedi
    Sehingga Belum Bisa Medar Rontal

    Mudah-mudahan Ki Agus Tansah Pinaringan Kasehatan lan Karahayon

  149. Sugeng dalu Ki Agus.
    poro kadang sampun kangen lho.
    Monggo diwedar sakwontenipun

  150. Tumenggung Jaya Santika (Agung Sedayu), senopati yang menyerang Batavia …???

  151. sugeng sonten, sedaya ke mawon, dherek nyantrik. mau nanya pada waktu kyai grinsing menghadapi siapa ya (yang punya ilmu kebal dan pada masa mulai berdirinya mataram) beliau sudah mengeluarkan ilmu puncak untuk cambuknya, tetapi ilmu yang lain dia belum mau mengeluarkan ilmu yang merupakan keturunan dari perguruan windu jati makanya beliau selalu melihat tanda di pergelangan tangannya saja, maka begitu as mempelajari ilmu yang lain saya bisa menerimanya. kalau kyai jayaraga punya ilmu yang ngengirisi kok belum pernah dicoba sebelumnya. sebenarnya ilmu cambuk yang ditunjukkan oleh kyai gringsing sbl as pergi ke madiun dengan sorot matanya kuatan mana?

    • kuatan elmune ki pandan alas ;-)

      • he-he-heee…….kuatan CANTRIK2
        Adbm ki,

        kuat nunggu diWEDARnya bukan ADBM
        ki AGUS.

        • sugeng siang ki Agus Sedayu
          sugeng siang Adbmers…..!!!

          • oia elmune ki pandan kalah karo elmune ki yudha :))

            • hiksss,
              bukaaaaaan ki…!!

              selamat SORE kiSMS

  152. Ki Agus S,
    Kapan nih di wedar rontalnya…….sudah gak tahan nih..sambil nonton PD ngarep wedaran rontal bukan ADBM-nya Ki Agus. Cepat tuh ditemuin antara AS dengan Guru yang dari Ponorogo, kayaknya seru banget apalagi bila SG bisa turun ngelawan murid2nya, terus Ki Untara bisa nunjukin kemampuan sebenarnya, wah seru habis…….

  153. semoga ki Agus segera wedar rontal,qtanya sudah pada …. sakaw….. sakaw ….

  154. sugeng enjang ki Agus Sedayu
    sugeng enjang kadang Adbmers…..!!!

  155. Kapan Ki wedarnya……….

  156. Siap – siap ……

  157. Sugeng dalu dalu Ki Agus…………….

  158. sakaw….sakaw…..kapan diwedar rontalnya ki…..

  159. sakaw….sakaw…..

  160. Lah kok sepi banget ? Apa pada lupa sama Ki Agung Sedayu ya ?

  161. sepi nyenyet, wayah sepi uwong, semoga nanti kitab yang diwedar ramai wayah temawon.

  162. selamat siang ki agus,kalau melihat pertarungan antara rombongan ki AS dengan Gagak hitam, kok sepertinya perbedaan ilmu antara orang-orang gagak hitam itu sangat jauh berbeda (jopmplang), kalau bukan itu ataukah ilmu ke 2 lurah dari AS itu sudah sangat tinggi?

    • Pastilah kedua Lurah ilmunya sudah tinggi, yg membimbing Ki Agung Sedayu sendiri…!! di Tataran Mataram sudah tidak ada yang menyamai lagi…??!!

      • ouuwwww…………….

  163. selamat SORE Admers….,

    • We-lah kleru nulis diSETIP dewe
      he-hee-heee,

      selamat SORE Adbmers….,sore

      • :)

  164. Nederland,Agergentina merambah babak 16 besar…? PASTI…sugeng pepanggihan malih poro kadang, di sela2 PD tetap angayubagyo wedaraning BADBM

  165. ki Agus bikin ….sakaw….sakaw…..kapan di wedar ki..

    • sepertinya menjelang setelah final piala dunia…

  166. Masih untung ada Piala Dunia, tidak terlalu sakaaw…

  167. masis sakaw….sakaw….kapan di wedar ki….

  168. Ayo nonton bareng final PD se-padepokan,
    siapa yang mau jadi panitia ????

  169. Sugeng dalu ki agus !
    sugeng dalu ADBMERS !
    nenggo ki agus sinambi nonton bola, mbok menawi kedawahan nugroho awujud rontal he…he…hik!

  170. Selamat pagi Ki Agus, para sesepuh ADBM serta para kadang, pagi yang cerah ini semoga dalam keadaan sehat wal afiat. Salaam

  171. Ki Agus kapan rontal di wedar lagi…….

  172. Ki Agus,
    Mana kelanjutan ceritanya…hik…hik..
    Biar gak terlalu ngarep buat sampai tamat ya….
    sakaw….sakawww…sakkaaaaawww.

  173. sugeng siang ki AGUS
    sugeng siang Adbmers

    rontal lanjutan kapan
    di WEDAR ki….??

  174. sugeng siang para kadang padhepokan..

  175. Ngegirisi tandange Kompeni, Toto Gelar Sapit Urang-soko jaman mataram kanggo ngalahke samba…

  176. La mangkih dalu niki luwih nggegirisi, kadose Argentina ndamel Gelar Dereda Meta ingkang bade kasambut dening Jerman ingkang ngangge Gelar Garuda Nglayang cobi sinten sing bade mimpang, monggo mangkih dalu sami-sami kito tingali, monggo………….

  177. sugeng siang …
    kuanggeeennnnn..

    akhirnya sempat berkunjung juga..
    hiks..

    kagem kang abu, argentina sampun kundur..
    jerman is the best..heheheh…

  178. Ternyata Gelar Garuda Nglayang pancen Nggegirisi wiwit jaman Mataram, kulo akeni niku. Empun kulo tak nyisih teng senthong mawon.

  179. ki agus meniko para sanak kadang ADBM sami kehausan nenggo kalanjutanipun rontal kawedar, sampun sami dehidrasi.

  180. Gusti nuntun lampah kula
    saklangkung nggen kula begja
    tenga pundi puruk mami
    tansah kula dipun kanthi

    nggih Gusti kang nganthi mami
    asta-Nya p’yambak kang nganthi
    sun nderek teng pundi-pundi
    wit kinanthi dening Gusti

    selamat jalan, ki Tony, kehidupan yang baru itu telah menunggu
    semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kekuatan
    sebab ki Tony menuju tempat yang lebih baik daripada bumi ini…

  181. Kulo sampun nenggo sawetawis gek kapan njih rontal salajengipun kawedhar , ngantos andadosaken trataban manah kulo ngentosi wedharan kitab candhakipun .

    Nuwun !!!!

  182. Kangen antri juGa disini …
    pripun kabare poro sedherek …
    mugi mugi sedoyo tansah kaparingan selemat. amien

  183. kapan nggih saget moco lajenganipun?

  184. maaf ki agus..baru hari ini saya sempat membaca pertanyaan ki agus,kebetulan hari ini saya libur jadi ada waktu untuk membaca satu persatu koment yang ada di “bukan Adbm” jadinya tidak tau kalau ki agus menayakan saya kerja dimana,ya…kebetulan saja saya berada di Korea sudah 8 tahun,dan 2011 persis 9 tahun.tiap 3 tahun saya cuti selama 2 bulan,dan 2011 ini saya pulang habis kontrak tidak memperpanjang lagi karena faktor usia sudah tidak memungkinkan lagi.sekali lagi saya minta maaf lho ki agus.

  185. sampun dangu sanget dereng wonten lajengipun, mbenjang menopo dilanjut malik Ki Agus

  186. lakok kemenku ora ditompo yo ? opo aku wis ditok ke soko cantrik ADBM YO

  187. sugeng siang…
    ngantuxxx polll…
    bubar nonton PD Afsel dadi pengen nglempang…
    hiks…

  188. Sakaw….Sakaw….Ki Agus kamana ya….

  189. We lha ndrawasi iki, pirang-pirang dino jung sing seko Mataram ditunggu kok ora ndang berlayar, opo ono gangguan cuaca yo ?

  190. Ki Agus kemana ya ?
    Apakah cerita ini nasibnya akan sama dengan ADBM IV-96 yang nggantung ??

    Atau ki Agus sudah kehabisan ide untuk melanjutkan cerita…

    Biar gak terlalu panjang di tamatkan aja Ki..tapi dengan yang happy end.

  191. Tobil-tobil kok rontal dereng kawedar ugi, bar sabar tenan ki………….

  192. Terima kasih sederek sedaya. Terima kasih atas kesabarannya selama ini menunggu wedaran ADBM berikutnya. Untunglah beberapa waktu lalu ada wedaran Piala Dunia, sehingga tidak membuat terlalu sakaw. (hikss). Syukur alhamdulilah saya tidak (semoga tidak sampai) kehabisan ide seperti Ki Rangga kira.
    Selama tidak wedar ADBM saya sudah menyelesaikan dua novel sejarah. Yang pertama Laksamana Nala (200 halaman) dan satu lagi Bangkitnya Mataram (100 halaman). Naskah kedua novel sejarah itu sudah saya kirim ke penerbit. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama bisa diterbitkan.
    Sebentar lagi akan saya wedar ulang (dengan perbaikan), ADBM 402 yang dulu cuma 30 halaman, sudah saya tambah jadi 80 halaman.
    Wassalam,

    Agus S. Soerono

  193. Monggo Kisanak…

    Api di Bukit Menoreh
    Seri V-02
    Membangun Armada Laut
    Yang kuat bagi Mataram

    Oleh Ki Agus S. Soerono
    ———————————————————————————
    Demikianlah mereka berbincang mengenai berbagai hal yang menyangkut keluarga mereka. Ki Gde Menoreh menanyakan tentang cucunya Swantara, yang tentunya sedang lucu-lucunya.
    —Ayah Demang menjadi kewalahan mengatasi anak kecil itu—kata Swandaru.—Anak itu suka berlari ke sana kemari dan memanjat semua pepohonan yang ada di halaman rumah—.
    Ki Gde Menoreh mengerutkan keningnya.
    —Bukankah Swantara belum berumur empat tahun?—tanyanya.
    —Belum ayah. Tetapi ia sudah lincah sekali bermain ke sana kemari. Ada saja gagasannya yang lucu-lucu membuat semua orang tersenyum, bahkan tertawa lebar—kata Swandaru.
    —Oo. Alangkah lucunya—kata Ki Gde Menoreh.—Kalau aku masih kuat berkuda tentu aku ingin pergi menengok cucuku yang lucu dan nakal itu.—.
    —Ayah, biarlah kelak jika Sekar Mirah sudah melahirkan, aku, Pandan Wangi dan Swantara yang datang kemari menengok adik kecil yang baru lahir—kata Ki Swandaru.
    —Baiklah jika demikian. Aku juga sudah tidak bisa lagi memaksakan diri untuk pergi ke Sangkal Putung, apalagi kondisi kesehatanku yang sudah tidak memungkinkan karena cacat di kaki ini—kata Ki Gde Menoreh.
    Ki Gde Menoreh termangu-mangu sejenak.
    Memang sejak luka-luka di punggungnya setelah berperang tanding dengan Ki Tambak Wedi dahulu, kondisi kesehatan Ki Gde Menoreh tidak bisa pulih seperti sedia kala, terutama cacat pada salah satu kakinya itu. Namun sebagai seorang yang mempunyai kelebihan wadag dan jiwani daripada orang kebanyakan, maka hal itu tidak menjadikan Ki Gde Menoreh menjadi berkecil hati.
    Setiap hari Ki Gde Menoreh masih sempat meluangkan waktu untuk masuk ke ruangan sanggarnya untuk melatih kondisi tubuhnya agar tetap tegar. Selain itu, Ki Gde juga meningkatkan kemampuannya untuk bergerak lincah, meskipun hanya mengandalkan bertumpu pada satu kaki. Bahkan Ki Gde Menoreh lebih banyak berlatih untuk meningkatkan tenaga cadangannya. Ternyata dengan bekal tenaga cadangan yang bisa dibangkitkannya, Ki Gde sudah bisa merambah ke peningkatan kemampuannya dalam menggunakan ilmu pamungkasnya. Seperti halnya dengan anaknya—Nyi Pandan Wangi—ternyata Ki Gde Menoreh mulai mengenali kemampuan ilmunya yang bisa mendahului bentuk wadagnya dalam mencapai sasaran. Ki Gde tak henti-hentinya melatih pengenalan atas ilmunya itu, meskipun secara kewadagan ia sudah merasa mulai menyusut kemampuannya. Namun pengenalan itu membuatnya semakin maju dengan pesat dalam menggeluti ilmu pamungkasnya itu.
    “Bagaimana dengan Ki Widura dan anakmas Untara?” tanya Ki Gde Menoreh yang tiba-tiba teringat dengan kedua kerabatnya itu.
    “Kalau Ki Widura sekarang menyibukkan diri dengan mengurus padepokan kecil Orang bercambuk peninggalan Kiai Gringsing. Bahkan putera kakang Untara—Wira Sanjaya—kini berguru di padepokan itu,” kata Ki Swandaru.
    “Oh ya? Bagaimana kabarnya Ki Untara,” tanya Ki Gde Menoreh pula.
    “Kakang Untara mendapat kepercayaan untuk menjadi Panglima Wira Tamtama, suatu jabatan yang sejak lama kosong setelah Ki Gde Pemanahan mendirikan Mataram. Jabatan itu dijabat Ki Gde Pemanahan pada zaman Pajang,” kata Ki Agung Sedayu.
    “Oo. Syukurlah. Aku Ikut senang mendengarnya. Apakah Ki Untara akan berkedudukan di Kotaraja?” tanya Ki Gde Menoreh.
    “Iya ayah. Kakang Untara yang kini bergelar Ki Prabayudha itu berkedudukan di Kotaraja. Sedangkan jabatan kakang Prabayudha digantikan oleh adi Sabungsari yang kini sudah berpangkat rangga,” kata Ki Swandaru Geni menimpali.
    “Lalu anakmas Agung Sedayu juga mendapat gelar kekancingan?” tanya Ki Gde Menoreh. Ki Agung Sedayu hanya terdiam, dan menunduk. Sebagaimana biasanya, ia tidak ingin menonjolkan diri. Berbeda dengan adik seperguruannya yang sekaligus kakak iparnya. Ki Swandaru Geni.
    “Iya ayah. Kakang Agung Sedayu mendapat pula gelar kekancingan Ki Tumenggung Agung Jaya Santika,” akhirnya Ki Swandaru Geni yang menjawabkan untuk Ki Agung Sedayu.
    “Ki Tumenggung Agung Jaya Santika. Sebuah nama yang bagus,” kata Ki Gde Menoreh. Ki Agung Jaya Santika tersipu malu mendengarnya.
    “Terima kasih Ki Gde,” jawab Ki Agung Jaya Santika.
    Setelah puas bercakap-cakap, Ki Tumenggung Agung Jaya Santika dan Ki Swandaru pun meminta diri.
    “Kenapa kau tidak bermalam di sini saja. Aku tidak punya teman ngobrol. Apalagi aku jarang sekali bisa tidur di sore hari,” kata Ki Gde Menoreh hendak menahan menantunya. Ki Swandaru menoleh kepada Ki Tumenggung Jaya Santika. Ki Tumenggung Jaya Santika pun menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
    “Apabila demikian, biarlah malam ini aku menemani ayah. Bukankah kakang tidak berkeberatan?” Ki Swandaru bertanya.
    “Tidak. Tidak adi. Aku tidak berkeberatan,” katanya.
    “Kalau demikian biarlah aku yang mohon pamit.”
    Ki Agung Jaya Santika pun kemudian permisi meninggalkan rumah Ki Gde Menoreh dan kembali ke rumahnya.
    Dalam pada itu, saudara Ki Bargas dan Ki Bergawa yang dilumpuhkan oleh Ki Tumenggung Agung Jaya Santika, terus berlari menjauhkan diri dari Tanah Perdikan Menoreh. Ia merasa seolah-olah Ki Agung Jaya Santika atau anak buahnya terus mengikutinya selama dalam perjalanan.
    Ia berlari menubras-nubras pepohonan semak belukar. Ia baru merasa lega setelah matahari terpeleset di punggung bukit, dan sinarnya berubah menjadi kemerah-merahan. Bersama datangnya sang gelap malam, ia bisa bersembunyi dalam keadaan tenang. Apalagi sebagai seorang yang biasa hidup di dunia yang kelam, kegelapan adalah teman yang paling akrab untuk menyembunyikan diri. Berbeda dengan orang kebanyakan, yang justru takut bila sang gelap malam bertengger di atas marcapada.
    Setelah merasa aman dari kejaran prajurit Mataram itu, ia pun mulai mencari tempat untuk beristirahat di malam yang dingin di musim bediding seperti sekarang ini. Ketika melintasi daerah persawahan, ia melihat sebuah gubuk yang agak rapat tertutup dinding gedeg. Di sanalah ia beristirahat. Sejenak ia menajamkan pendengarannya.
    Ternyata tidak ada yang mencurigakannya. Malam itu irama malam mulai merajai suasana. Suara katak bersahut-sahutan memecah malam, ditingkahi oleh suara jangkerik, bilalang, burung kedasih, burung bence dan burung hantu.
    Sesekali terdengar suara anjing hutan melolong panjang menunjukkan pertanda kekuasaannya dari tepi hutan. Tapi lolong anjing hutan itu segera terputus, ketika dalam jarak yang tidak terlalu jauh terdengar sang raja hutan mengaum panjang. Harimau. Seekor anjing hutan yang tadinya melolong panjang, terdengar terkaing-kaing, lalu diam. Agaknya ia menjadi santap malam yang lezat bagi si raja hutan. Karena sang harimau sudah mendapat santapan malam, ia pun menyeret korbannya ke sarangnya untuk berbagi dengan betina dan anaknya. Setelah itu, malam kembali ke iramanya yang tadi.
    Saudara seperguruan Ki Bargas itu pun kemudian meletakkan tubuhnya di atas tumpukan jerami. Ia yakin harimau yang sudah kenyang itu tidak akan mengganggunya.
    Tanpa terasa ia tertidur nyenyak di tengah persawahan itu. Ketika terbangun, fajar sudah menyingsing. Cepat-cepat ia bangun, karena khawatir apabila pemilik sawah itu datang, bisa mencurigainya tanpa sebab.
    Ia pun kemudian melanjutkan perjalanan. Ia sampai ke Gunung Kendeng setelah berjalan sehari penuh. Dari sana ia mencari seekor kuda milik kawannya. Ia lalu memacu kuda itu ke arah Timur menuju Panaraga.
    Dalam pada itu, di Panaraga Glagah Putih dan Rara Wulan masih terus mengamat-amati Istana Kadipaten. Ia selalu berbagi tugas dengan kawannya yang bernama Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda.
    Sudah berhari-hari Glagah Putih mengamati Istana Kadipaten, namun belum dilihatnya ada kegiatan yang berarti dari dalam Istana. Agaknya orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu bekerja sangat cermat. Ia tidak mau terburu-buru untuk menggerakkan pasukan yang akan bisa memancing kemarahan kekuatan Mataram.
    Karena itu, ketika Pangeran Ranapati mendapat kesempatan menghadap Kangjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga, ia menyarankan kepada Kangjeng Adipati untuk mulai memperkuat pasukan Panaraga.
    “Apakah yang harus aku lakukan kakangmas?” tanya Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga.
    “Adimas harus sudah mulai memberi kesempatan kepada rakyat, terutama dari padepokan-padepokan untuk mengikuti pendadaran bakal prajurit Panaraga. Dengan mengangkat prajurit baru, maka pasukan Kadipaten Panaraga akan menjadi semakin kuat, suatu kekuatan yang akan dapat diperhitungkan oleh kawan maupun lawan,” kata Pangeran Ranapati.
    “Apakah hal itu sudah cukup kakangmas?” tanya Pangeran Jayaraga lagi.
    “Tentu belum cukup, adimas. Sebenarnya aku sudah menjalin hubungan dengan perguruan Windu Jati dan beberapa padepokan yang ada di Panaraga. Bahkan aku telah mengenal dengan sangat baik salah seorang murid dari perguruan itu Windu Jati…”
    “Oleh kawanku itu, aku sudah sempat dibawa menghadap gurunya. Aku lalu menyampaikan gegayuhanku dan gegayuhan adimas untuk menjadikan Panaraga sebuah kadipaten yang kuat untuk membayangi kekuatan Mataram, bahkan kalau mungkin membangkitkan kejayaan Majapahit di masa silam,” kata Pangeran Ranapati lagi.
    “Agaknya guru aliran Windu Jati dan beberapa padepokan tersebut memberi perhatian, mempercayaiku dan ia mendukung gegayuhan yang hendak dicapai oleh Panaraga secara keseluruhan.”
    “Guru aliran Windu Jati itu pun agaknya mempunyai gegayuhan yang sejalan dengan keinginan kita. Ia tidak mau kepalang tanggung, karena itu ia telah memerintahkan empat orang murid utamanya untuk menjajagi kekuatan pasukan Mataram. Keempat orang itu telah dua pekan berangkat ke Mataram, namun sampai sekarang belum kembali,” katanya.
    “Jika adimas berkenan, aku rasa Mas Panji Wangsadrana bisa membuat wara-wara untuk segera membuka kesempatan kepada masyarakat dan murid berbagai padepokan di seluruh Panaraga untuk mengikuti pendadaran calon prajurit,” kata Pangeran Ranapati.
    “Baiklah. Jika hal itu adimas anggap baik, aku akan memerintahkan Senapati Mas Panji Wangsadrana melaksanakannya,” kata Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga.
    “Tapi aku mohon ampun adimas. Bukan maksudku untuk meragukan kemampuan adimas. Namun aku ingin mengingatkan adimas, bahwa untuk membangun kekuatan pasukan yang mumpuni, membutuhkan biaya yang sangat besar.”
    “Aku paham kakangmas. Aku sudah siap biayanya. Namun jika biaya itu kurang maka kita dapat meminta rakyat untuk membayar pajak yang lebih besar untuk membiayai pembangunan kekuatan pasukan Panaraga.”
    “Tetapi apakah mereka tidak akan berkeberatan seandainya kita bebani lagi mereka dengan pajak tambahan?” tanya Pangeran Ranapati.
    “Tidak ada alasan bagi mereka untuk berkeberatan kakangmas. Bukankah selama ini mereka menikmati hasil pembangunan yang kita laksanakan seperti jalan, jembatan, bendungan dan saluran air yang membuat hasil panen mereka melimpah dan bisa dijual sampai keluar Panaraga…”
    “Nah sekarang, aku memerlukan pengorbanan mereka berupa pembayaran pajak yang sedikit lebih besar, yang pada akhirnya demi kemajuan mereka juga. Kalau Panaraga menjadi negeri yang besar, tentu mereka akan ikut pula menikmati.”
    “Baiklah adimas, aku dapat memahami itu. Namun ada satu hal lagi adimas,” kata Pangeran Ranapati.
    “Apa itu kakangmas?” tanya Kangjeng Adipati.
    —Adimas juga bisa mulai membangun kekuatan dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang sudah ada untuk bergabung dengan kita untuk meruntuhkan Mataram,” kata Pangeran Ranapati.
    “Caranya bagaimana?” tanya Kangjeng Adipati.
    “Caranya, tentu saja dengan membuat hubungan dengan orang-orang yang tidak puas dengan bangkitnya Mataram. Kita bisa berhubungan dengan Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Di sana tentu ada orang-orang yang merasa tersingkirkan oleh berdirinya Mataram. Padahal kalau Mataram tidak berdiri, tentu seharusnya mereka yang meneruskan garis kekuasaan yang memerintah di tlatah ini.”
    “Inilah yang berbahaya kakangmas. Mereka tentu sangat mengetahui, bahwa aku adalah masih keturunan Panembahan Senapati,” kata Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga..
    “Biarlah hal itu aku yang mengatur adimas,” kata Pangeran Ranapati.”Bukankah adimas sebagai saudara yang lebih tua, seharusnya lebih berhak memerintah ketimbang Panembahan Hanyakrawati…”
    “Ya itulah yang menjadi sebab aku selalu menjadi gelisah, kakangmas. Aku merasa seperti ada sesuatu yang selalu mengganggu perasaanku. Aku merasa tidur tidak nyenyak, makan tidak enak…”
    “Hal itu janganlah membuat adimas gundah gulana. Sebenarnya nasib adimas jauh lebih baik daripada aku. Sejelek-jelek nasib adimas, adimas masih mendapat sepetak tanah yang bernama Panaraga ini dan mendapat kekuasaan yang tidak terbatas, meskipun dalam lingkungan yang lebih kecil daripada Mataram…”
    “Tetapi apa yang aku alami? Aku terlunta-lunta hampir sepanjang hidupku. Tidak ada seorang pun di antara keluarga Istana yang mengenalku, bahwa aku masih sanak kadang mereka. Untunglah adimas di Panaraga ini sempat mengadakan adon-adon untuk mencari senapati, kalau tidak…” Pangeran Ranapati mendesah.
    “Sudahlah kakangmas. Mungkin memang sudah menjadi garis nasib, bahwa kita pada akhirnya harus bertemu di Panaraga ini. Bukankah itu lebih baik daripada kita tidak bertemu sama sekali?” kata Kangjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga.
    “Jika adimas menyetujui langkah yang harus aku ambil untuk menghubungi sanak kadang kita yang kecewa dengan naiknya Panembahan Hanyakrawati, maka aku akan segera menggalang kekuatan yang bisa kita ajak untuk bergerak bersama-sama dalam satu irama untuk kebangkitan Mataram yang baru,” kata Pangeran Ranapati.
    “Baiklah kakangmas.Tetapi kakangmas harus berhati-hati benar. Sebab dalam kondisi demikian ada saja orang-orang yang menjadi telik sandi rangkap. Kepada kita mereka tidak menyatakan berkeberatan, tetapi ke sana juga mereka menyatakan tidak menolak,” kata Kangjeng Adipati.
    “Aku paham adimas. Adimas tidak perlu khawatir. Aku mempunyai saluran-saluran yang dapat dipercaya untuk membuat hubungan-hubungan demikian. Asal kita mempunyai dana yang cukup bisa menjamin hidup mereka dan keluarganya, maka mereka tentu bersedia untuk membantu kita.”
    “Mengenai pendanaan aku tidak merasa berkeberatan, kakangmas. Sebagai bekal perjalanan dan keperluan kakangmas untuk membangkitkan segala kekuatan yang bisa mendukung kita, kakangmas bawalah sekantung uang ini,” kata Kangjeng Adipati Pangeran Jayaraga, sambil menyodorkan sekantung uang emas.
    “Terima kasih adimas . Kepercayaan adimas ini aku junjung tinggi,” kata Pangeran Ranapati.
    “Untuk menyiapkan pendadaran bakal prajurit Panaraga, aku rasa Mas Panji Wangsadrana sudah mulai bisa bergerak untuk membuat wara-wara penerimaan bakal prajurit Panaraga,” kata Kangjeng Adipati.
    “Benar adimas. Mas Panji Wangsadrana sudah dapat melakukan hal itu mulai pekan depan,” kata Pangeran Ranapati. ”Sedangkan aku mulai besok akan bergerak ke Jipang, Madiun dan Demak. Dengan pertanda kepercayaan dari adimas, maka aku akan bisa menjalin hubungan dengan orang-orang tertentu di ketiga kadipaten itu,” kata Pangeran Ranapati.
    Demikianlah Pangeran Ranapati segera bersiap-siap untuk mengadakan perjalanan ke ketiga kadipaten itu, termasuk dengan padepokan-padepokan yang bisa diajaknya bekerjasama untuk meruntuhkan Mataram.
    Sebagai langkah pertama, besok Pangeran Ranapati akan mengunjungi padepokan Windu Jati di Panaraga. Padepokan itu terletak di tepi hutan, agak tersembunyi dari jalan raya. Untuk mencapai padepokan itu, diperlukan waktu perjalanan dengan berkuda setengah hari. Namun jika ditempuh dengan berjalan kaki bisa dicapai sehari penuh.
    Namun karena Pangeran Ranapati merasa selalu dimata-matai oleh telik sandi Mataram, maka ia memilih untuk menempuh perjalanan itu dengan berjalan kaki.
    Ia memilih waktu berangkat pada wayah sepi uwong. Itupun tidak melalui regol depan maupun regol butulan istana itu, karena di sana selain ada pos penjagaan yang seantiasa dijaga prajurit pengawal, tentu kedua pintu gerbang itu selalu diamati oleh telik sandi Mataram.
    Oleh karena itu, ia memilih meloncati tembok pagar istana yang cukup tinggi itu, lalu melekat di atasnya sambil mengamati keadaan di sekitarnya untuk beberapa saat. Setelah diamatinya, ternyata tidak ada yang mencurigakan, maka ia meloncat keluar.
    Ia tidak ingin diketahui perjalanannya oleh siapa pun, karena itu ia memilih memakai pakaian orang kebanyakan. Dalam pakaian seperti itu, maka tidak akan ada orang yang memperhatikan. Ia seperti seorang pengembara yang tidak seorang pun menghiraukannya. Untuk mengatasi sengatan cahaya matahari yang terik, ia menggunakan topi bercaping lebar yang biasa dipakai petani kalau sedang menyiangi rumput di sawah.
    Pangeran Ranapati yang sebenarnya bernama Ki Karaba Bodas itu pun sudah terbiasa berjalan tanpa harus menarik perhatian orang. Ia terus berjalan menjauhi Istana Panaraga, lalu menuju jalan desa, melintas di bulak persawahan, gumuk-gumuk kecil, lalu mulai melintasi jalan setapak yang jarang dirambah manusia.
    Ia pun terus berjalan menyusuri jalan yang melalui pengenalannya menuju ke perguruan Windu Jati. Ketika cahaya di langit timur mulai semburat merah, ia menghela nafas perlahan.
    “Hampir fajar,” katanya dalam hati. Namun Ki Karaba Bodas itu terus berjalan di sela-sela pepohonan hutan yang masih rapat. Semakin lama pepohonan itu semakin padat, dan ketika matahari muncul di sela-sela dedaunan ia semakin jauh meninggalkan Panaraga.
    Di tepi sungai yang airnya mengalir jernih Ki Karaba Bodas berhenti sejenak, lalu duduk mencangkung di atas batu hitam yang agak lebar dan permukaannya datar. Ia ingin istirahat di sana. Ia membuka bekal nasi yang sempat dibawanya dari Istana Panaraga. Ia pun menikmati sarapan pagi itu sambil ditingkahi gemercik suara air dan burung-burung hutan yang memperdengarkan suaranya yang merdu.
    Setelah selesai dengan santap paginya itu, tiba-tiba rasa kantuk telah menyerangnya. Ia pun membaringkan tubuhnya untuk meluruskan badan di atas bebatuan itu. Udara yang sejuk itu telah membuai matanya. Apalagi dengan perutnya yang baru terisi makanan, membuat kegiatan darah terserap ke perut untuk mengolah makanan itu menjadi sari-sari pati tenaga, untuk kemudian disalurkan ke seluruh tubuh. Suasana yang hening dan sejuk itu membuatnya menguap. Ia lalu mengucak-ngucak matanya, dan Ki Karaba Bodas pun terpelanting ke dalam dunia mimpinya.
    Namun betapa nyenyaknya pun ia tertidur, Ki Karaba Bodas segera terbangun ketika didengarnya desir halus di sebelahnya. Ia terperanjat ketika terdengar auman keras di sebelahnya, sebuah benda besar meluncur ke arahnya dengan kuku-kuku tajam terjulur ke arahnya. Segera saja ia berguling ke samping dan binatang besar yang mengaum dan mencoba menerkamnya tadi adalah seekor harimau. Harimau itu menggeram ketika menyadari bahwa mangsanya bisa menghindar dari serangannya yang mematikan itu.
    Ki Karaba Bodas segera bersiaga. Ia termangu-mangu sejenak. Seandainya ia terlambat sedikit saja maka harimau besar itu bisa mengoyak-ngoyak habis tubuhnya. Ia bergerak menyamping ketika harimau itu menerjang dengan sekuat tenaganya. Agaknya harimau itu tengah lapar, sehingga ia sudah tidak memilih lagi dalam mencari mangsanya. Manusia pun hendak diterkamnya.
    Ketika harimau itu menyambar di sampingnya, Ki Karaba Bodas segera menerjang dengan sebuah tendangan yang kuat mengenai tulang rusuknya. Harimau itu menggeram hebat lalu membalikkan badannya. Ia berpikir bahwa Ki Karaba Bodas adalah mangsa yang dapat dengan mudah disantapnya, namun ternyata ia salah menduga.
    Dengan cepat harimau itu meloncat lagi lalu menyambar dengan kedua kaki depannya, dengan menjulurkan kuku-kukunya keluar dari selaput kakinya itu. Ki Karaba Bodas kembali meloncat ke samping, lalu menangkap kaki kanan harimau itu, menariknya kuat-kuat lalu membantingnya di atas batu tempatnya berbaring tadi.
    Harimau itu mengaum hebat, namun agaknya ia telah menjadi jera. Kena dua kali serangan Ki Karaba Bodas yang sempat menyakitinya, harimau itu langsung kuncup hatinya. Ia pun menggeram kecil lalu mencoba melarikan diri. Ki Karaba Bodas membiarkan harimau itu masuk ke dalam semak-semak lalu lari ke dalam hutan yang lebih dalam untuk mencari mangsa yang lain. Sejak itu ia mulai menyadari bahwa mahluk yang bernama manusia bukan sejenis santapan yang bisa diterkamnya dengan mudah.
    Ki Karaba Bodas berdiri termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang cukup keras dari balik semak-semak. Ki Karaba Bodas berbalik dan bersiaga.
    “Aku, Ki Karaba Bodas,” kata orang yang bertepuk tangan tadi.
    “Siapa kau?” katanya.”keluarlah.”
    Dua buah tangan menguak semak-semak itu dan muncullah sesosok tubuh dari semak-semak itu. Sementara sang mentari sudah mencapai puncak langit.
    “Oo kau, adi Gondang Legi.”
    “Iya kakang Karaba Bodas,” jawab lawan bicaranya.
    ”Sebenarnya aku tadi sudah hampir melempar harimau itu dengan pisau belatiku. Tapi kulihat kakang sudah terbangun, jadi aku hanya menyaksikan betapa dua pukulan yang kuat sudah membuat raja hutan itu menjadi jera,” kata Ki Gondang Legi.
    “Kenapa kau berada di sini,” tanya Ki Karaba Bodas.
    “Aku kebetulan melintas kakang,” kata Ki Gondang Legi.
    “He? Bukankah kau dua pekan lalu pergi ke Mataram berempat dengan tiga saudara perguruanmu, kenapa kau kembali sendiri,” kata Ki Karaba Bodas.
    “Kami mendapat musibah, kakang,” kata Ki Gondang Legi.
    “He? Musibah bagaimana?” tanya Ki Karaba Bodas dengan nada tinggi.
    “Ketika kami telah selesai menjajagi kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri,” kata Ki Gondang Legi.
    “Jadi tugas kalian gagal, he?” kata Ki Karaba Bodas.
    “Sebenarnya tugas kami tidak gagal sama sekali, karena semua keterangan tentang kekuatan Mataram sudah berhasil diketahui oleh kakang Bargas dan Bergawa,” kata Ki Gondang Legi lagi.
    “Sekarang mana catatan tentang kekuatan pasukan Mataram itu?” tanya Ki Karaba Bodas.
    “Catatan itu ada pada kakang Bargas dan kakang Bergawa,” kata Ki Gondang Legi.
    “Namun untunglah aku sudah sempat menyalinnya, sehingga akupun mempunyai catatan yang hampir serupa,” tutur Ki Gondang Legi, sambil menepuk kampilnya yang diselipkan di pinggangnya. Maksudnya, ia telah menyimpan catatan itu dalam kampilnya itu.
    “Dan kedua kakak seperguruanmu itu berhasil dilumpuhkan oleh seorang prajurit Mataram?” tanya Ki Karaba Bodas dengan geram.
    “Iya. Keduanya berhasil dilumpuhkan oleh prajurit yang juga mempunyai ciri-ciri aliran perguruan Windu Jati.”
    “He? Apakah ada saudara seperguruanmu yang mempunyai ciri-ciri perguruan Windu jati?” tanya Ki Karaba Bodas.
    “Boleh dibilang iya, boleh dibilang tidak,” kata Gondang Legi.
    “He? Iya dan tidak, maksudmu bagaimana?” tanya Ki Karaba Bodas sampai terheran-heran.
    “Aku juga heran, kenapa orang itu bisa mempunyai ilmu dari aliran perguruan Windu Jati. Orang itu bukan orang yang berguru pada guruku. Aku tidak tahu ia belajar dari siapa lagi yang mempunyai aliran perguruan Windu Jati,” kata Ki Gondang Legi.
    “Apakah orang itu juga bersenjata cambuk seperti kalian?” tanya Ki Karaba Bodas.
    “Iya ilmu orang itu, sangat persis dengan ilmu perguruan kami. Ia bahkan mempunyai ilmu membelah diri seperti kakang Bargas dan Bergawa. Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari,” kata Ki Gondang Legi.
    “He? Prajurit itu juga bisa Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari?” tanya Ki Karaba Bodas.
    “Iya,” kata Ki Gondang Legi.
    “Lalu sekarang apa rencanamu?” tanya Ki Karaba Bodas.
    “Aku akan menghadap guru,” kata Ki Gondang Legi.
    “Baik. Kalau begitu aku pergi bersamamu. Kedatanganku kemari memang untuk menemui gurumu, Kiai Cambuk Petir,” kata Ki Karaba Bodas.
    “Marilah kita lanjutkan perjalanan,” kata Ki Gondang Legi.
    Demikianlah mereka berdua pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan itu mereka bertukar ceritera tentang pengalaman mereka masing-masing selama mereka tidak bertemu.
    Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Tumenggung Agung Jaya Santika telah mulai kembali ke barak pasukan khusus. Di depan para prajuritnya ia menceriterakan pengalamannya ketika diwisuda sebagai seorang tumenggung bersama empat puluh orang lainnya, yang mendapat kenaikan pangkat, termasuk para demang yang telah mengabdikan dirinya bagi kemajuan Mataram.
    Ki Tumenggung Agung Jaya Santika juga menceriterakan betapa ia merasa sangat terkejut ketika diumumkan bahwa pangkatnya dinaikkan menjadi tumenggung, padahal semula yang ia dengar pangkatnya hanya akan dinaikkan setingkat menjadi seorang panji.
    “Aku sangat bersyukur atas kenaikan pangkatku ini. Hal itu menunjukkan bahwa para pimpinan kita tidak menutup mata atas apa yang kita capai,” katanya dengan nada rendah. Memang Ki Agung Jaya Santika adalah seorang yang bersifat rendah hati. Ia tidak pernah mengeluh ketika jabatannya, lama sekali tidak bergerak sebagai seorang lurah prajurit.
    “Oleh karena itu,” katanya, ”aku ingin agar kalian juga mengabdikan diri kalian sesuai dengan bidang kehidupan yang kalian pilih yakni sebagai prajurit.”
    “Jika kalian mengabdikan diri secara sungguh-sungguh, maka kalian akan mendapatkan anugerah yang sesuai dengan jiwa pengabdian kalian itu. Kalian harus berjuang untuk menegakkan kerajaan Mataram, sehingga negeri ini bisa menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta raharja,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Sebagai seorang prajurit tugas kalian adalah menegakkan unsur tata tenteram di negeri ini. Jika tata tenteram itu sudah terwujud, maka unsur gemah ripah loh jinawi dan kerta raharja itu akan terwujud,” katanya lagi.
    “Jadi unsur tata tenteram yang menjadi tugas kalian untuk menegakkannya, menjadi penentu bagi penegakan segala gegayuhan pimpinan kita dan gegayuhan masyarakat. Dengan tata tenteram petani bisa menanam padi dengan tenang, para pedagang bisa berniaga tanpa gangguan. Sehingga pada akhirnya masyarakat bisa hidup tenang dan terpenuhi segala yang menjadi kebutuhannya,” kata Ki Tumenggung Agung Jaya Santika.
    “Saya ingin menutup sesorah singkat saya ini dengan kata: Hidup Mataram. Marilah kita teriakkan dengan bersemangat: Hidup Mataram,” kata Ki Tumenggung Agung Jaya Santika mengakhiri sesorahnya. Ia berteriak Hidup Mataram sambil tinjunya memukul langit.
    “Hidup Mataram. Hidup Mataram. Hidup Mataram,” serentak seluruh prajurit di barak Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh berteriak membahana, seolah-oleh hendak mengguncangkan langit, menggetarkan bumi.
    Para prajurit yang termasuk dalam kesatuan pasukan khusus itu pun kemudian membubarkan diri dan melaksanakan tugas masing-masing. Yang pergi berlatih mengikuti latihan dengan penuh semangat, yang melaksanakan pembangunan armada laut di tepian Kali Praga pun melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian.
    Semangat mereka terbakar dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kemajuan Mataram. Agaknya tradisi baru yang dibangun Ki Tumenggung Agung Jaya Santika itu diperolehnya ketika saat wisuda Panembahan Hanyakrawati juga menutup sesorahnya dengan kata-kata itu: Hidup Mataram.
    Rupanya tradisi itu dengan cepat menjalar ke lingkungan prajurit yang lebih luas.
    Dalam pada itu, setelah Panglima Wira Tamtama Ki Prabayudha menyerahkan jabatannya kepada Ki Rangga Sabungsari, maka iapun berpesan kepada seluruh prajurit di wilayah Selatan yang bermarkas di Jati Anom untuk ikut menjaga ketenteraman masyarakat di sekitarnya.
    “Memang selama ini tidak atau boleh dikatakan jarang terjadi gangguan keamanan di wilayah kita di Selatan ini. Karena itu kepada Ki Rangga Sabungsari dan segenap jajarannya, saya perintahkan untuk tetap memelihara dan meningkatkan keamanan di daerah ini,” kata Ki Prabayudha yang kini menjadi Panglima Wira Tamtama Mataram.
    “Mulai besok aku akan bertugas di Kotaraja sesuai dengan jabatanku sebagai Panglima Wira Tamtama. Karena itu, aku meminta dengan amat sangat agar kalian semua prajurit Mataram di wilayah Selatan ini tetap melaksanakan perintah yang ditugaskan kepada kalian, seperti sebagaimana kalian melaksanakan perintahku. Kalian jagalah keutuhan dan rasa kebersamaan di antara kalian, sehingga wilayah Selatan ini bisa menjadi contoh bagi pasukan Mataram secara keseluruhan,” kata Ki Tumenggung Prabayudha dalam sesorah singkatnya.
    Setelah menyampaikan sesorahnya dan menyerahkan jabatannya kepada Ki Rangga Sabungsari, maka Ki Prabayudha berpamitan untuk menuju Kotaraja pada keesokan harinya.
    Sebelum berangkat ke Kotaraja, pada sore harinya Ki Prabayudha dan istrinya menyempatkan diri mampir ke padepokan kecil peninggalan Kiai Gringsing. Namun pamannya Ki Widura yang sekarang memimpin padepokan kecil itu sedang ke rumahnya di Banyu Asri, yang terletak tidak jauh dari Jati Anom. Sedangkan yang ada di padepokan itu adalah Wira Sanjaya dan temannya putera Ki Demang Jati Anom dan para cantrik yang sedang tenggelam dalam kesibukannya.
    “Kemanakah kakekmu, Wira Sanjaya?” tanya Ki Prabayudha kepada anaknya itu.
    “Kakek sedang ke Banyu Asri, ayah. Karena kemarin ada utusan yang mengatakan nenek sedang sakit,” kata Wira Sanjaya.
    “Baiklah ayah dan ibumu akan segera ke Banyu Asri untuk menengok kakek dan nenekmu, sekalian ayah berpamitan karena mulai besok ayah harus bertugas ke Kotaraja,” kata Ki Prabayudha.
    “Ayah dan ibu ke Kotaraja? Berapa lama ayah?” tanya Wira Sanjaya.
    “Mulai besok ayah bertugas sebagai Panglima Wira Tamtama, jadi ayah akan seterusnya berada di Kotaraja. Untuk sementara Wira Sanjaya tetap di padepokan ini, sampai kau tuntas menuntut ilmu dari kakekmu,” kata Ki Prabayudha.
    “Apakah aku boleh ikut ke Kotaraja ayah?” tanya Wira Sanjaya.
    “Tentu. Tentu kau boleh ikut ke Kotaraja, setelah kau tuntas menyadap ilmu di padepokan ini. Kau pun boleh datang ke Tanah Perdikan Menoreh, karena di sana ada pamanmu Agung Sedayu yang kini mendapat gelar kekancingan Ki Tumenggung Agung Jaya Santika,” kata Ki Prabayudha.
    “He? Paman Agung Sedayu menjadi tumenggung? Luar biasa,” kata Wira Sanjaya.
    “Iya. Pamanmu sekarang sudah menjadi tumenggung. Namun ia masih berkedudukan di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Tumenggung Prabayudha.
    “Wira Sanjaya, kau harus belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar kau dapat mewarisi ilmu olah kanuragan aliran perguruan Jati Kencana dari kakekmu Ki Sadewa dan sekaligus ilmu olah kanuragan dari perguruan Orang Bercambuk peninggalan Kiai Gringsing.”
    “Baik ayah. Aku akan melaksanakan pesan ayah itu dengan sungguh-sungguh,” kata Wira Sanjaya,” Aku mendoakan ayah dan ibu selamat dalam perjalanan ke Kotaraja dan berhasil dalam melaksanakan tugas ayah yang baru.”
    “Baiklah Wira Sanjaya. Terima kasih atas doamu. Jaga dirimu baik-baik. Aku dan ibumu segera berangkat ke Banyu Asri,” kata Ki Tumenggung Prabayudha lagi.
    “Wira jagalah makanan, agar jangan sampai kau sakit karena terlambat makan,” kata Nyi Tumenggung Prabayudha.
    Demikianlah Ki Prabayudha dan istrinya segera berderap menunggangi kuda masing-masing menuju ke Banyu Asri. Sebagai puteri seorang prajurit, ternyata Nyi Prabayudha pun terampil untuk mengendarai kuda.
    Tidak berapa lama mereka sampai di Banyu Asri dan bertemu dengan Ki Widura dan Nyi Widura. Mereka menghentikan kudanya di depan regol halaman dan menuntunnya memasuki halaman rumah itu.
    “Marilah anakmas sekalian, naik ke pendapa,” kata Ki Widura.
    “Terima kasih, paman,” kata Ki Prabayudha dan Nyi Prabayudha.
    Mereka lalu naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang digelar di tengah ruangan.
    “Apakabar paman? Sakit apakah bibi?” tanya Nyi Prabayudha.
    “Kabar baik anakmas. Bibimu sakit biasa. Kalau sudah seumur-umur kami ini memang sebentar-sebentar sakit, paling-paling masuk angin,” kata Ki Widura.
    “Syukurlah kalau hanya sakit masuk angin saja, tidak parah-parah sekali. Semoga cepat sembuh. Bolehkah aku menengoknya ke dalam paman,” tanya Nyi Prabayudha sambil berjalan masuk ke ruangan dalam.
    Ki Widura hanya tertawa saja.”Syukurlah berkat doa anakmas berdua, bibimu sudah sembuh.”
    Nyi Prabayudha masuk ke ruangan dalam, tidak ditemukannya bibinya itu di dalam biliknya. Ia terus berjalan ke ruangan belakang, ternyata bibinya sedang di dapur menjerang air dan memotong-motong kue basah.
    “Wah bibi sedang membuat apa?” tanya Nyi Prabayudha.
    “Oo Nyimas. Aku sedang menjerang air untuk membuat wedang jahe dan memotong juadah ini. Mari silakan duduk saja di ruang depan.”
    “Biarlah aku membantu bibi di sini,” kata Nyi Prabayudha, ”apakah bibi sudah sembuh?”
    “Aku sudah sembuh Nyimas,” kata Nyi Widura.
    “Syukurlah bibi sudah sembuh,” kata Nyi Prabayudha.
    Sementara itu di ruangan pendapa, Ki Widura dan Ki Prabayudha berbincang berdua.
    “Angin apakah kiranya yang membawa anakmas sekalian datang ke gubuk pamanmu ini,” tanya Ki Widura.
    “Aku datang kemari, hendak berpamitan karena mulai besok aku harus ke Kotaraja, paman,” kata Ki Prabayudha.
    “Berapa lamakah anakmas akan ke Kotaraja,” tanya Ki Widura lagi.
    “Mungkin dalam waktu yang cukup lama, paman,” jawabnya pula.
    Ki Widura mengerutkan keningnya.
    “Maksud anakmas, anakmas akan pindah ke Kotaraja?” tanya Ki Widura lagi.
    “Iya paman. Beberapa hari yang lalu aku mendapat panggilan ke Kotaraja. Ternyata aku diwisuda menjadi Panglima Wira Tamtama, suatu jabatan yang kosong sejak ditinggalkan oleh Ki Gde Pemanahan pada zaman Pajang dulu,” jawab Ki Prabayudha.
    “Wah syukurlah. Aku sangat bersyukur dan berbangga hati anakmas yang kemanakanku mendapat kehormatan menjadi Panglima Wira Tamtama,” kata Ki Widura dengan wajah tulus.
    “Kali ini kebanggaan paman berlipat dua,” kata Ki Prabayudha.
    “Kenapa ngger?” tanya Ki Widura.
    “Karena kemanakan terkasih paman yang lain juga mendapat anugerah menjadi tumenggung,” kata Ki Prabayudha.
    “He? Apakah maksudmu Agung Sedayu,” tanya Ki Widura setengah tak percaya.
    “Bukan. Bukan Agung Sedayu paman. Tapi Tumenggung Jaya Santika,” kata Ki Tumenggung Prabayudha sambil mengulum senyumnya yang hampir meledak menjadi tawa.
    “Siapakah Tumenggung Jaya Santika itu ngger? Anakmas sudah membuatku bingung. Rasanya aku tidak mempunyai kemanakan bernama Jaya Santika,” katanya sambil mengernyitkan alisnya yang sudah berwarna putih semua.
    “Hahaha. Agung Sedayu itulah sekarang yang bernama Tumenggung Jaya Santika paman. Adi Agung Sedayu mendapat gelar kekancingan Ki Tumenggung Jaya Santika. Lengkapnya Ki Tumenggung Agung Jaya Santika,” kata Ki Tumenggung Prabayudha sambil tertawa lebar.
    “Oo syukurlah. Aku menjadi semakin berbangga dengan keberhasilan kalian di bidang keprajuritan. Kalian berdua jauh melebihi tingkat kepangkatanku yang hanya mentok sebagai seorang rangga. Meskipun orang-orang lebih akrab menyebutku sebagai Senapati Widura,” katanya.
    “Iya paman. Keberhasilan paman itulah yang mendorong kami untuk ikut maju. Meskipun pada saat awalnya, memang agak lambat bagi adi Agung Sedayu,” kata Ki Prabayudha.
    “Kalau anakmas Agung Sedayu mendapat gelar kekancingan Ki Tumenggung Agung Jaya Santika, gelar apakah yang anakmas peroleh?” tanya Ki Widura.
    “Namaku pun tidak banyak berubah. Namaku menjadi Ki Prabayudha, paman,” jawab kemanakannya itu.
    “Oo. Alangkah bahagianya kakang Sadewa, kalau mendengar bahwa kedua anaknya menjadi orang yang terpandang,” kata Ki Widura. Tanpa terasa air matanya menitik. Air mata haru. Untuk mengalihkan pembicaraan, Ki Prabayudha menanyakan kemajuan latihan dan ilmu olah kanuragan yang dicapai oleh anaknya Wira Sanjaya dan temannya, anak Ki Demang Jati Anom.
    “Bagaimanakah kemajuan Wira Sanjaya dan kawannya itu paman?” tanya Ki Prabayudha.
    “Mereka agaknya telah belajar dan berlatih dengan bersungguh-sungguh, anakmas,” kata Ki Widura.”Wira Sanjaya agaknya sudah merambah ke dalam pengolahan tenaga cadangannya. Ia mendapat kemajuan yang cukup berarti pada usianya yang boleh dibilang masih sangat muda.”
    “Apakah hal itu tidak membahayakan baginya paman?” tanya Ki Prabayudha.
    “Tidak anakmas. Dengan selalu dalam pengawasanku, Wira Sanjaya sudah mampu mengatasi saat-saat tersulit dalam mencapai tenaga cadangannya. Kini ia tinggal memupuknya saja,” jawab Ki Widura.
    “Atas seizin anakmas, aku akan menggembleng Wira Sanjaya dalam dua aliran perguruan yang berbeda yaitu perguruan Orang Bercambuk dan aliran perguruan Ki Sadewa yang sebenarnya bernama aliran Jati Kencana,” kata Ki Widura lagi.
    “Baik paman. Hal itu akan baik sekali bagi Wira Sanjaya. Kebetulan aku sudah mendalami keduanya, namun tidak terjadi benturan ilmu di antara keduanya,” kata Ki Prabayudha.
    “Semoga aku berhasil melatih anak itu agar bisa menjadi generasi penerus yang mumpuni,” kata Ki Widura.
    “Iya paman. Aku titipkan pengasuhan anak itu kepada paman,” kata Ki Prabayudha.
    “Tentu saja anakmas. Wira Sanjaya juga adalah cucuku. Aku tetap mempunyai kepentingan agar Wira Sanjaya bisa menjadi anak yang membanggakan bagi orang tuanya, dan juga bagi gurunya,” kata Ki Widura lagi.
    Demikianlah sambil berbincang, tak berapa lama Nyi Prabayudha mengeluarkan makanan dan minuman ke pendapa. Nyi Widura dan Nyi Prabayudha pun ikut bersimpuh di pendapa itu sambil mereka bercakap-cakap.
    “Apakah anakmas Nyi Prabayudha tidak canggung mengendarai seekor kuda ke mari,” tanya Nyi Widura.
    “Aku sejak kecil sudah terbiasa berkuda, bibi,” jawab Nyi Prabayudha.”Karena ayahku juga seorang prajurit pada zaman Pajang seperti paman Widura.”
    “Oo. Syukurlah. Kalau aku sejak kecil sudah takut melihat kuda. Apalagi kalau harus menaikinya,” kata Nyi Widura.
    “Aku berani naik kuda, karena ayah memiliki kuda dan aku dilatihnya menunggang kuda itu. Mula-mula aku memang agak gamang, bibi. Seluruh badanku berkeringat dingin. Tetapi lama kelamaan, aku terbiasa dan tidak merasa takut lagi,” kata Nyi Prabayudha.
    “Namun sekarang tenagaku tidak sekuat dulu lagi. Ketika mau naik ke atas punggung kuda tadi, aku harus dibantu oleh kakang,” kata Nyi Prabayudha.
    Demikianlah mereka berbincang-bincang cukup lama, karena sebagai sanak kadang telah lama mereka tidak bertemu. Ketika menjelang senja, Ki Prabayudha sekalian berpamitan untuk sekaligus berangkat ke Kotaraja pada keesokan harinya.
    Pada keesokan harinya, Ki Prabayudha menyiapkan segala perlengkapan yang harus dibawanya ke Kotaraja. Sebuah kereta yang dihela dua ekor kuda telah disiapkan untuk membawa barang-barang milik pribadi yang harus dibawa ke Kotaraja. Nyi Prabayudha duduk di dalam kereta, sedangkan Ki Prabayudha duduk di sebelah sais. Sepuluh orang pengawal berkuda di depan kereta dan sepuluh orang lainnya berkuda di belakang kereta.
    Sebenarnya Ki Prabayudha kurang suka bepergian mempergunakan kereta seperti itu. Namun karena dalam perjalanan ini ikut Nyi Prabayudha, maka ia tidak bisa menolak ketika Ki Rangga Sabungsari menyediakan sebuah kereta berkuda untuknya.
    —Kalau kakangmbok juga harus berkuda, akan kasihan sekali kakang. Perjalanan ini cukup jauh—kata Ki Rangga Sabungsari berkilah.
    Demikianlah setelah segala sesuatunya siap, Ki Rangga Sabungsari dan seluruh prajurit Mataram wilayah Selatan di Jati Anom memberi penghormatan sekali lagi. Matahari baru setinggi sepenggalah. Dan kereta berkuda itu berderap diiringi prajurit pengawal berkuda sepuluh orang di depan dan sepuluh orang di belakang.
    Ketika matahari sudah hampir tergelincir di punggung bukit sebelah Barat, rombongan Ki Prabayudha dan pasukannya telah memasuki batas Kotaraja. Setiap orang yang melintas memperhatikan kereta berkuda dan para pengawalnya itu. Namun karena kereta cukup cepat berpacu, mereka tidak bisa melihat secara jelas siapakah yang menaiki kereta tersebut.
    Ketika mendekati regol halaman Istana, kereta tersebut berjalan kian lambat. Lurah prajurit yang memimpin pasukan pengawal berkuda itu segera melapor kepada lurah prajurit jaga yang berada di regol.
    “Silakan. Silakan langsung ke pendapa . Aku telah mendapat perintah untuk mengantarkan rombongan Panglima langsung ke depan pendapa,” kata lurah prajurit itu.
    Panglima Wira Tamtama Ki Prabayudha dan Nyi Prabayudha disambut oleh Pangeran Purbaya di depan pendapa Istana. Sedangkan pasukan pengawal berkudanya, menambatkan kuda masing-masing di tempat yang telah disediakan di halaman dalam di kiri kanan regol.
    “Marilah Ki Prabayudha sekalian, naiklah ke pendapa,” kata Pangeran Purbaya.
    Mereka pun lalu duduk di atas sehelai tikar lebar yang digelar di pendapa itu. Pangeran Purbaya masuk sejenak ke ruang dalam Istana dan beberapa saat kemudian keluar lagi.
    “Panembahan Hanyakrawati berkenan menerima kalian berdua di ruangan dalam,”kata Pangeran Purbaya,”marilah aku antarkan.”
    Mereka pun kemudian masuk ke ruangan dalam Istana Mataram yang bersih dan megah itu. Nyi Prabayudha yang belum pernah memasuki istana itu sempat memperhatikan pertamanan istana itu yang diatur rapi. Bunga berwarna-warna tumbuh di halaman istana, sehingga nampak asri. Di depan Istana itu tumbuh sepasang ringin kurung. Selebihnya lapangan rumput hijau yang membuat Istana itu nampak berwibawa.
    Atap istana itu disangga oleh sejumlah pilar kokoh yang menambah kewibawaan Istana itu.
    Di dalam pendapa istana, pada dinding kiri dipasang lukisan-lukisan besar yang indah. Seperti lukisan pemandangan, lukisan sekelompok kuda putih, dan agak ke sudut lukisan seorang wanita cantik dalam busana hijau seperti menari di atas alunan gelombang.
    Pada dinding kanan dipasang gambar pendiri Mataram yaitu Ki Gde Pemanahan yang kemudian disebut Ki Gde Mataram, lalu di sebelahnya gambar Panembahan Senapati yang sebelumnya bergelar Senapati Ing Alaga. Dan di sebelahnya lagi gambar Panembahan Hanyakrawati.
    “Marilah Nyi dan Ki Prabayudha, silakan masuk. Panembahan Hanyakrawati berkenan menerima kalian di ruangan dalam,” sekali lagi Pangeran Purbaya mengingatkan mereka berdua yang masih tertegun menyaksikan Istana dan kelengkapannya.
    Ternyata Panembahan Hanyakrawati berkenan menerima mereka berdua di ruangan khusus yang lebih kecil. Hanya orang-orang yang sangat penting saja diterima oleh Panembahan Hanyakrawati di ruangan itu. Panembahan Hanyakrawati sudah duduk di atas dampar kencana yang terdapat di dalam ruangan itu. Di sebelahnya terdapat sebuah dingklik kecil dan di depannya terhampar permadani tebal yang bergambarkan motif-motif sangat indah.
    “Marilah Tumenggung Prabayudha sekalian, silakan masuk,” kata Panembahan Hanyakrawati ketika Ki Prabayudha nampak ragu-ragu di depan pintu.
    Ki Prabayudha dan Nyi lalu berjalan sambil berjongkok menuju ke permadani di depan dampar kencana. Sedangkan Pangeran Purbaya duduk di atas dingklik di samping Panembahan Hanyakrawati.
    “Hamba berdua menyampaikan sembah pangabekti kepada Panembahan Hanyakrawati,” kata Ki Prabayudha sambil menakupkan kedua tangannya di depan hidung. Istrinya pun melakukan hal yang sama.
    “Terima kasih, Ki Prabayudha sekalian, sembah pangabekti kalian aku terima. Bagaimana dengan keadaan kesehatan kalian berdua?” ujar Panembahan Hanyakrawati menerima pangabekti orang yang sangat dibanggakannya itu sambil bertanya.
    “Berkat doa Panembahan, hamba dan keluarga dalam lindungan Yang Maha Agung,” kata Ki Prabayudha.”Hamba menghadap dan siap menerima tugas selanjutnya.”
    “Baiklah Ki Prabayudha. Sebenarnya tugas yang aku bebankan kepadamu ini adalah tugas yang dahulu diemban oleh Eyang Gde Mataram, ketika masih menjabat petinggi Pajang. Tentunya kau masih ingat itu.”
    “Hamba Panembahan. Hamba masih ingat hal itu. Ketika hamba menghadapi Macan Kepatihan dahulu, beliau pernah datang ke Jati Anom sebagai Panglima Wira Tamtama.”
    “Baiklah. Sekarang tugas Panglima Wira Tamtama itu yang harus kau jalani. Nanti Pangeran Purbaya akan menjelaskan secara rinci apa tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabmu. Secara umum dapat aku katakan bahwa di atas pundakmu aku bebankan untuk membuat pasukan Mataram menjadi pasukan yang kuat baik di darat maupun di laut. Tugas untuk menangani armada laut sebagian sudah ditangani oleh adikmu Agung Sedayu yang kuberi gelar kekancingan Jaya Santika. Nanti Jaya Santika akan sepenuhnya menangani armada laut, dan pasukan khusus akan berada di bawah kendalimu.”
    “Sendika Dawuh Gusti Panembahan,” kata Ki Prabayudha.
    “Karena kau menjabat sebagai Panglima Wira Tamtama, maka untuk keluargamu aku sediakan rumah di sudut lapangan sebelah kanan. Nanti Pangeran Purbaya akan menunjukkan kepadamu,” ujar Panembahan Hanyakrawati.
    “Sendika dawuh Gusti Panembahan,” kata Ki Prabayudha.
    “Mungkin masih ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Panembahan lagi.
    “Hamba Gusti Panembahan, sudah tidak ada lagi,” kata Ki Prabayudha.
    “Nah kalau sudah tidak ada lagi, kau sudah boleh meninggalkan ruangan ini bersama Pangeran Purbaya,” ujar Panembahan Hanyakrawati.
    “Hamba Panembahan,” kata Ki Prabayudha. Dengan berjalan mundur sambil berjongkok Ki Prabayudha sekalian meninggalkan ruangan itu didampingi oleh Pangeran Purbaya.
    Pangeran Purbaya membawa mereka ke pendapa dan mereka duduk melingkar di atas permadani yang tergelar di sana.
    “Nah Prabayudha, rumah dan segala kelengkapannya yang ada di sudut kanan lapangan memang disediakan untukmu sebagai Panglima Wira Tamtama. Nanti seorang lurah prajurit akan mengantarkanmu ke rumah itu,” kata Pangeran Purbaya.
    “Baik Pangeran,” kata Ki Prabayudha.
    Pangeran Purbaya kemudian memanggil seorang lurah prajurit yang harus mengantarkan Ki Prabayudha ke rumah jabatannya yang baru itu. Lurah prajurit itu pun segera mengantarkan Ki Prabayudha dan rombongannya ke rumah jabatan yang akan ditempatinya di sudut kanan lapangan itu.
    Rombongan kereta dan pasukan berkuda itu pun segera berbelok ke kanan ketika sampai di sudut lapangan dan memasuki regol besar yang pintunya terbuat dari kayu besi yang sangat kuat. Agaknya para penjaga regol itu sudah diberi tahu bahwa Ki Prabayudha akan memasuki gedung itu sehingga mereka sudah membuka regolnya sebelum rombongan Ki Prabayudha tiba.
    Nyi Prabayudha pun kemudian turun dari kereta, ketika kereta itu sudah berhenti di depan pendapa yang berdinding setinggi setengah badan. Begitu pula Ki Prabayudha. Nyi Prabayudha sempat terlongong-longong di depan pendapa.
    Ia melihat berkeliling. Ternyata rumah jabatan itu sedemikian besarnya. Begitu memasuki regol depan yang berpintu besar, ia melihat halaman depan rumah jabatan itu begitu luas. Pertamanan di halaman depan itu demikian asrinya. Berbagai macam bunga berwarna-warni ditanam di sana, seindah taman yang ada di Istana.
    Di kiri kanan halaman rumah jabatan itu ditanami dengan beberapa pohon buah-buahan seperti pohon mangga, jambu, sawo dan rambutan. Selain buahnya yang ranum-ranum, daunnya pun cukup lebat sehingga menjadi tempat yang teduh dari sengatan sinar matahari yang menggatalkan kulit.
    Ki Prabayudha sekalian pun kemudian beranjak ke rumah induk. Di dalam rumah induk itu terdapat pringgitan. Lalu di belakangnya terdapat tiga sentong yang berjajar. Lalu di kiri-kanan sentong itu terdapat gandhok. Di antara sentong dan gandhok itu dipisahkan oleh longkangan yang cukup lebar.
    Di belakang gandhok terdapat dapur dan pakiwan. Ternyata di di belakang pakiwan terdapat halaman yang masih cukup luas. Di sudut kanan halaman belakang itu terdapat sebuah istal atau kandang kuda yang mampu menampung dua puluh lima ekor kuda. Sedangkan di sudut kiri, di belakang dapur dan pakiwan terdapat beberapa petak rumah kecil yang dipergunakan abdi dalem yang mengurus rumah tersebut seperti juru taman, tukang masak, juru tebah, dan pembantu khusus lainnya.
    Setelah berkeliling melihat-lihat rumah dan kelengkapannya, Ki Prabayudha sekalian kemudian kembali ke pendapa. Mereka duduk melingkar di atas permadani lebar yang terdapat di tengah pendapa itu, didampingi oleh lurah prajurit yang mengantarkan mereka ke rumah itu.
    “Baiklah, Kangjeng Panglima. Tugas hamba mengantarkan Tuanku telah selesai. Apakah masih ada yang Tuanku perlukan?” tanya lurah prajurit tadi.
    “Ki Lurah, aku minta agar sentong ketiga kau ubah menjadi sanggarku. Mulai besok kau sudah bisa mengerjakannya. Sedangkan barang-barang yang kubawa dengan kereta dari Jati Anom kau letakkan dulu di sentong nomor dua,” kata Ki Prabayudha.
    Demikianlah lurah prajurit tadi memerintahkan prajurit yang mengiringinya untuk menurunkan barang-barang yang dibawa dengan kereta dari Jati Anom dan memasukkannya ke dalam sentong nomor dua.
    Sementara itu, langit sudah mulai gelap karena matahari sudah menyelesaikan tugasnya untuk menerangi langit di atas Mataram. Matahari itu bertugas menyinari bumi makin ke barat dan ke barat lagi, sampai akhirnya esok pagi muncul lagi dari ufuk timur.
    Beberapa abdi dalem segera menyalakan lampu teplok dan obor yang berada di halaman rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Ki Prabayudha. Sedangkan di pendapa yang cukup luas itu, abdi dalem menyalakan lampu gantung berukir yang masih menjadi barang mewah dan hanya terdapat di rumah orang-orang kaya atau pejabat pemerintah tertentu.
    Sementara itu, di dapur para abdi dalem lainnya sedang sibuk menyiapkan makan malam bagi Ki Prabayudha sekalian, para prajurit yang mengawal dari Jati Anom dan persiapan seandainya ada tamu yang datang bertandang ke rumah jabatan Kangjeng Panglima.
    Benar saja, setelah selesai bersantap malam, satu dua tamu mulai berdatangan ke rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha. Kebanyakan mereka adalah para pejabat pemerintahan dan pejabat keprajuritan di Mataram.
    Untunglah para abdi dalem sudah terbiasa menghadapi kesibukan demikian, sehingga tidak sampai kewalahan menyiapkan makanan kecil dan minuman berupa wedang jahe serta wedang sere.
    Akhirnya setelah menyampaikan selamat datang dan selamat bertugas kepada Ki Tumenggung Prabayudha, satu persatu para tamu itu berpamitan dan mengundurkan diri dari rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha.
    Ketika mereka sudah mengundurkan diri dari rumah jabatan Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha, maka tinggal Ki Prabayudha sekalian dan lurah prajurit tadi yang masih berada di pendapa. Ternyata lurah prajurit tadi memang bertugas sebagai pimpinan jaga di rumah jabatan itu.
    Rumah jabatan yang begitu besar itu terasa mulai sepi dan kegiatan di malam itu mulai diambil alih oleh suara bilalang, jangkrik dan binatang malam lainnya seperti burung hantu, burung bence dan burung kedasih.
    Kangjeng Panglima Wira Tamtama Prabayudha pun kemudian berangkat ke peraduannya di ruang sentong pertama. Sentong itu berukuran cukup besar. Di dinding sisi timur sentong itu terdapat sebuah jendela yang agak lebar. Kemudian di sisi selatan dinding sentong itu tergantung sebuah lukisan indah yang menggambarkan pemandangan alam persawahan.
    Di tengah ruangan itu terdapat sebuah amben besar, di sebelahnya sebuah meja kecil dan di depan meja itu terdapat dingklik kecil. Meja dan dingklik itu terbuat dari kayu jati berukir halus. Dua buah lampu teplok terletak di dinding di sebelah pintu sentong yang terdapat di sisi barat dan di dinding di atas meja kecil itu.
    Ki Prabayudha pun kemudian menutup pintu sentong dan berbaring di sebelah istrinya.
    “Aku tidak mengira kita akan mendapat rumah sebesar ini kakang,” kata Nyi Prabayudha sambil tersenyum dan menoleh ke suaminya.
    “Iya Nyai. Aku tidak menyangka akan mendapat anugerah sebesar ini,” jawab Ki Prabayudha.”Ini semua berkat doamu dan restu Yang Maha Agung.”
    “Oh ya, aku belum menunaikan kewajibanku kepada Yang Maha Agung,” kata Ki Prabayudha sambil bangkit pelan-pelan dari tempat tidurnya.
    Ia lalu pergi ke pakiwan khusus yang ada di dalam sentong itu, sesuci, lalu menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Dalam doanya ia memanjatkan puji syukur kepada Yang Maha Agung atas segala berkah yang diterimanya. Ia juga memanjatkan doa agar semua orang yang dikasihinya, baik yang masih ada maupun yang telah tiada, diberi kesejahteraan di dunia dan akhirat. Secara khusus ia mendoakan semoga kedua orangnya diampuni segala dosanya, sebagaimana mereka mengasihi ia ketika masih kecil.
    Setelah selesai memanjatkan doa, ia kembali berbaring di samping istrinya. Namun istrinya itu sudah tertidur. Sebuah senyum tersimpul dari wajahnya. Ia menjadi gemas, lalu memegang hidungnya yang bangir. Istrinya lalu memeluknya. Mereka lalu terbuai ke alam mimpi.
    Malam yang sejuk itu ternyata tidak hanya membuai Ki Prabayudha sekalian ke alam mimpi. Namun alam mimpi itu ternyata menjadi milik semua orang yang sempat terlelap tidur. Alam mimpi yang timbul ketika hari tersaput gelapnya malam, juga menjadi milik Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika dan keluarga kecilnya.
    Ki Agung Sedayu semula kurang sreg dengan sebutan itu. Sebagaimana dengan sifatnya yang sederhana dan tidak suka berlebih-lebihan dalam sikapnya. Namun ternyata orang-orang di barak, anggota pasukan khususnya, tidak bisa lagi asal menyebut nama lamanya.
    Sesuai dengan paugeran dan unggah-ungguh yang berlaku di dalam dunia keprajuritan, maka sebutan dalam serat kekancingan itulah yang menjadi sebutan sekaligus kepangkatan bagi penyandang gelar itu. Karena itu, akhirnya dengan ikhlas ia harus menerima kenyataan bahwa namanya kini berubah menjadi Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika. Semula nama itu menjadi sangat asing bagi telinganya. Namun lama kelamaan, ia harus menyesuaikan diri dengan sebutan dan jabatannya itu.
    “Panggil saja aku Agung Sedayu,” kata Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika kepada Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta yang selalu dekat dengannya. Ia mengatakan kepada kedua lurahnya itu karena merasa kikuk mendengar panggilan yang terasa asing di telinganya.
    “Ampun, Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika, kami bisa saja memanggil panjenengan dengan Ki Agung Sedayu. Tetapi dengan demikian kami melanggar paugeran dan unggah-ungguh dalam tata keprajuritan, karena nama gelar kekancingan itu adalah anugerah dari Ingkang Sinuhun Sampeyan Dalem Panembahan Hanyakrawati—kata Ki Lurah Darma Samudra.
    Akhirnya Agung Sedayu, tidak bisa tidak, harus menerima kenyataan bahwa namanya berubah menjadi Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika.
    Agung Sedayu yang berjiwa sederhana dan tidak pernah bermimpi menjadi prajurit. Bahkan ia memasuki bidang keprajuritan itu pun dengan cara setengah dipaksa oleh kakaknya. Untara.
    Ketika pada akhirnya ia mencoba memasuki dunia keprajuritan, ia pun sempat mengalami pergolakan batin dan sempat beberapa saat mengundurkan diri. Namun atas dorongan Panembahan Senapati yang memberinya banyak kesempatan, karena melihat kemampuan, jasa-jasa dan pengabdiannya yang luar biasa kepada Mataram, maka Agung Sedayu tidak dapat menolak takdirnya sebagai seorang prajurit.
    Akhirnya dengan mendapat bimbingan dari Ki Lurah Branjangan, Agung Sedayu bisa menyesuaikan diri dengan dunia keprajuritan yang semula dirasanya kurang sesuai dengan jiwanya yang sederhana dan tidak bermimpi yang muluk-muluk.
    Ia sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi prajurit di tingkat yang paling rendah sekali pun, apalagi untuk menjadi seorang tumenggung, benar-benar membuatnya sempat menghadapi goncangan jiwani.
    Atas saran Ki Jayaraga maka sebagai suatu tradisi di tlatah ini, jika seseorang memberi nama atau mengganti nama, tentu membuat sekadar selametan. Namun ternyata selametan untuk seorang kangjeng raden tumenggung, tidak bisa sesederhana dan sekadar membuat jenang merah putih saja. Karena itu menyangkut pasukannya satu barak.
    Kalau mengikuti kata hatinya, ingin rasanya Ki Agung Sedayu yang kini berubah nama menjadi Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika itu hanya sekadar membuat jenang merah putih saja. Itu sudah cukup baginya.
    Ingin rasanya ia mendobrak tradisi yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. Namun ia tidak berdaya. Meskipun ia sanggup mengalahkan lawan-lawan tangguh seperti Kakang Panji, Ki Ajar Tal Pitu dan lainnya, namun ia tak berdaya menghadapi perubahan namanya sendiri yang datang dengan sekonyong-konyong.
    Tadinya Ki Agung Sedayu menganggap bahwa dengan kenaikan pangkatnya menjadi tumenggung, lalu selesai dengan begitu saja. Ia dipanggil Tumenggung Agung Sedayu dan segalanya mengalir seperti air kali Praga yang sudah ratusan tahun mengalir ke laut Selatan.
    Namun ternyata aliran perubahan namanya itu, tidak sesederhana yang diperkirakan. Apalagi ia mendapat bukan hanya sekadar gelar tumenggung, namun sebutannya menjadi kangjeng raden tumenggung. Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika.
    Ketika Ki Agung Sedayu mengatakan niatnya untuk mengadakan sekadar selametan kepada Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta, kedua orang lurahnya itu hanya mengangguk-angguk dan menyatakan setuju. Namun mereka tidak mengatakan sesuatu.
    Ia mengatakan kepada kedua lurah itu hendak pulang lebih awal hari itu dan agar menyiapkan jenang merah putih untuk didoakan bersama pada keesokan harinya.
    Namun ia terperangah ketika datang ke barak pada keesokan harinya. Ternyata di sanggar utama barak pasukan khusus itu telah tersedia banyak makanan dan minuman, berupa gule, sate dan guling kambing beberapa ekor, penganan kecil, wedang jahe, wedang sere, dan tentu saja jenang merah putih sebanyak lima tanding. Jenang itu terdiri dari jenang merah, jenang putih, jenang merah putih, jenang putih merah dan jenang putih batu.
    “Wah. Wah ada apa ini. Kenapa banyak sekali ada makanan,” tanyanya kepada Ki Lurah Darma Samudra.
    “Ampun Kangjeng Raden Tumenggung, seluruh prajurit di barak khusus ini mengadakan urunan untuk merayakan kegembiraan karena pimpinan kami mendapat anugerah luar biasa dari Ingkang Sinuhun Sampeyan Dalem,” kata Ki Lurah Darma Samudra. Ki Lurah Suprapta yang berada di sebelahnya, mengangguk tanda setuju, lalu berkata.
    “Kegembiraan Kangjeng Raden Tumenggung, adalah juga kegembiraan kami. Kenaikan pangkat dari seorang rangga menjadi seorang kangjeng raden tumenggung adalah suatu hal yang jarang terjadi. Walaupun secara sederhana, kami mencoba ikut merayakannya,” kata Ki Lurah Suprapta.
    Mendengar jawaban mereka, Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika tidak dapat marah. Matanya menjadi berkaca-kaca. Terharu. Kalau ia tidak tahan-tahan, bisa saja uap air mengembun di pelupuk matanya, lalu meleleh menjadi butiran air. Air mata.
    Tetapi ia bukan lagi Agung Sedayu tiga puluh tahun yang lalu, yang mudah menangis karena diganggu anak sebayanya. Karena dengan menguatkan hati ia tidak sampai menitikkan air mata.
    “Wah. Wah. Aku berterima kasih atas kesediaan kalian membuat makanan sebanyak ini,” kata Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika, dengan mata haru. Namun Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika terkejut ketika seseorang yang sangat dikenalnya, sambil tertawa lebar maju ke depan dan mengulurkan tangan memberi selamat.
    “He? Ki Lurah ada di sini?” tanyanya dengan ada heran bercampur gembira.
    “Iya. Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika,” kata orang itu, yang ternyata Ki Lurah Branjangan.”Aku kebetulan mampir. Agaknya aku mendapat rezeki yang berlimpah karena para prajurit sedang berpesta.”
    “Terima kasih Ki Lurah. Aku senang dan mendapat kehormatan Ki Lurah Branjangan bisa hadir bersama kami di pagi hari yang cerah ini,” kata Kanjeng Raden Tumenggung Jaya Santika.
    Mereka pun lalu membacakan doa bersama kemudian menikmati hidangan itu. Agaknya Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta tidak melupakan keluarga Kangjeng Tumenggung Jaya Santika yang di rumah dan di rumah Ki Gde Menoreh. Mereka mengirim pula makanan ke kedua rumah tersebut, yang disambut baik oleh Ki Gde Menoreh maupun Nyi Tumenggung Jaya Santika dengan gembira.

    • Bersambung ke Jilid 403

    Demikianlah mereka berbagi kegembiraan. Namun mereka juga menyadari bahwa kegembiraan mereka atas kenaikan pangkat Ki Agung Sedayu menjadi Ki Tumenggung Jaya Santika, juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar.
    Mereka semua, seluruh pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, harus meningkatkan kemampuan ilmu olah kanuragan mereka. Mereka harus bisa mempertahankan kekuatan pasukan khusus Mataram, harus bisa memperluasnya bahkan kalau perlu menguasai sampai ke seberang lautan.
    Oleh karena itu segala yang ditanamkan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika dalam diri mereka, mereka camkan dengan sungguh-sungguh. Mereka juga menyadari bahwa kesatuan dan persatuan Kerajaan Mataram, sesungguhnya hanya kelihatan seperti permukaan air danau yang tenang, bahkan sangat tenang. Namun di bawah permukaan itu, air itu bergolak dengan derasnya. Bahkan mempunyai beberapa pusaran yang kuat yang siap menenggelamkan kapal jung yang mereka tumpangi.
    Oleh karena itu, para prajurit terutama dari pasukan khusus di bawah Ki Tumenggung Jaya Santika, mempunyai tanggung jawab yang paling berat. Karena setiap waktu pergolakan yang berada di bawah permukaan itu mencuat ke atas, maka mereka harus siap setiap saat untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan itu.
    Bahkan kalau perlu, mereka harus sudah tahu sebelum pergolakan dari pusaran air di bawah permukaan itu mencuat ke atas. Karena itu peranan pasukan telik sandi menjadi sangat penting.
    Oleh karena itu, kepada para senapati sehari dalam sepekan Ki Tumenggung Jaya Santika memberi arahan mengenai cara-cara peningkatan ilmu kanuragan mereka. Ia memberi bimbingan khusus bagi para senpati tersebut, dan bimbingan khusus itu tidak hanya untuk meningkatkan tenaga cadangan mereka, namun juga sudah merambah ke ilmu jaya kawijayan.
    Beberapa senapati yang menonjol seperti Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta mendapat gemblengan khusus dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Hal pertama yang dilakukan terhadap kedua lurahnya itu adalah meningkatkan kemampuan ilmu meringankan tubuh. Hal ini menjadi perhatiannya, karena sebagai senapati armada laut Kerajaan Mataram, mereka harus bisa berjalan di atas air. Dan untuk bisa berjalan di atas air, tentu saja mereka harus mempunyai kemampuan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Apabila kemampuan ilmu meringankan tubuh mereka sudah tinggi, maka mereka akan dapat menapak di atas air laut bahkan berlari, seperti saat mereka berjalan di atas tanah.
    Para senapati itu juga dilatihnya dengan ilmu jaya kawijayan. Ki Tumenggung Jaya Santika setelah mendapat izin dari Ki Jayaraga, juga menurunkan ilmu Sigar Bumi yang sempat dipelajarinya kepada para senapatinya itu. Bahkan Ki Tumenggung sempat mengenalkan para senapati itu dengan Ki Jayaraga, sebagai sumber ilmu yang akan diberikannya kepada para senapati itu. Memang setelah Ki Tumenggung Jaya Santika mempelajari ilmu aji Kendali Sukma dari Ki Jayaraga, ternyata orang tua itu tidak mau tanggung-tanggung dalam menurunkan segala ilmunya. Ki Jayaraga juga menurunkan aji Sigar Bumi yang telah dipelajari Glagah Putih kepada Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Inilah kakek guru kalian, yang menjadi asal muasal diturunkannya ilmu Sigar Bumi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    Ki Jayaraga bahkan sempat memberikan petunjuk-petunjuk khusus kepada para senapati yang di bawah pimpinan Ki Tumenggung Jaya Santika. Sehingga dengan demikian para senapati itu pun semakin meningkat tenaga cadangannya, ilmu meringankan tubuhnya dan ilmu jaya kawijayannya. Untuk bisa mencapai tataran yang diinginkan, maka para senpati itu harus menjalani bebagai laku sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika.
    Mereka menjalani tirakat berupa puasa, patigeni dan ngebleng. Ngebleng adalah suatu laku berupa puasa terus menerus dan tidak keluar dari bilik selama melakukan puasa itu. Sedangkan patigeni adalah laku tidak tidur selama menjalani laku tirakat itu. Sungguh suatu laku yang berat.
    Dalam pada itu, di Kadipaten Panaraga, prajurit telik sandi Glagah Putih dan Rara Wulan terus mengamat-amati Pangeran Ranapati. Namun setelah sekian lama tidak ada pergerakan yang nampak dari Istana Kadipaten, maka mereka bertemu kembali.
    Glagah Putih, Rara Wulan, Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda bertemu di tempat persembunyiannya yang tidak diketahui oleh Pangeran Ranapati atau anak buahnya. Dalam pertemuan itu, Glagah Putih dan Rara Wulan menyampaikan bahwa sampai detik ini mereka belum mengetahui sampai sejauh mana pergerakan Pangeran Ranapati untuk menggosok Pangeran Jayaraga untuk memberontak kepada Mataram.
    “Saya rasa harus ada di antara kita yang melapor ke Mataram, dalam situasi yang sangat tidak menentu ini,” kata Glagah Putih.
    Mereka yang hadir di ruangan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan pernyataan Glagah Putih bahwa ada di antara mereka yang harus pergi ke Mataram. Tetapi siapa?
    “Siapakah menurut kalian yang harus kembali ke Kotaraja Mataram untuk melaporkan situasi ini,” tanya Glagah Putih.
    Ki Madyasta yang paling dituakan di antara mereka pun kemudian berkata.
    “Kurasa adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan saja yang kembali ke Mataram. Karena adi berdua sudah cukup lama berada di

  194. “Siapakah menurut kalian yang harus kembali ke Kotaraja Mataram untuk melaporkan situasi ini,” tanya Glagah Putih.
    Ki Madyasta yang paling dituakan di antara mereka pun kemudian berkata.
    “Kurasa adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan saja yang kembali ke Mataram. Karena adi berdua sudah cukup lama berada di Panaraga. Kalian sudah cukup lama tidak kembali ke Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Madyasta.
    Mereka kemudian kembali manggut-manggut. Mereka semua setuju dengan pendapat Ki Madyasta itu.
    “Benar, kakang Madyasta. Kali ini biarlah kita tugaskan adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Ki Sungkana.
    “Aku setuju dengan pendapat kalian berdua. Bukankah sudah cukup lama adi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertemu dengan Ki Patih Mandaraka,” kata Ki Sumbaga pula.
    Glagah Putih yang pertama melontarkan pendapat bahwa harus ada yang melapor ke Kotaraja Mataram menjadi terperangah. Ia tidak menyangka bahwa justru dia sendiri yang mendapat tugas untuk kembali ke Kotaraja Mataram.
    “Bagaimana Wulan? Apakah kau juga sudah rindu kepada ayah dan ibumu?” tanya Glagah Putih sambil menahan senyumnya.
    Rara Wulan tidak menjawab, ia hanya bergeser merapat dan tangannya menyambar pinggang Glagah Putih yang membuat Glagah Putih meringis kesakitan.
    “Biar kakang punya ilmu kebal, pinggangmu tidak akan aku lepaskan,” katanya.
    Dengan wajah yang dibuat memelas, Glagah Putih menghiba-hiba kepada Rara Wulan.
    “Ampun Wulan. Ilmu kebalku tidak mempan menghadapi ilmu cengkeraman mautmu,” katanya.
    Kata-kata Glagah Putih itu justru membuat Rara Wulan memperkeras cengkeramannya. Semua yang hadir di ruangan itu pun tertawa melihat ulah mereka berdua.
    “Sudahlah Wulan. Aku hanya bercanda,” kata Glagah Putih dengan nada bersungguh-sungguh sambil memegang tangan Rara Wulan dan membelainya.
    Hati Rara Wulan pun menjadi luruh karenanya. Namun pada akhirnya semua yang hadir di ruangan itu sepakat bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan berangkat ke Kotaraja Mataram pada keesokan harinya.
    Glagah Putih dan Rara Wulan bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat. Mereka menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Rara Wulan masih sempat menanak nasi, memasak sayur dan menghangatkan ayam goreng yang dipotong kemarin. Mereka pun kemudian menyantap sarapan bersama di pendapa. Sedangkan sebagian dari makanan itu dibungkusnya sebagai bekal mereka dalam perjalanan. Setelah selesai sarapan, Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera berkemas-kemas.
    Mereka pun sudah siap untuk berangkat ketika mentari pagi menyembul di ufuk timur. Mereka berdua pun segera berpamitan kepada Ki Madyasta, Ki Sumbaga dan Ki Sungkana serta Ki Darma Tanda. Glagah Putih memilih untuk berjalan kaki untuk kembali ke Mataram. Sedangkan kuda mereka dititipkannya kepada Madyasta, dengan harapan kalau kelak kembali ke Kotaraja Mataram kuda itu dibawa serta.
    “Wah sekarang tidak ada lagi yang memasakkan sayur bagi kita,” kata Ki Madyasta.
    Yang lain merasa tergugu. Karena sekian lama mereka berada di Kadipaten Panaraga dalam waktu yang cukup lama. Mereka merasa seperti sudah menjadi saudara.
    “Wah jangan khawatir. Doakan saja aku selamat dan segera kembali. Nanti aku masakkan lagi sayur kacang panjang, sayur lodeh atau gudeg,” kata Rara Wulan.
    Namun tanpa terasa setitik air mengembun di pelupuk matanya. Air yang mengembun itu perlahan-lahan berubah menjadi air mata. Rara Wulan tidak tahan dan ia terisak. Betapa pun perkasanya Rara Wulan yang menghadapi para pengikut Pangeran Ranapati, ternyata hati perempuannya tersentuh. Ia menangis dalam isaknya.
    Akhirnya dengan menebalkan tekadnya, Rara Wulan dapat meredam tangisnya itu. Mereka lalu bersalaman. Lalu perlahan-lahan Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan pemondokan mereka di tempat yang terpencil itu.
    Glagah Putih dan Rara Wulan pun melambaikan tangannya. Ki Madyasta, Ki Sumbaga, Ki Sungkana dan Ki Darma Tanda pun melambaikan tangannya. Mereka pun terus memperhatikan kedua sejoli itu yang semakin menjauh dan mengecil, akhirnya hilang di balik tikungan.
    Glagah Putih dan Rara Wulan terus berjalan. Mereka menapak tilas jalan-jalan yang mereka lalui dulu ketika mereka berangkat dari Kotaraja Mataram dan akhirnya sampai di Kadipaten Panaraga. Hanya saja kali ini mereka berjalan dalam arah yang berlawanan.
    Mereka pun sempat menengok rumah di tengah hutan, ketika mereka bertemu dan mereguk ilmu olah kanuragan dari Kiai Namaskara. Namun setelah sekian lama mereka tinggalkan jejak di tengah hutan itu tidak nampak sama sekali. Mereka berputar-putar mencari rumah di tengah hutan lebat itu, namun tidak menemukannya.
    “Aneh sekali kakang,” kata Rara Wulan yang masih penasaran dan berusaha mencari rumah yang dulu sudah mulai reyot.
    Ketika mereka memasuki hutan itu, masih nampak tanda-tanda yang bisa mengantar mereka ke rumah Kiai Namaskara, bahkan mereka bisa mengenali beberapa pohon yang menjulang tinggi. Namun begitu masuk dalam lindangan hutan yang pepat, mereka kehilangan jejak.
    “Iya. Perasaanku, kita memasuki lorong di bawah pohon ara ini, lalu berbelok ke kanan. Namun sekarang belokan ke kanan itu sudah hilang tertutup pohon,” kata Glagah Putih.
    Mereka pun mencoba melingkar ke belakang pohon ara itu, namun mereka tidak dapat menemukan jalan masuk menuju ke rumah itu. Semuanya pepat, gelap pekat, dan tidak ada rongga barang sedikit pun. Namun anehnya hutan itu terasa sunyi. Tidak ada suara cenggeret, monyet atau kampret yang terbang. Sepi. Di kejauhan masih terdengar auman suara harimau. Namun lamat-lamat.
    Akhirnya Glagah Putih memutuskan untuk tidak meneruskan mencari petilasan Kiai Namaskara itu. Ia pun mengajak Rara Wulan untuk berdoa bagi Kiai Namaskara, meskipun mereka tidak menemukan kembali rumahnya. Mereka berniat meneruskan perjalanan meskipun tidak menemukan rumah Kiai Namaskara di tengah hutan yang sudah berubah itu.
    Setelah berdoa dan mempunyai ketetapan hati demikian, maka Glagah Putih mengajak Rara Wulan untuk keluar dari hutan itu. Mereka pun kembali menelisik jalan yang mereka tempuh semula untuk memasuki hutan itu, untuk kembali keluar. Tidak berapa lama mereka sudah sampai di tepi hutan. Di tepi hutan itu ternyata ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih, sehingga nampak ikan yang berenang di dasar sungai itu.
    Melihat air yang jernih dan kebetulan perut mereka sudah mulai terasa lapar, maka Rara Wulan mengajak suaminya untuk berhenti sejenak. Sambil berjuntai di atas sebuah batu hitam yang besar, mereka menikmati bekal yang mereka bawa.
    “Apakah aku boleh berenang di sungai ini, kakang?” tanya Rara Wulan.
    “Boleh. Apakah kau ingin berenang di siang yang panas ini? Bukankah kau tadi pagi sudah mandi di rumah?” tanya Glagah Putih.
    “Iya. Tadi aku ingin berenang. Sangat ingin. Tetapi setelah mendengar pertanyaanmu, aku membatalkan niatku,” kata Rara Wulan.
    “He? Kenapa?”
    “Tidak. Tidak kenapa-kenapa.”
    Mata Rara Wulan nampak mulai mengembun dan setitik air hampir menetes dari sudutnya. Tiba-tiba Rara Wulan meloncat dan berlari sekencang-kencangnya. Karuan saja Glagah Putih menjadi terkejut. Ia buru-buru membenahi kampil Rara Wulan yang ditinggalkan begitu saja. Kampil itu tadi dipakai untuk menyimpan bekal mereka. Setelah masuk dengan rapi, ia segera berlari mengejar Rara Wulan.
    Namun Rara Wulan sudah lenyap di tengah lebatnya hutan. Glagah Putih pun mulai berteriak-teriak memanggil.
    “Wulan. Wulan. Di mana kau? Maafkan kalau kata-kataku ada yang salah,” kata Glagah Putih.
    Glagah Putih merasa heran, kenapa belakangan ini Rara Wulan menjadi sedikit lebih perasa daripada biasanya. Ia pun mencari ke sana kemari, menubras-nubras di tengah lebatnya hutan itu. Setelah sekian lama Rara Wulan tidak ditemukan juga, maka Glagah Putih pun kini tidak mau kehilangan akal. Ia segera meloncat naik ke sebatang pohon, lalu diam pada salah satu cabangnya. Ditunggunya beberapa saat. Akhirnya dari bawah sebuah pohon ia melihat dedaunan yang bergerak-gerak. Lalu muncul Rara Wulan yang celingak-celinguk. Mencarinya.
    Glagah Putih diam dan membiarkan Rara Wulan mencarinya.
    “Kakang. Kakang Glagah Putih. Jangan tinggalkan aku,” teriak Rara Wulan.
    Glagah Putih bergeming. Kini giliran Rara Wulan yang mencari Glagah Putih di tengah hutan yang lebat itu.
    Tiba-tiba Glagah Putih melihat seekor harimau yang mengendap-endap mendekati Rara Wulan. Ia tidak sampai hati. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tidak ada bandingannya itu, Glagah Putih turun di belakang harimau itu. Ia melempar harimau itu dengan sebuah batu yang mengenai pinggangnya. Harimau itu menggeram dan berbalik arah. Harimau itu merunduk dan mengambil ancang-ancang untuk menerkam Glagah Putih.
    Glagah Putih pun bersia-siap menyambut terkaman harimau itu. Sang raja hutan itu melompat tinggi, kuku kedua kaki depannya terjulur lurus-lurus ke depan. Siap mencabik-cabik tubuh Glagah Putih dalam satu kali hentakan. Tentu saja Glagah Putih tidak mau tubuhnya menjadi sarang kuku harimau itu. Dengan cepat ia berkelit ke samping, sambil tangan kanannya menyodok ke dada sang penguasa hutan. Harimau itu kembali menggeram dengan kerasnya. Agaknya ia belum jera. Kembali ia merunduk.
    “Hati-hati kakang,” terdengar teriakan Rara Wulan yang merasa khawatir melihat suaminya diterkam harimau.
    Glagah Putih pun bersiaga kembali. Ia pun memasang kuda-kuda yang kuat. Harimau itu kembali merunduk, seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Kepalanya menempel di tanah dan ekornya mengibas-ngibas. Dengan sepenuh tenaga ia kembali meloncat. Glagah Putih kembali mengelak ke samping.
    Ketika cakar depan harimau itu sudah melintasi tubuhnya, tendangan yang sangat kuat mengenai kaki belakang harimau itu. Harimau itu kembali menggeram. Namun kali ini geraman ketakutan. Ia segera menyusup ke dalam semak-semak di sebelah Rara Wulan. Rara Wulan yang melihat harimau itu berlari ke arahnya segera bersiaga. Namun harimau itu tidak menghiraukannya dan justru menghindarinya lalu masuk ke dalam hutan. Dengan lincah meskipun terseok-seok karena kena tendangan Glagah Putih, harimau itu pun pergi jauh dan tidak terdengar lagi aumannya.
    Rara Wulan pun lari mendekat dan memeluk suaminya.
    “Aku takut kakang,” kata Rara Wulan.
    “Sudahlah Wulan, harimau itu sudah pergi,” kata Glagah Putih sambil mengelus-elus pundak istrinya.
    Tiba-tiba perut Rara Wulan terasa mual, dan ia pun menjauh dari suaminya lalu menumpahkan isi perutnya. Segala makanan yang dikunyahnya dalam makan siang di tepi sungai tadi terhambur ke luar. Beberapa kali ia memegangi pinggangnya lalu terbungkuk-bungkuk dan melontarkan kembali isi perutnya beberapa kali. Meskipun cairan yang keluar dari perutnya sudah habis, Rara Wulan masih terbungkuk-bungkuk kembali.
    “Kau kenapa Wulan? Kau masuk angin?” tanya Glagah Putih.
    “Tidak kakang. Aku sudah terlambat satu bulan,” kata Rara Wulan.
    “He? Kau sudah isi. Kau sudah mengandung Wulan? Pantaslah kau tadi mudah sekali tersinggung ketika aku tanya mengenai keinginanmu untuk berenang di sungai tadi,” kata Glagah Putih.
    “Iya kakang. Tiba-tiba saja aku merasa benci melihat kakang,” kata Rara Wulan.
    “He? Benci? Kenapa kau benci aku?” tanya Glagah Putih.
    “Iya. Aku benar-benar cinta, kakang,” kata Rara Wulan dengan senyum dikulum.
    Glagah Putih pun kemudian memeluk istrinya.
    “Terima kasih sayang. Kau akan memberikan keturunan padaku,” katanya.
    Lalu ia melanjutkan.
    “Kalau demikian kita berjalan lambat-lambat saja, agar kandunganmu yang masih sangat muda itu tidak terganggu karena kau kecapekan atau makanan dalam perutmu keluar semua, karena muntah,” kata Glagah Putih lagi.
    Demikianlah mereka berjalan dengan pelan-pelan, karena kondisi Rara Wulan yang sedang hamil. Perjalanan yang mereka tempuh selama empat hari ketika datang, kini mereka tempuh dalam waktu hampir dua kali lipatnya. Setiap sebentar mereka beristirahat. Bila senja sudah membayang, mereka pun segera mencari penginapan yang layak untuk bermalam.
    Di suatu desa sebelum sampai di Banyu Asri, mereka bermalam di sebuah penginapan yang terletak dekat pasar. Pagi-pagi sekali Rara Wulan sudah terbangun dan mandi, lalu berhias diri. Glagah Putih yang mendengar kesibukan Rara Wulan segera terbangun.
    “Hendak ke manakan engkau sepagi ini Wulan?” tanya Glagah Putih.
    “Aku ingin makan nasi gudeg dan ayam goreng di pasar,” kata Rara Wulan.”apakah kau ikut?”
    “Tentu saja aku ikut. Tunggulah sebentar.”
    Glagah Putih pun segera mandi, menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, lalu mengajak Rara Wulan ke pasar di sebelah penginapan mereka. Mereka pun berjalan pelan-pelan sambil menikmati kesegaran udara pagi, saat sang mentari baru muncul dari balik bukit di ufuk timur.
    Burung-burung berkicau gembira menyambut sang fajar. Mereka terbang kian kemari sambil berdendang dan menari. Mereka tidak pernah memikirkan, apakah makan yang mereka peroleh hari ini akan cukup hingga petang. Yang penting mereka terbang, menyanyi, menari dan mematuk ulat daun yang tersedia di mana-mana. Asal mereka mau terbang dan mencari, maka ulat dan makanan lainnya terasa berlimpah.
    Dalam kesejukan udara pagi itulah Glagah Putih dan Rara Wulan terus menapaki jalan menuju pasar yang sudah tidak jauh lagi. Mereka pun sampai di pasar, dan menemukan warung gudeg itu di sudut kiri depan pasar. Mereka masuk ke dalam warung gudeg itu dan memilih duduk di sudut dekat jendela. Udara semilir menyejukkan suasana di warung gudeg itu. Rara Wulan segera memesan nasi gudeg, telur, tempe orek dan tahu bacem cukup untuk dua orang. Rara Wulan memesan dua gelas jeruk hangat.
    Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, karena di pagi seperti itu warung gudeg itu belum begitu ramai. Orang-orang masih sibuk menjual dagangannya dan berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Biasanya setelah barang dagangannya laku atau pembeli sudah memperoleh apa yang dicarinya, barulah mereka mampir ke warung gudeg itu untuk makan.
    Glagah Putih dan Rara Wulan pun dapat menikmati makanan yang mereka pesan sambil menikmati pemandangan orang-orang yang berjual beli di pasar. Ketika mereka sedang makan itu, beberapa orang yang kekar memasuki warung gudeg itu pula.
    Mereka duduk di arah yang berseberangan dengan sepasang suami istri itu di sudut yang lain warung gudeg. Setelah memesan makanan, mereka berceritera dengan riuhnya. Mereka tidak peduli betapa pembeli yang lain merasa terganggu atau tidak.
    “Kakang Sukarta, bagaimana pandangan kakang mengenai kekuatan dan kesiagaan pasukan khusus Kerajaan Mataram di Prambanan, Kotaraja, maupun di Tanah Perdikan Menoreh?” tanya salah seorang yang gemuk berjambang lebat dan berambut ikal.
    “Seperti kau lihat, adi Ragil. Ternyata pasukan Kerajaan Mataram semakin kuat saja. Mereka membangun kekuatan di mana-mana. Selain di ketiga tempat itu masih ada lagi tempat pemusatan barak mereka di Galur, khusus untuk prajurit pasukan armada laut mereka,” kata Ki Sukarta. Seperti halnya Ragil, Sukarta juga gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. Agaknya mereka dua orang yang bersaudara dan berguru di padepokan yang sama.
    Ia menoleh ke kiri kanan sejenak. Namun ia tidak menaruh curiga kepada sepasang suami istri yang duduk di sudut dekat jendela. Mereka lihat Glagah Putih dan Rara Wulan makan dengan asyiknya, tidak menghiraukan mereka yang berceritera dengan riuhnya.
    “Apakah kita akan mencoba mengganggu dan mengacaukan prajurit pasukan khusus itu, kakang?” tanya orang yang disebut Ragil oleh temannya.
    Sukarta tercenung sejenak. Ia nampak berpikr keras, lalu menjawab.
    “Aku kira kita tidak usah membuat gara-gara, jangan sampai terulang kembali seperti Gerombolan Gagak Hitam yang ternyata bisa digulung oleh prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram. Padahal Gerombolan Gagak Hitam, termasuk di antara yang terkuat dalam kelompok padepokan yang mendukung gegayuhan Pangeran Jayaraga dari Kadipaten Panaraga,” kata Ki Sukarta.
    “Bukankah kemarin kita berpapasan dengan Ki Gondang Legi yang hendak kembali ke padepokannya? Ki Gondang Lwegi sudah menceriterakan secara singkat betapa kuatnya prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Sukarta lagi. Lalu ia menambahkan.
    “Tugas kita adalah tugas telik sandi. Bukan untuk mengadakan pengacauan atau gangguan keamanan,” katanya tegas.
    Rekan-rekannya yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Benar Ki Ragil. Sebaiknya kita tidak membuat masalah dengan prajurit pasukan khusus, agar tidak mengganggu rencana kita secara keseluruhan,” kata rekannya yang lain. Ki Barong Landung. Sesuai dengan namanya orang ini berwajah seram, matanya juling dan badannya tinggi melebihi rekannya yang lain.
    Glagah Putih dan Rara Wulan yang mendengar pembicaraan mereka menjadi tertarik. Dengan berbisik-bisik mereka berbicara. Mereka berdua telah menyelesaikan makanan yang dipesannya.
    “Wulan apakah kau setuju apabila aku menangkap mereka semua?” tanya Glagah Putih kepada Rara Wulan.
    “Mereka berlima kakang. Sedangkan aku masih dalam keadaan lemah karena aku sedang isi, kakang,” kata Rara Wulan.
    “Tenang saja Wulan aku dapat mengatasi mereka,” kata Glagah Putih.
    “Setelah kakang berhasil menangkap mereka, apakah kakang akan membawa mereka ke Kotaraja Mataram?” tanya Rara Wulan.
    “Tentu Wulan. Namun kita akan membawanya sampai di Pajang. Di sana nanti kita serahkan kepada prajurit penghubung yang ada di sana untuk dibawa ke Kotaraja Mataram,” kata Glagah Putih.
    “Baiklah jika demikian, kakang. Berhati-hatilah,” kata Rara Wulan.
    Glagah Putih kemudian berdiri dan melangkah menuju meja para telik sandi Kadipaten Panaraga itu. Ia berjalan melingkar-lingkar di sekitar meja tempat duduk mereka. Glagah Putih memperhatikan mereka satu persatu. Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung dan dua orang lagi yang disebut temannya bernama Ki Semprong serta Ki Slorog.
    Agaknya langkah Glagah Putih yang melingkar-lingkar di sekitar mereka membuat kelima orang itu tidak nyaman.
    “He? Apa yang kau lakukan di sini,” tanya Ki Sukarta.
    “Aku sedang mencari lima orang telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah kalian mengenalnya?” tanya Glagah Putih.
    “Telik sandi Kadipaten Panaraga?” tanya Ki Ragil.
    “Ya lima orang telik sandi Panaraga, namanya Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung, Ki Semprong dan Ki Slorog,” kata Glagah Putih.
    “He? Kurang ajar. Kau siapa?” tanya Ki Sukarta.
    “Aku Glagah Putih. Aku petugas dari Mataram,” kata Glagah Putih sambil menunjukkan timang di pinggangnya yang bergambarkan pertanda petugas dari Mataram.
    “Kau datang sendiri?”
    “Ya.”
    “Kalau kelima telik sandi yang kau cari itu adalah kami, kau mau apa?”
    “Aku akan menangkap kalian.”
    “Apakah kau tidak salah, Glagah Putih?” tanya Ki Sukarta lagi.”Kau datang sendiri, kami berlima. Badanmu kecil, kami berlima kokoh kuat.”
    “Apakah kau memakai tubuhmu yang dempal itu sebagai ukuran?” tanya Glagah Putih.
    “Hahaha….Hebat. Berani juga kau menghadapi kami berlima. Baiklah kita semua keluar. Supaya warung gudeg ini tidak berantakan. Kita ke lapangan di depan pasar. Di sana tempatnya agak lapang,” kata Ki Sukarta.
    Mereka berenam pun segera menuju ke lapangan di depan pasar. Suasana di pasar itu pun gempar dan panik, ketika enam orang yang tidak mereka kenal sudah saling menyerang di tengah lapangan yang terletak di depan pasar. Para pedagang yang tidak ingin barang dagangannya menjadi korban, buru-buru menutup warungnya, mengemasi barang dagangannya dan membawanya pulang.
    Glagah Putih yang seorang diri mulai dikepung oleh kelima orang itu. Mereka masih menggunakan tangan kosong. Dengan mengendap-endap mereka maju menyerang, seperti lima ekor harimau yang mengepung seekor kerbau korbannya.
    Namun Glagah Putih ternyata bukan seperti seekor kerbau seperti anggapan mereka. Ketika sudah semakin dekat, maka tiba-tiba kelima orang itu maju menerjang. Ki Sukarta menendang, Ki Ragil meninju, Ki Barong Landung menyodok dengan tinjunya, Ki Semprong dan Ki Slorog juga menendang. Mereka merasa akan segera dapat meringkus lawannya itu.
    Namun kelima orang itu tiba-tiba menjerit kesakitan, ketika serangan mereka saling berbenturan dan Glagah Putih tidak ada di depan mereka. Mereka mengaduh-aduh tidak karuan.
    “Kenapa kalian saling berbenturan? Aku di sini,” kata Glagah Putih yang ternyata sudah hinggap bak merpati yang terbang ke sebatang cabang pohon randu yang terdapat di tepi lapangan dekat mereka bertarung.
    Kelima orang itu pun kemudian berusaha menggoyang-goyang pohon randu yang cukup besar itu.
    “Hahaha. Kalian tidak usah menggoyang-goyang pohon randu seperti itu. Aku segera turun,” kata Glagah Putih.
    Sementara itu, Rara Wulan yang melihat dari depan warung gudeg itu pun tersenyum melihat ulah kelima orang lawan suaminya. Glagah Putih pun segera meloncat turun dari pohon randu itu. Ia pun kembali bersiaga di tengah kepungan para telik sandi dari Kadipaten Panaraga.
    Glagah Putih pun sejak dini menyiapkan ilmu kebalnya, karena ia tidak mau menjadi kantong pasir sasaran kelima lawannya. Sebab kalau ia tidak melambari dirinya dengan ilmu kebal aji Tameng Waja, maka kemungkinan akan menjadi sasaran yang empuk bagi lawannya.
    Glagah Putih pun kemudian menyiapkan kembangan tata gerak ilmu olah kanuragan yang diresapinya dari perguruan Jati Laksana peninggalan Ki Sadewa yang dipadukannya dengan ilmu jaya kawijayan yang diwariskan oleh Ki Jayaraga.
    Setiap kali serangan lawannya menggempur dirinya, Glagah Putih menghadapinya dengan dada tengadah. Ia tidak lagi meloncat-loncat menghindar. Namun semua serangan lawannya itu dipapakinya. Ia sengaja membentur serangan lawannya. Mula-mula kelima lawannya merasa yakin akan dapat meringkus Glagah Putih dalam waktu singkat. Namun semakin lama mereka semakin heran. Setiap pukulan atau tendangan mereka mengenai bagian-bagian tubuh Glagah Putih, anak muda itu bergeming. Bahkan terasa tangan atau kaki mereka yang membentur bagian tubuh Glagah Putih menjadi nyeri atau ngilu. Bagaikan membentur dinding baja yang tebalnya sedepa. Sedangkan Glagah Putih seperti tidak mengalami apa-apa.
    Namun lama kelamaan, Glagah Putih juga tidak mau hanya menjadi sasaran. Sekali lagi ia meloncat di atas kepala kelima penyerangnya ketika mereka merandek hendak menyerang secara berbareng. Kini Glagah Putih sudah berada di luar kepungan kelima lawannya. Dengan sebuah sodokan ia menggempur punggung lawannya, Ki Sukarta, yang dianggapnya terkuat di antara mereka.
    Gempuran di punggung itu ternyata membuat Ki Sukarta terpelanting dan menimpa teman-temannya. Ki Semprong yang masih berdiri di sebelah Ki Sukarta, juga mendapat sebuah tendangan di dadanya, sehingga ia pun terbanting di atas tumpukan teman-temannya.
    Ki Sukarta segera bangun, meloncat dan menghunus pedangnya. Kawan-kawannya juga melakukan hal yang sama. Kini mereka semua bersenjata. Tentu saja Glagah Putih tidak mau ketinggalan. Ia melolos ikat pinggangnya dan memutar-mutar di atas kepalanya.
    “Apakah kau tidak membawa senjata selain ikat pinggangmu?” tanya Ki Sukarta dengan nada setengah mengejek.
    “Ikat pinggangku inilah senjata andalanku,” kata Glagah Putih dengan tenang. Ia tidak terpengaruh oleh ejekan lawannya.
    Ternyata ikat pinggang itu di tangan Glagah Putih bisa menjadi kaku dan bisa menjadi lentur. Sesekali ia memutar ikat pinggangnya yang menjadi kaku seperti tongkat. Tongkat dari ikat pinggang itu pun berputaran di tangannya, dan mematuk dengan ganasnya seperti seekor ular.
    Dalam benturan pertama dengan senjata Ki Semprong, terdengar dentingan yang keras. Menimbulkan rasa nyeri di tengan Ki Semprong. Ki Semprong meloncat surut dua langkah. Ia memperhatikan ikat pinggang glagah Putih yang sebentar-sebentar berubah bentuk. Sekali kaku dan sesaat kemudian menjadi lentur sebagaimana ikat pinggang pada umumnya. Ternyata kekuatan tenaga cadangan Glagah Putih mampu mengubah-ubah bentuk ikat pinggang itu.
    “Luar biasa,” katanya.
    “Apanya yang luar biasa?” tanya Glagah Putih.
    “Kau mampu mengubah ikat pinggangmu menjadi seperti benda yang kaku dan liat, sehingga bisa membentur pedangku, dan di saat lain kembali menjadi lenturseperti ikat pinggang pada umumnya,” katanya.
    “Apakah dengan pengakuanmu itu, berarti bahwa kalian hendak menyerah,” tanya Glagah Putih..
    “Tidak. Sama sekali tidak,” kata Ki Sukarta buru-buru.
    Ki Sukarta tidak ingin menyerah dengan begitu mudah kepada seorang anak muda, meskipun ia memakai timang pertanda sebagai prajurit dari pasukan Kerajaan Mataram.
    Mereka kemudian mulai mengepung kembali Glagah Putih. Melihat kemampuan Glagah Putih yang demikian besar, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Para telik sandi dari Kadipaten Panaraga itu pun kemudian semakin meningkatkan kemampuan ilmu kanuragannya. Tata gerak mereka demikian gesit, bergerak memutar seperti hendak membuat bingung Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang sudah berpengalaman tidak mau dibuat bingung oleh serangan lawannya yang bergerak memutar.
    Glagah Putih yang sudah menerapkan ilmu kebal aji Tameng Waja tidak perlu merasa khawatir bahwa serangan lawannya akan mampu melukai dirinya. Karena itu, Glagah Putih mulai memperhatikan tata gerak kelima lawannya. Setiap kali berhasil membentur senjata ikat pinggang Glagah Putih, mereka meloncat surut sambil dalam arah yang masih memutar. Sehingga dengan demikian, serangan mereka meliuk-liuk, sekali memukul atau membentur senjatanya, mereka bergerak surut dan kawannya yang lain lah yang maju.
    Setelah mengamati bentuk serangan mereka yang demikian, Glagah Putih pun kemudian menyerang dengan arah sebaliknya dari arah putaran serangan lawannnya.
    Dentang senjata semakin sering terjadi. Kembali serangan rasa nyeri menusuk ke tangan kelima lawannya, ketika terjadi benturan senjata. Setiap kali terjadi benturan senjata, mereka berusaha sekuat tenaga memegang pedangnya erat-erat agar senjata itu tidak terlepas dari tangan. Mereka meringis ketika terjadi benturan senjata.
    Akhirnya Glagah Putih mengambil kesimpulan, bahwa dari kelima orang telik sandi Kadipaten Panaraga hanya Ki Sukarta yang mempunyai kemampuan tenaga cadangan dan ilmu kanuaragan yang mumpuni. Sedangkan empat orang kawannya, tidak setinggi ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Ki Madyasta, Ki Sumbaga atau Ki Sungkana.
    Setelah mendapat kesimpulan demikian Glagah Putih ingin menjajaki lebih jauh perlawanan kelima orang lawannya, ia pun selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Tata geraknya semakin ganas dan trengginas, menyerang kelima lawannya. Kalau tadi seakan-akan Glagah Putih yang menjadi kebingungan dengan tata gerak kelima lawannya, maka kini Glagah Putih yang bergerak semakin cepat, membuat kelima lawannyalah yang menjadi kebingungan.
    Glagah Putih pun meningkatkan tenaga cadangannya setiap kali membenturkan ikat pinggangnya ke senjata lawannya. Setiap kali terjadi benturan, gagang pedang mereka terasa panas. Sehingga rasa nyeri yang menyerang genggaman tangan mereka kini berubah menjadi terasa panas. Setiap kali pedang mereka berbenturan dengan ikat pinggang Glagah Putih, genggaman tangan atas pedang mereka menjadi kian panas. Satu dua kali sabetan ikat pinggang Glagah Putih mulai menimbulkan luka di tubuh para telik sandi Kadipaten Panaraga. Darah pun mulai menetes dari luka-luka yang timbul di tubuh mereka. Pakaian mereka pun mulai berubah warnanya, menjadi bersemu merah. Mereka tidak dapat lagi mempertahankan senjata mereka di tangannya.
    Akhirnya satu per satu senjata lawannya terlepas. Tinggallah kini Ki Sukarta saja yang masih menggenggam pedangnya. Ketika sebuah tendangan berantai yang dlancarkan kepada keempat kawan Ki Sukarta, maka keempat orang itu jatuh tersungkur. Pingsan.
    Tinggallah kini Ki Sukarta yang berhadapan dengan Glagah Putih. Ia ingin menangkap Ki Sukarta hidup-hidup sehingga bisa dikorek keterangan tentang jaringan telik sandi yang ada di dalam kelompok mereka.
    Glagah Putih kemudian terus mendesak Ki Sukarta. Segera saja terjadi pertarungan yang semakin sengit. Ki Sukarta memutarkan pedangnya bagaikan baling-baling. Ia menutup semua lubang pertahanannya, sehingga ujung ikat pinggang Glagah Putih tidak bisa menyentuhnya. Namun setiap kali terjadi benturan ia masih merasakan betapa rasa panasnya yang merembet ke gagang pedangnya.
    Glagah Putih terus berusaha mengimbangi kemampuan Ki Sukarta. Agaknya Ki Sukarta pun sudah mulai merambah ke lambaran ilmu kebalnya. Karena ia juga tidak mau ujung ikat pinggang Glagah Putih merobek kulitnya seperti yang terjadi pada kawan-kawannya.
    Demikianlah pertarungan itu semakin lama semakin seru. Glagah Putih yang telah dapat mengukur kemampuan Ki Sukarta pun kemudian mulai meningkatkan ilmu kanuragannya. Selapis demi selapis serangan Glagah Putih mampu menekan ilmu olah kanuragan Ki Sukarta. Hal itu mendorong Ki Sukarta untuk meningkatkan penggunaan tenaga cadangannya. Namun Glagah Putih masih tetap mampu mengatasinya. Hal itu membuat Ki Sukarta pun mulai merambah ilmu pamungkasnya. Aji Segara Mawut.
    Dari puncak ubun-ubun Ki Sukarta keluar asap putih tipis, Semakin lama semakin tebal dan dengan cepat menyelimuti udara di sekitar dirinya. Ki Sukarta pun nampak semakin pudar bayangannya. Antara ada dan tiada.
    Glagah Putih yang melihat perubahan keadaan lawannya, segera dapat membaca bahwa lawannya sudah mulai merambah ilmu pamungkasnya. Karena itu, ia pun segera secara perlahan-lahan mulai melambari dirinya dengan aji Sigar Bumi.
    Ki Sukarta yang sudah merambah ke aji Segara Mawut, membuat pandangan mata Glagah Putih terasa menjadi kabur, karena Ki Sukarta seolah-olah antara ada dan tiada ditutupi oleh selapis kabut tipis yang semakin tebal menghalangi.
    Menghadapi kenyataan demikian, Glagah Putih pun tidak mau ragu-ragu lagi menggunakan aji Sigar Bumi. Ketika Glagah Putih menghentakkan kedua kakinya ke permukaan tanah, maka terasa bahwa bumi ini berguncang dengan hebatnya. Meski pun Glagah Putih tidak dapat melihat dengan jelas di mana Ki Sukarta berada, namun ia masih dapat menangkap ujung bayangannya. Berdasarkan arah tangkapan ujung bayangan lawannya itulah Glagah Putih menerjangkan hentakan kakinya.
    Ki Sukarta berusaha berkelit ke samping. Namun Glagah Putih yang melalui ketajaman panggraitanya mampu merasakan di mana lawan berada, segera menghadang dengan hentakan berikutnya ke arah lawannya menghindar. Kembali bumi terasa seperti teraduk-aduk dan berguncang dengan kerasnya. Seperti gempa. Glagah Putih terus menggempur tempat kedudukan Ki Sukarta. Ke mana pun Ki Sukarta bergerak, ke sana arah gempuran Glagah Putih. Akibat gempuran glagah Putih itu, Ki Sukarta yang tidak mencermati arah serangan dari Glagah Putih, akhirnya tidak dapat bertahan. Ia jatuh terbanting. Namun ia masih dapat bergerak, meskipun lemah..
    Orang-orang di pasar yang masih mempunyai keberanian, masih melihat meskipun dari kejauhan. Namun setelah kelima orang itu dapat ditaklukkan, maka mereka pun berjalan mendekat. Namun sebelum dekat benar, terdengar derap puluhan kuda yang mengarah ke pasar itu.
    Setelah sampai, seorang penunggang kuda yang paling depan dengan perawakan tegap, segera turun dari kuda itu. Ia menyibak orang-orang yang berkerumun di lapangan depan pasar.
    “Kakang Sabungsari?” teriak Glagah Putih lalu mendekati orang yang sudah dikenalnya dengan baik itu.
    “Oo. Kau rupanya adi Glagah Putih. Aku tengah meronda hingga daerah perbatasan, namun ada orang yang melaporkan bahwa telah terjadi pertarungan di pasar ini satu orang melawan lima orang. Ternyata aku sampai di sini sudah terlambat. Pertarungan ini sudah usai,” kata Sabungsari dengan nada penuh kecewa.
    “Hahaha….Kakang Sabungsari tidak terlambat. Aku justru ingin menitipkan kelima telik sandi dari Kadipaten Panaraga kepada kakang Sabungsari untuk dikirim ke Kotaraja Mataram. Terus terang aku tidak bisa untuk membawanya ke Kotaraja karena Rara Wulan sedang isi,” kata Glagah Putih.
    “He? Isi? Maksudmu sedang mengandung?” tanya Sabungsari.
    “Benar kakang. Rara Wulan sedang hamil, jadi aku menghadapi kelima orang itu sendiri. Aku tahu Rara Wulan sedang hamil, baru kemarin, padahal kami berangkat dari Panaraga sudah tiga hari yang lalu,” kata Glagah Putih.
    “Baiklah jika demikian. Biarlah aku mengambil alih masalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah adi sekalian akan tetap berjalan kaki untuk pulang ke Kotaraja Mataram? Kalau boleh aku menyarankan agar kalian pergi berkuda saja. Dua dari kuda yang kami bawa dapat kau pakai untuk kembali ke Kotaraja Mataram. Aku kasihan kalau dalam keadaan hamil, Rara Wulan mesti berjalan kaki sampai Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.
    “Baiklah aku terima dan sangat berterima kasih atas tawaran kakang itu,” kata Glagah Putih.
    “Kakang Sabungsari?” tiba-tiba seorang wanita menyeruak dari kerumunan orang yang berada di tepi lapangan itu.
    “Adi Rara Wulan. Apakah adi sehat-sehat saja,” tanya Sabungsari.
    “Berkat doa kakang dan perlindungan Yang Maha Agung, aku sehat-sehat saja,” kata Rara Wulan. Lalu ia melanjutkan.
    “Marilah kakang Sabungsari, mampir sejenak di warung gudeg di tepi pasar itu,” kata Rara Wulan.
    “Baiklah kita mengobrol di sana sambil minum kopi setelah tidak bertemu lama sekali,” kata Sabungsari. Sabungsari kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk meringkus para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Mereka pun kemudian mengikat kelima orang itu dengan menggunakan tali janget yang kuat sekali.
    Pemilik warung yang tadi menjadi panik dan ketakutan, karena terjadi perkelahian di tepi lapangan, segera membuka warung gudeg dan barang dagangannya kembali. Mereka semua memesan makanan dan minuman. Matahari sudah memanjat kaki langit semakin tinggi. Sambil menanti pesanan makanan dan minuman, Sabungsari bertanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk di hadapannya.
    “Apakah kalian sudah tahu bahwa kakang Untara diangkat menjadi Panglima Pasukan Wiratamtama?” tanya Sabungsari.
    “He? Kakang Untara jadi Panglima?” tanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbarengan.
    “Benar. Kakang Untara sejak dua pekan lalu tidak lagi berada di Jati anom, melainkan sudah pindah ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.
    “Wah…wah. Syukurlah. Lalu siapakan yang menggantikan kakang Untara di wilayah Selatan Gunung Merapi?” tanya Glagah Putih.
    “Aku.”
    “He? Kau kakang? Kau jadi senapati di wilayah Selatan?” tanya Glagah Putih sambil menyodorkan tangannya.
    Sabungsari dengan segera menyambutnya dan mereka berjabatan tangan sangat erat.
    “Syukurlah. Aku mengucapkan selamat atas pengangkatan kakang Sabungsari sebagai seorang senapati di wilayah Selatan,” kata Glagah Putih.
    “Terima kasih adi. Semuanya berkat doa kalian berdua,” jawab Sabungsari. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
    “Sekarang apakah rencana kalian? Apakah kalian akan kembali ke Kotaraja Mataram?” tanya Sabungsari.
    “Benar kakang. Kami akan kembali ke Kotaraja. Tetapi terlebih dahulu kami akan mampir ke Banyu Asri untuk menengok ayah dan ibu. Apakah mereka sehat-sehat saja?” kata Glagah Putih.
    “Mereka sehat-sehat saja adi.”
    “Syukurlah.”
    “Adi berdua, bukan maksudku untuk tidak ingin ngobrol lebih panjang dengan adi sekalian. Tetapi karena tugasku, aku harus meninggalkan kalian. Tawanan telik sandi Kadipaten Panaraga itu, biarlah aku yang mengurusnya. Nanti ada sepuluh orang yang akan mengawalnya sampai Kotaraja Mataram. Adi berdua gunakan saja dua kuda kami untuk kembali ke Banyu Asri. Nanti kuda itu kalian tinggal di Banyu Asri, dan nanti prajuritku akan mengambilnya. Kalian pakai kuda milik paman Widura untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.
    “Baik kakang. Terima kasih atas bantuan kakang,” kata Glagah Putih.
    Demikianlah setelah makan nasi gudeg dan minuman hangat wedang jahe mereka berpisah di warung gudeg yang terletak di pinggir pasar.
    Senapati Sabungsari melanjutkan meninjau situasi keamanan di wilayah yang menjadi wewenangnya, sedangkan sepuluh prajurit membawa lima orang telik sandi Kadipaten Panaraga ke Kotaraja Mataram dan Glagah Putih serta Rara Wulan melanjutkan perjalanan mereka ke Banyu Asri dengan berkuda pelan-pelan.
    Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Ki Gondang Legi terus berjalan menuju Padepokan Cambuk Petir yang terletak di sebelah Barat Gunung Wilis. Mereka menyusuri persawahan, bulak-bulak panjang, gumuk dan lereng, lembah dan ngarai. Tidak jarang mereka harus melompati jurang sempit yang menghadang perjalanan mereka.
    Setelah melintasi hutan yang agak lebat, mereka akhirnya memasuki suatu wilayah yang terbuka. Di kiri kanan jalan terdapat persawahan yang cukup luas. Dan di sudut persawahan itu terdapat pategalan yang ditumbuhi beraneka warna tanaman keras seperti kelapa, mangga, jambu, duren, rambutan dan pohon buah-buahan. Di tengah pategalan itulah terdapat sebuah padepokan. Padepokan itu nampak asri, di sudut-sudut halaman ditanami dengan pepohonan bunga berwarna-warni. Di sebelah kiri pendapa terdapat sebuah belumbang yang dihuni oleh berbagai jenis ikan, yang berenang ke sana ke mari.
    Pada saat menjelang siang, mereka berdua pun kemudian memasuki halaman padepokan yang dibatasi oleh pagar setinggi dada orang dewasa. Mereka segera menuju ke pendapa. Di depan pendapa mereka disambut oleh seorang cantrik yang segera mengenali Ki Gondang Legi.
    “Kakang Gondang Legi,” sapa cantrik itu.”Silakan kakang duduk di pendapa, aku segera memberi tahu Kiai Cambuk Petir mengenai kedatangan kalian.”
    Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Tidak beberapa lama kemudian Kiai Cambuk Petir keluar dari peringgitan ke pendapa.
    “He? Kau Gondang Legi? Mana saudaramu yang lain?” tanya Kiai Cambuk Petir tanpa sempat mengendalikan rasa herannya, karena dari empat muridnya yang dikirim ke Kotaraja Mataram, hanya satu yang kembali. Ia bahkan tidak sempat menanyai Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati.
    “Ampun guru. Ketika kami telah selesai menjajaki kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri,” kata Ki Gondang Legi.
    Ki Gondang Legi bersiap-siap menerima tamparan gurunya. Apabila salah seorang murid gagal menjalankan tugasnya, maka dengan ringan tangan gurunya memberi hadiah tamparan, pukulan atau tendangan. Namun kali ini gurunya nampak menahan diri, mungkin karena di depannya ada Pangeran Ranapati.
    “Jadi kalian telah gagal menjalankan tugas yang aku berikan?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Ampun guru. Kami tidak gagal sama sekali, karena kami sudah mendapat catatan yang kami perlukan mengenai kekuatan pasukan Kerajaan Mataram,” kata Ki Gondang Legi.
    “Manakah catatan itu?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    Ki Gondang Legi mengeluarkan beberapa lembar rontal dari dalam kampilnya, lalu menyerahkan catatan itu kepada gurunya. Kiai Cambuk Petir menerima rontal itu dan membacanya sekilas. Ia mengangguk-angguk.
    “Apakabar Pangeran Ranapati? Mohon maaf aku telah mengabaikan kehadiran Pangeran? Hal itu justru karena rasa tanggung jawabku atas tugas mereka untuk menyelidiki kekuatan pasukan Mataram,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Tidak apa-apa Kiai Cambuk Petir,” kata Pangeran Ranapati singkat.
    Sebenarnya Pangeran Ranapati merasa sangat tersinggung diabaikan demikian oleh Kiai Cambuk Petir. Namun apabila rasa tersinggung itu yang ditonjolkannya, akan bisa mengacaukan segala rencana besarnya. Padahal Kiai Cambuk Petir adalah salah seorang yang sangat mendukung rencananya untuk memperkuat Kadipaten Panaraga dalam upaya mengguncang kekuatan Kerajaan Mataram. Oleh karena itu ia berusaha meredam rasa tersinggung yang membuncah amat sangat di dalam jantungnya.
    “He? Apa kau bilang tentang saudara-saudaramu?” tiba-tiba Kiai Cambuk Petir tersentak.
    “Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas,” kata Ki Gondang Legi.
    “Siapakah yang melumpuhkan Bargas dan Bergawa,” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Seorang prajurit pasukan khusus Mataram, guru. Ia juga mempergunakan senjata cambuk seperti cici-ciri perguruan kita,” kata Ki Gondang Legi.
    “He? Orang Bercambuk seperti kita, katamu?”
    “Benar guru.”
    “Di manakah kalian bertempur dengan orang yang bersenjatakan cambuk itu?”
    “Di tepian kali Praga, guru.”
    “Apakah ciri-ciri senjata cambuk yang dipakainya sama seperti yang kita pakai?”
    “Benar guru. Cambuknya berjuntai panjang seperti cambuk kita. Bahkan juga berkarah-karah baja berbentuk bintang bersegi sembilan.”
    “He? Sama persis dengan cambuk ciri-ciri perguruan kita,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Benar guru. Sama persis seperti ciri-ciri cambuk kita.”
    “Baik. Aku akan menanyakan hal itu kepada kakak seperguruanku Kiai Ajar Karangmaja.Mungkin ia tahu, siapakah sebenarnya guru prajurit dari pasukan Mataram yang mempunyai ciri-ciri Orang Bercambuk seperti yang kita miliki,” kata Kiai Cambuk Petir.Ia berhenti sejenak. Lalu meneruskan kata-katanya.
    “Sekarang apakah rencana anakmas Pangeran Ranapati?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Begini Kiai. Sesuai dengan rencana yang telah kita sepakati, kita akan tetap bergabung dalam kekuatan yang kita sebut sebagai kekuatan pendukung Kadipaten Panaraga,” kata Pangeran Ranapati. Lalu ia melanjutkan.
    “Aku akan meneruskan perjalanan untuk mencari dukungan dari beberapa padepokan yang berada di wilayah Kadipaten Panaraga. Selain itu juga, mencari dukungan dari beberapa Kadipaten seperti Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Kita gerakkan orang-orang yang tidak puas terhadap bangkitnya Kerajaan Mataram sehingga bisa menjadi kekuatan yang mampu mengguncang Mataram itu sendiri,” kata Pangeran Ranapati.
    Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia nampak setuju dengan pendapat Pangeran Ranapati. Namun Kiai Cambuk Petir sesungguhnya mempunyai kepentingannya sendiri. Ia justru hendak membelokkan arah perjuangan Pangeran Ranapati dengan membangkitkan kebesaran dari masa lalu, yaitu bangkitnya Kerajaan Majapahit yang mampu menguasai seluruh Nusantara. Akan tetapi hal itu, baru akan dilakukannya setelah perjuangan besar ini sudah separuh jalan. Lebih mudah membelokkan arah perjuangan itu, daripada mendorongnya sejak awal seperti sekarang ini.
    “Baiklah anakmas. Anakmas silakan menghubungi orang-orang dalam jalur perjuangan untuk mendukung Kadipaten Panaraga, seperti anakmas katakan tadi. Aku pun demikian. Namun terlebih dahulu aku akan menghubungi kakak seperguruanku. Apabila Kiai Ajar Karangmaja bisa ikut kita gerakkan, maka di belakangnya akan berbaris orang-orang dari kebesaran masa silam yaitu Kerajaan Majapahit yang siap mendukung perjuangan kita,” katanya.
    “Dengan berbekalkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh Gondang Legi, maka kita membutuhkan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk bisa menggempur Mataram,” kata Kiai Cambuk Sakti.
    Pangeran Ranapati pun setuju dengan pendapat Kiai Cambuk Sakti. Ia sependapat bahwa diperlukan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk dapat menggulung Mataram.Apabila dapat terkumpul pasukan dengan anggota berjumlah dua puluh laksa, maka hal itu akan memudahkan pergerakan selanjutnya.
    Kiai Cambuk Sakti kemudian memerintahkan para cantrik untuk bersantap siang bagi mereka bertiga. Mereka makan seadanya sebagaimana yang biasa tersedia di padepokan. Nasi, sayur lodeh, goreng ikan dan sedikit kue ringan seperti nagasari atau juadah.
    Setelah selesai bersantap, maka mereka pun segera membagi tugas. Kiai Cambuk Petir akan mengunjungi kakak seperguruannya, Ki Gondang Legi mengawasi para cantrik selama Kiai Cambuk Petir pergi, Pangeran Ranapati menghimpun berbagai kekuatan yang mau dan mampu mendukung Kadipaten Panaraga.
    Demikianlah Kiai Cambuk Petir kemudian mengendarai kudanya menuju ke kaki sebelah utara Gunung Wilis. Di sanalah kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja membangun padepokan. Padepokan Ajar Karangmaja.
    Meskipun jalan yang ditempuhnya cukup rumit dan rumpil, namun karena Kiai Cambuk Petir sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke sana, Ia melintasi bulak-bulak panjang, daerah persawahan, lalu masuk hutan yang agak lebat, jalanan yang berliku, lembah dan ngarai pun dilintasinya. Semakin dekat dengan padepokan kakak seperguruannya itu, semakin sulit jalan yang harus ditempuhnya.
    Ia sampai di Padepokan Ajar Karangmaja setelah menempuh perjalanan berkuda hampir sehari penuh. Sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Namun Kiai Cambuk Petir adalah termasuk orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Meskipun tubuhnya sudah mulai dimakan usia, namun ia tetap tegar menghadapi perjalanan yang sulit dan panjang seperti yang ditempuhnya sekarang ini.
    Kiai Cambuk Petir meloncat turun ketika kudanya mencapai regol halaman Padepokan Ajar Karangmaja. Ia segera disambut oleh seorang cantrik yang menerima tali kekang dan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang tersedia.
    “Apakah Kiai Ajar Karangmaja ada,” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Ada Kiai. Kiai Ajar Karangmaja sedang di sanggarnya. Silakan Kiai duduk di pendapa. Aku segera memberitahukan kepada Kiai Ajar Karangmaja mengenai kehadiran Kiai,” kata cantrik yang termasuk paling muda..
    Demikianlah setelah menunggu sejenak, Kiai Ajar Karangmaja keluar dari sanggarnya setelah cantrik tadi memberitahukan bahwa adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir datang berkunjung.
    “Selamat datang adi. Apakabar? Sudah lama sekali kau tidak datang ke mari,” kata Kiai Ajar Karangmaja menyambut tamunya. Adik seperguruannya.
    “Terima kasih kakang. Aku sehat-sehat saja. Semoga demikian hendaknya dengan keadaan kakang,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Syukurlah. Aku juga selalu dalam lindungan-Nya. Apakah ada hal yang penting dan mendesak, sehingga kau menyempatkan diri untuk menemuiku yang jauh di pucuk Gunung Wilis ini?” tanya Kiai Ajar Karangmaja, langsung ke inti masalah. Ia tidak mau bertele-tele untuk mengetahui keinginan adik seperguruannya, yang sering datang dan selalu mempunyai maksud-maksud tertentu di luar ukuran nalarnya.
    “Benar, kakang. Aku datang ke mari untuk kembali mengajak kakang guna bergabung dalam apa yang disebut sebagai barisan pendukung Kadipaten Panaraga untuk bisa menguasai tlatah ini. Apabila kita gabungkan dengan kekuatan yang berada di belakang kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa membangkitkan kekuatan dari masa silam, yaitu membangun kembali Kerajaan Majapahit yang besar dan mampu menguasai Nusantara,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Sudah berulangkali aku katakan adi. Aku ini sudah sangat lanjut. Bahkan badanku sudah berbau tanah. Aku tidak mau lagi memikirkan masalah duniawi seperti itu. Apakah aku akan menjadi senapati atau tumenggung kalau bisa kau bujuk untuk bergabung? Untuk orang seumur aku, untuk apa lagi jabatan senapati atau tumenggung? Aku sudah tidak mempunyai gegayuhan seperti itu. Ketiga anakku juga sudah mentas dan aku sudah sudah mempunyai enam cucu. Kebahagiaanku sekarang adalah momong keenam cucuku itu. Itu saja,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Akan tetapi kakang, bukankah kita masih keturunan langsung dari trah Kerajaan Majapahit? Bukankah dengan demikian kita juga wajib menjunjung tinggi leluhur kita. Mikul dhuwur, mendem jero. Apakah kakang tidak merasa mempunyai kewajiban untuk membangun kembali kejayaan dari masa silam?“ tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Adi jangan keliru. Yang mempunyai trah langsung kerajaan Majapahit adalah guru kita Mpu Windujati. Sedangkan kita hanyalah cantrik di padepokannya, yang kemudian mendapat kesempatan menjadi muridnya. Aku dan kau bukan trah langsung dari Kerajaan Majapahit. Kita hanyalah keturunan pidak pedarakan, yang tidak seorang pun bisa mengaitkannya dengan trah Majapahit,” tutur Kiai Ajar Karangmaja dengan nada yang mulai meninggi. Ia berhenti sejenak. Nafasnya agak tersengal=sengal, karena menahan hati mendengar ucapan adik seperguruannya yang sekan-akan baru datang sudah memanas-manasi suasana.
    “Sekarang tidak lagi, adi. Aku sedikit pun tidak mempunyai gegayuhan untuk membangkitkan kembali kejayaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sudah mengukirkan dalam kitab sejarah negeri ini dengan tinta emas. Sekali terbilang, lalu hilang. Sekarang berilah kesempatan kepada kerajaan Mataram untuk kembali mengukirkan tinta emas dalam kitab sejarah itu. Sehingga pada saatnya nanti, anak cucu keturunan kita ratusan tahun mendatang akan melihat bahwa sejarah negeri kita ini penuh dengan warna-warni,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Kembali ia terdiam sesaat.
    “Aku tidak lagi mempunyai gegayuhan seperti itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Kenapa, kakang?”
    “Karena yang ada sekarang ini sudah merupakan saluran yang tepat untuk meneruskan kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, bangkit Demak. Demak pun diteruskan oleh Pajang. Kemudian Pajang dilanjutkan oleh Mataram. Nah kurang apa lagi?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Kekurangannya adalah karena tidak ada peran kita di dalamnya, kakang. Kalau kita ikut berperan dalam perubahan pemerintahan itu dengan menjadi sarana berpindahnya wahyu keraton, maka barulah merupakan saluran yang tepat. Akan tetapi di sini kita tidak dilibatkan sama sekali,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Lalu kalau dilibatkan, kita sebagai apa? Sebagai pengusung wahyu keraton, begitu?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Benar kakang. Apabila kita dilibatkan sebagai pengusung wahyu keraton, maka paling tidak kita bisa memiliki kedudukan penting di dalam pemerintahan,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Kedudukan apa yang kau inginkan adi, dalam usiamu yang sudah jauh memanjat naik dan menjelang turun. Kalau usiamu masih tiga puluh tahunan, bolehlah apabila kau minta kedudukan. Pada saat menjelang purnatugas pada saat usiamu lima puluh tahun, kau sudah menjadi tumenggung. Akan tetapi dengan usiamu yang sudah enam puluhan tahun seperti sekarang ini apa lagi yang kau harapkan?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Paling tidak kita akan bisa meletakkan dasar bagi lingkungan kita. Meletakkan dasar bagi anak cucu kita,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Akan tetapi apa yang bisa kita lakukan. Karena kita akan tetap berada di luar jalur kekuasaan yang bisa menentukan hitam putihnya keadaan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Tentu saja kita memberikan dukungan yang perlu bagi terwujudnya gegayuhan kita itu,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Sudahlah adi. Aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan yang sama sekali aku tidak mengerti. Aku juga tidak mempunyai wewenang untuk memasukkan keterangan yang berguna bagi perubahan kekuasaan itu. Seandainya terjadi perubahan kekuasaan pun, tentu saja kita akan tersingkir dan tidak akan bisa memperjuangkan kepentingan anak cucu kita. Karena kita sudah uzur,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Wah kakang terlalu berkecil hati sebelum berbuat sesuatu,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Yang jelas, aku tidak ingin melibatkan padepokanku dan keluarga besar perguruan Windujati dalam pertengkaran ini karena ingin memperebutkan kekuasaan,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Kiai Cambuk Petir yang semasa mudanya bernama Kulantir sebenarnya adalah adik seperguruan dari Kiai Ajar Karangmaja. Ketika berguru kepada Mpu Windujati, mereka terpaut cukup jauh umurnya maupun tingkat ilmunya. Pada saat terjadi pergolakan terakhir di Demak Bintara mereka mendapat tugas untuk mengamati keadaan di Demak Bintara itu. Namun pada saat mereka kembali ke perguruan Windujati, mereka mendapati guru mereka—Mpu Windujati—telah tiada. Kiai Ajar Karangmaja yang merupakan murid tertua Perguruan Windujati, kemudian mendapat kepercayaan untuk meneruskan padepokan itu. Sesuai dengan nama pemimpinnya, akhirnya orang lebih mengenal Padepokan Ajar Karangmaja, ketimbang Padepokan Windujati.
    Kiai Ajar Karangmaja yang kakak seperguruan Kulantir kemudian menurunkan ilmu yang telah diperolehnya hampir secara lengkap dari Mpu Windujati. Sehingga dengan demikian Kiai Ajar Karangmaja adalah kakak seperguruan sekaligus guru bagi Kulantir yang kemudian menyebut dirinya Kiai Cambuk Petir ketika telah berdiri sendiri dengan membangun padepokannya sendiri.
    Kiai Ajar Karangmaja mempunyai dua murid utama. Yang seorang bernama Putut Kalibata, dan seorang lagi Putut Jimbaran.
    “Kemanakah kedua muridmu kakang. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Mereka berdua mulai kemarin minta izin untuk pulang ke kampung masing-masing selama dua bulan. Padi di sawah mereka sudah mulai panen dan mereka harus mengolah sawah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Wah sayang sekali. Sebenarnya aku juga ingin mengajak mereka untuk bergabung denganku untuk memperjuangkan gegayuhan membangkitkan kejayaan Kerajaan Majapahit,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Adi jangan melibatkan padepokanku, atau pun kedua muridku itu dalam mencapai gegayuhanmu,” kata Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sengit.
    “Baiklah kakang. Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa,” kata Kiai Cambuk Petir dengan nada enteng.
    Betapapun ia masih tetap menghormati kakang seperguruan yang sekaligus menjadi guru tunggak semi-nya setelah Mpu Windujati tiada. Perbawa kakak seperguruannya itu demikian besar.
    “Oo ya, kakang. Aku ingin bertanya apakah di antara sanak kadang kita yang masih trah Keraton Majapahit ada yang tinggal di Mataram dan menjadi prajurit pasukan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Memangnya ada apa? Aku tidak tahu apakah di antara keluarga besar trah Majapahit atau sanak kadang kita yang berpihak atau berada di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Begini kakang. Dua pekan lalu aku mengirim keempat muridku Bargas, Bergawa, Tanda Rumpil dan Gondang Legi untuk mengamat-amati kekuatan pasukan Kerajaan Mataram. Nah dalam suatu pertempuran dengan seorang prajurit Mataram, ternyata Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, Tanda Rumpil tewas dan Gondang Legi berhasil melarikan diri kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Keempat muridmu kalah?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Iya kakang. Yang membuatku heran, justru yang melumpuhkan kedua murid utamaku—Bargas dan Bergawa—adalah orang yang mempunyai ciri-ciri seperti perguruan kita. Ciri-ciri perguruan Orang Bercambuk,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “He? Ciri-ciri Orang Bercambuk? Apakah cambuknya berjuntai panjang dan berkarah-karah baja di ujungnya?” tanya Kiai Ajar Karangmaja lagi.
    “Benar kakang. Apakah kakang tahu bahwa ada sempalan dari ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Aku tidak tahu persis, adi. Tetapi setahuku tidak ada orang atau sempalan ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Apakah orang itu murid dari Raden Timur yang sering juga disebut Pamungkas?” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada dirinya sendiri.
    “Maksud kakang, Raden Timur cucu dari Mpu Windujati?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Benar. Raden Timur yang selalu mengamati kalau kita sedang berlatih ilmu kanuragan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.
    “Raden Timur adalah cucu sekaligus murid utama dari Mpu Windujati,” tutur Kiai Ajar Karangmaja.
    “He? Tetapi aku tidak pernah melihat Raden Timur berlatih ilmu kanuragan dengan kita, para murid perguruan Mpu Windujati,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Iya. Karena Mpu Windujati berkenan melatihnya secara langsung di dalam sanggar. Aku beberapa kali mendapat tugas untuk berlatih tanding dengan Raden Timur. Meskipun Raden Timur sedikit lebih muda daripada aku, namun ilmunya ngedab-ngedabi dan hampir sesempurna Mpu Windujati sendiri,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Selain itu, Raden Timur juga berguru kepada adik seperguruan Mpu Windujati yang merupakan sahabat dekat dengan seorang yang bernama Kebo Kanigara, putera sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Dengan demikian ilmu yang dikuasai Raden Timur adalah gabungan ilmu dari beberapa perguruan.
    Kiai Ajar Karangmaja terdiam lagi. Seakan-akan sedang mengenang kembali hubungannya dengan Raden Timur di Perguruan Windujati yang tersimpan dalam bilik ingatannya. Kejadian yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu, seakan terputar kembali di dalam angan-angannya. Betapa Raden Timur yang masih muda itu, bertarung dengan dirinya di dalam sanggar. Meskipun ilmu yang diraihnya secara tuntas itu dikerahkannya untuk menyerang Raden Timur, namun cucu gurunya itu masih tetap bisa mengatasinya.
    Sebagai pertanda bahwa ilmu yang mereka pelajari di perguruan Windujati telah tuntas, maka mereka berdua menjalani suatu ritual khusus di dalam sanggar itu. Gurunya membakar sebatang baja yang pada ujungnya terdapat semacam cap stempel dari baja. Pada cap stempel itu tertera gambar semacam cambuk yang pada ujungnya terdapat karah-karah baja bersegi sembilan.
    Gurunya, Mpu Windujati yang masih merupakan trah Keraton Majapahit, meminta mereka berdua mengerahkan ilmu kebal yang telah mereka kuasai secara tuntas. Sebagai pertanda bahwa ilmu kebal mereka telah tuntas, maka ruangan sanggar Mpu Windujati terasa seperti panas membara. Sepanas cap stempel yang dipanaskan oleh gurunya. Karena agaknya, ilmu kebal mereka berdua telah berhasil membangkitkan sifat panas di dalam udara sekitar mereka.
    Ketika Mpu Windujati merasa pengerahan ilmu kebal kedua muridnya telah cukup, Mpu Windujati segera menempelkan cap stempel dari baja yang membara itu ke pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Tercium bau seperti daging yang terbakar. Dengan sekuat tenaga kedua murid Mpu Windujati menahan nyeri yang mereka rasakan akibat diselomot dengan cap stempel membara itu. Gurunya segera memborehkan obat-obatan yang telah disiapkan untuk mengatasi luka bakar di tangan kedua muridnya itu. Ketika sembuh, sebuah cap bergambarkan cambuk menghiasi pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Dalam kesempatan itu, gurunya mewariskan kitab perguruan Windujati kepada Raden Timur.
    Gurunya kemudian memberi wejangan kepada mereka berdua, bahwa hubungan mereka sebagai dua saudara seperguruan harus tetap mereka jaga hingga kapan pun. Selama hayat masih dikandung badan. Hubungan itu tidak hanya di antara mereka saja, namun juga hubungan di antara murid-murid mereka, apabila kelak mereka membangun padepokan sendiri.
    Gurunya berpesan agar mereka tidak mudah-mudahnya mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ilmu Pamungkas Orang Bercambuk. Apabila mereka ragu-ragu, apakah sudah saatnya atau belum mempergunakan ilmu pamungkas mereka, maka Mpu Windujati meminta agar mereka mengelus-elus pergelangan tangan kiri mereka dan bertanya di dalam hati:”Guru apakah sudah saatnya aku pergunakan ilmu pamungkasku?” Kelak mereka akan tahu, bahwa gurunya akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka.
    Pesan wanti-wanti dari gurunya, Mpu Windujati, itulah yang selalu terngiang di dalam pendengaran Kiai Ajar Karangmaja yang semasa mudanya bernama Soma.
    Ketika Soma menurunkan ilmunya kepada Kulantir, pesan yang sama selalu ditekankannya kepada adik seperguruan sekaligus muridnya itu. Namun, meskipun ilmu yang diturunkannya kepada Kulantir telah tuntas, namun Soma tidak berani mengadakan ritual khusus memberi cap stempel cambuk kepada Kulantir. Hal itu karena ia mengamati perangai Kulantir yang sering tidak sesuai dengan keinginannya. Kulantir lebih sering mengetengahkan sifat tamaknya akan kekuasaan. Namun sifat tamaknya itu tidak disalurkan secara benar melalui jalur kekuasaan yang ada.
    Soma masih akan bisa memahami keinginan adik seperguruannya itu apabila Kulantir menyalurkan keinginannya untuk berkuasa misalnya dengan memasuki jenjang keprajuritan. Apabila Kulantir ketika masih muda memasuki jenjang keprajuritan mungkin ia sudah mengantongi pangkat tumenggung atau bahkan sudah purnawira. Namun hal itu tidak dilakukannya. Kulantir lebih suka tenggelam dalam kesibukannya di padepokan yang dibangunnya di Panaraga. Sekarang, ketika usianya sudah senja, baru ia berkeinginan untuk membangkitkan kenangan akan masa silam. Sungguh itu suatu tindakan yang dinilainya terlalu ngayawara.
    “Apakah kakang pernah berhubungan Raden Timur setelah guru tiada?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Tidak pernah adi. Raden Timur seperti tenggelam ditelan bumi dan tidak pernah ada kabar beritanya,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak. Lalu melanjutkan.
    “Yang aku ketahui Raden Timur kemudian sering berkelana dan bertualang ke sana ke mari. Ia sering memadamkan upaya perampokan di desa-desa yang dilaluinya. Ia menggunakan seribu nama untuk menyembunyikan jati dirinya. Raden Timur bisa memakai nama yang seram-seram seperti Ki Brewok, Ki Gondoruwo, Ki Bangor, atau Ki Arwah Gentayangan. Atau bisa juga ia menggunakan nama yang manis seperti Ki Madu, Ki Tanu Metir, Ki Kumitir, Ki Langendriyan dan nama-nama yang aneh lainnya. Namun pertanda yang tidak bisa dibuangnya, adalah ia selalu menggunakan kain geringsing. Sejak muda ia suka sekali dengan kain batik bercorak geringsing,” kata Kiai Ajar Karangmaja mengenang.
    “Aku beberapa kali berusaha membuntutinya. Namun tidak pernah berhasil. Raden Timur selalu berhasil menghilangkan jejak dengan penyamarannya yang aneh-aneh itu. Bahkan tidak jarang ia menggunakan berbagai jenis topeng dari kulit kayu. Entah apa sebabnya ia selalu menghindari pertemuan denganku,” kata Kiai Ajar Karangmaja lagi.
    “Karena getolnya aku ingin membuntuti Raden Timur, bahkan aku sampai pernah kecele. Ketika terjadi perampokan di suatu kademangan, aku membuntuti sang perampok. Benar saja tidak lama kemudian, muncul seorang pahlawan yang menangkapi semua perampok itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Lalu apa yang kakang lakukan?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Aku yakin benar bahwa yang menangkap para perampok itu adalah Raden Timur dalam penyamarannya. Aku menguntit orang yang menangkap para perampok itu. Setelah perampok itu dilumpuhkan dan diikat di pojok lapangan, orang yang melumpuhkan perampok itu pergi. Aku tetap mengikutinya,” kata Kiai Ajar Karangmaja lagi.
    “Kemudian?”
    “Aku cegat dia dan kuajak bertarung. Ternyata orang itu tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai Orang Bercambuk. Aku masih belum percaya. Kujajal dia sampai ilmu pamungkasnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Kiai Cambuk Petir tertarik mendengar ceritera kakak seperguruannya.
    “Lalu apa yang terjadi?”
    “Ternyata baru kemudian aku mengetahui bahwa orang yang aku pergoki itu bukan Raden Timur setelah sempat berperang tanding, melainkan Ki Sadewa,” kata Ki Ajar Karangmaja lagi.
    “He? Ki Sadewa dari perguruan Jati Laksana,” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Benar. Orang itu adalah Ki Sadewa dari perguruan Jati Laksana,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya.
    “Apakah adi mengenal Ki Sadewa?”
    “Aku mengenalnya kakang. Aku dan Ki Sadewa pernah bertemu pada awal masa kerajaan Pajang,” kata Kiai Cambuk Petir. “Kami ketika bahu membahu mengatasi kawanan perampok yang kuat di kawasan Alas Roban. Sejak itu kawanan perampok Macan Loreng dari Alas Roban tidak terdengar lagi, karena berhasil kami taklukkan.”
    Kiai Ajar Karangmaja terdiam mendengar jawaban adik seperguruannya itu. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia juga mengenal sifat Ki Sadewa yang selalu berusaha menegakkan kebenaran dan memerangi kesewenang-wenangan macam apa pun yang terjadi jauh dari lingkaran kekuasaan.
    “Menurut kakang, apakah Raden Timur dan Ki Sadewa saling mengenal?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Aku tidak tahu persis adi. Namun apabila melihat sepak terjang mereka yang sama-sama memerangi kebatilan, aku rasa mereka saling kenal atau saling berhubungan,” kata Kiai Ajar Karangmaja lagi.
    Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. Ia berpikir sejenak, lalu berkata.
    “Berarti kalau aku ingin menelusuri Raden Timur, aku dapat memulainya dari jalur Ki Sadewa atau melalui Ki Rangga Agung Sedayu, prajurit pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Kiai Cambuk Petir.
    Kiai Ajar Karangmaja mengerutkan keningnya. Ia heran dengan sikap Kulantir yang kemudian menyebut dirinya sebagai Kiai Cambuk Petir itu, yang masih saja hendak menelusuri keberadaan Raden Timur dengan seribu namanya itu.
    “Apakah yang hendak kau lakukan jika pada akhirnya kau bertemu dengan Raden Timur, adi,” tanya Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sedikit meninggi.
    “Tidak apa-apa kakang. Aku hanya ingin merekatkan ikatan tali silaturahmi saja, yang terputus sejak wafatnya guru. Mpu Windujati. Apalagi Raden Timur dengan segala penyamarannya itu selalu berusaha menghindari pertemuan dengan kakang. Aku justru menjadi semakin penasaran. Syukur-syukur apabila aku diberi pinjaman kitab pusaka dari perguruan Windujati. Karena tentu masih ada yang bisa aku pelajari dari kitab pusaka itu, apabila aku bisa membacanya secara langsung. Aku rasa masih ada ilmu yang belum kupelajari secara tuntas dari kakang,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Sudahlah adi. Kitab pusaka itu sudah diwariskan oleh Mpu Windujati kepada Raden Timur dan tentu beliau pun tidak sembarangan mewariskan

  195. Lanjutannya…

    Sudahlah adi. Kitab pusaka itu sudah diwariskan oleh Mpu Windujati kepada Raden Timur dan tentu beliau pun tidak sembarangan mewariskan kitab pusaka itu kepada orang yang tidak berhak. Aku tidak setuju apabila engkau hendak merebut dengan cara kasar maupun cara halus kitab pusaka itu. Aku diangkat dan menjadi murid Mpu Windujati saja sudah merupakan anugerah yang tiada terkira. Kau tidak usah ngogrok-ngogrok, untuk mendapatkan kitab pusaka itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja memberi nasihat kepada adik seperguruannya itu.
    “Tidak kakang. Aku sebagai murid Mpu Windujati juga merasa berhak untuk mempelajari kitab pusaka itu. Karena kitab pusaka itu adalah sumber dari segala sumber ilmu yang ada di perguruan kita. Kalau Mpu Windujati menurunkan ilmu kepada kakang hanya sembilan bagian, lalu kakang juga menurunkan kepadaku ilmu itu sembilan bagian lagi dari ilmu yang kakang pelajari dari Mpu Windujati, dan aku pun menurunkan ilmu kepada muridku sebanyak sembilan bagian, maka pada suatu saat ilmu dari perguruan Windujati akan sirna dari muka bumi ini. Raden Timur sudah berpuluh-puluh tahun menguasai kitab pusaka itu. Sekarang giliran kita, aku dan kakang, untuk ikut mempelajarinya agar ilmu perguruan kita tidak punah,” kata Kiai Cambuk Petir.
    Kiai Ajar Karangmaja terperangah dengan ucapan adik seperguruannya itu. Ia tidak menyangka adik seperguruannya itu selain kemaruk akan kekuasaan, juga tamak dengan kitab pusaka yang tidak menjadi haknya.
    “Jangan adi. Sekali lagi aku peringatkan adi untuk tidak meminjam, merebut atau menguasai kitab pusaka itu secara paksa atau kasar. Kalau itu kau lakukan, maka kau akan berhadapan dengan aku,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Baik kakang. Aku tidak akan melakukannya,” kata Kiai Cambuk Petir.
    Pembicaraan mereka terputus sejenak ketika dua orang cantrik menyajikan makanan dan minuman ke pendapa. Mereka pun segera menyantapnya. Setelah merasa kenyang, maka mereka melanjutkan pembicaraan. Namun suasananya sudah berbeda. Mereka berbicara dengan nada yang lebih rendah. Apalagi setelah kenyang ternyata mata Kiai Cambuk Petir mulai meremang. Perlahan-lahan ia mulai menguap.
    “Sudahlah adi. Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Kadipaten Panaraga sampai di gubukku ini. Sebaiknya kau beristirahat barang sejenak untuk mengendurkan urat-uratmu yang tegang,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Kiai Cambuk Petir tidak kuasa menolak ajakan setengah perintah dari kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja. Apalagi ia memang benar-benar merasa diserang kantuk yang tak tertahankan saat perutnya terasa kenyang.
    “Kau dapat beristirahat di gandok kanan yang sering kau pergunakan apabila kemari,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Baiklah kakang. Aku ingin beristirahat sejenak di gandok kanan,” kata Kiai Cambuk Petir.
    “Silakan. Silakan adi beristirahat. Untuk orang seumur kita, memang lekas sekali merasa lelah apalagi setelah menempuh perjalanan panjang,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Setelah Kiai Cambuk Petir setelah membersihkan diri, kemudian beristirahat di gandok kanan. Tidak lama kemudian terdengar desir nafasnya yang mengalir teratur, pertanda ia sudah terlelap dalam tidurnya.
    Setelah mendengar desir nafas adik seperguruannya yang mengalir teratur, Kiai Ajar Karangmaja kemudian segera pergi ke halaman belakang padepokannya. Di sana ada beberapa rumah petak tempat para murid dan cantriknya tinggal selama mondok di padepokannya.
    Ia segera menemui Putut Kalibata dan Putut Jimbaran, yang ternyata ada di belakang karena baru datang dari sawah untuk mencangkul sawah padepokan yang cukup luas.
    Kiai Ajar Karangmaja segera menceriterakan tentang kedatangan adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir yang hendak membenturkan mereka dengan Kerajaan Mataram. Karena itu ia memerintahkan mereka untuk segera pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menemui Ki Rangga Agung Sedayu.
    “Kalian berangkatlah terlebih dahulu. Nanti aku menyusul setelah pamanmu Kiai Cambuk Petir pergi dari padepokan. Aku minta kalian meninggalkan pertanda seperti biasa, agar kita bisa saling berhubungan. Kalau ada yang bertanya, katakan saja kalian hendak pulang ke kampung untuk membantu memanen padi, dan mengolah tanah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Kedua Putut itu pun kemudian segera berangkat, sesuai perintah gurunya. Mereka membawa kedua kudanya dan memilih jalan yang jarang dilalui orang. Agar tidak menimbulkan suara berisik karena derap kaki kuda, mereka menuntun kudanya sampai jarak yang cukup jauh. Baru kemudian mereka meloncat ke punggung kudanya dan menarik tali kendali agar kudanya segera berlari.
    Kiai Ajar Karangmaja kemudian kembali ke pendapa. Ketika melintasi gandok kanan, ia masih mendengar suara nafas yang teratur pertanda adik seperguruannya, Kiai Cambuk Petir, masih tertidur lelap. Mungkin ia merasa kelelahan menempuh perjalanan yang cukup jauh itu.
    Ketika sang mentari harus terpelanting di pinggang bukit, barulah Kiai Cambuk Petir terbangun dari tidurnya. Ia mengucak-ucak matanya. Ia lalu menggeliat untuk meregangkan urat-urat di pinggangnya.
    Setelah agak regang urat di pinggangnya, ia pun segera pergi ke pakiwan, untuk membersihkan diri. Setelah mandi ia kembali ke pendapa. Di sana kakak seperguruan yang sekaligus gurunya sudah menanti. Tidak lama kemudian para cantrik menghidangkan makanan dan minuman untuk santap malam.
    “Marilah adi, kita bersantap malam dulu, sebelum kita mengobrol-ngobrol ringan sambil mengenang masa kita meguru dulu kepada Mpu Windujati,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Baiklah kakang, kita makan dulu.”
    Mereka berdua pun segera menyantap makanan yang disediakan oleh para cantrik berupa sayur lodeh, ikan mas goreng, ayam goreng, tahu bacem dan wedang jahe. Segera saja makanan itu berpindah tempat. Meskipun tidak sampai habis semuanya. Sebagai orang-orang yang telah lanjut usia, tidak banyak mereka makan. Mungkin karena usus mereka telah susut, sehingga tidak lagi bisa memuat banyak makanan. Namun makanan yang tidak terlalu banyak itu, telah membuat mereka merasa kenyang.
    “Bagaimana kakang, apakah kakang bersedia bergabung dengan kami untuk mendukung Adipati Panaraga guna menggulingkan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.
    “Sudahlah adi. Keputusanku sudah tetap. Aku tidak mau ikut campur dalam usaha menggulingkan Mataram itu. Kalau kau paksa-paksa begitu, aku bisa justru bersikap sebaliknya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Maksud kakang?”
    “Aku bisa saja justru membela Mataram. Lebih baik kita berbicara yang ringan-ringan saja.”
    Demikianlah mereka malam itu berbicara mengenai berbagai hal yang tidak ada kaitannya dengan penggulingan kekuasaan Mataram.
    Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Tumenggung Jaya Santika seiring dengan berjalannya waktu, hari demi hari sudah hampir menyelesaikan kapal jung yang dibangunnya di daerah Galur yang terletak di tepi barat Kali Praga, tidak jauh dari muara sungai itu..
    Kapal jung itu sudah nampak bentuknya. Kapal itu yang pada awalnya dibentuk rangkanya dengan menggunakan kayu jati yang ditebang dari pohon jati yang ada di Alas Mentaok. Dengan kayu itu terlebih dahulu dibentuk kayu lunas yang membujur dari ujung ke ujung. Kemudian di sebelah lunas itu didirikan kayu penyangga untuk menahan rangka. Pada kayu lunas itu juga dipasang tiga batang tiang layar yang menjulang tinggi. Tiang layar yang berada di tengah lebih tinggi daripada tiang layar yang berada di sebelahnya. Kapal itu agak meruncing di bagian haluannya, dan melebar di bagian buritan. Pada bagian haluannya dibentuk menyerupai ikan cucut yang sedang membuka mulutnya. Nampak giginya yang tajam seperti sedang menyeringai.
    Setelah rangka dipasang, kemudian mulai dibuat rangka palka kapal yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama adalah dasar kapal, di sini terdapat ruangan untuk mendayung kapal jung, ruang para juru masak meracik makanan, dan sekaligus tempat istal kuda.
    Kemudian lantai kedua tempat para prajurit beristirahat atau tidur, dan lantai ketiga adalah dek atau lantai paling atas tempat para prajurit bersiaga pada saat akan maju berperang atau mengadakan upacara khusus.
    Setelah rangka ketiga lantai dipasang dengan sempurna, maka dimulailah menutup rangka kapal itu dengan papan kayu jati yang tebal-tebal. Untuk menghindari kemungkinan papan penutup rangka itu bocor, maka pada ujung papan setiap sambungan dibuat cowakan yang kait mengait. Dengan demikian, papan itu bisa saling mengikat dengan rapat.
    Ketika telah usai penutupan rangka dengan papan, maka mulai nampaklah kapal itu berdiri dengan megahnya di daerah Galur di tepian kali Praga. Selanjutnya adalah pemasangan pagar keliling di atas dek kapal dan pembuatan kapal sekoci sebagai alat untuk turun jika kapal jung itu tidak dapat merapat ke pantai. Pekerjaan berikutnya adalah pemasangan kemudi di bagian buritan kapal, pemasangan tangga-tangga untuk pergerakan dari satu tingkatan lantai ke tingkat lainnya serta penghalusan bagian-bagian kapal yang masih kasar.
    Pekerjaan berikutnya adalah pemasangan layar pada tiang layar yang telah berdiri dengan kokohnya. Ketika semua bagian kapal itu sudah selesai, maka Ki Tumenggung Jaya Santika meninjau kembali semua bagian kapal yang masih berada di tepi kali Praga itu. Ki Tumenggung Jaya Santika nampak mengangguk-angguk puas ketika melihat perkembangan terakhir dari pembangunan kapal jung itu.
    Setelah semuanya dirasakan cukup, maka Ki Tumenggung Jaya Santika menyusun rencana untuk pergi ke Mataram guna melaporkan kepada Panglima Wiratamtama Ki Tumenggung Prabayudha, Ki Patih Mandaraka, Pangeran Purbaya dan Panembahan Hanyakrawati.
    Terlebih dahulu Ki Tumenggung Jaya Santika mengumpulkan para senapatinya yang ada di barak pasukan khusus. Sebagaimana biasa apabila Ki Tumenggung Jaya Santika harus pergi ke Mataram, maka ia membagikan tugas-tugas kepada para senapati. Ki Tumenggung Jaya Santika pergi ke Mataram didampingi oleh dua lurah prajurit yaitu Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta.
    Setelah pembagian tugas itu usai, ia pulang lebih awal daripada biasanya. Ki Tumenggung memberitahukan kepada istrinya Nyi Sekar Mirah, bahwa ia hendak pergi ke Kotaraja Mataram guna melaporkan kepada Panglima Wiratamtama Ki Tumenggung Prabayudha, Ki Patih Mandaraka, Kanjeng Pangeran Purbaya dan Kanjeng Panembahan Hanyakrawati.
    “Aku terlebih dahulu hendak menghadap Ki Gde Menoreh malam ini mengenai rencana kepergianku ke Mataram esok pagi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika kepada Nyi Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan Sukra.
    Nyi Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan Sukra mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka memahami bahwa tugas sebagai Senapati Utama Pasukan Khusus di Tanah Perdikan Menoreh memang menuntutnya untuk hilir mudik ke Kotaraja Mataram. Apalagi Ki Tumenggung Jaya Santika mendapat tugas untuk membangun armada laut Kerajaan Mataram. Hubungan dengan Kotaraja, meruapakan suatu keharusan yang tidak dapat dihindari.
    Demikianlah, ketika mentari bersembunyi di balik bukit, setelah membersihkan diri di pakiwan, sesuci dan melaksanakan kewajiban kepada Yang Maha Agung, maka Ki Tumenggung Jaya Santika berpamitan kepada istrinya Nyi Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan Sukra, untuk pergi ke rumah Ki Gde Menoreh.
    Sebagaimana biasa, Ki Tumenggung Jaya Santika memilih berjalan kaki untuk datang ke rumah Ki Gde Menoreh. Malam itu, terasa sejuk dengan angin yang semilir. Binatang malam sudah mulai menguasai suasana dengan memperdengarkan suaranya. Mereka terdiri dari jangkerik, belalang, cenggeret, kelelawar, burung hantu, burung kedasih, burung bence. Di kejauhan terdengar lolong serigala dan anjing hutan serta auman harimau. Suara mereka yang saling bersahutan, membuat suasana menjadi nyman tenteram. Suara katak pohon sesekali ikut menyemarakkan paduan suara itu. Namun karena sudah beberapa hari tidak turun hujan, suara kodok tidak terdengar. Mungkin mereka merasa kepanasan, sehingga menjadi tidak begitu gembira.
    Setelah melintasi bulak panjang, dan pohon gayam yang besar di sudut tikungan, Ki Tumenggung Jaya Santika tinggal melangkah beberapa ratus langkah. Tiba-tiba langkahnya yang ringan itu terhenti. Ia merandek sejenak. Ki Tumenggung Jaya Santika merasa ada beberapa orang yang mengikutinya. Namun ia berbuat seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya sedang dikuntit.
    “Berhentilah sejenak Kisanak. Apakah Kisanak adalah Ki Rangga Agung Sedayu?” tanya seseorang dari tiga orang yang tiba-tiba menghadangnya di tengah gelap malam. Namun dengan mengerahkan aji Sapta Pandulu, Ki Tumenggung Jaya Santika dapat melihat dengan jelas ketiga orang yang mencegatnya di tengah persawahan itu.
    “Kalian salah Kisanak. Aku bukan Rangga Agung Sedayu. Aku Tumenggung Jaya Santika,” katanya.
    “He? Bukankah itu nama gelar kekancinganmu setelah menjadi tumenggung?” tanya seorang di antara mereka yang paling tua. Orang itu sebenarnya sudah sangat tua, seandainya Kiai Geringsing masih hidup tentu mereka sebaya.
    “Siapakah kalian?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Aku Kiai Ajar Karangmaja, saudara seperguruan dari Orang Bercambuk, sedangkan dua orang lagi yang berada di sebelahku adalah muridku. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” katanya.
    “Apakah maksud kalian menemuiku di tengah persawahan ini?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Aku sebenarnya berkepentingan dengan gurumu. Apakah gurumu adalah Raden Timur atau Pamungkas?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Bukan. Guruku bukan Raden Timur atau Pamungkas. Tetapi guruku adalah Ki Tanu Metir atau sering juga menyebut dirinya adalah Kiai Geringsing,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Apakah gurumu suka mengenakan kain geringsing?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Benar. Apakah ada yang dapat aku lakukan bagi Kisanak. Apakah guruku mempunyai utang-piutang dengan Kisanak?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Tidak. Gurumu tidak mempunyai urusan utang-piutang denganku Ki Tumenggung. Namun aku sebagai saudara seperguruan hendak bertemu dengan gurumu itu.”
    Ki Tumenggung Jaya Santika mengerutkan keningnya. Apabila menilik usia Kiai Ajar Karangmaja, ia memang percaya bahwa mereka sepantaran. Kiai Ajar Karangmaja nampak beberapa tahun lebih tua daripada Kiai Geringsing, jika orang tua itu masih hidup.
    “Apakah pertanda bahwa Kiai adalah saudara seperguruan dengan guruku?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Ada. Ki Tumenggung. Ini,” kata Kiai Ajar Karangmaja sambil mengurai sesuatu yang membelit pinggangnya.
    Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya, ketika melihat sebuah cambuk berjuntai panjang yang disodorkan oleh Kiai Ajar Karangmaja.
    “Bolehkah aku melihatnya?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Tentu. Silakan,” kata Kiai Ajar Karangmaja sambil menyodorkan cambuk miliknya itu.
    Ki Tumenggung Jaya Santika pun segera mengurai cambuk berjuntai panjang yang juga membelit pinggangnya, lalu membandingkan dengan cambuk yang disodorkan Kiai Ajar Karangmaja. Ia pun merapatkan ujung dan pangkal kedua cambuk itu yang ternyata sama persis panjangnya. Ia lalu membandingkan karah-karah baja bersegi sembilan. Keduanya sama persis, ketika ditempelkannya, tidak sedikit pun ada perbedaannya. Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lalu bertanya.
    “Apakah Kiai mempunyai pertanda lain yang dapat meyakinkan aku, bahwa Kiai saudara seperguruan dari guruku?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika lagi.
    “Apakah maksudmu?” tanyanya.
    “Ya, berupa cap atau stempel atau semacam itu,” katanya.
    “Apakah ini yang kamu maksudkan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja sambil menyodorkan pergelangan tangan kirinya.
    Ki Tumenggung Jaya Santika mengerutkan dahinya ketika melihat gambar sebuah cambuk yang tertera di pergelangan tangan Kiai Ajar Karangmaja. Ia kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lalu menyerahkan kembali cambuk berjuntai panjang berkarah-karah baja milik Kiai Ajar Karangmaja. Lalu katanya.
    “Kiai lihat batu sebesar kerbau yang berada di tepi sawah itu. Apakah yang dapat Kiai lakukan dengan cambuk Kiai dari sini,” Ki Tumenggung Jaya Santika sambil menunjuk sebuah batu kali yang berjarak sekitar dua puluh depa dari mereka.
    “Baiklah anak muda. Karena aku ingin bertemu dengan Raden Timur yang lebih kau kenal sebagai Kiai Geringsing, aku penuhi keinginanmu,” katanya.
    Kiai Ajar Karangmaja melangkah beberapa tindak dari kedua muridnya dan Ki Tumenggung Jaya Santika. Ia lalu memutar-mutar cambuk itu di atas kepalanya. Cambuk itu berdesing-desing menimbulkan suara yang gemuruh. Tiba-tiba dari sebuah sentakan yang dilakukannya, meluncur seleret sinar putih kebiruan menerjang batu kali itu. Batu kali itu nampak bergeming. Masih utuh di tempatnya.
    “Cobalah kau lihat batu kali itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada Putut Kalibata.
    Putut Kalibata melangkah mendekati batu kali itu diikuti oleh Ki Tumenggung Jaya Santika. Ketika Putut Kalibata menyentuh batukali itu dengan ujung jarinya, maka batu kali itu runtuh menjadi serpihan pasir yang halus. Kini Ki Tumenggung Jaya Santika percaya bahwa orang tua itu memang saudara seperguruan gurunya, dan hendak menemuinya.
    Ki Tumenggung Jaya Santika kemudian membungkuk hormat kepada Kiai Ajar Karangmaja.
    “Maafkan aku uwak guru. Aku telah meragukan kebenaran uwak guru sebagai saudara seperguruan guruku Kiai Geringsing,” katanya.
    “Tidak apa-apa ngger. Memang sudah sewajarnya angger berbuat demikian. Semua pertanyaan angger itu memang sudah sepatutnya kau tanyakan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam beberapa saat, lalu bertanya.
    “Dari tadi angger belum menjawab pertanyaanku. Di manakah kini gurumu itu?”
    “Guru telah tiada beberapa tahun silam, Kiai.”
    “He? Raden Timur telah tiada?”
    “Benar Kiai.”
    “Di manakah makamnya?”
    “Maaf Kiai. Kami sekeluarga harus merahasiakan makamnya. Karena sebagai seorang ahli pengobatan, banyak orang yang mendewa-dewakan kemampuannya. Sampai suatu ketika datang seorang ibu yang membawa anaknya yang sudah meninggal kepada Kiai Geringsing. Ia menganggap Kiai Geringsing sebagai seorang yang sakti dan mampu mengobati orang sakit, bahkan bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Ibu itu menggerung-gerung minta kepada guru, agar anaknya dihidupkan. Tentu saja guru tidak bisa melampaui kemampuannya yang hanya bisa menyembuhkan orang sakit.”
    “Lalu?”
    “Guru siang malam berdoa agar anak yang sudah meninggal itu dihidupkan kembali. Sejak saat itu, guru menjadi bersedih dan menurun kesehatannya.”
    “Kemudian?
    “Guru meminta agar apabila ia meninggal makamnya dirahasiakan. Ia takut apabila orang mendewa-dewakan dirinya, meskipun ia sudah tiada.”
    Kiai Ajar Karangmaja dan kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka dapat memahami apa sebab Raden Timur atau Pamungkas atau Kiai Geringsing minta agar makamnya dirahasiakan.
    “Apakah Ki Bargas, Ki Bergawa, Ki Tanda Rumpil dan Ki Gondang Legi adalah murid-murid Kiai?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Bukan. Mereka bukan muridku. Tetapi murid dari adik seperguruanku Kiai Cambuk Petir,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Apakah maksud Kiai datang kepadaku untuk menuntut balas atas kekalahan keempat murid adik seperguruanmu?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Tidak Ki Tumenggung. Aku berbeda pandangan dengan adik seperguruanku. Aku tidak ingin mengganggu Ki Tumenggung barang seujung rambut pun,” katanya.
    “Lalu maksud Kiai menemuiku atau mencari guru apa?”
    “Pertama aku ingin melepaskan rindu, setelah puluhan tahun tidak bertemu dengan gurumu.”
    Kiai Ajar Karangmaja berhenti sejenak.
    “Yang kedua, aku ingin memperingatkan kepadamu, bahwa adik seperguruanku Kiai Cambuk Petir ingin menguasai kitab pusaka peninggalan Mpu Windujati. Kalau boleh aku nasihatkan, sebaiknya tidak kau turuti permintaannya apabila ia datang kepadamu untuk meminta kitab pusaka itu.”
    “Terima kasih atas peringatan uwak guru. Tetapi bukankah Kiai Cambuk Petir juga berhak untuk mempelajarinya?”
    “Iya. Adik seperguruanku itu sebenarnya juga berhak untuk mempelajari kitab itu. Akan tetapi aku tidak setuju, apabila penguasaannya atas segala ilmu kanuragan yang ada di dalam kitab itu dipergunakannya untuk makar. Untuk menggulingkan pemerintahan yang sah di Mataram ini.”
    “He? Maksud uwak guru?”
    “Ia ingin membangkitkan kejayaan masa silam dengan menegakkan kembali kerajaan Majapahit. Bagiku itu suatu kerja ibarat menegakkan benang basah. Untuk mewujudkan gegayuhannya itu, ia bekerja dengan Pangeran Ranapati dan Kanjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga.”
    “He? Jadi uwak guru ini jauh-jauh dari Panaraga untuk memberitahukan hal itu kepadaku?”
    “Benar angger. Kalau aku tahu siapakah orang tuamu? Sepertinya aku mengenal seseorang yang mirip dengan dirimu beberapa puluh tahun yang lalu. Apakah ayahmu Ki Sadewa?”
    “He? Uwak guru mengenal ayahku?”
    “Bukan hanya mengenalnya, bahkan aku sempat bertempur seharian dengannya. Hal itu terjadi karena aku mengira Ki Sadewa yang mengenakan topeng dan menumpas perampok adalah Raden Timur yang sedang menyamar. Karena Raden Timur sempat berguru kepada beberapa orang, maka aku berusaha menaklukkannya dengan ilmu kanuragan Orang Bercambuk. Tentu saja Ki Sadewa tidak pernah keluar ilmu cambuknya. Karena aku terus mendesak untuk membuka topengnya dengan mengatakan tidak ada gunanya Raden Timur bersembunyi di balik topeng itu. Akhirnya, karena jengkel Ki Sadewa membuka topengnya. Lalu berkata.
    “Apakah aku Raden Timur, orang yang kau cari itu Soma?” kata Kiai Ajar Karangmaja menirukan ucapan Ki Sadewa beberapa puluh tahun yang lalu.
    Kiai Ajar Karangmaja menjelaskan kepada Ki Tumenggung Jaya Santika bahwa namanya sewaktu muda dulu adalah Soma, sebelum ia memimpin padepokan.
    Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya.
    “Jadi Kiai mengenal ayahku maupun guruku?”
    “Bukan hanya sekadar mengenal. Bahkan aku bersahabat dengan ayahmu. Namun sejak Mpu Windujati tiada, aku tidak pernah bertemu barang sekali pun dengan gurumu. Aku sampai sekarang tidak habis pikir, kenapa ia selalu menghindari diriku. Padahal aku hanya ingin merekatkan tali silaturahmi saja. Tidak ada niatku untuk meminta sesuatu darinya, apalagi meminta kitab pusaka. Raden Timur adalah orang yang paling berhak menguasai kitab pusaka itu, karena Raden Timur adalah murid utama sekaligus cucu dari Mpu Windujati. Aku tetap menghormatinya sampai kini sekali pun.”
    Kiai Ajar Karangmaja menahan air yang mengembun di pelupuk matanya.
    “Ternyata Raden Timur lebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Agung daripada aku,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Mereka termangu-mangu sejenak mendengar pengakuan Kiai Ajar Karangmaja. Ki Tumenggung Jaya Santika tidak mengira demikian hormat dan rindunya Kiai Ajar Karangmaja kepada gurunya.
    “Sekarang apakah rencana uwak guru selanjutnya?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Aku akan kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Di malam yang dingin begini, uwak? Tinggallah beberapa hari di rumahku. Malam ini aku akan menghadap Kepala Tanah Perdikan Menoreh, Ki Gde Menoreh. Sebaiknya Uwak guru ikut bersamaku, nanti sekalian kuperkenalkan.”
    “Baiklah. Aku ingin mengetahui serba sedikit mengenai Tanah Perdikan Menoreh ini. Siapa tahu ada hal-hal yang bisa kupelajari dari sini,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ternyata orang tua itu, meskipun dari keriput raut mukanya jauh lebih tua daripada Kiai Geringsing, namun masih mempunyai semangat hidup yang membara.
    Demikianlah mereka berempat pun segera melangkah perlahan sambil berceritera tentang berbagai hal menyangkut Mpu Windujati, perguruannya, serta kitab pusaka peninggalannya.
    Tanpa terasa, saat wayah sepi bocah mereka telah sampai di rumah paling besar yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Rumah Ki Gde Menoreh.
    Ki Gde Menoreh yang melihat kedatangan Ki Tumenggung Jaya Santika, segera tergopoh-gopoh menyambut tamunya.
    “Ki Gde Menoreh, perkenalkan ini uwak guruku Kiai Ajar Karangmaja. Sedangkan dua orang ini adalah muridnya. Ki Putut Kalibata dan Ki Putut Jimbaran.”
    “Mari Ki Tumenggung. Marilah Kisanak sekalian, naik ke pendapa.”
    Ki Gde Menoreh pun kemudian memanggil pembantunya dan minta disediakan minuman hangat dan beberapa kue basah yang masih tersedia. Dalam waktu tidak terlalu lama, hidangan ringan itu pun segera tersedia di tengah tikar yang digelar di pendapa. Mereka menikmati hidangan ringan itu. Ki Tumenggung Jaya Santika lalu meneruskan berbicara.
    “Ki Gde. Pertama, aku mengenalkan uwak guruku yang baru saja tiba di Tanah Perdikan Menoreh ini.”
    “Dari manakah Kiai Ajar Karangmaja datang?” tanya Ki Gde Menoreh.
    “Aku datang dari Panaraga, Ki Gde Menoreh,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Sedemikian jauhnya? Apakah Kiai datang dengan berkuda?”
    “Benar Ki Gde. Kami bertiga datang berkuda.”
    “Alangkah kuatnya tubuh Kiai yang sudah sesepuh ini mampu menempuh perjalanan sedemikian jauh dengan berkuda.”
    “Sedemikian rinduku kepada Raden Timur, membuatku tak mengenal lelah untuk menempuh perjalanan sedemikian jauh.”
    “Siapakah yang Kiai maksudkan dengan Raden Timur?”
    “Yang kumaksudkan dengan Raden Timur adalah Pamungkas, atau mungkin di sini dikenal dengan nama Kiai Geringsing.”
    “He? Kiai Geringsing? Apakah Kiai Geringsing guru Ki Tumenggung Jaya Santika.”
    “Benar, Ki Gde. Raden Timur yang merupakan trah Majapahit, mempunyai seribu nama untuk menyembunyikan dirinya. Ia memakai seribu topeng untuk menutup wajah aslinya. Entah apa sebabnya ia mengambil sikap demikian. Raden Timur adalah cucu dari Mpu Windujati yang merupakan keturunan langsung dari Prabu Brawijaya.”
    “He? Apakah aku tidak salah dengar Kiai?”
    “Tidak Ki Gde. Ki Gde tidak salah dengar. Raden Timur atau Kiai Geringsing memang benar keturunan langsung dari trah Majapahit. Namun ia tidak suka menonjol-nonjolkan hal itu.”
    “Benar Kiai. Bahkan Kiai Geringsing lebih suka ikut berperang di pihak Mataram,” kata Ki Gde Menoreh.” Ia sempat beberapa kali membela Mataram, bahkan sejak Alas Mentaok baru dibuka, tidak terlepas dari peran Kiai Geringsing.”
    “Kemudian yang kedua, Ki Gde. Maksud kedatanganku adalah untuk melaporkan kepada Ki Gde bahwa aku besok akan pergi ke Mataram untuk melaporkan bahwa kapal jung percontohan yang aku bangun sudah selesai sama sekali.”
    “Oya? Syukurlah bahwa tugas berat itu sudah anakmas selesaikan. Aku turut bergembira. Kalau keadaanku sesehat dahulu, tentu aku ingin melihat bagaimana bentuk kapal jung yang anakmas bangun itu.”
    “Terima kasih Ki Gde.”
    Ki Tumenggung Jaya Santika berhenti sejenak, lalu melanjutkan berkata.
    “Hari sudah larut malam, Ki Gde. Kami mohon pamit. Biarlah Kiai Ajar Karangmaja, Ki Putut Kalibata dan Ki Putut Jimbaran menginap di rumahku saja.”
    “Apakah tidak sebaiknya Kiai menginap di sini saja?”
    “Tidak Ki Gde. Biarlah kami menginap di rumah Ki Tumenggung saja.”
    Demikianlah, maka Ki Tumenggung Jaya Santika, Kiai Ajar Karangmaja, Putut Kalibata dan Putut Jimbaran berpamitan kepada Ki Gde Menoreh. Mereka pun segera berjalan mengikuti Ki Tumenggung Jaya Santika. Ketika sampai di tengah jalan yang semakin sunyi, Kiai Ajar Karangmaja menggamit Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Ki Tumenggung. Apakah ku boleh melihat sedikit kemampuan Ki Tumenggung?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.
    “Untuk apakah Kiai mengetahui kemampuanku? Apakah aku harus bertarung dengan Kiai atau kedua murid Kiai?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Tidak. Kita tidak perlu bertarung angger. Kita tidak sedang bermusuhan atau berlawanan angger. Aku hanya ingin sekadar tahu sampai di manakah kemampuan angger. Dari kemampuan angger itu, aku akan bisa mengira-ngirakan sampai di manakah kemajuan Raden Timur yang angger kenal sebagai Kiai Geringsing. Itu saja.”
    “Baik. Marilah kita berjalan ke depan, Kiai. Di depan itu ada sebuah tebing sungai yang banyak terdapat batu-batuan. Kita ke sana,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    Mereka terus berjalan lalu menuruni sebuah tebing sungai, di tepian sungai itu terdapat banyak bebatuan sebesar kerbau, bahkan ada sebesar gajah yang gemuk.
    “Kiai lihat batu itu. Batu sebesar gajah yang gemuk,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Ya angger aku melihatnya. Baiklah aku ingin menunjukkan sedikit kemampuanku yang dangkal ini. Aku mohon maaf bila kurang berkenan di hadapan Kiai,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika lagi.
    “Silakan. Silakan angger.”
    Ki Tumenggung Jaya Santika pun kemudian duduk bersila di atas sebuah batu pipih yang terdapat di tepian sungai itu. Tangannya bersedakep. Terjadi suatu perubahan. Langit yang tadinya terang disinari rembulan tujuh hari, perlahan-lahan seperti ditutupi oleh kabut putih. Semakin lama kabut putih itu semakin tebal dan kian menebal. Pada akhirnya kabut itu seperti lembaran-lembaran kapas yang menghalangi pandangan mata. Sehingga untuk melihat tangan sendiri pun tidak bisa.
    Namun Kiai Ajar Karangmaja yang juga menguasai ilmu semacam itu, segera melambari dirinya dengan aji Panggraita. Meskipun matanya tertutup kabut, namun ia bisa mengetahui secara persis di mana Ki Tumenggung Jaya Santika berada. Ki Tumenggung Jaya Santika masih tetap berada di tempatnya, tangannya masih bersedakep. Ia bergeming dari tempatnya duduk bersila tadi.
    Ketika kabut putih tadi semakin tebal, maka tidak ada lagi yang bisa dilihat. Sinar rembulan sama sekali tidak bisa menembus kabut tebal itu. Hanya Putih. Putih di mana-mana. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran sama sekali tidak bisa melihat apa yang terjadi, meskipun mereka telah melambari dirinya dengan aji Panggraita. Mereka pun kehilangan jejak, di manakah Ki Tumenggung Jaya Santika berada. Karena kemudian Ki Tumenggung Jaya Santika menyerap segala gerak tubuh, suara nafasnya dan detak nadinya. Mereka berdua benar-benar tidak tahu, apakah Ki Tumenggung Jaya Santika masih berada di tempatnya atau tidak.
    Agaknya hanya Kiai Ajar Karangmaja saja yang melalui ilmu panggraitanya yang tajam melihat betapa dengan ringan Ki Tumenggung Jaya Santika meloncat ke sebuah batu yang berada di belakang mereka.
    Tiba-tiba terdengar suara gemerasak di depan mereka dari tiga arah. Mereka bertiga menajamkan pendengarannya. Kiai Ajar Karangmaja segera menyadari bahwa Ki Tumenggung Jaya Santika tengah menerapkan aji Angin Puyuh. Ilmu jaya kawijayan yang juga sangat dikuasainya. Namun angin puyuh yang dimunculkannya hanya pusaran angin yang kecil saja. Perlahan-lahan angin puyuh kecil itu mengisap kabut yang tadi menutupi udara seperti lembaran-lembaran kapas. Perlahan-lahan kabut tipis itu mulai sirna dan sinar rembulan mulai nampak di atas cakrawala.
    Sejalan dengan semakin terangnya udara malam yang diterangi sinar rembulan, mereka pun mencari-cari Ki Tumenggung Jaya Santika yang sudah tidak berada di tempatnya semula. Mereka menoleh ke kiri kanan. Namun mereka terkejut. Pada tiga sudut yang berseberangan mereka melihat ada tiga orang wujud dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Tiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika tidak mengatakan sesuatu pun.
    “Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari,” desis Putut Kalibata.
    Tiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika itu pun segera mengurai cambuk dari pinggangnya masing-masing. Ketiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika itu pun kemudian berdiri berjajar, menghadap ke tiga buah batu kali sebesar gajah gemuk yang berjarak lima puluh depa dari mereka. Mereka bertiga memutar-mutar cambuknya di atas kepala. Suara cambuk itu menderu-deru dengan gemuruhnya. Ketika dihentakkan dengan gerakan sendal pancing, suara cambuk itu tidak meledak dengan suara yang keras. Suaranya pelan, tapi mampu menggetarkan jantung. Meremasnya seakan-akan hendak melepas dari tangkainya.
    Bersamaan dengan hentakan sendal pancing itu, dari cambuk yang berada di tangan ketiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika itu meluncur cahaya putih kebiru-biruan menerpa ketiga batu kali itu dari tiga arah. Namun batu itu bergeming.
    Ketiga wujud Ki Tumenggung itu meloncat bersilangan, kemudian bergabung menjadi satu.
    “Silakan Kiai melihat ketiga batu itu.”
    Kiai Ajar Karangmaja pun segera mendekati batu kali sebesar gajah gemuk itu, diikuti oleh kedua muridnya. Ia pun menyentuh batu itu. Seketika itu pula batu itu runtuh menjadi debu, yang lebih halus daripada pasir.
    “Luar biasa. Luar biasa sekali angger,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    Kedua muridnya pun mengucapkan kata yang sama.
    “Penguasaan ilmu perguruan Windujati Ki Tumenggung Jaya Santika nyaris sempurna,” katanya.
    “Ah tidak Kiai. Kita sebagai manusia hanya mencoba untuk menjadi sempurna. Namun yang paling sempurna adalah Yang Maha Sempurna. Yang Maha Agung. Kita ini tidak lebih dari setitik debu dibelah selaksa, di hadapan-Nya.”
    “Pernyataan angger itu, semakin membuat aku semakin kagum. Ternyata Raden Timur tidak salah memilih angger menjadi muridnya. Aku mengucapkan selamat dan hormat setinggi langit kepada Raden Timur yang angger kenal sebagai Kiai Geringsing. Juga kepada angger yang dengan rendah hati telah menunjuki kami dengan kemampuanmu yang luar biasa,” kata Kiai Ajar Karangmaja.
    “Maaf Kiai, bukan maksudku untuk pamer kepada Kiai dan kedua murid Kiai. Namun aku rasa cara ini adalah cara paling baik yang bisa kita tempuh. Sebab kalau kita bertarung, mungkin sampai besok pagi, kita belum selesai. Dan kalau kita bertarung, tentu akan menimbulkan geseran-geseran yang tidak perlu.”
    “Angger benar. Dengan cara ini kita sudah bisa menjajaki tingkat ilmu kita masing-masing, meskipun tidak secara persis.”
    “Baiklah Kiai. Aku rasa pameran kita ini sudah cukup. Aku mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan di hati Kiai dan kedua murid Kiai.”
    “Tidak apa-apa angger. Aku rasa aku sekarang harus minta diri untuk kembali ke Panaraga. Aku kini puas sudah mengetahui berita bahwa Raden Timur telah tiada, meskipun tidak mengetahui di mana makamnya. Sungguh sayang aku tidak dapat menjumpai semasa hidupnya, karena sifatnya yang tertutup.”
    “Kiai jangan pulang dulu. Sebaiknya Kiai Ajar Karangmaja dan kedua murid Kiai, Ki Putut Kalibata dan Ki Putut Jimbaran singgah di gubukku, yang tentunya kalian sudah mengetahui tempatnya,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “Baiklah apabila demikian, dengan senang hati aku mampir ke rumah Ki Tumenggung. Udara di musim bediding ini terasa sangat dingin, yang merasuk sampai ke tulang-tulangku kalau harus berjalan di malam hari. Akan tetapi aku mohon maaf jikalau membuat repot Ki Tumenggung dan keluarga.”
    “Tidak Kiai. Kehadiran Kiai dan kedua murid Kiai, tidak akan merepotkan keluarga kami,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.
    Demikianlah mereka menyusur jalanan yang menuju ke rumah Ki Tumenggung Jaya Santika. Ketika sampai di depan regol, Ki Tumenggung Jaya Santika segera membuka pintu regol itu, yang agaknya ditutup oleh Sukra sepeninggalnya ke rumah Ki Gde Menoreh.
    Ki Tumenggung Jaya Santika pun kemudian mempersilakan mereka bertiga duduk di atas tikar yang ada di pendapa, lalu mengetuk pintu, yang dibukakan oleh Ki Jayaraga yang agaknya belum tidur.
    “Ki Jayaraga kita kedatangan tamu,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika kepada Ki Jayaraga.
    “Siapakah tamu itu angger.”
    “Mereka kakak seperguruan Kiai Geringsing.”
    “He? Siapakah mereka?,” desis Ki Jayaraga.
    “Mereka Ki Ajar Karangmaja dan kedua muridnya,” bisik Ki Tumenggung Jaya Santika.
    “He? Apakah mereka berasal dari Panaraga?”
    “Benar Ki. Apakah Ki Jayaraga mengenalnya?”
    “Kenal. Aku kenal Kiai Ajar Karangmaja. Aku baru ingat sekarang ada perguruan Windujati di Panaraga.”
    Ki Jayaraga segera menemui Kiai Ajar Karangmaja yang sudah duduk di atas sehelai tikar yang lebar di pendapa.
    “Angin apakah yang membawa Kiai Ajar Karangmaja sampai ke Tanah Perdikan Menoreh?” tanya Ki Jayaraga.
    “He? Siapakah Kisanak? Kisanak mengenalku?”
    “Apakah Kiai lupa kepadaku?”
    “Siapa ya? Maaf Kisanak, aku sudah semakin tua dan tidak lagi dapat mengenali setiap orang yang dulu pernah kukenal. Siapakah Kisanak?”
    “Aku Jayaraga, Kiai. Belasan tahun yang lalu aku pernah mampir ke padepokan Kiai Ajar Karangmaja, ketika aku mencari keempat muridku yang berkhianat dan menjadi perampok. Apakah Kiai masih ingat aku?”
    “Ya. Ya. Aku ingat sekarang. Ki Jayaraga.”

    • Bersambung ke jilid 403

    • matur nuwun ki

  196. Luar biasa, Mas….
    Satu saran dalam melanjutkan ceritera ini ialah : agar sering kembali menengok ABDM yang ditulis oleh Ki SHM. Dengan dengan demikian, pola pikir, pola budaya, terminologi, cara menceriterakan praktek ‘sungkem kepada Yang Maha Agung’ tidak menjauhi apa yang telah dituliskan oleh Ki SHM. Hal ini saya sampaikan kepada mas Agus Surono, mengingat mas Agus tetap menngunakan ‘Term ADBM’ dan pada dasarnya meneruskan kisah ADBM. Dengan model penulisan seperti yang dilakukan oleh Ki SHM, mempersatukan kita yang berbeda – beda ini.Satu hal lagi saran saya, perlu mas Agus… juga minta ijin kepada keluarga Ki SHM.
    Matur nuwun

  197. Setelah ditunggu sekian lama, alhamdulillah masih ada kelanjutannya…

  198. horeeeeeeeeeeeeeeee…. nomor 2…..

    trims ki agus…

  199. Terimakasih Ki Agus, ceritanya makin ngedap-edapi saja

  200. horeee
    tambah rame
    ada yang bisa di harapkan kemunculannya

  201. Alhamdulillah, sembah nuwun Ki Agus, prasasat menangi jawah ing wanci ketigo sak sampunipun kitab kawedar, plong raosing manah.

  202. Matur nuwun Ki Agus,
    benar-benar huebat….idenya gak pernah habis…

  203. lanjut teruus!!!!

  204. Akhirnya datang juga, matur nuwun Ki Agus …

  205. Huueebbaaattttt matur nuwun sanget ki Agus adbm candhakipun …………………

  206. Hebat …

  207. Matur nuwun kitabe jilid 402 ditenggo jilid 403 ki Agus

  208. martun nuwun ki, mugi2 carios candakipun

  209. Makin Menarik, monggo Ki Agus dipun lajengaken

  210. sugeng dalu poro kadang, pripun sampun plong manahipun? Sugeng dalu Ki Agus, mugi kaparingan kasarasan, amin.

  211. PUASSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS
    dan terima kasih Ki Agus

  212. selamat MALAM ki Agus Sedayu,

    matur nuwun,….MOCO rontal-402
    karo ngRONDA padepokan ADBM,

    PAS…..pas-ti mantep !!!
    salam Adbmers

    • ki Cantrik wes di-ijinken mlebu
      pendopo….(hehehe3x)

      ki SENO mesak-ke dhelok ki Cantrik
      terus2an lungguh ning ngarep….!!

      selamat ki,

      • ..O..nderek Ki…mboten ndomblong tho ?….

  213. ki agus, dipun tenggo kelanjutanipun loh…?

  214. kemudian daripada itu

    • Bukan….Bukan itu

      • Bukaaannnn….!

        • ternyata jik dho bukan to

          • buukaaaannn..!

  215. Koyo…ngene rasane…sue..ora ketemu serine…
    ngalor-ngidul tak.tamatke…
    jebule durung ana teruse…

    sabar…

  216. Mana Ki…lanjutannya…..mbok biar gak terlalu penasaran dikasih ancer2 gitu lho…dua mingu sekali atau sebulan sekali…biar gak terlalu gimana gitu..tks

    • ndherek ANCER2 wedaran BUKAN Adbm-nya
      ki Agus Sedayu,

      • hikss, :D

        tiba’e cantrik belom sepenuh-nya di-LOLOS-kan,
        isih perlu melengkapi SURAT2 bebas CeGATan…!!

        sugeng dalu ki GEDE, ki SENO
        sugeng dalu ki AGUS Sedayu

  217. test….test….test !!

    cantrik nyoba masuk LAGI, dicekal
    po ra yo….??
    1,2,3 kirim komentar klik —–>>

    • hore….hore….horeeeee !!

      ID card cantrik LULUS seleksi AWAL
      tidak meRAGUkan,

      • sugeng dalu ki GEDE
        sugeng dalu ki SENO, nyi SENO

        sugeng dalu ki AGUS Sedayu, cantrik tetep
        menantikan kelanjutan “bukan Adbm” karya
        Njenengan….!!

        tetap semangaaat…. :D

      • HADIR dikomen ke-300….!!!

  218. Selamat pagi dulur-dulur….
    Saya dah berhasil baca DJVU dengan WinDjView dan IrfanView. Pengen coba bantu retype ADBM, tapi tidak dengan mengetik manual.
    Dah punya ABBY finereader 8.0 profesional, tapi file DJVU yg dah saya download nggak bisa ter-scan oleh ABBYY. Muncul komentar “Bad image file format…”.

    Mohon Ki Gedhe & bebahu padepokan berkenan memberikan petunjuk.

    Maturnuwun :))

  219. Ke kota Jakarta hari Selasa,
    pulang pergi naik kereta,
    sebentar lagi kita puasa,
    mohon maaf kalo ada salah-salah kata…
    (made in jiplakan mboh dari sapa..)

    sugeng sonten ki gd, nyi seno,kadang cantrik, kadang mentrik smua…

    Marhaban yaa Ramadhan…
    semoga dibulan suci kita bersih diri.. amin..

  220. Sugeng hamesu diri ing wulan ingkang satuhu barokah,
    mugi-mugi kito sami lulus ing pendadaran wulan suci sahinggo kito dados titah ing utami.

    Sugeng nindakaken siam romadhon
    Nyuwun gunging samudro pangaksami

  221. Kanjeng Prabu JOYOBOYO Sampun Nate Ngendiko :- Yen NDUNYO iki umure wis TUO,- Akeh Priyo Podo Dadi Wanito,- Akeh RONDO Podo Nglahirne PUTRO,- AKEH PUTRO Sing Wani Karo WONG TUWO,- AKEH MASJID Ora Tau DISOBO,- Yen Dijak NDEDONGO Malah SEMOYO,- Sing Meneng Tondo RUMONGSO..,- Sing Ngguyu Tondo KULINO,- Podo ELINGO Sak Wayah2 Dipundut Sing KUWOSO.,- Ora Pilih Enom Opo Tuwo,- Mulo Ojo Lali SHOLAT Sedino Kaping LIMO,- Ben Biso Munggah SWARGO,- Yen Munggah SWARGO Ojo Lali HPne Digowo, Ben Biso SMSan Karo KONCO-KONCO, – Lak iyo to,CO..i- Sak niki podho TOBAT’O…! Mumpung arep wulan POSO..- KULO nyuwun PANGAPURO O:)

    • ki Sentot nembang….cantrik manthuk2
      tondo-ne OPO.
      arep nguyu nanti diSANGKA kulino…he3

      sugeng dalu ki AGUS Sedayu
      sugeng dalu kadang Adbmers

      “Marhaban Ya Ramadhan”
      Selamat menjalankan Ibadah Puasa 1431-H

      • dari tadi cantrik arep mlebu gandok
        bukan Adbm-nya ki Agus…

        hikss,
        ning ngarep ke-cegat sama ki Karto-
        ni Nunik sing lagi uber-uberan ning
        gandok “Adbm IV-34″

        • Sugeng dalu,

          Ni Nunik,
          Ki Kartojudho,
          Ki Tumenggung,
          Ki Cantrik yudha,

          melok ndlosor…..sambang padhepokan.

          • monggo…monggo ki is…
            ndlosor is de bes-lah pokoknya… :D

            derek uber2-an mawon ki menggung.. olahraga…
            wkwkwkwk

            • Hikss…konangan Ki Is….ayo Jeng ngumpet…dilap-i ndisit kringet-e !

              Wis !..Sugeng enjing Ki Is, Kisanak sedoyo…

  222. ngintip sebentar, kira’in sebelum 17-an sudah wedar :D

    sing kethok mung ni nunik karo ki menggung kartojudo lagek mojok, bakno… (ngelapi keringet wae koq mojok, lho…)

    • Weh Ki Banu sambang ….sugeng Ki ?

      penak dolan neng pojok..eh..mburi…nganti kemringet..xixixi

      • dolanan opo to ki Menggung kok
        sampe kemringet….??

        mbok yo mandeg sek uber2e ki,
        mesak-ke ni Nunik gembrojos
        keringete…!! :D

        • Hikss.. Ki Menggung YP nyusul….monggo Ki napak tilas..dolanan dakon teng wingking…

          • bar dolanan dakon, ngombe wedang jahe, disambi ngemil tempe bacem karo lombok ijo…

            piye ora gemrobyos, jal…

            • hikss..enak banget

  223. Sugeng enjing Ki Agus sedayu…sugeng siam kadhos pundi Ki kabar-ipun…perjalanan masih panjang..

    • tampaknya ki agus sedang mempersiapkan bonus tujuhbelasan, ki tumenggung…

      • ..O..mugi2 mboten bonusan panjat pinang !

        • ato..mungkin malah balap sarung..eh..karung !

  224. nulis UNEG-UNEG neng kene, disimpen ae ndak dadi
    u-dun semat….hiks-hiks.

    isi Uneg-Uneg :
    1. ki GEDE, ki SENOpati Pdls yang terHORMAT
    dalam beberapa minggu ini cantrik pribadi ataoe
    sebagian kadang Adbmers ada yang merasakan…!!!
    mau masuk ke gandok “Bukan-Adbm” terasa lelet, klemut2….suwe banget, kenapa ki ??

    Mungkin jaringan internet cantrik memang PAYAH,
    atau mungkin terlalu numpuk-berjubel2-nya komen kadang abmers ki GEDE ki SENO…!!

    2. Jika memungkinkan,…kenapa tidak dibuatkan
    gandok perluasan-gandok pelebaran “bukan Adbm”
    dari lahan yang tersedia dan ada ya ki,…??

    Maksud cantrik begini, dibuat terpisah :
    -gandok “Bukan-Adbm jilid-397″
    -gandok “Bukan-Adbm jilid-398″
    -gandok “Bukan-Adbm jilid-399″
    -gandok “Bukan-Adbm jilid-400″
    -gandok “Bukan-Adbm jilid-401″
    -gandok “Bukan-Adbm jilid-402″
    -gandok “Bukan-Adbm jilid-403″

    dan seterusnya, dan selanjutnya….!!!

    sekian,
    senin, 16 agustus 2010

    • baiklah, akan kami tampung (thok)

      mblayuuuuuuuuuuuuuuu…………..

      • ikut nampung thok…

        hehehhe…nderek mblayu ki banu… :D

        • tiwas sueneng ATIku, tibae ki BANUaji kaliyan ni NuNik thok

        • lha liyane do neng endi yo…??

          sugeng shaum kadang Adbmers,

          • saiki wis wong telu, sedhelok maneh dadi papat…

            • papat !….

              • papat punjul seprapat :D

                • Nomer Limo MERDEKA
                  MERDEKA
                  MERDEKA

  225. Ini sekedar usul saja, saya pernah melihat karya Kho Ping Hoo dijual di Applikasi untuk iphone/ipad dari apple, apa ada yg berminat menjual karangan SH Mintarja di iphone/ipad? saya kira peminatnya akan bayak juga.

    salam

  226. di tunggu ora metu-metu………..he..he….

    mizi ah…….

  227. kapan mau dilanjutkan nich…

    • kelihatannya sedang manekung ing ngusti. jadi kita sabar rinenggo ngabuburit

  228. duh gusti..ternyata ada lanjutan adbm..meskin bernama bukan adbm.
    saking kangenya saya pada cerita agung sedayu, berkali2 adbm jilid2 terdahulu saya baca berulang2..
    sedangkan lanjutannya mencoba mereka2 sendiri..
    matur nuwun sanget Kisanak (Ki Agus)…
    Saya dukung 1000 % niat kisanak untuk melanjutkan karya SHM yg adiluhung…
    Semoga dalam lanjutan bukan adbm nanti…Ki Rangga Agung Sedayu masih sempat punya keturunan dengan Sekar Mirah, sesuai dengan angan2 saya…
    Tapi semua terserah Ki Agus sebagai penerus Ki SHM

    • Insya Allah kisanak, Nyi Ronggo sudah mengandung 7 bulan

      • Sekarang sudah Nyi Tumenggung yah.

  229. Tepatnya Nyi Tumenggung……

  230. Selamat siang, selamat menjalankan Ibadah Romadhon, semoga Barokah menyertai kita semuanya. Salaam

  231. tampaknya, ki agus sedang sibuk berkunjung ke menoreh, ponorogo, mataram, sangkal putung, jati anom…

    semoga tetap sehat dan semangat untuk berkarya, ki agus…

  232. Ki Agus,
    Meski namanya “bukan ADBM”, saya usul agar suasana ceritanya dibuat semirip mungkin dengan gaya ceritanya Ki SHM.
    KI SHM dalam gaya berceritanya sering memakai:
    -Dalam pada itu
    -Sebenarnyalah
    -Demikianlah, pertarungan….. menjadi semakin sengit

    Dalam percakapan, kadang pihak lawan sering mengumpat dengan ucapan: persetan, anak iblis, setan alas dll

    ada beberapa ciri khas dalam gaya cerita adbm, tentu banyak kawan yg mengetahui.
    salam

    • - selalu ada kata bukan atau bukan

      • Bukaannn…..!

        • bukaaaaaaaaaaaaaaaaan…

          apa beeeeee…

          gak mudeng aku rek…

          wkwkwkwk

    • Contoh yg lain:
      -….menarik napas dalam-dalam.
      -….mengangguk-angguk

      • adalagi..
        - termangu-mangu
        - trus biasanya Agung Sedayu ga cukup gampang nunjukin ilmunya lho ki, pasti kalo ada yang nantang ga jelas, Agung Sedayu pasti ga mau..

        hehehehe.. tapi terimakasih dech sudah diteruskan ADBM-nya..

        • nah betul sekali itu ni nunik..
          AS biasanya penuh pertimbangan untuk menunjukkan ilmunya yg ngedap-edapi.

    • saran juga ya Ki..
      setiap ada percakapan, biasanya diselingi dengan menggambarkab keadaan ekspresi yang berbicara. Biar suasana lebih hidup seperti adbm aslinya.
      Disamping itu, jika mereka berbicara kemudian tertawa, kalimat “hahaha…” tidak terucapkan. Tetapi cukup diceritakan dengan, misalnya:
      Ki ….tertawa. Gitu aja cukup untuk kita bayangkan gimana seseorang tertawa.
      Walau bagaimanapun, saya masih dapat menikmati cerita Bukan ADBM ini, sangat menarik.
      Mohon dilanjut Ki. Semoga makin sempurna.

  233. Nampaknya sebentar lagi akan keluar lanjutannya…

  234. Waduh kok belum ada yang nongol ya lanjutan bukan-adbmnya ki Agus…..Ki Agus kapan nih uploadnya ???

    • Mungkin habis hari raya…..

      • jangan-jangan ki AS sedang ke bandung, bikin ontran2 dua angin puyuh, wektu manembah ing ngusti dipun wadaraken. he he he

  235. ngapunten nggih………..
    kulo diwelingi kaliyan mas charles maryanto.
    kinten2 kapan kelanjutanipun bade wedar.
    mas charles maryanto puniko ngaku-ngaku taksih keturunan swandaru geni.
    suwun.

    • ..O..mungkin nenggo mas Pangeran Charles absent rumiyin Ki….Sugeng tepank..

      • kikikikikik..
        Pangeran Charles lagi nungguin Sang Ratu turun tahta je ki.. piye no..
        suwi lak-an..

        • Lho…bukannya nunggu rontal ?

          • ikut nunggu pangeran charles nungguin ratu menunggu rontal…

          • nunggu RONTAL sekalian nyambi ngeMCe ning TV sebelah ki..!!

            hiks, iki mbahas Charles sopo
            toh….??

          • ikutan nunggu pangeran charles nungguin sang ratu menunggu rontal…

            • wis, pokoke sing penting NUNGGU…

              ki Agus Sedayu.. kemana yach????

  236. Sugeng tepang para sederek kadang sedanten…..
    nuwun sewu…niki mas sentot11 cantrik perguruan tambak wedi nggih…
    lan mas charles maryanto….cantrik perguruan ~~~*njuirink*~~~~nggih….

    suwun

  237. sugeng tepank….niki Charles Maryanto cantrik padepokan njuirink yah…..!!!!
    lan mas sentot cantrik perguruan tambak wedi…??

    suwun

  238. pripun mas agus sedayu..kapan dilanjut…ditenggo ggih..sampun kedangon..

    • mas Charles wes absen HADIR,….he3

      tinggal nunggu ki Agus Sedayu wedar
      rontal “bukan-Adbm”

      • mas Menggung yo wis hadir..he..he..he

        tumben…….

        • sapa yang lagi mecah duren mas
          Menggung KJ….hiks2

          we-lah nulis tumben, kok malah
          kleru DUREN….!! :D

  239. sugeng dalu ki Agus Sedayu,
    tetap semangaaat….!!

    sugeng dalu kadang cantrik
    mentrik, salam Adbmers…!!

    • sugeng sonten ki gede, nyi seno..
      sugeng sonten kadang cantrik mentrik ADBM..

      lebaran tinggal menghitung hari..

      • arep mudik ni Nunik nunggu BUNTELAN
        rontal ki Agus Sedayu….he3

        sugeng dalu ni Nunik, kok yo tumben
        hadir sendirian….ki Menggung KJudo
        lagi keMANA,

  240. Hadir……………………

  241. poso2 meniko saenipun nyerat ADBM, sinambi nenggo wayah buka puasa.
    ki agus, sampun kathah sing nenggo loh…….
    wonten pangeran, tumenggung, demang, emban biyung sami nenggo kelajenganipun ADBM.

    suwun.

  242. Meh telung sasi……

  243. Ki Agus kemana ya………

  244. selamat berbuka…

    lebaran sebentar lagi..
    cari armada mudik gratis dah dapet..
    nah sekarang cari armada balik gratis…

    ada yang mau nawari..xixixixixi…

  245. sewengi tan bisa nendra, mung wewayang bukan adbm, manggan ra doyan, ra enak ngombe neng ati lorooooo……….., kaya ngenteni tukule jamur ing mongso ketigo, lan kumambange watu item.
    he he he ……

  246. hadiiiiiiiiiiiiirrrrrrr………..

    • Hadir dibelakang Ki Banuaji aja deh..!

      • nderek hadiiiiiiiiiiiiiiiiiirrrrrrrr….

        • NUNUT hadiiiiiiir…….!!

          • ndereg hadir kembali..

            SUGENG WILUJENG IDUL FITRI 1431 H nggih…
            MOHON MAAF LAHIR BATIN..

  247. Mbah marijan pancen roso
    Jare wingi mari ketiban klopo tapi kok yo ra popo
    Sanadyan riyoyo isih kurang rong dino
    Sedoyo lepat nyuwun pangapuro

    Hore mudiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkk

    • Sebuah pohon bisa tumbuh dari benih yang kecil,
      Begitu juga benci bisa tumbuh dari kesalahan kecil.
      Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin.

      ,;*”*;,
      *;,Y,;*
      __)(__

      ,;*”*;,
      *;,Y,;*
      __)(__

  248. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H.
    Mohon maaf lahir dan batin untuk semuanya.
    Semoga ADBM tetap jayaaaaaaaaaa.
    Salam hormat untuk para bebahu ADBM.

  249. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Kapan Ceritanya dilanjutkan, kok rasanya sudah lama sekali ya ?

  250. nuwun sewu kula lare anyaran……
    namung badhe nyuwun pirsa menapa mangkenipun ki agung sedayu menika kaparingan nugraha tanah perdikan saengga namanipun ki gede sedayu? Ing peta, sapinggiring lepen Praga wewatesan kaliyan tanah perdikan menoreh wonten wewengkon ingkang nami sedayu, mbokbilih kapendhet saking namamipun ki agung sedayu. Langkung malih ki agung sedayu rak kirang cocok dados prajurit, ananging yen bab paprentahan tanah perdikan ki agung sedayu sampun nglothok magang dhumateng ki argapati inggih ki gede menoreh…….

  251. Poro Sahabat, Sanak Kadhang semua
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H.
    Mohon maaf lahir dan bathin

    Semoga ADBM dan Bukan ADBM beserta segenap fungsionarisnya/membersnya tetap eksis dan terus melestarikan budaya kita sendiri dan warisan leluhur

    Salam Budaya
    h3rm4n

  252. MOHON MAAF LAHIR BATHIN

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H.

  253. Meskipun agak terlambat saya mengucapkan :
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H.
    Mohon maaf lahir dan batin

  254. Bolak balik ke TKP, kok belum juga muncul ya…..
    Ki…jadi di wedar kapan ??
    Wis sing penting Mohon Maaf Lahir dan Bathin, semoga segala amal perbuatan baik kita selama ini, dapat diterima Allah SWT dan Allah me-Ridhoinya. Amin

  255. kok durung nongol2 terusane.

    mizi ah……..

  256. Mas Agus Sedayu, ngaturaken sugeng dinten Riyadi, nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan lahir soho batin, dipun tenggo kiprahipun Angkatan Laut Mataram, segoro kidul kathah bajak laut lho …

  257. nungguin lanjutannya sambil ngelamun ah…….

  258. jaman Sultan agung, membayangkan agung sedayu sudah jadi laksamana…glagah putih jadi rangga-nya…
    nyerang batavia,gubernur jendralnya tewas kena sigar buminya Glagah putih…

  259. Kadang sutresna ADBM kabeh,
    Umpama nunggu ADBM 403 kudu sing sabar, Ki Agus lak ya ngutamak-ake sawah sing dadi pangupa-jiwane.
    Mengko yen kesusu malah dadine ora ngrenani penggalihe para kadang kabeh.

    Sabar kuwi subur,
    Subur kuwi okeh anak-e.
    Dadine, Yen para kadang sabar nunggu, mestine momongane dadi ukih buangets

    Monggo disekecak-aken Ki Agus, dangu sekedik (kemawon lho…) mboten punopo waton ajib kados ingkang sampun-sampun.

    Nyuwung gunging samudra pangaksami dumateng sedayanipun, kulo nembe ngertos tlatah bukan-adbm niki, simpen format txt, pindah ning hape cina, ngebut moco, tanpa kulonuwun trus langsung komentar. Alok ning ora tombok, kurang subasita lan tatakrama. Sedoyo menika amargi saking kuwatos kawulo saumpami Ki Agus ngge-ge penulisanipun kanti asil sak murwatipun.

    Nuwun.

  260. Tilik padepokan…

  261. hadir di hari radite…

    bagaimana kabarnya, ki sukra, ki gedhe, nyi sena, ki tumenggung sepuh, dan para bebahu padepokan?

    apa juga kabarnya, ki agus sedayu, ki tumenggung anatram, ki tumenggung goenas, ki ajar pandan alas, ki tumenggung kartojudo, ki tumenggung yudha pramana, ki truno prenjak, ki truno podang, ki zacky_74, ki lazuardi, ki bona, ki sas, ki sutajia, ni nunik, ni ken padmi, ni lala, ki rangga widura, ki djojosm, ki panembahan donoloyo, ki heri, dan sanak kadang cantrik serta mentrik semuanya?

    semoga baik-baik saja di dalam lindungan Yang Maha Kasih…

    salam…
    tertanda
    urek-urek-urek-urek
    (cantrik baru)

    • sae kemawon, niki nembe nyepi kagem memperdalam ilmu, kalian nengo wedaranipun rontal.

      • Sae kemawon ki, kangen urek-urek-urek-ure-ipun ki Agus…

        • Alhamdulillah sehat2 ki, semoga
          ki Banuaji sklrga demikian jua.

          ki Banuaji, apa ADA pendaftaran Cantrik BARU njih…??
          we-lah ke-tinggal-an, yo wes tak
          urek-urek doeloe, sret2-sreeeeet

          • Weh..Ki Banu dan lain2 podo ndaftar ulang….nderek ahh…!

            • Kulo nderek ANTRI Ki Banu …. monggo WEDANGE diwedalake malih …

              • Weh..Ki Wid koq kadingaren..mulane koq mendung2..anu sampun kulo wedalake lho Ki Wid..hikss

                • he…he…he… ki widura sampun kangen dolanan macanan ambi ki kimin sakbare wedhangan tengah wengi, ki…

  262. Kadosipun Ki Agus tasih nenggo palilah saking kaluargo KI HM Mintarjo, pramila poro kisanak sadoyo kedah sami sabar amargi palilah meniko kedah wonten, menawi mboten wonten Ki Agus waget dipun perkara-aken.
    Ki Agus tetap semangat

  263. @ki Agus Sedayu,

    salam dari cantrik Adbmers…. tetap semangaaat ki,

    • Salaman pagi…..

      • semoga ijin nipun saged mekdal….

        • ijin dan RESTU, buat karya-karya
          ki Agus Sedayu.

          basa LONDOne ki Agus, “kulo nuwun”
          keluarga ki SHM “mempersilahken”

          • Silahkan manuk..eh masuk !

          • Terima kasih Ki Cantrik Yudha.
            sebenarnya saya ingin kulo nuwun ke keluarga Ki SHM, apakah Ki Cantrik Yudha bisa memberi alamat dan telepon/hp keluarga Ki SHM?
            dan siapakah ahli waris Ki SHM yang bisa mewakili keluarganya?
            Sekali lagi terima kasih.
            Salam AdBMers.
            Agus S. Soerono

            • coba ke grup adbm yang di fb, ki. di sana ada salah satu anak ki shm yang gabung, klo gak salah, magda mintardja, deh. atao klu jadi mau di publish ke media cetak, bisa di kontek ki tru pod, kita2 siap mendukung, koq… salam, dan semoga kita semua selalu dalam lindungan Yang Maha Kasih…

  264. Assalamu alaikum Ki Agus. Saluuut… atas kreasi Anda yg nyaris sempurna. Ki Kartojudo sudah ada pula di padepokan bukan adbm? Lanjut Ki…

  265. Salam… sabar menunggu, setiap saat selalu “mengintip’ kalau2 Ki Agung Sedayu ‘lewat’…

  266. ki Agus mbok adbm lanjutannya dipublikasikan aja,diterbitkan secara resmi jadi ki Agus tidak kerja sukarela, saya yakin kadang sentono akan langsung mborong bukunya ki Agus, jangan lupa dicetak yg bagus ki…bravo ki Agus..

    • Setuju

  267. Lha wong namanya saja “bukan adbm” kalau ada perbedaan sedikit ya wajar toh? Maju terus Ki Agus!

  268. Mudah-mudahan Jilid 403 cepat di wedar. Ayo Ki Agus jangan bikin kita-kita ini sakaw.

    Bravo buat ki Agus…..

  269. terimakasih ki Agus…
    sebenarnya sudah saya ampet-ampet tidak membaca.., ternyata ndak kuat. hasilnya penyakit lama jaman ADBM kambuh lagi… Sakauuuuu.
    please ki agus.. mana lanjutannya..

  270. selamat malam ki Agus Sedayu
    selamat malam kadang Adbmers

    saya pribadi KAGUM akan niat baik dan keINGINan
    ki Agus S, mudah2an ada kadang Adbmers yang ada
    di Bang TENGAH bisa menyampaikan pada salah satu
    Putra ataupun Putri Alm. ki SHM,…saya sendiri
    saat masih CanGkuLAn di wilayah Bang WETAN ki.
    Semoga jua ki Gede, Nyi Seno, ki SENO dan Bebahu
    padepokan Adbm…berkenan memberikan SOLUSI akan
    akan HAL ini.

    Selama masih ada hal yang mengganjal hati ataupun
    perasaan kurang TENANG pada ki Agus S….sedikit banyak akan mengganggu karya2 ki Agus berikutnya.
    he3,…mungkin lho ki, saya sekedar nebak-nebak
    (lha, elmu saya sendiri BELOM nyampe situ ki….)

    brenti doeloe ya ki,

    • diLanJuT lagi,

      Cersil yang kemudian lebih dikenal “Bukan Adbm”
      ada dan berLANJUT pada dasarnya karena keINGINan
      serta dorongan kadang Adbmers….akan keLANJUTan
      kisah para TOKOH Adbm karya besar Alm ki SHM.

      Rasa penasaran, angan2 kadang Adbmers kemudian
      ki Agus Sedayu…untuk mencoba melanjutkan Cersil
      tersebut dengan gaya & ciri KHAS ki Agus sendiri.
      itu tertulis jelas di-gandok “Bukan ADBM” yang
      isinya kurang lebih seperti ini :

      “Karya ini untuk kalangan sendiri (para sanak-
      kadang Adbm yang keHAUSan kelanjutan Adbm)”

      he3,..ki SENO bila kurang lengkap MOHON ditambahi
      njih ki…!!!
      Tetap Semangaaat ki,….semoga Putra-Putri ki SHM
      memahami dan tidak ber-keberatan akan Karya-Karya
      ki Agus Sedayu.

      sabtu, 09 oktober 2010,….salam Adbmers :D

  271. amin

  272. Rontal-403 belum diWEDAR-kah….he3

    tetep semangaaat,

    • malem MinGGU nunGGu WEDARan rontal Ki AGUS S,

      tetep semangaaat ki,

  273. tetep semangat….hik..hik..hik

  274. Wah Ki Agus kayaknya sudah lupa nih…….
    ya udah baca lagi dari jilid 1 (mutung nih…)

  275. Ki Agus Sedayu, sudah kumpul semua nih! Monggo Ki… Dilanjutken..

  276. Ki Agus setelah menjalani tiga laku sekaligus hasilnya gimana?jangan membuat kita termangu-mangu….lho

  277. Ki Agus, kitab dereng dipun wedar nggih

  278. RUMONGSO KANGE KLAWAN KANG AGUS,
    kolo semono ing parahargyan ADBM sumringah murcayane…
    kapan biso kekempalan maneh
    Monggo kangmas, sampun sakwentawis geguritanipun asto dhereng dhipun kawedar…
    pun antu kanthi gumbironing ati…
    idep2 kangge tombo kapang

  279. Walah durung ono….opo wis lali……iki marakke sakaw..sakaw..ayo Ki…ndang di wedar ceritone. wis kangen buanget. meh telung sasi kok sepiiiiiiiiii….opo iki tandane critone wis rampung ????

    nuwun.

  280. Lama tidak nengok gandok ini.
    Alhamdulillah tetap rame.
    Assalamualaikum Saudaraku semua.

    • Waalaikumsalam Ki Honggopati …..
      (balik maneh neng ngisor wit gayam)

  281. Kulånuwun, sugêng dalu pårå kadang, memperkenalkan diri dari gandhok sebelah yang masih satu trah

  282. Wah rupanye di sini kena cekal, nggak ulih melebu, padahal ideh pake kulonuwun, permios, punten segala.

    Tapi yah udeh, kagak ape-ape

  283. Wah2… Ki Agus,.. Alhamdulillah saya bisa ikuti lanjutan “bukan ADBM”, tamba kangen dengan ki lurah Agung Sedayu yang dah lama baru (langsung) naik pangkat Tumenggung. Ki Untara juga promosi loncat jadi Panglima Wiratamtama!

    Tapi rasanya kok Glagah Putih masih terasa muda sekali ya. Padahal GP kan lebih tua dari Raden Rangga, dus berarti lebih senior ketimbang “Pangeran Senapati” yang notabene “adik” Raden Rangga ya?

    Tapi, apapun juga SALUT atas karya Ki Agus berbasis pada karakter semua tokoh ADBM!

    Monggo dilanjut, saya sangat menunggu kisah bukan ADBM…..

    • Ki Hillal,
      Memang sejak tulisan Maestro Mintardja sudah demikian. Kalau Keluarga Keraton naik umurnya 3:1 dengan umurnya orang biasa.
      Seperti Raden Rangga, yang hidup dalam dua dunia, kalau sedang tidur kelihatan tua sekali, sementara kalau ada dalam dunia nyata masih anak-anak.

      He he heee ……

      • Nek sing gede tidur…sing cilik tangi…..hiksss

  284. Wah2… Ki Agus,.. Alhamdulillah saya bisa ikuti lanjutan “bukan ADBM”, tamba kangen dengan ki lurah Agung Sedayu yang dah lama baru (langsung) naik pangkat Tumenggung. Ki Untara juga promosi loncat jadi Panglima Wiratamtama!

    Tapi rasanya kok Glagah Putih masih terasa muda sekali ya. Padahal GP kan lebih tua dari Raden Rangga, dus berarti lebih senior ketimbang “Pangeran Ranapati” yang notabene “adik” Raden Rangga ya?

    Tapi, apapun juga SALUT atas karya Ki Agus berbasis pada karakter semua tokoh ADBM!

    Monggo dilanjut, saya sangat menunggu kisah bukan ADBM…..

  285. Alhamdulillah ….
    namung menika ingkang kawula saged aturaken dumateng penerusipun bukan adbm bapa panembahan Agus Surono…
    mugi-2 padepokan adbm warisan SHM dipun terasaken bapa panembahan Agus teras ngawedar pangertosan babagan gegayuhan lan kasampurnaning gesang dados manungso. mboten ninggalaken paugeranipun dalan utami teguh cekelan waton kita menika bade sirna manggihi ingkang Kuasa.
    Wedaran bapa panembahan Ki Agus dados semangatipun kula nglampahi jejibahan dados bau wonten ing tlatah negari Banyumas. Matur nuwun

  286. Absen hadir RUPS bukan ADBM-ers.

  287. Tenguk-tenguk ngisore Ki Truno Podang

    • Ikut RUPS…dibelakang Ki Truno Podang

  288. Sugeng siang Para warga padepokan …
    Bilih Pareng badhe nderek mampir saking Padepokan sebelah..

  289. Ki Agus Jaya Sentika,

    Monggo dilanjut loh Bukan ADBM…

    Nuwun

  290. Ki Agus…….kapan ceritanya dilanjutkan ?? sudah lama sekali ditunggu wedarnya cerita adbm…jangan dibuat ngegantung dong…kasihan nih cantrik2 yang setia menunggu. Atau ki Agus sudah menerbitkan buku khusus tentang ini ? mohon info Ki Agus..nuwun.

  291. Jangan lama2 ya Ki..

  292. koyone ki Agus wis lali kih….

  293. Nyuwun pangapunten Ki Agus,
    mbokbilih kulo lan poro kadang cantrik sedoyo nyuwun katerangan dumateng Ki Agus, kados pundi kelajenganipun Bukan ADBM, taksih dilanjut nopo mboten?

    • Kayaknya gak ada kelanjutannya lagi nih, siapa lagi ya yang bisa meneruskan cerita ini dan dibuat tamat ?

      • hikss….dah dari sononya memang sukar untuk menamatkan Ki…

        • Memang cerita Agung Sedayu tidak bisa tamat buktinya sakarang Agung Sedayu malah jadi pengusaha property

          • apa ijin dari keluarga belum di dapat yaa

            • Memang kayaknya kita sendiri harus mereka-reka, kira-kira kesudahan Agung sedayu kayak apa. Selamat berangan-angan akhir dari Agung sedayu. Monggo……………

              • Seperti kata Ki Cokro Ki…jadi pengusahahaha…

          • jangan-jangan itu pengusaha yang terpengarauh sama cerita adbmnya SHM.

  294. Mohon sekiranya Ki Agus dapat memberikan penjelasan cuma sedikit aja ki… “TERUS” apa “SELESAI” jadi kami tidak menunggu-nunggu jika memang sudah tidak bisa diteruskan lagi.

    Matur nuwun Ki Agus

    • “TERUS” ki….kira2 TiGa sampe TiGa 1/2 Km,
      dari sini Ada Rumah BESAR bercat hijau Tua”

      ki Cokro berhenti SeBENTAR, nunggu lampoe
      HiJAu nyala doeloe…pelan2 berangkat lagi
      gak usah keSUSU ki, pelan2 kemawon.
      pesti ki AGUS akan menerima keDATANGAN para
      cantrik bukan ADBM dengan tangan terBUKA.

      he-he2, cuma berGOJEg kok ki…moedah2an
      ki AGUS dengar apa yang diSAMPAIken para
      kadhang diGandok INI.

      sugeng DALU ki AGUS,
      sugeng DALU Adbmers,

  295. Absen..kalih Ki Agus Sedayu..cantrik enggal saking gandok sebelah. 5 jempol buat Ki Agus Sedayu atas idenya bikin cerita Agung Sedayu berlanjut di bukan ADBM..Lama tidak nengok..jadi ketinggalan cerita. matur nuwun..nlusup maneh neng goa karangtumaritis.

  296. Ki Agus puniko sakmeniko yuswone pinten nggih….mugi2 sehat

    • Unda undi kalihan El loco Gonzales Koq Ki….wau dalu kawon 3 – 0 mangke mbalese “tutuge” saking Ki Agus mesti kathah !…

  297. Kayaknya cerita ini nasibnya kayak adbm beneran, tanpa ada kelanjutan…hiks..hiks..hiks.
    Atau adakah kadang adbmers yang punya daya imaginasi yang tinggi untuk merampungkan cerita ini sampai dengan tamat shg tidak dibuat menggantung. Tks

  298. Para kadang…

    Kalau ada yang tahu nomer Hp atau padepokan Ki Agus, mbok yo ditengok, siapa tahu sedang sakit atau apa ya.

    Nuwun…

  299. semoga diawal TAUN 2011 ini ki AGUS berkenan
    kembali ning GANDOK kene, meLANJUTkan cerita
    “bukan Adbm”

    selamat taun baru ki,slamat berKARYA kembali

    • betul ki Yudha, semoga ada semangat baru untuk melanjutkan kelangsungan gandok “bukab Adbm”, sudah kangen nih sama Tumenggung Jaya Santika dengan perahu jung-nya

      “Selamat tahun baru ki semoga semangat barunya lebih menggebu”

    • Se-7 Ki

  300. saakkkaaaaaaaaww kiiiiiiiiiiiii

  301. Weleeeeeeeeeehhhh….
    Jadi emg blon ade ye yg 403…??

    << sekarat

  302. AARRRRRRRRRRRRRRRRRRRGH………!!

    <<makan pece

  303. Nama AS jadi keren sangaaat….
    Kangjeng Raden Tumenggung Jaya Santika

    Mbueeeeeekekekekekek….

    *ngekek mpe nyemplung empang*

  304. Aaaaah…
    sudahlah…
    paling juga udah gak ada lege….

    *buang pece ke kloset*

    ~BRUAAAAAAAAAK

  305. Mana nich lanjutannya …….
    sudah ganti tahun….

  306. Agussss…..!!!!

    Wooo…. model e…!!!! Wis dienteni wong okeh ki lho…
    mbok ndang ngomong, piye karepmu…

  307. Sabar….

    • Betul, Sabar…
      Sedherek sedoyo kudu sabar…
      Apakah Begawan mau menulis lanjutan cerita ini, itu adalah hak sang begawan…
      Kita cuma menikmati hasil tulisan dan imajinasi beliau yang memang kita tunggu-tunggu dengan gratisnya.
      Sabar…kita memang harus sabar, kita tidak harus ngogrok2 dengan keras, tetapi harus dengan kesopanan dan kesabaran, seperti karakter AS…

      • iya kita musti sabar dan mendoakan semoga ijin keluarga shm cepet keluar dan rontal segera kawedar.

  308. Kayaknya Ki Agus kesulitan cari lawan AS dan GP, karena mereka sdh terlalu sakti…….he..he….

    salam hangat adbmers

  309. Sugeng enjang poro kadang sedoyo.
    Dangu mboten sambang gandok kok soyo sepi yo?.

  310. Kados pundi kabaripun Ki Agus Sedayu?

  311. Sabar itu indah, ikhlas itu mujarab, istiqomah itu karomah

  312. Segera terbit
    Mataram Binangkit Jilid 1 (MB-1), Karya Agus S. Soerono, Tebal: 100 halaman, Cover: HVS 70 gram, Isi: Kertas Buram, Harga: Rp 30.000 Belum termasuk ongkos kirim. Ongkos kirim dapat dilihat di http://www.jne.co.id. Pengiriman dilakukan dari Tangerang. 100 Buku pesanan pertama akan ditandatangani langsung oleh pengarang. Rencana terbit Cetakan I pada 5 Maret 2011. Pembayaran melalui transfer Bank BCA No. Rek. 288.1221.715 Atau Bank Mandiri No. Rek. 121.000.458.3138 a/n Ir. R. Agus Suprihanto.
    Setelah transfer kirim SMS ke HP: 0817.857.929 atau email ke agussoerono@yahoo.com
    Format Pemesanan
    Nama/Nama FB/E-mail/Alamat lengkap: (RT/RW/Kel./Kec)/Kota/Kode Pos/No. Tlp/HP/Tgl transfer/Pesanan: MB-1.

    • Serbu !!!!!!!

  313. Para sedherek sedaya matur nuwun kesabaranipun nengga tulisan kula. Kula sasi November kepengker pas G. Merapi mbeledos sampun kepanggih putra mbarep Ki SH Mintardja ing Ngayogyakarta. Kula sampun ngaturaken dummy ADBM jilid 397. Putranipun Ki SHM matur menawi kulawargi SHM ‘dereng’ saged ngambil keputusan bab rencana kula nerusaken ADBM.
    Sinambi nengga kabar saking putra lan kulawargi Ki SHM kula sampun ndamel Mataram Binangkit(MB). Kula nyuwun dukungan moril lan materiil sedherek sedaya, supados kitab Mataram Binangkit saged kula terusaken. Ceritanipun taksih mirip-mirip ADBM. Sedherek Budi Prasojo sampun tanglet dateng kula, MB bade dipun damel pinten jilid. Kula wangsuli meniko wallahu Alam. Kados Ki SHM mbok menawi mboten sumerap ADBM ngantos 397 jilid nembe mantun.
    Kula sampun ugi ngelebetaken naskah ‘Jayaning Majapahit’ dateng penerbit Gramedia (2 jilid sangking rencana 4 jilid).Sangking isinipun sampun dipun setujui terbit olih bagian editor, nanging taksih dipun pelajari kaliyan bagian pemasaran. Janjinipun Desember saged kawedar, nanging sakpriki dereng medal.
    Kula saged mangertos menawi kakang Nimbus2007 utawi adi Lukito saged ngendiko kasar dateng milis kita menika. Matur nuwun sanget dateng Ki Honggopati,Ki Trupod, Ki Rangga, Ki Panembahan Donoloyo lan sedherek sedaya ingkang mboten saged kula sebut setunggal setunggal, ingkang tetep nyemangati kula.
    Matur nuwun sanget ugi kula haturaken dateng Ki Arema, Ki Seno lan para sesepuh/punggawa padepokan.

    Salam,

    Agus S. Soerono

    • tirosipun mbah man “tetep semangat” ki as

      • Tetap semangat !..Kang Agus..!

        • mugi-mugi keluarga besar SHM saged paring ijin lan palilah terusaken carios adbm.

    • Mudah-mudahan cepat terbit, kulo pesan ki…pripun carane…

  314. Tetap semangat menanti karyanya Ki Agus

    • semangat TETAP menanti karyanya Ki Agus

  315. @Panembahan Donoloyo: sampun kula jawab ing http://www.facebook.com/notes/agus-s-soerono/segera-terbit-mataram-binangkit-jilid-1-mb-1/10150114606238545#!/profile.php?id=1352920641
    @Kang Kartoyudo: matur nuwun
    @Ki Sarip & Ki Gundul: matur nuwun
    @Ki Abdus syakuur: matur nuwun

    • Sugeng tanggap warsa katur Ki Agus.. mugi Gusti tansah paringan berkah.

      • nderek nyucapaken “sugeng tanggap warsa” ki agus..wisis ol de bes fo yu.. :D

  316. wadhuh…. setelah lama tidak pulang ke padepokan… wahh…. ternyata padepokan ruarrrrr biasa…..

    Tetap Semangat Punggawa Padepokan….
    tetap semangat Ki Agus…

    Klo kita merujuk karya2 SHM, saya sangat yakin bahwa SHM melakukan riset, menelaah, sehingga ceritanya tidak melenceng dari babad yg ada…

    Btw…. Semangaaaaaddddd Ki Agus

    • ki reak ke mana ya ?

      • Kata Ki Telik Sandi, Ki Leak sengan mesu diri di Alas Susuhing Angin, katanya mau nantang perang tanding sama Ki Lateung yang tinggal di Gunung Watesing Langit….

        hehehehe….

  317. Buat sanak kadang yang menunggu wedaran BUKAN ADBM dari Ki Agus, mungkin informasi dari Ki Truno Podang di Padepokan Pelangi Singosari ini bisa menjadi pencerahan.

    On 9 Februari 2011 at 17:51 Truno Podang said:

    Alhamdulillah, teman2 yang nungguin terbitnya bukan ADBM, ternyata sudah jadi buku judulnya Mataram Binangkit. Nah lho ini bukan iklan cuma pemberitahuan saja! Saya ketemu beliau di FB. He he he he, ……

    Segera terbit
    Mataram Binangkit Jilid 1 (MB-1), Karya Agus S. Soerono, Tebal: 100 halaman, Cover: HVS 70 gram, Isi : Kertas Buram, Harga: Rp 30.000 Belum termasuk ongkos kirim. Ongkos kirim dapat dilihat di http://www.jne.co.id/. Pengiriman …dilakukan dari Tangerang. 100 Buku pesanan pertama akan ditandatangani langsung oleh pengarang. Rencana terbit Cetakan I pada 5 Maret 2011. Pembayaran melalui transfer Bank BCA No. Rek. 288.1221.715 Atau Bank Mandiri No. Rek. 121.000.458.3138 a/n Ir. R. Agus Suprihanto.
    Setelah transfer kirim SMS ke HP: 0817.857.929 atau email ke agussoerono@yahoo.com
    Format Pemesanan
    Nama/Nama FB/E-mail/Alamat lengkap: (RT/RW/Kel./Kec)/Kota/Kode Pos/No. Tlp/HP/Tgl transfer/Pesanan: MB-1.See More

  318. selamat MALEM kadang Adbmers,

    kalo khabar BAGUS ini diBAWA ning Padepokan
    Pdls sama Gagak Seta gimana ki Agus Sedayu.
    kebetulan di 2 padepokan tersebut SAAt ini
    dijadiken tempat berGOJEG kadang2 Adbmers.

    tetep SEMANGAaat ki, semoga SUKSES pagelaran
    perdana KarYa ki AGUS….!! ikut ANTRIiiiii

  319. Seingat saya yang mengalahkan kakang Panji adalah Kyai Gringsing bukan Agung Sedayu, sekedar koreksi jilid V-02 ini, Untara seingat saya sudah punya anak dua yang satu ceritanya gimana ya?

  320. cerita ADBM sebenarnya bisa di akhiri dengan padamnya pemberontakan yang di lakukan oleh pangeran jayakarta di ponorogo setidak nya setelah itu tidak ada lagi pemberontakan yang terhitung besar kepada pemerintahan mataram semasa Panembahan hAnyakrawati.selain pangeran puger sepuh dari demak yg sudah di ungkap penulis.
    itu bila ingin di buat tamat…,
    namun jika tidak maka pengangkatan mas rangsang ato sultan agung yang sedikit kisruh juga bisa diangkat menjadi sebuah cerita lanjutan yang menarik pula ….( walaupun bagi saya klo ceritanya udah kebentur ama VOC jd males hehehehhehe)
    salam kesemuanya

  321. salam kesemuanya…
    sekedar usulan buat mas agus
    gimana klo dalam buku MB di selipin juga lanjutan cerita Bukan adbm hehehehhee

  322. Para kadang, cantrik mentrik padepokan,
    sugeng enjang,
    sampun radi dangu kula boten nderek ngramekaken diskusi wonten papan mriki.Amargi sampun sawetawis anggenipun nengga kitab nanging dereng kawedhar-wedahar.
    Kajaawi saking punika , kaleresan kula saweg radi sibuk bade nderek sayembara (pilkada) wonten tlatah mataram (Yogya) minangka AB 2 A Saking perguruan “Koalisi Mataram”.
    Nyuwun donga pangestu saking para sepuh, para guru saha kadang cantrik padepokan,nuwun

    Mamuji marang Gusti,
    Sembada ing Agama lan Budaya,
    Makarya kanggo kutha Ngayogyakarta

    • ki..
      nitip PENETAPAN nggih, sanes PEMILIHAN.. :D

    • waduh…, senang kalau ada cantrik padepokan ini yang menjadi senopati.
      Mugi-mugi kasembadan Ki.

      • turut berDOA, semoga ki Agus sukses
        dalem sayembara PILKADA.

  323. Sambil menunggu buku diwedhar silakan kunjungi matarambinangkit.com

  324. Ki Agus Sedayu… Sudah masuk bulan ke 3 tahun 2011 nih. Apa sudah ada lanjutannya? Kepada para Cantrik… semoga sehat selalu dan tetap setia dalam penantian… ‘n tetap sabar ya!?

    • he he he ….
      lanjutannya …? Ki Zaini bisa baca komen di atasnya, terus klik adbmlanjutan.

      • Weh…Ki Seno nganglang jagat..sugeng rawuh Ki…

  325. tetap sabar menanti..!!

  326. tetap sabar menanti…!!!

    • On 24 Februari 2011 at 10:23 adbmlanjutan said:
      Sambil menunggu buku diwedhar silakan kunjungi matarambinangkit.com

      http://adbmlanjutan.wordpress.com/ coba ngintip
      keSANA ki,

  327. waduh ki…sudah lama nih belum dikeluarkan kitab 403…

  328. iya ki…..udah sakawwwwwwwwwwwww……

  329. Iya Ki Agus,
    cepetan diwedar ya…kitabnya.

    Salam hangat
    Padepokan Surabaya

  330. Ki Rangga, Ki Afi Sultoni, Ki Yudha Pramana dan sederek sedaya,

    Saya sudah mohon izin bulan November 2010 kepada putra tertua Ki SH Mintardja, untuk melanjutkan cerita ADBM. Saya sudah membuat dummy ADBM jilid 397 dan saya serahkan kepada beliau. Namun beliau tidak berkenan dan dummy adbm 397 tersebut baru pekan lalu (26 Maret 2011) dikembalikan kepada saya.
    Jadi untuk sementara cerita lanjutan ADBM saya pending dulu.
    Kalau para warga gandok ingin saya tetap berkarya (menulis), silakan para sederek membeli buku saya berjudul Mataram Binangkit atau memberi donasi dengan masuk ke matarambinangkit.com.
    Semoga dengan adanya Mataram Binangkit Jilid 1, yang Insya Allah akan saya lanjutkan dengan jilid-jilid berikutnya, rasa sakaw (sakit karena engkaw?)bisa sedikit terobati.

    Salam,

    Agus S. Soerono

  331. Ki Agus yang baik hati,
    Untuk urusan cerita ini, khan secara cerita khan sdh tamat semenjak wafatnya Ki SHM. Dan judul yang dipakai ki Agus khan nama nya bukan ADBM dan dibuat berseri. Menurut saya sih lanjut aja, tidak ada pihak yang dirugikan, malah banyak yang senang dan menurut saya ki Agus pasti mendapat pahala krn membuat banyak cantrik gembira…..bgmn sanak kadang semua ?? setuju kah dengan saya…..tks.
    Pesanku cuma satu ki Agus, lanjutkan….

    best regards

  332. Sebetulnya juga tidak ada masalah….karena tidak menggunakan nama ADBM…..
    Atau mungkin pinisepuh padepokan bukan ADBM – atau padepokan ADBM bisa mengadakan pendekatan ke keluarga
    MAHA RESI SHM…bagaimana melestarikan peninggalan sang maha Resi.

    salam ta’lim kagem sederek2 sedanten….

    OTNA – Beijing

  333. Kok cuma aku aja nih yang berceloteh, mana cantrik yang lainnya….sdh pada pindahkah ?? dimana ya ?

    Salam hangat
    Rangga yg saat ini di padepokan surabaya

  334. sepakat….

  335. Ki Agus …..

    Sembari terbitkan Mataram Binangkit yang dimulai dengan percobaan pembunuhan Sultan Pajang Mas Karebet, mungkin bagus juga Ki Agus membuat buku baru Paska ADBM dan Paska PDLS (sesudah akhir Ranggawuni & Mahisa Cempaka)…

    Cerita seputar Mas Karebet terlalu dekat ke Nagasasra atau ADBM – sebab disitu disinggung peran Sutawijaya dll – hingga penggemar membandingkan dengan NS atau ADBM…

    Kalau Ki Agus memulai cerita paska ADBM & PDLS ki SH Mintarja, tentu akan mengobati sakaw-nya para cantrik ADBM & PDLS. Mungkin, tokoh2 utama bisa berganti dan hanya bersinggungan sedikit dengan tokoh utama ADBM & PDLS. Semacam To Liong To dimana tokoh Sin Tiauw Hiap Lu atau keturunannya hanya nongol sekilas saja dan tokoh2 baru mendominasi seluruh cerita dengan masih sangat menarik pembaca…

    Saya yakin Ki Agus akan mampu… Soal keluarga Ki SH Mintarja biarlah, kita nggak usah ganggu2 lagi. Yang diupayakan ki Agus dengan komunikasi sudah bagus…

    Salam,
    Hilal

  336. Kula ingkang mudha punika inggih ngajeng2 kelanjutan ADBM. Ning nggih mbok menawi kok dereng wonten sinyal2 positip :) Dados malah tansaya menggantung. eh mbok2 langkung sae ndamel 2 punapa 3 seri malih ning ditamatke mawon.langkung cespleng

  337. Terima kasih buat lanjutan ceritanya ki Agus…Bisa mengobati keriunduan penggemar ADBM.

    Walaupun ada banyak perbedaan cara pengungkapan dan gaya bercerita dari Ki SHM tapi ceritanya sungguh dapat dinikmati. Mungkin jika sudah banyak jilid yang tercipta bisa menjadi lebih mirip dengan generasi sebelumnya.

    Sayang sekali jika Karya Ki Agus nantinya putus hanya di penggemar disini saja, kalau bisa dicarikan solusi ke keluarga Ki SHM agar bisa secara resmi diteruskan kisahnya.

    Maju terus…lanjutkan

  338. Terima kasih Ki Mataun. Atas sarannya yang sangat bagus itu. Coba akan saya endapkan dulu, karena saya juga masih ada masalah dana moneter internasional (hahaha).
    transfernya saya cek kok belum masuk ya?

    Salam,

    agus s. soerono

  339. telah lama ku cari forum kayak gini. ok, salam kenal semua

  340. telah lama kucari yang kaya gini. salam kenal andika2 seluruhnya

  341. Bukam main senangnya setelah berhenti di jilid 396 karena SHM sudah wafat ada yang meneruskan pedepokan ini saya Adiwa ingin jadi cantrik di padepokan Kyai Gringsing yang sekarang di teruskan Oleh Ki Rangga Widura purnawirawan

  342. Mas Bagus, Kapan lanjutannya….udah kebelet mo baca nih. Maklum, aq penggemar berat Agung Sedayu.

  343. Mas Agus, bisa enggak jurus-jurusnya Agung Sedayu, ditambahin? semisal bisa mengendalikan tanah, air, api dan udara. Biar angkatan lautnya jadi hebat, dan jadi pasukan terkuat Mataram, ya mirip avatar gitu. terus, semua pasukan khususnya mahir ilmu peringan tubuh, biar semuanya bisa jalan di atas akhir….he..he..

  344. Wah,tadi iseng2 ke gandok sebelah, ternyata untuk membaca kelanjutan cerita Bukan ADBM harus membayar….
    kok para cantrik yang lain tidak ada yang komentar ????

    Salam hangat
    Rangga
    di jojok1968@gmail.com

    • sepertinya para cantrik bingung mau koment apa kang.

      • bingungnya kenapa ???
        kok aku juga bingung ya …….he..he..he..he

        Salam
        Rangga
        “yang gak sakti”

        • gpp bingung…asal gak mbingung-i….

          • oye

            • Pemilik gandok Ki Arema mana ya ??
              kok gak ada komen ?

              Sepiiiiiiiiii

              Rangga “yang gak sakti”

              • Jan2e adbmcadangan di bikin kan agar paseduluran tansaya rumaket, terutama bagi yang kantongnya pas2an seperti saya (baca:tidak mampu beli buku ADBM SHM).Kalo mau di komersilkan saya rasa lebih baik ke bikin gandok lain diluar adbmcadangan.karena ini adbmcadangan 100% gandok gratis.SHM bukan saudara saya, tp saya dan be;iau sedikit banyak saling kenal.
                Monggo dipun penggalih.

  345. yach memang bagi kita yg kantongnya pas-pasan g bisa ikutan mbaca memang susah jd orang kismin para kaum duafa dulu niatnya baik akhirnya UUd (ujung-ujungnya duiiiiit) dah gak murni lgi

  346. Lanjutan 9-10

    Setelah semua selesai menikmati hidangan itu, Sukra dibantu oleh Putut Kalibata dan Putut Jimbaran segera membereskan tempat makanan dan minuman serta membawanya ke belakang. Baca selengkapnya di matarambinangkit.com

  347. Lanjutan 9-10

    Ki Tumenggung Jaya Santika yang sedang menerapkan aji Malih Rupa, sosoknya itu terus melangkah menuju tebing. Baca selengkapnya di matarambinangkit.com

    • Wah ki agus.. Msh berlanjut ya..
      Baik ki, ku susul di matarambinangkit.com

  348. temawon bubar

  349. Bagaimana mbak nunik ???

  350. Kasihan ya….ternyata yang dulu diucapkan seperti….
    pd 8 januari 2010, oleh Ki AS sbb :
    Matur nuwun Ki Arema. Sungguh saya merasa sangat terharu atas perhatian yang sedemikian besar dari Ki Arema dan para sesepuh Padepokan serta para cantrik/mentrik atas hasil karya saya. Semoga dengan dibukanya gandok baru ini saya dapat secara rutin menulis dan melanjutkan karya adiluhung dari pendahulu kita Ki S.H.Mintardja. Selain itu, saya yang baru belajar (melanjutkan) menulis Bukan ADBM yang baru tiga bulan tentu tidak bisa langsung seratus persen seperti yang saya tiru. Namanya juga barang tiruan, tidak bisa plek sama persis dengan barang yang ditiru. Apalagi Ki SHM sudah menggeluti dunia ini berpuluh-puluh tahun, ketika dulu saya masih baru belajar membaca.
    …..dst

    On 10 Januari 2010 at 11:25 donoloyo said:
    Ki Agus S. Soerono,
    Manah kulo monkok, trenyuh, bilih wonten bibit penerus SHM engkang mulai, sumonggo ki dhilanjutaken,
    mugi2 lancar anggonipun nyangkok kawasisaning SHM.
    kita dukung, monggo dipun cethak wonten buku,kanthi Ilustrasi kadosto Kitab Babonipun.
    Selamat…Panembahan Donoloyo

    Sekarang mesti berubah ??? bahasa tegasnya
    kalo mau baca ya bayar, klo gak bayar ya jangan baca…..
    jadinya bubar jalan…

    Mohon maaf ini hanya ungkapan hati saya saja lho, bukan sanak kadang cantrik semua krn gak ada komen……

    Matur nuwun
    Guru Ular Laut

    • sakjane ngoten awal wontenipun gandok bukan adbm sanget-sanget dados tombo kangen dumateng kelanjutan abdm kados dene nemu oncor ing petenging ratri, sahinggo wonten harapan kalanjutanipun abdm, nanging kangge kulo lan kadang engkang pas2an kok nggih kapekso kedah kapendem ingkang lebet harapan kalanjutanipun abdm saksampunipun muncul tuna enggal mataram binagkit. mugi-mugi mangkih saget dipun woro2aken kados pendahulunipun (adbm) kanthi gratis mbuh mbenjing taun pinten. kadosipun kedah “nyebar godonge koro / sabar sak wetoro).

  351. nuwun sewu, badhe nderek mampir….
    setelah sekian lama ndak mampir….akhirnya kangen juga…
    satu kejutan ketika ternyata ada “bukan ADBM”. Salut buat Ki Agus, satu karya yang harus diapresiasi…saya sudah baca sampai tulisan terakhir, walau saya merasa ada perbedaan gaya bahasa (justru yg menjadi gaya bahasa khas Ki SHM), tapi bagus sekali…
    Karena penasaran dengan lanjutan ceritannya…saya coba buka di matarambinangkit.com, ternyata harus bayar ya…..nglokro jadinya…
    memang segala jerih payah sdh seharusnya dihargai, entah itu berupa materi atau yg lain.
    jika memang pada akhirnya harus dikomersialkan, memang sudah seharusnya Ki gus harus mendapat ijin dari keluarga Ki SHM (ini menurut saya lho, mohon maaf yg sebesar-besarnya jk salah), sebab dalam tulisan Ki Agus ada mengandung properti milik Ki SHM.

    • Setuju kisanak,hak cipta ADBM sampai saat ini memang belum beralih ke tangan orang lain, sehingga secara hukum segala sesuatu yang berkaitan dengan lanjutan ceritera ADBM (mekipun menggunakan judul lainnya akan tetapi nama tokoh dan karakternya tidak bisa dipungkiri kalau itu merupakan kelanjutan dari ADBM)dalam bentuk cetakan yang diperjual-belikan tidak boleh sembarangan.

      Mohon maaf ki Agus, kami disini hanya sekedar mengingatkan tanpa mengurangi rasa hormat kami atas usaha ki Agus dalam melanjutkan ceritera ADBM. Apalagi seingat saya dulu di koran Kedaulatan Rakyat dalam wawancaranya Ki SH Mintardjo kalau gak salah pernah mengatakan kalau secara garis besar ceritera ADBM sudah diberikan ke penerusnya (keluarga) sehingga kalau sewaktu-waktu beliyau meninggal maka ada yang akan melanjutkan ceritera tersebut.

  352. Tidak ada lagikah cantrik yg dapat melanjutkan adbm di blok BUKAN ADBM, yg dapat dinikmati secara gratis ?

  353. Saya pekan lalu bertandang ke rumah Ki Agus untuk bertatap muka dengan Ki Agus S. Soerono dan hendak membeli Mataram Binangkit jilid 1.
    Saya terperangah, karena di depan rumahnya tertulis Kata-kata: Rumah ini dijual Hub. 021 93 3636 72. Menurut ceritanya, ternyata Ki Agus sedang dalam kesulitan keuangan karena harus menguliahkan anak sulungnya di fakultas kedokteran sebuah PTS. Sekarang anak kedua juga hendak kuliah di fakultas kedokteran. Aset tanah kosong dan mobilnya sudah melayang untuk membiayai anak pertama. Ia belum terpikir untuk mendapat uang dari mana untuk kuliah anaknya yang kedua. Belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari. Ki Agus mempunyai empat putera yang semuanya masih sekolah. Gajinya di tempat kerja yang sekarang sama sekali tidak mencukupi untuk biaya sehari-hari. Oleh karena itu Ki Agus hanya bisa mengelus dada mendengar kata-kata pedas yang ditulis di Bukan ADBM. Menurut Ki Agus, para pembaca belum bisa menghargai karya tulisnya. Padahal zaman dulu, orang harus membeli komik karya KI SHM. Buku komik itu tidak didapat secara gratis. Memang para pendiri padepokan berhati sangatmulia dengan membuat padepokan itu secara gratis. Namun apakah Ki Agus bisa hidup apabila karyanya digratisin?
    Saya sebenarnya sering masuk ke Padepokan ADBMcadangan, cuman saya sangat jarang berkomentar. Namun melihat kondisi Ki Agus yang membuat saya trenyuh, saya memberanikan diri untuk menulis surat ini. Maaf Ki Agus, saya tanpa seizin Ki Agus menulis surat ini. Semata-mata karena keprihatinan melihat keadaan Ki Agus. Semoga para cantrik dan punggawa padepokan bisa ikut berbagi dengan Ki Agus. Semacam take and give gitu lho. Kalian bilang-bilang sakaw, sakaw, sakaw, tapi tidak ada perasaan melu handarbeni. Rasa turut memiliki kepedihan yang tengah dialami oleh Ki Agus.
    Sayang sungguh sayang… Kalau Ki Agus tidak bisa menyumbangkan kemampuannya di bidang tulis menulis, karena terbentur masalah ekonomi. Saya rasa Rp 30.000 sebulan tak ada artinya bagi Kisanak semua, apabila dibandingkan dengan kerinduan kita akan cerita-cerita yang dapat dihasilkannya.

    Maaf kalau kata-kata saya terlalu pedas. Bukan maksud saya membela Ki Agus. Tapi benar2 dari rasa keprihatin yang mendalam.
    Salam,

    Raden Panji Klantung

    Ruddy Wijanarko

  354. Wah..wah ternyata ada polemik yang terjadi disini.
    kalau memang ketentuannya seperti itu ya diikuti aja bagi yang mau, yang ndak mau ya gak usah ikut..gitu aja kok repot.
    Salam untuk Ki AS.

    Selamat tinggal sakauw…….mungkin dengan berjalannya waktu kita semua bisa melupakan rasa sakauw, dulu nggak tahu, jadi tahu dan nggak tahu lagi, kayak roda yang berputar.

    • njih ki

  355. Zaman sudah berubah….. Materi atau uang menjadi kebutuhan yg tak dapat dipungkiri, sudah selayaknya kalau suatu karya dihargai dengan cukup. Bagaimana kalau Bukan ADBMnya Ki AS tak usah diterbitkan di ADBMcadangan, terbitkan saja dalam bentuk buku saja, yg mau baca beli saja bukunya. Sudah tentu itupun dgn pembagian Royalti yg pantas untuk keluarga SHM.

  356. Sebenarnyalah setiap karya harus dihargai . Salam kenal,
    Buat ki Agus , tetap semangat , Semangat sore, semangat siang dan semangat malam

    • Kalau mau jujur, setelah baca kelanjutan AdBM yang ditulis Ki Agus, nampaknya koq tidak bisa mengikuti jiwa AdBM-nya Bp. SHM. Banyak hal-hal yang menjadi terasa aneh. Mulai dari alur cerita, karakter tokoh, gaya bahasa, dsb tidak nyambung dengan karya SHM.
      Sehingga saran saya, sebaiknya koq nggak usah dilanjutkan saja, daripada merusak image tokoh-tokoh AdBM.
      Kalau dicermati AdBM karya SHM sarat dengan ajaran cinta kasih baik pada Tuhan, maupun pada segala ciptaannya (lingkungan hidup dan sesama manusia). Jadi daripada merusak kesan terhadap AdBM-nya SHM. sebaiknya jangan dilanjutkan.
      Maaf kalau komentar saya nggak enak,

      • Kelanjutan ceritera yang dibuat oleh bukan penulis aslinya sangat dimungkinkan akan terjadi perbedaan dari segi alur ceritera, gaya bahasa ataupun karakter tokohnya. Biarlah para pembaca ADBM berimajinasi sendiri terhadap kelanjutan ceriteranya.

        Namun demikian usaha Ki Agus untuk melanjutkan ceritera ADBM yang menggunakan istilah Bukan ADBM sangat patut untuk dihargai. Namun demikian jika kelanjutan ceritera tersebut dimaksudkan untuk “dijual” kepada masyarakat maka harus selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga bapak SH Mintardja (alm) terutama mengenai alur ceriteranya agar tidak menyimpang dari alur ceritera yang “dikehendaki” oleh penulis aslinya dan juga mengenai perkembangan karakter tokoh-tokoh utamanya (dan juga sudah pasti berkaitan dengan royalty nantinya).

        Selamat berkarya buat Ki Agus atau Ki Agus-Ki Agus lainnya yang bermaksud melanjutkan ceritera ADBM dengan versinya masing-masing.

        Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

        • lhokan judulnya lain”mataram binangkit” jadi mengapa harus minta izin dan mengapa harus dicerca,terus saja mas agus,

  357. Walah sdh lama gak nengok padepokan….
    lha kok sepi banget….apakah ini gara2 Ki AS menerapkan pola bayar bagi yg ingin baca lanjutan ADBM ??

    Pesan silaturahminya hilang gara2 duit…..ternyata antara harapan dan kenyataan gak pernah beriringan.

    Sebenarnya yang bisa bikin rame lagi adalah Ki AS mengirimkan ceritanya lagi ke forum ini dan secara gratis dan ikhlas…mungkin balasannya bukan materi tapi non materi yang mungkin nilainya amat sangat tinggi.

    Salam hangat selalu
    –Rangga yg gak sakti—

  358. selamat sore rekan2, saya telah ikut ketentuan yang dibuat oleh ki agus, tetapi saya mengalami kesulitan untuk membuka lanjutan adbm dan mataram binangkit, apakah saya masuk bulan ini hanya bisa baca yang bulan ini saja jadi terbitan yang lalu-lalu saya tidak bisa baca, atau bisa semua.
    saya coba email ke ki agus belum dijawab.
    bagi rekan2 yang telah memahami cara bacanya tolong kami dikasih informasinya.

  359. Terima kasih Ki Heri,
    Kalau Ki Heri sudah mendaftar, maka Ki Heri bisa membuka semua tulisan yang ada di Mataram Binangkit.com secara lengkap.
    Terima kasih atas perhatiannya.
    Salam
    Agus

    • intinya saya coba cari2 yang ki agus sampaikan belum ketemu.

  360. ADBM memang sarat dengan pesan2 moral, saya baca buku ini dari waktu saya sekolah.walaupun sudah ada yang melanjutkan jalan cerita yang menggantung,namun rasa rasanya banyak kata kata yang kurang pas dan terkesan janggal.jadi seperti baca cerita cerita silat yang lain, memang gaya penulisan ki SHM sangat khas.salam sejahtera untuk semua… RAHAYU

  361. Sbgai dwija dari padepokan terpencil yg rajin baca adbm sejak 1968(msh Smp kls 3)saya salut n mengapresiasi karya ki agus.yg kurang tentu ada tapi tdak akan saya ulas.namun sya tetap menikmati n ikut mendoakan agar bukan adbm ini nti bsa selesai dgn wijang,selamat berkarya ki Agus

  362. Sebelumnya Kuucapkan Salam kepada para sederek2 sanak kadang cantrik Pedepokan ADBM,mudah2an kita Semuanya selalu dapat selalu menjaga silahturahmi dan kerukunan sesama cantrik.
    Mengenai masalah Kelanjutan cerita Sang Resi Ki SHM yg memang sebenarnya masih sangat sangat kita harapkan,dan selalu kita tunggu tunggu,DAN sekarang memang sudah ada yg melanjutkan cerita ini (Ki Agus S ,,Salam buat Ki Agus S)
    Sakbenere aku dhewe yo seneng banget yen iso nyimak kelanjutan kitab iki,walaupun terasa berat yen kudu mbayar,opo pancen aku pelit ora gelem mbayar… hmm…,tp pancen dasare aku ora duwe duit gawe mbayar,,(kondisi pas2an)maaf Ki agus S,mungkin benar pendapat para kadang Cantrik yang menyarankan agar Ki Agus S menjual buku ini dengan menerbitkan dalam sebuah buku,namun memang seyogyanya dengan izin dari keluarga Ki SHM,dan kalaupun Ki Sanak tidak membagikan kelanjutan kitab di Padepokan ini Juga tidak apa2,
    karena memang ini kepunyaan Padepokan ADBM (Ki SHM only).
    mengenai masalah Kisanak yg di ceritakan oleh Ki Branjangan diatas mudah mudahan Kisanak segera dapat mendapatkan jalan keluarnya… Amin..,

    ya…mudah mudahan para cantrik dapat bersabar dalam menghadapi keaadan ini,seperti halnya Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang pada mudanya bernama “Mas Karebet” yang dengan pasrah dalam meghadapi jatuhnya Takhta Pajang ( Raja Tanah Jawa ) untuk kemudian berpindah tangan Putra Kinasihnya Raden Sutawijaya
    walaupun secara kewadagan memerangi Mataram,tetapi didalam hati merestuinya.

    Mohon maaf
    salam

  363. MAAF
    SAYA PENGGEMAR BERAT ADBM
    UNTUK KELANJUTAN ADBM SERI V GIMANA YA
    MOHON PENJELASANYA
    DIMANA SAYA BISA MENDAPATKAN TERUSANYA
    TERIMA KASIH

    • Bayar dulu ke ki Agus mas Nanang, sekarang ini gak ada yang gratis :)

      • Bener tuh. Susah cari yang gratis. So….. kemana adbmers saat ini?

  364. semoga semakin memahami sejarah bangsa, kearifan-kearifan lokal dari sejarah dan budayanya ….

  365. nyapu mundur dl ahhhhh biar halaman Padepokan bersih,sebelum masuk sanggar trus nanti mlm nengok pliridan……… monggo poro kadang ingkang ngersakaken unjukan,dateng pendopo sampun kasiapaken wedang sere kaliyan jenang alot……

  366. matarambinangkit.com udah expire ya?????

  367. Ada yang mau paste lanjutan mataram binangkit di sini kaga ya???? masalahnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. “Penasaran banget nich….”

  368. Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  369. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  370. Ada yg udah update mataram binangkit ga ya??? bagi dong

  371. bagi dong update mataram binangkitnya…

  372. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

    bagi dong update mataram binangkitnya…

  373. matur suwun sampun kesiapaken wedang sere kaliyan jenang alotipun…habis nengok jendela sebelah mataram biangkit, koq sudah ga bisa diakses ya? kemana lagi kuharus mencari kelanjutan ADBM?

  374. Kalau adbmers beralih ke matraram binangkit, dari adbmers jadi mbers donk?

  375. MATARAM BINANGKIT

    Lanjutan Api Di Bukit Menoreh

    Karya Ki Agus S. Soerono

    Seri V

    Buku 403

    Demikianlah mereka berbagi kegembiraan. Namun mereka juga menyadari bahwa kegembiraan mereka atas kenaikan pangkat Ki Agung Sedayu menjadi Ki Tumenggung Jaya Santika, juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar.

    Mereka semua, seluruh pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, harus meningkatkan kemampuan ilmu olah kanuragan mereka. Mereka harus bisa mempertahankan kekuatan pasukan khusus Mataram, harus bisa memperluasnya bahkan kalau perlu menguasai sampai ke seberang lautan.

    Oleh karena itu segala yang ditanamkan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika dalam diri mereka, mereka camkan dengan sungguh-sungguh. Mereka juga menyadari bahwa kesatuan dan persatuan Kerajaan Mataram, sesungguhnya hanya kelihatan seperti permukaan air danau yang tenang, bahkan sangat tenang. Namun di bawah permukaan itu, air itu bergolak dengan derasnya. Bahkan mempunyai beberapa pusaran yang kuat yang siap menenggelamkan kapal jung yang mereka tumpangi.

    Oleh karena itu, para prajurit terutama dari pasukan khusus di bawah Ki Tumenggung Jaya Santika, mempunyai tanggung jawab yang paling berat. Karena setiap waktu pergolakan yang berada di bawah permukaan itu mencuat ke atas, maka mereka harus siap setiap saat untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan itu.

    Bahkan kalau perlu, mereka harus sudah tahu sebelum pergolakan dari pusaran air di bawah permukaan itu mencuat ke atas. Karena itu peranan pasukan telik sandi menjadi sangat penting.

    Oleh karena itu, kepada para senapati sehari dalam sepekan Ki Tumenggung Jaya Santika memberi arahan mengenai cara-cara peningkatan ilmu kanuragan mereka. Ia memberi bimbingan khusus bagi para senapati tersebut, dan bimbingan khusus itu tidak hanya untuk meningkatkan tenaga cadangan mereka, namun juga sudah merambah ke ilmu jaya kawijayan.

    Beberapa senapati yang menonjol seperti Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta mendapat gemblengan khusus dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Hal pertama yang dilakukan terhadap kedua lurahnya itu adalah meningkatkan kemampuan ilmu meringankan tubuh. Hal ini menjadi perhatiannya, karena sebagai senapati armada laut Kerajaan Mataram, mereka harus bisa berjalan di atas air. Dan untuk bisa berjalan di atas air, tentu saja mereka harus mempunyai kemampuan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Apabila kemampuan ilmu meringankan tubuh mereka sudah tinggi, maka mereka akan dapat menapak di atas air laut bahkan berlari, seperti saat mereka berjalan di atas tanah.

    Para senapati itu juga dilatihnya dengan ilmu jaya kawijayan. Ki Tumenggung Jaya Santika setelah mendapat izin dari Ki Jayaraga, juga menurunkan ilmu Sigar Bumi yang sempat dipelajarinya kepada para senapatinya itu. Bahkan Ki Tumenggung sempat mengenalkan para senapati itu dengan Ki Jayaraga, sebagai sumber ilmu yang akan diberikannya kepada para senapati itu. Memang setelah Ki Tumenggung Jaya Santika mempelajari ilmu aji Kendali Sukma dari Ki Jayaraga, ternyata orang tua itu tidak mau tanggung-tanggung dalam menurunkan segala ilmunya. Ki Jayaraga juga menurunkan aji Sigar Bumi yang telah dipelajari Glagah Putih kepada Ki Tumenggung Jaya Santika.

    “Inilah kakek guru kalian, yang menjadi asal muasal diturunkannya ilmu Sigar Bumi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.

    Ki Jayaraga bahkan sempat memberikan petunjuk-petunjuk khusus kepada para senapati yang di bawah pimpinan Ki Tumenggung Jaya Santika. Sehingga dengan demikian para senapati itu pun semakin meningkat tenaga cadangannya, ilmu meringankan tubuhnya dan ilmu jaya kawijayannya. Untuk bisa mencapai tataran yang diinginkan, maka para senpati itu harus menjalani bebagai laku sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika.

    Mereka menjalani tirakat berupa puasa, patigeni dan ngebleng. Ngebleng adalah suatu laku berupa puasa terus menerus dan tidak keluar dari bilik selama melakukan puasa itu. Sedangkan patigeni adalah laku tidak tidur selama menjalani laku tirakat itu. Sungguh suatu laku yang berat.

    Dalam pada itu, di Kadipaten Panaraga, prajurit telik sandi Glagah Putih dan Rara Wulan terus mengamat-amati Pangeran Ranapati. Namun setelah sekian lama tidak ada pergerakan yang nampak dari Istana Kadipaten, maka mereka bertemu kembali.

    Glagah Putih, Rara Wulan, Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda bertemu di tempat persembunyiannya yang tidak diketahui oleh Pangeran Ranapati atau anak buahnya. Dalam pertemuan itu, Glagah Putih dan Rara Wulan menyampaikan bahwa sampai detik ini mereka belum mengetahui sampai sejauh mana pergerakan Pangeran Ranapati untuk menggosok Pangeran Jayaraga untuk memberontak kepada Mataram.

    “Saya rasa harus ada di antara kita yang melapor ke Mataram, dalam situasi yang sangat tidak menentu ini,” kata Glagah Putih.

    Mereka yang hadir di ruangan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan pernyataan Glagah Putih bahwa ada di antara mereka yang harus pergi ke Mataram. Tetapi siapa?

    “Siapakah menurut kalian yang harus kembali ke Kotaraja Mataram untuk melaporkan situasi ini,” tanya Glagah Putih.

    Ki Madyasta yang paling dituakan di antara mereka pun kemudian berkata.

    “Kurasa adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan saja yang kembali ke Mataram. Karena adi berdua sudah cukup lama berada di Panaraga. Kalian sudah cukup lama tidak kembali ke Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Madyasta.

    Mereka kemudian kembali manggut-manggut. Mereka semua setuju dengan pendapat Ki Madyasta itu.

    “Benar, kakang Madyasta. Kali ini biarlah kita tugaskan adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Ki Sungkana.

    “Aku setuju dengan pendapat kalian berdua. Bukankah sudah cukup lama adi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertemu dengan Ki Patih Mandaraka,” kata Ki Sumbaga pula.

    Glagah Putih yang pertama melontarkan pendapat bahwa harus ada yang melapor ke Kotaraja Mataram menjadi terperangah. Ia tidak menyangka bahwa justru dia sendiri yang mendapat tugas untuk kembali ke Kotaraja Mataram.

    “Bagaimana Wulan? Apakah kau juga sudah rindu kepada ayah dan ibumu?” tanya Glagah Putih sambil menahan senyumnya.

    Rara Wulan tidak menjawab, ia hanya bergeser merapat dan tangannya menyambar pinggang Glagah Putih yang membuat Glagah Putih meringis kesakitan.

    “Biar kakang punya ilmu kebal, pinggangmu tidak akan aku lepaskan,” katanya.

    Dengan wajah yang dibuat memelas, Glagah Putih menghiba-hiba kepada Rara Wulan.

    “Ampun Wulan. Ilmu kebalku tidak mempan menghadapi ilmu cengkeraman mautmu,” katanya.

    Kata-kata Glagah Putih itu justru membuat Rara Wulan memperkeras cengkeramannya. Semua yang hadir di ruangan itu pun tertawa melihat ulah mereka berdua.

    “Sudahlah Wulan. Aku hanya bercanda,” kata Glagah Putih dengan nada bersungguh-sungguh sambil memegang tangan Rara Wulan dan membelainya.

    Hati Rara Wulan pun menjadi luruh karenanya. Namun pada akhirnya semua yang hadir di ruangan itu sepakat bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan berangkat ke Kotaraja Mataram pada keesokan harinya.

    Glagah Putih dan Rara Wulan bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat. Mereka menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Rara Wulan masih sempat menanak nasi, memasak sayur dan menghangatkan ayam goreng yang dipotong kemarin. Mereka pun kemudian menyantap sarapan bersama di pendapa. Sedangkan sebagian dari makanan itu dibungkusnya sebagai bekal mereka dalam perjalanan. Setelah selesai sarapan, Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera berkemas-kemas.

    Mereka pun sudah siap untuk berangkat ketika mentari pagi menyembul di ufuk timur. Mereka berdua pun segera berpamitan kepada Ki Madyasta, Ki Sumbaga dan Ki Sungkana serta Ki Darma Tanda. Glagah Putih memilih untuk berjalan kaki untuk kembali ke Mataram. Sedangkan kuda mereka dititipkannya kepada Madyasta, dengan harapan kalau kelak kembali ke Kotaraja Mataram kuda itu dibawa serta.

    “Wah sekarang tidak ada lagi yang memasakkan sayur bagi kita,” kata Ki Madyasta.

    Yang lain merasa tergugu. Karena sekian lama mereka berada di Kadipaten Panaraga dalam waktu yang cukup lama. Mereka merasa seperti sudah menjadi saudara.

    “Wah jangan khawatir. Doakan saja aku selamat dan segera kembali. Nanti aku masakkan lagi sayur kacang panjang, sayur lodeh atau gudeg,” kata Rara Wulan.

    Namun tanpa terasa setitik air mengembun di pelupuk matanya. Air yang mengembun itu perlahan-lahan berubah menjadi air mata. Rara Wulan tidak tahan dan ia terisak. Betapa pun perkasanya Rara Wulan yang menghadapi para pengikut Pangeran Ranapati, ternyata hati perempuannya tersentuh. Ia menangis dalam isaknya.

    Akhirnya dengan menebalkan tekadnya, Rara Wulan dapat meredam tangisnya itu. Mereka lalu bersalaman. Lalu perlahan-lahan Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan pemondokan mereka di tempat yang terpencil itu.

    Glagah Putih dan Rara Wulan pun melambaikan tangannya. Ki Madyasta, Ki Sumbaga, Ki Sungkana dan Ki Darma Tanda pun melambaikan tangannya. Mereka pun terus memperhatikan kedua sejoli itu yang semakin menjauh dan mengecil, akhirnya hilang di balik tikungan.

    Glagah Putih dan Rara Wulan terus berjalan. Mereka menapak tilas jalan-jalan yang mereka lalui dulu ketika mereka berangkat dari Kotaraja Mataram dan akhirnya sampai di Kadipaten Panaraga. Hanya saja kali ini mereka berjalan dalam arah yang berlawanan.

    Mereka pun sempat menengok rumah di tengah hutan, ketika mereka bertemu dan mereguk ilmu olah kanuragan dari Kiai Namaskara. Namun setelah sekian lama mereka tinggalkan jejak di tengah hutan itu tidak nampak sama sekali. Mereka berputar-putar mencari rumah di tengah hutan lebat itu, namun tidak menemukannya.

    “Aneh sekali kakang,” kata Rara Wulan yang masih penasaran dan berusaha mencari rumah yang dulu sudah mulai reyot.

    Ketika mereka memasuki hutan itu, masih nampak tanda-tanda yang bisa mengantar mereka ke rumah Kiai Namaskara, bahkan mereka bisa mengenali beberapa pohon yang menjulang tinggi. Namun begitu masuk dalam lindangan hutan yang pepat, mereka kehilangan jejak.

    “Iya. Perasaanku, kita memasuki lorong di bawah pohon ara ini, lalu berbelok ke kanan. Namun sekarang belokan ke kanan itu sudah hilang tertutup pohon,” kata Glagah Putih.

    Mereka pun mencoba melingkar ke belakang pohon ara itu, namun mereka tidak dapat menemukan jalan masuk menuju ke rumah itu. Semuanya pepat, gelap pekat, dan tidak ada rongga barang sedikit pun. Namun anehnya hutan itu terasa sunyi. Tidak ada suara cenggeret, monyet atau kampret yang terbang. Sepi. Di kejauhan masih terdengar auman suara harimau. Namun lamat-lamat.

    Akhirnya Glagah Putih memutuskan untuk tidak meneruskan mencari petilasan Kiai Namaskara itu. Ia pun mengajak Rara Wulan untuk berdoa bagi Kiai Namaskara, meskipun mereka tidak menemukan kembali rumahnya. Mereka berniat meneruskan perjalanan meskipun tidak menemukan rumah Kiai Namaskara di tengah hutan yang sudah berubah itu.

    Setelah berdoa dan mempunyai ketetapan hati demikian, maka Glagah Putih mengajak Rara Wulan untuk keluar dari hutan itu. Mereka pun kembali menelisik jalan yang mereka tempuh semula untuk memasuki hutan itu, untuk kembali keluar. Tidak berapa lama mereka sudah sampai di tepi hutan. Di tepi hutan itu ternyata ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih, sehingga nampak ikan yang berenang di dasar sungai itu.

    Melihat air yang jernih dan kebetulan perut mereka sudah mulai terasa lapar, maka Rara Wulan mengajak suaminya untuk berhenti sejenak. Sambil berjuntai di atas sebuah batu hitam yang besar, mereka menikmati bekal yang mereka bawa.

    “Apakah aku boleh berenang di sungai ini, kakang?” tanya Rara Wulan.

    “Boleh. Apakah kau ingin berenang di siang yang panas ini? Bukankah kau tadi pagi sudah mandi di rumah?” tanya Glagah Putih.

    “Iya. Tadi aku ingin berenang. Sangat ingin. Tetapi setelah mendengar pertanyaanmu, aku membatalkan niatku,” kata Rara Wulan.

    “He? Kenapa?”

    “Tidak. Tidak kenapa-kenapa.”

    Mata Rara Wulan nampak mulai mengembun dan setitik air hampir menetes dari sudutnya. Tiba-tiba Rara Wulan meloncat dan berlari sekencang-kencangnya. Karuan saja Glagah Putih menjadi terkejut. Ia buru-buru membenahi kampil Rara Wulan yang ditinggalkan begitu saja. Kampil itu tadi dipakai untuk menyimpan bekal mereka. Setelah masuk dengan rapi, ia segera berlari mengejar Rara Wulan.

    Namun Rara Wulan sudah lenyap di tengah lebatnya hutan. Glagah Putih pun mulai berteriak-teriak memanggil.

    “Wulan. Wulan. Di mana kau? Maafkan kalau kata-kataku ada yang salah,” kata Glagah Putih.

    Glagah Putih merasa heran, kenapa belakangan ini Rara Wulan menjadi sedikit lebih perasa daripada biasanya. Ia pun mencari ke sana kemari, menubras-nubras di tengah lebatnya hutan itu. Setelah sekian lama Rara Wulan tidak ditemukan juga, maka Glagah Putih pun kini tidak mau kehilangan akal. Ia segera meloncat naik ke sebatang pohon, lalu diam pada salah satu cabangnya. Ditunggunya beberapa saat. Akhirnya dari bawah sebuah pohon ia melihat dedaunan yang bergerak-gerak. Lalu muncul Rara Wulan yang celingak-celinguk. Mencarinya.

    Glagah Putih diam dan membiarkan Rara Wulan mencarinya.

    “Kakang. Kakang Glagah Putih. Jangan tinggalkan aku,” teriak Rara Wulan.

    Glagah Putih bergeming. Kini giliran Rara Wulan yang mencari Glagah Putih di tengah hutan yang lebat itu.

    Tiba-tiba Glagah Putih melihat seekor harimau yang mengendap-endap mendekati Rara Wulan. Ia tidak sampai hati. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tidak ada bandingannya itu, Glagah Putih turun di belakang harimau itu. Ia melempar harimau itu dengan sebuah batu yang mengenai pinggangnya. Harimau itu menggeram dan berbalik arah. Harimau itu merunduk dan mengambil ancang-ancang untuk menerkam Glagah Putih.

    Glagah Putih pun bersiap-siap menyambut terkaman harimau itu. Sang raja hutan itu melompat tinggi, kuku kedua kaki depannya terjulur lurus-lurus ke depan. Siap mencabik-cabik tubuh Glagah Putih dalam satu kali hentakan. Tentu saja Glagah Putih tidak mau tubuhnya menjadi sarang kuku harimau itu. Dengan cepat ia berkelit ke samping, sambil tangan kanannya menyodok ke dada sang penguasa hutan. Harimau itu kembali menggeram dengan kerasnya. Agaknya ia belum jera. Kembali ia merunduk.

    “Hati-hati kakang,” terdengar teriakan Rara Wulan yang merasa khawatir melihat suaminya diterkam harimau.

    Glagah Putih pun bersiaga kembali. Ia pun memasang kuda-kuda yang kuat. Harimau itu kembali merunduk, seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Kepalanya menempel di tanah dan ekornya mengibas-ngibas. Dengan sepenuh tenaga ia kembali meloncat. Glagah Putih kembali mengelak ke samping.

    Ketika cakar depan harimau itu sudah melintasi tubuhnya, tendangan yang sangat kuat mengenai kaki belakang harimau itu. Harimau itu kembali menggeram. Namun kali ini geraman ketakutan. Ia segera menyusup ke dalam semak-semak di sebelah Rara Wulan. Rara Wulan yang melihat harimau itu berlari ke arahnya segera bersiaga. Namun harimau itu tidak menghiraukannya dan justru menghindarinya lalu masuk ke dalam hutan. Dengan lincah meskipun terseok-seok karena kena tendangan Glagah Putih, harimau itu pun pergi jauh dan tidak terdengar lagi aumannya.

    Rara Wulan pun lari mendekat dan memeluk suaminya.

    “Aku takut kakang,” kata Rara Wulan.

    “Sudahlah Wulan, harimau itu sudah pergi,” kata Glagah Putih sambil mengelus-elus pundak istrinya.

    Tiba-tiba perut Rara Wulan terasa mual, dan ia pun menjauh dari suaminya lalu menumpahkan isi perutnya. Segala makanan yang dikunyahnya dalam makan siang di tepi sungai tadi terhambur ke luar. Beberapa kali ia memegangi pinggangnya lalu terbungkuk-bungkuk dan melontarkan kembali isi perutnya beberapa kali. Meskipun cairan yang keluar dari perutnya sudah habis, Rara Wulan masih terbungkuk-bungkuk kembali.

    “Kau kenapa Wulan? Kau masuk angin?” tanya Glagah Putih.

    “Tidak kakang. Aku sudah terlambat satu bulan,” kata Rara Wulan.

    “He? Kau sudah isi. Kau sudah mengandung Wulan? Pantaslah kau tadi mudah sekali tersinggung ketika aku tanya mengenai keinginanmu untuk berenang di sungai tadi,” kata Glagah Putih.

    “Iya kakang. Tiba-tiba saja aku merasa benci melihat kakang,” kata Rara Wulan.

    “He? Benci? Kenapa kau benci aku?” tanya Glagah Putih.

    “Iya. Aku benar-benar cinta, kakang,” kata Rara Wulan dengan senyum dikulum.

    Glagah Putih pun kemudian memeluk istrinya.

    “Terima kasih sayang. Kau akan memberikan keturunan padaku,” katanya.

    Lalu ia melanjutkan.

    “Kalau demikian kita berjalan lambat-lambat saja, agar kandunganmu yang masih sangat muda itu tidak terganggu karena kau kecapekan atau makanan dalam perutmu keluar semua, karena muntah,” kata Glagah Putih lagi.

    Demikianlah mereka berjalan dengan pelan-pelan, karena kondisi Rara Wulan yang sedang hamil. Perjalanan yang mereka tempuh selama empat hari ketika datang, kini mereka tempuh dalam waktu hampir dua kali lipatnya. Setiap sebentar mereka beristirahat. Bila senja sudah membayang, mereka pun segera mencari penginapan yang layak untuk bermalam.

    Di suatu desa sebelum sampai di Banyu Asri, mereka bermalam di sebuah penginapan yang terletak dekat pasar. Pagi-pagi sekali Rara Wulan sudah terbangun dan mandi, lalu berhias diri. Glagah Putih yang mendengar kesibukan Rara Wulan segera terbangun.

    “Hendak ke manakah engkau sepagi ini Wulan?” tanya Glagah Putih.

    “Aku ingin makan nasi gudeg dan ayam goreng di pasar,” kata Rara Wulan.”Apakah kau ikut?”

    “Tentu saja aku ikut. Tunggulah sebentar.”

    Glagah Putih pun segera mandi, menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, lalu mengajak Rara Wulan ke pasar di sebelah penginapan mereka. Mereka pun berjalan pelan-pelan sambil menikmati kesegaran udara pagi, saat sang mentari baru muncul dari balik bukit di ufuk timur.

    Burung-burung berkicau gembira menyambut sang fajar. Mereka terbang kian kemari sambil berdendang dan menari. Mereka tidak pernah memikirkan, apakah makan yang mereka peroleh hari ini akan cukup hingga petang. Yang penting mereka terbang, menyanyi, menari dan mematuk ulat daun yang tersedia di mana-mana. Asal mereka mau terbang dan mencari, maka ulat dan makanan lainnya terasa berlimpah.

    Dalam kesejukan udara pagi itulah Glagah Putih dan Rara Wulan terus menapaki jalan menuju pasar yang sudah tidak jauh lagi. Mereka pun sampai di pasar, dan menemukan warung gudeg itu di sudut kiri depan pasar. Mereka masuk ke dalam warung gudeg itu dan memilih duduk di sudut dekat jendela. Udara semilir menyejukkan suasana di warung gudeg itu. Rara Wulan segera memesan nasi gudeg, telur, tempe orek dan tahu bacem cukup untuk dua orang. Rara Wulan memesan dua gelas jeruk hangat.

    Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, karena di pagi seperti itu warung gudeg itu belum begitu ramai. Orang-orang masih sibuk menjual dagangannya dan berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Biasanya setelah barang dagangannya laku atau pembeli sudah memperoleh apa yang dicarinya, barulah mereka mampir ke warung gudeg itu untuk makan.

    Glagah Putih dan Rara Wulan pun dapat menikmati makanan yang mereka pesan sambil menikmati pemandangan orang-orang yang berjual beli di pasar. Ketika mereka sedang makan itu, beberapa orang yang kekar memasuki warung gudeg itu pula.

    Mereka duduk di arah yang berseberangan dengan sepasang suami istri itu di sudut yang lain warung gudeg. Setelah memesan makanan, mereka berceritera dengan riuhnya. Mereka tidak peduli betapa pembeli yang lain merasa terganggu atau tidak.

    “Kakang Sukarta, bagaimana pandangan kakang mengenai kekuatan dan kesiagaan pasukan khusus Kerajaan Mataram di Prambanan, Kotaraja, maupun di Tanah Perdikan Menoreh?” tanya salah seorang yang gemuk berjambang lebat dan berambut ikal.

    “Seperti kau lihat, adi Ragil. Ternyata pasukan Kerajaan Mataram semakin kuat saja. Mereka membangun kekuatan di mana-mana. Selain di ketiga tempat itu masih ada lagi tempat pemusatan barak mereka di Galur, khusus untuk prajurit pasukan armada laut mereka,” kata Ki Sukarta. Seperti halnya Ragil, Sukarta juga gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. Agaknya mereka dua orang yang bersaudara dan berguru di padepokan yang sama.

    Ia menoleh ke kiri kanan sejenak. Namun ia tidak menaruh curiga kepada sepasang suami istri yang duduk di sudut dekat jendela. Mereka lihat Glagah Putih dan Rara Wulan makan dengan asyiknya, tidak menghiraukan mereka yang berceritera dengan riuhnya.

    “Apakah kita akan mencoba mengganggu dan mengacaukan prajurit pasukan khusus itu, kakang?” tanya orang yang disebut Ragil oleh temannya.

    Sukarta tercenung sejenak. Ia nampak berpikr keras, lalu menjawab.

    “Aku kira kita tidak usah membuat gara-gara, jangan sampai terulang kembali seperti Gerombolan Gagak Hitam yang ternyata bisa digulung oleh prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram. Padahal Gerombolan Gagak Hitam, termasuk di antara yang terkuat dalam kelompok padepokan yang mendukung gegayuhan Pangeran Jayaraga dari Kadipaten Panaraga,” kata Ki Sukarta.

    “Bukankah kemarin kita berpapasan dengan Ki Gondang Legi yang hendak kembali ke padepokannya? Ki Gondang Legi sudah menceriterakan secara singkat betapa kuatnya prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Sukarta lagi. Lalu ia menambahkan.

    “Tugas kita adalah tugas telik sandi. Bukan untuk mengadakan pengacauan atau gangguan keamanan,” katanya tegas.

    Rekan-rekannya yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

    “Benar Ki Ragil. Sebaiknya kita tidak membuat masalah dengan prajurit pasukan khusus, agar tidak mengganggu rencana kita secara keseluruhan,” kata rekannya yang lain. Ki Barong Landung. Sesuai dengan namanya orang ini berwajah seram, matanya juling dan badannya tinggi melebihi rekannya yang lain.

    Glagah Putih dan Rara Wulan yang mendengar pembicaraan mereka menjadi tertarik. Dengan berbisik-bisik mereka berbicara. Mereka berdua telah menyelesaikan makanan yang dipesannya.

    “Wulan apakah kau setuju apabila aku menangkap mereka semua?” tanya Glagah Putih kepada Rara Wulan.

    “Mereka berlima kakang. Sedangkan aku masih dalam keadaan lemah karena aku sedang isi, kakang,” kata Rara Wulan.

    “Tenang saja Wulan aku dapat mengatasi mereka,” kata Glagah Putih.

    “Setelah kakang berhasil menangkap mereka, apakah kakang akan membawa mereka ke Kotaraja Mataram?” tanya Rara Wulan.

    “Tentu Wulan. Namun kita akan membawanya sampai di Pajang. Di sana nanti kita serahkan kepada prajurit penghubung yang ada di sana untuk dibawa ke Kotaraja Mataram,” kata Glagah Putih.

    “Baiklah jika demikian, kakang. Berhati-hatilah,” kata Rara Wulan.

    Glagah Putih kemudian berdiri dan melangkah menuju meja para telik sandi Kadipaten Panaraga itu. Ia berjalan melingkar-lingkar di sekitar meja tempat duduk mereka. Glagah Putih memperhatikan mereka satu persatu. Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung dan dua orang lagi yang disebut temannya bernama Ki Semprong serta Ki Slorog.

    Agaknya langkah Glagah Putih yang melingkar-lingkar di sekitar mereka membuat kelima orang itu tidak nyaman.

    “He? Apa yang kau lakukan di sini,” tanya Ki Sukarta.

    “Aku sedang mencari lima orang telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah kalian mengenalnya?” tanya Glagah Putih.

    “Telik sandi Kadipaten Panaraga?” tanya Ki Ragil.

    “Ya lima orang telik sandi Panaraga, namanya Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung, Ki Semprong dan Ki Slorog,” kata Glagah Putih.

    “He? Kurang ajar. Kau siapa?” tanya Ki Sukarta.

    “Aku Glagah Putih. Aku petugas dari Mataram,” kata Glagah Putih sambil menunjukkan timang di pinggangnya yang bergambarkan pertanda petugas dari Mataram.

    “Kau datang sendiri?”

    “Ya.”

    “Kalau kelima telik sandi yang kau cari itu adalah kami, kau mau apa?”

    “Aku akan menangkap kalian.”

    “Apakah kau tidak salah, Glagah Putih?” tanya Ki Sukarta lagi.”Kau datang sendiri, kami berlima. Badanmu kecil, kami berlima kokoh kuat.”

    “Apakah kau memakai tubuhmu yang dempal itu sebagai ukuran?” tanya Glagah Putih.

    “Hahaha….Hebat. Berani juga kau menghadapi kami berlima. Baiklah kita semua keluar. Supaya warung gudeg ini tidak berantakan. Kita ke lapangan di depan pasar. Di sana tempatnya agak lapang,” kata Ki Sukarta.

    Mereka berenam pun segera menuju ke lapangan di depan pasar. Suasana di pasar itu pun gempar dan panik, ketika enam orang yang tidak mereka kenal sudah saling menyerang di tengah lapangan yang terletak di depan pasar. Para pedagang yang tidak ingin barang dagangannya menjadi korban, buru-buru menutup warungnya, mengemasi barang dagangannya dan membawanya pulang.

    Glagah Putih yang seorang diri mulai dikepung oleh kelima orang itu. Mereka masih menggunakan tangan kosong. Dengan mengendap-endap mereka maju menyerang, seperti lima ekor harimau yang mengepung seekor kerbau korbannya.

    Namun Glagah Putih ternyata bukan seperti seekor kerbau seperti anggapan mereka. Ketika sudah semakin dekat, maka tiba-tiba kelima orang itu maju menerjang. Ki Sukarta menendang, Ki Ragil meninju, Ki Barong Landung menyodok dengan tinjunya, Ki Semprong dan Ki Slorog juga menendang. Mereka merasa akan segera dapat meringkus lawannya itu.

    Namun kelima orang itu tiba-tiba menjerit kesakitan, ketika serangan mereka saling berbenturan dan Glagah Putih tidak ada di depan mereka. Mereka mengaduh-aduh tidak karuan.

    “Kenapa kalian saling berbenturan? Aku di sini,” kata Glagah Putih yang ternyata sudah hinggap bak merpati yang terbang ke sebatang cabang pohon randu yang terdapat di tepi lapangan dekat mereka bertarung.

    Kelima orang itu pun kemudian berusaha menggoyang-goyang pohon randu yang cukup besar itu.

    “Hahaha. Kalian tidak usah menggoyang-goyang pohon randu seperti itu. Aku segera turun,” kata Glagah Putih.

    Sementara itu, Rara Wulan yang melihat dari depan warung gudeg itu pun tersenyum melihat ulah kelima orang lawan suaminya. Glagah Putih pun segera meloncat turun dari pohon randu itu. Ia pun kembali bersiaga di tengah kepungan para telik sandi dari Kadipaten Panaraga.

    Glagah Putih pun sejak dini menyiapkan ilmu kebalnya, karena ia tidak mau menjadi kantong pasir sasaran kelima lawannya. Sebab kalau ia tidak melambari dirinya dengan ilmu kebal aji Tameng Waja, maka kemungkinan akan menjadi sasaran yang empuk bagi lawannya.

    Glagah Putih pun kemudian menyiapkan kembangan tata gerak ilmu olah kanuragan yang diresapinya dari perguruan Jati Laksana peninggalan Ki Sadewa yang dipadukannya dengan ilmu jaya kawijayan yang diwariskan oleh Ki Jayaraga.

    Setiap kali serangan lawannya menggempur dirinya, Glagah Putih menghadapinya dengan dada tengadah. Ia tidak lagi meloncat-loncat menghindar. Namun semua serangan lawannya itu dipapakinya. Ia sengaja membentur serangan lawannya. Mula-mula kelima lawannya merasa yakin akan dapat meringkus Glagah Putih dalam waktu singkat. Namun semakin lama mereka semakin heran. Setiap pukulan atau tendangan mereka mengenai bagian-bagian tubuh Glagah Putih, anak muda itu bergeming. Bahkan terasa tangan atau kaki mereka yang membentur bagian tubuh Glagah Putih menjadi nyeri atau ngilu. Bagaikan membentur dinding baja yang tebalnya sedepa. Sedangkan Glagah Putih seperti tidak mengalami apa-apa.

    Namun lama kelamaan, Glagah Putih juga tidak mau hanya menjadi sasaran. Sekali lagi ia meloncat di atas kepala kelima penyerangnya ketika mereka merandek hendak menyerang secara berbareng. Kini Glagah Putih sudah berada di luar kepungan kelima lawannya. Dengan sebuah sodokan ia menggempur punggung lawannya, Ki Sukarta, yang dianggapnya terkuat di antara mereka.

    Gempuran di punggung itu ternyata membuat Ki Sukarta terpelanting dan menimpa teman-temannya. Ki Semprong yang masih berdiri di sebelah Ki Sukarta, juga mendapat sebuah tendangan di dadanya, sehingga ia pun terbanting di atas tumpukan teman-temannya.

    Ki Sukarta segera bangun, meloncat dan menghunus pedangnya. Kawan-kawannya juga melakukan hal yang sama. Kini mereka semua bersenjata. Tentu saja Glagah Putih tidak mau ketinggalan. Ia melolos ikat pinggangnya dan memutar-mutar di atas kepalanya.

    “Apakah kau tidak membawa senjata selain ikat pinggangmu?” tanya Ki Sukarta dengan nada setengah mengejek.

    “Ikat pinggangku inilah senjata andalanku,” kata Glagah Putih dengan tenang. Ia tidak terpengaruh oleh ejekan lawannya.

    Ternyata ikat pinggang itu di tangan Glagah Putih bisa menjadi kaku dan bisa menjadi lentur. Sesekali ia memutar ikat pinggangnya yang menjadi kaku seperti tongkat. Tongkat dari ikat pinggang itu pun berputaran di tangannya, dan mematuk dengan ganasnya seperti seekor ular.

    Dalam benturan pertama dengan senjata Ki Semprong, terdengar dentingan yang keras. Menimbulkan rasa nyeri di tengan Ki Semprong. Ki Semprong meloncat surut dua langkah. Ia memperhatikan ikat pinggang glagah Putih yang sebentar-sebentar berubah bentuk. Sekali kaku dan sesaat kemudian menjadi lentur sebagaimana ikat pinggang pada umumnya. Ternyata kekuatan tenaga cadangan Glagah Putih mampu mengubah-ubah bentuk ikat pinggang itu.

    “Luar biasa,” katanya.

    “Apanya yang luar biasa?” tanya Glagah Putih.

    “Kau mampu mengubah ikat pinggangmu menjadi seperti benda yang kaku dan liat, sehingga bisa membentur pedangku, dan di saat lain kembali menjadi lentur seperti ikat pinggang pada umumnya,” katanya.

    “Apakah dengan pengakuanmu itu, berarti bahwa kalian hendak menyerah,” tanya Glagah Putih..

    “Tidak. Sama sekali tidak,” kata Ki Sukarta buru-buru.

    Ki Sukarta tidak ingin menyerah dengan begitu mudah kepada seorang anak muda, meskipun ia memakai timang pertanda sebagai prajurit dari pasukan Kerajaan Mataram.

    Mereka kemudian mulai mengepung kembali Glagah Putih. Melihat kemampuan Glagah Putih yang demikian besar, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Para telik sandi dari Kadipaten Panaraga itu pun kemudian semakin meningkatkan kemampuan ilmu kanuragannya. Tata gerak mereka demikian gesit, bergerak memutar seperti hendak membuat bingung Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang sudah berpengalaman tidak mau dibuat bingung oleh serangan lawannya yang bergerak memutar.

    Glagah Putih yang sudah menerapkan ilmu kebal aji Tameng Waja tidak perlu merasa khawatir bahwa serangan lawannya akan mampu melukai dirinya. Karena itu, Glagah Putih mulai memperhatikan tata gerak kelima lawannya. Setiap kali berhasil membentur senjata ikat pinggang Glagah Putih, mereka meloncat surut sambil dalam arah yang masih memutar. Sehingga dengan demikian, serangan mereka meliuk-liuk, sekali memukul atau membentur senjatanya, mereka bergerak surut dan kawannya yang lain lah yang maju.

    Setelah mengamati bentuk serangan mereka yang demikian, Glagah Putih pun kemudian menyerang dengan arah sebaliknya dari arah putaran serangan lawannnya.

    Dentang senjata semakin sering terjadi. Kembali serangan rasa nyeri menusuk ke tangan kelima lawannya, ketika terjadi benturan senjata. Setiap kali terjadi benturan senjata, mereka berusaha sekuat tenaga memegang pedangnya erat-erat agar senjata itu tidak terlepas dari tangan. Mereka meringis ketika terjadi benturan senjata.

    Akhirnya Glagah Putih mengambil kesimpulan, bahwa dari kelima orang telik sandi Kadipaten Panaraga hanya Ki Sukarta yang mempunyai kemampuan tenaga cadangan dan ilmu kanuragan yang mumpuni. Sedangkan empat orang kawannya, tidak setinggi ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Ki Madyasta, Ki Sumbaga atau Ki Sungkana.

    Setelah mendapat kesimpulan demikian Glagah Putih ingin menjajaki lebih jauh perlawanan kelima orang lawannya, ia pun selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Tata geraknya semakin ganas dan trengginas, menyerang kelima lawannya. Kalau tadi seakan-akan Glagah Putih yang menjadi kebingungan dengan tata gerak kelima lawannya, maka kini Glagah Putih yang bergerak semakin cepat, membuat kelima lawannyalah yang menjadi kebingungan.

    Glagah Putih pun meningkatkan tenaga cadangannya setiap kali membenturkan ikat pinggangnya ke senjata lawannya. Setiap kali terjadi benturan, gagang pedang mereka terasa panas. Sehingga rasa nyeri yang menyerang genggaman tangan mereka kini berubah menjadi terasa panas. Setiap kali pedang mereka berbenturan dengan ikat pinggang Glagah Putih, genggaman tangan atas pedang mereka menjadi kian panas. Satu dua kali sabetan ikat pinggang Glagah Putih mulai menimbulkan luka di tubuh para telik sandi Kadipaten Panaraga. Darah pun mulai menetes dari luka-luka yang timbul di tubuh mereka. Pakaian mereka pun mulai berubah warnanya, menjadi bersemu merah. Mereka tidak dapat lagi mempertahankan senjata mereka di tangannya.

    Akhirnya satu per satu senjata lawannya terlepas. Tinggallah kini Ki Sukarta saja yang masih menggenggam pedangnya. Ketika sebuah tendangan berantai yang dlancarkan kepada keempat kawan Ki Sukarta, maka keempat orang itu jatuh tersungkur. Pingsan.

    Tinggallah kini Ki Sukarta yang berhadapan dengan Glagah Putih. Ia ingin menangkap Ki Sukarta hidup-hidup sehingga bisa dikorek keterangan tentang jaringan telik sandi yang ada di dalam kelompok mereka.

    Glagah Putih kemudian terus mendesak Ki Sukarta. Segera saja terjadi pertarungan yang semakin sengit. Ki Sukarta memutarkan pedangnya bagaikan baling-baling. Ia menutup semua lubang pertahanannya, sehingga ujung ikat pinggang Glagah Putih tidak bisa menyentuhnya. Namun setiap kali terjadi benturan ia masih merasakan betapa rasa panasnya yang merembet ke gagang pedangnya.

    Glagah Putih terus berusaha mengimbangi kemampuan Ki Sukarta. Agaknya Ki Sukarta pun sudah mulai merambah ke lambaran ilmu kebalnya. Karena ia juga tidak mau ujung ikat pinggang Glagah Putih merobek kulitnya seperti yang terjadi pada kawan-kawannya.

    Demikianlah pertarungan itu semakin lama semakin seru. Glagah Putih yang telah dapat mengukur kemampuan Ki Sukarta pun kemudian mulai meningkatkan ilmu kanuragannya. Selapis demi selapis serangan Glagah Putih mampu menekan ilmu olah kanuragan Ki Sukarta. Hal itu mendorong Ki Sukarta untuk meningkatkan penggunaan tenaga cadangannya. Namun Glagah Putih masih tetap mampu mengatasinya. Hal itu membuat Ki Sukarta pun mulai merambah ilmu pamungkasnya. Aji Segara Mawut.

    Dari puncak ubun-ubun Ki Sukarta keluar asap putih tipis, Semakin lama semakin tebal dan dengan cepat menyelimuti udara di sekitar dirinya. Ki Sukarta pun nampak semakin pudar bayangannya. Antara ada dan tiada.

    Glagah Putih yang melihat perubahan keadaan lawannya, segera dapat membaca bahwa lawannya sudah mulai merambah ilmu pamungkasnya. Karena itu, ia pun segera secara perlahan-lahan mulai melambari dirinya dengan aji Sigar Bumi.

    Ki Sukarta yang sudah merambah ke aji Segara Mawut, membuat pandangan mata Glagah Putih terasa menjadi kabur, karena Ki Sukarta seolah-olah antara ada dan tiada ditutupi oleh selapis kabut tipis yang semakin tebal menghalangi.

    Menghadapi kenyataan demikian, Glagah Putih pun tidak mau ragu-ragu lagi menggunakan aji Sigar Bumi. Ketika Glagah Putih menghentakkan kedua kakinya ke permukaan tanah, maka terasa bahwa bumi ini berguncang dengan hebatnya. Meski pun Glagah Putih tidak dapat melihat dengan jelas di mana Ki Sukarta berada, namun ia masih dapat menangkap ujung bayangannya. Berdasarkan arah tangkapan ujung bayangan lawannya itulah Glagah Putih menerjangkan hentakan kakinya.

    Ki Sukarta berusaha berkelit ke samping. Namun Glagah Putih yang melalui ketajaman panggraitanya mampu merasakan di mana lawan berada, segera menghadang dengan hentakan berikutnya ke arah lawannya menghindar. Kembali bumi terasa seperti teraduk-aduk dan berguncang dengan kerasnya. Seperti gempa. Glagah Putih terus menggempur tempat kedudukan Ki Sukarta. Ke mana pun Ki Sukarta bergerak, ke sana arah gempuran Glagah Putih. Akibat gempuran glagah Putih itu, Ki Sukarta yang tidak mencermati arah serangan dari Glagah Putih, akhirnya tidak dapat bertahan. Ia jatuh terbanting. Namun ia masih dapat bergerak, meskipun lemah..

    Orang-orang di pasar yang masih mempunyai keberanian, masih melihat meskipun dari kejauhan. Namun setelah kelima orang itu dapat ditaklukkan, maka mereka pun berjalan mendekat. Namun sebelum dekat benar, terdengar derap puluhan kuda yang mengarah ke pasar itu.

    Setelah sampai, seorang penunggang kuda yang paling depan dengan perawakan tegap, segera turun dari kuda itu. Ia menyibak orang-orang yang berkerumun di lapangan depan pasar.

    “Kakang Sabungsari?” teriak Glagah Putih lalu mendekati orang yang sudah dikenalnya dengan baik itu.

    “Oo. Kau rupanya adi Glagah Putih. Aku tengah meronda hingga daerah perbatasan, namun ada orang yang melaporkan bahwa telah terjadi pertarungan di pasar ini satu orang melawan lima orang. Ternyata aku sampai di sini sudah terlambat. Pertarungan ini sudah usai,” kata Sabungsari dengan nada penuh kecewa.

    “Hahaha….Kakang Sabungsari tidak terlambat. Aku justru ingin menitipkan kelima telik sandi dari Kadipaten Panaraga kepada kakang Sabungsari untuk dikirim ke Kotaraja Mataram. Terus terang aku tidak bisa untuk membawanya ke Kotaraja karena Rara Wulan sedang isi,” kata Glagah Putih.

    “He? Isi? Maksudmu sedang mengandung?” tanya Sabungsari.

    “Benar kakang. Rara Wulan sedang hamil, jadi aku menghadapi kelima orang itu sendiri. Aku tahu Rara Wulan sedang hamil, baru kemarin, padahal kami berangkat dari Panaraga sudah tiga hari yang lalu,” kata Glagah Putih.

    “Baiklah jika demikian. Biarlah aku mengambil alih masalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah adi sekalian akan tetap berjalan kaki untuk pulang ke Kotaraja Mataram? Kalau boleh aku menyarankan agar kalian pergi berkuda saja. Dua dari kuda yang kami bawa dapat kau pakai untuk kembali ke Kotaraja Mataram. Aku kasihan kalau dalam keadaan hamil, Rara Wulan mesti berjalan kaki sampai Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.

    “Baiklah aku terima dan sangat berterima kasih atas tawaran kakang itu,” kata Glagah Putih.

    “Kakang Sabungsari?” tiba-tiba seorang wanita menyeruak dari kerumunan orang yang berada di tepi lapangan itu.

    “Adi Rara Wulan. Apakah adi sehat-sehat saja,” tanya Sabungsari.

    “Berkat doa kakang dan perlindungan Yang Maha Agung, aku sehat-sehat saja,” kata Rara Wulan. Lalu ia melanjutkan.

    “Marilah kakang Sabungsari, mampir sejenak di warung gudeg di tepi pasar itu,” kata Rara Wulan.

    “Baiklah kita mengobrol di sana sambil minum kopi setelah tidak bertemu lama sekali,” kata Sabungsari. Sabungsari kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk meringkus para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Mereka pun kemudian mengikat kelima orang itu dengan menggunakan tali janget yang kuat sekali.

    Pemilik warung yang tadi menjadi panik dan ketakutan, karena terjadi perkelahian di tepi lapangan, segera membuka warung gudeg dan barang dagangannya kembali. Mereka semua memesan makanan dan minuman. Matahari sudah memanjat kaki langit semakin tinggi. Sambil menanti pesanan makanan dan minuman, Sabungsari bertanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk di hadapannya.

    “Apakah kalian sudah tahu bahwa kakang Untara diangkat menjadi Panglima Pasukan Wiratamtama?” tanya Sabungsari.

    “He? Kakang Untara jadi Panglima?” tanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbarengan.

    “Benar. Kakang Untara sejak dua pekan lalu tidak lagi berada di Jati anom, melainkan sudah pindah ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.

    “Wah…wah. Syukurlah. Lalu siapakan yang menggantikan kakang Untara di wilayah Selatan Gunung Merapi?” tanya Glagah Putih.

    “Aku.”

    “He? Kau kakang? Kau jadi senapati di wilayah Selatan?” tanya Glagah Putih sambil menyodorkan tangannya.

    Sabungsari dengan segera menyambutnya dan mereka berjabatan tangan sangat erat.

    “Syukurlah. Aku mengucapkan selamat atas pengangkatan kakang Sabungsari sebagai seorang senapati di wilayah Selatan,” kata Glagah Putih.

    “Terima kasih adi. Semuanya berkat doa kalian berdua,” jawab Sabungsari. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

    “Sekarang apakah rencana kalian? Apakah kalian akan kembali ke Kotaraja Mataram?” tanya Sabungsari.

    “Benar kakang. Kami akan kembali ke Kotaraja. Tetapi terlebih dahulu kami akan mampir ke Banyu Asri untuk menengok ayah dan ibu. Apakah mereka sehat-sehat saja?” kata Glagah Putih.

    “Mereka sehat-sehat saja adi.”

    “Syukurlah.”

    “Adi berdua, bukan maksudku untuk tidak ingin ngobrol lebih panjang dengan adi sekalian. Tetapi karena tugasku, aku harus meninggalkan kalian. Tawanan telik sandi Kadipaten Panaraga itu, biarlah aku yang mengurusnya. Nanti ada sepuluh orang yang akan mengawalnya sampai Kotaraja Mataram. Adi berdua gunakan saja dua kuda kami untuk kembali ke Banyu Asri. Nanti kuda itu kalian tinggal di Banyu Asri, dan nanti prajuritku akan mengambilnya. Kalian pakai kuda milik paman Widura untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.

    “Baik kakang. Terima kasih atas bantuan kakang,” kata Glagah Putih.

    Demikianlah setelah makan nasi gudeg dan minuman hangat wedang jahe mereka berpisah di warung gudeg yang terletak di pinggir pasar.

    Senapati Sabungsari melanjutkan meninjau situasi keamanan di wilayah yang menjadi wewenangnya, sedangkan sepuluh prajurit membawa lima orang telik sandi Kadipaten Panaraga ke Kotaraja Mataram dan Glagah Putih serta Rara Wulan melanjutkan perjalanan mereka ke Banyu Asri dengan berkuda pelan-pelan.

    Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Ki Gondang Legi terus berjalan menuju Padepokan Cambuk Petir yang terletak di sebelah Barat Gunung Wilis. Mereka menyusuri persawahan, bulak-bulak panjang, gumuk dan lereng, lembah dan ngarai. Tidak jarang mereka harus melompati jurang sempit yang menghadang perjalanan mereka.

    Setelah melintasi hutan yang agak lebat, mereka akhirnya memasuki suatu wilayah yang terbuka. Di kiri kanan jalan terdapat persawahan yang cukup luas. Dan di sudut persawahan itu terdapat pategalan yang ditumbuhi beraneka warna tanaman keras seperti kelapa, mangga, jambu, duren, rambutan dan pohon buah-buahan. Di tengah pategalan itulah terdapat sebuah padepokan. Padepokan itu nampak asri, di sudut-sudut halaman ditanami dengan pepohonan bunga berwarna-warni. Di sebelah kiri pendapa terdapat sebuah belumbang yang dihuni oleh berbagai jenis ikan, yang berenang ke sana ke mari.

    Pada saat menjelang siang, mereka berdua pun kemudian memasuki halaman padepokan yang dibatasi oleh pagar setinggi dada orang dewasa. Mereka segera menuju ke pendapa. Di depan pendapa mereka disambut oleh seorang cantrik yang segera mengenali Ki Gondang Legi.

    “Kakang Gondang Legi,” sapa cantrik itu.”Silakan kakang duduk di pendapa, aku segera memberi tahu Kiai Cambuk Petir mengenai kedatangan kalian.”

    Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Tidak beberapa lama kemudian Kiai Cambuk Petir keluar dari peringgitan ke pendapa.

    “He? Kau Gondang Legi? Mana saudaramu yang lain?” tanya Kiai Cambuk Petir tanpa sempat mengendalikan rasa herannya, karena dari empat muridnya yang dikirim ke Kotaraja Mataram, hanya satu yang kembali. Ia bahkan tidak sempat menanyai Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati.

    “Ampun guru. Ketika kami telah selesai menjajaki kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri,” kata Ki Gondang Legi.

    Ki Gondang Legi bersiap-siap menerima tamparan gurunya. Apabila salah seorang murid gagal menjalankan tugasnya, maka dengan ringan tangan gurunya memberi hadiah tamparan, pukulan atau tendangan. Namun kali ini gurunya nampak menahan diri, mungkin karena di depannya ada Pangeran Ranapati.

    “Jadi kalian telah gagal menjalankan tugas yang aku berikan?” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Ampun guru. Kami tidak gagal sama sekali, karena kami sudah mendapat catatan yang kami perlukan mengenai kekuatan pasukan Kerajaan Mataram,” kata Ki Gondang Legi.

    “Manakah catatan itu?” tanya Kiai Cambuk Petir.

    Ki Gondang Legi mengeluarkan beberapa lembar rontal dari dalam kampilnya, lalu menyerahkan catatan itu kepada gurunya. Kiai Cambuk Petir menerima rontal itu dan membacanya sekilas. Ia mengangguk-angguk.

    “Apakabar Pangeran Ranapati? Mohon maaf aku telah mengabaikan kehadiran Pangeran? Hal itu justru karena rasa tanggung jawabku atas tugas mereka untuk menyelidiki kekuatan pasukan Mataram,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Tidak apa-apa Kiai Cambuk Petir,” kata Pangeran Ranapati singkat.

    Sebenarnya Pangeran Ranapati merasa sangat tersinggung diabaikan demikian oleh Kiai Cambuk Petir. Namun apabila rasa tersinggung itu yang ditonjolkannya, akan bisa mengacaukan segala rencana besarnya. Padahal Kiai Cambuk Petir adalah salah seorang yang sangat mendukung rencananya untuk memperkuat Kadipaten Panaraga dalam upaya mengguncang kekuatan Kerajaan Mataram. Oleh karena itu ia berusaha meredam rasa tersinggung yang membuncah amat sangat di dalam jantungnya.

    “He? Apa kau bilang tentang saudara-saudaramu?” tiba-tiba Kiai Cambuk Petir tersentak.

    “Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas,” kata Ki Gondang Legi.

    “Siapakah yang melumpuhkan Bargas dan Bergawa,” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Seorang prajurit pasukan khusus Mataram, guru. Ia juga mempergunakan senjata cambuk seperti cici-ciri perguruan kita,” kata Ki Gondang Legi.

    “He? Orang Bercambuk seperti kita, katamu?”

    “Benar guru.”

    “Di manakah kalian bertempur dengan orang yang bersenjatakan cambuk itu?”

    “Di tepian kali Praga, guru.”

    “Apakah ciri-ciri senjata cambuk yang dipakainya sama seperti yang kita pakai?”

    “Benar guru. Cambuknya berjuntai panjang seperti cambuk kita. Bahkan juga berkarah-karah baja berbentuk bintang bersegi sembilan.”

    “He? Sama persis dengan cambuk ciri-ciri perguruan kita,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Benar guru. Sama persis seperti ciri-ciri cambuk kita.”

    “Baik. Aku akan menanyakan hal itu kepada kakak seperguruanku Kiai Ajar Karangmaja. Mungkin ia tahu, siapakah sebenarnya guru prajurit dari pasukan Mataram yang mempunyai ciri-ciri Orang Bercambuk seperti yang kita miliki,” kata Kiai Cambuk Petir.Ia berhenti sejenak. Lalu meneruskan kata-katanya.

    “Sekarang apakah rencana anakmas Pangeran Ranapati?” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Begini Kiai. Sesuai dengan rencana yang telah kita sepakati, kita akan tetap bergabung dalam kekuatan yang kita sebut sebagai kekuatan pendukung Kadipaten Panaraga,” kata Pangeran Ranapati. Lalu ia melanjutkan.

    “Aku akan meneruskan perjalanan untuk mencari dukungan dari beberapa padepokan yang berada di wilayah Kadipaten Panaraga. Selain itu juga, mencari dukungan dari beberapa Kadipaten seperti Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Kita gerakkan orang-orang yang tidak puas terhadap bangkitnya Kerajaan Mataram sehingga bisa menjadi kekuatan yang mampu mengguncang Mataram itu sendiri,” kata Pangeran Ranapati.

    Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia nampak setuju dengan pendapat Pangeran Ranapati. Namun Kiai Cambuk Petir sesungguhnya mempunyai kepentingannya sendiri. Ia justru hendak membelokkan arah perjuangan Pangeran Ranapati dengan membangkitkan kebesaran dari masa lalu, yaitu bangkitnya Kerajaan Majapahit yang mampu menguasai seluruh Nusantara. Akan tetapi hal itu, baru akan dilakukannya setelah perjuangan besar ini sudah separuh jalan. Lebih mudah membelokkan arah perjuangan itu, daripada mendorongnya sejak awal seperti sekarang ini.

    “Baiklah anakmas. Anakmas silakan menghubungi orang-orang dalam jalur perjuangan untuk mendukung Kadipaten Panaraga, seperti anakmas katakan tadi. Aku pun demikian. Namun terlebih dahulu aku akan menghubungi kakak seperguruanku. Apabila Kiai Ajar Karangmaja bisa ikut kita gerakkan, maka di belakangnya akan berbaris orang-orang dari kebesaran masa silam yaitu Kerajaan Majapahit yang siap mendukung perjuangan kita,” katanya.

    “Dengan berbekalkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh Gondang Legi, maka kita membutuhkan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk bisa menggempur Mataram,” kata Kiai Cambuk Sakti.

    Pangeran Ranapati pun setuju dengan pendapat Kiai Cambuk Sakti. Ia sependapat bahwa diperlukan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk dapat menggulung Mataram.Apabila dapat terkumpul pasukan dengan anggota berjumlah dua puluh laksa, maka hal itu akan memudahkan pergerakan selanjutnya.

    Kiai Cambuk Sakti kemudian memerintahkan para cantrik untuk bersantap siang bagi mereka bertiga. Mereka makan seadanya sebagaimana yang biasa tersedia di padepokan. Nasi, sayur lodeh, goreng ikan dan sedikit kue ringan seperti nagasari atau juadah.

    Setelah selesai bersantap, maka mereka pun segera membagi tugas. Kiai Cambuk Petir akan mengunjungi kakak seperguruannya, Ki Gondang Legi mengawasi para cantrik selama Kiai Cambuk Petir pergi, Pangeran Ranapati menghimpun berbagai kekuatan yang mau dan mampu mendukung Kadipaten Panaraga.

    Demikianlah Kiai Cambuk Petir kemudian mengendarai kudanya menuju ke kaki sebelah utara Gunung Wilis. Di sanalah kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja membangun padepokan. Padepokan Ajar Karangmaja.

    Meskipun jalan yang ditempuhnya cukup rumit dan rumpil, namun karena Kiai Cambuk Petir sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke sana, Ia melintasi bulak-bulak panjang, daerah persawahan, lalu masuk hutan yang agak lebat, jalanan yang berliku, lembah dan ngarai pun dilintasinya. Semakin dekat dengan padepokan kakak seperguruannya itu, semakin sulit jalan yang harus ditempuhnya.

    Ia sampai di Padepokan Ajar Karangmaja setelah menempuh perjalanan berkuda hampir sehari penuh. Sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Namun Kiai Cambuk Petir adalah termasuk orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Meskipun tubuhnya sudah mulai dimakan usia, namun ia tetap tegar menghadapi perjalanan yang sulit dan panjang seperti yang ditempuhnya sekarang ini.

    Kiai Cambuk Petir meloncat turun ketika kudanya mencapai regol halaman Padepokan Ajar Karangmaja. Ia segera disambut oleh seorang cantrik yang menerima tali kekang dan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang tersedia.

    “Apakah Kiai Ajar Karangmaja ada,” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Ada Kiai. Kiai Ajar Karangmaja sedang di sanggarnya. Silakan Kiai duduk di pendapa. Aku segera memberitahukan kepada Kiai Ajar Karangmaja mengenai kehadiran Kiai,” kata cantrik yang termasuk paling muda..

    Demikianlah setelah menunggu sejenak, Kiai Ajar Karangmaja keluar dari sanggarnya setelah cantrik tadi memberitahukan bahwa adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir datang berkunjung.

    “Selamat datang adi. Apakabar? Sudah lama sekali kau tidak datang ke mari,” kata Kiai Ajar Karangmaja menyambut tamunya. Adik seperguruannya.

    “Terima kasih kakang. Aku sehat-sehat saja. Semoga demikian hendaknya dengan keadaan kakang,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Syukurlah. Aku juga selalu dalam lindungan-Nya. Apakah ada hal yang penting dan mendesak, sehingga kau menyempatkan diri untuk menemuiku yang jauh di pucuk Gunung Wilis ini?” tanya Kiai Ajar Karangmaja, langsung ke inti masalah. Ia tidak mau bertele-tele untuk mengetahui keinginan adik seperguruannya, yang sering datang dan selalu mempunyai maksud-maksud tertentu di luar ukuran nalarnya.

    “Benar, kakang. Aku datang ke mari untuk kembali mengajak kakang guna bergabung dalam apa yang disebut sebagai barisan pendukung Kadipaten Panaraga untuk bisa menguasai tlatah ini. Apabila kita gabungkan dengan kekuatan yang berada di belakang kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa membangkitkan kekuatan dari masa silam, yaitu membangun kembali Kerajaan Majapahit yang besar dan mampu menguasai Nusantara,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Sudah berulangkali aku katakan adi. Aku ini sudah sangat lanjut. Bahkan badanku sudah berbau tanah. Aku tidak mau lagi memikirkan masalah duniawi seperti itu. Apakah aku akan menjadi senapati atau tumenggung kalau bisa kau bujuk untuk bergabung? Untuk orang seumur aku, untuk apa lagi jabatan senapati atau tumenggung? Aku sudah tidak mempunyai gegayuhan seperti itu. Ketiga anakku juga sudah mentas dan aku sudah sudah mempunyai enam cucu. Kebahagiaanku sekarang adalah momong keenam cucuku itu. Itu saja,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    “Akan tetapi kakang, bukankah kita masih keturunan langsung dari trah Kerajaan Majapahit? Bukankah dengan demikian kita juga wajib menjunjung tinggi leluhur kita. Mikul dhuwur, mendem jero. Apakah kakang tidak merasa mempunyai kewajiban untuk membangun kembali kejayaan dari masa silam?“ tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Adi jangan keliru. Yang mempunyai trah langsung kerajaan Majapahit adalah guru kita Mpu Windujati. Sedangkan kita hanyalah cantrik di padepokannya, yang kemudian mendapat kesempatan menjadi muridnya. Aku dan kau bukan trah langsung dari Kerajaan Majapahit. Kita hanyalah keturunan pidak pedarakan, yang tidak seorang pun bisa mengaitkannya dengan trah Majapahit,” tutur Kiai Ajar Karangmaja dengan nada yang mulai meninggi. Ia berhenti sejenak. Nafasnya agak tersengal-sengal, karena menahan hati mendengar ucapan adik seperguruannya yang sekan-akan baru datang sudah memanas-manasi suasana.

    “Sekarang tidak lagi, adi. Aku sedikit pun tidak mempunyai gegayuhan untuk membangkitkan kembali kejayaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sudah mengukirkan dalam kitab sejarah negeri ini dengan tinta emas. Sekali terbilang, lalu hilang. Sekarang berilah kesempatan kepada kerajaan Mataram untuk kembali mengukirkan tinta emas dalam kitab sejarah itu. Sehingga pada saatnya nanti, anak cucu keturunan kita ratusan tahun mendatang akan melihat bahwa sejarah negeri kita ini penuh dengan warna-warni,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    Kembali ia terdiam sesaat.

    “Aku tidak lagi mempunyai gegayuhan seperti itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    “Kenapa, kakang?”

    “Karena yang ada sekarang ini sudah merupakan saluran yang tepat untuk meneruskan kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, bangkit Demak. Demak pun diteruskan oleh Pajang. Kemudian Pajang dilanjutkan oleh Mataram. Nah kurang apa lagi?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

    “Kekurangannya adalah karena tidak ada peran kita di dalamnya, kakang. Kalau kita ikut berperan dalam perubahan pemerintahan itu dengan menjadi sarana berpindahnya wahyu keraton, maka barulah merupakan saluran yang tepat. Akan tetapi di sini kita tidak dilibatkan sama sekali,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Lalu kalau dilibatkan, kita sebagai apa? Sebagai pengusung wahyu keraton, begitu?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

    “Benar kakang. Apabila kita dilibatkan sebagai pengusung wahyu keraton, maka paling tidak kita bisa memiliki kedudukan penting di dalam pemerintahan,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Kedudukan apa yang kau inginkan adi, dalam usiamu yang sudah jauh memanjat naik dan menjelang turun. Kalau usiamu masih tiga puluh tahunan, bolehlah apabila kau minta kedudukan. Pada saat menjelang purnatugas pada saat usiamu lima puluh tahun, kau sudah menjadi tumenggung. Akan tetapi dengan usiamu yang sudah enam puluhan tahun seperti sekarang ini apa lagi yang kau harapkan?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

    “Paling tidak kita akan bisa meletakkan dasar bagi lingkungan kita. Meletakkan dasar bagi anak cucu kita,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Akan tetapi apa yang bisa kita lakukan. Karena kita akan tetap berada di luar jalur kekuasaan yang bisa menentukan hitam putihnya keadaan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

    “Tentu saja kita memberikan dukungan yang perlu bagi terwujudnya gegayuhan kita itu,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Sudahlah adi. Aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan yang sama sekali aku tidak mengerti. Aku juga tidak mempunyai wewenang untuk memasukkan keterangan yang berguna bagi perubahan kekuasaan itu. Seandainya terjadi perubahan kekuasaan pun, tentu saja kita akan tersingkir dan tidak akan bisa memperjuangkan kepentingan anak cucu kita. Karena kita sudah uzur,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    “Wah kakang terlalu berkecil hati sebelum berbuat sesuatu,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Yang jelas, aku tidak ingin melibatkan padepokanku dan keluarga besar perguruan Windujati dalam pertengkaran ini karena ingin memperebutkan kekuasaan,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    Kiai Cambuk Petir yang semasa mudanya bernama Kulantir sebenarnya adalah adik seperguruan dari Kiai Ajar Karangmaja. Ketika berguru kepada Mpu Windujati, mereka terpaut cukup jauh umurnya maupun tingkat ilmunya. Pada saat terjadi pergolakan terakhir di Demak Bintara mereka mendapat tugas untuk mengamati keadaan di Demak Bintara itu. Namun pada saat mereka kembali ke perguruan Windujati, mereka mendapati guru mereka ”Mpu Windujati” telah tiada. Kiai Ajar Karangmaja yang merupakan murid tertua Perguruan Windujati, kemudian mendapat kepercayaan untuk meneruskan padepokan itu. Sesuai dengan nama pemimpinnya, akhirnya orang lebih mengenal Padepokan Ajar Karangmaja, ketimbang Padepokan Windujati.

    Kiai Ajar Karangmaja yang kakak seperguruan Kulantir kemudian menurunkan ilmu yang telah diperolehnya hampir secara lengkap dari Mpu Windujati. Sehingga dengan demikian Kiai Ajar Karangmaja adalah kakak seperguruan sekaligus guru bagi Kulantir yang kemudian menyebut dirinya Kiai Cambuk Petir ketika telah berdiri sendiri dengan membangun padepokannya sendiri.

    Kiai Ajar Karangmaja mempunyai dua murid utama. Yang seorang bernama Putut Kalibata, dan seorang lagi Putut Jimbaran.

    “Kemanakah kedua muridmu kakang. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Mereka berdua mulai kemarin minta izin untuk pulang ke kampung masing-masing selama dua bulan. Padi di sawah mereka sudah mulai panen dan mereka harus mengolah sawah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    “Wah sayang sekali. Sebenarnya aku juga ingin mengajak mereka untuk bergabung denganku untuk memperjuangkan gegayuhan membangkitkan kejayaan Kerajaan Majapahit,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Adi jangan melibatkan padepokanku, atau pun kedua muridku itu dalam mencapai gegayuhanmu,” kata Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sengit.

    “Baiklah kakang. Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa,” kata Kiai Cambuk Petir dengan nada enteng.

    Betapapun ia masih tetap menghormati kakang seperguruan yang sekaligus menjadi guru tunggak semi-nya setelah Mpu Windujati tiada. Perbawa kakak seperguruannya itu demikian besar.

    “Oo ya, kakang. Aku ingin bertanya apakah di antara sanak kadang kita yang masih trah Keraton Majapahit ada yang tinggal di Mataram dan menjadi prajurit pasukan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Memangnya ada apa? Aku tidak tahu apakah di antara keluarga besar trah Majapahit atau sanak kadang kita yang berpihak atau berada di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    “Begini kakang. Dua pekan lalu aku mengirim keempat muridku Bargas, Bergawa, Tanda Rumpil dan Gondang Legi untuk mengamat-amati kekuatan pasukan Kerajaan Mataram. Nah dalam suatu pertempuran dengan seorang prajurit Mataram, ternyata Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, Tanda Rumpil tewas dan Gondang Legi berhasil melarikan diri kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Keempat muridmu kalah?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

    “Iya kakang. Yang membuatku heran, justru yang melumpuhkan kedua murid utamaku ”Bargas dan Bergawa” adalah orang yang mempunyai ciri-ciri seperti perguruan kita. Ciri-ciri perguruan Orang Bercambuk,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “He? Ciri-ciri Orang Bercambuk? Apakah cambuknya berjuntai panjang dan berkarah-karah baja di ujungnya?” tanya Kiai Ajar Karangmaja lagi.

    “Benar kakang. Apakah kakang tahu bahwa ada sempalan dari ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Aku tidak tahu persis, adi. Tetapi setahuku tidak ada orang atau sempalan ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    “Apakah orang itu murid dari Raden Timur yang sering juga disebut Pamungkas?” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada dirinya sendiri.

    “Maksud kakang, Raden Timur cucu dari Mpu Windujati?” tanya Kiai Cambuk Petir.

    “Benar. Raden Timur yang selalu mengamati kalau kita sedang berlatih ilmu kanuragan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

    “Raden Timur adalah cucu sekaligus murid utama dari Mpu Windujati,” tutur Kiai Ajar Karangmaja.

    “He? Tetapi aku tidak pernah melihat Raden Timur berlatih ilmu kanuragan dengan kita, para murid perguruan Mpu Windujati,” kata Kiai Cambuk Petir.

    “Iya. Karena Mpu Windujati berkenan melatihnya secara langsung di dalam sanggar. Aku beberapa kali mendapat tugas untuk berlatih tanding dengan Raden Timur. Meskipun Raden Timur sedikit lebih muda daripada aku, namun ilmunya ngedab-ngedabi dan hampir sesempurna Mpu Windujati sendiri,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    “Selain itu, Raden Timur juga berguru kepada adik seperguruan Mpu Windujati yang merupakan sahabat dekat dengan seorang yang bernama Kebo Kanigara, putera sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

    Dengan demikian ilmu yang dikuasai Raden Timur adalah gabungan ilmu dari beberapa perguruan.

    Kiai Ajar Karangmaja terdiam lagi. Seakan-akan sedang mengenang kembali hubungannya dengan Raden Timur di Perguruan Windujati yang tersimpan dalam bilik ingatannya. Kejadian yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu, seakan terputar kembali di dalam angan-angannya. Betapa Raden Timur yang masih muda itu, bertarung dengan dirinya di dalam sanggar. Meskipun ilmu yang diraihnya secara tuntas itu dikerahkannya untuk menyerang Raden Timur, namun cucu gurunya itu masih tetap bisa mengatasinya.

    Sebagai pertanda bahwa ilmu yang mereka pelajari di perguruan Windujati telah tuntas, maka mereka berdua menjalani suatu ritual khusus di dalam sanggar itu. Gurunya membakar sebatang baja yang pada ujungnya terdapat semacam cap stempel dari baja. Pada cap stempel itu tertera gambar semacam cambuk yang pada ujungnya terdapat karah-karah baja bersegi sembilan.

    Gurunya, Mpu Windujati yang masih merupakan trah Keraton Majapahit, meminta mereka berdua mengerahkan ilmu kebal yang telah mereka kuasai secara tuntas. Sebagai pertanda bahwa ilmu kebal mereka telah tuntas, maka ruangan sanggar Mpu Windujati terasa seperti panas membara. Sepanas cap stempel yang dipanaskan oleh gurunya. Karena agaknya, ilmu kebal mereka berdua telah berhasil membangkitkan sifat panas di dalam udara sekitar mereka.

    Ketika Mpu Windujati merasa pengerahan ilmu kebal kedua muridnya telah cukup, Mpu Windujati segera menempelkan cap stempel dari baja yang membara itu ke pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Tercium bau seperti daging yang terbakar. Dengan sekuat tenaga kedua murid Mpu Windujati menahan nyeri yang mereka rasakan akibat diselomot dengan cap stempel membara itu. Gurunya segera memborehkan obat-obatan yang telah disiapkan untuk mengatasi luka bakar di tangan kedua muridnya itu. Ketika sembuh, sebuah cap bergambarkan cambuk menghiasi pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Dalam kesempatan itu, gurunya mewariskan kitab perguruan Windujati kepada Raden Timur.

    Gurunya kemudian memberi wejangan kepada mereka berdua, bahwa hubungan mereka sebagai dua saudara seperguruan harus tetap mereka jaga hingga kapan pun. Selama hayat masih dikandung badan. Hubungan itu tidak hanya di antara mereka saja, namun juga hubungan di antara murid-murid mereka, apabila kelak mereka membangun padepokan sendiri.

    Gurunya berpesan agar mereka tidak mudah-mudahnya mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ilmu Pamungkas Orang Bercambuk. Apabila mereka ragu-ragu, apakah sudah saatnya atau belum mempergunakan ilmu pamungkas mereka, maka Mpu Windujati meminta agar mereka mengelus-elus pergelangan tangan kiri mereka dan bertanya di dalam hati:”Guru apakah sudah saatnya aku pergunakan ilmu pamungkasku?” Kelak mereka akan tahu, bahwa gurunya akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka.

    Pesan wanti-wanti dari gurunya, Mpu Windujati, itulah yang selalu terngiang di dalam pendengaran Kiai Ajar Karangmaja yang semasa mudanya bernama Soma.

    Ketika Soma menurunkan ilmunya kepada Kulantir, pesan yang sama selalu ditekankannya kepada adik seperguruan sekaligus muridnya itu. Namun, meskipun ilmu yang diturunkannya kepada Kulantir telah tuntas, namun Soma tidak berani mengadakan ritual khusus memberi cap stempel cambuk kepada Kulantir. Hal itu karena ia mengamati perangai Kulantir yang sering tidak sesuai dengan keinginannya. Kulantir lebih sering mengetengahkan sifat tamaknya akan kekuasaan. Namun sifat tamaknya itu tidak disalurkan secara benar melalui jalur kekuasaan yang ada.

    Soma masih akan bisa memahami keinginan adik seperguruannya itu apabila Kulantir menyalurkan keinginannya untuk berkuasa misalnya dengan memasuki jenjang keprajuritan. Apabila Kulantir ketika masih muda memasuki jenjang keprajuritan mungkin ia sudah mengantongi pangkat tumenggung atau bahkan sudah purnawira. Namun hal itu tidak dilakukannya. Kul

    • kados pundi kelanjutanipun kang mas?

  376. wah kang asbud itu kan masih seri 402…

  377. lanjutan 404 mana ya?,kalo bayar gmn caranya utk mendapatkan seri 404 dst… tq

  378. iya nih… matarambinangkit.com ga bisa diakses….
    udah rinduuuuuuuuu banget……………

  379. ni blog masih ada penghuninya ndak sih

    • ngga ada ndul

      • sekedar berbagi berita saja:
        di Gagak Seta ada Terusan ADBM, bisa dinikmati dgn gratis
        monggo kalo mau mampir

        • maturnuwun kangmas.

  380. antara ada dan tiada sedang tiarap semua para pemimpin padepokan…………………….????????????

    # ada yang bisa dibantu Ki?

  381. Sugeng siang para Cantrik sedaya..
    Sebelumnya mohon maaf atas woro woro ini,
    dulu saya pernah ingin mencoba melanjutkan adbm yg terputus, namun karena kesibukan, ternyata Ki Agus yg telah meneruskan kisah adi luhung ini.
    namun demikian, di gandhok Gagak Seta, saya di “ogrok2″ oleh beberapa cantrik disana untuk meneruskan Adbm dengan versi “mbah_man”
    Semoga kalau ada waktu silahkan mampir di gandhok “Terusan ADBM Gagak Seta”
    matur suwun
    Mbah-man

    • tak kiro woro-woro gandok anyar ‘terusan adbm mandarakan’

  382. Yang peting GRATIS kalo musti mbayar sepertinya menghianati cita2 awal kita,,,

  383. kok nggak bisa komen ya :(

    • jangan-jangan

    • jangan terlalu cepat komennya Ki Syakuur .. nanti dikira SPAM oleh Aki Ismet :D

      • rasanya bukan gitu deh, soale kemaren tu banyak keluhan wp nggak bisa komen (misalnya di cersilindonesia tu banyak keluhan) e nggak tahunya di sini juga ternyata komenku nggak masuk, nunggu ki nin :P

  384. lanjutan ADBM 404 mana ya ki?
    bukanya di website apa ya?

  385. Alamat pastinya di link mana ya (Terusan ADBM Gagak Seto) ??
    Mohon dibantu dong….
    tks

    • cobi njenengan tingali wonten mriki ki nogoposo

      • kok di mriki nya sy kok gak bisa nemu ydm ya….
        bantuin doong…

        • wah berarti niku alamat palsu sing digoleki mbak ayu doong…

    • mbah_man berusaha meneruskan ADBM dengan versi lain (selain Bukan ADBM nya Ki Agus).
      sayang, baru sekitar separuh jilid beliaunya sakit sehingga harus rawat inap di rumah sakit.
      semoga beliau lakas sembuh dan meneruskan tulsiannya.
      silahan kunjungi disini: http://cersilindonesia.wordpress.com/terusan-adbm/2/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 134 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: